• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA KINERJA SKPD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RENCANA KINERJA SKPD"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA KINERJA TAHUNAN x

RENCANA KINERJA

SKPD

( RENJA) SKPD

TH. 2021

DINAS SOSIAL

KOTA MOJOKERTO

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Pengarus utamaan Pembangunan Gender yang ada dalam RPJMD Kota Mojokerto yaitu pembangunan yang tertuju pada kesejahteraan sosial dalam konteks pembangunan nasional secara umum, lebih dikarenakan Pembangunan kesejahteraan sosial memiliki urgensi yang sama dengan pembangunan pada sektor ekonomi dan sektor-sektor lainnya. Hal ini lebih didasarkan pada pemikiran bahwa Pembangunan Kesejahteraan Sosial sejatinya merupakan strategi dan aktivitas yang dilakukan pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia melalui kebijakan dan program yang bermatra pelayanan sosial, penyembuhan sosial, perlindungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat (

Edi Suharto, 2006

).

Dari keempatnya yaitu Pancasila, UUD 1945, Nawa Cita Tahap II dan TRISAKTI dikembangkan Rencana Strategis Kementrian Sosial, merujuk kepada Rencana Strategis Nasional yang ditetapkan dalam RPJMN 2019-2024, aspirasi publik, dan mempertimbangkan rencana-rencana dari kementrian, lembaga pemerintahan, serta dinas sosial propinsi Jawa Timur.

Agar pelaksanaan pembangunan lebih terarah kepada sasaran pembangunan, sesuai dengan amanat Undang-undang nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang – undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, telah memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan serta keragaman daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(3)

Untuk terwujudnya pelaksanaan otonomi daerah sejalan dengan upaya menciptakan pemerintahan yang bersih, bertanggungjawab serta mampu menjawab tuntutan perubahan secara efektif dan efisien sesuai dengan prinsip tata pemerintahan yang baik maka sesuai dengan Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004, perencanaan pembangunan nasional disusun secara sistematis, terarah, terpadu dan tanggap terhadap perubahan, demikian juga perencanaan pembangunan daerah. Hal ini untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan, sehingga perencanaan pembangunan daerah dapat disinergikan dengan Pemerintah Pusat dan Propinsi.

Dengan telah dilantiknya Walikota dan Wakil Walikota masa jabatan Tahun 2018 – 2023, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah menyusun dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) Daerah Kota Mojokerto Tahun 2019 – 2024 sebagai penjabaran dari Visi, Misi dan Program Walikota dan Wakil Walikota terpilih, telah memberikan arahan yang jelas bagi seluruh stakeholders untuk mengoptimalkan sumber daya yang terbatas melalui penyusunan prioritas program-program pembangunan jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun dokumen Rencana Strategis (Renstra), dan dijabarkan secara rinci dalam dokumen Rencana Kerja (RENJA) setiap tahunnya.

Mengacu visi dan misi pasangan Walikota dan Wakil Walikota terpilih Kota Mojokerto periode Tahun 2018 – 2023, yaitu “TERWUJUDNYA KOTA MOJOKERTO SEBAGAI SERVICE CITY YANG MAJU, SEHAT, CERDAS, SEJAHTERA DAN BERMORAL”, maka pembangunan dilaksanakan pada 4 (empat) elemen kehidupan kota, yaitu pemerintahan, masyarakat, swasta dan lingkungan.

Sesuai rencana pencapaian target perbaikan dan peningkatan makro ekonomi untuk pembangunan Kota Mojokerto, maka pembangunan di bidang sosial ini melingkupi pembangunan manusia dan lingkungan sosialnya dengan segala kompleksitas dan implikasinya. Dari sini telah tergambar bagaimana tugas berat nan mulia yang diemban oleh Dinas Sosial Kota Mojokerto, mengingat permasalahan sosial yang ada sangatlah bermacam-ragam, sedangkan sumber daya manusia yang tersedia sangatlah terbatas untuk dapat melaksanakan perputaran roda pembangunan bidang sosial di Kota Mojokerto ini, demikian pula dengan

(4)

anggaran dana yang dialokasikan untuk program dan kegiatan yang diperuntukkan pembangunan bidang sosial yang juga terbatas, serta minimnya partisipasi masyarakat seakan-akan melengkapi beban yang terpapar didepan jalan yang dilalui Dinas Sosial Kota Mojokerto.

