PENGARUH TRANSPORTASI KOTA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA
Anbiya Fathur Rachman1
1Mahasiswa Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Pasundan,[email protected]
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota – Universitas Pasundan Bandung.
Jl. Dr. Setiabudi. No. 193, Kota Bandung.
I. Pendahuluan
Transportasi memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian, khususnya perkotaan. Hal tersebut disebabkan bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan jasa transportasi yang cukup memadai. Dengan dibangunnya sarana transportasi, kegiatan ekonomi masyarakat dapat berpotensi untuk dikembangkan dengan lebih mudah. Kegiatan ekonomi tersebut akan berkembang apabila ditunjang dengan sarana dan prasarana transportasi yang memadai untuk aksesibilitas. Selain itu, transportasi juga memiliki peranan penting bagi masyarakat perkotaan dalam rangka menyediakan akses untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa sehari-hari, serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi. Akses terhadap informasi, pasar, dan jasa masyarakat dan lokasi tertentu, serta peluang-peluang baru merupakan kebutuhan yang penting dalam proses pembangunan.
Transportasi dalam ruang lingkup ekonomi transportasi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan transportasi yang senantiasa meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Keberadaan transportasi sebagai pendukung pergerakan masyarakat akan memberikan dampak positif terhadap semakin meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan suatu kota. Namun, perkembangan transportasi sampai saat ini tidak hanya memberikan dampak positif tetapi juga dampak negatif, seperti kemacetan, kesemrawutan, dan kecelakaan lalu lintas.
Sedangkan Hipotesis adalah dugaan/ pernyataan sementara yang diungkapkan secara deklaratif/ yang menjadi jawaban dari sebuah permasalahan. Pernyataan tersebut diformulasikan dalam bentuk variabel agar bisa di uji secara empiris. Hipotesis merupakan identik dari perkiraan atau prediksi. Dari sebuah hipotesis maka akan menimbulkan suatu prediksi, karena prediksi adalah hasil yang diharapkan diperoleh dari hipotesis. Hipotesis dapat diketahui jika telah melakukan suatu percobaan sehingga mengetahui hasilnya. Salah satu langkah dalam penelitian menggunakan metodo ilmiah adalah hipotesis. Seorang ilmuan/ peneliti haruslah mempunyai kemampuan untuk memprediksi suatu permasalahan. Mungkin anda sering mendengar mengenai perkiraan cuaca, perkiraan iklim yang sering disiarkan di televise ataupun di radio, di internet dan lain-lain. Itu dilakukan oleh para ahli meteorology, mereka dapat memprediksi/ memperkirakan cuaca yang akan terjadi di suatu daerah pada suatu hari dengan cara melakukan observasi menggunakan pengetahuan yang mereka miliki. Maka kemampuan memprediksi merupakan ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang ilmuan.
Hipotesis ada juga yang menyebutnya dengan istilah hipotesa yang secara sederhana bisa diartikan sebagai dugaan sementara. Asal mula kata hipotesis berasal dari bahasa Yunani yaitu hypo yang artinya di bawah dan thesis yang artinya pendirian, kepastian, pendapat yang ditegakkan. Apabila diartikan secara bebas, maka hipotesis artinya yaitu pendapat yang kebenarannya masih diragukan. Untuk dapat memastikan kebenaran dari hipotesis tersebut, maka suatu hipotesis perlu dibuktikan atau diuji kebenarannya. Untuk dapat membuktikan kebenaran dari suatu hipotesis, seorang peneliti bisa secara sengaja menciptakan suatu gejala yaitu dengan percobaan atau penelitian. Apabila suatu hipotesis kebenarannya telah teruji, maka hipotesis bisa disebut dengan teori.
