STUDI KASUS MODEL RANTAI PASOK HASIL TANGKAPAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP
JAWA TENGAH
SKRIPSI
Oleh:
WIDIYA WANTI
1622080460
PROGRAM STUDI PENGELOLAAN PELABUHAN PERIKANAN JURUSAN TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP 2020
iii
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Pangkep, Juni 2020 Yang menyatakan,
iv
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Puji syukur atas kehadirat Allah Subhanahu wa ta’alla, yang senantiasa memberikan nikmat-Nya kepada kita semua terkhusus bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan Skripsi ini.
Ucapan terima kasih penulis kepada seluruh pihak yang ikut membantu selama saya menempuh pendidikan di Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulaunan (PPNP), khususnya manajemen Program Studi Pengelolaan Pelabuhan Perikanan dan Jurusan Teknologi Penangkapan Ikan tempat penulis menempa ilmu, sampai saat ini memasuki tahapan akhir dari pendidikan di Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (PPNP).
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua bapak Mingun dan ibu Nawasia yang senantiasa mendoakan dan pihak yang telah membantu menyelesaikan Skripsi. Ucapan terima kasih kepada Pimpinan dan Jajaran Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap yang telah menjadi fasilitator dan menjadi wadah untuk kegiatan penelitian. Penulis juga meyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dr.Ir.Darmawan, M.P selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. 2. Syamsul Marlin Amir, ST., M.Si. selaku Ketua Jurusan Teknologi
v
3. Sitti Muslimah Bachrum, S.Pi.,MP selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Pelabuhan Perikanan
4. Mukhlisa A. Ghaffar, S.Pi.,M.Si dan Sitti Muslimah Bachrum, S.Pi.,MP selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan Skripsi ini.
5. Seluruh civitas akademik Program Studi Pengelolaan Pelabuhan Perikanan 6. Imas Masriah, S.Pi selaku Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap 7. Nurdiyana Sigit Purnama S.St.Pi selaku Pembimbing Lapangan Pelabuhan
Perikanan Samudera Cilacap
8. Teman-teman dari Himpunan Mahasiswa Teknologi Kelautan dan Perikanan (HIMATKP)
9. Seluruh rekan-rekan mahasiswa Jurusan Jurusan Teknologi Penangkapan Ikan
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan terkhusus untuk penulis sendiri.
Wassalamu’Alaikum WarahmatullahiWabarakatu...
Pangkep, Juni 2020
vi
DAFTAR ISI
Hal.
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix DATAR LAMPIRAN ... x ABSTRAK ... xi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 3 1.3. Tujuan Penelitian ... 3 1.4. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi dan Klasifikasi Pelabuhan Perikanan ... 5
2.2. Tipe – Tipe Pelabuhan ... 5
2.3. Fungsi dan Peranan Pelabuhan Perikanan. ... 8
2.4. Definisi Rantai Pasok ... 8
2.5. Struktur Rantai Pasok. ... 10
2.6. Komponen Supply Chain Management. ... 11
2.7. Tujuan Supply Chain Management ... 12
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat ... 13
vii
3.2. Metode Penelitian ... 13
3.3. Metode Analisi Data ... 14
BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI 4.1. Gambaran Umum PPS Cilacap ... 18
4.2. Unit Penangkapan Ikan ... 28
4.3. Letak Geografis ... 20
4.4. Managemen Pelabuhan... 22
4.5. Tugas dan Fungsi... 25
4.6. Fasilitas PPS Cilacap ... 26
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Struktur Rantai Pasok ... 29
5.2. Sasaran Pasar ... 33
5.3. Manajemen Rantai Pasok ... 34
5.4. Kemitraan ... 35
5.5. Hubungan Proses Bisnis Rantai Pasok ... 35
5.6. Kesepakata Kontraktual ... 38 BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan ... 41 6.2. Saran ... 41 DAFTAR PUSTAKA ... 42 LAMPIRAN ... 43
viii
DAFTAR TABEL
Hal.
Tabel 2.1 Management Supply Chain ... 10
Tabel 3.1 Respon Penelitian Rantai Pasok di PPS Cilacap ... 15
Tabel 2.3 Kinerja Rantai Pasok ... 18
Tabel 3.3 Keterangan Presentasi Kinerja Rantai Pasok... 20
Tabel 4.1 Fasilitas Pokok PPS Cilacap ... 27
Tabel 4.2 Fasilitas Fungsional PPS Cilacap ... 28
Tabel 4.3 Fasilitas Penunjang PPS Cilacap ... 31
Tabel 5.1 Tujuan Sasaran Pasar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Jawa Tengah ... 36
Tabel 5.2 Harga dan Tingkat Kenaikan Harga Ikan dari Tekong pada Berbagai Pihak Rantai Pasok di PPS Cilacap ... 41
ix
DAFTAR GAMBAR
Hal.
