1
Pemanfaatan Metode Manchester Pada Sistem Pengunci Pintu Otomatis Berbasis Nirkabel
1)
Aloysius Alfa Adji Putra
1)Program Studi Sistem Komputer STIKOM Surabaya. Email: [email protected]
Abstract
The development of wireless-based communications are increasingly required in many applications. Automatic door locking applications requiring wireless technology in its application. Wireless modules in general are relatively large and have a high price. By using a wireless module RLP & TLP 434 can resolve these problems, yet these modules can only transmit digital data is a pulse wave and therefore requires an appropriate method of data transmission.
Manchester is one method of data delivery methods appropriate to do so. In practice the algorithm takes the sending and receiving data on the writing of programs that are made. Manchester method is the main point in this study that required a more detailed analysis in its application again.
The results given by using the method of Manchester is in accordance with the theory. RLP & TLP module to function properly so that the transmission of data managed in line with expectations. Manchester method has the advantage of the data length and data delivery rules can be changed according to need.
Keyword: Manchester, Wireless, Microcontroller.
Komunikasi nirkabel (wireless) adalah transfer informasi jarak jauh tanpa menggunakan konduktor listrik atau “kawat”. Untuk dapat melakukan komunikasi secara wireless, sebuah mikrokontroler membutuhkan peralatan penerima dan juga pengirim. (http://visilubai.wordpress.com/2010/04 /27/komunikasi-Wireless/ diakses Mei 2011).
Jaringan wireless memiliki keunggulan dan keuntungan dibanding dengan jaringan kabel. Mobilitas jaringan wireless menyediakan pengaksesan kepada pengguna dimana saja, selama berada dalam batas aksesnya. Kecepatan instalasi proses yang cepat dan mudah karena tidak membutuhkan kabel yang harus dipasang melalui atap atau tembok. Fleksibilitas tempat jaringan wireless
sangat fleksibel terhadap tempat
berbeda dengan jaringan kabel yang dipasang tanpa kabel. Pengurangan anggaran biaya terjadi saat terdapat perpindahan tempat walaupun investasi awal pada wireless lebih besar daripada jaringan kabel. Biaya instalasi dapat diperkecil karena tidak membutuhkan kabel dan biaya pemeliharaan yang lebih murah. Kemampuan jangkauan konfigurasi jaringan dapat diuubah dari jaringan peer-to-peer untuk jumlah pengguna yang sedikit menjadi jaringan infrastruktur yang banyak hingga mencapai ribuan pengguna yang dapat menjelajah dengan jangkauan luas.
2 Penguncian pintu kelas otomatis ini bermanfaat dalam penerapan aturan Nol Menit demi terlaksananya budaya disiplin di STIKOM Surabaya. Aturan Nol Menit merupakan sebuah aturan dimana kelas harus dikunci saat jam kuliah berlangsung, sehingga dapat membudayakan kedisiplinan pada setiap mahasiswanya.
Metode Manchester merupakan metode yang umum digunakan pada komunikasi data. Penerapan implementasi standar menggunakan
digital signaling (baseband) pada 10 Mbps. Pada pengirim, data diubah menjadi sinyal digital menggunakan skema Manchester. Pada penerima, sinyal yang diterima diinterpretasikan sebagai Manchester dan diterjemahkan menjadi data. Gambar 1 memperlihatkan skema pengkodean untuk StandardEthernet.
Gambar 1 Encoding dalam implementasi standartEthernet
[ Neno, 2010 ]
Selain umum digunakan pada pengiriman data pada peralatan jaringan, metode Manchester ini pun telah diterapkan pada aplikasi Remote Keyless Entry. Remote Keyless Entry
merupakan aplikasi penguncian pintu mobil dengan komunikasi wireless. Pada suatu artikel metode ini telah diterapkan dengan menggunakan 8400bps kecepatan data digital dengan Manchester Coding yang dikirimkan pada frekuensi 433MHz menggunakan
ASK.
[pdfserv.maxim-ic.com/en/ej/MER_6.pdf, diakses Agustus 2011]
RWS dan TWS 434 merupakan salah satu modul wireless yang berbentuk kecil dan harganya sangat murah jika dibandingkan dengan modul
wireless yang lainnya. Komunikasi
wireless yang digunakan merupakan komunikasi dengan gelombang radio pada frekuensi 433MHz. Modul RWS dan TWS 434 telah diterapkan pada sebuah hasil karya mengenai perancangan alat ukur suhu jarak jauh pada tugas akhir fakultas teknik di Sumatera Utara. Penerapan pada aplikasi tersebut menggunakan sebuah IC decoder dan encoder HT12E/D.