Apabila ditarik benang merah dengan sistem pemerintahan yang ada di Indonesia umumnya, dan khususnya di Kota Mojokerto ini yang diharapkan menyelenggarakan sistem GOOD GOVERNANCE yang secara sederhana pengertian dari GOOD GOVERNANCE adalah kesepakatan yang menitik beratkan untuk mengatur Negara secara bersama-sama baik dari sisi pemerintah, masyarakat madani, dan sektor swasta dengan pembentukan seluruh mekanisme, proses dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok masyarakat menyampaikan dan mempergunakan kepentingan, baik hukum, kewajiban, dan menjembatani perbedaan – perbedaan diantara mereka. Selain dari pengertian – pengertian diatas tersebut, peran penting GOOD GOVERNANCE juga memiliki prinsip yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2000 tentang prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik adalah memiliki : Profesionalitas, Akuntabilitas, Transparansi, Pelayanan Prima, Demokrasi dan Partisipasi, Efisiensi, Efektivitas, serta Supremasi Hukum.

1.2

Landasan Hukum

a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan

Negara;

c. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;

d. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421);

e. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 204 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan

(5)

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Peraturan Pemerintah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548) dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor );

f. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;

g. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan;

h. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah;

i. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah;

j. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan daerah;

k. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal;

l. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;

m. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;

n. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat;

o. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

p. Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMNAS) 2020-2024; q. Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 22-HUK Tahun

2020 tentang Rencana Strategis Kementrian Sosial Tahun 2020 – 2024;

r. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 7 tahun 2019 tentang Rencana Strategis Propinsi Jawa Timur Tahun 2019 - 2024

(6)

s. Peraturan Walikota Mojokerto Nomor 59 Tahun 2020 tentang Penyusunan Rencana Kinerja Tahun 2021.

1.3

Maksud Dan Tujuan

- Maksud Penyusunan Rencana Kerja (RENJA) Dinas Sosial Kota Mojokerto yaitu menetapkan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan selama kurun waktu 1 (satu) tahun yaitu 2021, yang menjadi landasan operasional dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas Sosial Kota Mojokerto.

- Tujuan akhir Penyusunan Rencana Kerja Dinas Sosial Kota Mojokerto yaitu :

a. Peningkatan kemampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasar;

b. Pemenuhan hak dasar dan inklusivitas bagi penduduk miskin dan rentan miskin, penyandang viabilitas, dan kelompok marginal lainnya;

c. Meningkatnya kualitas manajemen dan pengelolaan penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

1.4

Sistematika Penulisan

Penulisan Rencana Kerja (RENJA) ini terdiri dari beberapa bagian yang tersusun secara sistematis, yaitu :

- Bab I : PENDAHULUAN

- Bab II : HASIL EVALUASI RENJA PERANGKAT DAERAH TAHUN LALU

- Bab III : TUJUAN DAN SASARAN PERANGKAT DAERAH - Bab IV : RENCANA KERJA & PENDANAAN PERANGKAT

DAERAH - Bab V : PENUTUP

(7)

Bab II

HASIL EVALUASI RENJA SKPD

DINAS SOSIAL TAHUN LALU

2.1

Evaluasi Pelaksanaan RENJA Dinas Sosial pada

Tahun Lalu

Evaluasi Capaian Kinerja Jangka Menengah Tahun 2019 sebagai berikut :

No .

TUJUAN SASARAN INDIKATOR TUJUAN/SASARAN TARGET KINERJA CAPAIAN KINERJA (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Peningkatan Pengarus Utamaan Gender Dalam Pembangunan Indeks Pembangunan Gender (IPG) 93,05 93,05 Meningkatnya Perlindungan Sosial Masyarakat Persentase Menurunnya Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ( PMKS ) 1 % 1 %

a. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya, dengan kegiatan :

1. Kegiatan peningkatan kemampuan ( Capacity Building ) petugas dan pendamping sosial, pemberdayaan fakir miskin, KAT dan PMKS lainnya, yaitu pengadaan RASKIN APBD untuk 1500 RTS dan RASKIN APBN untuk 5023 RTS, biaya sebesar Rp. 4.157.532.500,00 realisasi penyerapan Rp. 4.150.019.500,00, capaian serapan 99,81 %, sedangkan capaian kinerja 100 %

2. Kegiatan pelatihan ketrampilan berusaha bagi keluarga miskin, yaitu pelatihan membuat kue dan membuat makanan dengan bahan dasar

(8)

ikan yang diikuti 60 orang, anggaran biaya sebesar 104.004.650,00, realisasi penyerapan Rp. 96.402.000,00 capaian serapan 92,62 %, capaian kinerja 98 %.

