• Tidak ada hasil yang ditemukan

Principle of Insurable Interest pada Asu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Principle of Insurable Interest pada Asu"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Principle of Insurable Interest pada

Asuransi

dalam Kajian Bisnis Syariah

Kuat Ismanto, M.Ag.

Dosen Ekonomi Islam STAIN Pekalongan

Abstract

Asuransi sebagai perjanjian bisnis harus memenuhi asas-asas hukum

perjanjian sebagai lex generalis. Disamping itu, juga harus mengikuti

asas-asas hukum sebagai lex spesialis hukum asuransi. Salah satu asas

tersebut adalah principle of insurable interest, dimana setiap peserta

asuransi wajib memiliki hubungan terhadap objek yang diasuransikan. Islam memandang bahwa segala aktivitasa bisnis boleh sepanjang tidak ada dalil yang secara tegas melarangnya. Demikian halnya, para

pihak yang melakukan perjanjian asuransi diperbolehkan

mencamtumkan klausul sesuai dengan kesepakatan. Disamping itu

aktivitas bisnis juga harus terhindar dari unsur judi, gharar, penipuan,

dan semacamnya.

Kata Kunci: asuransi,insurable interest, bisnis syariah

A. Pendahuluan

Asuransi atau pertanggungan adalah suatau perjanjian dengan

mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang

tertanggung dengan suatu premi untuk memberikan penggantian

kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan

keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena

suatu peristiwa yang tak tentu.1 Perjanjian asuransi yang telah dibuat

oleh tertanggung (nasabah) dan penanggung (perusahaan asuansi)

harus memenuhi syarat sah perjanjian asuransi yang termaktub dalam

KUH Perdata pasal 1320. Pasa tersebut sebagai lex generalis semua

perjanjian. Namun demikian, di dalam perjanjian asuransi juga harus

memenuhi prinsip-prinsip hukum asuransi sebagai lex spesialis.

1 Subekti dan Tjitrosudibio, KUHD dan Peraturan Kepailitan, cet. 26, (Jakarta: PT.

(2)

Menurut Hartono2 prinsip-prinsip tersebut berjumlah empat, yang

meliputi (1) principle on insurable interest (prinsip kepentingan yang

dapat diasuransikan); (2) principle of utmost goodfaith (prinsip kejujuran

sempurna); (3) principle of indemnity (prinsip indemnitas); (4) principle of

subrogration (prinsip penggantian pihak ketiga). Keempat prinsip ini

juga sesuai dengan ketentuan dalam buku I Bab IX KUH Dagang yang

berlaku di Indonesia. Mehr & Cammack3 (1981) menambah tiga

prinsip lagi, yaitu prinsip jaminan, prinsip representasi, prinsip

penyembunyian, dan terakhir prinsip keagenan. Namun demikian,

sejumlah pakar menambahkan tiga prinsip lainnya, yaitu principle of

contribution, principle of loss minimation, dan principle of causa proxima.4

Dari beberapa prinsip yang ada, tulisan ini difokuskan pada

kajian principle on insurable interest. Hal ini tidak bermaksud menafikan

makna penting prinsip-prinsip yang lain, dengan alasan pertama

keterbatasan tempat. Kedua, ketiadaan prinsip ini dalam asuransi

dipandang paling berpotensi terhadap praktik judi, ketidakpastian

(garar), dan bahkan penipuan.

Maksud principle of insurable interest adalah orang yang membeli

polis asuransi harus mempunyai kepentingan terhadap kelangsungan

barang, orang dan atau hak yang diasuransikan. Prinsip ini dibahas

dari sudut pandang hukum Islam, tepatnya hukum perjanjian dan

etika bisnis syariah. Makna penting pembahasan ini untuk mengetahui

apakah prinsip dimaksud bertentangan dengan hukum bisnis

(muamalat) dalam Islam, sebab Mehr dan Cammack (1981)

2 Hartono, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, (Jakarta: Sinar Grafika, 1997), hlm.

98-108.

3 Mehr dan Cammack, Dasar-dasar Asuransi, Penyadur A. Hasyimi, (Jakarta: Balai Aksara,

1981).

4 Akrani, Principles of Insurance - 7 Basic General Insurance Principles

(3)

menyatakan bahwa pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum

asuransi akan berakibat batalnya perjanjian yang telah dibuat.

B. Principle of Insurable Interest sebagai Prinsip Hukum Asuransi

Principle of insurable interest dalam kancah hukum asuransi

Indonesia disebut dengan „prinsip kepentingan yang dapat

diasuransikan‟. Dalam bahasa arab disebut mabda' al-maslahah

at-ta'miniyyah. Kerangka kerja dari prinsip ini adalah setiap pihak yang

bermaksud mengadakan perjanjian asuransi, harus mempunyai

kepentingan yang dapat diasuransikan. Maksudnya ialah bahwa pihak

tertanggung mempunyai keterlibatan sedemikian rupa dengan akibat

dari suatu peristiwa yang belum pasti terjadinya dan yang

bersangkutan menjadi menderita kerugian.5

Dalam perspektif hukum, insurable interest berarti bahwa

seseorang terhadap kontrak asuransi, dimana peserta maupun

pemegang polis harus memiliki hubungan khusus terhadap

subject-matter asuransi, apakah itu berkait dengan kehidupan, kekayaan, atau

kemampuan dimana hal itu akan ditunjuk. Ketiadaan persyaratan

hubungan ini akan menyebabkan tidak sahnya kontrak. Ketiadaan

persyaratan prinsip ini pula akan menyebabkan tidak sahnya kontrak

(contract illegal).6

Dasar pengaturan prinsip ini ada pada pasal 250 dan 268 KUH

Dagang.

