• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN SISTEM PENGELOLAAN KAWASAN KON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBEDAAN SISTEM PENGELOLAAN KAWASAN KON"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KUNJUNGAN

“PERBEDAAN SISTEM PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI” (Studi Kasus Taman Nasional Gunung Gede Pangranggo, Kebun Raya

Cibodas dan Taman Wisata Alam Mandala Wangi)

BIOLOGI KONSERVASI

BIO 522

TEGUH PRIBADI

G 351060391

PROGRAM STUDI BIOLOGI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

laporan kunjungan ini. Laporan kunjungan yang berjudul “Perbedaan Sistem

Pengelolaan Kawasan Konservasi” (Studi Kasus Taman Nasional Gunung Gede

Pangranggo, Kebun Raya Cibodas dan Taman Wisata Alam Mandala Wangi).

Laporan ini adalah tugas akhir mata kuliah Biologi Konservasi (Bio 522).

Terimakasih penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Dedi Setiadi M.S. selaku

Dosen Mata Kuliah, juga kepada rekan-rekan mahasiswa SPS Program Studi

Biologi angkatan 2006 dengan minat ekologi yang mengambil mata kuliah ini,

adik-adik mahasiswa S1 Biologi yang mengambil mk pengantar pengelolaan

sumber daya alam. Pihak Kebun Raya Cibodas, Taman Nasional Gunung Gede

Pangranggo dan Taman Wisata Alam Mandala Wangi.

Bogor, Juni 2007

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL... iv

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Tujuan ... 2

C. Pelaksanaan ... 2

TINJAUAN PUSTAKA 3 A. Kawasan Konservasi ... 3

B. Taman Nasional Gunung Gede Pangranggo... 8

C. Kebun Raya Cibodas... 8

D. Taman Wisata Alam Mandala Wangi... 9

PEMBAHASAN ... 10

A. Karakteritik Taman Nasional, Kebun Raya dan Taman Wisata Alam ... 10

B. Perbedaan Pengelolaan Taman Nasional, Kebun Raya dan Taman Wisata Alam ... 16

SIMPULAN ... 18

(4)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman Penetapan Kawasan Konservasi Berdasarkan Prioritasnya ... 7

Karakteristik Pengelolaan kawasan Konservasi dalam bentuk TN,

(5)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki

lebih dari 17.000 pulau dengan panjang garis pantai mencapai 81.000 km, dan

membentang antara garis 95 - 145 Bujur Timur dan 6 Lintang Utara sampai 11

Lintang selatan.

Sebagai negara kepulauan, kekayaan sumberdaya alamnya meliputi juga

kekayaan sumberdaya alam pesisir dan lautan. Kekayaan sumberdaya alam

Indoneisa hampir tidak tertandingi oleh negeri manapun di muka bumi ini.

Kekayaan keanekaragaman hayatinya termasuk dalam daftar negara

megabiodiversity, yang hanya tertandingi oleh Brasil dan Zaire, dan sebagian dari

kekayaan hayati tersebut banyak diantaranya tidak dijumpai di belahan bumi

manapun.

Lingkungan dengan spesies terkaya salah satunya terdapat di hutan hujan

tropis . Indonesia yang terletak di kawasan tropis dengan karakteristik local yang

sangat beragam sangat mendukung terhadap keanekaragaman hayati (biodiversity)

dan endemisitas organisme. Namun, kondisi biogeografi Indonesia mendukung

terhadap tingginya tingkat kepunahan jenis (Groombridge 1992 di dalam Primarck

et al. 1998).

Saat ini Indonesia tengah mengalami permasalahan lingkungan. Laju

deforstrasi, hutan hujan tropis, di Indonesia, terjadi dengan pesat walau tidak ada

angka yang pasti namun hampir 1,5 juta ha per tahun menjadi rahasia umum. Di

sisi lain gencarnya promosi pembangunan juga meningkatkan berbagai semakin

mempercepat tingkat kerusakan lingkungan. Di samping gagalnya pengendalian

populasi manusia. Diperparah dengan kesadaran etika lingkungan dalam dimensi

politik, hukum, ekonomi dan social yang masih rendah.

Permasalah pada sumber daya alam akibat aktivitas manusia melalui

perusakan habitat, fragmentasi habitat, gangguan pada habitat (polusi),

penggunaan spesies yang berlebihan untuk kepentingan manusia, introduksi

spesies-speseis eksotik dan penyebaran penyakit (Primarck et al 1998). Akibatnya

(6)

tingkat yang lebih tinggi, populasi, komunitas dan ekosistem. Dampak tak

langsung adalah menurunnya kualitas kehidupan manusia yang tinggal di sana.

