BAB II LANDASAN TEORI. Auditing adalah salah satu jasa yang di berikan oleh akuntan publik yang sangat

Teks penuh

(1)

9 BAB II

LANDASAN TEORI

II.1. Auditing

II.1.1. Pengertian Auditing

Auditing adalah salah satu jasa yang di berikan oleh akuntan publik yang sangat diperlukan untuk memeriksa laporan keuangan sehingga laporan keuangan yang di hasilkan oleh pihak perusahaan yang di audit dapat lebih di percaya oleh para pemakai laporan keuangan.

Pengertian auditing menurut Arens dan Loebbecke (2006:15), yang telah dialihbahasakan oleh Amir Abadi Jusuf adalah sebagai berikut:

“Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti, tentang informasi yang dapat di ukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi di maksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan”.

Menurut Sunarto (2004:16), pengauditan adalah suatu proses sistematik untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian untuk ekonomi secara objektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Sedangkan menurut Agoes (2008:1) dalam bukunya yang berjudul Auditing (Pemeriksaan Akuntan), pengertian auditing adalah suatu proses sistematis untuk secara objektif mendapatkan dan mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang kegiatan-kegiatan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk meyakinkan tingkat keterkaitan antara

(2)

10 asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Dari tiga definisi di muka, dapat disimpulkan bahwa auditing mempunyai tiga elemen fundamental, yaitu :

1. Seorang auditor harus independen dan kompeten.

2. Auditor bekerja mengumpulkan bukti untuk mendukung pendapatnya.

3. Hasil akhir dari auditor adalah laporan audit yang harus disampaikan kepada para pemakai laporan keuangan yang berkepentingan.

Dalam melaksanakan audit, faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah:

1. Dibutuhkan informasi yang dapat diukur dan sejumlah kriteria (standar) yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi informasi tersebut. 2. Penetapan intetitas ekonomi dan periode waktu yang di audit harus jelas untuk

menentukan lingkup tanggung jawab auditor.

3. Bahan bukti harus diperoleh dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi tujuan audit.

4. Kemampuan auditor memahami kriteria yang di gunakan serta sikap independen dalam mengumpulkan bahan bukti yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan yang akan diambilnya.

II.1.2. Jenis Audit

Menurut Agoes (2008:9) dalam bukunya Auditing, berdasarkan luasnya pemeriksaan, audit dapat dibedakan atas :

(3)

11 1. General Audit (Pemeriksaan Umum)

Suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh KAP independen dengan tujuan untuk bisa memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.

2. Special Audit (Pemeriksaan Khusus)

Suatu pemeriksaan terbatas (sesuai dengan permintaan auditee) yang dilakukan oleh KAP yang independen dan pada akhir pemeriksaan, auditor tidak perlu memberikan pendapat terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan. Pendapat yang diberikan terbatas pada pos atau masalah tertentu yang diperiksa, karena prosedur audit yang dilakukan juga terbatas. Misalnya, KAP diminta untuk memeriksa apakah terdapat kecurangan terhadap penagihan piutang usaha perusahaan.

Ditinjau dari jenis pemeriksaannya menurut Agoes (2008:9), audit bisa dibedakan atas :

1. Management Audit (Operasional Audit)

Suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen, untuk mengetahui apakah operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien, dan ekonomis.

2. Compliance Audit (Pemeriksaan Ketaatan)

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku, baik yang ditetapkan

(4)

12 oleh pihak intern perusahaan (manajemen, dewan komisaris) maupun pihak ekstern.

3. Internal Auditing (Pemeriksaan Intern)

Pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap kebijakan manajemen yang telah ditentukan. Pemeriksaan yang dilakukan internal auditor biasanya lebih rinci dibandingkan dengan pemeriksaan umum yang dilakukan oleh KAP (Kantor Akuntan Publik). Internal auditor tidak memberikan opini terhadap kewajaran laporan keuangan, karena pihak-pihak diluar perusahaan tidak independen.

