• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Perubahan Ruang Semi Perkotaan Dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pola Perubahan Ruang Semi Perkotaan Dan"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Pola Perubahan Ruang Semi Perkotaan

Dibuat dalam rangka menyelesaika

Kementerian Agr

Magis

Kata-kunci:sustainable development,

Kota adalah konsentrasi kebudayaa dan tergambar sebagai puncak peradaban bangsa. Persepsi sebagian masyara mendefinisikan arti sebuah kota masih l kota metropolitan. Dalam arti sebuah wi disebut kota jika penduduknya sangat pa ketersediaan infrastruktur yang lengk Jakarta. Padahal, Pontoh dan Kustiwa mendifinisikan kota sebagai lokasi deng penduduk yang lebih besar dibandingka lain disekitarnya akibat dari hasi penduduknya yang berhubungan pemanfaatan lahan non pertanian. Pera pertama bermula di wilayah subur yang Cosmic (bersifat agamis), yaitu di lem Nile, Tigris, dan Euphrat (Sjobeg 1960, Potter, 1985).

Soetomo, Sugiono (2002) men bahwa urbanisasi sebagai suat

otaan Dan Pengaruhnya Terhadap Hak Tanah

aikan tugas perkuliahan Prof. Sugiono Soetomo be

Afden Mahyeda

NIM. 21040117410029

graria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasiona

Fakultas Teknik

gister Pembangunan Wilayah dan Kota

Universitas Diponegoro

Semarang, 2017

nt, urbanisasi, kota urban, sub-urban, pheri-urban, rural-urba

yaan manusia

perkembangan kota yang dalam sebuah lingkungan aktivitas manusia untuk m peradabannya yang kemudia dan terdiri atas elemen bang sebagai tempat kehidupann pribadi maupun kepemilika sejarah urbanisasi yang bera kepercayaan agama menja pasca revolusi industri secar oleh Alain Garnier (1985) ke

1. Tahap pertama pembangunan masya 2. Tahap kedua yang

pembangunan industr 3. Tahap ketiga mer pasca industri yait dalam wilayah.

ah Formal dan Informal

berupa paper oleh:

onal

rban, hak tanah formal

ng merupakan kejadian n atau ruang hasil dari uk meningkatkan kemajuan udian disebut sebagai kota ngunan dan ruang terbuka nnya, baik yang bersifat ilikan bersama. Perjalan beralih dari dimensi simbol njadi kekuatan ekonomi cara linear dikelompokkan

ke dalam 3 periode: yang tumbuh dari yarakat agraris;

g tumbuh atas kekuatan ndustri perkotaan; dan

(2)

Pusat perhatian dalam sejarah perkembangan urbanisasi dimulai saat memasuki abad 21 dimana terdapat perbedaan pertumbuhan penduduk yang terjadi pada negara berkembang dengan negara maju. Pertumbuhan penduduk di negara maju mulai akhir abad ke 20 selalu mengalami penurunan. Hal ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan di negara berkembang yang mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Perkiraan ini pun semakin menjadi saat prediksi pertumbuhan kota pada tahun 2025 di negara berkembang yang mencapai 486 kota dengan jumlah penduduk diatas satu juta orang (Harris, 1989 dan Potter, 1998).

Menjadi kota urban mengakibatkan sebuah negara harus siap terhadap segala ancaman dan permasalahan yang mungkin timbul. Diantara permasalahan urbanisasi yang biasa kita jumpai seperti: Kota raksasa, kepadatan berlebih, kekurangan sarana dan prasarana, permukiman kumuh dan liar, kemacetan lalu-lintas, berkurangnya tanggung jawab, pengangguran dan setengah pengangguran, masalah rasial dan sosial, westernisasi dan modernisasi, kerusakan lingkungan, perluasan perkotaan dan berkurangnya lahan pertanian, dan organisasi administrasi (Pontoh dan Kustiwan, 2009:121). Hal menarik yang kerap muncul terkait permasalahan urbanisasi yaitu kemiskinan dan disparitas wilayah (kesenjangan sosial). Oleh karena itu dibutuhkan suatu alternatif untuk memecah konsentrasi urbanisasi yang hanya berpusat di kota besar saja. Pengembangan desa dan kota-kota kecil dapat menjadi salah satu solusi yang baik. Dalam usaha pembangunan wilayah tersebut pun kerap kali diikuti dengan timbulnya permasalahan baru terutama dalam hal aksesibilitas antara desa kota dan dalam hal proses perubahan desa ke kotanya sendiri.