3. Kegiatan pelatihan ketrampilan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), yaitu berupa pendampingan, monitoring dan evaluasi Program Keluarga Harapan untuk 863 KK, biaya sebesar Rp.68.570.000,00, realisasi penyerapan Rp. 62.032.000,00, capaian serapan 90%, capaian kinerja 100 %.

4. Kegiatan pelatihan ketrampilan bagi PMKS, yaitu pelatihan membuat kue dan membuat makanan dengan bahan dasar ikan yang diikuti 60 orang, anggaran biaya sebesar Rp. 45.000.000,00, realisasi penyerapan Rp. 44.800,00 capaian serapan 99,55 %, capaian kinerja 98 %.

b. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial.

1. Kegiatan pelayanan dan perlindungan sosial, hukum, bagi korban eksploitasi, perdagangan perempuan dan anak, yaitu sosialisasi per - UU perlindungan sosial yang diikuti 70 Org, sebesar Rp. 40.000.000,00 , realisasi penyerapan Rp. 39.420.000,00, capaian serapan 98,55 %, capaian kinerja 80 %.

2. Kegiatan pelaksanaan KIE Konseling dan kampanye sosial bagi PMKS, yaitu sosialisasi per-UU bidang kesejahteraan sosial yang diikuti 30 Orang, sebesar Rp. 17.400.000,00, realisasi penyerapan Rp. 15.270.000,00, capaian serapan 87,75 %, capaian kinerja 80 %. 3. Kegiatan pelayanan kepada warga masyarakat, yaitu 700 tukang

becak, 18 kelurahan karang werdha, bantuan sarana & prasarana bagi Fakir Miskin 19 orang, HUT lansia 200 orang, bantuan jompo terlantar 1.197 Orang, sarana prasarana usaha bagi keluarga miskin 17 orang, bantuan sosial anak yatim non panti 393 anak, sosialisasi program pelayanan sosial lanjut usia 54 Orang, pengiriman ke UPT Trisna Werdha 1 orang, anggaran biaya sebesar Rp.666.310.150,00, realisasi penyerapan Rp.543.874.800,00, capaian serapan 82 %, capaian kinerja 100 %.

(9)

4. Kegiatan peningkatan kualitas pelayanan , sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial, yaitu pembinaan, bimbingan fisik mental terhadap 25 Org ANJAL, 25 Org Gelandangan, 20 Org Pengemis, bantuan sarana & prasarana GEPENG 11 Orang, Orang Terlantar 11 Orang, dan bantuan sembako kepada 133 KK warga LIPOSOS, bantuan sembako bagi penyandang disabilitas 300 Orang, bantuan alat kesehatan untuk mobilitas 8 Orang, bantuan sarana & prasarana bagi penyandang disabilitas 5 Orang, biaya sebesar Rp.341.000.000,00 realisasi penyerapan Rp.241.236.000,00, capaian serapan 71 %, capaian kinerja 100 %.

c. Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan.

1. Kegiatan sarasehan nilai-nilai kepahlawanan dalam rangka sejumlah 200 peserta sarasehan, anggaran biaya sebesar Rp. 121.985.000,00, realisasi penyerapan Rp. 119.741.000,00, capaian serapan 98 %, capaian kinerja 100 %.

2. Kegiatan Peningkatan Rasa Solidaritas dan Ikatan Sosial di Kalangan Masyarakat kegiatan ramah tamah bersama veteran/janda pahlawan/keluarga pahlawan/pejuang pelopor/warakawuri dalam rangka Hari Pahlawan sejumlah 135 orang peserta, kegiatan bhakti sosial donor darah dalam rangka memperingati HKSN Th. 2015 sejumlah 100 orang, kegiatan resepsi HKSN 200 peserta, pengadaan seragam kegiatan 35 orang, anggaran biaya sebesar Rp. 24.805.000,00, realisasi capaian serapan sejumlah Rp. 24.805.000,00, capaian serapan 100 %, capaian kinerja 100 %.

d. Program Pembinaan Panti Asuhan/ Panti Jompo.

1. Kegiatan operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana panti asuhan / jompo, untuk 6 PAY, buka puasa bersama anak yatim sejumlah 240 anak yatim, anggaran biaya sebesar Rp. 268.500.000,00, realisasi penyerapan Rp.256.184.400,00, capaian serapan 95 %, capaian kinerja 100 % .

