• Tidak ada hasil yang ditemukan

STANDARD MONITORING TERUMBU KARANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STANDARD MONITORING TERUMBU KARANG"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

STANDARD MONITORING

TERUMBU KARANG

Dr. Suharsono, APU

PUSAT PENELITIAN OSEANOGRAFI

(2)

PENDAHULUAN

Ekosistem wilayah pesisir di Indonesia mempunyai arti yang sangat penting bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang mempunyai orientasi dan menggantungkan hidupnya dan sumberdaya wilayah pesisir. Wilayah pesisir memberikan sumberdaya kehidupan yang terus menerus melalui hasil perikanan dan sumberdaya hayati yang lain seperti kayu dan hutan bakau. Di samping itu wilayah pesisir juga mempunyai keanekaragaman biota yang besar dan mempunyai nilai sebagai industri pariwisata, ekoturisme dan penelitian maupun pendidikan.

Pada saat ini terjadi suatu hal yang mempnhatinkan oleh karena terjadi suatu degradasi ekosistem, tangkap lebih, pencemaran, konversi lahan untuk keperluan yang lain. Kecepatan degradasi sumberdaya wilayah pesisir telah melampaui batas ambang baik dalam skala yang besar maupun kecil. Hampir separuh dari hutan mangrove/bakau yang ada di dunia telah rusak (World Resources Institutes 1992). Terumbu karang akan berkurang 70 % dalam waktu 40 tahun jika pengelolaan tidak segera dilakukan.

Survei status sumberdaya wilayah pesisir perlu dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai distnibusi dan kelimpahan hewan dan tumbuhan. Informasi ini penting untuk melihat status ekonomi dan untuk membandingkan antara suatu daerah dengan lainnya, regional atau skala global.

Di dalam menilai atau memantau ekosistem perlu dipahami adanya suatu variasi dalam skala yang relatif kecil seperti misalnya : terumbu karang di front reef dan back reef mempunyai perbedaan begitu juga kelimpahan jenis di hutan bakau pada tempat yang berbeda mempunyai perbedaan yang sangat nyata.

Program pemantauan jauh lebih efektif jika pengamat mempunyai pemahaman biologi hewan dan tumbuhan seperti apakah hewan dan tumbuhan itu mempunyai perubahan tingkah laku atau mereka berpindah dan satu tempat ke tempat lain dalam skala waktu jamlhari/tahun. Apakah faktor lingkungan mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku dan apa yang terjadi saat reproduksi. Pengetahuan variasi alami akan sangat membantu peneliti untuk memahami perbedaan ekosistem dalam daerah yang kecil atau survei yang dilakukan pada waktu yang berbeda.

Pengamatan pada struktur komunitas yang besar seperti mangrove atau karang memperlihatkan kurang bervariasi dan dalam jangka waktu yang lebih panjang dibandingkan biota yang bergerak bebas atau yang mempunyai siklus hidup yang pendek dalam hitungan hari atau minggu. Ikan yang mempunyai gerakan yang cepat akan berubah dalam hitungan hari atau bulan. Oleh karena itu metoda yang berbeda diperlukan untuk menilai komponen yang utama di dalam suatu sistem dengan demikian hasil yang diperoleh menunjukkan pola yang benar.

Pada dasamya sumberdaya wilayah pesisir mempunyai variasi dalam ruang dan waktu seperti misal terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun dan komunitas biota yang hidup di dasar (soft bottom communities). Variasi ini juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan sekitamya yang relatif dapat diramalkan seperti suhu, pasang surut dan adanya pola arus musiman. Tetapi ada juga faktor yang sulit diramalkan seperti ledakan populasi suatu biota tertentu, penyakit yang dapat menyebabkan perubahan komunitas secara drastis.

Pengaruh dampak negatif dan aktivitas manusia dan alami yang meliputi pencemaran dan perubahan iklim akan menyebabkan perubahan secara gradual dan bersifat kronis sehingga menyebabkan proses perubahan yang lambat. Perencanaan pemantauan yang baik akan dapat digunakan untuk membedakan antara perubahan yang disebabkan oleh manusia atau alami sehingga strategi pengelolaan dapat dikembangkan dan diuji coba.

(3)

Secara ringkas untuk melihat kecenderungan perubahan suatu ekosistem ke arah yang lebih buruk atau ke arah yang lebih baik diperlukan suatu pemahaman biologis dan ekologis dan biota penyusun ekosistem tersebut. Perubahan suatu sistem tidak dapat terlepas dan parameter lokasi, ruang, ukuran, waktu dan faktor lingkungan serta aktivitas manusia.

Pemantauan jangka panjang diperlukan untuk menjawab apakah suatu daerah mengalami perubahan ke arah perbaikan ataukah mengalami kerusakan.ini penting artinya untuk memilih metoda, waktu atau atau lokasi dan pemantauan.Untuk memilih lokasi pemantauan yang dapat mewakili suatu sistem secara keseluruhan, lokasi yang masih utuh ‘prestine” diperlukan untuk kontrol agar efek negatif dan tingkah laku manusia dapat dibandingkan.

Jumlah lokasi yang dipilih untuk monitoring haruslah mempertimbangkan jumlah sumberdaya manusia yang ada, waktu yang tensedia dan dana. Pemilihan lokasi harus merupakan seri dari suatu lokasi yang dapat dikunjungi secara reguler dalam hitungan bulan atau tahun.

Untuk mencapai tujuan yang lebih baik program pemantauan jangka panjang tidak hanya merupakan survei data dasar yang akan digunakan untuk membandingkan antar daerah tetapi juga sedapat mungkin untuk dapat menjawab hal-hal yang spesifik yang ada di masing-masing daerah. Oleh karena itu masing-masing daerah dipersilahkan dapat menambah jumlah minimal baik ulangan lokasi maupun frekwensi pengamatan.

Untuk menambah efektivitas dan efisiensi maka blok-blok beton maupun permanen transek sekaligus dapat digunakan untuk mengamati “rekruitment, pertumbuhan reproduksi, kompetisi dan kematian” dari suatu jenis tertentu.

Data pendukung atau data yang telah ada seperti citra satelit akan sangat membantu dalam menentukan lokasi yang dipilih. Data yang nantinya dikumpulkan tentunya akan merupakan data yang sangat banyak oleh karena itu haruslah disimpan secara efisien agar dapat memudahkan saat analisa.

Data yang dikoleksi harus segera dimasukkan agar dapat dicek konsistensinya dan dikoreksi jika ada kesalahan. Untuk menghindarkan kesalahan dan kemungkinan tidak dapat digunakan data pada masa yang akan datang. Semua data dasar harus segera dicek sesegera mungkin untuk menjamin bahwa data yang telah dimasukkan dapat dipanggil kembali dan dapat dianalisa. Data yang lama dan baru haruslah dapat digabungkan sehingga setiap penambahan data baru tidak menjadi masalah. Perencanaan data dasar juga harus dapat menjamin pemasukan data secara cepat, tepat dan konsisten sehingga tidak menghambat kerja lapangan atau pekerjaan yang lain.

Penggunaan metoda yang sama dan konsisten dalam menilai sumber daya pantai akan dapat membandingkan dalam skala daerah atau nasional dalam rangka mendeteksi perubahan lingkungan wilayah pesisir.

(4)

LOGISTIK ORANG

a. Jumlah tenaga peneliti/pengamat yang dibutuhkan adalah 10 orang dengan rincian 8 orang sebagai tenaga pengamat dan satu orang fotografer dan satu orang tinggal di perahu.

b. Dua orang diperlukan untuk menarik garis trannsek path kedalaman 3 dan 10 meter. c. Semua pengamat hams memahami 29 kode dalam katagori bentuk pertumbuhan dan

akan jauh lebih baik kalau pengamat dapat mengidentifikasi karang sampai tingkat marga atau jenis.

d. Kesamaan kemampuan dalam memahami katagori bentuk pertumbuhan dan tingkat ketelitian dalam pengambilan data sangat diperlukan agar variasi kesalahan dan satu orang dengan yang lainnya dapat diminimalkan.

PERALATAN

a. Perahu motor yang dapat memuat 10 orang dan peralatan SCUBA. b. Peralatan selam untuk 10 orang.

c. RoIl meter 4 (empat) buah ukuran 100 meter dan meteran ukuran 1,5 meter untuk mengukur diameter koloni.

d. Blok beton 432 buah untuk diletakan sebagai tanda pada tahap awal pengamatan. e. Kaliper untuk mengukur diameter koloni dan hasil pertunasan.

f. Kamera bawah air.

g. Video bawah air kalau ada.

PEMILIHAN LOKASI

a. Pemilihan lokasi paling sedikit di 3 tempat pulau dengan pertimbangan:

1. Lokasi yang pada saat ini atau dalam waktu dekat mengalami degradasi yang cukup berat.

2. Lokasi yang pada saat ini atau pada masa akan datang mengalami degradasi ringan / sedang.

3. Lokasi yang belum atau diperkirakan tidak akan mengalami degradasi. Lokasi ini dipakai sebagai lokasi kontrol.

b. Lokasi yang dipilih mudah untuk dikunjungi secara reguler, tidak terlalu jauh dan tidak mahal.

c. Pada masing-masing lokasi dipilih paling tidak dua tempat yang mewakili daerah yang relatif terlindung dan daerah terbuka.

d. Tempat yang dipilih diberi tanda baik didarat maupun di laut. Penentuan posisi geografis dengan GPS. Citra inderaja akan diusahakan untuk diperoleh untuk setiap lokasi.

(5)

PEMBUATAN PERMANEN TRANSEK

a. Pada tempat (site) yang telah ditentukan dibuat permanen transek yaitu dengan meletakkan roll meter sepanjang 2 x 50 m dengan jarak antara transek 1 dan berikutnya 20 m pada kedalaman 3 dan 10 meter. Penentuan kedalaman 3 dan 10 meter dihitung pada saat air surut terendah. Jika path kedalaman 3 atau 10 meter tidak ada karang transek dapat digeser kekedalaman 2 atau 6-8 meter.

b. Pada titik nol diletakan blok beton ukuran 30 x 30 x 15 cm begitu seterusnya dengan selang 10 meter, sehingga jumlah blok beton keseluruhan dalam satu transek sepanjang 50 meter berjumlah 6 buah. (Gambar 1).

c. Pada setiap tempat (site) dibuat ulangan 3 kali, sehingga pada tiap lokasi dibutuhkan

432 blok beton, dengan rincian: dua kedalaman (3 dan 10 m), tiga ulangan, dua

tempat untuk setiap pulau, 3 pulau yang mewakili tiga tingkatan kerusakan dan 6 untuk setiap transek (2x3x2x3x6x2) =432.

d. Blok-blok beton disamping dipakai sebagai tanda permanen transek dan untuk memudahkan ketelitian dalam meletakan gans transek pada pengamatan berikutnya. Blok beton dapat dipakai sebagai media pengamatan untuk tingkat rekruitment anakan karang.

e. Pada tempat pengamatan yang mempunyai terumbu tegak lurus sehingga tidak memungkinkan meletakkan blok beton maka dapat diganti dengan tanda berupa besi siku yang ditancapkan pada dinding karang.

CARA PENGAMATAN

a. Pengamatan untuk yang pertama kali harus disertai deskripsi lingkungan sekitar seperti keadaan pulau dan topografi serta kondisi karang secara umum. Terangkan keadaan rataan terumbu dan lereng terumbu serta sampai kedalaman berapa terumbu karang masih dijumpai karang.

b. Pengamatan dilakukan dengan metoda bentuk pertumbuhan dan jika memungkinkan diamati sampai tingkat marga ataujenis.

c. Penyelam pertama dan kedua menarik tali sepanjang 100 meter pada kedalaman 3 dan 10 meter. Untuk mengkontrol kedalaman gunakan alat pengukur kedalaman (depth meter).

d. Pengamat ikan turun terlebih dahulu 5 menit kemudian baru disusul oleh pengamat karang.

e. Roll meter harus terletak didasar dan yang dicatat adalah proyeksi tegak lurus dan pandangan atas.

f. Parameter fisik yang perlu diukur kecerahan dengan secci disk, salinitas dan suhu. g. Pada meter pertama sampai meter kesepuluh perlu difoto dengan jarak ke objek 1

meter untuk tiap transek (Gambar 2).

h. Jumlah pengamat yang diperlukan adalah dua orang penarik garis, dua orang pengamat ikan, dua orang pengamat karang, satu orang pengambil gambar foto/ video dan dua orang pembantu.

(6)

PENCATATAN DATA

a. Pengamatan mempersiapkan tabel isian sebelum menyelam dan jangan lupa mengisi : nama pulau, tanggal, waktu pengamatan, transek ke? dst (Gambar 3).

b. Setiap biota yang berada dibawah garis transek dicatat sesuai dengan kategori yang ditentukan. Pencatatan dengan ketelitian mendekati sentimeter.

c. Jika satu koloni dan jenis yang sama dipisahkan oleh satu atau beberapa bagian yang mati maka tiap bagian yang hidup dan mati dicatat sendiri-sendiri, tidak dianggap sebagai hanya satu kategori.

d. Jika dua koloni atau lebih tumbuh saling tumpang tindih maka masing-masing tetap dicatat sebagai koloni yang terpisah.

e. Jika menghadapi koloni yang bercabang yang luas dan terdiri satu jenis tetapi dengan fragmen bercabangan kecil-kecil maka dianggap satu koloni.

f. Pengamat yang dapat mengidentifikasi sampai tingkat marga atau jenis perlu menambahkan catatan di belakang setiap kategori.

g. Pada kategori SC (soft coral) perlu ditambahkan catatan yaitu Lob untuk Lobophytum, Sin untuk Sinularia dan Sar untuk Sarcophyton.

STANDARISASI DATA

a. Pengamatan untuk satu transek hams diselesaikan oleh satu orang.

b. Pengamatan path tahun berikutnya sebaiknya dilakukan pada waktu yang sama (bulan, hari) dan oleh orang yang sama.

c. Peletakan garis transek atau rollmeter sedapat mungkin sama dengan tahun sebelumnya.

d. Jika ada keragu-raguan dalam kategon atau ada permasalahan harap segera dilaporkan agar dapat didiskusikan.

PEMROSESAN DATA

a. Data hasil penelitian dimasukkan ke dalam disket data dengan menggunakan dBase III+.

b. File yang berisi data transek diberi nama menurut aturan sbb.:

Bx#nnnnn.dbf

dimana:

x = kode simpul, diisi dengan bilangan 1 untuk simpul 1; 2 untuk simpul 2, dst. # = kode sub simpul, diisi dengan alphabet yang telah ditentukan oleh tiap-tiap simpul.

Nnimn = kode nomor unit file.

c. File yang berisi data informasi tentang lokasi penelitian transek diberi nama menurut aturan:

Cx#nnnnn.dbf

dimana:

x = kode simpul, diisi dengan bilangan 1 untuk simpul 1; 2 untuk simpul 2, dst. # = kode sub simpul, diisi dengan alphabet yang telah ditentukan oleh tiap-tiap simpul.

(7)

d. Struktur file Bx#nnnnn.dbf:

FieldName Type Width Dec

1. SAMP_ID Character 8 2. BENTHOS Character 4 3. TRANSITION Numeric 5 0 4. LENGTH Numeric 5 0 5. OCCURRENCE Numeric 1 0 6. TAXON Character 30 Keterangan:

1. SAMP_ID: nomor pengenal transek garis menurut aturan: IDx#??? dimana:

ID = kode untuk Indonesia.

X = kode simpul, diisi dengan bilangan I untuk simpul 1; 2 untuk simpul 2, dst.

# = kode sub simpul, diisi dengan alphabet yang telah ditentukan oleh tiap-tiap simpul.

??? = kode unit transek. Bisa berupa gabungan alphabet dan angka.

Contoh : ID1AR1 (transek untuk Simpul 1 pada sub simpul A dengan kode urut Ri).

Catatan : Dalam satu transek garis, SAMP_ID) harus sama untuk file

Bx#nnnnn.dbf dan Cx#nmmndbf.

2. BENTHOS: kode bentuk koloni biota (lihat Lampiran 1)

Data diketik dengan huruf besar. Contoh: ACB, ACT, dil.

3. TRANSITION : titik akhir pada tali transek berukuran, dimana biota dilewati taliberukuran (roll meter). Contoh : 2350 (panjang ke 2350 cm

dan 10000 cm)

4. LENGTH : panjang biota dalam sentimeter, akan dthitung dengan program Lifeform. Contoh: 15 (beda antara record yang ditunjuk dengan record yang lalu adalah 15 cm)

5. OCCURRENCE: nomor untuk menunjukkan angka kejadian bila terdapat biota yang sama bentuknya tetapi beda jemsnya dalam tali transek yang

berurutan lebih dan satu. Contoh : 2.

(8)

e. Struktur file Cx#nnnnn.dbf:

Field Name Type Width Dec

1. SAMP_ID Character 5

2. REEF NAME Character 17

3. REEF_CODE Numeric 5 0

4. A DATE Date 8

5. DEPTH Numeric 2 0

6. SITE NBR Numeric 1 0

7. REEF ZONE Character 17 8. COLLECTR Character 30 9. REMK1 Character 25 10. REMK2 Character 25

Keterangan:

1. SAMP_ID : nomor pengenal transek garis (sama seperti di atas) 2. REEF NAME : nama pulau tempat transek penelitian dilakukan.

Contoh: Pulau Bidadari. 3. REEF_CODE : nomor kode pulau. Contoh: 01

4. A_DATE : tanggal transek, dengan susunan bln/hari/tahun. Contoh : 05/01/1993 (1 Mei 1993)

5. DEPTH : kedalaman transek, diukur dalam meter. Contoh : 3 (berarti 3 meter).

6. SITE NBR : nomor untuk menunjukkan transek yang kesekian. Contoh: 5. 7. REEF_ZONE : posisi transek garis terhadap pulau, misal: reef slope, reef flat dsb.

8. COLLECTR : nama pengukur data transek garis. Contoh: Agus Budiyanto 9. REMKI : catatan pertama untuk observasi tambahan.

Contoh: Selatan pulau.

10. REMK2 : catatan kedua untuk observasi tambahan. Contoh: Posisi 106°12’45” BT; 6°4532” LS f. Pengolahan datanya menggunakan Program Lifeform (Lampiran 3)

(9)

Lampiran 1: Kategori dan kode Lifeform

Benthic Lifeform Kode Benthos Keterangan

Hard Corals

Acropora

Acropora Branching ACB Bentuk bercabang seperti ranting pohon

Contoh: Acroporu palmata, A.

formosa.

Tabulate ACT Bentuk bercabang dengan arah mendatar, rata seperti meja. Contoh : A. hyacinthus

Encrusting ACE Bentuk merayap, biasanya terjadi pada Acropora yang belum

sempurna. Contoh : tpalifera dan A.

cuneata.

Submassive ACS Percabangan bentuk gadallempeng dan kokoh. Contoh: A. pub/era. Digitata ACD Bentuk percabangan rapat dengan

cabang seperti jan-jan tangan. Contoh: A. humilis, A. digitfera dan

A. gemmfera.

Non-Acropora

Coral Branching CB Bentuk bercabang, seperti ranting pohon.

Contoh: Seriatopora hystrix.

Massive CM Bentuk seperti batu besar yang

padat. Contoh: Plaiygyra daedalea. Encrusting CE Bentuk merayap, hampir seluruh

bagian menempel pada substrat. Contoh: Porites vaughani,

Montipora undata.

Submassive CS Bentuk kokoh dengan dengan tonjolantonjolan atau kolom-kolom kecil. Contoh

Porites lichen, Psammocora digitata.

Foliose CF Bentuk menyerupai lembaran daun.

Contoh: Merulina ampliata,

Montipora aequituberculata.

Mushroom CMR Soliter, bentuk seperti jamur.

Contoh: Fungia repanda. Millepora CME Semua jenis karang api, dapat

dikenali dengan adanya warna kuning di ujung koloni dan rasa panas seperti terbakar bila tersentuh.

(10)

Heliopora CHL Karang biru, dapat dikenali dengan adanya warna him pada

skeletonnya.

Dead Scleractina

Dead Coral DC Karang yang barn mati, berwarna

putih (with Algal

Covering)

DCA Karang mati yang masih tampak bentuknya, tapi sudah mulai ditumbuhi algae halus

Algae

Macro MA Berukuran besar.

Turf TA Algae berukuran halus, menyerupai

rumput - rumput halus.

Coralline CA Algae yang mempunyai struktur

kapur.

Halimeda HA Algae dan marga Halimeda. Algal

Assemblage

AA Terdiri lebih dari satu jenis algae.

Other Fauna

Soft Corals SC Karang dengan tubuh lunak.

Sponge SP

Zoanthids ZO Contoh : Platythoa, Protopalythoa.

Others OT Anemon, teripang, gorgonian, kima

dll.

Abiotic

Sand S Pasir

Rubble R Pecahan karang mati

Silt SI Lumpur

Water WA Celah dengan kedalaman lebih dan

50 cm

(11)

Lampiran 2.

PENGGUNAAN PROGRAM DBASE III+

Program dBase III+ terdiri dan dua disket program yaitu Disk system 1 dan Disk system 2 dengan konfigurasi minimal komputer PC-XT/AT dan sebuah printer dot matrix. Cara menjalankan program dBase ada dua cara pertama, dengan menggunakan disket dan kedua, dengan menggunakan hard disk.

Cara menjalankan dBase III+ dengan disket

1. Siapkan disket DOS System, dBase III+ System Disk1, dBase III System Disk2, dan disket Data.

2. Masukkan Dos di A, nyalakan komputer.

Tunggu lampu di drive A padam. Tampak dilayar:

Current date: 05 - 26- 1996

Enter new date: [masukkan tanggal sekarang] [enter] Current time.

Enter new time: [masukkan waktu sekarang] [enter]

Terlihat di layar: A>

3. Masukkan disket System Disk1 program dbaseIII+ ke drive A, ketik : dbase

[enter] Tunggu sampai menu License Agreement tampak lalu tekan enter sekali lagi

Dilayar akan terlihat: Insert dBaseIII+ System Disk 2 and press Enter.

4. Keluarkan disket System Disk1, lalu masukkan disket System Disk2 program dBase III+, tekan [enter], tunggu hingga di layar terithat:

. disebut dengan (dot prompt)

5. Masukkan disket Data di drive B

Disket dBase III+ System Disk2 harus selalu ada di drive A, selama operasi dBase

berlangsung. Anda sekarang dalam program dBase dan siap untuk bekerja. Membuat file baru

Di dalam program dBase III+ terdapat fasilitas untuk membuat file database baru, file ini adalah untuk menampung data-data lapangan yang dimasukkan melalui program dBase. Ketentuan untuk membuat nama file baru adalah tidak boleh lebih dan 8 karakter (huruf) dan otomatis komputer akan menambahkan nama file tambahan (extension) dengan 3 karakter (huruf), yaitu DBF.

Ketik:

.-create [nama file] [enter]

akan terlthat

Field Name Type Width Dec 1. -

(diisi menurut petunjuk penggunaan program Lifeform) Memasukkan data baru

Ketik:

.- set defa to b [Enter] (disket kerja diubah ke drive B) .- use [nama file] [enter] (memanggil file dBase)

(12)

Setelah selesai memasukkan data, tekan [Ctrl] dengan [End] secara bersamaan untuk menyimpan data yang sudah dimasukkan.

Mengedit/memperbaiki data Ketik:

.-edit [nomor record] (memperbaiki data path record yang dimaksud)

Contoh : edit 6 (memperbaiki data record nomor 6) Melihat data yang sudah dimasukkan

Ketik:

.-use [nama file] [Enter] (masukkan nama file)

.-Browse [Enter] (maka akan terlihat data dalam bentuk tabel) tekan anak panah, untuk melihat data sebelum/sesudah tampilan.

Data bisa di edit, atau ditambahkan.

Bila sudah selesai, tekan [Ctrl] dengan [End] secara bersamaan. Mengindex data

Ketik:

.-use [nama file] [Enter] (masukkan nama file) .-index on [nama field] to [nama file index] [Enter]

Apabila data dilihat dengan List atau Browse, maka data otomatis akan terlihat secara indeks ascending (dari kecil ke besar).

Menampilkan data spesijik dalam satu file Ketik:

.-use [nama file] [Enter]

.-list [nama field], [nama field],…. [Enter]

Contoh : list samp_id,reef_name (menampilkan data hanya field samp_id dan lokasi)

Mencetak data Ketik:

.-use [nama file] [Enter] (masukkan nama file)

.-list to print [Enter] (menampilkan file ke layar dan sekaligus mencetak file ke printer)

Keluar dan program dBASE III+

Ketik:

.-close data [enter] (menutup file)

.-quit [enter] (keluar dan program dbase dan kembali ke system DOS prompt)

Mengmgat program ini masih terbatas pada hal tertentu saja, maka diharapkan kepada pengguna program mi dapat mempelajari sendiri lebih mendalam agar dapat ipergunakan secara optimal untuk kepentingan lainnya.

(13)

Lampiran 3.

CARA MENJALANKAN PROGRAM LIFEFORM

Disket program Lifeform yang dibagikan adalah Master Disk. Sebaiknya buat copinya untuk disket kerja yang akan dipakai untuk proses sehari-hari, dan simpan Master disk ditempat yang aman.

Cara membuat copy,

- Masukkan disket DOS, isi keterangan tanggal dan jam, keluarkan disket DOS. - Masukkan disket program di drive A, disket kosong di B

Ketik:

A> Copy *.* B: , tekan Enter

Tunggu sampai lampu di drive padam, lalu keluarkan kedua disket tersebut. Protect master disk program dengan cara menutup disket program dengan write protect label lalu simpan dengan baik. Untuk disket kerja, jangan diprotect.

1. Masukkan disket progam di drive A dan disket kerja/data di drive B. Pastikan bahwa disket kerja berisi file Bx#nnnnn.dbf dan Cx#nnnnn.dbf

2. Ketik

A> lf-3 [Enter]

Terlihat tulisan Lifeform Program

LIFEFORM PROGRAM

Research and Development Centre for Oceanology [LOGO - LIPI]

CORAL REEF ECOSYSTEM

3. Tekan Enter, maka terlihat menu persiapan:

L I F E F O R M

Masukkan nama sampel file Masukkan nama data file Masukkan Sampel ID

: : :

Kosongkan nama sampel file untuk SELESAI

dibuat oleh: Rahmat & Yos ‘95

4. Sampel file adalah file yang berisi data informasi tentang lokasi penelitian transek. Dimasukkan dalam file Cx#nnnnn.dbf. Isi kolom ini dengan B:Cx#nnnnn.dbf

5. Data file adalah file yang berisi data transek. Dimasukkan dalain file Bx#nnnnn.dbf. Isi kolom ini dengan B: Bx#nnnnn.dbf

6. Isi kolom Sample ID dengan SAMP_ID yang merupakan nama pengenal garis transek yang kita inginkan. Contoh : ID1AR1

7. Setelah semua diisi dengan benar lalu tekan enter, maka kode-kode benthos dan transition akan diperiksa kebenarannya. Kode-kode benthos diperiksa berdasarkan bentuk morfologi sedangkan transition diperiksa berdasarkan urutan tali transek dari kecil ke besar. 8. Untuk proses awal, akan terlihat tampilan:

(14)

Samp_ID Benthos Transition Length Occurenc e Taxon DD1A S 37 - - - DD1A SC 70 DD1A TA 80 DD1A SC 99 DD1A SP 107 DD1A SC 130

Isi angka length awal transek anda, lalu tekan enter setelah itu tekan esc.

9. Apabila terdapat kesalahan, data akan ditampilkan untuk dikoreksi kembali. Setelah selesai pembetulan bawa cursor ke data paling atas dan tekan [Esc] untuk kembali proses penghitungan persentase dan panjang taxon.

10. Setelah selesai proses pengliitungan selesai (tidak menemukan kesalahan lagi), maka akan terlihat menu pencetakan:

PENCETAKAN 1. Cetak Lifeform Report 2. Cetak Taxon Length 3. Selesai

Pilih [1,2 atau 3]

Keterangan:

a. Cetak Lifeform Report adalah mencetak hasil perhitungan persentase tutupan karang ke printer atau ke layar.

b. Cetak Taxon Length adalah mencetak hasil panjang dan masing-masing taxon yang ada ke printer atau ke Iayar.

c. Selesai adalah kembali ke menu sebelumnya (isian untuk file sampel dan file data). 11. Bila memilih pilihan 1 atau 2, maka akan muncul menu:

Cetak ke Printer [Y/T]:

Pilihlah:

Y = bila kita menginginkan hasil proses penghitungan ke printer.

(15)
(16)
(17)
(18)
(19)

Referensi

Dokumen terkait

(Baharuddin & Wahyuni, 2008) belajar merupakan perubahan tingkah laku dalam hal pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi, atau gabungan dari semuanya yang

Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar.Hasil belajar meliputi pemahaman konsep (aspek kognitif), keterampilan

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku dan perubahan pemahaman, yang pada mulanya seorang anak tidak dibekali dengan suatu apapun (fitrah), kemudian dengan

Terumbu karang tersusun dari hewan, kerang, tumbuhan laut dan biota laut lainnya yang hidup secara bersimbiosis dalam kondisi lingkungan yang sangat baik dan

Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat diindikasikan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan,

Hasil dari pelaksanaan sosialisasi kegiatan pengabdian terhadap masyarakat adalah klub selam MSDC mendapat pemahaman pentingnya penggunaan teknologi penginderaan jauh

Perubahan tingkah laku sebagai hasil dari kegiatan belajar tampak dalam aspek pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan, aspresiasi, emosional, hubungan sosial,

Pengelolaan kelas yang efektif dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan yaitu pendekatan perubahan tingkah laku dimana pengelolaan kelas dilakukan