Modul wireless ini tidak dapat digunakan dengan memberikan logika
high ( 1 ) atau dengan logika low ( 0 ) secara langsung, tetapi harus menggunakan sebuah pulsa. Oleh karena itu untuk dapat mengaplikasikan modul wireless ini diperlukan sebuah IC
Encoder dan Decoder seperti HT12E/D atau dengan menggunakan suatu teknik pengiriman data. [Mario, 2009]
Salah satu teknik pengiriman data yang kerap digunakan dalam tansmisi data adalah dengan menggunakan metode Manchester. Dengan menggunakan metode ini maka pengiriman data diubah menjadi sebuah pulsa, karena data asli nol akan menjadi pulsa high low dan logika satu menjadi pulsa lowhigh.
Teknik Manchester ini telah di terapkan yang salah satunya terdapat pada jurnal yang berjudul “One-Time Collision Arbitration Algorithm In Radio-Frequency Identification Based On The Manchester Code”. Tujuan
penggunaan Manchester code pada jurnal ini adalah untuk mendeteksi adanya tabrakan bit data. Hasil dari eksperimen dan analisis performa menunjukan bahwa dengan algoritma Manchester terdapat 3 keunggulan.
3 alat pengunci pintu otomatis berbasis
wireless sehingga pengiriman data menggunakan pulsa yang dihasilkan oleh pengkodean Manchester. [Liu Chen-Chung, Yin-Tsung Chan. 2011.
One-Time Collision Arbitration Algorithm In Radio-Frequency Identification Based On The
Manchester Code. Journal Paper Vol 2 : 2]
Modul RWS dan TWS 434
RWS & TWS 434 merupakan salah satu modul RF ( Radio Frequency
) yang banyak beredar dipasaran modul ini merupakan modul Wireless
komunikasi dengan menggunakan gelombang radio. Disamping kemampuannya untuk dapat berkomunikasi secara tanpa kabel dengan handal, modul ini juga tergolong modul yang relatif murah.
Gambar 2 RWS & TWS 434 Modul RF buatan LAIPAC ini sering sekali digunakan sebagai alat untuk komunikasi data secara Wireless. Biasanya kedua modul ini dihubungkan dengan mikrokontroler atau peralatan
digital yang lainnya. Input data adalah
Serial dengan level TTL (Transistor – Transistor Logic). Jarak pancar maksimum dari modul RF ini adalah 100 meter tanpa halangan dan 30 meter di dalam gedung. Ukuran ini dapat dipengaruhi oleh faktor antena, kebisingan, dan tegangan kerja dari pemancar. Panjang antena yang
digunakan adalah 17 cm, dan terbuat dari kawat besi.
[http://www.innovativeelectronics.com/ innovative_electronics/download_files/ artikel/AN60.pdf, diakses mei 2011]
Mikrokontroler AVR
Mikrokontroler AVR merupakan mikrokontroler yang dibuat oleh perusahaan Atmel. Jenis mikrokontroler ini sangat banyak digunakan oleh para pengembang peralatan-peralatan elektronika. Fitur yang tersedia padaATMega 8535 adalah :
1. Frekuensi clock maksimum 16 MHz. 2. Jalur I/O 32 buah, yang terbagi
dalam PortA, PortB, PortC dan PortD.
3. Analog to Digital Converter 10 bit
sebanyak 8 input.
4. Timer/Counter sebanyak 3 buah. 5. CPU 8 bit yang terdiri dari 32
Register .
6. Watchdog Timer dengan osilator internal.
7. SRAM sebesar 512 byte.
8. Memori Flash sebesar 8 Kbyte
dengan kemampuan read while write.
9. Interrupt internal maupun eksternal.
10. Port komunikasi SPI.
11. EEPROM sebesar 512 byte yang dapat diprogram saat operasi. 12. Analog Comparator.
13. Komunikasi Serial standar USART dengan kecepatan maksimal 2,5 Mbps.
4 Gambar 3 Pin Mikrokontroler 8535 [Soebhakti,2007]
Berbagai seri mikrokontroler AVR telah diproduksi oleh Atmel dan digunakan di dunia sebagai mikrokontroler yang bersifat low cost dan high performance. Di Indonesia, mikrokontroler AVR banyak dipakai karena fiturnya yang cukup lengkap, mudah untuk didapatkan, dan harganya yang relatif terjangkau. Berikut ini merupakan perbandingan beberapa seri mikrokontroler AVR buatan Atmel terlihat pada tabel 1.
