DEBAT POLITIK UANG DAN RATIONAL CHOICE DALAM PEMILU
Terdapat beberapa budaya politik, satu diantaranya adalah budaya politik partisipatif atau disebut juga budaya politik demokrasi, dimana suatu kumpulan sistem keyakinan, sikap, norma, persepsi dan sejenisnya yang menopang terwujudnya perilaku memilih demokratis. Dalam pendekatan memilih, politik uang disebut sebagai pemberian suara kepada kandidat berdasarkan imbalan materi yang diterima tanpa mempertimbangan aspek-aspek dasar demokratis. Pemberian suara dalam pemilu berdasarkan politik uang merupakan bentuk penyuapan oleh kandidat, sebagaimana diatur dalam ketetapan aturan penyelenggara pemilu. Dalam institunalisasi pendekatan memilih, masyarakat
rational choice memilih berdasarkan kalkulasi untung rugi berdasarkan materi, maka hampir tidak bisa dibedakan antara kedua pendekatan tersebut, atau politik uang merupakan bagian dari pendekatan rational choice.
tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lainnya seperti norma-norma dalam demokrasi.
Dalam pelembagaan, teori pilihan rasional diadopsi oleh ilmuwan politik dari ilmu ekonomi. Karena dalam ilmu ekonomi menekankan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini senada dengan perilaku politik yaitu seseorang memutuskan memilih kandidat setelah mempertimbangkan untung rugi dan program-program yang disodorkan oleh kandidat akan menguntungkan diri pemilih dan menguntungkan masyarakat umum, atau sebaliknya malah merugikan. Para pemilih akan cenderung memilih kandidat yang kerugiannya paling minim atas dampak kebijakan yang dilakukan. Dalam konteks teori ini, sikap dan pilihan politik tokoh-tokoh populer tidak selalu diikuti oleh para pengikutnya kalau ternyata secara rasional tidak menguntungkan. Max Weber mengemukakan bahwa rasionalitas nilai adalah pengambilan keputusan berdasarkan nilai yang dipegang teguh. Dalam kaitannya dengan pemilu, rasionalitas nilai adalah bagaimana pemilih menjatuhkan pilihan pada calon yang diyakini memiliki kesamaan nilai dengan dirinya, baik itu agama, ras, etnis, dan lain-lain. Sementara itu Ramlan Surbakti dan Dennis Kavanaagh menyatakan bahwa pilihan rasional melihat kegiatan perilaku memilih sebagai produk kalkulasi antara untung dan rugi.1 Hal ini disebabkan karena pemilih tidak hanya mempertimbangkan biaya memilih dan kemungkinan suaranya dapat mempengaruhi hasil yang diharapkan, tetapi juga perbedaan dari alternatif-alternatif berupa pilihan yang ada. Para pemilih akan cenderung memilih kandidat yang kerugiannya paling minim. Beberapa indikator yang biasa dipakai oleh para
pemilih untuk menilai seorang kandidat mencalonkan diantaranya: kualitas, kompetensi, integrasi kandidat, dan kemampuan calon dalam menyelesaikan masalah-masalah dihadapi masyarakat.
Menurut teori rasional, faktor-faktor situasional berupa isu-isu politik dan kandidat yang dicalonkan memiliki peranan penting dalam menentukan dan merubah referensi pilihan politik seorang pemilih karena melalui penilaian terhadap isu-isu politik dan kandidat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional, seorang pemilih akan dibimbing untuk menentukan pilihan politiknya. Orientasi isu berpusat pada pertanyaan apa yang seharusnya dilakukan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, bangsa dan negara. Sementara orientasi kandidat mengacu pada persepsi dan sikap seorang pemilih terhadap kepribadian kandidat tanpa memperdulikan materi kandidat, label partai yang mengusung kandidat tersebut.