• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROBLEMATIKA PERENCANAAN OTONOMI DAERAH studi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROBLEMATIKA PERENCANAAN OTONOMI DAERAH studi"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA PERENCANAAN OTONOMI DAERAH DI PEDESAAN

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesi sedang berada di tenghah masa transformasi dalam hubungan antara pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kotayang menurut undang-undang nomor 5 tahun 1974 hanya merupakan kepanjangan tangan pusat di daerah. Dalam undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah telah dibuka saluran baru bagi pemerintah propinsi dan kabupaten untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan umum kepada masyarakat setempat, untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Penyesuaian kewenangan dan fungsi penyediaan pelayanan antar pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota sudah memuat tujuan politis, maupun teknis. Secara politis, desentralisasi kewenangan pada masing-masing daerah menjadi perwujudan dari suatu tuntutan reformasi seperti direfleksikan dalam garis-garis besar haluan Negara (GBHN). Secara teknis masih terdapat sejumlah besar persiapan yang harus dilakukan untuk menjamin penyesuaian kewenangan dan fungsi-fungsi tersebut secara efektif.

Untuk menjamin proses disentralisasi berlangsung dan berkesinambungan, pada prinsipnya acuan dasar dari otonomi daerah telah diwujudkan melalui undang-undang nomor 22 tahun 1999, serta peraturan pemerintah nomor 25 tahun 2000dan ketentuan lainnya yang relefan.

Dalam acuan dasar tersebut setiap daerah harus membentuk suatu paket otonomi yang kontsisten dengan kapasitas dan kebutuhannya. Dalam Negara yang majemuk seperti Indonesia, “satu ukuran belum tentu cocok untuk semua”. Penyususnan “paket otonomi” dalam perancangannya. Dalam proses ini komunitas –komunitas local perlu dilibatkan oleh masing-masing pemerintah kabupaten/kota, termasuk DPRD untuk menjamin proses desentralisasi secara lebih baik dan bertanggung jawab, di mana mereka sebagai salah satu “stakeholder” yang memiliki kepentingan mendalam untuk mensukseskan otonomi daerah.

(2)

kenyataannya menghadapi berbagai kendala sehingga diperlukan revisi mekanisme P5D.

Pola perencanaan pembangunan tetap mengikuti alur perencanaan yang sudah ada dengan mengadopsi konsep keterpaduan P5D, namun dengan memberikan penekanan pada : pelibatan partisipasi aktif semua peserta forum musyawarah perencanaan, meningkatkan bobot keterwakilan masyarakat dalam forum perencanaan, meningkatkan pengakomodasian usulan dari bawah dalam program Dinas sektoral. Agar dapat terakomodir, maka usulan dari bawah harus memiliki ketajaman prioritas sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Untuk itu diperlukan revitalisasi dan penguatan lembaga perencanaan desa, dan memberikan bantuan pendampingan dalam proses penyusunan perencanaan di tingkat Desa dan Kecamatan, serta perlu dilakukan desiminasi dokumen-dokumen perencanaan sampai kepada masyarakat desa untuk memberi arah dalam penyusunan perencanaan masyarakat.

B. PERUMUSAN MASALAH

Terkait dengan pengelolaan program dan proyek pembangunan yang ada di daerah, maka prinsip-prinsip demokrasi mendorong peran serta masyarakat dan transparansi serta mengedepankan pemerataan dan keadilan dalam melaksanakan otonomi daerah menjadi sangat strategis. Artinya, peran masyarakat di daerah menjadi faktor utama di dalam proses pembangunan karena lebih banyak berfungsi sebagai “subyek” ketimbang sebagai “obyek”.

Banyak program dan proyek yang ada di daerah dengan biaya yang sangat besar dirumuskan, dilaksanakan, dan diawasi oleh pusat sedangkan daerah hanya sekedar dilihat sebagai tempat (lokasi) dari proyek tersebut sehingga daerah tidak diberi kesempatan untuk mengolah sendiri sumber daya yang ada di daerah tersebut.

Dengan otonomi daerah diharapkan dapat mendorong masyarakat daerah berperan aktif dalam pemanfaatan sumber daya yang ada serta pengontrol bagi pejabat daerah dalam mengatur proyek pembangunan daerah.

Godaan untuk melakukan sentralisasi dengan asumsi bahwa daerah mempunyai kemampuan yang terbatas sehingga pemusatan kekuasaan merupakan satu-satunya jalan pengamanan terbaik perlu segera dihindari. Apalagi jika pembangunan diartikan sekedar sebagai redistribusi kekuasaan dan sumber daya dan mengasumsikan bahwa hanya otoritas yang mempunyai landasan luaslah yang mampu melaksanakan perubahan dengan hasil baik.