(10)

e. Program Pengelolaan Areal Pemakaman.

1. Kegiatan pemeliharaan sarana dan prasarana pemakaman, yaitu honor bagi 5 penjaga makam pahlawan, sarana dan prasarana pemakaman seperti sapu, sabit, linggis, lampu dan lain-lain, anggaran biaya sebesar Rp.205.000.000,00, realisasi penyerapan Rp. 169.958.000,00, capaian serapan 83 %, capaian kinerja 100 %.

f. Program Pemberdayaaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial.

1. Kegiatan peningkatan kualitas SDM kesejahteraan sosial masyarakat, yaitu pelatihan budidaya jamur tiram lanjutan dan bantuan sarana prasarana budidaya jamur tiram yang diikuti oleh 40 orang, pelatihan makanan olahan jamur yang diikuti oleh 50 orang, penyerahan sarana dan prasarana TAGANA, PSM, Karang Taruna, dan TKSK, anggaran biaya sebesar Rp.137.177.000,00, realisasi penyerapan Rp. 97.752.000,00, capaian serapan 71 %, capaian kinerja 100 %.

2. Kegiatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha, yaitu monitoring dan evaluasi kegiatan UGB / Undian Berhadiah, anggaran biaya sebesar Rp. 5.370.000,00, realisasi capaian serapan sejumlah Rp. 4.870.000,00, capaian serapan 91 %, capaian kinerja 95 %.

3. Kegiatan peningkatan jejaring kerjasama pelaku – pelaku usaha kesejahteraan sosial, yang diikuti 50 orang anggaran biaya sebesar Rp. 72.000.000,00, realisasi capaian serapan sejumlah Rp.60.889.600,00, capaian serapan 85 %, capaian kinerja 98 %.

g. Program Perencanaan Pembangunan Daerah.

1. Kegiatan Penyusunan dokumen RENJA ( Rencana Kinerja SKPD ), biaya sebesar Rp. 12.660.000,00, realisasi penyerapan Rp.12.660.000,00. Capaian serapan 100 %, capaian kinerja 100 %. 2. Kegiatan Penyusunan Review RENSTRA SKPD, anggaran biaya

sebesar Rp. 5.750.000,00, realisasi capaian serapan sejumlah Rp. 5.750.000,00. Capaian serapan 100 %, capaian kinerja 100 %.

(11)

h. Program Pengembangan Data / Informasi

1. Kegiatan penyusunan profil daerah, anggaran biaya Rp. 14.956.150,00, realisasi penyerapan Rp. 14.956.150,00, capaian serapan 100 %, capaian kinerja 100 %.

i. Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Perencanaan Pembangunan Daerah

1. Kegiatan Peningkatan Kemampuan Teknis Aparat Perencana, anggaran biaya Rp. 24.240.000,00, realisasi capaian serapan Rp. 24.240.000,00, capaian seralan realisasi 100 %, capaian kinerja 100 %.

j. Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Eks Trauma

1. Kegiatan pendidikan & pelatihan bagi penyandang cacat dan eks trauma, yaitu pelatihan membuat batik khas 30 Orang, anggaran biaya Rp. 333.585.000,00, realisasi penyerapan Rp.278.276.800,00, capaian serapan 83 %, capaian kinerja 98 %.

k. Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial ( Mantan Narapidana, Mantan PSK, Mantan Pengguna NARKOBA, dan penyakit sosial lainnya )

1. Kegiatan pendidikan dan pelatihan ketrampilan berusaha bagi eks penyandang penyakit sosial, anggaran biaya Rp. 99.120.000,00, realisasi penyerapan Rp.94.739.000,00, realisasi capaian serapan 96 %, capaian kinerja 98 %.

(12)

1. Kegiatan pemantauan dan penyebarluasan informasi potensi bencana alam, pemetaan daerah rawan bencana 18 Kelurahan, anggaran biaya Rp. 181.010.000,00, realisasi penyerapan Rp. 166.184.750,00, realisasi capaian serapan 92 %, capaian kinerja 100 %.

m. Program Peningkatan Penanggulangan Narkoba dan PMS

1. Kegiatan penyuluhan penanggulangan narkoba dan PMS, sejumlah 100 peserta, anggaran biaya Rp. 44.400.000,00, realisasi penyerapan Rp. 43.416.250,00, capaian serapan 98 %, capaian kinerja 100 %.

