• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Faktor Pendorong dan Penghambat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Faktor Pendorong dan Penghambat"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

Research Institute for Ecocomic and Local Bank FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS HASANUDDIN

Laporan Penelitian

ANALISIS FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT

PENGAMBILAN SERTA PENGEMBALIAN KREDIT PERBANKAN

DI PROPINSI SULAWESI SELATAN DAN SULAWESI BARAT

TIM PENELITI

Prof. Dr. H. Muh. Yunus Zain, MA. (Ketua)

Anas Iswanto Anwar, SE., MA.

Sabir, SE., M.Si.

Dr. H. Madris, DPS., M.Si.

(2)

1. 1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN

Salah satu fungsi utama bank adalah untuk menyalurkan dana yang dihimpun dari masyarakat kepada pihak–pihak yang membutuhkannya, baik dalam bentuk kredit maupun dalam bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dalam menjalankan fungsinya tersebut, selama beberapa dekade terakhir perbankan di Indonesia telah mengalami pasang surut dan sempat mencapai posisi yang sangat memprihatinkan pada saat krisis ekonomi, yang dimulai pada pertengahan tahun 1997. Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengatasi dampak negatif dari krisis tersebut : mulai dari program Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), program rekapitalisasi perbankan, pembentukan program blanket guarantee, restrukturisasi kredit, privatisasi bank-bank BUMN, sampai dengan peluncuran kebijakan Arsitektur Perbank-bankan Indonesia (API) pada awal tahun 2004 dan pengimplementasian kegiatannya sampai dengan sekarang.

Upaya–upaya yang telah dilakukan Bank Indonesia dan dengan dukungan dari stakeholdernya, memberikan hasil yang menggembirakan. Terjadi peningkatan kinerja yang sangat signifikan terutama jika dibandingkan dengan kondisi krisis, sebagaimana yang ditunjukkan oleh beberapa indikator pada Tabel 1.1. tentang perkembangan perbankan Indonesia.

Tabel 1.1. Beberapa Indikator Perbankan Tahun 1998 – 2006

Indikator Perbankan 2000 2001 2002 2003 3004 2005 2006

DPK (Triliun Rp) 699 797 838 888 88 1,128 1,287

Kredit (Triliun Rp) 321 359 410 477 595 730 833

Loan to Deposit ratio (%) 45,8 45,0 49,1 53,7 61,8 64,7 64,7

Non Performing Loan - Gross (%) 18,8 12,1 8,1 8,2 5,8 8,3 7,0

Capital Adequacy (%) 12,7 20,5 22,5 19,4 19,4 19,5 20,5

Net Interest margin (%) 3 3 4 3 6 5 5

Return On Assets (%) 0,9 1,4 1,9 2,5 3,5 2,6 2,6

SBI (Triliun Rp) 58,8 73,8 76,9 102,3 94,1 54,3 179,0

Sumber: Bank Indonesia

Meskipun telah terjadi peningkatan kinerja perbankan, namun kondisi perbankan di Indonesia belum pulih seutuhnya. Apabila kita melihat data dua tahun terakhir, pelaksanaan intermediasi perbankan pada tahun 2006 masih belum seperti yang diharapkan. LDR relatif tidak berubah, yaitu sebesar 64,7%, karena relatif berimbangnya pertumbuhan kredit dibandingkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Pertumbuhan kredit selama tahun 2006 hanya sebesar 14,1% (lebih kecil dari yang sudah ditargetkan sebesar 18%). Namun dilain pihak penempatan Bank Umum dalam Surat Berharga Indonesia (SBI) mengalami peningkatan yang sangat signifikan hingga melebihi 200%, walaupun suku bunga BI terus turun, sebesar 300 bps selama tahun 2006.

Khusus untuk kondisi makroekonomi di Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Sulawesi Barat (Sulselbar) pada tahun 2006 menunjukkan perkembangan yang kondusif. PDRB mencatat peningkatan, sementara laju inflasi (terutama menjelang akhir tahun) cenderung menunjukkan trend yang melambat.

(3)

menduduki peringkat kedua dengan kontribusi sebesar 15,07%, dan sektor Industri Pengolahan sebesar 14,06% (Gambar 1.1.).

Gambar 1.1. Struktur Perekonomian Propinsi Sulselbar tahun 2006

Sumber: BPS dan KBI, Makassar

Pertumbuhan ekonomi Sulselbar tahun 2006 cenderung lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.2. di bawah ini. Tahun 2005 pertumbuhan ekonomi di Propinsi Sulselbar sebesar 5,81 % di atas rata-rata nasional sebesar 5,16%. Demikian pula untuk perkiraan tahun 2006, dimana pertumbuhan ekonomi di Propinsi Sulselbar sebesar 5,95 % masih di atas rata-rata nasional sebesar 5,50%.

Gambar 1.2. Perkembangan ekonomi Propinsi Sulselbar 2006

*) Data perkiraan

Sumber: BPS dan KBI Makassar

Tingkat Inflasi tahunan mengalami perlambatan dari 17,39% pada tahun 2005 menjadi 6,72% pada tahun 2006. Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi perekonomian yang bergeser kepada nilai keseimbangan baru pasca meredahnya efek kenaikan harga BBM. Secara kumulatif, laju inflasi tahun 2006 tercatat 7,49%, lebih rendah dari tahun 2005 yang

2001 2002 2003 2004 2005 2006 *)

(4)

1. 3. TUJUAN PENELITIAN

1. 2. PERUMUSAN MASALAH

Disamping itu, Gambar 1.3. menunjukkan kinerja perbankan di Propinsi Sulselbar, dimana intermediasi perbankan tercatat menurun, dari 94,55% pada tahun 2005 menjadi 85,19% pada tahun 2006. Meskipun perlu dicatat bahwa hal ini terjadi karena laju pertumbuhan penghimpunan dana tercatat lebih besar dibandingkan laju penyaluran kredit perbankan. Kredit tercatat tumbuh 4,51% (y-o-y) sementara DPK tumbuh sebesar 15,99%. Kredit UMKM meningkat 12,19% (y-o-y) menjadi Rp9,32 triliun dengan pangsa Kredit UMKM thd total kredit mencapai 57,41%.

Pertumbuhan kredit yang lebih lambat dibandingkan pertumbuhan penghimpunan DPK merupakan salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya Loan to Deposit Ratio pada tahun 2006 dari 94,55% menjadi 85,24%. Sementara itu, peranan Kredit UMKM tetap mengalami peningkatan.

Gambar 1.3. Kinerja Perbankan di Propinsi Sulselbar tahun 2006

Sumber: BPS dan KBI Makassar.

Dari fakta kondisi makroekonomi Sulselbar di atas masalah yang tampak adalah belum terciptanya intermediasi seperti yang diharapkan. Karena, kajian atas faktor yang mempenaruhi, baik sebagai pendorong pencairan kredit maupun faktor penghambat pengembalian kredit pada unit-unit usaha yang memiliki keterkaitan khusus pada ciri perilaku dan budaya masyarakat di masyarakat Sulselbar sangat menarik untuk diteliti.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:

Faktor apa saja yang menjadi pendorong dan penghambat dalam pengambilan dan pengembalian kredit perbankan pada masyarakat di Propinsi Sulsel dan Sulbar.

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menjadi pendorong dalam pengambilan dan pengembalian kredit perbankan di Sulsel dan Sulbar.

0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000

Q 3-03 Q 4-03 Q 1-04 Q 2-04 Q 3-04 Q 4-04 Q 1-05 Q 2-05 Q 3-05 Q 4-05 Q 1-06 Q 2-06 Q 3-06

DPK & Kredit (m ilyar rp)

0% 20% 40% 60% 80% 100% LDR = Kredit/DPK

(5)

1. 4. MANFAAT PENELITIAN

1. 5. RUANG LINGKUP PENELITIAN

2. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menjadi penghambat

dalam pengambilan dan pengembalian kredit perbankan di Sulsel dan Sulbar.

3. Mengidentifikasi dan menganalisis antara hubungan karakteristik unit usaha dengan proses permohonan kredit, persetujuan, dan pencairan kredit perbankan di Sulsel dan Sulbar.

Manfaat penelitian adalah :

1. Bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan (perbankan) dalam rangka

mendorong terlaksananya fungsi intermediasi dengan baik.

2. Bahan informasi bagi pelaku usaha dalam rangka pengambilan kredit.

3. Bahan informasi bagi pemerintah dalam memfasilitasi pihak perbankan dan dunia

usaha dalam rangka mendorong terlaksananya fungsi intermediasi perbankan.