Sehingga dapat kita rumuskan dari uraian diatas adalah:

“sejauh mana

(3)

C. KERANGKA TEORI

Hal–hal yang di kita bahas meliputi beberapa hal yaitu, meliputi:

1. Konsep Pelaksanaan Otonomi Daerah

2. Percepatan Otonomi Daerah

3. Tinjauan Konsep dan Implementasi Proses Perencaanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian Pembangunan (P5D)

4. Upaya Meningkatkan Kualitas Perencanaan Pembangunan di Tingkat Desa

(4)

1. KONSEP PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH 1.Umum

Inti dari konsep pelaksanaan otonomi daerah, adlah upaya memaksimalkan hasil yang akan dicapai sekaligus menghindari kerumitan dan hal-hal yang mengambat pelaksanaan otonomi daerah. Dengan demikian, tuntutan masyarakat dapat diwujudkan secara nyata dengan penerapan otonomi daerah luas dan kelangsungan pelayanan umum tidak diabaikan, serta memelihara kesinambungan fiscal secara nasional.

2. Pengaturan Transisi

1. Kewenangan dan Kelembagaan

a. Semua unit dekonsentrasi (kanwil/unit lain yang terkait) yang berada dipropinsi, statusnya dialihkan menjadi perangkat daerah propinsi, kecuali instansi vertical menurut undang-undang nomor 22 tahun 1999.

b. Semua unit dekonsentrasi (kandep/cabang dinas propinsi/UPT propinsi, unit lain yang terkait)

Yang berada dikabupaten dan kota, kecuali instansi vertical menurut undang-undang nomor 22 tahun 1999

c. UPT pusat yang berada didaerah yang statusnya akan diatur kasus perkasus oleh instansi terkait dipusat, dikoordinasikan oleh tim koordinasi kepres nomor 52 tahun 2000

d. Pada dinas propinsi dimungkinkan ada unit kerja dekosentrasi berada dibawahdan bertanggungjawab kepada dinas propinsi

e. Ex.kanwil dimungkinkan menjadi dinas propinsi secara keseluruhan jika beban tugasnya dianggap sangat luas dan tidak mungkin ditangani dinas tertentu yang sudah ada atau karena tidak dimungkinkan dibentuk dinas yang menangani kewenangan otonomi karena propinsi tidak memiliki kewenangan otonom untuk bidang yang dimaksud

f. Dinas propinsi dapat melaksanakan beberapa tugas-tugas unit dekonsentrasi dan unit desentralisasi yang sejenis dapat dilebur menjadi dinas baru yang besar organisasinya disesuaikan dengan kewenangan dan beban tugasnya

g. Dinas propinsi dapat melaksanakan beberapa tugas-tugas dekonsentrasi yang ruang lingkupnya dan jenis pekerjaan yang berbeda.

h. Kewenangan /organisasi yang dapat menimbulkan konflik antara pemerintah, propinsi dan kabupaten/kota dan belum terselesaiakan menjelang akhir tahun 2000, untuk sementara (paling lama satu tahun anggaran) dijalankan pemerintah/propinsi atas kesepakatan antara pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah pusat, misalnya pengaturan pengujian kendaraan bermotor

(5)

2. Pegawai Negeri Sipil

a. Pengalihan pegawai yang tidak bereselon yang berasal dari unit dekonsentrasi harus selambat-lambatnya pada akhir September 2012

b. Kabupaten /kota tidak diperbolehkan menolak perpindahan PNS yang statusnya dipekerjakan atau diperbantukan dari pemerintah pusat ataupun pemerintah propinsi c. Perpindahan PNS secara fisik dari kanwil/dinas propinsi dikabupaten /kota, harus selesai

selambat-lambatnya bulan mei 2013. Petunjuk pelaksanaan akan diberikan oleh pemerintah melalui tim koordinasi koppres nomor 52 tahun 2000

d. PNS yang bekerja atau akan bekerja di instansi propinsi di kabupaten/kota apapun status kepegawaiannya akan dibayar dari APBD. Pemerintah tidak akan memberi subsidi dalam bentuk apapun untuk belanja pegawai karena sudah termasuk dalam dana anggaran umum (DAU).

e. Perpindahan pegawai dalam daerah kabupaten/kota dilakukan oleh bupati/walikota, pemindahan pegawai antar kabupaten /kota dan antara daerah kabupaten/kota dan daerah propinsi dilakukan oleh gubernur setelah berkonsultasi dengan bupati/walikota dan pemindahan pegawai antar daerah kabupaten/kota dan daerah kabupaten/kota didaerah propinsi lainnya ditetapkan oleh pemerintah pusat setelah berkonsultasi dengan kepala daerah.

f. Kantor BKN dibawah koordinasi menteri Negara penerbitan aparatur Negara bertanggungjawab untuk melakukan pengaturan mutasi pegawai akibat pengalihan instansi vertical.

