• Tidak ada hasil yang ditemukan

OUTLINE PROPOSAL PERANAN DINAS KEBERSIHA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "OUTLINE PROPOSAL PERANAN DINAS KEBERSIHA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERANAN DINAS KEBERSIHAN DALAM MENINGKATKAN

PENDAPATAN ASLI DAERAH

(STUDI TENTANG PEMUNGUTAN RETRIBUSI SAMPAH DI KECAMATAN BANDA SAKTI KOTA LHOKSEUMAWE)

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

2 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Proses desentralisasi pemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah sebagai wujud nyata dari pelaksanaan otonomi daerah memberikan konsekuensi terhadap pemerintah daerah untuk dapat menyelenggarakan pemerintahannya sendiri. Proses desentralisasi tersebut didukung dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah yang memberikan keleluasan bagi masing-masing daerah untuk menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri, juga memberikan ruang bagi daerah untuk menggali dan mendayagunakan potensi yang dimiliki secara optimal.

Otonomi daerah merupakan pemberdayaan daerah dalam pengambilan keputusan daerah yang lebih leluasa untuk mengelola sumber daya yang dimiliki dengan potensi dan kepentingan daerah itu sendiri. Dengan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab, setiap daerah dituntut untuk meningkatkan kemandirian. Salah satu daerah adalah dengan mengukur seberapa besar kemampuan keungan suatu daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah atau pemerintahan sendiri. Sumber keuangan tersebut salah satunya berskala dari Pendapatan Asli Daerah.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber penerimaan daerah yang berasal dari beberapa hasil penerimaan daerah dan salah satunya diperoleh dari penerimaan retribusi daerah. Hasil retribusi daerah perlu diusahakan agar menjadi pemasukan yang potensial terhadap PAD. Dari penerimaan sektor retribusi daerah diharapkan dapat mendukung sumber pembiayaan daerah dalam menyelenggarakan pembangunan daerah, sehingga akan meningkatkan dan memeratakan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat didaerahnya. Upaya peningkatan PAD dapat dilakukan salah satunya dengan meningkatkan efesiensi sumber daya dan sarana yang terbatas serta meningkatkan efektifitas pemungutan yaitu dengan mengoptimalkan potensi yang ada, serta terus diupayakan menggali sumber-sumber pendapatan baru yang potensinya memungkinkan , sehingga dapat dipungut pajak atau retribusinya sesuai dengan ketentuan yang ada.

(3)

3

mendukung sumber pembiayaan daerah dalam menyelenggarakan pembangunan daerah, sehingga akan meningkatkan dan memeratakan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat di daerahnya.

Beberapa faktor yang menyebabkan sektor retribusi daerah lebih potensial sebagai sumber keuangan daerah dari pada sumber-sumber yang lainnya, antara lain:

a) Retribusi daerah dipungut atas balas jasa sehingga pembayarannya dapat dilakukan berulang kali. Siapa yang menikmati jasa yang disediakan oleh pemerintah retribusi dengan sumber-sumber pendapatan yang lain adalah ada tidaknya jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah.

b) Pelaksanaan pemungutan retribusi dapat dilakukan diluar waktu yang telah ditentukan oleh petugas perundang-undangan selama pemerintah daerah dapat menyediakan jasa dengan persetujuan pemerintah pusat.

c) Sektor retribusi terkait erat oleh tingkat aktivitas sosial ekonomi masyarakat disuatu daerah. Artinya, semakin maju dan berkembang tingkat sosial ekonomi masyarakat, maka semakin besar potensi retribusi yang bisa dipungut. Retribusi merupakan salah satu PAD bagi pemerintah daerah berdasarkan undang-undangan No.34 tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Salah satu cara untuk meningkatkan PAD adalah dengan meningkatkan pendapatan dari retribusi yang dalam hal ini adalah semua retribusi yang dapat dipungut dari pasar sampah, yaitu retribusi sampah.

