ANALISIS PENGARUH RASIO CAMEL DALAM MENDETEKSI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Oleh :
PAULA CHRISNA ISTRIA SARI (NPM: 201015009), Kun Ismawati
ABSTRACT
This research aims to determine the effect of the CAMEL ratio in detecting financial distress in the banking company in Indonesia. The CAMEL ratio consists of CAR (Capital Adequacy Ratio), ROE (Return On Equity), ROA (Return On Assets), NPL (Non Performing Loan), LDR (Loan To Deposit Ratio), and BOPO (operational expense to operational income). Sampling of this research using purposive sampling method. The number of samples obtained were 31 banking companies. Samples of research were devided in two categories there were 25 banks with “no problem”and 6 banks “in trouble”. Research samples in the form of secondary data, which listed in the Indonesia Stock Exchange during the period 2010-2013. The statistical method used to test the hypothesis of the research is logistic regression. Results of the analysis indicate that CAR and BOPO variables have positive effect but not significantly influent the probability of financial distress in the banking company. ROE variables have negative effect but not significantly influent the probability of financial distress in the banking company. ROA variables have negative effect but not significantly influent the probability of financial distress in the banking company. NPL and LDR variables have positive effect significantly. Results of logistic regression estimation shows the ability to detect from six independent variables on the probability of financial distress in the banking company by 80,4%, while the remainder, amounting to 19,6% explained by other variables outside the model.
Keyword: CAMEL ratio, financial distress, regression logistic.
PENDAHULUAN
Moral hazard telah banyak terjadi di dunia perbankan Indonesia. Hal ini
dikarenakan lemahnya daya tahan perekonomian pada dunia perbankan terutama
pengelolaannya yang jauh dari tata kelola yang baik atau good corporate governance (GCG)
dalam penyaluran kredit (Martowardojo, 2013). Berbagai kelemahan yang ada dalam industri
perbankan tersebut antara lain lemahnya manajemen bank, konsentrasi kredit yang
berlebihan, kecurangan (moral hazard), terbatas dan kurangnya transparansi informasi
kondisi keuangan bank, dan belum efektifnya pengawasan Bank Indonesia (Rahmat, 2005:1).
bahwa kondisi perbankan saat ini jauh lebih baik. Semua hal tersebut dilakukan untuk
menjegal semua praktik moral hazard dan fraud sebagaimana terjadi di tahun-tahun yang
lalu. Hal ini berkaitan dengan penentuan alokasi kontrol untuk mengatasi financial distress
yang bisa melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap sektor ini (Hotchkiss, et
all, 2008). Oleh karena itu penelitian ini diberi judul “Analisis Pengaruh Rasio CAMEL
dalam Mendeteksi Financial Distress pada Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”
PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalahnya yakni apakah
terdapat pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Equity (ROE), Return on Assets
(ROA), Non-Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), perbandingan biaya
operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) terhadap probabilitas financial distress
perbankan.
LANDASAN TEORI
Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana
dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan
jasa Bank lainnya (Kasmir, 2004).
Almalia dan Kristijadi (2003) menyatakan analisis rasio keuangan berguna sebagai
analisis intern bagi manajemen perusahaan untuk mengetahui hasil finansial yang telah
dicapai guna perencanaan yang akan datang dan juga untuk analisis intern bagi kreditor dan
investor untuk menetukan kebijakan pemberian kredit dan penanaman modal suatu
KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS
Berdasarkan pernyataan Almilia (dalam Kurniasari, 2013) dalam jurnal yang
berjudul “Analisis Pengaruh Rasio Camel Dalam Memprediksi Financial Distress Perbankan
Indonesia Periode 2009-2012” mendefinisikan kondisi financial distress atau kondisi
bermasalah sebagai suatu kondisi di mana perusahaan mengalami delisted akibat laba bersih
dan nilai buku ekuitas negatif berturut-turut serta perusahaan tersebut telah dimerger.
Penilaian tingkat kesehatan bank dapat diketahui dengan menggunakan CAMEL terdiri dari
5 faktor, yaitu faktor Permodalan (Capital), Kualitas Aktiva Produktif (Asset), Manajemen,
Rentabilitas (Earning) dan Likuiditas (liquidity). Penelitian ini menggunakan rasio CAR,
ROE, ROA, NPL, LDR dan BOPO.
