• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prospek dan Strategi Pengembangan Sistem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Prospek dan Strategi Pengembangan Sistem"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Pendahuluan

Jagung merupakan salah satu dari li-ma komoditas unggulan (beras, kedelai, da-ging dan gula) dalam Program Kementerian Pertanian 2010-2014. Pemerintah mentarget-kan pencapaian produksi dari 0,93 juta ton pada tahun 2010 menjadi 1,08; 1,23; 1,34; dan 1,54 juta ton berturut-turut pada tahun 2011, 2012, 2013 dan 2014 dengan luas

panen masing-masing dari 142,5 ribu ha pada tahun 2010 menjadi 166,3 ribu ha pada tahun 2011; 190,0 ribu ha pada tahun 2012; 213,7 ribu ha pada tahun 2013; dan 237,5 ribu ha pada tahun 2014. Jagung juga termasuk salah satu dari 25 komoditas Top Agribisnis yang berada pada urutan ke 14 (urutan ke-1 kelapa sawit dan ke-25 beras) dengan nilai ekspor dari US $ 4,3 juta pada tahun 2006 menjadi US

Prospek dan Strategi Pengembangan Sistem Budidaya

dan Agribisnis Tanaman Jagung di Lahan Rawa :

Kendala dan Tantangan

Achmad Rachman, Muhammad Noor, Yanti Rina

Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa

Jl. Kebun Karet, Loktabat. Kotak Pos 31.Telp/fax 0511 4772534 Email: [email protected]. Banjarbaru 70712

Abstrak

Jagung merupakan salah satu dari lima komoditas unggulan (beras, kedelai, daging dan gula) dalam Program Kementerian Pertanian 2010-2014. Pemerintah menargetkan pencapaian produksi dari 0,93 juta ton pada tahun 2010 menjadi 1,54 juta ton pada tahun 2014 dengan luas panen dari 142,5 ribu ha pada tahun 2010 menjadi 237,5 ribu ha pada tahun 2014. Jagung juga termasuk salah satu dari 25 komoditas Top Agribisnis yang berada pada urutan ke 14 (urutan ke-1 kelapa sawit dan ke-25 padi/beras) dengan nilai ekspor dari US $ 4,3 juta pada tahun 2006 meningkat menjadi US $ 18,5 juta pada tahun 2007 dan US $ 16,5 juta pada tahun 2008.

Jagung merupakan komoditas penting kedua setelah padi di lahan rawa yang dapat ditanam pada musim kemarau maupun musim hujan. Pengembangan sistem usaha tani dan agribisnis jagung di lahan rawa menunjukkan perspektif yang baik karena beberapa keunggulan dan peluang yang dimiliki lahan rawa. Namun tingkat produktivitas jagung di lahan rawa masih tergolong rendah dengan keberagaman yang cukup tinggi berkisar 3,5-5,5 t/ha, dibandingkan target yang diharapkan 6,5 t/ha. Beberapa kendala dari lahan rawa diantaranya adalah sifat dan watak tanah dan air dengan kunci utama adalah pengelolaan air dan pembenahan tanah. Oleh karena itu, dukungan teknologi budidaya dan pengelolaan tanah, air, dan hara dalam pengembangan jagung di lahan rawa sangat diperlukan meliputi penyiapan lahan dan olah tanah, perbenihan, penggunaan varietas unggul, ameliorasi dan pemupukan, pemberian mulsa dan bahan organik sehubungan dengan sifat dan watak tanah, air dan hara di atas. Dari keragaan agribisnis jagung di lahan rawa ditunjukkan masih lemahnya penyediaan sarana produksi (benih, pupuk), share pendapatan yang diterima petani masih kecil dibandingkan pedagang, serapan pasar terhadap produksi belum berkembang atau merata walaupun peluang cukup besar. sehingga memerlukan upaya perluasan dan distribusi.

Dalam meningkat sistem budidaya dan sistem agribisnis jagung dilahan rawa diperlukan langkah-langkah antara lain 1). perubahan orientasi produksi dari usahatani jagung (panen muda) ke usahatani jagung panen pipilan kering, 2) pemanfaatan dan pengembangan teknologi budidaya yang spesifik lokasi, dan 3) dukungan kelembagaan yang efesien dan efektif.

(2)

$ 18,5 juta pada tahun 2007 dan US $ 16,5 juta pada tahun 2008 (Sujatmaka, 2009).

