Hukum Islam dalam Perspektif Kaum Liberal
Nazar Nurdin1
I. PENDAHULUAN
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 7/MunasVII/MUI/11/2005 tentang keharaman pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama setidaknya memberi gambaran jelas soal posisi sebagian ulama Indonesia terkait perkembangan paham tersebut di negara ini. Para ulama merasa kehadiran paham itu menimbulkan keresahan, hingga MUI mengeluarkan fatwa haram atas permintaan sebagian masyarakat. Fatwa ini pun diminta untuk dijadikan pegangan oleh umat Islam di Indonesia.2
Pluralisme, sekularisme dan liberalisme diputuskan dalam sidang komisi fatwa bertentangan dengan ajaran islam, dan umat islam haram mengikuti paham tersebut. Umat Islam juga haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dnegan akidah dan ibadah pemeluk agama lain.3 Begitu kira-kira ketentuan hukum dari fatwa yang telah lahir sudah 10 tahun lalu, hingga kini sebagian orang masih menganggap paham tersebut masih haram.
Lantas, apakah memang berbahaya jika seorang berfikiran liberal? Bertolak dari pertanyaan sederhana ini, makalah ingin melihat secara lebih dalam soal gagasan islam liberal, utamanya dalam pemikiran dalam hukum Islam. Dalam penulisan memang tidak ditampilkan mengapa sampai diharamkan, tapi lebih menjelaskan pada dasar dan arah mengapa orang bisa berfikiran liberal dalam beragama. Bahkan, dalam contoh yang ditampilkan, terutama pada bagian ketiga, penulis sengaja memasukkan unsur yang agak sensitif dalam Islam, kaitannya dengan persoalan global, yakni soal Anjing. Anjing yang sebagai binatang cerdas, ternyata kalah dihormati daripada kucing. Menurut orang liberal, fobia terhadap Anjing tak hanya pada Islam, tapi pada tradisi agama lain. Islam mewarisi dari tradisi masa lalu, hingga diterapkan hingga sekarang.
II. RUMUSAN MASALAH
1 Peneliti Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Mahasiswa Pascasarjana UIN Semarang, Jawa Tengah
2 Lihat Fatwa MUI Nomor 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama
1. Bagaimana konsepsi, dan sejarah pemikiran hukum islam menurut kaum liberal?
2. Bagaimana metologi hukum islam kaum liberal, dan apa kategorisasinya menjadi hingga disebut sebagai muslim liberal?
III. PEMBAHASAN
A. Pemikiran Hukum Islam dan Liberalisme 1. Sejarah Perkembangan Pemikiran Liberal
Kaum liberal4 memandang bahwa kemajuan Islam salah satunya diwujudkan dengan cara menafsirkan agama. Ada beberapa cara yang diraih, a) penafsiran islam yang non-literal, subtansial, kontekstual sesuai konteks peradaban manusia yang terus berubah; b) penafsiran dengan memisahkan unsur kreasi budaya, dengan nilai-nilai fundamental, dalam hal ini misalnya berkaitan dengan jilbab, potong tangan, qishash, jenggot, jubah yang dinilai tidak wajib diikuti karena ekspresi lokal Islam di Arab;
Kemudian, c) umat Islam harus memandang dirinya sema bagi umat yang terpisah dari golongan lain, namun berfikir universal yang dipersatukan oleh prinsip kemanusiaan, termasuk tidak relevannya kawin beda agama; d) perlu struktur sosial yang memisahkan kekuasaan politik dan kekuasaan agama, dimana kaum liberal menempatkan agama sebagai urusan pribadi, sementara pengaturan kehidupan masyarakat melalui prosedur demokrasi.5
Kehidupan manusia yang terus berubah mengharuskan manusia untuk terus belajar. Akal manusia merupakan anugerah Tuhan, sehingga temuan yang dihasilkan melalui akan merupakah anugerah Tuhan juga. Umat Islam, harus menerima bahwa penafsiran golongan tertentu paling benar dan mutlak, harus ada kesediaan untuk menerima sumber kebenaran di luar Islam. Barang kali juga kebenaran Islam ditemukan dalam Marxisme, maupun temuan ilmu pengetahuan terbaru. Agama adalah baju, sarana, wasilah, untuk modal penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.6
Selain itu, pemahaman bahwa syariat Islam yang diyakini sebagai resep untuk menyelesaikan masalah untuk segala zaman dinilai tidak tepat. Hal itu dianggap wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi masalah adalah bentuk kemalasan berfikir, atau lari dari masalah dengan memakai alasan hukum dari Tuhan. Cara inilah yang
4 Kata Liberal dalam Islam dipahami bukan kebebasan tanpa batas, memakai sikap permisif atau ibahiyah yang melawan kencederungan intrinsik dalam akal manusia. Islam liberal dipandang sebagai ancaman terhadap keberagaman yang sudah terlembaga. Dalam Islam, batasan antara yang boleh yang tidak boleh menempati kedudukan sentral, itulah yang kemudian menjadi fikih. Bahasa kewajiban lebih menonjol ketimbang hak dan kebebasan manusia. Islam liberal muncul dengan semangat menyeimbangkan neraca bahasa kewajiban dan kekebasan atau hak ini. Ligat Abd Muqsith Ghozali (eds), Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagaman yang Dinamis, Jakarta: JIL, 2005, hlm. xix. Lihat juga di Nuhrison (eds), Faham-faham Keagamaan Liberal pada Masyarakat Perkotaan, Jakarta: Puslitbang Keagamaan, 2007, hlm. xvii-xviii.
disebut Eskapisme, yang menjadi sumber kemunduran umat Islam. Perlu diketahui adalah tak ada hukum Tuhan, yang ada hanya sunnah dan nilai universal yang dimiliki semua umat manusia.