Pemungutannya harus didasarkan pada pertimbangan mengenai biaya penyelenggaraan pelayanan, tingkat kemampuan masyarakat dalam membayar serta aspek keadilan. Oleh sebab itu penetapan besarnya tarif retribusi sampah ini harus didasarkan pada besarnya biaya opersional pengelolaan dan perda yang ada sebagai dasar hukum. Maka pemungutan retribusi (termasuk retribusi sampah) haruslah dilandasi oleh undang-undang atau peraturan tertentu.

(4)

4 1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, maka diperlukan perumusan masalah yang sangat berguna bagi arah dan langkah penelitian supaya lebih jelas. Ada pun

perumusan masalah yang diajukan oleh peneliti adalah “Bagaimana Peranan Dinas

Kebersihan Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli daerah (Studi Tentang Pemungutan Retribusi Sampah Di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe) ?”.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui bagaimana Peran Dinas Kebersihan melalui Retribusi sampah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah

2. Mengetahui mekanisme pemungutan retribusi sampah dikecamatan Banda Sakti kota Lhokseumawe.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah : a) Secara Subjektif

Sebagai suatu sarana dalam melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir secara ilmiah, sistematis dan metodologi dalam menyusun karya ilmiah.

b) Secara Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konribusi bagi fakultas ilmu sosial dan ilmu politik dalam menambah bahan perbandingan bagi yang menggunakan. c) Secara Praktis

(5)

5 1.5. Kerangka Teori

Dalam sebuah penelitian membutuhkan teori-teori yang akan menjadi landasan teoritis dan menjadi pedoman dalam melaksanakan penelitian dan bukan sekedar penelitian coba-coba.

Teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, kontruksi, definisi, dan proposisi untuk menerangkan fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antara konsep (Singarimbun, 2006:27).

Teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau system pengertian ini diperoleh melalui jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak maka dia bukan teori. Untuk itu, maka teori-teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.5.1. Peranan

Dalam pengertian umum, peranan dapat diartikan sebagai perbuatan seseorang atas sesuatu pekerjaan. Sedangkan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, peranan adalah sesuatu yang menjadi bagian. (Soekamto,1997:53)

Menurut Soekamto (1997:54) peranan adalah Pertama, Perilaku seseorang atas kedudukan tertentu dan hubungannya dengan masyarakat. Kedua, peranan adalah suatu kelompok penghargaan manusia terhadap cara bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi sosial. Ktiga, peranan adalah pola tingkah laku yang didasarkan atas kedudukan tertentu dalam kolektivitas dari pola tingkah laku yang didasarkan atas kedudukan tertentu dalam kolektivitas dari keadaan sosial tertentu.

Menurut Thoha (1990:25) peranan dirumuskan suatu rangkaian perilaku yang tujuan ditimbulkan kareana suatu jabatan tertentu atau karena adanya suatu kantor yang mudah dikenal.

Dengan demikian, suatu peranan paling sedikit mencakup tiga hal hal, yaitu :

1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat dalam masyarakat.

(6)

6

3. Peranan juga dapat dikatakan perilaku individu dalam struktur sosial tertentu.

Sehingga dalam disimpulkan peranan adalah aspek dinamis kedudukan (status) yang didalamnya melekat unsur hak dan kewajiban, tugas dan wewenang, serta fungsi seseorang atau kelompok didalam masyarakat sebagai suatu organisasi.

1.5.2 Dinas Kebersihan

Dinas Kebersihan adalah unsur pelaksana pemerintah kota dalam bidang pengeloalan kebersihan yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. Dinas kebersihan mempunyai tugas melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah dalam bidang kebersihan dan melaksanakan tugas pembantuan sesuai dengan bidang tugasnya.