Apabila seseorang yang telah mengadakan suatu

pertanggungan untuk diri sendiri, atau apabila seseorang yang untuknya telah diadakan suatu pertanggungan, pada saat diadakannya pertanggungan itu tidak mempunyai suatu

5 Hartono. Hukum Asuransi... hlm. 100.

(4)

kepentingan terhadap barang yang dipertanggungkan itu, maka si penanggung tidaklah diwajibkan memberikan ganti rugi.

Suatu pertanggungan dapat mengenai segala kepentingan yang dapat dinilaikan dengan uang, dapat diancam bahaya oleh suatu bahaya, dan tidak dikecualikan dengan undang-undang.

Pasal 250 KUHD mengatur bahwa kepentingan itu harus ada

pada saat perjanjian asuransi ditutup. Apabila syarat tersebut tidak

dipenuhi, maka penanggung akan bebas dari kewajibannya untuk

membayar ganti rugi. Mengenai hal ini, paling tidak ada dua

pendapat, pertama yang menyatakan kepentingan harus ada pada saat

perjanjian diadakan, dan kedua yang berpendapat bahwa kepentingan

itu tidak harus ada pada saat perjanjian diadakan. Kelompok pertama,

berpijak pada suatu pemikiran, bahwa kepentingan yang dapat

diasuransikan itu harus ada pada saat perjanjian asuransi ditutup.

Pasal 250, juga menyaratkan bahwa kepentingan harus sudah

ada pada saat perjanjian diadakan, dengan alasan bahwa kepentingan

merupakan syarat untuk sahnya perjanjian dan harus dipenuhi pada

saat terjadinya perjanjian. Kepentingan dalam hal ini diartikan jauh

lebih luas, karena dianggap sebagai terdapat kemungkinan kerugian

sebagai akibat dari peristiwa yang tidak dapat dipastikan di masa

mendatang yang justru sudah ditentukan oleh pihak, dan

mengandung keterangan-keterangan yang cukup sehingga dapat

ditentukan kepentingan yang mana yang akan diasuransikan.

Kelompok kedua berpendapat bahwa kepentingan yang dapat

diasuransikan tidak perlu harus ada pada saat perjanjian diadakan,

tetapi paling tidak harus ada pada saat terjadi peristiwa yang

menyebabkan timbulnya kerugian karena dapat menimbulkan

ketidakadilan. Dari dua pendapat diatas, penulis berpendapat bahwa

(5)

disinilah letak spekulasi itu, muncul sebab ketiadaan kepentingan

asuransi.

Berbeda dengan kedua pendapat diatas, maka Mehr dan

Cammack (1981: 37) berpendapat bahwa waktu berlakunya kepetingan

yang dapat diasuransikan itu untuk dapat memperoleh pembayaran

dari perusahaan asuransi bergantung pada jenis asuransi. Dalam

asuransi kerugian, kepentingan itu harus ada pada waktu terjadinya

kerugian. Sebaliknya, dalam asuransi jiwa, kepentingan itu harus ada

pada permulaan pembuatan perjanjian.7

Secara sederhana, maka dapat dipahami bahwa kepentingan

yang dapat diasuransikan, pada saat ditutupnya peranjian asuransi,

secara yuridis dan secara riil belum ada atau melekat pada

tertanggung, tetapi sudah dapat dideteksi lebih awal tentang adanya

kemungkinan keterlibatan seseorang terhadap kerugian ekonomi yang

dapat dideritanya karena suatu peristiwa yang belum pasti.

Guna mendeteksi apakah seseorang memiliki kepentingan atau

tidak, dapat diketahui atas pertanyaan-pertanyaan antara lain sebagai

berikut (1) Seberapa jauh keterkaitan tertanggung terhadap

benda/objek perjanjaian asuransi atau terjadinya peristiwa yang

diperjanjikan, (2) Apakah peristiwa yang terjadi menyebabkan

kerugian atau tidak terhadap tertanggung.

Batasan atau pengertian „kepentingan„ didalam perjanjian

asuransi atau pertanggungan dapat dimulai dari pengertian yang tidak

langsung sebagai berikut; seseorang dapat dianggap mempunyai

7 Pendapat ini diperkuat oleh D. Victor dengan menyatakan “With life insurance, the

insurable interest in the insured must be demonstrated at the time of application. Once a life insurance policy contract is issued, insurable interest is no longer relevant. This suggests that the beneficiary of a life policy does not have to provide evidence of insurable interest upon the death of the insured”.

(6)

„kepentingan‟ didalam perjanjian asuransi apabila orang tersebut dapat atau mungkin menderita kerugian yang bersifat kerugian

ekonomi, sehingga penanggung harus memberi ganti kerugian,

sehingga dengan demikian kepentingan dapat pula diartikan sebagai

„keterlibatan kerugian keuangan, karena suatu peristiwa yang belum

pasti‟.

