1
Objektivitas Media dalam Gerakan Sosial:
Mengurai Keterlibatan Media dalam Jejaring Gerakan Petani Vorstenlanden*M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. [email protected]
Prolog
Di permulaan reformasi, kemunculan protes petani menjadi bagian pokok dari percik-percik perlawanan masyarakat akar rumput yang berkembang di beberapa daerah. Protes tersebut tidak terkonsolidasi sebagai gerakan kolektif. Protes tidak tersistematisasi dalam arti memiliki ikatan pengorganisasian antardaerah. Tetapi, umumnya dapat ditemukan pola, setiap gerakan sosial yang bermunculan dengan materi konflik yang beraneka ragam di tiap daerah tersebut menghadapi konfrontasi dengan negara. Hal ini didasarkan pada akar persoalan negara yang secara paksa mengambil alih surplus ekonomi dari petani.
Petani tembakau di Klaten, yakni mereka yang dipekerjakan PT Perkebunan Nusantara X, juga menghadapi situasi sedemikain rupa. Puncaknya terjadi pada 1998 sebagai titik di mana jejaring kekuatan petani dibangun untuk memutus sistem kerjasama sebelumnya yang merugikan dan hegemonik terhadap petani. Bangunan kekuatan petani kemudian dirancang sedemikian rupa sebagai skema gerakan sosial yang terencana. Di dalamnya, media menempati peran krusial sebagai pembentuk opini publik. Ini yang membedakan protes petani di era modern dengan yang terjadi pada masa-masa sebelum sekarang, yang melintang bahkan sejak masa kolonialisasi Belanda.
Di sisi lain, media di era kebebasan pers tengah menghadapi dilema yang pelik. Ketika reformasi membukakan keran kebebasan berpendapat, termasuk di dalamnya menuliskan berita, media turut terdorong pada ranah (perdebatan?) “objektivitas”. Padahal, media dalam centang-perenang sosial memiliki peran strategis dan signifikan, terutama dalam penyampaian keberpihakan dan kebenaran temuan. Di sini, media mengartikulasikan kesempatan memihak dan menyatakan argumentasi subjektif (pengelola media), yang dengan demikian sangat mungkin berbenturan dengan pagar nilai objektivitas.
Pertanyaan intinya, bagaimana menempatkan objektivitas media di tengah skema gerakan sosial di mana media masuk dalam jejering gerakan
2
tersebut? Masih mungkinkah media mempertahankan pagar nilai objektivitas dengan sikap yang tidak memihak? Dalam tulisan ini, penulis bermaksud memberikan telaah dengan bercermin dari gerakan petani tembakau di Klaten yang menyulam jejaring gerakan bersama elemen media, dalam hal ini surat kabar Kontan.
Gerakan Petani Vorstenlanden
Tanah di Klaten merupakan berkah bagi petani setempat atas pertumbuhan satu jenis tanaman tembakau yang tidak dapat ditemui di daerah lain di belahan bumi manapun. Dari runutan sejarah diperoleh catatan bahwa pada masa kolonialisasi Belanda, berhasil diujicobakan penanaman tembakau (hasil penyilangan) di sebagian kawasan di Klaten (Padmo dan Djatmiko, 1991: 35). Penanaman tembakau tersebut di daerah lain tidak akan menghasilkan kualitas daun yang lebih bermutu. Karena sebagian wilayah yang dimaksud merupakan tanah bekas kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Kerajaan Yogyakarta (sekarang sebagian Klaten dan pinggiran Sleman), maka disebutlah jenis tembakau tersebut dengan istilah “Vorstenlanden” (bahasa Belanda: vorsten=raja, landen=tanah), yang berarti “tanah raja-raja” (Padmo dan Djatmiko, 1991: 51).
