• Tidak ada hasil yang ditemukan

KORUPSI DAN MAKELAR KASUS DALAM KAJIAN M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KORUPSI DAN MAKELAR KASUS DALAM KAJIAN M"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

KORUPSI DAN MAKELAR KASUS

DALAM KAJIAN MAQASHID SYARI’AH

(KONSEP PEMIKIRAN AL-GHAZALI DAN AL-MAQRIZI)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

Tim Dosen Pengampu:

Dr. EUIS AMALIA, SAg.

CECEP MASKANUL HAKIM, MEc.

5r

Disusun oleh :

Fithrah Kamaliyah NIM : 2113043300011

MAGISTER EKONOMI SYARI’AH

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2013

[Type your

address][Type your phone number][Type your e-mail address]

AH

(2)

KORUPSI DAN MAKELAR KASUS

DALAM KAJIAN MAQASHID SYARI’AH

A.

Pendahuluan

Diberbagai belahan dunia, kasus korupsi selalu menjadi sorotan yang lebih dibandingkan dengan kasus pidana lainnya. Pandangan mengenai kasus korupsi merupakan sesuatu yang amat buruk dan sebagai corengan keburukan terhadap suatu negara. Bahkan korupsi dianggap sebagai penyakit yang akut dan susah untuk dihilangkan apabila tindakan korupsi tersebut telah menjalar pada berbagai badan pemerintahan sehingga mendarah daging.

Munculnya hasrat untuk melakukan tindak korupsi pada awalnya adalah adanya sifat ketamakan seseorang terhadap harta. Mereka yang menganggap harta adalah segalanya, dan harta tersebut akan makin banyak terkumpul apabila mereka telah mejadi seorang penguasa di dalam sebuah lembaga khususnya lembaga yang kebanjiran uang. Korupsi yang sangat menjadi permasalahan adalah apabila tindakan tersebut telah menyentuh pada titik inti suatu negara, yaitu lembaga-lembaga perwakilan rakyat bahkan yang paling mengancam adalah ketika pemimpinnya pun melakukan tindakan korupsi tersebut.

(3)

menyeluruh, namun kenyataannya tidak ada yang tercapai bahkan adapula yang diabaikan.

Keberadaan makelar kasus di Indonesia telah marak sejak zaman orde baru, yang pada saat itu presiden Indonesia sendiri telah bertindak sebagai dalang korupsi terbesar atas kekayaan negara. Kondisi yang sangat menyedihkan dikala itu, masyarakat seakan dibungkam mulutnya dan dibutakan matanya sehingga kenyataan kasus tersebut seolah tidak terdengar. Masyarakat yang sebenarnya telah tahu rahasia umum ini terkesan harus memendam amarah dan melupakan masalah besar penegakkan hukum ini karena kesulitan untuk fakta kejahatan luar biasa ini di lapangan, apa lagi untuk menyelesaikan.

Iklim korupsi oleh Soeharto (dan keluarganya) adalah perwujudan sistem politik rejim Orde Baru yang hanya menguntungkan sekelompok orang saja. Menilik besarnya harta rakyat yang telah dikumpulkan oleh Soeharto, jelaslah bagi banyak orang bahwa Soeharto merupakan pengkhianat besar kepentingan rakyat Indonesia. Digugatnya harta haram Soeharto dalam 7 yayasannya, merupakan langkah awal membongkar kebusukan moral Soeharto (beserta keluarganya), yang selama puluhan tahun dibungkus segala kemegahan. Penelanjangan kebusukan moral Suharto melalui pembongkaran korupsi besar-besaran merupakan sejarah penting bagi bangsa ini.1

Peninggalan karakter pemimpin korup tersebut ternyata bukan lenyap, namun pada tahun-tahun selanjutnya justru bertumbuhan kembali akar-akar koruptor di kalangan eksekutif dan legislatif yang juga telah menjalar pada struktur pemerintahan dibawahnya seperti gubernur dan bupati.Salah satu pelaku makelar kasus yang baru saja terjadi adalah kasus yang dilakukan oleh Ahmad Fahanah (AF) yang menjadi perantara kasus korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) suap impor daging dengan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq(LHI) sebesar 38,709 milyar.2 AF memanfaatkan dan juga dimanfaatkan posisi sahabatnya, LHI dengan tujuan untuk mencari kekayaan yang sebanyak-banyaknya. Uang yang ia peroleh dibelikan rumah, mobil, perhiasan, dll., baik untuk dirinya maupun orang lain seperti Sefti Sanustika, Ayu Azhari, dan Vitalia Shesya. Ia juga terbukti menerima duit dari pihak lain sebanyak Rp 35,408 miliar.Kasus lain terkait makelar kasus yang sebelumnya terjadi adalah kasus makelar pajak yang

1http://kelana-tambora.blogspot.com/2007/03/soeharto-pengkhianat-bangsa.html

(Diakses : 9 Jan 2014).

(4)

dilakukan oleh staff muda bernama Gayus Tambunan. Pria muda inipun bersama sejumlah oknum petinggi di perpajakan menyeludupkan dana pajak hingga senilai Rp 28 miliar.3Modus yang dilakukan gayus terhadap penggelapan pajak adalah dengan melakukan transaksi yang direkayasa. Gayus menerima dana dengan tujuan untuk membantu pengurusan pajak pendirian pabrik garmen di Sukabumi. Namun setelah dicek, pemiliknya adalah Mr Son, warga Korea, tidak diketahui berada di mana. Uang tersebut masuk ke rekening Gayus Tambunan tetapi ternyata Gayus tidak mengurus pajaknya. Uang tersebut tidak digunakan oleh Gayus dan tidak dikembalikan kepada Mr. Son sehingga hanya diam di rekening Gayus. Selain itu gayus juga menerima dana dari Andi Kosasih sebesar 25 milyar, yang diakui untuk dana pembelian sebidang tanah, namun kebenarannya tidak jelas.4

