• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN TANAMAN CENGKIH Syzygium aro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERTUMBUHAN TANAMAN CENGKIH Syzygium aro"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

PERTUMBUHAN TANAMAN CENGKIH (

Syzygium aromaticum

(L.) Merr and Perr) BELUM MENGHASILKAN PADA

BERBAGAI DOSIS PUPUK ORGANIK DAN KONSENTRASI

HYDRASIL

NURI KIPTANTIYAWATI A24110041

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pertumbuhan Tanaman Cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr and Perr) Belum Menghasilkan pada Berbagai Dosis Pupuk Organik dan Konsentrasi Hydrasil adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip baik dari karya yang diterbitkan dan tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, April 2016

(4)
(5)

ABSTRAK

NURI KIPTANTIYAWATI. Pertumbuhan Tanaman Cengkih (Syzygium

aromaticum (L.) Merr and Perr) Belum Menghasilkan pada Berbagai Dosis Pupuk

Organik dan Konsentrasi Hydrasil. Dibimbing oleh ADE WACHJAR.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis pupuk organik dan konsentrasi Hydrasil yang optimum untuk pertumbuhan tanaman cengkih belum menghasilkan yang maksimum. Penelitian ini merupakan tahun kedua dari penelitian sebelumnya. Umur tanaman cengkih yang diamati yaitu 4.5 tahun. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Dramaga, Bogor, mulai bulan Maret sampai bulan Agustus 2015. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan dua faktor dan empat ulangan. Petak utama adalah pemberian Hydrasil dengan empat taraf konsentrasi yaitu 0 ml l-1 (A1), 1.5 ml l-1 (A2), 2.0 ml l-1 (A3), dan 2.5 ml l-1 (A4), sebagai anak

petak adalah pupuk organik dengan lima taraf dosis yaitu 0 kg (P1), 2.5 kg (P2),

5 kg (P3), 7.5 kg (P4), dan 10 kg (P5) per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan

konsentrasi Hydrasil berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 16 dan 20 Minggu Setelah Perlakuan Pertama (MSPP), dan diameter batang saat 8 dan 16 MSPP pada tanaman cengkih, sedangkan dosis pupuk organik serta interaksi antara dosis pupuk organik dan konsentrasi Hydrasil tidak berpengaruh nyata terhadap peubah yang diamati.

Kata Kunci : hydrasil, pupuk organik, tanaman belum menghasilkan, tanaman cengkih

ABSTRACT

NURI KIPTANTIYAWATI. The Growth of Young Clove Plant (Syzygium

aromaticum (L.) Merr and Perr) on Several Levels of Organic Fertilizier and

Concentration of Hydrasil. Supervised by ADE WACHJAR.

The objective of this research wa s to obtain the organic fertilizer doses and the optimum concentration of Hydrasil to maximize the growth of young stage of cloves plant. The age of cloves plants were 4.5 years. This research was carried out in IPB Experimental Station at Cikabayan, Dramaga, Bogor, from March to August 2015, using split plot design with two factors and four replications. The main plot

was four level of Hydrasil, i.e.,0 ml l-1 (A1), 1.5 ml l-1 (A2), 2.0 ml l-1 (A3), and 2.5

(6)
(7)

PERTUMBUHAN TANAMAN CENGKIH (

Syzygium aromaticum

(L.) Merr and Perr) BELUM MENGHASILKAN PADA

BERBAGAI DOSIS PUPUK ORGANIK DAN KONSENTRASI

HYDRASIL

NURI KIPTANTIYAWATI A24110041

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada

Departemen Agronomi dan Hortikultura

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

(8)
(9)
(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala kurnia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret sampai bulan Agustus 2015 ialah Pertumbuhan Tanaman Cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr and Perr) Belum Menghasilkan pada Berbagai Dosis Pupuk Organik dan Konsentrasi Hydrasil.

Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr Ir Ade Wachjar, MS selaku dosen pembimbing skripsi, Bapak Dr Edi Santosa, SP, MSi selaku dosen penguji dan Dr Ir Endah Retno Palupi, MSc selaku dosen penguji wakil urusan departemen atas segala bantuan, bimbingan, kritikan, dan saran serta nasehatnya yang sangat berguna bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Kiptiyah dan kakak Ernawati serta kakak kembar tersayang serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya.

2. Ibu Dr Ir Diny Dinarty, MSi selaku dosen pembimbing akademik atas saran, bimbingan dan nasihatnya selama menjadi mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura.

3. Penyelenggara Program Bidik Misi Institut Pertanian Bogor yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah memberikan bantuan selama penulis kuliah dan melakukan penelitian ini. 4. Tenaga kependidikan unit pelaksanaan Kebun Percobaan IPB Cikabayan,

Dramaga, Bogor, yang telah membantu selama penelitian berlangsung.

5. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat.

Bogor, April 2016

(12)
(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR LAMPIRAN vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan 2

Hipotesis 2

TINJUAN PUSTAKA 2

Deskripsi dan Morfologi Tanaman Cengkih 2

Syarat Tumbuh Tanaman Cengkih 3

Pupuk Organik 3

Zat Pengatur Tumbuh Auksin 4

METODE PENELITIAN 4

Tempat dan Waktu Penelitian 4

Bahan dan Alat 5

Metode Percobaan 5

Pelaksanaan Percobaan 6

Pengamatan 6

HASIL DAN PEMBAHASAN 7

Hasil 7

Pembahasan 13

KESIMPULAN DAN SARAN 15

Kesimpulan 15

Saran 15

DAFTAR PUSTAKA 15

(14)

