• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan Ilmiah Tahunan PIT Nasional ke

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pertemuan Ilmiah Tahunan PIT Nasional ke"

Copied!
471
0
0

Teks penuh

(1)

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2

Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Pengurus Daerah Provinsi Banten

Diterbitkan oleh:

Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI)

Pengurus Daerah Provinsi Banten

Tim Editor:

Endan Suwandana

Ahmad Muam

Bayu N. Nugroho

Euis Mulyaningsih

(2)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2

Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Tim Penyusun:

Endan Suwandana, Ahmad Muam, Bayu N. Nugroho, Euis Mulyaningsih

ISBN:

978-602-73638-0-9

Desain Sampul:

Dendi

Tata Letak:

Euis Mulyaningsih

Penerbit:

Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Pengurus Daerah Provinsi Banten

Alamat Redaksi:

d/a. Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Banten

Jl. Raya Lintas Timur Km. 4, Karang Tanjung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten

Tel./Fax.: 0253 – 206554

E-mail: [email protected]; [email protected] Website: www.juliwi.com

Cetakan Pertama Desember 2015

Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

Untuk citasi harap dicantumkan:

(3)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

i

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Pengurus Daerah Provinsi Banten telah selesai disusun. Seluruh Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini dipresentasikan pada tanggal 3 – 4 Desember 2015 di Badan Diklat Provinsi Banten Banten.

Sebagaimana diketahui bersama, widyaiswara adalah jabatan fungsional yang memiliki tugas pokok dan fungsi mendidik, mengajar, dan melatih Aparatur Sipil Negara (ASN). Dengan demikian, widyaiswara adalah satu kunci sukses penyelenggaran pemerintahan dan pelayanan publik di Indonesia. Widyaiswara harus memiliki profesionalisme dan kompetensi yang spesifik yang dibutuhkan di dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Salah satu unsur pengembangan profesi widyaiswara adalah menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang dihasilkan dari pengamatan, observasi, pengalaman, atau riset dalam urusan pemerintahan dan kediklatan. Semakin banyak KTI yang dapat dihasilkan, maka kualitas dan kompetensi widyaiswara itu semakin tinggi. Sebaliknya, widyaiswara yang tidak memiliki kemampuan menulis, jarang melakukan kajian atau analisis terhadap suatu permasalahan tertentu, maka tentu kualitas keilmuan widyaiswara tersebut patut dipertanyakan.

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) adalah salah satu media bagi para widyaiswara untuk saling berbagi pengalaman dan mempresentasikan temuannya dalam bidang kediklatan. Budaya menyusun KTI dan mempresentasikannya dalam forum lokakarya, seminar, konferensi baik tingkat nasional maupun internasional adalah tantangan baru bagi para widyaiswara.

Kami, selaku Panitia PIT Nasional ke-2 IWI Provinsi Banten, sekaligus Penyusun Proceeding ini, dengan kerendahan hati, merasa senang dan bangga dapat menyelenggarakan Acara PIT ini dan mempersembahkan Proceeding ini ke hadapan seluruh peserta PIT. Semoga kiranya Proceeding ini dapat bermanfaat untuk peningkatan kompetensi widyaiswara dan ASN.

Kami menyadari bahwa Proceeding ini masih banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan masukan dan saran untuk perbaikan di masa yang akan datang. Kepada seluruh penulis sebagai contributor untuk Proceeding ini, kami ucapkan terima kasih.

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

(4)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

ii

DAFTAR ISI

Proceeding

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional Ke-2

Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Pengurus Daerah Provinsi Banten

Pandeglang, 3

4 Desember 2015

No Judul Karya Tulis Ilmiah (KTI) Penulis Instansi Hal

1 Tinjauan Yuridis Peraturan Menteri

Keuangan Nomor 107/PMK.011/2013 Heni Sulastri

Pusdiklat Pajak, Badan

Diklat Kemenkeu 1–9

2 Kritikan Terhadap Bunyi Beberapa Pasal

UU PDRD Darwin Hendra

Alex Octavianus Pusdiklat Badan Pusat

Statistik (BPS) 16–23

4

Efektifitas Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Pola Baru dalam Meningkatkan Kinerja Aparatur (Studi Kasus pada Badan Diklat Provinsi Bali)

Ir. Ketut Rusmulyani,

M.Pd Badan Diklat Provinsi Bali 24–51

5 Haruskah Kita Fobia pada HIV-AIDS? dr. H. Eddy Siswanto, MPHM

Balai Besar Pelatihan

Kesehatan (BBPK) Ciloto 52–67

6 Laporan Keuangan, Fungsi dan

Manfaatnya, Sekarang dan Esok Hari Muhtar Yahya

Badan Diklat Kementerian (Behavioral Intention Model) dan Pengaruhnya dalam Fasilitas Pendukung di Bus Trans Jakarta

Gaguk Yuliyanto PPSDMAP, Kementerian

Perhubungan 145–174

13 Menyusun Rencana Kebutuhan Barang

Milik Daerah (RKBMD) yang Efektif Yanison MN, SE, MM

Badiklat Prov. Sumatera

15 Pentingnya Sertifikasi Usaha Hotel pada

Asrama Pusdiklat Pajak Heru Supriyanto

Pusdiklat Pajak, Badan

(5)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

iii (Studi Kasis di KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok)

Hanif Kurniawan & Ribut Sugianto

Pusdiklat Bea dan Cukai,

Badan Diklat Kemenkeu 211–236

17

Provinsi Lampung 242–256

19 APBD Hijau dan Politik Penganggaran

Tata Ruang Dr. H. Suwarli, M.Si BPSDM Kemendagri 257–287

20

Analisis Kontribusi Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah Pasca Berlakunya Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Kota Yogyakarta Online Survey Aplikasi pada Evaluasi Pascadiklat Fungsional Statistisi Tahun 2015

Arbi Setiyawan Pusdiklat Badan Pusat

Statistik (BPS) 293–302

22

Pembelajaran Efektif Dengan Metode Outbound pada Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat III dan Tingkat IV di Provinsi Bali

Ir. Anny Pratiwi, M.Pd. Badan Diklat Provinsi Bali 203–316

23

24 Angka Kredit Widyaiswara: Peluang dan Permasalahannya

Agus Suharsono Pusdiklat Pajak, Badan

Diklat Kemenkeu 364–377

27

Pengembangan Media Pembelajaran dengan Pembuatan Video Menggunakan Powerpoint

Agus Suharsono Pusdiklat Pajak, Badan

Diklat Kemenkeu 378–393

Ir. Ishak Musa, MM Badan Diklat Provinsi

Banten 423–429

31 Menjadi Widyaiswara Teladan dan Idaman

Ir. H. Uus Natapriatna, M.Si.

Badan Diklat Provinsi

Banten 430–436

32 Hubungan Pembelajaran Diklat Teknis

Telaahan Staf Paripurna dalam Drs. Tata Zakaria, M.Si.