II. Teori
A. Definisi Ekonomi dan Transportasi
Ekonomi perkotaan (Urban Economies) merupakan salah satu dari cabang ilmu ekonomi spasial. Ekonomi perkotaan berada dalam ruang lingkup ekonomi regional, lingkungan spasial pertama sebelum masuk dalam lingkup nasional dan kemudian global. Jika dilihat dari sudut spasial, ekonomi perkotaan mengalami konsentrasi kegiatan ekonomi dan penduduk disertai konsekuensi interaksi nya.
Kegiatan ekonomi di kawasan perkotaan pada dasarnya bermula dengan diturunkannya teori-teori ekonomi pembangunan yang dikhususkan bagi kawasan atau wilayah tertentu. Dalam studi ekonomi pembangunan setidaknya dibahas antara lain: strategi pembangunan ekonomi wilayah (daerah), perencanaan tata ruang dan wilayah yang berbasis pada ekonomi wilayah, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan di kawasan pedesaan/perkotaan, peningkatan kegiatan ekonomi pendukung pembangunan wilayah dan strategi penanggulangan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi (Mudjarat, 2003). Kegiatan ekonomi di kawasan perkotaan juga membahas tentang bagaimana pihak pemerintah kota dalam meningkatkan pendapatan penduduk kawasan perkotaan dan juga meningkatkan tingkat kesejahteraan dan masyarakat perkotaan.
Pengertian transportasi menurut Steenbrink (1974), transportasi adalah perpindahan orang atau barang dengan menggunakan alat atau kendaraan dari dan ke tempat-tempat yang terpisah secara geografis. Transportasi merupakan sesuatu hal yang berhubungan dengan pemindahan orang atau barang dari suatu tempat asal ke tempat tujuan suatu tindakan, proses atau hal yang sedang dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain. Sedangkan transportasi kota adalah suatu kesatuan yang saling mendukung dan bekerjasama dalam pengadaan transportasi yang melayani wilayah perkotaan (Miro, 1997).
B. SUPPLY DAN DEMAND TRANSPORTASI
Secara teori ekonomi, permintaan dan penawaran adalah kekuatan yang membuat ekonomi bekerja dengan baik. Tempat pertemuan permintaan dan penawaran adalah pasar. Permintaan dan penawaran menentukan jumlah barang yang dihasilkan dan harga jual dari barang tersebut. Kegiatan ekonomi dan transportasi memiliki keterkaitan yang sangat erat, dimana keduanya dapat saling mempengaruhi. Pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan dengan transportasi, karena akibat pertumbuhan ekonomi maka mobilitas seseorang meningkat dan kebutuhan pergerakannya pun menjadi meningkat melebihi kapasitas prasarana transportasi yang tersedia (Tamin, 1997). Hal ini dapat disimpulkan bahwa transportasi dan perekonomian memiliki keterkaitan yang erat. Di satu sisi transportasi dapat mendorong peningkatan kegiatan ekonomi suatu daerah, karena dengan adanya infrastruktur transportasi maka suatu daerah dapat meningkat kegiatan ekonominya. Namun di sisi lain, akibat tingginya kegiatan ekonomi dimana pertumbuhan ekonomi meningkat maka akan timbul masalah transportasi, karena terjadinya kemacetan lalu lintas, sehingga perlunya penambahan jalur transportasi untuk mengimbangi tingginya kegiatan ekonomi tersebut.
1. Supply
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan transportasi
Permintaan terhadap kendaraan bermotor tercermin dari sejumlah orang yang memilih kendaraan dengan syarat atau kondisi tertentu, seperti kualitas kendaraan umum dan harganya. Memahami permintaan transportasi sangatlah penting untuk perencanaan sistem transportasi secara umum, dan secara khusus sangat penting untuk mengelola permintaan terhadap transportasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan transportasi yang akan dapat dilihat dalam Tabel 2.1 di bawah ini.