Tabel 1 Perbandingan Seri Mikrokontroler AVR
Keterangan:
Flash adalah suatu jenis Read Only Memory yang biasanya diisi dengan program hasil buatan manusia yang harus dijalankan oleh mikrokontroler. RAM (Random Acces Memory) merupakan memori yang membantu CPU untuk penyimpanan data sementara dan pengolahan data ketika program sedang running.
EEPROM (Electrically Erasable Programmable Read Only Memory) adalah memori untuk penyimpanan data secara permanen oleh program yang sedang running.
Port I/O adalah kaki untuk jalur keluar atau masuk sinyal sebagai hasil keluaran ataupun masukan bagi program.
Timer adalah modul dalam hardware yang bekerja untuk menghitung waktu/pulsa.
UART (Universal Asynchronous Receive Transmit) adalah jalur komunikasi data khusus secara serial
asynchronous.
PWM (Pulse Width Modulation) adalah fasilitas untuk membuat modulasi pulsa. ADC (Analog to Digital Converter) adalah fasilitas untuk dapat menerima sinyal analog dalam range tertentu untuk kemudian dikonversi menjadi suatu nilai digital dalam range tertentu. SPI (Serial Peripheral Interface) adalah jalur komunikasi data khusus secara
serial secara serialsynchronous.
ISP (In System Programming) adalah kemampuan khusus mikrokontroler untuk dapat diprogram langsung dalam sistem rangkaiannya dengan membutuhkan jumlah pin yang minimal.
[http://www.mikron123.com/index.php/
Tutorial-AVR/Overview-Mikrokontroler-AVR.html, diakses September 2011]
Metode Manchester
Manchester encoding ( juga dikenal sebagai Biphase Code) adalah teknik encoding dengan menggunakan
synchronous clock untuk encode data dari aliran bit synchronous. Teknik ini, sebenarnya merupakan data biner yang di pancarkan melalui kabel. Keuntungan utama dari penggunaan Manchester
5 1. Memudahkan dalam penterjemahan
jika terdapat aliran bit 0 atau 1 secara berturut-turut.
2. Mudah dalam mendeteksi error pada implementasinya.
Pada umumnya, pengiriman data
serial ke penerima harus diatur saat terdapat nilai nol yang panjang (kelebihan waktu yang terbatas, dapat menyebabkan noise). Oleh karena itu demodulator pada penerima umumnya selalu membedakan penerimaan data 1 dan 0. Manchester encoding dapat menyediakan hal tersebut.
Setiap transmisi data memiliki sebuah aturan yang harus dilakukan. Aturan pada Manchester coding adalah sebagai berikut :
1. Jika data sebenarnya adalah logika 0, maka kode Manchester adalah 0 ke 1. 2. Jika data sebenarnya adalah logika 1, maka kode Manchester adalah 1 ke 0. Aturan pada Manchester coding (Sesuai dengan IEEE) :
1. Jika data sebenarnya adalah logika 0, maka kode Manchester adalah 1 ke 0. 2. Jika data sebenarnya adalah logika 1, maka kode Manchester adalah 0 ke 1.
Gambar 4 Manchester Code
Jadi setiap pengiriman satu bit
data yang sebenarnya, diperlukan dua buah bit Manchester yang harus dikirimkan. Kerugian yang diterima dengan penggunaan Manchester
encoding adalah kebutuhan bandwidth
yang lebih.[mills,2009]
Pada Journal yang berjudul Enhanced performance of RSOA-based
WDM PON by using Manchester coding memberi kesimpulan bahwa sinyal Manchester-encoded memiliki jumlah komponen pada frekuensi rendah yang diabaikan karena transisi yang terjadi di tengah-tengah setiap periode bit. Serta dari hasil eksperimen yang dilakukan menunjukkan bahwa jarak transmisi maksimum dapat ditingkatkan 30-65 km dengan modulasi sinyal downstream dalam format Manchester bukannya format NRZ yang konvensional. (Kim, S.Y, S.B. Jun, dkk. 2007. Enhanced performance of RSOA-based WDM PON by using Manchester
coding. Vol 6 : 629 - 630)
SamplingBased Manchester Decode
Diharuskan untuk melakukan
sampling serta menyimpan nilai dari
input data kedalam media penyimpanan, banyak nilai (S) yang diperlukan harus lebih cepat dari pesan data rate. Ini membutuhkan memory yang lebih serta membuat prosesor bekerja lebih, oleh karena itu untuk mencegah kerusakan data maka dibutuhkan interupsi. Interupsi tersebut dapat diatur dengan
timer atau dengan menggunakan interupsi pin pada umumnya.