Penetapan dan pengelolaan kawasan konservasi adalah salah satu cara

terpenting untuk dapat menjamin agar sumber daya alam dapat lebih lestari,

sehingga sumber daya ini dapat lebih memenuhi kebutuhan umat manusia

sekarang dan di masa mendatang (Mackinnon et al. 1993). Kawasan konservasai

bertujuan untuk penjaminan keterpeliharaan secara berkesinambungan contoh

wilayah alami penting yang dapat dianggap sebagai perwakilan, keterjagaan

keanekaragaman biologi dan fisik dan kelestarian sumber plasma nutfah. Kawasan

yang dilindungi harus dijamin dari pemanfaatan sumberdaya secara tidak terbatas.

Pelestarian kawasan konservasai juga memberikan sumbangsih terhadap

pembangunan melalui: (1) pemeliharana stabilitas lingkungan wilayah sekitarnya,

sehingga mengurangi intensitas banjir dan kekeringan, erosi serta mengurangi

dampak iklim ekstrim local; (2) pemeliharaan kapasitas produktif ekosistem

sehingga menjamin ketersedian air serta produksi tumbuhan dan hewan secara

terus menerus; (3) penyediaan kesempatan bagi keberlangsungan penelitian dan

pemantauan spesies maupun ekosistem alami termasuk juga dengan pembangunan

manusia; (4) penyediaan kesempatan bagi terselenggaranya pendidikn pelestarian

untuk masyarakat umum dan para pengambil kebijakan; (5) penyediaan

kesempatan bagi pelaksanaan pembangunan pedesaan yang saling mengisi serta

pemanfaatan secara rasional tanah-tanah marjinal; dan (6) menyediakan lokasi

bagi pembangunan rekreasi dan wisata (Mackinnon et al. 1993).

B. Tujuan

Kunjungan wisata ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Karakteristik kawasan konservasi terutama taman nasional, kebun raya dan

taman wisata

2. Perbedaan antara ketiga bentuk kawasan konservasi di atas

C. Pelaksanaan

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 24 mei 2007 di Taman Nasional

Gungung Gede Pangrango, Kebun Raya Cibodas dan Taman Wisata Alam

(7)

II. TINJUAN TEORITIS

A. Kawasan Konservasi (Conservation Area atau Protected area)

Kawasan konservasi adalah suatu kawasan (goegrafi) yang mengandung

ekosistem focal (focal ecosistems), spesies, proses ekologis dalam renatang alami

yang bervariasi (Poilan et al 2000 di dalam van Dyke 2003). Kawasan konservasi

adalah sebidang lahan yang terpisah dari peruntukan lain, bertujuan untuk

melestarikan kondisi alamiahnya (Pyle 1980 di dalam Sukmadi. 2007) dengan

kondidi unik Ekosistem unik, baik di darat dan atau di perairan, yang dilindungi,

diantaranya dengan cara memberlakukan pembatasan-pembatasan penggunaan

tertentu dengan maksud untuk mengawetkan feature alam tertentu atau seluruhnya

(Klemm & Shine 1993 di dalam Sukmadi. 2007 ). Wilayah daratan dan atau di

laut terutama diperuntukan bagi perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman

hayati, dan sumberdaya alam serta sumberdaya budayanya, dikelola melalui

cara-cara legal atau cara-cara-cara-cara efektif lainnya (IUCN 1994 di dalam Sukmadi. 2007).

Berdasarkan UU No 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, kawasan lindung

adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi pokok melindungi kelestarian

lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan..

Ciri-ciri kawasan konservasi: (1) karakteristik atau keunikan ekosistem; (2)

spesies dengan karakteristik khas seperti sangat diminati, memiliki nilai, langka

atau dalam kondisi terancam; (3) tempat yang memiliki keanekaragaman spesies;

(4) lansekap atau ciri geofisik yang bernilai estetika atau pengetahuan; (5) fungsi

perlindungan hidrologi, tanah, air dan iklim lokal; (6) fasilitas untuk rekreasi

alam; dan (7) tempat peninggalan budaya.

IUCN sebagai lembaga konservasi dunia telah mengembangkan klasifikasi

kawasan lindung yang mencakup berbagai intensitas kegiatan manusia. Kawasan

yang dilindungi penuh dan sebagian (multi guna):

