PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
Sub Tema: Pendidikan Berwawasan Lingkungan Makalah Mata Kuliah Pendidikan Makro Dosen Pengampu Rahmania Utari, M.Pd
Disusun oleh :
Asri Nur Azizah 13101241051
ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam tidak hentinya penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu dinanti syafaatnya di yaumul akhir nanti.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Universitas Negeri Yogyakarta yang menjadi kebanggaan kami.
2. Ibu Rahmania Utari, M.Pd yang telah mengampu mata kuliah Pendidikan Makro.
3. Petugas perpustakaan yang telah membantu dalam pencarian referensi. Penulis berharap dengan makalah yang berjudul “PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI” dapat memberikan pengetahuan tentang peningkatan kemampuan sains melalui pembelajaran berbasis alam.
Penulis menyadari bahwa terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini.Untuk itu saran dan kritik yang membangun senantiasa penulis terima demi perbaikan dipenulisan berikutnya.
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Identifikasi Masalah 2 C. Batasan Masalah 2 D. Rumusan Masalah 2 BAB II Kajian Teori 3
A. Karakteristik Anak Usia Dini 3 B. Pengertian Sains 4
C. Pembelajaran Berbasis Alam 5 BAB III Pembahasan 7
A. Cara Anak Mempelajari Sains 7
B. Program Pembelajaran Sains Berbasis Alam 8
C. Pelaksanaan Pembelajaran Sains Berbasis Alam 10 BAB IV Penutup 14
A. Kesimpulan 14 B. Saran 14
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 28 tentang Sistem Pendidikan Nasional menerangkan bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, melalui pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal, pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal meliputi Taman Kanak-Kanak, Roudlotul Athfal, atau sederajat. Sedangkan pendidikan nonformal melalui kelompok bermain dan bina keluarga balita. Tahap pendidikan usia dini disesuaikan dengan perkembangan anak prasekolah yaitu usia 0-6 tahun.
Menurut Yuliani Nurani (2011: 55) masa usia dini merupakan pondasi pertumbuhan dan perkembangan awal yang selanjutnya akan berpengaruh pada tahap kehidupan berikutnya. Merujuk pada pendapat Freud dalam Muhammad Fadlillah (2012: 56) menerangkan pula bahwa perkembangan anak sejak kecil akan berpengaruh ketika anak tersebut dewasa. Pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh pendidik dan orang tua kepada anak akan tertanam pada diri anak. Hal ini sesuai dengan karakteristik anak usia dini 0-6 tahun yang unik, aktif dan energik, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, eksploratif, serta senang dan kaya akan fantasi atau imajinasi. Karakteristik anak tersebut mendukung anak untuk belajar hal-hal yang ada di lingkungannya. Pemahaman tentang lingkungan dapat diterapkan pada kemampuan anak pada bidang sains.
Pembelajaran sains pada anak usia dini mendapat kendala. Salah satu masalahnya yaitu materi pembelajaran dipandang oleh siswa terlalu teoritis, kurang memberi contoh-contoh yang kontekstual. Metode penyampaian bersifat monoton, kurang memanfaatkan berbagai media secara optimal (Dikti, 2004 dalam http://www.fipumj.net). Untuk menjawab masalah tersebut dibutuhkan model pembelajaran yang tepat agar pengalaman yang diterima anak dapat berkesan sampai mereka dewasa.
Model pembelajaran bidang sains yang dapat diterapkan untuk anak usia dini yaitu pembelajaran berbasis alam. Hal ini dikarenakan isi dari pembelajaran sains berhubungan langsung dengan alam dan bersifat kongkret. Model pembelajaran berbasis alam merupakan konsep pendidikan yang kembali pada alam back to nature school. Ide dasarnya adalah pendidikan pada anak dilakukan dengan mengajak anak dalam suasana sesungguhnya melalui belajar pada lingkungan alam sekitar. Pada makalah ini akan dibahas tentang pembelajaran sains pada anak usia dini dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis alam.
B. Identifikasi Masalah
Pembelajaran sains untuk anak usia dini memiliki kendala dalam metode penyampaiannya. Penyampaian materi kurang memberi kesan pada peserta didik dan masih monoton. Pendidik juga kurang memanfaatkan media untuk proses pembelajaran.
