• Tidak ada hasil yang ditemukan

Turki dan Permasalahan Pulau Siprus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Turki dan Permasalahan Pulau Siprus"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 Balé Institute

XVII – April 2020 – Opini

‘’Turki dan Permasalahan Pulau Siprus’’

Yasmin Amelia Rizar

Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional, Istanbul Medeniyet University

Berapa banyak dari kita yang mengetahui keberadaan Pulau Siprus? Apakah terdengar familiar di telinga kita? Sampai saat ini, masih terbilang banyak orang-orang di dunia yang tidak tahu keberadaan Pulau Siprus, apalagi informasi umum seputar pulau yang dimaksud, seperti letak geografi dan ras penduduknya. Sejarah, serta proses transformasi yang dialami oleh Pulau Siprus memiliki kaitan yang erat dengan negara Turki, begitu pula dengan negara Yunani dan hubungan antara dua negara yang bersebelahan dengan Laut Mediterania tersebut. Hubungan tegang dan ketidakharmonisan antara Turki dan Yunani yang dimulai sejak tahun 1950an hingga saat ini juga kurang lebih dipengaruhi oleh konflik kepentingan dua negara terkait pulau tersebut. Mungkin bagi mahasiswa/i Indonesia yang menempuh studi di Turki, Pulau Siprus bukanlah hal yang terdengar asing lagi, begitu pula keberadaan pulau ini bagi masyarakat Turki. Secara geografis, Pulau Siprus terletak di selatan Turki dan timur Laut Mediterania, yang juga tak jauh dari lepas pantai Suriah bagian barat. Pulau kecil ini, sejak abad ke-16 telah menjadi bagian daripada Kesultanan Utsmani. Ia merupakan rumah bagi dua etnis; kaum Roman, yang asal-usulnya dari Kekaisaran Romawi Timur dan kaum Turki, yang berasal dari Kesultanan Utsmani. Saat ini, Pulau Siprus ditempati oleh 2 (dua) entitas politik yang berbeda, dan memiliki kedaulatan masing-masing.

Pulau Siprus terdiri dari dua sisi, pada sisi utara terdapat Republik Turki Siprus Utara (Turkish Republic of Northern Cyprus) yang hingga saat ini status kenegaraannya masih dalam perdebatan, ini dikarenakan tidak adanya pengakuan secara de jure dari negara manapun terkait status Siprus Utara sebagai sebuah negara merdeka. Satu-satunya negara yang mengakui Siprus Utara sebagai entitas politik berkedaulatan adalah Turki. Maka dari itu, Siprus Utara hingga saat ini hanya dikenal sebagai de facto sovereign state atau negara berdaulat secara de facto. Sedangkan pada sisi selatan pulau, terdapat Republik Siprus yang lebih dikenal oleh masyarakat

(2)

2

Turki sebagai Güney Kıbrıs Rum Yönetimi atau Administrasi Roman Siprus Selatan. Berbeda dengan status entitas Siprus Utara yang masih dalam perdebatan, Republik Siprus acap kali diakui sebagai satu-satunya entitas politik yang sah dan merepresentasikan Pulau Siprus secara menyeluruh di arena internasional, bahkan Republik Siprus juga merupakan salah satu anggota organisasi Uni Eropa semenjak aksesinya pada tahun 2004. Berbeda dengan Siprus Utara yang hanya diakui oleh negara Turki, Republik Siprus memiliki legitimasi yang lebih kuat sebagai suatu negara utuh yang bebas dan dapat menjadi aktif di kancah internasional.

Situasi Pulau Siprus yang terbagi menjadi dua wilayah administrasi politik di masa kini merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang. Proses transformasi yang dialami Pulau Siprus hingga mencapai keadaannya yang sekarang adalah suatu proses yang melibatkan konflik dan pergolakan antar dua komunitas, yang memakan korban jiwa tidak sedikit. Karena dalam prosesnya aktor yang berperan bukan hanya dua komunitas dari Pulau Siprus, aktor-aktor lain yang berperan dalam konflik dan proses pembentukan Republik Siprus dan Siprus Utara seperti di masa sekarang bukan lain adalah negara Turki dan Yunani yang berjuang meraih kepentingan mereka masing-masing. Maka dari itu, pengkajian permasalahan Pulau Siprus tidak akan terlepas dari analisa konflik antara Turki dan Yunani yang masih berlanjut hingga hari ini.