Kasus di atas adalah contoh dari segelintir tindakan makelar kasus yang telah terungkap, masih ada kasus-kasus lainnya yang banyak terjadi, baik berupa penggelapan dana negara, money loundring, maupun dana suap yang melibatkan orang lain sebagai makelar dari kasus tersebut. Masyarakat Indonesia sudah terlanjur akrab dengan budaya korupsi. Dengan sendirinya para aparat yang melakukan korupsi tersebut seperti biasanya mengeluarkan izin, lisensi, fasilitas, dan rekomendasi yang menguntungkan pemberi suap. Akhirnya, korupsi menjadi pola kerja rutin dan keseharian, karena adanya saling menguntungkan bagi kelanggengan jabatan dan pembangunan itu sendiri. Betapa menyakitkan, berbagai keluhan, sinyalmen, tuduhan, dan bahkan pembuktian tentang betapa kronis dan meluasnya korupsi di Indonesia merupakan sesuatu yang nyata. Amat sukar membangun argumentasi yang masuk akal dan mendekati kebenaran membantahnya, apalagi sekedar menutupi segalanya. Karena itulah segala yang menyangkut korupsi itu harus dicarikan jalan keluar dan pendekatan yang mengarah pada pemberantasannya secara tuntas, sampai tidak pernah bangkit kembali.

Dalam pembahasan mengenai makelar kasus ini penulis ingin sedikit mencoba untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi seputar korupsi dan makelar kasus dengan mengacu pada konsep kemaslahatan dalam Islam yaitu mengenai konsep Maqashid Syari’ah. Dalam konsep Maqashid Syari’ah yang digagas oleh Imam

Al-3http://kabarindonesia.com/berita.php?

pil=20&jd=Republik+Markus&dn=20111210145145 (Diakses : 9 Jan 2014.

4http://helda-blog.blogspot.com/2012/11/kasus-korupsi-gayus-tambunan.html

(5)

Ghazalai menyatakan bahwa seorang muslim dalam segala urusan dunianya harus mengutamakan 5 keselamatan agar tidak terjadi sesuatu yang dianggap dapat menyengsarakan baik diri sendiri maupun orang lain. Maraknya korupsi dan makelar kasus adalah bentuk pelanggaran terhadap konsep maqashid itu sendiri sehingga pada akhirnya rakyat menjadi menderita dan negara mengalami kerugian besar. Untuk itu pengkajian dan penerapan mengenai maqashid syari’ah ini sangat penting bagi seluruh instansi pemerintahan agar terciptanya masyarakat yang sejahtera dunia dan akhirat. Konsep mengenai kajian Maqashid Syari’ah akan lebih jelas dipaparkan oleh penulis pada pembahasan selanjutnya, beserta berbagai pemikiran para tokoh ekonomi Islam dalam menangani kasus korupsi dan makelar kasus tersebut.

B.

Pembahasan

1.

Pengertian Korupsi dan Makelar Kasus

Istilah korupsi telah memboming di berbagai penjuru dunia, istilah ini kian akrab dan sering didengar dengan begitu maraknya praktek korupsi yang terjadi di berbagai negara di dunia. Kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio yang berarti menyuap dan corrumpere atau merusak.5 Pengertian korupsi juga telah termuat dalam Undang-undang negara Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, pada Pasal 1 Butir 3, sebagai berikut :

”Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan perundang-undangan yang mengatur tindak pidana korupsi.”6

Sedangkan yang tercantum dalam perundang-undangan Tindak Pidana Korupsi, korupsi adalah suatu kegiatan yang mencakup tindakan:

a. Melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

b. Menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena

5Munawar Fuad Noer, Kiai di Republik Maling (Jakarta : Republika, 2005), hlm.1. 6Leden Marpaung, Tindak Pidana Korupsi : Pemberantasan dan Pencegahan

(6)

jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara7

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimuat pengertian korupsi sebagai berikut : “”Penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan, dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.”8

Sementara Makelar Kasus merupakan istilah yang terdiri dari dua kata, yaitu “makelar” dan “kasus”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata makela berasal dari bahasa Belanda yaitu makelaar yang berarti orang tersumpah atau badan hukum yang bertindak sebagai pedagang atau penyedia jasa perantaraan. Juga biasa disebut tussenhandelaar ”pedagang perantara” dalam arti yang lebih umum. Padanan makelaar dalam bahasa Indonesia yang paling populer adalah pialang dan calo yang dianggap lebih rendah derajatnya.9

Berdasarkan pengertian yang telah diungkapkan di atas, jelas bahwa tindak pidana korupsi dan juga makelarnya merupaka tindakan pengkhianatan terhadap negara karena menyelewengkan uang milik negara dan menyalah gunakan jabatan atau wewenang yang tentunya sangat merugikan keuangan dan perekonomian negara.

Secara umum, istilah korupsi selama ini mengacu kepada berbagai tindakan gelap dan tidak sah (illicit or illegal activities) untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok. Tetapi dalam perkembangan lebih akhir, dari berbagai pengertian korupsi terdapat penekanan, bahwa korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan atau kedudukan publik untuk keuntungan pribadi.

Menurut Imam Al-Maqrizi, korupsi dan administrasi yang buruk merupakan salah satu penyebab inflasi yang merupakan kesalahan manusia. Al-Maqrizi menyatakan bahwa pengangkatan para pejabat pemerintahan yang berdasarkan pemberian suap, dan bukan kapabilitas, akan menempatkan orang-orang yang tidak mempunyai kredibilitas pada berbagai jabatan penting dan terhormat, baik di kalangan legislatif, yudikatif, maupun eksekutif. Merka rela menggadaikan seluruh harta miliknya sebagai kompensasi

7Undang-undang Republik Indonesia No.31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi, hlm.3.

8Ibid.