Sejak masa kolonialisasi Belanda sampai Orde Baru, penanaman tembakau Vorstenlanden selalu memakai sistem perkebunan dengan jalin hubungan industrial antara perusahaan dan buruh petani-buruh gudang. Selama Orde Baru, pembukaan lahan perkebunan harus berkerjasama dengan para petani pemilik lahan, yang pada pelaksanaannya berlangsung secara otoriter-birokratik. Setiap tahun petani dipaksa menyerahkan lahan di bawah legitimasi surat keputusan (SK) Bupati Klaten yang disusun tanpa keterlibatan petani dan diputuskan sebelum masa tanam. Akibatnya, petani terpaksa menerima ketentuan harga jual daun tembakau kepada PT Perkebunan Nusantara X, yang terpaut lebih rendah dibandingkan harga jualnya saat dilelang di pasar tembakau dunia di Bremen, Jerman.
Gejolak politik pada 1998 akhirnya memantik kesadaran petani untuk menaikkan posisi tawar (bargaining position) di hadapan PT Perkebunan Nusantara X. Sekelompok petani yang tergabung dalam Forum Petani Tembakau Vorstenlanden (FPTV) mulai membangun jejaring gerakan dalam rangka
3
Formasi gerakan di atas merupakan pemetaan hasil rumusan gerakan FPTV yang disepakati dalam sebuah workshop di Kaliurang, Yogyakarta, Juni 1998. Sebanyak 31 desa yang sebagian lahannya biasa difungsikan untuk areal perkebunan tembakau Vorstenlanden mengirimkan perwakilan satu atau dua orang (sesuai jumlah kelompok tani di masing-masing desa). Kelompok petani perwakilan dari 31 desa inilah yang disebut tim inti, yang dibagi dalam tiga lini, yakni Tim Penggalang Sekutu (TPS), Tim Perundingan (TP), dan Tim Penggalang Logistik (TPL). TPS bertugas membangun koalisi (sekutu) dengan pihak lain untuk ikut mengusung gagasan (tuntutan) yang ingin dicapai petani. TP disiapkan untuk membuka perundingan langsung dengan PT Perkebunan Nusantara X, termasuk menentukan poin-poin kerjasama penanaman tembakau Vorstenlanden. Sedangkan, TPL menyediakan keperluan logistik.
Sementara itu, setidaknya terdapat empat elemen dalam jejaring eksternal yang menyokong gerakan FPTV. Pertama, media massa. FPTV menjalin kerjasama dengan wartawan freelance Bambang Aji, yang kemudian menurunkan laporannya di Kontan dan Kedaulatan Rakyat. Di Kontan, Bambang menulis laporan berjudul “Kepulan Asap Tembakau, Derita Petani”. Sayang, laporannya di Kadaulatan Rakyat belum sempat terlacak penulis. Kedua, perguruan tinggi. FPTV melibatkan Pusat Studi Asia Pasifik (PSAP) UGM ihwal penelusuran akademik perdagangan tembakau Vorstenlanden. Oleh tim peneliti yang terdiri dari Dr. Suhardi, Dr. P.M. Laksono, Drs. M. Baiquni, M.A., dan Drs. Imam Prakoso, dihasilkan laporan penelitian berjudul “Pemberdayaan Kelompok Petani Tembakau dan Buruh Tani di Klaten dalam Mengantisipasi Peluang Perdagangan Tembakau Internasional: Perspektif Fair Trade”. Hasil penelitian tersebut sempat diseminarkan sekaligus dijadikan data penguat dalam proses mediasi dan perumusan poin-poin kerjasama mengenai penanaman tembakau antara petani dan PT Perkebunan Nusantara X. Ketiga, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan mahasiswa. Dari elemen LSM, terdapat Walhi dan Lapera. Urban Development Program (UDP) Yogyakarta juga tercatat di dalamnya dalam upaya penguatan isu melalui komentar yang dilansir media massa. Bersama eleman mahasiswa, yang turut hadir dalam workshop di Kaliurang, Walhi dan Lapera digandeng sebagai kelompok sipil penekan yang siaga jika semisal diperlukan aksi demonstrasi.