4. Computer Audit

Pemeriksaan oleh KAP terhadap perusahaan yang memproses data akuntansinya dengan menggunakan EDP (Electronic Data Processing) sistem.

II.2. Kecurangan

II.2.1. Pengertian Kecurangan

Menurut Sunarto (2006:57), kecurangan dalam pelaporan keuangan yang dinyatakan untuk menyajikan laporan keuangan yang menyesuaikan, seringkali disebut kecurangan manajemen (management fraud).

Fraud adalah suatu perbuatan melawan/melanggar hukum yang dilakukan oleh orang/orang-orang dari dalam dan/atau dari luar organisasi, dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau kelompoknya yang secara langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain.

(5)

13 Menurut Karni (2000:34), mengemukakan tentang unsur kecurangan yaitu kecurangan terdiri dari tujuh unsur penting. Apabila tidak terdapat salah satu unsur tersebut, maka tidak ada kecurangan yang dilakukan. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:

1. Harus terdapat penyajian yang keliru (mispresentation) 2. Dari suatu masa lampau atau sekarang

3. Fakta material

4. Dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan

5. Dengan maksud untuk menyebabkan pihak lain bereaksi

6. Pihak yang terlukai harus bereaksi terhadap kekeliruan penyajian 7. Mengakibatkan kerugian

Kecurangan merupakan suatu perilaku dimana seseorang mengambil atau secara sengaja mengambil manfaat secara tidak jujur atas orang lain. Kejahatan merupakan suatu tindakan yang disengaja yang melanggar undang-undang kriminal yang secara hukum tidak boleh dilakukan dimana sebuah negara mengikuti hukum tersebut dan memberikan hukuman atas pelanggaran yang dilakukan. Perbedaan ini penting, karena tidak semua kecurangan adalah kejahatan dan sebagian besar kejahatan bukan kecurangan. Perusahaan menderita kerugian akibat kecurangan, tetapi polisi dan badan penegak hukum lainnya bisa mengambil tindakan hanya terhadap kejahatan.

II.2.2. Faktor Kecurangan

Penelitian traditional tentang kecurangan dilakukan pertama kali oleh Donald Cressey yang menimbulkan pertanyaan mengapa kecurangan dapat terjadi. Hasil dari

(6)

14 penelitian itu memunculkan faktor-faktor pemicu kecurangan yang saat ini dikenal dengan “Fraud Triangle”. Satu dari tujuan utama penelitian ini menyimpulkan bahwa setiap kecurangan yang dilakukan oleh para pelaku memenuhi tiga faktor penting sebagai faktor pemicu kecurangan, yaitu Pressure (Tekanan), Opportunity (Kesempatan/Peluang), dan Rationalization.

Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan, yang disebut juga dengan teori GONE, yaitu:

a. Greed (keserakahan) merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual).

b. Opportunity (kesempatan) merupakan faktor yang berhubungan dengan

organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Kesempatan (opportunity) untuk melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku terhadap objek kecurangan. Kesempatan untuk melakukan kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Namun, ada yang mempunyai kesempatan besar dan ada yang kecil. Secara umum manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan.

c. Need (kebutuhan) merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual).

d. Exposure (pengungkapan) merupakan faktor yang berhubungan dengan

organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Pengungkapan (exposure) suatu kecurangan belum menjamin tidak terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh

(7)

15 pelaku yang lain. Oleh karena itu, setiap pelaku kecurangan seharusnya dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap.

II.2.2.1. Pressure (Tekanan)

Tekanan merujuk pada sesuatu hal yang terjadi pada kehidupan pribadi pelaku yang memotivasinya untuk mencuri. Biasanya motivasi tersebut timbul karena masalah keuangan, tetapi ini dapat menjadi gejala dari faktor-faktor tekanan lainnya, sehingga tekanan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu : tekanan dari faktor keuangan (financial) dan tekanan dari faktor sosial (non financial).