9Nur Chanifah, Makelar Kasus (Markus) dalam Perspektif Hukum Islam : Sebuah Upaya

(7)

untuk merai jabatan yang diinginkan serta kebutuhan sehari-hari sebagai pejabat. Kondisi ini menurut Al-Maqrizi, selanjutnya sangat mempengaruhi moral dan efisiensi administrasi sipil dan militer. Ketika berkuasa, para pejabat tersebut mulai menyalahgunakan kekuasaan untuk meraih kepentingan pribadi, baik untuk memenuhi kewajiban finansialnya maupun kemewahan hidup. Mereka berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Merajalelanya ketidakadilan para pejabat tersebut telah membuat kondisi rakyat semakin memprihatinkan, sehingga mereka terpaksa meninggalkan kampung halaman dan pekerjaannya. Akibatnya terjadi penurunan drastis jumlah penduduk dan tenaga kerja serta hasil-hasil produksi yang sangat berimplikasi terhadap penurunan penerimaan pajak dan pendapatan negara.10

Keadaan seperti yang diungkapkan oleh Imam Al-Maqrizi sesuai dengan keadaan yang terjadi di Indonesia saat ini. Dimana terjadi kasus suap-menyuap yang digunakan sebagai alat untuk memasuki atau mendapatkan sebuah jabatan yang memiliki penghasilan yang tinggi. Seperti pada kasus suap yang terjadi dalam pemilihan deputi gubernur senior BI pada tahun 2004, Miranda Gultom yang memberikan aliran dana dana sebesar 9 Milyar yang ia transfer ke 19 anggota komisi IX DPR yang berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Periode 1999-2004.11 Dengan adanya kasus ini membuktikan bahwasannya pengangkatan suatu jabatan di Indonesia telah ternodai karena pemilihan tersebut bukanlah dilihat dari faktor kapabilitas dan kredibilitas yang dimiliki seseorang, akan tetapi karena adanya uang sogokan sehingga ia akhirnya terpilih dan menduduki jabatan tersebut.

Dengan penerimaan tenaga kerja ataupun pejabat berdasarkan perolehan dana suap, maka akan terjadi tindakan korup selanjutnya yakni penyalah gunaan jabatan bukan untuk melaksanakan pekerjaan secara profesional tetapi untuk memperoleh kekayaan yang sebanyak-banyaknya. Ternyata kasus korupsi ini jika diamati adalah proses yang berantai sehingga pihak satu sama lain saling terkait untuk sama-sama memperoleh keuntungan dari tindakan terlarang itu. Hal yang demikian serupa dengan yang telah dikemukakan oleh Al-Maqrizi pada penjelasan sebelumnya.

10Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam : dari Masa Klasik Hingga

Kontemporer (Depok : Gramata Publishing, 2010), hlm.269-270.

11

(8)

Menurut Al-Maqrizi juga bahwa tindakan korup pejabat tersbut akan terus menjalar dalam sebuah pemerintahan. Beliau mengungkapkan bahwa kibat dominasi para pejabat bermental korup dalam pemerintahan, mengakibatkan pengeluaran negara mengalami peningkatan yang sangat drastis. Sebagai kompensasinya mereka menerapkan sitem perpajakan yang menindas rakyat dengan memberlakukan berbagai pajak baru serta menaikkan tingkat pajak yang telah ada. Hal ini sangat mempengaruhi kondisi para petani yang merupakan kelompok mayoritas dalam masyarakat. Hal ini juga mempengaruhi para pemilik tanah, mereka ingin selalu berada dalam kesenagan akan melimpahkan beban pajak kepada para petani melalui peningkatan biaya sewa tanah. Karena meraka tertarik dengan hasil pajak yang sangat menjanjikan, tekanan para pejabat dan pemilik tanah terhadap para petani menjadi lebih besar dan intensif.12

Hal yang dikemukakan Al-Maqrizi mengenai menignkatnya pajak pun sesui dengan keadaan di Indonesia. Sistem perpajakan di Indonesia tidak seperti negara-negara dengan sistem perpajakannya dari era ke era semakin maju sehingga memenuhi unsur keadilan dan pemerataan. Sistem perpajakan Indonesia dirancang dengan menomorsatukan fungsibudgeter (anggaran), yakni untuk memenuhi target anggaran pendapatan negara, padahal fungsi utama pajak adalah redistribusi pendapatan.Pengubahan titik berat fungsi pajak ini didorong oleh ketimpangan dalam penerimaan pajak, terutama semasa pemerintahan rezim Orde Baru, dan tidak lagi tergantungnya penerimaan Indonesia kepada minyak dan gas.Pemerintah kemudian mengenalkan reformasi perpajakan nasional pada 31 Desember 1993. Reformasi itu dilakukan karena sebelum masa itu penerimaan pajak rendah sekali.

Sebelum reformasi dikenalkan, total penerimaan pajak semasa 32 tahun pemerintahan rezim Orde Baru pimpinan mantan presiden Soeharto, hanya Rp20 triliun. Tetapi, setelah reformasi dikenallkan, jumlah penerimaanseketika melonjak. Bahkan pada masa pemerintahan KH Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri angkanya menjadi sekitar Rp1.000 triliun.

Namun, karena penerimaan dari pendapatan minyak dan gas tidak lagi menjadi yang utama dalam Angkatan Pendapatan Belanda Negara (APBN), proporsi penerimaan pajak pun menjadi 78 persen dari APBN.Fungsi APBN pun menjadi yang utama, padahal hal

(9)

tersebut berakibat memaksa rakyat untuk memenuhi target APBN tersebut. Pengubahan artikulasi fungsi ini dinilai Drs. Sudibyo, MM sebagai pakar perpajakan Universitas Airlangga, secara teoritis tidak adil bagi pembayar pajak, karena pembayar pajak dipaksa mencapai target angka Rp1.000 triliun.Padahal pajak tidak mengenal target. Menurutnya prinsip pajak itu adil proporsional sesuai daya pikul pembayar pajak. Seseorang berpenghasilan besar, maka besar pula kewajiban pajaknya, sebaliknya sesseorang berpenghasilan kecil maka kecil pula kewajiban pajaknya.

Menurut Sudibyo, situasi demikian membuat unsur keadilan terkesampingkan, sementara di sisi lain kondisi ini ikut memciicu rendahnya rasio pajak (tax ratio) Indonesia.Dan tax ratio yang rendah ini membuat Indonesia menjadi surga bagi penyelundup pajak.13

2.

Faktor Pemicu Tumbuhnya Budaya Korupsi dan Makelar Kasus

di Indonesia

Korupsi merupakan penyakit sosial yang menggerogoti sendi-sendi bangsa dan merusak tahanan hidup bernegara. Korupsi di Indonesia sudah tergolong extra ordinary crime karena telah merusk, tidak saja keuangan negara dan potensi ekonomi negara, tetapi juga telah meluluhlantakan pilar-pilar sosio budaya, moral, politik dan tatanan hukum dan keamanan nasional.

