1 | B K M W A U I U M 2 0 1 5
Menilik UKT dan Keterlibatan Mahasiswa oleh Annisa Essanda Gunawan
Wakil Kepala Bidang Kajian BK MWA UI UM 2015
Mekanisme pembayaran biaya pendidikan yang sering kita sebut sebagai BOP-Berkeadilan dilahirkan sebagai bentuk kesepakatan antara pihak mahasiswa dengan pihak universitas yang diiringi dengan beberapa poin penting dan substansial terkait kelahiran dan perkembangan sistem ini, antara lain transparansi keuangan dan keterlibatan mahasiswa secara penuh dan aktif sampai tahap penentuan besaran biaya kepada tiap-tiap mahasiswa yang memberikan data-data yang dijadikan syarat pengajuan BOP-B.
Namun, rencana apik itu hanya pernah berawal. Karena pada prosesnya, tidak mudah untuk mempertahankan kesepakatan. Pun ketika kini sistem itu hendak berganti nama, rencana itu ditata kembali.
Bisa jadi gaung kisah keterlibatan mahasiswa dalam permulaan penetapan BOPB tak kita dengar lagi. Namun sebenarnya abadi dalam sistem biaya pendidikan yang kini kita rasakan dan akan muncul dengan nama baru, Uang Kuliah Tunggal. Keterlibatan itu tak lepas dari noktah-noktah keluputan yang menjadi bahan evaluasi mahasiswa kini, khususnya yang bergerak dalam bidang kesejahteraan mahasiswa.
Dimulai di 2008
Mekanisme pembayaran biaya pendidikan di UI tidak terlepas dari beralihnya status UI yang awalnya PTN menjadi BHMN melalui Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum dan kemudian menjadi PTN BH melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang menyebabkan mahasiswa harus merogoh kantung lebih dalam demi mengecap pendidikan di UI. Mekanisme tersebut terus mengalami penyesuaian, hingga pada 2008, UI menghadapi kenyataan kurangnya sumber dana untuk tetap menjalankan pengelolaannya.
Rencana kenaikan biaya pendidikan dicita-citakan dapat membantu UI dalam melanjutkan pengelolaan. Rektor menjanjikan asas berkeadilan akan bernafas dalam rencana tersebut dan oleh karenanya mahasiswa diperlukan dalam proses kelahiran rencana tersebut.
Keterlibatan mahasiswa bermula ketika Rektor UI, Prof. Gumilar, menyampaikan isu kenaikan BOP dan meminta tanggapan mahasiswa pada Januari 2008. Untuk menghadapi
2 | B K M W A U I U M 2 0 1 5
kenaikan tersebut, BEM dan BPM diminta untuk sama-sama menghitung SUC bersama dekanat fakultas masing-masing. Pertemuan selanjutnya, Rektor memaparkan hasil penghitungan di hadapan perwakilan organ-organ UI, para ketua BEM, dan DPM. Dari pemaparan tersebut, mahasiswa keberatan apabila UI harus menaikkan uang BOP. Rektor merekomendasikan agar UI sebaiknya melakukan studi banding ke PTN BHMN lainnya (IPB, ITB, dan UGM) terlebih dahulu.
Untuk itu, diperlukan Tim Kecil yang terdiri atas perwakilan Direktorat Kemahasiswaan dan Kemahasiswaan yang berkompeten melakukan studi banding. Melalui Forma, ditunjukklah Kadep Kesma dari BEM UI, BEM Fasilkom, BEM FT; mantan Ketua SM FIB; perwakilan Suara Mahasiswa; Ketua BPM MIPA; DPM UI; dan MWA UI UM. Hasil studi banding adalah penerapan konsep berkeadilan yang dapat membuka ruang bagi calon mahasiswa yang teruji intelektualitasnya tanpa memandang taraf kemampuan ekonominya.
