Menjaga Toleransi Umat Beragama
Terkait Isu Sara Rencana Pembongkaran
Masjid Al Khairiyah Kawasan Texas
Kota Manado
Ahmad Rajai1, Syaifullah2
1,2Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado
Email: [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Eksistensi dan peran FKUB dalam menjaga tolenransi umat beragama terkait isu sara rencana pembongkaran Masjid AlKhairiyah Kawasan Texas Kota Manado”. Adapun permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana eksistensi dan peran FKUB dalam menjaga toleransi umat beragama terkait isu sara rencana pembongkaran Masjid AlKhairiyah Kawasan Texas Kota Manado.
Penelitian ini dilakukan di Kota Manado terkait isu sara rencana pem bongkaran Masjid AlKhairiyah Kawasan Texas Manado dengan tujuan untuk menjelaskan peran dan eksistensi FKUB dalam menjaga toleran si umat beragama terkait isu sara rencana pembongkaran Masjid Al Khairiyah Kawasan Texas Kota Manado.
Berdasarkan hasil penelitian, telah ditemukan jawaban dari per masa lahan di atas bahwa eksistensi dan peran FKUB dalam menjaga toleransi umat beragama terkait isu sara rencana pembongkaran Masjid Al Khairiyah Kawasan Texas Manado yaitu FKUB berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir isu tersebut dengan memberikan himbau an dan pemahaman secara mendalam kepada masyarakat bahwa isu pembongkaran Masjid AlKhairiyah Kawasan Texas Manado itu tidak benar, isu yang beredar di masyarakat hanyalah isu yang ingin memecahbelah persatuan dan kesatuan masyarakat Kota Manado. Sampai saat ini, kasus tersebut telah ditangani oleh Polda Sulawesi Utara dan
bahwa tidak ada pembongkaran pada masjid AlKhairiyah Kawasan Texas Manado.
Kata Kunci: Eksistensi, Peran, Toleransi
ABSTRACT
This research is entitled The Existence and Role of FKUB in Keeping Guard The Tolerance among Members of Religious Communities Pertaining to The Plan of Demolition of Al-Khairiyah Mosque at The Area of Texas Manado. The problem of this research is that how FKUB shows its role in taking care the tolerance among its members concerning the disorder issues that might appear related to the annihilation of the mosque.
This research was carried out at Manado. The objective of this research is to explain the role of FKUB in keeping guard the tolerance among members of religious communities as well as to get control of the issues available.
Based on the result of the research it is found that FKUB has shown its maximal efforts in order to overcome the immerging issues referring to the demolition of Al-Khairiyah Mosque. It has tried to subdue the issues by giving some appeals and understanding maximally and comprehensively to the communities. It has made sure that the issues are untrue and misleading. It warns people not to believe it as it can lead to disturbances and disintegration. The police of North Sulawesi province have investigated the case and clarified it to be unreal.
Keywords: Existence, Role, Tolerance
1. PENDAHULUAN
1.2. Konteks Penelitian
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk, karena menyimpan akar keberagaman dalam hal agama, bahasa, tradisi, dan budaya. Dalam kaitannya dengan masalah agama setidaknya ada enam agama yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Keenam agama tersebut meliputi agama Islam, katolik, protestan, hindu, budha dan konghucu.
adalah perbedaan tingkat pendidikan, kekayaan, dan kedudukan Islam. Sedangkan kemajemukan horisontal adalah perbedaan-perbedaan suku, agama dan kedaerahan. Sebagai masyarakat majemuk, masyarakat Indonesia juga rawan konlik. Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia telah meng alami berbagai macam konlik SARA. Konlik etnis sering dikait-kan dengan agama sehingga menjadi tajam dan berubah menjadi konlik agama. Pada umumnya konlik agama selalu menjadi faktor yang mem-buat suatu konlik mendapat sorotan banyak orang dengan cepat. Begitu agama terlihat dalam suatu konlik maka konlik itu menjadi sensitif (Rosyidi, 2009).