Untuk dapat mengatasi permasalah yang ini, kita harus selami dahulu apa yang menjadi sebab utama dari tindakan korupsi tersebut. Seperti seorang dokter, sebelum memberi terapi (pengobatan) kepada pasiennya, beliau harus mengetahui terlebih dahulu apa diagnosa penyakitnya. Diagnosa yang tepat membuat terapi yang dilakukan berhasil.

Berdasarkan sumber pustaka yang penulis kutip, terdapat delapan Faktor Pemicu Tumbuhnya Budaya Korupsi di Indonesia, diantaranya yaitu :

a. Sistem penyelenggaraan negara yang keliru

Sebagai negara yang baru merdeka atau negara yang baru berkembang, seharusnya prioritas pembangunan adalah pada bidang pendidikan. Akan tetapi, yang terjadi di Indonesia adalah selama puluhan tahun, mulai dari orde lama, orde

13

(10)

baru sampai orde reformasi ini, pembangunan hanya difokuskandi bidang perekonomian. Padahal setiap negara yang baru merdeka, terbatas dalam memiliki SDM, uang, managment dan teknologi. Konsekuensinya, penduduk di Indonesia lemah akan SDM yang berkualitas dan prfesional dalam bekerja, sehingga orientasinya hanya untuk mendapatkan pendapatan dengan jabatan yang mereka peroleh, sedangkan hasil kerjanya tidak profesional dan tidak berkualitas.

b. Kompensasi PNS yang rendah

Negara yang baru merdeka seperti Indonesia di masalalu hingga saat ini, tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar kompensasi yang tinggi kepada pegawainya. Dengan faktor tersebut dan prioritas hanya pada pembangunan di bidang ekonomi, sehingga secara fisik dan kultural melahirkan pola konsumerisme. Sehingga sekitar 90% PNS melakukan KKN. Baik berupa melakukan suap menyuap, melakukan pungutan liar, maupun mark up kecil-kecilan demi menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran pribadi maupun keluarga.

c. Pejabat yang serakah

Pola hidup konsumerisme yang dilahirkan oleh sistem pembangunan seperti di atas mendorong pejabat untuk memperkaya dirinya secara instant. Lahirlah sikap serakah dimana pejabat menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, melakukan mark up proyek-proyek pembangunan, bahkan berbisnin dengan pengusaha, baik dalam bentuk menjadi komisaris maupun sebagai salah seorang share holder dari perusahaan tertentu.

d. Law eforcement tidak berjalan

Disebabkan para pejabat yang serakah dan PNS yang melakukan KKN dikarenakan gaji yang tidak mencukupi, maka dapat dikatakan penegakan hukum tidak berjalan hampir di seluruh lini kehidupan, baik instansi pemerintahan maupun di lembaga kemasyarakatan karena segala sesuatu diukur dengan uang. Lahirlah kebiasaan plesetan kata-kata seperti KUHP (Kasih Uang Habis Perkara) dan Ketuhanan Yang Maha Esa (Keuangan yang maha kuasa).

(11)

Disebabkan law enforcement tidak berjalan di mana aparat penegak hukum bisa dibayar, mulai dari polisi, jaksa, hakim dan pengacara, dan hukuman dengan hanya mengembalikan harta korupsi sebagian, maka hukuman yang dijatuhkan kepada para koruptor sangat ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi koruptor. Bahakn tidak menimbulkan rasa takut dalam masyarakat sehingga pejabat dan pengusaha tetap melakukan proses KKN.

f. Pengawasan yang tidak efektif

Dalam sistem manajemen yang modern selalu ada instrumen yang disebut internal control yang bersifat in built dalam setiap unit kerja, sehingga sekecil apapun penyimpangan akan terdeteksi sejak dini dan secara otomatis pula dilakukan perbaikan. Internal control dalam pemerintahan Indonesia tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dikarenakan pejabat atau pegawai terkait melakukan tindak KKN.

g. Tidak ada keteladanan pemimpin

Ketika resesi ekonomi (1997), keadaan perekonomian Indonesia sedikit lebih baik, namun sayangnya di Indonesia setelah masa itu tidak ada pemimpin yang bisa dijadikan teladan, maka bukan saja perekonomian negara yang belum recovery bahkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara semakin mendekati jurang kehancuran.

h. Budaya masyarakat yang kondusif KKN

Di negara agraris seperti di Indonesia, masyarakat cenderung patrenalistic. Dengan demikian, mereka turut melakukan KKN dalam urusan sehari-hari, seperti mengurus KTP, SIM, STNK, PBB, SPP, pendaftaran anak ke sekolah atau universitas, melamar kerja, dan lain sebagainya, sehingga budaya seperti ini seperti telah menjalar ke berbagai lapisan masyarakat dan sulit untuk dihilangkan.14

3.

Pengkajian Konsep Maqashid Syari’ah terhadap Tindakan

Korupsi dan Makelar Kasus

14 Abu Fida’ Abdur Rafi, Terapi Penyakit Korupsi : dengan Tazkiyatun Nafs

(12)

Tujuan utama disyari’atkannya Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini sejalan dengan misi Islam secara keseluruhan yakni sebagai Rahmatan lil ‘alamiin. Imam Asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat15 menegaskan :

اقلطاب قلخلا حللاملل تعضو الإ ةعضرشللا اا موللضو

Artinya : “Telah diketahui bahwa hukum Islam itu disyari’atkan untuk mewujudkan kemaslahatan makhluq secara mutlak.”