Tabel 2.2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan transportasi
Demografi Ekonomi Harga Pilihan Kualitas Peruntukan
Transportasi Pelayanan Lahan
Jumlah Jumlah Harga bahan
Kecepatan
lapangan bakar dan Jalan kaki relative dan Kepadatan
populasi
pekerjaan pajak keterlambatan
Pajak dan
Pendapatan Pendapatan biaya Bersepeda Kepercayaan Kesimpangsiuran
kendaraan
Gaya hidup Aktivitas Harga tol Public transit Kenyamanan Keterhubungan
usaha
Umur Muatan Biaya parkir Ridesharing Keselamatan Dekatnya layanan
kendaraan dan keamanan tempat singgah
Pilihan Aktivitas Asuransi
Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan permintaan perjalanan Terdapat beberapa kecenderungan perubahan permintaan perjalanan lebih disebabkan oleh faktor-faktor di bawah ini, yaitu :
1) Kejenuhan dari pemilik mobil.
2) Perubahan penduduk, dimana ada kecenderungan pengurangan penggunaan kendaraan perkapita (karena penduduk berusia tua lebih banyak) dan peningkatan permintaan terhadap moda transportasi lainnya.
3) Peningkatan harga bahan bakar.
4) Peningkatan urbanisasi dan perubahan kecenderungan konsumsi perumahan di daerah pinggir kota.
5) Peningkatan kemacetan dan biaya di jalan raya.
6) Peningkatan kesadarankesehatan publik dan isu kelestarian lingkungan. 7) Peningkatan pendekatan dalam kualitas pelayanan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jasa transportasi
Dengan peran yang signifikan terhadap perekonomian, transportasi tidak terlepas dari sisi permintaan dan penwaran atas jasanya. Dari sisi permintaan, kebutuhan akan jasa-jasa transportasi ditentukan oleh barang-barang dan penumpang yang akan diangkut dari satu tempat ke tempat lain. Jumlah kapasitas angkutan yang tersedia sangat terbatas dibandingkan dengan kebutuhan
transportasi. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jasa transportasi :
a. Pertumbuhan penduduk suatu daerah akan membawa pengaruh terhadap jumlah jasa angkutan yang dibutuhkan. Semakin besar jumlah penduduk maka kebutuhan transportasi akan semakin besar pula.
c. Perdagangan ekspor dan impor juga menentukan jasa angkutan yang diperlukan untuk perdagangan tersebut.
d. Industrialisasi di segala sektor ekonomi berdampak terhadap jasa-jasa transportasi yang diperlukan.
e. Transmigrasi dan penyebaran penduduk ke seluruh daerah merupakan salah satu faktor permintaan yang menentukan banyaknya jasa-jasa angkutan yang harus disediakan oleh perusahaan angkutan.
f. Analisis dan proyeksi akan permintaan jasa transportasi diperlukan untuk perencanaan transportasi yang mantap dan terarah.
Faktor-faktor penyebab naik turunnya jumlah penumpang angkutan umum Sementara itu, terdapat beberapa hal yang menyebabkan naik-turunnya jumlah penumpang angkutan umum. Hal-hal tersebut adalah :
a. Price elasticity, permintaan untuk angkutan umum adalah price inelastic (tidak elastis terhadap harga) dengan price elasticity antara -0,20 dan -0,50 dengan pendekatan rule of thumb dijelaskan bahwa kenaikan harga tiket 10% akan menurunkan jumlah penumpang sebanyak 3,3%. Ini berarti nilai elastisitas harga adalah -0,33. Elastisitas terhadap harga relatif besar untuk off-peak trips dan trips by high income commuters.
b. Time elasticity, permintaan penumpang untuk angkutan umum lebih responsif untuk berubah terhadap watu tempuh. Untuk line haul portion on the trip (waktu yang dibuang di atas kendaraan) estimasi elastisitasnya sebesar -0,39. Jadi kenaikan waktu sebesar 10% di atas kendaraan akan menurunkan jumlah penumpang sebesar 3,9%, sedangkan untuk access time (waktu yang dibutuhkan untuk mencapai stasiun bus atau kereta api) yang mempunyai elastisitas -0,71 artinya kenaikan waktu untuk mencapai halte/stasiun sebesar 10% akan mengakibatkan penurunan jumlah penumpang sebesar 7,1%.