Gambar 3.1 Kerangka Analisis Manajemen Rantai Pasok ... 18
Gambar 4.1 Perkembangan Produksi Ikan, Tahun 2014-2018 ... 22
Gambar 4.2 Produksi Ikan yang di daratkan di PPS Cilacap Menurut Jenis Penangkapan Ikan, 2014-2018 ... 23
Gambar 4.3 Peta Geografis Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap ... 24
Gambar 5.1 Model Supply Chain Management di PPS Cilacap ... 33
Gambar 5.2 Pola Aliran Rantai Pasok 1 di PPS Cilacap ... 35
Gambar 5.3 Pola Aliran Rantai Pasok 2 di PPS Cilacap ... 35
Gambar 5.4 Pola Aliran Rantai Pasok 3 di PPS Cilacap ... 36
x
DAFTAR LAMPIRAN
Hal. Lampiran 1. Kegiatan Pembongakaran Ikan dari Nelayan/Toke ke Pemilik
Kapal/Tekong ... 45 Lampiran 2. Kegiatan Pembelian Ikan dari Pihak Tekong ke Usaha Pengolah
Ikan ... 46 Lampiran 3. Kegiatan Pembelian Ikan dari Tekong ke Pedagang Bakul Besar
di PPS Cilacap ... 47 Lampiran 4. Kegiatan Pembelian Ikan dari Pedagang Bakul Besar ke Pedagang
Bakul Kecil ... 48 Lampran 5. Gambar Mobil Box dan Gudang Penyimpanan ... 49
xi
ABSTRACT
Widiya Wanti. 1622080460. Case Study of Catched Supply Chain Model at Ocean Fishing Port Cilacap, Central Java Supervised by Mukhlisa A. Ghaffar and Sitti Muslimah Bachrum.
Supply chain management at the Cilacap Ocean Fisheries Port (PPS) is very necessary because of the geographical location of PPS Cilacap which faces the Indian Ocean with a large potential catch. The catch has high economic value and demand, so it is hoped that fishermen and the consumer community can benefit from the supply chain management.
This research was conducted at PPS Cilacap from January to March 2020. The purpose of this study is to analyze the supply chain system and analyze the parties involved in the supply chain of catches. The method used in this study is a survey method with data sampling techniques.
The parties involved in the supply chain model for catches at PPS Cilacap are; fishermen / Toke, boat owners / tekong, fish management unit (UPI) company agents, large basketry traders, small basketry traders, fish processing businesses and consumers. Fishermen / toke as the main supplier of fish do not have direct contact with the last consumer in distributing their products, but through boat owners / Tekong who are direct consumers for fishermenFishermen benefit in terms of certainty in marketing their catch to Tekong, but the disadvantage is that the selling price is determined by Tekong. In general, the flow of products in the fish supply chain at PPS Cilacap has been going well. Keywords: Catch Results, Model, Supply Chain in Cilacap Ocean Fishing Port
xii
ABSTRAK
Widiya Wanti. 1622080460. Studi Kasus Model Rantai Pasok Hasil Tangkapan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Jawa Tengah Dibimbing oleh Mukhlisa A. Ghaffar dan Sitti Muslimah Bachrum.
Pengelolaan rantai pasok di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap sangat diperlukan karena letak geografis PPS Cilacap yang berhadapan lagsung dengan Samudera Hindia dengan potensi hasil tangkapan yang besar. Hasil tangkapan tersebut memiliki nilai ekonomis dan permintaan yang tinggi, sehingga diharapkan nelayan dan masyarakat konsumen dapat merasakan manfaat dari pengelolaan rantai pasok tersebut.
Penelitian ini di lakukan di PPS Cilacap mulai bulan Januari hingga bulan Maret 2020. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis sistem rantai pasok dan menganalisis pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok hasil tangkapan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei dengan teknik pengambilan data sampling.
Pihak-pihak yang terlibat dalam model rantai pasok hasil tangkapan di PPS Cilacap yaitu; nelayan/Toke, pemilik kapal/tekong, agen perusahaan Unit Pengelolaan Ikan (UPI), pedagang bakul besar, pedagang bakul kecil, usaha pengolahan ikan dan konsumen. Nelayan/toke sebagai supplier utama ikan tidak berhubungan langsung dengan konsumen terakhir dalam menyalurkan produknya, melainkan melalui pemilik kapal/Tekong yang merupakan konsumen langsung bagi nelayan. Nelayan mendapatkan keuntungan dalam hal kepastian pemasaran hasil tangkapan kepada tekong namun kekurangannya adalah harga jual ditentukan oleh tekong. Secara umum aliran produk dalam rantai pasok ikan di PPS Cilacap sudah berjalan dengan baik.
Kata Kunci : Hasil Tangkapan, Model, Rantai Pasok di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan (KKP RI, 2012).
Potensi perikanan di Indonesia begitu besar, namun kesejahteraan nelayan masih rendah. Belum terintegrasinya sistem produksi hulu dan hilir menjadi alasan utama nelayan tanah air masih rendah kesejahteraannya. Hulu-hilir produk perikanan adalah dari nelayan hingga kepada konsumen terakhir pada sistem produksi hulu-hilir sangat erat kaitannya dengan rantai pasokan, karena rantai pasokan merupakan kegiatan/aktivitas yang menciptakan produk hingga produk tersebut dihantarkan kepada pengguna terakhirnya dengan melibatkan beberapa pihak dalam kegiatan/aktivitas tersebut.