4. Sebagai bahan referensi bagi penelitian yang relevan dengan penelitian ini.

Ruang lingkup penelitian adalah :

(6)

2.1. TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Bank

Bank merupakan lembaga keuangan yang memberikan jasa keuangan, yaitu menyalurkan dana, memberikan pinjaman dan menghimpun dana dari masyarakat luas dalam bentuk simpanan.

Berbagai ahli dan praktisi yang berkompeten di dalamnya tidak selalu sama dalam memberikan definisi bank itu sendiri. Hal ini disebabkan karena tiap-tiap ahli dan praktisi tersebut meninjau pengertian bank dari sisi yang berbeda. Untuk lebih jelasnya, maka perlu diketahui beberapa definisi bank itu sendiri.

Wijaya (1991) mengemukakan pengertian bank adalah: “Bank atau lembaga keuangan adalah lembaga yang membantu melancarkan pertukaran barang-barang dan jasa-jasa serta menyalurkan tabungan ke investasi”.

Dendawijaya (2000) memberikan definisi tentang bank adalah: “Suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.

Sedangkan sesuai dengan UU No.7 tahun 1992, sebagaimana telah diubah dengan UU No.10 tahun 1998 tentang perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Jika kita perhatikan dari pengertian-pengertian dan definisi-definisi para ahli tersebut di atas, maka dapat kita mengambil kesimpulan bahwa pengertian bank pada dasarnya memiliki persamaan antara satu dan lainnya dan walaupun ada perbedaan hal itu hanya nampak pada tugas atau usaha bank itu sendiri. Dengan kata lain bahwa bank adalah lembaga keuangan yang menerima simpanan dana dari masyarakat dalam bentuk giro, deposito dan tabungan, serta menyalurkan dana dalam bentuk kredit, baik itu kredit jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang kepada masyarakat serta memberikan jasa-jasa lainnya berupa kiriman uang/transfer, inkaso, letter of credit, garansi bank dan lain-lain. Jadi dengan demikian bank berfungsi sebagai agent of trust yang erat kaitannya dengan pelayanan/jasa-jasa yang diberikan baik kepada perorangan maupun kepada kelompok usaha.

2. Jenis Bank

Sesuai dengan UU No.7 tahun 1992, sebagaimana telah diubah dengan UU No.10 tahun 1998 tentang perbankan, berdasarkan jenisnya bank dibedakan menjadi Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), sedangkan berdasarkan prinsip usahanya dibedakan menjadi bank yang menjalankan secara konvensional dan bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah.

(7)

Sesuai implementasi program Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang akan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun 2004 sampai dengan 2010, maka berdasarkan struktur permodalannya bank akan dibedakan menjadi 4 (empat) yaitu :

- Bank Internasional, - Bank Nasional,

- Bank dengan Fokus,

- BPR dan Bank dengan Kegiatan Usaha Terbatas.

Bank Internasional adalah bank yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk beroperasi di wilayah internasional serta memiliki modal diatas Rp 50 triliun. Bank Nasional adalah bank yang sangat luas dan beroperasi secara nasional serta memiliki modal antara Rp 10 triliun sampai dengan Rp 50 triliun. Bank yang kegiatan usahanya terfokus pada segmen usaha tertentu sesuai dengan kapabilitas dan kompetensi masing-masing bank serta memiliki modal antara Rp100 miliar sampai dengan Rp 10 triliun. Jenis bank yang terakhir yaitu Bank Perkreditan Rakyat dan Bank dengan Kegiatan Usaha Terbatas adalah bank yang kegiatan usahanya yang terbatas dan beroperasi di wilayah yang terbatas yang memiliki modal dibawah Rp 100 miliar.

Meskipun dalam Undang-undang Perbankan tidak membedakan bank berdasarkan luas wilayah operasionalnya, namun dalam praktek sesungguhnya dapat dibedakan dan diketahui secara jelas bahwa terdapat beberapa bank umum yang memiliki wilayah operasional secara luas karena telah memiliki jaringan kantor di beberapa daerah/propinsi. Sedangkan beberapa bank umum lainnya (termasuk seluruh BPR) memiliki wilayah operasional yang terbatas karena hanya memiliki jaringan kantor di satu daerah/propinsi. Bank dengan jaringan luas tersebut disebut sebagai “bank nasional” sedangkan bank dengan jaringan terbatas disebut sebagai “bank lokal”.

3. Jenis Usaha Bank Umum

Jenis usaha bank berdasarkan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang disempurnakan dengan UU No. 10 Tahun 1998, menyebutkan bahwa usaha–usaha yang dapat dilakukan oleh bank umum meliputi:

a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.

b. Memberikan kredit

c. Menerbitkan surat pengakuan hutang

d. Membeli, menjual, atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk kepentingan dan

atas perintah nasabahnya:

- Surat-Surat Wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa

belakunya tidak lebih lama dari pada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud.

- Surat Pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak

lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud.

- Kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah.

- Sertifikat Bank Indonesia (SBI) - Obligasi

- Surat dagang berjangka waktu sampai dengan satu tahun

- Surat berharga lainnya yang berjangka waktu sampai dengan satu tahun.

(8)

f. Menempatkan dana atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi, maupun dengan wesel, cek, atau sarana lainnya.

g. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan

dengan atau antar pihak ketiga.

h. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga.

i. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak.

j. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek.

k. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat.

l. Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip syariah/bagi hasil sesuai

dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

m. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak

bertentangan dengan undang-undang dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana di maksud pasal 6, bank umum juga dapat:

a. Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang

ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI).

b. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain dibidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh BI.

c. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan

kredit, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh BI.

d. Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan dalam perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.

4. Sumber dan Penggunaan Dana Bank

Sebagai lembaga intermediasi tugas utama bank adalah menjembatani hubungan antara masyarakat yang mempunyai kelebihan dana atau mempunyai dana tetapi sementara belum akan menggunakannya, dengan masyarakat yang membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai badan usaha, bank melakukan pengelolaan dana-dana yang dimiliki dengan mengoperasikannya dalam bentuk pemberian kredit dan dalam bentuk lainnya dengan mendapatkan jasa/bunga yang lebih tinggi dari jasa/bunga/biaya yang harus dikeluarkannya.

Dana yang dikelola bank selain bersumber dari penghimpunan dana masyarakat juga berasal dari pinjaman pihak lain dan modal sendiri. Menurut Kuncoro (2002) sumber dana bank terdiri dari :

a. Dana Sendiri (dana pihak pertama) adalah dana yang berasal dari para pemegang saham bank atau pemilik, sebagian laba yang disihkan dalam bentuk cadangan modal dan bagian laba yang menjadi milik pemegang saham tetapi telah diputuskan untuk tidak dibagi dan dimasukkan kembali kedalam modal bank (laba ditahan).

b. Dana Pinjaman dari pihak luar bank (dana pihak kedua) yaitu dana yang berasal dari

pihak lain yang memberikan pinjaman kepada bank.

c. Dana masyarakat (dana pihak ketiga) adalah dana–dana yang berasal dari

(9)

menggunakan instrumen produk simpanan yang dimiliki bank, berupa giro, deposito dan tabungan.

5. Penyaluran Kredit / Pembiayaan Pengertian Kredit

Kegiatan perkonomian dewasa ini boleh dikatakan tidak terlepas dari penggunaan fasilitas kredit yang diberikan oleh pihak perbankan. Bantuan modal berupa pinjaman kredit perbankan ini berfungsi sebagai faktor produksi bagi para pengusaha yang digunakan untuk memperlancar maupun untuk mengembangkan usahanya kearah yang lebih maju.

Kredit dalam hal ini berperan sebagai faktor pendorong dan perangsang dalam dunia usaha, baik dalam usaha pengembangan perdagangan, produksi, dan berbagai macam bentuk usaha seperti pertanian, industri, usaha kecil, jasa dan lainnya.

Kata kredit berasal dari bahasa yunani yaitu “credere” yang berarti kepercayaan kepada seseorang dan perusahaan berarti bahwa kreditur percaya kepada debitur (penerima kredit) bahwa suatu saat dimasa yang akan datang, debitur tersebut akan membayar kreditnya atau memenuhi janjinya.. Untuk lebih mengetahui sebenarnya yang dimaksud dengan kredit, berikut akan dikemukakan beberapa pengertian dari pada kredit itu sendiri.

Kent (1996) mengemukakan bahwa kredit adalah :“hak untuk menerima pembayaran atau kewajiban untuk melakukan pembayaran pada waktu diminta atau pada waktu yang akan datang, karena penyerahan barang-barang sekarang”.

Sedangkan menurut Undang-Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998 bahwa “kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat di persamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Dari definisi tersebut jelaslah bahwa persetujuan pinjam meminjam yang dilaksanakan antara bank dengan pihak lain senantiasa tercermin pada kepercayaan. Hal ini berarti yang diberikan kredit benar-benar diyakini dapat mengembalikan pinjaman sesuai dengan waktu dan syarat-syarat yang disepakati.

