• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS. A. Faktor-faktor Penghambat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS. A. Faktor-faktor Penghambat"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV ANALISIS

A. Faktor-faktor Penghambat

Dalam pembahasan sebelum bab ini telah diuraikan tentang sistem pelaksanaan manajemen organisasi remaja Masjid Agung Kendal dan manajemen organisasi Gereja Santo Antonius Padua serta struktur organisasinya, visi, misi dan tujuannya, serta kegiatan-kegiatan keduaorganisasi. Ada faktor yang menghambat dari organisasi keduanya berdasarkan data-data yang sudah dilaksanakan maupun yang belum dilaksanakan. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut terdapat faktor-faktor penghambat. Dalam pembahasan berikut akan dijelaskan beberapa faktor penghambat kedua organisasi tersebut.

Faktor penghambat organisasi remaja Masjid Agung Kendal dalam hal perencanaan adalah dalam pelaksanaan organisasi terutama penyusunan perencanaan kegiatan, sering mengalami perubahan karena terbenturnya dana, sulit mengumpulkan anggota dan ketidaksetujuan dalam penyelenggaraan kegiatan antara takmir dan remaja. Sebenarnya perencanaan kegiatan ini sudah terprogram dengan baik, tetapi pelaksanaan kegiatannya tergantung persetujuan takmir.

Dalam hal organisasi yang menjadi penghambat adalah kurangnya komunikasi antara remaja dan takmir. Hal ini dikarenakan takmir kurang peduli terhadap urusan remaja. Namun keharmonisan antara kubu satu atap ini perlu mendapat perhatian karena takmir dan remaja adalah satu lembaga yang saling bekerjasama bagaimana meramaikan masjid dengan kegiatan yang bermanfaat. Struktur takmir masjid yang meletakkan sebagai lembaga substansial tidak selamanya menjamin keharmonisan hubungan keduanya karena masing-masing merasa memiliki otoritas sendiri. Kurangnya komunikasi itu disebabkan takmir hanya mengurusi kegiatannya sendiri seperti kuliah subuh, khutbah Jum'at dan pembangunan masjid. Padahal remaja

(2)

memerlukan bimbingan dari seorang tokoh maupun idola dari lingkungannya sendiri (lingkungan masjid) sebagai panutan. Faktor penghambat yang lain adalah perbedaan status pekerjaan setiap anggota. Anggota KARISMA ini terdiri dari berbagai usia, jenjang pendidikan dan jenis pekerjaan sehingga dapat mempengaruhi keaktifan dalam berorganisasi. Mereka hanya bergantung pada salah satu anggota yang aktif saja.

Faktor penghambat dalam pelaksanaan kegiatan diantaranya kurangnya kader remaja dari setiap daerah sehingga dapat menghambat kegiatan yang melibatkan masyarakat di sekitar. Contohnya mengadakan posko BAZIZ (Badan Amal Zakat Infaq dan Sodaqoh) apabila di daerah tertentu tidak ada kader maka masyarakat akan sulit untuk ikut peran serta program tersebut karena kurangnya informasi yang diberikan. Banyak anggota KARISMA yang kuliah di luar kota, sehingga apabila ada kegiatan tidak bisa berpartisipasi. Mengenai dana, takmir hanya mensuplai dana apabila ada kegiatan yang disetujui saja. Takmir memberi dana untuk remaja masjid apabila remaja mengajukan proposal kegiatan. Takmir hanya memberikan dana sebagian saja, sedangkan kekurangannya remaja mencari dari pihak luar atau donatur. Kekurangan dana dalam setiap kegiatan ini mempengaruhi terhadap semangat etos kerja yang dilakukan para remaja, etos kerja remaja menjadi berkurang.

