Gilang Desti Parahita, SIP
Pengajar MK Media Penyiaran JIK FISIPOL UGM
Disampaikan pada Film Screening
1) Profesionalisme jurnalisme Hak-hak
jurnalis untuk berserikat dilanggar
2) Pengelolaan frekuensi publik peran KPI
yang dibonsai, pemilik media televisi yang partisan , televisi swasta jakarta masih
• 85 % wartawan Indonesia menerima amplop
(Warren, 2006) bahkan sebagian media mempersilakan wartawan melakukannya
• Hingga 2012, menurut data Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI) dan AJI, pada September 2012 tercatat 34 serikat pekerja pers.
• Serikat pekerja media justru dimiliki oleh
media-media yang relatif sudah lebih baik kesejahteraannya, seperti Harian Kompas, Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Tabloid Kontan, Majajalah Tempo, Media Online
Jenis profesionalisme: okupasional dan organisasional (Evetts, 2006)
Jenis serikat wartawan: interorganisasional,
intraorganisasional
Serikat interorganisasional (PWI, AJI)
profesionalisme okupasional
Serikat intraorganisasional
Apakah profesionalisme organisasional =
pekerja menjadi budak kepentingan pemilik media?
Apakah profesionalisme organisasional
Kata-kata kunci:
Hubungan langsung: Perserikatan akan mendorong meningkatnya kredibilitas produk jurnalistik melalui pengawasan kolegial
Hubungan tidak langsung: Hak-hak,
Konten: sebagian besar isi TV swasta adalah opera sabun, dibandingkan berita
Kepemilikan: pemilik 10 TV swasta Jakarta
bersiaran nasional hanyalah 5 perusahaan media
Legal formal: UU Penyiaran melarang
kepemilikan silang LP Komersial namun UU Perseroan Terbatas No 40/2007 menjadi dalih akuisisi
Bias representasi: banyak pemilik media
Tiga sifat frekuensi publik: public domain,
scarcity, pervasive presence theory (Dominick,
et.al., 2004).
Jaminan di negara demokratis: freedom of
expression, freedom of speech, freedom of the press, diversity of content and diversity of
ownership.
UU No. 32 Tahun 2002: LP publik, LP komersial,
KPI sebagai regulator penyiaran, milik publik,
bukan pemerintah pembonsaian karena KPI
hanya mengawasi isi, sedangkan izin berada di tangan pemerintah
Sistem siaran berjaringan tidak diterapkan,
dalih ...kecuali ada alasan khusus yang ditetapkan oleh KPI bersama pemerintah
LP komunitas dan publik LP komunitas :
NO PP Isi Kelemahan
11/2005 LPP Ketiadaan support tegas dari pemerintah ttg pembiayaan LPP dari APBN, besaran tidak disebutkan
12/2005 Organisasi RRI Keterwakilan pemerintah di Dewan Pengawas, usulan
pemerintah ttg DP melalui DPR mengganggu independensi LPP
12/2005 Organisasi TVRI Keterwakilan pemerintah di Dewan Pengawas, usulan
pemerintah ttg DP melalui DPR mengganggu independensi LPP
50/2005 Pendirian LP swasta
Tak terimplementasinya pasal 67 mengatur divestasi LP hingga maksimal empat tahun sejak diundangkannya tidak diterapkan hingga saat ini
51/2005 Pendirian LP komunitas
Mengatur lembaga penyiaran digital yang tidak terbahas di UU Penyiaran
Memunculkan lembaga penyiaran baru:
LPPSiaran, LPPMltipleksing. LPPM adalah lembaga yang sudah punya izin penggunaan spektrum frekuensi radio dan IPP.
Berpotensi memunculkan bentuk monopoli baru
Mengerdilkan PP karena TVRI hanya
dierkenankan menjadi LPPM pada satu dari 6 kanal yang ada.
Untungnya, Permen tersebut telah dibatalkan
Rebirokratisasi: negara, dalam hal ini
pemerintah sebagai pelaksana UU kembali memegang otoritas perizinan dan kebijakan penyiaran.
Rekomersialiasi: dua bentuk lembaga
Terjadi pembatasan kepemilikan dan
representasi pesaing dalam isi media oleh media massa yang berafiliasi politik tertentu
Deideologisasi parpol telah menjadian posisi
media massa penting sebagai penarik massa politik yang kini diterjemahkan sebagai
Perbaiki UU Penyiaran, masukkan pasal2 digitalisasi yang berpihak pada publik,
kepemilikan media disusun ulang dari nol,
partisanships dilarang.
Berhentikan/ bekukan siaran nasional TV
swasta jakarta dengan mencabut izin siaran/ tidak memperpanjang izin
Perkuat wewenang KPI