Kepentingan-kepentingan tersebut dapat ditandai dengan

adanya hubungan hak-milik, hubungan keditur-debitur, hubungan

perwalian, hubungan suami-istri, hubungan orang tua-anak,

hubungan kastodi, dan lain sebagainya. Orang yang membeli polis

asuransi harus mempunyai kepentingan terhadap kelangsungan

barang, orang, dan atau hak yang diasuransikan. Kelangsungan itu

memberi manfaat terhadap pengambil polis dan kemusnahannya

tersebut menimbulkan kerugian padanya. Anda dikatakan memiliki

kepentingan atas objek yang diasuransikan apabila Anda menderita

kerugian keuangan seandainya terjadi musibah, yang menimbulkan

kerugian atau kerusakan atas objek tersebut. Kepentingan keuangan

ini memungkinkan Anda mengasuransikan harta benda atau

kepentingan anda.8 Sebagai contoh, seorang suami tidak bisa

menunjuk istri orang lain sebagai ahli waris asuransi sebab ia tidak

memiliki hubungan terhadap istri orang lain tersebut yang ditandai

dengan adanya hubungan pernikahan.

Apabila terjadi musibah atas objek yang diasuransikan dan

terbukti bahwa Anda tidak memiliki kepentingan keuangan atas objek

tersebut, maka Anda tidak berhak menerima ganti rugi. Jika suatu

kejadian dapat menimbulkan kerugian atas seseorang maka berarti

barang tersebut memiliki kepentingan yang dapat diasuransikan. Jika

8 Ismanto. Asuransi Syariah: Tinjauan Asas-asas Hukum Islam. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

(7)

ia tidak menghadapi risiko, maka ia tidak mempunyai kepentingan

yang dapat diasuransikan.9

Tujuan dari pencantuman prinsip ini adalah untuk

menunjukkan motif atas penjualan asuransi, dan juga terhadap

penyerahan kewajiban kepada ahli waris dalam polis asuransi jiwa.

Sebagai contoh, seorang buruh mengambil polis asuransi jiwa, dan

menunjuk nama istri dan anaknya sebagai ahli waris. Perusahaan

asuransi harus mengetahui hal tersebut, dalam hal kematian yang

tidak diharapkan orang yang diasuransikan, dan keluarga akan

menderita kerugian ekonomi. Dari sini dapat dikatakan bahwa

seseorang tersebut memiliki kepentingan yang dapat diasuransikan.

Dari sudut pandang penanggung asuransi (insurer), maka

idealnya asuransi guna berkait dengan prinsip kpentingan yang dapat

diasuransikan, harus memiliki enam persyaratan10, pertama, bahwa

adanya large number of homogeneous exposure units. Tujuan dari

persyaratan ini adalah memberi pengetahuan pada perusahaan

asuransi untuk memprediksi kerugian yang didasarkan pada law of

large number. Jika hukum bilangan besar ini tercukupi, maka

perusahaan secara akurat dapat memprediksi frekuensi rata-rata dan

juga rata-rata kerugian.

Kedua, kerugian itu harus terjadi secara accidental dan tidak

disengaja. Idealnya, hal itu terjadi dalam prosentase yang besar, sebab

pada dasarnya, prinsip asuransecara kebetulan dan di luar kontrol

peserta asuransi. Hal ini berarti bahwa jika seseorang dengan sengaja

9 Mehr dan Cammack, Manajemen Asuransi, Penyadur A. Hasyimi, (Jakarta: Balai Aksara,

1981). Hlm. 37.

10 Bakar, "The Problem of Risk and Insurable Interest in Takaful: A Jurisprrudential

(8)

menyebabkan kerugian, maka perusahaan tidak diwajibkan membayar

klaim asuransi. Ketiga, kerugian itu seharusnya dapat ditentukan

(determinable) dan dapat diukur (measurable). Hal ini seharusnya

menjadi tipe standar kerugian yang secara khusus susah untuk

dipadankan, dan ini harus dapat menjadi ukuran financial. Dengan

kata lain dapat diciptakan satu kerangka nilai atas keberadaannya.

Keempat, kerugian itu seharusnya bukan termasuk hal yang bisa

hancur semua dalam satu waktu (catastrophic). kejadian kerugian itu

tidak tersi didasarkan pada pemikiran penyebaran kerugian, dan pada

asumsi bahwa hanya dalam prosentase kecil saja dalam satu kelompok

yang akan mengalami kerugian dalam satu waktu. Kelima, syarat lain

yang cukup penting adalah bahwa kemungkinan kerugian itu harus

dapat diukur. Perusahaan harus dapat menghitung frekuensi rata-rata

dan tingkat rata-rata kerugian mendatang dengan keakuratan. Hal ini

sangat penting sebab premi yang sesuai akan diterapkan bahwa hal ini

sesuai untuk membayar semua klaim dan pengeluaran dan

keuntungan selama polis berlaku. Keenam, syarat yang trakhir adalah

premi harus layak secara ekonomi (economically feasibility). Hal ini

maksudkan peserta dapat membayar premi yang diwajibkannya.