DAFTAR TABEL

1 Rata-rata tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, dan diameter

tajuk pada berbagai dosis pupuk organik pada 4-20 MSPP 9

2 Rata-rata tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, dan diameter

tajuk pada berbagai konsentrasi Hydrasil pada 4-20 MSPP 10

DAFTAR GAMBAR

1 Tanaman cengkih yang terserang rayap : (a) tanaman mati (b) rayap yang digali dalam tanah, (c) pengendalian rayap dengan penyemprotan

termitisida 7

2 Serangan kutu pada tanaman cengkih : (a) tergolong serangan ringan,

(b) tergolong serangan berat sampai tertutup pada pangkal daun 8 3 Pengaruh curah hujan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman cengkih

pada konsentrasi Hydrasil 8

4 Pengaruh curah hujan terhadap pertumbuhan diameter batang tanaman

cengkih pada konsentrasi hydrasil 9

5 Hubungan antara tinggi tanaman dan konsentrasi Hydrasil pada 16

MSPP 11

6 Hubungan antara tinggi tanaman dan konsentrasi Hydrasil pada 20

MSPP 11

7 Hubungan antara diameter batang tanaman dan konsentrasi Hydrasil

pada 8 MSPP 12

8 Hubungan antara diameter batang tanaman dan konsentrasi Hydrasil

pada 16 MSPP 12

DAFTAR LAMPIRAN

1 Bagan acak perlakuan 18

2 Kondisi iklim di lokasi penelitian pada bulan Februari – Agustus 2015 18

3 Hasil uji analisis kandungan pupuk organik 19

(15)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cengkih (Syzygium aromaticum L. Merr and Perr) merupakan tanaman tahunan asli Indonesia yang berasal dari Kepuluan Maluku. Di Indonesia tanaman cengkih banyak dimanfaatkan untuk campuran rokok kretek, kosmetik, industri obat-obatan, pestisida nabati, dan bumbu dapur (Puslitbangbun 2007). Di Indonesia terdapat empat tipe unggul, yaitu Zanzibar, Siputih, Sikotok, dan Ambon. Dari keempat tipe tersebut, tipe Zanzibar merupakan tipe yang paling banyak dibudidayakan oleh para petani cengkih (Balittri 2010). Luas areal tanaman cengkih di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 467 316 ha dan mengalami pertambahan luas areal pada tahun 2013 menjadi 501 378 ha. Pertambahan luas areal tersebut didukung dengan peningkatan jumlah produksinya. Produksi cengkih pada tahun 2009 sebesar 81 988 ton dan mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi 109 694 ton atau meningkat sebesar 25.25% (Ditjenbun 2014).

Produksi cengkih di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan industri berbasis bahan baku cengkih dalam negeri, oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia mengimpor cengkih dari luar negeri. Pada tahun 2011 volume impor cengkih ke Indonesia mencapai 14 979 ton yang merupakan impor tertinggi dalam lima tahun terakhir (Ditjenbun 2014). Penyebab menurunnya produktivitas tanaman cengkih di Indonesia adalah umur tanaman yang sudah tua dan kurangnya pemeliharaan (Puslitbangbun 2007). Produktivitas tanaman cengkih dapat ditingkatkan dengan cara rehabilitasi, intensifikasi, dan peremajaan tanaman. Ketiga program tersebut membutuhkan pemupukan sebagai faktor penunjang. Pemupukan merupakan penambahan zat hara tanaman ke dalam tanah. Pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk organik dan anorganik atau pupuk buatan (Hardjowigeno 2007). Penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah, hal ini disebabkan fungsi dari pupuk organik yang dapat menggemburkan lapisan atas tanah (top soil), meningkatkan populasi jasad renik, dan mempertinggi daya serap dan daya simpan air. Penggunaan pupuk organik juga dapat meningkatkan kualitas dan produksi tanaman. Selain itu, penggunaan pupuk organik dapat menekan penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan karena dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti penurunan kualitas kesuburan tanah dan berkurangnya jasad renik (Sotedjo 2010).

(16)

2

Tujuan

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh pupuk organik, auksin, dan interaksi kedua perlakuan terhadap pertumbuhan tanaman cengkih (Syzygium

aromaticum). Selain itu, penelitian ini bertujuan menentukan dosis pupuk organik

dan konsentrasi auksin yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman cengkih

(Syzygium aromaticum).

Hipotesis

Hipotesis yang diujikan dalam percobaan ini adalah :

1. Terdapat dosis pupuk organik yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman cengkih belum menghasilkan.

2. Terdapat konsentrasi auksin yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman cengkih belum menghasilkan.

3. Tanggap pertumbuhan tanaman cengkih belum menghasilkan terhadap dosis pupuk organik dipengaruhi oleh konsentrasi auksin yang digunakan.

TINJUAN PUSTAKA

Deskripsi dan Morfologi Tanaman Cengkih

Tanaman cengkih (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman yang memiliki batang besar dan berkayu keras, tingginya dapat mencapai 15 – 40 m. Kanopi tanaman cengkih berbentuk silindris, piramid, dan bulat telur bergantung pada tipenya. Tanaman cengkih memiliki batang percabangan yang banyak dan berbentuk bulat mengkilap. Daun pada tanaman cengkih berbentuk lonjong sampai elip dengan panjang daun 7 – 13 cm, dan lebar daun 3 – 6 cm, dan letak daun cengkih berhadap-hadapan pada ranting tanaman (Balittro 1997).

Sistem pembungaan pada tanaman cengkih bersifat terminal, yaitu bunga- bunga terbentuk pada ujung kuncup. Pembentukan bakal bunga ditandai oleh pembentukan tunas-tunas ujung yang tumpul dan berwarna hijau (primordia). Setelah pembungaan akan terbentuk buah dengan ukuran panjang 2.5 – 3.5 cm dan diameter 1 – 2 cm. Daging buah relatif tebal, berwarna hijau kemerahan pada waktu muda dan berwarna merah tua keunguan pada saat masak. Biji cengkih berbentukagak memanjang (oblong), panjang ± 1.5 – 2 cm, dan lebar ± 0.8 cm. Biji tidak melekat pada daging buah dan mempunyai dua keping dikotil yang tebal (Balittro 1997).

(17)

3

Tipe Sikotok memiliki percabangan melengkung 90° ke atas, bentuk tajuk silindris, batang utama tidak bercabang, bentuk daun bulat panjang tidak simetris, warna bunga hijau muda kekuningan, dan warna buah matang merah ungu. Tipe Ambon memiliki percabangan mendatar horizontal, bentuk tajuk kerucut, batang utama tidak bercabang, bentuk daun bulat panjang simetris, warna bunga hijau muda dan warna buah matang ungu hitam (Puslitbangbun 2007).