Faktor penghambat organisasi remaja Gereja Santo Antonius Padua Kendal di antaranya jumlah anggota organisasinya sedikit, sedangkan rencana kegiatan yang dijalankan jumlahnya banyak terkadang hasil rencana kegiatan yang sudah diprogram ditunda, dikarenakan banyak anggota yang sibuk dengan pekerjaan yang lain dan harus meluangkan waktu untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Rencana kegiatan yang dilaksanakan tersebut disesuaikan dengan banyaknya anggota organisasi MUDIKA karena sedikitnya anggota dapat mempengaruhi hasil yang kurang baik di dalam kegiatan. Kurangnya hubungan antara pengurus dan anggota juga mempengaruhi, sebab banyak anggota yang kuliah di luar kota. Apabila ada rapat

(3)

atau musyawarah penyelenggaraan kegiatan, banyak anggota yang tidak hadir karena bersamaan dengan kegiatannya sendiri. Hal ini mengakibatkan lambatnya pelaksanaan suatu keputusan yang dihasilkan. Mereka saling menunggu antara pengurus yang satu dengan yang lainnya. Kurangnya rasa tanggung jawab pengurus dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya dalam organisasi, mereka hanya menggantungkan pada salah satu orang saja dan menyepelekan beban yang diberikan serta melemparkan tanggung jawab pada orang lain. Dari faktor penghambat diatas juga mempengaruhi semangat remaja dalam melaksanakan kegiatan gereja. Semangat para remaja menjadi menurun.

B. Persamaan dan Perbedaan

Sebelum penulis memaparkan persamaan dan perbedaan antara organisasi Islam dan Katolik, lebih dulu penulis akan mengemukakan persamaan antara kedua organisasi tersebut.

Adapun persamaan antara remaja Masjid Agung Kendal dan remaja Gereja Santo Antonius Padua Kendal: Remaja ini di bawah bimbingan pengurus masjid (takmir) dan pengurus Gereja (Paroki) adalah suatu wilayah keuskupan yang dipimpin oleh seorang pastor kepala yang diangkat oleh uskup. Kedua pengurus ini yang memberi pengarahan maupun bimbingan kepada remaja. Takmir merupakan pengurus masjid yang mengelola masjid. Keduanya mempunyai misi untuk mengembangkan dan meningkatkan ketaqwaan atau ketaatan remaja di kalangan agama masing-masing. Membentuk kader atau penerus dalam mengembangkan agama masing-masing. Bahwa suatu kepengurusan perlu adanya peningkatan sebagai pengganti pengurus yang lebih dulu.

Islam dan Kristen adalah diantara dua agama besar di dunia. Kedua agama tersebut menjadi landasan bagi peradaban-peradaban yang pernah ada. Lebih dari itu sejarah agama Islam dan Kristen berasal dari seorang Nabi yang sama yaitu Nabi

(4)

Ibrahim. Dalam sejarah agama Islam, Kristen dan Yahudi di kelompokan ke dalam apa yang disebut agama-agama Ibrahim (abrahamic religions) yang secara teologis ciri khas agama ini adalah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa (monotheisme). Setiap agama yang menyadari ditugaskan oleh pendirinya untuk meneruskan “karisma” yang diperolehnya kepada semua bangsa dan yang menginginkan tugas itu dilaksanakan secara teratur tertib, agama yang demikian itu tidak dapat luput dari tuntutan sosiologis, yaitu organisasi, di mana unsur pimpinan tidak dapat ditiadakan. Bahwa agama bahari (adat) unsur pimpinan sama dengan pimpinan kepala adat, atau kepala suku seorang kyai. Organisasi-organisasi yang berhubungan dengan suatu agama dibuat dalam bentuk lembaga formal yang berhubungan dengan pemerintahan dan non pemerintahan baik itu organisasi remaja Masjid Agung Kendal maupun Gereja Santo Antonius Padua di Kendal

Perbedaan antara remaja Masjid Agung Kendal dan remaja Gereja Santo Antonius Padua di Kendal. Perbedaannya dalam misi utama adalah kepercayaan. Kepercayaan kedua agama tersebut (Islam dan Kristen) dalam hal tauhid (Ketuhanan). Sistem penggalangan dana dan cara penerapannya atau pengamalannya antara remaja masjid dan remaja katolik berbeda. Mengenai dana untuk remaja Katolik disuplai dari Paroki. Sedangkan di remaja Islam, KARISMA mengajukan proposal kegiatan kepada takmir baru takmir mengeluarkan dana untuk kegiatan tersebut, adapun kekurangannya minta kepada pihak luar (donatur).