Unsur-Unsur Kredit

Unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah :

1. Kepercayaan

Kredit diberikan oleh perbankan jika yakin bahwa kredit tersebut baik dalam bentuk uang, barang atau jasa akan benar-benar diterima kembali dalam jangka waktu yang akan datang.

2. Kesepakatan

Disamping unsur kepercayaan, di dalam pemberian fasilitas kredit juga mengandung unsur kesepakatan antara kreditur dan pihak debitur. Kesepakatan itu dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajiban masing-masing yang dituangkan dalam akad kredit.

3. Waktu

Unsur waktu dalam kredit adalah masa antara pemberian dan pengembalian kredit, dimana nilai uang yang sekarang lebih tinggi nilainya dari uang yang akan datang. Makin lama waktunya makin lama peredaran nilai uangnya.

4. Tingkat Resiko

(10)

5. Balas Jasa

Akibat dari pemberian kredit, pihak bank tentu mengharapkan suatu keuntungan dalam jumlah tertentu. Keuntungan atas penyaluran kerdit tersebut dikenal dengan istilah bunga bank.

Fungsi Kredit

Fungsi utama kredit adalah untuk pemenuhan jasa pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat dalam rangka mendorong dan melancarkan kegiatan usaha di berbagai bidang guna meningkatkan taraf hidup.

Fungsi kredit meliputi :

1. Kredit pada hakekatnya dapat meningkatkan daya guna uang.

Dengan adanya kredit dapat meningkatkan dayaguna uang, maksudnya, uang jika hanya disimpan tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit, uang tersebut menjadi berguna menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit.

2. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang.

Dalam hal ini uang diberikan atau disalurkan akan beredar dari suatu wilayah ke wilayah lainnya suatu daerah yang kekurangan uang dengan memperoleh kredit, maka daerah tersebut akan mendapat tambahan uang dari daerah lainnya. 3. Kredit sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi.

Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabilitas karena dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat. Kemudian dapat pula kredit membantu dalam mengekspor barang dari dalam negeri keluar negeri sehingga meningkatkan devisa negara.

4. Kredit dapat meningkatkan kegairahan berusaha

Bagi debitur tentu akan meningkatkan kegairahan berusaha, apalagi bagi debitur yang bermodal pas-pasan.

5. Kredit dapat meningkatkan pemerataan pendapatan

Semakin banyak kredit yang disalurkan oleh bank, maka semakin baik. Terutama dalam hal ini meningkatkan pendapatan. Jika sebuah kredit diberikan untuk membangun pabrik, maka pabrik tersebut tentu akan membutuhkan tenaga kerja, sehingga dapat pula mengurangi pengangguran. Disamping itu bagi masyarakat sekitar pabrik juga akan dapt meningkatkan pendapatannya seperti dengan membuka warung atau menyewakan rumah kontrakan atau jasa lainnya. 6. Kredit sebagai alat untuk meningkatkan hubungan internasional.

Dalam hal pinjaman internasional akan dapat meningkatkan rasa saling membutuhkan antara kreditur dan debitur. Pemberian kredit oleh negara lain akan meningkatkan kerjasama di bidang lainnya, sehingga dapat pula tercipta perdamaian dunia.

Tujuan Kredit

Pemberian kredit di maksudkan untuk memperoleh keuntungan, maka bank hanya boleh meneruskan simpanan masyarakat kepada nasabahnya dalam bentuk kredit, jika bank betul-betul yakin bahwa nasabah yang akan menerima kredit itu akan mampu dan mau mengembalikan pinjamannya pada waktu yang ditentukan. Adapun tujuan pemberian kredit dapat dilihat beberapa segi antara lain :

a) Dilihat dari segi bank (kreditor) maka tujuan kredit adalah :

Frofitability : yakni bagaimana memperoleh keuntungan dari kredit yang

berupa bunga dan provisi kredit. (diperoleh melalui

(11)

Safety : yaitu bertujuan agar fasilitas kredit yang diberikan harus benar-benar terjamin keamanannya sehingga tujuan frofitability dapat benar-benar tercapai tanpa adanya hambatan.

b) Dilihat dari segi nasabah/pengusaha (debitur), maka tujuan kredit adalah :

Productivity : kredit diharapkan dapat meningkatkan produktivitas secara menyeluruh dari masyarakat baik peningkatan produktivitas yang disertai dengan kelancaran peredaran barang kebutuhan masyarakat maupun peningkatan penyerapan jumlah tenaga kerja yakni dengan membuka lapangan kerja baru karena adanya peningkatan perusahaan yang telah berhasil.

Utilty : kredit menghasilkan suatu peningkatan daya guna barang atau uang, sehingga lebih bermanfaat bagi kehidupan.

Sosio Economically : kredit menyebabkan suatu peningkatan sosial ekonomi dalam masyarakat.

Jenis Kredit

Atas dasar tujuan penggunaan dananya oleh debitur, kredit dapat dibedakan menjadi :

a. Kredit Modal Kerja (KMK)

KMK adalah kredit yang digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja nasabah. KMK biasanya berjangka pendek dan disesuaikan dengan jangka waktu perputaran modal kerja nasabah.

b. Kredit Investasi (KI)

Kredit investasi adalah kredit yang digunakan untuk pengadaan barang modal jangka panjang untuk kegiatan usaha debitur. Kredit investasi biasanya berjangka menengah atau panjang, karena nilainya yang relatif besar dan cara pelunasan oleh nasabah melalui angsuran.

c. Kredit Konsumsi (KK)

Kredit konsumsi adalah kredit yang digunakan dalam rangka pengadaan barang atau jasa untuk tujuan konsumsi, dan bukan sebagai barang modal dalam kegiatan usaha nasabah. Kredit jenis ini seringkali juga diberi nama kredit multiguna, yang berarti bisa digunakan untuk berbagai tujuan oleh nasabah.

Jangka Waktu Kredit

Kredit yang dipinjamkan oleh bank (kreditur) mempunyai jangka waktu pelunasannya, kredit itu dapat diklasifikasikan dalam tiga jenis :

1) Kredit Jangka Pendek adalah kredit yang berjangka waktu satu tahun yang disalurkan oleh bank kepada sektor-sektor perdagangan, ekspor, impor, distribusi jasa-jasa dan pada sektor lain.

2) Kredit Jangka Menengah adalah kredit yang berjangka waktu antara satu hingga

tiga tahun yang disalurkan oleh bank kepada sektor-sektor pertanian, pertambangan, perindustrian dan sebagainya.

3) Kredit Jangka Panjang adalah kredit yang disalurkan oleh bank yang berjangka waktu lebih dari tiga tahun, yang disalurkan oleh bank kepada sektor-sektor investasi dan sebagainya.

Jaminan dan Penilaian Kredit

(12)

bank harus dikuasai atau diikat secara yuridis baik berupa akte di bawah tangan maupun akte yang autentik. Kegunaan dari Jaminan kredit adalah:

a. Memberikan hak dan kewajiban kepada bank untuk mendapat pelunasan dari hasl penjualan dari barang-barang jaminan tersebut, apabila nasabah melakukan pelanggaran terhadap perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu tidak mampu membayar kembali hutangnya yang telah ditetapkan dalam perjanjian.

b. Menjamin agar nasabah berperan serta dalam transaksi untuk membiayai usahanya,

sehingga kemungkinan untuk meninggalkan usahanya atau proyeknya dengan merugikan diri sendiri atau perusahaannya dapat dicegah atau sekurang-kurangnya kemungkinan untuk dapat berbuat demikian dapat diperkecil.

