• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilu dan Rekonstruksi Gerakan Mahasisw (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemilu dan Rekonstruksi Gerakan Mahasisw (1)"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Pemilu & Rekonstruksi Gerakan Mahasiswa

1

Oleh: Arif Novianto

Mahasiswa Manajemen & Kebijakan Publik di Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik – Universitas Gadjah Mada (UGM)

Kontak: [email protected]

Didalam sejarah Negara-negara didunia, tak

dapat dipungkiri bahwa peran dari para

mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan

telah mampu menciptakan berbagai dinamika

ekonomi politik kekuasaan. Di Indonesia,

gerakan mahasiswa telah mampu

menggulingkan rezim Soekarno dan Soeharto.

Namun perlu dipahami, bahwa gerakan

mahasiswa bukanlah sebagai penyulut utama

terciptakan gerakan revoluisioner diberbagai

negara, akan tetapi mereka hanyalah sebagai katalisator.

“Gerakan mahasiswa sekarang telah berada di persimpangan jalan”, ungkapan tersebut

mungkin lazim kita temui, sebagai satir untuk mempertanyakan eksistensi dari para mahasiswa

di dalam aras dinamika ekonomi-politik sekarang ini. Artinya ada kekecewaan terhadap para

mahasiswa, karena harapan yang diembankan kepadanya tidak mampu untuk benar-benar

diwujudkan.

Mengartikulasikan Peran Mahasiswa

Didalam kehidupan masyarakat lokal di Indonesia, mahasiswa telah menempati strata

status sosial yang tinggi. Itu karena mahasiswa telah berada didalam jenjang pendidikan tertinggi

yaitu Perguruan Tinggi atau Universitas. Artinya mahasiswa adalah bagian dari kaum intelektual

atau cendikiawan. Sebagai kaum intelektual, maka hakikatnya mereka harus mampu

(2)

menyampaikan bahasa kebenaran dihadapan penguasa dan menentang segala ketidak-adilan

yang ada disekitarnya. Apalagi didalam carut marut politik di Indonesia saat ini serta berbagai

problematika kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, dan pendidikan yang terus menjerat

Indonesia.

Namun bila merujuk menggunakan analisis kelas sosial, maka di era komersialisasi

pendidikan seperti sekarang ini, sebagian besar mahasiswa di Indonesia dapat digolongkan

sebagai kelompok borjuis kecil (pitit-bourgeois). Penggolongan sebagai borjuis kecil ini, akibat

dikuasainya bangku-bangku di universitas oleh anak-anak dari kalangan kelas menengah ke-atas.

Sedangkan mereka dari kalangan kelas bawah pasti akan sulit mengaksesnya, karena kekuatan

ekonomi mereka yang lemah telah memaksanya untuk tersingkir dari sistem kompetisi

pendidikan ini.

Melihat mahasiswa secara homogen sebagai agen perubahan adalah sebuah kesalahan

fatal. Artinya pijakan berfikir dan bertindak dari para mahasiswa ini sangat dipengaruhi oleh

asal-usul, kelas sosial dan situasi yang dialaminya. Contohnya ketika mereka tidak pernah

bersentuhan dengan kesulitan hidup dari masyarakat kelas bawah, maka pikiran mereka untuk

memperjuangkan masyarakat kecil tersebut pasti akan sulit untuk mungemuka. Itu karena

mereka tidak pernah merasakan bagaimana kepedihan dan penderitaan yang dialami oleh

masyarakat kecil ini. Kemudian disanalah jebakan pragmatisme nan oportunistik menyekap para

mahasiswa untuk berfikir secara rasionalitas terbatas, yaitu dengan rumus SDM atau Selamatkan

Diri Masing-masing.

Menyikapi Pemilu

Bila dianalisis secara mendalam, mandulnya gerakan politik mahasiswa sekarang

diakibatkan oleh adanya struktur dan relasi kekuasaan yang mengekang mereka. Artinya

terfragmentasinya politik mahasiswa ini bukanlah persoalan moralitas seperti karena masalah

gaya hidup, budaya dan perilakunya yang pragmatis. Akan tetapi lebih karena ada sebuah

hegemoni dari relasi kekuasaan yang memaksanya ter-alienasi dari peran dan hakikat mereka

sebagai mahasiswa. Kehidupan sebagai kelas menengah serta sistem pendidikan yang tak

merangsang kesadarannya, membuatnya menjadi membuta terhadap keadaan sosial dan politik

(3)

Itu dapat terlihat ketika Ajang Pemilu tiba pada 09 April 2014 kemarin dan upaya

mengawal pemilihan presiden 9 Juli 2014 nanti. Gerakan mahasiswa seolah bungkam dihadapan

penetrasi dan manuver dari para elit politik yang sibuk memperebutkan kekuasaan. Masalah

sistemik didalam setiap ajang kontestasi politik yaitu bahwa hasil dari pemilu yang tak pernah

menghasilkan kebijakan yang pro-rakyat tak pernah disikapi dengan tepat.