1. Strict Nature reserves (cagar alam murni) dan wilderness area (Kawasan

hutan belantara) adalah kawasan lindung yang secara ketat yang dipelihara

untuk tujuan ilmiah, pendidikan, pemantauan lingkungan. Kawasan ini

melindungi alam dan menjaga proses-proses alami dalam kondisi yang tidak

terganggu dengan tujuan memperoleh contoh-contoh ekologis yang mewakili

(8)

lingkungan alami dan pemeliharaan sumber plasma nutfah dalam kondisi

dinamis dan berevolusi

2. Taman nasional (national park) merupakan wilayah luas dengan keindahan

alam dan pemandangan yang dikelola untuk melindungi satu atau lebih

ekosistem serta untuk tujuan ilmiah, pendidikan dan rekreasi dan tidak bisa

diubah materinya oleh manusia dan diekploitasi untuk tujuan komersial

3. Monument nasional dan landmark (bentukan-bentukan alam) merupakan

kawasan yang berukuran relative kecil karena dipusatkan pada perlindungan

cirri-ciri yang spesifik serta bertujuan untuk melestarikan suatu kebutuhan

biologi, geologi atau kebudayaan yang menarik dan unik

4. Suaka alam kelola dan cagar alam kelola bersifat mirip dengan suaka alam

murni, namun kedua kawasan masih diperbolehkan adanya manipulasi

eksositem oleh manusia, untuk mempertahankan ciri-ciri komunitas yang

khas. Pemanenan terkendali juga masih diperbolehkan. Kawasan ini

diperuntukan untuk menjamin kondisi alami yang perlu bagi perlindungan

spesies, kumpulan spesies, komunitas hayati ataua cirri-ciri lingkungan yang

penting

5. Bentang alam darat dan laut yang dilindungi yag penting artinya, memiliki

karakteristik interaksi yang serasi antara manusia dengan lingkungan. Masih

dapat dimungkinkan penggunaan lingkungan secara tradisional oleh

masyarakat setempat, terutama bila pemanfaatan ini data membentuk wilayah

yang meiliki cirri khas dari segi budaya, keindahan maupun ekonomi.

Kategori ini merupakan perpaduan bentang alam alami/budaya yang

memiliki nilai keindahan tinggi, di mana tata guna lahan tradisional

terpelihara

6. Resources reserves (suaka cadangan) merupakan kawasan dimana

sumberdaya dilestarikan untuk masa depan dan penggunaan sumberdaya

dibatasi dengan cara-cara yang sesuai dengan kebijakan nasional. Klasifikasi

ini sementara dapat dipertahankan sampai diperoleh klasifikasi kawasan yang

(9)

7. Wilayah biota alami atau cagar budaya yaitu kawasan yang masih

memungkinkan masyarakat tradisional untuk melanjutkan cara hidup tanpa

diganggu pihak luar.

8. Kawasan yang dikelola secara multiguna yaitu kawasan untuk penyedian

produksi air, kayu, satwa, padang penggembalaan dan obyek pariwisata dan

kemungkinkan pemanfaatan sumberdaya lain secara berkelanjutan umumnya

diperuntukan untuk tujuan pembangunan ekonomi (Mackinnon et al 1993;

Primarck et al. 1998)

Ketegori lain yang terkain dengan kawasan konservasi adalah cagar biosfer

yaitu kawasan untuk pelestarian keanekaragaman dan keutuhan komunitas

tumbuhan dan satwa dalam ekosistem alaminya bagi penggunaan masa sekarang

dan masa depan, dan untuk menjaga keanekaragaman plasma nutfah dari spesies

yang merupakan bahan baku bagi evolusinya. Kawasan ini ditujukan secara

inetrnasional untuk kepentingan penelitian, pendidikan dan latihan. Kategori lain

adalah Taman warisan dunia, yaitu kawasan yang diperuntukan untuk melindungi

bentang alam yang dianggap memiliki nilai universal yang menonjol dan

merupakan daftar pilihan dari kawasan alami dan budaya yang unik di bumi, ang

dicalonkan oleh Negara yang merupakan anggota world heritage conventions

(Mackinnon et al 1993).

Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 kawasan perlindungan dibagi menjadi 2

yairu kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam:

1. Kawasan suaka alam, yaitu kawasandenganciri khas, baik di darat maupun di

perairan yang mempunyai fungsi utama sebagai kawasan pengawetan biota

dan ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan. Ada dua macam

kawasan suaka alam, yaitu cagar alam dan suaka margasatwa. Perbedaan

pokok kedua kawasan ini, cagar alam hanya dapat dilakukan untuk

kepentingan penelitian, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan

kegiatan penunjang budidaya.edangkan,suaka margasatwa fungsi pokoknya

untuk pelestarian keanekaragam dan keunikan jensi satwa, dan dapat

dilakukan kegiatan pembinaan habitat untuk tujuan penelitian, pendidikan

dan juga wisata terbatas.