3. Pelayanan Daerah

a. Bilamana pedoman,standar, norma dan prosedur yang menjadi kewajibanpemerintah tidak dikeluarkan dalam waktu enam bulan sesudah peraturan pemerintah nomor 25 tahun 2000 diterbitkan maka daerah dapat melaksanakan kewenangan termasuk perizinan dengan berpedoman pada peraturan perundangan yang berlaku

b. Tingkat pelayanan umum tetap dipertahankan pada kuantitas dan mutu sama seperti sebelum penyerahan. Perubahan –perubahan dapat dilakukan sepanjang hal tersebut merupakan “penambahan” atau “perbaikan”

c. Standar pelayanan minimal (SPM) untuk kewenangan wajib kabupaten/kota ditetapkan oleh propinsi berdasarkan pedoman dari pemerintah. Penetapan SPM tersebut sudah selesai selambat-lambatnya satu bulan setelah pedoman dikeluarkan oleh pusat.

4. Pengaturan Aset

a. Aset yang berasal dari kanwil dialihkan menjadi asset daerah sesuai dengan kewenangannya.

b. Asset yang berasal dari kandep/cabang dinas propinsi dialihkan menjadi asset daerah sesuai dengan kewenangannya.

c. Asset yang berasal dari UPT departemen yang menjadi kewenangan daerah, statusnya akan diatur kasus-perkasus

(6)

5. Perimbangan Keuangan

a. Pembiayaan kegiatan dekonsentrasi mencakup biaya administrasi, operasi danpemeliharaan prasarana dan sarana yang diperlukan dalam rangka tugas-tugas dekonsentrasi pada dinas atau unit kerja pada dinas dan menjadi beban APBN, menunggu penjelasan dari departemen keuangan

b. Hal-hal lain yang berkaitan dengan perimbangan keuangan akan dijelaskan oleh departemen keuangan.

6. Lain-lain

a. Pengaturan Desa

1. Pengaturan tentang desa sebagai tindak lanjut undang-undang nomor 22 tahun 1999 dan penyempurnaan peraturan-peraturan yang sudah dikeluarkan menunggu penetapan lebih lanjut

2. Pengaturan tentang BUMDES akan ditetapkan sendiri

3. Pengalihan desa menjadi kelurahan dapat dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing

4. Status kepala desa didesa yang beralih menjadi kelurahan akan ditetapkan dalam peraturan tersendiri.

b. Koordinasi Pusat dan Daerah

Korordinasi pusat dengan daerah untuk tahap berikutnya akan dilaksanakan pada awal oktober 2013

2. PERCEPATAN OTONOMI DAERAH

Percepatan pelaksanaanotonomi daerah sebagai implementasi undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan undang-undang nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerahyang telah bergulir di daerah. Banyak harapan yang dimungkinkan dari penerapan otonomi daerah, seiring dengan itu tidak sedikit pula masalah, tantangan dan kendala yang dihadapi oleh daerah.

Otonomi daerah ini merupakan fenomena politis yang sangat dibutuhkan dalam era-globalisasi dan demokrasi, apalagi jika dikaitkan dengan tantangan masa depan memasuki era perdagangan bebas yang antara lain ditandai dengan tantangan masa depan memasuki era perdangan bebas yang antara lain ditandai dengan tumbuhnya berbagai bentuk kerja sama regional, perubahan pola atau system informasi global.

(7)

daerah meningkatkan kinerja, mempertanggungjawabkan kepada pemerintah atasannya maupun kepada public/masyarakat.

Perkembangan situasi yang terjadi, perubahan system pemerintahan berupa penerapan otonomi daerah yang telah digulirkan pada tanggal 1 januari 2001, serta reorganisasi institusi pemerintahan, mengharuskan pemerintah pusat menyelaraskan semua kegiatan pemerintah sesuai dengan perkembangan di lapangan, dengan memperhatikan kapasitas daerah meliputi kapasitas individu, kelembagaan dan system yang telah dimiliki oleh daerah.

3. TINJAUAN KONSEP DAN IMPLEMENTASI PROSES PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN

Konsep dan Proses

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 9 tahun 1982, pelaksanaan pembangunan daerah dilaksanakan melalui suatu proses yang relatif baku yaitu Proses Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian Pembangunan (P5D). Proses P5D dimulai dari tingkat bawah (masyarakat) dalam bentuk Musyawarah Pembangunan Desa (Musbangdes), yang kemudian dilanjutkan dengan Musyawarah Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP) di tingkat Kecamatan, Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) Kabupaten, Rakorbang Propinsi, dan berakhir dengan Rakorbang Nasional.

Praktek Pelaksanaan P5D

Mekanisme P5D, secara konsepsual telah mencoba melibatkan masyarakat semaksimal mungkSin, dan mencoba memadukan perencanaan dari masyarakat (Bottom up planing) dengan perencanaan Dinas/Instansi sektoral (Top down planning). Akan tetapi, dari berbagai literatur dan hasil penelitian (P3P Unram, 2001; Siregar, 2001, Team Work Lapera, 2001; Hadi, Hilyana dan Hayati, 2003) diperoleh gambaran bahwa implementasi perencanaan pembangunan selama ini belum partisipatif seperti konsep dan kebijakan yang dikembangkan Pemerintah.