Tipe Zanzibar merupakan cengkih terbaik untuk dibudidayakan karena mempunyai daya adaptasi yang luas, berproduksi tinggi dan berkualitas baik (Balitbangtan 2009). Menurut Randriani dan Syafaruddin (2011) produktivitas rata- rata pohon cengkih terpilih tipe Zanzibar Buniwangi selama lima tahun (2006-2010) mencapai 161.8 kg/pohon/tahun. Cengkih tipe Zanzibar di Desa Buniwangi memiliki selisih antara hasil panen tertinggi (172.0 kg) dan terendah (149.9 kg) hanya sekitar 13 %. Hal ini terjadi akibat adanya fluktuasi hasil setiap dua tahun sekali pada saat produksi.

Syarat Tumbuh Tanaman Cengkih

Unsur-unsur iklim yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman cengkih yaitu curah hujan, intesitas penyinaran matahari, suhu udara, dan kelembapan nisbi. Unsur iklim yang lainnya seperti angin tidak begitu besar pengaruhnya kecuali dalam keadaan tak terduga, seperti angin puyuh yang hanya terjadi di daerah-daerah tertentu dan penyebarannya tidak luas (Ruhnayat dan Wahid 1997).

Tanaman cengkih dapat ditanam dan masih berproduksi pada ketinggian tempat 0 – 900 m di atas permukaan laut. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman cengkih yaitu Andosol, Latosol, Regosol, dan Padsolik Merah. Selain jenis tanah, kemasaman tanah (pH) juga berperan dalam penyerapan unsur hara tanaman. Kemasaman tanah yang optimum yaitu antara 5.5 – 6.5. Pertumbuhan tanaman cengkih akan terganggu apabila pH tanah kurang atau lebih tinggi dari tingkat kemasaman optimum (Puslitbangbun 2007). Curah hujan optimal untuk perkembangan tanaman cengkih yaitu 1 500 – 2 000 mm/tahun dengan bulan kering kurang dari 2 bulan. Suhu udara pada siang hari 20 – 30 °C dan tidak kurang dari 17 °C pada malam hari (Balitbangtan 2009).

Kelembaban nisbi merupakan perbandingan antara uap air di udara dengan jumlah uap air yang dapat ditampung pada suhu dan tekanan Kelembaban nisbi mempengaruhi laju transpirasi tanaman dan secara tidak langsung akan mempengaruhi penyerapan air dan unsur hara. Kelembaban nisbi yang optimal untuk pertumbuhan tanaman cengkih berkisar antara 60-80% (Ruhnayat dan Wahid 1997).

Pupuk Organik

(18)

4

1 000 kg per hektar, berarti pada lahan tersebut telah diberi unsur hara setara 40 kg N, 32 kg P2O5 dan 19 kg K2O dalam tanah. Kadar unsur tersebut setara dengan nilai

2 kw ZA, 2/3 kw triple fosfat, dan 1/3 kw ZK (Sutedjo 2010).

Hasil penelitian Wachjar dan Kadarisman (2007) pada tanaman kakao belum menghasilkan yang diberi pupuk organik cair 0 ml l-1 dan pupuk anorganik 100% meningkatkan diameter batang tanaman kakao, tetapi tidak berbeda nyata dengan pemberian 15 ml pupuk organik cair per liter dan 40 % dosis anjuran pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik cair pada tanaman kakao sebanyak 15 ml l-1 dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebanyak 60% dari dosis anjuran tanpa mengurangi pertumbuhan kakao secara nyata. Wachjar et al. (2002) berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa tanaman kopi yang diberi 4 g Enchancing Microbial Activities in the Soil (EMAS) sebagai pupuk organik dan setengah dosis pupuk anorganik anjuran menghasilkan pertumbuhan bibit kopi yang sama baiknya dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik yang berasal dari inokulasi berbagai mikroorganisme dapat menurunkan dosis penggunaan pupuk anorganik.

Menurut Sari (2013) bibit kelapa sawit yang diberi pupuk organik untuk meningkatkan keefektifan pupuk NPK dapat mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, luas daun, dan kandungan klofil. Aplikasi pupuk organik 3:6 dapat menghasilkan pertumbuhan bibit kelapa sawit setara dengan pemberian pupuk NPK mulai dosis 127.5-382.5 g per tanaman tanpa pupuk organik. Oleh karena itu, pemberian pupuk oragnik 3:6 dapat mensubtitusi pupuk NPK untuk bibit kelapa sawit.

Zat Pengatur Tumbuh Auksin

Auksin merupakan istilah generik untuk substansi pertumbuhan yang khususnya merangsang perpanjangan sel. Asam indolasetat merupakan jenis auksin alami yang pertama kali dipisahkan dan diindentifikasi pada suatu jenis tanaman. Secara fisiologi auksin pada tanaman memiliki fungsi untuk mempercepat pertumbuhan akar, mendorong perpanjangan dan pengembangan sel, fototropisme, dan mempercepat perkecambahan, serta dominasi apikal auksin dapat berefek pada perkembangan kuncup samping (Gardner et al. 2008).

Salah satu contoh merek dagang dari zat pengatur tumbuh auksin yang beredar di pasaran adalah Hydrasil. Hydrasil berbentuk cair, berwarna hijau, dan larut dalam air. Komponen utama dari Hydrasil adalah 2,4-D dilengkapi dengan unsur-unsur makro seperti N, P, dan K, serta unsur-unsur mikro seperti S, B, Fe, Cu, Mn, Mo dan Zn. 2,4-D merupakan salah satu turunan auksin yang sangat kuat pengaruhnya. Pada konsentrasi tertentu 2,4-D dapat berperan sebagai herbisida, tetapi dengan konsentrasi sesuai anjuran dapat menjadi zat pengatur tumbuh tanaman (Agustini 1989).

