JSE
VOL. 2
NO. 2
72-109
HAL
MARET
2017
Diterbitkan Oleh:
SLB NEGERI SERDANG BEDAGAI
Jl. Besar Desa Bengabing Kec. Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai 20988 Website: www.slbnserdangbedagai.sch.id
i Puji syukur kita sampaikan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Allah Swt., atas limpahan karunia-Nya kita terus dibimbing untuk menjadi insan-insan terdidik dan menebarkan energi kebaikan melalui dunia pendidikan.
Terbitnya Jurnal Pendidikan Khusus dengan nama Jurnal Special Edu – sebagai Jurnal Pendidikan Khusus yang pertama dan satu-satunya di Sumatera Utara – adalah bagian usaha dari insan-insan terdidik SLB Negeri Serdang Bedagai untuk menebarkan energi kebaikan melalu dunia pendidikan terutama pendidikan khusus. Dengan kehadiran jurnal ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana bagi Praktisi, Pegiat dan/atau Pemerhati Pendidikan Khusus di Sumatera Utara pada khususnya dan Nusantara pada umumnya untuk berbagi ide dan gagasan; bertukar pengalaman dalam memberikan layanan prima, optima dan ultima berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan khusus serta tantangan dan harapan bagi Anak Berkemampuan/Berkebutuhan Khusus (ABK) pada masa yang akan datang.
Pada terbitan tahun kedua edisi dua ini Jurnal Special Edu membahas tentang: Meningkatkan Penguasaan Konsep Pengukuran Menggunakan Metode Bermain Kereta Ukur Berkedip Siswa Tunarungu Kelas II SLB Negeri Taliwang Sumbawa Barat; Strategi Pembelajaran Operasi Hitung Bagi Siswa Yang Mengalami Kesulitan Belajar Matematika Di Sekolah Dasar; dan Penanganan Perilaku Agresif Pada Anak Hiperaktif Di SLB E Prayuwana Yogyakarta.
Akhirnya dengan mengharap ridho Tuhan Yang Mahakuasa, Allah Swt., semoga kehadiran jurnal ini mencerahkan, mengedukasi dan bermanfaat bagi semua pihak. Amin.
Serdang Bedagai, Maret 2017 Penanggung jawab Jurnal Special Edu
SUHENDRI
ii
JURNAL SPECIAL EDU
Jurnal Pendidikan Khusus
Terbit Enam Kali Setahun (2 Bulanan)
Pada Bulan Januari, Maret, Mei, Juli, September, November ISSN 2541-3953 PENANGGUNGJAWAB: SUHENDRI KETUA PENYUNTING: ELFA ADILA PENYUNTING PELAKSANA:
DARTA PARDAMEAN SARAGIH NICKI ANDRINA SARI
VIVI WAHYUNINGSIH ROSMA BR. SEMBIRING NELDEWITA
PENYUNTING AHLI
MUSYAFAK ASSJARI (UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG) RAHMAT HIDAYAT (UNIVERSITAS DHARMAWANGSA MEDAN)
CANDRA WIJAYA (UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA) HAIDIR LUBIS (UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA) MUHAMMAD FADHLI (IAIN MALIKUSSALEH ACEH)
TATA USAHA: RICKI KURNIAWAN IMELDA NASUTION SURI HAKIKI FREDY PRATAMA PENERBIT:
SLB NEGERI SERDANG BEDAGAI
JURNAL SPECIAL EDU menerima artikel kebijakan, penelitian, pemikiran, review
teori/konsep/metodologi, dan informasi lain yang berkaitan dengan pendidikan khusus.
iii 1) Artikel merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah di publikasikan. 2) Artikel ditulis di kertas A4 dengan font “Times New Roman 12pt” 3) Artikel ditulis maksimal 15 halaman.
4) Seluruh artikel ditulis dengan Bahasa Indonesia 5) Susunan Jurnal Hasil Penelitian:
Judul (14 pt) Nama Penulis
Institusi dan Alamat Email Abstrak (150-200 kata) Kata Kunci (Maks. 5 kata) Pendahuluan
Metode
Hasil dan Pembahasan
Ucapan Terima Kasih (jika diperlukan) Referensi (Daftar Pustaka)
6) Susunan Artikel Kajian Teori: Judul (14 pt)
Nama Penulis
Institusi dan Alamat Email Abstrak (150-200 kata) Kata Kunci (Maks. 5 kata) Pendahuluan
Sub Judul Sub Judul Kesimpulan
Ucapan Terima Kasih (jika diperlukan) Referensi (Daftar Pustaka)
iv 1. Artikel yang ditulis untuk Jurnal Special Edu meliputi hasil penelitian dan hasil telaah di bidang Pendidikan Khusus, yakni mengenai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) baik berupa konsep pemikiran, hasil kajian, maupun hasil penelitian yang memberi kontribusi pada pemahaman, pengembangan, dan penanganan terhadap ABK di Indonesia.
2. Naskah diketik dengan program Microsoft Word, huruf Times New Roman, ukuran 12pt dengan spasi 1,5 pada kertas A4 menggunakan margin sisi atas dan kiri 4 cm, margin sisi bawah dan kanan 3 cm, dengan panjang tulisan 10-15 halaman.
3. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia.
4. Artikel ditulis dengan sistematika dan ketentuan sebagai berikut:
Judul Artikel
Judul artikel tidak boleh lebih dari 25 kata. Judul dicetak dengan huruf kapital di tengah-tengah dengan ukuran huruf 14 pt.
Nama Penulis
Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik, disertai asal lembaga, dan ditempatkan di bawah judul artikel. Dalam hal naskah ditulis oleh tim, penyunting atau redaksi hanya berhubungan dengan penulis utama atau yang namanya tercantum pada urutan pertama. Penulis utama harus mencantumkan alamat korespondensi atau e-mail.
Instansi Penulis
Ditulis nama instansi tempat penulis berasal, letaknya dibawah nama penulis, misal: Universitas Negeri Medan.
v kunci 3-5 kata (sesuai dengan variabel penelitian/telaah).
Abstrak Hasil Penelitian: memuat tujuan, metode penelitian dan hasil penelitian.
Artikel Kajian dan Konsep Pemikiran: memuat permasalahan dan pembahasan.
Kata Kunci
Berisi kata atau istilah yang mencerminkan esensi konsep dalam cakupan permasalahan, dapat terdiri dari beberapa buah kata/istilah dan terdapat dalam abstrak. Kata kunci ditulis di bawah abstrak dicetak miring-tebal.
Batang Tubuh Artikel
Artikel hasil penelitian terdiri atas pendahuluan yang memuat latar belakang permasalahan termasuk tujuan, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, serta kesimpulan.
Artikel kajian dan konsep pemikiran terdiri atas pendahuluan yang berisi permasalahan dan kerangka berpikir dan atau kerangka analisis, sub-subjudul yang berisi pembahasan, dan penutup.
Daftar Pustaka/Daftar Rujukan
Daftar pustaka yang dirujuk sangat disarankan dari pustaka primer, mutakhir dan bukan merupakan tulisan sendiri.
Daftar rujukan/daftar pustaka disusun mengacu pada APA Style seperti contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis:
Rujukan dari buku:
Dekker, N. 1992. Pancasila sebagai Ideology Bangsa: dari Pilihan Satu-satunya ke Satu-Satu-satunya Azas. Malang: FPIPS IKIP Malang.
Jika ada beberapa buku yang dijadikan sumber ditulis oleh orang yang sama dan diterbitkan dalam tahun yang sama pula, data tahun penerbitan diikuti oleh huruf a, b, c, dan seterusnya yang urutannya
vi Cornet, L. & Weeks, K. 1985b. Planning Carrer Ladder: Lesson from the States. Altanta GA: Career Ladder Clearinghouse.
Rujukan dari buku yang berisi kumpulan artikel (terdapat editornya). Ditambah dengan ed jika satu editor, eds jika editornya lebih dari satu. Contoh:
Denzin, N.K., Lincoln, Y. S., eds. 2009. Handbook of Qualitative Research. Terj. Daryatmo. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rujukan dari artikel dalam buku kumpulan artikel (ada editornya) contoh:
Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddin (Ed.). Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat dan YA3.
Rujukan dari buku yang ditulis lebih dari dua penulis et.al maupun dkk. ditulis lengkap nama penulis lainnya.