Ketersediaan produksi ikan hasil tangkapan di suatu pelabuhan perikanan memegang peranan penting karena dapat dijadikan sebagai indikator tingkat fungsionalitas fasilitas pelabuhan perikanan atau pangkalan pendaratan ikan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap merupakan salah satu pelabuhan perikanan tipe A yang beralokasikan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Pelabuhan Perikanan Samudera sebagai Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Pelaksanaan Program Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap dengan menyatukan seluruh program terlakasana dengan
2
koordinasi yang baik sehingga menghasikan output yang sesuai dan memiliki kriteria untuk melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut territorial, Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia dan laut lepas. PPS Cilacap memiliki kapasitas menampung kapal perikanan sebanyak 100 unit. Volume ikan yang di daratkan kurang lebih 50 ton per hari dan distribusi ke pasar lokal maupun ekspor. PPS Cilacap memiliki lahan seluas 30 hektar dan memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran 30-100 GT( Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, 2019)
Selain itu, terdapat industri pengolahan perikanan swasta yang berada di sekitar PPS Cilacap dan tersedia fasilitas pembinaan mutu hasil perikanan yang dikelola oleh PPS Cilacap. Letak PPS Cilacap yang berhadapan dengan Samudera Hindia berdampak positif yaitu berpotensi besar dalam peningkatan produksi ikan hasil tangkapan di pelabuhan perikanan dengan adanya pengelolaan rantai pasok pada perikanan sangat diperlukan, karena memiliki nilai ekonomis, permintaan tinggi, dan manfaat yang tinggi bagi nelayan dan masyarakat. Perlunya pengelolaan rantai pasok yang tepat pada perikanan untuk menambah nilai, menjaga stok dan kualitas, serta dapat dengan mudah dijangkau oleh masyarakat.
Rantai pasok merupakan jaringan berbagai organisasi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran (Indrajit dan Djokopranoto, 2002). Penerapan manajemen rantai pasok di setiap pelaku rantai pasok tersebut penting dilakukan supaya tercapai sasaran yang diinginkan, Apabila salah satu pihak atau pelaku rantai pasok tidak menerapkan manajemen yang baik maka tujuan yang diinginkan tersebut tidak akan tercapai.
3
Sistem pendekatan Supply Chain atau Rantai Pasokan yang terintegrasi, maka dapat mengoptimalkan pendapatan dari para nelayan. Rantai pasokan yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai pasokan tersebut. Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai pasokan adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara menyeluruh.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Supply Chain Management atau Management Rantai Pasok yang digunakan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
2. Bagaimana keterlibatan pihak-pihak dalam mendukung sistem Supply Chain Management di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah maka tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menganalisis pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
4
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan dalam kajian tentang model rantai pasok hasil tangkapan di PPS Cilacap, khususnya pada bidang Pengelolaan Pelabuhan Perikanan dan sebagai bahan masukan untuk peneliti selanjutnya.
2. Menambah wawasan bagi penulis mengenai pengelolaan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan dan sebagai informasi tambahan bagi khususnya Prodi Pengelolaan Pelabuhan Perikanan
3. Sebagai bahan masukan kepada pelaku rantai pasok dan pihak-pihak yang terkait
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi dan Klasifikasi Pelabuhan Perikanan
Pelabuhan perikanan digolongkan sebagai pelabuhan khusus, yang mengandung pengertian bahwa suatu wilayah perpaduan antara wilayah daratan dan lautan yang dipergunakan sebagai pangkalan kegiatan penangkapan ikan dilengkapi dengan fasilitas, sejak didaratkan sampai ikan didistribusikan. Pelabuhan perikanan dilihat dari aspek aktivitas perikanan tangkap disebutkan bahwa Pelabuhan Perikanan adalah suatu pengembangan ekonomi perikanan ditinjau dari aspek produksi, pengolahan, dan pemasaran baik lokal, nasional maupun internasional (Lubis, 2006).
Pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan (KKP RI, 2012).
2.2 Tipe-Tipe Pelabuhan
1. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) memiliki kriteria sebagai berikut:
1) Mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), dan laut lepas;
6
2) Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 60 GT;
3) Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m, dengan kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m;
4) Mampu menampung kapal perikanan sekurang-kurangnya 100 unit atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 6.000 GT; dan
5) Memanfaatkan dan mengelola lahan sekurang-kurangnya 20 Ha 2. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) mempunyai kemampuan beroperasi di lepas pantai yang sifatnya regional dan nasional (KKP RI, 2012), Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) memiliki kriteria sebagai berikut :
1) Mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan diperairan Indonesia dan ZEEI;
2) Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurangkurangnya 30 GT;
3) Panjang dermaga sekurang-kurangnya 150 m, dengan kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m;
4) Mampu menampung kapal perikanan sekurang-kurangnya 75 unit atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 2.250 GT; dan
7
3. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP)
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) mempunyai kemampuan beroperasi di pantai yang sifatnya regional (KKP RI, 2012), Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) memiliki kriteria sebagai berikut :
1) Mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia;
2) Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurangkurangnya 10 GT;
3) Panjang dermaga sekurang-kurangnya 100 m, dengan kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 2 m;
4) Mampu menampung kapal perikanan sekurang-kurangnya 30 unit atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 300 GT; dan
5) Memanfaatkan dan mengelola lahan sekurang-kurangnya 5 ha. 4. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dikenal sebagai pelabuhan perikanan tipe D. Pelabuhan ini dikelola oleh daerah untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan di daerah pantai (KKP RI, 2012), Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) memiliki kriteria sebagai berikut :
1) mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia
2) memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurangkurangnya 5 GT;
3) panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, dengan kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 1 m;
8
4) mampu menampung kapal perikanan sekurang-kurangnya 15 unit atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 75 GT; dan
5) memanfaatkan dan mengelola lahan sekurang-kurangnya 1 ha.
2.3 Fungsi dan Peranan Pelabuhan Perikanan
Fungsi pelabuhan perikanan ditinjau dari segi aktivitasnya merupakan kegiatan ekonomi perikanan baik ditinjau dari aspek pendaratan dan pembongkaran ikan, pengolahan, pemasaran dan pembinaan terhadap masyarakat nelayan. Tingkat keberhasilan pengelolaan pelabuhan perikanan diindikasikan dengan terealisasi atau tidaknya fungsi pelabuhan perikanan secara optimal. Fasilitas Pelabuhan perikanan merupakan tempat yang memiliki berbagai fasilitas yang berguna didalam pelaksanaan fungsi dan peranannya sebagai pelabuhan (Lubis, 2006).