4
Poin-poin kesepakatan kerja yang dirundingkan di dalamnya berpijak dari materi tuntutan yang pertama kali disodorkan FPTV kepada PT Perkebunan Nusantara X, Oktober 1998 (lihat Apendiks). Sebuah perundingan yang tanpa tersekat pihak ketiga, yang rutin digelar sebelum kemarau menandai musim tanam tembakau Vorstenlanden kembali tiba.
Bagan 1
Strategi Gerakan FPTV†
Pemberitaan Kontan
“Kepulan Asap Tembakau, Derita Petani”. Di baris bawah kalimat judul
tersebut, terdapat lead berikut: “Eksportir dan petani debat soal turunnya harga
tembakau”. Laporan jurnalistik yang ditayang di Kontan, No. 34, Tahun III, 24
Mei 1999 itu terdiri dari delapan belas paragraf. Di dalamnya, terdapat dua subjudul: “Harga di tingkat petani ditentukan penciuman” dan “Permintaan petani cuma empat kali dari harga gabah”. Laporan yang memenuhi halaman 3
† Hendra Try Ardianto, Yoga Putra Prameswari, dan Sigid Suryanto, Memutus Interaksi Patron-Klien di Lahan
Perkebunan: Studi Kasus Gerakan Petani Tembakau Vorstenlanden (FPTV) Pasca-Orde Baru, (Yogyakarta: Fisipol UGM, 2008), hlm. 51. Penulis terlibat dalam penelitian ini menggantikan Sigid Suryanto, baik sebagai peneliti lapangan maupun penulisan laporan.
K E T E R A N G A N :
PTPN X KLATEN
Tim PerundingTim Penggalang Logistik
Media Massa LSM Universitas Mahasiswa
Tim Penggalang Sekutu Wakil
Petani dari 31 Desa
TIM INTI
Garis Pembagian Peran Garis Mandat Gagasan
Garis Jaringan Eksternal Garis Negosiasi
Juru Bicara
5
kolom Fokus itu ditulis empat orang: Bambang Aji, Iwan Hidayat, R. Kristiawan, dan Markus Sumartomdjon.
Turunnya pemberitaan tersebut merupakan bagian dari jejaring FPTV dalam upaya perubahan sistemik kerjasama dengan PT Perkebunan Nusantara X. Terdapat empat nama pentolan aktor dalam jejaring FPTV yang masuk dalam pemberitaan. Selain Bambang Aji sebagai penulis, terdapat PM Laksono dari PSAP UGM, Imam Baskoro dari Yayasan UDP, dan Wening Swasono yang
disebut sebagai “petani tembakau kawakan dari kecamatan Gantiwarno, Klaten”
sebagai Ketua FPTV.
Enam paragraf awal berita tersebut sekadar menulis tentang penyebab merosotnya kualitas dan produksi daun tembakau. Di dalamnya dilansir data harga dan jumlah produksi tembakau di level nasional. Alhasil, sekalipun dari judul dan lead mengesankan pesan konflik, penulisan isu dibungkus rapi dengan dikaitkan pada situasi depresi ekonomi yang memang sedang terjadi pada waktu itu. Di sinilah teknik framing mulai dipakai dengan memulai awal penulisan dari sisi negara, sebelum pada bagian selanjutnya berpindah dari sisi pihak ketiga dan petani. Berikut ini kutipan enam paragraf awal yang dimaksud.
“Di musim tanam Juni mendatang tampaknya tak banyak
yang bisa dipetik petani tembakau jenis Na Oogst (NO) dan Verstenlanden Bawah Naungan (VBN) di Klaten (Jateng) dan Jember (Jatim). Panen terakhir tahun lalu boleh dibilang gagal. Panen November 1998, misalnya, hujan yang berkepanjangan akibat pengaruh La Nina disebut-sebut sebagai penyebab merosotnya kualitas dan produksi daun tembakau di kedua daerah tersebut.
