• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Pendekatan Dan Pembelajaran Inovat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan Pendekatan Dan Pembelajaran Inovat"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Penerapan Pendekatan Pembelajaran Inovatif sebagai Usaha

Penguatan Penerapan Kurikulum 2013

Disusun Oleh Wiwid Pungki Ningrum

Pendidikan Kimia A 15728251016

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang disusun sebagai upaya penyiapan Generasi Indonesia Emas 2045. Struktur penduduk Indonesia yang didominasi oleh anak-anak dan remaja, tuntutan global, isu mutu pendidikan dan masalah pembangunan karakter bangsa menjadi alasan yang kuat dalam keputusan pemberlakuan kurikulum 2013 (Katuuk, 2014, hal. 13-15). Persiapan pemberlakuan suatu kurikulum mesti dilaksanakan dengan matang, sebab menerapkan kurikulum yang berbeda berarti mengubah sistem pelaksanaan kurikulum secara keseluruhan.

Kurikulum yang di desain dengan baik akan menghasilkan outcome yang diharapkan jika dapat dilaksakan dengan baik pula. Sayangnya, aspek pelaksanaan kurikulum acapkali menemukan kendala yang berakibat pada tidak tercapainya tujuan kurikulum. Dalam makalah ini, penulis akan mamaparkan analisis hasil penelitian penerapan kurikulum kimia

Advanced Level. Kurikulum ini diterapkan di distrik Gweru, Zimbabwe. Sesuai dengan namanya, kurikulum ini memiliki cakupan konsep kimia lebih luas. Hasil penelitian ini akan dianalisis sebagai bahan refleksi dalam melaksanakan kurikulum 2013.

Penerapan kurikulum 2013 tentu mencakup mata pelajaran kimia di Sekolah Menengah Atas, Madrasah Aliyah, maupun Sekolah Menengah Kejuruan. Perubahan pada beberapa kompetensi dasar dalam struktur kurikulum tidak banyak mengubah struktur materi yang akan diajarkan kepada peserta didik, namun perubahan dari istilah standar kompetensi menjadi kompetensi inti tentu mengubah paradigma dalam proses pembelajaran. Kompetensi inti menuntut peningkatan karakter mulia dalam diri siswa, yang tidak cukup diperoleh melalui kegiatan belajar yang teacher-centered. Salah satu upaya untuk memperkaya karakter mulia dalam diri siswa ialah melalui pendekatan student-centered learning.

(3)

Guru sebagai ujung tombak perubahan pendidikan perlu menambah wawasan dan meningkatkan kompetensi pedagoginya melalui penerapan pembelajaran yang lebih inovatif. Selain menerapkan model pembelajaran yang inovatif, guru juga dapat meningkatkan kompetensi pedagogi melalui proses pengembangan bahan ajar. Kegiatan pengembangan bahan ajar erat kaitannya dengan pengembangan kurikulum, sebab mengembangkan bahan ajar untuk diterapkan di sekolah sangat mempertimbangkan rencana pelaksanaan pembelajaran, yang juga erat kaitannya dengan strategi, model, pendekatan dan metode pembelajaran. Bahan ajar yang dikembangkan secara spesifik oleh guru diharapkan juga dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta didik.

B. TUJUAN PENULISAN

1. Menganalisis aspek yang dapat menghambat penerapan kurikulum melalui studi kasus penelitian evaluasi pelaksanaan kurikulum kimia Advanced Level di Gweru, Zimbabwe. 2. Memperkenalkan pendekatan / model pembelajaran Designed Student Centered

Instruction sebagai salah satu pilihan model pembelajaran yang mendukung penerapan Kurikulum 2013.

3. Mendeksripsikan pengaruh desain dan pengembangan kurikulum terhadap kemampuan profesionalitas guru.

4. Menjelaskan pengaruh penerapan bahan ajar hasil pengembangan berbasis chemo-entepreneurship terhadap hasil belajar siswa.