Konsep kemaslahatan ini telah digagas oleh dua orang Imam besar, yaitu Imam Al-Ghazali dan Imam Asy-Syatibi. Kemaslahatan menurut Imam Al-Al-Ghazali Maslahat

secara terminologis diartikan sebagai

ةرشضضضحللا عضضفد ا ةعضضضفنللا بلج

yakni menarik/ mewujudkan kemanfaatan atau menyingkirkan/menghindari kemuhdaratan. Kemudian dijelaskan secara jelas lagi oleh Imam Al-Ghazali definisi maslahah dalam arti terminologis syar’i yaitu: memelihara dan mewujudkan tujuan hukum Islam (maqaashid syari’ah) yang berupa memelihara agama, jiwa, akal budi, keturunan, dan harta kekayaan.16

Mengenai konsep Maqaashid Syari’ah Prof. Dr. Whabah Zuhaily menjelaskan bahwa maqashid syari’ah merupakan tujuan syari’ah, serta rahasia-rahasia yang diletakkan oleh syar’i (Allah) pada semua ketentuan-Nya.17Untuk tercapainya kemaslahatan atau kesejahteraan hidup baik di dunia dan di akhirat, seseorang harus menjaga 5 point penting dari Maqaashid Syari’ah (sebagaimana yang dijelaskan pula oleh Imam Al-Ghazali) yaitu:

a. Hifdzu Diin (Memelihara Agama)

Agama di sini maksudnya adalah sekumpulan akidah, ibadah, hukum, dan undang-undang yang dibuat oleh Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan juga mengatur hubungan antar manusia. Untuk menjaga dan memelihara kebutuhan agama ini dari ancaman musuh maka Allah mensyariatkan hukum berjihad

15Nur Kholis, Jurnal : Antisipasi Hukum Islam dalam Menjawab Problematika

Kontemporer, dikutip dari Al-Muwafaqat fi Usul Al-Ahkam Imam Asy-Syatibi (Al-Mawarid Edisi X, 2003), hlm.6.

16 Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Al-Mustasyfa min ‘Ilm al-Ushul: Tahqiq wa

Ta’liq Muhammad Sulaiman al-Asyqar Juz 1 (Beirut: Mu’assasat al-Risalah, 1417 H/1997M), hlm.416-417.

17 Wahbah Zuhaily, Maqashid Syari’ah dalam Bidang Ekonomi dan Keuangan Islam

(13)

untuk memerangi orang yang menghalangi dakwah agama. Untuk menjaga agama ini Allah juga mensyariatkan shalat dan melarang murtad dan syirik. Jika ketentuan ini diabaikan, maka akan terancamlah eksistensi agama tersebut, dan Allah menyuruh memerangi orang yang murtad dan musyrik.

b. Hifdzu Nafs (Memelihara Jiwa)

Untuk memelihara jiwa ini Allah mewajibkan berusaha untuk mendapatkan kebutuhan makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Tanpa kebutuhan tersebut maka akan terancamlah jiwa manusia. Allah juga akan mengancam dengan hukuman qishash (hukum bunuh) atau diyat (denda) bagi siapa saja yang menghilangkan jiwa. Begitu juga Allah melarang menceburkan diri ke jurang kebinasaan (bunuh diri).

c. Hifdzu ‘Aql (Memelihara Akal)

Untuk menjaga dan memelihara akal ini Allah mengharuskan manusia mengkonsumsi makanan yang baik dan halal serta mempertinggi kualitas akal dengan menuntut ilmu. Sebaliknya, Allah mengharamkan minuman keras yang memabukkan. Kalau larangan ini diabaikan, maka akan terancam eksistensi akal. Di samping itu, ditetapkan adanya ancaman (hukuman dera 40 kali) bagi orang yang meminum minuman keras.

d. Hifdzu Nasl (Memelihara Keturunan)

Untuk memelihara keturunan Allah mensyariatkan pernikahan dan sebaliknya mengharamkan perzinaan. Orang yang mengabaikan ketentuan ini, akan terancam eksistensi keturunannya. Bahkan kalau larangan perzinaan ini dilanggar, maka Allah mengancam dengan hukuman rajam atau hukuman cambuk seratus kali.

e. Hifdzu Maal (Memelihara Harta)

Untuk memelihara harta ini disyariatkanlah tata cara pemilikan harta, misalnya dengan muamalah, perdagangan, dan kerja sama. Di samping itu, Allah mengharamkan mencuri atau merampas hak milik orang lain dengan cara yang tidak benar. Jika larangan mencuri diabaikan, maka pelakunya akan diancam dengan hukuman potong tangan.18

(14)

Imam Al-Ghazali juga mengkategorisasi maslahat berdasarkan segi kekuatan

subtansinya (

اهتاذ يف اهتّلق

), dimana maslahat itu dibedakan menjadi tiga, yaitu :

a. Maslahat level al-dharurat (Kebutuhan primer)

b. Maslahat level al-Hajat (Kebutuhan sekunder)

c. Maslahat level al-Tahsinat/al-Tazyinat (Kebutuhan tersier)

Pemeliharaan terhadap Maqaashid Syari’ah menempati kedudukan level al-darurat yang merupakan level tertinggi dari maslahat. Kelima tujuan syari’ah yang digagas oleh Imam Al-Ghazali disempurnakan lagi oleh imam Syihab al-Din Al-Qarafi, dengan menambahkan satu tujuan dasar lagi, yaitu memelihara kehormatan diri (Hifdzul ‘Arid).19

Dalam lingkup perekonomian kajian mengena Maqashid Syari’ah lebih tertuju pada pemeliharaan terhadap harta seseorang (Hifdzu Maal). Dalam rangka memelihara harta, Syari’ah mengharamkan segala bentuk pencurian, penipuan, pengkhianatan, riba, memakan harta orang lain dengan cara bathil serta mewajibkan jaminan terhadap harta yang dirusak dan memberi sanksi pada pelakunya.20 Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 188 :





“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.”

Firman Allah Q.S. Al-Maidah ayat 38 :





“laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kekayaan dan usaha mencari kekayaan itu sendiri, dalam Islam, bukan lah yang tercela.yang terpenting, menurut Islam, adalah bagaimana manusia memperoleh dan

19Asmawi, Teori Maslahat dan Relevansinya dengan Perundang-undangan Khusus

di Indonesia (Jakarta: Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2010), hlm.53.

(15)

mempergunakan kekayaannya itu. Al-Qur’an memberikan nilai tertinggi kepada kekayaan dengan sebutan “Kelimpahan dari Allah” (Fadlullah) Q.S. Al-Maidah ayat 54:



....