(10)

2. Kawasan pelestarian alam, yaitu kawasan dengan fungsi identik dengan

kawasan suaka alam, namun pemenfaatan sumber daya ahayati dan

ekosistemnya masih diperkenankan. Kawasan ini dibagi menjadi Taman

nasional, Taman hutan raya, dan Taman wisata alam. Taman nasional adalah

kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan

system zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, pendidikan,

menunjang budidaya, pariwisata. Taman hutan raya adalah kawasan untuk

tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami ataupun buatan, jenis asli

atau eksotik, yang dimanfaatkan untuk penelitian, ilmu pengetahuan,

pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata. Taman wisata alam, adalah

kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi.

Selain kedua kawasan tersebut berdasarkan UU No 41 tahun 1999 juga ada

kawasan konservasi yang disebut dengan hutan lindung. Hutan lindung berfungsi

sebagai kawasan perlindungan system penyangga kehidupan yang meliputi

pengatur tata air, mencegah banjir dan erosi tanah, mencegah intrusi air laut dan

menjaga kesuburan tanah.

Kegiatan konservasi secara yuridis (UU NO 5 tahun 1990) meliputi

perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman fauna

dan flora beserta eksosistemnya dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam

hayati serta eksosistemnya

Penetapan suatu spesies atau ekosistem sebagai kawasan konservasai

didasarkan pada 3 pertimbangan: (1) Kekhasan, spesies dengan tingkat

endemisitas tinggi atau unik lebih prioritas dibandingkan dengan spesies yang

menyebar luas dan umum; (2) Keterancaman, spesies yang menghandapi

keterancaman lebih utama dilindungi spesies yang tidak terancam; (3) Kegunaan,

es dengan nilai guna nyata ata potensial bagi manusia perlu diber nilai konservasi

yang lebih tinggi (Primarck et al. 1998). Sedangkan Ratcliffe (1997) di dalam

mackinnon et al (1993) mendasarkan pada : Ukuran, kekayaan dan

keanekaragaman, alami, kelangkaan, keunikan kekhasan, kerapuhan, pelesdtraian

plasma nutfah, catatan sejarah, posisi dalam unit ekologi/geografis, kepentingan,

nilai potensial, daya tarik intrinsic, modifikasi landsekap, dan kesempatan untuk

(11)

Tabel 1. Penetapan kawasan konservasai berdasarkan prioritasnya

Cagar alam cagar alam

Pemanfaatan

Cagar ilmiah cagar alam

Bernilai

Monumen alam monumen

alam

Prioritas global

World heritage site

taman warisan dunia Tidak untuk

pemanfaatan

konsumtif Prioritas

nasional Taman nasional

taman nasional

Prioritas lokal Taman propinsi taman nasional

Kepentingan

global Cagar biosfer cagar biosfer

Prioritas

setempat Kepentingan

regional Cagar budaya cagar budaya

Potensi

penting potensi

pengunjung

diprioritaskan Taman buru

kawasan

haso tinggi Pemanfaatan

tradisional

hasil rendah Pada dasarnya

pertanian Sumber : Mackinnon et a. 1993

(12)

B. Taman Nasional Gede Pangranggo (TNGP)

Taman Nasional Gungung Gede Pangrango (TNGP) merupakan kawasan

konservasi yang mempunyai peranan penting bagi pelestarian eksosistem hutan

hujan pegunungan. TNGP merupakan habitat bagi beberapa flora dan fauna

endemic yang dilindungi seperti owa jawa (Hylobathes moloch), elang jawa

(Spizaetus bartelsii) serta tempat hidup bagi tumbuhan khas pegunungan seperti

edelweiss (Anaphalis javanica). TNGP merupakan habitat bagi 1400 flora

diantaranya terdiri dari 105 jenis tunaman hias, 100 jenis tumbuhan survival, dan

107 tumbuhan obat. Di dalamnya terdapat sekitar 70 jenis tanaman dalam

kelompok asli dan khas, 4 jenis endemic dan 4 mulai langka dan yang dilndungi

berdasarkan UU ada 8 jenis sebanyak 21 jenis merupakan tanaman eksotik

(Romauli et al. 2006)

Eksosistem TNGP terdiri dari eksosietm pegunungan darai submontana

(1000-1500 m dpl); Montana (1500-2400 m dpl) dan Sub alpine (2400 m dpl ke

atas). Selain itu juga terdapat eksosistem situ, rawa pegunungan, ekosistem

kawah, dan savanna pegunungan dan hutan tanaman. Kawasan TNGP berdasarkan

peraturan terbaru (SK Menhut no 147/Kpts-II/2003) memiliki luasan 21.975 ha.

TNGP merupakan kawasan hutan hutan tropis pegunungan yang relatif paling

baik dan terutuh dibandingkan beberapa TN di Jawa, dan menjadi perwakilan

ekosistem tersebut (Romauli et al. 2006).