C. RUMUSAN MASALAH

1. Faktor apa saja yang bisa menurunkan kualitas pelaksanaan kurikulum?

2. Bagaimana pengaruh model pembelajaran DSCI (Designed Student Centered Instruction) terhadap hasil belajar dalam pembelajaran kimia?

3. Bagaimana pengembangan bahan ajar melibatkan guru dapat mempengaruhi kemampuan profesionalitas guru?

(4)

BABII

PEMBAHASAN

A.STUDI KASUS :PENERAPAN KURIKULUM CHEMISTRYADVANCED LEVEL DI GWERU

Sebuah penelitian evaluasi mengenai pelaksanaan kurikulum Chemistry Advanced Level telah dilaksanakan di distrik Gweru, Zimbabwe oleh Mandina Shadreck (2012:151). Dalam penelitian ini, kurikulum kimia yang diterapkan dalam sekolah di distrik Gweru merupakan kurikulum yang memuat lebih banyak konsep kimia dibandingkan dengan kurikulum basic. The Zimbabwe Schools Examinations Council (ZIMSEC) mendesain

Advanced Level Chemistry Syllabus untuk tahun 2008 sampai 2012 dengan tujuan,

1. Menyediakan pembelajaran yang well designed melalui eksperimen dan praktikum kimia, sebuah pengalaman belajar yang berharga untuk semua peserta didik baik mereka akan mempelajari lebih mendalam atau tidak, dan secara sepihak, untuk memampukan mereka dalam menerima pemahaman dan pengetahuan untuk menjadi masyarakat yang percaya diri dalam dunia berteknologi, mampu mengambil dan mengembangan ketertarikan informasi dalam masalah ilmiah.

2. Menstimulasikan peserta didik, menciptakan dan mempertahankan ketertarikan terhadap kimia dan memahami relevansinya terhadap kehidupan masyarakat

3. Memberi pengenalan yang cukup terhadap kimia dan metode ilmiah

4. Mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang relevan pada penerapan aman dari ilmu pada kehidupan sehari-hari, memperhatkan akurasi dan presisi, objektivitas, integritas, keterampilan inkuiri, inisiatif dan berwawasan

5. Untuk mempromosikan bahwa pembelajaran dan praktik ilmu pengetahuan adalah aktivitas kooperatif dan kumulatif, dan merupakan subjek dari sosial, ekonomi,teknologi, etika dan pengaruh budaya serta batasannya.

(5)

inquiry/discovery. Ketidakmampuan guru dalam menyajikan pembelajaran tersebut mungkin mengindikasikan kekurangan fasilitas sekolah, atau lemahnya keterampilan guru.

Penelitian ini merupakan penelitian survey, yang melibatkan 6 sekolah di distrik Gweru, 10 guru kimia, dan 130 siswa. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat faktor faktor penting yang membatasi kualitas pembelajaran yaitu,

1. Konten Kurikulum Dibandingkan Waktu Pembelajaran

Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran dilaksanakan sebanyak 8 jam pelajaran dengan waktu 35 menit setiap periode per pekan. Dalam satu pekan, dua jam pelajaran dilaksanakan tiga kali, dan satu jam pelajaran dilaksanakan sebanyak 2 kali. Menurut peneliti, pertemuan ini tidak sepadan dengan konten kurikulum, sebab materi yang diajarkan terlalu banyak. Selain itu, jika pertemuan digunakan untuk pembelajaran inkuiri yang membutuhkan interaksi siswa terhadap science, waktu yang diberikan dirasa sangat sedikit.

Waktu yang tergolong tak sepadan dengan materi yang penuh, berimbas pada metode pembelajaran yang tidak kooperatif, dimana interaksi antar siswa sangat sedikit, sedangkan interaksi dominan dilakukan antara guru dan siswa. Padahal, siswa yang belajar dengan cooperativelearning akan belajar lebih cepat dan efisien, memiliki daya retensi yang lebih baik, dan merasa lebih positif terhadap pengalaman belajar.