Setelah kajian untuk menindaklanjuti hasil tersebut, Forma dilakukan kembali untuk merumuskan formula data-data bagi mahasiswa untuk mendapat vonis besaran biaya BOP dan updatenya tiap semester. Saat itu, terciptalah batas atas yang ditentukan dari 35% SUC per fakultas.
Rektor meminta mahasiswa kembali terlibat dalam pembuatan Draft SK Rektor Biaya Pendidikan Maba UI 2008/2009 sampai ke mekanisme pembayaran. Saat itu, 4 mahasiswa FHUI terlibat dalam penyusunan lampiran Draft SK yang bermasalah. Tak sampai di sana, mahasiswa juga diminta terlibat dalam penyusunan Draft SK Mekanisme Pembiayaan BOP.
Keterlibatan kemudian dilanjutkan oleh Kesma se-UI yang mengawasi pelaksanaan BOPB. Kesma ikut dalam melaksanakan survey dan memberikan rekomendasi pada pihak Mahalum fakultas
Evaluasi Keterlibatan Mahasiswa
Meskipun kesepakatan atas terlibatnya mahasiswa begitu jelas dan terasa nyata, namun pada prosesnya mahasiswa banyak menapaki kerikil-kerikil yang menciptakan banyak pertanyaan dalam benak. Apabila menilik kolaborasi yang digadang antara pihak universitas dan pihak mahasiswa pada 2008, ada beberapa evaluasi dalam pelaksanaan BOPB.
Pertama, dalam Draft SK Rektor yang memuat proses penentuan besaran BOP dibuat, tidak seluruh poin rekomendasi mahasiswa disahkan. Kedua, mahasiswa tidak pernah benar-benar terlibat dalam penghitungan SUC dan konfirmasi catatan kebutuhan anggaran. Ketiga,
3 | B K M W A U I U M 2 0 1 5
rancangan range dan matriks biaya pendidikan yang disusun oleh mahasiswa tidak digunakan oleh Rektorat. Keempat, pemahaman yang berbeda di antara pihak universitas mengenai BOPB (keringanan ataukah hak bagi tiap mahasiswa). Kelima, banyak misinformasi dari jajaran staf informasi universitas kepada mahasiswa baru mengenai hak mahasiswa atas BOPB. Keenam, waktu untuk pelengkapan berkas yang beririsan dengan kegiatan dari Rektorat seperti OBM dan latihan paduan suara. Ketujuh, ada indikasi masalah di beberapa dekanat, misalnya tidak memberikan informasi secara benar dan mark up besaran biaya yang harus dibayar mahasiswa baru (di FIK). Kedelapan, tidak ada pengaturan mengenai sanksi bagi pelaku tindakan kecurangan dalam SK Rektor yang seharusnya dapat menjadi payung hukum bagi semua pihak.
Pada pelaksanaan BOPB di tahun 2010, proses penentuan BOPB berada langsung di bawah Direktorat Keuangan, bukan lagi Direktorat Kemahasiswaan. Penentuan besaran biaya dan penyusunan Draft SK Rektor mengenai aturan main BOPB pun tidak melibatkan mahasiswa, meskipun ada konfirmasi intensif sebelumnya. Dengan mencoba pendekatan ke Rektorat, beberapa delegasi Kesma berhasil terlibat kembali dalam pengentrian data sehingga dapat memantau proses awal penentuan data yang dilakukan bersama paguyuban se-UI. Bersama dengan mahasiswa yang magang di Rektorat, Kesma berhasil terlibat sampai tahap rekomendasi dan banding. Ketidakjelasan mengenai keterlibatan mahasiswa tersebut berulang pada tahun-tahun selanjutnya.
Evaluasi terhadap empat tahun pelaksanaan BOP-Berkeadilan (2008-2012) menunjukkan pola permasalahan antara pihak universitas dan pihak mahasiswa, yaitu ketiadaan transparansi matriks bagi Kesma, ketidakstabilan keterlibatan mahasiswa, dan ketidakjelasan publikasi informasi terhadap calon mahasiswa baru. Peran mahasiswa secara lembaga pun tidak jelas.
Kini?
