• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Dalam dokumen JSE VOL. 2 NO. 2 HAL MARET ISSN (Halaman 25-35)

1. Kondisi Kemampuan Siswa Dalam Operasi Hitung Penjumlahan dan Pengurangan

Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan di kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung, peneliti menetapkan tiga orang siswa sebagai subjek penelitian yang

87 diketahui mengalami masalah dalam melakukan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan.Tiga orang siswa tersebut adalah Irf, Rid dan Din.

Berikut dipaparkan deskripsi hasil analisis kinerja siswa dalam semua aspek kemampuan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan yang disajikan dalam bentuk tabel:

Tabel 1.1

Deskripsi Hasil Analisis Kemampuan Operasi Hitung Siswa

No Siswa Deskripsi

1. Irf Pada aspek pemahaman nilai tempat bilangan, siswa belum memiliki pemahaman, terlihat dari hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan soal dalam bentuk cerita nomor (7),(8) dan (11):

Siswa meletakkan angka puluhan dari bilangan kedua dibawah angka ratusan dari bilangan pertama, dan angka satuan diletakkan dibawah angka puluhan, sehingga angka yang dihasilkan pun salah.

Kekeliruan lain yang dialami siswa ialah siswa mengabaikan simbol operasi bilangan, tampak dari hasil kinerja siswa:

Siswa melakukan operasi penjumlahan pada bilangan operasi hitung yang menggunakan simbol pengurangan.

Selain itu, siswa juga melakukan kekeliruan pada operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam, kekeliruan yang dilakukan siswa adalah mengurangi semua bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil tanpa melihat angka mana sebenarnya yang harus dikurangi dan mana yang mengurangi, tampak dari hasil kinerja siswa:

2. Rid Siswa belum memahami nilai tempat bilangan, terlihat dari hasil analisis pekerjaan siswa pada soal cerita nomor (7), dimana siswa diminta menyelesaikan soal cerita pada bilangan 312+67, siswa tidak menyelesaikan soal dengan bersusun kebawah namun langsung menuliskan hasil 982. Meskipun siswa tidak melakukan teknik bersusun kebawah, namun peneliti menganalisis, angka 2 satuan dari hasil tersebut langsung diturunkan dan tidak dijumlahkan dengan angka 7, angka 8 puluhan merupakan hasil menjumlahkan angka 1 dan 7, sedangkan angka 9 merupakan hasil menjumlahkan angka 3 dan 6.

88 penjumlahan dengan teknik menyimpan, tampak dari hasil kinerja siswa:

siswa tidak melakukan penyimpanan tetapi menuliskan semua angka puluhan dan satuan yang dihasilkan.

Selain itu, siswa juga melakukan kekeliruan pada operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam, kekeliruan yang dilakukan siswa adalah mengurangi semua bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil tanpa melihat angka mana sebenarnya yang harus dikurangi dan mana yang mengurangi, tampak dari hasil kinerja siswa:

3. Din Siswa mengalami kekeliruan dalam melakukan operasi hitung dengan mengabaikan simbol bilangan, tampak dari hasil kinerja

siswa:

Siswa melakukan operasi penjumlahan pada bilangan operasi hitung yang menggunakan simbol pengurangan. Selain itu dari hasil siswa tersebut juga tampak bahwa siswa mengalami masalah dalam melakukan operasi hitung penjumlahan dengan menyimpan, terlihat bahwa siswa menuliskan semua angka (dua digit) yang dihasilkan dari penjumlahan.Masalah tersebut tampak pula dari hasil kinerja siswa yang lain:

Selain itu, siswa juga melakukan kekeliruan pada operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam, kekeliruan yang dilakukan siswa adalah mengurangi semua bilangan yang lebih besar dengan bilangan yang lebih kecil tanpa melihat angka mana sebenarnya yang harus dikurangi dan mana yang mengurangi, tampak dari hasil kinerja siswa:

Untuk mendukung hasil temuan, peneliti menggali informasi tentang perilaku dan sikap siswa dalam belajar matematika yang dilakukan dengan observasi siswa dan wawancara guru. Maka menghasilkan sebuah profil siswa yang disajikan dalam sebuah tabel berikut:

89

Tabel 1.2

Profil Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar Matematika

No. Siswa Kemampuan Kesulitan/Masalah Hasil Analisis Faktor

Penyebab Kesulitan Belajar Kebutuhan Belajar

1. Irf Dapat melakukan operasi penjumlahan tanpa teknik menyimpan puluhan+puluhan, ratusan+puluhan.

Belum memahami nilai tempat bilangan.

