• Tidak ada hasil yang ditemukan

| Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya profil 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "| Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya profil 2014"

Copied!
209
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL KESEHATAN

KOTA PALANGKA RAYA

DINAS KESEHATAN

KOTA PALANGKA RAYA

2015

(2)

TAHUN 2014

Penanggung Jawab

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya

Penyusun :

Ary Wijayanti, SKM, MPH Fuel Richwanto,SKM

Siti Hapsari, SKM Miftakul Hidayah, SKM Tiara Nurlita Nainggolan Magdalena Danisia, S.Si Ferae Natalina, SKM

Harry Putra, SKM Irwan,Amd.Kep. Juan Prakoso,PRS

Kontributor :

BPS Kota Palangka Raya PMI Kota Palangka Raya

Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB Kota Palangka Raya Sekretariat Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya

Bidang PMK Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya

Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Bidang PSDMK Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,

karena atas limpahan rahmat dan karunia-NYA buku Profil Kesehatan

Kota Palangka Raya Tahun 2014 dapat diselesaikan.

Buku Profil kesehatan Kota Palangka Raya tahun 2014 merupakan

gambaran pembangunan kesehatan di wilayah Kota Palangka Raya

berdasarkan indikator-indikator,

Milenium Development Goals

(MDGs),

Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Rencana Strategis (Renstra) Kota

Palangka Raya serta kegiatan-kegiatan pembangunan kesehatan yang

dibutuhkan oleh masyarakat Kota Palangka Raya.

Harapan kami, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi instansi

dan masyarakat yang membutuhkan informasi serta dapat dipergunakan

sebagai bahan perencanaan berdasarkan fakta (

evidence based

) guna

peningkatan derajat kesehatan di Kota Palangka Raya.

Kami menyadari bahwa profil ini banyak kekurangan, baik dalam

kelengkapan, ketepatan waktu serta kemampuan analisa data. Guna

kesempurnaan penyusunan dan peningkatan mutu profil kesehatan di

masa akan datang, kritik dan saran pembaca sangat diharapkan.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada instansi terkait dan

semua pihak yang telah berperan dalam penyusunan profil ini.

Palangka Raya,

JULI 2015,

KEPALA DINAS KESEHATAN

KOTA PALANGKA RAYA,

drg. TIUR SIMATUPANG

(4)

Daftar Isi

ii

DAFTAR ISI

Hal

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

ii

Daftar Tabel

vi

Daftar Gambar

viii

Daftar Lampiran

xii

BAB I. PENDAHULUAN

1-4

A LATAR BELAKANG 1

B MAKSUD DAN TUJUAN 3

C SISTEMATIKA PENULISAN 4

BAB II. GAMBARAN UMUM

5-12

A GEOGRAFIS 5

B DEMOGRAFI 5

1. Kepadatan dan Sebaran Penduduk 5

2. Penduduk Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin 7

C SOSIAL EKONOMI 8

1. Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) 8

2. Tingkat Pendidikan 9

D. BUDAYA DAN LINGKUNGAN 11

1. Budaya Masyarakat 11

2. Lingkungan Sosial 12

BAB III. SITUASI DERAJAT KESEHATAN

13-35

A ANGKA KEMATIAN (MORTALITAS) 13

1. Angka Kematian Bayi (AKB) 14

2. Angka Kematian Ibu (AKI) 15

(5)

B ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS) 16

1. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas 16

2. Penyakit Menular 17

3. Penyakit Tidak Menular 28

C STATUS GIZI MASYARAKAT 32

1. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) 33

2. Gizi Balita 33

3. Gizi Ibu Hamil 34

4. Kecamatan Bebas Rawan Gizi 34

D. UMUR HARAPAN HIDUP 35

BAB IV. SITUASI UPAYA KESEHATAN

36-71

A UPAYA PELAYANAN KESEHATAN DASAR 38

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 38

2. Layanan Prioritas Lansia 43

3. Pelayanan Keluarga Berencana 44

4. Pelayanan Daerah Terpencil 45

5. Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin 46

6. Jaminan Kesehatan (Asuransi) Bagi Masyarakat 47

7. Akses Pelayanan Kesehatan 48

8. Mutu Pelayanan Kesehatan 49

B PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 53

1. Pelayanan Imunisasi 53

2. Pemberantasan Penyakit Malaria 55

3. Pemberantasan Penyakit DBD 55

4. Pengendalian Penyakit Polio dan Surveilans AFP 56 5. Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Campak 57

6. Penanggulangan HIV/AIDS dan PMS 59

(6)

Daftar Isi

iv

C PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR

61

1. Rumah Sehat 61

2. Akses terhadap Air Bersih 61

3. Sarana Sanitasi Dasar 62

4. Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan 63

D PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT 64

1. Pemberian Makanan Tambahan 64

2. Penanggulangan Kekurangan Yodium dan Vitamin A (GAKY dan KVA)

64

3. Perbaikan Gizi Kelompok Rawan 65

E

PROMOSI KESEHATAN 65

F

PELAYANAN KEFARMASIAN, PENGAWASAN

MAKANAN/MINUMAN

67

1. Pelayanan Kefarmasian 67

2. Pengawasan Obat danMakanan/Minuman 68

3. Pemantauan dan Perbaikan Alat Kesehatan 69

4. Monitoring Penggunaan Obat yang Rasional 70

G PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA 70

1. Kegiatan Program Bencana Tahun 2008 – 2014 71

BAB V. SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

72-103

A KEADAAN SARANA KESEHATAN 72

1. Sarana KesehatanPemerintah 72

2. Sarana Kesehatan Swasta 75

3. Sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)

76

B KEADAAN TENAGA KESEHATAN 77

1. Distribusi Sumber Daya Manusia Kesehatan 79

2. Ketersediaan Sumber Daya Manusia Kesehatan di Puskesmas

(7)

3. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan 81

4. Pendidikan dan Pelatihan 90

5. Regristasi dan Akreditasi 95

6. Sistem Reward dan Punishment 96

C PEMBIAYAAN KESEHATAN 97

D SEDIAAN FARMASI DAN ALAT KESEHATAN 101

E. SISTEM INFORMASI KESEHATAN 103

(8)

t

bar

viii

DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar II.1 Jumlah Penduduk Kota Palangka Raya Tahun 2005– 2013

6

Gambar II.2 Peta Kepadatan Penduduk Kota Palangka Raya Tahun 2013

7

Gambar II.3 Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin Kota Palangka Raya Tahun2013

8

Gambar II.4 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Melek Huruf Menurut Jenis Kelamin Kota Palangka Raya Tahun 2009 - 2014

10

Gambar III.1 Jumlah Kematian (bayi, ibu, balita) di Kota Palangka Raya Tahun 2011-2014

13

Gambar III.2 Angka Kematian Bayi di Kota Palangka Raya Tahun 2005– 2014

14

Gambar III.3 Angka Kematian Ibu di Kota Palangka Raya Tahun 2005 – 2014

15

Gambar III.4 Angka Kematian Balita di Kota Palangka Raya Tahun 2008 –2014

16

Gambar III.5 Peta Daerah Endemis Malaria Menurut Kelurahan di Kota Palangka Raya 2014

18

Gambar III.6 Peta Kelurahan Endemis DBD Kota Palangka Raya Tahun 2014

20

Gambar III.7 Jumlah Spesimen Positif Pada Hewan Penular Rabies di Kota Palangka Raya Tahun 2004 – 2014

21

Gambar III.8 Korban Gigitan Hewan Penular Rabies Kota Palangka Raya tahun 2004 – 2014

21

Gambar III.9 Angka Penemuan Kasus (CDR) TB di Kota Palangka Raya Tahun 2009-2014

22

Gambar III.10 Succes RateTB Kota Palangka Raya Tahun 2010– 2014 23 Gambar III.11 Proporsi Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Kota

Palangka Raya Tahun 2014

(9)

Gambar III.12 Persentase Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Kota Palangka Raya Tahun 2006 – 2014

25

Gambar III.13 Proporsi Penderita Diare Menurut Jenis Kelamin Kota Palangka Raya Tahun 2014

26

Gambar III.14 Kasus Penyakit yang apat dicegah dengan Imunisasi (PD3I) di Kota Palangka Raya Tahun 2014

28

Gambar III.15 Penderita Hipertensi Di Kota Palangka Raya Tahun 2005 –2014

29

Gambar III.16 Proporsi Penderita Hipertensi Menurut Sex Gender di Kota Palangka Raya Tahun 2014

29

Gambar III.17 Kasus Hipertensi di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2014

30

Gambar III.18 Kasus Gastritis di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2014

30

Gambar III.19 Penderita Diabetes Mellitus di Kota Palangka Raya Tahun 2006 – 2014

31

Gambar III.20 Proporsi Penderita Diabetes Mellitus Menurut Umur di Kota Palangka Raya Tahun 2014

32

Gambar III.21 BBLR Di Kota Palangka Raya Tahun 2005 – 2014 33 Gambar III.22 Hasil Pemantauan BB/U Balita Di Kota Palangka Raya