Badan Diklat Provinsi

(6)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

iv

Menunjang Pelaksanaan Kegiatan Pimpinan

33

Kajian Penguatan Lembaga Kolaboratif dalam Penguatan Desa Inovatif di Provinsi Banten

Endan Suwandana, Agus Zaenal Mutaqin, Enong Rostiawati, Oki Oktaviana

Badan Diklat Provinsi Banten dan Balitbangda Provinsi Banten

441–455

34 Eksistensi Kompetensi Sekda Kabupaten

dalam Mendorong Laju Pembangunan RM Sopian

Badan Diklat Daerah

(7)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

1

Tinjauan Yuridis Peraturan Menteri Keuangan

Nomor 107/PMK.011/2013

Heni Sulastri

Widyaiswara Pusdiklat Pajak BPPK Kementrian Keuangan RI,

Jl. Sakti Raya No. 1 Kemanggisan Kebon Jeruk Jakarta Barat, DKI Jakarta Indonesia,

(Diterima 20 November 2015; Diterbitkan 04 Desember 2015)

Abstrak: Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat atas peraturan perundang undangan yang baik, perlu dibuat peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membentuk peraturan perundang-undangan. Sebagai implementasi dari hal tersebut dibentuklah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Tulisan ini akan mendalami suatu peraturan di bidang perpajakan khususnya tentang perhitungan pasal 25 bulan berikutnya. Penelitian ini menggunakan Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Pentingnya kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan serta kejelasan rumusan dalam membuat aturan. Peraturan turunan yang dibuat disesuaikan dengan aturan yang ada diatasnya pada hirarki aturan tersebut. Peraturan turunan tersebut harus kejelasan rumusan dalam membuat aturan. Penulis meneliti bagaimana cara perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 berdasarkan Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008 dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 107/PMK.011/2013 Tentang Tata Cara Perhitungan, Penyetoran, Dan Pelaporan Pajak Penghasilan, Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Menurut pendapat penulis, tulisan ini memiliki implikasi yang signifikan bagi Wajib Pajak dalam menghitung angsuran pasal 25 Pajak Penghasilan Bulan berikutnya, sehingga meminimalkan hilangnya potensi penerimaan Pajak Penghasilan karena salah hitung. Paper terdiri dari 3 bagian: pertama, pendahuluan, bagian kedua Analisa tentang Menghitung pajak penghasilan Pasal 25 dan bagian terakhir kesimpulan.

Kata kunci: Hierarki peraturan, kejelasan rumusan, Lapisan Tarif PPh Orang Pribadi.

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ Corresponding author: Heni Sulastri, E-mail: [email protected], Tel/Fax.:

Pendahuluan

(8)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

2

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

Sampai dengan Rp.50.000.000,00 5%

di atas Rp.50.000.000,00 sampai dengan Rp.250.000.000,00 15%

di atas Rp.250.000.000,00 sampai dengan Rp.500.000.000,00 25%

di atas Rp.500.000.000,00 30%

Pembayaran Pajak Penghasilan dilakukan pada tahun berjalan/angsuran dan/atau pada akhir tahun. Pembayaran angsuran selain memenuhi kebutuhan dana kenegaraan pada tahun berjalan, juga untuk meringankan pemenuhan kewajiban perpajakan pada akhir tahun. Mekanisme pelunasan angsuran ada yang melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain, ada yang harus dibayar sendiri. Pemotongan dan pemungutan pajak penghasilan oleh pihak lain sesuai Pasal 21/26, Pasal 22,Pasal 23,Pasal 24 Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008. Angsuran Pajak Penghasilan dalam tahun pajak berjalan untuk setiap bulan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak sesuai dengan Pasal 25 Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008. Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan:

a. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22; dan

b. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam

bagian tahun pajak.”

Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan sebelum batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bulan terakir tahun pajak yang lalu. Apabila dalam tahun pajak berjaan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun pajak yang lalu, besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat ketepan pajak tersebut dan berlaku mulai bulan setelah bulan penerbitan surat ketetapan pajak.

Analisa

Penelitian ini mengambil 1 (satu) contoh kasus yang terdapat pada Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 107/PMK.011/2013 dibandingan dengan Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008 Pasal 17 dan Pasal 25.

(9)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

3 “Tata cara perhitungan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu adalah sesuai contoh sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.”

Azas Kepastian Hukum

Asas pemungutan pajak menurut Adam Smith(1723-1790) dalam bukunya Wealth of Nations dengan ajaran yang terkenal "The Four Maxims", asas pemungutan pajak adalah sebagai berikut:

 Asas Equality (asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas keadilan): pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara harus sesuai dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Negara tidak boleh bertindak diskriminatif terhadap wajib pajak.

Asas Certainty (asas kepastian hukum): semua pungutan pajak harus berdasarkan UU, sehingga bagi yang melanggar akan dapat dikenai sanksi hukum.

 Asas Convinience of Payment (asas pemungutan pajak yang tepat waktu atau asas kesenangan): pajak harus dipungut pada saat yang tepat bagi wajib pajak (saat yang paling baik), misalnya disaat wajib pajak baru menerima penghasilannya atau disaat wajib pajak menerima hadiah.

 Asas Efficiency (asas efisien atau asas ekonomis): biaya pemungutan pajak diusahakan sehemat mungkin, jangan sampai terjadi biaya pemungutan pajak lebih besar dari hasil pemungutan pajak.

Dari keempat asas tersebut, penulis akan menggunakan asas certanty(asas kepastian hukum). Untuk menjamin kepastian hukum maka peraturan perundang-undangan harus jelas dan tidak mengandung arti ganda atau memberikan peluang untuk diartikan lain. Bahasa Indonesia yang dijadikan bahasa hukum pada peraturan perundang-undangan seharusnya menggunakan kalimat yang mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat Indonesia.

Asas Kejelasan Rumusan

Asas kejelasan rumusan adalah bahwa setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang-undangan,sistematika dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.

Perundang-undangan hendaknya dituangkan dalam bentuk yang jelas. Mengenai ukuran kejelasan Montesquieu (Charles-Louis de Secondat, Baron de La Brède et de 1689 – 1755, mengajukan persyaratan sebagai berikut (Allen,1958: 467-468) , ....

6. ... harus dipertimbangkan dengan penuh kematangan dan mempunyai kegunaan praktis dan jangan hendaknya ia mengguncangkan hal-hal yang elementer dalam penalaran dan keadilan ...1

1

(10)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

4 Bagaimana seharusnya hukum itu dibuat adalah sebagai berikut (Allen,1964: 467-468) , ...

7. Diatas semua itu, isinya hendaknya dipikirkan secara masak terlebih dahulu serta janganlah membingungkan pemikiran serta rasa keadilan biasa dan bagaimana umumnya sesuatu itu berjalan secara alami; ....2

Pasal 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Bab III Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi:

a. kejelasan tujuan;

b. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;

c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan; d. dapat dilaksanakan;

e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;

f. kejelasan rumusan; dan g. keterbukaan.

Yang dimaksud dengan asas kejelasan rumusan, menurut penjelasan Pasal 5 huruf f UU No 12 tahun 2011, adalah setiap peraturan perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penysunan peraturan perundang-undangan,sistematika, dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interprestasi dalam pelaksanaannya. Pada Lampiran UU No. 12 Tahun 2011 BAB III angka 243 bahwa ciri-ciri bahasa Peraturan Perundang-undangan antara lain :

a. Lugas dan pasti untuk menghindari kesamaan arti atau kerancuan;

b. Bercorak hemat kata yang diperlukan yang dipakai;

c. Objektif dan menekan rasa subjektif (tidak emosi dalam mengungkapkan tujuan dan maksud).

d. Membakukan makna kata, ungkapan atau istilah yang digunakan secara konsisten;

e. Memberikan definisi atau batasan pengertian secara cermat;

f. Penulisan kata yang bermaksa tunggal atau jamak selalu dirumuskan dalam bentuk tunggal; dan

(11)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

5

g. Penulisan huruf awal dari kata, frasa atau istilah yang sudah didefinisikan atau diberikan batas pengertian, nama jbatan, nama profesi, nama isntitusi/lembaga pemerintah/ketatanegaraan, dan jenis Peraturan Perundang-undangan dan rancangan Peraturan Perundang-undangan dalam rumusan norma ditulis dengan huruf kapital.

Peraturan Menteri Keuangan sudah semestinya merupakan bentuk pendelegasian aturan dari Undang undang yang ada diatasnya sesuai dengan jenis, hierarki, dan materi muatan. Pendelegasian tersebut dimaksudkan untuk mengatur lebih lanjut suatu amanah Undang-undang. Sehingga yang diatur dalam Undang-undang menjadi lebih jelas. Berikut beberapa analisis yang diteliti oleh penulis :

Contoh Kasus :

Pada Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 107/PMK.011/2013, contoh perhitungan pajak penghasilan (PPh) atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu :

Hari Nugroho yang berstatus kawin dengan 2 (dua) tanggungan adalah orang pribadi pengusaha konstruksi yang juga memiliki toko material "Cakar Beton". Selain usaha tersebut, Hari Nugroho juga aktif memberikan jasa konsultansi kepada klien yang membutuhkan sarannya. Jumlah seluruh penghasilan yang diterima oleh Hari Nugroho pada tahun 2013 diketahui sebagai berikut:

a. Penjualan bruto dari toko material "Cakra Beton" Rp 3.500.000.000,00.

b. Nilai kontrak jasa pelaksanaan konstruksi (termasuk pemakaian material dari toko "Cakar Beton") Rp 900.000.000,00.

c. Jasa konsultansi sebesar Rp 500.000.000,00.