Namun, di Indonesia juga tidak sepi dari berbagai konlik SARA secara khusus di Sulawesi Utara yang meski dikenal sebagai cerminan toleransi antar pemeluk agamanya tak jarang juga menjadi konlik SARA yang sebenarnya pemicunya adalah hal-hal umum.
Hal ini sungguh sangat miris bila banyak terjadi konlik yang disebab kan hanya karena berbeda keyakinan. Seharusnya disadari bahwa
se bagai pemeluk agama harus mampu hidup berdampingan dengan
saling ber kasih sayang guna terciptanya kedamaian dan kesejahteraan umat ber agama. Artinya, sekalipun berbeda agama atau keyakinan akan tetapi harus mempunyai sikap toleransi antar umat beragama. Karena itu dalam memelihara dan membina hubungan yang harmonis antar komunitas-komunitas yang berbeda agama, faktor keagamaan tidak bisa diabaikan (Sirri, 2004).
minimalisir secepat mungkin oleh pemerintah dan tokoh agama yang ada di Kota Manado.
Terkait dengan isu sara tentang rencana pembongkaran Masjid Al Khairiyah Kawasan Texas Kota Manado oleh beberapa elemen tertentu, menjadi berita hangat di bicarakan di kalangan masyarakat. Sehingga peran dan eksistensi FKUB tentunya dibutuhkan untuk meminimalisir berita tersebut agar tidak menjadi bahan perpecahan antara umat ber-agama di Kota Manado.
Departemen agama bertugas untuk membina dan memelihara ter-ciptanya toleransi dan kerukunan hidup antar umat beragama. Pem bina-an tersebut sebenarnya bukbina-an hbina-anya tugas dbina-an kewajibbina-an departemen agama saja melainkan juga merupakan tanggung jawab semua pihak terutama masing-masing kelompok umat bergama itu sendiri.
Kehadiran FKUB di kalangan masyarakat Kota Manado tentunya mampu membangun kemajemukan dan toleransi antara umat beragama agar tidak terpancing oleh isu-isu sara yang mengatas namakan agama. Dengan demikian, pada tulisan ini tentunya ingin melakukan penelitian lebih lanjut terkait isu sara tersebut dengan fokus permasalahan bagai-mana peran dan eksistensi FKUB dalam menanggapi isu sara tersebut
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka yang menjadi sub-permasalahan pada penelitian ini adalah “Bagaimana peran dan eksistensi FKUB dalam menjaga tolenransi umat beragama terkait isu sara rencana pembongkaran Masjid Al-Khairiyah Kawasan Texas Kota Manado.?”
1.3. Tujuan Penelitian
2. LANDASAN TEORETIK
2.1. Pengertian FKUB
FKUB adalah singkatan dari Forum Komunikasi Umat Beragama, organisasi ini adalah perpanjang tangan dari Kementerian Agama RI untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai Negara yang damai dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebinekaan sebagai symbol persatuan Indonesia. Adapun anggota dari FKUB adalah para pemuka-pemuka agama yang ada di daerah atau wilayah itu sendiri.
Dalam kamus Bahasa Indonesia rukun berarti damai dan bersatu hati (Purwadarminto, 2009). Kerukunan hidup umat beragama berarti ber arti hidup dalam suasana baik dan damai serta bersatu hati antara umat.
Adapun tugas dari FKUB adalah sebagai berikut:
a. Melakukan dialog dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat b. Menampung aspirasi ormas keagamaan dan aspirasi masyarakat c. Menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan masyarakat dalam
bentuk rekomendasi sebagai bahan kebijakan daerah
d. Melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan dan ke-bijak an di bidang keagmaan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama dan pemberdayaan masyarakat
e. Memberikan rekomendasi tertulis atas pemohon pendirian rumah ibadat (http://e-dokumen.kemenag.go.id/iles/ CcVwz5Tx1336828890.pdf ).