Heo, K. H. G., Cheatham, A., Mary, L. H., & Jina, N. 2014. Korean Early Childhood Educators’ Perceptions of Importance and Implementation of Strategies to Address Young Children’s Social-Emotional Competence. Journal of Early Intervention, 36 (1), hlm. 49-66.
Rujukan dari artikel dalam jurnal, contoh:
Naga, D.S. 1998. Karakteristik Butir pada Alat Ukur Model Dikotomi. Jurnal Ilmiah Psikologi, III (4), hlm. 34-42
Rujukan dari artikel dalam majalah atau koran, contoh:
Alka, D.K. 4 Januari 2011. Republik Rawan Kekerasan? Suara Karya, hlm. 11
Rujukan dari Koran tanpa penulis, contoh:
Kompas. 19 September 2011. Sosok: Herlambang Bayu Aji, Berkreasi dengan Wayang di Eropa, hlm. 16
vii
Rujukan dari lembaga yang ditulis atas nama lembaga tersebut, contoh:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Rujukan dari karya terjemahan, contoh:
Sztompka, P. 2005. Sosiologi Perubahan Sosial (Terj. Alimandan) Jakarta: Penerbit Prenada.
Rujukan berupa skripsi, tesis, atau disertasi, contoh:
Indarno, J. 2002. Kontribusi Penerapan Berbasis Sekolah terhadap Kualitas Penyelenggaraan Pendidikan Tingkat Dasar di Jawa Tengah. Tesis.
Semarang: Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.
Rujukan berupa makalah yang disajikan dalam seminar, penataran, atau lokakarya, contoh:
Siskandar. 2003. Teknologi Pembelajaran dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah: Disajikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran pada Tanggal 22-23 Agustus 2003 di Hotel Inna Garuda Yogyakarta.
Rujukan dari internet, contoh:
Jamhari, M. Pendekatan Antropologi dalam Kajian Islam,
http://www.ditpertais.net/artikel/jamhari01.asp. diakses tanggal 15 Januari 2012.
5. Segala sesuatu yang menyangkut perizinan pengutipan atau penggunaan software komputer untuk pembuatan naskah dan ihwal lain yang terkait dengan HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) yang dilakukan oleh penulis artikel, berikut konsekuensi hukum yang mungkin timbul karenanya, menjadi tanggung jawab penuh penulis artikel.
viii 7. Tulisan dapat dikirimkan kepada redaksi Jurnal “SPECIAL EDU” ke email
[email protected] dengan mencantumkan:
Nama : (Wajib)
Alamat Instansi : (Wajib) Judul Artikel : (Wajib)
No. HP : (Wajib)
atau diserahkan langsung/via pos berupa hard copy dan softcopy sebanyak 1 eksemplar ke alamat:
Sekretariat Jurnal Pendidikan Khusus “SPECIAL EDU” SLB Negeri Serdang Bedagai
Jl. Besar Desa Bengabing Kec. Pegajahan Kab. Serdang Bedagai Kode Pos. 20988
8. Biaya Penerbitan Artikel, didasarkan pada banyaknya kontribusi penulis dengan ketentuan jika:
1 orang Penulis : Rp. 150.000,- 1 orang Penulis : Rp. 250.000,- 1 orang Penulis : Rp. 350.000,- .... dst
9. Sebagai bukti pemuatan artikel, kepada penulis akan dikirimkan Jurnal
ix
Daftar Isi
Pengantar i
Dewan Redaksi ii
Pedoman Penulisan iii
Sistematika Penulisan iv
Daftar Isi ix
Gunawan Wiratno,S.Pd
Meningkatkan Penguasaan Konsep Pengukuran Menggunakan Metode Bermain Kereta Ukur Berkedip Siswa Tunarungu Kelas
II SLB Negeri Taliwang Sumbawa Barat 72-81
Ropiadi
Strategi Pembelajaran Operasi Hitung Bagi Siswa Yang
Mengalami Kesulitan Belajar Matematika Di Sekolah Dasar 82-96
Ida Ayu Dian Pramantik & Diajeng Tyas Pinru Phytanza
Penanganan Perilaku Agresif Pada Anak Hiperaktif Di SLB E
72
MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP PENGUKURAN
MENGGUNAKAN METODE BERMAIN KERETA UKUR
BERKEDIP SISWA TUNARUNGU KELAS II
SLB NEGERI TALIWANG
SUMBAWA BARAT
GUNAWAN WIRATNO, S.Pd
SLB N Taliwang Jl. Banjar No 7 Taliwang Sumbawa Barat; [email protected]
ABSTRAK
Siswa tunarungu adalah siswa yang mengalami gangguan pendengaran dari yang ringan sampai dengan yang berat. Sehingga akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran di kelas. Selama ini kemampuan siswa kelas II SDLB di SLBN Taliwang pada materi pengukuran menunjukkan nilai yang masih rendah yaitu dengan nilai 40 jauh di bawah nilai KKM yang telah ditetapkan yaitu 70. Selain itu siswa juga kurang merespon, acuh tak acuh dan bermain sendiri atau bermain dengan teman. Secara umum siswa tidak aktif selama proses pembelajaran matematika. Sehingga diadakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode bermain kereta ukur berkedip dengan prosedur perencanaan, implementasi tindakan, observasi dan refleksi. Dilaksanakan selama dua siklus masing – masing dua kali pertemuan. Hasil penelitian yang dilaksanakan menunjukkan bahwa pada siklus I siswa tuntas hanya satu sedangkan pada siklus II ketuntasan belajar siswa mencapai 100%. Keaktifan siswa pada siklus I sebesar 4,3 dan pada siklus II meningkat menjadi 6,95. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan media bermain kereta ukur berkedip dapat meningkatkan kemampuan penguasaan konsep pengukuran pada pelajaran Matematika siswa kelas II Tunarungu SLBN Taliwang Sumbawa Barat NTB.
Kata Kunci. Konsep Pengukuran, Metode bermain kereta ukur berkedip PENDAHULUAN
Siswa tunarungu terutama yang berada di tingkat sekolah dasar merupakan siswa yang masih memerlukan bimbingan berdasarkan tingkat perkembangannya yang masih bersifat konkrit, terutama pada siswa yang masih berada pada tingkat dasar. Sehingga proses pembelajaran yang diberikan harus bersifat terpadu dengan perkembangan siswa, baik perkembangan fisik, kognitif, sosial, moral maupun emosional.
Kenyataan yang ada di SLB Negeri Taliwang Sumbawa Barat terdapat tiga orang siswa, kelas II B dimana semua siswa memperoleh nilai di bawah KKM yang telah ditentukan adalah 70 namun yang didapatkan oleh siswa adalah rata-rata 40
73 pada standar kompetensi menggunakan pengukuran waktu, panjang, dan berat dalam pemecahan masalah dengan kompetensi dasar menggunakan alat ukur panjang tidak baku dan baku (cm,m) yang sering digunakan.
Selain perolehan nilai yang masih di bawah rata-rata tersebut siswa tampak tidak tertarik dengan materi yang diberikan. Hal ini Nampak pada proses pembelajaran yang terjadi yaitu siswa kurang merespon, acuh tak acuh dan bermain sendiri atau sering bermain dengan teman. Permasalahan yang terjadi disebabkan oleh kurang menariknya materi pembelajaran yang disajikan oleh guru, sehingga penulis perlu menerapkan pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan dekat dengan siswa.
Metode bermain kereta ukur berkedip yang merupakan modivikasi dari kereta mainan yang berfungsi untuk mengukur panjang atau jarak benda yang dilengkapi dengan lampu LED yang menyala sebagai penunjuk panjang benda yang diukur. Merupakan salah satu metode yang dapat memperbaiki proses belajar mengajar pengukuran.
Berdasarkan uraian di atas, masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika di kelasII SLB Negeri Taliwang adalah pembelajaran kurang menyenangkan sehingga siswa menjadi jenuh dan bosan khususnya tentang kesulitan dalam memahami konsep pengukuran. Adapun bentuk tindakannya adalah pembelajaran menyenangkan melalui metode bermain kereta ukur berkedip. Jadi, permasalahan yang ingin dipecahkan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bagaimanakah peningkatan kemampuan konsep pengukuran melalui metode bermain kereta ukur berkedip di kelas IISLB Negeri Taliwang Sumbawa Barat ? .
