BAB II TINJAUAN PUSTAKA

29 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

2.1 Kebisingan

2.1.1 Definisi Kebisingan

Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (Subaris dan Haryono, 2007). 2.1.2 Sumber Kebisingan

Doelle (1993) membagi sumber bising berdasarkan lokasi dalam 2 kelompok, yaitu:

a. Bising interior/ dalam, berasal dari manusia, alat-alat rumah tangga, mesin gudang dan aktifitas di dalam ruangan atau gedung.

b. Bising eksterior/ luar, bising yang dikategorikan berasal dari aktifitas diluar ruangan seperti transportasi udara, termasuk bus, mobil, sepeda motor, transportasi air, kereta api dan pesawat terbang dan bising yang berasal dari industri. Untuk bising transportasi yang paling penting diketahui bahwa makin besar kendaraan akan semakin keras suara bising yang dihasilkan.

Berdasarkan aktivitas yang terjadi di dalam pabrik, Tambunan (2005) mengelompokkan sumber kebisingan antara lain:

(2)

b. Terlalu sering mengoperasikan mesin-mesin kerja pada kapasitas kerja cukup tinggi dalam periode operasi cukup panjang.

c. Sistem perawatan dan perbaikan mesin-mesin produksi ala kadarnya, misalnya mesin diperbaiki hanya pada saat mesin mengalami kerusakan parah.

d. Melakukan modifikasi / perubahan / penggantian secara parsial pada komponen-komponen mesin produksi tanpa mengindahkan kaidah-kaidah keteknikan yang benar, termasuk menggunakan komponen-komponen mesin tiruan.

e. Pemasangan dan peletakan komponen-komponen mesin secara tidak tepat (terbalik atau tidak rapat/longgar), terutama pada bagian penghubung antara modul mesin (bad connection).

f. Penggunaan alat-alat yang tidak sesuai dengan fungsinya, misalnya penggunaan palu / alat pemukul sebagai alat pembengkok benda-benda metal atau alat bantu pembuka baut.

2.1.3 Jenis Kebisingan

Berdasarkan pengaruh bunyi terhadap manusia, Moeljosoedarmo (2008) membagi jenis kebisingan sebagai berikut:

a. Bising yang mengganggu (iritating noise), intensitasnya tidak keras (misalnya orang mendengkur)

b. Bising yang menutupi (masking noise), merupakan bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan membahayakan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, karena

(3)

teriakan atau isyarat tanda bahaya tenggelam dalam kebisingan dari sumber lain.

c. Bising yang merusak (damaging/injurious noise), ialah bunyi yang intensitasnya melampaui Nilai Ambang Batas (NAB), bunyi jenis ini akan merusak atau menurunkan fungsi pendengaran.

Sedangkan Suma’mur (2009) membagi jenis kebisingan berdasarkan sifat kebisingan tersebut:

a. Kebisingan menetap berkelanjutan tanpa putus-putus dengan spektrum frekuensi lebar (steady state, wide band noise), misalnya bising mesin, kipas angin, dapur pijar, dan lain-lain.

b. Kebisingan menetap berkelanjutan dengan spektrum frekuensi tipis (steady state, narrow band noise), misalnya bising gergaji serkuler, katup gas, dan lain-lain.

c. Kebisingan terputus-putus (intermitten noise), misalnya bising lalu-lintas suara kapal terbang di bandara.

d. Kebisingan impulsif (impact or impulsive noise), seperti bising pukulan palu, tembakan bedil atau meriam, dan ledakan.

e. Kebisingan impulsif berulang, misalnya bising mesin tempa di perusahaan atau tempaan tiang pancang.

2.1.4 Nilai Ambang Batas Kebisingan

Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan sebagai faktor bahaya di tempat kerja adalah standar sebagai pedoman pengendalian agar tenaga kerja masih dapat menghadapinya tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam

(4)

pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 (delapan) jam sehari dari 5 (lima) hari kerja seminggu atau 40 jam seminggu.

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 261/MENKES/SK/II/1998 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja tingkat kebisingan ruangan di ruang kerja maksimal 85 dBA dalam rata-rata pengukuran 8 jam. Berikut ini adalah tabel standar tingkat kebisingan maksimal dalam 1 hari pada ruang proses prosuksi:

Tabel 2.1 Tingkat Kebisingan Maksimal Selama 1 Hari pada Ruang Proses Produksi

Tingkat Kebisingan (dB) Pemaparan Harian

85 8 jam 92 6 jam 88 4 jam 87 3 jam 91 2 jam 94 1 jam 97 30 menit 100 15 menit

(5)

Standar kebisingan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.51/MEN/1999 adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Kebisingan

Waktu Paparan Intensitas Kebisingan (dB)

8 Jam 85 4 Jam 88 2 Jam 91 1 Jam 94 30 Menit 97 15 Menit 100 7,5 Menit 103 3,75 Menit 106 1,88 Menit 109 0,94 Menit 112 28,12 Detik 115 14,06 Detik 118 7,03 Detik 121 3,52 Detik 124 1,76 Detik 127 0,88 Detik 130 0,44 Detik 133 0,23 Detik 136 0,11 Detik 139

Sumber : Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.51/MEN/1999. Keterangan : Tidak boleh terapajan lebih dari 140 dB, walaupun sesaat. 2.1.5 Pengukuran Kebisingan

Pengukuran kebisingan bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan di lingkungan kerja. Dengan mengetahui besar kebisngan tersebut maka dapat diketahui apakah pekerja sudah terpajan melampaui NAB atau tidak.