1. Financial Pressure

Masalah keuangan yang dialami pelaku dapat dipecahkan dengan mencuri uang atau asset lainnya. Berikut faktor-faktor dari tekanan keuangan :

a. Greed. Keserakahan seseorang akan kekayaan dapat memicu orang tersebut bertindak curang karena merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki.

b. Gaya hidup mewah

c. High personal debts. Hutang yang menumpuk dapat membuat

seseorang tertekan. Ketertekanan akan semakin tinggi ketika hutang tersebut tidak dapat dilunasi, sehingga akan menghalalkan segala cara untuk dapat melunasinya.

d. High medical bills. Ketika calon pelaku kecurangan mengalami masalah kesehatan dan membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi, sedangkan si calon pelaku tidak mempunyai cukup dana, maka dari

(8)

16 tekanan biaya tersebut akan mendorong tindakan kriminal atau curang sebagai cara memenuhi biaya tersebut.

e. Kerugian keuangan yang tak terduga

2. Social Pressure

Tekanan yang berasal dari faktor non-keuangan diantaranya : a. Vice

kebiasaan berjudi (gambling), drugs dan alcoholic (peminum berat) dapat menciptakan keinginan keuangan yang besar agar supaya mendukung kebiasaan-kebiasaan tersebut. Hal ini menciptakan hubungan tekanan dengan aspek ini sebagai fraud triangle.

b. Work related

1. Seseorang akan merasa tertekan ketika performa pekerjaan kurang diakui dan dinilai secara adil oleh manajemen

2. Kepuasan atas pekerjaannya

3. Takut akan kehilangan pekerjaannya

4. Tertekan karena ingin mendapatkan promosi 5. Merasa digaji rendah oleh perusahaan 3. Other Pressure

a. Perubahan perilaku secara signifikan, seperti : easy going, tidak seperti biasanya.

b. Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat kerja c. Tertantang untuk merusak atau membobol sistem

(9)

17 II.2.2.2. Opportunity (Kesempatan)

Menurut Tuanakotta (2008) yang mengungkapkan bahwa dari penelitian Cressey, pelaku kecurangan selalu memiliki pengetahuan dan kesempatan untuk melakukan tindakan tersebut agar tindakan itu tidak dapat terdeteksi. Cressey berpendapat ada dua komponen dari peluang, yaitu :

1. General information, yang merupakan pengetahuan bahwa kedudukan yang mengandung trust (kepercayaan), dapat dilanggar tanpa konsekuensi. Pengetahuan ini diperoleh pelaku dari apa yang ia dengar atau lihat, misalnya dari pengalaman orang lain yang melakukan fraud dan tidak ketahuan atau tidak dihukum.

2. Technical Skill atau keterampilan

Keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan kejahatan tersebut. Ini biasanya keahlian atau keterampilan yang dipunyai orang itu dan yang menyebabkan ia mendapatkan kedudukan tersebut.

II.2.2.3. Rationalization

Suatu bentuk pemikiran yang menjadikan seseorang akan melakukan kecurangan merasa bahwa sikap curang tersebut dapat diterima. Rationalisasi adalah komponen kecurangan yang paling krusial. Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari pembenaran atas tindakannya, misalnya:

1. Tidak akan ada orang lain yang terluka 2. Saya berhak mendapatkan sesuatu yang lebih

3. Tindakan kecurangan yang ia lakukan bertujuan baik

(10)

18 5. Semua orang melakukan itu, jadi saya melakukannya juga

6. Pelaku percaya bahwa jika mereka bertindak curang, mereka tidak akan kehilangan keluarga, uang, dan kekayaannya.

7. Orang-orang tidak mampu dan tidak peduli tentang konsekuensi atas tindakan atau atas pelakunya yang tidak jujur.

8. Ketidakpuasan pekerjaan akan sesuatu hal yang berhubungn dengan gaji, lingkungan pekerjaan, perhatian yang diberikan oleh manajer, membuat pelaku berpkiran bahwa perusahaan berhutang kepada dia.

