PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI sebuah bakat yang sudah dimiliki manusia sejak lahir. Terbiasa berkomunikasi bukan berarti memahami komunikasi. Porter dan Samovar pernah mengatakan bahwasannya memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, akibat-akibat apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang kita perbuat untuk mempengaruhi dan memaksimumkan hasil dari kejadian-kejadian tersebut. Banyak kesalahan-kesalah kecil dalam berkomunikasi yang pada akhirnya menyengsarakan manusia, untuk itu diperlukan pemahaman terhadap prinsip-prinsip komunikasi agar dapat meminimalkan kesalahan fatal dalam kehidupan manusia.
Deddy mulyana mengemukakan prinsip komunikasi menjadi 12, yaitu komunikasi adalah suatu proses simbolik; setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi; komunikasi punya dimensi isi dan dimensi hubungan; komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan; komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu; komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi; komunikasi itu bersifat sistemik; semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi; komunikasi bersifat nonsekuensial; komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional; komunikasi bersifat irreversibel; dan komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.
Menjadi komunikator dan komunikan yang baik bukanlah hal yang mudah, untuk itu kita seharusnya memegang teguh prinsip-prinsip komunikasi agar komunikasi bisa berjalan lancar dan efektif. Dengan memegang teguh 12 prinsip komunikasi yang dikemukakan Deddy Mulyana kita mampu membuat strategi dalam komunikasi dan meminimalisir kesalahan yang akan ditimbulkan.
Kata Kunci: komunikasi, prinsip. Pendahuluan
Komunikasi merupakan sebuah proses yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Komunikasi bukan saja menghubungkan, tapi juga mendekatkan antara pribadi satu dan lainnya. Sebagai hal yang fundamental dalam kehidupan manusia, komunikasi haruslah memiliki posisi yang penting karena niscaya yang tidak pernah berkomunikasi akan terisolasi dari masyarakat. Komunikasi memiliki ragam prinsip-prinsip dan aspek-aspek yang selalu melekat pada prosesnya. Setiap pengertian dan hakikat sesuatu akan lebih dimengerti maknanya apabila ada prinsip-prinsip yang dijabarkan untuk memperluas pengertian dan hakikat tersebut. Demikian pula prinsip-prinsip komunikasi berfungsi untuk memperjelas dan menjabarkan definisi dan hakikat komunikasi.
Prinsip-prinsip komunikasi seperti halnya fungsi dan definisi komunikasi mempunyai uraian yang beragam sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh masing-masing pakar. Istilah prinsip oleh William B. Gudykunst disebut asumsi-asumsi komunikasi. Larry A.Samovar dan Richard E.Porter menyebutnya karakteristik komunikasi. Deddy Mulyana, Ph.D membuat istilah baru yaitu prinsip-prinsip komunikasi. Terdapat 12 prinsip komunikasi yang akan memudahkan kita dalam memahami dan memaknai komunikasi.
Prinsip-prinsip Komunikasi Komunikasi Adalah Proses Simbolik
Salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti di katakan sussanne K. Langer, adalah kebutuhan kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. dan itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dengan keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum.
Ikon adalah suatu benda fisik yang menyerupai yang direpresentasikannya. Representasi ini ditandai dengan kemiripan. Misalnya, patung soekarno adalah ikon soekarno dan Foto anda di KTP adalah ikon anda. Indeks adalah suatu tanda yang secara alamiah merepresentasikan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk indeks adalah sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari disebut juga gejala (symptom). Indek muncul berdasarkan hubungan antara sebab akibat yang punya kedekatan eksistensi. Misalnya awan gelap indeks hujan yang akan turun, sedangkan asap adalah indeks api.
Lambang memiliki beberapa sifat sebagai berikut :
Lambang bersifat sembarang, manasuka atau wewenang – wenang
Apasaja bisa dijadikan lambang, bergantung pada kesepakatan bersama. Alam tidak memberikan penjelasan kepada kita mengapa manusia menggunakan lambang-lambang tertentu untuk merujuk pada hal-hal tertentu baik yang konkret atau pun yang abstrak.
Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna : kitalah yang memberi makna pada lambang.
Makna sebenarnya ada dalam kepala kita, bukan terletak pada lambang itu sendiri. Persolan akan timbul bila para peserta komunikasi tidak memberi makna yang sama pada suatu kata. Dengan kata lain, tidak ada hubungan yang alami antara lambang dengan referent (objek yang ditujunya).