Perencanaan dari atas lebih mendominasi hasil perencanaan. Namun dalam pelaksanaan program-program pembangunan, sebagian besar anggota masyarakat terlibat aktif, baik sebagai pelaksana maupun penerima manfaat. Sedangkan dalam pengawasan hasil-hasil pembangunan desa, keterlibatan masyarakat sangat kecil.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa berbagai keputusan umumnya sudah diambil dari atas, dan sampai ke masyarakat dalam bentuk sosialisasi yang tidak bisa ditolak. Masyarakat hanya sekedar objek pembangunan yang harus memenuhi keinginan Pemerintah, belum menjadi subyek pembangunan, atau masyarakat belum ditempatkan pada posisi inisiator (sumber bertindak).

(8)

hanya sebagian kecil yang terakomodir dalam forum perencanaan supra desa. Keterwakilan masyarakat dalam forum-forum perencanaan yang ada sangat kurang.

Hal ini karena peserta musyawarah dalam forum perencanaan yang dilaksanakan lebih didasarkan pada keterwakilan yang bersifat formal, sehingga susunan pesertanya didominasi para birokrat dan unsur lembaga formal. Dari sisi perencanaan jangka menengah dan jangka panjang, Pemerintah Kabupaten/Kota telah memiliki berbagai dokumen perencanaan (seperti Program Pembangunan Lima Tahun Daerah/Propeda, Rencana Strategis/Renstra, dan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah/RUTRW) dan seharusnya menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (Repetada).

Akan tetapi dokumen-dokumen perencanaan tersebut tidak tersosialisasikan, sehingga hal ini mengakibatkan perencanaan dilaksanakan tanpa perspektif yang jelas. Seringkali terjadi Repetada sebagai pedoman mengenai arah dan kebijaksanaan penyusunan program dan proyek disusun setelah RAPBD disyahkan sehingga kehilangan fungsi substansifnya. Sementara itu, menurut Asmara (2001) komitmen dan orientasi pelanggan (public driven) dalam sistem programming sektoral, belum mantap. Hal ini karena budaya birokrasi berdasarkan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik seperti akuntabilitas, responsibilitas dan transparansi dalam penyelenggaraan kepentingan publik belum melembaga dengan baik. Akibatnya jaminan pengakomodasian usulan dari bawah sangat kurang.

4. UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI TINGKAT DESA

Paradigma lama pembangunan perdesaan pada masa sebelum era otonomi adalah bagaimana melaksanakan program-program pemerintah yang datang dari atas. Program pembangunan desa lebih banyak dalam bentuk proyek dari atas, dan sangat kurang memperhatikan aspek keberlanjutan pembangunan desa dan partisipasi masyarakat. Sebagian besar kebijakan Pemerintah bernuansa “top-down”, dominasi Pemerintah sangat tinggi, akibatnya antara lain banyak terjadi pembangunan yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat, tidak sesuai dengan potensi dan keunggulan desa, dan tidak banyak mempertimbangkan keunggulan dan kebutuhan lokal. Kurang terakomodirnya perencanaan dari bawah dan masih dominannya perencanaan dari atas, menurut Asmara, H., (2001) adalah karena kualitas dan hasil perencanaan dari bawah lemah, yang disebabkan beberapa faktor antara lain : (1) Lemahnya kapasitas lembaga-lembaga yang secara fungsional menangani perencanaan; (2) Kelemahan identifikasi masalah pembangunan;

(3) Dukungan data dan informasi perencanaan yang lemah; (4) Kualitas sumberdaya manusia khususnya di desa yang lemah;

(5) Lemahnya dukungan pendampingan dalam kegiatan perencanaan, dan

(9)

Untuk mengatasi lemahnya kualitas dan hasil perencanaan dari bawah, Pemerintah pada pertengahan tahun 1990-an memperkenalkan metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD) dengan memberikan pelatihan dan buku panduan kepada LKMD, dan mengangkat pemandu untuk memfasilitasi proses Musbangdes. Metode P3MD ini nampaknya dimaksudkan untuk memberdayakan LKMD sebagai refresentasi lembaga perencanaan pembangunan di tingkat desa.

a. Revitalisasi dan Penguatan Lembaga Perencanaan Desa

Penguatan kelembagaan perencanaan di tingkat desa dimulai dengan merevitalisasi LKMD sebagai lembaga yang dibentuk atas prakarsa masyarakat sebagai mitra Pemerintah Desa dalam menampung dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan. Sejauh mana peran dan fungsi yang dimainkan LKMD dalam proses perencanaan pembangunan selama ini.