2. Kurangnya Sumber Belajar, Peralatan Laboratorium, Perlengkapan dan Bahan

Pendanaan yang tidak memadai berakibat pada kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis praktikum/ laboratori. Pembelajaran secara inkuiri ataupun discovery membutuhkan peralatan laboratorium yang memadai dan sumber belajar yang relevan. Kurangnya sarana ini tentu menjadi penghambat pelaksanaan pembelajaran bemakna.

3. Kurangnya Staff Pembantu Pembelajaran

Padatnya materi pembelajaran dalam kurikulum kimia Advanced Level seharusnya membutuhkan lebih banyak guru atau staf asisten guru guna membantu dan bekerjasama dengan guru dalam merencanakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Peneliti menyarankan kepada pemerintah Zimbabwe untuk merekrut lebih banyak tenaga kerja pendidikan baik sebagai guru ataupun asisten guru.

4. Metode Asesmen yang Kurang Memuaskan

(6)

menemukan bahwa metode asesmen yang dinilai guru tidak cukup dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam hal keterampilan, inkuiri, penemuan dan kemampuan lain yang lebih berharga dari penilaian kognitif. Supervisi yang dilakukan pemerintah ditemukan kurang rutin dan tidak mendukung pengembangan kompetensi pedagogi guru, wawasan guru, dan pengembangan manajemen kelas.

5. Metodologi Pembelajaran Yang Digunakan Kurang Efektif

Metode pembelajaran yang diterapkan 83% adalah ceramah sedang 17% metode praktikum. Tidak ada metode inkuiri atau discovery yang diterapkan, sebab insentif yang diberikan pada guru sangat kecil.

Guna mengatasi kekurangan dalam pembelajaran kimia dengan Advanced Level Curriculum, peneliti menyarankan kepada guru kimia untuk memperjelas tujuan belajar dan indikator belajar, lalu menyatakannya dalam metode yang sesuai serta menyajikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Selain itu kementerian pendidikan, kesenian, olahraga dan kebudayaan perlu memberi dukungan melalui kerjasama dengan sektor swasta atau organisasi non-pemerintah guna mengadakan infrastruktur yang dibutuhkan, sehingga lingkungan belajar kimia menjadi lebih menantang.

Melalui studi kasus ini, para tokoh yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia dapat mengambil beberapa pelajaran berharga . Kurikulum yang didesain dengan baik belum cukup dalam membentuk outcome yang diharapkan, melainkan harus didukung penerapan di lapangan. Ujung tombak penerapan kurikulum 2013 berada dalam tangan guru, sehingga pelatihan kemampuan guru dalam menyediakan pembelajaran bermakna sangat perlu dikembangkan. Guru perlu menerapkan inovasi baru misalnya dalam hal pendekatan pembelajaran. Dalam makalah ini selanjutnya akan dijelaskan pendekatan pembelajaran inovatif dan pengaruhnya terhadap profesionalisme guru dan hasil belajar peserta didik.

Selain itu, kebijakan mengenai waktu pembelajaran yang sepadan, sarana dan prasarana yang cukup, pendanaan pendidikan, sumber belajar yang melimpah, manajemen sekolah yang baik adalah faktor yang sangat mendukung terlaksananya pembelajaran bermakna sesuai amanat kurikulum. Semua itu dapat terlaksana dengan dukungan pemerintah yang memadai.

B. MENGENAL DESIGNED STUDENT CENTERED INSTRUCTIONAL PROGRAM

(7)

pengalaman langsung. Oleh sebab itu, para guru dituntut mendesain pembelajaran yang mewadahi peserta didik dalam menyusun pengetahuan sehingga mereka memiliki pengetahuan, skill, dan sikap yang baik. Sebagai usaha menerapkan KTSP, pendekatan yang sempat dipopulerkan ialah pembelajaran kontekstual dan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan(PAKEM). Namun, pembelajaran kimia di sekolah sebagian besar masih diterapkan dengan pendekatan teacher-centered. Padahal, pembelajaran kimia dapat dikonstruksi dalam mindset siswa melalui pendekatan student-centered, yang dipercaya membuat pembelajaran kimia lebih bermakna. Dalam kurikulum 2013, PAKEM masih dapat diterapkan.

