1
PERAN KOMISI PENGAWAS DALAM MONITORING
IMPLEMENTASI SUMPAH DAN KODE ETIK ADVOKAT
OLEH :
SARAH SERENA
(Anggota Bidang Humas dan Publikasi DPN PERADI)
I. Pendahuluan
Rapat Kerja Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Rakernas PERADI) ke-3 pada jaman kepemimpinan Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, S.H.,M.H selaku Ketua Umum, pada tanggal 11 s/d 13 Desember 2017, di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, meninggalkan sebuah catatan penting yakni penting nya Peran Komisi Pengawas sebagai Perpanjang tangaan Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia.
Kehadiran Komisi Pengawas tersebut tentu sangat membantu Dewan Pimpinan Nasional dalam mengawasi pelaksanaan tugas profesi advokat yang berada di bawah naungan Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI). Saat Perhimpunan Advokat Indonesia dibawah pimpinan Bpk. Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, S.H., M.H. telah memilki 102 Dewan Pimpinan Cabang (DPC), 37 Korwil (Koordinator Wilayah) serta 67 Pusat Bantuan Hukum (PBH) dengan total jumlah anggota 60000 advokat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
2
lupa bahwa dalam pelaksanaan tugas profesi, mereka terikat dengan yang
a a ya “u pah Ad okat da Kode Etik Ad okat. Hal i ilah ya g e uat it a ad okat di ata pu lik e jadi te o e g , sei i g de ga e i gkat ya
ju lah ad okat ya g te ta gkap ka e a g atifikasi atau penyuapan demi
memenangkan perkara nya.
Berdasar informasi dari Wakil Sekjen Peradi, yakni Rivai Kusuma Negara, sepanjang tahun 2017, ada 108 advokat yang telah ditindak oleh Dewan Kehormatan Peradi karena dianggap terbukti melanggar Kode Etik dan Sumpah Advokat.1 Kondisi ini dianggap sangat memprihatikan bagi para peserta Rakernas Peradi, sebab advokat sesuai dengan khittoh nya adalah p ofesi ya g ulia , alias officium nobile. Halmana dala a gka e jaga ke uliaa p ofesi te se ut, seharusnya para advokat menghindari segala tindakan maupun perbuatan yang
dapat e o e g a a aik p ofesi te se ut. Pe jagaa te hadap it a profesi
ad okat se e a ya e upaka e tuk da ipada i pele e tasi su pah ad okat
itu sendiri sebagaimana yang tercantum dalam Berita Acara Sumpah Advokat yang diterbitkan oleh Pengadilan Tinggi dimana advokat tersebut berada
Pela gga a te hadap su pah ad okat tersebut sempat ramai dibicarakan
saat rapat komisi di Rapat Kerja Nasional Perhimpunan Advokat Indoneesia.
“ehi gga ada pe iki a u tuk e pe kuat su pah ad okat te se ut de ga
e etapka ada ya Pakta I teg itas U tuk Pa a Adokat. Pe iki a tersebut
muncul seiring dengan tidak konsisten nya para advokat untuk melaksanakan tugas
p ofesi ya sesuai de ga su pah ya se di i saat di su pah se agai ad okat
oleh Ketua Pengadilan Tinggi terkait.
Kehadi a Pakta I teg itas , oleh pa a Pese ta ‘apat Komisi, diharapkan
a pu e do o g pa a ad okat u tuk elaksa aka su pah ya saat
melaksanakan tugas profesi sebagai advokat, dalam kerangka mengembalikan citra
ad okat se agai P ofesi ya g ulia atau offi iu o ile. Na u pada saat
rapat pleno, usula te se ut ditolak, de ga alasa sudah ada su pah ad okat
dala e ita a a a su pah , sehi gga tidak pe lu lagi ada pakta i teg itas
ad okat. Akhirnya diputuskan bahwa cukup sumpah advokat saja, tidak perlu ada
pakta integritas untuk para advokat.
1 Peradi Memonitori Pengacara Setya Novanto,
3
Namun demikian, penulis merasa tertarik untuk mengkaji sejauh mana sumpah advokat dapat diterapkan oleh para advokat, dan bagaimana peran komisi pengawas untuk melakukan monitoring terhadap para advokat tersebut untuk melaksanakan tugas profesinya sesuai dengan sumpah yang tercantum dalam Berita Acara Sumpah tersebut.
Namun, sebelum penulis melanjutkan pembahasan soal ini, perlu penulis sampaikan bahwa makalah ini bukan makalah ilmiah, ini hanyalah makalah biasa yang penulis buat untuk sekedar membuka wacana saja kita saja se agai ad okat
u tuk elaksa aka tugas p ofesi sesuai de ga su pah.