Disamping kredit harus mempunyai suatu jaminan, bank juga harus melakukan penilaian terhadap permohonan kredit seseorang atau perusahaan, apakah permohonan kredit yang diajukan memenuhi syarat dan layak untuk dibiayai , oleh sebab itu sebelum memberikan kredit bank harus melakukan penilaian seksama melalui pendekatan 6C, yaitu:

a. Character, yaitu sifat kepribadian atau kebiasaan pemohon kredit dalam berhubungan dengan bank atau relasi usahanya pada umumnya. Sifat tersebut bisa berupa keterbukaan, jujur,bermoral, dan sebagainya. Hal ini dapat terlihat dari Curriculum Vitae (daftar riwayat hidup), bank information, daftar hitam perusahaan, dan sebagainya. Sebagian besar bankir bermufakat bahwa faktor karakter ini merupakan faktor penentu dalam kesuksesan kredit.

b. Capacity, yaitu kemampuan manajemen dalam mengendalikan dan mengelola sumber-sumber produksi seperti tenaga kerja, bahan/barang, dan asset perusahaan untuk memproduksi barang/jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen. Hal ini dapat dideteksi melalui tingkatan pendidikan, pengalaman, kesehatan, umur, data financial, dan lain-lain.

c. Capital, yaitu berkaitan dengan kemampuan menyediakan modal yang cukup dalam membiayai usahanya, modal yang besar akan memperbesar pula rasa tanggungjawabnya. Dimana hal ini merupakan benteng perusahaan dalam menghadapi goncangan.

d. Collateral, yaitu harta kekayaan yang tersedia sebagai jaminan dari kredit yang akan diambil. Apabila suatu saat ternyata si peminjam (debitur) tidak mampu menyelesaikan kreditnya maka jaminan tersebut akan diambilalih/dilelang oleh kreditur setelah pengadilan memberikan pengesahan. Dengan demikian jaminan memberikan dua fungsi yaitu untuk faktor penentu dalam pemberian dalam pemberian kredit dan factor pengaman atas kredit yang diberikan.

e. Condition of economy (Kondisi ekonomi) yaitu sangat perlu diperhatikan dalam menyalurkan kredit, yaitu dengan memperhatikan keadaan perekonomian pada umumnya, dan sifat faktor usaha yang dipengaruhi oleh faktor ekstern yaitu perkembangan ekonomi, moneter perbankan, perkembangan teknologi dan lain-lain. f. Constraint, yaitu faktor penghambat atau rintangan berupa faktor-faktor social

psikologis yang ada pada suatu daerah tertentu yang menyebabkan suatu proyek tidak dapat dilaksanakan, misalnya pendirian suatu pabrik farmasi yang akan memproduksi obat-obatan antibiotika dan vitamin tetapi merencanakan pula untuk mengelola ganja dan ecstasy , rasanya sulit untuk diberikan izin oleh instansi yang berwewenang.

6. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Definisi UMKM

(13)

dan aspek besarnya aset yang dimiliki. Di dalam UU No.9 tahun 1995 ditetapkan bahwa usaha kecil adalah suatu unit usaha yang memiliki aset netto (tidak termasuk tanah dan bangunan) yang tidak melebihi Rp.200 juta, atau penjualan pertahun tidak lebih dari satu miliar rupiah. Sedangkan dalam Inpres No. 10 tahun 1999 disebutkan bahwa usaha menengah adalah suatu unit usaha yang memiliki nilai aset netto (tidak termasuk tanah dan bangunan) antara Rp.200 juta hingga sepuluh miliar rupiah. Kemudian menurut BPS (1998), industri kecil adalah unit usaha dengan jumlah pekerja paling sedikit lima orang dan paling banyak sembilan belas orang termasuk pengusaha. Industri menengah dan besar adalah unit usaha yang mengerjakan lebih dari dua puluh orang pekerja. Berdasarkan undang-undang no.9 tahun 1995 tentang usaha kecil dan BPS di atas dapat diketahui kriteria dari Usaha Kecil yaitu :

1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak satu miliar rupiah. 3. Milik warga negara Indonesia.

4. Mempekerjakan tenaga kerja paling sedikit sembilan orang dan paling banyak 19 orang termasuk pengusaha.

5. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafilisai baik langsing maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar.

6. Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau

badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

Sementara berdasarkan Inpres no. 10 tahun 1999 tentang usaha menengah dan BPS dapat diketahu kriteria dari usaha menengah yaitu sebagai berikut :

1. Memiliki kekayaan bersih lebih besar dari 200 juta rupiah dan paling banyak 10 miliar rupiah, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2. Milik warga negara indonesia

3. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari satu miliar rupiah tetapi kurang dari 50 miliar rupiah.

4. mempekerjakan tenaga kerja lebih dari dua puluh orang.

5. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafilisai baik langsing maupun tidak langsung dengan usaha besar.

6. berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau

badan usaha yang berbadan hukum.

Karateristik Umum Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia

Karateristik umum usaha kecil dan menengah di Indonesia adalah sama dengan kondisi UKM pada negara-negara berkembang. Karateristik yang dimiliki dapat menjadi kekuatan dan kelemahan dalam perkembangannya atau sebagai dasar kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam memberdayakan UKM. Kombinasi dari kekuatan dan kelemahan dari uaha kecil dan menengah dikemukakan oleh Tambunan (2002) dalam Tabel 1.2.

Kombinasi antara kekuatan dan kelemahan tersebut sangat menentukan kemampuan UKM dalam menghadapi tantangan yang ada. Dalam perkembangannya saat ini menurut Tambunan (2002) UKM dihadapkan pada tantangan dalam aspek :

1. Perkembangan teknologi yang pesat.

(14)

dihasilkan. Kemudian dari sisi permintaan, perubahan teknologi menyebabkan pola permintaan berbeda dari perusahaan dan masyarakat.

Tabel 1.2.

Analisis Kekuatan dan Kelemahan UKM

Faktor-faktor Kekuatan Kelemahan

• Melayani segmen pasar bawah yang tinggi permintaan

• Kualitas SDM utamanya pendidikan formal rendah

• Kemampuan melihat peluang bisnis terbatas

• Produktivitas rendah

• Etos kerja dan disiplin kerja rendah

• Penggunaan tenaga kerja cenderung eksploitatif dengan tujuan untuk

• Nilai tambah yang diperoleh rendah

karena akumulasi yang lambat bahkan sulit terjadi

• Manajemen keuangan yang kurang

bagus

Sumber : Tambunan (2002)

2. Persaingan bebas dengan intensitas yang tinggi dari negara-negara lain

Persaingan bebas menyebabkan perubahan dalam selera masyarakat khususnya jika pendapatan masyarakat semakin meningkat. Persaingan bebas juga memberikan banyak pilihan kepada masyarakat dalam menentukan produk-produk yang mana yang lebih memberikan kepuasan dari segi kualitas atau harga yang lebih murah. Dengan demikian produk nasional bersaing ketat dengan produk impor.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui karateristik umum usaha kecil-menengah (UKM) yaitu :

1. Struktur oraganisasi yang sangat sederhana 2. Tidak memiliki staf yang berlebihan

3. Pembagian kerja yang kurang teratur 4. Memiliki hirarki manajerial yang pendek

5. Kurang dalam aktivitas formal dan proses perencanaan

6. Kurang dapat membedakan aset pribadi dari aset perusahaan.

7. Pengelompokan Usaha Kecil Menengah (UKM)

Pengelompokan dari Usaha Kecil Menengah (UKM) pada suatu negara mempunyai tujuan strategis yang dikaitkan dengan standar-standar kuantitatif tertentu serta seberapa jauh dapat dimasukkan dalam skala usaha. Tujuan pengelompokan usaha terdiri dari empat tujuan yaitu :

(15)

Analisis ilmiah khususnya ilmu ekonomi membahas kaidah-kaidah dan hukum-hukum ekonomi yang dikaitkan dengan pengelompokan usaha baik secara mikro maupun makro sehingga menjadi masukan untuk memperoleh kondisi bisnis/perusahaan secara nasional untuk dianalisis dalam menentukan kebijaksanaan dan solusi.

2. Untuk keperluan penentuan kebijakan-kebijkan pemerintah

Dalam hubungannya dengan pemerintah pengeompokan bisnis diperlukan untuk mengetahui gambaran sistematis tentang kondisi dan kegiatan usaha secara nasional. Sistem pendataan yang dipakai berdasarkan pengelompokan berdasarkan International Standard Industrial Classification (ISIC) sehingga menjadi bahan acuan dlam menetapkan kebijakan-kebijakan pemerintah/ lembaga pemerintah yang berkompeten.

3. Untuk meyakinkan pemilik modal atau pengusaha tentang posisi perusahaanya

Dalam kaitannya dengan posisi perusahaan tertentu pemilik modal dapat menilai seberapa besar luas kegiatan bisnisnya dibandingkan dengan pesaing lainnya.

4. Untuk pertimbangan badan tertentu yang berkaitan dengan antisipasi kinerja perusahaan

Bank-bank atau institusi investasi memerlukan data umum dengan menggunakan data statistik kelompok usaha/industri untuk bahan evaluasi terhadap calon nasabah untuk

pemberian kredit/investasi serta rencana perluasan kegiatan usaha dapat

dipertanggungjawabkan dari pemberian kredit perbankan dan peranannya terhadap jenis usaha bersangkutan.

Kemudian Usaha Kecil-Menengah (UKM) dapat di kelompokkan ke dalam empat bagian yaitu :

1. Livelihood Activities

Usaha Kecil-Menengah (UKM) yang masuk kategori ini pada umumnya bertujuan mencari kesempatan kerja untuk mencari nafkah. Para pelaku kelompok ini tidak memiliki jiwa kewirausahaan dan disebut sebagai sektor informal.