Guru kimia sebagai actual curriculum perlu meningkatkan kompetensi pedagoginya dengan menerapkan model pembelajaran yang inovatif, salah satunya pendekatan belajar inovatif yang disusun oleh Rahayu, Chandrasegaran, Treagust, Kita, & Ibnu (2011) ialah

Designed Student Centered Instructional Program, sebuah pendekatan belajar yang berbasis konstruktivistik, inquiry dan kontekstual sekaligus. Pendekatan konstruktivistik menekankan keaktifan peserta didik dalam mencari ilmu pengetahuan, sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap rasa ingin tahu. Pendekatan inkuiri adalah pendekatan belajar yang mengajak siswa berpikir secara sistematik dalam menyusun ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, pendekatan inkuiri menggunakan sikap berpikir secara ilmiah, sikap ingin tahu dalam investigasi. Pendekatan inkuiri sangat mendukung pendekatan konstruktivistik. Pendekatan kontekstual menghubungkan materi pembelajaran dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. pendekatan kontekstual umumnya meningkatkan student interest and enjoyment.

Pendekatan DSCI telah diujicobakan oleh Sri Rahayu, et al., di kelas 11 SMA Negeri di Malang pada materi Asam Basa. Penerapan DSCI dilaksanakan dalam 4 tahap,

1. Pendahuluan (Introduction). Pelajaran diawali dengan selalu menyajikan peta konsep tentang asam dan basa dan dengan memberikan contoh bahan-bahan yang diperoleh di sekitar siswa. Peta konsep berguna menyajikan konsep dan untuk menunjukkan pada siswa hubungan antar konsep dengan jelas (pendekatan konstruktivistik Setelah menyajikan peta konsep, guru menunjukkan beberapa contoh bahan yang bisa diperoleh dari kehidupan sekitar siswa (pendekatan kontekstual). Aktivitas ini dimaksudkan agar siswa menyadari ada hubungan antara konsep dengan keseharian. Selain itu. aktivitas ini diharapkan menarik perhatian siswa dan antusias belajar kimia. 2. Kegiatan Praktek Inkuiri (Hands-on Inquiry Activity). Kegiatan ini bermaksud

(8)

level inkuiri ke empat menurut LeRoy & Lee (Rahayu, Chandrasegaran, Treagust, Kita, & Ibnu, 2011), dimana pertanyaan dibuat oleh guru/siswa dan perencanaan, penerapan, kesimpulan dan pelaporan dilakukan oleh siswa. Siswa harus merumuskan hipotesis penyelidikan, alat dan bahan kimia yang digunakan serta langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan penyelidikan dan disusun dalam lembar kerja siswa. Sebelum melakukan penyelidikan, siswa harus berkonsultasi dengan guru lalu melakukan penyelidikan sesuai dengan rencananya, dan mendiskusikan hasil dalam kelompok masing-masing sebelum melaporkan hasil.

3. Diskusi Kelas (Class Discussion). Aktivitas ini dimaksudkan untuk mendorong siswa menjelaskan pemecahan masalah yang mungkin atau jawaban terhadap aktivitas yang dilakukan sebelumnya. Siswa harus bertukar fikiran/ide-ide dengan kelompok lain dengan cara menuliskan jawabannya di papan tulis atau membuat presentasi. Guru sebagai fasilitator membimbing diskusi siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