Oleh sebab itu, peranan dinas Kebersihan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan manajemen dan operasional

b. Pengembangan dan peningkatan partisipasi dan peran serta masyarakat c. Pengembangan dan peningkatan pelayanan kebersihan

d. Pengembangan pendapatan asli daerah (PAD)

1.5.3 Otonomi Daerah

Dalam penyelenggaraan pemerintah daerah otonom tidak terlepas dari persoalan operasional (pembiayaan dan penganggaran). Masalah dana yang tidak jelas tentu akan sangat berpengaruh terhadap penyelenggara daerah otonom tersebut.

Desentralisasi sebagai bagian dari distribusi pembagian kekuasaan antar tingkat pemerintah suatu negara telah mengalami perkembangan yang amat pesat setelah dekade 1970-an terutama pada negara-negara yang sudah berkembang.

(7)

7

otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintah dalam suatu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desentralisasi di indonesia diwujidkan dalam kebijakan kepentingan oleh pemerintahan masa Habibie dengan dikeluarkannya undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan Daerah. Undang-undang tersebut memberikan kewenangan kepada pemerintah didaerah untuk mengatur semua urusan pemerintahan kecuali pada bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, serta agama. Sejalan dengan itu, maka terjadi perubahan paradigma tata pemerintahan dari sentralisasi dimana peran pemerintah pusat menjadi terbatas, tidak mendomonsasi dalam perumusan keputusan kebijakan pemerintah di daerah. (Chalid, 2005:4)

Dengan dianutnya azas desentralisasi ini maka terbentuklah daerah-daerah otonom yang selanjutnya sisebut daerah. Otonomi daerah merupakan salah satu hal terpenting didalam pelaksanaan mekanisme pemerintahan didaerah, sehingga perlu mendapat perhatian dari semua pihak guna kemajuan daerah tersebut menuju daerah yang mandiri dan mampu mengurus serta membiayai rumah tangganya sendiri.

Menurut UU Nomor 5 tahun 1974, otomi daerah adalah hak dan wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yamh berlaku. Sedangkan menurut Undang0Undang Nomor 22 Tahun 1999, Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya menurut undang-undang Nomor 32 tahun 2004 otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempatsesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(8)

8 Sedikitnya ada tiga esensi dari otonomi daerah, yaitu:

1. Pengelolaan kekuasaan berpusat pada tingkat lokal yang berbasis pada rakyat.

2. Dimensi ekonomi. Artinya, dengan otonomi daerah, maka daerah-daerah diharapkan mampu menggali dan mengembangkan sumber-sumber ekonomi yang ada diwilayahnya. Adanya kemampuan daerah untuk membiayai dirinya sendiri tidak memperkecil ketergantungan kepada pemerintah pusat.

3. Dimensi budaya. Artinya, berekspresi dalam mengembangkan kebudayaan lokal. Disinilah pentingnya memikirkan kembali strategi pembangunan secara mendasar, yakni pada upaya membangun ekonomi berbasis komuniksi lokal

1.5.4 Pendapatan Asli Daerah

Didalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan Daerah, kepada daerah kabupaten/kota diharapkan dapat mengelola dan memanfaatkan seluruh sumber pendapatan daerah yang memilikinya secara optimal, khususnya di era Otonomi daerah saat ini dimana kewenangan pemerintahaan diserahkan secara luas dan nyata kepada daerah kabupaten/kota didalam kabupaten/kota. Dengan kata lain diharapkan kepada Daerah kabupaten/kota didalamnya penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaa pembangunan daerah tidak terus-menerus selalu menggantungkan dana (anggaran) dari pemerintah pusat melalui pembagian dana perimbangan.

Salah satu konsekuensi pada setiap Negara yang melaksanakan asas desentralisasi, yang pada gelirannya melahirkan otonomi daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri usrusan-urusan pemerintahan yang menjadi urusasn pada pemerintahan daerah (local government) yang menjalankannya. Sehingga menimbulkan pembagian kewenangan pada

sektor keuangan untuk membiayai penyelenggaraan urusan rumah tangga (otonomi) pada pemerintahan daerah tersebut.