bersedia menunggu terlalu lama di halte (yang diperhitungkan adalah waktu dari rumah – halte – tujuan).
d. Non commutting trips, elastisitas dari permintaan untuk orang-orang yang menggunakan kendaraan umum bukan untuk bekerja adalah lebih tinggi dibandingkan dengan commutting trips.
Jadi dari bahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hal yang paling dominan untuk meningkatkan permintaan penumpang angkutan umum adalah peningkatan pelayanan, hal ini tercermin dari value of travel time, kemudian penigkatan kecepatan waktu tempuh, serta penurunan tarif.
2. Demand
Sisi penawaran transportasi berhubungan dengan penyediaan jasa-jasanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Penawaran jasa-jasa angkutan dapat dilihat dari sisi peralatan yang digunakan, kapasitas yang tersedia, kondisi teknis alat angkut yang dipakai, produksi jasa yang dapat diserahkan oleh perusahaan angkut dan sistem pembiayaan dalam pengoperasian alat pengangkutan. Penyedia jasa angkutan harus memperhatikan faktor-faktor yang membuat pengguna jasa tersebut merasa puas seperti keamanan, ketepatan waktu, keteraturan, kenyamanan, kecepatan, kesenangan, dan kepuasan.
III. PERAN TRANSPORTASI KOTA DALAM MENINGKATKAN EKONOMI KOTA
Transportasi merupakan unsur penting dan berfungsi sebagai urat nadi kehidupan dan perkembangan ekonomi, sosial, politik, dan mobilitas penduduk yang tumbuh bersamaan mengikuti perkembangan yang terjadi dalam berbagai bidang dan sektor tersebut.
sehingga sangat mendukung dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan. Dengan transportasi yang baik, akan memudahkan terjadinya interaksi antara penduduk lokal dengan dunia luar sehingga menghilangkan adanya wilayah atau masyarakat yang terisolasi. Keterisolasian merupakan masalah pertama yang harus ditangani dalam pengembangan ekonomi kota.
Berikut ini merupakan beberapa peran transportasi kota dalam meningkatkan ekonomi suatu kota, antara lain :
a. Transportasi dapat memberikan kontribusi terhadap efisiensi penyediaan kebutuhan produksi melalui penyediaan sistem transportasi yang baik sehingga biaya pengadaan kebutuhan produksi dapat diminimalisasi.
b. Penyediaan sistem transpotasi yang baik juga dapat menekan biaya penyaluran produksi ke pasar.
c. Penyediaan sistem transportasi yang baik dalam kegiatan perekonomian akan menarik investor baru yang akan meningkatkan iklim kompetisi di daerah tersebut.
d. Sistem transportasi yang efisien dapat mendukung perkembangan perekonomian kota dengan lebih baik, sedangkan sistem transportasi yang tidak efisien akan menimbulkan biaya tambahan.
e. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi dapat membuka aksesibilitas sehingga meningkatkan produksi masyarakat yang berujung pada peningkatan daya beli masyarakat.
IV. KEBIJAKAN TERKAIT PENYEDIAAN TRANSPORTASI KOTA TERHADAP EKONOMI KOTA
Tantangan untuk mewujudkan kualitas hidup masyarakat kota yang lebih baik dan berkelanjutan memerlukan reformasi kebijakan dalam sektor transportasi. Perlu adanya kebijakan yang dapat menjawab tantangan tersebut. Agar efektif, kebijakan transportasi perkotaan harus memenuhi 3 aspek utama :
a. Kebijakan transportasi harus dapat memastikan tersedianya kapabilitas yang berkelanjutan untuk menunjang peningkatan standar kehidupan.
b. Kebijakan transportasi harus dapat memacu peningkatan kualitas kehidupan secara umum.