“...Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”

Islam dengan kelengkapan hukumnya diturunkan untuk kemaslahatan manusia. Diantara kemaslahatan pokok yang hendak diwujudkan dengan pensyari’atan hukum tersebut adalah pemeliharaan harta dari pemindahan harta hak milik yang tidak sejalan dengan hukum dan dari pemanfaatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Larangan mencuri, merampas, mencopet, menipu dan lain sebagainya adalah wujud sikap tegas Islam dalam memelihara harta dari cara pemilikan yang tidak sah.21

Korupsi dan makelarnya adalah salah satu bentuk pemindahan hak milik yang dinilai tidak sah. Dalam konteks proteksi pemilikan harta dalam islam, korupsi dapat dipandang sebagai berikut :22

Pertama, perbuatan curang dan penipuan yang secara langsung merugikan keuangan negara. Allah memperhatikan agar kecurangan dan penipuan itu dihindari karena pada hari kiamat dan akan diberikan balasan yang setimpal, sebagaimana firman-Nya (Q.S. Ali Imran :161)





“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”

Kedua, korupsi dan makelarnya adalah bentuk penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri, dan karenanya, adalah pengkhianatan atas amanat dari masyarakat. Mengkhianati amanat adalah perbuatan terlarang dan bernilai dosa. Sebagaimana firman Allah : (Q.S. Al-Anfal :27)





(16)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Ayat diatas merupakan salah satu bukti bahwasannya pengkhianatan amanat, termasuk korupsi dan makelarnya adalah perbuatan terlaknat. ‘amanat’ masih seakar dengan kata ‘iman’ dan ‘aman’. Dalam bahasa Inggris mendekati kata credo, credit, dan credibility. Semua kata itu, menurut Komaruddin Hidayat, terkait dengan sikap seseorang yang menyuruh kepercayaan untuk memperoleh keamanan serta kualitas orang yang dipercaya.

Ketiga, korupsi dan makelar kasus adalah perbuatan lalim (penganiayaan). Kekayaan negara sesungguhnya diperoleh dari masyarakat, termasuk masyarakat miskin yang memperoleh hartanya dengan jerih payah. Oleh sebab itu, amatlah lalim seorang pejabat yang memperkaya diri dengan harta negara. Allah menggolongkan mereka ke dalam golongan yang celaka besar, sebagai mana firman-Nya (Q.S. Az-Zukhruf : 65)





“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim Yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).”

Keempat, korupsi dan makelar kasus termasuk didalamnya tindakan penyuapan, yakni pemberian sesuatu kepada pejabat negara agar ia memperoleh fasilitas atau jabatan tertentu di negara. Nabi bersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap.” (H.R. Ahmad bin Hanbal).

Dalam konsep Maqashid Syari’ah seseorang harus dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara seimbang antara kebutuhan dunia dan akhirat, tidak berlebihan, serta mencapai maslahah. Imam Asy-Syatibi telah menggambarkan mengenai konsep antara wants dan needs. Dalam framework Islami, seluruh hasrat manusia tidak bisa dijadikan sebagai needs. Hanya hasrat yang memiliki maslahah atau manfaat di dunia dan di akhirat yang bisa dijadikan sebagai needs.23 Korupsi dan makelar kasus adalah pengeksploitasian yang terlalu berlebihann terhadap hasrat atau wants seseorang. Sebuah konsep pemikiran

(17)

yang salah bahwa hasrat seseorang harus seluruhnya dipenuhi, padahal hasrat itu sendiri harus dapat dibatasi dengan melihat adanya maslahah dan menghindari adanya mahdarat dan kemubadziran.

Kemaslahatan yang menjadi tujuan utama dari konsep maqaashid syari’ah adalah kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Bagaimana seseorang memperoleh kekayaan dengan dengan cara yang benar sehingga menyelamatkan dirinya di dunia dan di akhirat, serta bagaimana seseorang mengalokasikan kekayaan mereka dua jenis pengeluaran, yaitu pengeluaran di jalan Allah yang secara eksplisit tidak memberikan keuntungan duniawi dan pengeluaran yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan duniawi secara langsung, dengan pemenuhan yang seimbang.24

4.

Solusi Memberantas Korupsi dan Makelar Kasus Menurut Islam

Tindak pidana korupsi merupakan fenomena hukum yang sudah meluas di masyarakat Indonesia terutama dalam lembaga pemerintahan. Selalu ditemukanya kasus korupsi dalam lembaga kepemerintahan merupakan keresahan yang harus segera ditangani dan diberantas karena hal tersebut telah merugikan seluruh masyarakat Indonesia. Karena dalam kenyataannya adanya perbuatan korupsi telah menimbulkan kerugian negara yang sangat besar yang pada gilirannya dapat berdampak pada timbulnya krisis di berbagai bidang. Untuk itu upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi perlu semakin ditingkatkan dan diintensifkan dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemaslahatan masyarakat.25

Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana tidak saja pada kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis juga juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat, dan karena itu, tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi suatu kejahatan yang luar biasa. Begitu pun dalam pemberantasannya tidak lagi dapat dilakukan secara biasa, dituntut cara-cara yang luar biasa. Penegakan hukum yang selama ini berjalan di Indonesia dalam memberantas kasus

24Ibid., hlm.259.

25Theodorus M. Tuanakotta, Menghitung Kerugian Keuangan Negara dalam Tindak

(18)

korupsi dan juga makelarnya dianggap masih belum dapat memberikan efek jera bagi para pelakunya dan belum pula dapat memberikan kemaslahatan yang cukup untuk melindungi harta kekayaan negara. Dalam hal ini penulis ingin memberikan suatu solusi dalam memberantas korupsi dengan menerapkan sanksi pidana berdasarkan hukum Islam.

Dalam perspektif hukum Islam, tindak pidana korupsi dapat diidentifikasikan dengan merujuk kepada masalah al-ghuluul dan akl suht yang dikecam dan dilarang keras, baik oleh Al-Qur’an maupun Hadits.26 Sebagaimana yang terdapat pada Q.S. Al-Maidah ayat 62 :





62. Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya Amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.