Konsep tentang LKMD sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 1980 tentang Penyempurnaan dan Peningkatan Fungsi Lembaga Sosial Desa menjadi Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa tidak sesuai lagi dengan semangat Otonomi Daerah, oleh karena itu perlu ditata kembali sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam mendukung upaya revitalisasi LKMD, pemerintah telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 49 Tahun 2001 tentang Penataan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa Atau Sebutan Lain. Dalam Keppres No. 49/2001 tersebut dinyatakan bahwa LKMD atau sebutan lain mempunyai tugas :

(1) menyusun rencana pembangunan yang partisipatif; (2) menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat; dan (3) melaksanakan dan mengendalikan pembangunan.

Sedangkan dalam melaksanakan tugasnya, LKMD atau sebutan lain mempunyai fungsi : (1) menanam dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan masyarakat desa;

(2) mengkoordinir perencanaan pembangunan;

(3) mengkoordinir perencanaan lembaga kemasyarakatan;

(4) merencanakan kegiatan pembangunan secara partisipatif dan terpadu; dan

(5) menggali dan memanfaatkan sumber daya kelembagaan untuk pembangunan desa.

b. Pendampingan dalam Proses Perencanaan

Dari hasil on the job training yang dilakukan P3P Unram (2001) ditemukan bahwa karena dominannya perencanaan dari atas, masyarakat desa mengalami kegamangan saat melakukan perencanaan partisipatif dari bawah. Masyarakat mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi potensi yang ada di Desa/ Kelurahan, serta mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan pembangunan. Untuk itu sangat dibutuhkan bantuan pendampingan dalam proses penyusunan perencanaan di tingkat Desa dan Kecamatan. Dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan partisipasi masyarakat, diperlukan fasilitator, penggerak atau agen pembangunan (development agent), yang berperan sebagai :

(10)

(2) Membantu pemecahan masalah,

(3) Membantu penyebaran inovasi, serta memberi petunjuk bagaimana mengenali dan merumuskan kebutuhan, mendiagnosa permasalahan dan menentukan tujuan, mendapatkan sumber-sumber yang relevan, memilih dan mengevaluasi, dan

(4) Menghubungkan dengan sumber-sumber yang diperlukan.

Prinsip yang harus dikembangkan fasilitator di tingkat desa adalah membudayakan warga desa memikirkan desanya dan atau pembangunan desanya. Fasilitasi yang dapat dilakukan adalah dengan membantu masyarakat dalam :

(a) Perumusan masalah yang dihadapi oleh masyarakat sendiri sebagai input dalam proses perencanaan pembangunan desa, dan

(b) Pengenalan potensi yang dimiliki masyarakat. Berbagai metode partisipatif dapat digunakan, seperti metode Participatory Rural Appraisal (PRA), Ziel Orientierte Projekt Planung (ZOPP), SWOT Analysis, dan lain sebagainya, atau penggabungan berbagai metode perencanaan partisipatif yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi desa setempat.

Titik kritis peran pendamping yang harus dihindari adalah timbulnya “outsider bias” karena fasilitator memerankan diri sebagai orang luar, dan pendampingan jangan sampai menciptakan ketergantungan daripada menciptakan kemandirian.

c. Menuju Pembangunan Desa yang Partisipatif dan Berkelanjutan

Pemasalahan pembangunan desa, termasuk lemahnya kelembagaan desa mengharuskan perlunya pemikiran kembali terhadap pendekatan yang pernah dilakukan selama ini. Pendekatan top-down, dan mencuatnya ego sektoral membuat setiap Dinas/Instansi melakukan kegiataannya secara sendiri-sendiri tanpa adanya komunikasi dan koordinasi yang jelas antar stakeholders. Dengan dasar tersebut, maka untuk peningkatan efektifitas pembangunan desa berkelanjutan dan termasuk kelembagaan diperlukan keterpaduan kerja dari semua pihak yang terkait.

Koordinasi dan kerjasama yang efektif akan bermanfaat tidak saja dalam menyatukan visi dan mengintegrasikan missi, tetapi juga dalam mengatasi adanya duplikasi pelayanan, pemborosan dana, jurang (gap) pelayanan, serta aksesibilitas dan ketersediaan pelayanan. Koordinasi dan kerjasama antar stakeholders akan membantu proses konvergensi dan divergensi sumberdaya bagi proses pembangunan pedesaan. Untuk itu, dalam perencanaan desa hendaknya juga dikembangkan struktur partisipasi dan pemberdayaan bagi masing-masing stakeholders. Setiap stakeholder dapat berpartisipasi dalam proses perencanaan, implementasi, evaluasi, dan berbagi hasil, yang pada gilirannya melahirkan komitmen dan tanggung jawab.