2.2

Analisis

Kinerja

Pelayanan

Perangkat

Daerah

Dinas Sosial

Pencapaian kinerja tahun 2015 s/d 2019 mulai tingkat Kementrian Sosial, Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur sampai dengan Dinas Sosial Tingkat Kota Mojokerto adalah mencakup penilaian atas hasil, satuan hasil yang akan dicapai dari setiap sasaran dan indikator kinerja sasaran Strategis, sasaran dan indikator kinerja program , maupun sasaran dan indikator kinerja kegiatan. Dan indikator-indikator tersebut diukur secara berkala dan dievaluasi pada akhir tahun 2020, penilaian sasaran kinerja Akan dihitung secara kumulatif selama 5 (lima) tahun dan akan

berakhir pada tahun 2020.

ANALISA SWOT

Strategi dapat diartikan sebagai suatu rencana untuk meraih visi dan misi organisasi, selain itu strategi merupakan suatu pola tujuan, kebijakan dan program maupun pengalokasian sumber daya yang menentukan apa organisasi itu, apa yang dikerjakannya dan mengapa hal itu dilakukan.

Untuk menentukan strategi apa yang akan di pilih dalam pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial periode 2019 s/ d 2023, terlebih dahulu perlu di lakukan analisis terhadap kondisi lingkungan internal Dinas Sosial Kota Mojokerto, utuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada Dinas Sosial Kota Mojokerto. Selain itu juga

(13)

dilaksanakan penganalisisan terhadap kondisi eksternal Dinas hal itu berguna utuk mengetahui kondisi penganggaran untuk program dan kegiatan sehingga dapat diketahui tentang keberadaan peluang dan bahkan untuk mengetahui adanya ancaman yang akan dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial di masa yang akan datang.

Adapun hasil analisa secara rinci dapat dijelaskan sebagi berikut :

A. Faktor Kekuatan

Ada beberapa aspek yang dapat menjadi unsure kekuatan dari Dinas Sosial Kota Mojokerto, yaitu :

1. Adanya PERDA tentang pembentukan Dinas –Dinas Daerah. 2. Adanya gedung kantor

(14)

3. Adanya gedung LIPOSOS yang sekarang telah dibangun menjadi Shellter/ Rumah Aman sebagai penampungan sementara bagi Tuna Sosial, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan sebagai filter dari arus urbanisasi.

Yang memiliki sasaran-sasaran sebagai berikut : - Gelandangan

- Pengemis - Waria

- Eks Narapidana - Eks PSK

4. Adanya Rumah Peduli Lansia “ TRI BUWANA TUNGGA DEWI “ sebagai penampungan bagi Lanjut Usia Terlantar ber KTP dan KK Warga Kota Mojokerto serta tidak memiliki sanak saudara atau orang dekat yang merawatnya.

5. Adanya kendaraan operasional baik roda empat maupun roda dua. 6. Adanya dukungan dana.

7. Adanya Pekerja Sosial Masyarakat ( PSM ) , Karang Taruna, TKSK, Peksos, Pendamping PKH, TAGANA, WKSBM, LK3 dan organisasi sosial lainnya dalam membantu tugas dan fungsi Dinas Sosial Kota Mojokerto.

8. Adanya bimbingan / pembinaan bagi Tuna Sosial / PMKS

9. Adanya kerjasama yang baik dengan pihak diluar Dinas, yaitu Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak, Stasiun Radio Swasta maupun Stasiun Radio milik Dinas Informasi dan Komunikasi,

Kepolisian, SATPOL PP, DIKNAS, KUA, Kelurahan, Kecamatan dan Dinas/Instansi/ Kantor lainnya.

(15)

B. Faktor Kelemahan

Selain faktor kelemahan yang ada pada Dinas Sosial Kota Mojokerto, ternyata ada beberapa kondisi yang dianggap menjadi kelemahan di dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial, yaitu :

1. Makin berkembangnya jumlah warga yang kurang mampu/ menganggap dirinya miskin.

2. Rendahnya partisipasi masyarakat terhadap permasalahan sosial. 3. Rendahnya Sumber Daya Manusia peranan wanita dalam

pembangunan.

4. Tidak adanya tempat penampungan sementara ( Panti jompo ) bagi orang terlantar, jompo terlantar / jompo miskin.

5. Kurangnya sarana dan prasarana pendukung kesejahteraan PMKS.

C. Faktor Peluang

Kondisi peluang sebagai cerminan dari factor lingkungan eksternal meliputi beberapa kondisi, yaitu :

1. Peningkatan pemberdayaan Fakir Miskin dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial yang lain.

1. Pelayanan Rehabilitasi Sosial. 3. Pelaksanaan Razia kepada PMKS.

4. Peningkatan peranan wanita dalam kesejahteraan keluarga. 5. Peningkatan sarana dan prasarana kehidupan beragama. 6. Peningkatan kelestarian nilai-nilai kepahlawanan .