2.4 Definisi Rantai Pasok
Rantai pasok adalah suatu pengakuan (recognition) nilai suatu produk yang diciptakan di dalam aktivitas perusahaan dan disalurkan kepada konsumen akhir dalam harga tertentu. Semua pelaku termasuk pabrik, pedagang, distributor, pengecer dan konsumen berkontribusi dalam menciptakan nilai (Porter, 1985).
Menurut Marimin dan Magfiroh (2010), manajemen rantai pasok adalah proses produksi secara keseluruhan dari kegiatan pengolahan, distribusi pemasaran, hingga produk yang diinginkan sampai ke tangan konsumen. Menurut Parung (2008), manajemen rantai pasok merupakan pendekatan untuk pengolahan, persediaan dan distribusi secara terintegrasi antara pemasok, produsen, distributor dan pengecer untuk meminimalisasi biaya sistem secara keseluruhan supply chain management meliputi hal-hal berikut:
9
Tabel 2.1 Management Supply chain
Bagian Cakupan kegiatan antara lain
Pengembangan produk Melakukan riset pasar, merancang produk baru, melibatkan supplier dalam perancangan produk baru Pengadaan Memilih supplier, mengavaluasi kinerja supplier,
melakukan pembelian bahan baku dan komponen, memonitor supply risk, membina dan memelihara hubungan dengan supplier
Perencanaan & Pengendalian Demand planning, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, perancanaan produksi dan persediaan
Operasi/ Produksi Eksekusi produksi, pengendalian kualitas
Pengiriman/Distribusi Perencanaan jaringan distribusi, penjadwalan pengiriman, mencari dan memelihara hubungan dengan perusahaan jasa pengiriman, memonitor
service level di tiap pusat distribusi
Sumber: Pujawan, 2005
Hal penting yang menjadi dasar pemikiran pada konsep ini adalah fokus pada pengurangan dan mengoptimalkan nilai pada rantai pasokan yang berkaitan. Dengan demikian Manajemen Rantai Pasok atau Supply Chain Management dapat didefinisikan sebagai pengelolaan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh bahan mentah, dilanjutkan kegiatan transformasi sehingga menjadi produk dalam proses, kemudian menjadi produk jadi dan diteruskan dengan pengiriman kepada konsumen melalui sistem distribusi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan mencakup pembelian secara tradisional dan berbagai kegiatan penting lainnya yang berhubungan dengan supplier dan distributor. Supply Chain Management meliputi penetapan (Pujawan, 2005).
1. Pengangkutan.
10
3. supplier
4. distributor dan pihak yang membantu transaksi seperti Bank 5. Hutang maupun piutang
6. Pergudangan
7. Pemenuhan pesanan
8. Informasi mengenai ramalan permintaan, produksi maupun pengendalian persediaan.
2.5 Struktur Rantai Pasok
Penelitian yang pernah dilakukan, pembahasan tentang aliran rantai pasokan atau supply chain management keseluruhannya terfokus pada bagaimana pola aliran produk dari hulu sampai ke hilir. Soeratno dan Jan (2016), menyatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan pihak-pihak yang terlibat dalam model rantai pasokan Ikan Cakalang di PPP Tumumpa yaitu nelayan, pemborong (pedagang besar dan pihak pabrik), pengecer (pedagang pengecer dan pengecer pabrik), dan konsumen akhir
.
Penelitian ini berfokus pada eksplorasipola rantai pasokan.Pamungkas (2013), menyatakan bahwa hasil penelitian yaitu di Kota Tegal terdapat tiga pola distribusi, yaitu pertama; nelayan ke pedagang pengumpul ke pedagang besar maka pedagang pengecer ke konsumen; kedua, nelayan ke pedagang pengumpul ke pedagang pengecer ke konsumen; ketiga, nelayan ke pedagang besar ke pedagang pengecer ke konsumen.
Konsep rantai pasok merupakan suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasa kepada pelanggan dan merupakan konsep baru dalam memandang persoalan logistik dalam suatu perusahaan (Lina dan Lena, 2008).
11
2.6 Komponen Supply Chain Management
Komponen dari supply chain management menurut Turban, et al(2004), terdiri dari tiga komponen utama yaitu:
1. Upstream Supply Chain
Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufacturing dengan para penyalurnya (yang mana dapat manufacturers, assemblers, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada para penyalur mereka (para penyalur second-tier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.
2. Internal Supply Chain
Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses in house yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan ke dalam organisasi. Di dalam internal supply chain, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi dan pengendalian persediaan.
3. Downstream supply chain
Downstream (hilir) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan transportasi dan after-sale service.