Kelompok gerakan liberal sangat menginginkan adanya pembaruan pemikiran islam, pembaharuan pendidikan, hubungan agama dan negara, demokrasi, hak-hak kaum perempuan, hak-hak Non Muslim, kebebasan berfikir dan gagasan kemajuan. Berbagai tokoh internasional lahir berfikiran liberal, seperti Jamaluddin al-Afghani, Ahmad Khan, Mahmoud Muhammad Thoha, Said al-Asmawi, Ali Abd Raziq, Muhammad Arkoun, Fahmi Huwaidi, Amina Wadud, Ali Syariati, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Hasan Hanafi, dan sebagainya. Dalam konteks Indonesia, muncul nama Abdurrahman Wahid, Nur Cholis Madjid,7 hingga Ulil Abshar-Abdalla, Lutfie As-Syaukani, Abd Muqsith Ghozali dan sebagainya.
Dalam terminologi Charles Khurzman, setidaknya ada sejumlah tokoh intelektual Muslim yang berfikiran dan mempunyai gagasan liberal. Dicontohkannya seperti Ali Abd al-Raziq, Muhammad Khalaf-Allah, Mahmud Taleqani, Muhammad Sa’id al-‘Ashmawi, Benazhir Bhutto, Amina Wadud, Muhammad Shahrour, Hamayun Kabir, Chandra Muzaffar, Mohamed Talbi, Ali Bulav, Ali Syariati, Yusuf Qardlawi, Mohamed Arkoun, Abdullahi Ahmed an-Na’im, Abdul Karim-Sourush, Muhammad Iqbal, Mahmoud Muhammad Taha, Fazlur Rahman, Shabbir Akhtar hingga Nurcholis Madjid. Namun, nama yang digolongkan itu tidak mengganggap dirinya sebagai kaum liberal, atau mendukung aspek ideologi liberal.8
Dalam penelitian Balitbang Keagamaan, setidaknya ada empat versi Islam liberal, yakni modernisme, universalisme, sosialisme demokrasi dan neo-modernisme. Mereka semuanya menekankan pada pemikiran yang berdasarkan rasionalitas dan pembaguan pemikiran sesuai konteks dunia kekinian. Dalam hal ini, tradisi yang ada di masa lampau dianggap sebagai interpretasi para ulama yang telah dilembagakan secara mapan, sehingga jika tidak sesuai dengan kekinian tidak perlu dipertahankan terus menerus.
Pemikiran yang dikembangkan tokoh liberal ini kerap mendapat tantangan dari kalangan tradisional hinga revivalis, hingga tidak sedikit yang dituduh sesat, dan antek Barat untuk menghancurkan Islam. Namun, penelitian itu menyebut pemikiran liberal yang disampaikan masih memiliki akar yang kuat dan otentik dalam Islam.
Garis pemikiran mereka bermula dari telaahan Charlez Kurzman ketika pemilahan tradisi Islam menjadi tiga kategori: customary Islam atau islam adat, Islam revivalis dan Islam liberalis.9 Gerakan pemikiran Islam lliberal muncul dan berkembang melalui media massa yang
7 Nuhrison (eds), Faham-faham Keagamaan Liberal pada Masyarakat Perkotaan,
Jakarta: Puslitbang Keagamaan, 2007, hlm. ix-x
menyebarkan gagasan dan penafsiran liberal.10 Salah satu yang berkembang adalah Jaringan Islam Liberal. JIL ini merupakan lembaga non pemerintah yang konsen pada bidang pemikiran sosial keagamaan. Kelahiran utamanya tahun 2001 didorong karena menguatnya kelompok fundamentalisme Islam, diikuti para laksar-laskar yang mengunakan atribut islam untuk memprovokasi masyarakat melakukan tindak kekerasan.
Menurut Mahsun, ada beberapa landasan yang digunakan dalam ketika menggunakan termilologi liberal. 1) membuka pintu ijtihad peda semua dimensi Islam; 2) mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks; 3) mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural; 4) memihak pada yang minoritas dan tertindas; 5) meyakini kebebasan beragama; 6) memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.11
Di kalangan sejarah Islam, beberapa ulama islam juga berfikir kritis, liberal untuk menyampaikan sebuah pendapat. Ulama Mesir misalnya, Ali Abdul Raziq yang menilai Muhammad hanyalah rasul dan juru dakwah, bukan seorang pemimpin negara. Begitu juga dengan intelektual Mesir, Khaled Abou el-Fadl yang lantang mengkritik salafisme dan wahabisme. Dia menilai sumber otoritas hukum Islam, Qur’an dan hadis, ayatnya banyak yang disitir untuk lepas dari konteks, untuk memenuhi ambisi modernitas, agar menjadi ideologi politik. Al-Quran dan Hais akan dapat “ditekuk” sesuai dengan kehendak penafsirnya. Apalagi ada sejumlah ayat dan hadis cederung mempunyai sejumlah kemungkinan mempunyai makna yang berbeda-beda.