7. Peningkatan jejaring kerjasama pelaku-pelaku usaha kesejahteraan sosial masyarakat.

8. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia Kesejahteraan Sosial Masyarakat.

(16)

D. Faktor Tantangan

Kondisi yang di prediksi akan menjadi tantangan saat ini dan yang akan datang adalah :

Meningkatnya jumlah kenakalan remaja dan korban narkoba dan HIV / AIDS.

2. Kurangnya ketrampilan bagi PACA.

3. Kurangnya peluang usaha / bekerja sebagai karyawan pada perusahaan / kesempatan kerja yang sempit.

4. Meningkatnya jumlah anak jalanan, PSK, terutama Pengemis dan Gelandangan.

5. Kurang adanya koordinasi dengan dinas lainnya yang terkait dalam masalah penanganan rasia, penanganan korban bencana alam, dan orang terlantar.

6. Tidak terkoordinasinya bentuk penggalian dana sosial. 7. Kurangnya sosialisasi masalah undian berhadiah. 8. Tumbuhnya isu SARA.

9. Kurangnya rasa nasionalisme/kebangsaan.

(17)

2.3

Isu-isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi

Perangkat Daerah Dinas Sosial

Tujuan Umum pembangunan kesejahteraan sosial di Jawa Timur adalah “meningkatkan pemerataan, aksesibilitas dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial terutama pada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dengan mendayagunakan seluruh sumber daya aparatur Dinas Sosial dan partisipasi masyarakat untuk tercapainya derajat kesejahteraan sosial masyarakat yang setinggi-tingginya. Sedangkan tujuan khusus pembangunan kesejahteraan sosial di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :

a) Meningkatkan kuantitas dan kualitas, serta profesionalisme pelayanan sosial, rehabilitasi sosial, bantuan sosial dan perlindungan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial.

b) Meningkatkan aksesibilitas para penyandang masalah kesejahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar

c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memberikan pelayanan kesejahteraan sosial secara berkelanjutan

d) Meningkatkan dan melembaganya modal sosial sebagai landasan utama pembangunan kesejahteraan sosial.

2.4

Review Terhadap Rancangan Awal RKPD Perangkat

Daerah Dinas Sosial

Penyusunan Rencana Kerja Tahun 2021 ini berdasarkan Rancangan Awal RKPD tahun 2020 yang pada hakekatnya didasarkan pada evaluasi hasil pelaksanaan RKPD tahun 2019 disinergikan dengan RPJMD Kota Mojokerto dan Laporan Pertanggungjawaban tahun 2020. Evaluasi tersebut merupakan penelaahan atas pelaksanaan kinerja dari program dan kegiatan Perangkat Daerah. Evaluasi juga diselaraskan dengan hasil-hasil laporan kinerja yang menjadi dasar penyusunan Lakip SKPD Dinas Sosial.

(18)

Bab III

TUJUAN & SASARAN

SKPD DINAS SOSIAL

3.1

Telaah Terhadap Kebijakkan Nasional

Dibawah kepemimpinan Presiden JOKOWI (2018-2022), nilai –nilai pada Konstitusi UUD 1945 dan Pancasila diterjemahkan menjadi

“NAWA CITA JILID II” atau sembilan agenda prioritas, digagas untuk

menunjukkan langkah-langkah perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Konsep “NAWA CITA” dijiwai oleh keinginan untuk memandirikan bangsa di setiap sektor, khususnya ekonomi, politik, dan budaya. Ketiganya dirumuskan dalam prinsip TRISAKTI, sebuah prinsip untuk membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang Mac, sejahtera mandiri dan berdaulat, dan konsep TRISAKTI adalah :

- Berdaulat dalam politik - Berdikari dalam ekonomi

- Berkepribadian dalam kebudayaan

Dari keempatnya yaitu Pancasila, UUD 1945, Nawa Cita dan TRISAKTI dikembangkan Rencana Strategis Kementrian Sosial, merujuk kepada Rencana Strategis Nasional yang ditetapkan dalam RPJMN 2019-2023, aspirasi publik, dan mempertimbangkan rencana-rencana dari kementrian, lembaga pemerintahan, serta dinas sosial propinsi Jawa Timur.