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu dari lima

taman nasional yang pertama kalinya diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai

Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di

Malaysia pada tahun 1995 (www.tngp.or.id)

C. Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas (KRC) dimaksudkan sebagai tempat koleksi ex situ (di

luar habitat) bagi tumbuh-tumbuhan tropis basah dataran tinggi. Termasuk dalam

koleksinya adalah berbagai jenis pohon besar yang dilindungi seperti tusam

(Pinus merkusii) dan tumbuhan runjung, tumbuhan paku pegunungan, hutan

(13)

khas dari KRC adalah Taman Lumut yang memiliki 178 jenis lumut dan lumut

hati dari berbagai sudut Indonesia dan dunia. Taman ini diklaim sebagai

satu-satunya yang terletak di luar ruangan dan memiliki koleksi terbanyak

(www.wikipedia.indonesia.org)

Kebun Raya Cibodas (KRC) berada di lereng Gunung Gede – Pangrango,

pada ketinggian antara 1.300 – 1.425 meter dpl suhu rata-rata 18 0C dan curah

hujan 2.380 mm yang meliputi kawasan seluas 125 ha. Topografi KRC tergolong

unik beda ketinggian terlihat dengan jelas. Pada mulanya merupakan koleksi bibit

Johannes Elias Teysjmann antara 1830 – 1839. Tahun-tahun berikutnya daftar

koleksi terus bertambah, terutama untuk bibit tanaman yang tak bisa tumbuh

dengan kondisi KRB. Akhirnya KRC dikukuhkan sebagai cabang dari KRB pada

tahun 1862. Kelahirannya merupakan perwujudan gagasan Prof. C.G.C.

Reinwardt, Direktur Pertanian, Kebudayaan dan Penelitian di Hindia Belanda

(www.wikipedia.indonesia org)

D. Taman Wisata Alam Mandala Wangi (TWAMW)

TWAMW adalah kawasan ekoswisata Perum Perhutani Unit III jawa Barat

dan Banten yang merupakan ekowisata dalam bentuk pengelolaan UKM (unit

kelola mandiri wisata sehingga pengelolaannya dipisahkan dengan KPH yang

selama ini berjalan (SK Kepala PERUM Perhutani Unit III No

146/KPTS/III/2004).

(14)

IV. PEMBAHASAAN

A. Karateristik Taman Nasional, Kebun Raya Dan Taman Wisata Alam Taman Nasional adalah salah satu bentuk kawasan perlindungan alam

dengan ciri-ciri sebagai berikut : (1) Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas

yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami; (2)

Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan

maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami; (3)

Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh; (4) Memiliki keadaan

alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam; (5)

Merupakan kawasan yang dapat dibagi ke dalam Zona Inti, Zona Pemanfaatan,

Zona Rimba dan Zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi

kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka

mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat

ditetapkan sebagai zona tersendiri (www.ditjenphka.go.id).

Pengelolaan taman nasional dapat memberikan manfaat antara lain : (1)

Ekonomi, Dapat dikembangkan sebagai kawasan yang mempunyai nilai

ekonomis, sebagai contoh potensi terumbu karang merupakan sumber yang

memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi sehingga membantu

meningkatkan pendapatan bagi nelayan, penduduk pesisir bahkan devisa Negara;

(2) Ekologi, dapat menjaga keseimbangan kehidupan baik biotik maupun abiotik

di daratan maupun perairan; (3) Estetika, memiliki keindahan sebagai obyek

wisata alam yang dikembangkan sebagai usaha pariwisata alam / bahari; (4)

Pendidikan dan Penelitian, merupakan obyek dalam pengembangan ilmu

pengetahuan, pendidikan dan penelitian; dan (5) Jaminan masa depan

keanekaragaman sumber daya alam kawasan konservasi baik di darat maupun di

perairan memiliki jaminan untuk dimanfaatkan secara batasan bagi kehidupan

yang lebih baik untuk generasi kini dan yang akan datang (www.ditjenphka.go.id)

Pengelolaan Taman nasional didasarkan atas sistem zonasi, yang dapat

dibagi atas :

1. Zona inti, yaitu kawasan dengan ciri-ciri: (1) Mempunyai keanekaragaman

(15)

tertentu dan atau unit-unit penyusunnya, mempunyai kondisi alam, baik biota

maupun fisiknya yang masih asli dan atau tidak atau belum diganggu

manusia; (3) Mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar

menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses

ekologis secara alami; (4) Mempunyai ciri khas potensinya dan dapat

merupakan contoh yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi; (5)

Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang

langka atau yang keberadaannya terancam punah.

2. Zona pemanfaatan, dengan ciri-ciri : (1) Mempunyai daya tarik alam berupa

tumbuhan, satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi

geologinya yang indah dan unik; (2) Mempunyai luas yang cukup untuk

menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi

pariwisata dan rekreasi alam; (3) Kondisi lingkungan di sekitarnya

mendukung upaya pengembangan pariwisata alam.