Pendapat mengenai sebuah kota senantiasa berkembang mengikuti peradaban manusia yang pada akhirnya kita mengenal konsep pembagian sebuah wilayah kedalam zona-zona sesuai dengan pemanfaatan lahannya (konsep garden city) dari Ebenezer Howard. Namun, dari empat sebab terbentuknya masyarakat perkotaan yang dikemukakan oleh Carter (1977, 1983 dalam potter 1998) yaitu:Hydraulic of Environmental-ecological theses; Economic theory; Military pruposes; dan Religious theory, Kota-kota pertama di Indonesia dibentuk sebagai the ruler seat berdasarkan tempat kekuasaaan dan trading post yang merupakan titik-titik simpul perdagangan (Rutz, 1987).

Fokus permasalahan penulisan ini akan lebih diarahkan pada permasalahan yang timbul akibat proses perubahan desa ke kota terutama terkait tentang perubahan hak tanah pada zona baru yang biasa disebut dengan daerah semi perkotaan. Yang mana permasalahan ini tidak hanya terjadi di negara maju saja, melainkan juga dialami di negara berkembang seperti di Indonesia. Jenis-jenis daerah semi perkotaan terbagi atas:

• Daerah sub-urban yang merupakan perubahan desa ke kota akibat dari eksistensi penjalaran kota yang dikenal sebagai pinggiran kota pembentuk kota metropolitan dengan cakupannya mencapai kota wilayah.

• Daerah pheri-urban yang merupakan perkembangan kota akibat dari timbulnya permukiman kota yang terpisah jauh dari kota induk.

• Daerah rural-urban yang merupakan perubahan desa ke kota akibat dari perkembangan maju penduduk desa atas dukungan potensi wilayahnya.

(3)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa permasalahan utama yang dihadapi oleh kota sebagai hasil dari urbanisasi yaitu kemiskinan dan ketimpangan sosial. Salah satu dampak nyata yang terjadi yaitu ketidakmampuan masyarakat kota untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Rumah tinggal sebagai indikator status sosial seseorang yang oleh karena itu saat ini rumah menjadi kebutuhan paling primer yang diperlukan seseorang untuk dapat bertahan hidup di perkotaan. Namun, kondisi akibat urbanisasi dimana hal tersebut meningkatkan tekanan kebutuhan akan ruang di perkotaan dan menjadikan perubahan harga lahan sangat tinggi.

Fenomena kebutuhan terhadap lahan cenderung terus meningkat yang merupakan resultan dari perkembangan ekonomi dan pertumbuhan penduduk. Pada gilirannya hal tersebut akan melahirkan gejala persaingan penggunaan lahan, yang sesungguhnya merupakan manifestasi dari berlakunya hukum permintaan (demand) dan penawaran (supply). Hal tersebut dapat dipahami, mengingat lahan merupakan sumberdaya alam yang amat penting. Hampir semua aspek kehidupan dan pembangunan, baik langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan permasalahan lahan. Seiring dengan terjadinya pertumbuhan wilayah termasuk di dalamnya pertumbuhan kota, kebutuhan (demand) akan sumberdaya lahan cenderung meningkat. Sementara itu dilihat dari ketersediaannya dalam arti luasan lahan dalam batas administratif bersifat terbatas (in-elastic). Hal ini tentunya menjadi sulit dan bahkan tidak mungkin terjangkau oleh penduduk miskin di perkotaan untuk mendapatkan rumah yang layak huni di perkotaan saat ini. Ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan ruang di perkotaan untuk masyarakat miskin diperkotaan akibat tuntutan pasar dan keterbatasan finansial pemerintah, mengakibatkan solusi yang kemudian diambil yaitu dengan membangun perumahan di kawasan semi perkotaan.