C. Batasan Masalah
Pada makalah ini akan membahas tentang pembelajaran berbasis alam untuk anak usia dini yang berusia 0-6 tahun, sebagai solusi untuk meningkatkan kemampuan sains anak dengan pembelajaran yang berkesan. D. Rumusan Masalah
BAB II KAJIAN TEORI
A. Karakteristik Anak Usia Dini
Anak usia dini atau anak prasekolah yang berusia 0-6 tahun merupakan individu yang proses pertumbuhan dan perkembangannya meliputi berbagai aspek dan dialami secara cepat dalam rentang kehidupan manusia (Yuliani Nurani, 2011: 6).
Menurut Steinberg, Hughes, dan Piaget dalam Yulianti (2010) menjelaskan bahwa ciri-ciri perkembangan pada anak usia dini dibagi menjadi tiga. Perkembangan tersebut yaitu perkembangan fisik, perkembangan emosi-sosial, dan kemampuan mental.
1. Ciri Fisik
Anak dapat menggunakan bagian-bagian tubuhnya dengan spontan dan sangat aktif. Anak mampu mengendalikan dirinya dan mulai menyukai kegiatan keseharian yang mereka lakukan.
2. Ciri Kehidupan Emosi-Sosial
Pada kehidupan sosial, anak cenderung suka bermain dan membentuk kelompok. Pertemanan anan dimulai dengan anak-anak yang memiliki jenis kelamin sama lalu selanjutnya dengan yang berlainan. Anak menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara cepat tapi beberapa anak ada yang kesulitan untuk bergaul dengan temannya ketika dia merasa tidak nyaman. Pada perkembangan emosi-sosial ini anak dapat dilatih untuk melakukan kebiasaan baik yang dapat menunjang kualitas hidupnya kelak.
3. Ciri Kemampuan Mental
Pada kemampuan mental ini anak senang belajar dengan imajinasinya yang tinggi. Anak menyukai kegiatan menggunting, menempel, dan melakukan hal-hal yang secara langsung dapat dilihat dan dipraktekan.
pembelajaran yang berkesan, karena anak bersifat aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini diharapkan pengalaman yang mereka terima akan benar-benar mereka bawa sampai dewasa nanti. Namun, perlu diperhatikan pula bahwa perkembangan anak tidak semuanya lancar. Semua dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor tersebut bisa berasal dari diri anak yaitu anak memiliki kelainan fisik atau mental dan faktor lingkungan, berbicara tentang teori atau rumus yang monoton. Sains bersifat universal dan dapat dikembangkan oleh setiap individu yang yang hidup di dunia ini. Pembelajaran sains yang menyeluruh tentang alam ini menyebabkan sains seharusnya dapat diberikan sejak seseorang berusia dini (Nugraha, 2005: 7).
Abruscato dalam Nugraha (2005: 99-100) menerangkan bahwa ruang lingkup sains sangatlah luas. Dilihat dari isi bahan kajian meliputi materi atau disiplin yang terkait dengan bumi dan jagat raya atau sering disebut dengan ilmu bumi, ilmu-ilmu hayati atau biologi, serta bidang kajian fisika dan kimia.
Berdasarkan isi bahan kajian tentang ilmu bumi, sains dapat mencerminkan tentang keadaan bumi dengan keadaan yang nyata. Pada ilmu bumi akan dipelajari tentang astronomi, geologi, meterologi, dan bidang langsung yang berhubungan dengan kegiatan bumi.
Pembahasan mengenai bidang fisika dan kimia kajian sains mengarah pada materi tentang daya atau kekuatan, studi tentang energi, dan yang berkaitan dengan reaksi kimiawi.
C. Pembelajaran Berbasis Alam
Pembelajaran merupakan suatu interaksi yang terjadi antara pendidik dan peserta didik yang diikuti dengan berbagai sumber belajar yang memadai. Sumber belajar ini terdapat pada lingkungan belajar sehingga terjadi perubahan perilaku-perilaku tertentu. Interaksi yang terjadi antara pendidik dan peserta didik dapat dilakukan dengan bentuk apapun yang sudah disetujui oleh kedua belah pihak (Fadlillah, 2012: 133). Salah satu jenis pembelajaran yaitu model pembelajaran berbasis alam.
Berdasarkan Panduan Model Pembelajaran Berbasis Alam yang dikembangkan oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008, konsep yang dibawa dalam pembelajaran berbasis alam yaitu konsep pendidikan yang kembali pada alam atau back to nature. Pembelajaran ini mengajak anak untuk terjun langsung dalam mengamati dan merasakan secara langsung suasana yang sesungguhnya pada lingkungan alam disekitarnya. Pembelajaran ini menggunakan media yang dapat ditemui secara langsung oleh peserta didik.