Berdasarkan beberapa poin dari tugas FKUB di atas telah jelas bahwa kehadiran FKUB adalah tiada lain untuk membangun dan menjaga persatuan dan kestuan NKRI agar tetap damai dan saling menghormati antara satu dengan yang lain.
2.2. Pengertian Toleransi
sebagai istilah budaya, sosial dan politik, ia adalah simbol kompromi beberapa kekuatan yang saling tarik-menarik atau saling berkonfrontasi untuk kemudian bahu-membahu membela kepentingan bersama, men-jaganya dan memperjuangkannya (Purwadarminto, 2009).
Istilah toleransi juga biasanya dikaitkan dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat meng hormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda. Demikianlah yang bisa kita simpulkan dari celotehan para tokoh budaya, tokoh sosial politik dan tokoh agama diberbagai negeri, khususnya di Indonesia (Arsyad, 2002). Maka toleransi itu adalah kerukunan sesama warga negara dengan saling menenggang berbagai perbedaan yang ada diantara mereka.
2.3. Konsep Toleransi Dalam Beragama
Terlepas dari pengertian secara bahasa dan istilah diatas, toleransi masih bisa dibawa kepada pengertian syariah Islamiyah. Tetapi setelah itu perkembangan pengertian toleransi bergeser semakin menjauh dari batasan-batasan Islam, sehingga cenderung mengarah kepada sinkretisme agama-agama dengan prinsip yang berbunyi “semua agama sama baiknya”. Prinsip ini menolak kemutlakan doktrin agama yang me nyata kan bahwa kebenaran hanya ada didalam Islam. Kalaupun ada perbedaan antara kelompok Islam dengan kelompok non muslim, maka segera dikatakan bahwa perkara agama, adalah perkara yang sangat pribadi sehingga dalam rangka kebebasan, setiap orang merasa berhak berpendapat tentang agama ini, mana yang diyakini sebagai kebenaran (Bagus, 1996).
Berangkat dari sikap intoleran terhadap kelompok-kelompok minoritas, sehingga dimanfaatkan untuk memunculkan konlik di berbagai daerah. Namun demikian, yang lebih ironis ketika sikap serta perbuatan tersebut dimaknai oleh berbagai pihak (kelompok/person), sebagai suatu hal yang lumrah (biasa-biasa) saja.
Sebenarnya, arti kata toleransi adalah sikap terbuka dan menghormati perbedaan. Meski kaitan toleransi lebih sering pada perbedaan suku dan agama. Toleransi juga berarti menghormati dan belajar dari orang lain, meng hargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotipe yang tidak adil, sehingga tercapai kesamaan sikap. Secara doktrinal, toleransi sepenuhnya diharuskan oleh Islam. Kata Islam yang berasal dari bahasa Arab dan terambil dari kata salima yang berarti selamat sentosa (Hanai, 20015). Dari asal kata itu dibentuk kata aslama, yuslimu, dan Islam, yang memiliki beberapa arti; (1). melepaskan diri dari segala penyakit lahir dan bathin (2). Kedamaian dan atau keamanan, serta (3). Ketaatan atau kepatuhan. yang berarti memelihara dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat. Kata aslama itulah yang menjadi pokok kata Islam, dan mengandung arti yang terkandung dalam arti pokoknya, sebab itu orang yang melakukan aslama atau masuk Islam dikatakan muslim (Natta, 2001).
Deinisi Islam yang demikian sering dirumuskan dengan istilah, “Islam agama rahmatal lil’alamin” (agama yang mengayomi seluruh alam). Ini berarti bahwa Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Islam menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan.
Muhamad SAW di Madinah. Di antara butir-butir yang menegaskan toleransi beragama adalah sikap saling menghormati di antara agama yang ada dan tidak saling menyakiti serta saling melindungi anggota yang terikat dalam Piagam Madinah (Sjadzali, 1993).
