• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH GAYA BERPAKAIAN TERHADAP PERSEP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH GAYA BERPAKAIAN TERHADAP PERSEP"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH GAYA BERPAKAIAN TERHADAP

PERSEPSI

MAKALAH

(2)

Dosen Pengampu:

Lucky Abrorry, M.Psi, Psikolog

Disusun Oleh:

(3)

Putri Nilam Sari J71214066 Rilla Fauzia Nur A. J71214072

JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I (PENDAHULUAN)

1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Rumusan Masalah 3

1.3 Tujuan Penulisan 3

1.4 Manfaat Penulisan 3

BAB II (KAJIAN PUSTAKA)

2.1 Pengertian Gaya Berpakaian 4

2.1.1 Sifat-Sifat Fashion 5

2.1.2 Jenis-Jenis Fashion Mahasiswi 5

2.1.3 Gaya Fashion Mahasiswi yang Disukai 11

2.1.4 Gaya Fashion Mahasiswi yang Tidak Disukai 13

2.2 Pengertian Persepsi 14

2.2.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi 14

2.2.2 Macam-Macam Persepsi 15

BAB III (METODOLOGI PENELITIAN)

3.1 Jenis Penelitian 17

3.2 Populasi Sampel 17

3.3 Teknik Pengumpulan Data 18

3.4 Analisis Data 19

BAB IV (PEMBAHASAN)

4.1 Identifikasi Subjek 21

4.2 Hasil Analisis Data Kuantitatif 23

4.3 Hasil Analisis Data Kualitatif 25

4.3.1 Persepsi Antara Foto 1 dan Foto 2 25

4.3.2 Skor yang Diberikan Subjek Penelitian Terhadap Foto 1

(5)

dan Foto 2 26 4.3.4 Foto yang Disukai Subjek Penelitian Antara Foto 1

dan Foto 2 27

4.3.5 Pandangan Subjek Penelitian Tentang Mahasiswi yang

Fashionable 27

4.4 Pengaruh Gaya Berpakaian Terhadap Persepsi 28 BAB V (PENUTUP)

5.1 Kesimpulan 30

5.2 Saran 31

Daftar Pustaka 32

(6)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu acuan utama dalam menilai seseorang adalah dilihat dari penampilannya, terutama jika orang tersebut baru pertama kali kita kenal. Hal yang menjadi perhatian yakni dengan melihat gaya berpakaiannya, bentuk tubuhnya, wajah, tingkah laku, gerak-gerik, tatanan rambut yang kesemuanya dapat menimbulkan berbagai kesan baik positif maupun negatif. Penampilan fisik sering menimbulkan persepsi mengenai karakteristik seseorang, seperti gambaran mengenai kepribadiannya atau kompetensi yang dimilikinya. Bahkan dengan hanya melihat fisiknya saja bisa menimbulkan pengaruh terhadap sebuah hubungan interpersonal. Tentu saja hal ini akan berpengaruh kepada interaksi di masa mendatang.

Terkadang dengan melihat penampilanya saja dapat menimbulkan kesan yang bahkan bisa menutupi bagaimana kualitas orang tersebut yang sebenarnya. Salah satu yang dikaitkan dengan penampilan seseorang yaitu gaya berbusana. Pakaian yang dikenakan seseorang menandakan ciri-ciri penting dari pemakainya. Disadari atau tidak, tujuan dari cara berpakaian seseorang adalah membuat kesan pribadi yang bervariasi. Mungkin saja pakaian yang dikenakannya mencerminkan diri yang cerdas, seksi, santai, pendiam, bertanggung jawab, fashionable dan lain-lain. Hal ini tentunya menjadi simbol bagi pribadi yang ingin ditunjukkan.

(7)

mereka menemukan bahwa secara fisik mengenakan jas lab meningkatkan perhatian secara selektif dibanding tidak memakai jas lab.

Penelitian lainnya mengenai “enclothed cognition” yaitu NIMHA cross-sectionaldescriptive study menggunakan metodologi survei yang dilakuakn kepada 500 pasien dan pengunjung di ruang tunggu sebuah klinik rawat jalan penyakit dalam. Responden diberi pertanyaan terkait preferensi mereka mengenai baju dokter serta kepercayaan dan kesediaan untuk membahas isu-isu sensitif. Hasil tes dari penelitian ini responden sangat mendukung dokter dalam pakaian profesional dengan jas putih dan melaporkan bahwa hal ini memiliki pengaruh positif pada kepercayaan dan keyakinan. Kesimpulan dari penelitian ini yakni menguatkan makna simbolis dari jas lab putih dalam pengaturan medis yang sebenarnya. Selain itu, apakah kita memakai pakaian tertentu atau menanggapi orang memakainya, pakaian mempengaruhi perasaan kita, pikiran kita dan respon kita.

Semakin seseorang mampu berbusana dengan baik, tepat, sesuai dan serasi maka pengaruh yang timbul dalam dirinya adalah meningkatnya kepercayaan diri. Tidak menutup kemungkinan dengan gaya berbusana yang baik akan membuat dirinya semakin dihargai dan dihormati. Seberapa besar pengaruh pakaian terhadap psikologi seseorang tergantung kepada sebaik apa pakaian tersebut yang menampilkan karakteristik di mana dapat diterima secara signifikan di lingkungan sosialnya serta sebaik apa pakaian tersebut digunakan sesuai dengan keperluan pemakainya. Jadi, selain sebagai simbol untuk menunjukkan siapa pribadi kita, pakaian juga mempengaruhi bagaimana perasaan kita, cara berpikir kita dan respon kita.

Bedasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud untuk meneliti tentang adakah pengaruh gaya berpakaian terhadap persepsi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya.

1.2 Rumusan Masalah

Dengan latar belakang di atas, maka pokok masalah yang akan diungkapkan yaitu:

(8)

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan yang akan penulis kemukakan dalam hal ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apakah gaya berpakaian dapat mempengaruhi persepsi. 2. Untuk mengetahui mengapa gaya berpakaian dapat mempengaruhi persepsi.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan yang akan penulis kemukakan dalam hal ini adalah sebagai berikut:

1. Dapat mengetahui tingkat pengaruh yang dihasilkan oleh gaya berpakaian terhadap persepsi.

2. Untuk dapat mengetahui dampak lain yang ditimbulkan dari pengaruh gaya berpakaian

(9)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Gaya Berpakaian

Gaya berpakaian sering juga diartikan dengan Fashion. Menurut The Contemporary English Indonesian Dictionary Oleh drs. Peter Salim (1985), Fashion berarti mode gaya cara busana pakaian, bentuk, jenis, macam, pembuatan. Berbicara mengenai Fashion, sepintas adalah mengenai pakaian atau busana. Dan berbicara tentang pakaian adalah berbicara mengenai sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita. Seperti yang di kutip oleh Idi Subandi Ibrahim (peneliti media dan kebudayaan pop dalam pengantar buku Malcolm Barnard, Fashion dan komunikasi: 2007): Thomas Carlyle mengatakan,”Pakaian adalah perlambang jiwa”. Masih menurut Idi: “Pakaian tak bisa di pisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia”.

Studi tentang Fashion bukan hanya tentang pakaian, tapi juga peran dan makna pakaian dalam tindakan sosial. Dengan kata lain, Fashion bisa di metaforakan sebagai kulit sosial yang didalamnya membawa pesan dan gaya hidup suatu komunitas tertentu yang adalah suatu bagian dari kehidupan sosial. Di samping itu Fashion juga mengekspresikan suatu identitas tertentu. pakaian adalah salah satu dari seluruh rentang penandaan yang paling jelas dari penampilan luar, yang dengannya seseorang menempatkan diri mereka terpisah dari orang lain, yang selanjutnya berkembang menjadi identitas suatu kelompok tertentu. Hal ini juga diperkuat dengan pendapat lain, menurut Solomon,(1986) “Pakaian yang menurut Produk Fashion adalah kategori produk yang dikenal dapat mencerminkan kehidupan sosial konsumen, fantasi dan keanggotaannya”.

2.1.1 Sifat-Sifat Fashion

Dilihat dari uraian mengenai Fashion pada uraian sebelumnya, Fashion memiliki sifat-sifat yaitu sebagai berikut :

(10)

2. Bagian dari penonjolan keindahan 3. Perputaran mode

4. Penonjolan sisi-sisi tertentu 5. Dinamis

6. Bebas 7. Adaptasi

2.1.2 Jenis – Jenis Fashion Mahasiswi

Berikut ini adalah beberapa model atau jenis gaya berpakaian yang sering digunakan oleh mahasiswi yang muslimah:

1. Feminin Casual

Yaitu dengan menggunakan busana yang simpel, dinamis namun tetap feminin. Feminin Casual bisa diaplikasikan dengan sebuah blouse putih dengan paduan celana katun yang lebih santai dengan warna terang. Untuk model hijab sendiri, dengan memadukan gaya busana muslim remaja saat ini yaitu memakai scarf yang berwarna cokelat dengan motif yang lebih bervariasi (bukan polos) sehingga penampilan lebih menarik dan lebih terlihat modis.

2. Urban Chic

Gaya berbusana muslim pada mahasiswi selanjutnya adalah dengan fashion style seperti urban chick dengan paduan two tone cropped blouse yang lebih menutupi area belakang. Bisa diaplikasikan dengan menggunakan celana yang berjenis mono tone dengan warna yang lebih terang.

3. Slide Sling Scarf Style

(11)

bergerak.