Pembelajaran berbasis alam dilakukan dengan menggunakan media alam atau lingkungan sekitar yang nyata. Lingkungan dijadikan sebagai sumber pengajaran yang utama dan melihat kejadian yang sesungguhnya dengan benar. Sumber belajar dapat diartikan sebagai bahan ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik.
Bahan pengajaran dari lingkungan dikelompokan menjadi tiga kategori. Ketiga kategori tersebut yaitu lingkungan alam (sebagai bahan mentah), lingkungan produsen atau lingkungan pengrajin (pengolah dan penghasil bahan mentah menjadi bahan jadi), serta lingkungan masyarakat pengguna bahan jadi (konsumen).
BAB III PEMBAHASAN
A. Cara Anak Mempelajari Sains
Berdasarkan teori perkembangan kognisi, menurut Piaget anak usia dini yang berusia 0-6 tahun memasuki masa sensorimotor dan praoperasional. Masa sensorimotor yaitu anak mengenal lingkungannya, sedangkan masa praoperasional merupakan masa yang ditandai dengan kemampuan secara simbolis yang ditunjukan dengan anak suka meniru tingkah laku orang lain, binatang, atau peristiwa yang mereka lihat. Perilaku ini muncul setelah anak mengamati objek yang menarik perhatiannya (Nurani, 2011: 56). Kegiatan meniru anak ini dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak.
Menurut Nugraha (2005: 70-71) kegiatan yang merangsang perkembangan anak mulai dari fisik, motorik, emosi-sosial, moral dan kepribadian dapat disusun dengan bentuk belajar yang multi guna dan multi fungsi. Kegiatan belajar dipilih yang mampu menciptakan learning to know (belajar untuk tahu), learning to do (belajar untuk melakukan), learning to be (belajar membentuk diri), dan learning to life together (membantu kemampuan hidup dalam kebersamaan).
Aplikasi bentuk pembelajaran ini untuk pendidikan anak usia dini yaitu melalui pemberian fasilitas anak untuk kegiatan langsung pada objek sains. Seperti melakukan penyelidikan dan eksperimen. Pemberian fasilitas ini dikemas dalam bentuk yang dapat menumbuhkan budaya kelompok dan aktivitas individual.
dapat digunakan misalnya air dan pasir yang baik untuk mengembangkan berbagai dimensi perkembangan anak.
Terdapat pengembangan lain yang dapat mengarahkan anak dalam mempelajari sains. Dimulai dari anak diajak untuk berfikir kritis dan kreatif. Anak dibiasakan untuk bertanya mengapa suatu hal terjadi dan dilatih untuk mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan analisa mereka masing-masing. Cara selanjutnya untuk meningkatkan kegiatan berfikir kritis dan kreatif yaitu melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut yaitu observasi dasar atau mengamati, mengandaikan atau mengasumsi, menemukan kemungkinan-kemungkinan atau memprediksi, dapat menemukan kesalahan, memperkirakan penyebab, membuat keputusan, dan yang terakhir membuat kateogori (Yulianti, 2010: 65-71).
B. Program Pembelajaran Sains Berbasis Alam
Penyusunan program pembelajaran sains yang berbasis alam dapat menggunakan beberapa pendekatan, diantaranya yaitu :
1. Pendekatan Pedosentris
Yang dimaksud dengan pendekatan pedosentris atau yang sering dikenal dengan leaner centered yaitu cara memandang kegiatan pembelajaran yang bertumpu atau bertitik tolak dari kesanggupan atau kemampuan anak sebagai individu yang belajar. Pada pendekatan ini guru dituntut untuk mengerti kesanggupan belajar setiap siswa sehingga pembelajaran yang akan diberikanpun sesuai dengan kemampuan siswa tersebut. 2. Pendekatan Child Centered
jawaban yang menurut mereka benar, selanjutnya adalah mengkomunikasikan sendiri berbagai pengetahuan yang dia miliki. Pada pendekatan ini mengharuskan guru untuk mendesain situasi dan fasilitas belajar yang mendukung anak untuk mengeksplorasi pengetahuannya. Pendekatan ini dalam pembelajaran berbasis alam, pendidikan dapat mengajak anak menggunakan berbagai sumber belajar lingkungan sekitar secara aktif.
