• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen JSE VOL. 2 NO. 2 HAL MARET ISSN (Halaman 35-42)

Abdurrahman, M. (2012). Anak berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Badan Standar Nasional Pendidikan.(2006). Standar isi untuk satuan pendidikan

dasar dan menengah. Jakarta: BSNP.

Budiningsih, C. A. (2012). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hallahan, D. P. dkk. (2005). Learning disabilities: Foundations, characteristics,

and effective teaching (third edition). Boston: Pearson. Hamruni.(2012). Strategi pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani.

Heruman.(2012). Model pembelajaran matematika di sekolah dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jamaris, M. (2014).Kesulitan belajar: Perspektif, asesmen, dan penanggulangannya. Bogor: Ghalia Indonesia.

Kroesbergen, E. H. & Van Luit, J. E. H. (2003).Mathematics interventions for children with special educational needs (a meta-analysis). Jurnal: Remedial And Special Education, 24 (2), hlm. 97-114.

Ruseffendi, E. T. (2005). Dasar-dasar matematika modern dan komputer untuk guru (edisi ke-5). Bandung: Tarsito.

Slavin, R. E. (2003). Educational psychology: Theory and practice. Boston: Pearson.

Sugiyono.(2014). Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sundayana, R. (2015). Media dan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Bandung: Alfabeta.

Suparno, P. (1997). Filsafat konstruktivisme dalam pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Warsini, W. L. E. dkk. (2013). Penggunaan alat peraga sederhana pada operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V. Jurnal: Mimbar PGSD, vol. 1.

97

PENANGANAN PERILAKU AGRESIF PADA ANAK

HIPERAKTIF DI SLB E PRAYUWANA YOGYAKARTA

Ida Ayu Dian Pramantik (SLB N 1 Bantul)

Diajeng Tyas Pinru Phytanza (Universitas Muhammadiyah Lampung)

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab, bentuk, upaya penanganan, dan kendala yang dihadapi guru dalam menangani perilaku agresif pada anak hiperaktif di SLB E Prayuwana Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi kasus. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis induktif dengan langkah-langkah: reduksi data, display data, pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data dengan memperbanyak masa observasi, pengamatan yang terus menerus, trianggulasi, dan menggunakan member check. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor penyebab timbulnya perilaku agresif diduga karena faktor internal yaitu anak yang tidak dapat mengendalikan emosi, keinginan yang muncul secara tiba-tiba, anak yang mudah terprovokasi oleh tindakan orang lain, ketertarikan individu terhadap orang lain, dan faktor eksternal yaitu pengalaman/proses belajar dari kecil yang salah, lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Bentuk perilaku agresif dilakukan secara verbal dan nonverbal yaitu berbicara kasar dan tidak sopan kepada orang lain, meminta secara paksa, merusak barang, mengancam, memukul. Upaya yang telah dilakukan guru yaitu menegur, melarang, mengalihkan serta memberikan punishment (hukuman). Pihak sekolah mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orangtua yang menjadi kendala utama dalam optimalisasi penanganan terhadap anak.

Kata Kunci : Perilaku agresif, anak hiperaktif.

PENDAHULUAN

Masalah sosial sangat berkaitan dengan masyarakat. Penyimpangan-penyimpangan sosial yang muncul di kalangan anak usia sekolah menjadi problematika tersendiri baik bagi orang tua maupun lingkungan masyarakat. Penyimpangan perilaku sosial yang dilakukan pada anak usia sekolah antara lain seperti negativism, agresif, withdrawl dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu

98 faktor dari dalam diri anak dan faktor dari luar diri anak. Pada perilaku agresif yang dilakukan oleh anak hiperaktif disebabkan oleh faktor dari dalam diri anak dan faktor dari luar diri anak. Faktor dari dalam diri anak dapat disebabkan karena ada kerusakan pada otak dan ketidakstabilan emosi, sedangkan faktor dari luar dapat berupa pengalaman-pengalaman dari lingkungan seperti pengalaman membaca buku, televisi, pergaulan dan dari pengalaman yang didapat dari kehidupan sehari-hari. Agresif adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang terdorong untuk menghindari perlakuan itu (Krahe, 2005:16). Sedangkan Kartini Kartono (1997:266) mengemukakan bahwa agresif semacam ini mengganggu fungsi intelegensi sehingga harga dirinya dari pada sang anak merosot.