Semua syarat diatas, tanpa terkecuali, lebih didasarkan pada

pertimbangan ekonomi, ketimbang kerangka teoritis prinsip ekonomi

semata. Dengan kata lain, secara teori, prinsip-prinsip asuransi tidak

mengijinkan masuknya risiko spekulatif dalam asuransi yang sesuai

dengan enam syarat diatas.

J. Lawrence, sebagaimana dikutip oleh Afzalurrahman 11 telah

menyatakan kepentingan yang dapat diasuransikan dalam pernyataan

berikut.

11 Afzalurrahman, Doktrin Ekonomi Islam, alih bahasa Suroyo dan Nastangin,

(9)

Orang yang tertarik pada sesuatu yang mungkin dapat mendatangkan keuntungan atau menganggap suatu kejadian dari lingkungannya yang mungkin terjadi dan yang

menganggap penting bahwa keselamatannya atau

kepentingannya harus dijamin; kemauannya tidak perlu diterapkan sebagai haknya atas seluruh bagian hartanya, juga bukan pada maksud-maksud pribadinya, dengan sesuatu yang berkaitan, atau berhubungan dengan subjek asuransi, yang berkaitan atau berkepentingan dengan resiko yang terjadi atas orang yang masuk asuransi yang mungkin dapat berakibat terjadinya kerusakan, kerugian, atau orang yang masuk asuransi menderita kerugian; dan dimana semua orang yang merasa sangat khawatir terhadap suatu resiko atau kerusakan tertentu atau yang memiliki keyakinan moral atas suatu keuntungan, tetapi atas resiko atau kerusakan, ia lebih tertarik untuk menyelamatkannya. Karena tertarik atas pemeliharan hartanya, dan ia merasa sangat terikat dengan keberadaan harta itu, ia akan menjaganya dari kerusakan harta dan kepentingan yang timbul mungkin sangat berbeda terutama dengan ukurannya, tetapi dengan adanya suatu benda, setiap keuntungan yang timbul atau ketergantungan benda tersebut dapat dianggap saling melengkapi.

Kutipan tersebut diatas merupakan dasar aturan asuransi

Maritim tahun 1906 yang menyatakan bahwa dalam hal tertentu,

orang tertarik pada perjalanan laut dimana ia secara sah dan

berkepentingan sama dengan perjalanan tersebut atau atas harta yang

dapat disuransikan, atas risiko yang mungkin terjadi sebagai

akibatnya, ia mungkin dapat memperoleh keuntungan dari jaminan

keselamatan atau berkaitan dengan hartanya yang diasuransikan, atau

oleh penawaran yang telah disepakati, atau mungkin jaminan yang

ditawarkan.

Jika pokok masalah asuransi merupakan objek fisik yang

digunakan uantuk mengatasi bahaya, sebagaimana pada masalah

kecelakaan pribadi, atau asuransi harta, kepentingan asuransi jelas

(10)

terbentuk. Tetapi, jika pokok masalah tidak berupa objek fisik seperti

asuransi jaminan, kepentingan asuransi kurang dapat ditentukan, dan

oleh karena itu harus dibuat penjelasannya. Dalam kaitan ini, peserta

asuransi sama halnya mengalamai penderitaan atas suatu peristiwa.

Oleh karena ia mempunyai kepentingan asuransi pada peristiwa

tersebut. Lebih-lebih, kepentingan asuransi harus bernilai materiil,

karena hanya harapan untuk memenuhi kepentingannya tidak cukup

memberi peluang untuk masuk asuransi. Sejauh riil, karena hanya

harapan itu dapat dianggap dapat diasuransikan, bahkan untuk

kepentingan masa depan sekalipun.

Hal mendasar dari adanya prinsip ini dalam asuransi adalah

syarat untuk menghindari praktik judi dan pertaruhan. Jadi

keberadaannya bukan hanya sekedar justifikasi semata atau pelengkap

saja. Dari sejumlah literatur dalam asuransi selalu mengarahkan

bahwa principle of insurable interest dibutuhkan untuk mencegah

perjudian atau taruhan (gambling) disamping juga mengurangi moral

hazard (cacat moral).

C. Kajian Bisnis Syariah tentang Principle of Insurable Interest

Hukum perjanjian syariah membolehkan seseorang untuk

menyaratkan klausul dalam sebuah perjanjian. Terlebih, jika klausul

tersebut membawa dampak positif dan semakin memperkuat

kedudukan perjanjian yang dibuat. Kebolehan ini didasarkan pada

asas kebebasan berkontrak (al-mabda’ huriyyah at-ta’aqud) yang telah

diakui dalam perjanjian syariah.12

Kebolehan menyaratkan klausul tersebut didasarkan pada

Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari „Amr bin „Auf yang mengatakan.

12 Anwar, "Hukum Perjanjian dalam Islam: Kajan Cacat Kehendak (Wilsgebreken)", dalam

(11)

Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali

perdamaian yang mengharamkan yang halal atau

menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat

dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang

mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Adanya prinsip-prinsip hukum asuransi dalam perjanjian

asuransi, termasuk principle of insurable interest, pada dasarnya boleh.

Dengan ketentuan, prinsip-prinsip hukum dimaksud tidak menyalahi

ketentuan syariah yang ada, seperti menghalalkan yang haram dan

menghalalkan yang haram. Justru pada kenyataannya membawa

dampak yang baik dalam perjanjian asuransi.