3. Pendekatan Discovery (penemuan)
Pendekatan dengan cara ini memusatkan pada kemampuan anak dalam menemukan sendiri berbagai aspek pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai melalui berbagai pengalaman yang dirancang dan diciptakan guru. Pendekatan ini memiliki hubungan dengan pendekatan pedosentris dan child centered.
4. Pendekatan Proses
Pembelajaran lebih mengedepankan proses belajar dari pada hasil belajar. Proses belajar sebagi pemerolehan berbagai ragam pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan oleh anak sendiri. Ini merupakan ciri khas dari pendekatan proses dalam program berbasis alam.
5. Pendekatan Kongkrit
Pendekatan kongkrit mengusahakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan proses yang kongkrit. Anak-anak mempelajari hal-hal yang dapat mereka lihat dan rasakan secara langsung menggunakan indra mereka. Pendekatan ini dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna dan dapat mereka ingat dengan waktu yang lama.
6. Pendekatan Tematik
Pendekatan tematik ini dapat menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik.
Penjelasan mengenai pendekatan-pendekatan tersebut berdasarkan Panduan Model Pembelajaran Berbasis Alam yang dikembangkan oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008. Pendekatan-pendekatan tersebut dapat diintegrasikan dalam sebuah rancangan pembelajaran yang komprehensif dan langsung menjurus pada kebutuhan anak tentang sains. Dengan penyusunan program yang memperhatikan pendekatan-pendekatan tersebut anak akan mendapatkan pembelajaran yang bermakna. Dengan keadaan tersebut maka teori Freud tentang pembelajaran yang bermakna di usia dini akan dibawa sampai dewasa akan dapat dipraktekan dengan baik.
C. Pelaksanaan Pembelajaran Sains Berbasis Alam
Pembelajaran sains dengan menggunakan model pembelajaran berbasis alam ini sudah pernah dilakukan penelitian, dan hasilnya menunjukan bahwa dengan model pembelajaran ini pemahaman peserta didik akan ilmu sains bertambah 20%-40%. Penelitian dilakukan pada sebuah lembaga pendidikan anak usia dini, namun penelitian yang dilakukan hanya pada sains bidang hayati tumbuhan (flora) saja. Penelitian ini dilakukan oleh Yenimar tahun 2013.
Pada sub bab ini akan dijelaskan secara langsung pelaksanaan pembelajaran sains berbasis alam yang bersifat lebih praktis. Menurut isi bahan kajian sains meliputi ilmu bumi dan jagat raya, biologi, serta fisika-kimia. Keterampilan yang dikembangkan berdasarkan isi bahan ajaran yaitu meliputi keterampilan mengamati, mengelompokan, mengkomunikasikan, menggunakan angka atau hitungan, membuat kesimpulan, dan keterampilan memprediksi.
1. Pembelajaran berkaitan dengan pengenalan bumi dan jagat raya.
Salah satu contoh mengidentifikasi berbagai jenis batuan dan mineral. Lalu mengelompokan berbagai batuan yang diperoleh di sekitar anak, misalkan saja berdasarkan warna, dan ukurannya. Setelah itu untuk melatih keterampilan mengkomunikasikannya, anak diminta menjelaskan perputaran bumi secara alamiah.
Pembelajaran dilanjutkan dengan anak diminta menghitung dengan jari beberapa batuan kecil, misalnya koral atau kerikil yang telah disiapkan, kegiatan ini untuk melatih menggunakan hitungan.
Pembelajaran yang dilakukan di lingkungan alam secara langsung, anak mengamati beberapa lapisan tanah di beberapa tempat di sekitar lingkungan sekolah, kemudian membuat penafsiran atas keadaan tanah tersebut. Misalnya mengapa tanah dibelakang sekolah ditumbuhi rumput lebih subur, tetapi di depan sekolah tidak ditumbuhi rumput sama sekali. Contoh lain anak diajak menyimpulkan masalah mengapa tanah di bawah cucuran air hujan yang mengalir melalui genting sekolah terlihat berlubang, tetapi di tempat lainnya tidak, dan sebagainya.
Untuk melatih keterampilan memprediksi anak diajak untuk memperkirakan atau menduga keadaan cuaca untuk esok hari atas pengamatan cuaca pada hari ini, misalkan anak-anak diajak melihat keadaan udara, awan dan sinar matahari hari itu lalu ditanyakan apakah besok akan seperti ini juga?.
Rangkaian pembelajaran ini menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran berbasis alam, seperti pendekatan child centered, discovery, dan pendekatan kongkrit.
