PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perspektif konvensional memaknakan pembangunan lebih pada pertumbuhan aspek material, hal-ha1 yang bersifat kuantitatif. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan didasarkan patla kemakrnuran ekonomi atau pertumbuhan ekonomi. Indikatornya adalah peningkatan Gross National Product (GNP) -meski tanpa kalkulasi pemerataan distribusi kemakrnman tersebut secara adil dan berakibat pada tingkat disparitas sosial yang tinggi- dan maraknya sektor industri. Seperti terungkap dalam konsepsi penyelenggara negara saat ini, yang dikenal dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) (1999 : 7) berikut ini :
"Pembangunan yang terpusat dan tidak merata yang dilaksanakan selama ini ternyata hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi serta tidak diimbangi kehidupan sosial, politik, ekonomi yang demokratis, dan berkeadilan.
Konsep pembangunan berperspektif ekonomi tersebut berbeda dengan perspektif holistik yang melihat isu-isu pembangunan tidak hanya pada aspek material saja tetapi juga pada aspek immaterial yang bersifat kualitatif seperti persoalan spiritualitas, keadilan, pemberdayaan atau peningkatan kecerdasan masyarakat, kesantunan budaya, cinta, simpati, solidaritas, altruisme (sifat mementingkan orang lain). Aspek yang menjadikan puzzle pembangunan menjadi utuh.
Perspektif holistik tidiak menafikkan salah satu aspek tersebut di atas karena keduanya merupakan aspek yang inhern (melekat, menyatu) dalam realitas kehidupan masyarakat.
2 Realitas kehidupan masyarakat yang terpenuhi dengan kedua aspek tersebut menjadi penuh harmoni dan indah. Masing-masing entitas didalarnnya berekspresi sesuai fitrahnya, yang hanya berkeinginan untuk membawa kedamaian, ketenangan, dan keindahan. Pada saat yang sama tentu saja egosentrisme, primordialisme atau clanisme, stagnasi (kemandekan) berfikir dan bertindak tidak mewujud dalam diri individu maupun masyarakat.
Oleh karena itu, pembangunan dalam perspektif holistik memiliki makna yang menyeluruh, luas dan mendalam. Seperti ungkapan salah seorang pemikir Indonesia yang terkenal, Soedjatmoko (1986), bahwa pembangunan merupakan suatu proses belajar, yang harus memperjuangkan kemampuan berkembang secara sosial, ekonomi, maupun politis pada semua tingkat dan dalam semua komponen masyarakat sehingga dapat bertahan dan berkembang dalam kehidupan serta dapat mengarahkan realitas sesuai dengan idealitas, tidak sekedar adaptasi terhadap realitas.
Pembangunan dalam pengertian tersebut di atas menekankan dinamika dalam segala aspek kehidupan menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, terbuka ruang yang sangat luas dan leluasa bagi gerakan-gerakan (perilaku) kreatif masyarakat. Gerakan yang mengaktualisasikan potensi-potensi dalam diri manusia dan masyarakat. Gerakan-gerakan yang mengekspresikan hakikat eksistensi manusia dan masyarakat sebagai makhluk yang memiliki kepedulian bagi tenvujudnya dunia yang damai dan penuh cinta.
Dalam konteks komulnikasi pembangunan, gerakan-gerakan tersebut diatas antara lain tenvujud pada peranan yang dilakukan media massa yang berkontribusi bagi pembangunan. Seperti dikemukakan oleh Rogers (1989) bahwa media massa
merupakan potensi yang besar dalam membantu masyarakat mencapai tujuan pembangunan, yang secara r:iil, peranan media massa dapat menyediakan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Media massa juga berperan selaku fasilitator dalam arti sebagai wahana berbagi itle, tempat sebuah diskursus atau pengungkapan gagasan dalam rangka pembentukar~ pengetahuan. Seperti diskursus tentang format masyarakat yang diidealkan atau biasa dikenal dengan civil society atau masyarakat sipil atau masyarakat madani pada media massa di Indonesia seperti Harian Umum Kompas.