HIPOTESA
1. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Probabilitas Financial Distress Perbankan
Dendawijaya (dalam Kurniasari, 2013) Capital Adequacy Ratio adalah rasio
kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang
aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko. Apabila CAR yang dimiliki semakin
rendah berarti semakin kecil modal bank yang dimiliki untuk menanggung aktiva
beresiko, sehingga semakin besar kemungkinan bank akan mengalami kondisi bermasalah
karena modal yang dimiliki bank tidak cukup menanggung penurunan nilai aktiva
beresiko (Bestari, 2013). Almilia dan Herdiningtyas (2005) menyatakan bahwa rasio
CAR berpengaruh negatif signifikan terhadap kondisi bermasalah. Berdasarkan data di
H1: CAR berpengaruh negatif terhadap probabilitas financial distress perbankan.
2. Pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap Probabilitas Financial Distress
Perbankan
ROE digunakan untuk mengukur kinerja manajemen bank dalam mengelola
modal yang tersedia untuk menghasilkan laba setelah pajak (Wicaksana, 2011). Almilia
dan Herdiningtyas (2005) berpendapat semakin besar ROE semakin besar pula tingkat
keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi
bermasalah semakin kecil. Hal tersebut didukung oleh Juniarsi dan Suwarno (dalam
Kurniasari, 2013) yang menyatakan bahwa rasio ROE berpengaruh signifikan dalam
memprediksi kegagalan bank umum swasta nasional nondevisa. Berdasarkan data di atas,
maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut: H2: ROE berpengaruh negatif terhadap
probabilitas financial distress Perbankan.
3. Pengaruh Return on Assets (ROA) terhadap Probabilitas Financial Distress
Perbankan
ROA digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam
memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan dari rata-rata total aset
bank yang bersangkutan (Almalia dan Kristijadi, 2003). Menurut Almilia dan
Herdinigtyas (2005) berpendapat semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat
keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi
bermasalah semakin kecil; sedangkan Wicaksana menyatakan bahwa rasio ROA
berpengaruh negatif diperkuat dengan penelitian Martharini (2012) menyatakan bahwa
ROA berpengaruh negatif dan signifikan terhadap prediksi bermasalah pada bank.
Berdasarkan data di atas, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut: H3: ROA
4. Pengaruh Non performin Loan (NPL) terhadap Probabilitas Financial Distress Perbankan
Rasio NPL (Non Performing Loan) menggambarkan kemampuan bank dalam
mengelola kreditnya (Martharini, 2012). Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin
buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar
karena tingkat kesehatannya menurun, maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi
bermasalah semakin besar (Almilia dan Herdiningtyas, 2005). Hal ini didukung
Wicaksana (2011) yang menyatakan bahwa rasio ini berpengaruh positif signifikan
terhadap kebangkrutan bank. Berdasarkan data di atas, maka dapat diajukan hipotesis
sebagai berikut: H4: NPL berpengaruh positif terhadap probabilitas financial distress
perbankan.
5. Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Probabilitas Financial Distress Perbankan
LDR digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank dengan cara membagi
jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio
ini, semakin rendah kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga
kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar (Almilia dan
Herdiningtyas, 2005). menurut Mulyaningrum (dalam Bestari, 2013) Rasio LDR
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebangkrutan bank; sedangkan menurut
Wicaksana (2011) menyatakan bahwa LDR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap
Kebangkrutan bank. Berdasarkan data di atas, maka dapat diajukan hipotesis sebagai
6. Pengaruh Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Probabilitas Financial Distress Perbankan
Dendawijaya (dalam Bestari, 2013) Rasio BOPO digunakan untuk mengukur
tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan opersionalnya.
Penelitian Almilia dan Herdiningtyas (2010) menunjukkan BOPO berpengaruh positif
signifikan terhadap kondisi bermasalah; begitu juga dengan Lestari (dalam Kurniasari,
2013), menyatakan bahwa rasio BOPO berpengaruh signifikan dalam membedakan
kelompok tingkat kesehatan perbankan; sedangkan menurut Wicaksana (2011)
menunjukan bahwa BOPO berpengaruh positif terhadap prediksi kondisi bermasalah pada
bank. Berdasarkan data di atas, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut: H6: BOPO
berpengaruh positif terhadap probabilitas financial distress perbankan.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini Variabel dependennya yaitu financial distress, sedangkan variabel dependen
menggunakan variabel kategori (dummy variable), 0 untuk perusahaan perbankan yang tidak
bermasalah dan 1 untuk perusahaan dalam kondisi bermasalah (Martharini, 2012). Populasi
dari penelitian ini adalah perusahaan perbankan umum yang terdaftar di BEI selama periode
2010-2013. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode purposive sampling. Metode
HASIL DAN PEMBAHASAN
ariables in the Equation
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Step 1a CAR .166 .128 1.689 1 .194 1.180 ROE -.054 .153 .122 1 .726 .948 ROA -2.345 1.023 5.249 1 .022 .096 NPL .804 .406 3.925 1 .048 2.235 LDR .231 .082 7.895 1 .005 1.260 BOPO .071 .073 .930 1 .335 1.073 Constant -28.699 9.301 9.521 1 .002 .000
a. Variable(s) entered on step 1: CAR, ROE, ROA, NPL, LDR, BOPO.
Sumber: Data sekunder setelah diolah dengan SPSS 22, 2014
HIPOTESIS
1. Hipotesis 1 (ditolak)
Variabel capital adequacy ratio (car) berpengaruh tidak signifikan terhadap
probabilitas financial distress perbankan dan mempunyai koefisien positif 0,166 yang
artinya semakin tinggi rasio car kemungkinan bank mengalami kondisi bermasalah akan
semakin kecil. Hasil tersebut menandakan bahwa kenaikan faktor permodalan tidak
mempunyai pengaruh terhadap probabilitas financial distress. Hasil penelitian ini
menguatkan hasil penelitian yang dilakukan oleh kurniasari (2013) dan bestari (2013),
sedangkan bila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh martharini (2012)
dan wicaksana (2011) dimana variabel car berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan
terhadap penelitian prediksi kondisi bermasalah perbankan.
2. Hipotesis 2 (ditolak)
Variabel return on equity (roe) berpengaruh tidak signifikan terhadap
probabilitas financial distress perbankan dan mempunyai koefisien negatif -,054 yang
bank sehingga kemungkinan bank mengalami kondisi bermasalah akan semakin besar.
Hal ini berarti bahwa pengelolaan modal sendiri yang tersedia untuk menghasilkan laba
setelah pajak belum dapat digunakan untuk memprediksi financial distress bank karena
semakin tinggi laba, kewajiban menyediakan modal minimal semakin besar. Penelitian ini
tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh wicaksana (2011) dan kurniasari
(2013) yang menyatakan bahwa roe berpengaruh positif tidak signifikan terhadap
probabilitas financial distress bank.
3. Hipotesis 3 (diterima)
Variabel return on assets (roa) pada penelitian ini berpengaruh negatif dengan
koefisien -2,345 yang artinya kemungkinan bank dalam kondisi bermasalah semakin
kecil. Signifikan terhadap probabilitas financial distress perbankan. Rasio roa mengukur
kemampuan bank dalam menggunakan aset yang dimilikinya untuk menghasilkan laba
sebelum pajak. Penelitian ini mendukung hasil penelitian matharini (2012), berbeda
dengan penelitian kurniasari (2013) dan bestari (2013), dimana variabel roa berpengaruh
positif tetapi tidak signifikan terhadap probabilitas financial distress perbankan.
4. Hipotesis 4 (diterima)
variabel non performing loan (npl) pada penelitian ini berpengaruh secara
signifikan terhadap probabilitas financial distress perbankan dan pengaruhnya positif
dengan koefisien 0,804 artinya semakin tinggi rasio ini, kemungkinan bank dalam kondisi
bermasalah semakin kecil. Semakin banyak kredit macet dalam pengelolaan kredit bank
yang ditunjukkan dalam npl akan menurunkan tingkat pendapatan bank. Meningkatnya
npl dapat mengakibatkan bank mengalami financial distress semakin besar. Hasil
ini tidak sesuai dengan penelitian bestari (2013) dan kurniasari (2013), dimana variabel
npl tidak berpengaruh secara signifikan prediksi kondisi bermasalah pada perbankan.
5. Hipotesis 5 (diterima)
variabel loan to deposit ratio (ldr) pada penelitian ini berpengaruh signifikan
terhadap probabilitas financial distress dan pengaruhnya positif artinya besarnya rasio
ldr akan mempengaruhi tingkat profitabilitas bank dalam kesempatan mendapatkan
bunga dari kredit yang diberikan, sehingga semakin besar kredit yang disalurkan akan
meningkatkan pendapatan bank, namun nilai ldr yang terlalu tinggi akan
mengganggu likuiditas bank. Hasil penelitian ini mendukung dengan penelitian kurniasari
(2013) dan ika d. (2009); sedangkan penelitian bestari (2013), dimana variabel ldr tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap prediksi kondisi bermasalah pada perbankan;
serta penelitian lain yang tidak sesuai yaitu penelitian martharini (2012) dan wicaksana
(2011), dimana variabel ldr berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kondisi
bermasalah perbankan.
6. Hipotesis 6 (ditolak)
variabel biaya operasional terhadap pendapatan operasional (bopo) pada
penelitian ini berpengaruh tidak signifikan terhadap probabilitas financial distress dan
koefisien regresi menunjukkan hubungan positif (0,071) menandakan bahwa semakin
tinggi rasio bopo, bank semakin tidak efisien dalam mengendalikan biaya operasional
terhadap pendapatan operasionalnya, sehingga semakin besar pula kemungkinan bank
mengalami financial distress. Hasil penelitian ini mendukung dengan penelitian
Martharini (2012) dan Bestari (2013). Penelitian lain tidak sesuai yaitu penelitian Almilia
dan Herdiningtyas (2005), Kurniasari (2013) dan Wicaksana (2011), dimana variabel
KESIMPULAN
Analisis dan pengujian hipotesis menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat tiga
variabel yang mempengaruhi financial distress perbankan di Indonesia yaitu ROA (Return
on Assets), NPL (Non Performing Loan), LDR (Loan to Deposit Ratio); selain ketiga rasio
tersebut, variabel lain yaitu CAR (Capital Adequacy Ratio), ROE (Return on Equity), BOPO
(Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional). Jadi rasio ROA yang rendah
mengurangi penyebab financial distress sedangkan rasio NPL dan LDR yang tinggi akan
menjadi penyebab financial distress.
SARAN
Saran penelitian selanjutnya dapat memperpanjang periode pengamatan, jumlah
sampel, pemilihan sampel bank dapat menggunakan seluruh perusahaan perbankan di
Indonesia, memperhatikan ukuran perusahaan, dan jenis perusahaan perbankan devisa atau
nondevisa maupun bank publik atau bukan. Peneliti selanjutnya hendaknya menganalisis
aspek sensitivity to market dan aspek kepatuhan (misalnya: pelanggaran BMPK,
pelampauan BMPK, PDN dan GWM).
REFERENSI
Almilia, Luciana Spica dan Herdiningtyas, Winny, Analisis Rasio CAMEL Terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah Pada Lembaga Perbankan Periode 2000 – 2002, Jurnal
Akuntansi dan Keuangan, Vol 7, No. 2, Nopember 2005 ISSN 1411 – 0288, 2005.
Almilia, Luciana Spica dan Kristijadi, Emanuel, Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia (JAAI), Vol. 7 No. 2, Desember 2003 ISSN: 1410 – 2420, 2003.
Bestari, Adhistya Rizky dan Rohman, Abdul, Analisis Pengaruh Rasio Camel Terhadap Kondisi Bermasalah Bank Pada Sektor Perbankan Periode 2007 – 2011,
Diponegoro Journal Of Accounting Volume 2 Nomor, 3 Tahun, 2013, ISSN:
2337-3806, 2013Hotchkiss, Edith S., et all, Bankcruptcy and The Resolution of Financial
Ghozali, Imam, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19 cetakan ke-5 Universitas Diponegoro, 2011.
Infobanknews.Com/2013/09/Perbankan-Oke-Ketahanan-Indonesia-Hadapi-Krisis-Tak-Seperti-1998/
Kasmir, Manajemen Perbankan. Rajawali Grafindo Persada: Jakarta, 2004.
Kurniasari, Christiana dan Ghozali, Imam, Analisis Pengaruh Rasio Camel Dalam Memprediksi Financial Distress Perbankan Indonesia Periode 2009-2012, Diponegoro Journal Of Accounting Volume 2, Nomor3, Tahun 2013, 2013.
Martharini, Latifa, Analisis Pengaruh Rasio Camel dan Size Terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah Pada Perbankan. Skripsi Manajemen Universitas Negri Diponegoro Semarang, 2012.
Wicaksana, Rizki Ludy, Analisis Pengaruh Rasio Camel Terhadap Kondisi Bermasalah Bank Pada Sektor Perbankan Di Indonesia. Skripsi Akuntansi Universitas Negri Semarang, 2011.