Terlepas dari pembicaraan diatas, toleransi dapat ditanamkan dalam diri setiap manusia yang merasa perlunya kesadaran dalam pemaknaan keragama an. Dan jika demikian, lingkungan sekolah dan rumah-lah yang memegang peranan penting dalam mengembangkan toleransi ber agama. Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui bersifat heterogen maka dapat memahami perbedaan agama dan kebiasaan yang dilakukan masing-masing agama. Terutama, anak-anak di masa depan dihadapkan dengan era globalisasi yang mengharuskan mereka berhadapan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda. Sehingga, pemahaman keragaman merupakan hal penting bagi masa depan mereka.
2.4. Toleransi Dalam Pandangan Islam
Kaum muslimin dilarang ikut serta dalam segala bentuk peribadatan dan keyakinan orang-orang kair dan musyrik hal ini sebagaimana telah dinyatakan oleh Allah dalam Q.S. Al-Kairun: 30 ayat 1-6:
ا َو)٣( ُدُبْعأ� اَم َنوُدِباَع ْ ُتْنأ� اَو)٢( َنوُدُبْعَت اَم ُدُبْعأ� ا)١( َنو ُرِف َكْلا اَ ُيأ� َي ْلُق
)٦( ِنيِد َ ِلَو ْ ُكُنيِد ْ ُكَل)٥( ُدُبْعأ� اَم َنوُدِباَع ْ ُتْنأ� اَو)٤( ْ ُت ْدَبَع اَم ٌدِباَع َنأ�
Terjemahnya:
1.Katakanlah: “Hai orang-orang kair,. 2. aku tidak akan menyem-bah apa yang kamu semmenyem-bah., 3.dan kamu bukan penyemmenyem-bah Tuhan yang aku sembah.., 4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah., 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah., 6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (Departemen Agama RI, 2010).”
mengkritik trinitas dan menawarkan monoteisme, namun Islam juga mempersilahkan umat yang beragama lain menunaikan ibada sesuai dengan doktrin mereka.
Secara teoritis normatif agama berimplikasi pada sikap toleransi bagi pemeluknya maupun pemeluk agama lain (universal). Tapi pada per jalanan nya agama seringkali meninggalkan jati dirinya sebagai pem-bimbing dan pengayom masyarakat, dan justru berkolaborasi dgn Negara untuk mengawetkan kepentingan kelompok elite penguasa sambil
menin das masyarakat. Bangsa Indonesia tampaknya masih bingung
dalam menemukan pola beragama yang mapan untuk mempertemukan kesetia annya pada Tuhan. Idealnya, ketiganya (agama, Negara, toleransi) saling bersinergi membangun sintesa sehingga semangat kebertuhanan dan loyalitas pada intitusi agama akan juga memperkuat loyalitas dan etika bernegara.
Pasal 1.3 piagam PBB, mewajibkan kerjasama bagi seluruh anggota PBB untuk mempromosikan dan memperjuangkan hak-hak asasi manusia, tetapi piagam tersebut tidak mendeinisikan term-term hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan dasar sehingga menimbulkan kekacau an penafsiran mengenai asal-usul universalitas standar-standar dalam penerapannya dilapangan (an-Na’im, 2004). Hal demikian jelas berbeda dengan praktik historis yang telah dicontohkan nabi Muhammad SAW, merupakan bukti konkrit terhadap pemberlakuannya ter hadap masyarakat madinah dan bagi non-muslim mengenai toleransi. Warisan sejarah Islam yang agung ini telah menunjukan dan menjelaskan bahwa Arab dan Islam tidak mengenal istilah iqlimiyah (sekat) dalam agama atau suatu bangsa. Sebaliknya, Islam berinteraksi dengan semua ragam perbedaan ini dengan pandangan bahwa perbedaan itu alami belaka. Untuk itu, Islam lebih memilih ungkapan “umat” bersama kaum muslimin. Mereka memilki kesetaraan dalam hal hak dan kewajiban.
ada kelompok Nasrani di Madinah. Alinea 20 menyatakan bahwa, “orang musryk tidak boleh melindungi harta kekayaan kaum Quraysi, tidak juga jiwanya, dan ia tidak boleh membantunya untuk menghadapi kaumm mukminin.” Berbagai komitmen ini diberikan Islam kepada kaum musrykin penduduk Madinah dan ini menunjukkan bahwa mereka telah masuk kedalam pemerintahan Negara baru, dan bahwa undang-undang ini memberikan kepada mereka hak sebagai warga Negara (Al-Wa’iy, 2003).