2. Micro Enterprise

Usaha Kecil-Menengah (UKM) yang masuk kategori ini bersifat pengrajin dan tidak bersifat kewirausahaan

3. Small Dynamic Enterprises

Usaha Kecil-Menengah (UKM) yang masuk kategori ini cukup memiliki jiwa kewirausahaan dan banyak pengusaha skala menengah dan besar berasal dari kategori ini. Jumlah usaha yang masuk kategori ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah kedua kategori diatas namun sudah bisa menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor. 4. Fast Moving Enterprises

Usaha yang masuk dlam kriteria ini merupakan kriteria usaha menengah yang memiliki jiwa kewirausahan dan menghasilkan perusahaan yang akan menjadi perusahaan besar.

Permasalahan Utama Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) di Indonesia

(16)

negara-negara tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan perkembangan Usaha Kecil Menengah di negara maju.

Permasalahan internal yang dihadapi oleh pengusaha kecil dan menengah terdiri dari lima permasalahan utama yaitu keterbatasan finansial, kekurangan sumber daya manusia dengan kualitas yang baik, kesulitan mendapatkan bahan baku, keterbatasan teknologi, dan kesulitan dalam pemasaran yang dikelompokkan berdasarkan masalah sebelum investasi, masalah dalam pengenalan usaha dan masalah dalam peningkatan usaha. Kemudian menurut Tambunan (2002) terdapat dua masalah eksternal yang dianggap paling serius oleh pengusaha kecil dan menengah yaitu keterbatasan akses ke bank dan distorsi pasar (output maupun input) yang disebabkan oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan atau peraturan-peraturan, sistem perijinan dari pemerintah yang menghambat dan tidak kondusif, baik yang disengaja maupun tidak disengaja lebih menguntungkan pengusaha besar termasuk investor asing. Banyaknya perizinan yang dibutuhkan dan lisensi yang dikeluarkan; tumpang tindihnya pelaksanaan dilapangan; tidak jelasnya arah dan tujuan atau kurang transparanya proses perijinan; dan banyaknya praktek-praktek korupsi dilapangan membuat perusahaan harus mengeluarkan biaya-biaya tambahan untuk mempermudah proses perijinan kepada aparat terkait. Kemudian dasar hukum dari beberapa persayaratan perijinan yang tidak jelas menyebabkan rumitnya sistem perijinan dan berdampak pada biaya tinggi bagi perusahaan mikro, kecil dan menengah (UMKM) sehingga diperkirakan biaya tidak resmi yang harus dikeluarkan untuk mempercepat proses perijinan mencapai 30 persen dari pendapatan kotor pada perusahaan berskala kecil.

Permasalahan tersebut diatas akan semakin berat jika Usaha Mikro, Kecil Menengah (UMKM) melayani pasar terbuka atau ekspor karena akan berhadapan dengan produk-produk serupa dari pengusaha-pengusaha besar yang lebih kuat maupun dari persaingan barang-barang impor. Pengusaha kecil dan menengah indonesia juga harus bersaing dengan skala usaha yang sama di luar negeri yang lebih maju atau mendapat perhatian penuh dari pemerintahnya. Berdasarkan uraian diatas dapat dijelaskan masalah-masalah utama sebagai berikut:

1. Masalah finansial

Masalah utama yang dihadapi adalah penggunaan modal awal dan akses ke modal kerja serta kondisi finansial jangka panjang untuk investasi dan pertumbuhan output jangka panjang. Modal awal yang digunakan pada umumnya bersumber dari tabungan sendiri atau dari sumber-sumber informal tidak mencukupi untuk kegiatan produksi dan untuk perluasan kapasitas produksi atau menggantikan mesin-mesin tua sehingga kebutuhan tambahan dana adalah melalui dana dari perbankan. Namun untuk mendapatkan kredit dari bank sangat rumit dan susah yang disebabkan oleh lokasi bank yang terlalu jauh bagi pengusaha yang tinggal di daerah yang relatif terisolasi, persyaratan yang dipenuhi terlalu berat dalam memperoleh kredit dan urusan administrasi yang sangat panjang dan lama, serta informasi mengenai program-program kredit dan prosedurnya. Persyaratan dan jaminan tersebut masih dilakukan perbankan oleh karena kekhawatiran munculnya masalah (non-performing) yang berdampak langsung bagi perbankan itu sendiri.

2. Keterbatasan sumber daya manusia

(17)

2.2. PENELITIAN SEBELUMNYA

Menurut Todaro (1995) tingkat produktivitas rata-rata tenaga kerja di sektor pertanian di Amerika Utara hampir 35 kali lipat dibandingkan dengan gabungan produktivitas tenaga kerja di Asia dan Afrika. Keterbatasan sumber daya manusia merupakan salah satu masalah serius usaha kecil menengah indonesia untuk bersaing di pasar domestik maupun internasional didalam perdagangan bebas khususnya antar negara ASEAN.

3. Masalah bahan baku

Keterbatasan bahan baku baik dari segi harga berdampak langsung pada kelangsungan produksi terutama bagi usaha dibidang industri manufaktur yang sebagian besar menggunakan bahan baku impor sehingga jika terjadi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS harganya akan semakin mahal sehingga menyebabkan kesulitan untuk memperolehnya atau mengalami produksi berhenti. Dari segi kualitas dan kuantitas bahan baku di indonesia masih sangat kurang oleh karena teknik produksi bahan baku tersebut tertinggal jauh dari negara-negara maju serta sebagian besar bahan baku yang memiliki kualitas bagus diekspor keluar negeri daripada dijual didalam negeri.

4. Keterbatasan teknologi

Usaha kecil menengah di indonesia umumnya masih menggunakan mesin-mesin lama atau tradisional dalam bentuk mesin-mesin yang bersifat mekanis atau alat-alat produksi manual. Keterbelakangan teknologi tersebut berdampak pada rendahnya produktivitas dan efisiensi didalam proses produksi serta rendahnya mutu output yang dihasilkan. Didalam persaingan bebas meskipun indonesia memiliki ketersediaan bahan baku yang melimpah dan upah tenaga kerja yang murah, hal tesebut tidak ada artinya dimasa datang jika pemilikan dan penguasaan teknologi modern yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan inovasi kurang mendapatkan perhatian.

5. Kesulitan pemasaran

Masalah-masalah yang dihadapi dalam pemasaran umumnya adalah tekanan-tekanan persaingan dari produk impor, kegiatan promosi yang kurang dan rendahnya kualitas produk yang dihasilkan. Keterbatasan transportasi baik dari segi ongkos angkut, harga bahan bakar, dan jumlah kendaraan angkut juga berpengaruh besar. Jika ongkos tansportasi merupakan faktor yang besar dalam ongkos produksi seluruhnya dan relatif lebih besar dari nilai harga barang yang dihasilkan, maka ongkos transportasi tersebut menjadi faktor penentu dalam pemilihan lokasi usaha.

8. Pola Kemitraan

Pola kemitraan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu : pola keterkaitan langsung dan keterkaitan tidak langsung. Pola keterkaitan langsung meliputi :

Pertama, Pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat), dimana Bapak Angkat sebagai inti sedangkan petani sebagai plasma,

Kedua, Pola Dagang, di mana bapak angkat bertindak sebagai pemasar produk yang di hasilkan oleh mitra usahanya.

Ketiga, Pola vendor, di mana produk yang dihasilkan oleh anak angkat tidak memiliki hubungan kaitan ke depan maupun ke belakang dengan produk yang dihasilkan oleh bapak angkatnya.

Pola keterkaitan tidak langsung merupakan pola pembinaan murni. Dalam pola ini tidak ada hubungan bisnis langsung antara ”Bapak Angkat” dengan mitra usaha. Pola ini lebih tepat dilakukan oleh perguruan tinggi, meliputi kegiatan-kegiatan antara lain : pelatihan pengusaha kecil, pelatihan calon konsultan pengusaha kecil, konsultasi bisnis, monitoring usaha, temu usaha, dan lain lain.

(18)

2.3. KERANGKA PIKIR

perkembangan sektor keuangan. Beck (2000) mengemukakan bahwa perkembangan sektor keuangan dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Mereka mengemukakan bahwa dengan meningkatnya tabungan (savings), maka akan semakin mendorong sektor keuangan untuk meningkatkan akumulasi modal. Akumulasi modal ber orelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi terutama apabila kegiatan pembiayaan oleh sektor keuangan difokuskan kepada kegiatan-kegiatan ekonomi yang bersifat produktif (sektor riil).