Alat yang digunakan untuk pengukuran itensitas kebisingan adalah Sound Level Meter (SLM) yang mempunyai beberapa jenis antara lain:

(6)

a. Precision Sound Level Meter

b. General Purpose Sound Level Meter c. Survey Sound Level Meter

d. Special Purpose Sound Level Meter

Sound Level Meter berfungsi untuk mengukur kebisingan antara 30- 130 dB dan dari frekuensi 20-20.000 Hz. Sound Level Meter terdiri dari mikrofon, amplifier, dan sirkuit attenuator dan beberapa alat lainnya. Sound Level Meter dilengkapi dengan tombol pengaturan skala pembobotan seperti A, B, C, dan D. Skala A, contohnya adalah rentang skala pembobotan yang melingkupi frekuensi suara rendah dan frekuensi suara tinggi yang masih dapat diterima oleh telinga manusia normal. Sementara itu skala B, C dan D digunakan untuk keperluan-keperluan khusus, misalnya pengukuran kebisingan yang dihasilkan oleh pesawat terbang bermesin jet (Tambunan, 2005).

Sound level meter akan memberikan hasil berupa angka yang dapat dibandingkan dengan aturan batas maksimum dalam satuan desibel. (85 dBA untuk shift selama 8 jam per hari, 40 jam per minggu, batasnya akan lebih rendah untuk waktu kerja yang lebih lama).

Desibel diukur pada skala khusus, yang disebut skala logaritma, dimana setiap penambahan intensitas suara berlipat dua. Berarti peningkatan dari 90 dB ke 93 dB berarti suaranya empat kali lebih keras dari pada 90 dB. Hal ini penting untuk diingat karena peningkatan kecil pada desibel berarti peningkatan kerasnya suara dan makin parah kerusakan yang dapat diakibatkan pada telinga (Anizar, 2009).

(7)

2.1.6 Dampak Kebisingan

Moeljosoedarmo (2008) mengelompokkan dampak kebisingan menjadi dua yaitu dampak pada indera pendengaran (Audiotory Effect) dan dampak kebisingan bukan pada indera pendengaran (Non Audiotory Effect).

2.1.6.1 Audiotory Effect a. Trauma Akustik

Trauma akustik disebabkan oleh karena terpajan kepada suara (bising) impulsif dengan tekanan tinggi, seperti letusan senjata, ledakan dan lain-lain. Diagnosa mudah dibuat, penderita dengan tepat dapat menyatakan kapan terjadinya ketulian. Bagian yang rusak adalah membran timpani, tulang-tulang pendengaran dan cochlea. Tuli terjadi secara akut, tinitus cepat sembuh secara partial atau secara sempurna.

b. Ketulian

Diantara sekian banyak gangguan (pengaruh) yang ditimbulkan oleh kebisingan, maka yang paling serius adalah gangguan terjadinya ketulian. 1. Ketulian sementara

Akibat pemajanan terhadap bising dengan intensitas tinggi, tenaga kerja akan mengalami penurunan daya dengar yang sifatnya sementara. Apabila kepada tenaga kerja diberikan waktu istirahat secara cukup, daya dengarnya akan pulih kembali kepada ambang dengar yang semula (recovery dapat sempurna). Untuk suara yang intensitasnya lebih besar dari 85 dB akan dibutuhkan waktu istirahat antara 3-7 hari. Namun, apabila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja terpajan

(8)

kembali kepada bising, dan keadaan ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka ketulian sementara akan bertambah setiap harinya.

2. Ketulian menetap

Ketulian menetap terjadi oleh karena pemajanan terhadap intensitas bising yang tinggi dalam jangka waktu yang lama. Ketulian menetap terjadi sebagai akibat dari proses pemulihan yang tidak sempurna (dari Temporary Threshold Shift yang terjadi belum sempat kembali ke ambang dengar semula), yang kemudian sudah kontak dengan intensitas suara yang tinggi, maka akan terjadi pengaruh kumulatif, yang pada suatu saat tidak terjadi pemulihan sama sekali. Pada saat inilah, maka ketulian disebut sebagai ketulian menetap.