METODE PENELITIAN
Penelitian ini mengambil setting di kelas II SLB Negeri Taliwang, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada selasa tanggal 30 Agustus2016 dan kamis 1 September 2016 untuk pertemuan siklus pertama selanjutnya Selasa 20 dan 22 September 2016 pertemuan untuk siklus kedua. Sesuai tahapan dalam PTK, penelitian ini dilakukan dengan empat langkah untuk memecahkan masalah. Yaitu yaitu perencanaan, pelaksanaan, analisis, serta refleksi. Kegiatan perencanaan mencakup penyusunan RPP, penyusunan instrumen, penyiapan alat/bahan/media pembelajaran, serta penentuan observer. Tahap pelaksanaan tindakan, guru melaksanakan pembelajaran sesuai RPP. Saat pelaksanaan tindakan berlangsung, observer melakukan pengamatan terhadap aktifitas yang dilakukan oleh siswa dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun.
Tahap analisis data, yaitu mengkuantifikasi hasil/capaian pelaksanaan tindakan yang terdapat dalam lembar observasi termasuk menyusun deskripsi ringkas tentang proses pembelajaran yang berlangsung termasuk rumusan-rumusan hasil analisis data dengan mereduksinya dalam bentuk kategori-kategori. Adapun tahap
74 refleksi, adalah membandingkan hasil analisis data dengan indikator keberhasilan termasuk deskripsi-deskripsi yang bersifat narasi tentang proses pembelajaran. Apabila hasil analisis data menunjukkan belum mencapai indikator keberhasilan maka dilanjutkan ke siklus berikutnya.
Sebelum diuraikan metode pengumpulan data dan cara analisisnya, patut dikemukakan bahwa sumber data adalah siswa tunarungu kelas II SLB Negeri Taliwang Sumbawa Barat berupa (a) hasil belajar tentang konsep pengukuran; dan (b) aktivitas belajar siswa selama dalam pembelajaran konsep pengukuran. Memahami sumber data dan aspeknya, maka pengumpulan data dilakukan dengan metode tes dan pengamatan atau observasi. Metode tes berupa tes hasil belajar tentang konsep pengukuran yang disusun berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Selanjutnya menggunakan lembar pengamatan aktivitas siswa dengan menggunakan instrument yang telah disiapkan untuk masing-masing aspek yang disebutkan di atas. Begitu juga data berupa hasil belajar.
Adapun data yang terkumpul hasil observasi dianalisis dengan perhitungan sederhana (kuantitatif) dan deskriptif (kualitatif). Hasil-hasil perhitungan dirampatkan sesuai dengan kategori yang telah dibuat lalu dikomparasi dengan indikator keberhasilan dan dibuat rumusan-rumusan atau proposisinya. Indikator keberhasilan ini, meliputi: siswa dapat mencapai angka kriteria ketuntasan minimal 70 dan aktivitas siswa rata – rata mengalami peningkatan dari setiap kegiatan yang dilaksanakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut disajikan hasil pelaksanaan tindakan berdasarkan siklus dengan masing-masing setiap siklus berdasarkan tahapan perencanaan, pelaksanaan, analisis, dan refleksi.
Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap ini, telah dilakukan refleksi terhadap sebelumnya, bahwa pembelajaran sebelum tindakan masih diwarnai oleh pola konvensional dengan metode ceramah sebagai strategi pembelajaran utama guru masih dominan dan aktivitas belajar siswa yang rendah. Lalu dirumuskan bentuk tindakan menggunakan metode bermain kereta ukur berkedip yang dibuat secara spesifik dalam bentuk RPP. Selain itu, telah disusun lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa serta hasil belajar siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
Rencana pembelajaran yang telah disusun dilaksanakan pada tahap ini. Kondisi deskriptifnya, guru telah hadir di kelas tepat waktu, media pembelajaran pun
75 lengkap sesuai yang tertuang dalam RPP. Sesuai RPP guru telah melaksanakan pembelajaran mulai dari persiapan, kegiatan inti, dan penutup. Secara kualitatif kondisi pelaksanaan tindakan pada siklus 1 ini bahwa (a) guru belum mampu memotivasi, memfasilitasi, dan melibatkan siswa dalam setiap tahapan kegiatan pembelajaran; (b) siswa menunjukkan masih lemahnya aktivitas, minat, dan motivasi belajar siswa yang terlihat pada tidak adanya siswa yang bertanya; (c) sebagian besar siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru dengan benar dan perhatian siswa sedikit terganggu dengan kehadiran teman sejawat; dan (d) sering terjadi gangguan kelas, ada siswa yang bermain dan tidak serius mengikuti pembelajaran.
c. Analisis Data
Setelah mengadakan proses penelitian pada pelajaran matematika dengan metode bermain kereta ukur berkedip dan dilanjutkan dengan menganalisis hasil evaluasi pada siklus I maka diperoleh hasil evaluasi berupa nilai yang telah diolah sebagai berikut:
Tabel 1. Perolehan Nilai Tes Hasil Belajar Siklus I
No Nama Siklus I Pertemuan I II 1 Ibeng 4 4 2 Dimas 6 6 3 Cita 4 4 4 Sabila 8 8 Jumlah 22 22 Rata-rata persiklus 5,5 5,5 Rata-rata 5,5
Data yang diambil pada tes ini adalah data hasil dari postes. Terlihat bahwa nilai rata – rata kelas pada pertemuan I siklus pertama pertemuan I sebesar 5,5 dan nilai rata-rata pada siklus I pertemuan II adalah 5,5, selanjutnya untuk persentase ketuntasan pada pertemuan pertama adalah 10 % sedangkan pada pertemuan II siklus I ketuntasan sama yaitu 10 %.
Tabel 2. Ketuntasan Belajar Siklus I
PERTEMUAN I PERTEMUAN II NILA I BANYAK SISWA PERSENTAS E NILA I BANYAK SISWA PERSENTAS E 40 2 50% 40 2 50% 50 50 60 1 25% 60 1 25%
76
70 70
80 1 25% 80 1 25%
90 90
Tuntas 25% 25%
Selanjutnya data tersebut diatas dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut:
Grafik 1. Grafik Tes Hasil Belajar Siklus I
Sehingga dari hasil siklus I dapat disimpulkan tidak terjadi peningkatan nilai dari pertemuan I dengan pertemuan II pada siklus I yaitu pada pertemuan pertama memiliki rata-rata yang sama yaitu 5,5. Begitu juga dengan ketuntasan belajar terjadi kesamaan persentase ketuntasan yaitu sebesar 25 %. Dengan kata lain pada siklus pertama baik pada pertemuan pertama maupun pada pertemuan kedua tidak menunjukkan peningkatan penguasaan konsep pengukuran dengan metode bermain menggunakan alat peraga kereta ukur berkedip pada siswa tunarungu kelas II.
Adapun hasil dari lembar pengamatan aktivitas belajar siswa yang didapat sesuai dengan table sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil Lembar Pengamatan Keaktifan Siswa
No Indikator Pertemuan
I II
1 Keaktifan siswa 4,2 4,4
Jumlah 4,2 4,4
Rata-rata 4,3
Dari hasil lembar pengamatan pada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, terlihat bawa rata-rata pada pertemuan I dan II terjadi peningkatan keaktifan siswa yaitu dari 4,2 pada pertemuan I dan 4,4 pada pertemuan II. Selanjutnya dapat disajikan pada grafik di bawah untuk menjelaskan peningkatan keaktifan siswa yang terjadi pada siklus pertama.
77
Grafik 2. Grafik Keaktifan Siswa Siklus I
d. Refleksi
Setelah selesai pelaksanaan siklus pertama ini, peneliti sekaligus sebagai guru dengan kolaborator mendiskusikan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus pertama. Dari hasil diskusi diperoleh kesimpulan bahwa pada siklus pertama ini adalah (1). Prestasi belajar siswa menunjukkan nilai rata-rata yang masih rendah dan tidak menunjukkan peningkatan pada pertemuan pertama dan kedua. (2). Siswa masih kebingungan atau kesulitan dalam memahami pelajaran. (3). Dalam penggunaan alat peraga siswa masih berebutan penggunaannya, sehingga waktu banyak terbuang karena menunggu giliran dan siswa menjadi gaduh.
e. Rencana Terevisi I
Dari hasil refleksi pembelajaran pada siklus pertama, dapat dibuat suatu rencana revisi untuk tindakan tahap kedua adalah (1).Dalam penyampaian materi menggunakan metode bermain dengan kereta ukur berkedip dibuat menjadi dua kelompok untuk mengefektivkan waktu dan mengurangi kegaduhan untuk menunggu giliran menggunakan alat peraga. (2). Hal yang berkaitan dengan pembelajaran yang dirasa belum dilaksanakan dengan sempurna akan diperbaiki pada putaran berikutnya.