4. Penerapan (Application). Aktivitas ini dimaksudkan untuk mendorong siswa menerapkan atau mengembangkan konsep-konsep atau ketrampilannya pada situasi baru namun mirip. Dalam topik kekuatan asam dan basa, guru menunjukkan beberapa gambar yang terkait hujan asam dan meminta mereka menjelaskan apa penyebab kerusakan lingkungan seperti yang ditunjukkan oleh gambar. Aktivitas dalam fase penerapan terkait dengan kehidupan sehari-hari dan isu-isu lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen menunjukkan performa pengetahuan kunci asam-basa lebih baik daripada kelompok kontrol. Perbedaan nilai post-test

kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ialah 40.69 and 32.08 dari skor maksimum 60. Data menunjukkan bahwa peserta didik umumnya merasa positif terhadap partisipasi dan kolaborasi dalam aktivitas inkuiri, kompetensi investigasi dan percaya diri saat presentasi, namun tidak pada penggunaan sumber investigasi (Rahayu, Chandrasegaran, Treagust, Kita, & Ibnu, 2011, hal. 1452). Hampir seluruh siswa kelas eksperimen menikmati pembelajaran

dan merasa pemahaman terhadap konsep asam-basa meningkat. Mereka meyakini bahwa

pembelajaran dengan metode ini sangat baik, siswa lain menyatakan mereka menikmati

aktivitas praktikum (Rahayu, Chandrasegaran, Treagust, Kita, & Ibnu, 2011, hal. 1452)

(9)

dalam waktu yang relatif singkat. Kelemahannya ialah, pelaksanaan eksperimen pada kelas kontrol dan kelas eksperimen menggunakan guru yang berbeda. Guru yang berbeda tentu merupakan variabel lain yang bisa mengganggu efek perlakuan. Namun peneliti telah memperkecil variabel lain yang dapat timbul karena perbedaan guru tersebut, dengan cara mengatur kegiatan pembelajaran sesuai dengan sintaks rencana pembelajaran.

C. PENINGKATAN KOMPETENSI GURU MELALUI PENERAPAN PENGEMBANGAN BAHAN

AJAR KIMIA BERBASIS KONTEKS

Pengembangan bahan ajar merupakan salah satu bagian dari inovasi kurikulum. Pengembangan bahan ajar seringkali dilakukan oleh para profesional. Melibatkan pendidik mengembangkan bahan ajar diharapkan akan mengasah kompetensinya dari berbagai segi, sebab menyusun bahan ajar erat kaitannya dengan penerapan bahan ajar tersebut di kelas, yaitu pada aspek pendekatan, model, strategi maupun metode pembelajaran. Jadi, dalam mengembangkan bahan ajar, penulis perlu memilih salah satunya pendekatan pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran berbasis konteks menekankan bagaimana suatu ilmu diterapkan dalam kehidupan. Berbagai negara telah mengawali penyusunan kurikulum kimia berbasis konteks, misalnya Chemistry in the Community di Amerika , Salters Advanced Chemistry di Inggris, dan Chemie im Kontext di Jerman. Untuk menerapkan pendekatan ini, diperlukan berbagai persiapan, salah satunya pengembangan bahan ajar yang memiliki ciri adanya penerapan konsep kimia dalam keseharian.

Jika pengembangan bahan ajar ini melibatkan guru sebagai pelaku utama, diharapkan kompetensi pedagogi guru dapat meningkat. Abell, et.al. (Coenders, Terlouw, Dijkstra, & Pieters, 2010)menyebutkan karakteristik kemampuan pedagogi sebagai berikut,

(a) pengetahuan konsep ilmu sesuai kurikuler,

(b) pengetahuan terhadap pemahaman peserta didik dalam konsep ilmu tersebut (c) pengetahuan dalam menilai,

(d) pengetahuan dalam strategi pembelajaran secara instruksional, and (e) pandangan dalam mengajar mata pelajaran

(10)

seorang instruktur. Tugas mereka secara spesifik ialah “to develop and test student learning material, in the form of a complete module, in line with the national recommendations, in particular the context—concept approach”. Intruksi dalam penyusunan modul ialah,

1. Modul harus cocok dengan peserta didik tahun pertama (berumur sekitar 15 tahun) pada sekolah menengah pertama

2. Interaksi antara konteks yang menarik dan sejumlah konsep kimia dalam konsep tersebut harus merupakan komponen inti

3. Kelompok bertanggungjawab dalam memilih konteks dan konsep yang akan dipelajari peserta didik

4. Konsep secara alami harus dapat diambil dari konteks sebagaimana dijelaskan dalam kurikulum Salters, namun mengikuti secara kaku tujuan silabus atau struktur konsep pelajaran harus dihindari.