Berkelanjutan secara ekonomi, lingkungan dan sosial saling terkait dan menunjang satu sama lain. Sehingga dibutuhkan suatu instrumen kebijakan yang dapat menyeimbangkan semua dimensi tersebut. Namun demikian, untuk mencapai keseimbangan yang memenuhi ketiga aspek tersebut di atas tidaklah mudah. Misalnya saja seperti sarana angkutan umum murah yang disediakan oleh sektor informal bisa memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat berpenghasilan rendah, akan tetapi jika tidak dikelola dengan baik bisa merusak lingkungan dan menyebabkan kemacetan akibat ketidakteraturannya. Fenomena di atas menggambarkan bahwa ada 'trade-off' yang harus dihadapi pemerintah dalam mengambil kebijakan transportasi yang berkelanjutan, dimana kebijakan tersebut harus dapat menjaga keseimbangan dari ketiga aspek di atas.
Dalam website resmi Kementrian Perhubungan Republik Indonesia, terdapat sepuluh kebijakan terkait transportasi perkotaan. Karena pembahasan yang diangkat dalam makalah ini lebih kepada peningkatan perekonomian kota, oleh karena itu hanya diambil kebijakan transportasi kota yang dapat mendorong perekonomian pada kota, antara lain sebagai berikut :
a. Pembangunan angkutan perkotaan diarahkan pada pemulihan kondisi pelayanan armada bus kota, sesuai dengan standar pelayanan minimal.
b. Pembatasan penggunaan kendaraam pribadi melalui perketatan persyaratan Ranmor (Pribadi).
c. Mendukung pengembangan transportasi yang berkelanjutan, terutama penggunaan transportasi umum massal di perkotaan yang padat, terjangkau dan efisien, berbasis masyarakat dan terpadu dengan pengembangan wilayah.
d. Mendorong pengembangan teknologi untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi, seperti Electronic Road Pricing (ERP).
e. Pengembangan transportasi perkotaan dengan memperhatikan pejalan kaki dan orang cacat melalui pemberikan fasilitas yang lebih aman dan nyaman untuk pejalan kaki, untuk mendorong intensitas berjalan kaki.
V. PERMASALAHAN PENYEDIAAN TRANSPORTASI
1) Dampak langsung yang terkait dengan perubahan aksesibilitas di mana transportasi memungkinkan pasar yang lebih besar dan memungkinkan untuk menghemat waktu dan biaya.
2) Dampak tidak langsung berhubungan dengan efek multiplier ekonomi di mana harga komoditas atau jasa drop dan / atau berbagai mereka meningkat.
Permasalahan-permasalahan terkait penyediaan transportasi di perkotaan sangat beragam, antara lain :
1) Penyediaan prasarana dan sarana transportasi yang terbilang kurang pada suatu kota 2) Penyediaan transportasi umum belum layak dan memadai yang membuat masyarakat
kurang berminat untuk menggunakan jasa transportasi umum 3) Banyaknya kendaraan pribadi daripada angkutan umum
4) Peningkatan jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas sehingga ruas jalan mengalami overload kendaraan
5) Kemacetan yang diakibatkan oleh tidak mampunya ruas jalan untuk menampung jumlah kendaraan yang melewatinya
6) Dampak Spillover Effect. Spillover Effect atau efek pelimpahan adalah suatu keadaan dimana mendorong masing-masing sektor untuk memperluas kerjasamanya, tidak hanya pada bidang ekonomi namun meluas ke kerjasama di bidang lain, yang membuat jumlah kendaraan ikut meningkat. Hal ini menyebabkan kapasitas jalan tidak dapat menampung lagi jumlah kendaraan yang ada. Akhirnya munculah jalan-jalan kecil disekitarnya dan nantinya akan berujung pada kemacetan.