C. Kelebihan dan Kelemahan

Selain faktor penghambat dan persamaan dan perbedaan dalam organisasi tersebut, ada kelemahan dan kelebihannya, di sini penulis akan memaparkan kelemahan dan kelebihannya.

Kelebihan organisasi remaja Masjid Agung Kendal dalam hal keaktifan adalah remaja masjid mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Agung Kendal

(5)

dengan aktif dan sunguh-sungguh. Dan hasil yang mereka peroleh ternyata bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Karena dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di masjid itu hidup mereka terbina dan dididik hidup mereka lebih mempunyai pengalaman tersendiri dalam berorganisasi. Dalam kegiatan itu mereka memperoleh ilmu pengetahuan tentang nilai-nilai Islam dari berbagai macam bidang contoh: latihan berdakwah Islamiyah dengan sering kali berlatih berdakwah yang akan merubah hidupnya menjadi lebih taat kepada ajaran Islam, seni baca Al-Qur'an menjadikan remaja dapat membaca Al-Qur'an dengan benar dan menjadi qori' maupun qori'ah, tata cara amal dan kegiatan amal sosial. Kegiatan-kegiatan yang diprogram oleh remaja masjid dan takmir ternyata banyak membawa hasil dalam hidup sehari-hari di lingkungan masyarakat.

Dari pengurus takmir Masjid Agung Kendal para pengurusnya menjalankan tugas sebaik mungkin membentuk berbagai kegiatan di masjid guna membina umat Islam dalam hidup bermasyarakat. Tujuan adanya kegiatan remaja adalah untuk membina dan melatih remaja masjid agar menjadi pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab. Eksistensi remaja Masjid Agung Kendal sebagai kelompok potensial di masyarakat sangat baik. Semangat mereka dalam beribadah dan beramal saleh menambah marak kegiatan-kegiatan di masjid serta aktifitas sosial kemasyarakatan. Bahkan kegiatannya dapat di pantau oleh masyarakat, sehingga menjadi salah satu indikator penting adanya kiprah umat Islam dalam proses pembangunan sosial. Takmir dan remaja juga mendirikan perpustakaan Islam di depan masjid dan perpustakaan ini dapat menambah wawasan bagi remaja dan semua masyarakat.

Kelemahan organisasi remaja Masjid Agung Kendal dalam hal dana adalah Takmir menyuplai dana kurang seimbang dengan tugas atau program yang telah ditetapkan. Remaja sering mengajukan proposal kegiatan ke instansi-instansi lain untuk mencari dana.

(6)

Kelemahan organisasi remaja Masjid Agung Kendal yang lain adalah hubungan antara takmir dan remaja masjid yang kurang harmonis. Dari beberapa kasus yang disampaikan remaja masjid pada peserta musyawarah remaja masjid se-Jawa Tengah di Semarang terungkap bahwa kesalahpahaman antara takmir masjid dan remaja masjid disebabkan posisi dan kedaulatan remaja masjid belum jelas. Masing-masing merasa memiliki otoritas dan kebebasan berdasar tolak ukur yang berbeda. Struktur kepengurusan takmir masjid yang meletakkan remaja masjid sebagai salah satu unsur pendukung tidak selamanya menjamin keharmonisan hubungan antara keduanya. Jalan lurus dan norma-norma yang ditetapkan takmir masjid dinilai remaja masjid sebagai ikatan kaku, sementara takmir masjid menganggap bahwa perilaku remaja masjid yang sangat akomodatif (sifat menampung usulan atau ide) dan adaptif (sifat penyesuaian) dengan perubahan-perubahan yang terjadi di luar masjid sebagai penyimpangan.

Kelemahan organisasi remaja Masjid Agung Kendal dalam hal kaderisari adalah Sistem penyaringan sebagai pengurus takmir dan remaja masjid yang belum jelas dan sulitnya mencari kader yang mempunyai idealisme dan mau meluangkan waktu untuk organisasi.