2.1.6.2 Non Audiotory Effect a. Pengaruh Fisiologi

Pada umumnya kebisingan bernada tinggi sangat mengganggu, lebih-lebih yang terputus-putus atau yang datangnya secara tiba-tiba (mendadak) dan tidak terduga dapat menimbulkan reaksi fisiologis seperti: peningkatan tekanan darah (±10 mmHg), peningkatan denyut nadi, basal metabolisme, gangguan tidur, konstriksi pembuluh darah kecil terutama pada kaki dan tangan, dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris, serta gangguan refleks.

(9)

Kebisingan dapat memengaruhi stabilitas mental dan reaksi psikologis, menimbulkan rasa khawatir, marah, jengkel dan lain-lain. Yang dimaksud dengan stabilitas mental adalah kemampuan seseorang untuk berfungsi atau bertindak normal. Kebisingan memang tidak dapat menimbulkan mental illness, namun dapat memperberat problem mental yang sudah ada. c. Annoyance

Suatu kebisingan dikatakan mengganggu (annoying), bila pemajanan terhadapnya menyebabkan orang tersebut mengurangi, menolak bising tersebut atau meninggalkan tempat yang bising bila mungkin.

d. Gangguan komunikasi

Gangguan jenis ini dapat disebabkan oleh: 1. Masking effect dari kebisingan

2. Gangguan kejelasan suara (intelligibility)

Sebagai pegangan risiko potensial kepada pendengaran, terjadi apabila komunikasi pembicaraan harus dijalankan dengan berteriak. Gangguan komunikasi ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, bahkan mungkin terjadi kecelakaan, terutama pada peristiwa penggunaan tenaga baru (Moeljosoedarmo, 2008).

e. Pengaruh kebisingan terhadap performance kerja

Tarwaka, dkk (2004) mengelompokkan pengaruh pemaparan kebisingan berdasarkan pada tinggi rendahnya intensitas kebisingan dan lamanya waktu pemaparan. Pertama, pengaruh pemaparan kebisingan intensitas tinggi (di atas

(10)

NAB) dan kedua, adalah pengaruh pemaparan kebisingan intensitas rendah (di bawah NAB).

1. Pengaruh Kebisingan Intensitas Tinggi

a. Pengaruh pemaparan kebisingan intensitas tinggi (di atas NAB) adalah terjadinya kerusakan pada indera pendengaran yang dapat menyebabkan penurunan daya dengar baik yang bersifat sementara maupun bersifat permanen, biasanya didahului dengan pendengarana yang bersifat sementara yang dapat menganggu kehidupan yang bersangkutan baik di tempat kerja maupun dilingkungna keluarga dan lingkungan sosialnya.

b. Pengaruh kebisingan akan sangat terasa apabila jenis kebisingannya terputus-putus dan sumbernya tidak diketahui.

c. Secara fisiologis, kebisingan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti, meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung, risiko serangan jantung meningkat gangguan pencernaan.

d. Reaksi masyarakat, apabila kebisingan akibat suatu proses produksi demikian hebatnya sehingga masyarakat sekitarnya protes menuntut agar kegiatan tersebut dihentikan, dll.

2. Pengaruh kebisingan intensitas rendah

Tingkat intensitas kebisingan rendah atau di bawah NAB banyak ditemukan dilingkungan kerja seperti perkantoran, ruang administrasi perusahaan dll. Intensitas kebisingan yang masih di bawah NAB tersebut secara fisiologis tidak menyebabkan kerusakan pendengaran. Namun demikian, kehadirannya sering dapat menyebablkan penurunan penurunan performansi kerja, sebagai salah

(11)

satu penyebab stres dan gangguan kesehatan lainnya. Stres yang disebabkan karena yang pemaparan kebisingan dapat menyebabkan terjadinya kelelahan dini, kegelisahan dan depresi.

2.1.7 Pengendalian Kebisingan

Tarwaka, dkk (2004) dalam bukunya menyatakan bahwa sebelum dilakukan langkah pengendalian, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat rencana pengendalian yang didasarkan pada hasil penilaian kebisingan dan dampak yang ditimbulkan. Rencana pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan melalui perspektif manajemen risiko kebisingan. Manajemen risiko yang dimaksud adalah suatu pendekatan yang logik dan sistemik untuk mengendalikan risiko yang mungkin timbul. Langkah manajemen risiko kebisingan tersebut adalah:

a. Mengidentifikasi sumber-sumber kebisingan yang ada ditempat kerja yang berpotensi menimbulkan penyakit atau cidera akibat kerja.

b. Menilai risiko kebisingan yang berakibat serius terhadap penyakit dan cidera akibat kerja

c. Mengambil langkah langkah yang sesuai untuk mengendalikan atau meminimalisasi risiko kebisingan.