1. Set uptimer ke interupsi setiap 2T / S 2. SR routine selalu memeriksa san
menyimpan perubahan pin mikrokontroller (1 or 0)
3. Ulangi langkah 2 diatas hingga menapatkan jumlah dari bit S.
4. Proses berlangsung dengan mengambil sampel dan menghitung jumlah berapa banyak nilai satu dan nol.
5. Ketika nilai logika berikutnya berubah.
6 6. Set bit saat ini = nilai logika yang ditunjuk pada penympanan.
7. Resetcount dan hitung hingga logika berikutnya berubah
a. Bandingkan count dengan (S/2) b. Seandainya count < (S/2)
i. Reset dan hitung hingga logika berikutnya berubah.
ii. Pastikan juga count < (S/2) iii. Bit berikutnya = bit saat ini iv. Simpan bit berikutnya dalam penyimpanan.
c. Salain itu jika count >= (S/2) i. Bit berikutnya = Kebalikan bit
saat ini
ii. Simpan bit berikutnya dalam penyimpanan.
d. Selain itu
i. Kembalikan error
8. Ulangi langkah 7 hingga seluruh data terbaca.
9. Keluar untuk proses data lebih lanjut. Gambar 5 berikut ini merupakan gambaran tentang decode Manchester dengan cara sampel.
Gambar 5 Sampling Base Manchester
Decoding
[www.atmel.com/dyn/resources/prod_d ocuments/doc9164.pdf, diakses Febuari 2011]
FlowChart Mikrokontrol
Manchester coding merupakan algoritma pengiriman data yang di tanamkan kedalam mikrokontroler. Algoritma transmisi data ini terbagi menjadi dua bagian utama yaitu
Manchester encoding (transmitter) dan Manchester decoding (receiver).
Penjelasan mengenai flowchart
diatas akan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian agar mempermudah dalam penjelasan. Sub bab berikutnya akan membahas mengenai kedua
flowchart besar diatas.
FlowChartTransmitter
Flow chart pada sisi transmitter
terbagi menjadi 2 bagian utama yaitu main program terlihat pada gambar 6 dan sub program interrupt serial terlihat pada gambar 7.
Gambar 6 Flowchart Blok Utama
Encoding
7 Gambar 7 Flowchart Blok Intterupt
Serial Routine Encoding
FlowChartReceiver
Flow chart pada sisi receiver
terbagi menjadi 2 bagian utama yaitu main program terlihat pada gambar 8 dan sub program interrupt timer terlihat pada gambar 9.
Gambar 8 Flowchart Blok Main Program Decoding
8 Gambar 9 Flowchart Blok Intterupt
Timer Sub Routine Decoding
Bagian kedua dari flowchartreceiver
terdapat pada interrupt timer terlihat pada gambar 9. Blok ini merupakan blok utama dari sistem yang digunakan sebagai penterjemah data Manchester. Secara garis besar blok ini terbagi lagi menjadi 4 blok yaitu blok manchster
decoding, blok pengolah hasil, blok pemeriksa sinkronisasi, dan blok penghasil delay manual.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Secara Keseluruhan
Pengujian secara keseluruhan dilakukan untuk menguji sistem dari awal hingga akhir. Pengujian dilakukan dengan melihat jarak terjauh yang dapat dibaca oleh wireless dan melakukan pengujian apakah wireless dapat diterapkan secara nyata.
Tujuan
Pengujian komunikasi metode manchester ini bertujuan untuk mengetahui apakah software Visual Basic, mekanik, hardware, dan
komunikasi metode manchester telah terintegrasi dengan baik sehingga sistem dapat berjalan sesuai dengan harapan. Serta melakukan pengujian jangkauan wireless dan uji kelayakan jika diterapkan pada kenyataan.
