Analisis Subjek pada Dokumentasi Kritik Sastra
Oleh Vina Nurziani A. A.
Program Studi Perpustakaaan dan Informasi
Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK
Kritik sastra merupakan suatu tanggapan dan pemahaman terhadap sastra. Sebagai salah satu studi sastra, kritik sastra banyak berperan dalam perkembangan sastra dari yang awal hingga seperti sekarang ini. Kritik sastra memiliki tujuan untuk mengembangkan ilmu sastra, mengembangkan sastra, dan sebagai penerangan masyarakat pada umumnya terhadap karya sastra. Kritik sastra, sama halnya dengan artikel ilmiah, juga merupakan bahan pustaka yang mesti dihimpun, diolah, dilestarikan dan dilayankan oleh perpustakaan. Terbitan kritik sastra bukanlah suatu terbitan berkala mengenai suatu bidang atau cabang ilmu, tetapi merupakan terbitan monograf yang hanya terbit satu kali. Banyak kendala dalam kegiatan mengolah dokumentasi sastra, seperti penulis yang menerbitkan banyak kritik sastra, atau karya sastra yang banyak dikritik, masalah tahun terbit, sampai pada bentuk terbitan. Maka untuk menghindari kebingungan tersebut, salah satu jalan keluarnya adalah menggolongkan dokumentasi sastra berdasarkan subjeknya. Dokumentasi dalam kegiatan kepustakawanan merupakan salah satu kegiatan utama. Adanya dokumentasi kritik sastra bertujuan untuk melestarikan informasi-informasi analisis yang di masa depan akan menemui fase temu-balik bagi para pengguna. Selain itu, analisis subjek dalam dokumentasi kritik sastra dapat mengklasifikasikan beberapa subjek yang sama sekali lain dengan sastra, hal ini membawa pengaruh pada proses klasifikasi dalam pengkatalogan. Dengan mengambil sampel beberapa
paper kritik sastra dari UKM ASAS UPI sebagai wadah apresiasi sastra. Penulis menggunakan metode penelitian bahan pustaka untuk menganalisis subjek yang dimuat. Dokumentasi kritik sastra menjadi bagian dari perkembangan sastra dewasa ini, juga merupakan bukti sejarah bagi pertumbuhan sastra. Analisis subjek pada dokumentasi sastra dapat dijadikan sebuah kajian unik, sebab sastra berupa refleksi dari budaya bangsa yang apabila dikaji lebih lanjut dapat memunculkan banyak cabang ilmu yang lebih kompleks hanya dari satu karya. Meski pun pada dasarnya, sastra merupakan salah satu hasil pemikiran para seniman di ranah kata-kata.
A. Pendahuluan
Kritik sastra merupakan suatu tanggapan dan pemahaman terhadap sastra. Sebagai salah satu studi sastra, kritik sastra banyak berperan dalam perkembangan sastra dari yang awal hingga seperti sekarang ini. Kritik sastra memiliki tujuan untuk mengembangkan ilmu sastra, mengembangkan sastra, dan sebagai penerangan masyarakat pada umumnya terhadap karya sastra. Kritik sastra, sama halnya dengan artikel ilmiah, juga merupakan bahan pustaka yang mesti dihimpun, diolah, dilestarikan dan dilayankan oleh perpustakaan. Terbitan kritik sastra bukanlah suatu terbitan berkala mengenai suatu bidang atau cabang ilmu, tetapi merupakan terbitan monograf yang hanya terbit satu kali. Banyak kendala dalam kegiatan mengolah dokumentasi sastra, seperti penulis yang menerbitkan banyak kritik sastra, atau karya sastra yang banyak dikritik, masalah tahun terbit, sampai pada bentuk terbitan. Maka untuk menghindari kebingungan tersebut, salah satu jalan keluarnya adalah menggolongkan dokumentasi sastra berdasarkan subjeknya.
Ada empat pilar utama dalam kegiatan kepustakawanan, yaitu pengadaan bahan pustaka, pengolahan, melestarikan dan melayankan bahan pustaka. Kegiatan operasional tersebut memuat berbagai disiplin ilmu, sebab ilmu perpustakaan merupakan cabang ilmu yang interdisipliner. Salah satu di antaranya adalah manajemen bahan pustaka dalam salah satu pilar kegiatan kepustakawanan, yaitu pengolahan bahan pustaka.