Tahun 2011 –2014

34

Gambar III.23 Umur Harapan Hidup Di Kota Palangka Raya Tahun 2006 – 2011

35

Gambar IV.1 Cakupan K4 Kota Palangka Raya Tahun 2009 – 2014 39 Gambar IV.2 Peta Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 Kota Palangka

Raya Tahun 2014

39

Gambar IV.3 Peta Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga KesehatanKota Palangka Raya Tahun 2006–2014

40

Gambar IV.4 Peta Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2014

40

(10)

Daftar Gambar

x

Gambar IV.6 Cakupan ASI Eksklusif Kota Palangka Raya Tahun 2009 – 2014

42

Gambar IV.7 Layanan Kesehatan Usila/Lansia Di Kota Palangka Raya Tahun 2008 – 2014

43

Gambar IV.8 Cakupan Pelayanan KB Di Kota Palangka Raya Tahun 2006 – 2014

44

Gambar IV.9 Cakupan Pelayanan KB Aktif dan KB Baru Menurut Jenis Kontrasepsi Kota Palangka Raya Tahun 2014

45

Gambar IV.10 Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin Kota Palangka Raya Tahun 2012-2014

47

Gambar IV.11 Cakupan Jaminan Kesehatan Pra BayarMenurut Jenis Jaminan Di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2014

48

Gambar IV.12 Cakupan Pelayanan Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2010–2014

49

Gambar IV.13 Hasil Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2005 – 2014

50

Gambar IV.14 Hasil Rata-Rata Pengukuran Tingkat Kepatuhan Petugas Terhadap Standart Yankes Di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2005 –2014

51

Gambar IV.15 Jumlah Keluhan Pelanggan Puskesmas Di Kota Palangka Raya Tahun 2009 – 2014

52

Gambar IV.16 Cakupan Imunisasi Campak Kota Palangka Raya Tahun 2004–2014

54

Gambar IV.17 Cakupan Imunisasi DT, Td dan Campak pada Anak Sekolah Dasar Kota Palangka Raya Tahun 2014

55

Gambar IV.18 Angka Bebas Jentik di Kota Palangka Raya Tahun 2009– 2014

56

Gambar IV.19 Capaian Penemuan Kasus AFP (per 100.000 penduduk < 15 tahun)Kota Palangka Raya Tahun 2004–2014

57

Gambar IV.20 Cakupan Imunisasi Campak Anak SD Kelas I dan IP Vaksin pada BIAS Campak Kota Palangka Raya Tahun 2014

59

Gambar IV.21 Penemuan Penderita HIV/AIDS Kota Palangka Raya Tahun 2003 –2014

(11)

Gambar IV.22 Rumah Sehat Menurut Puskesmas Di Kota Palangka Raya Tahun 2011 – 2014

61

Gambar IV.23 Proporsi Sumber Air Minum Penduduk Kota Palangka Raya Tahun 2014

62

Gambar IV.24 Desa yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Kota Palangka Raya Tahun 2014

63

Gambar IV.25 Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Di Kota Palangka Raya Tahun 2014

64

Gambar IV.26 Rumah Tangga Ber-PHBS di Kota Palangka Raya Tahun 2014

66

Gambar IV.27 10 Besar Pemakaian Obat di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2014

68

Gambar IV.28 Sertifikasi IRTP Kota Palangka Raya Tahun 2006 – 2014 69 Gambar V.1 Rasio Puskesmas (per 1.000 km2) Kota Palangka Raya

Tahun 2014

74

Gambar V.2 Rasio Puskesmas (per 100.000 penduduk) Kota Palangka Raya Tahun 2014

75

Gambar V.3 Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan Swasta Di Kota Palangka Raya Tahun 2008–2014

76

Gambar V.4 Posyandu Balita dan Posyandu Lansia Di Kota Palangka Raya Tahun 2014

77

Gambar V.5 Sumber Daya Manusia Kesehatan Menurut Jenis Kelamin Di Kota Palangka Raya Tahun 2014

78

Gambar V.6 Rasio Dokter terhadap 100.000 Penduduk Kota Palangka Raya Tahun 2012-2014

84

Gambar V.7 Tenaga Perawat Berdasarkan Pendidikan di Kota Palangka Raya Tahun 2014

85

Gambar V.8 Tenaga Bidan Berdasarkan Pendidikan di Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2014

85

Gambar V.9 Rekapitulasi Tenaga Bdian Berdasarkan Status Kepegawaian di Lingkungan Dinas Kesehatan Tahun 2014

(12)

Daftar Gambar

xii

Gambar V.11 Rekapitulasi Tenaga Perawat dan Tekniker Gigi Kota Palangka Raya Tahun 2014

87

Gambar V.12 Distribusi Tenaga Kefarmasian berdasarkan Pendidikan dan Jenis Kelamin Kota Palangka Raya Tahun 2014

87

Gambar V.13 Distribusi Tenaga Kesehatan Masyarakat di Kota Palangka Raya Tahun 2014

89

Gambar V.14 Pemberian Lisensi/Ijin Praktek kepada Tenaga Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2012-2014

96

Gambar V.15 Proporsi Sumber Pembiayaan Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2014

98

Gambar V.16 Proporsi APBD Kesehatan terhadap Total APBD Kota Palangka Raya Tahun 2007–2014

98

Gambar V.17 Biaya Operasional Puskesmas (APBD) Di Kota Palangka Raya Tahun 2007–2014

99

Gambar V.18 Prosentase Dana Operasional Puskesmas Terhadap Total APBD Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2008 – 2014

99

Gambar V.19 Biaya Operasional Kesehatan (BOK) Puskesmas Di Kota Palangka Raya Tahun 2010 – 2014

100

Gambar V.20 Alokasi Dana Pengadaan Obat Pelayanan Kesehatan Dasar Di Kota Palangka Raya Tahun 2008 – 2014

101

Gambar V.21 Alokasi Dana Untuk Alat Kesehatan Di Kota Palangka Raya Tahun 2007 – 2014

(13)

A. LATAR BELAKANG

Kesehatan menjadi salah satu tolok ukur kemajuan bangsa di samping tingkat pendidikan dan perekonomian, sebagaimana tercakup dalam Human Development Index (HDI). Alasan tersebut tidak berlebihan jika kesehatan ditempatkan sebagai salah satu kebutuhan terpenting bagi manusia. Tanpa sehat, manusia mustahil dapat melakukan berbagai kegiatan produktif khususnya dalam pembangunan generasi mendatang yang lebih berkualitas.

“Kesehatan bukan segala-galanya, namun tanpa kesehatan segala-galanya tidak ada artinya” (Health is not everything, but everything without health is nothing - WHO).

Namun untuk menjadikan masyarakat sehat dan kuat, bukan hanya menjadi tanggungjawab dinas kesehatan semata. Faktor sosial budaya, demografi, dan peran aktif masyarakat, sangat berperan untuk menciptakan kawasan sehat dan mengatasi masalah kesehatan yang ada. Sehat dan sakitnya masyarakat Kota Palangka Raya tergantung kembali kepada semua individu, adanya kesadaran semua pihak baik masyarakat dan dinas kesehatan serta sektor terkait adalah kunci terakhir yang mampu membuka pintu Palangka Raya Sehat.

Dalam Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Maka tidak diragukan lagi ada keterkaitan antara pembangunan dan eksistensi sebuah negara dengan tingkat kualitas SDM yang tersedia. Pembangunan Kesehatan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Upaya pemeliharaan kesehatan masyarakat dilaksanakan melalui program peningkatan perilaku sehat, pemeliharaan lingkungan sehat, pelayanan kesehatan masyarakat yang berhasil guna, didukung oleh sistem pengamatan,

(14)

Bab I

2 Dalam era desentralisasi dimana terjadi pelimpahan kewenangan kepada pemerintah daerah membawa dampak dalam pembangunan kesehatan. Menunjukkan dukungan besar terhadap pembangunan kesehatan, berkomitmen tinggi, serta memiliki kerjasama yang baik dalam mensukseskan program-program kesehatan di wilayah, merupakan tanggungjawab pemerintah daerah dalam mewujudkan masyarakat sehat. Jika sebelumnya pembangunan kesehatan lebih kepada upaya-upaya kuratif dan rehabilitatif, maka sekarang diarahkan kepada upaya-upaya preventif dan promotif yang proaktif dengan pendekatan kewilayahan. Setiap wilayah kabupaten dan kota dengan karakterisitik dan masalah khas daerah memerlukan perencanaan pembangunan kesehatan yang khas daerah. Oleh sebab itu keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja keras sektor kesehatan saja, tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja keras serta kontribusi positif pelbagai sektor pembangunan lainnya. Semua kebijakan pembangunan yang sedang dan atau akan diselenggarakan hendaknya memiliki wawasan kesehatan, artinya semua program pembangunan harus memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan lingkungan sehat dan perilaku sehat.

Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut diperlukan indikator, antara lain Indikator Indonesia Sehat dan Indikator Kinerja dari Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan. Indikator-indikator tersebut meliputi (1) Indikator Derajat Kesehatan yang terdiri atas indikator Mortalitas, Morbiditas, dan Status gizi; (2) Indikator untuk Keadaan lingkungan, Perilaku Hidup, Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan, serta (3) Indikator untuk Pelayanan Kesehatan, Sumberdaya Kesehatan, Manajemen Kesehatan, dan Kontribusi sektor terkait.

(15)

Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan hasil pemantauan terhadap pencapaian Kota Sehat dan hasil kinerja dari penyelenggaraan pelayanan minimal adalah Profil Kesehatan Kota. Dengan demikian dapat dikatakan Profil Kesehatan Kota pada intinya berisi berbagai data/informasi yang menggambarkan tingkat pencapaian Kota Sehat dan Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan.

Profil Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2014 ini mencoba memberikan gambaran pencapaian pembangunan kesehatan dan kinerja pembangunan kesehatan selama tahun 2014. Melalui Profil Kesehatan Kota, diharapkan semua pihak/instansi terkait dapat memanfaatkan dan memberikan solusi terhadap setiap masalah yang dihadapi.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

1. Maksud

Penyusunan Profil Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2014 ini dimaksudkan untuk memantapkan dan mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan, sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam penentuan kebijakan pelaksanaan upaya kesehatan.

2. Tujuan

a. Tujuan Umum

Memberikan informasi tentang program-program pembangunan kesehatan, pencapaian pembangunan kesehatan dan kinerja bidang kesehatan.

b. Tujuan Khusus

- Mengetahui data tentang geografi, demografi, sosial dan ekonomi Kota Palangka Raya.

- Mengetahui situasi derajat kesehatan masyarakat di Kota Palangka Raya

- Mengetahui situasi upaya kesehatan dari setiap program kesehatan di Kota Palangka Raya

- Mengetahui situasi sumber daya kesehatan di Kota Palangka Raya

(16)

Bab I

4

C. SISTEMATIKA PENULISAN

Bab I. Pendahuluan yang meliputi tentang Latar Belakang, Maksud dan Tujuan Penulisan, serta Sistematika Penyajian.

Bab II. Gambaran Umum Kota Palangka Raya yang meliputi keadaan geografi administratif dan informasi umum lainnya. Selain itu bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor lainnya seperti demografi, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan.

Bab III. Situasi Derajat Kesehatan yang meliputi indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan, dan angka status gizi masyarakat.

Bab IV. Situasi Upaya Kesehatan, meliputi pelayanan kesehatan, pemberantasan penyakit, pembinaan kesehatan lingkungan, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alkes, serta pelayanan kesehatan dalam situasi bencana.

Bab V. Situasi Sumber Daya Kesehatan, meliputi sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

(17)

R

N U

U

A. GEOGRAFIS

Palangka Raya merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Secara geografis terletak 113030’ – 114007’ Bujur Timur dan 1035’ – 2024’ Lintang Selatan. Secara administrative wilayah Palangka Raya terbagi menjadi 5 (lima)

kecamatan, dan 30 kelurahan yaitu : Kecamatan Pahandut dengan 6 kelurahan,

Kecamatan Bukit Batu dengan 7 kelurahan, Kecamatan Jekan Raya sebanyak 6

kelurahan, Kecamatan Sabangau sebanyak 4 kelurahan dan Kecamatan

Rakumpit, dengan 7 kelurahan.

Batas-batas wilayah adalah :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Gunung Mas.

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Pulang Pisau.

3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kapuas.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Katingan

Kondisi daerah berupa dataran rendah berpasir, sebagian besar terdiri dari

sungai, danau serta rawa. Beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata 2.300

mm3/tahun, temperatur udara berkisar antara 270 - 31 0 C dan kelembaban antara 70 – 90 %.

B. DEMOGRAFIS

1. Kepadatan dan Sebaran Penduduk

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palangka Raya, jumlah

penduduk tahun 2013 sebesar 244.496 jiwa, terdiri dari 124.996 laki-laki dan

119.500 perempuan. Dibandingkan dengan tahun 2012, terjadi pertambahan

jumlah penduduk sebesar 14.897 jiwa atau meningkat dengan rerata

pertumbuhan penduduk per tahun sebesar 6,5%. Gambar II.1 berikut

(18)

Bab II

66

Gambar II.1

Jumlah Penduduk Kota Palangka Raya Tahun 2005 – 2013

183,251 182,802 184,279 191,014

200,998 220,962

224,663 229,599

244,496

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Tah

un

Sumber : BPS Kota Palangka Raya Tahun 2013

Luas wilayah Kota Palangka Raya adalah 2.678,51 km2, dengan jumlah penduduk sebesar 244.496 jiwa maka rata-rata kepadatan penduduk adalah 91 jiwa/km2. Kepadatan tertinggi adalah di Kecamatan Pahandut yaitu 729,99 jiwa/ km2, dan terendah Kecamatan Rakumpit dengan rata-rata 3,02 jiwa/ km2.

(19)

Gambar II.2

Peta Kepadatan Penduduk Kota Palangka Raya Tahun 2013

0

2. Penduduk Menurut Golongan Umur dan Jenis Kelamin

Komposisi penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin, menunjukan penduduk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan terbanyak pada golongan umur15 - 19 tahun dan 20 – 24 tahun. Penduduk usia muda (0 – 14 tahun) sebesar : 64.312 jiwa (26,3%), usia produktif (15 – 64 tahun) sebesar 174.067 jiwa (71,19%) dan usia > 65 tahun sebesar 6.117 jiwa (2,5%). Gambaran komposisi penduduk seperti gambar II.3.

Rasio jenis kelamin merupakan perbandingan jumlah penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan. Data rasio jenis kelamin berguna untuk perencanaan pembangunan berwawasan gender. Pada tahun 2013, rasio jenis kelamin penduduk Kota Palangka Raya sebesar 104,60, yang berarti jumlah penduduk laki-laki 4,60% lebih banyak dibanding jumlah penduduk perempuan atau setiap 100 penduduk perempuan terdapat 104,66 penduduk laki-laki.

Komposisi penduduk menurut piramida penduduk merupakan gambaran struktur penduduk usia muda, dewasa dan tua. Dasar piramida menunjukan jumlah penduduk, sedangkan badan piramida menunjukan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan berdasarkan golongan umur. Struktur ini dapat menjadi dasar untuk kebijakan kependudukan, social, budaya dan ekonomi.

Piramida penduduk Kota Palangka Raya menunjukan struktur penduduk 3 jiwa/km2

24 jiwa/km2 21 jiwa/km2

324 jiwa/km 2 658 jiwa/km 2 Densitas 2010 :

< 20 jiwa/km2 20 - 50 jiwa/km2 301 - 600 jiwa/km2 601 Legenda :

KEPADATAN PENDUDUK KOTA PALANGKA AYA TAHUN 2 9

(20)

Bab II

88 kelahiran. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah Kota Palangka Raya dalam menyediakan layanan kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja yang semakin besar. Sedangkan puncak piramida menunjukan umur harapan hidup penduduk semakin tinggi dan harapan untuk hidup sampai usia lebih 65 tahun semakin besar.

Gambar II.3

C. SOSI AL EKON OM I

1. Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)

Komposisi penduduk menurut golongan umur digunakan untuk mengetahui produktivitas penduduk yaitu rasio beban ketergantungan atau Dependency Ratio. Rasio beban ketergantungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara banyaknya penduduk tidak produktif (umur < 15 tahun dan > 65 tahun) dengan penduduk umur produktif (umur 15 – 64 tahun). Rasio beban ketergantungan ini menunjukan dinamika beban tanggungan umur tidak produktif terhadap umur produktif. Semakin tinggi rasio beban tanggungan berarti semakin tinggi pula jumlah penduduk tidak produktif yang ditanggung penduduk produktif.

JUMLAH PENDUDUK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN KOTAPALANGKA RAYA TAHUN 2013

Sumber : BPS Kota Palangka Raya 2013

0,755 0,837 1.406 2.344 4.210 5.883 7.515 9.045 10.419 11.207 11.342 14.972 12.150 10.131 10.632 12.128 0.929 0.867 1.323 1.883 3.383 4.971 6.707 8.489 9.807 10.776 11.131 14.593 13.240 9.929 9.885 11.587 75+ 70-74 65-69 60-64 55-59 50-54 45-49 40-44 35-39 30-34 25-29 20-24 15-19 10-14 5-09 0-04 0 2 4 6 8 10 12 14 Thousands

0 2 4 6 8 10 12 14 16

(21)

Tabel II.1

Jumlah Penduduk dan Angka Beban Ketergantungan

Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Produktif dan Tidak Produktif Kota Palangka Raya Tahun 2014

No Umur Jenis Kelamin %

Laki-laki Perempuan Jumlah

1. 0 – 14 tahun 32.911 31.401 64.312 32,6

2. 15 – 64 tahun 89.087 84.980 174.067 69,8

3. ≥ 65 tahun 2.998 3.119 6.117 2,5

Jumlah 124.996 119.500 244.496 100,00 Angka Beban Tanggungan (%) 40,31 40,62 40,46

Sumber : BPS Kota Palangka Raya, Tahun 2013

Komposisi penduduk Kota Palangka Raya menurut kelompok umur menunjukan bahwa penduduk usia muda (0-14 tahun) sebesar 26,30%, usia produktif (15 – 65 tahun) sebesar 71,19 % dan usia tua (≥ 65 tahun) sebesar 2,5%. Angka beban tanggungan sebesar 40,46%, hal ini menunjukan bahwa 100 penduduk Palangka Raya usia produktif akan menanggung 40,46 penduduk yang belum/sudah tidak produktif lagi. Jika dibandingkan antar jenis kelamin maka angka beban tanggungan perempuan sediikit lebih besar jika dibandingkan dengan angka beban tanggungan laki-laki, yaitu 40,62% perempuan dan 40,31% laki-laki.