Menurut pendapat Tin Suharmini (2004;80) “Perilaku agresif ada yang berbentuk verbal (misalnya mengancam, memaki, marah dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan) dan dapat berbentuk non verbal (seperti memukul, merusak barang-barang, dsb)”. Agresif verbal menurut Schultz & Videbeck (1998) yang di kutip dari Videbeck (2008) adalah emosi yang diungkapkan melalui kata-kata yang melecehkan, tidak adanya kerja sama, pelanggaran aturan atau norma, atau perilaku mengancam. Sedangkan agresif fisik ialah perilaku menyerang atau melukai orang lain atau mencakup perusakan properti. Perilaku agresifditujukan untuk menyakiti atau menghukum orang lain atau memaksa seseorang untuk patuh.

Perbincangan masalah perilaku anak antara orang tua masih belum terbuka, sebagian dari orang tua menutupi perilaku anaknya yang dianggap nakal dan agresif di lingkungan masyarakat karena merasa malu dengan perilaku anaknya tersebut. Sebagian lagi orang tua terkesan masa bodoh dengan perilaku anaknya bahkan ada yang benar-benar tidak menghiraukannya karena orang tua sudah merasa tidak mampu untuk mengarahkan karena anaknya nakal dan agresif serta tidak dapat lagi dinasehati oleh orang tua. Dalam hal ini perlu diadakan pengarahan kepada orang tua bagaimana menghadapi perilaku anak yang agresif dan cara penanganan yang tepat untuk mengurangi/menghilangkan perilaku agresif tersebut.

99 Seseorang dalam berperilaku/bertindak karena adanya berbagai pertimbangan, misalnya adalah norma. Begitu juga seorang anak, sebagian anak memahami norma terutama norma agama dan norma sosial, mereka akan dapat mengendalikan diri dalam bertingkah laku. Apabila mereka menganggap perilaku yang dilakukan itu tidak sesuai dengan norma yang ada baik norma sosial maupun norma agama maka anak akan menentang perilaku tersebut dan berperilaku yang baik sesuai dengan norma yang berlaku.

Hal tersebut berbeda bagi anak-anak yang memiliki kelainan seperti anak hiperaktif dengan mengalami gangguan perilaku agresif. Anak ini sulit untuk menyesuaikan diri dan mentaati norma atau aturan yang ada di dalam lingkungan masyarakat, apalagi anak mengalami gangguan perilaku agresif yang sering sekali anak ini lakukan adalah dia selalu mengganggu, menyakiti, menghina, mengejek bahkan mengancam membunuh orang menjadikan anak ini tidak dapat diterima bahkan terisolasi dalam pergaulannya sehingga anak sering ditolak keberadaannya oleh lingkungan. Anak sering dijauhi, tidak diterima, dikucilkan, tidak disukai teman-temannya. Hal itu dapat membuat anak depresi dan frustasi karena merasa dijauhi dan tidak diterima, bahkan dapat membuat perilaku anak menjadi lebih parah.

Keadaaan demikian sangat memprihatinkan, oleh karenanya diperlukan bimbingan secara intensif berupa pendidikan perilaku agar perilaku agresif tidak muncul. Namun sampai saat ini nampaknya masih sangat terbatas informasi dan pengetahuan mengenai pendidikan perilaku bagi anak hiperaktif, sehingga baik orang tua maupun guru bingung atau bahkan tidak tahu bagaimana menangani penyimpangan perilaku agresifnya anak hiperaktif. Selain itu, masih minimnya bimbingan baik dari orang tua maupun guru yang dilakukan sejak dini berupa pendidikan perilaku yang baik dan sesuai dengan masyarakat sejak dini.

Oleh karena itu peran orang tua, sekolah serta masyarakat sangatlah penting dalam menanamkan nilai-nilai norma terhadap anak. Mereka dapat memberikan pendidikan perilaku yang benar sesuai aturan yang ada dalam masyarakat sehingga anak mampu mengendalikan perilaku agresifnya dan anak dapat diterima di lingkungan masyarakat. Dengan demikian anak hiperaktif yang memiliki

100 gangguan perilaku agresif dapat melewati masa kanak-kanaknya secara wajar dan bertanggungjawab.

