• Tidak ada hasil yang ditemukan

S konsep pengembangan pariwisata borobudur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "S konsep pengembangan pariwisata borobudur"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II KAJIAN TEORI

A.Pengertian ODTW

Dalam pemanfaatan potensi budaya untuk kegiatan pariwisata, para

pengembang perlu memiliki wawasan tentang kepariwisataan. Oleh karena itu

perlu dibahas tentang filosofi dan berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan

dalam pengembangan suatu objek wisata. Objek dan daya tarik wisata adalah

segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata (BAPPENAS) Objek Daya Tarik

Wisata dibagi menjadi beberapa kelompok;

1. Obyek dan Daya Tarik Wisata Minat Khusus

2. Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam

3. Obyek dan Daya Tarik Wisata Budaya

Objek wisata atau dengan istilah "tourist attraction” yaitu segala sesuatu

yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu.

Hal-hal yang dapat menarik orang untuk berkunjung ke suatu tempat daerah tujuan

wisata, diantaranya ialah :

1. Benda-benda yang tersedia dan terdapat di alam semesta, yang dalam

istilah Natural Amenities. Yang termasuk dalam kelompok ini iklim, flora

dan fauna, bentukan lahan yang unik.

2. Hasil ciptaan manusia (man-made) yaitu benda-benda yang bersejarah,

kebudayaan dan keagamaan, misalnya museum, art gallery, perpustakaan,

(2)

gereja, kuil atau candi maupun pura, acara tradisional, pameran, festival,

upacara perkawinan, monumen bersejarah, dan sisa peradaban masa

lampau.

B. Heritage dan Kaitannya dengan Arsitektur kota

Kota (City) secara geografis sering dibedakan dengan istilah perkotaan

(urban) demikian pula urban tourism dengan city tour. Kota lebih mengacu

kepada yuridis formal dengan batas administratif dan kekuasaan yang jelas,

misalnya kota Bandung, kota Yogyakarta, dan seterusnya. Sedangkan perkotaan

lebih menekankan gaya hidup masyarakatnya, yang diidentifikasi oleh kondisi

sosial, ekonomi, dan budaya.

Menurut Mappi, A. (2001) Suatu kota bila dilihat dari kacamata pariwisata

dapat berfungsi sebagai

1. Pusat atraksi wisata

2. Sumber wisatawan

3. Pintu gerbang daerah wisata

4. Daerah transit/sirkuit/basecamp pariwisata

5. Pusat pelayanan pariwisata

Kota terus berkembang seiring berjalannya waktu. Banyak bangunan-

bangunan baru bermunculan untuk menunjang kegiatan di dalam perkotaan.

Namun, perkembangan kota yang terlalu pesat menyebabkan tidak terkontrolnya

pertumbuhan bangunan – bangunan baru. Berbagai gaya arsitektural muncul

(3)

dengan kota-kota lain disekitarnya dan sebagai bentuk modernisasi kota itu.

Perkembangan kota yang seperti itu menyebabkan kecemasan karena bangunan-

bangunan lama yang memiliki nilai sejarah atau yang menjadi ciri khas suatu kota

bisa hilang karena adanya bangunan baru dengan keseragaman dan globalisasi

dalam desain yang pada akhirnya merusak karakter lingkungan kota itu.

Untuk mencegah hilangnya bangunan-bangunan dengan nilai sejarah tinggi

pada sebuah kota, para perancang kota mulai bekerja sama dengan Pemerintah

Daerah untuk mempertahankan dan melestarikan “kota lama” yang dimiliki pada

kota tersebut. Dengan bantuan Pemerintah Daerah maka “kota lama” itu dijadikan

“heritage area”, yang diharapkan dapat diperhatikan dengan lebih sehingga pada

akhirnya memiliki nilai lebih pula. Dengan adanya “heritage area” ini maka

karakter kota tidak akan pudar walaupun perkembangan kota “keluar” dari

konteks karakter kota yang sesungguhnya. Kawasan kota lama akan tetap hidup

dan memiliki nilai historis tersendiri bahkan mampu dijadikan sebagai “pribadi

sesungguhnya” dari sebuah kota.

Bangunan-bangunan yang termasuk dalam heritage kadang kala

mengalami kerusakan akibat termakan usia atau kurangnya perawatan yang

dilakukan. Kerusakan sedikit saja pada bangunan tentu mengurangi nilai historis

pada bangunan itu. Karena itu perlu adanya perbaikan pada bagian – bagian yang

rusak sehingga kesan historis bangunan dapat utuh kembali.