Total peredaran bruto Hari Nugroho pada tahun 2013 adalah sebesar Rp 4.900.000.000,00 (Rp 3.500.000.000,00 + Rp 900.000.000,00 + Rp 500.000.000,00). Untuk menentukan PPh dari usaha toko material "Cakar Beton" di tahun 2014 dikenai tarif umum atau tarif yang bersifat final, adalah berdasarkan peredaran bruto dari usaha toko material "Cakar Beton" saja yakni sebesar Rp 3.500.000.000,00. Sedangkan peredaran bruto dari jasa pelaksanaan konstruksi dan jasa konsultansi tidak diperhitungkan mengingat jasa pelaksanaan konstruksi dikenai PPh yang bersifat final dengan ketentuan Peraturan Pemerintah tersendiri dan jasa konsultansi termasuk dalam lingkup jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.

Kewajiban pembayaran PPh Hari Nugroho di tahun 2014 adalah sebagai berikut:

a. PPh sebesar 1% bersifat final dari peredaran bruto usaha toko material "Cakar Beton", untuk setiap bulannya;

b. PPh dari usaha jasa konstruksi, yang dikenai PPh bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah tersendiri; dan

(12)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

6 sebesar Rp 14.750.000,00, maka kewajiban angsuran PPh Pasal 25 di tahun 2014

sebagai berikut:

Penghasilan bruto jasa konsultasi tahun 2013 Rp.500.000.000,00

Biaya kegiatan jasa konsultasi tahun 2013 Rp.169.625.000,00

PTKP (K/2) Rp.30.375.000,00

Penghasilan Kena Pajak jasa konsultasi Rp.300.000.000,00

PPh terutang jasa konsultasi Rp.38.750.000,00

Pajak yang dipotong/dipungut pihak lain Rp.14.750.000,00

PPh terutang Rp.24.000.000,00

Angsuran PPh Pasal 25 atas jasa konsultasi

(1/12 x Rp 24.000.000,00) Rp.2.000.000,00

Pada contoh kasus Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini terdapat beberapa bagian yang mengandung ketidakjelasan. Ketidakjelasan disebabakan oleh jawaban yang diberikan pada contoh kasus tidak ada alasan pengenaan tarif nya. Ketidakjelas juga juga disebabkan oleh tidak adanya penjelasan rumusan untuk menghitung pada angka-angka yang tersaji.

Pada jawaban a diberikan tarif 1% namun tidak diberikan pengertian mengapa dikenankan 1%. Untuk memperjelas jawaban tersebut maka pada lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini dapat memberikan dasar hukum dari tarif tersebut sehingga Wajib Pajak memahami alasannya. Misal 1% sesuai dengan PP 46 tahun 2013.

Sama halnya dengan jawaban a , pada jawaban b juga tidak terdapat penjelasan lebih rinci. Peraturan Pemerintah yang mana yang sesuai untuk PPh dari usaha jasa konstruksi pada contoh tersebut. Untuk memperjelas jawaban tersebut maka pada lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini dapat memberikan informasi Peraturan Pemerintah yang tepat atas jasa konstruksi. Misal Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini dapat memberi informasi tentang Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Jasa Konstruksi.

Pada uraian jawaban c terdapat ketidakjelasan rumusan untuk perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 (Januari s.d. Desember) atas penghasilan dari jasa konsultasi. Pada Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini tidak terdapat rumusan perhitungan PPh terutang jasa konsultasi, sehingga Wajib Pajak tidak memahami nilai PPh terutang sebesar Rp.38.750.000,00 tersebut didapat dari mana.

(13)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

7

besarnya Rp300.000.000,00, dihitung dengan menerapkan Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008 Pasal 17., maka atas Penghasilan Kena Pajak Hari Nugroho tersebut mendapat 3 (tiga) lapisan tarif yaitu :

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak PPh terutang jasa konsultasi

Rp.50.000.000,00 5% Rp.2.500.000,00

Rp.200.000.000,00 15% Rp.30.000.000,00

Rp 50.000.000,00 25% Rp.12.500.000,00

PPh terutang jasa konsultasi sesuai Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008

Rp.45.000.000,00

Pada perhitungan selanjutnya maka jika menerapkan Pasal 25 Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008 maka Contoh Nomor 3 Pada Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK.011/2013 tersebut diatas adalah sebagai berikut :

PPh terutang jasa konsultasi sesuai Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008

Rp.45.000.000,00

Pajak yang dipotong/dipungut pihak lain Rp.14.750.000,00

PPh terutang Rp.30.250.000,00

Angsuran PPh Pasal 25 atas jasa konsultasi

(1/12 x Rp 30.250.000,00)

Rp.2.520.833,00

Dari pemaparan perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 atas jasa konsultasi diatas maka penulis menyimpulkan perhitungan sesuai

Pasal 17 dan 25 UU PPh Rp 2.520.833,00.

Lampiran PMK 107/PMK.011/2013 Rp.2.000.000,00.

Terdapat selisih perhitungan sebesar Rp 520.833,00.

(14)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

8

dengan Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Asas tersebut sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Pasal 5 huruf c dan huruf f.

Dalam hal peraturan perundang-undangan tersebut yang dibuat tidak mengindahkan kejelasan, maka ketidakjelasan dapat mengguncangkan hal-hal yang elementer dalam penalaran. Dalam contoh kasus pada Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini yaitu perhitungan angsuran pajak penghasilan pasal 25 tidak sesuai dengan Undang undang yang secara hirarki ada diatas Peraturan Menteri Keuangan ini. Hal ini juga dapat menimbulkan kebingungan bagi Wajib Pajak. Selain membingungkan Wajib Pajak juga dapat menghilangkan potensi penerimaan Pajak Penghasilan karena perhitungannya tidak disesuaikan dengan Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008 tersebut.

Kesimpulan

Salah satu asas pemungutan pajak adalah asas kepastian hukum. Untuk menjamin kepastian hukum maka peraturan perundang-undangan harus jelas dan tidak mengandung arti ganda atau memberikan peluang untuk diartikan lain. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Pasal 5 huruf c dan Pasal 5 huruf f yaitu

“Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi: ...

c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;

f. kejelasan rumusan...”

Pada Lampiran UU No. 12 Tahun 2011 BAB III angka 243 bahwa “ciri-ciri bahasa Peraturan Perundang-undangan antara lain : ...

e. Memberikan definisi atau batasan pengertian secara cermat; ...”

(15)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

9 Daftar Pustaka

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan stdd Undang Undang Nomor 36 tahun 2008.

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 107/PMK.01/2013 Tentang Tata Cara Perhitungan, Penyetoran, Dan Pelaporan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu

Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. , Ilmu Hukum, Semarang : PT Citra Aditya Bakti

(16)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

10

Kritikan terhadap Bunyi Beberapa Pasal Undang-Undang Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah

Darwin

Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pajak

Jl. Sakti Raya No.1 Kemanggisan, Jakarta Barat 11480

(Diterima 22 November 2015; Diterbitkan 04 Desember 2015)

Abstrak: Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah telah berusia kurang lebih 7 (tujuh) tahun dan pengelolaan PBB Perdesaan dan Perkotaan telah dilaksanakan oleh seluruh Pemerintah Daerah di Indonesia. Ada beberapa Pasal di dalam Undang-undang tersebut yang masih terasa janggal dan perlu penyempurnaan.