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

(19)

5 yang mengandung 2.4-D, dan pupuk anorganik (Urea, SP-36, KCl) sebagai pupuk dasar dengan dosis Urea 400 g per pohon per tahun, SP-36 250 g per pohon per tahun, KCl 200 g per pohon per tahun (Puslitbangbun 2007). Sedangkan untuk pengendalian dan pencegahan rayap digunakan termitisida dengan kandungan bahan aktif Methidathion dengan konsentrasi 1%, volume semprot per tanaman 200 ml.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu peralatan budidaya tanaman secara umum, peralatan pendukung, dan peralatan khusus yang digunakan yaitu knapsack sprayer untuk pemberian Hydrasil, gelas ukur, meteran, dan jangka sorong untuk mengukur diameter batang tanaman.

Metode Percobaan

Percobaan dilakukan dalam Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu pemberian Hydrasil sebagai petak utama dan pupuk kandang sapi sebagai anak petak. Pemberian Hydrasil terdiri atas empat konsentrasi, yaitu 0 ml l-1(A1), 1.5 ml l-1(A2) , 2.0 ml l-1(A3), 2.5 ml

l-1(A4). Pemberian pupuk kandang sapi terdiri atas lima dosis yaitu 0 kg/pohon (P1),

2.5 kg/pohon (P2), 5 kg/pohon (P3), 7.5 kg/pohon (P4), 10 kg/pohon (P5). Dengan

demikian terdapat 20 kombinasi perlakuan, tiap kombinasi perlakuan diulang 4 kali sehingga terdapat 80 satuan percobaan. Tiap satuan percobaan terdiri atas satu tanaman, sehingga diperoleh tanaman sebanyak 80 pohon dengan umur tanaman 4.5 tahun. Jarak tanam tanaman cengkih yang digunakan yaitu 8 m x 8 m. Bagan acak perlakuan tercantum pada Lampiran 1.

Analisis statistika yang digunakan adalah sidik peragam dengan model rancangan petak terbagi sebagai berikut :

Yijk = + Ui + Aj + ij + Pk + (AP)jk +  (Xijk -x)+ ijk

Keterangan :

Yijk = nilai pengamatan (respon) dari ulangan ke-i, konsentrasi Hydrasil ke-j, dan dosis pupuk organik ke-k

(AP)jk = pengaruh interaksi antara perlakuan pemberian konsentrasi Hydrasil ke-j dan dosis pupuk kandang sapi ke-k

(20)

6

Hydrasil ke-j, dan dosis pupuk kandang sapi ke-k

Xijk = peubah peragam dari ulangan ke-i, konsentrasi Hydrasil ke-j, dan

dosis pupuk kandang sapi ke-k x = rataan dari peubah Xijk

ijk = pengaruh galat percobaan dari ulangan ke-i, konsentrasi Hydrasil ke-j, dan dosisn pupuk kandang sapi ke-k

Apabila hasil sidik peragam menunjukkan pengaruh nyata pada uji F taraf

 5 %, dilanjutkan dengan Uji Selang Berganda Duncan (Duncan Multiple Range

test/DMRT) dan untuk mengetahui konsentrasi Hydrasil dan dosis pupuk organik

yang optimum dilakukan uji regresi.

Pelaksanaan Percobaan

Pelaksanaan percobaan diawali dengan penyulaman tanaman yang telah mati dan pembersihan gulma pada piringan tanaman cengkih. Pembersihan gulma dilakukan pada jarak satu meter dari tanaman cengkih, agar piringan tanaman bebas dari serangan gulma. Setelah selesai melakukan pembersihan gulma dilakukan pendataan jumlah tanaman yang mati untuk dilakukan penyulaman kembali, hal ini untuk memastikan tanaman dalam satuan percobaan dalam kondisi hidup. Pemberian pupuk anorganik sebagai pupuk dasar dilakukan untuk memberikan rangsangan terhadap kebutuhan hara pada tanaman percobaan, dengan dosis Urea 400 g/pohon/tahun, SP-36 250 g/pohon/tahun, KCl 200 g/pohon/tahun (Puslitbangbun 2007). Perlakuan pemberian pupuk organik dilakukan pada piringan tanaman dengan dosis sesuai perlakuan dan diberikan seluruhnya pada saat penyemprotan Hydrasil pertama pada awal mulai penelitian. Penyemprotan Hydrasil selanjutnya dilakukan satu bulan sekali selama lima bulan penelitian.

Pemeliharaan cengkih di lapangan meliputi penyiraman, penyiangan gulma dan penyemprotan termitisida untuk mencegah serangan rayap (Coptotermes sp.) sesuai dengan konsentrasi dan dosis yang dianjurkan. Penyiangan gulma dilakukan dua minggu sekali dan penyemprotan termitisida diberikan satu kali setiap bulan selama lima bulan penelitian.

Pengamatan

(21)

7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Kondisi Umum

Pendataan jumlah tanaman yang mati di lapangan dilakukan pada bulan Februari untuk dilakukan penyulaman. Jumlah tanaman yang mati dan harus disulam berjumlah 34 tanaman. Tanaman yang mati disulam pada bulan Februari dan pengamatan awal dimulai 3 minggu setelah penyulaman. Pada bulan Maret, jumlah satuan percobaan dipastikan berjumlah 80 satuan percobaan dan dipastikan keadaan di lapangan dalam kondisi hidup, sehingga pada bulan Maret dapat dilakukan pengambilan data awal. Pengambilan data awal dilakukan sebagai data acuan pada pengamatan selanjutnya. Kondisi iklim pada awal bulan Maret sampai Agustus mengalami perubahan cuaca yang signifikan. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (2015) curah hujan pada bulan Maret sampai Mei tergolong bulan basah, sedangkan curah hujan pada bulan Juni tergolong bulan lembab dan curah hujan pada bulan Juli tergolong bulan kering, serta bulan Agustus tergolong bulan basah, menurut klasfikasi iklim Schmidth-Ferguson (Lampiran 2). Menurut Ruhnayat dan Dhalimi (1997) batas optimal curah hujan untuk pertumbuhan cengkih yang baik adalah 80 mm per bulan atau tergolong bulan lembab. Pada bulan Juni curah hujan yang terjadi di lapangan tergolong bulan lembab (90 mm), sedangkan pada bulan Juli tergolong bulan kering (1.6 mm). Hal ini mengurangi pertumbuhan tanaman cengkih dan juga dapat menyebabkan tanaman cengkih mati.