(9)

9

serius dari pemerintahan daerah baik dengan cara intenfikasi maupaun dengan cara ekstensifikasi dengan maksud agar daerah tidak terlalu mengandalkan/mengantungkan harapan pada pemerintah tingkat atas tetapi harus mampu mandiri sesuai cita-cita otonomi nyata dan bertanggung jawab.

1.5.4.1 Sumber-Sumber Pendapatan Daerah

Pendapatan asli daerah sebagai salah satu sumber keungan daerah, pada hakekatnya menempati posisi yang paling strategis bila dibandingkan dengan sumber keuangan lainnya.

Dikatakan menempati posisi yang strategis, karena dari sumber keuangan yang berasal pendapatan Asli Daerah mempunyai keleluasan yang lebih besar dan didasarkan pada kreatifitas masing-masing daerah untuk semaksimal mungkin memperoleh pendapatannya sendiri berdasarkan kewenangan yang ada padanya, dan selain itu secarabebas pula dapat menggunakan hasil-hasil sumber keuangan daerah yang telah menjadi tugas pokoknya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah ini merupakan sumber pendapatan yang menjadi tulang punggung otonomi daerah, bahkan dapat dikatakan lebih lanjut bahwa sektor Pendapatan Asli Dearah inilah yang menjadi salah satu ukuran penting untuk menilai apakah daerah-daerah akan mampu menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan dalam mengatur dan mengurus rumah tanggannya sendiri.

Sumber pendapatan daerah menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, antara lain :

1. Pendapatan Asli Daerah terdiri dari: 1. Pajak daerah

2. Retribusi daerah

3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan 4. Lain-lain PAD yang sah

2. Dana perimbangan terdiri dari : 1. Dana bagi hasil

(10)

10 3. Dana alokasi khusus

3.Lain-lain pendapatan yang sah.

Jadi dalam hal ini retribusi daerah termasuk dalam Pendapatan Asli Daerah, sesuai dengan undang-undang tersebut diatas.

1.5.4.2 Retribusi Daerah

Retribusi daerah sebagaimana halnya pajak daerah merupakan salah satu Pendapatan Asli Daerah yang diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan daerah dan pembangunan daerah, untuk meningkatkan dan meratakan kesejahteraan masyarakat.

Pemungutan retribusi daerah yang ada saat ini dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan pemerintah Daerah, yang menyatakan bahwa setiap daerah harus mampu mengurus dan membiayai rumah tangganya sendiri dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu daerah diwajibkan untuk menggali sumber keuangannya sendiri menurut perundang-undangan yang berlaku.

Retribusi daerah adalah Pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik daerah untuk kepentingan umum, atau karena jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung.(josef 1998:171).

Sedangkan menurut siahaan (2005:6) “Retribusi daerah adalah pungutan daerah

sebagai pembayaran atas jasa atau pemberi izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintahan Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.”.

Jasa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan barang atau fasilitas, atau kemanfaatan lainnya, dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan, dengan demikian bila seseorang ingin menikmati jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah,ia harus membayar retribusi yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(11)

11

Beberapa ciri yang melekat pada retribusi daerah yang saat ini dipungut di indonesia adalah sebagai berikut : (josef 1998:170)

1. Retribusi dipungut oleh negara

2. Dalam pemungutan terdapat paksaan secara ekonomi

3. Adanya interprestasi yang secara langsung dapat ditunjukkan

4. Retribusi dikenakan pada setiap orang atau badan yang menggunakan jasa-jasa yang disiapkan oleh negara

1.5.4.3 Sarana dan Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah

Pemungutan retribusi daerah tidak dapat diborongkan, artinya seluruh proses kegiatan pemungutan retribusi tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Namun dalam pengertian ini tidak berarti bahwa Pemerintah Daerah tidak boleh bekerja sama dengan pihak ketiga. Dengan sangat selektif dalam proses pemungutan retribusi, Pemerintah Daerah dapat mengajak badan-badan tertentu bekerjasama karena profesionalismenya layak dipercaya untuk ikut melaksanakan sebagian tugas pungutan jenis retribusi tertentu secara lebih efisien. Kegiatan pemungutan retribusi yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan perhitungan besarnya retribusi yang terutang, pengawasan penyetoran retribusi, dan pengalihan retribusi.