 Tingkat pengetahuan siswa dibawah kurikulum yang ditetapkan pada kelasnya.  Motivasi belajar yang kurang.  Metode pembelajaran yang

tidak mengaktifkan, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa.

 Materi pembelajaran yang menekankan pada aspek materi yang belum dikuasai siswa.

 Metode pembelajaran yang memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa.

 Pendekatan pembelajaran yang dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan siswa secara mandiri.

 Bimbingan intensif yang dapat membantu proses pada tahap-tahap belajar siswa.

 Metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan, menumbuhkan rasa percaya diri, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa. Dapat melakukan operasi

penjumlahan dengan menyimpan.

Sering mengabaikan simbol bilangan.

Dapat melakukan operasi pengurangan tanpa meminjam puluhan-puluhan.

Sering keliru dalam melakukan proses operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam mulai dari puluhan dengan puluhan.

Dapat bersosialisasi dengan teman-temannya.

Dalam menulis dan mengerjakan tugasnya sering tidak sampai selesai.

Cepat bosan dan acuh tak acuh.

2. Rid Dapat melakukan operasi penjumlahan tanpa teknik menyimpan.

Belum memahami nilai tempat bilangan.

 Tingkat pengetahuan siswa dibawah kurikulum yang ditetapkan pada kelasnya.  Faktor kesehatan yang kurang

baik.

 Motivasi belajar yang kurang.  Metode pembelajaran yang

tidak mengaktifkan,

 Materi pembelajaran yang menekankan pada aspek materi yang belum dikuasai siswa.

 Metode pembelajaran yang memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa.

 Pendekatan pembelajaran Dapat melakukan operasi

pengurangan tanpa teknik meminjam.

Keliru dalam melakukan proses operasi hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan. Dapat bersosialisasi dengan

teman-temannya.

Keliru dalam melakukan proses operasi hitung pengurangan

90 dengan teknik meminjam. membangkitkan motivasi dan

kemandirian siswa.

yang dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan siswa secara mandiri.

 Bimbingan intensif yang dapat membantu proses pada tahap-tahap belajar siswa.

 Metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan, menumbuhkan rasa percaya diri, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa. Patuh pada perintah guru. Dalam menulis dan

mengerjakan tugasnya sering tidak sampai selesai.

Mengalami perlakuan yang kurang baik dirumah.

Sering malas sekolah.

Sering mengalami pingsan disekolah.

3. Din Dapat melakukan operasi penjumlahan tanpa teknik menyimpan.

Sering mengabaikan simbol bilangan.

 Tingkat pengetahuan siswa dibawah kurikulum yang ditetapkan pada kelasnya.  Motivasi belajar yang kurang.  Metode pembelajaran yang

tidak mengaktifkan, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa.

 Proses pembelajaran yang tidak menghadirkan tantangan dalam belajar siswa.

 Materi pembelajaran yang menekankan pada aspek materi yang belum dikuasai siswa.

 Metode pembelajaran yang memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa.

 Pendekatan pembelajaran yang dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan siswa secara mandiri.

 Bimbingan intensif yang dapat membantu proses pada tahap-tahap belajar siswa.

 Metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan, menumbuhkan rasa percaya diri, membangkitkan motivasi dan kemandirian siswa. Tekun dalam melakukan tugas. Keliru dalam melakukan proses

operasi hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan. Keliru dalam melakukan proses operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam. Pendiam dan pasif.

Sangat lambat dalam menulis dan mengerjakan tugas-tugasnya.

Sering kesiangan dan tidak masuk sekolah.

91 2. Strategi Pembelajaran Guru di Kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung

Untuk mengetahui strategi pembelajaran seperti apa yang telah dikembangkan guru dalam mengakomodasi siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika di kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung khususnya dalam kemampuan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan, perlu digali bagaimana guru melakukan perencanaan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Untuk mendapatkan data tersebut peneliti melakukan wawancara, observasi dan studi dokumentasi.

Tabel 2.1

Profil Proses Pembelajaran Guru

Aspek Kekuatan Kelemahan

Perencanaan pembelajaran

 Tidak melakukan perencanaan secara

administratif yang tertuang dalam dokumen silabus dan RPP.

Pelaksanaan pembelajaran

 Selalu melakukan apersepsi dengan pembiasaan hafalan-hafalan sebelum materi.  Dapat melayani semua

siswa.

 Membangun interaksi yang baik dengan siswa.