Selama ini penanganan terhadap penyimpangan perilaku agresif pada anak hiperaktif yang dilakukan oleh orang tua, guru dan sekolah belum optimal. Hal ini dibuktikan dengan orang tua yang menyerahkan sepenuhnya penanganan perilaku agresif anak kepada pihak sekolah, guru yang tidak melakukan penanganan secara berkesinambungan dengan terlihat penanganan itu dilakukan hanya ketika anak terlihat melakukan tindakan agresif serta tidak ada penanganan preventif untuk menghindari perilaku agresif anak hiperaktif ini muncul. Selain itu pihak sekolah tidak memberikan fasilitas yang cukup untuk mengurangi perilaku agresif yang dilakukan oleh anak hiperaktif di sekolah. Ketidaktahuan yang dialami oleh orang tua tentang bagaimana menghadapi anak hiperakrif dengan gangguan perilaku agresif sehingga tidak jarang orang tua bersikap negatif terhadap anaknya.

Selain itu juga kurangnya komunikasi yang terjalin antara orang tua dengan guru mengenai penanganan perilaku yang akan diberikan kepada anak. Berdasarkan hasil wawancara kepada orang tua biasanya apabila anak hiperaktif melakukan penyimpangan perilaku agresif seperti memukul, memaki, merusak barang-barang, mengeluarkan kata-kata tidak sopan, mengancam membunuh baik orang tua maupun guru hanya memarahi atau hanya membiarkan saja anak berbuat hal tersebut sehingga anak terus melakukan penyimpangan perilaku agresif kapanpun dan dimanapun. Keadaan tersebut tidak membantu anak untuk mengurangi perilaku agresifnya, tetapi akan membuat anak semakin berani bertindak agresif kepada orang lain.

Selain itu, orang tua yang memiliki anak hiperaktif dengan gangguan perilaku agresif terkesan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah karena orang tua merasa sudah tidak mampu untuk menangani perilaku yang dilakukan oleh anaknya. Hal ini sangat tidak bijaksana karena keberhasilan penanganan penyimpangan perilaku agresif pada anak hiperaktif ini adalah hasil kerjasama antara orang tua, sekolah dan lingkungan.

Kasus perilaku agresif pada anak hiperaktif ini sangat berbeda dan sangat menarik untuik dapat diketahui oleh masyarakat sebab perilaku agresif pada anak

101 sesungguhnya sangat banyak dijumpai dalam lingkungan, hanya saja masih banyak orang yang kurang memahami tentang perilaku agresif. Seperti kasus yang ada dalam penelitian ini, anak yang hiperaktif memiliki gangguan perilaku agresif dan itu merupakan salah satu gangguan yang sangat kompleks sebab terdapat anak hiperaktif yang tidak memiliki gangguan perilaku agresif dan begitu pula sebaliknya terdapat anak yang memiliki gangguan perilaku agresif tetapi mereka tidak hiperaktif.

Anak hiperaktif sendiri sudah merupakan sebuah anak yang memiliki gangguan yang sangat komplek baik secara emosi, sosial maupun perilakunya. Anak hiperaktif dengan memiliki gangguan perilaku agresif tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena perilaku agresif ini dapat mengganggu dirinya dalam mencapai perkembangan yang optimal. Penanganan dengan segera akan dapat memperbaiki keadaannya sehingga perilaku agresif yang merugikan orang lain yang diderita anak tidak berlangsung lama. Anak akan segera dapat mengejar perkembangan yang terlambat akibat perilaku yang dimilikinya. Pananganan yang tidak tepat mengakibatkan dampak negatif bagi anak hiperaktif. Selain itu, apabila tidak ada penanganan yang tepat maka anak akan terus melakukan perilaku agresif kapanpun, dimanapun dan pada siapapun sehingga mereka tidak dapat diterima di masyarakat.