II. Pakta Integritas dan Sumpah Advokat
Pakta Integritas (bahasa Inggris: Integrity Pact) adalah pernyataan atau janji kepada diri sendiri tentang komitmen melaksanakan seluruh tugas, fungsi, tanggung jawab, wewenang dan peran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kesanggupan untuk tidak melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme2. Pakta Integritas dituangkan ke dalam sebuah Dokumen Pakta Integritas. “e e ta a ya g di aksud de ga “u pah e u ut Ka us Besa Bahasa Indonesia adalah : n 1 pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya): perkataannya itu dikuatkan dengan --; 2 pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar; 3 janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu):3
Sementara itu, sumpah dalam Bahasa arab, disebut dengan aimanu, halfu, al-qasamu. Al-aimanu ja a da i kata al-yamiinu (tangan kanan) karena orang Arab di zaman Jahiliyah apabila bersumpah satu sama lain saling berpegangan tangan kanan. Kata al-yamiinu secara etimologis dikaitkan dengan tangan kanan yang bisa berarti al-quwwah (kekuatan), dan al-qasam (sumpah). Dengan demikian
4
pengertian al-yuamiinu merupakan perpaduan dari tiga makna tersebut yang selanjutnya digunakan untuk bersumpah. Dikaitkan dengan kekuatan (al-quwwah), karena orang yang ingin mengatakan atau menyatakan sesuatu dikukuhkan dengan sumpah sehingga pernyataannya lebih kuat sebagaimana tangan kanan lebih kuat dari tangan kiri. Lafal sumpah tersebut harus menggunakan huruf sumpah (al-qasam) yaitu: waw, ba dan ta. seperti; walLahi, bilLahi, talLahi.
Sedangkan para ulama mempunyai perbedaan pendapat terkait dengan hukum bersumpah, sebagaimana berikut dibawah ini : 4
1. Pendapat dari Imam Malik
Menurut Imam Malik akan hukum asal sumpah yaitu Jaiz ( boleh ), namun bisa menjadi sunnah apabila dimaksudkan untuk menekankan suatu masalah keagamaan atau untuk mendorong orang melakukan sesuatu yang diperintahkan agama, atau melarang orang berbuat sesuatu yang diperintahkan agama, atau melarang orang berbuat sesuatu yang dilarang agama Jika sumpah hukumnya mubah, maka melanggarnya pun mubah, tetapi harus membayar kafarat (denda), kecuali jika pelanggaran sumpah itu lebih baik.
2. Pendapat dari Imam Hambali
Iman Hambali berpendapat bahwa hukum bersumpah itu tergantung kepada keadaannya. Bisa wajib, haram, makruh, sunnah ataupun mubah. Jika yang disumpahkan itu menyangkut masalah yang wajib dilakukan, maka hukum bersumpahnya adalah wajib. Sebaliknya jika bersumpah untuk hal-hal yang diharamkan, maka hukum bersumpahnya juga sunnah dan seterusnya.
3. Pe dapat dari I a “yafi’i
Menurut Imam Syafa'i hukum asal sumpah adalah makruh, namun juga bisa sunnah, wajib, haram dan juga mubah. Tergantung pada keadaaanya.
4 Syarat, dan macam-macam sumpah,
5 4. Pendapat dari Imam Hanafi
Me u ut I a Ha afi asal huku e su pah adalah jaiz , tetapi le ih aik tidak
terlalu banyak melakukan sumpah. Jika seseorang bersumpah akan melakukan maksiat, wajib ia melanggar sumpahnya. Jika seseorang bersumpah akan meninggalkan maksiat maka ia wajib melakukan sesuai dengan sumpahnya.
Adapun rukun sumpah menurut Nashruddin baidan, ada empat, yaitu :5
Muqsim atau orang yang melakukan sumpah
Muqsam Bih yaitu sesuatu untuk dijadikan landasan atau dasar sumpah
Adat Qasam atau perlengkapan untuk bersumpah
Mu sa Alaih yaitu sesuatu ya g disu pahka
Sumpah akan dikatakan sah apabila memenuhi syarat-syarat berikut ini :
1. Menyebut asma Allah SWT atau salah satu sifatnya. 2. Orang yang bersumpah sudah mukallaf.6
3. Tidak dalam keadaan terpaksa dan disengaja dengan niat untuk bersumpah.
Menurut Mazhab Hanafi sumpah itu ada tiga macam, yaitu :
1. Al-yamin al-laghwu yaitu sumpah yang diucapkan tanpa ada niat untuk bersumpah. Pelanggaran atas sumpah ini tidak berdosa dan tidak wajib membayar kafarat.