Siklus II
a. Perencanaan
Pada tahap ini, telah dilakukan refleksi terhadap siklus sebelumnya, bahwa siswa dibagi menjadi dua kelompok untuk menggunakan metode bermain kereta ukur berkedip yang dibuat secara spesifik dalam bentuk RPP. Selain itu, telah disusun lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa serta hasil belajar siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan dengan materi konsep pengukuran menggunakan metode bermain kereta ukur berkedip dimana siswa dikelompokkan menjadi dua. Untuk meminimalisir terjadinya kegaduhan akibat berebutan dalam menggunakan alat peraga kereta ukur berkedip.
78
c. Analisis Data
Setelah mengadakan proses penelitian pada pelajaran matematika dengan metode bermain kereta ukur berkedip dan dilanjutkan dengan menganalisis hasil evaluasi pada siklus II maka diperoleh hasil evaluasi berupa nilai yang telah diolah sebagai berikut:
Tabel 4. Perolehan Nilai Tes Hasil Belajar Siklus II
No Nama Pertemuan I II 1 Ibeng 4 8 2 Dimas 6 10 3 Cita 8 8 4 Sabila 8 10 5 Jumlah 26 36 Rata-rata 6,5 9,0
Data yang diambil pada tes ini adalah data hasil dari postes pada setiap akhir pertemuan. Terlihat bahwa nilai rata – rata kelas pada siklus kedua pertemuan I sebesar 6,5 dan nilai rata-rata pada siklus kedua pertemuan II adalah 9,0, selanjutnya untuk persentase ketuntasan pada pertemuan pertama adalah50 % sedangkan pada pertemuan II ketuntasan yaitu 100%.
Tabel 5. Ketuntasan Belajar Siklus II
SIKLUS I SIKLUS II
Nilai Banyak
Siswa Persentase Nilai
Banyak Siswa Persentase 40 1 25% 70 50 80 2 50% 60 1 25% 90 70 100 2 50% 80 2 50% Tuntas 50% 100%
Selanjutnya data tersebut diatas dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut:
79 Dari hasil siklus II terjadi peningkatan nilai dari pertemuan I dengan pertemuan II pada siklus II yaitu pada pertemuan pertama memiliki rata-rata yaitu 6,5 sedangkan pertemuan kedua 9,0. Selanjutnya ketuntasan belajar terjadi peningkatan persentase ketuntasan dari pertemuan I yaitu sebesar 50 % sedangkan pada pertemuan II memperoleh nilai ketuntasan 100 %. Dengan kata lain pada siklus kedua baik pada pertemuan pertama maupun pada pertemuan kedua menunjukkan peningkatan penguasaan konsep pengukuran dengan metode bermain menggunakan alat peraga kereta ukur berkedip pada siswa tunarungu kelas II.
Adapun hasil dari lembar pengamatan aktivitas belajar siswa yang didapat sesuai dengan table sebagai berikut:
Tabel 6. Hasil Lembar Pengamatan Keaktifan Siswa
No Indikator Pertemuan
I II
1 Keaktifan siswa 6,4 7,5
Jumlah 6,4 7,5
Rata-rata 6,95
Dari hasil lembar pengamatan pada keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, terlihat bawa rata-rata pada pertemuan I dan II terjadi peningkatan keaktifan siswa yaitu dari 6,4 pada pertemuan I dan 7,5 pada pertemuan II. Selanjutnya dapat disajikan pada grafik di bawah untuk menjelaskan peningkatan keaktifan siswa yang terjadi pada siklus pertama.
Grafik 4. Grafik Keaktifan Siswa Siklus I
d. Refleksi
Hasil dari diskusi dengan kolaborator adalah secara umum pelaksanaan pada siklus II adalah: (a) Perolehan nilai siswa sudah sangat memuaskan, (b) Pelaksanaan proses belajar mengajar tampak menjadi lebih aktif terlihat pada latihan siswa tampak berebutan menjawab latihan yang diberikan oleh guru.
Hasil pelaksanaan tindakan baik siklus I maupun siklus II di atas menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pada siklus I tes hasil belajar menunjukkan bahwa rata-rata tes hasl belajar 5,5, sedangkan pada siklus II menunjukkan bahwa tes hasil belajar sebesar 7,75. Sedangkan pada rata-rata
80 keaktifan siswa menunjukkan bahwa pada siklus I 4,3 sedangkan pada siklus II sebesar 6,95. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan penguasaan konsep pengukuran dan juga terjadi peningkatan keaktifan siswa dengan menggunakan metode bermain kereta ukur berkedip untuk meningkatkan penguasaan konsep pengukuran siswa tunarungu kelas II SLB Negeri Taliwang Sumbawa Barat.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:Penggunaan metode bermain dengan alat peraga kereta ukur berkedip dapat meningkatkan kemampuan mengukur panjang benda menggunakan alat ukur tidak baku pada pelajaran matematika siswa kelas II Tunarungu SLBN Taliwang Sumbawa Barat NTB. Dibuktikan dengan (1) Ketuntasan hasil belajar siswa siklus I siswa tuntas hanya satu orang sedangkan siklus II mencapai 100%, (2) Lembar Observasi aktivitas siswa meningkat dari siklus pertama 4,3 menjadi 6,95 pada siklus kedua.
DAFTAR PUSTAKA
Diknas. 2004. Alat Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Direktorat Pendidikan Luar Biasa Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Diknas. 2007. Karya Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tingkat Nasional Tahun 2006 untuk satuan Pendidikan SMA, SMK dan PLB : Kreatifitas Guru dalam Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Profesi Pendidik.
Erna Budiyati.2014. Penerapan Metode Permainan Untuk Meningkatkan Minat Belajar IPA Siswa Kelas V SD Negeri Krogowanan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang Tahun Ajaran 2013/2014. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Skripsi.
http://education-vionel.blogspot.com. Definisi Pengukuran. Diunduh 16 Juni 2016. http://fisikanesia.blogspot.com.Satuan Baku dan Satuan Tidak Baku. Diunduh 16
Juni 2016
http://ian43.wordpress.com. Alat Peraga. Diunduh 16 Juni 2016 http://unitedscience.wordpress. Pengukuran. Diunduh 16 Juni 2016
81 I G.A.K. Wardani,dkk. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka.
Kemdikbud. 2013. Modul PLPG Guru Kelas SDLB. Surabaya : Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 114 Universitas Negeri Surabaya.
M, Sobri Sutikno. 2009. Belajar dan Pembelajaran, Prospect: Bandung
Moh. Sholeh Hamid. 2011. Standar Mutu Penilaian Dalam Kelas. Yogyakarta : Diva Press.
Munawir, Yusuf, dkk. 2003. Pendidikan Bagi Anak dengan Problema Belajar. Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakartaz: P.T., Bumi Aksara Rida, Rubianti Kartini. 2014. Meningkatkan Kemampuan Mengenal Konsep
Measurement (pengukuran) pada Anak-anak Kelompok TK B di TK Islam Nur Al Rahman. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia. Skripsi.
Sardiman, A,M. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sujiono. 2009. Konsep Dasar PAUD. Jakarta: Gramedia Group.
Suyadi. 2012. Buku Panduan Guru. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Yogyakarta: Penerbit Andi
82
STRATEGI PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG BAGI SISWA YANG MENGALAMI KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA
DI SEKOLAH DASAR Ropiadi
SKh Bahari Labuan Pandeglang Email: [email protected]
ABSTRAK
Beberapa fakta di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan strategi pembelajaran yang tidak tepat merupakan salah satu faktor yang sering menyebabkan siswa gagal dalam memahami materi pelajaran, terlebih pada mata pelajaran matematika dimana materinyacenderung bersifat abstrak.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah strategi pembelajaran tentang operasi hitung penjumlahan dan pengurangan untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar di kelasnya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R & D). Subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika di kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung.Alat pengumpulan data dilakukan dengan asesmen, dengan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles and Huberman yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) strategi
pembelajaran yang dilakukan guru belum mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar, dan (2) strategi pembelajaran yang dianggap cocok untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa dalam belajar operasi hitung penjumlahan dan pengurangan adalah strategi pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme sosial “Vygotsky” melalui konsep
cooperative learning dan scaffolding. Berdasarkan hasil penelitian, maka
direkomendasikan kepada guru untuk menggunakan strategi pembelajaran yang telah dikembangkan.