Karena kualitasnya turun, harga tembakau jenis NO untuk pembungkus cerutu kesohor itu jatuh menjadi US$ 5.942 per ton. Padahal dua tahun lalu, ketika panenan bisa menghasilkan daun bagus dengan panjang sekitar 60 cm, harga jual tembakau jenis NO masih bisa mencapai US$ 6.263. Sementara tembakau Besuki mengalami penurunan harga US$ 24 per ton, tembakau jenis VBN justru mencatat kenaikan 67% dari US$ 6.245 tahun 1997 menjadi US$ 10.449 per ton.
Bukan hanya kualitas, ternyata hujan juga telah membuat produksi tembakau menurun tajam. Di Jember, tahun lalu tercatat penurunan dari 15.344 ton menjadi 13.600 ton. Begitu pula di Deli Sumatera Utara. Di daerah ini menurunnya mencapai 27,5% dibanding tahun 1997.
Akibatnya, produksi tembakau dari ketiga daerah tersebut mngalami penurunan 11% lebih dari 17.624 ton jadi 15.626 ton.
6
bisa dijadikan isi (filler) cerutu di negara pembeli. “Bahkan tembakau yang diekspor ke Amerika ada penurunan kualitas
sampai 40%,” kata Nanang.
Hal serupa dikatakan Abdul Sadjat, Pelaksana Harian Indonesia Tembacco Association (ITA). Kalau hujan bisa dianggap gangguan alam yang berada di luar jangkauan manajemen, menurut Abdul, penurunan kualitas tahun lalu juga dikaitkan dengan penggunaan bibit oleh petani. Kondisi ini makin buruk lagi setelah para petani menggantikan pupuk dari
Cekoslowakia dengan pupuk lain. “Sejak dolar menguat terhadap rupiah, petani tak mampu mebeli pupuk impor,” kata
Abdul.”
Lima paragraf selanjutnya dikepalai subjudul “Harga di tingkat petani
ditentukan penciuman”. Sudut pandang yang dipakai adalah pihak ketiga
(kelompok penekan), yang ditandai dengan pengutipan komentar PM Laksono (PSAP) dan Imam Baskoro (UDP). Keduanya merupakan aktor pemimpin dari jaringan eksternal gerakan FPTV. Bagian tulisan yang diposisikan sebagai analisis persoalan dari bagian pertama ini mulai memasukkan sejumlah agenda gerakan. Seperti, kesejajaran antara petani dan PT Perkebunan Nusantara X. Selain itu, disertakan pula kutipan sanggahan mengenai penyebab kemerosotan kualitas daun tembakau. Dengan demikian, mulai terpetakanlah perbedaan pandangan antara negara dan pihak ketiga (kelompok penekan). Berikut ini teks beritanya.
“Faktor-faktor itulah yang membuat kuantitas dan kualitas daun tembakau sepanjang 1998 mengalami penurunan.
“Untungnya kita mempunyai persediaan tembakau yang siap untuk diekspor,” kata Nanang. Meski demikian, ia mengaku
pada musim tanam tahun lalu PTP X masih sanggup membeli tembakau dari petani dengan harga tinggi, sekitar Rp 4.100 per kg. Ini berarti mengalami kenaikan 200% lebih dibanding harga 1996 yang hanya Rp 1.805 per kg.
Toh, tidak semua pihak berpendapat bahwa kualitas daun tembakau panenan terakhir itu jelek. Untuk mengukur suatu panenan yang menghasikan NO berkualitas bagus, misalnya, setiap hektare lahan tembakau setidaknya harus mampu menghasilkan 8,69 bal konol (termasuk tusuk dan sujen daun tembakau). Sedangkan pada panen terakhir tahun lalu setiap hektare ladang tembakau ternyata rata-rata menghasilkan 8,0 bal konol. Jadi, panenan tahun 1998 sesungguhnya tidak gagal total, apalagi kalau dibandingkan dengan produksi dua tahun sebelumnya.
7
bahwa PTP telah mempermainkan kualitas tembakau yang jumlahnya mencapai 30 peringkat itu untuk menaikkan harga di tingkat petani.