Sebuah piagam bernama Charter for the Conservation of Places of Cultural

(4)

bangunan dengan nilai historis. Batasan-batasan istilah tentang pengerian

pelestarian bangunan adalah sebagai berikut :

a. Konservasi, adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna

budayanya tetap terpelihara. Ini meliputi pemeliharaan dan sesuai dengan keadaan

yang meliputi Preservasi, Restorasi, Rekonstruksi dan Adaptasi.

b. Pemeliharaan adalah perawatan yang terus menerus dari bangunan , makna dan

penataan suatu tenmpat dan harus dibedakan dari perbaikan. Perbaikan mencakup

restorasi dan rekonstruksi dan harus dilaksanakan sesuai dengannya.

c. Preservasi adalah mempertahankan (melestarikan ) yang telah dibangun disuatu

tempat dalam keadaan aslinya tanpa ada perubahan dan mencegah penghancuran.

d. Restorasi adalah mengembalikan yang telah dibangun di suatu tempat ke

kondisi semula yang diketahui, dengan menghilangkan tambahan atau

membangun kembali komponen-komponen semula tanpa menggunakan bahan

baru.

e. Rekonstruksi adalah membangun kembali suatu tempat sesuai mungkin dengan

kondisi semula yang diketahui dan diperbedakan dengan menggunakan bahan

baru.

f. Adaptasi adalah merubah suatu tempat sesuai dengan penggunaan yang dapat

digabungkan.

(5)

C. Kriteria Benda Cagar Budaya

Menurut snyder dan Catanese dalam Budiharjo (1997) terdapat 6 tolak

ukur sebagai berikut :

1. Kelangkaan (karya yang sangat langka, tidak dimiliki oleh orang lain)

2. Kesejarahan (lokasi peristiwa bersejarah yang penting)

3. Estetika (memiliki keindahan bentuk struktur, atau ornamen)

4. Superlativitas (tertua, tertinggi, terpanjang)

5. Kejamakan (karya yang tipikal, mewakili suatu jenis atau ragam

bangunan tertentu

6. Kualitas pengaruh (keberadaanya akan meningkatkan citra lingkungan

sekitarnya.

Selain keenam tolak ukur tersebut, Kerr (1983) menambahkan lagi tiga

tolak ukur lain yang berkaitan dengan :

1. Nilai Sosial (memiliki makna bagi banyak masyarakat),

2. Nilai komersial (berpeluang untuk dimanfaatkan bagi kegiatan

ekonomis),

3. Nilai ilmiah (berperan dalam bidang pendidikan dan pengembangan

ilmu pengetahuan).

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 5 Tahun 1992 Tentang

Benda Cagar Budaya Pasal 1Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1. Benda cagar budaya adalah :

a. benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa

(6)

berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili

masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50

(lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi

sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan;

b. benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah,

ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

2. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda

cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi

pengamanannya.

Undang-Undang Republik Indonesia no.5 tahun 1992 tentang Benda juga

menjelaskan Cagar Budaya dapat dikelompokan berdasarkan :

1. Nilai Sejarah , hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa atau sejarah politik

(perjuangan), sejarah ilmu pengetahuan, sejarah budaya termasuk di

dalamnya sejarah kawasan maupun bangunan (yang lekat dengan hati

masyarakatnya), tokoh penting baik pada tingkat lokal (Bandung atau

Jawa barat), nasional (Indonesia) maupun internasional.

2. Nilai Arsitektur , berkaitan dengan wajah bangunan (komposisi

elemen-elemen dalam tatanan lingkungan) dan gaya tertentu (wakil dari periode

gaya tertentu) serta keteknikan. Termasuk di dalam nilai arsitektur adalah

fasad, layout dan bentuk bangunan, warna serta ornamen yang dimiliki

oleh bangunan. Juga berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan

atau menunjang ilmu pengetahuan, misalnya, bangunan yang dibangun

(7)

penggunaan konstruksi dan material khusus). Bangunan yang merupakan

perkembangan tipologi tertentu.

3. Nilai ilmu pengetahuan, mencakup bangunan-bangunan yang memiliki

peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan, misalnya ITB, UPI,

Museum Geologi.

4. Nilai sosial budaya (collective memory), berkaitan dengan hubungan

antara masyarakat dengan lokasinya yang memiliki kekhasan dan

keunikan yang berkaitan dengan nilai sosial budaya masyarakat setempat.