Beberapa jenis pakaian yang digunakan mahasiswi agar terlihat fashionable saat di kampus, adalah sebagai berikut:

1. Scarf

Hijab scarf ini berbentuk sehelai kain berbentuk segi empat, yang tersedia dalam besar ukuran yang bermacam-macam, Karena bentuk yang fleksibel inilah yang memungkinkan dikreasikan untuk berbagai tampilan yang berbeda-beda, sehingga yang paling populer juga untuk digunakan, Kini, selain tersedia dalam berbagai macam warna dan motif , hijab scarf juga tersedia berbagai aplikasi tekstil tambahan pita atau bordir.

2. Pashmina

Hijab ini bisa diartikan sebagai salah satu jenis cahmere wool dan tekstil ini pertama kali ditemukan di India. Istilah pashmina berasal dari kata pashmineh dan dibuat dari pashm yang dalam bahasa india berati wool, yang sesuai jenis bahanya, hijab pashmina memang biasanya terasa lebih panas dan tebal. Walau biasanya pashmina berbentuk selendang yang lebih lebar dan panjang, Untuk tipe ini biasanya teredia dalam varian yang lebih beragam.

3. Kemeja Oxford

(12)

dasi atau kasual dengan lengan digulung. 4. Sweatshirt/Sweater

Sweater, pullover, jumper atau jersey adalah pakaian yang umumnya berat untuk menutupi badan dan lengan. Biasanya dipakai di atas kemeja, blus atau kaos. Sweater terbuat dari kain wool, katun, benang sintetis atau campurannya. Perbedaan dasar adalah antara cardigan (yang terbuka bagian depan) dan pullover (yang tidak terbuka). Kalau sweater tidak ada lengan, umumnya disebut rompi sweater atau tank top. Garmen jenis ini disebut sweater karena didisain untuk menyerap keringat (bahasa ingris: sweat) yang dikeluarkan dari badan orang. Untuk model kuliahan ala eropa. Terkesan berkelas. Milikilah setidaknya 1 untuk variasi gaya. Daripada menggunakan Hoodie kebesaran, lebih baik gunakan Sweatshirt atau yang lebih dikenal dengan Sweater. Cari yang bermodel Crewneck dan Slim-Fit. Bisa digunakana dengan T-Shirt atau dengan Kemeja Oxford untuk terlihat lebih rapih.

5. Cardigan

Cardigan adalah sweater yang terbuka di bagian depan dan dapat diberi variasi dengan kancing atau ritsleting. Nama cardigan berasal dari James Thomas Brudenell, Earl of Cardigan, seorang kommandan militer Ingris. Cardigan ini dapat dibuat menggunakan mesin atau manual dari bahan wol atau katun. Seperti fusion Sweater dan Jacket, Cardigan sangat versatile, ia bisa digunakan hampir kapan saja. Bisa digunakan dengan T-Shirt, kemeja dan terlihat keren dibalik blazer. Trik nya adalah jangan keliahatan seperi nenek-nenek dan kakek-kakek. Cari potongan yang pas, tidak kebesaran dan tidak terlalu ketat.

6. Navy Blazer

(13)

lebih memilih menggunakan jas/blazer hitam yang jelas-jelas digunakan untuk Nightlife atau pemakaman. Gunakan Blazer yang pas.

7. Rok

Rok adalah bagian busana khususnya busana wanita mulai dari batas pinggang ke bawah melalui panggul sampai panjang yang di inginkan. Rok dibuat terpisah dengan busana bagian atasnya dan dikenakan oleh wanita sebagai pasangan blus. Fungsi rok yaitu untuk menutup dan melindungi tubuh bagian bawah dari sengatan matahari, udara dingin, debu, dan untuk memenuhi syarat kesusilaan dan kesopanan.

8. Jeans

Jeans adalah celana yang terbuat dari denim atau kain dungaree. Seringkali istilah "jeans" mengacu pada gaya celana tertentu, yang disebut "blue jeans" dan diciptakan oleh Jacob Davis dan Levi Strauss pada tahun 1873. Mulai tahun 1950-an, jeans yang awalnya dirancang untuk koboi, menjadi populer di kalangan remaja. Merek yang melegenda termasuk diantaranya Levi, Lee, dan Wrangler. Jeans memiliki berbagai model, diantaranya skinny, tapered, slim, straight, boot cut, narrow bottom, low waist, anti-fit dan flare. Jeans sekarang merupakan pakaian kasual yang sangat populer di seluruh dunia. Mereka juga memiliki berbagai style dan warna, namun, blue jeans yang paling sering diidentifikasi dengan budaya Amerika, terutama Amerika Old West. You can never go wrong with Jeans. Gunakan jeans dengan fit yang pas dan berbahan Raw. Karena kuliah adalah waktu sebelum dunia kerja dimana Mahasiswi bisa menggunakan Jeans hampir tiap hari, sepanjang semester, selama 4-5 tahun.

9. Sneakers

(14)

10. Loafer

Loafer adalah sebutan untuk sepatu pantofel. Sepatu model loafers memiliki sol datar ataupun berbentuk selop, paling pas dipadankan dengan celana pantalon atau kapri. Jenis loafer untuk wanita biasanya berhak tapi tidak terlalu tinggi. Haknya berbentuk kotak dengan bentuk sepatu yang tertutup.

Bagi Anda yang memiliki kaki jenjang, loafer bisa dipadukan dengan rok mid-length. Padukan celana chino, long sleeve motif garis, tas tali panjang dengan loafer datar untuk memberikan tampilan musim panas yang edgy. Sepatu berhak datar tanpa tali dengan bagian depan yang tertutup. Biasanya terbuat dari bahan kulit dengan aksen gesper, rumbai, atau coin holder. Untuk saat-saat formal lainnya dimana Sneakers tidak cukup, gunakan sepasang penny Loafers.

11. Ballet-Flat Shoes

Sepatu jenis ini adalah sepatu yang paling santai & menjadi favorit para remaja. Sepatu didesain dengan bentuk datar tanpa hak. Ada yang berbentuk tertutup, tapi ada juga yang dibuat terbuka di bagian depan seperti peep toe.

Bagi yang termasuk pribadi yang casual, simpel, dan lebih mengutamakan kenyamanan saat menggunakan sepatu, sepatu jenis ini bisa jadi pilihan pas untuk anda. Sepatu ini sesuai digunakan dengan jenis baju apapun. Jeans, celana kapri, dan baju casual lainnya sangat cocok dipadu padankan dengan sepatu ini. Sepatu hak datar atau biasa disebut flat shoes merupakan sepatu sehari-hari yang nyaman. Biasanya sepatu ini banyak dikenakan saat santai. Pakaian apa saja pun cocok dipadukan dengan flat shoes, asalkan selalu sesuaikan warna dan model flat shoes dengan busana Anda. Hindari pemakaian sepatu datar dengan rok selutut, outfit anda terlihat berat dibawah, sangat kuno dan membuat kaki terlihat pendek. Sepatu ini memang lebih banyak digunakan remaja perempuan, tetapi wanita eksekutif tetap dapat bergaya dengannya. Pilihlah ballet flat yang dihiasi dengan permata-permata cantik atau pita.

(15)

membuat tas antara lain adalah kertas, plastik, kulit, kain, dan lain-lain. Biasanya digunakan untuk membawa pakaian, buku, dan lain-lain. Tas yang dapat digendong di punggung disebut ransel, sedangkan tas yang besar untuk memuat pakaian disebut koper (dari bahasa Belanda koffer).Ada pula tas yang hanya berbentuk kotak yang biasanya dipergunakan oleh kaum wanita untuk membawa peralatan kecantikannya, biasanya disebut dengan tas kecantikan atau beauty case . Sekarang tas menjadi salah satu industri yang sangat menggiurkan. Rata-rata penduduk di dunia ini, menghabiskan sebagian dari uangnya untuk membelanjakan tas. Oleh karena itu, para pengusaha sangat tertarik untuk mengembangkan bisnisnya di industri tas ini. Sekarang ada tas yang terbuat dari batik.Modelnya tidak kalah menarik dari tas-tas lainnya.Selain itu, tas ini memeliki corak yang menarik yang dapat menarik perhatian para konsumen.

2.1.3 Gaya Fashion Mahasiswi yang Disukai

Gaya berpakaian merupakan cerminan dari pribadi seseorang. Gaya berpakaian seseorang memang bukan sesuatu yang terjadi dalam waktu semalam. Orang yang memiliki gaya penampilan yang luwes dan menarik adalah orang yang sadar dan mau belajar untuk tampil menarik. Berikut adalah panduan gaya berpakaian mahasiswi di kampus menurut hipwee.com yang telah menyurvei beberapa pendapat pria mengenai busana muslimah yang disukai Mahasiswa:

1. Tidak Berlebihan dan tampil Kasual

(16)

kasual menjadi lebih manis. Jika ingin terlihat lebih sporty, dapat dipadukan dengan mengenakan sepatu kets sebagai alas kaki pilihan yang cocok.

2. Berpakaian Sopan

Pilih pakaian yang sopan. Tidak terlalu pendek, tidak terlalu ketat, dan pastinya tidak terlalu terbuka. Menurut cowok, cewek yang berpakaian sopan itu berarti menghargai dan memiliki rasa peduli pada tubuhnya sendiri.

3. Memadukan Motif atau Warna

Memadukan warna atau motif pakaian dengan baik adalah poin tambah tersendiri bagi para cowok. Menurut mereka, gaya berpakaian apa saja asalkan warna dan motifnya dipadukan dengan baik akan tetap terlihat menarik. Pilih warna dan motif yang sesuai dengan warna kulit

4. Mengenakan Dress

Pilih kaos atau blus yang bermotif sederhana, misalnya motif floral atau garis-garis dan tambahkan kalung dengan bentuk dan liontin yang sederhana sebagai pemanis. Dan sebagai pelengkap gaya girly yang feminim berikan paduaan flat shoes yang memiliki warna yang sesuai untuk dipadukan.