2. Al-yamin al- u akkidah yaitu su pah ya g di iatka u tuk e su pah. Sumpah semacam ini wajib dilaksanakan. Jika dilanggar harus membayar kafarat
5 Ibid
6 Pengertian Mukallaf : muslim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi larangan agama (pribadi
6
3. Al-yaminal-gamus yaitu sumpah palsu yang mengakibatkan hak-hak orang tak terlindungi atau sumpah fasik dan khianat. Sumpah semacam termasuk dosa besar.7
Lalu agai a a de ga su pah ad okat , bila ditinjau dari Mazhab Hanafi
te se ut ? Apakah ia te asuk Al-yamin al-laghwu , ataukah ia te asuk Al-yamin
al- u akkidah ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu kita harus mengacu kepada Undan-undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003, yakni Pasal 4 ayat 1. Dalam Pasal
te se ut dikataka se agai e ikut : Ad okat wajib bersumpah menurut
agamanya atau berjanji dengan sungguh sungguh di sidang terbuka Pengadilan
Ti ggi di ilayah do isili huku ya. Hal a a ayat Pasal te se ut le ih la jut
menyatakan sebagai berikut : Sumpah atau janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1), lafalnya adalah sebagai berikut :
De i Allah, saya e su pah/saya e ja ji :
- Bahwa saya akan memegang teguh dan mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
- Bahwa saya untuk memperoleh pforesi ini, langsung atau tidak langsung, menggunakan nama atau cara apa pun juga, tidak memberikan atau menjanjikan barang sesuatu kepada siapa pun juga.
- Bahwa saya dalam melaksanakan tugas profesi, sebagai pemberi jasa hukum, akan bertindak jujur, adil, dan bertanggung jawab berdasarkan hukum dan keailan.
- Bahwa saya dalam melaksanakan tugas profesi di dalam atau di luar penadilan, tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada hakim, pejabat pengadilan, atau pejabat lainnya agar memenangkan atau menguntungan bagi perkara Klien yang akan saya tangani.
- Bahwa saya akan menjaga tingkah laku saya dan akan menjalankan kewajiban saya, sesuai dengan kehormatan, martabat dan tanggung jawab saya sebagai Advokat.
7
- Bahwa saya tidak akan menolak untuk melakukan pembelaan atau memberi jasa hukum di dalam suatu perkara yang menurut hemat saya merupakan bagian daripada tanggung jawab sebagai seorang Advokat.
Jika kita mengacu kepada kalimat dalam Pasal 4 ayat 1 Undang-undang Advokat No.18 Tahun 2003, yang berbunyi sebagai berikut : Advokat wajib bersumpah menurut agamanya atau berjanji dengan sungguh sungguh di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya, maka kita akan
e e uka kata e ja ji de ga su gguh-su gguh. Bila a a pe kataa
te se ut di tafsi ka se a a g a atikal , aka pe kataa te se ut dapat
ditafsi ka se agai se uah iat dala e su pah. Oleh ka e a ya su pah
advokat te asuk su pah Al-yamin al- u akkidah yaitu su pah ya g di iatka untuk bersumpah. Sumpah semacam ini wajib dilaksanakan. Jika dilanggar harus membayar kafarat.
Be dasa kepada hal te se ut, aka te lihat ah a pakta i teg itas
merupakan salah satu be tuk i ple e tasi su pah ya g e ikaita de ga hukum, untuk melaksanakan seluruh tugas, fungsi, tanggung jawab, wewenang dan peran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kesanggupan untuk tidak melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme . Dimana Pakta Integritas dituangkan ke dalam sebuah Dokumen Pakta Integritas. De ga de ikia , “u pah Ad okat itu
se di i sudah e upaka Pakta I teg itas Ad okat, u tuk elaksa aka seluruh
tugas, fungsi, tanggung jawab, wewenang dan peran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kesanggupan untuk tidak melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam pelaksanaan tugas profesinya. Sehingga dengan demikian, berita
a a a su pah ad okat itu se di i dapat dikataka se agai doku e pakta i teg itas ad okat dala pelaksa aa tugas p ofesi ya
8
menguntungan bagi perkara Klien yang mereka tangani. Terbukti dengan semakin meningkat nya jumlah advokat yang tertangkap melakukan gratifikasi ataupun suap dalam pelaksanaan tugas profesi nya.