Pada bulan pertama sampai kelima selama penelitian, banyak tanaman

cengkih di lapangan mati yang disebabkan oleh serangan rayap (Coptotermes sp).

Tanaman cengkih yang diserang rayap menunjukkan gejala layu, daun mengering tapi tidak rontok dan bila digali sampai 15 cm di bawah permukaan tanah tampak perakaran rusak bekas rayap. Pengendalian yang dilakukan untuk mengurangi serangan rayap pada tanaman cengkih dilakukan penyemprotan termitisida dengan konsentrasi 10 ml l-1 dan volume semprot 0.375 l per tanaman. Penyemprotan dilakukan setiap bulan selama lima bulan penelitian. Serangan rayap selama penelitian menyebabkan kematian tanaman cengkih sebesar 18.75% dari total populasi tanaman yang diamati (Gambar 1). Hasil uji analisis kandungan pupuk organik yang digunakan tercantum pada Lampiran 3.

Gambar 1. Tanaman cengkih yang terserang rayap : (a) tanaman mati, (b) rayap yang digali dalam tanah, (c) pengendalian rayap dengan penyemprotan termitisida

(22)

8

Sulistianingrum (2014) menyatakan tanaman cengkih mati sebanyak 17.5% dari populasi awal umumnya disebabkan oleh serangan rayap, sisanya serangan sunburn dan teknik penanaman bibit cengkih di lapangan. Pada penelitian (2015) tahun kedua tanaman cengkih mati di lapangan mencapai 32.5% atau meningkat 15% dari tahun sebelumnya.

Kutu-kutu daun merupakan hama yang menghisap makanan dari pucuk- pucuk daun muda. Sulistianingrum (2014) menyatakan bahwa kutu-kutu pada daun tanaman cengkih dapat mengeluarkan zat gula yang disenangi semut, sedangkan sisa-sisa zat gula tersebut menempel pada daun yang dapat menimbulkan jelaga pada daun. Menurut Wahyuno et al. (1997) jelaga daun yang berwarna abu-abu kehitaman menutupi permukaan daun. Lapisan jelaga yang tebal warna hitam melapisi atau menutupi tangkai daun dan ranting yang ada di sekitarnya (Gambar 2).

(a) (b)

Gambar 2. Serangan kutu pada tanaman cengkih : (a) tergolong serangan ringan, (b) tergolong serangan berat sampai tertutup pada pangkal daun

Penyebab lain kematian tanaman cengkih yaitu 5.00% tanaman cengkih mati diakibatkan oleh sunburn dan 5.25% akibat teknik pemindahan tanaman bibit cengkih dari polybag ke lubang tanam. Sebesar 3.50% tanaman mati akibat kekeringan pada bulan Juli. Pertumbuhan tanaman cengkih berdasarkan distribusi curah hujan selama percobaan tercantum pada Gambar 3 dan 4.

(23)

9

Gambar 4. Pengaruh curah hujan terhadap pertumbuhan diameter batang tanaman cengkih pada berbagai konsentrasi Hydrasil

Respon Pertumbuhan Tanaman Cengkih terhadap Dosis Pupuk Organik

Hasil sidik peragam menunjukkan bahwa dosis pupuk organik tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh peubah pertumbuhan yang diamati. Tanaman cengkih yang dipupuk dengan dosis pupuk organik 10 kg/tanaman secara fisik lebih tinggi dibandingkan dengan dosis pupuk organik lainnya pada pengamatan akhir penelitian (20 MSPP) (Tabel 1).

Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, dan diameter tajuk pada berbagai dosis pupuk organik pada 4-20 MSPP

Dosis Pupuk Organik (kg/tan) Waktu pengamatan (MSPP)

(24)

10

Diameter batang dan diameter tajuk yang dipupuk organik 5 kg/tanaman secara fisik lebih lebar dibandingkan dengan pemberian dosis pupuk organik lainnya pada 20 MSPP. Pada 20 MSPP, tanaman cengkih percobaan banyak yang mati akibat kekeringan. Jumlah cabang tanaman cengkih yang tidak diberi pupuk organik secara fisik lebih banyak dibandingkan dengan pemberian dosis pupuk organik lainnya pada 20 MSPP (Tabel 1).

Tanggap Pertumbuhan Tanaman Cengkih terhadap Konsentrasi Hydrasil

Hasil sidik peragam menunjukkan bahwa konsentrasi Hydrasil berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 16 dan 20 MSPP dan diameter besarnya dengan konsentrasi 1.5 ml l-1 pada 8 MSPP (Tabel 2, Gambar 7-8).

Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, dan diameter tajuk pada berbagai konsentrasi Hydrasil pada 4-20 MSPP

Konsentrasi

(25)

11

Pengaruh konsentrasi Hydrasil terhadap tinggi tanaman cengkih pada 16 dan 20 MSPP masing-masing ditunjukkan pada Gambar 5 dan 6. Gambar 5 menunjukkan hubungan linear antara tinggi tanaman dan konsentrasi Hydrasil dengan persamaan regresi Y = 101.9 + 6.264 x dengan R2 yaitu 4.5%. Gambar 6 menunjukkan hubungan linear antara tinggi tanaman dan konsentrasi Hydrasil dengan persamaan regresi Y = 110.3 + 10.45 x dengan R2 yaitu 9.0%.

Gambar 5. Hubungan antara tinggi tanaman dan konsentrasi Hydrasil pada 16 MSPP

Gambar 6. Hubungan antara tinggi tanaman dan konsentrasi Hydrasil pada 20 MSPP

Hubungan linear antara tinggi tanaman dan konsentrasi Hydrasil menunjukkan bahwa pada percobaan ini konsentrasi Hydrasil sampai 2.5 ml l-1 masih dapat meningkatkan tinggi tanaman cengkih.