Setelah rencana dibuat dengan seksama, langkah selanjutnya adalah melaksanakan langkah pengendalian kebisingan dengan dua arah pendekatan yaitu pendekatan jangka pendek (short-term gain) dan pendekatan jangka panjang (long-term gain) dari hirarki pengendalian.Pada pengendalian kebisingan dengan orientasi jangka panjang, teknik pengendaliannya secara berurutan adalah

(12)

eliminasi sumber kebisingan, pengendalian secara teknik pengendalian secara berurutan adalah eliminasi sumber kebisingan, pengendalian secara teknik, pengendalian secara administrative dan terakhir penggunaan penggunaan alat pelindung diri. Orientasi jangka pendek adalah sebaliknya secara berurutan. a. Eliminasi sumber kebisingan

1. Pada teknik eliminasi ini dapat dilakukan dengn penggunaan tempat kerja atau pabrik baru sehingga biaya pengendalian dapat diminimalkan.

2. Pada tahap tender mesin-mesin yang akan dipakai, harus mensyaratkan maksimum intensitas kebisingan yang dikeluarkan dari mesin baru.

3. Pada tahap pembuatan pabrik dan pemasangan mesin, konstuksi bangunan harus dapat meredam kebisingan serendah mungkin dll.

b. Pengendalian kebisingan secara teknik

1. Pengendalian kebisingan pada sumber suara.

Penurunan kebisingan pada sumber suara dapat dilakuakan dengan menutup mesin atau mengisolasi mesin sehingga terpisah dengan pekerja. Teknik ini dapat dilakukan dengan mendesain mesin memakai remote control. Selain itu dapat dilakukan redesain landasan mesin dengan bahan anti getaran. Namun, demikian teknik ini memerlukan biaya yang sangat besar sehingga dalam prakteknya sulit diimplementasikan.

2. Pengendalian kebisingan pada bagian transmisi kebisingan.

Apabila teknik pengendalian pada sumber suara sulit dilakukan, maka teknik berikutnya adalah dengan memberi pembatas atau sekat antara mesin dan pekerja. Cara lain adalah dengan menambah atau melapisi

(13)

dinding, plafon dan lantai dengan bahan penyerap suara. Menurut Sanders dan McCormik dalam Tarwaka, dkk (2004) cara tersebut dapat mengurangi kebisingan antara 3-7 dB.

4. Pengendalian kebisingan secara administratif

Apabila teknik pengendalian secara teknik belum memungkinkan untuk dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah merencanakan teknik pengendalian secara administratif. Teknik pengendalian ini lebih difokuskan pada manajemen pemaparan. Langkah yang dapat ditempuh adalah dengan mengatur rotasi kerja antara tempat yang bising dengan tempat yang lebih nyaman yang didasarkan pada intensitas kebisingan yang diterima.

c. Pengendalian kebisingan pada penerima atau pekerja

Teknik ini merupakan langkah terakhir apabila seluruh teknik pengendalian diatas (eliminasi, pengendalian teknik, dan administratif) belum memungkinkan untuk dilaksanakan. Jenis pengendalian ini dapat dilakukan dengan pemakaian alat pelindung telinga (tutup atau sumbat telinga). Pengendalian kebisingan pada penerima ini telah banyak ditemukan di perusahaan-perusahaan, karena secara sekilas biayanya relatf lebih murah. Namun demikian banyak ditemukan kendala dalam pemakaian tutup atau sumbat telinga seperti, tingkat kedisiplinan pekerja, mengurangi kenyamanan kerja, mengganggu pembicaraan dan lain-lain. Berikut adalah jenis alat pelindung telinga:

(14)

a. Sumbat telinga (Ear plug)

Ukuran dan bentuk saluran telinga tiap-tiap individu dan bahkan untuk kedua telinga dari orang yang sama adalah berbeda. Untuk itu ear plugharus dipilih sedemikian rupa sehingga sesuai dengan ukuran dan bentuk saluran telinga pemakainya. Pada umumnya diameter saluran telinga antara 5-11 mm dan liang telinga pada umumnya berbentuk lonjong dan tidak lurus. Ear plug dapat terbuat dari kapas, plastic dan karet, spon dan malam (wax) hanya dapat digunakan untuk sekali pakai (Disposable). Sedangkan yang terbuat dari bahan karet dan plastic yang dicetak (Molded rubber/plastic) dapat digunakan berulang kali (Non Disposable).Alat ini dapat mengurangi suara sampai 20 dB (A).

b. Tutup telinga (Ear muff)

Alat pelindung telinga jenis ini terdiri dari 2 (dua) buah tutup telinga dan sebuah headband. Isi dari tutup telinga dapat berupa cairan atau busa yang berfungsi untuk menyerap suara frekuensi tinggi.Pada pemakaian yang cukup lama, efektivitas ear muff dapat menurunkan karena bantalannya menjadi mengeras dan mengerut sebagai akibat reaksi dari bantalan dengan minyak dan keringat pada permukaan kulit.Alat ini dapat mengurangi intensitas suara sampai 30 dB (A) dan juga dapat melindungi bagian luar telinga luar dari benturan benda keras atau percikan bahan kimia.