(11)

Dinas/Instansi Pemerintah, Swasta, LSM dan lembaga-lembaga lainnya harus melalui Pemerintahan Desa yang kemudian bersama-sama masyarakat melalui LKMD akan menyesuaikan dengan program pembangunan desa. Dalam pelaksanaannya, Badan Perwakilan Desa (BPD) harus melaksanakan fungsi legislasi dan kontrol dalam kedudukan sebagai mitra pemerintahan desa. Apabila mekanisme yang aspiratif dan partisipatif ini dapat dikembangkan dalam kerangka pembangunan desa berkelanjutan, maka tujuan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan dapat tercapai.

5. INSTITUTIONAL BUILDING:UPAYA MEMBERDAYAKAN PERTANIAN DAN EKONOMI PERDESAAN

Upaya mewujudkan pembangunan pertanian (agribisnis) masa mendatang adalah sejauh mungkin mengatasi masalah dan kendala kritikal yang sampai sejauh ini belum mampu diselesaikan secara tuntas sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius. Satu hal yang sangat kritis adalah bahwa meningkatnya produksi pertanian (agribisnis) selama ini belum disertai dengan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani secara signifikan. Petani sebagai unit agribisnis terkecil belum mampu meraih nilai tambah yang rasional sesuai skala usaha tani terpadu (integrated farming system). Oleh karena itu persoalan membangun kelembagaan (institution) di bidang pertanian dalam pengertian yang luas menjadi semakin penting agar petani mampu melaksanakan kegiatan yang tidak hanya menyangkut on farm business saja, akan tetapi juga terkait erat dengan aspek-aspek off farm agribussinessnya.

Jika ditelaah, walaupun telah melampui masa-masa kritis krisis ekonomi nasional, saat ini sedikitnya kita masih melihat beberapa kondisi yang dihadapi petani di dalam mengembangkan kegiatan usaha produktifnya, yaitu:

 Akses yang semakin kurang baik terhadap sumberdaya (access to resources), seperti keterbatasan aset lahan, infrastruktur serta sarana dan prasarana penunjang

kegiatan produktif lainnya;

 Produktivitas dan tenaga kerja yang relative rendah (productive and remunerative employment), sebagai akibat keterbatasan investasi, teknologi, keterampilan dan pengelolaan sumberdaya yang effisien;

 Perasaan ketidak merataan dan ketidakadilan akses pelayanan (access to services) sebagai akibat kurang terperhatikannya rangsangan bagi tumbuhnya lembagalembaga social (social capital) dari bawah;

(12)

pertanian adalah ketimpangan pemilikan tanah. Hal ini adalah benar, karena tanah tidak hanya dihubungkan dengan produksi, tetapi juga mempunyai hubungan yang erat dengan kelembagaan, seperti bentuk dan birokrasi dan sumber-sumber bantuan teknis, juga pemilikan tanah mempunyai hubungan dengan kekuasaan baik di tingkat lokal maupun di tingkat yang lebih tinggi. Manfaat dari program-program pembangunan pertanian di perdesaan yang datang dari “atas” tampaknya hanya jatuh pada kelompok pemilik tanah, sebagai lapisan atas dari masyarakat desa.

Sebagai contoh, program kredit dengan jaminan tanah serta bunga modal, subsidi paket teknologi, teknologi produksi, bahkan control terhadap distribusi pengairan dan pasar local juga dilakukan oleh kelompok ini. Dilain pihak, pelaksanaan perubahan seperti landreform, credit reform dan sebagainya yang memang secara substansial diperlukan sebagai suatu cara redistribusi asset masih merupakan isyu yang kurang populer. Berbagai langkah terobosan sebagai suatu upaya kelembagaan guna memecahkan permasalahan di atas yang dikembangkan seperti pengembangan sistem usahatani sehamparan, pola PIR dan sebagainya, sama sekali belum memecahkan problem substansial yang oleh Boeke diungkapkan sebagai “dualisme”.

Dari pada itu, karakteristik perdesaan seringkali ditandai dengan pengangguran,produktivitas dan pendapatan rendah, kurangnya fasilitas dan kemiskinan. Masalah-msalah pengangguran, setengah pengangguran dan pengangguran terselubung menjadi gambaran umum dari perekonomian saat ini. Pada waktu yang sama, terjadi pula produktifitas yang rendah dan kurangnya fasilitas pelayanan penunjang. Rendahnya produktifitas merupakan ciri khas di kawasan perdesaan.

Pada umumnya, sebagian besar petani dan para pengelola industri perdesaan, bekerja dengan teknologi yang tidak berubah. Investasi modal pada masa sebelum krisis lebih banyak diarahkan pada industry perkotaan daripada di sektor pertanian perdesaan. Sebagai konsekuensinya, perbedaan produktifitas antara petani perdesaan dengan pekerja industri perkotaan semakin besar senjangnya. Hal ini merupakan masalah yang banyak dibicarakan dalam menyoroti ketimpangan antara perkotaan dan perdesaan, pertanian dan bukan pertanian.