2. Pembelajaran sains terkait bidang biologi.
Pembahasan dalam bidang biologi yaitu tentang makhluk hidup, makhluk tak hidup, tumbuhan, perubahan organisme, dan kekuatan suatu perasaan (sakit, luka, haus, kering, dll).
mengelompokan makhluk hidup dan tak hidup tersebut dengan mempertimbangkan cuaca.
Untuk keterampilan berkomunikasi, anak mengutarakan ciri-ciri makhluk hidup dan tak hidup berdasarkan yang mereka amati. Lalu anak menyimpulkan bagaimana perbedaan makhluk hidup dan tak hidup, serta cara makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya. Selanjutnya anak dilatih keterampilan memprediksi dengan membuat terkaan tentang pengaruh lingkungan terhadap organisme.
Pendekatan discovery akan lebih tertanam ketika anak diberi aktivitas untuk memelihara, merawat, dan menjaga binatang kesayangannya. Dengan kegiatan tersebut anak dapat mengeksplorasi dan menemukan karakteristik dari binatang yang dikenalnya menjadi lebih tinggi intensitasnya.
3. Pembelajaran sains terkait dengan pengenalan konsep fisika-kimia. Konsep pembelajaran fisika-kimia mencakup warna, ukuran, kekerasan, hangat-dingin, suara, wujud benda, dan perubahan materi (objek).
Misal pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu diawali dengan anak mengamati gambaran dan ciri-ciri wujud benda padat, cair, dan gas. Setelah itu anak mengelompokan benda-benda yang termasuk padat, cair, atau gas. Melatih keterampilan mengkomunikasikan objek, anak diminta menerangkan tentang ciri-ciri dari benda-benda tersebut, atau berganti objek dengan listrik. Mulai dari manfaat listrik dan alat-alat yang bergerak dengan listrik, dilanjutkan dengan alasan manusia menghemat listrik. Lalu anak dilatih menyimpulkan pemakaian listrik di rumah atau di sekolah agar menjadi hemat dan tidak boros.
Selanjutnya anak diajak untuk memprediksi suatu benda, misalnya sebuah senter jika diisi dengan baterai atau tidak diisi dengan baterai apakah akan menyala atau tidak.
Penggalian kemampuan sains bidang fisika-kimia dapat mengintegrasikan pendekatan-pendekatan berbasis alam yang disisipkan dalam pembelajaran (Nugraha, 2005: 147-241).
PENUTUP
A. Kasimpulan
Dari penjabaran pada kajian pustaka dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menerapkan metode pembelajaran berbasis sains pada anak usia dini dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan, diantaranya pendekatan pedosentris, child centered, discovery, proses, kongkrit, dan tematik. Penerepan pendekatan-pendekatan tersebut dengan pembelajaran yang langsung menggunakan media alam sebagai sumber belajar. Dengan upaya tersebut sehingga dapat memberikan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik dan dapat meningkatkan kemampuan sains anak.
B. Saran
Hendaknya keahlian guru dalam mengkondisikan kelas dan memberikan pengalaman belajar disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta didik dan dilakukan dengan tidak monoton.
DAFTAR PUSTAKA
Fadlillah, Muhammad. (2012). Desain Pembelajaran PAUD: Tinjauan Teoretik dan Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Isjoni. (2010). Model Pembelajaran Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta.
Mujtaba, Imam. (2014). Masalah Belajar dan Pembelajaran Anak Usia Dini. http://www.fipumj.net/artikela87ff679a2f3e71d9181a67b7542122c- MASALAH-BELAJAR-DAN-PEMBELAJARAN-ANAK-USIA-DINI-.html. (online). Diakses pada 22 Desember 2014.
Nugraha, Ali. (2005). Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.
Nurani, Yuliani. (2011). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia DiniI. Jakarta: Indeks.
Pusat Kurikulum Badan Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Model Pembelajaran Berbasis Alam Pendidikan Anak Usia Dini Formal Dan Nonformal. Http://Www.Bintangbangsaku.Com/Sites/Default/Files/Model
%20Kurikulum%20PBA%20PAUD.Pdf. (Online). Diakses Pada 17 Desember 2014.
Yenimar. (2013). Peningkatan Kemampuan Sains Flora Anak Dengan
Pembelajaran Berbasis Alam Di Paud.
Http://Ejournal.Unp.Ac.Id/Index.Php/Pnfi/Article/Download/1522/Pdf. (Online). Diakses Pada 17 Desember 2014.