2. Tingkat Pendidikan

(22)

Bab II

1010

Tabel II.2

Persentase Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan Menurut Jenis Kelamin Berusia 10 Tahun Keatas

Kota Palangka Raya Tahun 2014

No Tingkat Pendidikan

Persentase

Laki-laki Perempuan Jumlah

1. Tidak memiliki ijazah SD 6,56 9,20 7,85

2. SD/MI 19,08 21,65 20,34

3. SMP/MTs 18,10 16,64 17,38

4. SMA/SMK/MA 35,84 34,78 35,32

5. AK/Diploma 2,58 4,10 3,32

6. Universitas 12,03 8,33 10,2

Jumlah 94,19 94,7 85,41

Sumber : BPS Kota Palangka Raya

Kemampuan membaca dan menulis merupakan keterampilan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk untuk mencapai kesejahteraannya. Kemampuan baca tulis ini tercermin dari Angka Melek huruf, yaitu persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis. Pada wanita diharapkan angka melek huruf mempengaruhi dalam pemilihan alternatif kesehatan sehingga Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi dapat menurun. Di Kota Palangka Raya Angka Melek Huruf tahun 2014 sebesar 92,14%, angka ini lebih tinggi dibandingkan Angka Melek Huruf Nasional sebanyak 88,25%.

Gambar II.4

Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Yang Melek Huruf Menurut Jenis Kelamin Kota Palangka Raya Tahun 2009 - 2014

82 84 86 88 9092 94 96 98

2009 2010 2011 2012 2013 2014

88,5

97,7

89,69

94,91 94,91

93,43

87,3

97,4

89,16 89,18 89,03 90,79

L P

(23)

D . BUD AYA D AN LI N GKUN GAN

1. Budaya Masyarakat

Budaya masyarakat Kota Palangka Raya dipengaruhi oleh karakteristik penduduk, adat istiadat daerah, serta agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karakteristik penduduk Kota Palangka Raya terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain ; Suku Dayak (penduduk asli), dan beberapa suku pendatang yaitu Suku Banjar (dari Kalimantan Selatan), Suku Jawa, Suku Batak, Suku Toraja, Suku Bugis, Suku Madura, Suku Sunda , Suku Menado, Suku Minang,dll. Keberagaman suku inilah yang memperkaya budaya masyarakat di Kota Palangka Raya.

Budaya masyarakat dari Suku Dayak sebagai penduduk asli, ada yang mempunyai keterkaitan dengan kewaspadaan dini terhadap bencana. Diantaranya perilaku masyarakat yang diyakini secara turun temurun dapat mengetahui tanda-tanda bencana alam akan datang. Hal ini yang membantu tidak jatuh korban berlebihan, kepercayaan tersebut antara lain :

 Apabila akar pohon kayu-kayu yang menjalar mulai tumbuh akar muda, menandakan akan banjir dan musim hujan

 Kalau ikan biawan (nama jenis ikan) mulai bertelur, pertanda akan terjadi musim kemarau panjang, sehingga masyarakat dapat mempersiapkan bahan makanan serta hal lain menghadapi musim kemarau panjang tersebut

 Apabila terdapat jamur air disebut “kulat danum” tumbuh diatas batang kayu yang terdampar, suatu pertanda bahwa permukaan air akan naik dan kemungkinan banjir. Pertanda ini diyakini oleh penduduk yang bertempat tinggal di daerah aliran sungai bahkan di tepi sungai (rumah terapung dan disebut “lanting”), atau di rumah panggung dimana dibawah panggung adalah rawa-rawa

(24)

Bab II

1212

2. Lingkungan Sosial

Lingkungan di Kota Palangka Raya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain budaya masyarakat dan perkembangan Kota Palangka Raya sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Sebagian masyarakat yang masih senang tinggal di daerah aliran sungai dengan rumah panggung dari kayu, mempunyai kebiasaan membuang sampah langsung dibawah rumah panggung. Hal ini akan memicu munculnya masalah kesehatan, seperti rawan sebagai perindukan vektor saat musim hujan, dan rawan kebakaran di musim kemarau.

Sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya sangat potensial di bidang perhotelan, jasa dan perdagangan. Karena itu perilaku dan gaya hidup masyarakat di perkotaan akan cenderung meniru gaya hidup metropolis. Perubahan gaya hidup, perubahan pola makan, dan pola pergaulan, apabila tidak dikendalikan akan memicu munculnya masalah kesehatan. Penyakit menular, penyakit degeneratif, dan masalah gizi ganda (kurang gizi dan gizi lebih) akan muncul sebagai dampak perubahan tersebut.

(25)

DER

ESE

Derajat kesehatan masyarakat dapat dinilai dan dilihat dari beberapa indikator, antara lain adalah angka kematian, angka kesakitan dan status gizi masyarakat. Menurut Hendrick L. Blum, seorang ahli kesehatan masyarakat, derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor yang saling berinteraksi yaitu : faktor keturunan (Herediter), faktor perilaku (behavior), faktor lingkungan (environment) dan faktorpelayanan kesehatan.

Derajat kesehatan masyarakat Kota Palangka Raya yang optimal, akan dapat dicapai dengan memperhatikan beberapa indikator penting yang menjadi acuan antara lain : angka kematian, angka kesakitan, status gizi, dan umur harapan hidup.

A. ANGKA KEMATIAN ( MORTALITAS)

Angka Kematian (Mortalitas) merupakan salah satu dari tiga komponen demografi selain fertilitas dan migrasi yang dapat mempengaruhi jumlah dan komposisi penduduk. Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, baik oleh penyakit maupun sebab lain. Indikator mortalitas yang umum dipakai adalah: Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Balita (AKABA), Umur Harapan Hidup (UHH). Sebelum dihitung menggunakan rumus mortalitas, jumlah nominal kematian (bayi, ibu, balita) di Kota Palangka Raya Tahun 2014 seperti tampak pada gambar III.1 berikut ini

Gambar III.1.

Jumlah Kematian (bayi, Ibu, balita) di Kota Palangka Raya Tahun 2011 – 2014

(26)

Bab III

14

1. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka Kematian Bayi didefenisikan sebagai jumlah bayi yang meninggal setiap 1000 kelahiran hidup. Menurunnya angka kematian bayi merupakan indikator yang paling penting dalam menentukan status kesehatan masyarakat karena indikator ini mencerminkan pelayanan kesehatan dasar yang paling awal dan juga menentukan kualitas pelayanan kebidanan yang juga sangat menentukan kualitas generasi yang akan datang.

Angka kematian bayi di Kota Palangka Raya pada tahun 2014 tercatat 11,1/1000KH. Penyebab kematian antara lain adalah : Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR), asphyxia berat, Sepsis, lahir mati (IUFD), prematus, RDS berat, dan neonatal infeksi. Angka tersebut sedikit menurun dibanding tahun 2013 tercatat 13,3/1000 KH

Gambar III.2.

AKB di Kota Palangka Raya Tahun 2005 – 2014

Sumber : Bidang Yankes

(27)

2. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka Kematian Ibu didefenisikan sebagai jumlah ibu yang meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas setiap 100.000 kelahiran hidup. Sama halnya dengan angka kematian bayi, angka kematian ibu (AKI) juga merupakan indikator yang sangat penting dalam menentukan status kesehatan masyarakat. Kedua indikator ini menjadi primadona dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian maternal di Kota Palangka Raya pada tahun 2014 adalah 72,6/100.000KH, dengan penyebab kematian ibu adalah Post Partum, Eklamsi, dan syok hipopelemik akibat perdarahan. Angka tersebut mengalami penurunan dibanding tahun 2013 yang mencapai 53,9/100.000 KH

Gambar III.3.

AKI di Kota Palangka Raya Tahun 2005 – 2014

!

" # $" " # $ %

&!$&9

"! !$&

#! !

# " " $#

#9$# %'$ ( 7 " $) %!$#

&8,7 45,6 45,2 35

32 25 25 25 25

0 50 100 150 200 250

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

pe

r 1

00

.00

0 K

H

AKI Renstra

Sumber : Bidang Yankes

Walaupun angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan target Angka Kematian Ibu (AKI) nasional dalam rangka pencapaian MDGs pada tahun 2015 sebesar 102/100.000 KH, dan Angka Kematian Ibu (AKI) berdasarkan target Renstra sebesar 25/100.000 KH, namum peningkatan angka kematian ibu mencerminkan mutu pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil, ibu bersalin dan melahirkan, memerlukan perhatian dari pengelola program dan pemerintah daerah.

(28)

Bab III

16

3. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka Kematian Balita di Kota Palangka Raya tahun 2014 mencapai 0,73/1000KH, menurun jika dibandingkan tahun 2013 mencapai 14,6/1000KH, tahun 2012 tercatat 10,7/1000 KH, dan tahun 2011 mencapai 11,39/1000 KH. Penyebab kematian balita pada tahun 2013 di Kota Palangka Raya adalah akibat infeksi penyakit menular, kecelakaan, dan lain-lain.

Gambar III.4.

AKABA di Kota Palangka Raya Tahun 2008 – 2014

0,607 0,445 1,6

11,39 10,7

14,6

0,73

0,149 0,55 0,42 0,35 0,35 0,35 0,35

0 5 10 15 20

2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Pe

r1

00

0K

H

AKABA Renstra

Sumber : Bidang Yankes

Walaupun angka tersebut lebih rendah dari target MDGs pada tahun 2015 AKABA sebesar 32/1000 KH, namun ketrampilan tenaga kesehatan dan kompetensi tehnis dalam pelayanan kesehatan anak yang berkualitas perlu mendapat perhatian, juga penyuluhan kepada ibu balita tentang pola asuh perlu ditingkatkan.

B. ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)

Morbiditas adalah angka kesakitan, baik insidens maupun prevalens suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan derajat kesehatan masyarakat di suatu wilayah. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit pada suatu populasi dalam kurun waktu tertentu.

1. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas

(29)

tidak menular juga telah mulai menunjukan peningkatan seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Masih tingginya penderita penyakit menular dan mulai meningkatnya beberapa penyakit tidak menular merupakan beban ganda (double burden) masalah kesehatan. Penyakit tidak menular yang masuk dalam 10 besar penyakit terbanyak di puskesmas yaitu hipertensi pada urutan kedua, Gastritis urutan ketiga, dan Rheumateroid Arthritis menduduki urutan 8. Tabel III.1. berikut menggambarkan 10 besar penyakit terbanyak yang dilaporkan oleh puskesmas di Kota Palangka Raya pada tahun 2014.

Tabel III.1.

Pola 10 Besar Penyakit di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2014

No Nama Penyakit Jml. Kasus

1. I S P A 37.682

2. Hipertensi 13.147

3. Gastritis 7.022

4. Pharingitis 5.221

5. Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal 4.007

6. Peny.lain pada Sal. Nafas Bag. Atas 4.006

7. Dermatitis Kontak Alergi 3.702

8. Rheumateroid Arthritis 3.336

9. Diare 3.281

10. Pebris 3.197

Sumber : SP2TP

2. Penyakit Menular

Pemberantasan penyakit menular merupakan bagian integral dari pembangunan kesehatan, serta simpul dari jejaring internasional pemberantasan penyakit menular. Pemberantasan penyakit menular di Kota Palangka Raya terbagi dalam pemberantasan penyakit bersumber binatang, pemberantasan penyakit menular langsung dan pemberantasan penyakit akibat imunisasi.

2.1. Penyakit Menular Bersumber Binatang 2.1.1. Malaria

(30)

Bab III

18 dalam sel darah merah manusia yang ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina. Menyerang semua golongan umur (bayi hingga dewasa) dan semua jenis kelamin.

Sejak tahun 2010 Kota Palangka Raya menggunakan indikator

Annual Parasite Incidence (API). Jumlah penderita malaria di Kota Palangka Raya yang berobat ke sarana kesehatan seperti puskesmas dan puskesmas pembantu pada tahun pada tahun 2014 sebanyak 1.773 (suspect) dan hasil laboratorium positif sebanyak 81. Angka ini naik dibanding tahun 2012 sebanyak 1.102 penderita dengan API 5,0‰. Dan tahun 2011 sebesar 5,3‰. Gambar III.4 berikut menunjukan kelurahan

endemis malaria tahun 2014.

Gambar III.5

Peta Daerah Endemis Malaria Menurut Kelurahan Di Kota Palangka Raya Tahun 2014

2.1.2. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh

virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes Aepyty. Penyakit DBD cenderung meningkat dan menyebar luas dan seringkali disertai

kejadian luar biasa (KLB), sehingga menimbulkan keresahan di

masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan

7 9

3 3

1 1

27 10

14

20

29 23

16

22 18

28 19

21 17

etaK lur hanEndemisMalaria

KotaPalangkaRaya ahun2014

(31)
[image:31.595.86.526.135.316.2]

kematian. Penderita DBD di Kota Palangka Raya dalam beberapa tahun terakhir disertai dengan kematian, sebagaimana tabel III.2. berikut.

Tabel III.2

Indikator DBD Kota Palangka Raya Tahun 2009 - 2014

Indikator DBD

Tahun

Standar

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Angka Kesakitan / IR (100.000 pddk)

61,2 106,2 10 89 40,9 97,8 50

Angka Kematian CFR (%)

3,3 7,2 4,5 1,5 3,2 0,4 < 1%

Angka Bebas Jentik/ABJ (%)

97,9 92,2 85,6 85,6 86,7 85,6 95%

Sumber : Bidang PMK

Tabel III.2. menunjukan bahwa kasus DBD sejak tahun 2009 menunjukan peningkatan. Pada tahun 2014 kasus DBD sebanyak 239 kasus dengan angka kesakitan 97,8/100.000 penduduk, meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2013 kasus DBD sebanyak 94 kasus dengan angka kesakitan sebesar 40,9/100.000 penduduk, dengan angka kematian 3,2%. Jumlah kasus DBD tahun 2012 sebanyak 200 penderita dengan angka kesakitan sebesar 89/100.000 penduduk. Angka kesakitan ini berhasil ditekan dibawah standar yang ditetapkan yaitu 50/100.000 penduduk dengan angka kematian (CFR) sebesar 1,5%.

(32)
[image:32.595.241.446.189.378.2]

Bab III

20 yang lebih gencar sehingga menciptakan suatu gebrakan di masyarakat dalam PSN, diharapkan akan berhasil menurunkan kasus DBD secara signifikan

Gambar III.6.

Kasus DBD telah menyebar di 15 kelurahan dari 30 kelurahan yang ada; terdiri 7 kelurahan endemis dan 8 kelurahan sporadis. Kelurahan yang berpotensi untuk tertular DBD pada tahun 2014 sebanyak 1 kecamatan. Penularan umumnya terjadi di daerah padat penduduk dengan mobilitas cukup tinggi.

2.1.3. Rabies

Rabies merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan oleh hewan berdarah panas tersangka rabies seperti anjing, kucing dan monyet. Penyakit ini merupakan penyakit zoonosa yang terpenting di Indonesia karena bila sudah menunjukan gejala klinis pada manusia ataupun hewan yang selalu berakhir dengan kematian, sehingga menimbulkan rasa cemas dan ketakutan bagi orang-orang yang terkena gigitan dan kekhawatiran serta keresahan bagi masyarakat pada umumnya. Pemberian vaksin pada manusia secara dini pasca gigitan dapat mencegah kematian.

Kasus gigitan oleh hewan tersangka rabies yang dilaporkan oleh Puskesmas Bukit Hindu sebagai Rabies Center. Tabel III.3

6 1

5 2

24 0

15 8

7 9

25 13

4 3

11 12

27 10

14

20

29 26

23 16

22 18

28 19

21 17

Peta Kelurahan Endemis DBD Kota PalangkaRaya Tahun 2014

(33)
[image:33.595.146.493.177.336.2]

menggambarkan specimen positif pada hewan tersangka rabies tahun 2014.

Gambar III.7.

Jumlah Spesimen Positif pada Hewan Penular Rabies Di Kota Palangka Raya Tahun 2004-2014

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 16

48

21

7 9 2 14

26 83 36 28 Sp es im en ( +)

Sumber : Bidang PMK

Pada tahun 2014 dilaporkan 247 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), dan tahun 2013 dilaporkan 862 kasus dimana sebanyak 287 kasus (33,3%) berasal dari luar wilayah Kota Palangka Raya dan mendapat pelayanan vaksin anti rabies (VAR). Penderita yang mendapat vaksinasi sebanyak 613 (71,1%). Gambar III.7 berikut menunjukan kasus gigitan hewan tersangka Rabies selama tahun 2004-2014.

Gambar III.8.

Korban Gigitan Hewan Penular Rabies Kota Palangka Raya Tahun 2004-2014

0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

203 362 324 309 360

456 744 894 1143 862 247

124 252 194 171 199 251

[image:33.595.122.499.558.745.2]
(34)

Bab III

22

2.2. Penyakit Menular Langsung 2.2.1. TB. Paru

Tuberculosis atau sering disebut TB adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang terinfeksi basil TB. Umumnya menyerang organ paru, namun dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. Bersama dengan Malaria dan HIV / AIDS, TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs.