Diskursus tentang masyarakat madani merupakan upaya pembangunan sumberdaya manusia Indonesia pada sisi intelektualitas, dan merupakan upaya menumbuhkan kesadaran, sikap dan perilaku mandiri (merdeka) dari segala bentuk intervensi yang mengekang e'ksistensi kemanusiaannya, termasuk intervensi negara. Pada sisi lain, dilandasi sikap saling menghormati dan menghargai eksistensi orang lain serta menjaga kedamaian kehidupan bersama. Dengan demikian, diskursus masyarakat madani juga merupakan budaya tandingan terhadap hal-ha1 yang membahayakan kedamaian kehidupan bersama seperti terjadinya konflik sosial di Maluku, Poso, Irian Jaya, Aceh, Sarnpit, dan sebagainya. Oleh karena itu, media massa sebagai media yang memiliki daya jangkau masyarakat luas sangat relevan sebagai fasilitator diskursus. Hal ini bahkan mendapat perhatian dalam GBHN
1999 - 2000 khususnya pada bidang Komunikasi, Informasi, dan Media Massa sebagai berikut :
"Meningkatkan pemarlfaatan peran komunikasi melalui media massa modem dan media tradisional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; memperkukuh persatuan dan kesatuan; membentuk kepribadian bangsa..
.
(1 999 : 26).Diskursus tentang format masyarakat madani di Indonesia sebenarnya merupakan imbas dari perkembangan pemikiran yang terjadi di dunia Barat, khususnya di negara-negara irldustri maju di Eropa Barat dan Amerika Serikat, dalam perhatian mereka terhadap perkembangan ekonomi, politik dan sosial budaya di Uni Soviet dan Eropa Timur, serta kalangan akademis di negara-negara bekas blok sosialis. Di Indonesia, pada awalnya diskursus konsep tersebut lebih banyak berbicara mengenai demokratisasi politik dan liberalisasi ekonomi seperti glasnots dan
perestroika yang merebak di Rusia pada dasawarsa 1980-an. Konsep masyarakat sipil ditanggapi dengan pe:nuh kecurigaan karena pengertian "sipil" tersebut dikesankan sebagai berkaitan dan tandingan dari "militer", yang dalam masyarakat hadir dalam bentuk dwifungsi ABRI (Rahardjo, 1996).
Diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas juga tidak jauh dari kondisi tersebut diatas. Seperti terlihat dalam tulisan yang pertarna kali mengungkap tentang masyarakat madani, yaitu artikel yang ditulis oleh seorang pengamat politik bernama Roekrnini Soedjono. Artikel tersebut merupakan respon terhadap diskursus (perbincangan) tentang masyarakat madani pada saat itu, yang seperti pernyataan Raharjo di atas, perbincangan istilah masyarakat madani diposisikan secara diametral dengan istilah militer, seperti terungkap dalam artikelnya yang berjudul "Civil
society, Kontribusinya Dalarrl proses Demokratisasi" edisi Jum'at, 20 Januari 1995, khususnya pada pendahuluan artikel tersebut yaitu :
"Pada akhir-akhir ini, istilah masyarakat sipil atau yang oleh kalangan cendekiawan lebih dikenal dengan istilah civil society seringkali digunakan
dalam kerangka dikotomi sipil militer. Istilah sipil ditempatkan dalam posisi berseberangan dengan istilah militer".
Hal tersebut diatas rnemperlihatkan bahwa diskursus tentang masyarakat madani pada saat itu merupakan respon terhadap realitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang didominasi oleh negara. Dominasi tersebut antara lain tercermin dalam ekspansi dan intewensi militer dalam wilayah politik, seperti diungkapkan oleh Rahardjo (1 996) bahwa :
"Pembangunan yang berlangsung dalam era ORBA telah menghasilkan peranan negara (state) yang makin kuat, vis a vis masyarakat (civil society).