Kata kunci : strategi pembelajaran operasi hitung, kemampuan, siswa yang mengalami
kesulitan belajar matematika
PENDAHULUAN
Salah satu unsur penting dan utama dalam pendidikan adalah terjadinya proses pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud adalah kegiatan pembelajaran yang tidak hanya menanamkan pengetahuan kepada siswa, tetapi sebuah proses di dalam mengatur lingkungan belajar agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Hamruni (2012: 44) mengungkapkan hakikat
83 mengajar bukan sekedar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar.
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang dipelajari pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ruseffendi (2005: 527) mengungkapkan, matematika diajarkan di sekolah karena matematika dapat membantu bidang studi lain, seperti ilmu pengetahuan alam, arsitektur, kedokteran, geografi, ekonomi, bisnis, pendidikan, manajemen, dan psikologi; statistika, probabilitas, dan analisa makin berperan. Namun, banyak orang yang memandang matematika merupakan bidang studi yang paling sulit dan sukar dipahami, bahkan pelajaran yang tidak menyenangkan. Abdurrahman (2012: 202) mengungkapkan bahwa, dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh siswa.Oleh karena itu, banyak siswa yang kurang termotivasi untuk belajar matematika.
Salah satu hal yang menjadi kesulitan siswa dalam memahami pelajaran matematika berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan dan struktur-struktur) hubungannya dengan logika, sehingga sebagian besar materi matematika bersifat abstrak, sementara cara berfikir siswa masih pada tahapan konkret menuju hal-hal yang abstrak. Marti (dalam Sundayana, 2015: 3) berpendapat bahwa, obyek matematika yang bersifat abstrak merupakan kesulitan tersendiri yang harus dihadapi peserta didik dalam mempelajari matematika.Tidak hanya peserta didik, guru pun mengalami kendala dalam mengajarkan matematika yang terkait dengan hal-hal sifatnya abstrak.Konsep-konsep matematika dapat dipahami dengan mudah bila bersifat konkret.Lalu secara bertahap siswa diarahkan pada tahapan semi konkret, kemudian pada tingkatan yang bersifat abstrak.
Kesulitan dalam belajar matematika tentu akan menimbulkan dampak yang negatif bagi siswa. Dampak negatif dari kesulitan dalam belajar matematika antara lain ketidakmampuan anak mengimplementasikannya dalam kehidupan. Kesulitan dan kekeliruan yang sering dihadapi siswa dalam pembelajaran matematika menurut Lerner (dalam Abdurrahman, 2012: 213) adalah kesulitan tentang simbol, nilai tempat, perhitungan, penggunaan proses yang keliru, dan
84 tulisan yang tidak terbaca. Selain itu, Glennon & Cruickshank (dalam Hallahan, et al, 2005: 458) berpendapat tentang beberapa kesulitan matematika yang dialami siswa berkesulitan belajar:
“Some of the mathematical difficulties that students with learning disabilities have are directly associated with performance of arithmetic tasks. For example, students with dyscalculia often have problems with such skill as (1) writing numerals and mathematical symbols correctly, (2) recalling the meanings of symbols and the answers to basic facts, (3) counting, and (4) following the steps in a strategy for solving multistep problems”.
Operasi hitung bilangan pada mata pelajaran matematika merupakan materi dasar yang diajarkan di tingkat sekolah dasar, seperti yang tertuang dalam dokumen Standar Isi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Maka penguasaan pada materi operasi hitung merupakan hal yang mutlak harus dimiliki oleh setiap siswa untuk dapat menyelesaikan masalah matematika.Kegagalan dalam memahami operasi hitung khususnya penjumlahan dan pengurangan sering menjadi penyebab lemahnya kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika.Seperti yang terjadi di lapangan, dimana kondisi prestasi siswa masih jauh dari tujuan yang diharapkan.
Dari hasil studi lapangan yang pernah peneliti lakukan pada bulan Maret - Mei 2015 di sebuah sekolah dasar di Bandung, masih ditemukan siswa di kelas IV yang secara kompetensi mestinya siswa sudah memahami dan mampu menggunakan operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah, akan tetapi hasil analisis menunjukkan bahwa siswa tersebut belum memahami nilai tempat dalam penjumlahan bersusun dengan teknik menyimpan, serta masih terjadi mis-konsepsi dalam melakukan operasi penjumlahan.
Melihat fenomena di kelas IV sekolah dasar tersebut, peneliti berasumsi bahwa keberadaan siswa yang mengalami masalah dalam belajar matematika khususnya materi operasi hitung menyebar di semua sekolah jenjang pendidikan dasar.Rivera (dalam Kroesbergen and Van Luit, 2003: 97) mengungkapkan “students with difficulties in learning mathematics can be found in almost every classroom. About 5% to 10% of the students in schools for elementary general education have difficulties with mathematics”. Berangkat dari fenomena tersebut,
85 maka setiap guru dan stakeholder yang terkait dengan pendidikan perlu menyadari dan memahami keberadaan siswa tersebut di sekolah-sekolah umum, sehingga dapat memberikan perhatian yang khusus, dan guru di kelas dapat merancang strategi dan model pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Masalah belajar yang dialami oleh siswa, sesungguhnya tidak terlepas dari bagaimana cara guru/pendidik dalam melakukan proses pembelajaran di kelas. Namun, faktor peranan seorang guru dalam melakukan proses pembelajaran sering menyebabkan siswa gagal dalam memahami konsep-konsep matematika. Mengingat paradigma pembelajaran matematika di sekolah masih di dominasi oleh paradigma pembelajaran konvensional, yakni paradigma mengajar dimana siswa diposisikan sebagai objek. Guru lebih menekankan pembelajaran pada menghafal konsep dan prosedur matematika guna menyelesaikan soal, Freudhental (dalam Sundayana 2015: 24) menyebut model pembelajaran ini sebagai model mekanistik. Guru menekankan pembelajaran matematika bukan pada pemahaman siswa terhadap konsep dan operasinya, melainkan pada pelatihan simbol-simbol matematika dengan penekanan pada pemberian informasi dan latihan penerapan algoritma.
Upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pembelajaran tentu melibatkan beberapa faktor, diantaranya adalah kurikulum dan strategi pembelajaran yang merupakan komponen vital dalam proses pembelajaran. Salah satu ciri pembelajaran matematika masa kini adalah penyajiannya didasarkan pada teori psikologi pembelajaran dari para pakar pendidikan.Salah satu teori belajar yang sering digunakan dalam aktivitas pembelajaran matematika adalah konstruktivisme sosial yang diturunkan dari seorang ahli pendidikan dan Psikolog berkebangsaan Rusia, Lev Semyonovich Vygotsky (1896 – 1934). Bahwa dalam pandangan konstruktivisme sosial, pengetahuan itu diperoleh secara individu, yaitu dengan mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dari proses interaksi dengan obyek yang dihadapinya serta pengalaman sosial. Inti dari teori ini adalah gagasan bahwa masing-masing siswa harus menemukan secara individu dan mentransformasikan informasi yang
86 kompleks jika mereka ingin menjadikannya milik sendiri (Anderson dkk dalam Slavin, 2003: 257).
Dari uraian yang dipaparkan, penulis tertarik untuk menggali lebih jauh dalam sebuah penelitian tentang bagaimana strategi pembelajaran matematika yang sesuai untuk diterapkan pada anak yang mengalami hambatan belajar matematika.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R & D). Menurut Sugiyono (2009) Metode Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.Sementara dalam bidang pendidikan, Borg and Gall (dalam Sugiyono, 2009) menyatakan bahwa penelitian dan pengembangan (Research and Development) merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran.
Lokasi penelitian dilaksanakan di SD Muhammadiyah 2 Bandung dan subjek penelitiandari penelitian ini adalah tiga orang siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika di kelas III sekolah tersebut diantaranya Irf, Rid, Din.
Desain penelitian dirancang dalam beberapa tahapan yaitu: Asesmen, pengumpulan data, analisis data, rumusan strategi pembelajaran, dan validasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes, observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
1. Kondisi Kemampuan Siswa Dalam Operasi Hitung Penjumlahan dan Pengurangan
Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan di kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung, peneliti menetapkan tiga orang siswa sebagai subjek penelitian yang
87 diketahui mengalami masalah dalam melakukan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan.Tiga orang siswa tersebut adalah Irf, Rid dan Din.