Kawasan semi perkotaan seperti di pinggiran kota Jakarta belakangan ini menjadi pusat perhatian para pengembang di sektor perumahan. Jarak yang dekat dari pusat kota, kondisi sarana dan prasarana transportasi yang cukup, ketersediaan aksesibilitas yang ramai dan aman serta nyaman dibanding jalur lain menjadikan sebuah lokasi memiliki daya tarik

yang kuat untuk dijadikan sebagai salah satu pilihan tempat tinggal (Tarigan, 2006). Seperti kasus terbaru dalam pembangunan kota baru “Meikarta”, aksesibilitasnya yang dekat dengan kawasan industri dan terhubung langsung dengan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung menjadi daya jual paling tinggi.

Gambar: Tipologi struktur ruang (Wiegen, 2005 dalam Hadikusna, Iwan, 2017)

Walaupun aksesibilitas tetap menjadi faktor utama penentu dalam pemilihan lokasi perumahan yang ditawarkan baik oleh pemerintah maupun pasar swasta, yang hal ini berdampak nyata pada perubahan desa ke kota di wilayah semi perkotaan, namun harga lahan dan faktor-faktor lain seperti potensi wilayah desa ternyata juga berdampak langsung terhadap perkembangan kawasan semi perkotaan.

Namun yang perlu diingat bahwa perkembangan wilayah semi perkotaan bisa saja diluar kontrol perencanaan pembangunan wilayah yang secara tidak langsung dapat berdampak pada menjamurnya permukiman liar disekitar perkotaan atau biasa disebut dengan urban sprawl. Oleh karena itu, dalam upaya untuk menekan laju pertumbuhan urban sprawl di sekitar kawasan perkotaan, dibutuhkan suatu pola perubahan ruang di wilayah semi perkotaan atas daya dukungnya terhadap kebutuhan tempat tinggal di perkotaan. Yang mana nantinya dapat dijadikan sebagai bahan dan masukan dalam pemodelan perencanaan wilayah yang lebih baik.

(4)

Jieming dan Simarmata, H. Andy (2014), hak atas tanah dalam pembangunan wilayah kota terbagi atas hak tanah formal dan hak tanah informal.

A. Hak Tanah Formal

Hak tanah formal didefinisikan sebagai hak atas tanah untuk dapat melakukan pembangunan di tanah tersebut, contohnya dapat berupa pembangunan perumahan atau industri pertanian, yang didasarkan oleh peraturan-peraturan pembangunan terkait melalui prosedur legal. Pada kasus di Jakarta, permukiman atas tanah formal terkonsentrasi dipinggiran kota. Faktor yang mempengaruhi diantaranya yaitu: keterbatasan atau kelangkaan lahan/tanah di pusat kota; belum adanya pengaturan kepadatan penduduk yang tinggi; kurangnya peran pemerintah atas hak tanah informal; terjadinya urbanisasi yang sangat cepat; dan Terjadinya fenomena industrialisasi. Adapun dampak langsung terkait faktor permasalahan tersebut berupa teritorialisasi hak tanah informal dan kualitas hidup warga menjadi rendah, bahkan bisa menjadi lebih buruk.