Agar pelaksanaan pembangunan lebih terarah kepada sasaran pembangunan, sesuai dengan amanat Undang-undang nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang – undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, telah memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan serta keragaman daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(19)

Untuk terwujudnya pelaksanaan otonomi daerah sejalan dengan upaya menciptakan pemerintahan yang bersih, bertanggungjawab serta mampu menjawab tuntutan perubahan secara efektif dan efisien sesuai dengan prinsip tata pemerintahan yang baik maka sesuai dengan Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004, perencanaan pembangunan nasional disusun secara sistematis, terarah, terpadu dan tanggap terhadap perubahan, demikian juga perencanaan pembangunan daerah. Hal ini untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan, sehingga perencanaan pembangunan daerah dapat disinergikan dengan Pemerintah Pusat dan Propinsi.

Dengan telah dilantiknya Walikota dan Wakil Walikota masa jabatan Tahun 2019 – 2023, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah menyusun dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) Daerah Kota Mojokerto Tahun 2019 – 2023 sebagai penjabaran dari Visi, Misi dan Program Walikota dan Wakil Walikota terpilih, telah memberikan arahan yang jelas bagi seluruh stakeholders untuk mengoptimalkan sumber daya yang terbatas melalui penyusunan prioritas program-program pembangunan jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun dokumen Rencana Strategis (Renstra), dan dijabarkan secara rinci dalam dokumen Rencana Kerja (RENJA) setiap tahunnya.

Tujuan Umum pembangunan kesejahteraan sosial di Jawa Timur adalah “meningkatkan pemerataan, aksesibilitas dan kualitas pelayanan kesejahteraan sosial terutama pada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dengan mendayagunakan seluruh sumber daya aparatur Dinas Sosial dan partisipasi masyarakat untuk tercapainya derajat kesejahteraan sosial masyarakat yang setinggi-tingginya.

3.2

Tujuan & Sasaran Rencana Kerja (RENJA)

SKPD

Dinas Sosial

Visi dan misi pasangan Walikota dan Wakil Walikota terpilih Kota Mojokerto periode Tahun 2019 – 2023, yaitu “TERWUJUDNYA KOTA MOJOKERTO YANG BERDAYA SAING, MANDIRI, DEMOKRATIS, ADIL, MAKMUR, SEJAHTERA, DAN BERMARTABAT“, maka

(20)

pembangunan dilaksanakan pada 4 (empat) elemen kehidupan kota, yaitu pemerintahan, masyarakat, swasta dan lingkungan.

Dengan telah dilantiknya Walikota dan Wakil Walikota masa jabatan Tahun 2019 – 2023, maka langkah awal yang harus dilakukan penjabaran dari Visi, Misi dan Program Walikota dan Wakil Walikota terpilih, telah memberikan arahan yang jelas bagi seluruh stakeholders untuk mengoptimalkan sumber daya yang terbatas melalui penyusunan prioritas program-program pembangunan jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi seluruh Perangkat Daerah, utamanya bila ditarik garis merah dengan Perangkat Daerah Dinas Sosial Kota Mojokerto, maka bisa dilihat sebagai berikut :

Tujuan dan sasaran jangka menengah pelayanan perangkat daerah

No .

TUJUAN SASARAN

INDIKATOR TUJUAN/SASARAN

TARGET KINERJA TUJUAN /SASARAN PADA TAHUN KE -

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Peningkatan Pengarus Utamaan Gender Dalam Pembangunan Indeks Pembangunan Gender (IPG) 93,05 93,05 93,05 93,05 93,05 Meningkatnya Perlindungan Sosial Masyarakat Persentase Menurunnya Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ( PMKS ) 1% 3% 5% 7% 8%

3.3 Program & Kegiatan

Rencana Strategis Kementerian Sosial 2019-2023 merupakan dokumen tahap ketiga dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005 – 2025 yang ditetapkan melalui Undang Undang Nomor 17 Tahun 2007.

Berdasarkan visi Kementerian Sosial yang baru yakni “Terwujudnya Kesejahteraan Sosial Masyarakat”, diyakini dapat mengajak dan menggerakan seluruh jajaran kementerian pada level nasional dan provinsi maupun kabupaten/kota untuk menyelenggarakan kesejahteraan

(21)

sosial kepada masyarakat terutama PMKS melalui berbagai sarana/prasarana milik pemerintah dan pemerintah daerah maupun masyarakat, dunia usaha, bahkan melalui basis keluarga dan komunitas. Pernyataan visi yang baru kementerian ini dapat lebih fokus dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi PMKS sesuai dengan amanat Undang Undang No. 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial.