3. Zona Rimba dan atau yang ditetapkan Menteri berdasarkan kebutuhan

pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Zona ini ditetapkan

karena: (1) Kawasan yang ditetapkan mampu mendukung upaya

perkembangan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi; (2)

Memiliki keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona

inti dan zona pemanfaatan; (3) merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis

satwa migran tertentu.

Upaya pengawetan kawasan taman nasional dilaksanakan sesuai dengan

sistem zonasi pengelolaannya: (1) Upaya pengawetan pada zona inti dilaksanakan

dalam bentuk kegiatan : perlindungan dan pengamanan, inventarisasi potensi

kawasan dan penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengelolaan. (2)

Upaya pengawetan pada zona pemanfaatan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan :

perlindungan dan pengamanan, inventarisasi potensi kawasan, dan penelitian dan

pengembangan dalam menunjang pariwisata alam; (3) Upaya pengawetan pada

zona rimba dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : perlindungan dan pengamanan,

inventarisasi potensi kawasan, penelitian dan pengembangan dalam menunjang

pengelolaan, dan pembinaan habitat dan populasi satwa. Pembinaan habitat pada

zona rimba antara lain: pembinaan padang rumput, pembuatan fasilitas air minum

(16)

dan atau tempat berkubang dan mandi satwa, penanaman dan pemeliharaan

pohon-pohon pelindung dan pohon-pohon sumber makanan satwa, penjarangan

populasi satwa, penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau pemberantasan jenis

tumbuhan dan satwa pengganggu.

Taman nasional dapat dimanfaatkan sesuai dengan sistem zonasinya : (1)

Pemanfaatan Zona inti adalah untuk penelitian dan pengembangan yang

menunjang pemanfaatan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan penunjang

budidaya; (2) Pemanfaatan zona pemanfaatan antara lain: pariwisata alam dan

rekreasi, penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, pendidikan

dan atau, kegiatan penunjang budidaya; sedangkan (3) Pemanfaatan zona rimba:

penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan ilmu pengetahuan

dan pendidikan serta kegiatan penunjang budidaya dan wisata alam terbatas.

Beberapa kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan

taman nasional adalah :

1. Merusak kekhasan potensi sebagai pembentuk ekosistem

2. Merusak keindahan dan gejala alam

3. Mengurangi luas kawasan yang telah ditentukan

4. Melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan dan

atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang

berwenang.

Sesuatu kegiatan yang dapat dianggap sebagai tindakan permulaan

melakukan kegiatan yang berakibat terhadap perubahan fungsi kawasan adalah :

1. Memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas

kawasan

2. Membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, menangkap,

berburu, menebang, merusak, memusnahkan dan mengangkut sumberdaya

alam ke dan dari dalam kawasan.

Kawasan taman nasional dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan

upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta

ekosistemnya. Taman nasional dikelola oleh suatu badan yang disebut dengan

Balai Taman Nasional langsung di bawah Oleh Departemen Kehutanan Suatu

(17)

disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial

budaya. Rencana pengelolaan taman nasional sekurang-kurangnya memuat tujuan

pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan,

pengawetan dan pemanfaatan kawasan.

Kebun Raya (Taman Hutan Raya) adalah kawasan pelestarian alam untuk

tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli

dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu

pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi

(www.ditjenphka.go.id)

Adapun kriteria penunjukkan dan penetaan sebagai kawasan taman hutan

raya :

1. Merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan baik pada

kawasan yang ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang ekosistemnya

sudah berubah;

2. Memiliki keindahan alam dan atau gejala alam; dan

3. Mempunyai luas yang cukup yang memungkinkan untuk pembangunan

koleksi tumbuhan dan atau satwa baik jenis asli dan atau bukan asli.

Kawasan taman hutan raya dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan

upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta

ekosistemnya.. Kebun Raya secara organistoris dikelola oleh instansi teknis non

depertemen melalui LIPI Suatu kawasan Kebun raya dikelola berdasarkan satu

rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis,

ekonomis dan sosial budaya.

Rencana pengelolaan taman hutan raya sekurang-kurangnya memuat tujuan

pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan,

pengawetan dan pemanfaatan kawasan.

Upaya pengawetan kawasan taman hutan raya dilaksanakan dalam bentuk

kegiatan :

1. Perlindungan dan pengamanan

2. Inventarisasi potensi kawasan

3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pengelolaan

(18)

4. Pembinaan dan pengembangan tumbuhan dan atau satwa. Pembinaan dan

pengembangan bertujuan untuk koleksi.