Dalam program Kementerian Pertani-an 2010-2014 telah ditetapkPertani-an sistem perta-nian industrial unggul berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan kemandirian pa-ngan, nilai tambah, ekspor dan kesejahteraan petani. Dengan demikian maka pengembangan agribisnis jagung yang diharapkan dalam sis-tem pertanian yang terintegrasi antara pro-duksi dan kebutuhan. Produktivitas jagung nasional tergolong masih rendah dan sangat beragam antara 5-6 t/ha. Peningkatan pro-duktivitas untuk mencapai target di atas diha-rapkan dapat mencapai 6,5 t/ha sebagaimana telah dituangkan dalam Program Kementerian Pertanian yang antara lain yaitu pada 1). Program Pengelolaan Tanaman Pangan dan 2). Pengelolaan Lahan dan Air.

Berkenaan dengan lahan rawa, luas sumber daya lahan rawa mencapai 33,4 juta hektar yang terdiri atas 1) rawa pantai, 2) rawa pasang surut, dan 3) rawa lebak, tetapi luas lahan rawa yang cocok untuk pengem-bangan pertanian diperkirakan 9,5 juta hek-tar. Lahan rawa tersebar pada 16 provinsi yang terpusat pada Pulau Kalimantan sepan-jang pantai Selatan dan Timur, Pulau Suma-tera sepanjang pantai Timur dan Utara, Sula-wesi sepanjang pantai Barat dan Timur, dan Papua sepanjang pantai Selatan.

Sebagian besar lahan rawa di atas masih ditutupi hutan primer, hutan sekunder, semak belukar, dan rawa monoton. Pembu-kaan dan pencetakan sawah di lahan rawa di mulai sejak tahun 1969 sampai 1992 untuk pendukung Program Transmigrasi yang men-capai 1,8 juta hektar di Sumatera, Kaliman-tan dan Sulawesi. Selanjutnya pembukaan besar-besaran lahan rawa dan gambut

(Pembukaan Lahan Gambut) seluas 1,4 juta hektar di Kalimantan Tengah tahun 1995-1996, dihentikan tahun 1999, kemudian di-lanjutkan kembali dengan Program Perce-patan Rehabilitasi dan Revitalisasi Pertanian Kawasan PLG sejak 2007. Sementara ini telah disiapkan pembukaan lahan rawa secara luas di Merauke, Papua untuk mendukung pro-duksi pertanian/perkebunan. Keseluruhan lahan rawa yang dibuka oleh pemerintah dan masyarakat setempat diperkirakan mencapai 5,0 juta hektar, namun yang sudah diman-faatkan baru mencapai sekitar 3,2 juta hek-tar masing-masing 2,4 juta ha oleh masya-rakat lokal setempat dan 0,8 juta hektar masyarakat transmigran. Luas lahan (panen) jagung secara nasional baru mencapai 0,93 ribu ha, sementara dari sepuluh provinsi uta-ma (Riau, Jambi, Sumsel, Lampung, Kalsel, Kalteng, Kaltim, Kalbar, Sulbar, Sulteng) ter-dapat sekitar 2.269.950 ha lahan rawa yang sudah dibuka dan diantaranya 1.110 ribu ha belum dimanfaatkan sama sekali (Noor et al., 2010). Maka peluang untuk perluasan areal atau optimalisasi penggunaan lahan untuk pengembangan produksi jagung terbuka luas.

(3)

rawa antara lain : 1) hamparan lahan yang cukup luas, 2) topografi relatif datar, 3) ke-tersediaan air yang berlimpah, dan 4) keari-fan lokal dalam pengelolaannya. Peluang pe-ngembangan lahan rawa didorong oleh kon-disi strategis nasional dan global yang antara lain : (1) permintaan pangan nasional dan dunia yang semakin bertambah, (2) kompen-sasi dari hilangnya lahan pertanian di Jawa, (3) penyangga pangan pada kekeringan eks-trim di luar lahan rawa, (4) levelling off pro-duktivitas pangan di Jawa, dan (5) sebagai prasarana untuk pengentasan kemiskinan (Noor et al., 2010). Tambahan lagi, tingkat resiko kegagalan pada usaha tani jagung lebih kecil dibandingkan dengan usaha padi dan kedelai (Ananto et al., 2000). Limbah jagung juga mempunyai prospek untuk pakan ternak sapi sehingga dapat diintegrasikan dalam sistem pengelolaan ”zero waste” yang patut untuk dikembangkan. Luas 1 hektar jagung (60-80 ribu populasi) dapat dihasilkan 18 ton limbah pakan/musim-selama 4 bulan. Apa-bila keperluan 1 ekor sapi 25 kg pakan/hari, maka 1 keluarga petani (dengan lahan jagung seluas 1 ha) mampu memberi pakan untuk 6 (enam) ekor sapi selama 4 bulan.