5. Umur, berkaitan dengan umur kawasan atau bangunan cagar budaya.

Umur yang ditetapkan adalah sekurang-kurangnya 50 tahun. Semakin tua

bangunan, semakin tinggi nilai sejarahnya.

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, kawasan dan bangunan cagar

budaya diklasifikasikan dalam beberapa kelas, yaitu kelas A (Utama), kelas B

(Madya), dan kelas C (Pratama). Kelas A (Utama) yaitu bangunan cagar budaya

yang memenuhi 4 (empat) kriteria, kelas B (Madya) yaitu bangunan cagar budaya

yang memenuhi 3 (tiga) kriteria dan kelas C (Pratama) yaitu bangunan cagar

budaya yang memenuhi 2 (dua) kriteria. Kawasan dan bangunan cagar budaya ini

digambarkan dalam peta kota dengan batas-batas yang jelas, dimana batas

kawasan inti dan dimana batas kawasan pendukung misalnya. Posisi bangunan

pun diterakan pada peta, terutama bangunan dengan kelas A (Utama).

Penggolongan ini diperlukan untuk menentukan tindakan yang dapat

dilakukan ketika muncul kebutuhan untuk mengembangkan kawasan atau

(8)

pemugaran disini meliputi keaslian bentuk, penggunaan bahan, penyajian dan tata

letak dengan memperhatikan nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Upaya yang dilakukan hendaknya menggunakan prinsip sebanyak mungkin

mempertahankan keaslian dan sesedikit mungkin melakukan perubahan.

Perlu dipahami bahwa kegiatan pelestarian tidak dimaksudkan untuk

menghambat perkembangan pembangunan seperti diperkirakan oleh kebanyakan

orang, melainkan dilakukan untuk dapat menyeimbangkan perkembangan kota,

dimana kebutuhan pembangunan baru harus tetap berjalan, dengan menghormati

keberadaan bangunan cagar budaya. Disini dibutuhkan upaya pengendalian

kawasan maupun bangunan cagar budaya agar sesuai dengan rencana kota, dan

sebaliknya rencana kota pun harus menunjang pelestarian kawasan maupun

bangunan cagar budaya. Jadi pembangunan baru dan pelestarian dapat berjalan

bersama-sama dalam keadaan saling menghormati.

D. Cultural Heritage

Kebudayaan adalah segala sesuatu hasil rekayasa manusia melalui

kemampuan cipta, rasa, karsa, dan karya manusia itu sendiri. Dari keteraturan

dalam kehidupan suatu masyarakat hanya dimungkinkan karena adanya sistem

tradisi dan kebudayaan itu sendiri. Dalam hal ini, Chambers, E. (1985) dalam

bukunya Applied Anthopology, mengatakan “ Culture is not what people do, but

the ideas and standards which guide their behavior “ Budaya sendiri merupakan

(9)

mewariskan banyak hal, dari bahasa, adat istiadat, nilai-nilai, keterampilan,

sejarah lisan, hingga monumen dan objek yang bernilai historis.

Heritage dikenal sebagai warisan budaya karena kata heritage lebih

dikenal dengan peninggalan-peninggalan warisan budaya pada zaman dahulu.

Warisan budaya. cultural heritage is the Legacy of physical artifacts and

intangible attributes of a group or society that are inherited from the past

generations, maintained in the present and bestowed for the benefit of future

generations (wikipedia).

Sedangkan menurut Hall & McArthur (1996:5) dalam bukunya heritage

management memberikan definisi sebagai berikut : “The things or value which

are inherited, heritage is a network of interrelated elements – tangible and

intangible, natural and cultural (human), personal and collective”. Warisan

budaya dapat berupa kebendaan (tangible) seperti monumen, arsitektur bangunan,

tempat peribadatan, peralatan, kerajinan tangan dan kebendaan (intangible) berupa

berbagai atribut kelompok atau masyarakat, seperti cara hidup, folklore, norma

dan tata nilai.

Berdasarkan definisi-definisi diatas heritage merupakan suatu bentuk fisik

atau berupa nilai-nilai yang merupakan warisan dari masa lampau. Heritage juga

merupakan suatu jaringan yang saling berhubungan antara elemen-elemen alam

maupun budaya (manusia) dan sesuatu yang berlaku pada satu individu maupun

berlaku pada suatu kelompok individu. Selain itu Hall & McArthur dalam

bukunya heritage management mengatakan Pelestarian warisan budaya dari masa

(10)

1. In rapidly changing society, people seek to retain building, townscapes

and objects, which help to maintain a link with the past and therefore

build a sense continuity of their lives.