Pengolahan bahan pustaka sendiri meupakan rangkaian kegiatan pengindekskan, pengkatalogan dan klasifikasi bahan pustaka. Indeks adalah daftar kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan (biasanya pada bagian akhir buku) tersusun menurut abjad yang memberikan informasi mengenai halaman tempat kata atau istilah itu ditemukan (KBBI, 2010). Sedang kegiatan pengindekskan di perpustakaan mengacu pada pembuatan petunjuk berupa angka, huruf, maupun tanda lain untuk memberikan pengarahan kepada pemustaka bahwa informasi lebih lengkap atau informasi yang terkait berada pada indeks yang dirujuk (Lasa HS, 2009: 110).
Pada nomor panggil sendiri terdiri atas beberapa elemen, yaitu nomor dari klasifikasi subjek yang dimuat, inisial penulis, judul, serta di bagian layanan mana buku tersebut ditempatkan. Klasifikasi dalam kegiatan kepustakawanan merupakan penyususan dokumen secara sistematis menggunakan sistem tertentu. Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan dalam ranah perpustakaan. Pada buku E. C. Richardson yang berjudul Classification, Theoretical and Practical, dimuat sebuah esai yang berisi sejarah bibliografi terkait sistem klasifikasi. Esai tersebut menyebutkan bahwa ada 161 sistem klasifikasi yang pernah ada (S. R. Ranganathan, 1931: 399). Kebanyakan diantaranya punah dan tidak pernah dipakai lagi. Ada empat skema klasifikasi yang paling banyak digunakan, diantaranya Brown’s Subject Classification, Cutter’s Expansive Classification, Dewey’s Decimal Classification, dan The Library of Congress Classification. Karena tidak ada pembaharuan dan tidak adanya pihak yang memperbaharui, maka Brown’s Subject Classification, Cutter’s Expansive Classification semakin jarang digunakan. Sedangkan Dewey’s Decimal Classification merupakan skema klasifikasi yang paling banyak digunakan dan The Library of Congress Classification digunakan di Amerika (S. R. Ranganathan, 1931: 399). Keempat skema ini banyak digunakan pada pengklasifikasian buku.
Selain empat skema klasifikasi yang disebutkan, ada pula Universal Decimal Classification. Skema ini paling banyak digunakan di perpustakaan khusus dan dalam dokumentasi terbitan selain buku. ditambah dengan skema klasifikasi S. R. Ranganathan, pencetus 5 Laws of Library Science, Colon Classification yang menekankan pada pendayagunaan secara maksimal dari klasifikasi desimal. Apabila dikataan secara gamblang, pihak perpustakaan bebas menentukan mana yang ingin dipakai. Semua ini dilakukan demi kepuasan pemustaka.
Dalam klasifikasi sendiri, terdapat landasan yang menjadi titik awal dari proses klasifikasi. Bahan pustaka dapat diurutkan dengan berbagai cara, ambilah misal secara alfabetis dari judul mau pun pengarang, subjek atau konten yang dimuat, dan sebagainya. Semuanya itu disisin dalam suatu rangkaian sistematis dalam pengolahan dengan salah satu tujuan untuk memudahkan proses temu balik informasi kepada pemustaka.
Klasifikasi berdasarkan subjek seperti DDC atau UDC menuntut pustakawan untuk lebih jeli menilai konten yang dimuat dalam suatu dokumen. Banyak dokumen yang meliputi berbagai subjek dalam satu karya. Hal ini jelas dapat menghambat proses pengolahan karena pustakawan harus benar-benar mengidentifikasi kontan yang dimuat. Serta beresiko terjadinya kesalahan informasi yang diterima sehingga tidak menuaskan pemustaka. Mengklasifikasi dokumen dalam kepustakawanan merupakan sepasang kegiatan ilmiah dan seni yang di dalamnya terkandung profesionalitas diri pustakawan.
sastra akan memudahkan pemustaka dalam mengkaji sastra dari aspek keilmuan. Juga meningkatkan efisiensi dan kerapian dalam suatu tempat, dari pada hanya disusun berdasarkan tahun terbit tanpa mengetahui konten yang dimuat.