Pelayanan publik bagi adaptasi teknologi dan informasi terutama untuk petani pada kenyataannya sering menunjukkan suasana yang mencemaskan. Di satu pihak memang terdapat kenaikan produksi, tetapi di lain pihak tidak dapat dihindarkan terjadinya pencemaran lingkungan, terlemparnya tenaga kerja ke luar sektor pertanian yang tidak tertampung dan tanpa keahlian/ketrampilan lain, ledakan hama karena terganggunya keseimbangan lingkungan dan sebagainya.

(13)

lingkungan, jatuhnya harga saat panen dan lainnya) seringkali menjadi pelengkap rasa tidak percaya diri (dan apatisme berlebihan) pada sebagian petani.

Tinjauan holistik dengan memperhatikan kondisi berbagai aspek kehidupan pertanian dan perdesaan seperti diuraikan disini, menunjukan bahwa inti esensi dari proses pembangunan pertanian dan perdesaan adalah transformasi structural masyarakat perdesaan dari kondisi perdesaan agraris tradisional menjadi perdesaan berbasis ekologi pertanian dengan pengusahaan bersistem agribisnis, yang menjadi inti dari struktur ekonomi perdesaan yang terkait erat dengan sistem industri, sistem perdagangan dan sistem jasa nasional dan global.

Mencermati situasi di atas, jelas sangat diperlukan upaya-upaya pengembangan agribisnis yang lekat dengan peningkatan pemberdayaan (empowering) masyarakat agribisnis terutama skala mikro dan kecil dalam suatu kebijakan yang “berpihak”. Keberpihakan kebijakan semacam itu sangat (baca: mutlak) diperlukan untuk mengatasi berbagai kendala dan tantangan pengembangan agribisnis yang beriorentasi ekonomi kerakyatan keadilan, dan sekaligus meningkatkan daya saing dalam iklim “kebersamaan” pelakupelaku ekonomi lainnya.

Untuk itu, sebagai prasyarat keharusan diperlukan suatu iklim kebijakan yang mendorong terbangunnya institusi (kelembagaan) yang mampu meningkatkan posisi petani menjadi bagian dari suatu kebersamaan entitas bisnis, baik dalam bentuk kelompok usaha bersama, koperasi, korporasi (community corporate) ataupun shareholder. Upaya kelembagaan tersebut diyakini akan dapat menjadi nilai (value) baru, semangat baru bagi petani untuk terutama dapat melonggarkan keterbatasan-keterbatasannya, seperti akses terhadap sumberdaya produktif (terutama lahan), peningkatan produktivitas kerja, akses terhadap pelayanan dan rasa keadilan, serta meningkatkan rasa percaya diri akan lingkungan yang aman, adil dan transparan.

Manifestasi dan implementasi dari upaya kelembagaan tersebut pada dasarnya bukanlah mudah dan sederhana. Sebagai suatu rules atau nilai dan semangat baru dalam pembangunan pertanian ke, depan seyogyanya mengandung berbagai ciri pokok dan mendasar. Pertama, upaya kelembagaan tersebut diharapkan menjadi pendorong terciptanya the same level playing field bagi petani dan pelaku ekonomi lainnya, berdasarkan “aturan main” yang fair, transparent, demokratis dan adil. Kedua, upaya kelembagaan tersebut mampu mendorong peningkatan basis sumberdaya, produktivitas, efisiensi dan kelestarian bagi kegiatan-kegiatan produktif pertanian, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

(14)

kesiapan aparat serta seluruh stakeholders pembangunan dalam pengelolaan pembangunan daerah, diperlukan suatu proses yang transparan dan dapat dipertanggung jawabkan dalam penentuan kebijakan dan berbagai pengambilan keputusan publik, sehingga aspirasi masyarakat dapat tercermin dalam pelaksanaan pembangunan.

Pelaksanaan pembangunan daerah yang selama ini dilaksanakan melalui proses P5D, secara konseptual telah mencoba melibatkan masyarakat semaksimal mungkin tetapi dalam kenyataannya menghadapi berbagai kendala sehingga diperlukan revisi dan pengembangan pola perencanaan pembangunan yang partisipatif, responsif, transparan, dan akuntabel.

Pola perencanaan pembangunan partisipatif tetap mengikuti alur perencanaan yang sudah ada dengan mengadopsi konsep keterpaduan P5D, namun dengan memberikan penekanan pada : pelibatan partisipasi aktif semua peserta forum musyawarah perencanaan, meningkatkan bobot keterwakilan masyarakat dalam forum perencanaan, meningkatkan pengakomodasian usulan dari bawah dalam program Dinas sektoral. Agar dapat terakomodir, maka usulan dari bawah harus memiliki ketajaman prioritas sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Untuk itu diperlukan revitalisasi dan penguatan lembaga perencanaan desa, dan memberikan bantuan pendampingan dalam proses penyusunan perencanaan di tingkat Desa dan Kecamatan, serta perlu dilakukan desiminasi dokumen Rencana Pembangunan Daerah (Poldas, Renstra, Repetada) sampai kepada masyarakat desa untuk memberi arah dalam penyusunan perencanaan masyarakat.