Budidaya tanaman jagung di lahan ra-wa masih bersifat konvensional yang umum-nya ditanam pada lahan sawah setelah padi secara monokultur, lahan surjan secara terus menerus dan monokultur, lahan surjan se-cara tumpang sari dengan tanaman perke-bunan atau hortikultura (seperti cokelat, jeruk). Produktivitas jagung di lahan rawa sangat beragam. Hasil penelitian di Karang Agung, Provinsi Sumatera Selatan menun-jukan hasil jagung pada lahan rawa pasang surut berkisar 3,5-5,5 ton pipilan kering/ha, tergantung pada tipologi lahan, varietas, dan

masukan amelioran dan pupuk (Ismail et al.,1993).

Tulisan ini mengemukakan tentang prospek dan strategi pengembangan sistem budidaya dan agribisnis tanaman jagung di lahan rawa untuk mendukung program swa-sembada jagung 2010.

Prospek Budidaya Jagung di Lahan

Rawa

Agroekosistem rawa mempunyai ka-rakteristik yang berbeda dengan agroeko-sistem lainnya seperti lahan kering atau lahan irigasi. Tingkat produktivitas lahan rawa sa-ngat ditentukan oleh sifat dan watak tanah, air dan iklim serta pengelolaannya. Sifat dan wa-tak utama dari lahan rawa antara lain tekstur umumnya liat, mengandung lapisan pirit, ada-nya lapisan gambut yang bersifat hidrofobik, salinitas yang tinggi pada musim kemarau, ke-masaman yang tinggi disertai dengan kadar Al, Fe, dan Mn yang tinggi, kahat hara makro (P, K, Mg, Ca) dan mikro (Cu, Zn, Mo, B), daya sangga (mekanika) tanah rendah, tingkat sera-ngan hama dan virulensi penyakit tanaman tinggi. Dukungan teknologi budidaya dan pe-ngelolaan tanah, air, dan hara dalam pengem-bangan jagung di lahan rawa sangat diperlu-kan sehubungan dengan sifat dan watak ta-nah, air dan hara di atas. Uraian berikut me-ngemukakan tentang aspek budidaya dan pe-ngelolaan tanah, air dan hara dalam upaya meningkatkan hasil jagung untuk mendukung pengembangan agribisnis di lahan rawa.

Penyiapan Lahan dan Olah Tanah

(4)

apabila lahan yang diusahakan cukup luas (hamparan) sebaiknya dengan traktor. Olah tanah dengan traktor dapat dilakukan 1 atau 2 kali dalam setahun dengan kata lain diper-lukan hanya apabila keadaan tanah kurang gembur. Penyiapan lahan dengan pembakaran perlu dihindari karena dapat berakibat penu-runan kesuburan tanah selanjutnya karena hilangnya bahan organik dan mikroorganisme tanah serta dapat meningkatkan emisi gas ru-mah kaca (GRK).

Penggunaan Varietas

Beragam varietas dapat ditanam di la-han rawa baik rawa pasang surut maupun rawa lebak. Hasil peneltian di lahan rawa pa-sang surut Kayu Agung, Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan dari lima varietas di-peroleh hasil tertinggi pada varietas Arjuna dengan hasil 4,9-5,5 ton pipilan kering/ha dan Wiyasa dengan hasil 4,5-5,5 ton pipilan ke-ring/ha masing-masing ditanam pada lahan potensial dan lahan sulfat masam dengan pem -berian 1 ton kapur/ha (Ismail et al, 1993). Hasil penelitian di lahan rawa lebak dangkal, Desa Pulau Damar, Hulu Sungai Tengah, Pro-vinsi Kalimantan Selatan menunjukkan ter-dapat tiga dari sepuluh varietas yang mampu tumbuh (tanpa kapur) yaitu varietas Malang komposit-11, Hibrida Bisi-2 dan Arjuna de-ngan hasil 3,16-3,71 ton pipilan kering/ha (Nurtirtayani, 2001). Hasil penelitian di lahan gambut Desa Margo Mulyo, Sugihan Kiri, Pro-vinsi Sumatera Selatan menunjukkan lebih rendah dibandingkan dengan lahan potensial (pasang surut dan lebak) hanya mencapai 2,3-3,5 t pipilhan kering/ha (Ananto et al., 2000). Hasil jagung hibrida menunjukan lebih tinggi yaitu 2,6-3,5 ton/ha dibandingkan Arjuna-komposit hanya mencapai 2,3 ton/ha.

Perbenihan

Benih yang digunakan petani biasanya berasal dari hasil penangkaran setempat atau benih sendiri. Oleh karena sudah turunan be-berapa kali (> 3 kali) sehingga terjadi penu-runan kualitas dan produktivitas. Terlebih lagi penyimpanan yang kurang baik dapat menu-runkan lagi lebih jauh kualitas benih sehingga perolehan hasil dan kualitas jauh dari hara-pan. Dalam konteks, pengembangan yang le-bih luas, maka pengadaan benih memerlukan penanganan sendiri. Upaya menumbuhkan munculnya penangkar-penangkar benih se-tempat sangat penting. Keperluan benih rata-rata mencapai 25-27 kg/ha dengan kisaran 25 -33 kg/ha (Ananto et al., 2000).