B. Metode Penelitian dan Sampel
Metode penelitian ini menggunakan kajian bahan pustaka terkait dokumentasi, kritik sastra, dan klasifikasi subjek dalam dasar manajemen koleksi. Dengan sampel beberapa paper berisi kritik sastra dari UKM ASAS UPI dari bulan September hingga Nopember 2017.
Tubuh Maternal dan Kelahiran Perempuan Subjek oleh Kenny F. Mulyadi
Tentang Ketidakberdayaan oleh M. Naufal Hafizh
Sepasang dan Sekumpulan Maut Ala Wan oleh Raden Ayunidhanti dan Ilin Yustini
Menyusun Struktur yang Belum Rampung oleh Ilin Yustini
Terciduk: Anna Karenina Ketahuan Selingkuh oleh Dina Wulandari Dawuk: Cerita dalam Cerita yang Tak Jelas Juntrungnya oleh
Mohamad Maskiat
Penyair Revolusioner: Menggugat Lewat Sajak oleh Agung Nungraha Budi P.
C. Dokumentasi
Dalam kegiatan kepustakawanan, objek yang diolah jelas berupa bahan pustaka. Dengan kata lain, pustakawan mengolah berbagai dokumen agar bisa dilayankan pada pemustaka. Dokumen merupakan objek yang memuat berbagai informasi, sedangkan dokumentasi menurut FID (Institute Internationale de Documentation) dalam buku Sulistyo Basuki (2004: 5) adalah penyusunan, penyimpanan, temu balik, pemencaran, evaluasi informasi terekam dalam bidang sains, teknologi, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.
Dokumentasi pada kegiatan kepustakawanan bertujuan untuk (1) menata dokumen untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka; (2) menghindari duplikasi kerja; (3) memudahkan temu balik informasi; (4) menyimpan untuk dilestarikan (Sulistyo Basuki, 2004: 17).
Dokumen dalam pemanfaatannya, ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu frekuensi penerbitan, metode penerbitan, karakteristik intelektual, tujuan dokumen dan ketajaman analisis (Sulistyo Basuki, 2004: 26). Pada kritik sastra sendiri, terbitannya dapat disebut monograf, yaitu terbitan yang hanya dibuat sekali saja. Dalam hal ini, maksud dibuat sekali saja adalah satu penulis, satu karya sastra, dan satu tulisan berupa kritik sastra itu sendiri. Pengorganisasian inilah yang menjadi penting, sebab suatu karya tidak hanya dikritik oleh satu orang dan dari sudut pandang yang serupa.
D. Kritik Sastra
Menurut H. B. Jassin (1959: 44) kritik sastra adalah pertimbangan baik buruk karya sastra, penerangan dan penghakiman karya sastra. Ada tiga tujuan dari kritik sastra, yaitu untuk perkembangan ilmu sastra, untuk perkembangan kesusastraan, dan untuk menerangkan sastra pada masyarakat umum (Pradopo, 1988: 17).
Pada kritik sastra terdapat unsur-unsur penting yang berupa analisis, interpretasi dan penilaian yang tidak dapat dipisahkan. Sebab karya sastra merupakan karya seni yang kompleks sehingga perlu pemahaman mendalam saat memberikan kritik sastra.
Rachmat Djoko Pradopo mengutip M. H. Abrams dalam bukunya (1995: 94) menyebutkan bahwa untuk menafsir karya sastra ada empat orientasi karya sastra yang menyertainya. Pertama, orientasi mimetik, yaitu karya sastra sebagai refleksi kehidupan. Kedua, orientasi pragmatik, berupa karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan pada pembaca. Ketiga, orientasi ekspresif, karya sastra sebagai hasil ekspresi dan pikiran pengarang. Keempat, orientasi objektif yang memandang bahwa karya sastra merupakan suatu karya yang mendiri dan tidak terikat.
Jenis-jenis kritik sastra dapat dikelompokan berdasarkan bentuk, metode, tipe-tipe kritik sastra dan penulis kritik sastra. Kritik sastra berdasarkan bentuknya digolongkan menjadi kritik sastra teoretis dan kritik sastra praktik. Kritik sastra teoretis adalah penerapan prinsip-prinsip kritik sebagai landasan kritik sastra. Sedangkan kritik sastra praktik adalah penerapan prinsip kritik sastra pada karya sastra. Berdasarkan metode, kritik sastra dibagi menjadi tiga jenis yaitu, kritik induktif, kritik yudisial dan kritik impresionistik (Rachmat Djoko Pradopo, 1995: 95).