Tafsir terhadap hukum juga dilakukan oleh intelektual Mesir Fahmi Huwaidy dalam konsep zimi-nya.12 Baginya, konsep dzimmi atau orang non muslim yamg tidak memusuhi orang Islam yang diberikan perlindungan dan proteksi politik tidak bisa lagi dianggap warga
9 Lihat pembagian tipologi perbedatan soal Islam, dalam Khuzman (eds), Wacana... hlm. xv-xvii
10 Nuhrison (eds), Faham-faham... hlm. xix-xx. Gus Dur dalam pengantar buku Ulil, menegaskan bahwa Ulil adalah seorang santri yang berpendapat kemerdekaan berfikir adalah keniscayaan dalam Islam, ia percaya pada batas-batas kemerdekaan itu, dan tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan. Bagi Gus Dur, selama Ulil percaya pada ayat dalam kitab Suci al-Quran dan tdak ada yang abadi kecuali kehadiran Tuhan dan yakin kebenaran Tauhid, ia adalah seorang Muslim. Seorang muslim yang menyatakan Ulil anti Muslim akan terkena sabda nabi, barnag siapa yang mengkafirkan saudara yang beragama Islam, justru ialah yang kafir. Baca Abdurrahman Wahid, “Ulil dengan Liberalismenya”, dalam Ulil Abshar Abdalla, Menjadi... hlm. xiv
11 Baca Maksun, Islam, Sekularisme dan JIL, Semarang: Walisongo Press, 2009, hlm. 41-43
negara kelas dua. Hubungan antara orang Islam dan non Islam dalam konsep zimi sudah tidak lagi relevan karena konsep kewarganegaraan suatu negara umumnya tidak menggunakan dasar agama melainkan oleh prinsip kesatuan nasional. Menurut Hamka Haq, konsep zimi yang melindungi non muslim dalam kelas berbeda tidak berlaku pada zaman Nabi ketika memimpin Madinah, kaerna kaum non muslim turut serta sebagai warga negara yang sama kedudukannya dengan kaum muslim, kedudukannya bukan hasil dari proses penaklukan wilayah.
Ketika dikontekskan dengan Indonesia, yang sebelumnya dijajah Belanda, Inggris dan Jepang, umat islam dan non muslim sama–sama berjuang memerdekakan bangsa. Kasus non muslim di Indonesia dinilai sama dengan proses pendirian Madinah, ketika Muhammad menjadikannya sebagai “negara madani,” atau semuanya warga negara dalam kedudukan yang sama. Mereka yang membayar pajak untuk negara, bukan sebagai imbalan atas perlindungan negara, tapi bentuk kesadaran bersama membangun sebuah negara. Karenanya, konsep zimi tidak sepenuhnya berlaku di negara ini.13
2. Belajar Pemikiran Liberalisme dalam Islam
Di kalangan kaum liberal, teks keagamaan bersifat terbuka dan dinamis. Mereka menempatkan agama sebagai bagian dari budaya dan peradaban umat manusia. Kaum liberal dalam pandangan umum menempatkan hubungan dialogis yang setara antara nalar akal dan nalar agama. Kelompok ini menganut paradigma rasional dan sekuler. Rasional berarti menempatkan akal dan agama secara dialogis, sementara sekuler memisahkan persoalan agama dan non agama secara proporsional.
Paradigma islam liberal bisa dilihat dari beragam aspek, terutama pada pola penafsiran yang selalu menenaknakn substantif, kontekstual, dan rasional. Pola penafsiran ini menjadi acuan dalam merespon problem keagamaan, sosial-budaya, dan politik, baik lokal maupun global. Kelompok ini hendak menegasikan diri siap berhadapan dengan dinamika peradaban global, dibanding kelompok yang menentangnya. Mereka hendak menghadirkan Islam sebagai agama yang mampu merespon isu-isu universal kemanusiaan dan tantangan peradaban global. Namun, liberalisme keagamaan bukan berarti kebebasan untuk memakai atau membuang agama, bukan juga membebaskan manusia dari wahyu Tuhan.
Dalam konteks Islam, liberalisme Islam tidak jauh berbeda dengan ideologi lainnya, karena sama-sama meyakini Tuhan dan Rasul, meyakini Quran dan sunnah sebagai doktrin keagamaan. Yang membedakan adalah interpretasi teks keagamaan yang dilakukan agamawan atau kelompok tertentu. Dalam interpretasi ini, liberalisme setidaknya mempunyai tiga makna utama, yakni corak substantif atau tidak memahami ajaran agama sebatas nalar skriptif atau catatan teks, lebih pada makna substansial; kontekstual sesuai latar yang melatarbelakanginya; dan rasional. Ketiga itu menjadi ciri dari
liberalisme Islam. Jika seorang melakukan interpretasi teks keagamaan dengan pola tiga corak itu berarti telah memasukkan unsur liberalistik dalam penafsiran.14
Kritik kaum liberal, terutama pada pemahaman umat Islam ketika belajar Islam, adalah lebih banyak belajar soal ayat-ayat hukum, sehingga tidak jarang, al-Quran direduksi sebagai suatu qanun yang memuat halal-haram. Cara belajar dan berfikir semacam itu acap mereduksi, dan mendangkalkan perspektif soal kita suci. Ayat hukum hanya kurang lebih 200 ayat dalam al-Qur’an. Fikih harus dipilah menjadi tiga level, yakni bidang publik, atau dalam fikih muamalah, bukan ketentuan yang mengikat; bidang privat, atau akhwal al-syahsiyyah; dan bidang ritual atau ibadah.15 Bagaimana memahami peranan fikih saat ini?
Kembali ke dalam definisi fikih, yakni pengetahuan tentang hukum syara’ yang bersifat amaliah atau praktis, dan hukum-hukum itu diderivasikan dari dalil-dalil yang bersifat rinci. Sementara hukum adalah ujaran Allah yang berkaitan dengan seluruh tindakan orang-orang mukallaf baik yang bersidat tuntutan atau pembiaran. Definisi fikih mewakili kesaran moral pra modern atau bergantung dari luar diri sendiri.