12
2.7 Tujuan Strategis Supply Chain Management
Rantai pasokan bagaikan darah dari setiap organisasi bisnis karena menghubungkan pemasok, produsen, dan pelanggan akhir di jaringan yang sangat penting untuk penciptaan dan pengiriman barang dan jasa. Dalam mengelola rantai pasokan memerlukan suatu proses yaitu, proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian operasi rantai pasokan. Tujuan manajemen rantai pasokan adalah dengan menyelaraskan permintaan dan penawaran seefektif dan seefisien mungkin. Masalah-masalah utama dalam rantai pasokan terkait dengan (Stevenson, 2009):
1. Menentukan tingkat outsourcing yang tepat 2. Mengelola pembelian / pengadaan suatu barang 3. Mengelola pemasok
4. Mengelola hubungan terhadap pelanggan
5. Mengidentifikasi masalah dan merespon masalah dengan cepat 6. Mengelola risik
Sedangkan menurut Pujawan (2005), supply chain memiliki tujuan strategis yang perlu dicapai untuk membuat supply chain menang atau setidaknya bertahan dalam persaingan. Untuk bisa memenangkan persaingan pasar maka supply chain harus bisa menyediakan produk yang,
1. Murah 2. Berkualitas 3. Tempat waktu 4. Bervariasi
13
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Maret 2020 di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data yang diambil dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan di lapangan melalui wawancara berdasarkan kuesioner yang telah disiapkan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu data yang diperoleh sesuai dengan tujuan. Responden yang terlibat dalam teknik pengumpulan data tersebut adalah nelayan/toke, pemilik kapal/tekong, agen perusahaan, pedagang bakul besar , pedagang kecil, dan pengolah ikan.
Tabel 3.1 Responden Peneliti Rantai Pasok PPS Cilacap
No Jenis Data Metode Pengumpulan data Asal Responden
Jumlah Responden Orang 1 Data Analisis manajemen Rantai Pasok
Wawancara langsung · Nelayan · 10 Purposive Sampling · Tekong · 3
· Bakul Besar · 3 · Pedagang Kecil · 3 · Pengolah Ikan · 1
· Agen Perusahaan · 3
14
3.3 Metode Analisis Data
Gambaran rantai pasok yang terjadi dibahas dengan analisis deskriptif
menggunakan metode pengembangan rantai pasok yang dirancangkan oleh Asian Productivity Organization (APO). Metode pengembangan APO mengikuti kerangka proses yang telah dimodifikasi oleh Vorst (2006 dalam Marimin dan Maghfiroh, 2010), yang meliputi sasaran rantai, manajemen rantai, struktur rantai sumber daya rantai, proses bisnis rantai, dan performa rantai.
Gambar 3.1 Kerangka Analisis Manajemen Rantai Pasok Sumber: Vorst (2006 dalam Marimin dan Maghfiroh, 2010)
15
1. Struktur Rantai
Struktur rantai pasok secara umum biasanya terdiri dari supplier, manufaktur, distributor, retail, dan pelanggan. Namun, struktur rantai pasok produk perikanan memiliki keunikan tidak selalu mengikuti urutan rantai tersebut. Oleh karena itu perlu diketahui siapa saja yang menjadi anggota rantai pasok yang terlibat di dalamnya, dan dijelaskan pula peran tiap anggota rantai pasok. 2. Sasaran Rantai
Sasaran rantai menjelaskan mengenai sasaran pasar. Sasaran pasar menjelaskan tentang siapa pelanggannya, apa yang diinginkan dan dibutuhkan dari produk tersebut.
3. Manajemen Rantai
Manajemen rantai menjelaskan hubungan yang terjadi di dalam rantai pasok syarat apa saja yang digunakan untuk memilih mitra kerjasama sistem transaksi yang dilakukan diantara berbagai pihak yang bekerjasama.
4. Sumber Daya Rantai
Potensi-potensi apa saja yang mendukung upaya pengembangan rantai pasok. Sumber daya yang dikaji meliputi sumber daya fisik, teknologi, sumber daya manusia.
5. Proses Bisnis Rantai
Proses bisnis rantai ditinjau berdasarkan aspek hubungan proses bisnis antar anggota rantai pasok dan pola distribusi.
6. Kinerja Rantai Pasok
Pengukuran performa atau kinerja rantai pasok menggunakan penilaian kinerja rantai pasok ikan tuna secara keseluruhan. Penilaian rantai
16
pasok tersebut dilakukan dengan menggunakan metode check-list. Melalui penilaian check-list ini dapat diketahui dari segi apa yang sudah cukup baik, dan dari segi apa yang masih harus ditingkatkan untuk menciptakan kelancaran rantai pasok.
Tabel 3.2 Kinerja Rantai Pasok di PPS Cilacap
No Uraian Keterangan
Ada Belum Dalam Proses 1 Identifikasi tujuan pasar produk ikan
2 Pihak-pihak yang terkait dalam rantai pasok
3 Sistem pembayaran dalam rantai pasok sudah berjalan dengan baik
4 Sarana dan prasarana kondisinya memadai 5 Proses distribusi produk dari produsen
sampai konsumen telah berjalan 6 Prasarana transportasi
7 Pelaku setiap mata rantai pasok telah menerima harga yang sesuai
8 Tersediannya sistem informasi pasar 9 Tersedianya pasokan produk ikan di seiap
pelaku rantai pasok
10 Alur informasi produk/pasar telah berjalan dengan baik dalam rantai pasok
11 Prasarana bantuan Pemerintah Sumber: Kinerja yang dimodifikasi dari Maulida, 2014
Penilaian rantai pasok dilakukan dengan menggunakan metode check-list dan penilaian kuantitatif. Metode check-list ini digunakan untuk menilai uraian pada Tabel 2. Uraian tersebut dilihat dari segi apa yang belum ada, yang masih dalam proses, dan dari segi yang sudah ada.