 Cukup dapat memberikan perhatian dan bimbingan kepada siswa yang berkesulitan belajar.  Penggunaan bahasa yang

dapat dipahami siswa.  Mendapatkan respon dan

penerimaan yang baik dari siswa.

 Pemilihan materi pembelajaran tidak menekankan pada aspek materi yang belum dikuasai siswa.

 Kurang memberikan motivasi, baik dengan ungkapan maupun sikap.  Tidak mengkondisikan

dengan baik posisi duduk siswa.

 Kegiatan belajar monoton, metode pembelajaran lebih sering dilakukan dengan ceramah, menjelaskan konsep-konsep dan

pemberian contoh kemudian meminta siswa maju satu persatu kedepan

mengerjakan tugas.  Tidak dapat

mengidentifikasi jenis kesulitan belajar siswa.  Tidak menyediakan alat

bantu atau media dalam kegiatan pembelajaran.  Tidak melakukan refleksi

92 materi pada akhir

pembelajaran. Evaluasi

pembelajaran

 Melibatkan semua siswa dalam pengerjaan tugas.

 Tidak menetapkan standar dalam penilaian.

3. Implikasi Temuan Penelitian Terhadap Pengembangan Strategi Pembelajaran Operasi Hitung Berdasarkan Konsep Belajar Konstruktivisme Sosial

Berdasarkan hasil temuan penelitian terhadap kondisi kemampuan siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika dan strategi pembelajaran yang dilakukan guru di kelas III SD Muhammadiyah 2 Bandung, maka implikasi temuan tersebut terhadap pengembangan strategi pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan berdasarkan konsep belajar konstruktivisme sosial adalah sebagai berikut:

a. Materi pembelajaran dalam hal ini operasi hitung penjumlahan dan pengurangan, guru perlu menekankan aspek materi yang belum dikuasai siswa serta memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa, misalnya siswa belum memahami nilai tempat, maka disamping guru menyampaikan materi yang dituntut dalam kurikulum untuk kelas tersebut guru juga perlu memberikan fokus dan penekanan terhadap pemahaman nilai tempat bagi siswa yang belum menguasainya serta melakukan kontrol dengan mencatat kemajuan siswa. Penekanan tersebut bisa dilakukan dengan menyederhanakan konsep, menggunakan alat peraga yang relevan serta melakukan bimbingan khusus;

b. Untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan dan pemahamannya, maka dalam melakukan proses pembelajaran di kelas perlu mengusahakan tersedianya alat peraga atau media pembelajaran yang relevan dengan materi pembelajaran. Ruseffendi mengemukakan, alat peraga adalah alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika yang dapat berupa benda nyata dan dapat pula berupa gambar atau diagram (Warsini, dkk. 2013). Alat peraga untuk membantu menanamkan konsep penjumlahan dan pengurangan dengan cara bersusun

93 dapat digunakan media kantong lidi yang ditempel bersusun pada karton besar menyerupai konsep penjumlahan atau pengurangan teknik bersusun :

Gambar 3.1

Alat Peraga Operasi Hitung

c. Untuk mengakomodasi kebutuhan siswa yang mengalami kesulitan belajar yang menjadi temuan penelitian, agar siswa dapat belajar bersama-sama siswa lainnya di kelas yang heterogen, maka guru perlu memberikan bimbingan intensif dengan pendekatan scaffolding, scaffolding dilakukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan untuk membantu tahap-tahap belajar siswa dimana guru melakukan pembimbingan, pendampingan dan pengontrolan, mencatat hal apa yang sudah dikuasai dan yang belum dikuasai siswa. Scaffolding juga dilakukan dengan memberikan latihan-latihan menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri, ketika siswa mengalami kesulitan guru memberikan panduan dan tuntunan atau dengan memberikan contoh lain, kegiatan itu dilakukan sampai siswa dapat melakukan tugasnya secara mandiri. Selain hal-hal yang berkaitan langsung dengan materi pelajaran, scaffolding juga dilakukan dengan mengkondisikan posisi tempat duduk siswa agar memungkinkan terjadinya tatap muka sehingga guru dapat lebih menjangkau dan mengontrol tingkah laku siswa.

d. Untuk membangkitkan suasana kelas yang dinamis, serta terciptanya interaksi antar siswa, saling bekerjasama dalam proses pembelajaran sehingga tumbuh motivasi dan rasa percaya diri siswa, maka pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dengan pola diskusi dan kerja kelompok dapat diaplikasikan pada proses pembelajaran di kelas.