Berikut dipaparkan deskripsi hasil analisis kinerja siswa dalam semua aspek kemampuan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan yang disajikan dalam bentuk tabel:
Tabel 1.1
Deskripsi Hasil Analisis Kemampuan Operasi Hitung Siswa
No Siswa Deskripsi
1. Irf Pada aspek pemahaman nilai tempat bilangan, siswa belum memiliki pemahaman, terlihat dari hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan soal dalam bentuk cerita nomor (7),(8) dan (11):
Siswa meletakkan angka puluhan dari bilangan kedua dibawah angka ratusan dari bilangan pertama, dan angka satuan diletakkan dibawah angka puluhan, sehingga angka yang dihasilkan pun salah.
Kekeliruan lain yang dialami siswa ialah siswa mengabaikan simbol operasi bilangan, tampak dari hasil kinerja siswa:
Siswa melakukan operasi penjumlahan pada bilangan operasi hitung yang menggunakan simbol pengurangan.
Selain itu, siswa juga melakukan kekeliruan pada operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam, kekeliruan yang dilakukan siswa adalah mengurangi semua bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil tanpa melihat angka mana sebenarnya yang harus dikurangi dan mana yang mengurangi, tampak dari hasil kinerja siswa:
2. Rid Siswa belum memahami nilai tempat bilangan, terlihat dari hasil analisis pekerjaan siswa pada soal cerita nomor (7), dimana siswa diminta menyelesaikan soal cerita pada bilangan 312+67, siswa tidak menyelesaikan soal dengan bersusun kebawah namun langsung menuliskan hasil 982. Meskipun siswa tidak melakukan teknik bersusun kebawah, namun peneliti menganalisis, angka 2 satuan dari hasil tersebut langsung diturunkan dan tidak dijumlahkan dengan angka 7, angka 8 puluhan merupakan hasil menjumlahkan angka 1 dan 7, sedangkan angka 9 merupakan hasil menjumlahkan angka 3 dan 6.
88 penjumlahan dengan teknik menyimpan, tampak dari hasil kinerja siswa:
siswa tidak melakukan penyimpanan tetapi menuliskan semua angka puluhan dan satuan yang dihasilkan.
Selain itu, siswa juga melakukan kekeliruan pada operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam, kekeliruan yang dilakukan siswa adalah mengurangi semua bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil tanpa melihat angka mana sebenarnya yang harus dikurangi dan mana yang mengurangi, tampak dari hasil kinerja siswa:
3. Din Siswa mengalami kekeliruan dalam melakukan operasi hitung dengan mengabaikan simbol bilangan, tampak dari hasil kinerja
siswa:
Siswa melakukan operasi penjumlahan pada bilangan operasi hitung yang menggunakan simbol pengurangan. Selain itu dari hasil siswa tersebut juga tampak bahwa siswa mengalami masalah dalam melakukan operasi hitung penjumlahan dengan menyimpan, terlihat bahwa siswa menuliskan semua angka (dua digit) yang dihasilkan dari penjumlahan.Masalah tersebut tampak pula dari hasil kinerja siswa yang lain:
Selain itu, siswa juga melakukan kekeliruan pada operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam, kekeliruan yang dilakukan siswa adalah mengurangi semua bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil tanpa melihat angka mana sebenarnya yang harus dikurangi dan mana yang mengurangi, tampak dari hasil kinerja siswa:
Untuk mendukung hasil temuan, peneliti menggali informasi tentang perilaku dan sikap siswa dalam belajar matematika yang dilakukan dengan observasi siswa dan wawancara guru. Maka menghasilkan sebuah profil siswa yang disajikan dalam sebuah tabel berikut:
89
Tabel 1.2
Profil Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar Matematika
No. Siswa Kemampuan Kesulitan/Masalah Hasil Analisis Faktor
Penyebab Kesulitan Belajar Kebutuhan Belajar
1. Irf Dapat melakukan operasi penjumlahan tanpa teknik menyimpan puluhan+puluhan, ratusan+puluhan.
Belum memahami nilai tempat bilangan.
Tingkat pengetahuan siswa dibawah kurikulum yang ditetapkan pada kelasnya. Motivasi belajar yang kurang. Metode pembelajaran yang
tidak mengaktifkan, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa.
Materi pembelajaran yang menekankan pada aspek materi yang belum dikuasai siswa.
Metode pembelajaran yang memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa.
Pendekatan pembelajaran yang dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan siswa secara mandiri.
Bimbingan intensif yang dapat membantu proses pada tahap-tahap belajar siswa.
Metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan, menumbuhkan rasa percaya diri, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa. Dapat melakukan operasi
penjumlahan dengan menyimpan.
Sering mengabaikan simbol bilangan.
Dapat melakukan operasi pengurangan tanpa meminjam puluhan-puluhan.
Sering keliru dalam melakukan proses operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam mulai dari puluhan dengan puluhan.
Dapat bersosialisasi dengan teman-temannya.
Dalam menulis dan mengerjakan tugasnya sering tidak sampai selesai.
Cepat bosan dan acuh tak acuh.
2. Rid Dapat melakukan operasi penjumlahan tanpa teknik menyimpan.
Belum memahami nilai tempat bilangan.
Tingkat pengetahuan siswa dibawah kurikulum yang ditetapkan pada kelasnya. Faktor kesehatan yang kurang
baik.
Motivasi belajar yang kurang. Metode pembelajaran yang
tidak mengaktifkan,
Materi pembelajaran yang menekankan pada aspek materi yang belum dikuasai siswa.
Metode pembelajaran yang memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa.
Pendekatan pembelajaran Dapat melakukan operasi
pengurangan tanpa teknik meminjam.
Keliru dalam melakukan proses operasi hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan. Dapat bersosialisasi dengan
teman-temannya.
Keliru dalam melakukan proses operasi hitung pengurangan
90 dengan teknik meminjam. membangkitkan motivasi dan
kemandirian siswa.
yang dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan siswa secara mandiri.
Bimbingan intensif yang dapat membantu proses pada tahap-tahap belajar siswa.
Metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan, menumbuhkan rasa percaya diri, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa. Patuh pada perintah guru. Dalam menulis dan
mengerjakan tugasnya sering tidak sampai selesai.
Mengalami perlakuan yang kurang baik dirumah.
Sering malas sekolah.
Sering mengalami pingsan disekolah.
3. Din Dapat melakukan operasi penjumlahan tanpa teknik menyimpan.
Sering mengabaikan simbol bilangan.
Tingkat pengetahuan siswa dibawah kurikulum yang ditetapkan pada kelasnya. Motivasi belajar yang kurang. Metode pembelajaran yang
tidak mengaktifkan, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa.
Proses pembelajaran yang tidak menghadirkan tantangan dalam belajar siswa.
Materi pembelajaran yang menekankan pada aspek materi yang belum dikuasai siswa.
Metode pembelajaran yang memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa.
Pendekatan pembelajaran yang dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan siswa secara mandiri.
Bimbingan intensif yang dapat membantu proses pada tahap-tahap belajar siswa.
Metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan, menumbuhkan rasa percaya diri, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa. Tekun dalam melakukan tugas. Keliru dalam melakukan proses
operasi hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan. Keliru dalam melakukan proses operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam. Pendiam dan pasif.
Sangat lambat dalam menulis dan mengerjakan tugas-tugasnya.
Sering kesiangan dan tidak masuk sekolah.
91 2. Strategi Pembelajaran Guru di Kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung
Untuk mengetahui strategi pembelajaran seperti apa yang telah dikembangkan guru dalam mengakomodasi siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika di kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung khususnya dalam kemampuan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan, perlu digali bagaimana guru melakukan perencanaan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Untuk mendapatkan data tersebut peneliti melakukan wawancara, observasi dan studi dokumentasi.
Tabel 2.1
Profil Proses Pembelajaran Guru
Aspek Kekuatan Kelemahan
Perencanaan pembelajaran
Tidak melakukan perencanaan secara
administratif yang tertuang dalam dokumen silabus dan RPP.
Pelaksanaan pembelajaran
Selalu melakukan apersepsi dengan pembiasaan hafalan-hafalan sebelum materi. Dapat melayani semua
siswa.
Membangun interaksi yang baik dengan siswa.
Cukup dapat memberikan perhatian dan bimbingan kepada siswa yang berkesulitan belajar. Penggunaan bahasa yang
dapat dipahami siswa. Mendapatkan respon dan
penerimaan yang baik dari siswa.