Menurut Tarwaka (2004) perlu di perhatikan beberapa criteria di dalam pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri sebagai berikut:

(15)

1. Alat pelindung diri harus mampu memberikan perlindungan efektif kepada pekerja atas potensi bahaya yang dihadapi di tempat kerja. 2. Alat pelindung diri mempunyai berat yang seringan mungkin, nyaman

dipakai dan tidak merupakan beban tambahan bagi pemakainya. 3. Bentuknya cukup menarik, sehingga pekerja tidak malu memakainya 4. Tidak menimbulkan gangguan kepada pemakainya, baik karena jenis

bahayanya maupun kenyamanan dalam pemakaian. 5. Mudah untuk dipakai dan di lepas kembali

6. Tidak mengaanggu penglihatan, pendengaran dan pernafasan serta gangguan kesehatan lainnya pada waktu dipakai dalam waktu yang cukup lama.

7. Tidak mengurangi persepsi sensori dalam menerima tanda-tanda peringatan.

8. Suku cadang alat pelindung diri yang bersangkutan cukup tersedia dipasaran.

9. Mudah disimpan dan dipelihara pada saat tidak digunakan.

10. Alat pelindung diri yang dipilih harus sesuai standar yang ditetapkan. Disamping pemenuhan terhadap kriteria-kriteria tersebut, pekerja juga harus terus-menerus diberikan penyadaran, diberikan instruksi baik secara tertulis maupun lisan tentang kapan dan dalam keadaan bagaimana alat pelindung diri wajib dipakai. Penyadaran melalui tulisan atau gambar dan poster tentang kewaiban memakai alat pelindung diri yang dipasang di tempat-tempat kerja juga sangat baik untuk mengingatkan pekerja (Tarwaka, 2004).

(16)

2.2 Tekanan Darah

2.2.1 Pengertian Tekanan Darah

Tekanan darah adalah menunjukkan keadaan dimana tekanan yang dikenakan oleh darah pada pembuluh darah arteri ketika darah dipompa oleh jantung keseluruh anggota tubuh, dengan kata lain tekanan darah juga berarti kekuatan yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh (Guyton dan Hall, 1997).

Tekanan pada pembuluh darah ketika jantung berkontraksi dan memompa darah ke seluruh tubuh disebut dengan sistolik. Sedangkan tekanan pada pembuluh darah ketika jantung sedang berelaksasi disebut tekanan darah diastolik (Ganong, 1995).

2.2.2 Penggolongan Tekanan Darah

Guyton dan Hall (1997) mengelompokkan jenis tekanan darah sebagai berikut:

1. Tekanan darah normal

Seseorang dikatakan mempunyai tekanan darah normal bila tekanan darah untuk sistolik <140 mmHg dan diastolik < 90 mmHg.

2. Tekanan darah rendah

Seseorang dikatakan mempunyai tekanan darah rendah bila tekanan darah untuk sistolik <100 mmHg dan diastolik <60 mmHg.

3. Tekanan darah tinggi

Seseorang dikatakan mempunyai tekanan darah tinggi apabila untuk tekanan darah sistolik >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg.

(17)

Klasifikasi tekanan darah menurut WHO-ISH 1999:

a. Optimal bila tekanan sistolik <120 mmHg dan tekanan darah diastolik <80 mmHg

b. Normal bila tekanan sistolik 120-129 mmHg dan tekanan darah diastolik 80-84 mmHg

c. Normal tinggi bila tekanan sistolik 130-139 mmHg dan tekanan darah diastolik 85-89 mmHg

d. Hipertensi derajat 1 (ringan) bila tekanan sistolik 140-159 mmHg dan tekanan darah diastolik 90-99 mmHg

e. Hipertensi derajat 2 (sedang) bila tekanan sistolik 160-179 mmHg dan tekanan darah diastolik 100-109 mmHg

f. Hipertensi derajat 3 (berat) bila tekanan sistolik ≥180 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥110 mmHg

g. Hipertensi sistolik (Isolated Sistolic Hypertension) bila tekanan sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik <90 mmHg

2.2.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tekanan Darah

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi tekanan darah yaitu: 1. Usia

Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Umur lebih dari 40 tahun mempunyai risiko terkena hipertensi. Arteri kehilangan elastisitasnya atau kelenturannya dan tekanan darah seiring bertambahnya usia, kebanyakan

(18)

orang hipertensinya meningkat ketika berumur lima puluhan dan enam puluhan (Gunawan, 2001).

2. Jenis Kelamin

Pada usia dini tidak terdapat bukti nyata tentang adanya perbedaan tekanan darah antara pria dan wanita. Akan tetapi, mulai pada masa remaja, pria cenderung menunjukkan aras rata-rata yang lebih tinggi. Perbedaan ini lebih jelas pada orang dewasa muda dan orang setengah baya. Pada usia tua, perbedaan itu menyempit dan polanya bahkan dapat berbalik. Perubahan pada masa tua antara lain dapat dijelaskan dengan tingkat kematian awal yang lebih tinggi pada pria setengah baya pengidap hipertensi, sementara perubahan pasca-menopause pada wanita dapat pula berpengaruh. Banyak kajian sedang dilakukan untuk mengevaluasi apakah perubahan estrogen dapat melindungi terhadap kenaikan-relatif tekanan darah pada masa tua seorang wanita (WHO, 1996).