94

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis pada kinerja siswa dalam melakukan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan, peneliti mengidentifikasi beberapa tipe kesulitan yang dialami siswa, yaitu: (1) Kesulitan memahami nilai tempat bilangan; (2) Kesulitan memahami simbol bilangan; (3) Kesulitan/kelirudalam memahami proses operasi hitung.

Dari beberapa tipe kesulitan yang ditemukan tersebut, sesuai dengan apa yang diungkapkan Lerner (dalam Abdurrahman, 2012: 210-213) bahwa kesulitan mengenal dan memahami simbol bilangan, perseverasi, dan kesulitan dalam bahasa dan membaca, merupakan hambatan dalam belajar matematika yang dialami siswa berkesulitan belajar. Selanjutnya Lerner (dalam Abdurrahman, 2012: 213) mengungkapkan, ada beberapa kekeliruan yang umum yang sering dilakukan siswa berkesulitan belajar matematika, yaitu: Kekurang pemahaman tentang simbol; (2) kesulitan memahami nilai tempat; (3) kekurang pahaman perhitungan; (4) Penggunaan proses yang keliru; dan (5) Tulisan yang tidak terbaca.

Temuan penelitian baik dari aspek kondisi siswa maupun pembelajaran yang dilakukan guru berimplikasi terhadap strategi pembelajaran operasi hitung yang dikembangkan berdasarkan konsep belajar konstruktivisme sosial. Temuan penelitian dari aspek siswa yaitu, siswa belum memahami nilai tempat bilangan, sering mengabaikan simbol bilangan, keliru dalam melakukan proses operasi hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan, keliru dalam melakukan proses operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam, kurangnya motivasi belajar siswa, siswa pasif dan kurang mampu bersosialisasi, lambat dalam mengerjakan tugas. Sementara temuan penelitian dari aspek pembelajaran diantaranya kurangnya pemberian motivasi dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton dimana metode pembelajaran lebih sering dilakukan dengan ceramah, menjelaskan konsep-konsep dan pemberian contoh kemudian meminta siswa maju satu persatu kedepan mengerjakan tugas.

Temuan tersebut berimplikasi pada perlunya pemilihan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, pemilihan materi pembelajaran

95 yang menekankan pada aspek yang belum dikuasai siswa dan memperhatikan letak kesulitan yang dialami siswa, penyediaan alat bantu/ media konkret untuk membantu mengkonstruksi pengetahuan siswa, serta pemberian bimbingan intensif untuk membantu tahap-tahap proses belajar siswa. Untuk menyusun program pembelajaran yang dapat membantu siswa mengkonstruksi pengetahuan dan mengaktifkan belajar siswa, metode pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Sebagaimana pandangan Vygotsky bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh individu siswa sendiri melalui proses interaksi dan pengalaman sosialnya. Stategi pembelajaran dalam rangka pemberian bantuan intensif dalam membantu tahap-tahap belajar siswa dilakukan dengan scaffolding, yaitu memberikan bantuan intensif kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran dan secara bertahap mengurangi bantuan tersebut kemudian siswa mengambil alih tanggung jawabnya setelah ia dapat melakukannya.

PENUTUP

Untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa berdasarkan kesulitan-kesulitan belajar yang dialami siswa yang teridentifikasi kedalam tiga tipe kesulitan dalam melakukan operasi hitung, diantaranya: (1) Kesulitan memahami nilai tempat bilangan; (2) Kesulitan memahami simbol bilangan; (3) Kesulitan/kelirudalam memahami proses operasi hitung, aspek yang berkaitan dengan perilaku belajar siswa diantaranyakurangnya motivasi belajar, siswa pasif dan kurang mampu bersosialisasi, lambat dalam mengerjakan tugas,serta aspek lain yang berkaitan dengan pembelajaran seperti kurangnya pemberian motivasi dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton, maka perlu dikembangkan strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan dan mengkonstruksi pengetahuan siswa melalui pembelajaran kooperatif (cooperative learning) serta pemberian bimbingan intensif untuk membantu siswa pada tahap-tahap awal proses belajarnya melalui pendekatan scaffolding. Pembelajaran kooperatif dan scaffolding merupakan konsep belajar yang diturunkan dari teori konstruktivisme sosial “Vygotsky”.Maka peneliti menyimpulkan bahwa strategi

96 pembelajaran yang dianggap sesuai untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa dalam operasi hitung penjumlahan dan pengurangan yaitu strategi pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar konstruktivisme sosial melalui konsep cooperative learning dan scaffolding.

Dalam dokumen JSE VOL. 2 NO. 2 HAL MARET ISSN (Halaman 25-35)

Dokumen terkait