7) Manajemen mobilitas untuk transportasi yang belum ditata dan dikelola dengan baik
VI. DAMPAK TRANSPORTASI TERHADAP EKONOMI KOTA
Menilai pentingnya transportasi terhadap perekonomian kota, membutuhkan kategorisasi jenis dampak untuk dapat menyampakainnya. Hal ini melibatkan inti (karakteristik fisik transportasi), dimensi operasional dan geografis. Penjelasan ketiga kategori tersebut yaitu :
Operasional. Peningkatan kinerja waktu, terutama dalam hal keandalan, serta kerugian berkurang atau kerusakan. Ini menunjukkan tingkat pemanfaatan yang lebih baik dari aset transportasi menguntungkan penggunanya sebagai penumpang dan barang yang disampaikan lebih cepat ada dan dengan sedikit penundaan.
Geografis. Akses ke basis pasar yang lebih luas di mana skala ekonomi dalam produksi, distribusi dan konsumsi dapat ditingkatkan. Peningkatan produktivitas dari akses ke basis yang lebih besar dan lebih beragam input (bahan baku, suku cadang, energi atau tenaga kerja) dan pasar yang lebih luas untuk berbagai output (intermediate dan barang jadi). Dampak geografis penting lainnya menyangkut pengaruh transportasi di lokasi kegiatan.
Transportasi menyediakan akses pasar dengan menghubungkan produsen dan konsumen sehingga transaksi bisa berlangsung. Sebuah kesalahan umum dalam menilai pentingnya dan dampak transportasi terhadap perekonomian hanya fokus pada biaya transportasi, yang cenderung relatif rendah; dalam kisaran 5 sampai 10% dari nilai suatu barang. Transportasi merupakan faktor ekonomi produksi barang dan jasa, yang menyiratkan bahwa itu adalah fundamental dalam generasi mereka, bahkan jika itu menyumbang sebagian kecil dari biaya input. Ini berarti bahwa terlepas dari biaya, kegiatan tidak dapat berlangsung tanpa faktor transportasi. Dengan demikian, perubahan yang relatif kecil dalam biaya transportasi, kapasitas dan kinerja dapat memiliki dampak besar pada kegiatan ekonomi yang tergantung. Sebuah sistem transportasi yang efisien dengan infrastruktur modern yang nikmat banyak perubahan ekonomi, sebagian besar dari mereka positif. Dampak utama dari transportasi pada faktor-faktor ekonomi dapat dikategorikan sebagai berikut :
Produksi skala besar. Sebuah sistem transportasi yang efisien menawarkan biaya, waktu dan keuntungan kehandalan memungkinkan barang yang akan diangkut jarak yang lebih jauh. Ini memfasilitasi produksi massal melalui skala ekonomi karena pasar yang lebih besar dapat diakses. Konsep ini dalam manajemen rantai pasokan semakin memperluas produktivitas produksi dan distribusi dengan manfaat seperti tingkat persediaan yang lebih rendah dan tanggapan yang lebih baik untuk kondisi pasar pergeseran. Dengan demikian, transportasi yang lebih efisien, semakin besar pasar yang dapat dilayani dan semakin besar skala produksi. Hal ini menyebabkan biaya per unit yang lebih rendah.
Meningkatnya persaingan. Ketika transportasi efisien, potensi pasar untuk produk tertentu (atau jasa) meningkat, dan begitu juga kompetisi. Sebuah array yang lebih luas barang dan jasa menjadi tersedia untuk konsumen melalui kompetisi yang cenderung untuk mengurangi biaya dan meningkatkan kualitas dan inovasi. Globalisasi telah jelas dikaitkan dengan lingkungan yang kompetitif yang mencakup dunia dan memungkinkan konsumen untuk memiliki akses ke beberapa jenis barang dan jasa.