Sementara itu penelitian sebelumnya Bernanke (1983) menegaskan bahwa perbankan memberikan peran yang sangat signifikan terhadap terjadinya fluktuasi dalam perekonomian. Peran ini tercipta sebagai dampak dari kemungkinan banyaknya perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada perbankan, dimana perusahaan-perusahaan-perusahaan-perusahaan tersebut tidak bisa mendapatkan pembiayaan selain pembiayaan yang didapatkannya dari perbankan. Ketergantungan terhadap pembiayaan perbankan ini antara lain memiliki 3 (tiga) konsekuensi penting. Pertama, transmisi moneter dapat terjadi baik melalui lending channel maupun interest-rate channel. Kedua, terjadinya permasalahan di industri perbankan dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketiga, tindakan pengaturan terhadap kinerja perbankan merupakan salah satu sumber dari shock yang dihasilkan oleh kebijakan moneter.

Dalam membiayai pembangunan ekonomi perbankan memiliki posisi strategis, hal tersebut diperkuat oleh pendapat, Stiglitz (2003) menyatakan bahwa salah satu penyebab perbankan memiliki peran yang dominan dalam pembiayaan pembangunan ekonomi adalah karena superioritas dari lembaga ini dibandingkan dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya dalam beradaptasi dengan asymmetric information serta biaya operasional yang tinggi dalam kegiatannya sebagai lembaga intermediasi.

Kasus untuk Indonesia, perbankan bukan hanya memiliki peran yang dominan tetapi telah menjadi elemen sumber pembiayaan yang sangat strategis. Perbankan, di negara-negara berkembang lainnya, tidak hanya berperan sebagai sumber pembiayaan kepada perusahaan-perusahaan dengan skala kecil, menengah maupun besar namun turut berperan pula dalam menentukan business cycle dari perekonomian secara keseluruhan.

Adapun kerangka pikir penelitian ini, dimulai dengan penjelasan tentang proses intermediasi bank, di mana bank menerima dana yang berasal dari pihak ketiga (DPK) kemudian menyalurkan kembali dana tersebut dalam bentuk kredit. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya kesenjangan (gap) antara keinginan pihak pengusaha (debitur) untuk memperoleh fasilitas kredit dengan keinginan pihak perbankan (kreditur) dalam menyalurkan kreditnya.

Seperti yang dikemukakan di atas bahwa fungsi lembaga keuangan adalah sebagai perantara keuangan yang menghubungkan unit surplus (yang mengalami kelebihan likuiditas) dengan unit defisit (yang mengalami kekurangan likuiditas). Posisi yang berbeda antara pemberi pinjaman dan peminjam menyebabkan informasi yang dimiliki masing-masing pihak juga tidak sama (asymmetric information), pihak pemberi pinjaman kurang memiliki informasi tentang kondisi penggunaan dana oleh peminjam. Implikasi dari informasi asimetris tersebut akan menyebabkan terjadinya moral hazard, yaitu risiko penyampaian informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman dengan tujuan mendapatkan manfaat keuangan, ini adalah masalah riil yang terjadi dalam hubungan antara peminjam dan pemberi pinjaman.

(19)

dapat berimplikasi terhadap perilaku unit usaha dan masyarakat dalam mendorong/menghambat pengambilan serta pengembalian kredit

Perilaku pengusaha (debitur) dapat mengakibatkan fungsi intermediasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Perilaku unit usaha dalam berinteraksi dengan perbankan di atas secara intern dapat dipengaruhi oleh karakteristik unit usaha. Dengan kata lain perbedaan karakter unit usaha akan berdampak pada perbedaan perilaku unit usaha dalam menanggapi kebijakan kredit perbankan. Hal ini dapat dijelaskan pada gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian

KEBIJAKAN

MONETER

ISU INTERMEDIASI:

• Permohonan Kredit

• Persetujuan Kredit

• Pengembalian Kredit

BANK

KOMERSIAL

UNIT USAHA

PERILAKU UNIT

USAHA

• Permohonan Kredit • Persetujuan Kredit • Pengembalian Kredit

ANALISIS FAKTOR

PENDORONG DAN

PENGHAMBAT

HASIL ANALISIS DAN

REKOMENDASI

(20)

3.3. WAKTU PENELITIAN

3.4. POPULASI DAN SAMPEL

3.1. JENIS DAN SUMBER DATA

3.2. LOKASI PENELITIAN

BAB III

DATA DAN METODE PENELITIAN

Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner (daftar pertanyaan) meliputi: karakteristik unit usaha (status usaha, tenaga kerja, dan permodalan) dan identitas pengusaha baik yang mengambil kredit maupun yang tidak mengambil kredit. Sedangkan data sekunder meliputi : data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), struktur ekonomi, tenaga kerja menurut lapangan usaha dan data perbankan.

Adapun data perbankan yang digunakan dalam penulisan ini meliputi: rasio kredit terhadap DPK/LDR (menurut sektor dan skala usaha) dan data kredit (outstanding/executing) berdasarkan jenis penggunaannya (kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi). Data kredit yang dimaksud meliputi kredit berdasarkan lokasi bank yang berkantor di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) dan kredit berdasarkan lokasi proyek, artinya di samping kredit tersebut merupakan kredit yang disalurkan oleh perbankan di Sulselbar, juga kredit yang disalurkan oleh kantor pusat bank atau kantor cabang bank di luar Sulsel bagi kegiatan usaha di wilayah Sulselbar.

Daerah penelitian adalah Propinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Propinsi Sulawesi Selatan terdiri dari 23 kabupaten/kota dengan ibukota propinsi Kota Makasssar. Adapun Propinsi Sulawesi Barat terdiri dari 5 kabupaten dengan ibukota propinsi Kabupaten Mamuju.

Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan April 2007 sampai dengan Juni 2007.

Populasi

Penelitian ini dilakukan di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dengan memilih sampel daerah dari beberapa kabupaten/kota yang dapat mewakili karakteristik sosial, ekonomi, budaya dan geografis yang ada di Sulsel dan Sulbar. Populasi penelitian adalah pengusaha mikro, kecil dan menengah baik yang mengambil kredit perbankan maupun yang tidak mengambil kredit. Pertimbangan dipilihnya unit usaha UMKM sebagai populasi penelitian adalah mengingat skala usaha UMKM perlu mendapat perhatian khusus oleh perbankan dalam rangka menurunkan angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan. Adapun unit analisis dalam penelitian ini adalah unit usaha.

(21)

Pada kabupaten/kota yang terpilih sebagai wilayah penelitian akan dipilih sampel dengan metode aksidental sampling dengan total responden sebanyak 400 unit usaha. Metode ini digunakan dengan pertimbangan karakteristik populasi relatif homogen berdasarkan masing-masing skala usaha. Sampel ditentukan berdasarkan siapa saja kebetulan bertemu dengan peneliti dan memenuhi kriteria sebagai populasi penelitian dapat dijadikan sebagai sampel penelitian (Sugiyono, 2001). Kriteria yang diperhatikan dalam pemilihan sampel adalah karakteristik unit usaha berdasarkan skala uasaha (UMKM) di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Penentuan daerah kabupaten/kota sebagai wilayah penelitian didasarkan pada pendekatan sosio-kultural, yakni kabupaten Takalar mewakili suku Makassar, Wajo mewakili suku Bugis, Tana Toraja mewakili suku Toraja, kabupaten Mamuju mewakili suku Mandar, sedangkan kota Makassar mewakili suku-suku lainnya di Sulsel dan Sulbar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Sampel Penelitian

Propinsi KABUPATEN/KOTA Unit Usaha JUMLAH

Mikro Kecil Menengah

Sulsel Makassar 40 30 30 100

Takalar 40 25 10 75

Wajo 40 25 10 75

Tana Toraja 40 25 10 75

Sulbar Mamuju 40 25 10 75

Total 200 130 70 400

Sumber : Data diolah

3.5.1. Metode Analisis

Berdasarkan model kerangka pikir tersebut di atas, maka penelitian ini menggunakan indikator perilaku pengambilan dan pengembalian kredit serta faktor pendorong dan penghambat pengambilan serta pengembalian kredit.

A. Indikator Perilaku

1. Perilaku dalam permohonan kredit,

2. Perilaku dalam persetujuan kredit,

3. Perilaku dalam pengambilan kredit, dan

4. Perilaku dalam pengembalian kredit.

Kempat Indikator perilaku unit usaha tersebut di atas, secara teoretis berhubungan dengan beberapa variabel (karakteristik unit uasaha), masing-masing yaitu:

a. Skala usaha,

b. Izin usaha,

c. Manajemen usaha

d. Bidang Usaha

e. Kemitraan.