Kata Kunci: Pasal 78, Pasal 81, Pasal 90, Pasal 101 UU PDRD

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ Corresponding author: Darwin, E-mail: [email protected] Telp/HP. 08159512016

Pendahuluan

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD) yang berlaku mulai 1 Januari 2010 telah hampir genap 7 (tujuh) tahun. Seiring dengan berjalannya waktu penulis yakin bahwa Pemerintah Daerah telah dapat melaksanakan amanat UU PDRD tersebut dengan sebaik-baiknya terutama yang berkenaan dengan Bagian Keenam Belas (Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan) yang berisi 8 (delapan) Pasal yaitu mulai Pasal 77 sampai dengan Pasal 84 dan Bagian Ketujuh Belas (Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) yang berisi 9 (Sembilan Pasal) yaitu mulai Pasal 85 sampai dengan Pasal 93. Walaupun ke dua pajak tersebut merupakan pajak baru yang dikelola oleh Pemerintah Daerah yang tadinya merupakan pajak pusat dan dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak namun sedikit banyak Pemerintah Daerah telah mengetahui dan menjalankan sebagian kecil dari pajak tersebut sebelumnya melalui kemitraan dengan Kantor Pajak Bumi dan Bangunan (KP PBB) maupun dengan Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP Pratama).

(17)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

11 Pasal 78 UU PDRD

Pasal 78 Undang-undang PDRD terdiri dari 2 (dua) ayat yang berbunyi sebagai berikut:

(1) Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan.

(2) Wajib Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan.

Apabila kita cermati bunyi dari ke dua ayat tersebut maka sama sekali tidak ada perbedaan antara Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan dan Wajib Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan. Hal ini membawa konsekwensi bahwa baik Subjek Pajak maupun Wajib Pajak atas Pajak Bumi Bangunan Perdesaan dan Perkotaan versi UU PDRD ini dapat terdiri dari beberapa Subjek Pajak dan Wajib Pajak. Sebagai contoh seseorang yang memiliki sebidang tanah dengan bukti sertifikat Hak Milik merupakan Subjek Pajak dan sekaligus juga merupakan Wajib Pajak. Apabila kemudian bidang tanah tersebut disewakan kepada orang lain maka si penyewa juga menjadi Subjek Pajak dan sekaligus merupakan Wajib Pajak. Sehingga atas suatu bidang tanah, menurut Pasal 78 ini, dapat mempunyai 2 (dua) Subjek Pajak dan 2 (dua) Wajib Pajak, karena kembali menurut Pasal ini tidak ada perbedaan antara Subjek Pajak dan Wajib Pajak. Namun penulis yakin bahwa di dalam prakteknya hanya ada 1 (satu) Subjek Pajak atau hanya ada 1 (satu) Wajib Pajak. Karena undang-undang adalah merupakan bahasa hukum, walaupun penulis bukan seorang sarjana hukum atau ahli hukum maka bunyi Pasal 78 tersebut dapat memberikan penafsiran yang berbeda antara individu di dalam masyarakat. Untuk memberikan suatu kepastian hukum siapa yang menjadi Subjek Pajak dan Wajib Pajak seharusnya bunyi ayat (2) dari UU PDRD tersebut cukup sebagai berikut.

“Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan seperti disebut pada

ayat (1) yang dikenakan kewajiban membayar pajak, menjadi Wajib Pajak menurut Undang-undang ini”

Menurut penulis bunyi tersebut di atas akan meberikan kepastian hukum bahwa yang menjadi Wajib Pajak PBB Perdesaaan dan Perkotaan hanya 1 (satu) orang yaitu yang dikenakan kewajiban membayar pajak. Jadi walaupun terdapat 2 (dua) Subjek Pajak misalnya, yaitu pemilik tanah yang dibuktikan dengan sertifikat Hak Milik dan penyewa tanah yang dibuktikan dengan perjanjian sewa menyewa, namun Wajib Pajaknya cuma satu yaitu siapa diantara kedua Subjek Pajak tersebut yang dikenakan kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Di dalam prakteknya nama Wajib Pajak tersebut dicantumkan di dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang PBB (SPPT PBB).

(18)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

12 diketahui siapa wajib pajaknya, maka Bupati/Walikota dapat menetapkan subjek pajak

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagai wajib pajak”. Tambahan ayat ini merupakan

suatu ketegasan bahwa apabila ada lebih dari satu Subjek Pajak atas satu Objek Pajak yang sama namun mereka saling mengelak untuk menjadi Wajib Pajak, maka Pemerintah Daerah, dalam hal ini Bupati/Walikota ataupun pejabat Pemerintah Daerah yang diberi kewenangan (melalui pendelegasian kewenangan) , dapat menentukan siapa yang menjadi Wajib Pajak atas Objek Pajak tersebut. Muara dari ketentuan ini adalah tidak akan ada objek pajak yang terlewati untuk dipajaki sepanjang subjek pajaknya atau wajib pajaknya ada.

Jadi walaupun terdapat 2 (dua) Subjek Pajak misalnya, yaitu pemilik tanah yang dibuktikan dengan sertifikat Hak Milik dan penyewa tanah yang dibuktikan dengan perjanjian sewa menyewa, namun Wajib Pajaknya cuma satu yaitu siapa diantara kedua Subjek Pajak tersebut yang dikenakan kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Di dalam prakteknya nama Wajib Pajak tersebut dicantumkan di dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang PBB (SPPT PBB).

Disamping itu, menurut hemat penulis Pasal 78 tersebut sebaiknya juga ditambah 1 (satu) ayat lagi yaitu ayat (3) yang penulis kutip dari Undang-undang PBB Nomor 12 Tahun 1985 tentang PBB yang berbunyi sebagai berikut: ”dalam hal suatu objek pajak belum jelas

diketahui siapa wajib pajaknya, maka Bupati/Walikota dapat menetapkan subjek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagai wajib pajak”. Tambahan ayat ini merupakan suatu ketegasan bahwa apabila ada lebih dari satu Subjek Pajak atas satu Objek Pajak yang sama namun mereka saling mengelak untuk menjadi Wajib Pajak, maka Pemerintah Daerah, dalam hal ini Bupati/Walikota ataupun pejabat Pemerintah Daerah yang diberi kewenangan (melalui pendelegasian kewenangan) , dapat menentukan siapa yang menjadi Wajib Pajak atas Objek Pajak tersebut. Muara dari ketentuan ini adalah tidak akan ada objek pajak yang terlewati untuk dipajaki sepanjang subjek pajaknya atau wajib pajaknya ada.

Pasal 81 UU PDRD

Pasal 81 UU PDRD berbunyi: “Besaran pokok Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan

dan Perkotaan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam pasal 80 ayat (2) dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 79 setelah dikurangi Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam

pasal 77 ayat (5)”.

Di dalam penjelasan pasal ini tercantum contoh jawaban perhitungan sebagai berikut: 1. NJOP Bumi : 800 x Rp300.000 = Rp240.000.000

2. NJOP Bangunan

a. Rumah dan garasi: 400 x Rp350.000 = Rp140.000.000

b. Taman: 200 x Rp50.000 = Rp 10.000.000 c. Pagar: (120 x 1,5) x Rp175.000 = Rp 31.500.000 +

(19)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

13 Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp 10.000.000 -

Nilai Jual Bangunan Kena Pajak = Rp171.500.000 +

3. Nilai Jual Objek Pajak Kena Pajak = Rp411.500.000

4. Tarif Pajak yang efektif yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah misal 0,2%

5. PBB terutang: 0,2% x Rp411.500.000,- = Rp823.000,-

Apabila dilihat dari jawaban contoh perhitungan tersebut ternyata bahwa yang mendapat pengurangan NJOPTKP hanya terhadap NJOP bangunan saja. Hal ini dapat menimbulkan tafsiran bahwa apabila objek pajak PBB tersebut berupa tanah kosong maka tidak mendapat pengurangan NJOPTKP. Memang di dalam praktek selama ini, ketika PBB Perdesaan dan Perkotaan masih dikelola Direktorat Jenderal Pajak, dasar pengenaan PBB atas tanah kosong tidak dikurangi dengan NJOPTKP, karena diasumsikan bahwa sipemilik tanah kosong tentunya memiliki objek PBB lainnya yang ditempati, dan tanah kosong yang menjadi miliknya hanya sebagai sarana untuk investasi.