Pengaruh konsentrasi Hydrasil terhadap diameter batang tanaman cengkih pada 8 dan 16 MSPP masing-masing ditunjukkan pada Gambar 7 dan 8.

Hydrasil

(26)

12

Gambar 7 menunjukkan hubungan linear antara diameter batang tanaman dan konsentrasi Hydrasil dengan persamaan regresi Y = 0.8128 + 0.1226 x, dengan R2 = 96. Gambar 8 menunjukkan hubungan linear antara diameter batang tanaman

cengkih dan konsentrasi Hydrasil dengan persamaan regresi Y = 1.006 + 0.06460x, dengan R2 = 2.32.

Gambar 7. Hubungan antara diameter batang tanaman dan konsentrasi Hydrasil pada 8 MSPP

Gambar 8. Hubungan antara diameter batang tanaman dan konsentrasi Hydrasil pada 16 MSPP

Hubungan linear antara diameter batang dan konsentrasi Hydrasil menunjukkan bahwa pada percobaan ini konsentrasi Hydrasil sampai 2.5 ml l-1

masih dapat meningkatkan diameter batang tanaman cengkih.

Hydrasil

(27)

13

Tanggap pertumbuhan tanaman cengkih terhadap pupuk organik dan konsentrasi Hydrasil tidak berpengaruh nyata pada peubah pertumbuhan yang diamati.

Pembahasan

Pengaruh Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan Tanaman Cengkih

Selama masa percobaan dari bulan Maret sampai Agustus, pemberian pupuk organik tidak berpengaruh nyata terhadap peubah pertumbuhan yang diamati. Hasil analisis kandungan pupuk organik yang digunakan tercantum pada Lampiran 3. Santosa (2003) menyatakan pemberian pupuk organik yang baik dilakukan empat bulan sekali untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Selain itu, menurut Hardjowigeno (2007) kandungan unsur hara dalam pupuk organik tidak terlalu tinggi, tetapi pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah, seperti permeabilitas tanah, porositas tanah, dan struktur tanah, serta daya tampung air dan kation-kation dalam tanah. Salah satu kelemahan dari pupuk organik yaitu respon tanaman terhadap pemberian pupuk organik berlangsung sangat lambat yang diakibatkan unsur hara yang tersedia pada pupuk organik sangat lambat (slow

release).

Wachjar et al. (2002) menyatakan bahwa pemberian pupuk organik dengan dosis 4 g EMAS dan ½ dosis pupuk anorganik, 4 ml EM 4 dan ½ dosis pupuk anorganik, 4 g OST dan ½ dosis pupuk anorganik, 20 ml larutan soils plus dan ½ dosis pupuk anorganik meningkatkan tinggi tanaman kopi Robusta hanya pada 1, 2, dan 3 Bulan Setelah Perlakuan (BSP) dari 6 BSP. Perlakuan tersebut juga dapat meningkatkan diameter batang tanaman kopi Robusta pada 2 BSP.

Adanya bulan lembab dan bulan kering pada masa percobaan dapat juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman cengkih. Pada intensitas penyinaran matahari yang tinggi disertai ketersediaan air bagi tanaman sangat sedikit, akan menyebabkan terjadinya penguapan yang besar. Apabila tidak diimbangi oleh penyerapan air dari tanah, maka tanaman akan akan mengalami cekaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. Selain itu kekeringan yang terjadi pada tanaman dapat menyebabkan sistem perakaran tanaman muda tidak berkembang dan dangkal sehingga sulit untuk memanfaatkan air tanah yang dalam (Ruhnayat dan Dhalimi 1997). Rata-rata nilai peubah pertumbuhan yang diamati pada berbagai dosis pupuk organik umur 4 MSPP sampai 20 MSPP tercantum pada Tabel 1.

Pemberian pupuk organik 2.5 kg/tanaman selama percobaan berlangsung dapat meningkatkan tinggi tanaman dengan kisaran 15-30% setiap 4 minggu. Hal ini juga terjadi pada pemberian pupuk organik 5 kg/tanaman, 7.5 kg/tanaman, dan 10 kg/tanaman. Tanaman cengkih tanpa pemberian pupuk organik (kontrol) hanya meningkatkan tinggi tanaman dengan kisaran 5-15% setiap 4 Minggu.

Pengaruh Hydrasil

(28)

14

meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung. Pembelahan sel yang terus menurus pada suatu tanaman dapat mengakibatkan peningkatan pada tinggi tanaman tersebut.

Pada penelitian ini, pemberian Hydrasil pada berbagai konsentrasi berpengaruh nyata terhadap peubah pertumbuhan tanaman berupa tinggi tanaman pada 16 MSPP dan 20 MSPP, dan diameter batang pada 8 MSPP dan 16 MSPP. Menurut Dwiwarni (1989) konsentrasi auksin 2.5 ml l-1 dapat meningkatkan

pertumbuhan bibit cengkih sebesar 5% daripada kontrol. Pada tanaman cengkih di lapangan dengan umur 4.5 tahun, konsentrasi Hydrasil 2.0 ml l-1 dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan besar diameter batang tanaman cengkih masing-masing 35% dan meningkatkan 45% dibandingkan kontrol (Tabel 2), tetapi tidak berbeda dengan pemberian Hydrasil 1.5 ml l-1 dan 2.5 ml l-1 pada tinggi tanaman 16 MSPP, sedangkan pada 20 MSPP konsentrasi Hydrasil 2.0 ml l-1 dapat meningkatkan tinggi tanaman cengkih nyata lebih tinggi daripada konsentrasi lainnya. Pada 8 MSPP konsentrasi Hydrasil 2.0 ml l-1 dapat meningkatkan diameter batang tanaman cengkih 45% lebih besar daripada kontrol, tetapi tidak berbeda dengan konsentrasi 1.5 ml l-1 dan 2.5 ml l-1. Diameter

batang pada 16 MSPP tertinggi dihasilkan oleh dengan konsentrasi Hydrasil 2.0 ml l-1 (Tabel 2).