Ameliorasi dan Pemupukan

Sifat bawaan (inherence) dari lahan rawa adalah kemasaman yang tinggi atau mu-dah menjadi masam apabila teroksidasi atau terdekomposisi karena adanya lapisan pirit (FeS2) dan lapisan gambut yang mentah. Pem-berian amelioran (kapur/dolomit) dan pupuk organik/anorganik diperlukan di lahan rawa selain dapat meningkatkan pH dan status hara juga dapat meningkatkan hasil jagung. Hasil penelitian di lahan sulfat masam rawa pasang surut Kayu Agung, Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan pemberian 1 ton kapur/ha de-ngan disebar pada larikan/ barisan tanaman dapat meningkatkan hasil menjadi 4,3-5,5 ton pipilan kering/ha tergantung pada varietas. Hasil jagung tertinggi dicapai pada varietas Arjuna dan Wiyasa masing-masing 5,5 dan 5,4 ton pipilan kering /ha (Ismail et al, 1993).

(5)

tanaman jagung di lahan rawa masing-masing 150 kg Urea, 100-125 kg SP-36 dan 50-100 kg KCl/ha, tergantung pada tipologi lahan dan hasil yang diharapkan (Tabel 1). Tabel 1

menunjukkan bahwa hasil jagung pada lahan sulfat masam paling rendah (2,5 t/ha) perlu pemberian amelioran untuk mencapai hasil yang tinggi, pada lahan gambut penambahan pupuk K (100 kg KCl) dan pupuk P (100 kg SP-36) dapat memberikan hasil paling tinggi (4,86 t/ha), dan pada lahan potensial ditunjukkan pemberian P (125 kg SP-36) dan pupuk K (50 kg KCl) mendapatkan hasil yang cukup tinggi (5,5 t/ha). Pemberian kapur/ dolomit 500 kg/ha, 90 kg K2O, 10 kg ZnSO4

dan 5 kg CuSO4 pada lahan gambut diperoleh hasil 4,47 t/ha pipilan kering (Ismail et al., 1993).

Mulsa atau Bahan Organik

Pemberian mulsa atau bahan organik memegang peranan penting pada budidaya jagung di lahan rawa. Hasil penelitian Arifin dan Nazemi (2005) menunjukkan pemberian kangkung liar (Ipomea aquatica) atau enceng gondok (Eichornea crassipes) sebanyak 3,2 t/ ha dapat meningkatkan hasil jagung pada lahan sulfat masam 70-87% dengan hasil masing-masing 5,41 dan 5,10 t/ha pipilan kering (Tabel 2).

Tabel 1. Uji paket pemupukan untuk tanaman jagung di lahan rawa pasang surut, Sumatera Selatan. Tahun 1999

Keterangan :

NPK-1= 150-125-100; NPK-2 =150-100-100; NPK-3 = 150-125-50 Tipologi lahan Paket Pupuk Rata-rata

(t/ha)

NPK-1 NPK-2 NPK-3

Sulfat Masam 2,75 2,57 2,10 2,47

Potensial 5,57 5,16 5,51 5,41

Gambut Dangkal 2,86 4,86 3,79 3,84

Tabel. 2. Pengaruh bahan organik dari dua sumber terhadap hasil jagung di lahan sulfat masam, KP. Belandean, Batola, Provinsi Kalimantan Selatan. 2000

Angka sekolam yang diikuti huruf berbeda menunjukkan beda nyata pada uji Beda Duncan pada taraf 5% Sumber : Nazemi dan Arifin (2005)

Takaran (t/ha) Hasil jagung (t/ha pipilan kering)

Kangkung Enceng gondok

0 2,89 a 3,00 a

1,6 3,88 ab 4,00 ab

3,2 5,41 b 5,10 b

4,8 4,99 b 5,04 b

(6)

Pemberian bahan organik dalam bentuk abu sekam, berangkasan padi, dan serbuk gergaji juga dapat meningkatkan hasil jagung pada lahan gambut sebanyak 600 kg/ ha dapat meningkatkan hasil 25-40% dengan hasil masing-masing 5,20; 4,42 dan 4,02 t/ha pipilan kering (Tabel 3).

Sistem Agribisnis Jagung di Lahan Rawa

Sistem agribisnis jagung di lahan rawa secara sederhana dapat dipilah dalam tiga sub sistem, yaitu 1) subsistem pengadaan sarana produksi, 2) subsistem usaha tani, dan 3) subsistem pemasaran. Uraian berikut mengemukakan kondisi dan kendala dari masing-masing sub sistem dalam mendukung pengembangan agribisnis jagung di lahan rawa.