Tembakau NO dan VBN, yang menjadi primadona di pusat pelelangan tembakau di Bremen Jerman, tahun 1996/97 masih laku dengan harga DM 60 atau sekitar 190.000 per kg. Padahal ketika itu, menurut Laksono, PTP membeli dari petani dengan harga sekitar Rp 1.605 dan Rp 1.735. Perbedaan harga yang teramat besar antara tempat pelelangan di Bremen dengan tempat produksi di Klaten dan Jember itu, agaknya,
menunjukkan adanya penekanan oleh eksportir. “Kualitas
tembakau hanya ditentukan oleh penciuman seorang yang amat
subjektif,” kata Laksono.
Dalam upaya memperbaiki kedudukan petani menghadapi transaksi perdagangan itu, Kepala Yayasan Urban Development Program (UDP) Yogyakarta, Imam Baskoro, menganjurkan agar PTP X bersikap transparan. Ini terutama dalam penentuan
kualitas. “Di sini ada perbedaan visi antara PTP dengan petani,”
kata Imam. Dia juga menganggap perlunya kesadaran dari pihak BUMN tersebut untuk menjadikan petani sebagai mitra
yang sejajar. “Sampai saat ini kesejajaran itu tak ada. Padahal,
ini sebenarnya adalah misi PTP,” kata Imam.”
Terakhir, empat paragraf yang mengakomodasi pesan dari kelompok petani. Tulisan mencoba menerangkan kondisi ekonomi petani kaitannya dengan harga beli dari PT Perkebunan Nusantara X. Dilaporkan pula salah satu bentuk pembangkangan petani terhadap perusahaan, yakni dengan tidak bersedia bekerjasama untuk menyerahkan lahan sebagai areal perkebunan. Tulisan dipungkasi dengan harapan utama gerakan FPTV, yakni kesejajaran posisi antara petani dan perusahaan eksportir (PT Perkebunan Nusantara X). Berikut ini tubuh beritanya.
“Sementara itu, di hari-hari ketika masih ada persoalan
cukup besar, beberapa petani sudah mengambil sikap melawan. Petani yang tidak ingin digorok terang-terangan oleh eksportir jelas lebih suka tidak lagi mengontrakkan tanahnya kepada PTP X. Di desa Ngering, Klaten, ada sekitar 44 petani. Sementara di desa Towangsan jumlahnya mencapai 19 orang. Total di kabupaten Klaten saja saat ini tercatat 75 petani yang tidak lagi memperpanjang kontraknya.
Langkah ini terpaksa diambil karena para petani merasa dirugikan jika tembakaunya dihargai Rp 4.100—Rp 4.300. Menurut Wening, petani tembakau kawakan dari kecamatan Gantiwarno, Klaten, dengan lahan seluas satu patok (2.000 m2—2.500 m2), setiap tahunnya petani tembakau paling banter hanya memperoleh penghasilan Rp 1,2juta; sementara jika ditanami padi akan memberikan penghasilan sekitar Rp 1,6juta.
“Ini pun dengan teknik yang paling sederhana,” kata Wening.
8
Jember yang mengalihkan perhatiannya dengan menanam padi atau palawija.
Petani, yang umumnya tidak paham dengan gejolak kurs dolar, selama ini selalu mengaitkan harga tembakau dengan gabah. Menurut perhitungan Wening, harga yang ideal untuk satu kilogram tembakau adalah empat kali harga gabah. Dengan patokan tersebut, dan harga gabah sekitar Rp 1.700 per kg, berarti PTP harus membeli tembakau dengan harga
Rp6.800. “Pada tingkat harga itu, hasil yang diperoleh petani dari tembakau akan sama dengan menanam padi,” kata Wening.
Permintaan yang tidak berlebihan, memang. Sebab, harga itu hanya seperdua belas harga lelang tembakau jenis VBN di Bremen. Tahun lalu, tembakau jenis ini harganya mencapai US$ 10,5 atau sekitar Rp 83.000 jika memakai patokan kurs Rp
8.000 per dolar. “Dengan sudut pandang trade fair, PSAP berniat
memosisikan petani sejajar dengan perusahaan eksportir,” kata
Laksono.”