Sejak awal, sulit bagi mahasiswa untuk terlibat hingga proses penetapan biaya di fakultas bersama dengan Mahalum. Namun, keterlibatan Kesma dari penyusunan mekanisme sampai tahap rekomendasi penentuan biaya perlu dipertahankan.
Dalam peraturan-peraturan yang mengatur tentang biaya pendidikan dan UKT memang tidak ditemukan poin mengenai keterlibatan organisasi kemahasiswaan dalam penentuan biaya pendidikan. Namun pada Permendikbud 73 Tahun 2014 disebutkan bahwa
4 | B K M W A U I U M 2 0 1 5
penentuan kriteria kelompok UKT adalah berdasarkan pada kemampuan ekonomi mahasiswa atau pihak yang membiayainya. Statuta UI pun berpendapat serupa.
Berdasarkan peraturan tersebut, untuk menentukan kriteria kelompok UKT, mahasiswa baru diharuskan mengajukan data-data yang diperlukan kepada universitas untuk diteliti dan dihitung melalui matriks. Pada tataran pelaksanaan, laporan Kesma se-UI mengindikasikan banyak kendala-kendala seperti tidak lengkapnya data yang diberikan mahasiswa baru dan ketidaksesuaian hasil penetapan biaya yang diterima dengan kemampuan ekonomi mahasiswa baru.
Di sinilah mahasiswa, terutama yang bergerak dalam bidang Kesejahteraan Mahasiswa dan paguyuban se-UI, berperan sebagai jembatan antara pihak universitas dan pihak calon mahasiswa baru. Mereka-lah yang berhubungan paling dekat dengan mahasiswa di tiap fakultas dan paling paham mengenai kondisi akademik, kebutuhan fasilitas, dan kemampuan ekonomi mahasiswa yang sebenarnya. Selain itu, mereka memiliki akses terhadap data-data mahasiswa dan keuangan fakultas.
Mengutip salah satu anggota Tim Kecil, urgensi keterlibatan mahasiswa adalah guna meminimalisasi misinformasi antara pihak calon mahasiswa baru dengan pihak universitas serta menjamin keberlangsungan BOP yang berkeadilan bagi semua pihak. Sehingga rencana kenaikan biaya pendidikan dapat ditekan, kemungkinan universitas mengeksploitasi mahasiswa dapat dihindari, dan yang lebih penting mahasiswa mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya. Oleh karena itu, dengan terlibatnya mahasiswa dalam perumusan dan penentuan UKT, maka kebijakan yang dikeluarkan oleh universitas dapat lebih menjamin kesejahteraan mahasiswa.
Tak Terlupakan: Transparansi
Keterlibatan aktif mahasiswa selain meminimalisasi misinformasi juga adalah dalam pengawasan yang menuntut transparansi universitas dalam melaksanakan BOPB terkait asas keadilan yang dijanjikan. Transparansi ini sudah diminta sejak belum dilaksanakannya penyesuaian BOPB sebagai syarat penerapan sistem BOPB, namun tak ada realisasinya hingga kini.
Di negara manapun, pendidikan tinggi semakin dituntut untuk memberikan pertanggungjawaban tentang penyelenggaraan dan pelaksanaan misi dan fungsinya. Hal tersebut wajar, karena pendidikan tinggi selalu berhadapan dengan sejumlah pihak yang
5 | B K M W A U I U M 2 0 1 5
berkepentingan (stakeholder) yang memiliki pengaruh terhadap aliran sumber daya yang diperlukan untuk penyelenggaran dan pelaksanaan pendidikan tinggi. Dalam hal UI, untuk penyelenggaraan, dari sudut pandang keadilan, mengerahkan masyarakat untuk bersama-sama menanggung biaya pendidikan dalam rangka peningkatan mutu, relevansi, dan pemerataan pendidikan tinggi.