Subsistem Pengadaan Sarana Produksi

Faktor sarana produksi merupakan faktor penting dalam usahatani jagung untuk mencapai hasil yang sesuai dengan harapan.

Penggunaan sarana produksi (input) seperti benih, pupuk umumnya di lahan rawa diberikan petani sesuai dengan kemampuan permodalan yang dimiliki. Petani umumnya masih menggunakan varietas lokal, seperti varietas Kima. Apabila digunakan varietas unggul maka bibit yang digunakan selanjutnya

diambil dari tanaman sebelumnya, oleh karena itu hasil di tingkat petani bervariasi. Penggunaan bibit varietas lokal di Kalimantan Selatan masih tinggi (40,45%), disusul varie-tas hibrida (54,38%) dan komposit 5,08% (BPS Tingkat I Kalsel, 2009). Penggunaan pu-puk anorganik dan organik mencapai 46%, tidak menggunakan pupuk 15%, tidak gunakan pupuk organik 2%, dan tidak meng-gunakan pupuk anorganik 37%. Alasan petani dalam penggunaan benih varietas unggul dan pupuk rendah karena harganya mahal (80-96%), persediaan terbatas dan distribusi tidak lancar (Tabel 4).

Tabel 3. Pengaruh bahan organik terhadap hasil jagung di lahan gambut, Pangkoh, Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. 2000

Angka sekolam yang diikuti huruf berbeda menunjukkan beda nyata pada uji Beda Duncan pada taraf 5% Sumber : Nazemi dan Arifin (2005)

Takaran (kg/ha) Hasil jagung (t/ha pipilan kering)

Abu sekam Berangkasan padi Serbuk gergaji

0 3,70 a 3,55 a 3,14 a

300 4,07 a 4,08 ab 4,21 b

600 5,20 b 4,42 b 4,02 b

900 5,12 b 4,18 b 4,01 b

(7)

Penggunaan benih berkualitas dan pu-puk yang cukup sesuai dengan kebutuhan ta-naman merupakan kunci dalam peningkatan produktivitas. Masalah ketersediaan benih dan pupuk yang terlambat dan terbatas sering dialami tidak saja oleh petani di lahan rawa bahkan hampir secara umum dalam tiga tahun terakhir ini. Kelangkaan benih dan pupuk ser-ta biaya usahaser-tani sering menjadi kendala dalam proses pembuatan dan pendistribusian. Dalam hal ini maka perlu penggalian dan pe-ngembangan kembali cara-cara pengadaan be-nih secara mandiri oleh petani pada pusat-pu-sat produksi utama.

Subsistem Usahatani

Usahatani jagung di lahan rawa masih bersifat skala kecil dan tersebar (sporadis). Usaha tani jagung di lahan rawa pasang surut umumnya pada tipe luapan C dan D secara monokultur, sedangkan pada tipe B secara tumpang sari (surjan). Usahatani jagung di lahan rawa lebak umumnya pada tipologi lebak dangkal, tetapi pada musim kemarau merata ditanam pada lahan lebak tengahan.

Kebanyakan petani baik di lahan pasang surut maupun di lahan rawa lebak menggunakan jenis jagung manis (sayur) yang dipanen muda. Analisis biaya dan pendapatan usaha tani jagung per hektar di tingkat petani pada lahan pasang surut dan lahan lebak disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 menunjukkan bahwa keuntu-ngan yang diperoleh dari usahatani jagung manis setelah dikurangi biaya total baik di lahan pasang surut maupun lahan lebak lebih besar dibandingkan dari usaha tani jagung kuning (hibrida) dan jagung putih (lokal). Pen-gusahaan jagung manis (hibrida) di tingkat petani baik di lahan pasang surut maupun la-han lebak cukup efisien ditunjukkan dengan R/C > 2, sementara pada jagung kuning (hibrida) dan jagung putih (lokal) kurang efi-sien (< 2).

Usaha tani jagung yang ditanam dalam bentuk pola tanam yaitu jagung-padi + tomat seperti hasil penelitian Mukhlis et al (2009) menunjukkan bahwa produksi jagung varietas unggul yang dicapai sebesar 49.535 tong-kol/0,8ha dan keuntungan Rp. 13.804.125,-/ Tabel 4. Tanggapan petani terhadap penggunaan benih dan pupuk dalam usaha tani

jagung di Provinsi Kalimantan Selatan, 2009

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan (2009)

No Uraian Benih (%) Pupuk(%)

1. Harga Mahal 80 96

2. Persediaan sulit dan terbatas 56,67 86,67

3. Distribusi tidak lancar 16,67 63,33

4. Modal petani kurang 23,33 43,33

5. Datang tidak tepat waktu 26,67 40,00

6. Pengetahuan petani kurang 30,00 33,33

7. Perawatan sulit dan mahal 30,00 -

(8)