D.1 Kesimpulan

Kesimpulan utama dari kajian ini adalah bahwa percepatan penanggulangan problematika di pedesaan, seperti salah satu contoh masalah kemiskinan, pertanian dan ekonomik pedesaan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah paradigma pemberdayaan masyarakat dari yang bersifat top-down menjadi partisipatif, dengan bertumpu pada kekuatan dan sumber-sumber daya lokal. Penanggulangan kemiskinan yang tidak berbasis komunitas dan keluarga miskin itu sendiri akan sulit berhasil.

Proses otonomi daerah yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini, meskipun gamang pada awalnya, diyakini nanti akan berada pada jalur yang pas. Yang diperlukan adalah konsistensi dari pemerintah pusat untuk membimbing ke arah otonomi yang memberdayakan tersebut. Maka disarankan agar program-program penanggulangan problematika pedesaan ke depan mengarah pada penciptaan lingkungan lokal yang kondusif demi mamajukan pertanian dan ekonomi pedesaan bersama komunitasnya dalam menolong diri sendiri.

(15)

Hasil-hasil kajian Pusat P3MD dalam memberdayakan LKMD sebagaimana dikemukakan secara ringkas di atas merupakan masukan yang baik bagi pemerintah untuk lebih meningkatkan ketajaman program-program perencanaan desa demi meningkatkan pertanian dan ekonomi desa yang sedang direncanakan. Ke depan, pemerintah perlu melakukan dialog-dialog yang lebih mendalam dengan berbagai pelaku pemberdayaan masyarakat seperti LSM dan perguruan tinggi untuk mendapatkan masukan-masukan aktual bagi perencanaan strategi pembangunan yang partisipati.

Dalam rangka meningkatkan komunikasi antara pemerintah dengan berbagai komponen masyarakat yang terkait dengan upaya-upaya pemberdayaan perencanaan partisipatif pembangunan masyarakat desa (P3MD), maka mungkin perlu menyebarluaskan hasil-hasil kajian seperti yang dihasilkan oleh Pusat LKMD ini.

DAFTAR PUSTAKA

Wijaya, HAW. Otonomi Daerah dan Daerah Otonom. Jakarta. PT.Raja grafindo persada. 2002 HS. Dillon, “Paradigma Ekonomi yang Pro-Kaum Miskin dan Pro-Keadilan: Belajar Dari

Pelajaran Masa Lalu”. Juni 2001

Asmara, Lalu Hajar., 2001. Mencari Format Perencanaan Pembangunan yang Aspiratif Untuk Mendukung Implementasi Otonomi Daerah.

Hadi, A.P., Hilyana, dan Hayati, 2003. Revitalisasi Kelembagaan Petani dan Masyarakat Perdesaan Melalui Pemberdayaan Kelompok Lokal Dalam Kerangka Pembangunan Desa Berkelanjutan. Laporan Penelitian Tahun Pertama Hibah Bersaing Perguruan Tinggi XI. Mataram : Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

Team Work Lapera, 2001. Politik Pemberdayaan Jalan Mewujudkan Otonomi Desa. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama.

http://emperordeva.wordpress.com/about/pemberdayaan-masyarakat-miskin-di-era-otonomi-daerah/

Referensi

Dokumen terkait

membuat kerajinan kaca. Modal awal usahanya ini adalah sekitar 4 juta rupiah yang digunakan untuk membeli bahan limbah kaca, alat-alat seperti pemotong kaca,

Implikasi penelitian adalah (1) Sebaiknya dalam Kemampuan Manajerial yang dilaksanakan Kepala Sekolah lebih meningkatkan perhatian terhadap Guru-guru yang ada di SMP Negeri

Dari hasil-hasil pengamatan ini maka dapat diketahui bahwa semakin tinggi penekanan plunger , kekuatan tarik coran die casting Al-Mg-Si semakin meningkat yang

pengelasan dengan beban maksimum 250kg yang diharapkan berguna untuk.. membantu , mempermudah dan membuat pekerjaan yang dilakukan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu masukan atau tambahan informasi mengenai pengaruh Total Quality Management , Sistem Pengukuran Kinerja, dan Sistem Penghargaan

BUMD Badan usaha yang pendirianya diprakarsai oleh pemerintah daerah dan seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh daerah melalui penyertaan secara

Adapun penyusunan Renstra Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bengkalis Tahun 2016-2021 ini mengacu pada RPJMD Kabupaten Bengkalis Tahun 2016-2021 dengan

Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan penurunan kadar Besi (Fe), timah hitam (Pb), mangan (Mn) antara perlakuan Enceng Gondok dengan waktu 2 hari, 4 hari dan perlakuan