Contoh misalnya pandangan liberalisme misalnya wacana yang disampaikan Masdar Farid Masudi soal haji. Para ulama dinilai kurang memahami maksud ayat al-Baqoroh ayat 197 tentang waktu berhaji. Bagi dia, ayat itu menunjukkan arti waktu haji berbulan-bulan, bukan terbatas pada lima hari pada bulan Dzulhijjah, bulan yang ditunjuk adalah Syawal, Dzulkaidah dan Dzulhijjah. Namun ulama menyederhanakan lima hari dengan berpegang pada hadis khudzu ‘anni manasikakum. Nabi sendiri, kata Masdar hanya berhaji sekali seumur hidup, sehingga diandaikannya jika nabi mempunyai umur panjang, pasti akan melaksanakan haji di hari lain dalam rentang waktu tiga bulan tersebut.
Dalam hal zakat, yang itu adalah pembelaan Islam untuk kaum miskin ditempatkan secara baik. Baginya, zakat adalah sama dengan pajak. Atau pajak yang dibayarkan adalah pola zakat modern. Pajak adalah formalnya, sementara zakat adalah esensinya. Kelemahan dalam konsep pajak harus dilengkapi dengan zakat, karena pajak dalam posisi lemah membela kaum lemah, lebih memberikan privilage bagi yang membayar pajak yang besar. Zakat dalam instrumen modern harus digunakan sebagai alat mengontrol pemerintah.
Dalam konteks penerapan syariat Islam, kaum liberal memandang tidak ada standar dan prosedur baku untuk bisa digunakan sebagai model. Ketika Abu bakar memerangi orang muslim kaya yang tidak mau membayar zakat, tidak didukung oleh sahabat besar lainnya, termasuk Umar dan Ali. Hal itulah yang dinilai tidak
14 Halid Alkaf, Quo Vadis Liberalisme Islam Indonesia, Jakarta: Kompas, 2011, hlm. xxiv-xxv dan 16-19
memberi penegasan separa spesifik dan aplikatif. Hal yang tak baku juga terjadi dalam pemilihan seorang pemimpin.
Kendati begitu, kritik yang disampaikan Bahtiar Effendi soal Islam liberal agaknya bisa diterima. Bahwa, sebebapa jauh batas hasil dari kelompok liberal dianggap sebagai bagian ijtihad yang damai. Ijtihad yang dibuat mereka jarang yang dibuat sama (ijma’) kecuali pada persoalan yang sudah memiliki rujukan nash yang sudah pasti. Kecenderungan lain, kelompok liberal kerap menempatkan diri dalam wacana keagamaan yang kurang didukung fakta empiris mayoritas umat Islam.16
Penggunaan rasio yang berlebih pada konsep agama misalnya soal surga dan neraka tidak bisa memberi gambaran kebenaran. Logika berfikir yang dibentuk oleh akal belum bisa menafsirkan problem-problem eksatologi laiknya penciptaan langit dan bumi dengan satu hari. Sampai di mana letak kekuatan akal manusia menafsirkan itu? Nalar yang hanya bertumpu pada logika dinilai tidak saja memberi solusi yang lebih positif di tengah masyarakat.
Kurzman juga mengkritik para pemikir liberal saat ini salah, karena banyak mengadopsi perpektif orientalis dan menyebut Islam sebagai yang terbelakang dan tidak menyelamatkan. Kebanyakan kaum liberal pada periode modernis jauh lebih protektif terhadap agama dan kebudayaan Islam, dibanding apa yang dituduhkan pada mereka. Mestinya, tujuan akhir bukanlah menyingkirkan Islam, tapi untuk mengaktualkannya kembali.17
B. Metodologi Hukum Kaum Liberal 1. Metologi Hukum
Para kaum liberal, terutama di Jakarta semisal Abdul Muqsith Ghozali merumuskan tersendiri metodologi ketika melakukan penafsiran pada sumber Islam. Penyusunan metodologi serta kaidah-kaidah lama perlu diingatkan kembali soal teks dan konteks. Misalkan, apakah dibalik teks yang ditafsirkan itu memiliki prinsip maqasid syariah.18
Ada tiga point utama mengapa metodologi tafsir klasik perlu dikritik. Antara lain, metodologi lama terlalu memandang rendah kemampuan akal publik, serta menganulir ketentuan legal-formalistik menjadi tidak relevan; metodologi lama kurang hirau terhadap kemampuan manusia merumuskan konsep kemashlahatan, manusia dinilai tak memiliki reputasi dan kedudukan dalam ushul fiqh klasik, kecuali sebagai sasaran hukum; metodologi lama terlalu mengagungkan teks dan menggabaikan realitas, ruang ijtihad juga selalu terarah dalam koridor teks.
Maka dari itu, ada beberapa tawaran kaidah ushul yang ditawarkan yang disesuaikan dengan dunia modern. Tawaran itu
16 Bahtiar Effendi, “Islam Liberal dalam Arus Pemikiran Global” dalam Halid Alkaf,
Quo Vadis Liberalisme Islam Indonesia, Jakarta: Kompas, 2011, hlm xix 17 Carlez Kurzman, Wacana..., hlm. xxvii.
berupaya merekonstruksi kaidah-kaidah lama, diyakini akan lebih bernilai solutif bagi problem kemanusiaan. Tawaran kaidah itu ada tiga macam, yakni:
a. Al-‘Ibrah bi al-Maqasid la bi al-Alfadz b. Jawaz Naskh al-Nushush bi al-Mashlahah c. Tanqih al-Nushus bi ‘Aql al-Mujtama’ Yajuzu19
Kaidah pertama, tentang Al-‘Ibrah bi al-Maqasid la bi al-Alfadz bertolak dari kaidah lama al-‘Ibrah bi Khusush al-Sabab la bi ‘Umum al-Lafadz. Pertimbangan utama yang mesti jadi perhatian adalah keumumam lafadz, bukan khususnya sebab. Sebab, jika nash menggunakan redaksi umum, maka tidak ada pilihan lain selain menerapkan nash tersebut, sekalipun nash hadir merespon peristiwa khusus. Menurut Muqsith, ketika memasrahkan pada keumuman lafadz (al-taslim bi ‘umum al-lafadz) hanya akan menyebabkan terjebak pada kerangka makna linguistik (fiy ithar dalalah al-lughawiyah).