Retribusi dipungut dengan surat keterangan Retribusi Daerah (SKRD) atau dokumen lain yang disamakan. SKRD adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan pokok retribusi. Dokumen lain yang dipersamakan antara lain,berupa karcis masuk,kupon ,dan kartu langganan. Jika wajib retribusi tidak membayar retribusi tepat pada waktunya atau kurang membayar, ia akan dikenakansanksi administrasi berupa bunga sebesar dua persen setiap bulan dari retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD). STRD merupakan surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga atau denda. Tata cara pelaksanaan pemungutan retribusi daerah ditetapkan oleh kepala daerah.

1.5.4.4 Perhitungan Retribusi Daerah

(12)

12

penggunaan jasa. Dengan demikian besarnya retribusi yang terutang yang dihitung berdasarkan tarif retribusi dan tingkat penggunaan jasa.

a. Tingkat penggunaan jasa

Tingkat penggunaan jasa dapat dinyatakan sebagai kuantitas penggunaan jasa sebagai dasar alokasi beban biaya yang dipikul daerah untuk menyelenggarakan jasa yang bersangkutan, misalnya beberapa kali masuk tempat rekreasi, beberapa kali/berapa jam parkir kendaraan, dan sebagainya. Akan tetapi, ada pula penggunaan jasa yang tidak dengan mudah diukur. Dalam hal ini tingkat penggunaan jasa mungkin perlu taksir berdasarkan rumusan tertentu yang didasarkan atas luas tanah, luas lantai bangunan, jumlah tingkat bangunan, dan rencana penggunaan bangunan

b. Tarif retribusi daerah

Tarif retribusi daerah adalah nilai rupiah atau persentase tertentu yang ditetapkan untuk menghitung besarnya retribusi daerah yang terutang. Tarif dapat ditentukan seragam atau dapat diadakan perbedaan mengenai golongan tarif sesuai dengan sasaran dan tarif tertentu, misalnya perbedaan retribusi tempat rekreasi antara anak dan dewasa. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 ditetapkan bahwa tarif retribusi ditinjau kembali paling lama lima tahun sekali.

c. Prinsip dan sasaran penetapan tarif retribusi daerah

Tarif retribusi daerah ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan memperhatikan prinsip dan sasaran penetapan tarif yang berbeda antar golongan retribusi daerah.

1.5.5 Retribusi Sampah

(13)

13

mengenai biaya penyelenggaraan pelayanan, tingkat kemampuan masyarakat dalam membayar serta aspek keadilan. Oleh sebab itu penetapan besarnya tarif retribusi sampah ini harus didasarkan pada besarnya biaya operasional pengelolaan. Selain itu pemungutan retribusi (termsuk retribusi sampah) haruslah dilandasi oleh Undang-Undang atau peraturan tertentu.(maryulismax.wordpress.com/2006/02/10/retribusi-sampah).

1.6. Definisi Konsep

Definisi konsep merupakan unsur penelitian yang penting untuk menggambarkan secara tepat fenomena yang hendak diteliti. (singarimbun,1989:33)

Agar ada pembatasan yang jelas dari konsep yang berkaitan dengan peranan dinas kebersihan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (studi tentang pemungutan Retribusi Sampah dikota Lhokseumawe), maka konsepsi penulis dalam penelitian ini adalah:

1. Peranan adalah rangkaian perilaku yang tujuan ditimbulkan karea suatu jabatan tertentu atau karena adanya suatu hal yang mudah dikenal.