17
Tabel. 3.3 Keterangan Presentasi Kinerja Rantai Pasok
Nilai (%) Keterangan 85- 100 75 - 85 75 - 65 0 – 50 Sangat Baik Baik Cukup Kurang
18
BAB IV
KEADAAN UMUM LOKASI
4.1 Gambaran Umum PPS Cilacap
Wilayah perairan Indonesia memiliki luas mencapai 6,32 juta km2, menyimpan potensi sumber daya ikan yang begitu besar yang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia. Kondisi inilah yang mendasari pemerintah, sehingga Direktorat Jenderal Perikanan memutuskan untuk mengembangakan prasarana perikanan berupa pelabuhan perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan/Tempat Pelelangan Ikan (TPI) diberbagai tempat yang dianggap strategis diantaranya di kota Cilacap yang posisinya berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia dengan membangun Pelabuhan Perikanan Cilacap sebagai alternatif pengembangan TPI ( Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, 2019).
Pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap diawali pada tahun 1991, selesai pada tahun 1994 dan diresmikan pada tanggal 18 November 1996 oleh Presiden Republik Indonesia. Pada awalnya Pelabuhan Perikanan Cilacap ditetapkan sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara (Type B) kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Pelabuhan Perikanan Samudera (type A) sesuai dengan persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.86/M/PAN/4/2001 tanggal 4 April 2001.
4.2 Unit Penangkapan Ikan
Jumlah unit penangkapan ikan pada tahun 2014 sebanyak 675 unit menurun menjadi 652 unit di tahun 2018, sehingga terjadi penurunan rata-rata 0,84 % per tahun. Penurunan ini dipengaruhi oleh banyaknya kapal yang dijual
19
keluar daerah Cilacap dan berpindah pangkalan. Adapun perkembangan produksi, 2014-2018 Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Perkembangan Produksi ikan, tahun 2014-2018 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, 2019
Produksi perikanan
a. Dalam periode lima tahun terakhir produksi perikanan mengalami fluktuasi, yaitu dari 5.737,64 ton pada tahun 2014 kemudian mengalami peningkatan menjadi 13.317,71 ton di tahun 2015, lalu mengalami penurunan di tahun 2016 menjadi 7.966,55 ton kemudian meningkat lagi di tahun 2017 menjadi 11.840,41 ton sedangkan di tahun 2018 kembali meningkat sebesar 15.216,85. Namun demikian secara rata-rata terjadi kenaikan sebesar 42,27 % per tahun pada Periode tahun 2014-2018.
b. Pada periode tahun 2014-2018 produksi perikanan alat tangkap ikan, secara umum mengalami peningkatan sebesar 42,27 % per tahun, untuk produksi ikan alat tangkap jaring insang monofilament naik 149,21 %, produksi ikan alat tangkap rawai tuna mengalami kenaikan sebesar 132,64 %, produksi ikan alat tangkap jaring aradnaik mengalami kenaikan sebesar
20
120,30 %, produksi ikan alat tangkap jaring payang naik mengalami kenaikan sebesar 77,73 %, produksi ikan alat tangkap jaring sirang mengalami kenaikan sebesar 63,09 %, produksi ikan alat tangkap jaring tiga lapis mengalami kenaikan sebesar 59,51% , produksi ikan alat tangkap jaring insang hanyut mengalami kenaikan sebesar 32,30 %, produksi ikan alat tangkap pancing ulur mengalami kenaikan sebesar 27,61 % produksi ikan alat tangkap rawai hanyut selain rawai tuna mengalami kenaikan sebesar 7,54 %, produksi ikan alat tangkap pukat cincin mengalami penurunan sebesar 40,93 %, produksi ikan alat tangkap rawai dasar mengalami penurunan sebesar 27,26 %, produksi ikan alat tangkap jaring insang dasar mengalami penurunan sebesar 26,43 %, produksi bouke amiturun 25%, dan untuk produksi perangkap keong macan turun 25 %. Adapun Produksi Ikan Yang Didaratkan di PPS Cilacap atau Kabupaten Cilacap Menurut Jenis Alat Penangkapan Ikan, 2014– 2018 Gambar 4.2
Gambar 4.2 Produksi Ikan Yang Didaratkan di PPS Cilacap atau Kabupaten Cilacap Menurut Jenis Alat Penangkapan Ikan, 2014– 2018 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, 2019
21
c. Volume ekspor perikanan pada tahun 2014-2018 rata-rata mengalami peningkatan sebesar 9,51 % yang meliputi ikan segar dan ikan beku, dan volume ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2017 sebesar 7.824,06 ton. Produksi ikan tuna segar ekspor pada tahun 2014–2018 mengalami peningkatan sebesar 507,22 ton di tahun 2014 menjadi 2.936,45 ton di tahun 2018, ikan Layur Beku dari 17,06 ton pada tahun 2014 menjadi 251,68 ton di tahun 2018.
d. Produksi ikan menurut cara perlakuan pada periode tahun 2014-2018 secara umum mengalami peningkatan rata-rata sebesar 42,27 % per tahun, untuk produk kaleng meningkat 82,91 % per tahun. Peningkatan juga terjadi pada produk beku, pengawetan, segar, dan produk hidup, masing-masing mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebesar 66,58 %, 95,79 %, 37,59 % dan 27,79 %.
4.3 Letak Geografis
Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) terletak di desa Tegalkamulyan Kecamatan Cilacap Selatan Kota Cilacap Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah, tepatnya pada posisi 109˚01’18’’BT dan 07˚43’31’’LS, berada di tengah Pulau Jawa pada pantai bagian selatan dengan jarak sekitar 435 km dari Jakarta dan 586 km dari Surabaya dengan akses transportasi darat, laut dan udara, dengan demikian PPS Cilacap dekat dengan daerah fishing ground (WPP 573) dan pusat bisnis tersebesar (Jakarta dan Surabaya).