Dalam hal agama, toleransi berarti memberikan hak kepada pemeluk agama lain untuk tetap eksis. Eksklusivisme merupakan sesuatu yang alamiah karena masing-masing pemeluk agama memiliki pilihan ter-sendiri tentang alasan mereka menganut suatu agama. Oleh karena itu setiap orang kadangkala mengalami kesulitan untuk menjadi seorang pe meluk agama yang inklusif karena pada satu sisi ia mempertahankan identitas dirinya (mengakui universalisme kebenaran agama) dan disisi lain memegang teguh pilihan sendiri. Untuk menjadi orang inklusif jelas harus mampu hidup dalam masyarakat pluralistik dan berinteraksi dengan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki keyakinan beragam (Fachruddin, 2006).
beberapa dari kalangan Muhammadiyah dan NU tidak membatasi konsep ahl al-kitab hanya pada Kristen, Yahudi dan Majusi saja (An-Na’im, 2007).
Al-Qur’an mengajarkan beberapa prinsip dasar dan pendekatan sebagai pedoman untuk melihat perbedaan-perbedaan relasi etnik dan keagamaan diatas.
ْ ُكَمَرْكأ� َنإا اوُفَراَعَتِل َلِئاَبَقَو ًبوُعُش ُْكاَنْلَعَجَو َثْنأ�َو ٍرَكَذ ْنِم ُْكاَنْقَلَخ َنإا ُساَنلا اَُيأ� َي
)١٣( ٌرِبَخ ٌمِلَع َ َلا َن
ا ْ ُكاَقْتأ� ِ َلا َدْنِع
إ
Terjemahannya:
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari se-orang laki-laki dan sese-orang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Se sungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Se sung-guh nya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-hujuraat: 13) (Departemen Agama RI, 2010).
Keragaman etnik dan berbagai perbedaan tersebut memberikan kita kekuatan dan kekayaan budaya serta nilai dan pemahaman peradaban. Dalam surah yang lain juga dinyatakan, “tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam) dan telah dijelaskan pula dalam alqur’an bahwa sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan putus. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.
Pandangan ayat al-Qur’an diatas merupakan larangan terhadap orang Islam untuk memaksa orang non muslim menerima Islam sebagai keyakinan mereka (Arsyad, 2007). Hal-hal demikian menurut Seyyed Hossein Nasr,1 Setiap agama memiliki cara tertentu untuk membedakan
1 Seyyed Hossein Nasr lahir di Teheran, Iran. Dia menempuh pendidikan tingginya di M.I.T.
dirinya dari agama lain. Misalnya agama Yahudi, membagi orang pada “bangsa yahudi” dan “non Yahudi”, sedangkan Kristen, “yang percaya” dan ”pagan”. Masing-masing kategorisasi ini memiliki akar teologis dan historis yang berhubungan dengan konsep diri masing-masing. Sedang-kan dalam Islam perbedaan ini lebih pada persoalan kata iman dan islam, atau suatu istilah yang lebih umum (Nasr, 2003). Sejalan dengan komentar Seyyed, al-Qur’an surah al-Baqharah ayat 62 mengatakan ;
َلِ َعَو ِرِخآلا ِمْوَيْلاَو ِ َل ِب َنَمآ� ْنَم َنِئِبا َصلاَو ىَرا َصَنلاَو اوُداَه َنيِ َلاَو اوُنَمآ� َنيِ َلا َنإا
)٦٢( َنوُنَزْ َي ْ ُه اَو ْمِ ْيَلَع ٌفْوَخ اَو ْمِِّبَر َدْنِع ْ ُه ُرْجأ� ْمُهَلَف اًحِلا َص
Terjemahnya:
Sesungguhnya orang-orang mukmin (yang percaya pada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad), orang-orang yahudi, nasrani, shabi’in-siapa saja diantara mereka-yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian serta beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (Departemen Agama RI, 2010).
