1
BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Aruno Lahitolo Mananol atau “prosesi sarung baju mananol” merupakan
satu dari tiga jenis pernikahan adat yang ada di Negeri Amahai, Pulau Seram Provinsi Maluku. Ritual ini diselenggarakan oleh anak laki-laki dari Negeri Amahai yang akan dan sudah menikah1Mananol adalah sebuah baju hitam
berlengan panjang dan bentuk leher huruf V dilengkapi dengan mustika
mata-rumah, dan kain salele. Mustika mata-rumah adalah kain yang dijahit berbentuk
bulat atau oval. Warna kain telah ditentukan pada masing-masing soa2yang dikombinasi antara warna hitam dan satu warna tertentu dari masing-masing soa, sedangkan kain salele adalah kain sarung biasa yang dilipat selutut dan identik dengan warna merah.
Tujuan ritual ini adalah untuk memasukan dan memperkenalkan mempelai perempuan secara resmi ke dalam mata-rumah 3 laki-laki dan Negeri Amahai.
Jika mempelai perempuan berasal dari Negeri Amahai maka prosesi ritual hanya sampai pada tahap duduk makan di lesa Mananol dan akan berakhir di atas
1
Bagi masyarakat maluku pada umumnya, ada tiga cara untuk melangsungkan pernikahan yaitu: menikah dengan melamar (“kawin minta”), melarikan pacar (“kawin lari”), dan pengantin lelaki memasuki rumah tangga pengantin perempuan (“kawin masuk”). Aruno lahitolo
mananol ada dalam rangkaian “kawin masuk” di Negeri Amahai.
2
Soa adalah subbagian negeri adat yang lebih besar lagi dalam pola tradisional organisasi
sosial di Maluku Tengah. Soa terdiri dari sejumlah mata-rumah (atau klen) dan merupakan suatu bagian administratif dalam suatu negeri adat. Lih. Frank L. Cooley, Mimbar dan Takhta. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987), 57.
3
Mata-rumah adalah kelompok kekerabatan yang segaris keturunan. Artinya, semua
anggota mata-rumah memakai nama keluarga yang sama anggota inti mata-rumah mengaku berasal dari satu moyang menurut garis keturunan ayah. Lih. Frank L. Cooley, Mimbar dan
2
baileusebagai bentuk inisiasi ke dalam Negeri Amahai apabila mempelai
perempuan berasal dari negeri lain.
Ritual dengan alur seperti ini dikenal Cooley sebagai proses integrasi yang dipakai oleh para leluhur Negeri sebelum mengenal agama dan pemerintahan sebagai bentuk pernikahan resmi.4 Dalam bukunya yang berjudul Mimbar dan
Takhta Cooley menjelaskan bahwa proses integrasi merupakan babak terakhir dari
serangkaianupacara pernikahan adat dengan memperkenalkan pengantin perempuan secara resmi kedalam mata-rumah suaminyayang juga dihadiri oleh staf pemerintah negeri. Namun, menurut Cooley seiring berjalannya waktu proses integrasi telah jarang dilaksanakan pada beberapa daerah karena pelaksanaannya terbatas pada klen-klen tertentuyang dianggap menjadi pemelihara adat kuno dan penyelenggara tradisi-tradisi. Hal initentu berbeda dengan kenyataandi Negeri Amahai yakniaruno lahitolo mananol yang wajibkan untuk semua anak laki-laki yang telah menikah tanpa memandang status sosial dan klan tertentu.
Perbedaan ini menarik untuk dilihat karena di Negeri Amahai, jenis ritual ini diwajibkan bagi semua anak laki-laki yang telah menikah tanpa memandang status dan klen tertentusertamerupakan bagian integrasi yang mengandung gagasan filosofis, ide, nilai dan norma yang berguna untuk sebuah tindakan pendampingan. Hal tersebut belum dilihat oleh Cooley, karena ia hanya mengkaji bentuk-bentuk upacara pernikahan dan menjadikannya sebagai bagian dari jenis adat kekeluargaan.Selain itu, konsep pendampingan dengan ritual aruno lahitolo
mananolsangat sederhana dan kontekstual dengan budaya masyarakat Amahai,
3 sehingga tahapan proses pendampingan dapat dianalisa dan dapat digunakan oleh masyarakat Negeri Amahai.
Diketahui beberapa jenis pernikahan adat telah dikaji dan dibukukan namun tidak termasuk rangkaian ritual aruno lahitolo mananol.5Ada juga penelitian yang dilakukan oleh beberapa tenaga pendidik tentang aruno lahitolo
mananol namun tidak berfokus pada relasi sosio-kultural. Dilain sisi,
tulisan-tulisan mengenai relasi sosio-kultural orang basudara (dibaca: bersaudara) dan gaya hidupnya juga telah banyak digali dari sisi sosiologis yang menekankan budaya atau kearifan lokal seperti pela-gandong6 untuk basis pemaknaan orang
basudara. Karena itu, pemakanaan narasi ini cenderung digunakan sebagai
konsep kunci dalam proses perdamaian di Maluku.
Tulisan ini akan mengkaji tentang fungsi sebuah pernikahan adat sebagai sebuah strategi pendampingan dalam masyarakat dengan berdasar pada relasi sosio kultural sebagai nilai filosofisnya. Pendampingan yang berbasis pada konteks masyarakat dilihat sebagai sebuah strategi pendampingan untuk menstimulasi dan memperkokoh kembali hubungan-hubungan masyarakat serta kesadaran bagi individu untuk memberadabkan dan memberadakan dirinya
5 Proyek penelitian dan pencatatan kebudayaan daerah, pusat penelitian sejarah dan
budaya departemen pendidikan dan kebudayaan telah mengeluarkan sebuah buku dengan judul “Adat dan Upacara Perkawinan Daerah di Maluku” pada tahun 1977/1978. Dalam buku ini mereka hanya membahas tentang beberapa pernikahan adat untuk memperkuat hubungan kekerabatan, diantaranya jenis pernikahan adat di beberapa negeri di maluku tenggara seperti larat, tanimbar, kei dan negeri Teon Nila Serua di Maluku Tengah. Selain itu, Roobert L. Cooley dalam bukunya yang berjudul “Mimbar dan Takhta” hanya membahas beberapa upacara pernikahan dan proses integrasi atau upacara yang memperkenalkan pengantin perempuan secara resmi ke dalam
mata-rumah laki-laki, seperti ahori atau hahori dan pamoi atau pamana.
6
Pela adalah bentuk kekerabatan antar dua atau lebih negeri adat. Pela biasanya terjadi
karena satu peristiwa yang melibatkan negeri-negeri adat tersebut. Sedangkan gandong merupakan bentuk kekerabatan antar dua atau beberapa negeri yang terikat karena hubungan persaudaraan leluhrnya. Singkatnya Pela gandong merupakan suatu relasi hubungan darah dan perjanjian antara satu negeri dengan negeri lain baik yang terjalin antara negeri-negeri sedaratan dan berlainan pulau, juga antara etnis dan agama yang berbeda. Lih. Hendry Bakri, Resolusi Konflik Melalui
Pendekatan Kearifan Lokal Pela Gandong di Kota Ambon, The Politics: Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, (Volume 1, No 1, Bulan January, Tahun 2015), 52.
4 sebagai manusia. Konteks kehidupan masyarakat yang saling melayani, mendukung, menopang, bahkan mendampingi sejauh ini telah terkikis oleh modernisasi dan diperparah dengan melemahnya adat istiadat sebagai sumber nilai dan norma hidup dalam masyarakat. Adat istiadat turut berperan aktif untuk membuat individu kembali melihat hakekat diri, serta sumber-sumber daya setiap individu dan masyarakat/lingkungan serta menstimulasi dan memperkokoh nilai dan norma hidup bagi individu dalam masyarakat, terlebih dalam arus modernisasi adat adalah sumber nilai dan norma positif yang dapat mengubah objek dan pola pikir masyarakat.
Modernisasi suatu masyarakat merupakan proses transformasi yang meliputi segala aspek kehidupan. Dilihat darisegi kebudayaan, modernisasi dapat diartikansebagai proses pergeseran sikap dan mentalitassebagian warga masyarakat yang disebabkanoleh adanya kebutuhan untuk menyesuaikandiri dengan tuntutan zaman masa kini. 7 Individu dan masyarakat cenderung individualis dengan melihat kepentingan dan keuntungannya sendiri sehingga sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak punya waktu untuk berkumpul atau saling berkunjung dengan saudara. Tak heran individu seperti tidak mengetahui keadaan sesamanya, tidak mengenal saudaranya, bahkan kehilangan nilai atau hakekat dirinya sebagai manusia.
Dalam konteks ini, ritual adat dapat menjadi sebuah wadah pertemuan dan stimulasi hakekat manusia yang hidup berdampingan satu sama lain.Walaupun demikian, ritual adat juga mengalami kekosongan eksistensial. Individu dalam
7 Murni Eva Rumapea & Dini Afrianti Simanungkalit, Dampak Modernisasi Terhadap
Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Batak Toba di Kota Medan, Antrophos; Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya, (Volume 1, No 2, Bulan Desember, Tahun 2015), 168.
5 konteks kekiniannya menganggap ritual khususnya aruno lahitolo mananol hanya sebagai formalitas sehingga mengabaikan berbagai tahapan dalam ritual ini dan menggantikannya dengan cara berdoa bersama pendeta. Sementara itu, ada gagasan tentang ritual adat sebagai praktek yang bertentangan dengan ajaran gereja. Hal ini semakin mempertegas alasan individu agar tidak melaksanakan
aruno lahitolo mananol, yang secara tidak langsung hanya dianggap sebagai
tradisi semata. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah pendekatan yang dipakai oleh untuk mempertegas konsep ritual dan menjembataninya dalam kapasitas sebagai sistem dan konteks adat dengan konteks masa kini agar terus dipertahankan dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah pendampingan dengan mengangkat nilai filosofi dasar dari ritual ini.
Pertanyaan mendasar yang harus diketahui jawabannya adalah mengapa menggunakan sebuah ritual pernikahan adat? Alasannya adalah karena pernikahan merupakan dasar terbentuknya sebuah keluarga dan masyarakat yang mengandung banyak makna dan nilai hidup. Selain itu ritual pernikahan juga merupakan sarana berkumpulnya masyarakat sehingga individu dapat melihat hubungan-hubungan sosial seperti orang basudara8 khususnya dalam bingkai ritual pernikahan adat.
Konsep orang basudara sangat kental dalam pelaksanaan ritual ini.Dalam kaitannya dengan ritual pernikahan, Van Gennep berpendapat bahwa pernikahan merupakan salah satu fase dalam kehidupan dan dibuat ceremony yang masuk dalam golongan ritual pemisahan dan inkorporasi, karena terjadi pemisahan dan
8 Wawancara dengan Pdt. N. Sedubun selaku MPH Sinode GPM, 10 juli 2018di kantor
6 penggabungan terhadap mempelai perempuan9 dengan lingkungannya yang baru. Ritual mengalami peleburan makna dan penyatuan individu dan masyarakat sebagai suatu kesatuan keluarga yang kuat. Artinya, mempelai perempuan terinkorporasi dalam kolektivitas persekutuan dan lingkungannya yang baru, dan sekaligus menstimulasikan peleburan makna yang dimaksud kepada setiap individu yang hadir dalam ritual tersebut.
Fakta diatas tidak lahir dari sebuah kekosongan melainkan terbentuk dan berkaitan dengan aturan adat yang berlaku. Soumena menerangkan bahwa serangkaian aturan itu merupakan perwujudan yang terdiri dari nilai dan norma yang turun-temurun dari generasi ke generasi lain sebagai warisan budaya, sehingga dapat memberikan kekuatan dalam berintegrasi dengan pola perilaku masyarakat.10 Hal ini berarti berbagai aturan dan kaidah-kaidah hidup dalam ritual
aruno lahitolo mananol dapat memberikan kekuatan dalam berintegrasi dan
membangun kohesi mempelai perempuan, komunitas masyarakat, ataupun individu sehingga dalam pemaknaan itu tindakan pendampingan akan lebih mudah dilakukan.
Konsep inkorporasi yang ada dalam fase perpindahan manusia oleh Van Gennep melebur dan menyatu dengan berbagai aturan, nilai, dan norma yang bermuara pada pemaknaan relasi orang basudara. Dalam hal ini, dimensi kapasitas individu sebagai saudara bagi orang lain terkadang cenderung sempit dalam cangkang gen atau nuclear family, sehingga beberapa pihak luar yang
9Arnold Van Gennep, The Rites of Passage (Chicago: The University of Chicago Press,
1960), 10. Dalam bangun konsep yang dibangun ini, Van Gennep melihat penggabungan yang dalam pernikahan terjadi dari pihak perempuan ke dalam kolektivitas mempelai laki-laki.
10Yasin Soumena, Pemberlakuan Aturan Adat dalam Masyarakat Islam Leihitu-Ambon
(Analisis Antro-Sosiologi Hukum), Jurnal Hukum Diktum, (Volume 10 No 1 Bulan January, Tahun
7 masuk dalam nuclear family seperti suami atau istri dari anak-anak dalam sebuah keluarga dianggap bukan bagian dari nuclear family tersebut.
Fakta diatas nampak dalam hubungan-hubungan antar mertua dengan menantu, antar ipar, atau antar konyadu. Relasi antar kedua belah pihak terkadang terganggu karena konsep “orang lain” yang berada diluar nuclear family. Akibatnya, konflik batin bisa terjadi antar individu.Konflik yang dimaksud bisa berupa kesalahpahaman seperti; mertua lebih dominan daripada menantu karena merasa lebih mengetahui banyak hal, perbedaan pendapat antara orang tua/mertua dengan anak/menantu, persaingan antaripar dan konyadu dalam hal fashion maupun gaya hidup dan sebagainya. Jika hal ini dibiarkan terjadi, dikhawatirkan akan berubah menjadi konflik fisikyang akan memperparah keadaan dan situasi keluarga dan masyarakat. Hal ini juga dapat berdampak pada diri anak-anak dalam suatu keluarga, karena konflik batin dapat diwariskan kepada anak lewat tutur kata atau tindakan dari orang tua yang mengalami konflik tersebut.
Penjelasan diatas dapat menjadi faktor yang membuat anak tidak mengenal saudara. Akibatnya anak-anak tidak terelakan dari konflik batin maupun fisik dengan sesamanya yang jika digali asal-usulnya ternyata saling memiliki hubungan kekeluargaan dan kekerabatan.Hal tersebut dapat menjadi indikator terganggunya keseimbangan sebuah kohesi dan harmonisasi masyarakat.
Selain itu, posisi mempelai perempuan yang masuk dalam mata-rumah suaminya perlu diperhatikan karena ia mengalami perubahan status sosial, idenitas, dannilai-nilai tertentu dalam dirinya. Ia harus menyesuaikan dan melaksanakan tanggung jawab yang baru dilingkungan dengan nilai-nilai hidup
8 yang baru, karena ia pun membutuhkan dukungan dari orang-orang yang ada disekelilingnya.
Dalam konteks diatas, tindakan pendampingan menjadi penting agar individu menyadari hakekat dan potensi dirinya sebagai manusia dan peran fungsinya sebagai orang basudara. Tindakan pendampingan yang berbasis pada pandangan orang basudara akan sangat berguna baik bagi mempelai perempuan maupun kolektivitas orang basudara secara kelompok dan individu.
Dalam konteks diatas, konsep orang basudara yang tergambar dalam ritual dan pendekatan pendampingan sangat berguna bagi keseharian individu dan masyarakat. Sifat alamiah masyarakat dan individu sehari-hari turut dipengaruhi dan bersumber dari lingkungan atau aturan, nilai dan norma yang mengikat dan diyakini sejak dulu. Berger dan Luckmann berpendapat bahwa dunia kehidupan sehari-hari merupakan suatu dunia yang berasal dari pikiran dan tindakan-tindakan masyarakat, dan dipelihara sebagai „yang nyata‟ oleh pikiran dan tindakan itu.11 Kesadaran akan tindakan tersebut selalu berpusat pada objek tertentu namun berbeda satu sama lain, yang kemudian menampilkan diri dalam kesadaran sebagai unsur-unsur pembentuk. Masyarakat dapat saling mengenal satu sama lain dan mengerti dengan siapa dan mengapa mereka berhubungan satu dengan yang lain dalam berbagai kenyataan. Masyarakat kemudian mengalami kehidupan sehari-hari dalam keadaan terjaga sepenuhnya, mereka dengan kesadaran penuh berada dalam, dan memenuhi, kenyataan kehidupan sehari-hari, yang dianggap sebagai suatu hal normal dan jelas dengan sendirinya; yang berarti ia membentuk sifat alamiah masyarakat.
11 Peter L. Berger & Thomas Luckmann, Tafsir Sosial Atas Kenyataan (Jakarta: LP3S,
9 Pendapat diatas juga berlaku bagi individu dan masyarakat Negeri Amahai sejak dulu. Aturan adat, nilai dan norma yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat seperti ritual penikahan adat aruno lahitolo mananol turut dijadikan sebagai objek sehingga mempengaruhi pikiran dan tindakan individu dan masyarakatsejak pemerintahan dibentuk dan masuknya agama di Negeri Amahai. 12 Meskipun terancam hilang, pendekatan pendampingan dapat memperkuat eksistensi ritual, nilai, dan maknanya yang berguna bagi kolektivitas
orang basudara.
Pendekatan pendampingan dapat dikaji dari perspektiv pendampingan pastoral bersifat lifelong education sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja untuk membantu individu mencapai tingkat kemandiriannya. 13 Pandangan ini berhubungan dengan pandangan Wiryasaputra yang mengungkapkan pendampingan sebagai cara manusia memberadakan dan memberadabkan diri yang karenanya setiap komunitas menciptakan perangkat sosial dan keagamaan untuk mewujudkan semangat memedulikan dan mendampingi.14 Aruno lahitolo
mananol merupakan salah satu jenis ritual adat yang sejak semula diadakan untuk
membentuk masyarakat yang dapat saling memperhatikan, memedulikan, bahkan mendampingi satu sama lain. Individu yang menghadiri ritual ini ada dalam sebuah relasi timbal-balik dalam kedudukan yang sejajar dan sederajat sebagai
orang basudara.
12 Masyarakat amahai mengenal agama lewat Fransiscus Xaverius. Pada tahun 1605,
menerima kekuasaan Belanda sehingga di Amahai terbentuk suatu pemerintahan yang namanya
Regen van Amahai.
13
J. D. Engel, Pastoral Dan Kebutuhan Dasar Konseling (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2016), 1.
14 Totok S. Wiryasaputra, Ready to Care; Pendampingan dan Konseling Psikologi
10 Konsep diatas tentu sejalan dengan konsep pendampingan pastoral yang jelaskan oleh Van Beek15 bahwa dalam proses mendampingi terjadi satu relasi sejajar atau relasi timbal-balik antar pendamping dan didampingi. Oleh karena itu, Engel menjelaskan bahwa pendampingan merupakan proses pendidikan sepanjang waktu. Proses pendidikan yang dimaksud disini adalah bantuan untuk memfasilitasi individu mengembangkan kemampuan sesuai potensi, melalukan pilihan dan mengambil keputusan atas tanggungjawab secara mandiri sepanjang hidup.16 Artinya, Van Beek dan Engel melihat konsep pendampingan sebagai proses pendidikan yang tidak terlepas dari hakekat manusia dan bersifat seimbang. Hal ini harus mendapat perhatian lebih ditengah arus modernisasi dalam konteks kekinian individu dan masyarakat.
Modernisasi yang mengedepankan individualisme cenderung mengganggap tindakan pendampingan diserahkan para pelaku profesi yang bergerak dibidang psikologi maupun agama. Akibatnya, individu tidak mampu memberadakan dan memberadabkan dirinya secara sempurna sebagai manusia. Jika demikian, eksistensi itual aruno lahitolo mananol dengan segala tahapan dan nilai penting didalamnya perlu disimak dengan baik karena dapat memberi pengaruh untuk membentuk individu pola pikir dan tindakan dalam melihat, memaknai dan menjalani kehidupan sehari-hari dalam bingkai pendampingan pastoral. Hal ini tejadi karena pemaknaan orang basudara bagi setiap individu membuat satu kesejajaran ikatan persaudaraan dan memungkinkan mereka untuk saling memedulikan dan saling mendampingi satu sama lain dalam jangka waktu yang lama. Artinya, tindakan pendampingan dalam bingkai tindakan pastoral
15 Art Van Beek, Pendampingan Pastoral (Jakarta: Bpk. Gunung Mulia, 2003), 9. 16 Engel, Pastoral Dan Kebutuhan Dasar Konseling, 1-3.
11 dapat terjadi didalam ritual dan memberikan peluang bagi individu untuk mendampingi dalam konteks kehidupan sesehari. Mereka dapat saling mendukung, menopang, bahkan membantu saudaranya untuk mengembangkan kemampuan sesuai potensi diri, melakukan pilihan, mengambil keputusan, dan bertanggungjawab dengan apa yang dilakukannya.
Berdasarkan latar belakang ini, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti ritual aruno lahitolo mananol lebih lanjut untuk kebutuhan pendampingan pastoral dengan judul: “Aruno lahitolo mananol sebagai
pendampingan orang basudara”.
II. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah penelitian adalah bagaimana Aruno Lahitolo Mananolsebagai pendampingan
orang basudara di Negeri Amahai? Rumusan masalah ini dijabarkan dalam dua
pokok persoalan penelitian:
1. Bagaimana makna filosofis dan nilai-nilai spiritual serta pelaksanaan ritual
aruno lahitolo mananol dikaji dari perspektif ritual pernikahan dan
pendampingan berbasis budaya ?
2. Bagaimana aruno lahitolo mananoldikembangkan menjadi pendampinganorang basudara di Negeri Amahai ?
III. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, maka penulis mengangkat tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji aruno lahitolo mananol sebagai pendampingan orang basudara. Tujuan ini dijabarkan dalam dua tujuan, yaitu:
12 1. Mengkaji makna filosofis dan nilai-nilai spiritual serta pelaksanaan ritual
aruno lahitolo mananol dari perspektif teori pernikahan dan
pendampingan berbasis budaya.
2. Mengembangkanaruno lahitolo mananol sebagai pendampingan orang
basudaradi Negeri Amahai. IV. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Artinya penelitian ini dilakukan pada objek yangalamiah karena sifat filsafat positivisme adalah memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat (reciprocal).17 Dengan kata lain, penelitian ini melihat ritual pernikahan di Negeri Amahai sebagai suatu realitas sosial yang utuh dan penuh makna.
Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masalah, gejala, fakta, peristiwa, dan realita secara luas dan mendalam sehingga dapat memperoleh suatu pemahaman baru. 18 Karenanya penelitian ini mendeskripsikan tentang pemahaman dan pelaksanaan ritual aruno lahitolo mananoldi Negeri Amahai agar dapat menenukan makna filosofis dan nilai-nilai penting di dalamnya.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui wawancara mendalam (in-depth interview). Peneliti akan melakukan interaksi atau berbicara langsung kepada orang-orang dan melihat mereka bertingkah laku dan
17 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methods),
(Bandung : Alfabeta, 2016), 13.
13 berinteraksi satu dengan yang lainnya. Wawancara dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan secara umum tidak terstruktur (unstructured) dan bersifat terbuka (openened) yang dirancang untuk memunculkan pandangan dan opini dari para partisipan.19Karenanya pertanyaan yang dirancang pada awal penelitian ini adalah pertanyaan mendasar dan umum seperti pandangan umum masyarakat tentang aruno lahitolo mananol.
Wawancara mendalam yang dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yakni purposive dan snow-ball simpling. Purposive adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang diteliti. Karena itu, informan dalam penelitian ini adalah seorang tua adat dan seorang staf pemerintah negeri yang masih ingat dan mengetahui dengan pasti ritual aruno lahitolo
mananol.Snow-ballyang merupakan teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya
jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. 20Kedua pendekatan ini berkaitan satu sama lain, karena pendekatan purposive juga dapat digunakan untuk mengecek data yang diterima dari proses pendekatan snow-ball.
19
J. W. Chreswell, Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
Mixed.,(Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 267.
20 Sugiyono, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. (Bandung: Alfabeta,
14 Dalam proses pemilihan informan oleh peneliti yang bekerjasama dan atau dibantu informan kunci dan beberapa informan lainnya untuk menentukan sampel berikutnya yang dianggap penting, selain itu dalam model ini tidak ada batas maximal dan minimum.21Dengan demikian yang menjadi informan adalah dua orang tua adat, satu orang staf saniri negeri22, satu orang staf pemerintah negeri, satu orang pendeta. Beberapa orang ini dijadikan sebagai informan kunci. Dalam arti mereka adalah para orang tua yang telah mengikuti ritual serta sangat mengerti rentetan prosesi maupun ide dan nilai-nilai yang terkandung dalam ritual adat ini. Informan kunci ini juga memberikan rekomendasi ke beberapa informan lain, hingga pada akhirnya keseluruhan informan terdiri dari beberapa tua adat, beberapa staf pemerintah negeri, beberapa staf saniri negeri, beberapa pendeta yang berpengalaman, tokoh pemuda, dan beberapa perempuan mananol (dalam hal ini sebagai orang yang mengikuti dan yang membuat ritual acara ini).
V. Sistimatika Penulisan
Penulisan ini terdiri dari enam bab, yaitu terdiri dari; Bab satu, tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, dan sistimatika penulisan. Bab dua, tentang ritual, dan pendampingan pastoral berbasis budaya.Teori ritual meliputi pemahaman ritual pada umumnya kemudian menjurus pada paham ritual pernikahan adat. Setelah itu, pembahasan tentang pendampingan berbasis budayayang akan
21
Suwardi Endraswara, Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Ideologi,
Epistemologi, Dan Aplikasi. (Yogjakarta: Pustaka Widyatama, 2006), 116.
22 Saniri Negeri Adalah Badan Legislatif Pemerintah Kampung yang bersidang untuk
membahas masalah-masalah besar, memutuskan kebijakan-kebijakan, dan mengeluarkan peraturan. Badan ini juga terutama bertanggungjawab untuk semua masalah yang berhubungan dengan adat, mengadili perselisihan adat, dan menghakimi pelanggaran adat. Badan ini biasanya terdiri atas tokoh-tokoh tertentu, pejabat adat tradisional tertentu, dan sejumlah orang biasa yang terpilih. Lih, Dieter Bartels, Dibawah Naungan Nunusaku: Muslim-Kristen Hidup Berdampingan
15 terjabarkan pada beberapa point yaitu; defenisi pendampingan berbasis budaya, pendekatan pendampingan pastoral, dan fungsi pendampingan pastoral. Bab
ketiga, tentang hasil penelitian yang meliputi penggambaran umum lokasi
penelitian, deskprisi pemahaman yang termuat dalam praktek dan nilai-nilai dalamaruno lahitolo mananol. Bab empat, tentang kajian pemahamanaruno
lahitolo mananol dari perspektif ritual Van Gennep, pendampingan pastoral dan
pastoral budaya, serta fungsi pendampingan pastoral orang basudara. Bab lima, akan berisi tentang pengembangan ritual aruno lahitolo mananol sebagai pendampingan meliputi; desain pendampingan aruno lahitolo mananol, dan penjelasan teknik, tujuan dan sasaran pencapaian. Bab enam, adalah penutup yang akan berisi kesimpulan tentang hasil penelitian yang dilakukan serta kontribusi dan rekomendasi untuk penelitian lanjutan.