Kelebihan organisasi remaja Gereja Santo Antonius Padua Kendal adalah: Organisasi ini sangat terkoordinir dengan baik hubungan antara remaja dengan paroki saling bekerjasama dan orang tua ikut mendukung. Ada koordinator Paroki yang memantau kegiatan remaja. Kegiatan yang dilakukan remaja gereja, Paroki ikut mengetahui karena sebagai pembina remaja. Fungsi Paroki di sini adalah mengarahkan agar kegiatan yang dilakukan dapat berhasil. Paroki mengetahui kesulitan yang dihadapi organisasi remaja gereja. Dana yang dimiliki organisasi tidak selalu kekurangan karena ada anggaran tersendiri dari Paroki, agar keuangan remaja tidak kosong dana itu diperoleh dari partisipasi jemaat gereja yang memberikan iuran, seperti dalam Islam (infaq). Kemudahan dalam pengawasan atau pengkoordinasian

(7)

terhadap anggotanya yang jumlahnya sedikit sehingga mempermudah mengontrol remaja Katolik.

Kelemahan organisasi remaja Gereja Santo Antonius Padua Kendal adalah: Remaja Katolik mempunyai anggota yang sedikit, karena agama Katolik merupakan salah satu agama minoritas di Kabupaten Kendal. Kebanyakan jemaat Katolik Kendal adalah masyarakat pendatang yang belum jelas keadaan religiusitas (keagamaan) dan asal-usulnya. adapun masyarakat Kendal asli yang beragama Katolik masih sedikit. Letak tempat ibadah tidak berpusat pada basis pemeluknya. Gereja Santo Antonius Padua Kendal terletak di antara pemukiman mayoritas Muslim, sedangkan masyarakat Katolik menyebar di berbadai daerah. Dari masalah yang dihadapi di atas menjadikan kesulitan dalam mencari kader sebagai cikal bakal penerus kepengurusan (kaderisasi kepemimpinan).

D. Persamaan dan Perbedaan Etos Kerja

Selain faktor penghambat, persamaan, perbedaan, kelemahan dan kelebihan kedua organisasi di atas, ada persamaan dan perbedaan semangat atau etos kerja yang mendasari terbentuknya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan organisasi remaja Masjid Agung Kendal dan remaja Gereja Santo Antonius Padua Kendal.

Adapun persamaan etos kerja antara organisasi remaja Masjid Agung Kendal dan organisasi remaja Gereja Santo Antonius Padua. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk yang tidak bisa hidup sendiri sehingga ia senang bermasyarakat (berorganisasi). Dengan berorganisasi tersebut mereka (remaja) dapat berkiprah di dalamnya dan saling mengenal antar remaja. Pada dasarnya seseorang ingin lebih maju dan berkembang hal ini dapat dicapai dengan berorganisasi. Timbulnya semangat kerja karena adanya dukungan dari Takmir (pengurus masjid) dan Paroki (pengurus gereja) yang memberi pengarahan dan motivasi remaja agar

(8)

bersemangat melaksanakan kegiatan-kegiatan organisasi. Adanya rasa kebersamaan antar penggurus dan anggota yang membuat suasana menjadi harmonis.

Perbedaan etos kerja organisasi remaja Masjid Agung Kendal dan remaja Gereja Santo Antonius Padua Kendal. Di organisasi MUDIKA, Paroki dan remaja saling memberi dukungan motivasi dan pemberi semangat melaksanakan kegiatan. Paroki tidak memberi motivasi dalam kegiatan saja, terkadang Paroki memberi usulan agar organisasi remaja Katolik banyak melakukan kegiatan berkreatif dan bersemangat. Kondisi pembinaan kaum muda Katolik kerap menghadapi persoalan baik masalah remaja itu sendiri maupun antar pengurus dan anggota, bila tidak segera teratasi akan mematikan semangat menggereja di tanah kaum muda. Gereja harus memberikan perhatian yang lebih besar bagi generasi yang lebih muda dengan menghadirkan berbagai bentuk pembinaan yang lebih kreatif dan inovatif sehingga dengan pembinaan keagamaan tersebut semangat kerja kegiatan baik sosial maupun keagaamaan mempunyai semangat yang tinggi.

Sedangkan organisasi KARISMA yang mengadakan kegiatan adalah hasil kerja dari remaja tersebut dan takmir hanya sebagai pembimbing yang memberi pengarahan kegiatan bisa dilaksanakan atau tidak. Sedangkan takmir jarang memberi usulan kegiatan pada remaja disebabkan terbenturnya sumber dana. Kurangnya komunikasi antara takmir dan remaja masjid sangat mempengaruhi keaktifan kegiatan remaja menjadikan remaja tidak bersemangat .