2. Dinas kebersihan adalah unsur pelaksana pemerintah kota yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah dan mempunyai tugas melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah dalam bidang kebersihan dan melaksanakan tugas pembantu sesuai dengan bidang tugasnya.

3. Retribusi sampah adalah pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat yang berada dalam wilayah hukumnya atas pemberian jasa atau pelayanan penanganan sampah atau kebersihan, yang diukur melalui indikator sebagai berikut: 1. Prosedur pengutipan definisikan sebagai rangkaian aktivitas, tugas-tugas,

langkah-langkah, keputusan-keputusan, perhitungan-perhitungan dan proses-proses, yang dijalankan melalui serangkaian pekerjaan yang menghasilkan suatu tujuan yang diinginkan.

2. Besarnya tarif, yaitu. Besarnya tarif ini didasarkan pada: 1. Peruntukan bangunan.

(14)

14

3. Letak bangunan berdasarkan klasifikasi jalan. 4. Kwalitas bangunan.

5. Luas bangunan

6. Velume samapah terlayani

3. Kesadaran wajib pajak/retribusi, yaitu pengetahuan dan pemahaman, serta sikap dan prilaku dalam menerima segala perundang-undangan tentang retribusi daerah. 4. Pendapatan Asli Daerah diartikan sebagai pendapatan yang benar-benar diterima oleh daerah dan merupakan modal pemerintah dalam pembangunan dan memenuhi belanja daerah, yang diukur melalui indikator: persentasi penerimaan Retribusi sampah dalam mengisi kas daerah, uyang diukur dari:

1. Realisasi penerimaan Retribusi sampah

2. Persentase penerimaan Retribusi samapah terhadap Pendapatan Asli Daerah.

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini ditulis dalam enam bab yang terdiri dari : BAB I PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang masalah, perumusan masalah, Tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, definisi konsep, dan sistematika penulisan.

BAB II METODE PENELITIAN

Bab ini memuat bentuk penelitian, lokasi penelitian, informan penelitian,

teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian.

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

(15)

15 BAB IV PENYAJIAN DATA

Bab ini membahas tentang hasil data-data yang diperoleh dilapangan BAB V ANALISA DATA

Bab ini berisikan tentang uraian data-data yang diperoleh setelah melaksanakan penelitian

BAB VI PENUTUP

(16)

16 BAB II

METODE PENELITIAN

II.1. Bentuk Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Zuriah (2006:47) penelitian dengan menggunakan metode deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Dalam penelitian deskriptif cenderung tidak perlu mencari atau daerah tertentu. Dalam penelitian deskriptif cenderung tidak perlu mencari atau menerangkan saling berhubungan dan menguji hipotesis.

Berdasarkan pengertian diatas, maka penelitian ini adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi serta menganalisa kebenearannya berdasarkan data yang diperoleh.

II.2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di kecamatan Banda Sakti,kabupaten Aceh Utara yang merupakan kedudukan Dinas Kebersihan di kota Lhokseumawe.

II.3. Informan Penelitian

Sesuai dengan penjelasan diatas, bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Kendarso (usman 2009:56) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitian yang dilakukan sehingga subjek yang telah tercermin dalam fokus penelitian ditentukan secara sengaja. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif ini tidak dikenal adanya populasi dan sampel . subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian tidak ditentukan secara sengaja. Subjek penelitian menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Informan penelitian ini meliputi tiga macam yaitu: (Suyanto, 2005:171)

(17)

17

2. Informan utama, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yang diteliti,

3. Informan tambahan, yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang sedang diteliti.

Berdasarkan uraian diatas maka penelitian menentukan informan dengan menggunakan teknik purposive samling yaitu: penentuan informan tidak didasarkan atas strata, kedudukan, pedoman atau wilayah tetapi didasarkan adanya tujuan tertentu yang tetap berhubungan dengan permasalahan penelitian yang terdiri atas:

1. Informan Kunci, yaitu:

a. Sekretaris Dinas Kebersihan Kota Lhokseumawe

b. Kepala Bidang Retribusi Dinas Kebersihan Kota Lhokseumawe c. Bendahara Dinas Kebersihan Kota Lhokseumawe

2. Informan tambahan yaitu:

Masyarakat sekitar yang pernah membayar retribusi sampah

II.4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, untuk memperoleh data atau informasi, keterangan keterangan yang diperlukan penulis menggunakan metode sebagai berikut:

1. Pengumpulan data primer

Yaitu pengumpulan datta yang dilakukan secara langsung ke lokasi penelitian untuk mendapat data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Data primer tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Metode Angket (kuisioner)

(18)

18 2. Pengumpulan Data Sekunder

Yaitu cara pengumpulan data yang dilakukan melalui: a. Penelitian Kepustakaan

Yaitu pengumpulan data yang diperoleh dengan menggunakan berbagai literature seperti buku, majalah dan berbagai bahan yang berhubungan dengan objek penelitian.

b. Studi Dokumentasi

Yaitu pengumpulan data diperoleh melalui pengkajian dan penelaahan terhadap catatan tertulis maupun dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

II.5. Teknik Analisa Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yang menguraikan serta menginterprestasikan data yang diperoleh dilapangan dari para key informan. Penganalisisan ini didasarkan pada kemampuan nalar dalam menghubungkan

fakta, data dan informasi, kemungkinan data yang diperoleh akan dianalisis sehingga diharapakan muncul gambaran yang dapat mengungkapkan permasalahan penelitian.

(19)

19

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Chalid, Pheni. 2005. Keuangan Daerah Investasi dan Desentralisasi Tantangan dan Hambatan. Jakarta :Kemitraan untuk Pemerintahan yang baik.

Kurniawan, Panca, Agus Purwanto, 2004, pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Indonesia, Bayumedia.

Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Jakarta : Andi

Nasution, Faisal Akbar, 2009, Pemerintahan Daerah Dan Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah. Jakarta : PT. Sofmedia

Saragih, Juli Panglima, 2003, Desentralisasi Fiskal dan keuangan Daerah Dalam Otonomi, Ghalia Indonesia

Suyanto, Bagong. 2005. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : CV Alfabeta

Peraturan Perundang-Undangan

UU Nomor 22 tahun 1999 Pemerintahan Daerah UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Daerah

UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah

UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah PP No. 66 Tahun 2001 tentang retribusi daerah

Perda No.8 tahun 2002 tentang retribusi pelayanan kebersihan

Sumber Internet

Maryulismax. Wordpress.com/2006/02/retribusi sampah diakses pada tanggal 01 oktober 2012 pada pukul 21.00 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan rumusan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan media puzzle dalam pembelajaran IPA materi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) konsep politik bahasa nasional versi Seminar Politik Bahasa Nasional (1975) lebih menitikberatkan aspek bahasa Indonesia, bahasa daerah,

Uji keabsahan data dilakukan dengan mencocokkan dan membandingkan hasil wawancara dan tes terhadap observasi langsung sejumlah item pertanyaan yang diajukan kepada

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pelaksanaan intensifikasi lahan pekarangan transmigran di Unit Pemukiman Transmigrasi IV Sp-6 Alue Peunyareng yang dilakukan

Beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa antena mikrostrip dapat diandalkan untuk bekerja sesuai dengan frekuensi yang diinginkan.. M ETODE

 Bank berhak membuat tolakan ( set-off ) atau memindahkan apa-apa jumlah yang terhutang pada satu atau mana-mana akaun anda di Bank untuk menyelesaikan obligasi dan liabiliti

Manusia hidup di bumi yang kaya akan sumber daya alam, yang sejak awal diciptakan alam dengan kekayaan dan keindahan yang merupakan penunjang kesejahteraan

Proses kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang dilakukan oleh seorang guru haruslah meliputi persiapan materi, persiapan menyampaikan dan mendiskusikan materi, memberikan