9. Saya hanya meminjam uang perusahaan saja, nanti akan saya kembalikan.

II.2.3. Klasifikasi dan Jenis Kecurangan

Kecurangan dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam menurut Karni (2006:35) yaitu :

1. Management fraud (kecurangan manajemen)

Kecuranngan ini dilakukan oleh orang dari kelas sosial ekonomi yang lebih atas dan terhormat yang biasa. Kecurangan manajemen ada dua tipe, yaitu kecurangan jabatan dan kecurangan koporasi. Kecurangan jabatan dilakukan oleh seseorang yang mempunyai jabatan penting dan menyalahgunakan jabatannya itu. Sedangkan kecurangan korporasi adalah kecurangan yang dilakukan oleh manajemen demi memperoleh keuntungan bagi perusahaan tersebut, misalnya manipulasi pajak.

2. Employee Fraud (kecurangan karyawan)

Kecurangan karyawan biasanya melibatkan karyawan bawahan. Kadang-kadang merupakan pencurian atau manipulasi. Dibandingkan dengan para

(11)

19 manajemen, kesempatan untuk melakukan kecurangan pada karyawan bawahan jauh lebih kecil. Hal ini disebabkan mereka tidak mempunyai wewenang karena pada umumnya semakin tinggi wewenang semakin besar kesempatan untuk melakukan kecurangan.

3. Computer Fraud

Tujuan pengadaan computer antara lain digunakan untuk pencatatan operasional atau pembukuan suatu perusahaan. Kejahatan komputer dapat berupa pemanfaatan berbagai sumber daya komputer di luar peruntukan yang sah dan perusakan atau pencurian fisik atas sumber daya komputer itu sendiri.

The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) atau Asosiasi Pemeriksa Kecurangan Bersertifikat, mengklasifikasikan Fraud dalam 3 (tiga) jenis atau tipologi berdasarkan perbuatan, yaitu:

1. Penyimpangan atas aset (Asset Misappropriation)

Asset Misappropiation meliputi penyalahgunaan atau pencurian aset atau harta perusahan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi karena sifatnya yang dapat diukur (tangible) .

2. Pernyataan palsu atau salah pernyataan (Fraudulent Statement)

Fraudulent Statement meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau eksekutif suatu perusahaan atau intansi pemerintah untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan dalam penyajian laporan keuangannya untuk memperoleh keuntungan.

(12)

20 3. Korupsi (Corruption)

Kecurangan jenis ini sulit untuk dapat dideteksi melainkan sering kali tidak dapat dideteksi karena pihak yang bekerja sama menikmati keuntungan secara bersama atau dengan kata lain tindakan ini saling menguntungkan kedua belah pihak. Termasuk didalamnya adalah penyalahgunaan wewenang atau konflik kepentingan (conflict of interest),penyuapan, dan penerimaan yang tidak sah.

II.2.4. Unsur-unsur Kecurangan

Kecurangan dianggap terjadi apabila memenuhi setiap unsur-unsur dari kecurangan. Apabila salah satu unsur tidak ada maka kecurangan dianggap tidak terjadi. Berikut unsur-unsur kecurangan :

1. Harus terdapat salah saji (misrepresentation) 2. Dari suatu masa lampau atau sekarang 3. Fakta bersifat material (material fact)

4. Dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan (make-knowingly or necklessly)

5. Harus ada korban (there is a victim) 6. Harus ada yang dirugikan (there is a lost) 7. Tindakan illegal (illegal act)

II.2.5. Gejala Adanya Kecurangan

Pelaku kecurangan di atas dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok, yaitu manajemen dan karyawan. Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen umumnya

(13)

21 lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan tersebut. Menurut Binbangkum, gejala dapat dideteksi dengan melihat beberapa hal berikut ini:

1. Gejala kecurangan pada manajemen

a. Ketidakcocokan diantara manajemen puncak b. Moral dan motivasi karyawan rendah

c. Departemen akuntansi kekurangan staf

d. Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak konsumen, pemasok, atau badan otoritas

e. Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi

f. Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang meningkat

g. Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka waktu yang lama

h. Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan

i. Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun buku.