Auksin memiliki fungsi mempercepat pertumbuhan akar, mendorong perpanjangan dan pengembangan sel, fototropisme, dan mempercepat perkecambahan, serta dominasi apical. Auksin dapat berpengaruh terhadap perkembangan kuncup samping (Gardner at el. 2008). Hydrasil merupakan salah satu contoh merek dagang dari zat pengatur tumbuh yang beredar di pasaran. Hydrasil berbentuk cair yang berwarna hijau, dan larut dalam air. Komponen utama dari Hydrasil adalah 2,4-D yang dilengkapi dengan unsur-unsur makro seperti N, P, dan K, serta unsur-unsur mikro seperti S, B, Fe, Cu, Mn, Mo dan Zn. 2,4-D merupakan salah satu turunan auksin yang sangat kuat pengaruhnya.

Pada konsentrasi tertentu 2,4-D dapat berperan sebagai herbisida, tetapi dengan konsentrasi sesuai anjuran dapat menjadi zat pengatur tumbuh tanaman (Agustini 1989). Pemberian konsentrasi 2.0 ml l-1 merupakan konsentrasi terbaik terhadap peningkatan tinggi tanaman dan diameter batang (Tabel 2). Hal ini karena sifat dari Hydrasil pada tanaman dengan konsentrasi dan waktu pemberian yang tepat akan meningkatkan daya penetrasi Hydrasil ke dalam daun melalui stomata. Pemberian Hydrasil dengan konsentrasi di atas 2.0 ml l-1 akan memperlambat rata-rata tinggi tanaman cengkih.

(29)

15

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dosis pupuk organik serta interaksi antara dosis pupuk organik dan konsentrasi Hydrasil tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh peubah vegetatif yang diamati. Konsentrasi Hydrasil meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman pada 16 MSPP dan 20 MSPP, meningkatkan diameter batang tanaman cengkih

pada 8 MSPP dan 16 MSPP. Konsentrasi Hydrasil 2.0 ml l-1 dapat meningkatkan tinggi dan diameter batang tanaman cengkih dibandingkan konsentrasi Hydrasil lainnya.

Saran

Perlu adanya penambahan dosis pupuk organik dan penambahan lama waktu penelitian pada penelitian masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Agustini S. 1989. Pemberian berbagai taraf konsentrasi hydrasil pada dua tipe jagung (Za e mays L.) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. [Balitbangtan] Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2009. Mengenal

Tanaman Perkebunan di Lingkungan Sekitar. Jakarta (ID): Balitbangtan. [Balitan]

Balai Penelitian Tanah. 2014. Laporan Hasil Pengujian Tanah. Bogor(ID) : Balitan.

[Balittri] Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri. 2010.

Pedoman Seleksi Blok Penghasil Tinggi dan Pohon Induk : Cengkih.

Sukabumi (ID): Balittri.

[Balittro] Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 1997. Monogrof Tanaman

Cengkih. Bogor(ID): Balittro.

Bangun P, Pane H, Partasasmita. 1983. Pengaruh perangsang tumbuhan hydrasil pada tanaman jagung dan kedelai. Kelti Agronomi. Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor 1-10.

[BMKG] Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geofisika. 2015. Data Iklim Stasiun Dramaga. Bogor(ID) : BMKG.

[Ditjetbun] Direktorat Jenderal Perkebunan.2014. Statistik Perkebunan Indonesia

2013-2015: Cengkih. Jakarta (ID): Ditjenbun.

Dwiwarni I. 1989. Pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan bibit cengkih. Pembr. Litri. 14(4): 126-129.

Gardner FP, Pearce RB, Mitchell RL. 2008. Fisiologi Tanaman Budidaya. Susilo S, Subiyanto, editor. Jakarta(ID): UI Press. Terjemahan dari: Physiology of Crop Plants. The Lowa State University Press.

Hardjowigeno S. 2007. Ilmu tanah. Jakarta(ID): Akademika Pressindo.

[Puslitbangbun] Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 2007. Cengkih:

(30)

16

Randriani E, Syafaruddin. 2011. keragaan pohon cengkih terpilih tipe Zanzibar dan siputih Palabuhanratu. Bul RISTI. 2(3): 405-410.

Ruhnayat A, Wahid P. 1997. Aspek iklim terhadap pertumbuhan, pembungaan, dan produksi cengkih. Balittro. Monograf-2 : 44-49.

Ruhnayat A, Dhalimi A. 1997. Fluktuasi hasil cengkih. Balittro. Monograf-2 : 50-54.

Santosa E. 2003. Pengaruh jenis pupuk organik dan mulsa terhadap pertumbuhan tanaman lidah buaya (Aloe vera Mill). Bul Agron. 2(1) : 120-125.

Sari VI. 2013. Peran pupuk organik dalam meningkatkan efektivitas pupuk NPK pada bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) di pembibitan utama [tesis]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.

Sulistianingrum R. 2014. Pertumbuhan tanaman cengkih (Syzygium aromaticum (L.) Merr Perr) belum menghasilkan pada berbagai dosis pupuk organik dan intensitas naungan [skripsi]. Bogor(ID) : Institut Pertanian Bogor.

Sutedjo MM. 2010. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta (ID): Rineka Cipta. Wachjar A, Setiadi Y, Mardhikanto L W. 2002. Pengaruh pupuk organik dan intensitas naungan terhadap pertumbuhan bibit kopi robusta (Coffe canephora Pierre ex Froehner). Bul Agron. 30(1): 6-11. Wachjar A, Kadarisman L. 2007. Pengaruh kombinasi pupuk organik cair dan

pupuk anorganik serta frekuensi aplikasinya terhadap pertumbuhan tanaman kakao (Theobroma cacao L.) belum menghasilkan. Bul Agron. 35(3): 212-216.