Berdasarkan ayat di atas telah dipahami bahwa Al-Qur’an telah mengajarkan toleransi secara penuh. Artinya bahwa toleransi dalam Islam itu sangat komprehensif dan serba-meliputi baik lahir maupun batin. Oleh karena itu, sikap toleransi tidak akan tegak jika tidak lahir dari hati yang paling dalam. Ini berarti toleransi bukan saja memerlukan kesediaan ruang untuk menerima perbedaan, tetapi juga memerlukan pengorbanan material maupun spiritual, lahir maupun batin. Di sinilah, konsep Islam tentang toleransi (as-samahah) menjadi dasar bagi umat Islam untuk melakukan mu’amalah (hablum minan nas) yang ditopang oleh kaitan spiritual kokoh (hablum minallah).
3. METODOLOGI
Penelitian ini berlokasi di Kota Manado tepatnya di Masjid Al-Khairiyah daerah Kawasan Kampung Texas Manado. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian studi kasus. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah pen-de katan kualitatif pen-dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara.
Adapaun pelaksanaan penelitian ada empat tahap, yaitu: (1) tahap sebelum ke lapangan, (2) tahap ke lapangan, (3) Tahap pengumpulan data. (4) tahap analisis data, Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: (a) Reduksi data (Data Reduction). Reduksi data yaitu suatu proses pemilahan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan dan hasil wawancara terhadap subjek dan objek penelitian, (b) Penyajian data (Display Data). Data disusun sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Adapun bentuk yang lazim digunakan pada data kualitatif terdahulu adalah dalam bentuk teks naratif. Terkait dengan display data, peneliti menyajikannya dalam bentuk tabel berupa charta data terpilih dan (c) Penarikan kesimpulan (Veriikasi).
4. HASIL PEMBAHASAN
Dalam pengembangan toleransi umat beragama di masyarakat tidak terjadi begitu saja. Ia harus direncanakan dan perlu melakukan pen dekatan serta strategi yang tepat. Salah satu yang berperan dalam menjaga toreransi umat beragam adalah FKUB yang dimana organisasi ini adalah perpanjangan tangan Kementerian Agama dalam membina dan mengembangkan sikap toleransi dalam kehidupan masyarakat yang multikultular khususnya di Kota Manado.
yang dianutnya. Menurut Rizali M. Noor bahwa salah satu tugs kami selaku pengurus FKUB adalah menjaga masyarakat Kota Manado agar tetap saling menghormati dan menjaga keberanekaragam suku, ras, dan agama, mengembangkan sikap saling memahami, serta mengerjakan keter bukaan dan dialog antar agama. Untuk membangun budaya inilah maka dilakukan sosialisasi kepada masyarakat Kota manado agar tidak tergiur dengan berbagai isu sara yang akan meninmbulkan konlik antar agama.2
Ungkapan di atas telah diungkapkan pula oleh H W B Sumakul dalam wawancaranya mengatakan bahawa salah satu sikap kami dalam
mem bangun toleransi umat beraga di Manado adalah dengan cara
menyisipkan nilai-nilai toleransi pada kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di Kota Manado. Hal tersebut kami lakukan agar tercapai tujuan toleransi dalam rangka mengantisipasi konlik keagamaan dan menuju perdamaian abadi karena pendidikan sampai saat ini diyakini mempunyai pesan besar dalam membentuk karakter setiap individu dan ini adalah tanggung jawab semua masyarakat Manado tanpa terkecuali.3
Berdasarka uraian di atas dapat diketahui bahwa salah satu peran dan fungsi FKUB adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya masyarakat Kota Manado agar tetap menjaga ikatan per-saudara an agar tetap damai dan tidak terjadi perpecahan. Artinya, toleransi umat beragama di Kota Manado adalah tanggung jawab seluruh masyarakat Manado secara bersama-sama. Menjaga toleransi umat beragama di Manado tidak hanya dilingkup pemerintahan saja akan tetapi juga di rumah dan lingkungan sosial dengan menanamkan dalam benak pikiran seluruh masyarakat, bahwa perbedaan merupakan keharusan yang harus di jalani, semua sudah ada yang mengatur maka, tidak selayaknya kita lari dari tanggung jawab.