Berdasarkan dari kenyataan tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran tentang penanganan perilaku agresif pada anak hiperaktif yang dilakukan oleh guru di sekolah. Hal ini sangat penting agar pemberian pendidikan (perilaku) terhadap anak dapat dilakukan secara dini dan penanganan penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh anak hiperaktif dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi anak. Pengalaman guru di sekolah dalam menangani perilaku agresif anak hiperaktif dapat dijadikan sebagai bahan referensi atau masukan untuk penanganan/pendidikan parilaku bagi anak hiperaktif dengan disertai gangguan perilaku agresif.

102

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan berupa penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus termasuk pendekatan naturalistik atau kualitatif sebagai mana pendapat Lincoln dan Guba yang dikutip oleh Sayekti Pujosuwarno (1992 : 19) yang menyebutkan bahwa pendekatan kualitatif juga dapat disebut case study ataupun qualitative. Sedangkan penelitian studi kasus merupakan penelitian yang mendalam dan mendetail tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan subyek penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus karena penelitian ini diarahkan untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang penyimpangan perilaku agresif yang dilakukan oleh anak hiperaktif dan gambaran secara mendetail tentang penanganan perilaku agresif pada anak hiperatif oleh guru di sekolah.

Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah anak hiperaktif di SLB bagian E Prayuwana tahun ajaran 2009/2010, jumlah seluruhnya 1 siswa putra. Adapun pengambilan subyek dalam penelitian ini menggunakan purposive yaitu subyek yang didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat yang sudah diketahui sebelumnya. Kriteria subyek dalam penelitian ini adalah siswa SLB bagian E Prayuwana yang menyandang hiperaktif baik laki-laki maupun perempuan yang berusia 7-10 tahun dan mempunyai karakteristik perilaku agresif seperti memaki, mengancam dengan kekerasan, merusak barang-barang, memukul serta menyerang.

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama, karena peneliti dapat berhubungan langsung dan berkomunikasi dengan responden yaitu dapat melakukan pendekatan kepada responden, menyesuaikan diri dilapangan (dilingkungan responden) serta melihat kenyataan-kenyataan yang diamatinya. Peneliti dalam mengambil data juga menggunakan instrumen pembantu yang berupa pedoman observasi, pedoman wawancara dan dokumentasi. Pedoman observasi bertujuan untuk mengungkap perilaku agresif subyek disekolah serta penanganannya.

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus, maka analisis datanya dilakukan secara terus-menerus data yang diperoleh dari lapangan sekaligus diloding, dikategorikan, dipilah-pilah selanjutnya dianalisis. Analisis dilakukan

103 secara induktif yaitu merupakan proses penyusunan data agar dapat diinterpretsikan. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata. Adapun langkah-langkah analisisdata mengacu pada hal-hal sebagai berikut (Husaini Usman & Purnomo setiady A (1995 : 86-87) :

1. Reduksi data

Data yang diperoleh dari lapangan baik dari hasil observasi, wawancara maupun dokumentasi langsung diketik atau ditulis dengan rapi, terinci serta sistematis setiap selesai mengumpulkan data. Data-data yang terkumpul semakin bertambah banyak, oleh sebab itu laporan harus dianalisis sejak dimulainya penelitian.laporan-laporan itu perlu direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan lebih mempermudah peneliti untuk mencari jika sewaktu-waktu diperlukan.

2. Display data

Data yang semakin bertumpuk-tumpuk itu kurang dapat memberikan gambaran secara menyeluruh. Oleh sebab itu diperlukan display data. Display data ialah menyajikan data dalam bentuk matrik, network, chart atau grafik dan sebagainya. Dengan demikian peneliti dapat menguasai data dan tidak terbenam dalam setumpuk data.

3. Mengambil kesimpulan dan verifikasi

Sejak semula peneliti berusaha mencari makna dari data yang diperolehnya. Untuk maksud itu, peneliti berusaha mencari pola, model tema, hubungan, persamaan, hal-hal yang sering muncul, hipotesis dan sebagainya. Jadi dari data yang didapatnya itu peneliti mencoba mengambil kesimpulan. Mula-mula kesimpulan itu kabur, tetapi lama-kelamaan semakin jelas karena data yang diperoleh semakin banyak mendukung. Verifikasi dapat dilakukan dengan singkat yaitu dengan cara mengumpulkan data baru.

Dalam dokumen JSE VOL. 2 NO. 2 HAL MARET ISSN (Halaman 35-42)

Dokumen terkait