Demikian pemberitaan Kontan telah coba dicacah dan diurai dalam kaitannya dengan jejaring eksternal gerakan FPTV. Sebuah sajian yang bukan dimaksudkan untuk menganalisis wacana, bukan pula membongkarnya dengan analisis konstruksi sosial, tetapi tetap tanpa kehilangan greget teks (media) tersebut dalam posisinya sebagai salah satu artikulasi strategi gerakan sosial.
Gerakan Sosial, Media, dan Objektivitas Media
Sepertinya, segenap protes petani kini tidak lagi memuaskan untuk dijelaskan menuruti konsep perlawanan keseharian (every day resistance) sebagaimana dipakai James Scott (2000). Percik-percik gerakan sosial bertebaran dengan harapan perubahan sistemik yang lebih menjanjikan. Sidney Tarrow (1998: 4-5) menilai bahwa gerakan sosial itu sebagai tantangan kolektif yang dilakukan sekelompok orang yang memiliki tujuan dan solidaritas yang sama (dalam konteks interaksi dengan kelompok elite, lawan, dan penguasa).
9
menarik perhatian publik yang mendukung upaya protes. Media berperan dalam menyebarkan pesan dari pentolan aktor gerakan kepada publik, yang termasuk di dalamnya adalah sasaran protes: pengambil kebijakan (lihat Bagan 2).
Bagan 2
The Communication Process of Protest
(Lipski, 1965 dalam della Porta dan Diani: 1999, 169)
Pada konteks ini, Hanspeter Kriesi (2004: 86) mengemukakan, “The media […] are expected to create public controversy and reinforce the position of
sponsors of the movement’s concerns within the policymaking domain (Media
[…] berharap mampu menciptakan kontroversi publik dan memperkuat posisi
aktor di hadapan pengambil kebijakan).” Selarik pemeriksaan yang memperkuat pendapat bahwa peran media tidaklah berada dalam domain abu-abu di tengah pusaran gerakan sosial. Media masuk dalam jejaring aktor gerakan yang secara tidak langsung (indirect) berhadapan dengan pengambil kebijakan. Dari pengamatan Charles Tilly (2005: 3), pemanfaatan keberadaan media semacam ini, semisal melalui pemberian komentar di media, merupakan “repertoar
gerakan sosial” yang sejauh penelusurannya sudah mulai berkembang di Barat
setelah 1750.
Dari situ, media sangat mungkin dipersepsikan tidak lagi menjaga objektivitasnya. Media larut dalam peta konfrontasi yang justru memperkeruh situasi. Benarkah demikian? Izinkan saya mengambil satu pernyataan untuk membuka diskusi tentang arti objektivitas.
Michael Bugeja, pengajar di Iowa State, sebagaimana dikutipkan Luwi
Ishwara (2005: 44), menilai objektivitas sebagai “seeing the world as it is, not
how you wish it were (melihat dunia seperti apa adanya, bukan bagaimana yang anda harapkan semestinya).” Pada kenyataannya, semakin banyak wartawan dan
Symbolic rewards
Material rewards Protest
Constituency Leaders Media Reference Public
10
termasuk ilmuwan, berseberangan dengan pendefinisian tersebut. Dalam studi media sendiri, terekam catatan bagaimana dinamika perdebatan ihwal objektivitas yang kerapkali berujung pada kebingungan (arti objektivitas). Sebab, arah perdebatannya dinilai selalu merujuk ke wilayah filosofis, bukan berpijak pada dunia nyata (Kovach dan Rosenstiel, 2004: 43).