Kaidah lama juga dipandang terlalu berkonsentrasi dan bergerak pada medan semantik dengan menepikan peranan sabab al-nuzul. Implikasinya, pengguna kaidah terjebak pada kenaifan, semakin harfiah membaca, maka ia dekat pada kebenaran. Secara kebahasaan, kaidah lama yang memuat isitilah amm-khas, muthlaq-muqayyad, mujmal-mubayyan, muhkam-mutasyabbih, qath’i-dhanniy merupakan upaya menegakkan otoritas teks. Analisis pada kaidah itu dinilai hanya berhenti pada konteks linguistik, dan tak sampai pada kebenaran hakiki sebagai maksud diturunkannya syariat islam. Kaidah baru yang diusulkan analisa tidak hanya pada struktur kalimat, tapi fondasional berupaa analisa kelas dan struktur sosial dan budaya yang melingkupi kehadiran teks.
Kaidah kedua, Jawaz Naskh al-Nushush bi al-Mashlahah lebih menitikberatkan pada masalah ketika terjadi pertentangan antara teks dan masalah yang mesti dimenangkan. Pada umumnya, ulama fikih lebih memenangkan nash. Menurut Muqsith, sebagaimana pendapat Najmudin at-Thufi, tidak akan jadi pertentangan antara nash dan maslahah karena yang disampaikan nash adalah kemaslahatan itu sendiri, sementara kemaslahatan yang diimpikan manusia bersifat semu dan relatif. Kemaslahatan dari Tuhan, hakiki dan objektif, manusia tidak mempunyai kewenangan untuk mempertanyakan dan menggugat. Namun, bagi kaum liberal, maslahat memiliki otoritas menentukan untuk menganulir teks suci, itulah yang kemudian disebut naskh al-nushush bi al-mashlahah. Kemaslahatan sebagai spirit teks Quran bisa sebagai mengontrol balik dari keberadaan teks dengan menganulir teks. Dengan cara itu, kemaslahatan akan selalu berkreasi untuk memproduksi formulasi teks keagamaan di tengah kegamanangan teks keagamaan yang lama.
Sementara kaidah Tanqih al-Nushus bi ‘Aql al-Mujtama’ Yajuzu hendak menyatakan akal publik memiliki kewenangan untuk menyortir ketentuan partikular agama menyangkut perkara publik. Sehingga ketika terjadi pertentangan antara teks dan akal, akal publik mempunyai otoritas untuk mengedit, menyempurnakan, dan memodifikasinya. Hal itu misalnya bisa dilakukan untuk ayat-ayat uqubat, hudud, qishash, waris dan sebagainya. Ketentuan hukuman tersebut dalam dunia modern dinilai tidak bisa menyelesaikan masalah kemanusiaan. Akal publik menurut kaum liberal harus diberi posisi penting, dan tidak cukup diperlakukan sebagai pengelola dan alat penafsir teks. Akal publik mempunyai tanggungjawab moral intelektual untuk melakukan tanqih ayat-ayat yang problematik dalam implementasinya di lapangan.20
2. Ketgorisasi Islam Liberal
Islam liberal sejak abad 19 mulai membedakan peran dari revivalisme, baik secara intelektual dan institusional. Islam liberal sudah mulai memisahkan ijtihad dari taklid, akal dari otoritas. Banyak tokoh mulai dengan ini misalnya Jamaluddin al-Afghani (1838-1987), Sayyid Ahmad Khan (India, 1817-1898), Muhammad Abduh (1940-1905). Taklid menjadi tidak populer di kalangan kaum liberal. Lantas seberapa jauh pemeikiran kaum Muslim liberal dilihat dari sudut pandangan tradisi Islam?
Kurzman mengatakan, setidaknya ada tiga bentuk utama islam liberal, yang melibatkan hubungan liberalisme dengan sumber-sumber Islam: Qur’an, Sunnah. Pertama, adalah sikap liberal sebagai sesuatu yang secara eksplisit didukung oleh syariah; kedua, kaum Muslim bebas mengadopsi sikap lliberal dalam hal ang oleh syariah dbiarkan terbuka untuk dipahami oleh akal budi dan kecerdasan manusia; ketiga syariah yang bersifat ilahiah ditujukan bagi penahsiran manusia yang beragam. Corak yang dibaginya itu disebut syariah liberal.21
Seperti yang dikategorikan di atas, mereka yang bercorak liberal sebagaimana penggolongan Kurzman adalah sebagai berikut:
a. Mereka yang secara khusus besikap oposan terhadap revivalis islam
b. Mereka yang percaya Islam memiliki epran penting dalam dunia kontemporere sebagai lawan dari sekularis,
c. Mempunyai karya yang dibaca secara luas baik di dalam maupun di luar negara masing-masing
d. Memawakili seluruh dunia islam secara geografis
e. Mewakili berbagai faham islam liberal secara ideologis, serta f. Mewakili periode kontemporor dilihat secara temporer.22
Mereka yang telah dianggap sebagai liberal menggaungkan gagasan misalnya soal pertentangan teokrasi, demokrasi, hak-hak kaum perempuan, hak-hak non muslim, kebebasan berfikir, serta gagasan untuk kemajuan. Sekali lagi bahwa liberalisme Islam tidak
20 Abd Muqsith Ghazali, dkk, Metodologi,,, hlm. 169 21 Kurzman, Wacana... hlm. xxxiii
jauh berbeda dengan ideologi lainnya, karena sama-sama meyakini Tuhan dan Rasul, meyakini Quran dan sunnah sebagai doktrin keagamaan.