Peningkatan nilai tanah. Tanah yang berdekatan atau dilayani oleh layanan transportasi yang baik umumnya memiliki nilai yang lebih besar karena utilitas yang menganugerahkan banyak kegiatan. Konsumen dapat memiliki akses ke berbagai layanan yang lebih luas dan barang ritel sementara warga dapat memiliki akses yang lebih baik untuk pekerjaan, jasa, dan jaringan sosial, yang semuanya mentranskripsi nilai tanah yang lebih tinggi. Dalam beberapa kasus, aktivitas transportasi dapat menurunkan nilai tanah, terutama untuk kegiatan perumahan. Tanah yang terletak di dekat bandara dan jalan raya, dekat kebisingan dan polusi sumber, sehingga akan dipengaruhi oleh sesuai berkurang nilai tanah.
Transportasi juga berkontribusi untuk pembangunan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan kegiatan ekonomi berasal. Oleh karena itu, sejumlah besar langsung (kargo, manajer, pengirim) dan tidak langsung (asuransi, keuangan, kemasan, penanganan, agen perjalanan, operator transit) pekerjaan yang berhubungan dengan transportasi. Produsen dan konsumen mengambil keputusan ekonomi pada produk, pasar, biaya, lokasi, harga yang diri didasarkan pada layanan transportasi, ketersediaan, biaya dan kapasitas.
VII. Uji Kolmogorov Smirnov
tidaknya perbedaan yang signifikan untuk dua sampel yang independen juga bisa dilakukan
dengan uji Kolmogorov Smirnov. Untuk itu, dibahas contoh kasus sama dengan uji tanda dan Wilcoxon yang lalu, namun pengerjaannya dengan uji Kolmogorov Smirnov.
Uji Kolmogorov Smirnov (Chakravart, Laha, dan Roy, 1967) dalam Engeneering Statistics Handbook (2009) digunakan untuk memutuskan apakah sampel berasal dari populasi dengan distribusi tertentu. Uji Kolmogorov Smirnov (KS) didasarkan pada fungsi distribusi empiris (ECDF). Mengingat data terstruktur di titik N Y 1, Y 2, ..., Y N, ECDF didefinisikan sebagai:
Dengan n (i) adalah jumlah titik kurang dari Y i dan Y i diberikan dari nilai terkecil hingga terbesar. Ini adalah langkah fungsi yang meningkat sebesar pada nilai setiap titik data terstruktur.
Gambar di bawah ini adalah sebaran empiris fungsi distribusi normal komulatif dengan fungsi distribusi normal untuk 100 angka acak. Uji KS yang didasarkan pada jarak maksimum antara dua kurva.
Gambar Kurva Normal untuk Uji Kolmogorov Smirnov
1. Kelebihan dan Kelemahan Uji KS
Gambaran yang menarik dari tes ini adalah distribusi dari statistik uji KS itu
sendiri tidak tergantung pada fungsi distribusi komulatif yang mendasari pengujian.
Kelebihan lainnya yaitu ketika sebuah tes eksak (Uji keselarasan chi-kuadrat
tergantung pada ukuran sampel yang memadai untuk perkiraan yang akan berlaku).
1. Hanya berlaku untuk distribusi kontinu.
2. Uji KS cenderung lebih sensitif di dekat pusat distribusi daripada di ekor (ujung).
3. Mungkin keterbatasan yang paling serius yaitu distribusinya harus benar-benar ditentukan. Artinya, jika lokasi, skala, dan bentuk parameter diperkirakan dari data, daerah kritis dari pengujian KS tidak lagi berlaku. Biasanya harus ditentukan dengan simulasi.
Karena keterbatasan 2 dan 3 di atas, banyak Analis lebih suka menggunakan Uji kebaikan Anderson-Darling. Namun, uji Anderson-Darling hanya tersedia untuk beberapa distribusi tertentu saja.