Dari kegiatan keagamaan yang dilaksanakan baik gereja maupun masjid kedua organisasi tersebut berbeda dalam hal ibadah. Kegiatan keagaamaan MUDIKA dalam hal ibadah/Ekaristi adalah wajib, karena dengan kegiatan tersebut dapat menambah kepedulian remaja terhadap gereja. Sedangkan remaja masjid dengan kegiatan keagamaan juga menambah nilai-nilai keimanan. Selain kegiatan kegiatan keagamaan juga kegiatan sosial, kegiatan ini bagi remaja masjid maupun gereja sama-sama mempunyai rasa saling membantu sesama umat untuk menciptakan rasa toleransi

(9)

antar umat beragama. Kegiatan sosial organisasi remaja masjid dan remaja gereja mengadakan bakti sosial pada bulan-bulan tertentu seperti kegiatan yang dilakukan KARISMA yaitu bulan Ramadhan dan bulan Zulhijjah juga kegiatan yang dilakukan MUDIKA seperti perayaan Natal ataupun ada program khusus. Etos kerja kegiatan dari keagamaan maupun sosial baik remaja masjid maupun gereja yang telah penulis teliti bahwa semangat mereka dalam hal keagamaan maupun sosial ditentukan kegiatan tersebut sudah direncanakan atau mendapat persetujuan dari takmir ataupun paroki. Selama kegiatan yang dilakukan baik organisasi masjid maupun gereja menyatakan semangat dan program yang direncanakan selama kegiatan sesuai dengan program kerja.

Sebagai penjelasan dan penegasan analisa tentang kedua organisasi di atas penulis menyampaikan tabel sebagai berikut:

Materi KARISMA MUDIKA

Faktor penghambat

- Dalam penyusunan perenca-naan kegiatan, sering mengalami perubahan karena ketidak-setujuan dalam penyelenggaraan kegiatan antara takmir dan remaja.

- Kurangnya komunikasi antara remaja dan takmir. - Kurangnya kader remaja dari

setiap daerah.

- Mengenai dana, takmir hanya mensuplai dana apabila ada kegiatan yang disetujui saja. - Perbedaan status pekerjaan

- Jumlah anggota organisasinya sedikit.

- Kurangnya komunikasi antar pengurus. Banyak anggota yang tidak hadir dalam

musyawarah karena bersamaan dengan kegiatan

yang lain.

- Kurangnya rasa tanggung jawab pengurus dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya dalam organisasi.

(10)

setiap anggota.

- Banyak anggota KARISMA yang kuliah di luar kota.

di luar kota

Persamaan dan

perbedaan

- Remaja ini di bawah bimbingan pengurus masjid (takmir).

- Mempunyai misi untuk mengembangkan dan meningkatkan ketaqwaan atau ketaatan remaja di kalangan Islam

- Membentuk kader atau penerus dalam mengembang-kan agama masing-masing. - Misi utama adalah

kepercayaan kepada Allah. - Di Islam, KARISMA

mengajukan proposal kegia-tan kepada takmir baru takmir mengeluarkan dana untuk kegiatan tersebut. Sedangkan kekurangannya minta kepada donatur.

- Remaja ini di bawah bimbingan pengurus Gereja paroki (Paroki).

- Mempunyai misi untuk

mengembangkan dan meningkatkan ketaqwaan atau

ketaatan remaja di kalangan Katolik.

- Membentuk kader atau penerus dalam mengembang-kan agama masing-masing.

- Misi utama adalah

kepercayaan kepada Tuhan Yesus.

- Dana untuk Katolik disuplai dari paroki kemudian mudika mengadakan kegiatan dengan dana tersebut.

Kelebihan - Remaja masjid aktif mengikuti kegiatan.

- Remaja memperoleh ilmu pengetahuan tentang nilai-nilai Islam dari berbagai

- Organisasi ini terkoordinir dengan baik.