B. Indikator Faktor Pendorong dan Penghambat

(22)

B.1. Faktor Pendorong (Motivasi) Pengambilan Kredit

1. Untuk mendirikan usaha

2. Untuk mengembangkan usaha lama

3. Untuk ekspansi usaha

B.2. Faktor Penghambat Pengambilan Kredit

1. Cicilan kredit (pokok + bunga)

2. Nilai Kredit

3. Nilai Agunan

4. Jangka Waktu Kredit

5. Prosedur/persyaratan kredit

6. Lokasi (akses) bank penyedia kredit

7. Lainnya.

Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik unit usaha dengan perilaku pengambilan kredit perbankan pada masyarakat di Sulselbar, maka penelitian ini menggunakan analisis cross tabulation (Chi Square):

dimana:

2

h

χ

= Chi-Kuadrat

Oij = Frekuensi yang diobservasi

Eij = Frekuensi yang diharapkan

Hipotesis:

H0 : Tidak ada perbedaan (hubungan) antara karakteristik usaha masing-masing : skala

usaha, izin usaha, manajemen usaha dan bidang usaha dengan masing-masing

perilaku unit usaha : status permohonan, persetujuan, pengambilan, dan

pengembalian kredit.

H1 : Ada perbedaan atau hubungan.

3.5.2. Definisi Operasional

1. Permohonan kredit adalah proses pengajuan kredit oleh calon debitur kepada

perbankan. Pada proses ini akan diukur dengan dua kategori, yakni unit usaha yang bermohon kredit perbankan dengan yang tidak bermohon.

2. Persetujuan kredit adalah proses pengambilan keputusan oleh perbankan terhadap permohonan kredit dari calon debitur. Pada proses ini akan diukur dengan dua kategori, yakni unit usaha yang disetujui dengan yang tidak disetujui atas permohonan kredit yang diajukan.

(23)

4. Pengembalian kredit adalah proses pembayaran angsuran pokok dan bunga kredit yang telah ditarik oleh debitur. Pada proses ini akan diukur dengan dua kategori, yakni unit usaha yang mengembalikan pinjaman kredit tepat waktu (sebelum jatuh tempo) dengan yang tidak tepat waktu.

5. Skala usaha adalah ukuran besarnya usaha dari calon dan debitur yang diukur dengan nilai omzet per tahun, sehingga didapatkan tiga klasifikasi skala usaha yaitu usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah.

6. Izin usaha adalah status badan usaha debitur/calon debitur dari aspek legalitas formal sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Calon debitur/debitur yang menjadi obyek penelitian dibagi dua kategori, yatu badan usaha yang merupakan badan hukum dan badan usaha yang belum berbadan hukum.

7. Manajemen usaha adalah kepemilikan dan pengelolaan usaha. Calon debitur/debitur yang menjadi obyek penelitian dibagi empat kategori, yakni unit usaha yang dikelola seluruhnya oleh keluarga, sebagian besar keluarga, sebagian kecil, dan semuanya bukan keluarga.

8. Bidang Usaha adalah sektor usaha dari debitur/calon debitur, diukur dengan tiga kategori

yakni sektor pertanian, pertambangan, industri pengolahan, perdagangan,

pengangkutan, lembaga keuangan dan real estate dan bidang jasa.

9. Kemitraan adalah bentuk kerjasama antara debitur/calon debitur dengan pihak lain dalam mendapatkan modal usaha, diukur dengan dua kategori yakni unit usaha yang bermitra dan yang tidak bermitra.

10. Keluarga adalah hubungan keluarga antara pemilik usaha dengan tenaga kerja yang digunakan pada unit usaha yang diamati, terdiri dari keluarga inti, adik kandung, adik ipar, adik sepupu isteri) dan orang tua/ mertua serta kemanakan langsung (suami-istri).

Responden dalam penelitian ini adalah pemilik usaha (pengusaha) atau manajer usaha yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dipilihnya manajer atau pemilik usaha sebagai responden (informan) dalam penelitian ini sebab keduanya dianggap memiliki informasi yang cukup lengkap dan akurat tentang karakteristik dan prilaku unit usaha yang dikelola atau yang dimiliki. Karakteristik responden meliputi jenis kelamin, suku, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, dan status debitur. Jumlah responden yang diteliti pada penelitian ini adalah sebanyak 400 orang.

3.6.1. Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah laki-laki yaitu sebesar 68% atau 272 orang, sedangkan sisanya adalah perempuan yaitu sebanyak 128 orang atau 32%. Hal ini dapat di lihat pada gambar 3.1. di bawah ini.

(24)

34.5

37.75 27.75

68% 32%

84% 14%

0% 1%

1%

Gambar 3.1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber: Data primer (diolah)

3.6.2. Suku

Sementara itu jika dilihat karakteristik suku, sebagian besar responden adalah Suku Bugis dengan jumlah 334 orang atau 83,5%. Selanjutnya, Suku Makassar menempati urutan ke dua sebanyak 57 orang atau 14,25%, dan lainnya termasuk Suku Mandar, Toraja, dan etnis Tionghoa sebanyak 9 orang dari 400 orang jumlah responden atau hanya 2,25%.

Gambar 3.2. Distribusi Responden Berdasarkan Suku

Sumber: Data primer (diolah)

3.6.3. Umur

Analisis responden berdasarkan kelompok umur bertujuan untuk membedakan apakah responden (manajer atau pemilik usaha) berada pada kelompok umur muda atau tua. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, sebagian besar responden berada pada usia muda dan relatif tua, masing-masing (34.5%) dan (37,75 %) dari total responden dari 400 orang responden yang diteliti. Selebihnya (27,75%) atau 111 orang dari total responden usia tua (51-65) tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.3.

Gambar 3.3. Distribusi Responden Berdasarkan Umur (Persentase)

Sumber: Data primer (diolah)

21-35 Tahun 51-65 Tahun

36-50 Tahun

Laki-laki Perempuan

Bugis Toraja

Mandar

Makassar

(25)

83.5 14.25

1.25 0.75

0.25

34%

56% 10% 3.6.4. Agama

Sesuai karakterisitik daerahnya, sebagian besar responden beragama Islam dengan jumlah responden sebanyak 334 orang atau 83,5%. Kemudian diikuti oleh Agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha dengan masing-masing responden sebesar 14,25%, 1,25%, 0,75% dan 0,25% (Gambar 3.4.).

Gambar 3.4. Distribusi Responden Berdasarkan Agama

Sumber: Data primer (diolah)

3.6.5. Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikan terakhirnya, sebagian besar responden adalah lulusan SMA dan D3 yaitu sebesar 56,75% atau 227 orang, sedangkan yang paling kecil adalah responden dengan tingkat pendidikan S1 dan S2 sebesar 9,75% atau 39 orang. Sementara yang berpendidikan SLTP sebesar 134 orang atau 33,50%. Kondisi ini sangat mendukung proses penelitian karena dengan dominannya responden yang berpendidikan akan mempermudah proses pengambilan data. Gambaran distribusi responden menurut pendidikan dapat dilihat pada gambar 3.5.

Gambar 3.5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber: Data primer (diolah)

3.6.6. Pekerjaan

Responden dalam penelitian ini juga diklasifikasikan berdasarkan pekerjaan utamanya. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi apakah seluruh pengusaha mikro, kecil dan menengah merupakan pengusaha murni yang menggantungkan hidupnya dari usaha yang digelutinya atau hanya sebagai pekerjaan tambahan. Berdasarkan hasil penelitian, ternyata terdapat 46 orang atau 11,5% dari responden UMKM tidak berprofesi utama (pekerjaan utama) sebagai pengusaha. Sementara yang berprofesi utama sebagai pengusaha tercatat sebesar 354 orang atau 88,5%. Artinya bahwa pengeloaan dan pengembangan usaha yang dilakukan oleh pengusaha yang bukan merupakan profesi utama (core activity)

Islam Hindu Katolik Budha

Protestan

SMA – D3

(26)

88% 12%

48%

17% 22%

13%

akan berbeda dengan pengusaha yang menjadikan usahanya sebagai core activity.

Dampaknya terhadap pertumbuhan usaha UMKM. Di sisi lain motivasi dalam menjalankan usaha akan berbeda secara signifikan di antara keduanya.

Gambar. 3.6. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Selain Pengusaha

Sumber: Data primer (diolah)

Jika ditelusuri lebih jauh, dari 46 orang responden UMKM yang juga memiliki pekerjaan lain tersebut, sebagian besar profesi utamanya adalah PNS, yaitu sebanyak 22 orang atau sebesar 47,83%. Kemudian diikuti oleh responden yang berprofesi sebagai petani/nelayan sebanyak 10 orang atau sebesar 21,74%, dan lainnya sebesar 13,04% atau 6 orang (gambar 3.7.).