Namun hal tersebut agak bertentangan dengan bunyi pasal 81 UU PDRD tersebut di atas. Bunyi pasal 81 jelas bahwa besarnya PBB terutang adalah dengan cara mengalikan tarif (dalam contoh di atas 0,2%) dengan dasar pengenaan pajak PBB (NJOP) setelah dikurangi dengan NJOPTKP (dalam contoh diatas sebesar Rp10.000.000). Perlu diingat bahwa NJOP yang menjadi dasar pengenaan PBB adalah NJOP Bumi dan Bangunan apabila terdapat dua objek tersebut (bumi dan bangunan), bukan objek bumi saja atau objek bangunan saja. Seharusnya bunyi pasal tersebut adalah: “Besaran pokok Pajak Bumi dan Bangunan

Perdesaan dan Perkotaan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam pasal 80 ayat (2) dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 79 setelah dikurangi Nilai Jual Objek Pajak Bangunan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 ayat (5)”. Sehingga bunyi pasal 81 UU PDRD tersebut sesuai dengan contohnya.

Dalam hal ini kita juga harus mengubah bunyi Pasal 77 ayat (4) dan ayat (5) agar sesuai dengan contoh perhitungan tersebut di atas. Bunyi Pasal 77 ayat (4) menjadi: “Besarnya Nilai

Jual Objek Pajak Bangunan Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar

Rp10.000.000.00 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak”. Dan Pasal 77 ayat (5)

berbunyi: “Nilai Jual Objek Pajak Bangunan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkandengan Peraturan Daerah”.

Namun apabila kita tidak ingin mengubah bunyi pasal-pasal yang berkenaan dengan contoh perhitungan yang ada maka contohnya yang harus diubah menjadi sebagai berikut.

1. NJOP Bumi : 800 x Rp300.000 = Rp240.000.000

2. NJOP Bangunan

(20)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

14

c. Pagar: (120 x 1,5) x Rp175.000 = Rp 31.500.000 + NJOP Bumi dan Bangunan = Rp421.500.000

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp 10.000.000 -

Nilai Jual Objek Pajak Kena Pajak = Rp411.500.000

Tarif Pajak yang efektif yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah misal 0,2%

PBB terutang: 0,2% x Rp411.500.000,- = Rp823.000,-

Pasal 90 ayat (1) huruf d UU PDRD

Pasal 90 ayat (1) UU PDRD berbunyi sebagai berikut:

(1) Saat terutangnya pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan ditetapkan untuk:

a…. b…. c….

d. hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta.

Menurut pendapat penulis bunyi Pasal 90 ayat (1) huruf d tersebut di atas merupakan kopi paste dari huruf c, hanya mengganti kata-kata hibah dengan hibah wasiat. Konsekwensi dari bunyi huruf d tersebut adalah bahwa penerima hibah wasiat harus melunasi pajak yang terutang pada saat tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta. Menurut ketentuan undang-undang baik KUH Perdata maupun Kompilasi Hukum Islam (KIH) pelaksanaan hibah wasiat tersebut baru dilakukan apabila pemberi hibah wasiat telah meninggal dunia. Seharusnya bunyi pasal terebut seperti di dalam Undang-undang BPHTB ( Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000) yaitu saat terutang pajak untuk hibah wasiat adalah pada saat yang bersangkutan yaitu penerima hibah wasiat mendaftarkan peralihan hak ke Kantor Pertanahan. Apabila bunyi Pasal 90 ayat (1) huruf d tetap seperti tersebut di atas maka akan timbul beberapa permasalahan antara lain sebagai berikut:

1. Apabila penerima hibah wasiat meninggal dunia terlebih dahulu, maka hibah wasiat tidak dapat dilaksanakan atau batal demi hukum, lantas bagaimana dengan BPHTB yang telah dibayar apabila Pasal 90 ayat (1) tersebut dilaksanakan? Dalam hal ini Wajib Pajak telah membayar pajak yang seharusnya tidak terutang dan akan dilakukan pengembalian pajak (restitusi)

2. Pada saat dibuatnya Akta Hibah Wasiat belum terjadi perolehan hak, karena Akta Hibah Wasiat bukan merupakan dasar perolehan hak. Jika BPHTBnya harus dibayar, maka belum tentu penerima hibah wasiat bersedia membayarnya karena belum memperoleh Hak atas tanah yang dihibahwasiatkan tersebut.

(21)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

15

membayar pajak yang seharusnya tidak terutang pajak karena Hibah Wasiat di cabut, sehingga pembayaran pajak yang tidak terutang pajak tersebut juga harus dikembalikan sebagai restitusi seperti tersebut pada angka (1) di atas.

Pasal 101 UU PDRD

Pasal 101 ayat (1) UU PDRD berbunyi: “Kepala Daerah menentukan tanggal jatuh

tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah saat terutangnya pajak dan paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal

diterimanya SPPT oleh Wajib Pajak”. Bunyi ayat ini jelas bahwa untuk pajak-pajak daerah

lainnya selain PBB, jatuh tempo pembayarannya paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah saat terutangnya pajak. Namun di dalam Pasal 101 ayat (2) terdapat kontroversi dimana SPPT sebagai salah satu dasar penagihan pajak harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. Di dalam memori penjelasan UU PDRD, pada Pasal 101 mencantumkan kata-kata “cukup jelas” padahal masih perlu diklarifikasi lagi mengenai

SPPT sebagai dasar penagihan pajak yang jatuh temponya satu bulan sejak diterbitkan. Klarifikasi setidak-tidaknya berisi penjelasan apakah yang dimaksud dengan SPPT pada ayat (2) tersebut merupakan SPPT asli hasil olah data dari SPOP dan LSPOP atau data lain yang ada di dalam basis data yang jatuh temponya tetap 6 (enam) bulan sejak diterimanya SPPT tersebut oleh Wajib Pajak. Ataukah merupakan SPPT Pembetulan atau hasil pengajuan keberatan yang jatuh temponya sebenarnya tidak mengubah jatuh tempo SPPT yang pertama? Menurut hemat penulis, sebaiknya di dalam Pasal 101 ayat (2) tidak perlu dicantumkan kata-kata SPPT sehingga tidak rancu dengan bunyi Pasal 101 ayat (1).

Penutup

Undang-undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ( UU PDRD ) yang telah berjalan selama lebih kurang 6 (enam) tahun kemungkinan perlu mendapat revisi untuk menuju kepada kesempurnaan dan diharapkan tidak menimbulkan multi tafsir bagi para pembacanya.

Daftar Pustaka

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang BPHTB

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 jo. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang PBB

(22)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

16

Triangulasi dalam Evaluasi Pascadiklat:

Aplikasi pada Evaluasi Pascadiklat Fungsional Statistisi

Alex Oxtavianus, Heru Margono

Education and Training Center, BPS-Statistics Indonesia Jln. Raya Jagakarsa No 70, Lenteng Agung, Jakarta 12620, Indonesia

(Diterima 28 Juli 2015; Diterbitkan 04 Desember 2015)

Abstract: Triangulation has become widely accepted as a way to improve the analysis and interpretation of findings from various types of studies. More specifically, triangulation has proved to be an effective tool for reviewing and corroborating findings in the surveys, assessments, etc., that are an essential part of effective monitoring and evaluation. Four basic types of triangulation: (1) data triangulation: the use of multiple data sources in a single study; (2) investigator triangulation: the use of multiple investigators/researchers to study a particular phenomenon; (3) theory triangulation: the use of multiple perspectives to interpret the results of a study; and (4) methodological triangulation: the use of multiple methods to conduct a study. At the end of the article, we discussed the application of triangulation method in post-training evaluation of statisticians.