Dalam konstelasi pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menurunkan angka kemiskinan. Melalui Rencana Strategis Kementerian Sosial yang lebih terukur, pengalaman pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial sampai dengan saat ini, dan kecenderungan perkembangan masyarakat, serta berbagai dampak dari krisis ekonomi global yang menimbulkan permasalahan kesejahteraan sosial yang semakin kompleks. Dengan demikian Rencana Strategis ini diharapkan dapat menjadi dokumen yang mampu memberikan arah bagi kebijakan dan program pembangunan bidang kesejahteraan sosial, serta menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam

Indikator Kinerja Program OPD DINAS SOSIAL Kota Mojokerto Yang Mengacu Pada Tujuan Dan Sasaran RPJMD

No, Indikator

Kondisi Kinerja pada

awal periode RPJMD Target Capaian Setiap Tahun Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 Tahun 2022 Tahun 2023

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

1 Persentase menurunnya jumlah

PMKS 1% 1% 3% 5% 7% 8% 8%

2 Persentase PMKS yang

terlayani sesuai SOP 95% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

3 Persentase PMKS yang

direhabilitasi 95% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

4 Persentase PMKS yang

mendapatkan bantuan sosial 95% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

5 Persentase korban bencana

yang tertangani 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

6 Persentase PMKS yang

berdaya / mandiri 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

7

Persentase Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial yang kompeten

(22)

menyusun/menyesuaikan rencana

(23)

Bab IV

RENCANA KERJA & ANGGARAN

SKPD DINAS SOSIAL

(24)

Bab V

PENUTUP

Renja dalam SKPD ini adalah merupakan upaya memberikan arahan, garis dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan kesejahteraan sosial di Dinas Sosial Kota Mojokerto tahun 2021, Perencanaan ini disusun berdasarkan program kegiatan yang dilaksanakan oleh bidang-bidang yang ada pada perangkat daerah Dinas Sosial secara tepat dan berkelanjutan.

Melalui Renstra tahun 2019-2023 dan Renja tahun 2021 ini diharapkan mampu mempertegas peran dan posisi Dinas Sosial Kota Mojokerto dalam konstelasi pembangunan kesejahteraan sosial. Keberhasilan dalam pencapaian visi, misi dan tujuan sangat ditentukan oleh: (a) komitmen pimpinan, (b) konsistensi kebijakan Dinas Sosial Kota, (c) kepedulian dan peran serta masyarakat, organisasi sosial dan dunia usaha.

Rencana Kerja (RENJA) ini disusun berdasarkan data/informasi kegiatan bidang-bidang serta diskusi dengan pemangku kepentingan (stakeholder) agar dapat menjadi pedoman dalam perencanaan pelayanan kesejahteraan sosial di Dinas Sosial Kota Mojokerto.

Mojokerto, Maret 2020 Plt. Kepala Dinas Sosial

Kota Mojokerto

Drs. HERU SETYADI

Pembina Tk. I

(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh interaksi antara lama perendaman dan konsentrasi larutan khitosan pada kadar air bakso itik afkir yang

Jumlah bus sebanyak 60 unit yang disediakan Pemprov Jatim itu dianggap sudah cukup untuk melayani pemudik yang baru saja turun dari sebuah kapal.. Sementara untuk melayani

A Qualitative Study of Parents' Experiences of Providing Sex Education for Their Children: The Implications for Health Education. Parents‟ Perspectives on Talking to

Penjabaran atas Rencana Strategis Perencanaan Pembangunan yang telah dituangkan dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2019- 2023, Rencana Kerja Pemerintah Daerah

Keberadaan laboratorium komputer di perguruan tinggi yang berjumlah lebih dari satu atau kerap disebut laboratorium majemuk kerap menyisakan kendala berupa

Berdasarkan hasil kegiatan pembelajaran Fisika materi Listrik Arus Searah yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta

Baru pada akhir abad ke-19 mulai dilakukan pem- benahan dan penataan kota secara lebih baik, dan pada awal abad ke-20 seiring dengan berubahnya status kota Cirebon menjadi

Dari delapan standar nasional pendidikan tersebut, penulis tertarik dengan permasalahan standar pengelolaan, khususnya pengelolaan kesiswaan atau manajemen kesiswaan., yang penulis