5. Sesuaikan Gaya dengan Karakter Tubuh

Apabila anda memiliki badan yang gemuk fokuslah pada bagian pinggang dan hindari pakaian yang terlampau ketat. Atau untuk yang berkulit gelap, kenakan pakaian yang berwarna cerah supaya kulitmu juga ikut terlihat bercahaya. Menggunakan pakaian yang tepat, walaupun tidak sesuai dengan tren yang ada, akan tetap membuat terlihat menarik dan modis.

6. Sesuai Dengan Acara

(17)

mengikuti tren. Misalnya bergaya kasual, Anda bisa tetap mengikuti tren dengan memakai celana jeans atau sepatu kets model terbaru. Untuk bergaya feminin, motif dress dan bentuk rok yang sedang in saat ini juga bisa digunakan tanpa menghilangkan gaya dan jati diri.

8. Gaya Berpakaian Nyaman dan percaya diri

Rasa percaya diri itu bisa muncul karena apabila ada rasa yakin tidak ada yang salah dari diri ataupun pakaian dan anda merasa nyaman mengenakannya. Kalau selama ini anda masih takut dengan apa yang akan orang katakan mengenai penampilan anda, berarti anda belum dapat dibilang nyaman dan percaya diri dengan gaya berpakaian anda.

2.1.4 Gaya Fashion Mahasiswi yang Tidak Disukai

Berikut ini adalah beberapa gaya fashion mahasiswi yang tidak disukai: 1. Celana legging bermotif

Celana legging adalah celana yang sangat ketat dan tipis. Fashion item yang satu ini dibenci oleh pria karena pria beranggapan bahwa tubuh wanita akan terlihat lebih besar jika menggunakan legging bermotif ini. Pria juga menganggap legging bermotif ini terlihat ramai dan norak. 2. Jumpsuit

Jumpsuit adalah pakaian gabungan atasan dan celana yang menjadi satu. Jumpsuit ini dapat menjadi pakaian yang praktis, nyaman dan longgar saat digunakan. Tetapi para pria akan memandangnya cenderung tidak akan tertatik. Bahkan terlihat aneh di mata pria.

3. Skinny jeans

Skinny jeans adalah celana jeans yang ketat hingga membentuk lekuk tubuh pada penggunanya. Skinny jeans tidak akan cocok digunakan oleh wanita dengan ukuran tubuh besar. Meskipun nyaman dikenakan, skinny jeans iniakan membuat lemak-lemak yang ada di tubuh semakin terlihat.

4. Celana berpinggang tinggi

Celana dengan model pinggang yang tinggi ini adalah salah satu

(18)

tinggi ini akan membuat pria memandang aneh karena menurut mereka celana dengan model ini seperti popok bayi bila digunakan.

5. Pakaian bermotif kulit binatang

(19)

2.2 Pengertian Persepsi

Persepsi adalah proses mengatur dan mengartikan informasi sensoris untuk memberikan makna.(King,A Laura, 2014) Menurut kamus lengkap psikologi, persepsi adalah: (1) Proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera, (2) Kesadaran dari proses-proses organis, (3) (Titchener) satu kelompok penginderaan dengan penambahan arti-arti yang berasal dari pengalaman di masa lalu, (4) variabel yang menghalangi atau ikut campur tangan, berasal dari kemampuan organisasi untuk melakukan pembedaan diantara perangsang-perangsang, (5) kesadaran intuitif mengenai kebenaran langsung atau keyakinan yang serta merta mengenai sesuatu (Chaplin, 2008).

Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses yang menggabungkan dan mengorganisir data-data indera kita (penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari di sekeliling kita, termasuk sadar akan diri kita sendiri (Shaleh, 2009). Jadi dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah proses pengolahan informasi dari lingkungan yang berupa stimulus, yang diterima melalui alat indera dan diteruskan ke otak untuk diseleksi, diorganisasikan sehingga menimbulkan penafsiran atau penginterpretasian yang berupa penilaian dari penginderaan atau pengalaman sebelumnya.

2.2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi

Menurut Rakhmat, Krech dan Crutchfield (dalam Sobur, 2005) factor-faktor yang mempengaruhi persepsi dapat dikategorikan menjadi: 1. Faktor Fungsional

Faktor Fungsional dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana hati), pelayanan, dan pengalaman masa lalu seseorang individu.

2. Faktor-Faktor Struktural

Faktor-faktor struktural berarti bahwa faktor-faktor tersebut timbul atau dihasilkan dari bentuk stimuli dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem syaraf individu.

3. Faktor - Faktor Situasional

Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa nonverbal. Petunjuk proksemik, petunjuk kinesik, petunjuk wajah, petunjuk paralinguistik adalah beberapa dari faktor situasional yang mempengaruhi persepsi. 4. Faktor Personal

(20)

merupakan proses penginderaan saja maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi:

a) Perhatian yang selektif, individu memusatkan perhatiannya pada rangsangrangsang tertentu saja.

b) Ciri-ciri rangsang, rangsang yang bergerak di antara rangsang yang diam akan lebih menarik perhatian.

c) Nilai dan kebutuhan individu

d) Pengalaman dahulu, pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsi dunianya.

Dari beberapa poin diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi dapat dipengaruhi oleh suasana hati, sistem syaraf individu, factor situasi dan pengalaman, motivasi serta kepribadian.

2.2.2 Macam - Macam Persepsi

Secara garis besar persepsi manusi dibagi menjadi dua bagian, yaitu (Mulyana, 2005: 171-176): persepsi terhadap objek (lingkungan fisik) dan persepsi terhadap manusia (interpersonal).

1. Persepsi Objek (lingkungan fisik)

Persepsi terhadap objek (lingkungan fisik) merupakan sebuah proses persepsi yang menggunakan benda sebagai objek, bukan manusia. Stimulus yang ditangkap bukan dari komunikasi nonverbal, melankan dari gelombang cahaya, gelombang suara, temperatur, dll. sifat- sifat luar, sedangkan persepsi terhadap orang menanggapi sifat- sifat luar dan dalam (perasaan,motif, harapan, dan sebagainya). Orang akan mempersepsi anda pada saat anda mempersepsi mereka. Dengan kata lain, persepsi terhadap manusiabersifat interaktif. Objek yang kita persepsi tidak memberikan reaksi kepada kita dan kita juga tidak memberikan reaksi emosional kepada objek tersebut, dan objek yang kita jadikan sebagai bahan persepsi relatif tetap. Persepsi objek terdiri 3 jenis, yaitu :

a) Persepsi Jarak

(21)

Contoh saat kita berada di dalam kereta dan bersebelahan dengan rumah penduduk atau pohon terkadang kita bingung, kita yang bergerak atau rumah penduduk itu yang bergerak

c) Persepsi Total

Pada persepsi total baru akan tampak jelas kalau dilihat secara keseluruhan.

2. Persepsi terhadap manusia (interpersonal)

(22)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah dengan menggunakan Mix Method, yaitu dengan memadukan Desain penelitian Kuantitafif dan Kualitatif. Desain penelitian Kuantitatif bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh variable bebas terhadap variable terikat yaitu dengan uji perbandingan antara foto 1 dan foto 2. Kemudian desain penelitian Kualitatif, peneliti gunakan untuk memperjelas dan untuk menggali informasi lebih dalam lagi melalui interview dengan subjek penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Eksperimental. Metode eksperimental adalah penelitian yang menggunakan eksperimen sehingga, Peneliti memiliki konrol sepenuhnya terhadap jalannya suatu eksperimen.

Adapun variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel independen / bebas: Gaya berpakaian

2. Variabel dependen / terikat : Persepsi

3.2 Populasi Sampel

Populasi adalah sejumlah individu yang setidaknya memiliki beberapa sifat yang sama. Populasi yang terlibat dalam penelitian ini adalah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Subjek penelitian yang dipilih adalah sebagian dari keseluruhan populasi yang dinamakan sampel. Sampel adalah sebagian dari populasi yang setidaknya memiliki satu sifat yang sama dengan populasi.

Untuk membatasi rumusan masalah dan meminimalkan bias, peneliti menetapkan subjek penelitian sebanyak 30 orang. Adapun karakteristik subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya 2. Masih aktif mengikuti perkuliahan 3. Berjenis kelamin laki-laki

(23)

sampling, yaitu tidak memberi peluang atau kesempatan bagi anggota populasi untuk menjadi sampel.