Lambang itu bervariasi
Lambang itu bervariasi dari suatu budaya ke budaya lain, dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu konteks waktu ke konteks waktu lain. Begitu juga lambang yang kita berikan pada lambang tersebut. Makna yang di berikan kepada sesuatu lambang boleh jadi berubah dalam perjalanan waktu, meskipun berubahan makna itu berjalan lambat. Misalnya, panggilan Bung yang pada zaman revolusi lazim di gunakan dan berkonotasi positif karena menunjukan kesederajatan kini tidak pouler lagi, kecuali di gunakan oleh penyaji acara olah raga ketika berbicaranya dengan nara sumbernya di studio TV.
Setiap Perilaku Mempunyai Potensi Komunikasi
terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.
Kita tidak dapat tidak berkomunikasi (We cannot not communicate). Tidak berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. Komunikasi terjadi bila seseorang memberikan makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri. Contohnya anda minta seseorang untuk tidak berkomunikasi. Amat sulit baginya untuk berbuat demikian, karena setiap perilakunya punya potensi untuk ditafsirkan. Kalau ia tersenyum dia bisa di tafsirkan bahagia, kalau ia cemberut ia di tafsirkan ngambek. Prinsip ini menyadarkan kita bahwa setiap perilaku kita bisa menafsirkan sesuatu karenanya kita kemudian sebaiknya was-was dalam setiap tindakan agar tidak menimbulkan pemaknaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Komunikasi Punya Dimensi Isi Dan Dimensi Hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Sebagai contoh, kalimat ‘aku benci kamu’ yang di ucapkan nada menggoda mungkin sekali jutru berarti sebaliknya.
Tidak semua orang menyadari bahwa pesan yang sama bisa ditafsirkan berbeda bila disampaikan dengan cara berbeda. Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan sedangkan dimensi hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain termasuk juga jenis saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu pesan juga akan berbeda bila disajikan dengan media yang berbeda.Cerita yang penuh dengan kekerasan dan sensualitas yangdisajikan televisi boleh jadi menimbulkan pengaruh lebih hebat, misalnya dalam bentuk peniruan oleh anak anak atau remaja, bila di bandingkan dengan penyajian cerita yang sama lewat majalah atau radio, karena televisi memiliki sifat audio visual, sedangkan majalah mempunyai sifat visual saja, dan radio mempunyai sifat audio saja.
Komunikasi Berlangsungdalam Berbagai Tingkat Kesengajaan
Komunikasi dilakukan manusia dari yang tidak sengaja hingga yang sengaja dan sadar serta terencana melakukan komunikasi. Kesadaran akan lebih tinggi ketika berkomunikasi dalam situasi-situasi khusus. Sebagai contoh ketika kita bercakap-cakap dengan seorang yang baru dikenal tentunya akan berbeda cara berkomunikasi kita dibanding ketika kita bercakap-cakap dengan teman yang sudah biasa bergaul sehari-hari. Akan tetapi kita juga akan bisa berkomunikasi dengan kesadaran yang lebih tinggi dengan teman sehari-hari kita apabila teman tersebut menyampaikan berita yang sangat menarik bagi kita.
Adanya perilaku-perilaku dalam berkomunikasi akan menimbulkan asumsi-asumsi orang lain yang bisa benar atau belum tentu benar secara mutlak. Sebagai contoh ketika seorang mahasiswa mempresentasikan makalahnya dengan sering menggaruk-garuk kepalanya maka kita akan berasumsi bahwa mahasiswa tersebut kurang siap, walaupun mahasiswa tersebut tidak demikian. Untuk membuktikan bahwa niat atau kesengajaan bukan syarat mutlak berkomunikasi dapat dilihat dari contoh kasus sebagai berikut ; Ketika anak muda yang belum tahu tata krama Yogya-Solo berjalan di depan orang yang lebih tua pada masyarakat Yogyakarta dan Solo klasik dan ia tidak membungkukkan badan maka dia akan dicap sebagai anak yang tidak punya tata krama walaupun anak itu tidak sengaja.
Dalam komunikasi sehari-hari terkadang kita mengucapkan pesan verbal yang tidak kita sengaja. Namun lebih banyak pesan nonverbal yang kita tunjukan tanpa kita sengaja. Komunikasi telah terjadi bila penafsiran telah berlangsung. Terlepas dari apakah anda menyengaja perilaku tersebut atau tidak. Kadang-kadang komunikasi yang disengaja dibuat tampak tidak sengaka. Jadi, niat kesengajaan bukanlah syarat mutlak bagi seseorang untuk berkomunikasi. Dalam komunikasi antara orang-orang berbeda budaya ketidak sengajaan berkomunikasi ini lebih relevan lagi untuk kita perhatikan.
Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang Dan Waktu
Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik/ruang, waktu, sosial, dan psikologis.Waktu juga mempengaruhi makna terhadap suatu pesan, misalnya orang menelpon dini hari dengan siang hari akan berbeda. Kehadiran orang lain, sebagai konteks sosial juga akan mempengaruhi orang-orang berkomunikasi, misalnya dua orang yang berkonflik akan canggung jika ada disituasi berdua tidak ada orang, namun dengan adanya orang ketiga, keeadaan akan bisa lebih mencair.
Sebagai contoh bahwa komunikasi berhubungan dengan ruang adalah akan dianggap “kurang sopan” apabila menghadiri acara protokoler dengan memakai kaos oblong. Adapun waktu dapat mempengaruhi makna komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut seoarang yang berlangganan koran Republika dan koran itu selalu datang jam 05.30 kemudian dengan tiba-tiba datang jam 09.00 tentunya pelanggan tersebut akan mempunyai persepsi-persepsi tertentu.
Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik dan ruang (termasuk iklim, suhu, intensitas cahaya, dan sebagainya), waktu, sosial dan psikologis. Topik-topik yang lazim dipercakapkan di rumah, tempat kerja, atau tempat hiburan seperti “lelucon,” “ acara televisi,” “mobil,” “bisnis,” atau “perdagangan” terasa kurang sopan bila dikemukakan dimasjid.
Suasana psikologis peserta komunikas juga sangat mempengaruhi suasana komunikasi. Contohnya ketika diputarkan lagu mellow, seseorang yang sedang patah hati bisa menjadi sentimental kemudian menangis karena lagu itu mendukung suasanya hatinya. Sebaliknya, jika lagu itu didengar seorang workaholic akan terkesan sangat cengeng. Komunikasi begitu kompleks, kita harus paham betul pada situasi apa dan dimana kita berkomunikasi agar dapat berjalan efektif.
Komunikasi Melihat Prediksi Peserta Komunikasi
Ketika orang – orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan atau tata krama. Artinya orang-orang memiliki strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang-orang yang menerima pesan akan meresponnya. Prinsip ini mengansumsikan bahwa hingga derajat tertentu ada keteraturan pada perilaku manusia, minimal secara persial dapat di ramalkan.
Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi.
akan merespons. Prediksi ini tidak selalu disadari dan sering berlangsung cepat. Kita dapat memprediksi perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya.
Komunikasi Itu Bersifat Sistemik
Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi.
Setiap individu adalah suatu sistem yang hidup (a living system). Komunikasi juga menyangkut suatu sistem dari unsur-unsurnya. Setidaknya dua sistem dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi yaitu: sistem internal (seluruh sistem nilai yang dibawa oleh seorang individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia serap selama sosialisasinya dalam berbagai lingkungan sosialnya) dan sistem eksternal (sistem yang terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan di luar individu, termasuk kata-kata yang ia pilih untuk berbicara, isyarat fisik peserta, dan temperatur ruangan).
Komunikasi adalah produk dari perpaduan antara sistem internal dan sistem eksternal tersebut. Lingkungan dan objek memengaruhi komunikasi kita namun persepsi kita atas lingkungan kita juga memengaruhi cara berperilaku. Lingkungan dimana para peserta komunikasi itu berada merupakan bagian dari suatu sistem yang lebih besar.
Semakin Mirip Latar Belakang Sosial Budaya Semakin Efektiflah Komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi), yaitu adanya persamaan persepsi akan suatu hal. Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan. Semakin banyak persamaan antara komunikator dan komunikan, maka komunikasi yang berlangsung lebih mudah, karena keberanekaragaman pesan dimengerti keduanya.
Meskipun terdapat banyak model komunikasi, sebenarnya komunikasi manusia dalam bentuk dasarnya bersifat dua arah. Beberapa pakar komunikasi mengakui sifat sirkuler atau dua arah komununikasi ini. Komunikasi sirkuler ditandai dengan beberapa hal berikut :
1. Orang-orang yang berkomunikasi dianggap setara. 2. Proses komunikasi berjalan timbal balik (dua arah).
3. Dalam praktiknya, kita tidak lagi membedakan pesan dengan umpan balik. 4. Komunikasi yang terjadi sebenarnya jauh lebih rumit.
Pada dasarnya, unsur tersebut tidak berdada dalam suatu tatanan yang bersifat linier, sirkuler, helikal atau tatanan lainnya. Unsur-unsur proses komunikasi boleh jadi beroprasi dalam suatu tatanan tadi, tetapi mungkin pula, setidaknya sebagian, dalam suatu tatanan yang acak.
Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis, dan Transaksional
Seperti juga waktu dan eksitensi, komunikasi tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, melainkan merupakan proses yang sinambung (Continous). Bahkan kejadian yang sangat sederhanapun, seperti “Tolong ambil garam” melibatkan rangkaian kejadian yang rumit bila pendengar memenuhi permintaan tersebut. Untuk lebih memudahkan pengertian, kita dapat megatakan bahwa peristiwa itu dimulai katika orang A meminta garam dan berakhir ketika orang B membirikan garam itu. Namun kita tidak dapat mengukur peristiwa itu hanya berdasarkan apa yang terjadi antara permintaan akan garam dan pemberian garam itu. Baik A atau B telah merujuk pada pengalaman masa lalu mereka untuk merumuskan dan menafsirkan pesan serta menanggapinya secara layak.
Komunikasi sebagai proses dapat dianalogikan dalam pernyataan Heraclitus enam abad sebelum Masehi bahwa “ seorang manusia tidak akan pernah melangkah di sungai yang sama dua kali. Jadi dalam kehidupan manusia, tidak pernah saat yang sama datang dua kali. Pandangan serupa juga dapat diterapkan pada fenomena berikut ini. Ketika Anda menonton sebuah film Titanic misalnya untuk kedua kalinya keesokan harinya pada jam yang sama dan duduk dikursi yang sama sekalipun, maka hakikatnya film itu bukanlah film yang sama, karena film yang anda tonton kedua untuk kedua kalinya itu adalah film yang pernah anda tonton sebelumnya.
Menanggapi salah satu elemen komunikasi, misalnya pesan verbal saja dengan mengabaikan semua elemen lainya, menyalahi gambaran komunikasi yang sebenarnya sebagai proses yang sinambung dan dinamis yang kita sebut sebagai transaksi. Transaksi menunjukan bahwa para peserta komunikasi saling berhubungan, sehingga kita tidak dapat mempertimbangkan salah satu tanpa mempertimbangkan lainnya.
Pernyataan bahwa komunikasi telah terjadi sebenarnya bersifat artifisial dalam arti bahwa kita coba menangkap suatu gambaran diam (statis) dalam proses tersebut dengan maksud untuk menganalisis kerumitan pristiwa tersebut, dengan menonjolkan komponen-komponen atau aspek-aspeknya yang penting.implikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah ( dari sekedar berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan perilakunya).
Implisit dalam proses komunikasi sebagai transaksi ini adalah proses penyadian (enconding) dan penyadian balik (decoding). Kedua proses itu, meskipun secara teoretis dapat dipisahkan, sebenarnyaterjadi serempak, bukan bergantian. Sebetulnya, para peserta komunikasi merupakan sumber informasi, dan masing-masing membeeri serta menerima pesan secara serentak. Pandangan dinamis dan transaksional memberi penekanan bahwa Anda mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi. Jadi, perspektif transaksional memberi penekanan pada dua sifat pristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling mempengaruhi. Para pesertanya menjadi saling bergantung, dan komunikasi mereka hanya dapat dianilisi berdasarkan konteks pristiwanya.
Komunikasi Bersifat Irreversibel
Suatu prilaku adalah suatu peristiwa. Oleh karena itu merupakan peristiwa, perilaku berlangsung dalam waktu dan tidak dapat “diambil kembali”. Misalnya para pemimpin negara yang menyalahgunakan kekuasaan dan kemudian jatuh dari kekuasaan akibat ulah mereka, seperti Ferdinand Marcosdan soeharto, dan menimbulkan efek tertentu berupa perubahan persepsi dan sikap masyarakat terhadap para pemimpin itu, pengaruh itu tidak bisa ditiadakan sama sekali, meskipun kita berupaya meralatnya.
cenderung sulit dihilangkan sama sekali berdasarkan prinsip ini. Curtis et al mengatakan bahwa kesan pertama itu cenderung abadi. Dalam kaitan ini, kita bisa memahami pribahasa “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”.
Pesan yang menyinggung perasaan orang lain mungkin bisa dimaafkan tapi tidak bisa dilupakan (to forgive but not to forget). Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Prinsip ini seyogyanya menyadarkan kita bahwa kita harus berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada orang lain sebab efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali meskipun kita berusaha meralatnya.
Contohnya ketika pembeli menawar harga sebuah baju yang awalnya 80.000 menjadi 60.000, pedagang tidak setuju dan menurunkan harga menjadi 70.000. Ketika terjadi tawar menawar baju yang sukup alot antara pedagang dan pembeli, secara tidak sengaja (keceplosan) pedagang menurunkan harga menjadi 60.000, tapi kemudian ia meralatnya. walaupun perkataan tersebut diralat namun efeknya telah terjadi yaitu pembeli tidak akan mau lagi jika harga baju dinaikkan. Ia tidak akan mau membeli baju tersebut lebih dari 60.000 karena si pedagang tadi telah menurunkan harganya.