Penemuan penderita merupakan langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Upaya penemuan penderita dilakukan secara pasif dengan promosi aktif, artinya penjaringan penderita dilakukan di unit pelayanan kesehatan pada saat penderita datang untuk berobat didukung dengan penyuluhan aktif. Keberhasilan pengobatan TB Paru diukur antara lain melalui penemuan dan pengobatan penderita dan tingkat kesembuhan penderita yang diobati dengan menggunakan strategi DOTS.

Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalahCase Detection Rate (CDR) yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Target minimal CDR yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan adalah 73%. Berikut adalah penemuan kasus (CDR) sejak tahun 2009-2014. Di Kota Palangka Raya jumlah penderita TB paru yang berobat di unit pelayanan kesehatan (UPK) serta mendapat pengobatan yang sesuai standar, pada tahun 2014 sebanyak 74 kasus (CDR 48%), dan pada tahun 2013 sebanyak 117 kasus (CDR 25%) dengan prevalensi 53,1/100.000 penduduk.

Gambar III.9.

Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate) TB Di Kota Palangka Raya Tahun 2009-2014

23,3 31,3 25,6 27,6 25

48 Target CDR; 73

0 20 40 60 80

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Pe

rse

nt

as

e

(35)

Selain CDR, pada tahun 2014 terdapat satu indikator lagi untuk mengetahui penganggulangan kasus TB Paru, yaitu Case Notification Rate(CNR) yaitu jumlah kasus baru TB yang ditemukan dan diobati terhadap 100.000 penduduk. Pada Tahun 2014 CNR seluruh kasus TB mencapai 62,99/100.000 penduduk, dan CNR untuk kasus baru mencapai 30,27/100.000 penduduk. Menurut gender penderita TB Paru, CNR laki-laki untuk selurug kasus mencapai 84/100.000 penduduk, CNR perempuan mencapai 41/100.000 penduduk. Untuk kasus baru TB Paru, CNR laki-laki mencapai 43,2/100.000 penduduk dan CNR wanita mencapai 16,74%.

[image:35.595.147.509.458.613.2]

Keberhasilan pelaksanaan penanggulangan TB diukur dari pencapaian angka kesembuhan penderita. Angka kesembuhan ini menunjukan persentase pasien baru TB dengan BTA (+) yang telah berhasil menyelesaikan pengobatan baik sembuh maupun pengobatan lengkap (success rate). Angka kesuksesan tahun 2013 sebesar 76,6%. Berikut adalahsuccess rateKota Palangka Raya tahun 2010 – 2013

Gambar III.10.

Succes Rate TB Di Kota Palangka Raya Tahun 2010-2014

86,2 89,3

69,5 76,6 79,07

Target SR; 85

0 20 40 60 80 100

2010 2011 2012 2013 2014

Pe

rse

nt

as

e

2.2.2. Kusta

Kusta adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh

Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Penyakit ini dapat menyebabkan stigma sosial di masyarakat akibat cacat yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Upaya pelayanan

(36)

Bab III

24 penderita yang datang ke pelayanan kesehatan dengan keluhan atau pernah kontak erat dengan penderita.

Tahun tahun 2014 kasus baru type Multi Basiler sebanyak 2 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NDCR) sebesar 0,82/100.000 penduduk. Angka tersebut naik jika dibanding tahun 2013 kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 1 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NDCR) sebesar 0,44/100.000 penduduk. Tahun 2012 dengan kasus baru sebanyak 7 kasus dengan Newly Case Detection Rate (NDCR)

sebesar 3,12/100.000 penduduk dan tahun 2011 dengan penderita sebanyak 10 kasus dan NDCR sebesar 4,53/100.000 penduduk.

Tingkat penularan di masyarakat menggunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) diantara pederita baru. Di Kota Palangka Raya kusta ditemukan pada penderita usia ≥ 15 tahun. Sedangkan keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru diukur dari proporsi cacat tingkat II yang pada tahun 2014 sebesar 0%.

2.2.3. Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS

Infeksi menular seksual merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup menonjol disebagian wilayah dunia. Kegagalan dalam mendiagnosis dan memberikan pengobatan pada stadium dini dapat menimbulkan komplikasi serius dan berbagai gejala sisa lainnya, seperti infertilitas, infeksi baik pada neonatus maupun pada bayi.

Penderita penyakit infeksi menular seksual yang dilaporkan di Kota Palangka Raya tahun 2014 sebanyak 376 penderita. Penderita terbanyak adalah laki-laki sebesar 67,5%. Sedangkan penderita HIV/AIDS dilaporkan dari RSUD dr Dorys Sylvanus sebanyak 29 penderita untuk HIV, dan 11 penderita untuk AIDS.

2.2.4. Pneumonia

Pneumonia merupakan infeksi akut yang menyerang jaringan paru (alveoli) yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau terhirup udara yang tercemar. Kelompok rentan terserang pneumonia adalah balita, usia lanjut dan yang memiliki masalah kesehatan seperti gangguan malnutrisi dan gangguan imunologi.

(37)
[image:37.595.174.455.216.302.2]

pneumonia sangat sedikit sehingga ISPA dikenal sebagai the forgotten pandemic. Oleh karena itu dunia memasukan pneumonia kedalam komitmen global MDGs untuk ditanggulangi bersama. Diperkirakan 10% dari seluruh balita pernah menderita pneumonia.

Gambar III.11.

Proporsi Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Kota Palangka Raya Tahun 2014

Laki-laki 40% Perempuan

60%

Sumber : Bidang PMK

Secara nasional penderita pnemonia balita yang ditemukan dan diobati ditargetkan sebesar 86%. Cakupan penemuan pneumonia balita yang ditemukan dan diobati sesuai dengan standar pada pelayanan dasar (puskesmas) pada tahun 2014 sebesar 5,23% dengan jumlah kasus sebanyak 120 penderita. Gambar III.12 berikut menunjukan persentase penemuan dan pengobatan penderita pneumonia balita dari tahun 2006 -2014.

Gambar III.12.

Persentase Penemuan Penderita Pneumonia Balita Di Kota Palangka Raya Tahun 2006-2014

14,6 7,7

21,5

9,7 9,2 7,8 9,5 8,8 5,23 Target,

86

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

P

e

n

e

m

u

a

n

(38)

Bab III

26 Berbagai kendala yang ditemui dalam penanggulangan ISPA pneumonia adalah cara penularannya yang lintas udara (air borne desease), sulitnya mengidentifikasi gejala pneumonia oleh masyarakat serta masih minimnya pelatihan tenaga kesehatan dalam tatalaksana penderita pneumonia balita (MTBS).

2.2.5. Diare

Diare merupakan penyakit ketika terjadi perubahan konsistensi feses dan peningkatan frekuensi buang air besar. Diare merupakan penyakit yang potensial menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Kejadian diare dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain : faktor lingkungan, gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat. Secara proporsional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.

Upaya menurunkan angka kesakitan diare di Kota Palangka Raya adalah tatalaksana penderita diare seperti melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada penderita diare balita, ketersediaan logistik serta pengamatan terhadap peningkatan kasus diare.

[image:38.595.219.439.566.705.2]

Penderita Diare yang berobat dan ditangani di Puskesmas pada tahun 2014 sebanyak 3.281 dengan angka kesakitan diare sebesar 214/1000 penduduk. Sedangkan proporsi penderita terbanyak pada kelompok perempuan 64,6%, sebagaimana gambar III.13

Gambar III.13.

Proporsi Penderita Diare Menurut Jenis Kelamin Kota Palangka Raya Tahun 2014

Laki-laki 1629 49,65% Perempuan

1652 50,35%

(39)

2.3. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Penyakit menular yang diupayakan pencegahannya melalui program imunisasi di Indonesia ada 7 (tujuh) jenis penyakit, yaitu Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis, TBC, Polio dan Campak. Di Kota Palangka Raya pada tahun 2013 penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang dilaporkan adalah Tetanus Neonatorum dan Campak klinis.

2.3.1. Tetanus Neonatorum

Penyakit tetanus disebabkan oleh Clostridium tetani, masuk ke tubuh melalui luka. Penyakit ini umumnya menginfeksi bayi baru lahir pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril atau perawatan tali pusat dengan ramuan tradisional yang terkontaminasi. Dapat menyebabkan kematian jika penderita terlambat mendapat pertolongan. Kasus Tetanus Neonatorum dilaporkan sebanyak 0 (nol) atau tidak ada kasus pada tahun 2014.

2.3.2. Campak

Penyakit Campak disebabkan oleh virus campak atau biasa disebut virus measles. Virus campak termasuk genus Morbilivirus familia Paramyxoviridae. Penyakit ini sangat menular dan akut. Sebagian besar menyerang anak-anak. Bila mengenai balita terutama dengan gizi buruk maka dapat terjadi komplikasi. Komplikasi yang sering adalah bronchopneumonia, gastroenteritis, dan otitis media; ensefalitis jarang terjadi tetapi dapat berakibat fatal, yaitu kematian.

Penularan dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Penegakan kasus campak melalui pemeriksaan darah penderita.

Kasus campak yang dilaporkan adalah kasus klinis. Kasus klinis yang dilaporkan pada tahun 2014 sebanyak 6 pederita. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium sampel darah penderita dinyatakan negatif virus measles. Kasus terbanyak dilaporkan berada di kelurahan Kereng Bangkirai dimana penduduk cukup padat sehingga memudahkan terjadinya kontak penderita dengan lingkungan sekitar.

(40)
[image:40.595.132.504.201.367.2]

Bab III

28 dengan semakin baiknya cakupan imunisasi campak, mulai terjadi pergeseran penderita klinis campak kepada golongan umur yang lebih tua.

Gambar III.14.

Kasus Penyakit yang dapat dicegah dengan Immunisasi (PD3I) Di Kota Palangka Raya Tahun 2014

0 1 2 3 4 5 6 7

Difteri Tetanus Neonatorum Polio

Meninggal 1 0 0 0 0 0

Jml Kasus 1 0 0 6 0 0

Difteri Pertusis NeonatoruTetanus Campak Polio Hepatitis

Sumber : Bidang PMK

Selain imunisasi campak pada bayi, salah satu upaya untuk mencegah terjadinya KLB Campak, maka pemerintah melaksanakan program kampanye imunisasi campak dengan sasaran anak sekolah dasar yang dilaksanakan pada bulan Agustus

3. Penyakit Tidak Menular

Dipicu oleh isu global (WHO) tentang perubahan pola penyakit dan kecenderungan masa depan, angka kejadian penyakit tidak menular atau gaya hidup sebagai penyebab utama kematian yang signifikan telah menggeser kedudukan penyakit menular. Penyakit tidak menular terjadi bukan karena proses infeksi sebagai faktor resiko utama yang mengakibatkan kecacatan dan kematian. Penyakit tidak menular dapat dicegah jika faktor risiko dapat dikendalikan. Beberapa penyakit tidak menular yang dominan dilaporkan oleh puskesmas adalah sebagai berikut :

3.1. Hipertensi

(41)

ditengarai sebagai penyebab utama stroke dan jantung. Penyakit ini sudah jadi epidemi di zaman modern, menggantikan Diare dan TBC.

[image:41.595.148.499.298.438.2]

Kunjungan penderita hipertensi di Kota Palangka Raya dalam 6 tahun terakhir menunjukan peningkatan yang cukup tajam. Pada tahun 2004 dilaporkan terdapat 13.147 penderita. Penderita hipertensi seringkali mengabaikan atau kurang menyadari karakter penyakit yang timbul tenggelam. Ketika tekanan darah sudah kembali normal, maka penderita cenderung menganggap kesembuhannya permanen. Padahal, sekali divonis hipertensi, penyakit tersebut akan terus membelit tubuh penderita.

Gambar III.15.

Penderita Hipertensi Di Kota Palangka Raya Tahun 2005-2014

5474 6271 6487 6757 6382 6696 7541 6447 7272

13147

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Jm

l.

Pe

nd

er

ita

Suatu penelitian menyebutkan bahwa satu dari setiap lima orang menderita tekanan darah tinggi, dan sepertiganya tidak menyadari. Sehingga sekitar 40 % kematian pada usia produktif di bawah usia 65 tahun bermula dari tekanan darah tinggi. Sebagai suatu proses degeneratif, hipertensi banyak ditemukan pada golongan dewasa. Proporsi gender penderita hypertensi sebagaimana gambar III.16 berikut ini.

Gambar III.16.

Proporsi Penderita Hipertensi Menurut sex gender Di Kota Palangka Raya Tahun 2014

Laki-Laki 81% Perempuan

19%

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan

(42)
[image:42.595.179.465.566.723.2]

Bab III

30 Distribusi penderita hypertensi menurut puskesmas di Kota Palangka Raya pada tahun 2014 terlihat seperti gambar III.17 dibawah ini.

Gambar III.17 Kasus Hypertensi

di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2014

3092 3005

1440 2150

1685

485 610 535

145 0 0

500 1000 1500 2000 2500 3000 3500

3.2. Gastritis

Penyakit Gastritis pada lambung merupakan suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik difus, atau lokal. Penyakit gastritis sering masyarakat menyebutnya dengan penyakit maag, adalah proses inflamasi pada mukosa dan sub mukosa lambung. Gastritis yang ditemukan di puskesmas didiagnosa berdasarkan gejala klinis bukan pemeriksaan hispatologi.

Penyebab Gastritis antara lain karena ; terlambat makan, mengkonsumsi makanan asam atau pedas, minum kopi atau alkohol, merokok, serta resiko meningkat pada strees psikis. Pada tahun 2014 kasus Gastritis mencapai 7.022 kasus dan menempati urutan ketiga pada 10 besar penyakit/kasus di puskesmas

Gambar III.18 Kasus Gastritis

di Puskesmas Kota Palangka Raya Tahun 2014

1141 1175 1224 1033 997

149 735

250 318 0 0

200 400 600 800 1000 1200 1400

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan

(43)

3.3. Diabetes Mellitus (DM)

Diabetes Mellitus merupakan penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. Apabila dibiarkan tidak terkendali, penyakit ini dapat menimbulkan penyakit-penyakit yang dapat berakibat fatal termasuk penyakit jantung, ginjal dan impotensi. Dewasa ini penderita diabetes mellitus atau diabetisi terjadi tidak hanya pada masyarakat berpenghasilan tinggi, tetapi juga masyarakat menengah dan rendah, baik yang bermukim diperkotaan maupun di perdesaan.

Prevalensi diabetisi di Indonesia menunjukan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2000 diabetisi yang berusia diatas 20 tahun sebesar 5,6 juta. Pada tahun 2020 diabetisi diperkirakan sebesar 8,2 juta jiwa. Di Kota Palangka Raya penyandang diabetisi yang datang dan berobat ke puskesmas meningkat cukup tajam dalam 6 tahun terakhir, jika pada tahun 2006 dilaporkan sebanyak 379 penderita, maka pada akhir tahun 2014 sebanyak 864 penderita. Gambar III.18. di bawah ini menunjukan peningkatan penyandang diabetisi dalam kurun waktu 2006-2014.

Gambar III.19.

Penderita Diabetes Mellitus Di Kota Palangka Raya Tahun 2006 – 2014

379 474 635

482 624

517 578 703

864

0 200 400 600 800 1000

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 20132 2014

Jm

l.

Pe

nd

er

ita

Tahun

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan

(44)

Bab III

32 kebutuhan biaya untuk pengobatan yang cukup tinggi. Penyandang diabetisi di Kota Palangka Raya terbanyak pada kelompok usia produktif yaitu 20-54 tahun sebesar 569 penderita (66%) dari total 864 penderita yang dilaporkan, sebagaimana gambar III.19. berikut ini.

Gambar III.20.

Proporsi Penderita Diabetes Mellitus Menurut Umur Di Kota Palangka Raya Tahun 2014

< 20 th 1%

20 -44 th 18%

45 - 54 th 27% 55 - 69 th

21% > 70 th

33%

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan

C. STATUS GIZI MASYARAKAT

(45)

1. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Berat badan bayi baru lahir merupakan tolok ukur status gizi bayi dan status gizi ibu hamil. Pada tahun 2014 di Kota Palangka Raya, tercatat kasus Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 38 (0,7%) dari jumlah bayi yang lahir). Perbandingan kasus BBLR tahun 2005 – 2014 seperti tampak pada gambar III.21.

Gambar III.21.

BBLR di Kota Palangka Raya Tahun 2005 – 2014

32 45

67

45 52

10 3

16 14

38

0 10 20 30 40 50 60 70 80

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Jm

l. K

as

us

BBLR

Sumber : Bidang Yankes

2. Gizi Balita

Status gizi bayi/balita adalah tolak ukur yang paling penting dalam menentukan status gizi masyarakat di suatu wilayah. Status gizi/bayi balita dapat diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum, tidak spesifik. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan gizi kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita, tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut.

Di Kota Palangka Raya Pada tahun 2014 ditemukan 3 kasus gizi buruk dari 3.912 balita (0,02%) yang ditimbang baik di Puskesmas juga di Posyandu. Pola asuh balita oleh ibu, dan asupan gizi pada balita perlu mendapatkan perhatian, dengan meningkatkan penyuluhan gizi yang lebih intensif di posyandu maupun puskesmas.

(46)

Bab III

34 gizibayi/balita dapat dilakukan melalui penimbangan setiap bulannya baik di posyandu ataupun di sarana pelayanan kesehatan lainnya seperti di puskesmas, pustu dan polindes. Hasil pemantauan disajikan dalam SKDN, di Kota Palangka Raya pada tahun 2014 adalah sebagai berikut :

a. D/S (jumlah balita ditimbang dari jumlah sasaran) : 22,7% b. D/S (jumlah baduta ditimbang dari jumlah sasaran) : 33,4%

[image:46.595.104.512.239.485.2]

c. BGM (Jumlah Balita dan Baduta dengan BB dibawah Garis Merah) : 3,1%

Gambar III.22.

Hasil Pemantauan BB/U Balita di Kota Palangka Raya Tahun 2011-2014

Sasaran Ditimbang BB Naik BGM Gizi Buruk

2011 22.096 8.161 4.865 122 1

2012 22.466 8.211 5.491 114 2

2013 22960 8643 6374 121 2

2014 17220 3912 1244 123 3

-5.000 10.000 15.000 20.000 25.000

Jm

l. B

ali

ta

Sumber : Bidang Yankes

3. Gizi Ibu Hamil

Status gizi ibu hamil juga merupakan indikator yang sangat penting untuk menentukan status gizi masyarakat karena pada momentum inilah awal pembentukan kualitas generasi mendatang. Pada tahun 2014 tercatat masalah gizi pada ibu hamil sebagai berikut :

a. Prevalensi KEK pada ibu hamil dengan indikator LILA < 23,5 cm adalah 17,8% b. Prevalensi anemia pada ibu hamil dengan indikator HB <11 gr% adalah 21,5%.

4. Kecamatan Bebas Rawan Gizi

(47)

buruk. Kecamatan lainnya (4 kecamatan) di Kota Palangka Raya merupakan kecamatan bebas rawan gizi. Berdasarkan pemantauan faktor risiko terjadinya kasus gizi buruk adalah adanya penyakit penyerta, kondisi ekonomi keluarga dan tingkat pengetahuan orang tua kurang. Upaya untuk mengatasi masalah gizi adalah pemberian PMT dan penyuluhan kesehatan terhadap pola asuh anak serta tata cara peningkatan asupan gizi dari pola makan keluarga. Tatacara pengolahan makanan untuk meminimalisir hilangnya kandungan gizi terhadap beberapa makanan juga perlu diinformasikan kepada masyarakat secara berkala melalui berbagai media.

D. UMUR HARAPAN HIDUP

Umur harapan hidup dianggap sebagai indikator umum bagi taraf hidup, maka tingginya umur harapan hidup menunjukkan taraf hidup suatu negara atau daerah yang juga tinggi, begitu juga sebaliknya jika umur harapan rendah maka taraf hidup suatu daerah tersebut juga rendah. Selain indikator bagi taraf hidup, umur harapan hidup juga memperlihatkan derajat kesehatan masyarakat di suatu daerah bahkan negara. Umur harapan hidup juga merupakan salah satu indikator dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Angka harapan hidup di Kota Palangka Raya dihitung berdasar angka kematian penduduk secara global selama lima tahun (untuk mengetahui jumlah penduduk yang masih hidup dalam kurun waktu tersebut), dibandingkan dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Berdasarkan perhitungan umur harapan hidup masyarakat Kota Palangka Raya diatas 72 tahun, diatas target Umur Harapan Hidup pada Renstra Kota Palangka Raya tahun 2011 yaitu 72,9 tahun.

Gambar III.23.

Umur Harapan Hidup Di Kota Palangka Raya Tahun 2007 – 2014

72,1

73 73

72,8

71 72 73 74

2007 2009 2011 2014

Um

ur

(t

ah

un

(48)

B* + IV

, -. / 0, - /1 02 0 3 4,4 50. 06

Konsep sehat dan upaya kesehatan yang dianut dunia telah banyak bergeser. Upaya kesehatan yang dulu ditujukan sebagai Health Program for Survival diganti menjadi Health Program for Human Development yaitu untuk mempertahankan dan meningkatkan upaya pembangunan diperlukan sumber daya manusia yang tidak sekedar tidak sakit tetapi sehat dan produktif.

Pembangunan kesehatan perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang dimana return of invesmentnya berupa avoided lost atau berkurangnya kerugian akibat orang tidak sakit, meningkatnya mutu tenaga kerja, meningkatkan pendapatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Oleh sebab itu keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja keras sektor kesehatan saja, tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja keras serta kontribusi positif pelbagai sektor lainnya. Semua kebijakan pembangunan yang sedang diselenggarakan hendaknya memiliki wawasan kesehatan terpadu. Artinya program pembangunan harus memberikan kontribusi yang positif terhadap pembentukan lingkungan sehat dan perilaku sehat.

Pembangunan Daerah berwawasan kesehatan bertolak dari kesadaran dan keyakinan bahwa kesehatan adalah hak azazi manusia dan bahwa masyarakat adalah penggerak atau pelaku dari pembangunan daerah tersebut. Oleh karena itu dalam rangka menuju kota yang berwawasan sehat maka Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya menyusun visi yaitu “Terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal di Kota Palangka Raya ”. Selaras dengan pembangunan berwawasan kesehatan dan visi tersebut, disusunlah misi Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencakup :

1) Meningkatkan pelayanan yang bermutu

2) Meningkatkan kewaspadaan dini terhadap masalah kesehatan

3) Terpenuhinya Jaminan Kesehatan bagi seluruh masyarakat Kota Palangka Raya

4) Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan 5) Meningkatkan tata kelola administrasi kesehatan yang baik

(49)

Peningkatan kualitas hidup dan lingkungan yang dilaksanakan melalui sektor kesehatan antara lain melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi masyarakat, pemantauan penyakit untuk mencegah kejadian luar biasa dan pencegahan penyakit melalui imunisasi pada bayi dan wanita sebagai bagian yang rentan terhadap penyakit. Peningkatan kesehatan lingkungan fisik dengan mengupayakan agar rumah, tanah, air dan lain-lain terbebas dari pencemaran tinja, sampah, asap, bau, zat kimia dan lain-lain.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah bentuk perwujudan Paradigma Sehat dalam budaya hidup perorangan, keluarga dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatannya baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. Menciptakan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat dilakukan melalui penyebaran informasi, pendidikan dan pengetahuan yang tercakup dalam upaya perubahan perilaku masyarakat dari perilaku sakit menjadi perilaku sehat. Indikator perilaku hidup bersih dan sehat mencakup pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat serta meningkatkan kualitas generasi mendatang melalui pelayanan oleh tenaga kesehatan terampil dan peningkatan status masyarakat. Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat juga mencakup pengembangan sarana dan prasarana dalam rumah tangga melalui penyediaan air bersih, jamban umum, tempat pembuangan sampah serta rumah sehat sesuai dengan syarat kesehatan.

Penanggulangan penyakit menular dan tidak menular, surveilance penyakit yang berindikasi Kejadian Luar Biasa (KLB), serta penanggulangan bencana yang terjadi di masyarakat, merupakan upaya penanggulangan masalah kesehatan secara sistematis dan menyeluruh dengan mengedepankan prinsip epidemiologi. Identifikasi kasus, penegakan diagnosa, dan pemantauan indikator penyakit degeneratif dilakukan guna pengambilan kebijakan dalam upaya pemberantasan dan penanggulangan penyakit.

(50)

Bab IV

A. UPAYA PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Melalui pelayanan kesehatan dasar diharapkan masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi.

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Ibu dan anak merupakan sasaran utama pembangunan bidang kesehatan, angka kematian ibu dan angka kematian anak merupakan indikator utama penentuan derajat kesehatan masyarakat suatu bangsa. Menekan angka kematian dan memberikan pelayanan kesehatan yang optimal terhadap ibu dan anak, akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan menjaga kualitas generasi bangsa masa mendatang.

1.1. Pelayanan Antenatal

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan standar

Gambar

Tabel III.2
Gambar III.6.
Gambar  III.8.
Gambar  III.10.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Faktor – faktor yang mempengaruhi konflik keluarga – pekerjaan terhadap kepuasan kerja yaitu (1) Jenis Pekerjaan karena pekerjaan sebagai dosen awalnya bukan merupakan

Yanchuik inia nukurinkia tuke nii nawantrin unuinin armiayi tsankuran penker pujusmi tusar, tura yanchuikia inia juntrinkia kajeu armiayi turau asamti tuke nawan

Phase tensor magnetotellurik diperkenalkan oleh [2], merupakan salah satu analisa yang dapat digunakan untuk menentukan dimensionalitas serta arah geoelectrical

Anda melakukan kegagalan ini jika karena keinginan untuk menyakiti seseorang atau karena kemalasan, Anda tidak memuji kualitas baik orang lain, atau tidak memberitahukan kepada

Not Verified IUIPHHK UD Fira Karya Mandiri tidak memiliki Nomor Induk Kepabean (NIK) dan tidak melakukan ekspor produksinya yang berupa kayu gergajian karena sesuai

1. Menghindari kontak langsung dengan Handphone ketika menelepon ataupun menerima telephone. Menghindari pajanan saat menggunakan Handphone pada waktu signal kurang baik

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Istana Maimun layak untuk dikonservasi, untuk mengetahui pandangan masyarakat mengenai Istana Maimun yang

Penelitian terdahulu Samsudin pada tahun 2005 didalam penelitiaannya yang berjudul “Mengapa nasabah memilih menggunakan jasa bank syariah (studi kasus pada bank