2. Heritage help forge individual, community, and national identity

3. Heritage has been recognized as having an intrinsic value worth

preserving

4. Heritage have may educational, scientific, and conservation

significance

5. Heritage is an integral component of suistainable development

6. Heritage has assumed economic importance, as people increasingly

want to visit heritage site and experience what has been preserved

Terdapat beberapa alasan mengapa timbulnya kesadaran untuk

melestarikan warisan dari masa lampau (heritage), diantaranya adalah adanya

keinginan manusia untuk mencari dan memelihara manifestasi-manifestasi dari

masa lampau yang berhubungan dengan kehidupannya, heritage membantu

mereka-reka identitas seorang individu, komunitas bahkan suatu bangsa , heritage

dikenal memiliki nilai-nilai dasar untuk dilindungi sebagai sesuatu yang berharga,

heritage memililiki nilai yang signifikan dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, dan

konservasi, heritage merupakan komponen integral dalam konsep pembangunan

yang berkelanjutan, heritage memiliki nilai-nilai ekonomis dengan meningkatkan

(11)

E. Cultural Heritage Tourism

Sebuah historic city yang menjadi aset bersejarah harus mampu

menghidupi dirinya sendiri sekaligus menjaga kualitas dan citra fisik lingkungan.

Kota bersejarah akan dapat bertahan hidup jika kesejarahannya terkait dengan

aktifitas dan jaringan fungsi kota sehingga diperlukan sebuah fungsi yang mampu

mengatasi persoalan tersebut.

Wisata heritage merupakan aktifitas perjalanan untuk merasakan

pengalaman dan suasana (suatu gaya hidup) pada masa lampau (langka dan unik).

Atraksi utama dalam wisata heritage adalah konteks (setting) kesejarahan, warna

lokal daerah setempat, di mana suasana makanan khas, kostum festival, kerajinan

dan lain-lain termasuk di dalamnya. Sedangkan hal-hal lain yang menarik untuk

dikunjungi adalah pertunjukan seni, musik, tarian, obyek religius, handicraft, dan

arsitektur yang memiliki desain yang unik.

Wisata heritage dikenal sebagai wisata warisan budaya karena kata

heritage lebih dikenal dengan peninggalan-peninggalan warisan budaya pada

zaman dahulu. National Trust mendefinisikan warisan budaya pariwisata sebagai

pengalaman bepergian ke tempat-tempat, benda-benda dan kegiatan yang otentik

mewakili cerita dan orang-orang dari masa lalu dan kini. Ini meliputi budaya,

bersejarah dan sumber daya alam.

Dina (2007) skripsi Mariyani, E dengan judul “Warisan budaya (Culture

heritage) Masihkah Menjadi Daya Tarik Kota Bandung” menyatakan bahwa

produk wisata budaya terdiri dari atraksi dan benda peninggalan. Rinciannya

(12)

1. Archaelogical, Historical, and Cultural site yang termasuk ke dalam situs

budaya, sejarah dan arkeologi adalah monumen nasional dan budaya,

bangunan peribadatan bersejarah contohnya gereja, masjid, kuil

(klenteng), bangunan (gedung) bersejarah, daerah dan kota, dan berbagai

tempat penyelenggaraan event bersejarah lain.

2. Distinctive Cultural Pattern, pola kebudayaan, tradisi, dan gaya hidup

yang tidak biasa (berbeda dengan yang dimiliki para wisatawan).

3. Art and Handycrafts, yang termasuk ke dalamnya adalah tarian, musik,

drama, dan seni melukis/memahat. Hal tersebut dapat menjadi suatu

atraksi yang sangat menarik bagi para wisatawan terutama jika dikemas

dengan baik.

4. Interesting economic activities, salah satu jenis atraksi yang sukses dari

atraksi wisata budaya adalah observasi, deskripsi, dan terkadang

demonstrasi dari suatu aktivitas perekonomian yang menarik seperti pasar

tradisional.

5. Interesting Urban Areas, berbeda dengan area pedesaan, area perkotaan

dengan variasi gaya arsitektural, bangunan-bangunan dan daerah-daerah

bersejarah, merupakan suatu atraksi bagi para wisatawan yang suka

menikmati pemandangan suasana kota dan hobi fotografi mengenai

karakteristik kota tersebut.