Disamping perjanjian asuransi menganut asas kebebasan

berkontrak, juga harus mempertimbangkan prinsip bahwa bisnis harus

didasarkan pada pertimbangan mendatangkan manfaat dan

menghindari madharat, disamping memperhatikan prinsip yang lain.13

Dalam suatu kontrak, objek dari apa yang diakadkan pada tiap akad

yang diadakan haruslah mengandung manfaat bagi kedua pihak.

Dalam pengertian manfaat disini jelas dikaitkan dengan ketentuan

benda yang nilainya dipandang dari pandangan hukum Islam. Prinsip

kepentingan yang dapat diasuransikan dalam perspektif asas manfaat

ini berarti seseorang yang ingin mengambil asuransi harus memiliki

nilai kemanfaatan atas barang yang dijadikan objek asuransi. Ia juga

harus memiliki keterlibatan sedemikian rupa sehingga bila barang itu

musnah ia tidak lagi bisa memiliki manfaat atas barang tersebut.

Dengan kata lain ia memiliki kemanfaatan atas keberlangsungan

barang tersebut. Sebagai misal rumah yang diasuransikannya bila

terbakar maka ia tidak lagi bisa mengambil manfaat rumah sebagai

tempat tinggal karena terbakar. Oleh karenanya ia dianggap memiliki

kemanfatan yang sepadan dengan kepentingan dalam berasuransi.

13 Ismanto, Manajemen Syariah: Implementasi TQM dalam Lembaga Keuangan Syariah,

(12)

Bila ia mengikuti asuransi tanpa memperhatikan manfaatnya berati ia

hanya sia-sia saja, dan kesia-siaan (mulghah) dilarang dalam Islam.

Berkaitan dengan barang yang diasuransikan, Islam telah

memberi batasan bahwa Islam mengharamkan akad yang berkenaan

dengan hal-hal yang bersifat mudharat seperti jual beli yang tidak

bermanfaat apalagi membahayakan (QS. 2: 219). Barang-barang yang

telah jelas dilarang (diharamkan) dalam hukum Islam tidaklah

dipandang bermanfaat sama sekali (QS. 5: 3). Mengenai penggunaan

barang najis sebagai objek akad, tergantung penggunaannya, misalnya

menjual kotoran hewan untuk pupuk dibolehkan. Dari asas ini juga

dapat disimpulkan bahwa segala bentuk muamalah yang merusak

kehidupan masyarakat tidak dibenarkan. Misalnya berdagang

narkotika, ganja, dan sejenisnya. Dalam hal berasuransi seorang tidak

diperkenankan mengasuransikan objek yang dilarang dalam Islam,

misalnya mengasuransikan peternakan babi, atau mengasuransikan

rumah dimana rumah itu digunakan sebagai tempat prostisusi.

Dengan demikian esensi dari keberadaan principle of insurable

interest adalah mencegah adanya unsur judi dan spekulasi. Dalam

Islam, judi termasuk perbuatan yang najis dan termasuk perbuatan

setan oleh karena itu termasuk praktik yang dilarang dalam Islam.

Dalam prinsip-prinsip bisnis (mu‟amalah) Islam dikatakan bahwa

semua aktivitas bisnis boleh hukumnya, kecuali syara‟ menentukan

sebaliknya. Dalam prinsip-prinsip ekonomi Islam disebut dengan asas

kebolehan (ibahah). Hal ini didasarkan pada kaidah ushul fiqh yang

berbunyi “pada hukum asal mu‟amalah hukumnya mubah, sampai

ditemukan dalil yang melarangnya”.14

14 Asy-Syuyuti, al-Asbah wa an-Nadzair fi Qawaid al-Furu’ asy-Syafi’iyyah, (Beirut: Dar

(13)

Kehalalan dan keharaman bisnis, tidak saja pada barang yang

dihasilkan, melainkan juga pada proses memperolehnya. Hal

demikian mempertanyakan apakah dilakukan dengan cara-cara yang

dibenarkan atau tidak oleh syara‟.15 Sebab hal inilah yang

membedakan bisnis Islam dan konvensiona;, yang dalam setiap

kegiatan ekonomi motivasinya selalu didasarkan pada perolehan

keuntungan semata (profit oriented).

Praktik asuransi sebagaimana uraian diatas bukanlah

termasuk praktik yang dilarang dan hukumnya sah menurut Islam.

Namun demikian bila dalam praktiknya mengandung unsur judi,

maka praktik asuransi menjadi terlarang. Keharaman judi dikaitkan

dengan perbuatan lain, yaitu meminum khamr (minuman keras),

menyembah berhala, mengundi nasib dengan panah. Keharaman

tersebut ditunjukkan oleh surat al-Maidah ayat 90. Ayat lain yang

merujuk keharaman judi adalah surat al-Baqarah ayat 219.

Berdasar pada kedua ayat di atas, maka segala macam bentuk

judi adalah terlarang. Judi (maisir) secara bahasa dapat diartikan

sebagai lunak, tunduk, keharusan, mudah, kaya, dan membagi-bagi.