Pemilihan materi pembelajaran tidak menekankan pada aspek materi yang belum dikuasai siswa.
Kurang memberikan motivasi, baik dengan ungkapan maupun sikap. Tidak mengkondisikan
dengan baik posisi duduk siswa.
Kegiatan belajar monoton, metode pembelajaran lebih sering dilakukan dengan ceramah, menjelaskan konsep-konsep dan
pemberian contoh kemudian meminta siswa maju satu persatu kedepan
mengerjakan tugas. Tidak dapat
mengidentifikasi jenis kesulitan belajar siswa. Tidak menyediakan alat
bantu atau media dalam kegiatan pembelajaran. Tidak melakukan refleksi
92 materi pada akhir
pembelajaran. Evaluasi
pembelajaran
Melibatkan semua siswa dalam pengerjaan tugas.
Tidak menetapkan standar dalam penilaian.
3. Implikasi Temuan Penelitian Terhadap Pengembangan Strategi Pembelajaran Operasi Hitung Berdasarkan Konsep Belajar Konstruktivisme Sosial
Berdasarkan hasil temuan penelitian terhadap kondisi kemampuan siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika dan strategi pembelajaran yang dilakukan guru di kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung, maka implikasi temuan tersebut terhadap pengembangan strategi pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan berdasarkan konsep belajar konstruktivisme sosial adalah sebagai berikut:
a. Materi pembelajaran dalam hal ini operasi hitung penjumlahan dan pengurangan, guru perlu menekankan aspek materi yang belum dikuasai siswa serta memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa, misalnya siswa belum memahami nilai tempat, maka disamping guru menyampaikan materi yang dituntut dalam kurikulum untuk kelas tersebut guru juga perlu memberikan fokus dan penekanan terhadap pemahaman nilai tempat bagi siswa yang belum menguasainya serta melakukan kontrol dengan mencatat kemajuan siswa. Penekanan tersebut bisa dilakukan dengan menyederhanakan konsep, menggunakan alat peraga yang relevan serta melakukan bimbingan khusus;
b. Untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan dan pemahamannya, maka dalam melakukan proses pembelajaran di kelas perlu mengusahakan tersedianya alat peraga atau media pembelajaran yang relevan dengan materi pembelajaran. Ruseffendi mengemukakan, alat peraga adalah alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika yang dapat berupa benda nyata dan dapat pula berupa gambar atau diagram (Warsini, dkk. 2013). Alat peraga untuk membantu menanamkan konsep penjumlahan dan pengurangan dengan cara bersusun
93 dapat digunakan media kantong lidi yang ditempel bersusun pada karton besar menyerupai konsep penjumlahan atau pengurangan teknik bersusun :
Gambar 3.1
Alat Peraga Operasi Hitung
c. Untuk mengakomodasi kebutuhan siswa yang mengalami kesulitan belajar yang menjadi temuan penelitian, agar siswa dapat belajar bersama-sama siswa lainnya di kelas yang heterogen, maka guru perlu memberikan bimbingan intensif dengan pendekatan scaffolding, scaffolding dilakukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan untuk membantu tahap-tahap belajar siswa dimana guru melakukan pembimbingan, pendampingan dan pengontrolan, mencatat hal apa yang sudah dikuasai dan yang belum dikuasai siswa. Scaffolding juga dilakukan dengan memberikan latihan-latihan menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri, ketika siswa mengalami kesulitan guru memberikan panduan dan tuntunan atau dengan memberikan contoh lain, kegiatan itu dilakukan sampai siswa dapat melakukan tugasnya secara mandiri. Selain hal-hal yang berkaitan langsung dengan materi pelajaran, scaffolding juga dilakukan dengan mengkondisikan posisi tempat duduk siswa agar memungkinkan terjadinya tatap muka sehingga guru dapat lebih menjangkau dan mengontrol tingkah laku siswa.
d. Untuk membangkitkan suasana kelas yang dinamis, serta terciptanya interaksi antar siswa, saling bekerjasama dalam proses pembelajaran sehingga tumbuh motivasi dan rasa percaya diri siswa, maka pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dengan pola diskusi dan kerja kelompok dapat diaplikasikan pada proses pembelajaran di kelas.
94
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis pada kinerja siswa dalam melakukan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan, peneliti mengidentifikasi beberapa tipe kesulitan yang dialami siswa, yaitu: (1) Kesulitan memahami nilai tempat bilangan; (2) Kesulitan memahami simbol bilangan; (3) Kesulitan/kelirudalam memahami proses operasi hitung.
Dari beberapa tipe kesulitan yang ditemukan tersebut, sesuai dengan apa yang diungkapkan Lerner (dalam Abdurrahman, 2012: 210-213) bahwa kesulitan mengenal dan memahami simbol bilangan, perseverasi, dan kesulitan dalam bahasa dan membaca, merupakan hambatan dalam belajar matematika yang dialami siswa berkesulitan belajar. Selanjutnya Lerner (dalam Abdurrahman, 2012: 213) mengungkapkan, ada beberapa kekeliruan yang umum yang sering dilakukan siswa berkesulitan belajar matematika, yaitu: Kekurang pemahaman tentang simbol; (2) kesulitan memahami nilai tempat; (3) kekurang pahaman perhitungan; (4) Penggunaan proses yang keliru; dan (5) Tulisan yang tidak terbaca.
Temuan penelitian baik dari aspek kondisi siswa maupun pembelajaran yang dilakukan guru berimplikasi terhadap strategi pembelajaran operasi hitung yang dikembangkan berdasarkan konsep belajar konstruktivisme sosial. Temuan penelitian dari aspek siswa yaitu, siswa belum memahami nilai tempat bilangan, sering mengabaikan simbol bilangan, keliru dalam melakukan proses operasi hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan, keliru dalam melakukan proses operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam, kurangnya motivasi belajar siswa, siswa pasif dan kurang mampu bersosialisasi, lambat dalam mengerjakan tugas. Sementara temuan penelitian dari aspek pembelajaran diantaranya kurangnya pemberian motivasi dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton dimana metode pembelajaran lebih sering dilakukan dengan ceramah, menjelaskan konsep-konsep dan pemberian contoh kemudian meminta siswa maju satu persatu kedepan mengerjakan tugas.
Temuan tersebut berimplikasi pada perlunya pemilihan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, pemilihan materi pembelajaran
95 yang menekankan pada aspek yang belum dikuasai siswa dan memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa, penyediaan alat bantu/ media konkret untuk membantu mengkonstruksi pengetahuan siswa, serta pemberian bimbingan intensif untuk membantu tahap-tahap proses belajar siswa. Untuk menyusun program pembelajaran yang dapat membantu siswa mengkonstruksi pengetahuan dan mengaktifkan belajar siswa, metode pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Sebagaimana pandangan Vygotsky bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh individu siswa sendiri melalui proses interaksi dan pengalaman sosialnya. Stategi pembelajaran dalam rangka pemberian bantuan intensif dalam membantu tahap-tahap belajar siswa dilakukan dengan scaffolding, yaitu memberikan bantuan intensif kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran dan secara bertahap mengurangi bantuan tersebut kemudian siswa mengambil alih tanggung jawabnya setelah ia dapat melakukannya.
PENUTUP
Untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa berdasarkan kesulitan-kesulitan belajar yang dialami siswa yang teridentifikasi kedalam tiga tipe kesulitan dalam melakukan operasi hitung, diantaranya: (1) Kesulitan memahami nilai tempat bilangan; (2) Kesulitan memahami simbol bilangan; (3) Kesulitan/kelirudalam memahami proses operasi hitung, aspek yang berkaitan dengan perilaku belajar siswa diantaranyakurangnya motivasi belajar, siswa pasif dan kurang mampu bersosialisasi, lambat dalam mengerjakan tugas,serta aspek lain yang berkaitan dengan pembelajaran seperti kurangnya pemberian motivasi dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton, maka perlu dikembangkan strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan dan mengkonstruksi pengetahuan siswa melalui pembelajaran kooperatif (cooperative learning) serta pemberian bimbingan intensif untuk membantu siswa pada tahap-tahap awal proses belajarnya melalui pendekatan scaffolding. Pembelajaran kooperatif dan scaffolding merupakan konsep belajar yang diturunkan dari teori konstruktivisme sosial “Vygotsky”.Maka peneliti menyimpulkan bahwa strategi
96 pembelajaran yang dianggap sesuai untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa dalam operasi hitung penjumlahan dan pengurangan yaitu strategi pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme sosial melalui konsep cooperative learning dan scaffolding.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M. (2012). Anak berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Badan Standar Nasional Pendidikan.(2006). Standar isi untuk satuan pendidikan
dasar dan menengah. Jakarta: BSNP.