2. Gejala kecurangan pada karyawan

a. Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa perincian/penjelasan pendukung

b. Pengeluaran tanpa dokumen pendukung

(14)

22 d. Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung

pembayaran

e. Kekurangan barang yang diterima f. Kemahalan harga barang yang dibeli g. Faktur ganda

h. Penggantian mutu barang

II.3. Audit kecurangan

II.3.1. Pengertian Audit Kecurangan

Audit atas kecurangan, yang dapat didefinisikan sebagai Audit Khusus yang dimaksudkan untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya penyimpangan atau kecurangan atas transaksi keuangan. Fraud auditing termasuk dalam audit khusus yang berbeda dengan audit umum terutama dalam hal tujuan yaitu fraud auditing mempunyai tujuan yang lebih sempit (khusus) dan cenderung untuk mengungkap suatu kecurangan yang diduga terjadi dalam pengelolaan asset/aktiva.

Audit Investigatif adalah serangkaian kegiatan mengenali (recognize), mengidentifikasi (identify), dan menguji (examine) secara detail informasi dan fakta-fakta yang ada untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya dalam rangka pembuktian untuk mendukung proses hukum atas dugaan penyimpangan yang dapat merugikan keuangan suatu entitas (perusahaan/organisasi/negara/daerah).

Jadi, audit itu adalah suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut: 1. Proses pengumpulan dan evaluasi bahan bukti

2. Informasi yang dapat diukur. Informasi yang dievaluasi adalah informasi yang dapat diukur. Hal-hal yang bersifat kualitatif harus dikelompokkan dalam

(15)

23 kelompok yang terukur, sehingga dapat dinilai menurut ukuran yang jelas, seumpamanya Baik Sekali, Baik, Cukup, Kurang Baik, dan Tidak Baik dengan ukuran yang jelas kriterianya.

3. Entitas ekonomi. Untuk menegaskan bahwa yang diaudit itu adalah kesatuan, baik berupa Perusahaan, Divisi, atau yang lain.

4. Dilakukan oleh seseorang (atau sejumlah orang) yang kompeten dan independen yang disebut sebagai Auditor.

5. Menentukan kesesuaian informasi dengan kriteria penyimpangan yang ditemukan. Penentuan itu harus berdasarkan ukuran yang jelas. Artinya, dengan kriteria apa hal tersebut dikatakan menyimpang.

6. Melaporkan hasilnya. Laporan berisi informasi tentang kesesuaian antara informasi yang diuji dan kriterianya, atau ketidaksesuaian informasi yang diuji dengan kriterianya serta menunjukkan fakta atas ketidaksesuaian tersebut.

II.3.2. Perbedaan Financial Audit dengan Audit Investigatif

Audit laporan keuangan (Financial Audit) terdapat beberapa perbedaan dengan Audit investigatif. Adanya perbedaan yang terlihat antara lain :

1. Dasar Pelaksanaan Audit

Pada audit atas laporan keuangan, audit dilaksanakan berdasarkan permintaan perusahaan yang menginginkan laporan keuangannya diaudit. Dasar pelaksanaan audit investigatif adalah permintaan dari penyidik untuk mendeteksi kecurangan yang mungkin terjadi. Selain itu, audit investigatif juga dapat dilakukan atas dasar pengaduan dari masyarakat tentang kecurigaan adanya kecurangan dan dari temuan audit yang mengarah pada

(16)

24 kemungkinan adanya kecurangan yang di dapat dari audit atas laporan keuangan sebelumnya.