Sedangkan secara istilah judi dapat berarti memperoleh sesuatu

dengan sangat mudah atau tanpa kerja keras untuk mendapat

keuntungan.16 Prinsip berjudi adalah terlarang, baik itu seseorang

terlibat secara mendalam maupun hanya berperan sedikit saja atau

tidak berperan sama sekali, menggantugkan keuntungan semata,

disamping sebagian orang-orang yang terlihat melakukan

kecurangan, kita mendapatkan apa yang semestinya tidak kita

dapatkan, atau menghilangkan suatu kesempatan. Dalam praktiknya,

15 Basyir, Asas-asas Hukum Muamalat Hukum Islam (Hukum Perdata Islam), (Yogyakarta:

Perpustakaan Fakultas Hukum UII, 1988).

16 Qardlawi, al-Halal wa al-Haram, (Indianapolis, USA: American Trust Publications, tt).

(14)

judi adalah usaha untuk memperoleh uang atau barang melalui

pertaruhan. Usaha seperti ini termasuk dalam kategori khaba'is dan

gharar serta bertentangan dengan nilai keadilan yang senantiasa

ditekankan pada bisnis Islam. Sebab keadilan juga termasuk prinsip

bisnis yang harus dipatuhi.

Meskipun legalitas suatu perjanjian dalam Islam tidak

mengharuskan adanya ilat atau motif untuk beribadah dari pelaku

transaksi, tetapi bisnis dalam Islam tidak bisa lepas begitu saja dengan

etika bisnis. Etika dijadikan sebagai basis yang harus dipegang dan

dijalankan seseorang atau kelompok dalam menjalankan

aktivitasnya.17. Dalam praktiknya pelaku bisnis akan senantiasa

mempertimbangkan setiap aktivitasnya apakah masih dalam bingkai

ajaran Islam dengan prinsip-prinsip moralnya atau sebaliknya, karena

hal ini sangat berimplikasi pada seluruh aspek kehidupan manusia

secara keseluruhan.

Dalam perjanjian Islam yang dinilai dari perilaku legal tidaknya

adalah perbuatan atau tindakan hukum yang dilakukan bukan motif

dibaliknya. Sebab dalam perjajian Islam disemangati oleh

objektivisme. Hal ini lebih cenderung pada kehendak nyata. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Nabi bahwa kita memberi hukum sesuatu

berdasarkan dhahirnya sedangkan Allah menghukumi pada sebaliknya. Lebih

jauh keberadaan prinsip kepentingan yang dapat diasuransikan

ditempatkan sebagai prinsip yang akan mencegah seseorang yang

akan ikut asuransi dengan motif berjudi maupun taruhan. Hal ini

didasarkan pada kaidah ushul yang mengatakan mencegah mafsadah

dan menarik kemaslahatan.18

17 Naqvi, Etika dan Ilmu Ekonomi suatu Sintesis Islami, alih bahasa Husin Anis Bandung:

Mizan, 1993. Hlm. 37-38.

(15)

Dalam hal perjanjian asuransi ini, maka perjanjian itu dianggap

sebagai jalb al-masalih, namun jika diketahui bahwa dengan adanya

perjanjian tersebut ada hal-hal yang bersifat destruktif, maka prinsip

kepentingan yang dapat diasuransikan ini ditempatkan sebagai dar'

al-mafasid. Mencegah perjanjian asuransi dari unsur yang dilarang adalah

harus dilakukan jika memang motif dan tujuannya (kecuali tujuan

syar'i), maka perjanjian tersebut dianggap sah dan tidak perlu dicegah.

Sehingga bila sudah terpenuhi syarat dan rukunnya, maka perjanjian

diatas sudah sah dan tidak perlu ditelusuri apa motif dibalik adanya

perjanjian tersebut. Allah bersabda surat al-„Isra‟ (17) ayat 36 wa la taqaf

ma laisa laka ilm, yang berarti „janganlah kamu menilai sesuatu yang

tidak kamu ketahui‟.

Adanya prinsip ini adalah sebagai pencegah masuknya judi

dalam pearsuransian. Adanya judi harus dicegah karena akan

menimbulkan bahaya (darar). Hal ini didasarkan pada kaidah ushul

ad-darar yuzal yang diambil dari hadis la ad-darara wa la dirar. Adanya prinsip

ini sebagai usaha pencegahan kemadzaratan. Dalam Islam usaha

semacam ini disebut dengan sadz adz-dzari'ah, yaitu melakukan sesuatu

pekerjaan yang semula mengandung kemaslahatan untuk menuju

kepada suatu kemafsadatan (kerusakan). Maksudnya seseorang

melakukan suatu pekerjan yang pada dasarnya dibolehkan karena

mengandung suatu kemaslahatan, tetapi tujuan yang hendak ia capai

berakhir pada suatu kemafsadatan.

Menurut Yusuf al-Qardlawi (tt: 10) bahwa jalan yang menuju

pada terciptanya suatu pekerjaan yang haram, maka jalan itu pun

diharamkan. Niat yang baik tidak membuat yang haram bisa diterima,

dan yang haram terlarang bagi siapapun. Atas dasar ini jika peserta

yang mengambil asuransi dalam rangka berjudi, maka usahanya

(16)

adanya unsur kecurangan, penipuan, ketidak adilan, dan juga judi

yang ada dalam asuransi. Adanya prinsip ini adalah sebagai pencegah

adanya unsur yang dilarang syara‟. Berkaitan dengan prinsip ini pula,

bahwa dalam muamalah Islam hendaknya perdagangan itu dilakukan

dengan didasarkan pada tiga dimensi yaitu niat, kemampuan dan

perhitungan. Demikian juga dalam hal niat seseorang mengambil

asuransi.

Dalam perjanjian Islam lebih menfokuskan pada bagaimana

perjanjian itu dilakukan, bukan mengapa perjanjian itu dilakukan.

Iktikad baik diimplementasikan dalam perjanjian yang legal, menjadi

fundamen dasar dalam mengaitkan antara perdagangan dan religi.

Sebab dalam Islam seseorang bebas untuk menentukan perjanjian

apapun juga, termasuk nama, dan jenisnya asal tidak betentangan

dengan syara'. Sebab dalam wilayah mu'amalah segala sesuatu

dihukumi boleh kecuali jika ada dalil yang melarang. Hal ini

didasarkan pada kaidah ushul fiqh al-aslu fi asya' al-ibahah hatta yadullu

ad-dalil ala tahrimiha.19 Menurut as-Sanhuri bahwa hukum dagang

Islam tidak mempermasalahkan apakah transaksi dagang itu bermotif

ibadah atau bukan, sepanjang praktik itu tidak bertentangan dengan

ketentuan agama hal itu dapat diberi legalitas.

Namun demikian, undang-undang asuransi modern juga telah

memberikan pengecualian-pengecualian terhadap persyaratan ini.

Undang-undang Asuransi Malaysia tahun 1963, sebagai contoh,

memperbolehkan seseorang untuk mengasuransikan istri atau suami,

anak atau orang-orang yang berada dalam tanggungannya, ketika

kontrak asuransi itu dibuat. Pengecualian ini juga berlaku bagi

siapapun yang mana seseorang pada waktu itu secara total atau parsial

(17)

saja bergantung kepadanya. Ayat 152 juga memberi pengecualian

terhadap terhadap hubungan majikan dan pekerja.20

Dalam undang-undang asuransi Malaysia tahun 1984

menguraikan tentang principle of insurable interest. Dalam

undang-undang tersebut tidak menyaratkan adanya prinsip ini dalam asuransi

jiwa. Menurut para pakar, konsep asuransi jiwa tidak memuat prinsip

ini. Ketiadaannya tidak akan membawa pada adanya perjudian

maupun taruhan, sebab hanya membuat ketidakrelevanan saja dan

tidak akan merusak kehidupan peserta. Begitu juga dalam asuransi

kerugian, dimana juga tidak mencantumkan adanya prinsip ini.21

Iqbal berpendapat bahwa adanya, prinsip-prinsip hukum

asuransi, tidak terkecuali principle of insurable interest, tidak cukup

mengeliminasi sikap spekluatif, baik dari pihak penanggung maupun

tertanggung.22 Berbeda dengan pendapat diatas, penulis berpendapat

bahwa prinsip ini penting untuk dipertahankan. Prinsip ini cukup

efektif dijadikan sebagai instrumen untuk mengeliminir judi yang ada

dalam asuransi. Disisi lain, asuransi juga tidak menawarkan konsep

yang solutif kecuali pernyataan bahwa tindakan spekulatif dan judi

dilarang dalam Islam.

Dalam konteks ini, Zarqa'23 berpendapat bahwa asuransi

konvensional sekalipun, berbeda sama sekali dengan judi. Perbedaan

itu terletak pada asuransi memberikan rasa aman dalam diri seseorang

yang sedang menghadapi kemungkinan kerugian. Hal ini telah dilihat

khusus berkenaan dengan judi telah ditepis oleh adanya prinsip risiko

(principle of risk).

20 Bakar, "The Problem of Risk...hlm. 179. 21 Bakar, "The Problem of Risk...hlm. 184.

22 Iqbal, Asuransi Umum Syariah: Upaya MenghilangkanGharar, Maisir, dan Riba (Jakarta:

Gema Insani Pres) hlm. 25.

23 Zarqa', Nizam at-Ta'min; Haqiqatuhu wa ar-Ra'y asy-Syar’i Fihi, (Beirut: Muassasah

(18)

Meskipun antara judi (gambling) dan risiko termasuk

ketidakpastian, tetapi metode untuk menanganinya berbeda. Dalam

judi, penjudi mengharapkan keuntungan dari kekalahan orang lain.

Dan juga, perpindahan kekayaan didalam judi, yaitu perpindahan dari

si kalah kepada pemenang, tidak termasuk kreasi kekayaan baru.

Sedangkan di dalam asuransi, menambah kekayaan baru dalam

masyarakat. Oleh karena itu asuransi termasuk memiliki nilai tambah

aktivitas ekonomi (value added activity) yang sama sekali berbeda

dengan judi yang bersifat tidak adanya nilai tambah (zero-value added).