Beberapa upaya yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa untuk turut mengawal pemilu

tak lebih sebagai riak-riak kecil dihadapan penguasa. Itu karena tidak dimilikinya posisi tawar

yang begitu kuat oleh gerakan mahasiswa ini didalam turut mempengaruhi berbagai kebijakan

pemerintah. Selain itu karena begitu kecilnya (karena hanya sebagian kecil) daya dobrak dari

para mahasiswa didalam melakukan perang posisi terhadap para elit politik di pemerintahan.

Sedangkan sebagian besarnya terjebak didalam apatisme yang telah mendepolitisasi mereka.

Bunuh Diri Kelas

Maka melihat hal tersebut, membuat jalan strategis untuk merekonstruksi mahasiswa agar

kembali ke rel hakikat peran mereka sebagaimana mestinya didalam dinamika ekonomi-politik

Indonesia sekarang ini menjadi mendesak untuk dilakukan. Salah satunya adalah dengan cara

melakukan bunuh diri kelas. Bunuh diri kelas ini sendiri dapat dimaknai sebagai merubah arah

pikiran mereka yang bersifat kelas menengah ke-atas menjadi arah pikiran dari kelas bawah atau

kaum yang tertindas di hadapan penguasa. Hal tersebutlah yang akan membentuk jiwa

revolusioner dalam diri mereka serta membuatnya untuk terus turut andil didalam perjuangan

pembebasan dan penciptaan keadilan serta kesejahtraan. Kita dapat berkaca dari gerakan

mahasiswa di Chili akhir-akhir ini yang telah mampu menjadi blok kekuatan politik di dalam

setiap aras pengambilan kebijakan publik yang diambil penguasa.

Alhasil dengan kesadaran yang dapat diraihnya, maka gerakan konter-hegemoni dapat

dijalankan terhadap penguasa untuk memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Sehingga

kemudian dapat menjadikannya sebagai katalisator untuk menumbangkan sistem atau struktur

didalam relasi kekuasaan yang timpang dan mengekang kehidupan masyarakat selama ini. Dan

agenda yang lebih dekat adalah bagaimana untuk dapat mengawal proses pilpres pada 09 Juli

2014 nanti serta dapat mendesakan berbagai agenda untuk memperjuangkan kehidupan rakyat

Referensi

Dokumen terkait

Di lain pihak, kaum Sufi sangat tersinggung ketika Freud menganggap mereka adalah orang-orang neurosis, hanya karena telah menekan seksualitas ke alam bawah

Mengikuti perkembangan teknologi dan tuntutan jaman, PT Cipta TPI sebagai perusahaan penyiaran yang memiliki segmentasi pasar kelas menengah ke bawah juga turut menggunakan media

Sebagaimana kebanyakan masyarakat di bantaran sungai adalah masyarakat kelas menengah ke bawah yang cenderung rawan konflik, dengan adanya ide pembangunan bantaran sungai

Program tahap kedua diprioritaskan pada konsumen yang menengah ke atas. Produk-produknya rumah hunian yang sengaja untuk mereka yang punya kelas sosial ke atas. Maka dari itu

Artikel ini mengelaborasi narasi tentang tumbuhnya kelas menengah Muslim baru pada masa Reformasi dan sikap mereka terhadap wacana pluralisme di media sosial.. Kemunculan

Dengan demikian sebagai pasar induk yang menjadi tempat perputaran perekonomian masyarakat kelas menengah ke bawah, penting kiranya diteliti lebih mendalam untuk

Pengaruh terhadap masyarakat (ruang publik) yang terkait dengan keberadaan Alun-alun, khususnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, di pinggiran kota sangatlah penting

Dalam Kampanye Waspada Flu Burung, tipografinya mengarah kepada penulisan jenis huruf yang nonformal karena ingin menjangkau masyarakat menengah ke bawah yang lebih terbiasa