Dan dalam surat Ali Imran ayat 161 :





161. tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

Ayat di atas mengandung pesan hukum bahwa al-ghuluul itu hukumnya haram, sedangkan pada ayat sebelumnya (Q.S Al-Maidah ayat 62) mengandung pesan bahwa akl suht haram hukumnya dan hal ini ditunjukkan dengan penggunaan klausa

“pencelaan” (

الللضر الإاك او سئبل

). Kualifikasi al-ghuluul dalam Hadits Abu Dawud yang menyatakan :

(د اد لبأ ها ر) لللغ لهف كلذ دضب ذخأ الف ,اقزر هانقزشف للع ىلع هانللضتسا نو

27

26A.S Burhan, Korupsi di Negeri Kaum Beragama Ikhtiar Membangun Fiqh

Anti-Korupsi (Jakarta : P3M dan Kemitraan Partnership, 2004), hlm.139.

27 Sulaiman ibn Al-‘As’asy Al-Sijistani (Abu Dawud), Sunan Abi Dawud Juz ke-9

(19)

“Barang siapa yang kami angkat sebagai pegawai untuk suatu tugas pekerjaan, kemudian kami berikan kepadanya gaji, maka apa yang ia ambil di luar itu merupakan ghuluul (korupsi). (H.R. Abu Dawud).

Hadits Abu Dawud ini mengandung pesan hukum bahwa keuntungan yang diperoleh pegawai pemerintah yang menyimpang dari ketentuan hukum yang berlaku merupakan ghuluul dan al-ghuluul itu haram hukumnya.28 Berdasarkan teks Al-Qur’an dan Hadits di atas, al-ghuluul pada intinya berkenaan dengan dua hal, yaitu berlaku khiyanat dan merugikan pihak lain.29

Jika melihat kepada hukum pidana Islam,yang memiliki tiga bentuk, yaitu :

a. Jarimah hudud, yakni hukum pidana yang jenis dan ancaman sanksinya tegas terdapat dalam nash.

b. Jarimah Ta’zir, yakni hukum pidana yang belum ditentukan jenis dan sanksinya di dalam nash.

c. Qishash, yakni hukum pidana yang berkaitan dengan pembunuhan.30

Perbuatan korupsi dan markus berdasarkan ketiga bentuk hukum pidana Islam, termasuk dalam jarimah ta’zir, karena tindak pidana tersebut jenis dan hukumannya belum ditentukan dalam nash. Untuk menindak dan memberikan sanksi pada para pelakunya, diserahkan kepada peran hakim dalam bentuk putusan pengadilan atau peran pemerintah dalam membuat perundang-undangan, tentunya dengan tetap mengacu kepada maqashid al-syari’ah sehingga dapat melindungi kemaslahatan seluruh masyarakat dan memberi pelajaran bagi orang lain untuk tidak melakukannya.Penerapan hukuman ta’zir dalam sejarah peradilan Islam sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Qadir Audah, ahli pidana Islam Mesir, dibagi menjadi dua bentuk, yaitu

ta’zir terhadap perbuatan maksiat dan ta’zir terhadap pelanggaran ke Pentingan

umum.31

28Abu Thayyib Muhammad Syams Al-Haqq Al-Azim Abadi, ‘Aun Al-Ma’bud Syarh

Sunan Abu Dawud, Juz ke-6, hlm/149.

29 Kajian Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Kajian Fikih Antikorupsi

Perspektif Ulama Muhammadiyah (Jakarta: Pusat Studi Agama dan Peradaban, 2006), hlm.59.

30Nur Chanifah, Op.cit., hlm.6.

31 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer

(20)

Penetapan hukum yang tegas dan istiqomah sangat ditekankan agar tindak pidana korupsi ini benar-benar dapat diberantas. Korupsi dan markus dianalogkan dengan mengambil harta negara atau rakyat secara illegal, maka korupsi dan markus ini lebih dari sekedar mencuri. Karena dengan perbuatan korupsi dan markus ini, stabilitas dan kemaslahatan umum menjadi terganggu, dan keadilan tidak dapat ditegakkan. Perbuatan markus lebih dapat dianalogkan kepada perbuatan melawan penguasa atau menentang kepentingan umum. Karena yang dirugikan dari perbuatan tersebut bukan hanya individu seperti pencurian dan pembunuhan, melainkan individu dan seluruh anggota masyarakat. Sehingga, jikapun perbuatan markus dihukumi dengan ta’zir, tentunya hukumannya akan lebih berat dari hukuman pencurian yang hanya merugikan kepentingan individu saja.

Dalam perspektif hukum pidana Islam, sejauh dalam kriminalisasi ta’zir, pidana mati memang dimungkinkan untuk ditetapkan atau dijatuhkan bagi tindak pidana tertentu yang sangat dahsyat efek destruksinya bagi negara. Sebagian ulama mendukung pendapat bahwa hukuman mati adalah suatu sanksi yang setimpal apabila tindak pidana tersebut memiliki dampak destruktif yang sangat besar bagi negara dan tindakan tersebut telah dilakukan berulangkali.32

Sebagai mana telah kita ketahui bahwasannya tindak pidana korupsi dan makelar kasus merupakan salah satu bentuk kriminalitas yang sangat dahsyat destruktifnya bagi perekonomian negara. Tindak pidana korupsi dan makelar kasus menimbulkan dampak yang dapat menghancurkan perekonomian baik mikro maupun makro. Pada tatanan perekonomian mikro, dampak yang ditimbulkan adalah (a) semakin menurunnya kualitas taraf hidup rakyat, (b) semakin sulitnya upaya masyarakat memperoleh pemerataan pendapatan ekonomi, (c) semakin tingginya pola pengeluaran masyarakat, (d) semakin buruknya tingkat kesehatan masyarakat, (e) semakin menurunnya kinerja sektor-sektor produksi, distribusi dan industri. Sedangkan dalam tataran perekonomian makro, korupsi melahirkan dampak-dampak yang hebat, yakni (a) semakin merosotnya pertumbuhan ekonomi nasional, (b) semakin tingginya tingkat inflasi, (c) semakin merosotnya nilai tukar mata uang Rupiah, (d) semakin rendahnya kinerja perbankan nasional.33

32Muhammad ‘Ali ibn Sinan, Al-Janib Al-Ta’ziriy fi Jarimat Al-Zina (_____, 1982 M),

hlm.76.