D. Penutup

Principle of insurable interest menyatakan bahwa setiap

tertanggung diwajibkan memiliki hubungan terhadap objek yang

dipertanggungkan. Hubungan tersebut bisa ditandai dengan

hubungan kepemilikan, hubungan keluarga, dan lain-lain. Prinsip ini

berfungsi sebagai pencegah praktik perjudian dalam asuransi. Dengan

demikian, prinsip ini tidak bertentangan dengan syara‟. Pelanggaran

terhadap prinsip-prinsip asuransi akan berakibat batalnya perjanjian

yang telah dibuat. Keberadaannya justru menghindarkan asuransi dari

praktik yang dilarang dalam Islam, seperti judi, spekulasi, penipuan,

dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Afzalurrahman, Doktrin Ekonomi Islam, alih bahasa Suroyo dan Nastangin, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti wakaf, 1996).

Akrani, Gaurav, “Principles of Insurance-7 Basic General Insurance Principles http://kalyan-city.blogspot.com/2011/03/principles-of-insurance-7-basic-general.html/akses 15 Desember 2012.

Anwar, Syamsul, "Hukum Perjanjian dalam Islam: Kajan Cacat Kehendak

(Wilsgebreken)", dalam Jurnal Penelitian Agama, No. 21 th. VIII

(19)

Ash-Siddiqie, M. Nejatullah, Asuransi di dalam Islam, alih bahasa Ta‟lim Musafir, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1987).

Asy-Syuyuti, Jalaluddin, al-Asbah wa an-Nadzair fi Qawaid al-Furu’ asy

-Syafi’iyyah, (Beirut: Dar al-kitab al-„Arabi, 1987/1407).

Az-Zarqa', M. Anas, conference paper "outline of comments on dr. mohammed daud bakar paper on "the problem of risk and

insurable interest in takaful: jurisprudental analysis",

disampaikan pada Fourth International Conference on Islamic

economics and banking loughborough university, united kingdom august 13-15 2000; Islamic Finance and Opportunities in The Twenty-First.

Bakar, Mohd. Daud, "The Problem of Risk and Insurable Interest in

Takaful: A Jurisprrudential Analysis", dalam Fourth International

Conference on Islamic Economics and Banking, Loughborough University, United Kingdom August 13-15 2000; Islamic Finance and Opportunities in The Twenty-First.

Basjir, Ahmad Azhar, Asas-asas Hukum Muamalat Hukum Islam (Hukum

Perdata Islam), (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Hukum UII, 1988).

Basyir, Ahmad Azhar, “Takaful Sebagai Alternatif Asuransi Islam”, dalam

Jurnal Ulumul Qur’an, No. 2. Vol. VII, 1996.

Birds, John, Modern Insurance Law, (t.tp: Sweet & Maxwell, 1993).

Hartono, Sri Rejeki, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, (Jakarta:

Sinar Grafika, 1997).

Ismanto, Kuat, Asuransi Syariah: Tinjauan Asas-asas Hukum Islam,

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).

Ismanto, Kuat, Manajemen Syariah: Implementasi TQM dalam Lembaga

Keuangan Syariah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).

Iqbal, Muhaimin, Asuransi Umum Syariah: Upaya Menghilangkan Gharar,

Maisir, dan Riba (Jakarta: Gema Insani Press).

(20)

Mehr dan Cammack, Manajemen Asuransi, Penyadur A. Hasyimi, (Jakarta: Balai Aksara, 1981).

Muslehuddin, Muhammad, Menggugat Asuransi Modern, Yogyakarta:

Penerbit Lentera, 1999.

Naqvi, Syed Nawab Haidar, Etika dan Ilmu Ekonomi suatu Sintesis Islami,

alih bahasa Husin Anis Bandung: Mizan, 1993.

Naqvi, Syed Nawab Haider. Ethics and Economics an Islamic Synthesis,

(Leicester: The Islamic Foundation, 1981).

Qardlawi, Yusuf. al-Halal wa al-Haram, (Indianapolis, USA: American

Trust Publications, tt).

Zarqa', Musthafa Ahmad, Nizam at-Ta'min; Haqiqatuhu wa ar-Ra'y

asy-Syar’i Fihi, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1984).

Referensi

Dokumen terkait

Defek kecil yang melibatkan margo palpebra superior dapat diperbaiki dengan penutupan langsung jika teknik ini tidak mengambil tekanan yang terlalu besar pada luka.. Penutupan

perbandingan bobot biji jagung (utuh dan pecah) yang keluar dari lubang pengeluaran utama terhadap total bobot hasil pemipilan yang keluar dari lubang pengeluaran yang

Pengurangan cahaya terhadap anggrek Mokara Chark Kwan dapat digunakan hanya untuk tujuan meningkatkan fase vegetatif tanaman seperti untuk tujuan pertambahan jumlah daun dan

Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sam Redding yang dikutip dalam buku “Membangun Sekolah Efektif” yang mengatakan faktor / kondisi yang

Skripsi yang berjudul “Bentuk Kesalahan Berbahasa Ruang Publik: Kajian Struktural Bahasa” ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat akademik memperoleh gelar Sarjana

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa problematika mahasiswa asing belajar statistika di perguruan tinggi adalah mengalami kesulitan

Pengujian dilakukan dengan cara menginputkan kombinasi dari parameter-parameter kontrol (jumlah ikan, maksimum iterasi, dan batas) lalu mencatat output dari hasil

Beth Haslett dan John Ogilvie (1988) mengemukakan bahwa pemanfaatan umpan balik dalam berkomunikasi antarbudaya bermanfaat agar umpan balik dapat diungkapkan secara