3. Faktor Genetik

Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi, terutama pada hipertensi primer (esensial). Bila kedua orang tua menderita hipertensi maka sekitar 45% turun ke anak - anaknya dan bila salah satu orang tua yang menderita hipertensi maka sekitar 30% turun ke anak-anaknya (Depkes, 2006).

(19)

Kegemukan (obesitas) adalah persentase abnormalitas lemak yang dinyatakan dalam Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) yaitu perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam meter (Norman dan Jeremiah, 1996).

Depkes (2011) membagi kriteria status gizi sebagai berikut : a). Kurus jika IMT :

 < 17 : kekurangan berat badan tingkat berat.  17 – 18,4 : kekurangan berat badan tingkat rendah. b). Normal jika IMT : 18,5 – 25,0

c). Gemuk jika IMT :

 25,1 – 27,0 : kelebihan berat badan tingkat ringan.  > 27 : kelebihan berat badan tingkat berat.

Kaitan erat antara kelebihan berat badan dan kenaikan tekanan darah telah dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan Indeks Masa Tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang - orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang badannya normal. Sedangkan, pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20 -33% memiliki berat badan lebih (Depkes, 2006).

(20)

5. Kebiasaan Merokok

Nikotin menyebabkan kenaikan tekanan arteri dan denyut jantung oleh beberapa mekanisme (Kaplan dan Norman, 1996):

a. Nikotin meransang pelepasan epinetrinlokal dari saraf adregenik dan meningkatkan sekresi katekolamin dari modula adrenalis dan dari jaringan kromafin di jantung.

b. Nikotin bekerja pada kemoreseptor di glomus caroticus dan glomera aotica yang menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan arteri.

c. Nikotin bekerja langsung pada miokardium untuk menginduksi efek inotropik dan kronotopik positif. Nikotin dalam merokok dapat mengakibatkan jantung berdenyut lebih cepatdan penyempitan pembuluh saluran-saluran nadi sehingga menyababkan jantung terpaksa memompa dengan lebih kuat untuk memenuhi kebutuhan darah ke seluruh tubuh

6. Kebiasaan Minum Kopi

Minum kopi yang mengandung kafein dapat menghasilkan perubahan dalam hemodinamik diantaranya dapat meningkatkan tekanan darah (Lane, 1993). Dalam tubuh manusia senyawa kafein dapat memacu hormon adrenalin, yang berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah dan detak jantung, sekresi asam lambung, senyawa gula pada aliran darah dan otot dalam kondisi akan beraktivitas.

(21)

7. Mengkonsumsi Garam Berlebih

Secara umum masyarakat sering menghubungkan antara konsumsi garam dengan hipertensi. Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik (sistem pendarahan) yang normal. Pada hipertensi esensial mekanisme ini terganggu, di samping ada faktor lain yang berpengaruh. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan prevalensi hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam antara 5-15 gram perhari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 %. Pengaruh asupan terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah (Radecki, 2000).

8. Masa Kerja

Masa kerja adalah jangka waktu orang sudah bekerja pada suatu organisasi, lembaga dan sebagainya. Masa kerja seseorang perlu diketahui karena masa kerja merupakan salah satu indikator tentang kecenderungan para pekerja dalam melaksanakan aktivitas kerjanya. Masa Kerja dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu:

1. masa kerja baru (< 2 tahun) 2. masa kerja lama (> 2 tahun)

(22)

Semakin lama seseorang dalam bekerja maka semakin banyak dia terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut (Suma’mur, 2009).

9. Lingkungan

Adanya polusi udara, polusi suara dan kelembapan uadara semuanya telah diindikasikan sebagai faktor penyebab tekanan darah tinggi. Meskipun diperlukan penelitian lebih banyak mengenai hal ini, melindungi masyarakat dari polusi harus merupakan skala prioritas dengan alasan bahwa selain mempengaruhi kesehatan dengan banyak cara, polusi juga berpengaruh pada hipertensi (WHO, 1996).

2.3 Patogenesis Terjadinya Hipertensi Akibat Kebisingan

Patogenesis terjadinya hipertensi akibat kebisingan adalah sebagai berikut (Sobel, 1995):

Kebisingan merupakan stressor biologis yang mampu menimbulkan perangsangan simpatis pada syaraf. Impuls simpatis dikirim ke medula adrenalin bersamaan dengan pengiriman ke semua pembuluh darah, impuls ini menyebabkan medula mensekresikan norepinefrin dan epinefrin ke dalam sirkulasi darah. Kedua hormon ini dibawa di dalam aliran darah ke semua bagian tubuh tempat mereka langsung bekerja pada pembuluh darah yang menyebabkan vasokontriksi.