Gambar 3.7. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan

Sumber: Data primer (diolah)

BUKAN

YA

PNS LAINNYA

PETANI/ NELAYAN

(27)

BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Sebagaimana telah diuraikan dalam Bab III, responden unit usaha yang menjadi obyek penelitian adalah UMKM dengan perbandingan 50% merupakan usaha mikro, 32,50% usaha kecil dan 17,50% adalah usaha menengah. Sebagian besar dari UMKM yang menjadi responden tersebut menggeluti usahanya kurang dari 13 tahun (77,25%), sedangkan yang lama usahanya antara 13 sampai 24 tahun dan antara 25 sampai 36 tahun masing-masing sebanyak 18,25% dan 4,5%.

Dari sisi aspek legalitas, sebagian besar responden UMKM di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat kurang memperhatikan aspek legalitas. UMKM yang memiliki surat izin dan persyaratan administrasi dari instansi terkait hanya 11,75%, selebihnya menyatakan tidak memilikinya (88,25%). Beberapa penelitian sebelumnya mendukung informasi ini. Faktor yang menjadi penghambat UMKM untuk memiliki surat izin usaha adalah birokrasi dan biaya pengurusan (Alim Bahri, 1999, & 2003).

Dari pengusaha yang sudah mempunyai izin usaha tersebut di atas, sebagian besar badan usahanya berbentuk CV (42,55%), kemudian UD (31,91%), PT (17,02%) dan sisanya adalah koperasi dan lainnya (8,51%). Adapun surat izin dan persyaratan administrasi yang dimiliki oleh UMKM sudah memperhatikan aspek legalitas tersebut adalah Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Tanda Daftar Industri (TDI), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Surat izin Tempat Usaha (SITU) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Secara teoritis diketahui bahwa asset usaha terdiri dari dua jenis, yaitu asset dalam bentuk aktiva yang dimiliki oleh perusahaan dan asset dalam bentuk manajemen dan sumberdaya manusia (Kasmir,1998 & Cusway, 2000). Kedua jenis asset tersebut merupakan modal dasar yang sangat berharga bagi keberhasilan usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Berdasarkan pengamatan terhadap responden UMKM, sebagian besar manajemen perusahaan dikelola oleh keluarga (72,00 %), selebihnya (28,00 %) yang dikelola secara profesional. Sementara dari sisi ketenagakerjaan, sebagian besar (72,0 %) dari total responden menyatakan bahwa lebih dari separuh tenaga kerjanya adalah pihak keluarga. Selanjutnya 17,5 % menyatakan menggunakan tenaga kerja dari keluarga sendiri hanya sebagian kecil. Sementara yang sudah merekrut tenaga kerja dari luar (tidak menggunakan keluarga sendiri) hanya 10,5 % dari total responden.

Jika dilihat dari sektor usahanya, sebagian besar UMKM bergerak di sektor perdagangan (67,75%), kemudian sektor jasa (angkutan, pergudangan, komunikasi, lembaga keuangan, persewaan dan jasa lainnya) sebesar 13,75%. Selanjutnya sektor pertanian dan pertambangan (9,5%) dan sektor industri (9,00%). Dari aspek kemitraan, hanya sebagian kecil UMKM yang telah melakukan kemitraan dengan pengusaha besar, yakni sebanyak 8,5% dari total responden. Sementara itu sebagian besar menyatakan tidak melakukan kemitraan dengan pihak lain, terutama pengusaha besar. (lihat tabel lampiran).

Perilaku unit usaha digambarkan oleh distribusi unit usaha berdasarkan

status permohonan kredit, persetujuan kredit, pengambilan kredit (debitur-nondebitur), dan pengembalian kredit. Dari 400 unit usaha yang terpilih sebagai sampel, terdapat 242 unit usaha (60,50 %) yang pernah melakukan permohonan kredit kepada perbankan, sisanya sebanyak 158 unit usaha (39,50 %) menyatakan tidak pernah melakukan permohonan kredit

4.1. KARAKTERISTIK UNIT USAHA

(28)

kepada perbankan. Dari 242 unit usaha yang bermohon kredit tersebut ternyata yang disetujui kreditnya oleh bank sebanyak 119 unit usaha (49,17 %) dan yang tidak disetujui permohonan kreditnya sebanyak 123 unit usaha (50,83 %). Sehingga dengan demikian unit usaha yang berstatus debitur hanya sebesar 119 responden atau 29,75%, sedangkan yang berstatus non debitur sebanyak 281 orang atau sebesar 70,25% dari 400 unit usaha yang disurvei. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumber pendanaan usaha bagi pengusaha UMKM yang belum menggunakan dana dari perbankan ternyata menggunakan sumber pendanaan dari koperasi, keluarga dan BMT. Salah satu implikasinya adalah akan mengurangi pangasa pasar perbankan, dalam penyaluran kredit dan bagi pengusaha UMKM tidak terjadi akselerasi dalam pemanfaatan fasilitas kredit perbankan yang memiliki kepastian aturan main yang lebih jelas. Kecendrungan bahwa UMKM cenderung masih menggunakan dana non perbankan ditunjukkan pulahasil penelitian sebelumnya (Sarwani, dkk. 2004).

Dari 119 responden debitur tersebut sebanyak 92,44% (110 debitur) diantaranya menyatakan telah melakukan pengembalian kredit secara tepat waktu. Alasan pengembalian tepat waktu tersebut adalah keuntungan usaha yang didapat cukup untuk membayar kredit (49,09%), sudah dipersiapkan sebelumnya (20%), untuk kemudahan kredit selanjutnya (18%), dan alasan lainnya sebesar 14,54%. Sementara responden debitur yang menyatakan tidak melakukan pengembalian secara tepat waktu (menunggak) adalah sebesar 7,56% (9 debitur) dengan alasan keuntungan usaha tidak cukup 77,78% (7 debitur) dan menunggu kolektor untuk menagih 22,22% (2 debitur). Lebih jelasnya lihat tabel lampiran.

4.3.1. Pendorong

Faktor pendorong/pertimbangan bagi UMKM dalam pengambilan kredit dalam penelitian ini dibagi dalam dua kategori, yakni:

a. Faktor internal, yaitu faktor pendorong/pertimbangan yang terkait dengan kegiatan usahanya. Berdasarkan survei di lapangan didapatkan hasil bahwa pertimbangan responden dalam mengambil kredit terutama dibutuhkan untuk mengembangkan usaha lama, yakni sebanyak 93 responden (78,15%), kemudian mendirikan usaha baru sebanyak 19 responden (15,97%). Sementara itu alasan ekspansi usaha hanya dipilih sebanyak 5 responden (4,2%), lihat Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Alasan Mengambil Kredit

No Alasan Mengambil Kredit Jumlah %

1. Mendirikan Usaha 19 15,97

2. Mengembangkan Usaha Lama 93 78,15

3. Ekspansi Usaha 5 4,20

4. Lainnya 2 1,68

Jumlah 119 100,00

Sumber: Data primer (diolah)

b. Faktor eksternal, yaitu faktor pendorong/pertimbangan dari sisi penawaran dana, yaitu sisi perbankan. Berdasarkan survei di lapangan didapatkan hasil sebagaimana diperlihatkan dalam tabel berikut:

Gambar

Tabel 1.1. Beberapa Indikator Perbankan Tahun 1998 – 2006
Gambar 1.1. Struktur Perekonomian Propinsi Sulselbar tahun 2006
Tabel 1.2.  Analisis Kekuatan dan Kelemahan UKM
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Desain statu struktur jembatan pada umumnya memperhitungkan beban mati, beban Desain statu struktur jembatan pada umumnya memperhitungkan beban mati, beban

Metode yang cara pengumpulan data dilakukan dengan wawancara atau tanya jawab langsung dengan pihak yang terkait yaitu bagian akuntansi mengenai perlakuan akuntansi

Berdasarkan uji one way Anova maka nilai perbedaan data dE*ab pdad masing- masing konsentrasi didapatkan nilai signifikansinya p=0.742 (p>0,05) yang berarti tidak

Sedangkan sebanyak 12.35% sektor pertanian di kabupaten tersebut menyumbang kepada PDRB Provinsi Bali (BPS Provinsi Bali, 2017). Sumbangan subsektor tanaman pangan

Sesuai dengan tugas pokok Pengadilan Militer III-13 Madiun menyelenggarakan 2 tugas pokok administrasi yaitu :.. Untuk mewujudkan peradilan yang mandiri sesuai dengan

Rungkat (2009) menjelaskan bahwa tanaman yang bermikoriza biasanya tumbuh lebih baik dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Mikoriza memiliki peranan bagi

Kata baku yang tepat untuk mengisi bagian rumpang pada paragraf di atas adalah .... Demikian pula dengan vitamin yang ada

Tujuan dari penelitian adalah Untuk mengetahui respon siklik sambungan balok-kolom beton bertulang bambu dengan dan tanpa kait klem selang karena variasi tulangan dan