Akuntabilitas suatu lembaga pendidikan tinggi berarti sejauh mana lembaga tersebut mempunyai makna dari the shareholder lembaga tersebut, yaitu masyarakat. Lembaga pendidikan tinggi tidak mempunyai nilai akuntabilitas apabila lembaga tersebut terlepas dari jangkauan atau kebutuhan masyarakat yang memilikinya. Dalam upaya meningkatkan akuntabilitas, perlu ditingkatkan partisipasi masyarakat di dalam pengelolaannya. Hal ini berarti masyarakat merasa memiliki dan karenanya aktif menunjang pengembangannya.
Hal tersebut sejalan dengan prinsip dasar manajemen kesiswaan, yaitu siswa harus diperlakuan sebagai subjek dan bukan objek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan mereka.
Sistem BOPB dirasa belum sesuai dengan kriteria good governance yang menekankan pada nilai transparansi, partisipatif, dan akuntabilitas. Hal tersebut dapat dilihat dari munculnya masalah-masalah akibat tidak terbukanya pihak universitas kepada mahasiswa dalam penyusunan matriks BOP dan SUC. Rekomendasi matriks yang diberikan mahasiswa diubah sesuai keinginan universitas dan mahasiswa tak mampu mengakses penghitungan matriks untuk menetapkan BOP.
Transparansi dalam penentuan BOPB ini menjadi penting karena perubahan atas matriks dapat menghasilkan perubahan atas biaya yang harus dibayarkan. Bisa jadi seseorang maba yang sudah menyerahkan data lengkap, membayar di atas batas kemampuannya. Pihak Kesma tidak akan tahu alasannya karena tertutupnya akses terhadap penentuan hasil melalui matriks. Biaya kuliah pun semakin tak bisa dikontrol mahasiswa dan masyarakat luas. Dan kini ketika UKT akan diberlakukan, tujuan awal itu tidak pernah berubah, yaitu mencegah biaya kuliah naik.
Pihak universitas juga tidak professional dalam menjalankan sistem ini yang berujung ada misinformasi di kalangan mahasiswa baru bahkan ditemukannya mark up biaya di satu fakultas. Hal tersebut berdampak pada sistem yang berjalan secara tidak optimal dan melenceng dari tujuan awal pembentukannya.
6 | B K M W A U I U M 2 0 1 5
Good governance bukanlah garansi kesuksesan suatu lembaga perguruan tinggi. Namun keefektivan tata kelola yang sebangun dengan tujuan, keobjektifan, dan budaya lembaga dapat menciptakan kontribusi yang siginifikan kepada kesuksesan lembaga perguruan tinggi tersebut. Universitas yang berhasil dalam good governance selalu menjaga keseimbangan kekuatan di dalamnya secara seimbang. Mereka menunjuk orang-orang yang berkompeten dan memiliki integritas karena mereka menghargai kontribusi yang orang-orang tersebut dapat berikan. Mereka membangun kepemimpinan yang kuat bersama-sama, di mana Rektor memimpin pusat inti kemudi yang efektif dan akuntabel untuk menjaga keharmonisan dengan sesama organ di universitas, yang mana merefleksikan semangat komunitas akademis. Mereka mendrong kepemimpinan secara akademis pada semua tingkatan dan partisipasi penuh oleh komunitas akademis, atau perwakilannya, dalam pengambilan keputusan. Apabila mereka dapat berkontribusi positif bersama-sama dan memiliki satu tujuan yang sama, good governance akan menciptakan signifikan kontribusi pada kesuksesan lembaga.
Dapat kita renungkan bahwa akar dari kemelut ini bukanlah ketidakharmonisan hubungan mahasiswa dengan pihak Rektorat, melainkan karena tidak adanya persepsi dan tujuan pihak universitas dengan mahasiswa.
Referensi:
Kajian 4 Tahun Berjalannya Sistem BOP-Berkeadilan oleh Adkesma BEM se-UI 2012 Rasionalisasi Subsidi Silang (2011) Catatan Ridhaninggar Rindu Aninda dari BEM UI 2010 Hasbullah. 2010. Otonomi Pendidikan: Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.