2. Definisi
Uji Kolmogorov Smirnov didefinisikan sebagai berikut:
0= Data mengikuti distribusi tertentu 1= Data tidak mengikuti distribusi tertentu
Uji Statistik: Uji statistik Kolmogorov Smirnov didefinisikan sebagai:
Dengan F adalah distribusi kumulatif teoretis dari distribusi yang sedang diuji yang harus berdistribusi kontinu (tidak ada masalah seperti distribusi diskrit binomial atau Poisson), dan harus sepenuhnya ditentukan (yaitu, lokasi, skala, dan bentuk parameter tidak dapat diperkirakan dari data).
Taraf: = 0,05
Signifikansi:
Nilai Kritis : Hipotesis mengenai bentuk distribusi ditolak jika uji statistik, D, adalah lebih besar daripada nilai kritis yang diperoleh dari tabel. Ada
VIII. Aplikasi Dalam SPSS
A. Signifikasi Secara Teoritikal
Pengujian pada SPSS dengan menggunakan Uji Normalitas Kolmogorov - Smirnov dengan pada taraf signifikansi 0,05.
B. Dasar Pengambilan Keputusan
Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka data tersebut berdistribusi normal. Sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka data tersebut tidak berdistribusi normal.
IX. Hasil dan Pembahasan
A. Tahapan Pengerjaan
Berikut merupakan langkah-langkah dalam menggunakan Uji Normalitas Kolmogorof-Smirnov pada SPSS, diantaranya:
1. Buka SPSS
2. Klik Variabel View, kemudian pada bagian Name tulis saja Pelayanan, kemudian di baris selanjutnya Harga, dan baris berikutnya Kepuasan, pada kolom Type ubah menjadi Numeric.
4. Klik menu Analyze, kemudian pilih Nonparametric Tests dan pilih 1 –
Sample K-S
5. Selanjutnya akan muncul kotak dengan nama One-Sample Kolmogorov – Smirnov Test, masukkan dengan cara memilih pelayanan, harga dan kepuasan ke dalam Test Variable List. Kemudian pastikan checklist
6. Klik OK, maka akan keluar hasil sebagai berikut.
Dalam pengambilan keputusan, dapat dilihat dari nilai Asymp. Sig. pada Tabel One Sample Kolmogorov – Smirnov Test. Maka dapat dilihat kesimpulannya sebagai berikut:
a) Berdasarkan variabel Sistem Transportasi : Nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,998 yang lebih kecil dari 0,05, maka kesimpulannya variabel pelayanan memiliki distribusi data yang tidak normal.
Daftar Pustaka
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. (tanpa tahun). Kebijakan Transportasi Perkotaan.
http://www.hubdat.web.id/kebijakan/30-kebijakan-transportasi-perkotaan/
Effendi, Mas’ud. (2012). Pengantar Dasar Ilmu Ekonomi [dokumen PDF].
http://masud.lecture.ub.ac.id/files/2012/07/01-02-Pengantar-Dasar-Ilmu- Ekonomi-Mengapa-Belajar-Ilmu-Ekonomi-Metodologi-dan-Bidang-Studi-Ilmu-Ekonomi.pdf
Pawitro, Udjianto. (2013). Pembangunan Kota, Ekonomi Perkotaan dan P embentukan
Cluster Ekonomi Kawasan Perkotaan. Simposium Nasional RAPI XII-2013FT
UMS,ISSN 1412-9612.
Prawira, I Made Gita dan Cahyo Edi Wibowo. (2008). Peluang Pengembangan Angkutan
Khusus ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Undergraduate thesis, F. TEKNIK
UNDIP.
Razi, Muhammad. (2014). Peranan Transportasi dalam Perkembangan Suatu Wilayah. Bogor: Ilmu Ekonomi Konsentrasi Pembangunan Sumberdaya, Universitas Nusa Bangsa.
Rifusua, Agus Imam. (2010). Analisa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Busway di DKI Jakarta Tahun 2004-2008.