Di Indonesia, diskusi serupa tidak dapat berkembang pada masa pemerintahan Orde Baru. Media tidak mempunyai ruang untuk mendiskusikan objektivitas pemberitaannya, karena justru keberadaan media dialih-terapkan sebagai agen stabilitas politik (McCargo, 2003: 75-96). Memasuki era reformasi, media malahan seperti terjerembab pada pengartian objektivitas sebagai netralitas, semata-mata lantaran menengahi situasi politik yang dianggap kehilangan musuh bersama (common enemy), yang pada masa Orde Baru tertuju pada pemerintahan otoriter Soeharto. Apabila diandaikan sebagai garis grafik, pergerakannya menurun setelah menyalak pada erupsi ketegangan politik tepat pada 1998 (atau antara 1997 sampai 1998).
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Elemen-elemen Jurnalisme (2004) menyimpan penjelasan historis bagaimana konsep objektivitas muncul di dunia jurnalisme. Awalnya justru bukan objektivitas, melainkan realisme. Realisme adalah pemikiran bila seorang reporter menggali fakta dan meruntutkannya secara kronologis, kebenaran akan dengan sendirinya terungkap. Perspektif tersebut mulai muncul pada akhir abad ke-19 ketika konteks jurnalisme di Amerika terpisah dari partai politik. Tetapi, masuk di awal abad ke-20, kecemasan mulai melanda seiring bertebarannya propaganda dan agen penghubung pers. Semakin lama, kini, baik realisme terlebih lagi objektivitas, bagi kebanyakan wartawan menganggapnya sebagai ilusi belaka. Sekalipun, belajar dari pengalaman media di Amerika, didapati solusi bahwa objektivitas dapat dicapai melalui metode (verifikasi), bukan dari diri seorang wartawan. Meski, sampai hari ini belum ada satupun standar verifikasi jurnalistik, yang mendekati aturan standar pembuktian seperti halnya dalam ilmu hukum, atau metode observasi yang dipakai banyak ilmuwan, seperti dalam eksperimen ilmiah yang terarah (Kovach dan Rosenstiel, 2004: 92).
11
media justru tidak diharapkan untuk bersikap “menengahi” yang selanjutnya malah kontraproduktif dengan harapan akan perubahan sosial. Merujuk pada pemaparan Susan Ekstein (dalam Wahyudi, 2005: 10), terdapat dua penyebab munculnya arus gerakan sosial. Pertama, adanya ketidakadilan dan penindasan yang tidak dapat ditolelir lagi sehingga memantik keberanian penuh resiko dengan melakukan konfrontasi langsung terhadap negara. Kedua, lonjakan biaya hidup akibat krisis ekonomi yang tidak dapat diatasi, sementara respons institusi lokal, nasional, serta kultural tetap saja kurang kondusif. Dengan demikian, gerakan sosial tidaklah serta-merta mengemuka tanpa sebab dan tanpa goncangan keteraturan sosial, ekonomi, politik, dan kultural.
Senada dengan itu, Steve Bruce dan Stephen Yearley dalam The Sage Dictionary of Sociology (2006: 217) menuliskan selarik pemeriksaan dengan
disertai seruan yang meruntuhkan objektivitas. “[…] true objectivity is impossible
because our view of reality is inevitably filtered through our fallible senses, our
equally fallible reasoning powers, and prevailing theories and concepts, which
shape the way we see the world. The precise way our brains have evolved may
also influence the kinds of knowledge we develop. We cannot see the world as it
truly is but only as creatures like us see it ([…] kebenaran objektif itu mustahil
karena pandangan kita atas realitas tersaring oleh indera yang tidak sempurna, kemampuan berpendapat yang tidak mungkin seimbang, serta sejumlah besar teori dan konsep, yang membentuk cara pandang kita terhadap dunia. Otak kita dipengaruhi oleh beragam pengetahuan yang kita kembangkan. Kita tidak dapat lagi melihat dunia ini sebagaimana adanya, tetapi sebagai bentukan seperti halnya kita melihat dunia).”
Dalam bahasa yang lebih sederhana, seperti diyakini para pengikut Marxisme ortodoks (dalam van Peursen, 1989:72), “Objektivitas sejati adalah pemihakan yang sejati.”