Yang membedakan adalah interpretasi teks keagamaan yang dilakukan agamawan atau kelompok tertentu. Dalam interpretasi ini, liberalisme setidaknya mempunyai tiga makna utama, yakni corak substantif atau tidak memahami ajaran agama sebatas nalar skriptif atau catatan teks, lebih pada makna substansial; kontekstual sesuai latar yang melatarbelakanginya; dan rasional. Ketiga itu menjadi ciri dari liberalisme Islam. Jika seorang melakukan interpretasi teks keagamaan dengan pola tiga corak itu berarti telah memasukkan unsur liberalistik dalam penafsiran.23
C. Contoh Hukum 1. Anjing Dalam Islam
Anjing dianggap sebagai binatang najis. Hanya orang Tionghoa dan non muslim yang memiliki Anjing, sementara umat Islam rata-rata tidak mempunya Anjing, apalagi orang Muslim di pedesaan. Ketika menginjak kotoran Anjing, masyarakat bukan main takutnya, karena harus mencari air dan membasuhnya selama tujuh kali, salah satunya dicampuri dengan tanah. Demikianlah secara budaya Anjing dipersepsikan sebagai binatang kotor, mendekati saja tidak boleh.
Apa alasan umat Islam memandang najis sebagai binatang kotor dan najis? Apa alasannya, serta apakah hanya islam saja yang mengangap Anjing itu binatang kotor? Hal ini tentu berbeda ketika Anjing dalam dunia modern sudah berevolusi menjadi binatang cerdas? Bagaimana umat Islam saat ini memandang Anjing?24
Ada sebuah cerita ketika orang buta di Kanada bernama Bruce Gilmor yang selalu membawa Anjing menjadi petunjuk jalan. Suatu ketika, ketika hendak menaiki taksi, taksinya tidak berhenti karena Bruce membawa Anjing. Sopir taksi beragama muslim itu menanggap Anjing binatang kotor dan najis. Bruce tidak terima kemudian mengadukan ke pengadilan, hingga ia dimenangkan pada tahun 2007 dengan kompensasi 2500 dollar. Hal sama juga terjadi pada penduduk yang buta lainnya, Mike Simmonds.
Dalam persepsi masyarakat barat, umat Islam mengidap penyakit canine-phobia atau ketakutan pada Anjing. Hal itu tidak sesuai dengan kultur barat yang gemar memelihara Anjing yang dianggap sebagai men’s best friend.
Kenapa itu semua terjadi pada umat Islam di Indonesia. Menurut Ulil, karena mayoritas warga menganut madzhab Syafii. Madzhab itu bersama madzhab Hanbali dikenal “takut” pada Anjing ketimbang madzhab lain. Dalam Syafii, Anjing dianggap sebagai binatang yang ada pada dirinya (fi tzatihi) kotor dan najis, hal berbeda berlaku pada
23 Halid Alkaf, Quo Vadis Liberalisme Islam Indonesia, Jakarta: Kompas, 2011, hlm. xxiv-xxv dan 16-19
madzhab Maliki dan Mazhab Zahiri yang tidak memandang Anjing sebagai binatang kotor.25
Jika merujuk pada hadis misalnya, memang ada pembenaran terutama hadis dari Abu Hurairah yang menyebut, “memelihara Anjing bisa mengurangi timbangan amal baik seberat satu kirat (dalam riwayat lain, dua kirat).” Memelihara Anjing diperbolehkan ketika Anjing untuk memelihara ternak, atau kebun. Jika ditarik dalam konteks dewasa ini, mengapa sampai sekarang orang sangat takut pada Anjing, salah satunya karena ada alam bawah sadar yang meyakini atau dibentuk oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Hadis itu memerintahkan agar membunuh setiap Anjing yang berkeliaran di Madinah. Belakangan nabi mengoreksi, hanya Anjing hitam (al-aswad al-bahim) yang harus dibunuh, sebab Anjing hitam dianggap sebagai reinkarnasi setan.
Soal Anjing hitam ini kemudian diporet Barbara Allen Woods dalam bukunya, The Devil in Dog Form (1959) terdapat mitos tersendiri. Bahwa, mitos Anjing hitam sebagai penjelmaan setan bukan khas Islam, melainkan sudah menjadi warisan tradisi mitos kuno.26
Apalagi ada hadist lain, menyebut Malaikat tak akan masuk rumah dimana rumah itu terdapat Anjing atau gambarnya. Bagi masyarakat, pengertian itu kerap dimaknai sebagai malaikat yang membawa rizki, ketika memelihara Anjing akan membuat jauh dari rejeki. Jika benar, tentu keadaan pemelihara Anjing miskin semua, namun kenyataan mereka rata-rata orang hidup berkecukupan. Ulil menduga tradisi malaikat masuk rumah berasal dari Yahudi Rabbinik.
Memelihara Anjing bukan sebatas memelihara pet animal, tapi berkaitan dengan persepsi umat Islam tentang Barat dan peradabannya. Islam mengangap anti Anjing, barat pro dengan Anjing.
Bukan khas islam
Tradisi menajiskan Anjing ditengarai bukan dari ajaran Islam. Yahudi dan Kristen juga serupa. Yahudi dan Kristen menilai Anjing dibentuk melalui stetemen teologis dalam kitab kejadian I:28. Manusia dipandang sebagai Tuhan yang berkuasa atas alam, hingga alam menjadi sasaran eksploitasi. Islam juga menggunakan konsep itu dengan mengambil istilah “sahhara” yang intinya, menaklukkan yang ada di sekitarnya. Binatang Anjing diposisikan sebagai objek eksploitasi.
Dalam pandangan Yahudi, terutama dalam kitab Torah, Anjing disebut secara negatif. Bahkan tradisi Rabbinik menyebut memelihara Anjing akan menjauhkan kasih sayang kepada Tuhan. Atau rasa takut kepada tuhan akan hilang dari hati para pemelihara Anjing.27 Ulil
25 Lihat tulisan Ulil Abshar Abdalla, “Muslim dan Cannie-Phobia” dalam
http://islamlib.com/gagasan/Anjing/Anjing-dalam-islam-1/ dilihat pada Senin, 23
November 2015
26 “Muslim dan Cannie-Phobia”...
27 Ulil Abshar Abdalla, “Pandangan Agama-Agama Semitik Terhadap Anjing” dalam
menilai ada tradisi rabbinik dalam perspektif Islam mengenai Anjing. Tradisi rabbinik menyebut kebiasaan memelihara Anjing adalah mereka orang yang tak disunat, kaum gentile, dan orang-orang non-Yahudi. Dalam bahasa al-Qur’an disebut ummiyun. Dalam agama Kristen, Anjing juga dipersepsikan sebagai hal negatif, terutama mitos orang yang berkepala Anjing. Mitos Anjing dipersepsikan sebagai suatu yang jahat.
Pandangan terhadap Anjing dianggap aneh, sebab dalam tradisi agama semitik, dalam hal ini Yahudi, Kristen dan Islam lahir dalam masyarakat agraris, yang mana kebutuhan Anjing justru menolong petani dan peternak. Dalam agama Zoroaster, Anjing dinilai cerdas, karena negara Mesopotomia maju karena peradaban agraris dengan bantuan Anjing. Agamapun memandang Anjing tidak jelas, dibenci, juga sebagai penolong. Anjing ada di wilayah perbatasan binatang cerdas dan binatang yang bodoh, sehingga membangkitkan rasa takut warga.
Namun, dalam dunia modern, kebutuhan Anjing menjadi urgen, terutama adanya modernisasi di Barat. Anjing menjadi obat di tengah kehidupan mereka yang serba individual. Ulil menilai fobia pada Anjing bukan khas dari Islam, bias itu telah terjadi pada agama sebelumnya, Islam mewarisi tradisi itu.
Anjing di mata ulama Fiqh
Fikih adalah teologinya umat islam, karena membentuk model beragama. Ulama fikih juga berbeda pendapat soal keharaman Anjing ini, serta apakah najis atau tidak. Dasar dari rujukan ulama tentunya salah satunya hadis, yang dalam hal ini riwayat dari Abu Hurairah, “Jika wadah dijilat Anjing, maka ia harus dicuci sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah.” Ini merupakan salah satu dasar mengapa Anjing dinilai najis dan haram. Bahkan, dalam penjelasan lain, ulama dari kalangan Syafii, al-Khatib al-Muhtaj (w.1570) dalam Mughni al-Muhtaj, “Mulut adalah bagian dari tubuh Anjing yang paling bersih. Bahkan, Anjing adalah binatang dengan mulut yang tidak berbau, karena kerap menjulurkan lidah. Jika mulutnya mengeluarkan air lidah yang kotor, apalagi pada bagian tubuh lain. Ini teori hukum mafhum aula, diibaratkan mengantuk saja dilarang, apalagi tidur, atau mendekati zina saja dilarang, apalagi sampai melakukan.
Ulama lain berbeda pendapat, mengenai jilatan Anjing. Ulama dari Maliki dan Zahiri mengambil posisi adanya perintah untuk membersihkan gelas ketika dijilat Anjing, bukan Anjing sebagai barang yang kotor. Ibn Hazm misalnya, “jika perintah mencuci tujuh kali adalah perintah Anjing kotor, maka perintah memandikan mayat manusia yang dilakukan beberapa kali menandakan tubuh manusia dalam keadaan kotor, padahal tidak ada yang berpendapat tubuh
manusia najis dan kotor. Ibnu Hazm menilai ada kesalahan berfikir dari pandangan ulama yang menganggap Anjing binatang kotor.
Dari sinilah, ada pandangan yang mengetengahkan bahwa hadist soal Anjing itu bermaksud agar manusia berhati-hati dengan air liur Anjing, sebab disanalah bakteri ditularkan. Bilangan mencuci tidak harus dilakukan secara harfiah, melainkan cukup dijadikan perintah untuk berhati-hati.28 Hadis mencuci tujuh kali juga ada bermacam versi, ada tujuh kali, lima kali, tiga kali dan hanya sekali saja. Bilangan tujuh kali bukan harga mati. Bahwa najis sebagai binatang kotor, najis hanya tafsir dari ahli hukum Islam, dan tidak semua menyetujui tafsir itu. Dengan demikian, fobia Anjing sama sekali tidak ada dasarnya dalam tradisi dan sumber otentik dalam Islam.