22
Gambar 4.3 Peta Geografis Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, 2019
4.4 Managemen Pelabuhan
a. Struktur Organisasi
Struktur organisasi PPS Cilacap dipimpin oleh Kepala Pelabuhan yang membawahi Kepala Bagian Tata Usaha yang menjadi Kepala Sub Bagian Keuangan dan Kepala Sub Bagian Umum, Kepala Bidang Tata Kelola dan Pelayanan Usaha yang terdiri dari Kepala Seksi Pelayanan Usaha dan Kepala Seksi Tata Kelola Sarana Prasarana, Kepala Bidang Operasional Pelabuhan dan Kesyahbandaran yang memiliki Kepala Seksi Kesyahbandaran dan Kepala Seksi Operasional Pelabuhan serta Kelompok Jabatan Fungsional.
Dermaga : 11 Unit (1.212,8 m² Kolam c : 4,5 Ha
Kolam B : 7,4 Ha
23
Gambar 4.4 Struktur Organisasi di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap Tahun 2019
Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, 2019 KEPALA PELABUHAN
Imas Masriah, S.Pi
KEPALA BAGIAN TATA USAHA
Mundakir, A.Pi, MM
Kepala Sub Bagian Keuangan
Kepala Sub Bagian Umum Sigit Purwoko, S.St.Pi
1. Bendahara
Agung Prastyo, A.Md 2. Pengadminstrasi Keuangan
Dody Triyulianto,SE Esti Premana, A.Md Anggoro Hari Sapto, SE Nurul Fajri A.C, A.Md Erwin Nurhuda, SE Turwahyuni, A.Md
1. Analis Perencanaan Hendriyanto, A.Md
2. Pengadministrasi Kepegawaian Yan Luby W, S.IP
Fanny Jatmike, S.M 3. Pengadministrasi Umum
Anang Supriatmaja, A.Md Lutfi Atikoh, S.Pi
Kuntoro Eko Suroso, SE 4. Pengelola Surat Wardoyo P Ismoyo 5. Pengemudi Tohir 6. Pramu Bakti Slamet Ismudi
KEPALA BIDANG TATA KELOLA & PELAYANAN USAHA Yatim Kurniadi, S.Pi, M.Si
KEPALA BIDANG OPERASIONAL PELABUHAN DAN KESYAHBANDARAN Dwiharto Kurniawan, A.Pi, MM
Kepala Seksi Pelayanan Usaha
Daniel Wahyu Setyawan, S.Sos
Kepala Seksi Tata Kelola Sarana dan Prasarana Sulis Kurniyawati, S.ST
1. Pengadmininistrasi Sarana dan Prasarana Misngadi, Tamuji Nasam Siwan Sohari Sumitro Saptono
1. Analis Pengembangan Sarana dan Prasarana
Bambang Triyono, ST Kushartanto Ahmad Santosa, ST 2. Pengadministrasi Sarana dan
Prasarana Dandi Astiyagus Warismanto Sentot Andarjoto
3. Pengelola Layanan Operasional Sarbini
Kepala Seksi Kesyahbandaran Ari Rahman, S.St.Pi
Kepala Seksi Operasional Pelabuhan Eko Yuliani, A.Pi 1. Syahbandar Pelabuhan
Perikanan Jatmoko, A.Pi
2. Analis Kesyahbandaran Nurdiyana Sigit Purnama, S.St.Pi 3. Pengelola Layanan Operasional Heri Winarto, SE Ahmad Suradi Joko Sulistiono Sukamto Syahbudin 1. Pengadministrasi Sarana dan Prasarana Sutanto Edi Ratmoko Siswoyo Purnomo
Yayuk Erma Suryani
Jabatan Fungsional
1. Statistisi Pelaksana = Agung Feriegha Nugroho, Bunyawan 2. Pranata Humas Pelaksana Lanjutan = Cucu Supari Muntarso
3. Pengelola Produksi Perikanan Tangkap = Robiarsa Wahyu Winarno, S.St.Pi, Maya Trihardiyani, S.Pi
4. Asisten Pengelola Produksi Perikanan Tangkap = Khoirul Anam, A.Md, Sri Rahayu, Siti Nurfaidah, Dian prihantara, Iskandar
24
b. Visi dan Misi PPS Cilacap
Menetapkan VISI adalah salah satu cara untuk mendorong semangat kinerja Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap untuk mncapai tujuan, yaitu mensejahterakan masyarakat dibidang ekonomi khususnya masyarakat daerah Cilacap sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan ekonomi perikanan terpadu pesisir. VISI yang telah ditetapkan yaitu “Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan ekonomi perikanan terpadu”.
VISI tersebut bermakna bahwa sesuai dengan tugas dan fungsi, maka Pelabuhan Perikanan sebagai zona inti kawasan MINAPOLITAN mampu menjadi pusat pertumbuhan dan pengembangan ekonomi terpadu yang strategis, produktif dana cepat tumbuh sehingga menjadi salah satu pendukung penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar 2015 ( Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, 2019).