5. Pada Modul harus diterapkan empat fase yang terdapat pada kurikulum Chemistry in Context Jerman yaitu a) guru awalnya mengenalkan konteks b) murid dibuat ingin tahu dan merencakan investigasi c) murid melaksanakan investigasi dan memproses hasil investigasi d) pengetahuan yang diperoleh didiskusikan bersama

6. Modul dapat digunakan untuk 8-10 periode, tiap periode terdiri 50 menit.

Data yang diambil dalam penelitian ini dibagi menjadi 4 fase, yang diwakili dalam tujuan penelitian yaitu, menurut guru-pengembang, apa tujuan yang diinginkan dari pendidikan kimia berbasis konteks-konsep (1) sebelum proses pengembangan (2) setelah fase menulis modul dan (3)setelah modul diterapkan di kelas, serta apa yang dipelajari guru (4) selama fase menulis modul (5) selama fase penerapan modul di kelas.

Metode penelitian yang diterapkan ialah rancangan multiple case study, dengan tujuan mengindentifikasi perubahan yang dialami setiap guru-pengembang. Guru-pengembang yang terlibat terdiri dari 3 orang bernama Pete, Lisa dan Ed yang dipilih dengan alasan teknis dekat dengan kampus peneliti, namun ketiga guru tersebut memiliki kesamaan yaitu pengalaman mengajar 5 tahun, strata pendidikan master, dan memiliki akta mengajar. Pengukuran atau penilaian hasil penelitian dilaksanakan sebanyak 4 kali, yaitu kuisioner dan wawancara sebelum dilaksakan pengembangan modul, wawancara setelah penulisan modul, dan wawancara setelah penerapan modul di kelas. Dalam proses pengembangan, seorang instruktur terlibat dalam mengarahkan ketiga guru pengembang.

(11)

memilih strategi pembelajaran kooperatif , termasuk didalamnya pemberian peran yang berbeda untuk setiap kelompok siswa, serta penggunaan group-logbook. Bagi mereka ini adalah hal baru yang belum pernah mereka terapkan. Pemilihan strategi ini dengan pertimbangan bahwa siswa dapat belajar lebih mandiri dan guru lebih leluasa mengorganisir siswa dan memonitor kemajuan pembelajaran.

Sebelum membahas hasil penelitian, perlu diketahui bahwa ketiga guru tersebut memiliki perbedaan pengalaman dalam menyusun bahan ajar, namun mereka semua belum pernah menyusun modul berbasis konteks-konsep, dengan strategi yang telah disebutkan sebelumnya. Selain itu, mereka punya motivasi berbeda dalam mengikuti kegiatan pengembangan modul ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum proses penulisan modul, para guru belum benar-benar fokus dengan tujuan yang diinginkan dalam pendidikan kimia berbasis konteks. Lisa belum menyatakan bahwa pendekatan ini seharusnya bisa membuat siswa menyusun konsep dari konteks yang disajikan, sedangkan Ed menyatakan terlalu banyak tujuan dari penerapan modul dan Pete cukup fokus dalam menggagas orientasi pendekatan konteks. Namun, mereka memiliki persamaan pendapat bahwa tujuan pendekatan ini ialah meningkatkan keingintahuan dan antusiasme dalam ilmu kimia, sebab kimia berperan penting dalam kehidupan.

Setelah penulisan modul, mereka kembali diwawancarai dan pandangan mereka mulai berubah. Mereka lebih menekankan gagasan pada proses belajar peserta didik, bahwa siswa mampu belajar lebih mandiri, antusias, dan menyenangkan.

Setelah penerapan modul di kelas, para guru menemukan bahwa siswa tidak bisa dengan mudah memahami konsep dengan mengambil contoh dari konteks. Para guru memahami, bahwa siswa masih kesulitan menghubungkan konsep dengan konteks, serta menyarankan untuk memberi kesempatan lebih kepada siswa dalam menyusun konsep sendiri. Akhirnya, setelah penerapan di kelas, pemahaman para guru terhadap tujuan pendidikan kimia berbasis konsep meningkat, menjadi lebih terfokus kepada “bagaimana konsep yang abstrak dengan konteks yang konkret dapat dihubungkan oleh siswa sangat penting”.

(12)

berharga. Dalam learning material dan konsep kimia, Pete berpendapat bahwa mendahulukan konteks sebelum konsep dapat diterapkan dalam pemelajaran. Lisa belajar bahwa logbook sangat membantu memonitor kemajuan belajar, sedangkan Ed menemukan beberapa masalah dalam konsep yang diterapkan.

Secara keseluruhan, penyusunan modul dengan pendekatan kontekstual pada kurikulum kimia dalam penelitian ini dapat dianggap sebagai program pelatihan dalam meningkatkan kompetensi pedagogi guru. Guru mengalami proses pembelajaran yang berguna dalam penerapan kurikulum.

Keunggulan dari penelitian ini adalah peneliti mampu mengidentifikasi secara spesifik perubahan yang terjadi pada guru sebelum dan setelah melakukan pengembangan bahan ajar. Kelemahannya ialah, karena merupakan penelitian studi kasus, maka hasil penelitian bersifat sangat spesifik dengan lingkup yang kecil, sehingga validitas eksternalnya cenderung rendah.

D. PENERAPAN BAHAN AJAR BERBASIS CHEMOENTERPRENEURSHIPTERHADAP HASIL

BELAJAR DAN LIFE SKILLMAHASISWA

Sebuah penelitian dilakukan oleh Ersanghono Kusuma dan Kusoro Siadi, dengan judul Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berorientasi Chemo-Entrepreneurship Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Life Skill Mahasiswa. Dalam penelitian ini, peneliti menyebutkan penelitian merupakan penelitian pengembangan, namun tidak menyebutkan sama sekali metode pengembangan yang dipilih. Peneliti justru menyebutkan langkah-langkah pengembangan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan evaluasi, yang cenderung mirip dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Namun, penelitian ini juga tidak bisa disebut penelitian tindakan kelas, sebab siklus yang dilaksakan telah ditentukan sebanyak tiga tahap. Selain itu, data yang dibahas hanya data hasil belajar dan life skill mahasiswa, tidak ada hasil penilaian bahan ajar. Bagi pembaca, abstrak yang ditulis pada penelitian ini cenderung membingungkan. Meski begitu, hasil dalam penelitian dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam penerapan bahan ajar dengan pendekatan yang inovatif.

(13)

didik dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk bermanfaat, bernilai ekonomi, dan memotivasi untuk berwirausaha(Kusuma dan Siadi, 2010:544). Kompetensi mahasiswa yang ingin ditingkatkan melalui penerapan bahan ajar chemo-enterpreneurship ialah hasil belajar dan life skill. Peneliti mengukur kedua kompetensi tersebut, kemudian menganalisis data yang dilakukan secara deskriptif kualitatif. Data diambil dalam tiga tahap, dengan rincian penilaian tiap tahap sebagai berikut,

Tabel 1. Rincian Penilaian Hasil Belajar

Tahap Materi Jumlah Soal

I Membedakan antara larutan sejati, sistem koloid dan suspensi kasar serta penggolongan sistem koloid