Keywords: triangulation, post-training evaluation

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ Corresponding author :Alex Oxtavianus, E-mail: [email protected]; [email protected]

Pendahuluan

Do not let your perspective narrow. Always find a way to see situations and life from a different angle

Ungkapan di atas dikutip dari film Dead Poet Society yang dibintangi oleh Robin Williams. Secara eksplisit kutipan tersebut mengajak kita untuk selalu melihat segala sesuatu dari berbagai aspek untuk mendapatkan perspektif yang utuh. Dalam penelitian ilmiah, pandangan seperti ini dikenal dengan triangulasi. Asal-usul yang tepat mengenai triangulasi tidak diketahui dengan pasti, tetapi metode ini telah digunakan secara luas oleh peradaban Mesir dan Yunani kuno. Selama berabad-abad, triangulasi umumnya terkait dengan navigasi maritim, di mana pelaut menggunakannya untuk melacak posisi mereka. Pada masa itu triangulasi merupakan metode yang digunakan untuk menentukan lokasi berdasarkan hukum trigonometri. Hukum ini menyatakan bahwa jika satu sisi dan dua sudut dari segitiga diketahui, dua sisi lainnya dan sudut segitiga akan dapat dihitung (UNAID, 2010)

(23)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

17

menggabungkan prosedur pengukuran yang berbeda guna meningkatkan validitas dalam penelitian (Campbell dan Fiske, 1959). Namun perkembangannya secara luas baru dimulai pada tahun 1970 setelah Norman K Denzin memasukkan triangulasi dalam bukunya yang berjudul The Research Act: A Theoritical Introduction to Sociological Method.

Berkembangnya penerapan metode ini dalam ilmu-ilmu sosial, menjadikan triangulasi sebagai metode yang diterima secara luas sebagai salah satu cara untuk memperbaiki analisis dan interpretasi temuan dari berbagai jenis studi. Lebih khusus, triangulasi telah terbukti menjadi alat yang efektif untuk mengevaluasi dan menguatkan temuan dalam survei dan evaluasi. Kondisi ini menjadikan triangulasi sebagai bagian penting dari monitoring dan evaluasi yang efektif (UNAID, 2010).

Dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) juga dikenal monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring umumnya dilakukan pada saat kegiatan diklat sedang berlangsung, sedangkan kegiatan evaluasi umumnya dilakukan setelah kegiatan dilaksanakan. Kegiatan evaluasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam rangkaian kegiatan diklat. Mengacu pada model ADDIE (Analysis, Design, Develoment, Implementation, Evaluation), kegiatan evaluasi merupakan tahapan yang menentukan untuk melakukan perubahan desain dari sebuah diklat (Jabar, 2011).

Sumber : https://wawanismawandi.wordpress.com/2008/11/27/siklus-pelatihan-secara-umum

Gambar 1. Model ADDIE

(24)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

18 Bentuk Triangulasi

Menurut Denzin, triangulasi adalah langkah pemaduan berbagai sumber data, peneliti, teori, dan metode dalam suatu penelitian tentang fenomena tertentu. Alasan utama dilakukannya, triangulasi adalah untuk menyelamatkan penelitian dari berbagai bias dan kekurangan yang bersumber karena hanya mengandalkan sumber data, peneliti, teori, dan metode yang tunggal. Denzin membedakan triangulasi dalam empat kategori: (1) triangulasi data, (2) triangulasi peneliti, (3) triangulasi teori dan (4) triangulasi metode. Ketika triangulasi yang diterapkan lebih dari satu kategori, misalnya menggunakan metode yang berbeda dengan melibatkan beberapa peneliti serta memanfaatkan berbagai sumber data, maka kondisi ini dikenal dengan triangulasi berganda (multiple triangulation). Penjelasan masing-masing tipe triangulasi secara ringkas adalah sebagai berikut:

1. Triangulasi data

Triangulasi data berarti menggunakan beberapa sumber data, misalnya data yang bersumber dari informan atau responden yang beragam (Mathison, 1988). Triangulasi data juga merujuk kepada variasi dalam waktu (waktu yang berbeda dari pengumpulan data) dan tempat (tempat yang berbeda untuk pengumpulan data). Dengan demikian, dalam triangulasi data perlu memperhatikan tiga tipe sumber data yaitu waktu (misalnya: kegiatan harian atau musiman), ruang (misalnya: rumah atau dusun/desa), dan orang. Orang sebagai sumber data juga masih dapat dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu agregat (individu-individu sampel terpilih), interaktif (grup kecil, keluarga, kelompok kerja), dan kolektivitas (organisasi, komunitas, masyarakat desa).

Ide utama di balik triangulasi data adalah dengan menggunakan data yang beragam (sumber, waktu dan tempat yang berbeda), peneliti dapat memperoleh karakteristik umum dari data-data tersebut. Dengan demikian, peneliti akhirnya akan dapat menunjukkan karakteristik unik yang ada pada penelitiannya.

2. Triangulasi peneliti

(25)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

19 3. Triangulasi teori

Dengan menerapkan triangulasi teori, maka beberapa teori atau hipotesis yang dipergunakan dianggap sesuai untuk diterapkan dalam satu fenomena yang sama. Karena adanya perbedaan cara pandang, triangulasi teori cenderung untuk mengungkapkan unsur-unsur yang tidak sesuai teori. Dengan demikian, triangulasi teori dapat merupakan adaptasi dari teori lama atau pengembangan teori yang baru (Jick, 1979). Hal ini akan sangat menarik untuk ranah penelitian dengan tingkat inkoherensi teoritis yang tinggi. Namun, dalam kenyataannya, triangulasi teori hampir mustahil untuk dilakukan (Mathison, 1988). Soalnya berbagai teori, karena memiliki asumsi-asumsi dasar yang berbeda, akan menerangkan fenomena yang sama secara berbeda pula. Karena itu untuk menghindari kerumitan akibat ketidak-koherenan antar teori, peneliti sering memilih satu atau beberapa proposisi yang rasional dan relevan dengan masalah yang dikaji.

4. Triangulasi metode

Triangulasi metode dapat dikategorikan ke dalam triangulasi within-metode dan triangulasi between-metode (Thurmond, 2001).

a. Triangulasi within-metode

Dalam triangulasi within-metode digunakan beberapa teknik dalam satu metode untuk pengumpulan dan interpretasi data. Untuk metode kuantitatif contohnya adalah penggunaan berbagai skala atau indeks yang mengacu pada konstruk yang sama (Jick, 1979). Dalam kasus metode kualitatif, triangulasi within-metode dapat dilakukan dengan menggabungkan observasi nonpartisipan dengan wawancara secara berkelompok (Thurmond, 2001).

Oleh karena itu, penggunaan triangulasi within-metode lebih fokus pada konsistensi internal, yaitu keandalan-reliability (Jick, 1979). Keterbatasan dari bentuk triangulasi ini adalah hanya menggunakan satu metode, meskipun diterapkan dalam berbagai variasi/teknik. Setiap metode tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan hanya menggunakan satu metode saja, maka kelemahan metode tersebut masih akan tetap muncul.

b. Triangulasi between-metode

(26)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

20

metode yang berbeda dipergunakan untuk mengonfirmasi hasil temuan. Dengan demikian, triangulasi between-metode akan meningkatkan validitas penelitian.

Penerapan Triangulasi pada Evaluasi Pasca Diklat Fungsional Statistisi

Jabatan fungsional statistisi adalah jabatan yang diberikan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh untuk melakukan kegiatan statistik pada instansi pemerintah. Kegiatan statistik tersebut meliputi pengumpulan, pengolahan, penyajian, penyebarluasan dan analisis data. Termasuk pula dalam kegiatan statistik adalah kegiatan pengembangan metode statistik. Terkait dengan kompetensinya dan tanggung jawabnya, fungsional statistisi juga dibedakan atas dua kategori, yaitu fungsional statistisi terampil dan fungsional statistisi tingkat terampil.