Ditinjau dari peta persebaran perumahan swasta diatas, keterkaitan diantara perkembangan wilayah semi perkotaan dengan hak tanah formal diasumsikan linear terhadap jarak ke pusat kota. Dalam artian semakin dekat dengan Jakarta sebagai pusat kota maka semakin tinggi jumlah ketersediaan

perumahan yang ditawarkan oleh sektor swasta. Dari asumsi tersebut juga dapat ditarik beberapa pernyataan bahwa: kawasan sub-urban yang merupakan kawasan paling dekat dengan pusat kota memiliki pengaruh utama terhadap perkembangan wilayah semi perkotaan. Kawasan Pheri-Urban mejadi tingkat pengaruh kedua. Salah satu contohnya yaitu kawasan BSD yang dibangun jauh dari pusat kota Jakarta kini menjadi pusat grafitasi baru yang mempengaruhi perkembangan wilayah kota Jakarta. Pada tingkat ketiga, rural-urban basis dari sektor Industri masih menjadi yang paling besar seperti wilayah Tanggerang dan Bekasi. Perkembangan hak formal dari sektor perumahan disekitar kawasan industri jelas berpengaruh cukup signifikan karena kawasan industri memiliki gaya medan magnet yang kuat untuk menarik sektor permukiman formal disekitarnya. Sedangkan untuk basis sektor diluar industri seperti pertanian kurang berpengaruh besar terhadap perkembangan wilayah semi perkotaan. Hal yang berbeda dialami oleh perkembangan wilayah daerah turistik, potensi yang ditawarkan seperti pariwisata di sekitar puncak Bogor perkembangan hak tanah formal adalah sedikit. Hal ini dikarenakan regulasi terkait tata ruang yang menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan hijau membuat sektor formal tidak telalu banyak yang berani mengambil resiko. Justru hak tanah informal yang paling dominan menciptakan urban sprawl disekitar kawasan hijau puncak tersebut.

B. Hak Tanah Informal

Hak tanah informal merupakan hak atas tanah atau areal permukiman di suatu kota yang dihuni oleh masyarakat sangat miskin dan tidak mempunyai alat bukti kepemilikan tanah yang sah. Hak ini menggambarkan wilayah yang dibangun diatas tanah tersebut adalah liar dan tidak memiliki izin untuk membangun seperti slum area. Untuk kasus di Jakarta kondisi hak tanah informal lebih banyak terjadi dipusat kota. Sehingga pembahasan mengenai hak tanah informal sedikit dibahas dan dibatasi hanya untuk daerahrural-urban.

(5)

sekitar 15% masyarakatnya yang bekerja pada sektor formal, selebihnya bekerja di sektor informal seperti ART, Pedagang kaki lima, Buruh, dan Sopir.

Kesimpulan :

Dari pembahasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pola perkembangan kawasan semi perkotaan memiliki pengaruh yang nyata terhadap hak tanah formal dan informal khususnya di sektor pembangunan permukiman dan perumahan. Pola tersebut berbeda antar jenis-jenis daerah semi perkotaan. Selain itu, karakteristik lingkungan, karakteristik perkotaan, serta privatisasi daerah semi perkotaan ternyata membawa dampak yang cukup besar terhadap ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat.

Daftar Pustaka

Budihardjo, Eko dan Sujarto, Djoko. 2009. Kota Berkelanjutan (Sustainable City). Bandung: PT Alumni.

Pontoh, N.K. dan Kustiwan, Iwan. 2009.Pengantar Perencanaan Perkotaan. Bandung: Penerbit ITB.

Soetomo, Sugiono. 2002. “Strategi Desain Ruang Sub-Urban Dalam Menopang Pembangunan Yang Berkelanjutan”. Pidato Pengukuh Disajikan Pada Upacara Penerimaan Jabatan

Guru Besar pada Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, 3 Agustus 2002.

Tarigan. 2006. Teori Lokasi -Tarigan, 2006:7. [Home page of Kompasiana.com] [Online].

Available at:

http://www.kompasiana.com/harefa14/teori-lokasi-ta

rigan-2006-77_56786777749773aa13c05303. Diakses pada tanggal 11 Agustus 2017.

Wheeler, S.M. 2014. Planning For Sustainability : Creating Livable, Equitable, and Ecological Communities. the USA and Canada: Routledge.

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan status rawan konversi integrasi Pola Ruang meliputi; kawasan perdesaan dengan fungsi utama sebagai kawasan pertanian akan berstatus tetap, kawasan

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,