Epilog
12
reformasi dan keterbukaan sekarang. Protes di era modern tampaknya akan makin massif dilancarkan dari rahim media, terlebih dengan semakin maraknya jejaring sosial di dunia maya.
Tulisan ini tidak ingin mengakiri diri dengan ideal harapan yang justru klise. Sebab, kini bukan soal signifikansi media dalam gerakan sosial yang masuk meja diskusi atau pula debat objektivitas pemberitaan media, melainkan tekanan bertubi yang menyerang media dari tangan negara. Setidaknya itulah yang menyeruak belakangan ketika sederet peraturan perundang-undangan diberlakukan, mulai dari UU Pers, UU Informasi dan Transaksi Elektronik, dan UU Rahasia Negara (belum disahkan). Adakah negara sekarang giliran menyerang balik media (the state strike-backs the media)? [ ]
Daftar Pustaka
Bruce, Steve dan Yearley, Stephen. 2006. The Sage Dictionary of Sociology. London, Thousand Oaks, New Delhi: SAGE Publications.
della Porta, Donadella dan Diani, Mario. 1999. Social Moverments: An Introduction. Oxford: Blackwell Publishers.
Ishwara, Luwi. 2005. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Kovach, Bill dan Rosenstiel, Tom. 2004. Elemen-elemen Jurnalisme: Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan yang Diharapkan Publik. Jakarta:
Institut Studi Arus Informasi.
McCargo, Duncan. 2003. Media and Politics in Pacific Asia. London dan New York: Routledge Curzon.
Padmo, Soegijanto dan Djatmiko, Edhi. 1991. Tembakau: Kajian Sosial-Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.
Scott, James. 2000. Senjatanya Orang-orang Kalah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Snow, David A., Soule, Sarah A., dan Kriesi, Hanspeter (ed). 2004. The Blackwell Companion to Social Movements. Oxford: Blackwell Publishing.
Tarrow, Sidney. 1998. Social Movements and Contentious Politics. Cambridge: Cambridge University Press.
Tilly, Charles. 2005. Social Movements, 1768-2004. London: Paradigm Publishers.
13
Wahyudi. 2003. Formasi dan Struktur Gerakan Sosial Petani: Studi Kasus Reklaiming/Penjarahan atas Tanah PTPN XII (Persero) Kalibakar,
14 Apendiks
Salinan Tabel Tuntutan Awal FPTV ke PT Perkebunan Nusantara X No. Tuntutan awal FPTV ke PTPN
1.
Adanya perjajian secara tertulis antara petani dengan pihak PTP X N syah secara hukum, sehingga tidak diperlukan SK Bupati untuk melindungi kerja PTP X N.
2. Penanaman tembakau dilakukan secara blok, tidak hanya memilih lahan yang subur.
3.
Dalam pengadaan los pengering tembakau, penentuan nilai sewa lahan dilakukan secara langsung antara petani pemilik lahan dengan pihak PTP X N.
4. Harga tembakau kering setara 2 $ US dan ditentukan sebelum memasuki musim tanam
5. Ada jaminan kegagalan panen yang nilainya nominalnya setara dengan harga 12 Kw tembakau kering untuk setiap Ha sawah.
6.
Ada beaya pemulihan lahan setelah penanaman tembakau yang nilainya setara dengan upah 60 HOK berdasarkan UMR yang berlaku untuk setiap Ha sawah.
7.
Melakukan pemuliaan tanah dengan menanam Clotalaria Juncea sebanyak 15 Kg benih untuk setiap Ha sawah secara merata di akhir musim tanam tembakau.
8. Mengembalikan 5 % keuntungan bersih PTP X N dari usaha tembakau kepada petani.
9. Petani terlibat dalam pengawasan dalam seluruh proses produksi sampai pasca panen
10. Buruh lahan diutamakan dari wilayah desa yang ditanami tembakau. 11.
Upah buruh sesuai UMR yang berlaku dan tidak ada diskriminasi upah antara buruh laki-laki dengan perempuan, perbedaan didasarkan atas jenis pekerjaan dan ketrampilan yang dikuasai buruh.