Rachmat Djoko Pradopo mengutip M. H. Abrams dalam bukunya (1995: 95) kritik induktif adalah kritik sastra yang menguraikan unsur sastra berdasarkan fenomena yang objektif. Sedangkan kritik yudisial adalah kritik sastra yang menganalisis karya sastra berdasarkan inti, teknik dan gayanya. Dan kritik impresionistik berisi tanggapan perasaan terhadap karya sastra.
Pada kegiatan klasifikasi, setelah mengetahui fitur sistem pencarian informasi dan pengertian dokumen sebagai bukti, hal selanjutnya yang mesti dilakukan adalah analisis subjek. Menurut A. C. Foskett (1971: 42) ada dua kategori besar dalam dokumen. Pertama adalah dokumen yang hanya memuat satu subjek, dan kedua adalah dokumen yang memuat lebih dari satu subjek. Dalam bukunya, A. C. Fosket juga menjelaskan bagaimana menganalisis subjek pada dokumen.
1. Paradigma dan Syntagma
Hal yang pertama harus disadari dalam menganalisis subjek adalah adanya variasi hubungan antar subjek. Hubungan paradigma menunjukan bahwa subjek adalah sebagaimana yang disebutkan. Sedangkan hubungan syntagma menunjukan bahwa sebuah subjek ditentukan dari tujuan dokumen tersebut. Ambilah misal pada hubungan paradigma, apabila sebuah dokumen bersubjek besi maka konten yang dimuat pada dokumen tersebut pasti mengenai besi dan hal-hal yang berkaitan dengan besi. Berbeda dengan hubungan syntagma, contohnya album foto dengan foto (dari) album, jelas berbeda tujuannya.
Pada kritik sastra, jelaslah bahwa tujuan dari hal tersebut adalah untuk memberikan komentar, tanggapan, maupun keterangan terhadap suatu karya sastra. Kritik sastra yang didokumentasikan dari UKM ASAS UPI pun demikian, semuanya menjelaskan mengenai hal-hal yang ada dalam suatu karya sastra yang dipilih. Secara garis besar, penulis kritik sastra mengambil sebuah tema besar yang mendasari karya sastra. Kemudian menganalisis dan mengomentari dari penjabaran secara linguistika. Lebih jauh, penulis juga menggunakan beberapa aspek lain seperti psikologi, antropologi budaya, dan politik dalam analisisnya.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa ada paradigma dan syntagma dalam kritik sastra yang menjadi penghubung suatu karya sasrta dengan disiplin ilmu lain. Hubungan-hubungan ini terkadang sulit untuk diidentifikasi, meskipun begitu, sudah menjadi tugas pustakawan dalam menamai subjek yang sesuai dengan isi dokumen.
2. Sinonim
Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa Indonesia juga memiliki banyak padanan kata dalam kamusnya. Dalam hal ini perbedaan kata meskipun maknanya sama dapat menjadi masalah, sebab dapat mengacaukan penerimaan informasi pemustaka. Oleh karena itu, subjek pada dokumen lebih baik sama. Dengan begitu selain mempermudah pencarian, juga mempermudah menemukan antonim dari subjek.
pembahasan dari sebuah buku kumpulan cerpen dengan judul Sepasang Maut karya Wan Anwar. Penulis lebih memilih kata ‘maut’ sebagai konsep dasar dibandingkan kata ‘mati’ padahal keduanya memiliki arti yang sama. Hal ini didasarkan pada salah satu cerpen yang menjadi judul dalam buku, yaitu Sepasang Maut. Pada klasifikasi subjek, pustakawan mesti menamai subjek sesuai dengan ketentuan yang berlaku, antara memakai thesaurus atau menggunakan Library of Congress Subject Heading sebagai acuan. Maka meskipun mengangkat ‘maut’ sebagai konsep, tetap saja akan bersubjek ‘mati’ dalam klasifikasinya. Sebab dalam tugas ini, pustakawan dituntut agar konsisten terhadap penggunaan bahasa.