Alat yang digunakan
1. PC beserta software Visual Basic 6.0.
2. Rangkaian penerima dan pemancar. 3. Osiloskop.
4. Power supply.
5. Rangkaian modul I/O.
6. Pintu miniatur beserta electric door lock.
Prosedur Pengujian
1. Rangkai power supply, rangkaian modul wireless, dan electric door lock dengan benar.
2. Nyalakan power supply pada
receiver dan transmitter.
3. Pastikan bahwa seluruh komponen hardware tidak mengalami kerusakan.
4. Nyalakan PC dan buka program penjadwalan Visual Basic.
5. Hubungkan kabel serial ke PC. 6. Pastikan antena telah terpasang
dengan baik.
7. Amati lampu indikator pada rangkaian receiver dan transmitter, terutama pada lampu 4 (indikator status pintu).
8. Perhatikan jadwal yang tertera pada program Visual Basic.
9. Lakukan double klik pada label tanggal untuk melihat pengiriman data serial.
10. Amati apakah pengiriman telah sesuai dengan indikator.
11. Saat indikator menandakan status pintu on, maka coba tekan tombol pada pintu. Jika electric door lock terbuka maka telah berhasil.
9 13. Buka pintu saat electric door lock
terbuka.
14. Lakukan pengecekan pada seluruh komponen.
Hasil Pengujian Secara Keseluruhan Pengujian dilakukan sesuai dengan langkah-langkah pada prosedur pengujian. Gambar 10 merupakan gambar kondisi awal pada sisi penerima, dimana lampu 4 pada kedua penerima masih menyala (kondisi awal).
Gambar 10 Uji Awal
Setelah seluruh komponen telah berfungsi dengan baik, maka melakukan pengujian pengiriman data yang secara otomatis dikirimkan oleh program Visual Basic setiap 50 detik. Gambar 11 memperlihatkan bahwa program telah member perintah untuk membuka salah satu pintu.
Gambar 11 Uji Menerima Data Lampu indikator memberikan tanda bahwa electric door dapat dibuka dengan tanda bahwa lampu 4 telah padam. Lihat pada gambar 12, posisi lampu padam dan electric door dalam keadaan menutup (untuk mempermudah pengamatan maka electric door dilepas dari pintu miniatur).
Gambar 12 Uji Electric Door Awal Berikutnya adalah percobaan saat pengguna melakukan penekanan tombol disaat posisi pintu diizinkan terbuka seperti gambar 13. Terlihat bahwa electric door dalam kondisi aktif yang nantinya akan membuka pintu miniatur.
Gambar 13 Uji Electric Door Berfungsi
Hasil Pengujian Jarak Pancaran Mengetahui jarak pancaran pada wireless sangatlah penting sehingga dapat diketahui berapakah jarak maksimal yang dapat didukung oleh modul wireless pada rangkaian yang telah dibuat. Pengujian jarak dilakukan dengan menggunakan rangkaian penerima dan pemancar serta indikator penerimaan data.
10 Gambar 14 Gambaran Jarak Pengujian
Pada gambar 14 terlihat bahwa titik berwarna jingga adalah pemancar (transmitter), titik berwarna hijau adalah penerima (receiver) dan garis ungu adalah jarak diagonal antara kedua rangkaian. Tabel 2 dan 3 berikut ini memperlihatkan hasil pengujian tersebut.
x y Diagonal
1 -6 -10 11.661904 Berhasil
2 -4.4 -10 10.9252 Berhasil
3 -4.4 -12 12.781236 Berhasil
4 -5.2 -12 13.078226 Berhasil
5 -4.4 -16.4 16.979988 Gagal
x y Diagonal
1 -2 -18 18.11077 Gagal
2 -2.4 -16.8 16.970563 Berhasil
3 -2.4 -15.6 15.783536 Berhasil
4 -5.6 -4 6.8818602 Berhasil
5 -0.4 -7.2 7.2111026 Berhasil
6 -5.6 1.2 5.7271284 Berhasil
7 4.4 -4.8 6.5115282 Berhasil
Tabel 2 Pengujian Transmiter Dengan Antena Kabel
Jarak (Meter )
Pengujian Ke- Hasil
Pengujian Ke- Jarak (Meter ) Hasil
Tabel 3 Pengujian Transmiter Dengan Antena Wireless
Pada tabel 2 dan 3 terdapat angka dengan warna jingga yang bertujuan untuk menandakan bahwa pada pengujian tersebut adalah pengujian dengan hasil maksimal. Baris dengan warna latar belakang jingga
menandakan bahwa pengujian dilakukan pada posisi secara nyata yaitu pada kampus STIKOM sesuai dengan gambar 15 dibawah ini.