Berkembangnya isu sara yang membuat masyarakat Kota Manado saat ini menjadi resah dan khawatir akan terjadinya konlik antara umat
2 Hasil wawancara dengan Rizali M. Noor Pengurus FKUB Provinsi Sulawesi Sulawesi Utara pada
tanggal 13 Januari 2017
3 Hasil wawancara dengan H W B Sumakul Pengurus FKUB Provinsi Sulawesi Utara Pada Tanggal
beragama merupakan tugas utama bagi para pengurus FKUB di Sulawesi Utara khususnya di Kota Manado. Sehingga, peran FKUB dalam meminimalisir isu tersebut adalah dengan cara memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak terpancing dengan berbagai isu yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat Manado yang telah tertuang dalam satu motto “Si Tou Timou Tumou Tou” (Manusia hidup untuk memanusiakan orang lain) dengan kata lain adalah “Torang Samua Basudara”.
Terkait beberapa isu sara di Masyarakat salah seorang pengurus FKUB Kota Manado telah menjelaskan bahwa maraknya perkembangan isu sara di masyarakat Kota Manado adalah dampak atau tekanan yang dialami oleh masyarakat minotitas beragama lain yang hidup di masyarakat mayoritas muslim. Artinya, pemicu berkembangnya isu sara tentang konlik di Manado disebabkan oleh maraknya politik partai yang ingin mencari dukungan dari masyarakat dan munculnya berbagai berita nasional yang mengatas namakan agama.4
Pernyataan di atas senada ungkapan salah satu pengurus FKUB yang mengatakan bahwa isu konlik yang berkembang di masyarakat Manado adalah merupakan isu politik yang akan memecahbelah kerukunan umat beragama di Kota Manado. Adapun terkait dengan rencana pem-bong karan Masjid Al-Khairiyah Kampung Texas Manado itu sudah di serahkan kepada Polda Sulawesi Utara, dan akan diselesaikan secara hukum. Mengenai isu rencana pembongkaran Masjid Al-Khairiyah itu tidak benar. Memang ada beberapa elemen-elemen yang demo dan berusaha untuk melakukan pembongkaran pada saat itu, tetapi mereka itu belum memahami secara pasti tentang kasus tersebut. Dengan demikian, melihat fenomena tersebut, maka pemerintah Kota Manado yakni Walikota Manado melakukan rapat dan klariikasi serta menegas-kan penyampaiannya kepada masyarakat bahwa Masjid Al-Khairiyah tersebut tidak akan dibongkar. Jadi salah satu tugas kami terkait fenomena tersebut adalah menghimbau dan memberikan pemahaman
kepada masya rakat untuk tidak terpancing dengan berbagai isu sara yang berkembang di masyarakat.5
Berdasarkan beberapa ungkapan di atas, dapat dipahami bahwa salah satu peran dan fungsi FKUB dalam menjaga toleransi umat ber-agama di Manado terkait fenomena isu sara rencana pembongkaran masjid Al-Khairiya yang berada di lokasi Kawasan Texas Manado adalah dengan cara menyampaikan kepada seluruh kalangan masyarakat bahwa rencana pembongkaran tersebut adalah merupakan isu yang ditunggangi oleh para politisi untuk mencari dukungan kepada masyarakat serta menggejolaknya berbagai isu konlik keagamaan diberbagai daerah yang dimuat pada berita-berita nasional dan media sosial lainnya.