- Hubungan antara remaja dengan paroki saling bekerjasama dan orang tua

(11)

macam bidang.

- Membina dan melatih remaja masjid agar menjadi pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab.

- Membina umat Islam dalam hidup bermasyarakat.

- Banyak membawa hasil dari kegiatan yang dilaksanakan di masjid dalam hidup sehari-hari di lingkungan masyarakat.

- Eksistensi remaja Masjid Agung Kendal sebagai kelompok potensial di masyarakat sangat baik.

- Semangat dalam beribadah dan beramal saleh.

- Takmir dan remaja mendirikan perpustakaan Islam di depan masjid yang diperuntukkan kepada semua masyarakat.

ikut mendukung.

- Ada koordinator paroki yang memantau kegiatan remaja. - Dana yang dimiliki organisasi

tidak selalu kekurangan karena ada anggaran tersendiri dari paroki.

- Kegiatan-kegiatan keagamaan di Gereja (ibadah/ekaristi) untuk meningkatkan nilai-nilai keimanan agama Katolik..

- Kemudahan dalam pengawa-san atau pengkoordinasian terhadap anggotanya karena jumlahnya lebih sedikit.

Kelemahan - Takmir kurang seimbang dalam menyuplai dana.

- Hubungan antara takmir dan remaja masjid yang kurang harmonis.

- Jumlah anggota yang sedikit. - Letak tempat ibadah tidak

berpusat pada basis pemeluknya.

(12)

- Sistem penyaringan sebagai pengurus takmir dan remaja masjid yang belum jelas.

- Kaderisasi kepemimpinan, idealisme remaja dan orang tua kurang.

kepemimpinan.

- Kurangnya tingkat jenjang umur dalam suatu organisasi sebagai cikal bakal penerus kepengurusan

Persamaan dan

perbedaan Etos kerja

- Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial.

- Pada dasarnya seseorang ingin lebih maju dan berkembang hal ini dapat dicapai dengan berorganisasi - Kegiatan adalah hasil kerja

dari remaja, takmir hanya sebagai pembimbing yang memberi pengarahan.

- Takmir jarang memberi usulan kegiatan pada remaja disebabkan terbenturnya sumber dana.

- Kurangnya komunikasi antara takmir dan remaja sangat mempengaruhi keaktifan kegiatan remaja menjadikan remaja tidak bersemangat .

- Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial.

- Pada dasarnya seseorang ingin lebih maju dan berkembang hal ini dapat dicapai dengan berorganisasi.

- Paroki dan remaja saling memberi dukungan, motivasi dan pemberi semangat melaksanakan kegiatan.

- Paroki tidak memberi motivasi dalam kegiatan saja, terkadang paroki juga memberi usulan agar organisasi remaja Katolik banyak melakukan kegiatan berkreatif dan bersemangat - Kondisi pembinaan kaum

muda Katolik kerap menghadapi persoalan baik masalah remaja itu sendiri maupun antar pengurus.

Referensi

Dokumen terkait

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BARANG TOKO CANTIK KOTA TIDORE KEPULAUAN MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN HTML :

UML (Unified Modeling Language) adalah sebuah bahasa untuk menetukan, visualisasi, kontruksi, dan mendokumentasikan artifact (bagian dari informasi yang digunakan atau

· Memahami konsep rangkaian komputer serta berkebolehan menjalankan aktiviti asas yang melibatkan penggunaan rangkaian komputer atau internet; · Mempunyai fahaman dan kemahiran

Penelitian serupa yang menunjukkan keberhasilan penerapan model Accelerated Learning dalam pembelajaran IPA juga telah dilakukan oleh Astri (2011) dengan judul

Dari hasil focus group discussion (FGD) 2 orang informan menjawab KDRT dapat terjadi bukan pada suami ke istri saja, sedangkan untuk bentuk KDRT ke 10 informan dapat

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan

Studi kepustakaan mengenai perubahan konsepsi, strategi konflik kognitif, dan miskonsepsi siswa, dan analisa materi pedagogis pada pembelajaran ikatan ionik secara

Berdasarkan diagram pareto yang telah dibuat, urutan prioritas penanganan kualitas pada proses knitting yaitu jenis cacat belang, bolong, dan nepp, pada proses