Gambar 15 Denah Pengujian Real
Simpulan
Metode Manchester merupakan metode yang cocok dengan modul wireless RLP & TLP 433 dengan demikian aplikasi penguncian pintu otomatis dapat dibuat dengan baik. Penggunaan metode Manchester ini mentitikberatkan pada pemrograman algoritma encoding dan juga decoding. Algoritma manchester encoding jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan algoritma untuk melakukan decoding.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai power supply, keterhubungan antar jalur pada kaki komponen, pengaturan program CVAVR, dan antena yang memadai. Secara keseluruhan sistem dapat berjalan dengan baik, dari program Visual Basic hingga melakukan penguncian pada pintu miniatur. Pada implementasi secara nyata jika diterapkan pada gedung kelas di STIKOM Surabaya maka modul ini dapat digunakan sesuai dengan harapan. Saran
11 peneliti berikutnya apablia ingin mengembangkan sistem yang telah dibuat ini agar menjadi lebih baik adalah sebagai berikut :
1. Tampilan pada program Visual Basic yang masih sederhana, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut. 2. Program Visual Basic versi 6.0 dapat
diganti menjadi versi yang terbaru. 3. Pintu miniatur sebaiknya diterapkan
pada pintu secara nyata.
4. Algoritma metode Manchester terutama pada bagian decoding dapat lebih disempurnakan lagi sehingga lebih effisien dan hemat memori. 5. Peneliti berikutnya dapat
membandingkan antara pengiriman dengan metode Manchester dengan medote lain seperti UART ataupun menggunakan IC decoder HT12E/D. 6. Komunikasi wireless ini dapat
digunakan pada aplikasi yang lain sehingga lebih berguna dan bermanfaat untuk kasus yang berbeda.
7. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut guna memaksimalkan jarak jangkauan wireless agar lebih mendekati hasil pada datasheet.
DAFTAR PUSTAKA
Liu Chen-Chung, Yin-Tsung Chan. 2011. One-Time Collision Arbitration Algorithm In Radio-Frequency Identification Based On The
Manchester Code. Journal Paper Vol 2 : 2.
Kim, S.Y, S.B. Jun, dkk. 2007.
Enhanced performance of RSOA-based WDM PON by using Manchester
coding. Journal Of Optical Networking Vol 6 : 629 – 630.
Atmel. 2009. Manchester Coding
Basics. (Online).
(www.atmel.com/dyn/resources/prod_d
ocuments/doc9164.pdf, diakses Febuari 2011)
Soebhakti, Hendrawan.2007.Basic AVR Microcontroller Tutorial. Batam Centre: Batam.
Yunianto, Redi. 2011 .Wireless RF
Communication. (Online).
(http://www.innovativeelectronics.com/ innovative_electronics/download_files/ artikel/AN60.pdf diakses Mei 2011). Prasimax, Tim. 2011. Apa itu
Mikrokontroler?. (Online).
(http://www.mikron123.com/index.php/
Tutorial-AVR/Apa-itu-Mikrokontroler.html, diakses September 2011).
Mills, Adrian.2009.” Manchester
encoding using RS-232”. Summit Electronics Ltd.
Mario, Hendra.2009.Perancangan Alat Ukur Suhu Jarak Jauh Dengan Memanfaatkan Frekuensi Radio 434Mhz Berbasis Mikrokontroler AT Mega 8535 Dengan Display LCD. Fakultas Teknik: Medan.
Maxim. 2011. Microcontroller Engineering Review Volume 6. (Online). (pdfserv.maxim-ic.com/en/ej/MER_6.pdf, diakses Agustus 2011).
Neno, Mikael, dkk. 2010. Ethernet. (Online).
(te.ugm.ac.id/~risanuri/v01/wp-content/uploads/2011/02/ethernet.pdf, diakses Agustus 2011).
Ibrahim, Amrullah. 2010. Komunikasi
Wireless. (Online).