2. Tanggung jawab auditor

Pada audit atas laporan keuangan, audit bertanggung jawab atas nama lembaga audit atau Kantor Akuntan Publik (KAP) tempat audit bekerja. Pada audit investigatif, auditor bertanggung jawab atas nama pribadi yang ditunjuk, karena apabila keterangan disidang pengadilan merupakan keterangan palsu auditor yang bersangkutan akan terkena sanksi.

3. Tujuan audit

Tujuan audit atas laporan keuangan adalah untuk mengetahui apakah laporan keuangan perusahaan klien telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Audit investigatif bertujuan membantu penyidik untuk membuat terang perkara dengan mencari bukti-bukti yang dibutuhkan untuk mendukung dakwaan jasa.

4. Teknik dan prosedur audit yang digunakan

Dalam audit atas laporan keuangan, prosedur dan teknik audit yang digunakan mengacu hanya pada Standar Auditing, sedangkan audit investigatif mengacu pada standar Auditing juga kewenangan penyidik sehingga dapat digunakan teknik audit yang lebih luas.

5. Penerapan azas perencanaan dan pelaksanaan audit

Pada audit laporan keuangan menggunakan skepik profesionalisme, sedangkan audit investigatif selain menggunakan skepik profesionalisme juga menggunakan azas praduga tak bersalah.

(17)

25 6. Tim audit

Dalam audit atas laporan keuangan, tim audit bisa siapa saja yang ada di KAP tersebut. Dalam audit investigatif, tim audit di pilih auditor yang sudah pernah melaksanakan bantuan tenaga ahli untuk kasus yang serupa atau hamper sama dan salah satu dari tim audit harus bersedia menjadi sanksi ahli di persidangan.

II.3.3. Tujuan Audit Investigatif

Audit investigatif termasuk dalam audit ketaatan (compliance), walaupun ada juga yang mengelompokkannya secara terpisah. Menurut pendapat Karni (2000:4), audit investigatif adalah audit ketaatan bertujuan untuk mengetahui apakah seorang telah melaksanakan prosedur atau aturan yang telah ditetapkan oleh pihak yang memiliki otorisasi lebih tinggi. Dalam audit investigatif, ketentuan yang harus ditaati sangat luas, tidak hanya kebijakan manajemen, auditor investigatif sampai dengan hukum formal, hukum material dan lain-lain. Untuk itu, audit investigatif tidak hanya cukup untuk menguasai bidang ekonomi, tetapi juga mengerti tentang hukum-hukum yang berlaku.

Tujuan audit investigatif adalah untuk mendeteksi atau mencegah kecurangan. Beberapa contoh dimana audit investigatif dapat dilakukan meliputi :

1. kecurangan dalam bisnis atau kecurangan yang dilakukan karyawan 2. investifasi tindakan kriminal

3. perselisihan pemegang saham dengan persekutuan 4. kerugian ekonomis bisnis

(18)

26 II.4. Penjualan

II.4.1. Pengertian Penjualan

Menurut Kotler (2006:457), penjualan merupakan sebuah proses dimana kebutuhan pembeli dan kebutuhan penjualan dipenuhi, melalui antar pertukaran informasi dan kepentingan. Jadi konsep penjualan adalah cara untuk mempengaruhi konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan.

Penjualan Tunai adalah penjualan yang bersifat cash dan carry pada umumnya terjadi secara kontan dan dapat pula terjadi pembayaran selama satu bulan dianggap kontan

II.4.2. Prosedur Audit

Menurut Mulyadi (2002:16), Prosedur audit terhadap penjualan tunai , yaitu : 1.Keberadaan atau keterjadian

a. Lakukan pengamatan pemisahan fungsi

b. Pilih sampel transaksi penjualan yang dicatat dalam jurnal penjualan dan lakukan pemeriksaan bukti pendukung (vouching)

2.Kelengkapan

a. Periksa bukti penggunaan formulir faktur penjualan tunai bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan.

b. Pilih sampel faktur penjualan tunai yang diotorisasi oleh yang berwenang dan lakukan pengusutan ke dalam jurnal penjualan (tracing)

(19)

27 3.Penilaian atau alokasi

a. Pilih sampel transaksi penjualan yang dicatat dalam jurnal penjualan dan lakukan pmeriksaan.

b. Pilih sampel bukti setor ke bank.

c. Pilih sampel rekonsiliasi bank yang dibuat oleh klien.