Perangsangan simpatis juga akan meningkatan aktifitas saraf ginjal sehingga sel jukstaglomerulus mensekresikan renin ke dalam darah. Renin sendiri merupakan suatu enzim yang memecahkan komponen utama salah satu protein

(23)

plasma yang disebut substrat rennin untuk melepaskan dekapeptida angiotensi I. Dalam beberapa detik setelah pembentukan angiotensin I, 2 asam amino tambahan dipecah darinya membentuk oktapeptida angiotensin II yang dikatalis oleh enzim ‘converting enzyme’. Selama menetap di dalam darah angiotensin II mempunyai efek yang dapat meningkatan tekanan darah. Salah satu efek ini terjadi dengan sangat cepat: vasokontriksi terutama dari arteriol. Kontriksi arteriol meningkatkan tahanan perifer dan dengan demikian meningkatkan tekanan arteri. Efek angiotensin lainnya terutama berhubungan dengan volume cairan tubuh :

1. Angiotensin mempunyai efek langsung terhadap ginjal untuk menyebabkan penurunan ekskresi garam dan air.

2. Angiotensin merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal dan hormone ini sebaliknya juga bekerja pada ginjal menyebabkan penurunan ekskresi garam dan air.

Kedua efek ini cenderung meningkatkan volume darah yang merupakan factor penting dalam pengaturan tekanan darah jangka panjang.

Oleh karena adanya paparan kebisingan, pusat vasomotor mengirim impuls eksitasi melalui serabut saraf simpatis ke jantung untuk meningkatkan aktivitas jantung (kontraktilitas jantung), meningkatkan frekuensi jantung melalui reseptor beta – 1 sehingga memperbesar curah jantung. Meningkatkan curah jantung dan tahanan perifer total akan meningkatkan kenaikan tekanan darah. 2.4 Denyut Nadi

Denyut nadi (pulse rate) adalah gelombang yang disalurkan melalui arteri sebagai respons terhadap ejeksi darah dari jantung ke dalam aorta. Denyut nadi

(24)

terbentuk seiring dengan didorongnya darah melalui arteri (Guyton, 2007). Untuk membantu sirkulasi, arteri berkontraksi dan berelaksasi secara periodik, kontraksi dan relaksasi jantung seiring dengan dipompanya darah menuju arteri dan vena. Dengan demikian, denyut nadi (pulse rate) juga dapat mewakili detak jantung permenit atau yang dikenal dengan denyut jantung (heart rate). Denyut nadi dihitung tiap menitnya dengan hitungan repitisi (kali/menit) (Khasan, 2012).

Pemeriksaan denyut nadi sederhana biasanya dilakukan dengan cara palpasi. Denyut nadi paling mudah dirasakan ketika arteri ditekan ringan pada tulang. Beberapa tempat untuk meraba denyut nadi yaitu arteri radialis di pergelangan tangan, arteri temporalis superfisialis pada bagian tulang pelipis, arteri dorsalis pedis pada dorsum pedis atau punggung kaki, arteri karotis pada leher, arteri femoralis pada lipatan paha, arteri brakhialis pada lipatan siku (Gibson, 2002).

Pada jantung orang normal, setiap denyut berasal dari nodus SA (irama sinus normal) (Ganong, 2008). Frekuensi denyut jantung normal berkisar antara 60 sampai 100 denyut per menit, dengan rata-rata denyutan 75 kali per menit. Dengan kecepatan seperti itu, siklus jantung berlangsung selama 0,8 detik; sistole 0,5 detik dan diastole 0,3 detik. Takikardia adalah peningkatan frekuensi jantung sampai melibihi 100 denyut per menit. Bradikardia ditujukan untuk frekuensi jantung yang kurang dari 60 denyut per menit (Sloane, 2003).

Denyut nadi bervariasi pada kecepatan, regularitas, dan kekuatan karena mencerminkan perubahan denyut jantung. Frekuensi denyut melambat selama tidur dan dipercepat oleh emosi, olahraga, demam, dan rangsangan lain. Pada

(25)

orang muda sehat yang bernapas dengan frekuensi normal, frekuensi denyut jantung bervariasi sesuai fase pernapasan; meningkat selama inspirasi dan menurun selama ekspirasi, terutama bila kedalaman pernapasan meningkat (Ganong, 2008).

2.4.1 Cara Pengukuran Denyut Nadi

Pengukuran denyut nadi dapat dilakukan pada aspek ventral dari pergelangan tangan (arteri radialis). Arteri karotis dan arteri femoral juga dapat dilakukan tetapi sangat sulit dilakukan pengukuran pada tempat tersebut. Dengan menggunakan 2 jari yaitu telunjuk dan jari tengah, atau 3 jari, telunjuk, jari tengah dan jari manis jika mengalami kesulitan menggunakan 2 jari. Temukan titik nadi, yaitu nadi radialis di pergelangan tangan di sisi ibu jari. Setelah menemukan denyut nadi, tekan perlahan kemudian hitunglah denyutan selama minimum 30 detik, tetapi idealnya adalah 1 menit. Secara umum denyut nadi orang dewasa yaitu antara 60 sampai 100 denyut per menit (Guyton, 2007).