Dalam mewujudkan VISI ynag telah ditetapkan maka MISI yang diemban oleh Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap adalah:
a. Menyediakan fasilitas dan jasa yang berorientasi pada tingkat pertumbuhan usaha perikanan;
b. Meningkatkan produksi dan kualitas hasil perikanan;
c. Meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan kesempatan berusaha; d. Meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
25
4.5 Tugas dan Fungsi Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
- Tugas Pokok
Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor :PER.08/MEN/2012 tanggal 20 April 2012 (KKP RI, 2012), Tugas Pokok dari pelabuhan perikanan adalah sebagai pendukung kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungnnya mulai dari pra-produksi, pengolahan dan pemasaran
- Fungsi
Pelabuhan perikanan dalam mengemban tugasnya melaksanakan fungsi pemerintahan dan fungsi pengusahaan yang dijabarkan sebagai berikut :
a. Fungsi Pemerintah
1. Pembinaan pelayanan mutu dan pengolahan hasil perikanan; 2. Pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan;
3. Tempat pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan;
4. Pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan;
5. Tempat pelaksana kegiatan pengawasan dan pengendalian sumber daya ikan;
6. Pelakasanaan kesyahbandaran;
7. Tempat pelakasanaan fungsi karantina ikan;
8. Publikasi hasil pelayaran sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas kapal perikanan;
26
b. Fungsi Pengusaha
1. Pelayanan tambat dan labuh kapal perikanan; 2. Pelayanan bogkar muat kapal;
3. Pelayanan pengolahan hasil perikanan; 4. Pemasaran dan distribusi kapal;
5. Pemanfaatan fasilitas dan lahan di pelabuhan perikanan 6. Pelayanan perbaikan dan pemeliharaan kapal perikanan; 7. Pelayanan logistik dan pembekalan kapal perikanan;
8. Penyediaan dan atau pelayanan jasa lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undang
1.6 Fasilitas Pelabuhan
a. Fasilitas Pokok
Fasilitas pokok pelabuhan merupakan fasilitas dasar yang diperlukan oleh suatu pelabuhan yang berfungsi sebagai pelindung terhadap gangguan alam. Fasilitas pokok yang ada di PPS Cilacap adalah sebagai berikut: Tabel 4.1 Fasilitas Pokok Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
No Jenis Ukuran Keterangan
1 Alur Masuk a. Panjang 757 m Baik/Berfungsi b. Lebar 90 m Baik/Berfungsi c. Kedalaman Baik/Berfungsi 2 Kolam Pelabuhan a. Luas 15,5 Ha Baik/Berfungsi b. Kedalaman LWS Baik/Berfungsi 3 Dermaga 3.271 m² Baik/Berfungsi
27
4 Breakwater 1.128 m Baik/Berfungsi
5 Revertment 4.048 m Baik/Berfungsi
6 lahan industry 12.73 Ha Baik/Berfungsi
7 lahan yang telah dimanfaatkan 7.88 Ha
Baik/Berfungsi
8 Jalan 16.565 m² Baik/Berfungsi
9 Jembatan 30 m Baik/Berfungsi
10 Drainase 3.766 m Baik/Berfungsi
Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, 2019 b. Fasilitas Fungsional
Fasilitas Fungsional adalah fasilitas ynag berfungsi, meninggikan nilai guna dari fasilitas pokok yang diperlukan. Fasilitas fungsional yang ada di PPS Cilacap adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Fasilitas Fungsional Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
No Jenis Ukuran Keterangan
1 Kantor Administrasi 993 m² Baik/Berfugsi 2 Kantor Pelayanan 544 m² Baik/Berfugsi
3 TPI 1.684 m² Baik/Berfugsi
4 Bengkel dan Dock 7 rel 3.195 m² Baik/Berfugsi 5 Tangki air dan Instalasi 89 m² Baik/Berfugsi
6 Jaringan Listrik Baik/Berfugsi
a. PLN 158 KVA Baik/Berfugsi
B. Genset 100 KVA Baik/Berfugsi
7 line Telefon Baik/Berfugsi
8 SPBU/SPBB KDU 7L Line Baik/Berfugsi 9 Pengolahan ikan 5.950 m² Baik/Berfugsi 10
Sentra Pengolahan dan pemasa 965 m² Baik/Berfugsi
11 Mini Plan 179 m² Baik/Berfugsi
12 Kios Pesisir 162 m² Baik/Berfugsi
13 Kios BAP 12 Unit Baik/Berfugsi
14 Lampu Suara 3 Unit Baik/Berfugsi
28
c. Fasilitas Penunjang
Fasilitas penunjang merupakan fasilitas yang secara tidak langsung meninggikan peranan pelabuhan perikanan dan tidak dapat di masukkan ke dalam kelompok kedua golongan Fasilitas di atas. Fasilitas penunjang yang ada di PPS Cilacap adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3 Fasilitas Penunjang Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap
No Jenis Ukuran Keterangan
1 Gerbang 2 Unit Baik/berfugsi
2 Pagar Keliling 2.546 Baik/berfugsi
3 Tempat Parkir 196 Baik/berfugsi
4 Pos Penjagaan 64 Baik/berfugsi
5 Shelter nelayan/ Pos Penyuluhan 120 Baik/berfugsi 6 Balai Pertemuan Nelayan 400 Baik/berfugsi
7 Guest House 124 Baik/berfugsi
8 Mushola 65 Baik/berfugsi
9 Mck 66 Baik/berfugsi
10 Mess Pelabuhan 17 Unit Baik/berfugsi
11
Kendaraan Oprasional 3 Unit Baik/berfugsi
a. Roda 6 3 Unit Baik/berfugsi
B. Roda 4 7 Unit Baik/berfugsi
c. Roda 3 4 Unit Baik/berfugsi
d. Roda 2 20 Unit Baik/berfugsi