Sama halnya dengan pendapat dari Mu’tazilah, al-Nazzam, yang dikenal sebagai sosok berfikir rasional. Dia semasa dengan Imam Syafii. Dia tidak percaya hadis yang memuji Kucing, di sisi lain menistakan Anjing, terutama dari riwayat hadis Kabsyah dari Ansar dari suami Abu Qatadah. Kucing sebagai binatang dekat manusia, sementara Anjing sebagai binatang yang dibunuh. Menurut Al-Nazzam, keahlian Kucing itu adalah menangkap Tikus (jika ditambah-kadang Tikusnya berhasil kabur), sementara keahlian Anjing sangat banyak. Kucing juga suka memangsa tikus, kalajengking, kecoa, kadal, segala macam serangga, atau makanan yang kotor dan menjijikan. Jika Kucing diaggap lebih unggul dari Anjing itu tidak diterima secara akal sehat, dan hadis yang mengunggulkan itu harus ditolak. Ulil menilai Al-Nazzam jengkel karena di zamannya sentimen anti Anjing dijustifikasi dengan hadis.29
IV. SIMPULAN
Dari pembahasan di atas, setidaknya ada dua kesimpulan mendasar terkait masalah yang disebutkan.
1. Pemikiran hukum liberal sebetulnya telah tumbuh dan ada sejak penafsiran terhadap Islam itu muncul. Mereka yang berfikir liberal menganggap jika Islam maju, maka harus diwujudkan dengan cara menafsirkan agama. Kelompok ini menginginkan adanya pembaruan pemikiran islam, pembaharuan pendidikan, hubungan agama dan negara, demokrasi, hak-hak kaum perempuan, hak-hak Non Muslim, kebebasan berfikir dan gagasan kemajuan. Di Indonesia, nama Abdurrahman Wahid, Nur Cholis Madjid,30 hingga Ulil Abshar-Abdalla, Lutfie As-Syaukani, Abd Muqsith Ghozali, muncul sebagai tokoh liberal. Mereka sangat mengandalkan rasio dalam menafsirkan teks agama
28 Baca, Ulil Abshar Abdalla, “Anjing di Mata Ulama” dilihat dari
http://islamlib.com/gagasan/Anjing/Anjing-di-mata-ulama/ diakses pada Senin, 23
November 2015
29 Baca Ulil Abshar Abdalla, “Mu’tazilah, Kucing dan Anjing” dalam http://islamlib.com/gagasan/Anjing/mutazilah-Kucing-dan-Anjing/ dilihat pada Senin, 23 November 2015
30 Nuhrison (eds), Faham-faham Keagamaan Liberal pada Masyarakat Perkotaan,
agar makna yang terkandung dalam teks bisa berbunyi, menyelesaikan persoalan kontemporer.
2. Kaum liberal, utamanya di Indonesia mempunyai tawaran metode untuk menafsirkan teks agama. Ada tiga tawaran yang disampaikan, yaitu Al-‘Ibrah bi al-Maqasid la bi al-Alfadz; Jawaz Naskh al-Nushush bi al-Mashlahah; Tanqih al-Nushus bi ‘Aql al-Mujtama’ Yajuzu. Dalam setipa interpretasi, “liberalisme” mempunyai tiga makna utama, yakni corak substantif atau tidak memahami ajaran agama sebatas nalar skriptif atau catatan teks, lebih pada makna substansial; kontekstual sesuai latar yang melatarbelakanginya; dan rasional. Jika seorang melakukan interpretasi teks keagamaan dengan pola tiga corak itu berarti telah memasukkan unsur liberalistik dalam penafsiran.
V. PENUTUP
Penulisan soal studi hukum Islam dalam pandangan kaum liberal ini tidak lepas dari berbagai sumber referensi yang ada. judul makalah ini sudah agaknya telah banyak ditulis oleh para berbagai ahli, tokoh akademikus dan berbagai penulis dari disiplin ilmu penelitian. Tulisan ini hanya menyadur dan mengembangkan apa yang sudah ditulis para penulis terdahulu. Tentunya, jika menyadur dengan pengetahuan seadanya akan terjadi banyak kesalahan yang ditulis, baik segi substansi maupun korelasi antar kalimat.
Penulis benar-benar tidak bermaksud untuk menjerumuskan para pembaca pada kebingungan. Untuk itu, sumbangsih pembaca akan penulis tungu untuk merevisi paper ini menjadi lebih baik
DAFTAR PUSTAKA
Abdalla, Ulil Abshar-, “Anjing dalam Islam” dalam islamlib.com
---, Ulil Abshar-, “Anjing di Mata Ulama” dalam islamlib.com
---, Ulil Abshar-, “Mu’tazilah, Kucing dan Anjing” dalam islamibcom
---, Ulil Abshar-, “Muslim dan Cannie-Phobia” dalam islamlib.com
---, Ulil Abshar-, “Pandangan Agama-Agama Semitik Terhadap Anjing” dalam islamlib.com
---, Ulil Abshar-, Menjadi Muslim Liberal, Jakarta: Nalar, 2005
Alkaf, Halid, Quo Vadis Liberalisme Islam Indonesia, Jakarta: Kompas, 2011
Arkoun, Mohmmed, Islam Kontemporer Menuju Dialog Antar Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
Assyaukani, Lutfi (peny), Wajah Liberal Islam di Indonesia, Jakarta: JIL, 2002
Fatwa MUI Nomor 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 Tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama
Ghazali, Abd Muqsith, “Membangun Ushul Fiqih Alternatif” dalam islamlib.com
---, Abd Muqsith, dkk, Metodologi Studi al-Qur’an, Jakarta: PT Gramedia Utama, 2009
---, Abd Muqsith (eds), Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagaman yang Dinamis, Jakarta: JIL, 2005
Maksun, Islam, Sekularisme dan JIL, Semarang: Walisongo Press, 2009
Nuhrison (eds), Faham-faham Keagamaan Liberal pada Masyarakat Perkotaan, Jakarta: Puslitbang Keagamaan, 2007