6. Museum and other cultural facilities, yang termasuk di dalamnya adalah

museum bersejarah dan fasilitas kebudayaan lainnya seperti galeri dan

(13)

7. Cultural festivals, beberapa tipe dari festival kebudayaan yang terkait

dengan tradisi lokal dan kesenian dapat menjadi atraksi utama.

Produk heritage terdiri dari unsur-unsur abstrak dan konkrit (tangible and

intangible) dari sistem simbol yang bersifat umum (general symbol system) yang

berlaku pada suatu kelompok sosial.

Heritage yang bersifat konkrit (material cultural heritage) merujuk pada

bukti-bukti fisik kreativitas dan aktivitas manusia, termasuk didalamnya artefak,

bangunan bersejarah, streetsacpes, lansekap, dan tempat-tempat bersejarah.

Sedangkan produk heritage yang bersifat abstrak dapat di temukan pada

cerita-cerita rakyat (folklores), bahasa, tradisi, sejarah, dan nilai-nilai suatu kelompok

individu (hall & McArthur 1996:6)

F. Konsep pembangunan pariwisata

Pembangunan pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan

yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka

panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap

masyarakat. Pembangunan pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan

yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka

panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap

masyarakat (Piagam Pariwisata Berkelanjutan, 1995).

Pembangunan pariwisata berkelanjutan, seperti disebutkan dalam Piagam

Pariwisata Berkelanjutan (1995) adalah pembangunan yang dapat didukung secara

(14)

terhadap masyarakat. Artinya, pembangunan berkelanjutan adalah upaya terpadu

dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur

penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya secara

berkelanjutan.

Hal tersebut hanya dapat terlaksana dengan sistem penyelenggaraan

kepemerintahan yang baik (good governance) yang melibatkan partisipasi aktif

dan seimbang antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dengan demikian,

pembangunan berkelanjutan tidak saja terkait dengan isu-isu lingkungan, tetapi

juga isu demokrasi, hak asasi manusia dan isu lain yang lebih luas. Tak dapat

dipungkiri, hingga saat ini konsep pembangunan berkelanjutan tersebut dianggap

sebagai ‘resep’ pembangunan terbaik, termasuk pembangunan pariwisata.

Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dapat dikenali melalui

prinsip-prinsipnya yang dielaborasi berikut ini. Prinsip-prinsip tersebut antara lain

partisipasi, keikutsertaan para pelaku (stakeholder), kepemilikan lokal,

penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi tujuan-tujuan

masyarakat, perhatian terhadap daya dukung, monitor dan evaluasi, akuntabilitas,

pelatihan serta promosi. Menurut data yang didapat dari World Tourism

Organizaton (WTO) pembangunan pariwisata yang berkelanjutan memiliki tiga

(15)

BAGAN 2.1

KONSEP KEPARIWISATAAN YANG BERKELANJUTAN

Sumber : WTO

Tiga unsur itu saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain. Bila salah

satu unsur rusak atau hilang dan mengakibatkan tidak ada dukungan terhadap

pariwisata, maka pariwisata tidak akan berkembang. Inipun adalah multiplier

effect dari pengembangan pariwisata. Pengembangan pariwisata yang tidak

terkonsep mengakibatkan pariwisata tidak dapat maju dan berkembang serta

menimbulkan kelunturan nilai sosial budaya lokal dan kerusakan lingkungan.

Selama ini ada dua paradigma yang memiliki orientasi berlawanan satu

sama lain dalam konsep pengembangan pariwisata. Hal itu bisa dilihat pada tabel

di bawah ini

Tabel 2.1

KONSEP PENGEMBANGAN PARIWISATA

NO PARADIGMA LAMA PARADIGMA BARU

1 Membangun tanpa rencana Rencana dulu baru membangun

(16)

3 Hanya rencana kawasan Rencana induk regional

4 Pembangunan terpencar Pembangunan terkosentrasi

5 Membangun di luar kawasan yang

ada

Membangun dalam kawasan yang ada

6 Pembangunan intensif pada

kawasan berpanorama indah

Konservasi kawasan berpanorama

indah

7 Membangun baru dan menambah

kapasitas

Renovasi dan memanfaatkan

kapasitas secara optimal

8 Membangun secara spekulatif Menetapkan batas yang pasti

9 Mengembangkan pariwisata

dimana-mana

Membatasi pada tempat yang sesuai

dan sudah tersedia dukungan lokal

10 Pengembang dari luar Pengembang lokal

11 Rekrut tenaga kerja dari luar Memanfaatkan tenaga kerja lokal

12 Hanya pertimbangan ekonomi Berdasar pertimbangan ekonomi,

sosial budaya, dan lingkungan

13 Pertanian menurun dan beralih ke

pariwisata

15 Memihak kendaraan pribadi Memihak angkutan umum

16 Hambatan alam dan bangunan

bersejarah digusur

Hambatan alam dan bangunan

bersejarah dipertahankan

17 Arsitektural dari luar Arsitektural lokal

Sumber : Andy Mappi Sammeng (Cakrawala Pariwisata)