15

II Sifat-sifat sistem koloid 15

III Pembuatan sistem koloid 12

Hasil belajar mahasiswa pada setiap tahap ditampilkan pada tabel berikut,

Tabel 2. Hasil Belajar, Persentase Ketuntasan dan Life Skill

Tahap Hasil Belajar

Berdasarkan tabel diatas, hasil belajar dan life skill mengalami peningkatan dari setiap tahap sebelumnya. Hasil pengamatan dalam penerapan tiap tahap berbeda. Pada tahap I, mahasiswa belum terbiasa dengan inovasi baru yang diterapkan di kelas. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran secara dua arah kurang dimanfaatkan oleh siswa. Pada tahap II, mahasiswa telah diberi tugas membaca dan dosen memberikan motivasi untuk leih aktif dalam belajar. Pada tahap ini, keterampilan hidup mahasiswa meningkat. Pada tahap III, mahasiswa sudah terbiasa dengan penerapan bahan ajar berasis chemo-enterpreneurship. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan ajar ini direspon positif oleh mahasiswa, yaitu meningkatnya hasil belajar dan meningkatnya life skill mahasiswa.

(14)
(15)

BABIII KESIMPULAN

A. KESIMPULAN

1. Faktor-faktor yang dapat menurunkan kualitas penerapan suatu kurikulum ialah konten kurikulum tidak sepadan dengan waktu pembelajaran, kurangnya sarana, prasarana, dan staff pembantu pengajar, pendanaan yang minim, serta penggunaan metode pembelajaran yang tidak efektif.

2. Designed Student Centered Instruction adalah suatu model pembelajaran yang mencakup 3 pendekatan sekaligus yaitu inkuiri, konstruktivistik, dan kontekstual. Model pembelajaran ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dan memberi kesan positif dalam proses pembelajaran.

3. Kompetensi pedagogi guru dapat ditingkatkan dengan melibatkan guru menyusun bahan ajar dengan pendekatan kontekstual atau pendekatan lain, sebab dengan keterlibatan tersebut guru dapat belajar metodologi pembelajaran dan konsep kimia lebih jauh.

(16)

Referensi

Coenders, F., Terlouw, C., Dijkstra, S., & Pieters, J. (2010). The Effects of the Design and Development of a Chemistry Curriculum Reform on Teachers' Professional Growth: A Case Study. Science Teacher Education (21), 535-557.

Katuuk, D. A. (2014). Manajemen Implementasi Kurikulum : Implementasi Kurikulum 2013.

Cakrawala Pendidikan , 13-26.

Kusuma, E., & Siadi, K. (2010). Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berorientasi Chemo-Entrepreneurship untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Life Skill Mahasiwa. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 4 (1).

Rahayu, S., Chandrasegaran, A., Treagust, D. F., Kita, M., & Ibnu, S. (2011). Understanding Acid Base Concept : Evaluating the Efficacy of The Senior High School Student-Centred Instructional Program in Indonesia. International Journal of Science and Mathematics Education, 9, 1439-1458.

Gambar

Tabel 1. Rincian Penilaian Hasil Belajar

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Pelaksanaan Program Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular Dalam Deteksi Dini dan Pencegahan Komplikasi Diabetes Melitus di Puskesmas Glugur Darat Tahun

Additionally, two of the four experimental groups, after being exposed to the two colored comic book versions, whether with human or animal character, gained higher knowledge

 Nilai Praksis berkaitan dengan aturan-aturan Nilai Praksis berkaitan dengan aturan-aturan konkrit yang dipakai untuk mengatur dan. konkrit yang dipakai untuk mengatur dan

Rancangan penelitian sistem informasi angsuran jatuh tempo nasabah berbasis VB.Net 2010 pada bank Banten Cabang Palembang adalah sebuah rancangan yang dibuat supaya karyawan

Present Continuous tense dalam tenses bahasa inggris digunakan untuk tindakan yang sedang berlangsung sekarang, kejadian di waktu sedang berbicara dan tindakan yang berlangsung

Disparitas Ekonomi dan Perencanaan Regional-Ketimpangan Ekonomi Wilayah Barat dan Wilayah Timur Provinsi Sumatera Utara, Pustaka Bangsa Press, Medan.. Universitas

Dan hasil rasio tersebut bisa digunakan untuk mengukur kondisi perusahaan apakah baik atau tidak.Dan Bagi pihak yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu

The role of Corruption Eradication Com- mission (KPK) carefully and sustainably design- ing techniques and ways of prevention to be implemented for all levels