33Muljatno Sindhudarmoko dkk, Ekonomi Korupsi (Jakarta: Pustaka Quantum,

(21)

Penerapan sanksi berupa hukuman mati bagi para pelaku koruptor menjadi hukuman yang sepantasnya diberikan bagi para pelaku yang telah menghancurkan negaranya sendiri dan tentunya akan memberikan efek menakutkan bagi yang berniat untuk melakukan korupsi. Penerapan akan perundang-undangan yang telah ada di Indonesia memang sangat lemah sehingga budaya korupsi terus bermunculan, oleh karena itu penerapan suatu perndang-undangan akan semakin kuat apabila hal tersebut didukung oleh para penegak hukum yang tegas, taat, ketat dan istiqomah. Karena tanpa hal tersebut sangatlah sulit mematikan benih-benih koruptor di negeri ini dan perekonomian akan terus menerus mengalami kemerosotan dan kehancuran.

C.

Penutup

1.

Kesimpulan

Kasus korupsi dan makelar kasus merupakan suatu bentuk tindak kriminal kerah putih yang mengerogoti harta kekayaan negara sehingga menimbulkan dampak yang serius terhadap perekonomian baik secara mikro bahkan secara makro. Dalam kajian maqashid syari’ah tindakan korupsi merupakan bentuk penyalahgunaan terhadap harta negara, menimbulkan mafsadat sehingga ketercapaian akan perlindungan harta (hifdz maal) gagal. Pelanggaran terhadap Maqshid syari’ah dalam kajian kemaslahatan oleh Imam Al-Ghazali akan menimbulkan kerusalan dalam kehidupan manusia di dunia dan akhirat secara keseluruhan. Dengan demikian kerusakan terhadap bagian dari pemenuhan Maqashid Syari’ah adalah sangat harus dapat dicegah.

(22)

Untuk itu diperlukanlah para penegak hukum yang tegas, taat, ketat dan istiqomah, untuk berjihad meberantas korupsi hingga terwujudlah negara dengan masyarakat yang damai, makmur dan sejahtera tak hanya di kehidupan dunia namun juga dalam kehidupan di akhirat kelak, dengan kata lain akan terciptanya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

2.

Saran

(23)

DAFTAR PUSTAKA

‘Ali ibn Sinan, Muhammad. Al-Janib Al-Ta’ziriy fi Jarimat Al-Zina. _____, 1982 M.

Amalia, Euis. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam : dari Masa Klasik Hingga Kontemporer.Depok : Gramata Publishing, 2010.

Asmawi.Teori Maslahat dan Relevansinya dengan Perundang-undangan Khusus di Indonesia. Jakarta: Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2010.

Budi Utomo, Setiawan. Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer.Jakarta: Gema Insani Perss, 2003.

Burhan, A.S. Korupsi di Negeri Kaum Beragama Ikhtiar Membangun Fiqh Anti-Korupsi.Jakarta : P3M dan Kemitraan Partnership, 2004.

Chanifah, Nur.Makelar Kasus (Markus) dalam Perspektif Hukum Islam : Sebuah Upaya Pencegahan Makelar Kasus.Malang: Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, ____ .

Fida’ Abdur Rafi, Abu.Terapi Penyakit Korupsi : dengan Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa) Jakarta : Republika, 2006.

Fuad Noer, Munawar.Kiai di Republik Maling. Jakarta : Republika, 2005. http://helda-blog.blogspot.com/2012/11/kasus-korupsi-gayus-tambunan.html (Diakses : 9 Jan 2014).

http://kabarindonesia.com/berita.php?

(24)

http://kelana-tambora.blogspot.com/2007/03/soeharto-pengkhianat-bangsa.html (Diakses : 9 Jan 2014).

http://m.kompasiana.com/post/read/605449/1 (Diakses : 9 Jan 2014).

http://www.antaranews.com/berita/397452/pajak-penghasilan-yang-tinggi-untuk-keadilan (Diakses : 10 Jan 2014).

http://www.voaindonesia.com/content/jaksa-miranda-goeltom-terlibat-penyuapan-anggota-dpr/1444061.html (Diakses : 10 Jan 2014).

Ibn Al-‘As’asy Al-Sijistani, Sulaiman (Abu Dawud), Sunan Abi Dawud Juz ke-9 (Maktabah Syamilah).

Kajian Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.Kajian Fikih Antikorupsi Perspektif Ulama Muhammadiyah.Jakarta: Pusat Studi Agama dan Peradaban, 2006.

M. Tuanakotta, Theodorus. Menghitung Kerugian Keuangan Negara dalam Tindak Pidana Korupsi. Jakarta : Salemba Empat, 2009.

Marpaung, LedenTindak Pidana Korupsi : Pemberantasan dan Pencegahan. Jakarta : Djambatan, 2004.

Sindhudarmoko,Muljatno dkk.Ekonomi Korupsi. Jakarta: Pustaka Quantum, 2001..

Thayyib Muhammad Syams Al-Haqq Al-Azim Abadi, Abu.‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud, Juz ke-6.

Referensi

Dokumen terkait

8 Klandasan Ilir 9 Gunung Sari Ilir 10 Gunung Sari Ulu 11 Prapatan 12 Karang Rejo 13 Mekar Sari 14 Karang Jati 15 Sumber Rejo 16 Telaga Sari 17 Baru Ulu 18 Baru Tengah 19 Baru Ilir

Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir Membuat desain loop pengendalian 3D pada sistem Menganalisis pembuatan desain loop pengendalian keilmuan yang mendukung

Pengukuran dilakukan terhadap dua ruang karaoke yang bersebelahan di Happy Puppy Manado pada malam hari dengan mengukur panjang, lebar dan tinggi ruangan;

Berdasarkan pembahasan mengenai suasana keberagamaan keluarga dan motivasi belajar agama Islam pada siswa SMA Islam Sudirman Ambarawa tahun ajaran 2008/2009 yang

Tuliskan persamaan reaksi t  t  -butil alkohol dengan logam -butil alkohol dengan

[r]

Pemilikan  tanah  merupakan  hubungan  hukum  antara  subjek  dengan  subjek hak atas tanah.Hak atas tanah yang dimaksud disini adalah hak atas  tanah  baik 

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Stock Split Terhadap Volume Perdagangan Saham dan Abnormal Return Pada