Hal tersebut tercermiri dengan makin nampaknya gejala otoritarianisme dan totalitarianisme baik nampak pada kekuasaan presiden maupun makin luasnya penetrasi negara ke dalam semua jaringan masyarakat, demikian pula peranan ideologi Pancasila dalam cara berfikir masyarakat serta peranan politik militer dan Golkar sebagai partai hegemonis".
Oleh karena itu, meskipun Roekrnini Soedjono dalam artikelnya tersebut mengharapkan agar civil society tidak dihadap-hadapkan dengan militer (ABRI) karena persoalan istilah sipil dalam konteks civil society yang berbeda dengan istilah sipil dalam konteks civil realitions. Kata sipil dalam konteks civil society mencakup pengertian yang lebih luas dari kata sipil yang digunakan dalam bahasa Indonesia sebagai lawan kata militer. Menurutnya, konsep civil society memuat kehendak untuk melaksanakan empowerment (pemampuan) pada masyarakat supaya lebih menyeimbangkan dengan state. Pengembangan civil society untuk mencegah kekuasan state yang berlebihan dan memiliki b g s i utama meletakkan dasar-dasar yang dapat membatasi atau mencegah kekuasaan state yang berlebihan. Dengan demikian, yang akan diupayakan melalui konsep civil society adalah agar society
Dengan demikian diskursus terlihat bahwa (perbincangan) tentang masyarakat madani pada Kompas, awal mulanya lebih mengarah pada model pemaknaan masyarakat madani sebagr~i entitas penyeimbang kekuatan negara. Hal ini disebabkan konteks sosial politik saat itu yang diperintah oleh rezim yang otoriter dan represif.
Setelah rezim ORBA jatuh pada tangggal 21 Mei 1998 oleh people power yang dimotori mahasiswa, pemikiran tentang masyarakat madani makin gencar diperbincangkan, dan pada Harian Umum Kompas, ha1 tersebut terlihat sangat nyata. Diskursus (perbincangan) teritang masyarakat madani pada awalnya (1995) hanya meliputi 7 tulisan. Pada tahun 1996 meliputi 6 tulisan, 1997 meliputi 33 tulisan.
1998 meliputi 68 tulisan, 1999 meliputi 107 tulisan.'
Perkembangan tersebut tentu sangat menarik untuk diteliti. Mengingat diskursus tentang masyarakat madani dari klasik hingga kontemporer memiliki variasi atau beragam model pemikiran. Keragaman model pemaknaan tersebut merupakan konsekuensi logis dari keragaman dan dinamika pemikiran serta konteks historis tentang pemikiran tersebut dirumuskan.
Keragaman model perriikiran tentang masyarakat madani juga terderivasi pada keragaman tema, istilah, d m posisi subyek penggagas (sumber inforrnasi). Di Indonesia, keragaman istilah penyebutan format masyarakat yang diidealkan meliputi istilah masyarakat madani, masyarakat sipil, civil society, masyarakat warga atau masyarakat kewargaan.
Penelitian dengan tema tentang masyarakat madani sebenarnya bukan ha1 yang baru. Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bernama Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) yang berada di Jakarta, bekerjasama dengan The Asia Foundation (TAF) telah melakukan penelitian tentang peran agama sebagai kekuatan pendorong tegaknya masyarakat madani di Indonesia. Penelitian ini lebih menekankan pada investigasi dan diskripsi kontrbusi agama dalam menegakkan masyarakat madani dengan karakteristik adanya kemajuan, demokrasi dan keadilan. Dalam penelitian ini, format masyarakat madani didasarkan pada hasil studi pustaka dan observasi terhadap realitas massa rezim ORBA serta realitas kekinian (Lembaga Studi Agama dan Filsafat & The Asia Foundation : 1999).