II.5. Pengendalian Internal

II.5.1. Pengertian Pengendalian Internal

Definisi pengendalian intern menurut Ikatan Akuntan Indonesia ( IAI ) adalah sebagai berikut :

“Suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris manajemen dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini : (a) keandalan pelaporan keuangan, (b) efektivitas dan efesiensi operasi, (c) kepatuhan terhadap hokum dan peraturan yang berlaku.”

Pengendalian internal adalah sebuah proses yang dipengaruhi oleh sejumlah jajaran pimpinan, manajemen dan personel lainnya, dirancang untuk menyediakan jaminan yang layak dalam hal pencapaian objektivitas dalam Keefektifitasan dan efiensi operasi serta kepercayaan pada laporan keuangan.

Penilaian internal adalah aturan, praktek, prosedur, dan peralatan yang dirancang untuk :

a. Keamanan aset yang berhubungan dengan badan hukum

b. Meyakinkan akurasi dan kepercayaan perolehan data dan informasi produk c. Mendapatkan efisiensi

(20)

28 e. Mengukur pemenuhan dengan regulasi-regulasi

f. Mengatur kejadian-kejadian negatif dan pengaruh dari penyuapan, kejahatan, dan aktivitas perusakan.

II.5.2. Unsur-Unsur Pengendalian Internal

Menurut Gondodiyoto (2007:268), menyatakan model COSO (The Committee of Sponsoring Organizations) terdiri dari lima komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya yang akan menunjang pencapaian tujuan perusahaan. Lima komponen pengendalian tersebut yaitu :

1) Control Environment (Lingkungan Pengendalian)

Lingkungan pengendalian intern terdiri dari tindakan, kebijaksanaan dan prosedur yang mencerminkan keseluruhan sikap manajemen puncak, direktur dan pemilik terhadap pengendalian. Jika manajemen puncak mengganggap pengendalian penting, maka personil lain dalam perusahaan itu akan mengerti dan menanggapi secara seksama kebijakan dan prosedur yang ditetapkan. Apabila anggota perusahaan mengganggap bahwa pengendalian bukan masalah yang penting bagi manajemen, maka dapat dipastikan bahwa tujuan pengendalian itu tidak akan tercapai secara efektif.

Pengendalian intern dapat berfungsi dengan baik apabila pegawai memiliki kecakapan dan kejujuran dengan kualitas yang diperlukan masing-masing bagian. Dalam hal ini sudah terdapat dalam perusahaan ini dimana calon pegawai harus diseleksi dan dites dengan seksama agar orang-orang yang akan bekerja di perusahaan ini memenuhi syarat, disamping mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, calon pegawai juga mempunyai kepribadian yang

(21)

29 menarik, simpatik, dan mempunyai pergaulan yang luas serta berinisiatif dan sanggup mandiri. Setelah diterima diberikan pelatihan sesuai dengan tugas yang akan dilakukannya di dalam perusahaan.

Lingkungan pengendalian mencakup hal-hal sebagai berikut ini : a. Integritas dan nilai etika.

b. Komitmen terhadap kompetensi

c. Partisipasi dewan komisaris atau komite audit d. Struktur organisasi

e. Pemberian wewenang dan tanggung jawab f. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia.

2) Risk Assesment (Penilaian resiko)

Penilaian risiko untuk pelaporan keuangan adalah identifikasi manajemen dan analisis risiko yang relevan untuk penyusunan laporan keuangan sesuai dengan GAAP.