3. Homograf
Homograf, di Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kata yang sama ejaannya dengan kata lain, tetapi berbeda lafal dan maknanya. Di Indonesia sendiri terdapat banyak padanan kata yang homograf. Misalnya genting ‘berbahaya’ dengan genting ‘atap rumah’. Atau apel ‘buah’ dengan apel ‘upacara’. Pada ranah kata-kata berupa sastra, luasnya padanan kata-kata sangat diperlukan pustakawan. Hal tersebut dapat membantu menentukan subjek pada kritik sastra. Salah satu cara untuk menentukan subjeknya adalah melihat padanan kata yang satu dengan yang lain untuk menunjukkan konteks hingga maknanya.
Pada dokumentasi sastra, konten yang dimuat tidak hanya berupa pendalaman dari satu subjek saja. Ada berbagai subjek yang dapat diangkat dari sebuah karya dalam kritik sastra. Oleh karena itu, homograf juga perlu diperhatikan dalam klasifikasi subjek.
4. Frasa
Frasa berupa gabungan dua kata atau lebih. Ada banyak konsep yang tidak dapat didefinisikan dalan satu kata sebagai subjek. Subjek yang baru biasanya dimulai dengan frasa. Sedangkan kata atau istilah yang baru digunakan untuk mendefinisikan topik yang baru pula. Frasa sebagai gabungan dua kata atau lebih memiliki arti yang berbeda dengan istilah yang hanya memiliki satu kata.
Lain halnya dengan Tentang Ketidakberdayaan yang ditulis oleh M. Naufal Hafizh, dalam judul tersebut ditulis sebuah kata yang asalnya ditulis dalam dua kata yaitu, “tidak” dan “berdaya”. Kedua kata tersebut disatukan dan diberi imbuhan “ke-“ dan “-an” sehingga melahirkan makna yang baru.
5. Subjek Campuran
Kembali menilik hubungan syntagma, hal ini berarti subjek dilihat dari tujuan sebuah dokumen. Ambilah misal kritik sastra berbeda dengan sastra kritik. Dalam hal ini pustakawan dituntut untuk lebih jeli dalam menentukan subjek. Meskipun dimulai dengan frasa, konsep yang dominanlah yang akan dijadikan sebagai subjek.
Tak jarang dalam kritik sastra, subjek yang dimuat dalam dokumentasi kritik sastra juga tidak ada yang selalu hanya satu. Seperti pada tulisan Mohamad Maskiat yang diberi judul Dawuk: Cerita yang Tak Jelas Juntrungnya, di dalamnya terdapat sub bahasan mengenai gaya bahasa sarkastik dan bahasan mengenai konflik agraria.
6. Bahasa Pengingdekskan (indexing language)
Maksudnya adalah sebuah sistem dalam menamai subjek dokumen. A. C. Foskett (1971: 48) menggunakan concept indexing dalam menganalisis subjek. Concept indexing tidak menggunakan kata-kata yang dipakai penulis untuk menentukan subjek, melainkan menganalisis konten dari dokumen dan menentukan subjek meskipun kata dalam subjek tersebut sama sekali tidak dipakai oleh penulis.
Seperti yang telah dibahas pada poin kedua tentang sinonim, penentuan subjek mesti dilandaskan pada suatu acuan tertentu. Tujuannya agar proses klasifikasi dapat terstrukttur dengan baik. Pustakawan menggunakan thesaurus untuk membantu dalam proses klasifikasi. Bahasa pengindekskan digunakan agar penataan subjek lebih fleksibel sehingga memudahkan pemustaka dalam menemukan informasi.
7. Pre-Coordinate dan Post-Coordinate Systems
Pustakawan harus bisa mengklasifikasikan subjek tunggal dan subjek campuran (jamak) menggunakan bahasa pengindekskan. Ada dua cara untuk penerapannya.
8. Sistem Terbuka dan Tertutup
Maksud dari sistem terbuka dan sistem tertutup adalah pustakawan dapat menambahkan subjek baru yang mendekati subjek dasar atau landasan dari subjek baru tersebut (sistem terbuka) tapi tetap dalam skema klasifikasi yang telah ditentukan (sistem tertutup).