Dalam komunikasi massa, sekali wartawan menyiarkan berita yang tanpa disengaja mencemarkan nama baik seseorang, maka nama baik orang itu sulit dikembalikan lagi ke posisi semula, meskipun surat kabar, majalah, radio atau televisi itu telah minta maaf dan memuat hak jawab sumber berita secara lengkap. Ada saja pihak yang telah menaruh prasangka buruk kepada sumber berita sudah dipulihkan melalui permohonan maaf media cetak dan media elektronik yang bersangkutan atau pemuatan hak jawab sumber berita secara lengkap, bahkan bila hal itu misalnya dicetak satu halaman penuh pada halaman dimana berita pencemaran nama baik sumber berita dimuat sebelumnya.
Sekali kita mengirimkan suatu pesan, kita tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut bagi khalayak apalagi menghilangkan efek pesan tersebut sama sekali. Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai suatu proses yang selalu berubah. Prinsip ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita harus berhati2 untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain, sebab efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali.
Banyak persoalan dan konflik antar manusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah penasea (obat mujarab) untuk menyelesaikan persoalan atau konflik itu, karena persoalan atau konflik tersebut mungkin berkaitan dengan masalah struktual. Agar komunikasi efektif, kendala struktual kendala ini harus juga diatasi. Misalnya, meskipun pemerintah berusaha payah menjalin komunikasi yang efektif dengan warga aceh dan warga papua, tidak mungkin usaha itu akan berhasil bila pemerintah memperlakukan masyarakat di wilayah wilayah itu secara tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan mengangkutnya kepusat.
Komunikasi antara berbagai etnik, baik antara warga tionghoa dengan warga pribumi, antara suku madura dengan suku dayak di sambas (kalimantan) atau antara warga pendatang (bugis makassar) dan warga pribumi di ambon, juga tidak akan efektif bila terdapat kesenjangan ekonomi yang lebar diantara pihak pihak tersebut, juga bila pihak pihak tertentu tidak memperoleh akses atau mengalami diskriminasi dalam lapangan pekerjaan yang seharusnya juga terbuka bagi mereka. Hubungan antara warga tionghoa dan warga pribumi akan semakin efektif bila warga tionghoa pun diperbolehkan menjadi pegawai negeri dan anggota TNI, tidak hanya sebagai pedagang atau pegawai bank swasta seperti yang terjadi selama ini
Banyak persoalan dan konflik antar manusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi itu sendiri bukanlah panasea (obat mujarab) untuk menyelesaikan persoalan atau konflik itu. Karena persoalan atau konflik tersebut mungkin berkaitan dengan masalah struktural. Esensi dari konflik harus tetap dicari dan diselesaikan. Misalnya konflik antara GAM dan pemerintah tidak akan pernah selesai walaupun pemerintah sudah berusaha melakukan komunikasi seefektif mungkin apabila pemerintah tidak memenuhi janjinya untuk mensejahterakan rakyat di daerah tetapi terus menerus hanya mengeruk kekayaan daerah guna memperkaya pusat. Agar komunikasi efektif, kendala struktural ini juga harus diatasi.
Penutup
komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu; komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi; komunikasi itu bersifat sistemik; semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi; komunikasi bersifat nonsekuensial; komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional; komunikasi bersifat irreversibel; dan komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.
Terdapat 12 Prinsip komunikasi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar komunikasi berjalan lancar dan efektif. Komunikasi mempunyai beberapa prinsip -prinsip yangg penting yang harus diperhatikan oleh seorang komunikan, dan -prinsip - -prinsip ini mempunyai peran penting untuk seseorang yang melakukan komunikasi baik secara individu maupun dengan orang lain, karena dengan berpegang teguh kepada 12 prinsip ini kesalahan komunikasi dapat dihindari.
Daftar Rujukan:
Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
http://expresikomunity.blogspot.com/2012/12/makalah-prinsip-prinsip-komunikasi.html
http://nurfatimahbintitokhari.blogspot.com/2012/12/prinsip-prinsip-komunikasi_3896.html
http://setiadarmawan.blogspot.com/2013/07/12-prinsip-prinsip-komunikasi-menurut.html
http://khusnia.wordpress.com/pengantar-ilmu-komunikasi/03-prinsip-prinsip-komunikasi/)
http://bukunnq.wordpress.com/2012/04/01/prinsip-prinsip-umum-komunikasi/