Adanya fenomena pelanggaran sumpah aquo, menjadi sebuah pertanyaan
se di i, apakah pa a ad okat te se ut e a g e su gguh su gguh de ga
su pah ya pada saat disu pah e dasa ka kete tua Pasal ayat U da g
-undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003, ataukah mereka bersumpah hanya sebatas
fo alitas iasa ta pa dise tai de ga iat u tuk e su gguh-su gguh alias
sumpah Al-yamin al-laghwu menurut Mazhab Hanafi, yaitu sumpah yang diucapkan tanpa ada niat untuk bersumpah. Pelanggaran atas sumpah ini tidak berdosa dan tidak wajib membayar kafarat.
Jika benar demikian, tentu hal tersebut sangat berbahaya. Karena dengan demiikian, kemuliaan profesi advokat akan semakin tercoreng akibat maraknya
pela gga a su pah oleh pa a ad okat de i keu tu ga p i adi ad okat
tersebut. Atas dassaar itulah, maka perlu ada Lembaga yang mengingatkan para
ad okat ila a a su pah ya g telah e eka u apka pada saat disu pah, uka lah su pah fo alita elaka , elai ka su pah ya g pu ya ko sekue si
hukum bilamana dilanggar baik sengaja ataupun tidak sengaja.
III. Peran Komisi Pengawas
Sebagaimana telah diuraikan diatas, dalam kerangka menjaga citra profesi
ad okat se agai P ofesi ya g Mulia , alias Offi iu No ile , dipe luka se uah
9
Dala Pasal ayat a uo dikataka se agai e ikut : pe ga asa
advokat sehari-hari dilakukan oleh Komisi Pengawas yang dibentuk oleh Dewan
Pi pi a Nasio al Pe hi pu a Ad okat I do esia. Pasal tersebut merupakan
implementasi Pasal 13 ayat 1 Undang-undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003, yang
e u yi se agai e ikut : Pelaksa aa pe ga asa seha i-hari dilakukan oleh
Komisi Pnegawas yang dibentuk oleh Organisasi Advokat.
Berdasarkan ketentuan Pasal tersebut diatas, pembentukan Komisi Pengawas oleh Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia merupakan implementasi daripada Pasal 13 ayat 1 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Oleh karena itu pula, maka dapat dikatakan bilamana Komisi Pengawas merupakan Perpanjangan tangan daripada Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat untuk mengawasi pelaksanaan tugas profesi para advokat. Halmana pengawasan itu sendiri merupakan mandat dari Pasal 12 ayat 1 Undang-undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003 yang berbunyi
se agai e ikut : Pengawasan terhadap Advokat, dilakukan oleh Organisasi
Ad okat. DI a a ayat Pasal te se ut le ih la jut e yataka se agai e ikut : pe ga asa se agai a a di aksud pada ayat e tujua aga Ad okat dala
menjalankan profesinya selalu menjunjung tinggi kode etik profesi advokat, sumpah advokat dan peraturan perundang-undang.8
Pe egasa te hadap su pah ad okat te se ut te tua g dala Pasal
Kode Etik Ad okat ya g e u yi se agai e ikut : Ad okat I do esia, adalah
warga negara Indonesia, yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, bersikap satria, jujur dalam mempertahankan keadilan dan kebenaran, diandasi moral yang tinggi, luhur dan mulia, dan yang dalam melaksanakan tugas nya menjunjung tinggi hukum, Undang-undang Dasar Republik Indonesia, Kode Etik Advokat serta sumpah
ja ata ya.
Untuk memastikan pelaksanaan sumpah jabatan tersebut, maka Pasal 3
hu uf Kode Etik Ad okat e yataka se agai e ikut : Ad okat dala
melakukan tugas nya, tidak bertujuan semata-mata untuk memperoleh imbalan materi, tetapi le ih e guta aka tegak ya Huku , Ke e a a da Keadila . Pasal ini tentu nya berkaitan dengan sumpah advokat yang berbunyi sebagai berikut : Bahwa saya dalam melaksanakan tugas profesi di dalam atau di luar penadilan, tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada hakim,
8 Undang-undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003, www. eodb.ekon.go.id/download/peraturan/ undangundang/
10
pejabat pengadilan, atau pejabat lainnya agar memenangkan atau e gu tu ga bagi perkara Klie ya g aka saya ta ga i.
Advokat yang konsisten dengan sumpahnya tersebut, pasti akan lebih mengutamakan tegaknya hukum, kebenaran dan keadilan, namun lain halnya
de ga ad okat ya g le ih e guta aka ate i, iasa ya huku , ke e a a
dan keadilan di kesampingkan, karena itu lah mengapa semakin meningkat jumlah advokat yang tertangkap akibat gratifikasi ataupun suap.
Kehadiran Komisi Pengawas tentu sangat berarti untuk mengatasi fenomena tersebut. Hal ini berangkat tujuan dibentuknya komisi itu sendiri, yang mana tercantum dalam Pasal 34 ayat 2 Keputusan Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia, Nomor : Kep.504/PERADI/DPN/VIII/2015 tertanggal 21 Agustus 2015 tentang Perubahan Pertama Anggaran Dasar Perhimpunan Advokat Indonesia, ya g e u yi se agai e ikut : pe ga asa yang dilakukan oleh komisi Pengawas sebagaimana dimakud dalam Pasal 34 ayat (1) Keputusan Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia, Nomor: Kep.504/PERADI/DPN/VIII/2015 tertanggal 21 Agustus 2015 tentang Perubahan Pertama Anggaran Dasar Perhimpunan Advokat Indonesia, bertujuan untuk mengingatkan para advokat agar dalam menjalankan tugas profesinya selalu menjujung tinggi sumpah advokat, kode etik, serta peraturan perundangan-undangan tentang advokat. 9
Berkaitan dengan tugas Komisi Pengawas tersebut, wakil sekjen Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia, yakni Rivai Kusuma Negara menyatakan bahwa tugas Komisi Pengawas adalah melakukan monitoring / pemantauan, termasuk juga melakukan pembinaan dengan cara memanggil langsung advokat tersebut untuk dibina / di ingatkan untuk konsisten melaksanakan sumpah dank ode etik advokat dalam pelaksanaan tugas profesinya. Akan tetapi, apabila setelah dibina / di ingatkan tersebut, advokat yang bersangkutan masih juga tidak menunjukkan perubahan sikap, maka Komisi Pengawas akan melaporkan advokat tersebut kepada Dewan Kehormatan Perhimpunan Advokat Indonesia. Dimana berdasarkan laporan dari Komisi Pengawas, advokat tersebut akan dikenakan sanksi oleh Dewan Kehormatan
9 Keputusan Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia, Nomor : Kep.504/PERADI/DPN/VIII/2015
11
Perhimpunan Advokat Indonesia. Halmana menurut wasekjen Peradi tersebut, ada empat model sanksi yakni :teguran ringan, keras, skorsing hingga pemecatan.10
Pengaturan mengenai sanksi tersebut tercantum dengan jelas dalam Pasal 7 ayat 1 Undang-undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003, yang menyatakan jenis tindakan yang dikenakan terhadap advokat dapat berupa :
a. Teguran lisan b. Teguran tertulis
c. Pemberhentian sementara dari profesinya selama 3 (tiga) sampai 12 (dua belas) bulan,
d. Pemberhntian tetap dari profesinya.
IV. Penutup
Kesimpulan :
Advokat Indonesia, adalah warga negara Indonesia, yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, bersikap satria, jujur dalam mempertahankan keadilan dan kebenaran, diandasi moral yang tinggi, luhur dan mulia, dan yang dalam melaksanakan tugas nya menjunjung tinggi hukum, Undang-undang Dasar Republik
I do esia, Kode Etik Ad okat se ta su pah ja ata ya.
Advokat wajib bersumpah menurut agamanya atau berjanji dengan sungguh sungguh di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya. Bila di
tafsi ka se a a g a atikal , aka pe kataa e su gguh-su gguh , tersebut
dapat ditafsirkan sebagai se uah iat dala e su pah. Sehingga bila merujuk kepada Mazhab Hanafi, su pah ad okat te asuk su pah Al-yamin
al-u akkidah yaital-u sal-u pah ya g di iatka al-u tal-uk e sal-u pah. “al-u pah se a a i i
wajib dilaksanakan. Jika dilanggar harus membayar kafarat.
Dengan demikian, pelanggaran atas kode etik advokat yang merupakan pejabaran dari sumpah advokat mengakibatkan advokat tersebut harus dikenakan sanksi dalam rangka menjaga kemuliaan profesi advokat. Atas dasar itu, maka kehadiran Komisi Pengawas sangatlah penting. Karena komisi tersebut berperan
12
untuk mengingatkan para advokat agar tetap konsisten dalam menjalankan sumpah jabatannya sebagai advokat dengan mematuhi kode etik advokat
Saran :