Pulau Siprus dianeksasi oleh Britania Raya dan diambil alih negara adidaya tersebut pada tahun 1878 melalui Konvensi Siprus, yang secara singkat merupakan perjanjian antara Britania Raya dan Kesultanan Utsmani perihal status Pulau Siprus yang secara administrasi provisional diberikan kepada Britania Raya, sebagai balasan atas bantuan militer yang mereka berikan kepada Kesultanan Utsmani saat memerangi Rusia pada tahun 1877. Britania Raya kala itu sedang berusaha membangun pangkalan angkatan laut di daerah Mediterania Timur, dan memutuskan bahwa Siprus adalah pilihan yang ideal. Maka dari itu, mulai dari tahun 1878, meski kedaulatan tanah Pulau Siprus masih di tangan Kesultanan Utsmani, dalam pratiknya Pulau Siprus ada dibawah kekuasaan Britania Raya, yang diizinkan menduduki pulau tersebut semenjak Konvensi Siprus difinalisasikan.

Kembali ke belankang beberapa abad, setelah ditaklukan oleh Kesultanan Utsmani pada tahun 1571 dan berada dibawah kuasanya, banyak dari populasi Turki Utsmani mulai menetap di Pulau Siprus dan menjadikan pulau ini sebagai rumah mereka, bersamaan dengan populasi etnik lain, dan yang paling menonjol adalah etnik Roman atau yang lebih dikenal sebagai Rum Millet dalam Bahasa Turki. Dengan begitulah Pulau Siprus menjadi rumah bagi dua etnik berbeda;

(3)

3

Turki dan Roman untuk beberapa abad. Namun pada tahun 1914, semasa Perang Dunia I Britania Raya menganeksasi Pulau Siprus secara sepihak, Pulau Siprus yang tadinya hanyalah protectorate kemudian menjadi wilayah milik Britania Raya. Melalui tindakan ini, Britania Raya mengambil penuh kuasa atas Pulau Siprus dari Kesultanan Utsmani. Pengambilan alih kekuasaan Pulau Siprus ini pun akhirnya diakui oleh Kesultanan Utsmani pada Perjanjian Lausanne tahun 1923, dengan keadaan Kesultanan yang sudah semakin lemah pasca perang, dan 2 tahun bersilang pada 1925 Siprus kemudian dinamai Crown Colony oleh Britania Raya.

Dibawah kepemimpinan Britania Raya hubungan antara masyarakat Roman dan Turki di Pulau Siprus mulai memburuk. Dua etnik yang mendiami Pulau Siprus ini memang sangatlah berbeda, etnik Roman merupakan populasi penganut Kristen Ortodoks peninggalan Kekaisaran Romawi Timur, yang setelah runtuhnya Kekaisaran ini diberikan tempat oleh Utsmani dalam wilayah yang sudah ditaklukan, walau dengan beberapa kebijakan yang patut mereka patuhi dikarenakan status mereka yang non-muslim, berbeda dengan etnik Turki yang muslim. Dengan hubungan yang semakin memburuk antara dua kelompok masyarakat, Greek Orthodox Church atau Gereja Ortodoks Yunani yang tentu saja dipimpin oleh populasi Roman di pulau memulai kampanye Enosis, yang bisa diartikan sebagai gerakan mendukung unifikasi Siprus dengan negara Yunani. Dan pada pertengahan tahun 1950 Yunani menyampaikan dukungannya terhadap gerakan ini. Kampanye Enosis pada tahun 1955 dipimpin oleh Uskup Agung Makarios dari Gereja Ortodoks Yunani dan melibatkan organisasi EOKA (National Organisation of Cypriot Fighters) yang dipimpin oleh George Grivas, seorang kolonel dari komunitas Roman Pulau Siprus. Dengan adanya keterlibatan organisasi EOKA yang disinyalir merupakan organisasi bersenjata, kampanye Enosis menjadi violent dan penuh kekerasan, banyak dari warga sipil dan polisi Britania Raya di pulau menjadi korban konflik, bahkan banyak dari komunitas Turki di Pulau Siprus terpaksa meninggalkan kampung tempat tinggal mereka yang telah didiami selama beberapa abad bersamaan dengan kaum Roman. Walau dengan konflik yang penuh kekerasan masyarakat Turki tetap pada pendirian mereka yang tidak menyetujui kampanye Enosis dan unifikasi pulau dengan negara Yunani, masyarakat Roman pun mengerti bahwa unifikasi tidak akan bisa dicapai dengan keadaan yang seperti itu. Hal ini kemudian mengantarkan pihak yang berseteru kepada Perjanjian London-Zurich, yang diselenggarakan pada tanggal 11 Februari 1959 di Zurich dan 19 Februari 1959 di London. Pihak yang berpartisipasi pada perjanjian ini tidak lain adalah masyarakat pulau siprus; Turki dan Roman, yang masing-masing diwakili oleh

(4)

4

Dr. Fazıl Küçük dari sisi Turki dan Uskup Agung Makarios dari sisi Roman beserta dengan Turki, Yunani dan Britania Raya selaku ‘pemilik’ pulau. Dengan adanya perjanjian-perjanjian ini, konstitusi bagi negara independen Siprus dirancang dan konstitusi yang dimaksud pun disahkan pada tanggal 16 Agustus 1960, Britania Raya lalu menyerahkan kedaulatan tanah Siprus yang kemudian resmi menjadi satu negara independen. Dengan penyerahan kedaulatan ini Turki dan Yunani pun dinamai sebagai Guarantor States atau negara penjamin. Dalam artikel ke empat Treaty of Guarantee tahun 1960 yang ditandatangani setelah Perjanjian London-Zurich, disebutkan bahwa apabila muncul suatu permasalahan yang bisa mengancam keamanan Siprus maka pihak yang menandatangani perjanjian ini diharuskan untuk berkonsultasi dengan sesama, dan apabila tidak ditemukan solusi, maka tiap pihak berhak untuk mengambil tindakan yang dikira dapat mengembalikan keadaan Siprus sesuai dengan yang tertera dalam perjanjian (state of affairs).

Dengan lahirnya Republik Siprus, Uskup Agung Makarios ditetapkan sebagai Presiden dan Dr. Fazıl Küçük sebagai Wakil Presiden. Sayangnya, konstitusi yang disahkan pada tahun 1960 tidak bertahan lama. Masyarakat Roman kerap kali menyuarakan ketidakpuasan mereka atas hukum-hukum yang ada di konstitusi 1960 dan meminta agar diadakannya perubahan pada konstitusi tersebut. Pada tahun 1963, Sebuah serangan bersenjata pun dilancarkan oleh pihak Roman yang kemudian menewaskan empat orang Turki. Penyerangan ini ditanggapi oleh negara Turki dengan mengirimkan Angkatan Bersenjata Turki (Turkish Armed Forces) untuk menekan konflik dan mengadakan gencatan senjata. Pasca konflik, komunitas Turki Pulau Siprus mulai mendirikan administrasi pemerintahan dan mengurus sendiri urusan pemerintahan mereka. Namun konflik yang melibatkan kekerasan terus berlanjut antara tahun 1963 sampai 1974, meski dengan keterlibatan peacekeeping forces yang dikirim PBB pada tahun 1964. Turki dan Yunani juga masing-masing mengirimkan pasukan militer mereka selama konflik berlangsung, memperburuk keadaan di Pulau Siprus. Salah satu konsekuensi rentetan konflik ini adalah hancurnya 103 desa di pulau dan sekitar 30.000 masyarakat Turki yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka demi menghindari konflik.

Pada tanggal 15 Juli 1974, sebuah kudeta untuk menjatuhkan Makarios dilaksanakan di Pulau Siprus dan seorang jurnalis yang juga adalah anggota organisasi EOKA bernama Nikos Sampson dipilih sebagai Presiden menggantikan Uskup Agung Makarios. Nikos merupakan seorang nasionalis yang mendukung gerakan Enosis. Turki tidak senang dengan perkembangan

(5)

5

yang terjadi di Pulau Siprus dan memutuskan untuk melakukan intervensi sesuai dengan hak yang diberikan kepada negara penjamin saat terjadinya situasi yang mengancam keamanan Pulau Siprus. Turki lalu melancarkan operasi militer untuk menginvasi Siprus pada tanggal 20 Juli 1974, yang dikenal dengan kode Operasi Atilla atau Kıbrıs Barış Harekatı tepat 5 hari setelah kudeta berlangsung. Turki melancarkan invasi ini demi menyelamatkan populasi komunitas Turki dari penyerangan dan eksekusi yang terjadi selama konflik serta untuk menghalangi aneksasi sepihak Siprus kepada Yunani. Masyarakat Roman tetap bersikeras atas kedaulatan mereka atas keseluruhan Pulau Siprus. Melihat hal ini, pada tahun 1983 masyarakat Turki pun membentuk entitas politik mereka sendiri dengan administrasi pemerintahan yang independen dan bebas, terlepas dari tuntunan mengenai kedaulatan Roman atas pulau. Entitas politik ini yang kemudian dikenal sebagai Republik Turki Siprus Utara (Turkish Republic of Northern Cyprus) yang hanya diakui oleh negara Turki.

Pada tanggal 24 April 2004 sebuah referendum dilaksanakan di Pulau Siprus sesuai dengan Annan Plan atau rencana yang dirancang Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan. Annan mengusulkan reunifikasi Siprus menjadi United Republic of Cyprus yang terdiri dari federasi dua entitas politik yang mendiami Pulau Siprus. Hasil yang cukup mengejutkan didapat dari referandum yang diselenggarakan, dengan 65% dari populasi Turki Pulau Siprus setuju dengan rencana reunifikasi Annan, sedangkan 76% dari populasi Roman menolak rencana ini. Semenjak gagalnya rencana Annan untuk mendirikan negara federal Siprus, sejauh ini belum ada rencana lanjut terkait negosiasi akan penyelesaian permasalahan dua etnis penghuni pulau tersebut.

Mulai dari tahun 2000an permasalahan Pulau Siprus menyita perhatian Turki lebih jauh karena bersangkutan langsung dengan status keanggotaan Turki untuk organisasi Uni Eropa. Republik Siprus (Siprus Selatan) yang dipimpin oleh kaum Roman berhasil masuk dan menjadi anggota Uni Eropa pada Mei 2004, hanya satu bulan setelah referendum dilaksanakan di Pulau Siprus. Walau dengan konflik panjang yang berlangsung di Pulau Siprus dan penolakan rencana reunifikasi oleh populasi Roman saat referendum, Siprus Selatan tetap diizinkan bergabung kedalam Uni Eropa, berbeda dengan Turki yang sudah mengantri untuk masuk organisasi tersebut sejak 1959. Status keanggotaan Turki masih belum memiliki titik terang bahkan hingga saat ini. Tidak cukup hanya dengan satu rivalnya—Yunani yang kerap menghalangi masuknya Turki ke Uni Eropa, permasalahan Pulau Siprus juga acap kali menjadi rintangan yang harus diselesaikan oleh Turki agar diterima ke organisasi terbesar di Eropa tersebut. Melihat hal ini,

(6)

6

akankah ada perkembangan selanjutnya dari status Republik Turki Siprus Utara yang sampai sekarang masih bergantung pada negara Turki di berbagai bidang, dan apakah akan ada lagi rencana untuk reunifikasi Siprus yang kesekian kalinya?

Daftar Pustaka

Balcı, Ali. 2017. Türkiye Dış Politikası: İlkeler, Aktörler ve Uygulamalar. İstanbul: ALFA Basım Yayım

Treaty Concerning The Establishment of The Republic of Cyprus, http://www.mfa.gov.tr/treaty-concerning-the-establishment-of-the-republic-of cyprus.en.mfa

Historical Background, Deputy Prime Ministry and Ministry of Foreign Affairs, Turkish

Republic of Northern Cyprus, https://mfa.gov.ct.tr/cyprus-negotiation-process/historical-background/

Sachs, Susan. Greek Cypriots Reject a U.N. Peace Plan,

https://www.nytimes.com/2004/04/25/world/greek-cypriots-reject-a-un-peace-plan.html TRT World, Why is Cyprus Divided? https://www.youtube.com/watch?v=BBchMBMZod8

Referensi

Dokumen terkait

Ahran flu1da seragam yang mempunya1 kecepatan yang sama dalam suatu kontrol 'olum. akan mengalam• pcrubahan kecepatan sebanding dengan panjang sena bentuk hntasan

Gula-gula yang terbentuk akan dihidrolisis menjadi alkohol, kemudian pada fermentasi lebih lanjut alkohol dioksidasi menjadi asam organik, sehingga tape akan berasa manis

Industri Mitra dalam hal ini Edon Sasando Elektrik merupakan industri rumah tangga yang beralamat Jalan Fetor Fonay Kompleks BTN Kolhua RT 001 RW 001 Kelurahan

Memilih metodologi penelitian, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif dan menentukan variabel

Untuk memudahkan pengguna dalam mengakses web telemedicine ini, maka kami sediakan berbagai fitur antara lain: konsultasi langsung secara daring dengan dokter, mendapatkan

(7) Dengan kata lain dapat dikatakan secara umum kota semarang sudah mencapai target dalam pelayanan Antenatal care, namun secara khusus pada wilayah kerja

Tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan ibu hamil menghadapi persalinan pada ibu yang patuh dan tidak patuh dalam melaksanakan antenatal care (ANC)di Puskesmas

Naiknya nilai HRR pada sistem seiring dengan bertambahnya panjang pipa kapiler disebabkan karena semakin panjang pipa kapiler memiliki mass flow rate yang