0,8ha sementara dengan teknologi petani 25.725 tongkol/ha dan keuntungan Rp 6.366.500,-/ha. Pola tanam jagung-padi + to-mat lebih menguntungkan dibandingkan den-gan pola petani denden-gan nilai MBCR > 2 (Tabel 6). Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas lahan dapat ditingkatkan dengan penggunaan

varietas unggul, penggunaan amelioran dan pupuk yang cukup dan perbaikan pola tanam (diversifikasi jagung-padi+tomat) dapat me-ningkatkan hasil 2 kali lipat dan keuntungan sekitar 5 kali lipat dibandingkan dengan pola petani.

Tabel 5. Analisis usaha tani jagung di lahan pasang surut dan lahan lebak. Provinsi Kalimantan Selatan, 2009

Keterangan : 13 tongkol jagung manis = 1 kg pipilan kering; 12 tongkol jagung putih/lokal = 1 kg pipilan kering; 10 tongkol jagung hibrida = 1 kg pipilan kering

Sumber : *)Sutikno et al (2009) dan **) Mukhlis et al (2008), data diolah Uraian

Lahan Pasang Surut* Lahan Lebak**

No Jagung Manis

(petani)

Jagung hibrida (petani)

Jagung Lokal (petani)

Jagung Manis (penelitian)

Jagung Lokal (petani) 1. Produksi (tongkol) 16. 000 45.000 14.000 37.240 18.375 2. Penerimaan (Rp/ha) 12.800.000 9.000.000 7.000.000 16.422.000 6.431.250 3. Biaya total (Rp/ha) 5.708.000 7.405.000 4.921.667 7.117.000 4.430.875 -Sarana produksi 2.188.000 3.685.000 1.201.667 1.277.500 1.231.500 -Tenaga kerja 3.520.000 3.720.000 3.720.000 5.839.500 3.199.375 4. Keuntungan (Rp/ha) 7.092.000 1.595.000 2.078.333 9.305.000 2.000.375 5. R/C 2,24 1,21 1,42 2,31 1,45

Tabel 6. Analisis biaya dan pendapatan pola tanam di KP. Tawar, 2009

Ket : Luas sawah 0,8 ha (padi-jagung), luas guludan 0,2 ha (tomat) pola introduksi Sumber : Mukhlis et al (2009)

No. Pola tanam Produksi Penerimaan (Rp)

Biaya total (Rp)

Keuntungan (Rp)

R/C MBCR

1. Pola Introduksi (Jagung-Padi +Tomat)

-Jagung (mk) 49.535 tkl 24.767.500 10.963.375 13.804.125 2,26

-padi (mh) 4.500 t 13.500.000 7.312.836 6.187.164 1,85

-Tomat (mk) 6.725 t 16.812.500 6.143.453 10.669.047 2,74

Total 55.080.000 24.419.664 30.660.336 2,25 2,35

2. Pola Petani (jagung)

(9)

Subsistem Pemasaran

Para petani beranggapan bahwa usa-hatani jagung lebih menguntungkan diban-dingkan dengan komoditas lainnya seperti kedelai karena hasil jagung selalu diserap pasar. Namun berbeda dengan hasil penelitian pemasaran yang dikemukakan Ramli et al (2003) di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalteng menun-jukkan bahwa besarnya marjin pemasaran jagung untuk pasar Pangkalan Bun mencapai 42,8 % yang terdiri dari biaya pemasaran 7,4% dan marjin keuntungan 35,4 % dari har-ga beli konsumen. Dari saluran ini menunjuk-kan bahwa petani memperoleh harga sebesar 57 % dari harga akhir sedangkan keuntungan yang terbesar adalah pedagang pengumpul desa. Saluran pemasaran jagung berasal dari lahan pasang surut Kabupaten Kotawaringin Barat (Pangkalan Bun) Kalimantan Tengah dan Kabupaten Kapuas (Kuala Kapuas) adalah : Produsen  pedagang pengumpul antar daerah pengecer  Konsumen.

Demikian pula distribusi jagung di Kalimantan Selatan khususnya di lahan rawa lebak menunjukkan bahwa volume jagung yang disalurkan melalui lembaga pedagang pengumpul desa/kecamatan masing-masing jagung manis (hibrida) sebesar 79% dan ja-gung putih (lokal) 77,4 % untuk tujuan pasar di Kalimantan Selatan, sedangkan untuk tu-juan Kalimantan Tengah melalui pedagang an-tar daerah masing-masing jagung manis 19,8% dan jagung putih 14,5%. Untuk pema-saran jagung tersebut bagian harga yang di-terima petani masih rendah. Hal ini dise-babkan oleh harga jagung yang rendah dan biaya pemasaran yang tinggi (Rina, 2005).

Dengan demikian untuk meningkatkan ke-mampuan posisi tawar menawar dari petani, maka diperlukan pemberdayakan kelompok tani/Gapoktan dan KUD.

Strategi dan Pengembangan Agribisnis

Jagung

Perubahan Orientasi Produksi

Selama ini jagung diusahakan petani berupa jagung manis baik di lahan pasang surut maupun di lebak yang masih berorien-tasi pada pemenuhan untuk konsumsi ke-luarga dan sebagian dijual ke pasar. Walaupun dalam kondisi internal sosial ekonomi petani orientasi seperti dikemukakan di atas cukup menguntungkan, tetapi secara agribinis usaha-tani jagung tidak dapat cepat berkembang. Hal ini karena kapasitas pasar jagung muda yang terbatas, sehingga sedikit kelebihan produksi saja maka harga akan turun, disamping itu jagung panen muda tidak tahan lama dan tidak bisa diolah dalam produk lain.

(10)

kering/ha. Jagung pipilan kering dapat disim-pan lama dan dapat diolah dalam bentuk produk lain.

Pengembangan Teknologi Spesifik Lokasi

Teknologi budidaya jagung lahan rawa sangat diperlukan dan saat ini sudah tersedia. Dengan adanya pelaksanaan SLPTT Jagung diharapkan peranan BADAN LITBANG PER-TANIAN (BALITTRA dan BPTP) sebagai sum-ber teknologi dapat ditingkatkan sehingga dihasilkan teknologi yang spesifik lokasi. Hal ini terlihat dari varietas-varietas yang ber-kembang atau ditanam petani umumnya dari perusahaan-perusahaan lain seperti sweet corn, super dan sebagainya. Sedangkan hasil penelitian (Badan Litbang) seperti varietas Sukmaraga justru berkembang di lahan kering Kalimantan Selatan, namun khusus untuk la-han rawa masih belum ada varietas spesifik yang mantap untuk digunakan petani secara keseluruhan dan merata. Beberapa hasil pene-litian sebagaimana dikemukakan di atas me-nunjukkan bahwa produktivitas jagung di la-han rawa dapat ditingkatkan 5-6 t/ha pipilan kering.

Dukungan Kelembagaan

Adopsi teknologi memerlukan secara penuh dukungan sistem kelembagaan yang me -madai. Kelembagaan dimaksud adalah kelem-bagaan sarana produksi, kelemkelem-bagaan permo-dalan dan kelembagaan pemasaran.

Jagung yang berkembang di lahan ra-wa masih pada jagung panen muda hal ini ka-rena jika jagung pipilan belum memiliki pasar yang lancar dibandingkan penanaman jagung di lahan kering. Peran serta pemerintah dalam hal pemasaran sangat diperlukan karena walapun jagung sudah dihasilkan dengan baik

melalui pendayagunaan gapoktan seperti pe-nyediaan sarana produksi dan permodalan, te-tapi pemasaran jagung pipilan dari petani be-lum mempunyai jaringan atau pasar yang pas-ti, sehingga petani tidak termotivasi untuk melakukan penanaman dalam skala luas.

Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan

Dari uraian di atas dapat diambil ke-simpulan dan implikasi kebijakan yang diper-lukan antara lain :

1. Ketersediaan lahan rawa cukup luas dan dari lahan rawa yang telah dibuka dapat dioptimalkan produktivitasnya. Dengan keunggulan dan peluang yang dimiliki la-han rawa mempunyai prospek untuk men-jadi sumber pertumbuhan dan pengemba-ngan baru komoditas jagung dalam men-dukung swasembda jagung tahun 2010. 2. Sistem budidaya dan pengelolaan lahan

rawa dalam menunjang pengembangan agribisnis jagung perlu perbaikan/pening-katan seperti penyediaan dan penggunaan benih varietas unggul, pupuk berimbang, pemanfaatan bahan amelioran dan bahan organik serta perbaikan pola tanam/diver-sifikasi untuk meningkatkan produksi menjadi 6,5 t/ha dan sasaran pendapatan senilai US $ 2.500-3.000/KK/tahun. 3. Dari keragaan agribisnis jagung di lahan

rawa ditunjukkan masih lemahnya penye-diaan sarana produksi (benih, pupuk dan lainnya), share pendapatan yang diterima petani masih kecil dibandingkan peda-gang, serapan pasar terhadap produksi belum berkembang atau merata walaupun peluang cukup besar. Sehingga memer-lukan upaya perluasan dan distribusi. 4. Perbaikan sistem budidaya dan sistem

(11)

memer-lukan langkah-langkah antara lain : peru-bahan orientasi produksi dari usahatani jagung (panen muda) ke usahatani jagung panen pipilan kering, pemanfaatan dan pengembangan teknologi budidaya yang spesifik lokasi, dan dukungan kelemba-gaan yang efesien dan efektif.

Daftar Pustaka

Ananto, E, E. et al. 2000. Pengembangan Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut Suma-tera Selatan: Mendukung Ketahanan Pangan dan Pengembangan Agribisnis. Badan Litbang Pertanian, Dep. Perta-nian. Jakarta.

Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. 2009 Sosialisasi Hasil Penda-taan Usaha Tani 2009 (PUT09). Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. Banjarmasin. pada Sistem Surjan untuk Mening-katkan Produktivitas Lahan Le-bak. Laporan Akhir. Balittra. Banjar-baru. Mukhlis, N. Fauziati, dan M. Saleh. 2009.

Pe-ngembangan Teknologi Konservasi Ta-nah, dan Air Untuk Mengatasi Ceka-man Air, Meningkatkan IP (menjadi > 200) Dan produktivitas (>25%) Di La-han Lebak. Laporan Akhir. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru.

Nazemi, D dan Arifin, M. Z. 2005. Teknologi budidaya jagung dan pemanfaatan ba-han amelioran di laba-han pasang surut. Dalam Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pengelolaan Sumber -daya Lahan Rawa dam Pengendalian Pencemaran Lingkungan, 5-7 Oktober 2004 di Banjarbaru. Puslitnak. Bogor.

Nurtiryani, 2001. Daya hasil beberapa geno-tipe/varietas jagung pada dua tingkat takaran pengapuran di lahan rawa le-bak dangkal. Prosiding Seminar Hasil Penelitian : Pengelolaan Tanaman Pa-ngan Lahan Rawa, Balai Penelitian Ta-naman Pangan Lahan Rawa. Banjar-baru.

Noor, M, I. Las, A. Rachman, I.M. Subiksa, Sukarman, K. Nugroho, Isdijanto Ar-Riza, 2010. Pengembangan Lahan Ra-wa Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Balai Be-sar Sumberdaya Lahan Pertanian. Ba-dan Litbang Pertanian. Kementerian Pertanian, Banjarbaru.

Ramli, R. Y. Rina, Y. Mankin, T. Indraswati dan D. Ratnasari. 2003. Analisis Pemasaran Tanaman Pangan (Kedelai, Jagung, Ubikayu dan Pisang) di Kalimantan Te-ngah. Laporan Akhir Proyek Pengka-jian Teknologi Pertanian Parsipatif, BPTP Provinsi Kalimantan Tengah. Palangkaraya.

Rina, Y. 2005. Pemasaran Jagung di Lahan Le-bak Kalimantan Selatan. Dalam R. Mudjisihono, N.K. Wardhani, A. Koes-nowo, A. Musofie, E. Sukara, M.F. Masyhudi dan S. Isnijah (Penyunting). Dalam Prosiding Seminar Nasional Im-plementasi Hasil Penelitian dan Pe-ngembangan Pertanian Untuk Pening-katan Kesejahteraan Masyarakat. Pu-litbang Sosek Pertanian. Badan Lit-bangtan. Jakarta.

Gambar

Tabel 1. Uji paket pemupukan untuk tanaman jagung di lahan rawa pasang surut, Sumatera Selatan
Tabel 3.  Pengaruh bahan organik terhadap hasil jagung di lahan gambut, Pangkoh,                                 Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah
Tabel 5 menunjukkan bahwa keuntu-

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui deskripsi kualitas pelayanan dan tingkat kepuasan anggota di Baitul Mal Wa Tamwil Ki Ageng Pandanaran Semarang, dapat diperoleh dari hasil angket yang

Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) untuk menemukan tipe dari tindak ilokusi yang digunakan oleh tokoh-tokoh utama dalam naskah film The Help, (b) untuk menemukan

Total Bakteri Asam Laktat, Lactobacillus dan Enterobacter pada feses rela­ wan yang mengonsumsi tape biji teratai selama pengamatan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.

Kajian psikologi, yang masuk dalam wilayah keilmuan sosial, seharusnya bisa memberikan pandangan yang lebih arif tentang persoalan yang dihadapi manusia modern, bukan

Berdasarkan hasil penelitian di ketahui bahwa upaya yang dilakukan oleh Pelaksana Program Keluarga Harapan (PKH) dalam mengatasi hambatan saat implementasi Program

Karateristik pendekatan realistik adalah menggunakan konteks dunia nyata, model-model (matematikasasiasi), menggunakan produksi dan kontruksi siswa, intraktif, dan

Pengamatan menggunakan SEM menunjukkan bentuk polihedra pada isolat Hear NPV Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan ukuran yang tidak jauh berbeda.. armigera