Beberapa kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan

kebun raya adalah :

1. Merusak kekhasan potensi sebagai pembentuk ekosistem

2. Merusak keindahan dan gejala alam

3. Mengurangi luas kawasan yang telah ditentukan

4. Melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan dan

atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang

berwenang.

Sesuatu kegiatan yang dapat dianggap sebagai tindakan permulaan

melakukan kegiatan yang berakibat terhadap perubahan fungsi kawasan adalah :

1. Memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas

kawasan

2. Membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, menangkap,

berburu, menebang, merusak, memusnahkan dan mengangkut sumberdaya

alam ke dan dari dalam kawasan.

Sesuai dengan fungsinya, kebun raya dapat dimanfaatkan untuk :

1. Penelitian dan pengembangan (kegiatan penelitian meliputi penelitian dasar

dan penelitian untuk menunjang pengelolaan kawasan tersebut).

2. Ilmu pengetahuan

3. Pendidikan

4. Kegiatan penunjang budidaya

5. Pariwisata alam dan rekreasi

6. Pelestarian budaya.

Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan

utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.

Adapun kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan taman wisata

alam:

1. Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau ekosistem gejala

(19)

2. Mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian fungsi potensi dan

daya atarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam;

3. Kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan

pariwisata alam (www.ditjenphka.go.id)

Kawasan taman wisata alam dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan

upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta

ekosistemnya. Manajerial kawasan ini dikelola oleh sauatu Unit Kelola Mandiri di

bawah Perum Perhutani atau instansi teknis lainnya. Suatu kawasan taman wisata

alam dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan

kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya.

Rencana pengelolaan taman wisata alam sekurang-kurangnya memuat

tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan,

pengawetan dan pemanfaatan kawasan.

Upaya pengawetan kawasan taman wisata alam dilaksanakan dalam bentuk

kegiatan :

1. Perlindungan dan pengamanan

2. Inventarisasi potensi kawasan

3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pelestarian potensi

4. Pembinaan habitat dan populasi satwa.

Pembinaan habitat dan populasi satwa, meliputi kegiatan :

1. pembinaan padang rumput

2. pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa

3. Penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohon-pohon

sumber makanan satwa

4. Penjarangan populasi satwa

5. Penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau

6. Pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu.

Beberapa kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan

taman wisata alam adalah :

1. Berburu, menebang pohon, mengangkut kayu dan satwa atau

bagian-bagiannya di dalam dan ke luar kawasan, serta memusnahkan sumberdaya

alam di dalam kawasan

(20)

2. Melakukan kegiatan usaha yang menimbulkan pencemaran kawasan

3. Melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan dan

atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang

berwenang.

Sesuai dengan fungsinya, taman wisata alam dapat dimanfaatkan untuk :

1. Pariwisata alam dan rekreasi

2. Penelitian dan pengembangan (kegiatan pendidikan dapat berupa karya

wisata, widya wisata, dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian serta peragaan

dokumentasi tentang potensi kawasan wisata alam tersebut).

3. Pendidikan

4. Kegiatan penunjang budaya.

Hal ini sesuai dengan pendapat Mackinnon et al. (1993) yang menyatakan

bahawa tamana nasional adalah kawasan yang relatif luas dan tidak terganggu

dengan nilai alam yang menonjol untuk kepentingan pelestarian yang tinggi,

potensi reksrasi yang besar, mudah dicapai oleh pengunjung dan memberikan

manfaat yang jelas bagi wilayah tersebut, sedangkan taman wisata merupakan

kawasan alam atau landsekap kecil atau tempat yang menarik dan mudah

dikunjungi oleh pengunjung dengan nilai pelestarian rendah atau tidak akan

terganggu oleh kegiatan pengunjung dan pengelolaan berorientasi rekreasi.

Sedangkan kebun raya adalah kawasan konservasi ex-situ terhadap tumbuhan

sebagai pengawetan plasma nutfah.

B. Perbedaanan Pengelolaan Taman Nasional, Kebun Raya dan Taman Wisata Alam

Berbedaan system pengelolaan kawasan konservasai dalam bentuk Taman

Nasional, Kebun Raya dan taman Wisata Alam dapat disarikan pada Tabel 2 di

bawah ini. Perbedaan system pengelolan ketiga kawasan ini terlatak pada pola

manajemen, tujuan dan skala prioritas, instansi teknis dan luasan kawasan.

Kesesuai suatu pengelolan kawasan konservasi sangat ditentukan oleh tujuan

pengelolaan kawasan tersebut.