9. Penjumlahan dan Perpaduan
Masalah dalam sistem terteutup juga sistem pre-coordinate indexing menjadi serius apabila harus berjalan beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian kompleks. Hal ini membutuhkan lebih dari sekedar skema pengindekskan yang bukan hanya luas tapi juga fleksibel dalam penggunaanya. Karena hal inilah, maka dibuatlah sebuah bahasa sintesis yang merupakan konsep tunggal, namun juga dapat meliputi subjek campuran dalam pembuatan indeks. Metode ini lebih efisien daripada hanya penjumlahan subjek, dan juga menjadi acuan dalam konstruksi penamaan subjek. Skema penjumlahan dan perpaduan ini menghasilkan suatu tingkatan baru dalam pengorganisasian pengetahuan dan juga dapat menjabarkan sebuah subjek dan hubungan-hubungan baru.
10. Critical Claasification
Seorang pustakawan bertugas melayani di antara penulis dengan pemustaka. Seorang pustakawan mestinya telah melalui banyak pengalaman dan latihan dalam mengklasifikasi subjek dalam pengindekskan.
Apapun alasannya, klasifikasi kritis - pengenaan sudut pandang pengindeks terhadap pengguna - ditemukan agak lebih luas daripada yang ingin kita akui. Bahkan skema seperti UDC, yang memiliki kebijakan internasional yang pasti, tidak sepenuhnya bebas dari permasalahan. Pengindeks sebaiknya berhati-hati untuk tidak menciptakan permasalahan yang tidak perlu, dan pengguna harus menyadari keberadaannya yang mungkin, jika sistem ingin mencapai tujuan mereka untuk membuat informasi tersedia secara bebas. (A. C. Foskett, 1995: 52-53)
tulisan yang tidak dapat diklasifikasi ini masih berupa gambaran umum tentang suatu karya.
F. Simpulan
Kritik sastra merupakan suatu tanggapan terhadap karya sastra. Bertujuan untuk mengembangkan ilmu sastra, mengembangkan sastra, serta menerangkan sastra pada masyarakat umum. Kritik sastra memiliki beberapa teknik memahami sastra, yaitu orientasi mimetik, orientasi pragmatik, orientasi ekspresif, dan orientasi objektif. Jenis-jenis kritik sastra dapat dikelompokan berdasarkan bentuk, metode, tipe-tipe kritik sastra dan penulis kritik sastra. Kritik sastra berdasarkan bentuknya digolongkan menjadi kritik sastra teoretis dan kritik sastra praktik. Pada kritik sastra terdapat unsur-unsur penting yang berupa analisis, interpretasi dan penilaian yang tidak dapat dipisahkan. Sebab karya sastra merupakan karya seni yang kompleks sehingga perlu pemahaman mendalam saat memberikan kritik sastra.
Dokumentasi pada kritik sastra menerapkan suatu sistem di mana di dalamnya terdapat analisis subjek sebagai acuan dalam klasifikasinya. Menurut A. C. Foskett dalam bukunya, analisis subjek dibagi dalam beberapa tahapan, yaitu:
Mengidentifikasi paradigma dan Syntagma Mencari sinonim
Mencari makna kata homograf
Mencari konteks dan makna dari frasa Menentukan subjek tunggal atau campuran
Menentukan bahasa pengindekskan (indexing language) yang dipakai Membuat sistem pre-coordinate dan post-coordinate
Memakai dan memaksimalkan daya guna istem terbuka dan tertutup Menjumlahkan dan memadukan subjek dalam dokumentasi
Klasifikasi kritis
Dari tahapan tersebut maka tujuh kritik sastra yang menjadi objek penelitian penulis hanya didapat dua tulisan yang dapat diklasifikasikan berdasarkan subjek yaitu, Tubuh Maternal dan Kelahiran Perempuan Subjek oleh Kenny F. Mulyadi serta Menyusun Struktur yang Belum Rampung dari Ilin Yustini. Sedang kelima lainnya tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan subjek sebab konten yang dimuat masih bersifat umum dan bertujuan untuk menerangkan karya sastra terhadap masyarakat awam.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2010.
HS, Lasa. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta. Pustaka Book Publisher.
Ranganathan, S. R. 1931. The Five Laws of Library Science.
Basuki, Sulistyo. 2004. Pengantar Dokumentasi. Bandung. Rekayasa Sains.
Foskett, A. C. 1961. The Subject Approach to Information. London. Clive Bingley.
Jassin, H. B. 1959. Tifa Penyair dan Daerahnya. Jakarta. Gunung Agung.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1988. Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta. Penerbit Lukman.