(31)

17

(32)

18

Lampiran 1. Bagan acak perlakuan

II IV

A3 P2 A3 P4 A3 P5 A3 P1 A3 P3 A4 P1 A4 P4 A4 P5 A4 P2 A4 P3

A1 P5 A1 P4 A1 P1 A1 P3 A1 P2 A2 P2 A2 P3 A2 P4 A2 P1 A2 P5

A2 P5 A2 P1 A2 P3 A2 P2 A2 P4 A1 P5 A1 P2 A1 P3 A1 P4 A1 P1

A4 P1 A4 P3 A4 P2 A4 P4 A4 P5 A3 P4 A3 P1 A3 P5 A3 P3 A3 P2

I III

A1 P4 A1 P5 A1 P2 A1 P3 A1 P1 A2 P2 A2 P3 A2 P5 A2 P1 A2 P4

A4 P5 A4 P3 A4 P1 A4 P2 A4 P4 A3 P4 A3 P1 A3 P5 A3 P3 A3 P2

A3 P2 A3 P1 A3 P3 A3 P4 A3 P5 A4 P1 A4 P2 A4 P3 A4 P4 A4 P5

A2 P3 A2 P2 A2 P4 A2 P1 A2 P5 A1 P5 A1 P4 A1 P1 A1 P2 A1 P3

Lampiran 2. Kondisi iklim di lokasi penelitian pada bulan Februari – Agustus 2015

Lokasi : Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor Lintang : 06°31’ LS

Bujur : 106°44’ BT

Elevasi : 220 m di atas permukaan laut Bulan : Maret sampai Agustus 2015

Bulan Curah hujan Suhu Kelembaban udara

(mm/bulan) ( ˚C ) (%)

Maret 374 25 88

April 206 25.6 85

Mei 202 25.8 86

Juni 90 26.2 79

Juli 1.6 26.1 74

Agustus 112.4 26.2 75.0

Rata-rata 218 25 82.40

Sumber : BMKG (2015)

(33)

19

Lampiran 3. Hasil uji analisis kandungan pupuk organik yang digunakan

No. Parameter Hasil Pengukuran

1. pH H2O 6.8

2. C-Organik (%) 14.26

3. N-Total (%) 0.71

4. C/N Rasio (%) 20.1

5. P2O5 (%) 2.76

6. CaO (%) 0.68

7. MgO (%) 0.94

8. K2O (%) 2.87

9. Cu (ppm) 106.2

10. Zn (ppm) 118.6

11. Mn (ppm) 84.3

12. Fe (ppm) 147.2

13. Pb (ppm) 0.3

14. Cd (ppm) 0.1

15. Co (ppm) Ttd

16. Mo (ppm) Ttd

17. B (ppm) 57.1

18. Hg (ppb) Ttd

19. As (ppb) Ttd

20. Bahan ikutan (krikil, beling, plastik) (%) 0.6

21. Ukuran butiran (2-5 mm) (%) 94.8

22. Kadar air (%) 11.36

(34)

20

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pamekasan pada tanggal 24 April 1992 dari ayah Misnadin dan Ibu Kiptiyah. Penulis adalah putri kedua dari dua bersaudara. Tahun 1999 penulis lulus dari TK Al-Waroqot, tahun 2005 penulis lulus dari SDN Plakpak VII, tahun 2008 penulis lulus dari SMPN 2 Pegantenan dan pada tahun 2011 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Pamekasan sekaligus pada tahun yang sama, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur undangan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten praktikum mata kuliah Ilmu Tanaman Pangan pada tahun ajaran 2014/2015 dan 2015/2016, asisten praktikum mata kuliah Rancangan Percobaan pada tahun ajaran 2014/2015, dan asisten praktikum mata pelajaran Teknik Budidaya Tanaman tahun ajaran 2014/205, serta asisten mata pelajaran Ilmu Tanaman Perkebunan tahun ajaran 2014/2015. Penulis juga aktif mengajar mata pelajaran IPA Terpadu, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris SD, SMP dan SMA di bimbingan belajar Privat. Penulis pernah aktif sebagai Bendahara umum DPM Fakultas Pertanian tahun 2012/2013. Selama kuliah 4 tahun di Institut Pertanian Bogor, penulis menerima Beasiswa Bidik Misi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Gambar

Gambar 1. Tanaman cengkih yang terserang rayap : (a) tanaman mati, (b) rayap yang digali dalam tanah, (c) pengendalian rayap dengan penyemprotan termitisida
Gambar 3.  Pengaruh curah hujan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman cengkih pada berbagai konsentrasi Hydrasil
Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, dan diameter tajuk pada berbagai dosis pupuk organik pada 4-20 MSPP
Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, dan diameter tajuk pada berbagai konsentrasi Hydrasil pada 4-20 MSPP
+3

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pertumbuhan jumlah daun selada, pada tanaman yang diberi perlakuan pupuk cair kotoran kelinci 500 ml pertumbuhannya cenderung lebih baik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan serapan N, P, dan K tanaman cabai terhadap residunya di dalam tanah yang diberi pupuk cair organik dengan pupuk anorganik

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa, kombinasi konsentrasi giberelin dan pupuk organik cair asal rami menghasilkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap diameter batang

Sedangkan pupuk organik cair keong mas terdiri dari 4 taraf, yaitu: B 0 = 0 pupuk organik cair, B 1 = pupuk organik cair dengan konsentrasi 25 ml/l air, B 2 = pupuk organik

4.1 Hubungan Pupuk Organik Cair dengan Tinggi Tanaman Sirih 15 4.2 Hubungan Pupuk Organic Cair terhadap Diameter Batang 19 4.3 Histogram Jenis Sirih dengan Diameter Batang 20

Sedangkan pada bobot brangkasan kering perlakuan pupuk anorganik 100% tanpa pupuk organik cair (kontrol) juga tidak berbeda nyata dengan perlakuan pupuk anorganik

2 Pupuk merupakan faktor yang paling menentukan danberpenrauh terhadap produktivitas tanaman .penggunaan pupuk dapat mengunakan pupuk anorganik dan organik, pengunaan pupuk anorganik

Pemberian pupuk organik cair POC limbah cair tahu dengan perlakuan 160 ml merupakan hasil terbaik pada semua parameter tinggi tanaman, laju pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, laju