4. PENUTUP
4. 1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka yang menjadi kesimpulan pada penelitian ini adalah eksistensi dan peran FKUB dalam menjaga toleransi umat beragama terkait isu sara rencana pembongkaran Masjid Al-Khairiyah Kawasan Texas Manado adalah berusaha meminimalisir dengan memberikan himbauan dan pemahaman secara mendalam kepada masyarakat bahwa isu pembongkaran Masjid Al-Khairiyah Kawasan Texas Manado itu tidak benar, isu yang beredar di masyarakat hanyalah isu yang ingin memecahbelah persatuan dan kesatuan masyarakat Kota Manado. Adapun kasus tersebut telah ditangani oleh Polda Sulawesi Utara dan telah diklariikasi oleh pemerintah setempat tentang isu sara tersebut bahwa tidak ada pembongkaran pada Masjid Al-Khairiyah Kawasan Texas Manado.
4.2. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan, maka yang menjadi saran pada peneltian ini adalah sebagai berikut:
a. Diharapkan kepada pengurus FKUB Provinsi Sulawesi Utara dan pengurus FKUB Kota Manado agar tetap waspada dalam
menjaga toleransi kerukunan umat beragama agar tetap terjalin damai dan saling menghormati antar pemeluk agama. Selain itu, pengurus FKUB diharapkan mempertahankan kerjasama dengan pemerintah setempat.
b. Diharapkan kepada pemerintah setempat agar memberikan sanksi kepada masyarakat yang ingin mencoba memprovokasi sesame masyarakat terkait berbagai isu sara yang akan merusak toleransi umat beragama di Provinsi Sulawesi Utara khususnya di Kota Manado.
c. Diharapkan kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokator oleh berbagai isu sara yang akan menimbulkan konlik dalam masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Wa’iy, Tauiq Yusuf. Fikr As-Siyasiy Mu’ashir ‘ Inda Al-Ikhwan Al-Muslimin; Dirasat Tahliliyat Maidaniyat muwatsaqat. Di
Terjemahkan Oleh;Wahid Ahmadi Dan Arwani Amin, Pemikiran
Politik Kontemporer Al-Ikhwan Al-Muslimun; Studi Analitis, Observatif, Dan Dokumentatif Cet., I, Solo: 2003
An-Na’im, Abdullahi Ahmed. Dekonstruksi Syari’ah: Wacana Kebebasan Sipil, Hak Asasi Manusia, dan Hubungan Internasional Dalam Islam Cet., IV, Yogyakarta: LKIS, 2004
---. Islam dan Negara Sekuler: Menegoisasikan Masa Depan Syari’ah Cet., I, Bandung: Mizan, 2007
Arsyad, Azhar. Islam dan Perdamaian Global Cet., I, Yogyakarta: Madyan Press, 2002
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
Departemen Agama RI., Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah Cet. X;
Bandung: CV Penerbit di Ponegoro, 2010
Fachruddin, Fuad. Agama dan Pendidikan Demokrasi, Pengalaman
Hanai, Hassan. Ensiklopedi Islam Jakarta: Ichtiar baru Van Houve, 2005 Nasr, Seyyed Hossein. he Heart of Islam: Pesan-pesan Islam untuk
Kemanusian Cet., I, Bandung: Mizan, 2003
Natta, Abuddin. Peta Keragaman Pemikiran Islam Di Indonesia Cet., II, Jakarta: Raja Graindo Persada, 2001
Purwadarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Balai Pustaka, 2009
Rosyidi, Imron. Pendidikan Berparadigma Inklusif Malang: UIN Press, 2009
Sirri, Mun’im A. Fiqih Lintas Agama Jakarta: Paramadina, 2004
Sjadzali, Munawir. Islam dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah dan Pemikiran Cet., V, Jakarta: UI-Press, 1993