Pertimbangan penetapan kawasan konservasi tergantung pada : (1) ciri-ciri

kawasan yang menjadi dasar perencanaan untuk perlindungan, ang didasarkan

(21)

tersebut ditetapkan; (2) kadar perlakuan peneglolaan yang diperlukan untuk, atau

sesuai dengan tujuan plestarian yang telah ditetapkan; (3) Kadar toleransi atau

kerapuhan eksosistem atau spesies yang bersangkutan; (4) Kadar berbagai tipe

pemanfaatan kawasan yang sesuai dengan tujuan peruntukan; dan (5) tingkat

permintaan berbagai tipe penggunaan dan kepraktisan pengelolan untuk

mengatusr kesemua itu (Mackinnon et al. 1993)

Tabel 2. Karakteristik pengelolan kawasan konservasi dalam bentuk TN, KR dan TWA

Karaketistik Taman Nasional

Gun Kebun Raya

Taman Wisata Alam

Unit Pelaksana Ditjen PHKA

melalui BTN

LIPI UKM di bawah

Perum Perhutani

Metode konservasi In situ Ex situ -

Luasan Kawasan Luas Relative Sempit

Orientasi pokok Pelestarian dan

perlindungan ekosistem

Pelestarian plasma nutfah (koleksi tumbuhan)

Pariwisata

Pemanfaatan Terbatas sesuai

dengan zonasinya

Diperkenankan Diperkenankan (lebih fleksibel) Manajemen

kawasan

Zonasi Tentatif Tidak ada

(22)

V. SIMPULAN A. Simpulan

1. Sistem pengelolaan kawasan konservasi berbeda-beda tergantung pada

prioritas utama dari tujuan penetapan kawasan konservasi tersebut

2. Taman Nasional memilik karakteristik spesifik dibandingkan dengan kebun

raya dan taman wisata alam karena adanya system zonasi dalam pengelolaan

kawasannnya

3. Kebun raya diperuntuk untuk koleksi tumbuhan dan konservasi secara ex situ

4. Taman wisata alam kawasan konservasai dengan tujuan multi dengan fungsi

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Mackinnon K; Mackinnon J; Child G, Thorsell J. 1993. Pengelolaan Kawasan

yang Dilindungi Di Daerah Tropis. Terjemahan Amir HH. Yogyakarta:

GMU Pr

Primarck RB, Supriatna J, Indrawan M, Kramadibrata P. 1998. Biologi

Konservasi. Jakarta: YOI

Romauli S, Artawan IM, Martien AK, Ridwantara I, Sopian. 2006. Buku Informasi Flora Taman Nasional Gungung Gede Panggranggo. Cianjur: BTNGP

SK Kepala PERUM Perhutani Unit III No 146/KPTS/III/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Unit Kelola Mandiri Wisata Perum perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten

Sukmadi R. 2007. Bahan Kuliah Perencanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi. Bogor: Departemen KSDH IPB

UU No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang

UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Pokok Kehutanan

Van Dyke F. 2003. Conservation Biology Foundations, Concepts, Applications. Boston: McGrawHill

http://www.ditjenphka.go.id. Diakses 6 Juni 2007

http//:www.tngp.or.id. Diakses 6 Juni 2007

http//:www.wikipedia.indonesia.org. Diakses 6 Juni 2007

Gambar

Tabel 1. Penetapan kawasan konservasai berdasarkan prioritasnya
Tabel 2. Karakteristik pengelolan kawasan konservasi dalam bentuk TN, KR dan TWA

Referensi

Dokumen terkait

Data yang terkait dengan pengelolaan kawasan, meliputi kondisi umum lokasi penelitian zona tradisional perairan Resort Grajagan TNAP, data pemanfaatan dan

Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan November 2014 sampai Februari 2015 ini ialah optimasi tambak tradisional, dengan judul Pengelolaan Kawasan

Artikulasi Kearifan Tradisional dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Sebagai Proses Reproduksi Budaya: Studi Komunitas Toro di Pinggiran Kawasan Taman Nasional Lore Lindu,

Program jangka pendek masterplan pengelolaan air limbah, khususnya sistem penyaluran air limbah industri di Kawasan Industri Bukit Semarang Baru, Mijen- Semarang

Secara umum pengelolaan air limbah domestik di kawasan kumuh Kecamatan Karanganyar menggunakan tipe pengelolaan on site dengan jamban pribadi dan saluran drainase,

Dari konsep manajemen pengelolaan yang disusun diharapkan dapat mendukung pelestarian cagar budaya di Desa Soditan di sektor pariwisata, memperkuat sense of place kawasan

Bahwa upaya Pemerintah Kota Semarang dalam mengatasi hambatan berlakunya kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan bangunan Cagar Budaya di Kawasan Kota Lama Semarang

Evaluasi ini dilakukan oleh pengelola karena kondisi tertentu antara lain bencana alam, perubahan luas, perubahan zona atau blok pengelolaan, dan perubahan kondisi kawasan