3) Control Activities (Aktivitas pengendalian)

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur, selain yang termasuk dalam urutan empat komponen, yang membantu memastikan bahwa tindakan perlu diambil untuk mengatasi risiko dalam pencapaian objectivies entitas itu. Ada banyak kegiatan pengendalian berpotensi seperti di setiap lembaga.

(22)

30 4) Information and Communication (Informasi dan komunikasi)

Tujuan informasi akuntansi entitas dan komunikasi adalah untuk memulai merekam, memproses, dan melaporkan transaksi entitys dan untuk mempertahankan akuntabilitas atas aktiva yang bersangkutan.

5) Monitoring (Pemantauan)

Kegiatan pemantauan menangani penilaian yang berkelanjutan atau berkala terhadap kualitas kinerja pengendalian internal oleh manajemen untuk determine bahwa kontrol operasi sebagaimana dimaksud dan bahwa mereka yang diubah sesuai dengan perubahan kondisi. Informasi untuk penilaian dan modifikasi berasal dari berbagai sumber, termasuk studi kontrol internal yang telah ada, laporan auditor internal, kecuali melaporkan kegiatan pengendalian, laporan oleh lembaga regulator seperti bank regulasi, umpan balik dari personil operasi dan kepatuhan dari pelanggan tentang biaya penagihan.

II.5.3. Tujuan Pengendalian Intern

Menurut Mulyadi (2002:180) dalam bukunya Auditing tujuan pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini:

1. Keandalan pelaporan keuangan

2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku 3. Efektifitas dan efisiensi operasi

Pengendalian intern dapat mencegah kerugian atau pemborosan pengolahan sumber daya perusahaan. Pengendalian intern juga dapat menyediakan informasi tentang

(23)

31 bagaimana menilai kinerja perusahaan dan manajemen perusahaan serta menyediakan informasi yang akan digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan. Namun demikian tidaklah semua tujuan yang telah disebutkan di atas dapat dicapai hanya dengan pelaksanaan pengendalian intern. Oleh karena itu, auditor berkewajiban untuk memahami pengendalian intern yang ditujukan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia

II.5.4. Keterbatasan Pengendalian Intern

Menurut Mulyadi (2002:181) ,keterbatasan bawaan yang melekat dalam setiap pengendalian intern yaitu :

1. Kesalahan dalam pertimbangan

Seringkali manajemen dan personel lain dapat salah dalam mempertimbangkan keputusan bisnis yang diambil atau dalam melaksanakan tugas rutin karena tidak memadainya informasi, keterbatasan waktu, atau tekanan lain.

2. Gangguan

Gangguan dalam pengendalian yang telah ditetapkan dapat terjadi karena personel telah keliru memahami perintah atau membuat kesalahan karena kelalaian,tidak adanya perhatian atau kelelahan. Perubahan yang bersifat sementara atau permanen dalam personel atau dalam sistem dan prosedur dapat juga mengakibatkan gangguan.

(24)

32 3. Kolusi

Tindakan bersama individu untuk tujuan kejahatan disebut dengan kolusi (collusion) kolusi dapat mengakibatkan bahwa bobolnya pengendalian intern yang dibangun untuk melindungi kekayaan entitas dan tidak terungkapnya ketidakberesan atau tidak terdeteksinya kecurangan oleh pengendalian intern yang dirancang.

4. Pengabaian oleh manajemen

Manajemen dapat mengabaikan kebijakan atau prosedur yang telah ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah seperti keuntungan pribadi manajer, penyajian kondisi keuangan yang berlebihan, atau kepatuhan semu.

5. Biaya lawan manfaat

Biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan pengendalian intern tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalian intern tersebut karena pengeluaran secara tepat baik biaya maupun manfaatnya biasanya tidak dilakukan, manajemen harus memperkirakan dan mempertimbangkan secara kuantitatif dan kualitatif dalam mengevaluasi biaya dan manfaat suatu pengendalian intern.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :