60 Jurnal al–Hikmah vol. 4 no. 2 Oktober 2016 60~74
METODOLOGI TAFSIR
Ali Abdur Rohman
Abstract
This article discussed about methodology of interpretation. On fundamentally the methodology was discussion about method and procedure to solve a problem in the research or writing. For thus methodology was the primary apparatus that could’nt discharged from interpretation of the Qur’an. In order that the Qur’an could to function as the aim descended, that is guidelines (hudan), so the Qur’an must learned and tried his interpretation. Since the Qur’an descen era always show up the interpretation and then stab all kinds atmosphere or Islamic scientific knowledge that collaborate with development of the humans culture, the Qur’an always qualified for every time and place (s{a>lih{ li kulli al-zama>n wa al-maka>n). This was proved by appeared various of the tafsir book that had various of formulaition, replica, and the interpretation resource. In interpretation of Qur’an interpreters had construct the interpretation frame according to syistematically, that was ijma>li> (golbal), tah{li>li> (analysis), muqa>rin (comparison), and maud}u>’i> (thematic). And then according to the interpretation resource, that was al-ma’s\u>r (transmittion), al-ra’yu (ratio), al-isya>ri> (indicative). Thus, the article was as effort to describe these method that included in study of “the interpretation methodology”.
Keywords: tafsir, muqa>rin, maud}u>’i>, ijma>li>, tah{li>li>
Pendahuluan
Al-Qur’an adalah kitab pedoman yang menjadi petunjuk bagi umat manusia. Petunjuk al-Qur’an tersebut tidak akan mampu diketahui tanpa adanya penafsiran. Maka dari itulah sejak zaman Rasu>lulla>h
sampai sekarang kegiatan penafsiran terhadap al-Qur’an terus dilakukan. Pada awalnya proses penafsiran hanya dilakukan dengan cara hafalan (pra-kodifikasi) atau yang dikenal tradisi periwayatan seperti yang dilakukan oleh para sahabat dan ta>bi’i>n. Dalam perjalanannya muncullah gagasan untuk melakukan kodifikasi tafsir al-Qur’an sehingga banyak lahir mufassir dengan karya mereka masing-masing. Dalam perkembangan selanjutnya lahirlah ‘ulu>m al-Qur’a>n dan ‘ulu>m al-tafsi>r yang di dalamnya terdapat prasyarat dan undang-undang dalam menafsirkan al-Qur’an. Tidak hanya itu, dengan kedua ilmu tersebut banyak sarjana al-Qur’an yang
melakukan penelitian terhadap karya-karya tafsir yang ada, sehingga ditemukanlah karya-karya yang memiliki karekteristik tersendiri yang mencakup
metode, sistematika, dan corak
penafsirannya.
tertentu sehingga menghasilkan suatu tafsir yang representatif.1
Para mufassir dalam sejarahnya juga memilih acuan sesuai dengan mainstream
pemikiran zamannya di samping minat individualnya. Akibatnya, ada mufassir yang lebih mengunggulkan teks dasar Islam (al-Qur’an, Hadis atau As\ar padaumumnya), tetapi ada juga yang lebih mengunggulkan sumber atau acuan lainseperti isra>iliya>t,
syair Arab, ilmu-ilmu keislaman, ilmu bahasa atau bahkan penemuan-penemuan di bidang sosial yang semuanya itu masuk wilayah non-as\ar (al-ra’yu). Keadaan menunjukkan bahwa sumber penafsiran merupakan satu variabel dalam studi tafsir yang antara satu mufassir dengan mufassir lainnya saling berbeda.2
Berangkat dari sedikit urain di atas, dalam makalah ini penulis akan menjelaskan tentang metodologi tafsir, yang di dalamnya akan menjawab beberapa pertanyaan, yaitu: 1) apa pengertian metodologi tafsir? 2) bagaimana metode tafsir dilihat dari sitematika penafsirannya? dan 3) bagaimana metode tafsir dilihat dari sisi sumber penafsirannya?
Pengertian Metodologi Tafsir
Secara etimologi istilah metodologi tafsi>r merupakan bentuk id}a>fah (gabungan kata) dari dua kata yaitu metodologi dan
tafsi>r. Kata metodologi merupakan kata
serapan dari bahasa Inggris yaitu
methodology3 atau manhaji> (dalam bahasa
Arab) yang secara bahasa Indonesia dapat diartikan dengan ilmu tentang metode.4
1 Abd. Muin Salim, Metodologi Ilmu Tafsir,
(Yogyakarta: Teras, 2005), h. 38.
2 Muhammad Mansur dalam “Dosen Tafsir
Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Studi Kitab Tafsir, (Yogyakarta: Teras, 2004), h. 13.
3 Jhon M. Echols & Hassan Shadily, Kamus
Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2003), h. 379.
4 Ebta Setiawan, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Offline Versi 1.1, 2010.
Sedangkan kata tafsi>r secara bahasa merupakan bentuk musytaq (jadian) dari
fassara-yufassiru-tafsi>ran yang berarti
menjelaskan sesuatu (baya>n al-syai’ wa id{a>h{uhu).5 Kata tafsi>r dapat pula berarti
al-iba>nah (menjelaskan), al-kasyf
(menyingkapkan), dan al-iz}ha>r
(menampakkan) makna yang bisa
dinalar/masuk akal.6 Dan dalam Lisa>n
al-‘Arab kata al-tafsi>r berarti menyingkapkan maksud suatu lafat yang musykil (sulit dipahami) dan pelik.7 Dari tinjauan makna
tersebut maka kata tafsi>r menurut istilah adalah ilmu yang membahas makna-makna al-Qur’an yang meliputi segi asba>b al-nuzu>l
dan muna>sabahnya, petunjuk diturunkan
dan kandungan maknanya, petunjuk lafaznya yang meliputi ‘umu>m, khus}u>s},
mut}laq, muqayyad, mujmal, dan mufassar,
serta segala sesuatu yang terhimpun di dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan hukum, petunjuk, pelajaran, kisah-kisah dan nasihat-nasihat.8 Makna tafsi>r9 secara
5 Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir
al-Qur’an, (Yogyakarta: Adab Press, 2004), h. 3.
6 Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>h}is\ fi> ‘Ulu>m
al-Qur’a>n, (t.t.p.: Maktabah al-Ma’a>rif li Nasyr wa al-Tauzi>’, 2000), juz I, h. 334.
7 Muh}ammad bin Mukrim bin Manz}ur
al-Afri>qi> al-Mis}ri, > Lisa>n al-‘Arab, (Beirut: Da>r S{a>dir, t.th.), juz V, h. 55.
8 Muh}ammad Fa>ru>q al-Nabha>n, al-Madkhal
ila> ‘Ulu>m al-Qur’a>n al-Kari>m, (H{alba: Da>r ‘A<lam al-Qur’a>n, 2005), h. 68.
9 Sebenarnya masih banyak ulama yang
telah mendefinisikan tafsir secara istilah, di antarannya:
a. Al-Jurja>ni>, al-tafsi>r pada dasarnya berarti membuka dan melahirkan. Dalam pengertian syara’, (tafsir) ialah menjelaskan makna ayat dari segi keberadaanya, kisahnya, asba>b al-nuzulnya, dengan menggunakan lafaz yang menunjukkan kepadanya dengan jelas.” Lihat al-Jurja>ni>, al-ta’ri>fa>t, (Beirut: Da>r al-Kita>b li’Arabi>, 1405 H), h. 87.
62 Jurnal al–Hikmah vol. 4 no. 2 Oktober 2016 60~74 istilah juga dapat diartikan sebagai suatu
hasil pemahaman atau penjelasan seorang penafsir, terhadap al-Qur’an yang dilakukan dengan menggunakan metode tertentu atau pendekatan tertentu.10
Setelah mengetahui arti dari masing-masing istilah di atas maka metodologi tafsi>r dapat diartikan sebagai ilmu tentang metode menafsirkan al-Quran. Namun, yang perlu dicermati di sini adalah harus dibedakan antara metode tafsir dan metodologi tafsir. Kalau metode tafsir adalah cara-cara menafsirkan al-Qur’an. Bisa ditambahkan bahwa metode tafsir merupakan kerangka atau kaidah yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an sedangkan metodologi tafsir ialah pembahasan tentang metode penafsiran tersebut.11
Dalam peta perkembangan tafsir al-Qur’an, sejak dahulu sampai sekarang telah lahir banyak mufassir dengan karya tafsirnya masing-masing yang memiliki karakteristik tertentu dalam hal paradigma,
epistem, metodologi, dan corak
penafsiran.12
padanya ketika tersusun serta hal-hal yang menyempurnakannya. Lihat ‘Abd al-Rah{ma>n bin Kama>l Jala>l al-Di>n al-Suyu>t{i>, Itqa>n fi>’Ulu>m al-Qur’a>n,(t.t.p.: t.p., t.th.), juz II, h. 460. Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
c. Al-Zarkasyi>, al-Tafsi>r ialah ilmu tentang asba>b al-nuzul ayat dan surat al-Qur’an,
kisah-kisahnya, petunjuk-petunjuk diturunkannya, kronologi makkiyyah-madaniyyah-nya, muh{kam-mutasya<bih-nya, na>sikh-mansu>kh-nya,
kha>s{-‘a>mm-nya, mut{laq-muqayyad-nya, dan
mujmal-mufassar-nya ayat al-Qur’an. Lihat Badr al-Di>n Muh{ammad bin ‘Abd Alla>h bin Baha>du>r al-Zarkasyi>, al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Tahq. Muh{ammad Abu> al-Fad{al Ibra>hi>m, (Beirut: Da>r Ih{ya>’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1957), juz II, h. 148.
10 Mustaqim, Dinamika., h. 3.
11 Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, (Bandung:
Pustaka Setia, 2005), h. 175. Lihat juga Nasiruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Quran, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000), h. 1-2.
12 Perbedaan penafsiran terhadap ayat
al-Qur’an setidaknya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang berarti hal-hal yang ada di
Macam-macam Metode Tafsir
Berdasarkan Sistematikanya
Secara garis besar metode penafsiran berdasarkan sistematikanya dapat dikategorikan dalam empat metode, yaitu
ijma>li> (global), tah{li>li> (analisis), muqa>rin
(perbandingan) dan maud}u>’i> (tematik).
1. Tafsir metode ijma>li> (global)
Tafsir metode ijma>li> ialah metode menafsirkan al-Qur’an secara global.
Dengan metode ini penafsir
menjelaskan arti dan maksud ayat dengan uraian singkat yang dapat menjelasakan sebatas artinya tanpa menyinggung hal-hal selain arti yang dikehendaki. Di dalam uraianya, penafsir membahas secara runtut berdasarkan urutan mushaf, kemudian menggunakan makna global yang dimaksud oleh ayat tersebut.13 Adapun
kelebihan pada metode ijma>li>, adalah:
a. Proses dan bentuknya yang mudah dibaca dan sangat ringkas serta bersifat umum.
b. Terhindar dari upaya-upaya penafsiran yang bersifat asing. c. Bahasanya yang akrab dengan
bahasa al-Qur’an.
Sedangkan kekurangannya
adalah penafsiran dengan metode
ijma>li>> menjadikan petunjuk Al-Qur’an
bersifat parsial dan tidak ada ruang untuk analisis yang memadai.14
dalam internal teks itu sendiri dan faktor ekternal yang berarti faktor-faktor yang berada di luar teks seperti situasi dan kondisi yang melingkupi para mufassir dan audiennya, kondisi sosio-kultural, konteks politik, pra-anggapan, paradigma, sumber dan metodologi yang dipakai dalam menafsirkan, dan bahkan latar belakang keilmuan seorang mufassir. Lihat Mustaqim, Dinamika., h. 15-20.
13 Abd Muin Salim, Metodologi Ilmu Tafsir,
(Yogyakarta: Teras, 2010), h. 43.
14 Lebih lengkapnya lihat Baidan,
Di antara kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode ijma>li> adalah:15
a. Tafsi>r al Jala>lain, karya Jala>l al-Di>n
al-Suyu>t{i> dan Jala>l al-Di>n al-Mah{alli>.
b. Tafsi>r al-Qur’a>n al-Ad{i>m, karya Muh{ammad Farid al-Wajdi>.
c. Tafsi>r al-Wasi>t}, produk Lembaga
Pengkajian Universitas al-Azhar, Mesir.
d. Tafsi>r al-Wafiz fi> Tafsi>r al-Qur'a>n al-Kari>m, oleh Syauqi D{ai>f.
e. Tafsi>r al-Wadi<h} oleh Muh}ammad Mah}mu>d al-H{ijazi>.
f. Tafsi>r al-Qur'a>n al-Kari>m, oleh Mah}mu>d Muh{ammad Hadan ‘Ulwan
dan Muh{ammad Ah}mad Barmiq.16
Contoh aplikasi penafsiran dengan metode ijma>li>> dalam Tafsi>r al Jala>lain Q.S. al-‘Alaq 1-3.
"
ﻖَﻠَﻔْﻟا ِّبَﺮِﺑ ذﻮُﻋَأ ْﻞُﻗ
"
ﺢْﺒﱡﺼﻟا
"
َﻖَﻠَﺧ ﺎَﻣ ّﺮَﺷ ْﻦِﻣ
"
ْﲑَﻏَو ﻒﱠﻠَﻜُﻣ ناَﻮَـﻴَﺣ ْﻦِﻣ
َﻚِﻟَذ ْﲑَﻏَو ِّﻢﱡﺴﻟﺎَﻛ دﺎََﲨَو ﻒﱠﻠَﻜُﻣ
َﺐَﻗَو اَذِإ ﻖِﺳﺎَﻏ ّﺮَﺷ ْﻦِﻣَو
"
َﻢَﻠْﻇَأ اَذِإ ﻞْﻴﱠﻠﻟا ْيَأ
ﺮَﻤَﻘْﻟاَو
َبﺎَﻏ اَذِإ
١٧Dalam contoh tersebut sangat tampak bahwa penafsiran dengan
15 Badri Khaeruman, Sejarah Perkembangan
Tafsir Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), h. 99.
16 H. Muhammad Amin Suma, Studi
Ilmu-ilmu Al Qur'an 2, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), h. 113.
17Artinya: 1) (Katakanlah, "Aku berlindung
kepada Rabb Yang menguasai falaq) atau waktu subuh. 2) (Dari kejahatan apa yang telah diciptakan-Nya) yaitu dari kejahatan makhluk hidup yang berakal dan yang tidak berakal; serta dari kejahatan benda mati seperti racun dan lain sebagainya. 3) (Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita) artinya dari kejahatan malam hari apabila telah gelap, dan dari kejahatan waktu purnama apabila telah terbenam. Jala>l al-Di>n al-Suyu>t{i> dan Jala>l al-Di>n al-Mah{alli>, Tafsi>r al Jala>lain, (t.t.p.: t.p., t.th.), juz XII, h. 237. Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
metode ijma>li>> cukup ringkas seperti
bahasa penterjemahan.
2. Tafsir metode tah{li>li> (analisis)
Tah{li>li> adalah salah satu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dari seluruh aspeknya.18 Dengan kata lain,
seorang mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an dengan penyampaian secara lengkap dari aspek pembahasan lafadznya, yang meliputi pembahasan kosa kata, arti yang dikehendaki, dan sasaran yang dituju dari kandungan ayat, yaitu unsur ijaz, balaghah, dan keindahan kalimat, aspek pembahasan
makna, yaitu apa yang bisa
diistinbatkan dari ayat yang meliputi hukum fiqih, dalil syar’i, norma-norma akhlak, akidah atau tauhid, perintah, larangan, janji, ancaman, dan lain-lain.19 Sehingga dalam tafsir ini sering
terdapat corak nuansa penafsiran yang condong kepada bidang tertentu, antara lain tafsir lugawi>, tafsir sufi>,
tafsir fiqhi>, tafsir falsafi, tafsir ‘ilmi> dan
tafsir adabi>-ijtima>’i>.
Ciri-ciri utama metode tah{li>li> ini antara lain ialah:
a. Membahas segala sesuatu yang berkaitan ayat tersebut dari segala
segi yang meliputi aspek
muna>sabah, mufra>da>t (kosakata),
balagah, dan ah{ka>m-nya.
b. Mengungkapkan asba>b al-nuzul ayat yang ditafsirkan, jika ayat tersebut memang memiliki asba>b al-nuzul.
c. Menafsirkan ayat per ayat secara berurutan sesuai dengan tarti>b al-Qur’a>n al-‘Usma>ni>.
d. Tafsir tah{li>li>> dapat berbentuk tafsir
bi al-ma’su>r kalau titik tekan
18 Lihat ‘Abd al-Hai> al-Farma>wi>,
Muqaddimah fi al-Tafsir al-Maud{u>’i>, (Kairo: al-H{ad}arah al-‘Arabiyah, 1977), h. 24.
19 Lihat Nur Khalis, Pengantar Studi
64 Jurnal al–Hikmah vol. 4 no. 2 Oktober 2016 60~74 pembahasannya pada riwayat, baik
berupa hadis, as\ar sahabat atau pendapat ulama yang kemudian dikuatkan oleh rasio (ra’yu). Sebaliknya juga bisa berbentuk tafsir bi al-ra’yi jika titik tekan penafsirannya berdasarkan rasio, sementara riwayat diposisikan hanya sebagai penguat logika penafsiran.
e. Pembahasan yang terlalu luas itu maka tidak tertutup kemungkinan penafsirannya diwarnai bias subyektifitas penafsir, baik latar belakang keilmuan maupun aliran mazhab yang diyakininya. Sehingga
menyebabkan adanya
kecenderungan khusus yang
teraplikasikan dalam karya mereka.20
Di antara kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode tah{li>li> adalah: a. Tafsi>r Ja>mi’ al-Baya>n fi Tafsi>r
al-Qur’a>n, karya Ibn Jari>r al-T{abari>.
b. Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Ad}i>m, karya Ibn Kas\i>r.
c. Tafsi>r al-Kasysya>f, karya al-Zamakhsyari>.
d. Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib, karya Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>.
e. Tafsi>r al-Ja>mi’ li Ah{ka>m al-Qur’a>n wa al-Mubayyin li ma> Tad}ammanah min al-Sunnah wa A<y al-Furqa>n, karya al-Qurt}ubi>.
f. Tafsi>r Luba>b al-Ta’wi>l fi> Ma’a>ni> al-Tanzi>l, karya al-Kha>zin.21
Contoh aplikasi metode tafsir
tah{li>li> dalam lafaz
ﱂا
(Q.S.
20Muin Salim, Metodologi..., h. 42. Lihat juga
M. Quraish Shihab, Sejarah dan Ulumul Qur’an,
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h. 173-174.
21 Tafsi>r dengan metode tah}li>li> sebenarnya
cukup banyak untuk mengetahuinya bisa dilihat dalam ‘Ali Hasan al-‘Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), h. 68.
Baqarah/2:1) dari Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib karya Fakhr al-Di>n al-Ra>zi berikut:
Dalam menafsirkan
ﱂا
, pertama-tama al-Ra>zi> menyebutkan adanya perdebatan ulama dalam menyikapi al-ah}ruf al-muqat}t}a’ah. Dalam hal ini, ia menyebutkan dua golongan ulama, yaitu:Pertama, ulama yang
berpendapat bahwa al-ah}ruf
al-muqat}t}a’ah merupakan ayat yang tidak
bisa diketahui maksudnya kecuali oleh Allah Swt. Pendapat ini diperkuat dengan riwayat Abu> Bakr al-S}iddi>q dan
riwayat Ali> bin Abi> T{a>lib.
ﻪﻨﻋ ﷲ ﻲﺿر ﻖﻳﺪﺼﻟا ﺮﻜﺑ ﻮﺑأ لﺎﻗو
ِّﻞُﻛ ِﰲ
ِرَﻮﱡﺴﻟا ُﻞِﺋاَوَأ ِنآْﺮُﻘْﻟا ِﰲ ُﻩﱡﺮِﺳَو ، ﱞﺮِﺳ ٍبﺎَﺘِﻛ
لﺎﻗو
ُةَﻮْﻔَﺻَو ، ًةَﻮْﻔَﺻ ٍبﺎَﺘِﻛ ِّﻞُﻜِﻟ ﱠنِإ ﻪﻨﻋ ﷲ ﻲﺿر ﻲﻠﻋ
ﻲِّﺠَﻬﱠـﺘﻟا ُفوُﺮُﺣ ِبﺎَﺘِﻜْﻟا اَﺬَﻫ
٢٢Kedua, pendapat ulama yang
menganggap bahwa al-ah}ruf
al-muqat}t}a’ah selain maksudnya
diketahui oleh Allah Swt. namun juga bisa diketahui oleh manusia dengan mentakwilkannya dengan berbagai argumen naqli> (al-Qur’an dan Hadis)
maupan aqli>(analisis akal).
Setelah itu al-Ra>zi>
menjabarkannya dengan
menyantumkan beberapa hadis
pendukung, yaitu
َﻠُﻌْﻠِﻟ
ِﺔَﻜِﺋ َﻼَﻤْﻠِﻟَو ﱞﺮِﺳ ِءﺎَﻴِﺒْﻧَْﻸِﻟَو ﱞﺮِﺳ ِءﺎَﻔَﻠُﺨْﻠِﻟَو ﱞﺮِﺳ ِءﺎَﻤ
ُلﺎَﻬُﳉْا َﻊِﻠﱡﻃُأ ْﻮَﻠَـﻓ ﱞﺮِﺳ ُﻪﱠﻠُﻛ َﻚِﻟَذ ِﺪْﻌَـﺑ ْﻦِﻣ ِﱠَِو ﱞﺮِﺳ
َﻰﻠَﻋ ُءﺎَﻤَﻠُﻌﻟْا َﻊِﻠﱡﻃُا ْﻮَﻟَو ْﻢُﻫْوُدﺎَﺑََﻷ ِءﺎَﻤَﻠُﻌﻟْا ِّﺮِﺳ َﻰﻠَﻋ
22 Artinya Abu Bakar berkata: “Di tiap-tiap
kitab ada rahasianya, dan rahasia al-Qur’an adalah permulaan-permulaan surat”. Ali> berkata: “Setiap kitab suci mempunyai keistimewaan dan keistimewaan kitab suci ini adalah tahajji>
َﺑﺎَﻨَﻟ ِءﺎَﻔَﻠُﳋْا ِّﺮِﺳ
ِّﺮِﺳ ﻰَﻠَﻋ ُءﺎَﻔﻠُﳋْا َﻊِﻠﱡﻃُا ْﻮَﻟَو ْﻢﻫْوُﺬ
ﻰَﻠَﻋ ُءﺎَﻴِﺒْﻧَﻷْا َﻊِﻠﱡﻃُا ْﻮَﻟَو ْﻢُﻫْﻮُﻔِﻟﺎََﳋ ِءﺎَﻴِﺒْﻧَﻷْا
ِّﺮِﺳ َﻰﻠَﻋ ِﺔَﻜِﺋ َﻼَﳌْا َﻊٍﻠّﻃُا ْﻮَﻟَو ْﻢُﻫْﻮُﻤْﻬَـﺗ َﻻ ِﺔَﻜِﺋَﻼَﻤْﻟاِّﺮِﺳ
َﻦْﻳِﺮِﺋﺎَﺑ اْوُدَﺎﺑَو َﻦْﻳِﺮِﺋَﺎﺣ اْﻮُﺣَﺎﻄَﻟ َﱃﺎَﻌَـﺗ ِﷲ
٢٣Kesimpulan dari penjelasan al-Ra>zi> adalah ia menolak pentakwilan terhadap huruf-huruf tersebut. Meskipun ia menolaknya al-Ra>zi> juga
menyebutkan berbagai pendapat tentang makna al-ah}ruf al-muqat}t}a’ah, bahkan mencapai 20 pendapat. Di samping itu, al-Ra>zi> juga melakukan kajian kebahasaan dan cara baca (qira’at) al-ah}ruf al-muqat}t}a’ah dengan mengambil pendapat para imam
qura>’.24
23 Artinya “Para ulama memiliki rahasia,
para khalifah memiliki rahasia, para nabi memiliki rahasia, para malaikat memiliki rahasia, dan Allah memiliki rahasia dari semuanya. Seandainya orang bodoh mengetahui rahasia ulama maka mereka akan menghilangkannya, seandainya para ulama mengetahui rahasia para khalifah maka mereka akan menjauhinya, seandainya para khalifah mengetahui rahasia para nabi maka mereka akan mendurhakianya, seandainya para nabi mengetahui rahasia malaikat maka mereka akan mencurigai mereka, seandainya malaikat mengetahui rahasia Allah maka mereka akan menghancurkan orang yang ragu-ragu dan mereka akan binasa.
24 Di antara pendapat itu adalah 1) Al-Ah}ruf
al-muqat}t}a’ah adalah nama-nama surat. Ini adalah pendapat dari kebanyakan ahli kalam. Pendapat ini dipilih oleh Imam Khali>l dan Imam Si>baweh. Al-Qafa>l berkata orang Arab telah menggunakan huruf-huruf ini sebagai-nama sesuatu. Hal ini bisa diketahui bahwa mereka menggunakan la>m sebagai nama dari orang tua H{a>risah bin La>m al-T{a>’i>, dan mereka menyebut tembaga dengan s{a>d, uang dengan ‘ain, awan dengan gain, gunung dengan qa>f, dan mereka menyebut ikan besardengan nu>n.2) Al-Ah}ruf al-muqat}t}a’ah merupakan nama-nama Allah Swt, sebagaimana yang diriwatkan dari ‘Ali> ‘alaihi al-sala>m, bahwasannya ia mengucapkan “ ﺎﻳ ﺺﻌﻳ ﻪﻛ ﺎﻳ
ﻖﺳ ع م ح.”. 3) Al-Ah}ruf al-muqat}t}a’ah merupakan bagian dari nama-nama Allah Swt., sebagaimana perkataan Sa’i>d bin Jubair ن م ح ﺮﻟآ dengan disatukan
3. Tafsir metode muqa>rin (perbandingan) Tafsir metode muqa>rin ialah penafsiran dengan cara membuat perbandingan suatu penafsiran dengan penafsiran yang lain. Sesuai dengan
namanya, metode tafsir ini
menekankan kajiannya pada aspek perbandingan (komparasi) tafsir al-Qur’an.25 Untuk itu ada beberapa
langkah yang perlu dilakukan ketika menggunkan metode ini, yaitu:26
a. Mengumpulkan sejumlah ayat al Qur’an.
b. Menampilkan penjelasan para mufassir, baik kalangan salaf atau
khalaf, baik tafsirnya bercorak bi
al-ma’s\u>r atau bi al-ra’yi.
c. Membandingkan kecenderungan tafsir mereka masing-masing.
d. Menjelaskan siapa di antara mereka yang penafsirannya dipengaruhi secara subjektif oleh mazhab tertentu: siapa yang penafsirannya diwarnai latar belakang disiplin ilmu yang dimilikinya, seperti bahasa, fiqih, atau yang lainnya,
siapa yang penafsirannya
didominasi uraian yang sebenarnya tidak perlu, seperti kisah-kisah yang tidak rasional dan tidak didukung oleh argumentasi naqliah siapa yang penafsirannya dipengaruhi oleh paham-paham Asy’a>riyyah, atau Mu’tazilah, atau paham-paham tasawuf, atau teori-teori filsafat, atau teori-teori ilmiah.27
menjadi ﻦَْﲪَﺮﱠﻟَا, akan tetapi untuk untuk huruf-huruf yang lain tidak dapat disusun menjadi lafat-lafat seperti itu. Untuk selengkapnya lihat dalam tafsi>r
Mafa>tih} al-Gaib. Ibid., h. 4-10.
25 Muin Salim, Metodologi .., h. 46 26 Anwar, Ilmu Tafsir., h. 160.
27 ‘Abd al-H{ai> al-Farma>wi>, Metode Tafsir
66 Jurnal al–Hikmah vol. 4 no. 2 Oktober 2016 60~74 Obyek kajian dari tafsir muqa>rin
ini ialah:28
a. Membandingkan ayat dengan ayat yang tampak berbeda.
Dalam hal ini perbandingan dapat dilakukan pada semua ayat, baik dalam pemakaian mufradat, urutan kata, maupun kemiripan
redaksi. Sebagaimana yang
dijelaskan oleh Quraish Shihab bahwa dalam metode ini, khusunya yang membandingkan antara ayat dengan ayat atau ayat dengan hadis, terkadang seorang mufassir hanya menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan perbedaan kandungan yang dimaksud oleh masing-masing ayat atau perbedaan kasus/masalah itu sendiri.29
b. Membandingkan ayat dengan hadis dalam rangka mencari makna yang akan ditafsirkan.
Berkaitan dengan
perbandingan antara ayat al-Qur’an dengan hadis yang terkesan berbeda atau bertentangan ini, langkah pertama yang harus ditempuh adalah menentukan nilai hadis yang akan diperbandingkan dengan ayat al-Qur’an. hadis itu haruslah sahih. Sementara hadis dhaif tidak bisa diperbandingkan, karena disamping nilai otoritasnya rendah, dia justru
semakin bertolak karena
pertentangannya dengan ayat al-Qur’an, setelah itu para mufassir melakukan analisis terhadap latar belakang terjadinya perbedaan atau pertentangan antara keduanya.30
28 Khaeruman, Sejarah., h. 99.
29M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an
Dengan Metode Mawdhi’iy-Beberapa Aspek Ilmiah Tentang al-Qur’an, (Jakarta: Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an, 1986), h. 34.
30 M. Quraish Shihab, dkk., Sejarah Ulumul
Qur’an, Cet. IV, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h. 190.
c. Membandingkan
pendapat-pendapat para ulama tentang penafsiran yang telah mereka lakukan.
Membandingkan
pendapat-pendapat para ulama tentang penafsiran mereka terhadap suatu ayat memang perlu dilakukan, mengingat bahwa karya tafsir itu sangat banyak dengan berbagai
ragam corak, dengan
mengumpulkan pendapat-pendapat ulama dari berbagai corak dan berbagai disiplin ilmu, tentu akan menghasilkan suatu penafsiran yang
lebih mendekati kebenaran
dibanding hanya memegang satu pandangan saja tanpa menguji dan melihat pandangan-pandangan penafsir yang lain. Dan inilah yang menjadi salah satu kelebihan metode tafsir muqa>rin dibanding dengan metode tafsir lainnya.31
Kitab-kitab tafsir muqa>rin sangat langka tidak seperti kitab-kitab lainnya, di antaranya adalah:
a. Durrat al-Tanzil wa Qurrat al-Ta’wi>l,
karya al-Khatib al-Iskafi.
b. Al-Burha>n fi Taujih Mutasya>bih al-Qur’a>n, karya Taj Qarra’ al-Kirmani>.
c. Al Ja>mi’ li Ah{ka>m al-Qur’a>n, karya al-Qurt}ubi>.
d. Di Indonesia sendiri sebenarnya juga berkembang tafsir dengan metode muqa>rin, yaitu berupa karya penelitian dalam bentuk skripsi maupun tesis yang dilakukan oleh para mahasiswa Perguruan Tinggi Islam jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, misalnya tesis dengan judul “Konsep Jiha>d Sayyid Qutub dan ‘Ali>
al-S}a>bu>ni> (Studi Komparatif Ayat Jiha>d dalam Tafsi>r fi> Z{i>la>l al-Qur’an
31 Khaeruman, Sejarah Perkembangan.., h.
dan Tafsi>r S{afwah Tafa>sir)”, karya Muhammad Da’i Rabbi.
4. Tafsir metode maud{u>’i> (tematik)
Tafsir metode maud}u>’i> yaitu
metode penafsiran al-Qur’an
berdasarkan tema atau topik
pembahasan dan permasalahan
tertentu. Definisi lebih rinci sebagaimana yang diutarakan oleh M. Quraish Shihab, tafsir maud}u>’i>
merupakan suatu metode tafsir dengan cara menetapkan satu topik tertentu, dengan jalan menghimpun seluruh atau sebagian ayat-ayat, dari beberapa surat, yang berbicara tentang topik tersebut, untuk kemudian dikaitkan satu dengan yang lainnya, sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan menyeluruh tentang masalah tersebut menurut pandangan al-Qur’an.32
Secara sistematis prosedur tafsir metode maud}u>’i> (tematik) adalah
sebagai berikut:
a. Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik).
b. Menghimpun ayat-ayat yang
berkaitan dengan masalah-masalah tersebut.
c. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab
an-nuzulnya.
d. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing.
e. Menyusun pembahasan dalam
kerangka yang sempurna (out line). f. Melengkapi pembahasan dengan
hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan.
g. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang
32 M. Quraish Shihab, Membumikan Al
Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung; Mizan, 2007), h. 114.
mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang ‘amm (umum), dan yang khas}
(khusus), mut}laq dengan muqayyad,
atau yang pada lahirnya
bertentangan sehingga semuanya bertemu dalam satu muara tanpa perbedaan atau pemaksaan.33
Berdasarkan pembagian yang dilakukan oleh Mustafa Muslim, model penafsiran dengan metode maud}u>’i>
(tematik) ini ada tiga macam, yaitu: a. Menafsirkan satu lafaz yang
terdapat dalam al-Quran dengan mengumpulkan seluruh lafaz yang sama atau yang merupakan sinonimnya. Seperti menafsirkan lafaz ummat, sedekah, jihad, kitab, dan lain-lain.
b. Menentukan satu tema yang secara eksplisit tidak disebutkan dalam al-Quran kemudian dicarikan ayat-ayat yang berkaitan dengan tema tersebut.
c. Menafsirkan tema tertentu
kemudian disandarkan kepada ayat al-Quran akan tetapi hanya pada satu surat saja.
Di antara karya tafsir maud}u>’i>
adalah sebagai berikut:
a. Al-Mar’ah fi al-Qur’a>n al-Kari>m, karya Abba>s al-Aqqad.34
b. Al-Tafsi>r al-Maud}u>’i>, karya Mana>hij
Ja>mi’ah al-Madi>nah al-‘A<limiyyah. Kitab ini merupakan kumpulan tafsir tematik yang berangkat dari tema-tema dalam al-Qur’an, diantaranya, al-Jiha>d fi> al-Qur’a>n, al-Riba>, al-Jari>mah fi> al-Qur’a>n,
33 Al-Farma>wi>, Metode tafsir maudhu’i.., h.
51.
34 Mah{mu>d Abba>s al-Aqqad, Mar’ah fi>
68 Jurnal al–Hikmah vol. 4 no. 2 Oktober 2016 60~74
Mu’a>la>t fi> al-Qur’a>n, dan tema-tema lainnya.35
c. Wawasan Al-Qur’an, karya M.
Quraish Shihab. Karya mufassir Indonesia yang di dalamnya juga terhimpun berbagai tema yang berjumlah 33 tema, mulai dari masalah keimanan sampai masalah sosial kemanusiaan.36
d. Tafsir Maudhu’i al-Muntaha, karya
Muchotob Hamzah, dkk. Karya ini juga ditulis oleh ulama Indonesia. Di dalam buku ini terdapat banyak tema yang mencapai 15 tema.37
e. Dewasa ini juga banyak karya penelitian tafsir dalam bentuk skripsi, tesis, atau disertasi dengan menggunakan metode maud{u>’i>yang
ditulis oleh berbagai mahasiswa Perguruan Tinggi Islam di
Indonesia. Hal ini lebih
memperteguh posisi tafsir maud{u>’i>
sebagai metode tafsir yang paling diminati di era kontemporer. Misalnya, skripsi “Konsep Hidayah
dalam Al-Qur’an”, karya Ali Abdur
Rohman, “Kitab Tafsir Mafa>ti>h al-Gaib (Studi Pemikiran al-Ra>zi>
tentang Naskh dalam al-Qur’an)”,
karya H. Muhd. Sjamsoeri Joesoef, dan “Konsep Syifa<’ dalam Tafsi>r Mafa>ti>h} al-Gaib Karya Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>”, karya Aswadi.
Contoh aplikasi tafsir metode
maud{u>’i> dengan tema “kemiskinan” dalam “Wawasan Al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab.
Dalam menjelaskan tema
kemiskinan pertama-tama Quraish
35 Mana>hij Ja>mi’ah al-Madi>nah
al-‘A<limiyyah, Al-Tafsi>r al-Maud}u>’i>, (t.t.p.: Ja>mi’ah al-Madi>nah al-‘A<limiyyah, t.th. ), Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
36 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an:
Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. XIX,(Bandung: Mizan, 2007).
37 Muchotob Hamzah, et. all., Tafsir
Maudhu’i al-Muntaha , (Yogyakarta: LkiS, 2004).
Shihab membaginya menjadi beberapa sub bab:
a. Definisi dari istilah miskin, yaitu orang yang tidak berharta benda, dan serba kekurangan.
b. Faktor penyebab kemiskinan, yaitu sikap berdiam diri, enggan, atau tidak dapat bergerak atau berusaha.
c. Pandangan Islam tentang
kemiskinan, yaitu bahwa al-Qur’an mengisyaratkan pujian terhadap kecukupan dan menganjurkan untuk memperoleh kelebihan. Shihab mendasarkan uraiannya dengan beberapa ayat, yaitu:
}
ِضْرَْﻷا ِﰲ اوُﺮِﺸَﺘْـﻧﺎَﻓ ُة َﻼﱠﺼﻟا ِﺖَﻴِﻀُﻗ اَذِﺈَﻓ
ِﱠ ا ِﻞْﻀَﻓ ْﻦِﻣ اﻮُﻐَـﺘْـﺑاَو
ﺔﻌﻤﳉا
:
١٠
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.
}
َﲎْﻏَﺄَﻓ ًﻼِﺋﺎَﻋ َكَﺪَﺟَوَو
ﻰﺤﻀﻟا
:
٨
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
}
اﻮُﻐَـﺘْﺒَـﺗ ْنَأ ٌحﺎَﻨُﺟ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ َﺲْﻴَﻟ
ْﻦِﻣ ًﻼْﻀَﻓ
ْﻢُﻜِّﺑَر
ةﺮﻘﺒﻟا
:
١٩٨
Tidak ada dosa bagi kamu untuk mencari kelebihan dari Allah di musim haji.
Quraish Shihab juga
mencantukan hadis pendukung yang salah satunya menyebutkan bahwa Rasulullah berlindung dari Allah dari kefakiran.
ِﺮْﻘَﻔْﻟاَو ِﺮْﻔُﻜْﻟا ْﻦِﻣ َﻚِﺑ ُذﻮُﻋَأ ِّﱐِإ ﱠﻢُﻬﱠﻠﻟا
d. Cara mengentaskan kemiskinan, yaitu meliputi kewajiban terhadap setiap individu untuk bekerja dan berusaha, kewajiban kepada orang lain untuk saling memberi dan bekerja sama dalam hal sosial, dan kewajiban bagi pemerintah untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dengan menggunakan dana yang sah.38
Macam-Macam Metode Tafsir
Berdasarkan Sumbernya
Metode tafsir jika ditinjau dari sumber penafsirannya, terbagi menjadi tiga macam yaitu; tafsir bi al-ma's\u>r, tafsir bi al-dira>yah atau bi al-ra'yi dan tafsir bi al-isya>ri>.
1. Tafsir bi al-ma’s\u>r
Tafsir bi al-ma’s}u>r dapat didefinisikan sebagai tafsir yang berpegang kepada riwayat yang shahih, yaitu menafsirkan Qur’an dengan al-Qur’an, atau dengan sunnah karena ia berfungsi menjelaskan kitabullah atau dengan perkataan para sahabat karena merekalah yang paling mengetahui kitabullah atau dengan apa yang dikatakan oleh tokoh-tokoh besar tabi’in39 karena pada umumnya
mereka menerima dari para sahabat”.40
38 Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an.., h.
448-458.
39Tafsir ta>bi’i>n dikatakan sebagai tafsir bi
al-ma’s}u>r masih terjadi khilaf dikalangan ulama’, sebagaimana keterangan dari Ima>m al-Zarqa>ni>
dalam Mana>hil al-‘Irfa>n bahwa sebagian ulama memandangnya tafsir bi al-ma’s}u>r karena penafsiran mereka sebagian besar diterima dari para sahabat. Sebagian ulama lain menilainya sebagai tafsir bi al-ra’yi. Lihat Muh{ammad ‘Abd al-‘Ad{i>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-‘Irfa>nfi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n
(t.t.p.: Mat}ba’ah ‘I<sa> al-Babi> > al-H{albi> wa Syaraka>h, t.th.), juz II, h. 13. Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
Salah satu tokoh yang mengatakan bahwa kedudukan para ta>bi’i>n sama dengan mufassir
lainnya (selain Nabi SAW dan sahabat yang menafsirkan al-Qur’an berdasarkan kaidah-kaidah
Di dalam kitab tafsir bi al-ma’s\u>r
disertakan pula sanad yang sampai kepada Rasulullah, sahabat, ta>bi’i>n dan
atba>’ al-ta>bi’i>n. Di antara kitab tafsir bi al-ma’s\u>r yang paling baik dan lengkap adalah Tafsi>r al-T{abari> sebab
menuturkan banyak pendapat
penafsiran lalu menyeleksinya. Kitab ini menyertakan pula i’rab dan hukum-hukum yang bisa diambil dari ayat al-Qur’an.41
Tafsir bi al-ma’s\u>r memiliki beberapa keistimewaan berikut:
a. Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami al Qur’an.
b. Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya.
c. Mengikat mufassir dalam bingkai ayat-ayat sehingga membatasinya agar tidak terjerumus ke dalam subyektifitas yang berlebihan.
Di sisi lain tafsir bi al-ma’s\u>r
juga memiliki beberapa kelemahan. Al-Z|aha>bi> mencatat kelemahan-kelemahan tafsir bi al-ma’s\u>r sebagai berikut:42
a. Sering terjadi pemalsuan (wad{’i>)
dalam tafsir. Pemalsuan tersebut muncul ketika terjadi perpecahan politik dan aliran dalam tubuh umat Islam.
b. Masuknya unsur isra>i>liyya>t yang didefinisikan sebagai unsur-unsur yahudi dan Nasrani ke dalam penafsiran al-Qur’an.
c. Penghilangan sanad yang sering terjadi.
d. Terjerumusnya mufassir ke dalam uraian kebahasaan yang
bahasa arab bukan berdasarkan pertimbangan atsar
(hadis) adalah ‘A<li> al-S{abuni>, lihat Ahmad Izzan,
Studi Kaidah Tafsir Al Qur’an, (Bandung: Humaniora, 2009), h. 15.
70 Jurnal al–Hikmah vol. 4 no. 2 Oktober 2016 60~74 tele sehingga pesan pokok
al-Qur’an menjadi kabur.
e. Seringkali konteks turunnya ayat (asba>b al-nuzul) terabaikan.
Kitab tafsir bi al-ma’s\u>r ini sangat banyak diantaranya:
a. Ja>mi’ al-Baya>n fi> Tafsi>r al-Qur’a>n, karya al-T{abari> (w. 310 H.)
b. Ma’a>lim al-Tanzil, karya al-Bagawi>
(w. 516 H.)
c. Tafsi>r al-Qur’a>n al-Ad{i>m, karya Ibn Kas\i>r (w. 774 H.)
d. Al-Durr al-Mans\ur fi Tafsi>r bi al-Ma’s\u>r, karya al-Suyu>t}i> (w. 911 H.)
e. Bah{r al-‘Ulu>m, karya Abu> al-Lais\
al-Samarqandi>.43
2. Tafsir bi al-ra’yi
Istilah al-ra’yu secara etimologis berarti keyakinan, qiyas, dan ijtihad. Jadi tafsir bi al-ra’yi adalah penafsiran yang dilakukan dengan cara ijtihad, yakni rasio yang dijadikan titik tolak penafsiran setelah mufassir terlebih dahulu memahami bahasa arab dan aspek-aspek dalalah (pembuktiannya). Selain itu mufassir dalam tafsir bi
al-ra’yi juga menggunakan syair-syair
arab jahili sebagai pendukung disamping memperhatikan asba>b al-nuzul, na>sikh mansu>kh, qira’at dan lail-lain.Penafsiran dengan bentuk ini lebih didominasi dari pemikiran mufassir sendiri, oleh karena itu dalam penafsiran ini sering terjadi perselisihan antara seorang mufassir dengan mufassir lainnya. 44Maka dari
itulah sebenarnya tafsir bi al-ra’yi
bukanlah sekadar pendapat atau ide semata, atau sekadar gagasan yang terlintas dalam pikiran seseorang, apalagi hanya semaunya saja. 45
43 Al-Zarqa>ni>, Mana>hil., juz II, h. 29-32. 44Usman, Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Teras,
2009), h. 283-284
45Muh}ammad ‘Ali> al-S}abu>ni>, al-Tibya>n fi>
‘Ulu>m al-Qur’a>n, terj. Muhammad Qadirun Nur:
Diantara sebab munculnya bentuk penafsiran bi al-ra’yi adalah semakin majunya ilmu-ilmu keislaman yang di warnai kemunculan ragam disiplin ilmu, karya-karya para ulama dan aneka penafsiran serta para pakar di bidang masing-masing. Akibatnya karya-karya seorang mufassir sangat di warnai oleh latar belakang disiplin ilmu yang mereka kuasai. Sebagian dari mereka ada yang lebih menekankan pada telaah balagah, seperti imam al-Zamakhsyari>, telaah hukum syara’
seperti imam al-Qurt}ubi>, telaah keistimewaan dan filsafat seperti imam al-Ra>zi> dan yang lain hal ini tampak
dapat di fahami, sebab di samping sebagai mufassir seseorang juga ahli dalam bidang Fiqih, Bahasa, Filsafat, Astronomi, kedokteran, dan kalam. Takala ada ayat al-Quran yang berkaitan dengan disiplin ilmu yang
dikuasainya, mereka akan
menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan ilmu yang dikuasainya.46 Tafsir bi al-ra’yi terbagi
menjadi dua kelompok: a. Tafsir al-mah{mu>d
Yaitu suatu penafsiran yang cocok dengan dengan tujuan syara’ (Allah), jauh dari kebodohan dan kesesatan, sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta berpegang
pada uslub-uslubnya dalam
memahami nash-nash Qur’aniyah.47
Dalam hal ini seorang mufassir
yang hendak menafsiri al-Qur’an dengan ra’yu haruslah memenuhi beberapa syarat berikut:48
Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, (Jakarta: Pustaka Amani, 2001), h. 267.
46Al-Farma>wi>, Metode Tafsir.., h. 26
47S}a>li>h} ‘A<li>, Mana>hij al-Mufassiri>n, (t.t.p: t.p.,
t.th.), h. 14. Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
48Hal ini sebagaimana keterangan al-Gaza>li>
yang dikutip oleh Kurdi dalam Kurdi, dkk.,
1) Dia harus ‘a>lim dalam bidang penafsirnya menghindari hal-hal berikut:49
1) memaksakan diri untuk
mengetahui makna yang
dikehendaki Allah pada suatu ayat sedangkan ia tidak memenuhi syarat untuk itu. 2) Mencoba menafsirkan ayat-ayat
yang maknanya hanya diketahui Allah.
3) Menafsirkan al-Qur’ah dengan disertai hawa nafsu dan istihsan
(menilai sesuatu itu baik semata-mata berdasarkan peersepsinya) 4) Menafsirkan ayat-ayat untuk
mendukung suatu madzhab yang salah dengan cara menjadikan paham madzhab sebagai dasar,
sedangkan penafsirannya
mengikuti paham madzhab
tersebut. harus dipenuhi oleh seorang mufassir. Lihat Muh}ammad H}usain al-Z{aha>bi>, Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, (t.t.p.: t.p., t.th.) juz. IV, h. 44. Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
49Al-Farma>wi>, Metode Tafsir.., h. 27.
yang sesuai dengan maksud suatu ayat tanpa memberikan dalil.
Yaitu menafsirkan al-Qur’an tanpa berdasarkan ilmu atau berdasarkan kehendaknya sendiri tanpa mengetahui kaidah-kaidah bahasa atau syari’at, atau dengan
sengaja seorang mufassir
menyimpangkan apa yang ditekankan
al-Ima>m al-Isma>iliyyah, al-Bati}>niyah
al-Muh}addis}u>n yaitu, sekte
al-Ba>biyah, al-Baha>iyah, al-Zaidiyah, dan al-Khawa>rij.51 Contoh Q.S. Al-Rah{ma>n
mengalir yang keduanya
kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing .”52
50 Al-S{a>bu>ni>, al-Tibya>n.., h. 252
51Al-Z\}aha>bi>, al-Tafsir wa al-Mufassiru>n, juz
4, h. 50. Al-Maktabah al-Syamilah versi 2.11.
52Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat
72 Jurnal al–Hikmah vol. 4 no. 2 Oktober 2016 60~74 Ada sebagian orang menafsirkan
kata al-bah}rain pada ayat tersebut, sebagai Ali dan Fatimah. Kemudian pada ayat 22
“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.”
Kata al-lu’lu’ dan al-marja>n dia tafsirkan sebagai Hasan dan Husain.
3. Tafsir bi al-isya>ri>
Tafsir bi al-isya>ri> adalah
mentakwilkan ayat al-Qur’an dengan menggali makna di balik makna zahir
suatu ayat untuk menemukan
petunjuk-petunjuk rahasianya yang tampak menurut para ahli sulu>k dan ahli s}ufi yang memungkin untuk menyatukan antara makna batin dan makna zahirnya.53 Menurut pendapat
ahli su>fi> setiap ayat mempunyai makna
zahir dan makna batin. Makna zahir ialah apa yang segera mudah dipahami akal pikiran sebelum yang lain, sedangkan makna batin ialah isyarat-isyarat tersembunyi di balik itu yang nampak bagi ahli sulu>k. Tafsir bi al-isya>ri> tidak dilarang dengan beberapa
syarat:
a. Tidak bertentangan dengan makna zahir ayat.
b. Maknanya itu sendiri sahih.
c. Pada lafaz yang ditafsirkan terdapat indikasi bagi makna isyari tersebut.
tidak menghendaki. dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan) Maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), Maka bertemulah dua lautan itu. seperti terusan Suez dan terusan Panama.
53 Al-Zarqa>ni>, Mana>hil., juz II, h. 78.
d. Antara makna isyari dengan makna zahir terdapat hubungan yang erat.54
Di antara kitab tafsir bi al-isya>ri>
yang penting adalah:
a. Lat}a>if al-Isya>ra>t, karya al-Qusyairi>.
b. Tafsi>r Gara>ib al-Qur’a>n wa Raga>ib
al-Furqa>n, karya H{asan bin
Muh{ammad al-Naisa>bu>ri>.
c. Ru>h} al-Ma’a>ni> fi> Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az{i>m, karya Mah}mu>d al-Alu>si>.55
Salah satu contoh dari tafsir bi al-isya>ri> adalah penafsiran yang dilakukan oleh Ibn ‘Abba>s terhadap
Q.S. al-Nas}r: 1.
ُﺢْﺘَﻔْﻟاَو ِﱠ ا ُﺮْﺼَﻧ َءﺎَﺟ اَذِإ
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan”
Dalam ayat tersebut Ibn ‘Abba>s
memberikan penafsiran bahwa ayat itu menunjukkan tentang ajal Rasulullah yang diberitahukan kepada Allah kepadanya.56
Contoh lain adalah Q.S.
َﱠ ا ﱠنِإ ِﻪِﻣْﻮَﻘِﻟ ﻰَﺳﻮُﻣ َلﺎَﻗ ْذِإَو
ًةَﺮَﻘَـﺑ اﻮَُﲝْﺬَﺗ ْنَأ ْﻢُﻛُﺮُﻣْﺄَﻳ
“Dan berkatalah Nabi Mu>sa> kepada
kaumnya: sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi.
Al-Naisa>bu>ri> mentakwilkan
“menyembelih sapi” bahwa itu
merupakan isyarah agar
menyembelih nafsu hewani dalam dii sehingga apabila itu bisa dilakukan maka akan menghidupkan ruhnya hati dan itu merupakan jihad akbar, matinya nafsu sebelum datangnya kematian.57
54 Al-Qat{t{a>n, Maba>h{is\., h. 367-368. 55 Ibra>hi>m Muh}ammad al-Jirmi>, Mu’jam
‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Damasykus: Da>r al-Qalam, 2001), h. 99.
Kesimpulan
Dari kajian tentang metodologi tafsir di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Metodologi tafsir dapat didefinisikan
sebagai ilmu tentang metode
menafsirkan al-Quran.
2. Metode penafsiran berdasarkan sistematikanya dapat dibagimenjadi empat, yaitu:
a. Ijma>li> (global), yaitu metode
menafsirkan al-Qur’an secara global. b. Tah{li>li> (analisis), yaitu metode tafsir
yang bermaksud menjelaskan
kandungan ayat-ayat al-Quran dari seluruh aspeknya.
c. Muqa>rin (perbandingan), yaitu penafsiran dengan cara membuat perbandingan suatu penafsiran dengan penafsiran yang lain yang meliputi perbandingan ayat dengan ayat yang tampak berbeda, perbandingan ayat dengan hadis dalam rangka mencari makna yang akan ditafsirkan, dan perbandingan pendapat-pendapat para ulama tentang penafsiran yang telah mereka lakukan.
d. Maud}u>’i> (tematik), yaitu penafsiran
al-Qur’an berdasarkan tema atau
topik pembahasan dan
permasalahan tertentu.
3. Metode tafsir jika ditinjau dari sumber penafsirannya, terbagi menjadi tiga macam yaitu:
a. Tafsir bi al-ma's\u>r, yaitu tafsir yang berpegang kepada riwayat yang shahih.
b. Tafsir bi al-dira>yah atau bi al-ra'yi,
yaitu penafsiran yang dilakukan dengan cara ijtihad berdasarkan akal.
c. Tafsir bi al-isya>ri>, yaitu mentakwilkan ayat al-Qur’an dengan menggali makna di balik makna zahir suatu ayat untuk menemukan
petunjuk-petunjuk rahasianya yang tampak menurut para ahli sulu>k dan ahli s}ufi yang memungkin untuk menyatukan antara makna batin dan makna zahirnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon, Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2005.
A<li>, S}a>li>h}, Mana>hij al-Mufassiri>n, t.t.p.: t.p.,t.th.. Al-Maktabah al-Sya>milah
versi 2.11.
Al-Aqqad, Mah{mu>d Abba>s, al-Mar’ah fi> al-Qur’a>n, Kairo: Hindawi li al-Ta’li>m wa al-Saqa>fah, 2012.
Al-‘Arid, ‘Ali Hasan, Sejarah dan Metodologi
Tafsir, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1994.
Baidan, Nasiruddin, Metodologi Penafsiran
al-Quran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2000.
Echols, Jhon M. & Hassan Shadily, Kamus
Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia
Pustaka, 2003.
Al-Fama>wi> ‘Abd al-H{ai>, Metode Tafsir
Maudu’i dan cara penerapannya, terj
Rosihon Anwar, Bandung: Pustaka Setia, 2002.
________________________ , Muqaddimah fi al-Tafsi>r al-Maud}u>’i>, Kairo : al-Had}arah al-‘Ara>biyah, 1977.
Hamzah, Muchotob, et. all., Tafsir Maudhu’i
al-Muntaha, Yogyakarta: LkiS, 2004.
Izzan, Ahmad, Studi Kaidah Tafsir Al Qur’an, Bandung: Humaniora, 2009.
Al-Jirmi>, Ibra>hi>m Muh}ammad, Mu’jam ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Damasykus: Da>r
al-Qalam, 2001.
Al-Jurja>ni>, al-Ta’ri>fa>t, Beirut: Da>r al-Kita>b
li’Arabi>, 1405 H.
Khaeruman, Badri, Sejarah Perkembangan
Tafsir Al-Qur’an, Bandung: Pustaka
74 Jurnal al–Hikmah vol. 4 no. 2 Oktober 2016 60~74 Khalis, Nur, Pengantar Studi Al-Qur’an dan
Al-Hadis, Yogyakarta: Sukses offset,
2008.
Kurdi, dkk., Hermeneutika al-Qur’an dan
Hadis, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2010.
Mansur, Muhammad dalam “Dosen Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Studi Kitab
Tafsir, Yogyakarta: Teras, 2004.
Mana>hij Ja>mi’ah al-Madi>nah al-‘A<limiyyah,
al-Tafsi>r al-Maud}u>’i>, t.t.p.: Ja>mi’ah
al-Madi>nah al-‘A<limi>ah, t.th.. Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
Al-Mis}ri, Muh}ammad bin Mukrim bin
Manz}ur al-Afri>qi>>, Lisa>n al-‘Arab,
Beirut: Da>r S{a>dir, t.th..
Mustaqim, Abdul, Dinamika Sejarah Tafsir
al-Qur’an, Yogyakarta: Adab Press,
2004.
Al-Nabha>n, Muh}ammad Fa>ru>q, al-Madkhal ila> ‘Ulu>m al-Qur’a>n al-Kari>m, H{alba:
Da>r ‘A<lam al-Qur’a>n, 2005.
Al-Qat}t}a>n, Manna>’, Maba>h}is\ fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, t.t.p.: Maktabah al-Ma’a>rif li
al-Nasyr wa al-Tauzi>’, 2000.
Al-Ra>zi>, Fakhr al-Di>n, Mafa>ti>h} al-Gaib, tahq. Khali>l al-Mayas, Beirut: Da>r al-Fikr,
1981.
Salim, Abd Muin, Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta: Teras, 2010.
Al-S}abu>ni> Muh}ammad Ali >, al-Tibya>n fi>
‘Ulu>m al-Qur’a>n, terj. Muhammad Qadirun Nur: Ikhtisar Ulumul Qur’an
Praktis,Jakarta: Pustaka Amani, 2001.
Setiawan, Ebta, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Offline Versi 1.1, 2010.
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Qur’an Dengan Metode Mawdhu’I Beberapa Aspek
Ilmiah Tentang al-Qur’an, Jakarta:
Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an, 1986.
_____________________ , dkk, Sejarah Ulumul
Qur’an, Cet. IV, Jakarta: Pustaka Firdaus,
2008.
_____________________ , Membumikan Al Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, Bandung; Mizan,
2007.
_____________________ , Sejarah dan Ulumul
Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008.
_____________________ , Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan
Umat, cet. XIX,Bandung: Mizan, 2007.
Al-Suyu>t{i>, ‘Abd al-Rah{ma>n bin Kama>l Jala>l
al-Di>n >, al-Itqa>n fi>’Ulu>m al-Qur’a>n,
t.t.p.: t.p., t.th., Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
Al-Suyu>t{i>, Jala>l al-Di>n dan Jala>l al-Di>n
al-Mah{alli>, Tafsi>r al Jala>lain, t.t.p.: t.p., t.th. Al-Maktabah al-Sya>milah versi
2.11.
Suma, H. Muhammad Amin, StudiIlmu-ilmu
Al Qur'an 2, Jakarta: Pustaka Firdaus,
2001.
Usman, Ilmu Tafsir, Yogyakarta: Teras, 2009.
Al-Zarqa>ni>, Muh{ammad ‘Abd al-‘Ad{i>m,
Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n,
t.t.p.: Mat}ba’ah ‘I<sa> al-Ba>bi> al-H{albi> wa
Syaraka>h, t.th.. Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
Al-Z{aha>bi>, Muh}ammad H}usain, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, t.t.p.: t.p., t.th.. Al-Maktabah al-Sya>milah versi 2.11.
Al-Zarkasyi>, Badr al-Di>n Muh{ammad bin
‘Abd Alla>h bin Baha>du>r. al-Burha>n fi>
‘Ulu>m al-Qur’a>n, Tahq. Muh{ammad Abu> al-Fad{al Ibra>hi>m, Beirut: Da>r
Ih{ya>’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1957