Budiningsih, C. A. (2012). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hallahan, D. P. dkk. (2005). Learning disabilities: Foundations, characteristics,
and effective teaching (third edition). Boston: Pearson. Hamruni.(2012). Strategi pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani.
Heruman.(2012). Model pembelajaran matematika di sekolah dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jamaris, M. (2014).Kesulitan belajar: Perspektif, asesmen, dan penanggulangannya. Bogor: Ghalia Indonesia.
Kroesbergen, E. H. & Van Luit, J. E. H. (2003).Mathematics interventions for children with special educational needs (a meta-analysis). Jurnal: Remedial And Special Education, 24 (2), hlm. 97-114.
Ruseffendi, E. T. (2005). Dasar-dasar matematika modern dan komputer untuk guru (edisi ke-5). Bandung: Tarsito.
Slavin, R. E. (2003). Educational psychology: Theory and practice. Boston: Pearson.
Sugiyono.(2014). Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sundayana, R. (2015). Media dan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Bandung: Alfabeta.
Suparno, P. (1997). Filsafat konstruktivisme dalam pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Warsini, W. L. E. dkk. (2013). Penggunaan alat peraga sederhana pada operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V. Jurnal: Mimbar PGSD, vol. 1.
97
PENANGANAN PERILAKU AGRESIF PADA ANAK
HIPERAKTIF DI SLB E PRAYUWANA YOGYAKARTA
Ida Ayu Dian Pramantik (SLB N 1 Bantul)
Diajeng Tyas Pinru Phytanza (Universitas Muhammadiyah Lampung)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab, bentuk, upaya penanganan, dan kendala yang dihadapi guru dalam menangani perilaku agresif pada anak hiperaktif di SLB E Prayuwana Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi kasus. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis induktif dengan langkah-langkah: reduksi data, display data, pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data dengan memperbanyak masa observasi, pengamatan yang terus menerus, trianggulasi, dan menggunakan member check. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor penyebab timbulnya perilaku agresif diduga karena faktor internal yaitu anak yang tidak dapat mengendalikan emosi, keinginan yang muncul secara tiba-tiba, anak yang mudah terprovokasi oleh tindakan orang lain, ketertarikan individu terhadap orang lain, dan faktor eksternal yaitu pengalaman/proses belajar dari kecil yang salah, lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Bentuk perilaku agresif dilakukan secara verbal dan nonverbal yaitu berbicara kasar dan tidak sopan kepada orang lain, meminta secara paksa, merusak barang, mengancam, memukul. Upaya yang telah dilakukan guru yaitu menegur, melarang, mengalihkan serta memberikan punishment (hukuman). Pihak sekolah mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orangtua yang menjadi kendala utama dalam optimalisasi penanganan terhadap anak.
Kata Kunci : Perilaku agresif, anak hiperaktif.
PENDAHULUAN
Masalah sosial sangat berkaitan dengan masyarakat. Penyimpangan-penyimpangan sosial yang muncul di kalangan anak usia sekolah menjadi problematika tersendiri baik bagi orang tua maupun lingkungan masyarakat. Penyimpangan perilaku sosial yang dilakukan pada anak usia sekolah antara lain seperti negativism, agresif, withdrawl dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu
98 faktor dari dalam diri anak dan faktor dari luar diri anak. Pada perilaku agresif yang dilakukan oleh anak hiperaktif disebabkan oleh faktor dari dalam diri anak dan faktor dari luar diri anak. Faktor dari dalam diri anak dapat disebabkan karena ada kerusakan pada otak dan ketidakstabilan emosi, sedangkan faktor dari luar dapat berupa pengalaman-pengalaman dari lingkungan seperti pengalaman membaca buku, televisi, pergaulan dan dari pengalaman yang didapat dari kehidupan sehari-hari. Agresif adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang terdorong untuk menghindari perlakuan itu (Krahe, 2005:16). Sedangkan Kartini Kartono (1997:266) mengemukakan bahwa agresif semacam ini mengganggu fungsi intelegensi sehingga harga dirinya dari pada sang anak merosot.
Menurut pendapat Tin Suharmini (2004;80) “Perilaku agresif ada yang berbentuk verbal (misalnya mengancam, memaki, marah dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan) dan dapat berbentuk non verbal (seperti memukul, merusak barang-barang, dsb)”. Agresif verbal menurut Schultz & Videbeck (1998) yang di kutip dari Videbeck (2008) adalah emosi yang diungkapkan melalui kata-kata yang melecehkan, tidak adanya kerja sama, pelanggaran aturan atau norma, atau perilaku mengancam. Sedangkan agresif fisik ialah perilaku menyerang atau melukai orang lain atau mencakup perusakan properti. Perilaku agresifditujukan untuk menyakiti atau menghukum orang lain atau memaksa seseorang untuk patuh.
Perbincangan masalah perilaku anak antara orang tua masih belum terbuka, sebagian dari orang tua menutupi perilaku anaknya yang dianggap nakal dan agresif di lingkungan masyarakat karena merasa malu dengan perilaku anaknya tersebut. Sebagian lagi orang tua terkesan masa bodoh dengan perilaku anaknya bahkan ada yang benar-benar tidak menghiraukannya karena orang tua sudah merasa tidak mampu untuk mengarahkan karena anaknya nakal dan agresif serta tidak dapat lagi dinasehati oleh orang tua. Dalam hal ini perlu diadakan pengarahan kepada orang tua bagaimana menghadapi perilaku anak yang agresif dan cara penanganan yang tepat untuk mengurangi/menghilangkan perilaku agresif tersebut.
99 Seseorang dalam berperilaku/bertindak karena adanya berbagai pertimbangan, misalnya adalah norma. Begitu juga seorang anak, sebagian anak memahami norma terutama norma agama dan norma sosial, mereka akan dapat mengendalikan diri dalam bertingkah laku. Apabila mereka menganggap perilaku yang dilakukan itu tidak sesuai dengan norma yang ada baik norma sosial maupun norma agama maka anak akan menentang perilaku tersebut dan berperilaku yang baik sesuai dengan norma yang berlaku.
Hal tersebut berbeda bagi anak-anak yang memiliki kelainan seperti anak hiperaktif dengan mengalami gangguan perilaku agresif. Anak ini sulit untuk menyesuaikan diri dan mentaati norma atau aturan yang ada di dalam lingkungan masyarakat, apalagi anak mengalami gangguan perilaku agresif yang sering sekali anak ini lakukan adalah dia selalu mengganggu, menyakiti, menghina, mengejek bahkan mengancam membunuh orang menjadikan anak ini tidak dapat diterima bahkan terisolasi dalam pergaulannya sehingga anak sering ditolak keberadaannya oleh lingkungan. Anak sering dijauhi, tidak diterima, dikucilkan, tidak disukai teman-temannya. Hal itu dapat membuat anak depresi dan frustasi karena merasa dijauhi dan tidak diterima, bahkan dapat membuat perilaku anak menjadi lebih parah.
Keadaaan demikian sangat memprihatinkan, oleh karenanya diperlukan bimbingan secara intensif berupa pendidikan perilaku agar perilaku agresif tidak muncul. Namun sampai saat ini nampaknya masih sangat terbatas informasi dan pengetahuan mengenai pendidikan perilaku bagi anak hiperaktif, sehingga baik orang tua maupun guru bingung atau bahkan tidak tahu bagaimana menangani penyimpangan perilaku agresifnya anak hiperaktif. Selain itu, masih minimnya bimbingan baik dari orang tua maupun guru yang dilakukan sejak dini berupa pendidikan perilaku yang baik dan sesuai dengan masyarakat sejak dini.
Oleh karena itu peran orang tua, sekolah serta masyarakat sangatlah penting dalam menanamkan nilai-nilai norma terhadap anak. Mereka dapat memberikan pendidikan perilaku yang benar sesuai aturan yang ada dalam masyarakat sehingga anak mampu mengendalikan perilaku agresifnya dan anak dapat diterima di lingkungan masyarakat. Dengan demikian anak hiperaktif yang memiliki