Selaku pembina jabatan fungsional statistisi, Badan Pusat Statistik (BPS) berkewajiban memberikan pembinaan serta pelatihan bagi tenaga fungsional statistisi secara berkesinambungan. Pembinaan ini tidak hanya untuk ASN di lingkungan BPS, tetapi juga ASN dari kementerian/lembaga atau pemerintah daerah yang berminat atau telah menjadi fungsional statistisi. Pembinaan yang dilakukan ditujukan untuk memenuhi kompetensi yang menjadi syarat bagi seorang ASN untuk menjadi fungsional statistisi. Terkait dengan pembinaan ini, Pusdiklat BPS menyelenggarakan diklat pembentukan fungsional statistisi, baik untuk tingkat terampil maupun ahli. Diklat pembentukan fungsional statistisi ditujukan bagi ASN yang berminat untuk menjadi fungsional statistisi, namun tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang statistik.

Pelaksanaan diklat pembentukan fungsional statistisi pada awalnya hanya dilakukan dengan metode tatap muka. Dengan metode ini, peserta dan pengajar terlibat dalam proses pengajaran secara langsung di dalam kelas. Dalam perkembangannya, pelaksanaan diklat pembentukan fungsional statistisi tidak hanya dilakukan dengan metode tatap muka, tetapi juga dengan metode jarak jauh, dengan memanfaatkan fasilitas internet. Metode ini dilakukan untuk meningkatkan cakupan (coverage) diklat pembentukan fungsional statistisi. Metode jarak jauh ini juga dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan diklat.

(27)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

21

namun juga untuk memantau tingkat pemanfaatannya dalam pekerjaan mereka sehari-hari, sehingga metode yang lebih tepat adalah Evaluasi Pasca Diklat.

Dalam kegiatan evaluasi pascadiklat fungsional statistisi, prinsip triangulasi diusahakan dipenuhi secara utuh. Triangulasi dari sisi peneliti diimplementasikan dengan menggunakan peneliti dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup beragam. Peneliti yang terlibat dalam kegiatan evaluasi pascadiklat berasal dari kalangan statistisi, komputasi statistik, manajemen, ekonomi dan perencanaan. Dengan beragamnya latar belakang pendidikan para peneliti, diharapkan evaluasi pascadiklat akan menghasilkan kajian yang komprehensif. Di samping latar belakang pendidikan yang beragam, para peneliti yang terlibat juga merupakan praktisi dalam bidang statistik dan kediklatan. Pengalaman praktis dari para peneliti ini tentunya juga akan memberikan kontribusi positif bagi kegiatan evaluasi pascadiklat.

Triangulasi metode juga diterapkan dalam evaluasi pascadiklat fungsional statistisi. Untuk dapat mencapai hasil yang optimal, dipergunakan beberapa metode. Metode yang dipakai merupakan kombinasi antara metode penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Metode penelitian kuantitatif difokuskan untuk memperoleh fenomena yang menjadi kecenderungan secara umum. Dalam evaluasi pascadiklat ini, pendekatan kuantitatif didukung dengan melakukan survei daring berbasis web (web based online survey) untuk alumni diklat fungsional statistisi. Dalam mendalami fenomena yang terjadi, hasil survei daring berbasis web dinilai belum cukup memadai. Untuk menjawab kebutuhan ini, dilakukan wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD). Dua metode ini merupakan teknik yang umumnya digunakan untuk mendukung penelitian kualitatif. Wawancara mendalam dimaksudkan untuk menggali lebih jauh tentang fenomena yang ditemui berdasarkan hasil survei daring berbasis web. Pada survei daring, informasi yang diperoleh hanya

menghasilkan “apa” fenomena yang terjadi, namun belum menjelaskan “bagaimana” atau “mengapa” fenomena tersebut terjadi. Pertanyaan-pertanyaan investigasi tersebut diharapkan terjawab pada saat pelaksanaan wawancara mendalam. Metode kualitatif berikutnya adalah FGD. Dalam konteks pelaksanaan evaluasi pascadiklat, FGD ditujukan untuk mempertemukan seluruh stakeholder yang bersinggungan dengan jabatan fungsional statistisi. Selain sebagai bagian dari triangulasi metode, pelaksanaan FGD juga dilakukan untuk mendukung triangulasi peneliti.

(28)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

22

Prinsip triangulasi yang tidak kalah pentingnya adalah triangulasi data. Dalam evaluasi pascadiklat ini, triangulasi sumber data dilakukan pada saat mengumpulkan informasi, terutama dalam wawancara mendalam dan FGD. Prinsip triangulasi sumber daya diharapkan mampu memperkaya informasi serta menghasilkan informasi yang terkonfirmasi. Terkait dengan pelaksanaan wawancara mendalam, dengan memperhatikan prinsip triangulasi sumber data, informan yang menjadi fokus wawancara mendalam adalah : a) alumni diklat fungsional statistisi; b) atasan alumni diklat fungsional statistisi; dan c) rekan sejawat alumni diklat fungsional statistisi.

Gambar 2. Triangulasi Sumber Data pada Tahapan Wawancara Mendalam

Triangulasi sumber data juga didukung dengan melakukan pengecekan kebenaran informasi menggunakan dokumen resmi. Untuk perubahan perilaku misalnya, dapat dikonfirmasi dengan dokumen penilaian prestasi pegawai. Pelaksanaan FGD juga mendukung triangulasi sumber data. FGD dilaksanakan dengan mengikutsertakan seluruh stakeholder yang terkait dengan fungsional statistisi, yang meliputi pembina jabatan fungsional statistisi, penyelenggara diklat fungsional statistisi dan pejabat fungsional statistisi. Masing-masing stakeholder tentunya memiliki informasi yang spesifik. Agregasi seluruh informasi ini diharapkan akan menghasilkan gambaran yang utuh tentang fungsional statistisi, sebagai masukan untuk pengembangan diklat fungsional statistisi di masa yang akan datang.

Kesimpulan

Penggunaan metode triangulasi sangat mungkin diterapkan pada evaluasi pascadiklat. Dengan prinsip multy-angel, metode triangulasi akan meningkatkan validitas dan reliabilitas dari evaluasi pascadiklat. Hal ini tentunya akan berdampak langsung pada kualitas evaluasi pascadiklat yang dilaksanakan. Pada akhirnya peningkatan kualitas ini tentu akan memberikan umpan balik yang positif dan tepat bagi pelaksanaan diklat bersangkutan pada masa yang akan datang

Alumni Diklat

Atasan

PENELITI

(29)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

23 Ucapan terima kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinan di lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan BPS yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk terlibat dalam Survei Evaluasi Pascadiklat Fungsional Statistisi

Daftar Pustaka

Campbell, D. T., & D. W. Fiske (1959). Convergent and discriminant validation by the multitrait- multimethod matrix. Psychological Bulletin 56(2), 81-105

Jick, Todd D. (1979). Mixing Qualitative and Quantitative Methods: Triangulation in Action. Administrative Science Quarterly 24(4), 2-11.

Jabar, CSA (2011). Desain Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (Pengembangan Diklat Sistemik Model ADDIE), Makalah disajikan pada Seminar Penyusunan Draft Desain Kurikulum Diklat Manajemen Perkantoran pada Badan Diklat Propinsi DI Yogyakarta, 25 Mei 2011

Mathison, Sandra. (1988). Why triangulate?. Educational Researcher 17(2):13-17.

Ministry of Interior Cambodia and Japan International Cooperation Agency-JICA. (2009). Manual on Training Evaluation Project on Improvement of Local Administration in Cambodia. Ministry of Interior and Japan International Cooperation Agency . Cambodia

Muslihin (2003). Model Evaluasi Program Diklat Jabatan PNS. Makalah disampaikan pada seminar KTI Widyaiswara pada BKDPP Provinsi Nusa Tenggara Barat, 29 Juli - 2 Agustus 2003.