Penelitian mengenai diskursus tentang masyarakat madani pada media massa belum pernah ada yang melakukan. Padahal ha1 ini sangat menarik, mengingat peran media massa dalam pembangunan, khususnya dalam konteks ini pengembangan pemikiran cerdas untuk mewujudkan masyarakat baru yang diidealkan. Media massa telah terbukti merupakan institusi penting yang eksistensinya sangat diperlukan bagi pelaksanaan dan kelancaran pembangunan.
Kompas termasuk media yang paling banyak memuat tulisan mengenai diskursus tentang masyarakat madani, khususnya berupa berita, tajuk rencana dan artikel. Artikel merupakan bentuk tulisan terbanyak dibanding berita dan tajuk
2
rencana
.
Oleh karena itu, Kompas merupakan pilihan peneliti untuk melakukan penelitian mengenai diskursus (perbincangan) masyarakat madani pada media massa,8 karena diantara media massa yang lain, Kompas memiliki kepedulian tersendiri terhadap diskursus tentang masyarakat madani.
Penelitian diskursus tentang masyarakat madani pada media massa ini setidaknya dapat memperlihal.kan sisi lain dari pernyataan Whiting (1989) bahwa isi pesan media massa di negara berkembang sebagian merupakan hiburan, pembangkit fantasi, berpihak pada status quo dan tidak mendorong perubahan. Selain itu juga memperlihatkan fungsi komunikasi bagi individu-individu yang peduli dengan pengembangan pemikiran yang visioner. Sebagai kontribusi bagi upaya-upaya untuk mewujudkan masyarakat baru yang diidealkan.
Perurnusan Masalah
Peneliti mencoba melakukan analisis perbandingan isi antara diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA. Membandingkan diskursus tentang masyarakat madani yang tenvujud dalam keragaman model pemikiran, tema, sumber informasi, istilah, dan bentuk tulisan. Secara detail, perumusan masalah penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana kecenderungan model pemikiran masyarakat madani dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA ?
2. Bagaimana kecenderungan tema dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA ?
3. Bagaimana kecenderungan sumber informasi dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA ?
4. Bagaimana kecenderungim penggunaan istilah antara istilah civil society, masyarakat sipil, masyarakat warga dan masyarakat madani dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA ?
5. Bagaimana kecenderungan bentuk tulisan yang berupa berita, tajuk rencana dan artikel dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA ?
Tujuan Penelitian
1. Mengetahui diskripsi perbandingan kecenderungan model pemikiran dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA.
2. Mengetahui diskripsi perbandingan kecenderungan tema dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA.
3. Mengetahui diskripsi perbandingan kecenderungan surnber inforrnasi dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA.
4. Mengetahui diskripsi perbandingan kecenderungan penggunaan istilah antara istilah civil society, masyarakat sipil, masyarakat warga dan masyarakat madani dalam diskursus tentang rrlasyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA.
5. Mengetahui diskripsi perbandingan kecenderungan bentuk tulisan yang berupa berita, tajuk rencana dan artikel dalam diskursus tentang masyarakat madani pada Kompas masa ORBA dan pasca ORBA.
Kegunaan Penelitian I . Kegunaan teoritik
Penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai realitas diskursus tentang masyarakat madani pada media massa dalam suatu masa yang berbeda. Sehingga memberikan kontribusi teoritis dalam khasanah wacana tentang masyarakat madani dalam media massa dengan mengkaitkan dengan dimensi historis. Hal ini diharapkan dapat membuka wawasan bahwa isi pesan media massa tidak hampa mang dan waktu. Isi pesan media massa merupakan ekspresi, refleksi atas situasi dan kondisi masyarakat atau paling tidak memiliki relevansi satu sama lainnya.
2. Kegunaan terapan
Sebagai inforrnasi yarig dapat membantu menambah pengetahuan siapapun yang memiliki kepedulian d m apresiasi terhadap pengembangan diskursus tentang masyarakat madani.