Untuk objek penelitian ini, peneliti menggunakan 1 partisipan yaitu Mahasiswi yang diberi perlakuan berupa perubahan gaya berpakaian untuk menentukan persepsi social mahasiswa yang telah memenuhi kriteria untuk menjadi subjek penelitian.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Untuk teknik pengumpulan data dengan metode kuantitatif, peneliti menggunakan teknik Scoring, yaitu dengan menetapkan skor 1-10 untuk memberikan nilai pada foto 1 dan foto 2 (skor 1 untuk nilai tingkat fashionable paling rendah dan skor 10 untuk nilai tingkat fashionable paling tinggi). Teknik ini digunakan untuk mengukur sejauh mana kisaran nilai yang diberikan oleh subjek penelitian terhadap objek foto yang telah diberi perlakuan oleh peneliti. Dengan menggunakan Scoring, peneliti akan mendapatkan taksiran tingkat persepsi atas foto tersebut melalui analisis data terlebih dahulu. Untuk menentukan skala atas foto tersebut, peneliti mengajukan 3 pertanyaan sebagai berikut:

1. Berapa nilai yang anda berikan pada objek dalam kedua foto tersebut? (skala penilaian 1-10)

2. Atas dasar apa anda memberikan nilai tersebut?

Untuk teknik pengumpulan data kualitatif primer, peneliti menggunakan teknik interview, agar data yang diperoleh akan lebih mendalam dan mampu menggali pemikiran atau pendapat secara detail. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, peneliti membuat sejumlah pertanyaan yang sudah didesain untuk subjek penelitian setelah memberikan nilai pada kedua objek foto tersebut, dengan pertanyaan sebagai berikut :

1. Apa yang ada dipikiran anda saat melihat kedua foto tersebut?

2. Berdasarkan kedua foto tersebut, manakah foto yang anda anggap paling anda sukai?

3. Menurut anda, Mahasiswi yang fashionable itu seperti apa? Dan yang tidak itu seperti apa?

(24)

menggunakan metode observasi, yaitu metode yang tidak hanya mengukur sikap dari responden, namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi. Metode observasi yang digunakan adalah participant observation,

yaitu peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan atau situasi yang diamati sebagai sumber data.

3.4 Analisis Data

(25)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Subjek

No. Nama Jurusan Skor untuk

Foto 1

Skor Untuk Foto 2

1 Sisno Psikologi 8 6

2 Zainuri Psikologi 8 8

3 Adly Psikologi 4 8

4 Alfat Ilmu kelautan 7 8

5 Badrus Psikologi 2 8

6 Bayu Psikologi 2 3

7 Cahya Sistem Informasi 7 8

8 Imron Ilmu Kelautan 4 7

9 Nabil Psikologi 3 5

10 Ulinas Manajemen Dakwah 8 6

11 Rizal KPI 5 7

12 Robi KPI 5 9

13 luhur Psikologi 3.5 8.5

14 Dimas KPI 1 5

15 Wildan Ilmu Komunikasi 5 8

16 Alfan Ilmu Komunikasi 4 7

17 Ghoni KPI 2 9

18 Hilmi KPI 2 6

19 Bagus Psikologi 1 7

20 Faisal Psikologi 7,5 8,5

21 Debi Psikologi 4 7

22 Yasin Psikologi 4 6

23 Alvis Psikologi 3 7

24 Ali Psikologi 2 9

25 Roni Psikologi 7 7

26 Rizky Psikologi 3 6

27 Febri Psikologi 6 7

28 Dicky PAI 7 8

29 Rifki PGMI 5 7

(26)

4.2 Hasil Analisis Data Kuantitatif T-Test

T-TEST PAIRS=sebelum WITH sesudah (PAIRED) /CRITERIA=CI(.9500)

/MISSING=ANALYSIS. [DataSet0]

Paired Samples Statistics

Mean N Std.

Deviation

Std. Error Mean

Pair 1 Sebelum perlakuan 4.47 30 2.189 .400

sesudah perlakuan 7.10 30 1.342 .245

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig. Pair 1 sebelum perlakuan &

sesudah perlakuan

(27)

Paired Samples Test Paired Differences

t df

Sig. (2-tailed) Mean

Std. Deviatio

n

Std. Error Mean

95% Confidence Interval of the

Difference Lower Upper Pair

1

sebelum perlakuan - sesudah perlakuan

(28)

Keterangan :

Correlation : Nilai Korelasi antara 2 variabel tersebut Sig : tingkat signifikansi hubungan

Df : degree of freedom (derajat kebebasan) : Untuk uji T Paired selalu N- 1. Di mana N adalah jumlah sampel.

Interpretasi :

Pada Paired Sample Statistics, dapat dilihat rata- rata pemberian nilai terhadap foto subjek secara umum sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan bahwa rata- rata nilai yang diberikan meningkat dari 4.47 menjadi 7.10, N menunjukkan banyak nya data yaitu sebelum dan sesudah sebanyak 30, standar deviasi yang menunjukkan ke heterogenan yang terjadi dalam data sebelum dan sesudah perlakuan adalah 2.189 dan 1.342 dan standart error of mean sebelum dan sesudah perlakuan adalah 400 dan 245 . Standart ini menunjukkan sebaran rata-ratas ample terhadap rata-rata dari rata-rata keseluruhan kemungkinan sample.

Bagian Dua. Paired samples Correlatian, Hasil uji menunjukkan bahwa nilai sig (0.209) >α (0.05 ) maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan.. Dapat juga dilihat korelasinya yang menunjukkan korelasi yang tidak begitu tinggi yakni sebesar 0.236.

Pada bagian ketiga Paired Samples Test :

Hipotesis

Hipotesis yang diajukan adalah :

Ho : rata-rata Persepsi adalah sama

H1 : rata-rata Persepsi adalah berbeda

Tingkat signifikasi

(29)

Hasil uji Hipotesis

Nilai t hitung adalah sebesar -6322 degan sig 0.000 Karena sig < 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, artinya rata-rata persepsi sebelum dan sesudah perlakuan terhadap foto subjek adalah tidak sama (berbeda).Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa perlakuan yang diberikan terhadap foto objek mempengaruhi persepsi subjek penilitian.

4.3 Hasil Analisis Data Kualitatif

Fokus penelitian ini apakah gaya berpakaian dapat mempengaruhi persepsi, Berdasarkan hasil wawancara yang mengacu pada ciri dari Herriot (1996) dan Palmer (1999) ditemukan beberapa temuan lapangan yang dapat digambarkan berikut ini, dan temuan tersebut di masukkan ke dalam tema-tema yang akan didiskripsikan berikut ini. (transkrip wawancara ada di lampiran)

Mengawali hasil temuan penelitian, ditemukan pentingnya persepsi bagi subyek penelitian yang merupakan mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, dengan memberikan foto objek penelitian yang telah diberi perlakuan dalam gaya berpakaiannya (foto ada di lampiran).

4.3.1 Persepsi Antara Foto 1 Dan Foto 2

Petikan hasil wawancara pada subjek tentang bagaimana persepsi antara foto 1 dan foto 2 dari objek penelitian adalah sebagaimana berikut ini;

“Ya lebih sederhana aja pakaiannya. Terus warnanya lebih warna-warni, cuma lebih sederhana. Kalo yang foto yang kanan ini warnanya lebih simple, terus gimana ya. Hehe“. (PF.3.4.19)

“Apa yaaa? Emm, yang pertama mungkin dari desa, trus yang kedua lebih kekota-kotaan. Tapi kalau pun dari desa yang kedua pasti ter.. apa ya? Terkontaminasi dengan perubahan apa ya? Dengan trend dikotalah. Artinya sudah mulai adaptasi dengan style yang ada di kota.” (PF.6.10.13)

(30)

(PF.10.19.16)

“Ini mungkin kalo menurut saya ya? Ini dari gaya busananya aja udah kelihatan ya. Yang satu kayak apa ya, mohon maaf ya.” (PF.11.21.15)

4.3.2 Skor yang Diberikan Subjek Penelitian Terhadap Foto 1 Dan Foto 2 Petikan hasil wawancara pada subjek tentang berapa skor yang diberikan subjek penelitian terhadap foto 1 dan foto 2 dari objek penelitian adalah sebagaimana berikut ini;

“Kalo foto satu itu tiga. Kalo foto lima itu lima. Eh foto lima, foto dua, lima.” (SF.1.1.23)

“Dua sama tiga. Foto satu, dua, foto dua, tiga.” (SF.2.3.15) “Yang kiri tujuh, yang kanan delapan lah.” (SF.3.5.32)

“Foto satu ini berapa ya skornya, lima lah, yang satu, kalo yang ini, tujuh sampai delapanan lah.” (SF.11.21.39)

“Foto yang kedua, delapan koma lima lah.” (SF.13.26.43)

4.3.3 Alasan Pemberian Skor Oleh Subjek Penelitian Terhadap Foto 1 Dan Foto 2

Petikan hasil wawancara pada subjek tentang alasan skor yang diberikan subjek penelitian terhadap foto 1 dan foto 2 dari objek penelitian adalah sebagaimana berikut ini;

“Iya, dia nggak ada usaha untuk terlihat cantik gitu. Fashionnya juga buruk. Beda dengan yang nomer dua, kan dia mau apa itu namanya, mau dandan udah, walaupun, walaupun gimana gitu.” (AS.1.1.33)

“Dari penampilannya juga dia sebenernya pengen tampil tapi kurang berani. Warnanya. Hehe, warnanya nggak cocok.” (AS.2.3.25)

“Emm, warnanya terlalu. Kalo menurut saya warnanya terlalu ramai. Yang kanan ini lebih simple warnanya.” (AS.3.5.41)

“Ya hanya apa ya, rasa-rasanya saja. Rasanya ini kurang klop gitu lho, eh, serasi antara warna satu dengan warna lainnya. Jadinya, nggak enak dipandang, menurut saya.” (AS.4.6.31)

(31)

4.3.4 Foto yang Disukai Subjek Penelitian Antara Foto 1 dan Foto 2

Petikan hasil wawancara pada subjek tentang foto yang disukai subjek penelitian antara foto 1 dan foto 2 dari objek penelitian adalah sebagaimana berikut ini;

“Yang disukai yang pertama.” (FD.5.9.55)

“Harus milih ya? Haduh, repot ini. Kalau dua-duanya gak bisa? Saya lebih ke foto yang nomer dua.” (FD.6.11.54)

“Pilihan yang disukai? Foto satu lah.” (FD.10.19.51) “Foto dua.” (FD.9.17.49)

“Pribadi ya? Kalau saya pilih satu.” (FD.21.41.63)

4.3.5 Pandangan Subjek Penelitian Tentang Mahasiswi yang Fashionable Petikan hasil wawancara pada subjek tentang bagaimana pandangan

subjek penelitian tentang mahasiswi yang fashionable adalah sebagaimana berikut ini;

“Kalo yang fashionable itu ya, dandan secukupnya aja. Dandanan seperti apa sih yang pantes buat kuliah. Nah itu yang fashionable, ukuran mahasiswi. Kalo yang tidak fashionable ya yang kebalikannya dia, dandanannya terlalu, apa ya, terlalu dilebih-lebihkan. Ya juga nggak dandan, gitu aja. Nggak fashionable kan?” (MF.1.2.49)

“Fashionable ya, emm, fashionable itu apa ya, ya mungkin penampilannya itu biasa tapi terlihat mewah. Itu terlihat dari orangnya sendiri. Nggak perlu penampilan yang.” (MF.2.3.48)

“Emm, kalo menurut saya sih ya yang pakai rok sama yang gimana ya, ya hijabnya simple gitu, nggak terlalu banyak warnanya. Tapi ya, ya tetep syar'i gitu. Nggak, nggak di, nggak banyak dilipet ke belakang gini. (MF.3.5.68)

(32)

4.4 Pengaruh Gaya Berpakaian terhadap Persepsi

Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif, telah didapatkan hasil bahwa

perlakuan yang diberikan terhadap foto objek mempengaruhi persepsi subjek penelitian. Sehingga dapat dikatakan bahwaterdapat pengaruh gaya berpakaian terhadap persepsi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengertian Persepsi itu sendiri yang telah dijelaskan di Bab 2. Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses yang menggabungkan dan mengorganisir data-data indera kita (penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari di sekeliling kita, termasuk sadar akan diri kita sendiri (Shaleh, 2009). Mengapa perlakuan yang diberikan oleh peneliti terhadap objek penelitian mempengaruhi persepsi subjek? Karena Persepsi terhadap manusia merupakan proses presepsi dimana manusia merupakan objeknya. Stimulus disampaikan melalui lambang-lambang verbal maupun nonverbal. Reaksi dari yang dipersepsi ada kemungkinan bias, karena manusia selalu berubah-ubah. (Persepsi Interpersonal).

(33)

BAB V

PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Gaya berpakaian sering juga diartikan dengan Fashion. Menurut The Contemporary English Indonesian Dictionary Oleh drs. Peter Salim (1985), Fashion berarti mode gaya cara busana pakaian, bentuk, jenis, macam, pembuatan. Jadi dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah proses pengolahan informasi dari lingkungan yang berupa stimulus, yang diterima melalui alat indera dan diteruskan ke otak untuk diseleksi, diorganisasikan sehingga menimbulkan penafsiran atau penginterpretasian yang berupa penilaian dari penginderaan atau pengalaman sebelumnya.

Salah satu acuan utama dalam menilai seseorang adalah dilihat dari penampilannya, terutama jika orang tersebut baru pertama kali kita kenal. Hal yang menjadi perhatian yakni dengan melihat gaya berpakaiannya, bentuk tubuhnya, wajah, tingkah laku, gerak-gerik, tatanan rambut yang kesemuanya dapat menimbulkan berbagai kesan baik positif maupun negatif. Penampilan fisik sering menimbulkan persepsi mengenai karakteristik seseorang, seperti gambaran mengenai kepribadiannya atau kompetensi yang dimilikinya. Bahkan dengan hanya melihat fisiknya saja bisa menimbulkan pengaruh terhadap sebuah hubungan interpersonal. Tentu saja hal ini akan berpengaruh kepada interaksi di masa mendatang.

Berdaasarkan hasil penelitian kuantitatif diatas, peneliti mendapatkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan terhadap Foto Objek mempengaruhi Persepsi Subjek penelitian. . Sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh Gaya Berpakaian terhadap Persepsi Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Hal ini didukung oleh hasil penelitian kualitatif yang menyatakan beragamnya jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Ada yang cenderung lebih menyukai foto 1. Dan banyak mahasiswa yang cenderung lebih menyukai foto 2. Semuanya kembali tergantung pada persepsi masing-masing.

(34)

Bagi subjek penelitian, khususnya Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, peneliti menyarankan “don’t judge someone by the cover.” Dan untuk mahasiswi, jadilah diri sendiri. Gaya berpakaian kita menentukan bagaimana penilaian orang lain terhada kita. Kita boleh sekreatif mungkin dalam gaya berpakaian. Tapi ingat harus tetap ada batasan yang syar’i sesuai dengan identitas kita sebagai mahasiswi yang islami.

DAFTAR PUSTAKA

A, Charles etc. (2014). Enclothed Cognition and Controlled Attention During Insight Problem-Solving: Journal of Problem Solving Vol.7

Adam, Hajo etc. (2012). Enclothed Cognition: Journal of Experimental Social Psychology

Aliakbari, Mohammad etc. (2013). Does it Matter What We Wear? A Sociolinguistic Study of Clothing and Human Values: International Journal of Linguistic Vol.5 No.2

(35)

International Scholarly Research Network

Forsythe, Sandra etc. (1985). Influence of Applicant’s Dress on Interviewer’s Selection Decisions: Journal of Applied Psychology Vol.70 No.2

Fortenberry, James etc. (1978). Mode of Dress As a Perceptual Cue to Deference:

The Journal of Social Psychology

Furnham, Adam etc. (2014). What to Wear? The Influence of Attire on The Perceived Professionalism of Dentists and Lawyers: Journal of Applied Social Psychology

L, Tracy etc. (1996). Fashion In The Classroom: Effects of Attire on Student Perceptions of Instructors in College Classes: Journal of Communication Education Vol.45

Lightstone, Karen etc. (2011). University Faculty Style of Dress and Students Perception of Instructor Credibility: International Journal of Business and Social Science Vol.2 No.15

Mcdermott, Lauren etc. (2011). The Influence of Clothing Fashion and Race on The Perceived Socioeconomic Status and Person Perception of College Students: Journal of Psychology & Society Vol.4

Naimie, Zahra etc. (2012). Have You Heard About The New Fashion?: Journal of Social and Behavioral Sciences

U, Dorothy etc (1991). Influence of Dress on Perception of Intelligence and Expectations of Scholastic Achievement: Clothing and Textiles Research Journal Vol.9

(36)

LAMPIRAN

(37)

Keterangan:

(38)

TRANSKRIP WAWANCARA Identitas Subjek 1

Nama : Nabil

Fakultas/Jurusan : Psikologi dan Kesehatan/Psikologi Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/20 Mei 2015

Tempat Wawancara : Utara Auditorium UINSA

No Subjek Hasil Wawancara Koding Keterangan

1 Interviewer Masnya namanya siapa? 2 Interviewee Nabil

3 Interviewer Siapa? 4 Interviewee Nabil.

5 Interviewer Nabil. Dari fakultas, jurusan apa? 6 Interviewee Dari jurusan Psikologi

7 8

Interviewer Oke, ya. Mas bisa dilihat ini fotonya. Foto objek yang kami gunakan. 9 Interviewee Iya.

10

11 Interviewer Yang ada di dalam pikiran mas Nabil ini apa saat melihat kedua foto ini? 12 Interviewee Boleh jujur ya?

13 Interviewer Iya, gak pa pa.

14 Interviewee Eneg. PF.1.1.14 Persepsi foto,

subjek 1, hal. 1, baris 14

15 16

Interviewer Yang mana? Yang buat eneg yang mana?

17 Interviewee Ya semuanya sih. 18

19 20 21 22

Interviewer Semuanya? Oh gitu. Emm, berapa skor yang mas Nabil berikan dari satu persatu foto ini? Foto satu diberikan skor berapa? Rentangnya satu sampai sepuluh.

23 24 25

Interviewee Kalo foto satu itu tiga. Kalo foto lima itu lima. Eh foto lima, foto dua, lima.

SF.1.1.23 Skor foto, subjek 1, hal. 1, baris 23

26

27 Interviewer Oh iya, terus atas dasar apa mas Nabil ini memberi foto itu nilai segitu? 28

(39)

31 dirinya kan.

32 Interviewer Kalo dari bajunya? 33

Interviewee Iya, dia nggak ada usaha untuk terlihat cantik gitu. Fashionnya juga buruk. Beda dengan yang nomer dua, kan dia mau apa itu namanya, mau dandan udah, walaupun, walaupun gimana gitu.

AS.1.1.33 Alasan scoring,

subjek 1, hal. 1, baris 33

39 Interviewer Hehehe 40

41 Interviewee Dia udah mau punya kemauan gitu. Bagus kan. 42

43 44

Interviewer Iya iya. Emm, berdasarkan kedua foto itu, manakah foto yang paling mas Nabil sukai?

45 Interviewee Nggak ada sih. FD.1.2.45 Foto yang

disukai, subjek 1, hal. 2, baris 45

46 47 48

Interviewer Nggak ada? Hehehe. Kalo menurut mas Nabil sendiri ya, mahasiswa yang

fashionable dan tidak itu seperti apa? 49

Interviewee Kalo yang fashionable itu ya, dandan secukupnya aja. Dandanan seperti apa sih yang pantes buat kuliah. Nah itu yang fashionable, ukuran mahasiswi. Kalo yang tidak fashionable ya yang kebalikannya dia, dandanannya terlalu, apa ya, terlalu dilebih-lebihkan. Ya juga nggak dandan, gitu aja. Nggak fashionable kan?

MF.1.2.49 Mahasiswa

fashionable, subjek 1, hal.2, baris 49

59

60 Interviewer Oh iya iya, yaudah makasih mas Nabil,atas waktunya.

Identitas Subjek 2

Nama : Bayu

Fakultas/Jurusan : Psikologi dan Kesehatan/Psikologi Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/20 Mei 2015

Tempat Wawancara : Utara Auditorium UINSA

No Subjek Hasil Wawancara Koding Keterangan

1

(40)

3 emm, mas. Siapa namanya? 4 Interviewee Bayu

5 Interviewer Dari fakultas, emm, jurusan? 6 Interviewee Psikologi

7 8 9

Interviewer Psikologi juga. Ya. Apa yang mas Bayu pikirkan saat melihat foto pertama dan kedua?

10 Interviewee Biasa, nggak ada yang dipikirkan. PF.2.2.10 Persepsi foto, subjek 2, hal. 2,

Interviewer Emm, berapa skor yang diberikan untuk foto satu dan foto dua? Skalanya satu sampai sepuluh. Satu paling jelek, sepuluh baik. Satu sampai sepuluh. 15

16 Interviewee Dua sama tiga. Foto satu, dua, foto dua, tiga. SF.2.3.15 Skor foto, subjek 2, hal. 3, baris 15

17 18 19 20

Interviewer Terus atas dasar apa sih mas Bayu memberi foto pertama nilai dua terus yang ketiga itu tiga? Eh yang kedua itu tiga.

21 22

Interviewee Foto satu gak menarik, biasa. Kurang, wajahnya kurang semangat.

23 24

Interviewer Oh, kurang semangat ya, kalo dari penampilan?

25 26 27 28

Interviewee Dari penampilannya juga dia sebenernya pengen tampil tapi kurang berani. Warnanya. Hehe, warnanya nggak cocok.

AS.2.3.25 Alasan scoring,

subjek 2, hal. 3, baris 25

29 Interviewer Terus yang kedua? 30

31 32

Interviewee Kalo yang kedua, apa ya, mungkin kurang cocok sama dirinya juga, sama posturnya.

AS.2.3.30 Alasan scoring,

subjek 2, hal. 3, baris 30

33 34

Interviewer Berdasarkan kedua foto itu yang mas Bayu pilih yang mana?

35 Interviewee Nggak ada. 36

37 38

Interviewer Nggak ada? Hehe. Yang disukai? Yang paling anda sukai seenggaknya. Iya, pilih salah satu. Yang mendingan? 39

40 Interviewee Ya, kalo mendingan ya mending yang tampil biasa seperti ini. FD.2.3.39 Foto yang disukai, subjek 2, hal. 3, baris 39

(41)

43 44 45

Interviewer Emm, menurut mas Bayu sendiri mahasiswi yang fashionable dan tidak itu seperti apa?

46

Interviewee Fashionable ya, emm, fashionable itu apa ya, ya mungkin

penampilannya itu biasa tapi terlihat mewah. Itu terlihat dari orangnya sendiri. Nggak perlu penampilan yang..

MF.2.3.48 Mahasiswa

fashionable, subjek 2, hal. 3, baris 48

52 Interviewer Jadi dirinya sendiri? 53

54 55

Interviewee Iya. Betapa penampilan semenarik mungkin tapi untuk, apa ya, bukan untuk.. Memperlihatkan itu..

MF.2.4.53 Mahasiswa

fashionable, subjek 2, hal.4, baris 53

56 Interviewer Tidak untuk pamer, seperti itu? 57 Interviewee Iya, jadi seperti itu aja.

58 Interviewer Iya, makasih mas Bayu waktunya.

Identitas Subjek 3

Nama : Cahya

Fakultas/Jurusan : Sains dan Teknologi/Sistem Informasi Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/20 Mei 2015

Tempat Wawancara : Depan gedung SAC

No Subjek Hasil Wawancara Koding Keterangan

1 2 3 4

Interviewer Coba dilihat foto ini. Sudah diamati? Menurut mas, apasih yang ada di dalam pikirannya mas saat melihat.. Oh iya, namanya siapa sebelumnya? 5 Interviewee Cahya

6 Interviewer Cahya. Dari jurusan? 7 Interviewee Sistem informasi 8

9 10 11

Interviewer Dalam pikirannya mas Cahya ini, emm, saat melihat foto pertama dan kedua itu apa? Jujur aja nggak pa pa mas, ini kita cari kejujuran. Hehe. 12 Interviewee Ini yang dikomentarin apanya? 13

14 Interviewer Pakaiannya. Yang terlintas di pikirannya masnya. 15 Interviewee Pakaiannya.

16 Interviewer Iya, pakaiannya kenapa? 17 Interviewee Yang foto yang kiri ini.. 18 Interviewer Yang foto satu, iya. 19

(42)

21 22 23

cuma lebih sederhana. Kalo yang foto yang kanan ini warnanya lebih simple, terus gimana ya. Hehe.

4, baris 19

24 Interviewer Hehe. Udah gitu aja? 25 Interviewee Iya gitu.

26

Interviewer Emm, untuk skor yang mas Cahya berikan kepada foto satu dan dua berapa? Rentangnya satu sampai sepuluh, satu yang paling jelek, yang sepuluh paling bagus. Satu sampai sepuluh skornya.

32 33

Interviewee Yang kiri tujuh, yang kanan delapan lah.

SF.3.5.32 Skor foto, subjek 3, hal. 5, baris 32 34

35 36

Interviewer Terus mas Cahya ini memberikan nilai seperti itu dasarnya apa pada foto satu dan dua?

37 Interviewee Dari pakaiannya. 38

39 40

Interviewer Iya, kenapa? Yang foto satu kenapa diberikan nilai tujuh, sedangkan yang foto dua kenapa diberikan nilai.. 41

42 43 44

Interviewee Emm, warnanya terlalu. Kalo menurut saya warnanya terlalu ramai. Yang kanan ini lebih simple warnanya.

AS.3.5.41 Alasan

scoring, subjek 3, hal. 5, baris 41

45 46 47

Interviewer Terus dari berdasarkan kedua foto itu manakah yang mas Cahya pilih? Yang paling, ya, lebih masuk mungkin. 48

49 50

Interviewee Kalo hijabnya sih saya lebih suka yang kiri ya, soalnya lebih apa, lebih

panjang gitu. Kalo yang kanan.. 51 Interviewer Oh, lebih syar'i gitu?

52 53 54

Interviewee Iya, kalo yang kanan kan kurang, kurang tertutup menurut saya, sama lengannya juga.

55 Interviewer Berarti yang dipilih salah satunya? 56

57 58

Interviewee Kalo dari warnanya sih pilih yang kanan, tapi kalo dari, emm, anunya yang kiri.

FD.3.5.56 Foto yang disukai, subjek 3, hal. 5, baris 56

59 Interviewer Hehe.

60 Interviewee Suruh pilih yang mana ini? 61

(43)

64 65 66 67

seperti apa sih? Mahasiswi ya,

mahasiswi yang fashionable itu seperti apa? Menurut pandangannya mas Cahya sendiri?

Interviewee Emm, kalo menurut saya sih ya yang pakai rok sama yang gimana ya, ya hijabnya simple gitu, nggak terlalu banyak warnanya. Tapi ya, ya tetep syar'i gitu. Nggak, nggak di, nggak banyak dilipet ke belakang gini.

MF.3.5.68 Mahasiswa

fashionable, subjek 3, hal. 5, baris 68

75 76

Interviewer Oh iya, oke. Makasih banyak mas Cahya atas waktunya.

Identitas Subjek 4

Nama : Adli

Fakultas/Jurusan : Psikologi dan Kesehatan/Psikologi Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/20 Mei 2015

Tempat Wawancara : Gedung SAC

No Subjek Hasil Wawancara Subjek Koding Keterangan

1 2

Interviewer Maaf mas, bisa minta waktunya sebentar?

3 Interviewee Iya.

4 Interviewer Namanya siapa? 5 Interviewee Adli.

6 Interviewer Adli. Dari jurusan? 7 Interviewee Psikologi.

8 9 10 11 12

Interviewer Mas Adli, coba dilihat foto ini. Diamati dulu. Menurut mas Adli nih ya. Di pikiran mas Adli saat melihat foto ini, apa yang ada di pikiran mas Adli?

13 Interviewee Ibu-ibu. PF.4.6.13 Persepsi foto,

subjek 4, hal. 6, baris 13 14 Interviewer Dari segi penampilan?

15 16

Interviewee Penampilan? Yang ini mungkin nggak mengikuti tren.

PF.4.6.15 Persepsi foto, subjek 4, hal. 6, baris 15 17 Interviewer Iya, terus yang satunya?

18 Interviewee Ya, agak modis. 19

20 21

(44)

22

23 sepuluh, satu paling jelek, sepuluh baik. 24 Interviewee Dua-duanya ya?

25 Interviewer Iya, dari tingkat ke-fashionable-an. 26

27 Interviewee Ini tiga lah, eh, empat, empat. Ini delapan. SF.4.6.26 Skor foto, subjek 4, hal. 6, baris 26 28

39 30

Interviewer Emm, atas dasar apa, mas Adli memberikan nilai empat dan delapan ini?

Interviewee Ya hanya apa ya, rasa-rasanya saja. Rasanya ini kurang klop gitu lho, eh, serasi antara warna satu dengan warna lainnya. Jadinya, nggak enak dipandang, menurut saya.

AS.4.6.31 Alasan

scoring, subjek 4, hal. 6, baris 31

36

37 Interviewer Kalo yang kedua, kenapa diberi nilai delapan? 38

49 Interviewee Karena menurut saya, kalem dan nggak, nggak rame, dan saya suka. AS.4.7.38 Alasan scoring, subjek 4, hal. 7, baris 38

40 41 42

Interviewer Berdasarkan kedua foto ini, mana sih yang mas Adli pilih? Yang disukai dari

fashion-nya.

43 Interviewee Dua. FD.4.7.43 Foto yang

disukai, subjek 4, hal. 7, baris 43

44 45 46

Interviewer Menurut mas Adli sendiri, emm, mahasiswa yang fashionable itu kayak

gimana? Yang fasionable dan tidak. 47

48 49

Interviewee Yang tidak dulu ya? Mungkin.. Saya kurang memahami, saya kurang mengikuti tren juga masalahnya. 50

51

Interviewer Emm, enggak, dari pandangannya mas Adli aja sendiri.

52 53 54 55 56

Interviewee Kalo fashionable, ya gampangannya enak dilihat mata, eye-catching. Terus kalo yang nggak fashionable, yang kayak kurang sedap

dandanannya.

MF.4.7.52 Mahasiswa

fashionable, subjek 4, hal. 7, baris 52

57 58

Interviewer Emm, kutrang sedap itu kayak gimana ya?

(45)

61

62 Interviewee Warnanya kurang cocok atau terlalu ramai warnanya. MF.4.7.61 Mahasiswa fashionable, subjek 4, hal. 7, baris 61 63 Interviewer Iya.

64 Interviewee Ya, itu aja sih. 65

66

Interviewer Kalo yang tadi enak dipandang itu seperti apa?

67 68 69 70

Interviewee Seperti, menurut saya ya simple, yang tidak banyak warna, dan warnanya menurut saya cocok untuk baju dan celana.

MF.4.7.67 Mahasiswa

fashionable, subjek 4, hal. 7, baris 67 71

72 Interviewer Oh, paduan warnanya cocok gitu. Ya sudah, makasih mas Adli waktunya.

Identitas Subjek 5

Nama : Sisno

Fakultas/Jurusan : Psikologi dan Kesehatan/Psikologi Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/20 Mei 2015

Tempat Wawancara : Utara Auditorium UINSA

No Subjek Hasil Wawancara Subjek Koding Keterangan

1 Interviewer Mas namanya siapa? 2 Interviewee Sisno.

3 Interviewer Siapa? 4 Interviewee Sis.

5 Interviewer Sis? Oke, mas sis, dari prodi? 6 Interviewee Prodi Psikologi.

7 Interviewer Oh, prodi psikologi. 8 Interviewee Iya.

9 Interviewer Oke, mas sis, lihat dulu foto ini. 10 Interviewee Iya.

11 Interviewer Diperhatikan. 12 Interviewee Iya, sudah. 13

14 15

Interviewer Apa yang ada di pikirannya mas sis saat melihat foto pertama dan foto yang kedua?

16 17 18

Interviewee Apa ya? Foto yang pertama, pencahayaannya kurang, yang kedua lebih terang. Sudah.

PF.5.8.16 Persepsi foto, subjek 5, hal. 8, baris 16 19

20

Interviewer Emm, dari segi apa ya, emm, penampilan dan mungkin ekspresi? 21

22 23

Interviewee Dari segi ekspresi, yang ini lebih cerah, lebih sumringah. Ini ngempet ngguyu ya ini ya?

(46)

24 25 26

Interviewer Ngempet ngguyu? Oh gitu, terus yang foto satu? Foto dua ngempet ngguyu, iya. Terus yang foto satu gimana mas? 27

28

Interviewee Yang foto satu ini, ini seperti apa ya? Seperti capek gitu.

PF.5.8.21 Persepsi foto, subjek 5, hal. 8, baris 21 29

30

Interviewer Foto capek? Oh, ekspresinya capek foto satu?

31 Interviewee Iya. 32

33 34 35 36

Interviewer Emm, berapa skor yang diberikan mas mis, eh mas sis ya, maaf, pada foto pertama dan foto kedua? Skalanya satu sampai sepuluh, satu paling jelek, sepuluh baik.

37 Interviewee Eh, yang ini delapan, yang ini enam. SF.5.9.37 Skor foto, subjek 5, hal. 9, baris 37 38 Interviewer Foto satu delapan? Foto dua enam?

39 Interviewee Iya. 40

41 42

Interviewer Emm, atas dasar apa mas sis memberikan nilai foto satu delapan dan foto dua enam?

43 Interviewee Karena ini natural. AS.5.9.43 Alasan

scoring, subjek 5, hal. 9, baris 43

44 Interviewer Foto satu lebih natural? 45 Interviewee Iya.

46 Interviewer Oke, yang foto dua? 47

48 Interviewee Tidak lebih natural dari yang pertama. AS.5.9.47 Alasan scoring, subjek 5, hal. 9, baris 47

49 50

Interviewer Tidak lebih natural? Dibuat-buat seperti itu?

51 Interviewee Hehe, iya. 52

53 54

Interviewer Berdasarkan foto satu dan dua, mas sis ini lebih memilih yang mana? Yang disukai?

55 Interviewee Yang disukai yang pertama. FD.5.9.55 Foto yang disukai, subjek 5, hal. 9, baris 55

(47)

58 59 60

Interviewer Emm, menurut mas sis sendiri mahasiswi yang fasionable dan tidak itu seperti apa?

61 62 63

Interviewee Yang fashionable itu yang bisa menempatkan dirinya pada, dengan, emm, itunya..

MF.5.9.61 Mahasiswa

fashionable, subjek 5, hal. 9, baris 61 64 Interviewer Jadi diri sendiri gitu?

65 Interviewee Iya. 66

67

Interviewer Terus yang tidak fashionable itu yang gimana?

68 69

Interviewee Ya yang memaksakan kehendak gitu.

MF.5.9.68 Mahasiswa

fashionable, subjek 5, hal. 9, baris 68 70 Interviewer Memaksakan kehendak?

71 Interviewee Iya.

72 Interviewer Oke, makasih mas sis atas waktunya.

Identitas Subjek 6

Nama : Zainuri

Fakultas/Jurusan : Psikologi dan Kesehatan/Psikologi Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/20 Mei 2015

Tempat Wawancara : Gedung Fakultas Psikologi & Kesehatan

No Subjek Hasil Wawancara Subjek Koding Keterangan

1 Interviewer Mas namanya..? 2 Interviewee Zainuri.

3 Interviewer Mas Nuri ya? 4 Interviewee Mas Zai.

5 Interviewer Mas Zai, Mas Zai dari? 6 Interviewee Psikologi.

7

8 Interviewer Psikologi juga? Boleh dilihat fotonya, bisa diamati. Sudah diamati? 9 Interviewee Ya.

10 11 12

Interviewer Menurut mas Zai, di pikarannya mas Zai saat melihat foto pertama dan kedua itu apa?

13

Interviewee Apa yaaa? Emm, yang pertama mungkin dari desa, trus yang kedua lebih kekota-kotaan. Tapi kalau pun dari desa yang kedua pasti ter.. apa ya? Terkontaminasi dengan

perubahan apa ya? Dengan trend dikotalah. Artinya sudah mulai

(48)

20

21 adaptasi dengan style yang ada di kota. 22

23 24

Interviewer Trus, untuk skor yang diberikan untuk foto satu dan kedua berapa? Skalanya 1 yang paling jelek 10 paling baik. 25 Interviewee Paling jelek dalam tataran apa ya? 26 Interviewer Tingkat fashionable.

27 28 29

Interviewee Ooh, fashionable, emm, saya rasa dua-duanya ini harus memberikan apa ratingnya ya?

30 Interviewer Yaa. 31

32

Interviewee Kalau yang satu.. Kalau sama ndak

boleh?

33 Interviewer Terserah itukan pendapatnya masnya. 34

35

Interviewee Oooh yaa, delapan-delapan lah, sama-sama delapan.

SF.6.11.34 Skor foto, subjek 6, hal. 11, baris 34 36

37 38

Interviewer Kenapa mas Zai memberikan nilai delapan-delapan, foto satu delapan, foto dua delapan?

39

Interviewee Yang foto pertama karena masih mempertahankan karakter dia atau karakter model dia dari kota

katakanlah dia masih

mempertahankan katakanlah cirinya dia sendiri, artinya tidak mudah terpengaruh dengan kota. Kalau yang ini 8 karena memang apa ya? Katakanlah ya memang fashionable.

AS.6.11.3 9

Alasan

scoring, subjek 6, hal. 11, baris 39

49 Interviewer Oh, memang fashionable. Yaa, terus? 50 Interviewee Lho sudah, pertanyaanya maksudnya. 51

52 53

Interviewer Berdasarkan kedua foto ini ya, manakah yang mas Zai pilih? Yang paling disukai, foto satu atau foto dua? 54

55 56

Interviewee Harus milih ya? Haduh, repot ini. Kalau dua-duanya gak bisa? Saya lebih ke foto yang nomer dua.

FD.6.11.5

4 Foto yang disukai, subjek 6, hal. 11, baris 54

57 58 59

Interviewer Oke, menurut mas Zai sendiri ya, emm, mahasiswi yang fashionable dan tidak itu seperti apa?

60 61

Interviewee Kalau menurut saya ya? Arti

fashionable menurut saya, mungkin

MF.6.11.6 0

Mahasiswa

(49)

63 64 65 66 67 68 69 70 71

saat ini, karena kalau itu, kalau kita ikut-ikutan berarti dirinya tidak mempunyai fashion-nya sendiri atau hanya sebatas ikut-ikutan. Tapi kalau orang yang fashionable, mereka akan tetap teguh dengan fashion-nya yang sudah menjadi karakter dengan dirinya. Cukup jelas ya?

11, baris 60

72

73 Interviewer Iya, cukup jelas ya, terimakasih mas Zai atas waktunya.

Identitas Subjek 7

Nama : Alfat

Fakultas/Jurusan : Sains dan Teknologi/Ilmu Kelautan Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/20 Mei 2015

Tempat Wawancara : Gedung Fakultas Psikologi & Kesehatan

No Subjek Hasil Wawancara Subjek Koding Keterangan

1 Interviewer Ya, namanya siapa mas? 2 Interviewee Alfat Islami.

3 Interviewer Panggilanya? 4 Interviewee Alfat.

5 Interviewer Dari prodi? 6 Interviewee Ilmu Kelautan 7

8 9 10 11

Interviewer Emm, mas Alfat mau minta waktunya sebentar ya, coba diliat foto ini, ya, diamati, sudah? Apa yang ada di pikirannya mas Alfat saat melihat foto pertama dan foto kedua?

12 Interviewee Emm, ya, kecerahannya beda. PF.7.12.12 Persepsi foto, subjek 7, hal. 12, baris 12 13 Interviewer Kecerahannya beda?

14 Interviewee Ini gelap, ini terang. PF.7.12.14 Persepsi foto, subjek 7, hal. 12, baris 14 15

16

Interviewer Oke, lalu? Dalam mungkin penampilan atau ekspresinya? 17

18

Interviewee Ya.. Ya, penampilan, ya, penampilan sebenarnya hampir sama sih.

PF.7.12.17 Persepsi foto, subjek 7, hal. 12, baris 17 19

20

Interviewer Hampir sama ya? Foto satu dan dua sama?

(50)

22 lah. subjek 7, hal. 12, baris 21 23

24 25 26 27

Interviewer Sesuai standart? Emm, berapa skor yang mas Alfat berikan pada foto satu dan dua? Skalanya satu sampai sepuluh, satu emm, paling jelek, sepuluh paling baik.

28 Interviewee Paling, tujuh, delapan.

29 Interviewer Foto satu, tujuh, foto dua, delapan? 30 Interviewee Iya.

31 32 33

Interviewer Emm, atas dasar apa mas Alfat memberikan nilai foto satu tujuh dan foto dua delapan?

34 35 36 37 38

Interviewee Ya, mungkin saya, saya kan kurang ngerti ya, tapi saya kalo sekilas sekilas ngeliat ya, kalo foto biar lebih enak dilihat kan tingkat kecerahannya harus sesuai gitu lah.

39 40 41

Interviewer Oh, gitu. Emm, dalam skala, mungkin

gini, saya kembalikan di pertanyaan kedua ya?

42 Interviewee Iya. 43

44 Interviewer Ini skalanya berdasarkannya ya. fashionable-45

46 47

Interviewee Oh fashionable-nya ya, kalo

fashionable sih yang lebih kelihatan lebih modern ya foto dua.

48

49 Interviewer Oke, foto satu diberikan skala berapa? Nilai berapa? 50

51

Interviewee Untuk fashionable ya, mungkin enam.

SF.7.13.50 Skor foto, subjek 7, hal. 13, baris 50 52 Interviewer Enam. Foto dua?

53 Interviewee Foto dua, delapan. SF.7.13.53 Skor foto, subjek 7, hal. 13, baris 53 54

55 56

Interviewer Oke, atas dasar apa mas, foto satu dikasih enam, foto dua dikasih delapan?

57 58 59 60

Interviewee Ya, kalo foto satu dikasih enam, fashionable itu kan kayak apa ya, kayak saya ngelihat warna hijau sama biru kayak kurang nyatu gitu.

AS.7.13.5 7

Alasan

scoring, subjek 7, hal. 13, baris 57

(51)

63 Interviewer Terus yang foto dua? 64

65 66 67

Interviewee Yang foto dua ya, secara warna mungkin dia lebih nyambung lah antara ini, ini, ini, kombinasinya lebih cocok.

AS.7.13.6 4

Alasan

scoring, subjek 7, hal. 13, baris 64

68 69 70

Interviewer Oke, emm, berdasarkan kedua foto ini, manakah yang dipilih oleh mas Alfat? Yang paling disukai, emm.

71 Interviewee Oh, jelas foto dua. FD.7.13.7

1

Foto yang disukai, subjek 7, hal. 13, baris

Interviewer Emm, oke, menurut mas Alfat sendiri, mahasiswi yang fashionable itu, mahasiswa yang fashionable dan tidak itu seperti apa?

76 77 78 79 80

Interviewee Ya, kalo fashionable mungkin

mereka itu paham pantesin, pantes.. Pertama mungkin, ya apa ya? Fashion tapi jangan sampai yang keluar standart lah, kayak gitu lho.

MF.7.14.7

6 Mahasiswa fashionable, subjek 7, hal. 14, baris 76

81 Interviewer Standart-nya seperti apa mas? 82

Interviewee Ya, standart-nya sesuai yang

dipampang di depan itu kan, nggak pakai sandal, terus, apa namanya, bajunya terlalu sampai mana kalau pakai celana, kayak gitu kan? Kayak gitu. Ya, intinya nggak keluar itu, terus sama mungkin saya lebih cenderung ke pencocokan warna aja sih.

MF.7.14.8 2

Mahasiswa

fashionable, subjek 7, hal. 14, baris 82

91 Interviewer Kalau nggak fashionable? 92

93 94

Interviewee Kalau nggak fashionable ya, mungkin dia kurang paham kombinasi warna aja mungkin.

MF.7.14.9

2 Mahasiswa fashionable, subjek 7, hal. 14, baris 92 95

96

Interviewer Yaudah, makasih ya mas Alfat atas waktunya.

Identitas Subjek 8

Nama : Badrus

Fakultas/Jurusan : Psikologi dan Kesehatan/Psikologi Hari/Tanggal Wawancara : Rabu/20 Mei 2015

Tempat Wawancara : Gedung Fakultas Psikologi & Kesehatan

(52)

1 Interviewer Maaf mas, namanya siapa? 2 Interviewee Badrus.

3 Interviewer Dari prodi? 4 Interviewee Psikologi. 5

6 7 8

Interviewer Oh ya, mas diliat foto ini dulu mas, diamati. Emm, menurut mas Badrus yaa apa yang ada di pikiran mas Badrus saat melihat foto ini? 9 Interviewee Berbeda.

10 Interviewer Ya, perbedaannya apa? 11

12 13 14

Interviewee Emm, apa yaa, warna kulit, terus penampilan juga berbeda, yang satu lebih modis yang satu terkesan apa ya? Terkesan nggak enak diliat lah.

PF.8.14.11 Persepsi foto, subjek 8, hal. 14, baris 11

15 16 17 18 19

Interviewer Foto dua modis, foto satu tidak enak diliat. Berapa skor yang anda berikan pada objek pada foto pertama dan kedua? Skalanya satu sampai sepuluh, satu paling jelek, sepuluh paling baik.

20 Interviewee Foto satu, dua, foto dua, delapan. SF.8.15.20 Skor foto, subjek 8, hal. 15, baris 20 21

22 23

Interviewer Ok. Berdasarkan apa mas badrus memberikan nilai foto satu, dua, foto dua, delapan?

24 25 26

Interviewee Ya berdasarkan yang tadi saya bilang, atas penampilan tadi, perbedaan juga.

AS.8.15.2 4

Alasan

scoring, subjek 8, hal. 15, baris 24

27 28

Interviewer Berdasarkan kedua foto itu, manakah yang lebih disukai oleh mas Badrus?

29 Interviewee Foto dua. FD.8.15.2

9

Foto yang disukai, subjek 8, hal. 15, baris 29

30 31 32

Interviewer Menurut mas Badrus sendiri ya, mahasiswi yang fashionable dan yang tidak fashionable itu seperti apa? 33

Interviewee Sebenernya fashionable dan tidak fashionable itu apa ya? Selera sih sebenernya. Kalau dibilang, emm, fashionable itu seperti apa,

sebenarnya ya, apa ya? Kalau aku sih melihatnya fashionable itu

MF.8.15.3 3

Mahasiswa

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Upaya meningkatkan kinerja guru berkaitan dengan corak gaya kepemimpinan dan reward yang diterima guru ini secara langsung maupun tidak langsung akan

Gaya Kepemimpinan Otokratik merupakan kepatuhan pengikut terhadap pimpinan merupakan corak gaya kepemimpinan otokratik. Dalam menjalankan kewajiban sesuai dengan aturan yang

Penggunaan media dari program “iLook” yaitu frekuensi, intensitas, durasi, serta hubungan dengan media tidak terlalu berperan dalam mempengaruhi minat penonton

Apabila hasil penelitian tersebut disinteskan dengan kesimpulan teoritis di atas, maka dapat dinyatakan bahwa hasil penelitian terhadap Film Realita, Cinta, dan

Gaya Berpakaian dan Open Space office adalah suatu cara baru di era milenial saat ini untuk memberikan sarana dan prasarana yang baik bagi karyawan agar dapat

Pertanyaan yang disampaikan menyangkut bagaimana dan kapan mengenal komunitas ARMY Yogyakarta, alasan bergabung dalam komunitas, pendapat mengenai budaya Korean pop,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh yang signifikan fashion style dalam Instagram terhadap perubahan gaya berpakaian mahasiswi pada mahasiswi jurusan Pendidikan