UNAID (2010). UNAID Monitoring and Evaluation Fundamentals : An Introduction to Triangulation. UNAID

Thurmond, Veronica A. (2001). The point of triangulation. Journal of Nursing Scholarship 33(3), 253-58.

(30)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

24

Efektifitas Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Pola Baru

terhadap Kinerja Aparatur (Studi Kasus Diklatpim IV pada

Badan Diklat Provinsi Bali)

Rusmulyani

Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Bali

Jl. Hayam Wuruk No.152, Denpasar Sel., Kota Denpasar, Bali 80239, Indonesia

((Diterima 20 Oktober 2015; Diterbitkan 04 Desember 2015)

Abstract: Education and leadership training is intended for officials who will and / or telahmenduduki IV echelon structural position which is intended to form the figure of the leader of the bureaucracy that has a high ability in planning and leading the implementation of the agency's activities. The aim of this study was to find out the answer on the effectiveness of the implementation of the Leadership Tk.IV on the performance of the apparatus. Place as object of this research is the Bali Provincial Training Agency. The technique in collecting data using interview techniques and questionnaires conducted on all participants / alumni of Diklatpim IV Force II 2014 numbered 30 people. From the spread of the questionnaire, 29 questionnaires were returned and 1 questionnaire did not return to the questionnaire analyzed in this study amounted to 29 kuesioner.Metode data analysis used in this research is descriptive quantitative method. Based on research that has been done can be concluded that the effectiveness of the implementation of leadership training Tk.IV on the performance of the apparatus to get an average of 81.62 and be on effective criteria. It can be concluded that the implementation of Leadership Training Tk.IV effectively influence the performance of the apparatus.

Keywords: effectiveness, leadership training (diklatpim IV), performance of apparatus.

Corresponding author: Rusmulyani, E-mail: [email protected], Tel./Fax.:.

1. Latar Belakang

(31)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

25 praktek kerja PNS sehingga menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk menghilangkan sifat tersebut.

Salah satu cara dalam meningkatkan kinerja aparatur sebagai upaya dalam mengembangkan sumber daya manusia ialah melalui Pendidikan dan Pelatihan atau dikenal

sebagai Diklat.Siagian (1995) menyatakan “pentingnya pendidikan dan pelatihan sebagai

salah satu investasi dalam bidang sumber daya manusia (Human Investment) yang harus dilaksanakan oleh setiap organisasi, apabila organisasi yang bersangkutan ingin bukan saja meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja-nya, akan tetapi dalam rangka mempercepat,

pemantapan perwujudan perilaku organisasi yang diinginkan”.

Salah satu Diklat yang dilaksanakan oleh Badan Diklat Provinsi Bali ialah pendidikan dan pelatihan kepemimpinan sesuai amanah PP No. 101 Tahun 2000. Pendidikan dan pelatihan ini dikhususkan bagi aparatur pegawai negeri yang akan menduduki atau memiliki jabatan struktural.

Badan Diklat Provinsi Bali dalam pelaksanaan Diklat Kepemimpinan Pola Baru melakukan evaluasi terhadap peserta hanya pada saat peserta mengikuti diklat. Namun setelah selesai mengikuti diklat, evaluasi terhadap dampak atau konsekuensi kinerja PNS (peserta) setelah kembali pada instansi masing-masing belum dilaksanakan.

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan kajian atau penelitian dengan judul Efektifitas Diklat Kepemimpinan Pola Baru Terhadap Kinerja Aparatur (Studi Kasus Diklatpim IV pada Badan Diklat Provinsi Bali).

2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka masalah yang diidentifikasi adalah sebagai berikut :

a. Bagaimana efektifitas Diklatpim IV pola baru terhadap kinerja aparatur (alumni)?

b. Apa Dampak Diklatpim IV dalam meningkatkan kinerjanya?

c. Apa kendala/hambatan yang dihadapi Badan Diklat dalam pelaksanaan Diklatpim IV pola Baru?

3. Pembatasan Masalah

(32)

Proceeding Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional ke-2 Ikatan Widyaiswara Indonesia (IWI) Provinsi Banten

Pandeglang, 3 – 4 Desember 2015

26

4. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah diatas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah Apakah pelaksanaan Diklatpim IV pola baru efektif dilakukan terhadap kinerja aparatur? Atau Bagaimakah efektifitas pelaksanaan Diklatpim IV Pola Baru terhadap peningkatan kinerja aparatur?

5. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:

Untuk memperoleh gambaran tentang efektifitas pelaksanaan Diklatpim IV pola baru terhadap kinerja aparatur.

6. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Menambah wawasan penulis tentang ruang lingkup Diklat, khususnya yang berhubungan dengan pendidikan dan pelatihan kepemimpinan pola baru (dalam upaya meningkatkan kinerja pegawai/aparatur)

2. Dapat dijadikan bahan referensi bagi lembaga untuk pelaksanaan Diklat dan pengambilan kebijakan.

3. Sebagai bahan masukan dan mampu memberikan sumbangan pemikiran pada pihak yang terkait dalam kediklatan untuk mengembangkan kompetensi pegawai/aparatur.

7. Tinjauan Teoritis

a. Konsep Efektifitas

Efektivitas berasal dari kata efektif yang mengandung pengertian dicapainya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas selalu terkait dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang (view point) dan dapat dinilai dengan berbagai cara dan mempunyai kaitan yang erat dengan efisiensi.

Efektivitas memiliki pengertian yang berbeda dengan efisiensi. Seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Syamsi dalam bukunya “Pokok-pokok Organisasi dan Manajemen” bahwa:

“Efektivitas (hasil guna) ditekankan pada efek, hasilnya dan kurang memperdulikan

pengorbanan yang perlu diberikan untuk memperoleh hasil tersebut. Sedangkan efisiensi (daya guna), penekanannya disamping pada hasil yang ingin dicapai, juga besarnya

pengorbanan untuk mencapai hasil tersebut perlu diperhitungkan” (Syamsi, 1988:2).

The Liang Gie (2000:24) mengemukakan “efektivitas adalah keadaan atau kemampuan

suatu kerja yang dilaksanakan oleh manusia untuk memberikan hasil guna yang diharapkan.”

Gambar

Tabel 3. Indek unit kompetensi teknis inti dan khusus rumpun jabatan pelayanan.
Tabel 4. Indek unit kompetensi teknis inti rumpun jabatan peraturan.
Tabel 6. Indek unit kompetensi teknis inti rumpun jabatan Sumber Daya Manusia.
Tabel 7. Indek unit kompetensi teknis inti rumpun jabatan Organisasi.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Struktur organisasi merupakan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan- hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi, atau pun

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia di dalam memenuhi kebutuhannya yang relatif tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas

Struktur organisasi didesain dengan baik untuk sebuah organisasi yang efektif yang mana dengan adanya sumber daya manusia dalam organisasi perusahaan struktur organisasi sesuai

Website dari masing-masing organisasi perangkat daerah baru sebatas publikasi instansi saja; (3) mayoritas sumber daya manusia aparatur masih gaptek (gagap teknologi); (4)

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXXI HATHI dengan tema “Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan Dalam Rangka Mitigasi Bencana” telah terselenggara dengan baik dan dihadiri oleh

Sumber Daya Manusia, Sistem Informasi, Board Governance, Manajemen Risiko dan Pengendalian Intern, Perencanaan Strategis, Anggaran dan Manajemen

Prosiding Pertemuan Ilmiah Nasional Tahunan XI ISOI 2014 Balikpapan, 17-18 November 2014 vii Karakteristik Pantai di Kawasan Pulau Tiga, Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna..

Struktur Organisasi dan Tupoksinya Berikut susunan organisasi Dinas Pengolahan Sumber Daya Air terdiri dari: 1 Kepala Dinas Dinas pengelolaan Sumber Daya Air mempunyai tugas dalam