Paradigma lama cenderung untuk mengembangkan pariwisata tanpa

mempedulikan nilai-nilai sosial dan budaya lokal dan mengambil unsur ekternal

daripada internal. Paradigma inilah yang masih banyak dipakai dalam

pembangunan kepariwisataan di indonesia. Paradigma baru yang terkonsep

(17)

akhirnya dianggap merusak nilai sosial dan lingkungan demi kesejahteraan

ekonomi semata.

G. Kerangka Pemikiran

Kota Bandung

Tangible

Analisis SWOT

Intangible Berkurangnya citra Bandung

sebagai Heritage City

Produk wisata heritage

Gambar

Tabel 2.1

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa kawasan wisata Kota lama memiliki beberapa bangunan kuno yang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi dan dengan adanya

Dengan ditetapkanny a menjadi objek wisata bangunan lama pada wisata Kampung Kapitan yang memiliki sejarah sudah selayaknya dilindungi untuk dilestarikan sebagai bagian dari

Berdasarkan hasil analisa yang sudah dilakukan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan sehari-hari masyarakat yaitu bertani yang menjadi ciri khas Desa

Dengan adanya motif batik ini akan memberikan satu ciri khas pada motif batik kabupaten Lumajang, sekaligus bisa menjadi media promosi daerah kabupaten Lumajang yang

Manfaat lain yang dapat diperoleh dari kegiatan ini yaitu masyarakat bisa menjadikan produk olahan sorgum menjadi salah satu ciri khas daerah mereka, dan ini tentu akan

Dengan adanya motif batik ini akan memberikan satu ciri khas pada motif batik Kabupaten Lumajang, sekaligus bisa menjadi media promosi Desa Banjarwaru Lumajang yang efektif karena

Robert J. Clements melihat sastra bandingan sebagai disiplin akademis yang memiliki pendekatan yang mencakup aspek (1) tema, (2) jenis/bentuk, (3) gerakan/trend, (4) keterhubungan sastra dengan disiplin dan media seni lain, dan (5) sejarah teori sastra. Obyek (1), (2), (3) dan (5) sebenarnya merupakan wilayah sastra. Teori-teori sastra dapat dimanfaatkan, terutama teori struktural, formalisme, semiotik, untuk membandingkan beberapa karya sastra. Yang diharapkan, kelak dapat menyusun pula sejarah sastra, kritik sastra, dan teori baru tentang sastra. Adapun obyek (4) merupakan analisis yang terkait dengan interdisipliner sastra. Bangunan teoritik yang dikehendaki merupakan studi sastra dalam multidisiplin. Sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya (dalam Endraswara, 2011: 192). Pendapat ini lebih menekankan bahwa penelitian sastra bandingan harus berasal dari negara yang berbeda sehingga mempunyai bahasa yang berbeda pula. 3. Sapardi Djoko Damono Menurut Damono (2009:1) sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori tersendiri. Boleh dikatakan teori apapun bisa dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan juga disebut sebagai studi dan kajian. Dalam langkah-langkah yang dilakukannya, metode perbandinganlah yang utama. Lanjut Damono (2009:1) perbandingan yang sebenarnya merupakan salah satu metode juga selalu dilaksanakan dalam penelitian seperti halnya memberikan dan menguraikan, tetapi dalam sastra bandingan metode itu merupakan langkah utama. Jadi menurut Damono, sastra bandingan bukan hanya sekedar mempertentangkan dua sastra dari dua negara atau bangsa. Sastra bandingan juga tidak terpatok pada karya-karya besar walaupun kajian sastra bandingan sering kali berkenaan dengan penulis-penulis ternama yang mewakili suatu zaman. Kajian penulis baru yang belum mendapat pengakuan dunia pun dapat digolongkan dalam sastra bandingan. Batasan sastra bandingan tersebut menunjukkan bahwa perbandingan tidak hanya terbatas pada sastra antarbangsa, tetapi juga sesama bangsa sendiri, misalnya antarpengarang, antargenetik, antarzaman, antarbentuk, dan