2.5 Alat Tenun Mesin

Untuk menjalin benang-benang menjadi sehelai kain tenun yang indah, digunakan alat tenun. Terdapat tiga jenis alat tenun yang umum digunakan, yaitu alat tenun tradisional (Gedogan), alat tenun bukan mesin (ATBM) dan alat tenun mesin (ATM). Dengan menggunakan alat tenun, benang lungsi dan benang pakan ditenun menjadi sehelai kain. Benang lungsi adalah benang yang diletakkan secara vertikal pada alat tenun. Benang pakan adalah benang yang masuk-keluar lungsi pada saat menenun dan diletakkan secara horizontal. Dengan menggunakan

(26)

kedua jenis benang ini saja, sudah dapat menghasilkan sebuah kain tenun yang bercorak polos.

Pada awalnya, peralatan tenun yang digunakan sangat sederhana, yaitu dengan alat tenun tradisional (Gedogan). Alat tenun tradisional ini hanya terdiri dari bambu dan kayu untuk mengaitkan benang lungsi saja. Bilah-bilah kayu dan bambu pada alat ini ujung-ujungnya dikaitkan pada tiang atau pondasi rumah lainnya. Sementara, ujung satunya terikat pada badan penenun. Dengan menggunakan alat tenun Gedogan, proses untuk mengasilkan selembar kain tenun membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan mencapai beberapa bulan.

Seiring perkembangan kebudayaan, untuk memudahkan para penenun, tenunan dibuat dengan ATBM. Pada prinsipnya, alat tenun ini sama dengan alat tenun tradisional. ATBM terbuat dari kayu yang dipasangi beberapa perlengkapan, sehingga menjadi satu unit ATBM. ATBM digerakkan secara manual dengan menggunakan kaki dan tangan. Dengan menggunakan ATBM, penenun duduk di kursi dengan kaki mengayun pedal dan tangan menarik pengungkit. Juga, pekerjaan para penenun menjadi lebih mudah, meskipun waktu pengerjaan tidak jauh berbeda dengan menggunakan alat tenun Gedogan.

Berkembangnya pasar dan permintaan konsumen yang meningkat, membuat penenun harus melakukan inovasi agar waktu memproduksi tenun menjadi lebih singkat. Pengrajin pun mulai beralih menggunakan alat tenun mesin. Alat tenun ini dilengkapi dengan motor penggerak sehingga untuk menghasilkan tenun, sepenuhnya dikerjakan oleh mesin (Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional KEMENDAG RI, 2012).

(27)

Gerakan mesin tenun dibagi dalam 3 gerakan pokok yaitu:

1. Gerakan Naik Turun, membuat satu gerakan naik atau turun dari heold untuk menenun sebuah benang pakan.

2. Gerakan Picking, ini mengangkat gerakan memasukkan teropong yang berisi sebuah cop ke dalam shed oleh gerakan naik turun.

3. Gerakan Memukul, ini memukul benang pakan yang disuapkan melalui shed oleh reed, dan merupakan akhiran dari tenunan.

Disamping itu ada 2 gerakan tambahan yaitu:

1. Gerakan Mengambil, ini meggulung kain yang telah ditenun, membetulkan garis tenun agar selalu berada pada kedudukan yang sama pada mesin tenun, dan sekaligus menentukan kerapatan pakan sesuai dengan jumlah gulungan untuk tiap putaran dari mesin tenun. 2. Gerakan Memberi, ini memberi suapan benang lungsin dari boom

tenun sesuai dengan penggulungan kain selama menenun, dan menjaga agar tegangan benang lungsi selalu tetap.

Kelima gerakan (gerakan pokok dan tambahan) tersebut dinamakan 5 gerakan utama dari mesin tenun.

Berikut ini adalah gambar potongan dari sebuah mesin tenun sederhana untuk menunjukkan rangka utamanya.

(28)

Gambar 1. Rangka utama pergerakan mesin Keterangan:

A: Gulungan J: Rol permukaan

B: Batang alur benang lungsi K: Penggulung kain C: Batang pemisah L: Rangka mesin

D: Batang suri M: Poros bawah

E: Poros batang suri N: Pedal bola

F: Poros engkol O: Pedal

G: Batang penggerak P: Poros penggerak putaran H: Batang pengungkit Q: Penutup pinggiran penggulung benang

I: Lungsi R: Kepala batang pengungkit

(29)

2.6 Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah suatu hubungan anrtara konsep atau variabel yang akan diamati dan diukur melalui penelitian yang dilakukan. Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tingkat Kebisingan

Tekanan darah

Frekuensi Denyut Nadi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :