UCAPAN TERIMAKASIH
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya laporan tugas mata kuliah Perancangan Pabrik dengan judul rahmat dan karunia-Nya laporan tugas mata kuliah Perancangan Pabrik dengan judul “Pembu
“Pembuata ata VanilVanilin in SintetSintetik ik dari Eugenol” dapat dari Eugenol” dapat tersterselesaielesaikan kan dengan baik. dengan baik. AdapunAdapun tujuan umum dari pembuatan tugas ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah tujuan umum dari pembuatan tugas ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah yang bersangkutan. Sedangkan tujuan khusus dari pembuatan tugas ini adalah untuk yang bersangkutan. Sedangkan tujuan khusus dari pembuatan tugas ini adalah untuk mengetahui langkah-langkah perancangan pabrik vanilin sintetik dari eugenol, baik dari mengetahui langkah-langkah perancangan pabrik vanilin sintetik dari eugenol, baik dari se
segi gi babahahan n bakbaku, u, teteknoknolologi gi prprososeses, , peperaralalatatan, n, dadan n dedetatail il bibiayaya a yanyang g didibutbutuhuhkankan.. Termasuk di dalamnya menyusun analisis kelayakan ekonomi dari pabrik kami.
Termasuk di dalamnya menyusun analisis kelayakan ekonomi dari pabrik kami.
Pada kesempatan kali ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua Pada kesempatan kali ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
pihak yang telah banyak membantu banyak membantu dalam penyelesaian tugas dalam penyelesaian tugas Perancangan Pabrik Perancangan Pabrik kami,kami, diantaranya:
diantaranya:
1.
1. Prof. DjumalProf. Djumali M. i M. dan Dr. dan Dr. ErliErliza Noor za Noor selakselaku u pembipembimbing utama dan mbing utama dan dosendosen pengajar
pengajar mata mata kuliah kuliah Perancangan Perancangan Pabrik Pabrik yang yang telah telah memberikan memberikan segala segala ilmuilmu dan masukan dalam penyusunan tugas kami.
dan masukan dalam penyusunan tugas kami. 2.
2. Dr. Dwi SDr. Dwi Setyanietyaningsih sngsih selaku doselaku dosen nara sen nara sumber yaumber yang telang telah memberh memberikan segikan segalaala masukan dan saran.
masukan dan saran. 3.
3. PerpusPerpustakaan Detakaan Departepartemen TIN dan Pmen TIN dan Pusat Inusat Informaformasi Teknsi Teknologi Perologi Pertaniatanian, IPBn, IPB yang telah menyediakan berbagai sumber pustaka sebagai acuan kami dalam yang telah menyediakan berbagai sumber pustaka sebagai acuan kami dalam mengerjakan tugas.
mengerjakan tugas. 4.
4. KecaKecanggnggihaihan n tekteknolnologi inteogi internernet t yang memyang membuabuat t kamkami i menmengetgetahuahui i halhal-ha-hal l barbaruu terkait tugas perancangan pabrik ini.
terkait tugas perancangan pabrik ini. 5.
5. SeSellururuh uh tetemmanan-t-tememan an TTIN IN 44 44 atatas as kekebeberrsasammaaaan n dadan n kekececerriaiaan an dadallamam pengerjaan tugas perancangan pabrik ini.
pengerjaan tugas perancangan pabrik ini. 6.
6. SerSerta ta seselulururuh h pipihahak k lalain in yayang ng titidadak k dadapapat t didisesebubut t sasatu per tu per sasatu atas segtu atas segalalaa bantuan dan dukungannya dalam pen
bantuan dan dukungannya dalam pengerjaan tugas perancangan pabrik ini.gerjaan tugas perancangan pabrik ini. Kami menyadari betul atas segala kekurangan dalam pembuatan laporan tugas Kami menyadari betul atas segala kekurangan dalam pembuatan laporan tugas Pe
Perarancncanangan gan PabPabririk k inini, i, sesehihinggngga a kakami mi memembmbukuka a pipintntu u sasararan n dadan n krkrititik ik yanyangg mem
membangbangun un agaagar r dapdapat at menmenyemyempurpurnaknakan an laplaporaoran n PerPerancancangaangan n PabrPabrik ik iniini. . SemSemogaoga laporan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.
laporan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.
Bogor, Januari 2011 Bogor, Januari 2011
Penulis Penulis
RINGKASAN
RINGKASAN
Ada tiga alternatif proses sumber bahan baku untuk pembuatan vanilin sintetik yaitu Ada tiga alternatif proses sumber bahan baku untuk pembuatan vanilin sintetik yaitu dari lignin, koniferin dan cengkeh. Proses dari lignin melalui tahapan isolasi lignin dari dari lignin, koniferin dan cengkeh. Proses dari lignin melalui tahapan isolasi lignin dari bla
black ck liliquor quor limblimbah ah industindustriri pulp pulp dandan paper paper , , kemkemudiudian an diodioksiksidasdasi, i, dan dan difdifiltiltrasrasii menggunakan membran, setelah itu dilakukan proses
menggunakan membran, setelah itu dilakukan proses ion ion exchanexchangege yang menghasilkanyang menghasilkan vanilin kasar yang masih mengandung pereaksi dari sisa proses pembuatan pulp dan vanilin kasar yang masih mengandung pereaksi dari sisa proses pembuatan pulp dan paper. P
paper. Proses ini roses ini tidak dtidak dipilih karena ipilih karena lignin dari lignin dari limbah industri limbah industri pulp telah pulp telah dibatasi olehdibatasi oleh negara maju, menggunakan banyak sekali macam reagen beracun, sehingga separasi negara maju, menggunakan banyak sekali macam reagen beracun, sehingga separasi produk
produk akhir akhir menjadi menjadi sulit, sulit, dan dan menggunakan menggunakan energi energi tinggi tinggi dan dan tekanan tekanan tinggi tinggi 10 10 bar bar yang berpotensi dapat mendekomposisi produk.
yang berpotensi dapat mendekomposisi produk. Alt
Alternernatiatif f sumsumber ber bahbahan an bakbaku u yanyang g ke ke dua dua adaadalah lah dardari i konikoniferferin, in, yanyang g tahtahapaapann prosesnya
prosesnya meliputi meliputi penyadapan penyadapan getah getah tanaman, tanaman, kemudian kemudian ekstraksi ekstraksi koniferin, koniferin, dandan dio
dioksiksidasdasi i dendengan gan asaasam m krokromat mat menmenjadjadi i gluglukovakovanilnilin, in, setsetelaelah h itu itu diadiasamsamkan kan dandan menghasilkan glukosa dan vanilin. Proses sintetis vanilin dari koniferin ini tidak dipilih menghasilkan glukosa dan vanilin. Proses sintetis vanilin dari koniferin ini tidak dipilih karena keterbatasan dalam bahan baku dari tanaman yang memiliki koniferin, yang karena keterbatasan dalam bahan baku dari tanaman yang memiliki koniferin, yang nantinya dapat berimbas pada tingginya harga produk dari vanilin sintetik. Alternatif ke nantinya dapat berimbas pada tingginya harga produk dari vanilin sintetik. Alternatif ke tiga yaitu sintetis vanilin dari cengkeh, yang memiliki tiga alternatif bahan baku awal tiga yaitu sintetis vanilin dari cengkeh, yang memiliki tiga alternatif bahan baku awal yaitu dari daun cengkeh, minyak cengkeh, atau eugenol. Bahan baku dari cengkeh untuk yaitu dari daun cengkeh, minyak cengkeh, atau eugenol. Bahan baku dari cengkeh untuk vanilin sintetik ini dipilih karena supplai bahan baku tersedia.
vanilin sintetik ini dipilih karena supplai bahan baku tersedia. Alte
Alternatirnatif f pertapertama ma untuk bahan untuk bahan baku awal baku awal prosproses es sintesintetis vanilin dari tis vanilin dari cengkeh yaitucengkeh yaitu dau
daun n cengcengkeh. keh. ProProsessesnya nya melmelewaewati ti tahtahapan apan proproses ses eksekstratraksiksi, , isoisolaslasi, i, oksoksidaidasi, si, dandan ekstraksi vanilin yang mengakibatkan biayanya paling tinggi jika dibandingkan dengan ekstraksi vanilin yang mengakibatkan biayanya paling tinggi jika dibandingkan dengan alter
alternatif lain. Alternanatif lain. Alternatif yang tif yang ke dua ke dua yaitu bahan baku yaitu bahan baku awal dari minyak cengkeh yangawal dari minyak cengkeh yang tahapannya melewati proses isolasi, isomerisasi, oksidasi dan ekatraksi, yang biayanya tahapannya melewati proses isolasi, isomerisasi, oksidasi dan ekatraksi, yang biayanya masih tinggi. Alternatif yang ke tiga yaitu bahan baku awal dari eugenol yang tahapan masih tinggi. Alternatif yang ke tiga yaitu bahan baku awal dari eugenol yang tahapan prosesnya yaitu
prosesnya yaitu isomerisasi, oksidasi dan isomerisasi, oksidasi dan ekstraksi vanilin ekstraksi vanilin yang biayanya yang biayanya paling murah.paling murah. Dengan demi
Dengan demikian, kian, bahan baku awal yang digunabahan baku awal yang digunakan adalah eugenokan adalah eugenol, karena biayal, karena biayanyanya paling
paling murah murah jika jika dibandingkan dibandingkan dari dari mengolah mengolah daun daun cengkeh cengkeh atau atau minyak minyak cengkehcengkeh menjadi vanilin.
menjadi vanilin. Tah
Tahapaapan n perperancancangaangan n selselanjanjutnutnya ya adaadalah lah penpenententuan uan bahbahan an perpereakseaksi i dan dan sumsumber ber energi dari alternatif-alternatif yang ada yaitu alternatif katalis dan energi. Katalis dalam energi dari alternatif-alternatif yang ada yaitu alternatif katalis dan energi. Katalis dalam is
isomomererisisasasi i didigugunanakakan n KOKOH, H, kakarerena na hahargrgananya ya lelebibih h mumurarah h dadariripapada da kakatataliliss RhCl3.
RhCl3.3(H2O)3(H2O). Adapun sumber energi . Adapun sumber energi yang dipiliyang dipilih adalah gelombang mikrh adalah gelombang mikro, karenao, karena jika mengguna
jika menggunakankan steam steam akan membutuhkakan membutuhkan an waktu yang sangat lama waktu yang sangat lama ( dalam ( dalam hitunghitunganan jam),
jam), sedangkan sedangkan menggunakanmenggunakan microwavemicrowave, , proprosessesnya nya akan akan selselesaesai i daldalam am hithitungaungann menit
menit. . Jadi pada Jadi pada tahaptahapan an isomeisomerisarisasi digunakan katalis KOH, si digunakan katalis KOH, dan sumber dan sumber energi untuk energi untuk proses isomerisasi dan oksidasinya adalah dengan menggunakan
proses isomerisasi dan oksidasinya adalah dengan menggunakan microwavemicrowave.. Secara umum
Secara umum tahapatahapan n proses sintetproses sintetis is bivanibivanilin lin dari eugenol dari eugenol melimeliputi puti isomeisomerisasrisasii eug
eugenol enol dan dan reareaksi ksi dengdengan an kalkalium ium hidhidrokroksidsida a menmenjadjadi i K-iK-isoesoeugeugenolnolat, at, kemkemudiudianan dioksidasi dengan nitrobenzen yang terlarut dalam dimetil sulfo oksida menjadi dioksidasi dengan nitrobenzen yang terlarut dalam dimetil sulfo oksida menjadi K-vanilat, setelah itu, pengasaman dengan asam klorida mengsalikan vanilin dan garam vanilat, setelah itu, pengasaman dengan asam klorida mengsalikan vanilin dan garam
RINGKASAN
RINGKASAN
Ada tiga alternatif proses sumber bahan baku untuk pembuatan vanilin sintetik yaitu Ada tiga alternatif proses sumber bahan baku untuk pembuatan vanilin sintetik yaitu dari lignin, koniferin dan cengkeh. Proses dari lignin melalui tahapan isolasi lignin dari dari lignin, koniferin dan cengkeh. Proses dari lignin melalui tahapan isolasi lignin dari bla
black ck liliquor quor limblimbah ah industindustriri pulp pulp dandan paper paper , , kemkemudiudian an diodioksiksidasdasi, i, dan dan difdifiltiltrasrasii menggunakan membran, setelah itu dilakukan proses
menggunakan membran, setelah itu dilakukan proses ion ion exchanexchangege yang menghasilkanyang menghasilkan vanilin kasar yang masih mengandung pereaksi dari sisa proses pembuatan pulp dan vanilin kasar yang masih mengandung pereaksi dari sisa proses pembuatan pulp dan paper. P
paper. Proses ini roses ini tidak dtidak dipilih karena ipilih karena lignin dari lignin dari limbah industri limbah industri pulp telah pulp telah dibatasi olehdibatasi oleh negara maju, menggunakan banyak sekali macam reagen beracun, sehingga separasi negara maju, menggunakan banyak sekali macam reagen beracun, sehingga separasi produk
produk akhir akhir menjadi menjadi sulit, sulit, dan dan menggunakan menggunakan energi energi tinggi tinggi dan dan tekanan tekanan tinggi tinggi 10 10 bar bar yang berpotensi dapat mendekomposisi produk.
yang berpotensi dapat mendekomposisi produk. Alt
Alternernatiatif f sumsumber ber bahbahan an bakbaku u yanyang g ke ke dua dua adaadalah lah dardari i konikoniferferin, in, yanyang g tahtahapaapann prosesnya
prosesnya meliputi meliputi penyadapan penyadapan getah getah tanaman, tanaman, kemudian kemudian ekstraksi ekstraksi koniferin, koniferin, dandan dio
dioksiksidasdasi i dendengan gan asaasam m krokromat mat menmenjadjadi i gluglukovakovanilnilin, in, setsetelaelah h itu itu diadiasamsamkan kan dandan menghasilkan glukosa dan vanilin. Proses sintetis vanilin dari koniferin ini tidak dipilih menghasilkan glukosa dan vanilin. Proses sintetis vanilin dari koniferin ini tidak dipilih karena keterbatasan dalam bahan baku dari tanaman yang memiliki koniferin, yang karena keterbatasan dalam bahan baku dari tanaman yang memiliki koniferin, yang nantinya dapat berimbas pada tingginya harga produk dari vanilin sintetik. Alternatif ke nantinya dapat berimbas pada tingginya harga produk dari vanilin sintetik. Alternatif ke tiga yaitu sintetis vanilin dari cengkeh, yang memiliki tiga alternatif bahan baku awal tiga yaitu sintetis vanilin dari cengkeh, yang memiliki tiga alternatif bahan baku awal yaitu dari daun cengkeh, minyak cengkeh, atau eugenol. Bahan baku dari cengkeh untuk yaitu dari daun cengkeh, minyak cengkeh, atau eugenol. Bahan baku dari cengkeh untuk vanilin sintetik ini dipilih karena supplai bahan baku tersedia.
vanilin sintetik ini dipilih karena supplai bahan baku tersedia. Alte
Alternatirnatif f pertapertama ma untuk bahan untuk bahan baku awal baku awal prosproses es sintesintetis vanilin dari tis vanilin dari cengkeh yaitucengkeh yaitu dau
daun n cengcengkeh. keh. ProProsessesnya nya melmelewaewati ti tahtahapan apan proproses ses eksekstratraksiksi, , isoisolaslasi, i, oksoksidaidasi, si, dandan ekstraksi vanilin yang mengakibatkan biayanya paling tinggi jika dibandingkan dengan ekstraksi vanilin yang mengakibatkan biayanya paling tinggi jika dibandingkan dengan alter
alternatif lain. Alternanatif lain. Alternatif yang tif yang ke dua ke dua yaitu bahan baku yaitu bahan baku awal dari minyak cengkeh yangawal dari minyak cengkeh yang tahapannya melewati proses isolasi, isomerisasi, oksidasi dan ekatraksi, yang biayanya tahapannya melewati proses isolasi, isomerisasi, oksidasi dan ekatraksi, yang biayanya masih tinggi. Alternatif yang ke tiga yaitu bahan baku awal dari eugenol yang tahapan masih tinggi. Alternatif yang ke tiga yaitu bahan baku awal dari eugenol yang tahapan prosesnya yaitu
prosesnya yaitu isomerisasi, oksidasi dan isomerisasi, oksidasi dan ekstraksi vanilin ekstraksi vanilin yang biayanya yang biayanya paling murah.paling murah. Dengan demi
Dengan demikian, kian, bahan baku awal yang digunabahan baku awal yang digunakan adalah eugenokan adalah eugenol, karena biayal, karena biayanyanya paling
paling murah murah jika jika dibandingkan dibandingkan dari dari mengolah mengolah daun daun cengkeh cengkeh atau atau minyak minyak cengkehcengkeh menjadi vanilin.
menjadi vanilin. Tah
Tahapaapan n perperancancangaangan n selselanjanjutnutnya ya adaadalah lah penpenententuan uan bahbahan an perpereakseaksi i dan dan sumsumber ber energi dari alternatif-alternatif yang ada yaitu alternatif katalis dan energi. Katalis dalam energi dari alternatif-alternatif yang ada yaitu alternatif katalis dan energi. Katalis dalam is
isomomererisisasasi i didigugunanakakan n KOKOH, H, kakarerena na hahargrgananya ya lelebibih h mumurarah h dadariripapada da kakatataliliss RhCl3.
RhCl3.3(H2O)3(H2O). Adapun sumber energi . Adapun sumber energi yang dipiliyang dipilih adalah gelombang mikrh adalah gelombang mikro, karenao, karena jika mengguna
jika menggunakankan steam steam akan membutuhkakan membutuhkan an waktu yang sangat lama waktu yang sangat lama ( dalam ( dalam hitunghitunganan jam),
jam), sedangkan sedangkan menggunakanmenggunakan microwavemicrowave, , proprosessesnya nya akan akan selselesaesai i daldalam am hithitungaungann menit
menit. . Jadi pada Jadi pada tahaptahapan an isomeisomerisarisasi digunakan katalis KOH, si digunakan katalis KOH, dan sumber dan sumber energi untuk energi untuk proses isomerisasi dan oksidasinya adalah dengan menggunakan
proses isomerisasi dan oksidasinya adalah dengan menggunakan microwavemicrowave.. Secara umum
Secara umum tahapatahapan n proses sintetproses sintetis is bivanibivanilin lin dari eugenol dari eugenol melimeliputi puti isomeisomerisasrisasii eug
eugenol enol dan dan reareaksi ksi dengdengan an kalkalium ium hidhidrokroksidsida a menmenjadjadi i K-iK-isoesoeugeugenolnolat, at, kemkemudiudianan dioksidasi dengan nitrobenzen yang terlarut dalam dimetil sulfo oksida menjadi dioksidasi dengan nitrobenzen yang terlarut dalam dimetil sulfo oksida menjadi K-vanilat, setelah itu, pengasaman dengan asam klorida mengsalikan vanilin dan garam vanilat, setelah itu, pengasaman dengan asam klorida mengsalikan vanilin dan garam
kalium klorida. Vanilin tersebut diekstraksi dengan dietil eter dan dimurnikan dengan kalium klorida. Vanilin tersebut diekstraksi dengan dietil eter dan dimurnikan dengan teknik separasi destilasi, sehingga didapatkan vanilin murni yang rendemennya 7%. teknik separasi destilasi, sehingga didapatkan vanilin murni yang rendemennya 7%.
Mesin
Mesin utama yang digunautama yang digunakan untuk proses diakan untuk proses diatas adalah mictas adalah microwave untuk sumrowave untuk sumber ber energi dan destilator untuk separasi dalam proses pemurnian. Penentuan skala besar dari energi dan destilator untuk separasi dalam proses pemurnian. Penentuan skala besar dari daya untuk alat tersebut digunakan teknik
daya untuk alat tersebut digunakan teknik scale scale upup dengan dengan menggumenggunakan nakan perhiperhitungantungan bilangan
bilangan nirmatra. nirmatra. Setelah Setelah dilakukan dilakukan perhitunganperhitungan scale scale upup padpada a alaalatt microwavemicrowave,, didapatkan hasil bahwa dengan meningkatkan diameter microwave menjadi 2 kalinya didapatkan hasil bahwa dengan meningkatkan diameter microwave menjadi 2 kalinya maka kebutuhan daya akan meninkat menjadi 8 kali dari sebelumnya yaitu menjadi maka kebutuhan daya akan meninkat menjadi 8 kali dari sebelumnya yaitu menjadi sebesar 6,4 kW.
sebesar 6,4 kW. Peranc
Perancangan ini angan ini juga menganalisjuga menganalisis is aspek ekonomi dengan aspek ekonomi dengan penghipenghitungan proyeksitungan proyeksi arus kas dan
arus kas dan asumsasumsi kapasitas produksi kapasitas produksi dalam i dalam satu tahun yaitu 12600 kg. satu tahun yaitu 12600 kg. Hasil analiHasil analisissis finansial didapatkan dari modal untuk investasi sebesar Rp. 50.921.633.648,00 dan biaya finansial didapatkan dari modal untuk investasi sebesar Rp. 50.921.633.648,00 dan biaya produksi
produksi total total sebesar sebesar Rp. Rp. 50.551.306.324,00. 50.551.306.324,00. Vanilin Vanilin dijual dijual dengan dengan harga harga Rp.Rp. 4.700.0
4.700.000,00/00,00/kg kg sehinsehingga gga peneripenerimaan dalam maan dalam waktu setahun sebesar Rp. waktu setahun sebesar Rp. 59.220.059.220.000,0000,00 dan keuntungan kotor yang diperoleh Rp. 8.668.693.676,00/tahun.
dan keuntungan kotor yang diperoleh Rp. 8.668.693.676,00/tahun. Hasil analis
Hasil analisis kelayakan ekonomi meliputi Gross B/C is kelayakan ekonomi meliputi Gross B/C ratiratio o 1,0168, Net B/C 1,0168, Net B/C ratiratioo 1,1275, NPV
1,1275, NPV sebesasebesar r Rp. 6.492.256.280,Rp. 6.492.256.280,12 12 dandan pay pay back back periodeperiode adalah selama 14,4adalah selama 14,4 bulan
bulan (1 (1 tahun tahun 2,4 2,4 bulan). bulan). Dari Dari semua semua kriteria kriteria kelayakan kelayakan tersebut tersebut menunjukan menunjukan bahwabahwa secara finansial produksi vanilin sintetik dari eugenol cengkeh ini layak.
secara finansial produksi vanilin sintetik dari eugenol cengkeh ini layak.
Dengan demikian perancangan pabrik untuk produksi vanilin sintetik dari eugenol Dengan demikian perancangan pabrik untuk produksi vanilin sintetik dari eugenol dapat dilakukan, karena penilaian secara teknis dapat direalisasikan, dan secara finansial dapat dilakukan, karena penilaian secara teknis dapat direalisasikan, dan secara finansial layak diterapkan. Kelayakan tersebut merupakan proyeksi yang dapat berubah jika harga layak diterapkan. Kelayakan tersebut merupakan proyeksi yang dapat berubah jika harga baha
baha baku baku atau atau harga harga produk produk berfluktuasi, berfluktuasi, sehingga sehingga direkomendasikan direkomendasikan untuk untuk terusterus mel
melakuakukan kan inoinovasvasi i proproses ses untuntuk uk menmenekaekan n biabiaya ya proprodukduksi si dan dan tettetap ap menmengutgutamaamakankan kualitas dari vanilin sintetik yang dihasilkan.
II.. PE
PEN
NDA
DAHU
HUL
LUA
UAN
N
A.
A. DEDESKSKRIRIPSPSI I PRPRODODUK UK YAYANG NG AKAKAN AN DIDIPRPRODODUKUKSISI, , KEKEGGUNUNAAAANN P
PRROODDUUKK, , PPRROOSSPPEEK K PPEERRDDAAGGAANNGGAAN N DDAALLAAM M NNEEGGEERRI I DDAANN INTERNASIONAL
INTERNASIONAL
Vanillin adalah senyawa glikosida yang diperoleh dari buah vanila (vanillin alami) Vanillin adalah senyawa glikosida yang diperoleh dari buah vanila (vanillin alami) ata
atau u dibdibuat uat secsecara ara sinsintettetis is dardari i sumsumber ber lailainnya nnya (va(vanilnillin lin sinsintettetik) ik) dan dan mermerupaupakankan komponen aroma utama yaitu sebesar 85% dari total senyawa volatil. Selain itu, vanillin komponen aroma utama yaitu sebesar 85% dari total senyawa volatil. Selain itu, vanillin juga
juga merupakan merupakan senyawa senyawa yang yang dapat dapat diturunkan diturunkan dari dari eugenol. eugenol. Eugenol Eugenol merupakanmerupakan komponen utama yang terdapat pada minyak cengkeh. Secara komersial pun produk komponen utama yang terdapat pada minyak cengkeh. Secara komersial pun produk vanillin dibedakan menjadi dua
vanillin dibedakan menjadi dua jenis yaitu, vanillin alami dan vanillin sintetik.jenis yaitu, vanillin alami dan vanillin sintetik.
Pada umumnya kegunaan dari vanillin sintetik dan vanillin alami tidak berbeda yaitu, Pada umumnya kegunaan dari vanillin sintetik dan vanillin alami tidak berbeda yaitu, berfungsi
berfungsi sebagai sebagai bahan bahan serbaguna serbaguna yang yang banyak banyak digunakan digunakan sebagai sebagai flavor flavor (82%) (82%) oleholeh indust
industri makanan ri makanan dan minuman (es dan minuman (es krim, cokelatkrim, cokelat, , gula-ggula-gula, permen, pudding, kue ula, permen, pudding, kue dandan soft drink), produk farmasi (13%) dan
soft drink), produk farmasi (13%) dan produk wewangiproduk wewangian an (5%) (Tidco, 2005). Vanilin(5%) (Tidco, 2005). Vanilin dapat dipakai sebagai bahan baku
dapat dipakai sebagai bahan baku pembuapembuatan obat, tan obat, antarantara a lainlain L-dopa L-dopa yaitu suatu asamyaitu suatu asam amino untuk pengobatan penyakit Parkinson, keracunan mangan dan
amino untuk pengobatan penyakit Parkinson, keracunan mangan dan distonia muskularidistonia muskulari juga
juga dipakai dipakai untuk untuk sintesissintesis trimethapriimtrimethapriim, , ssuuaattuu chemoterapeutikumchemoterapeutikum untuk untuk penanggulangan
penanggulangan infeksi infeksi saluran saluran kencing kencing dan dan saluran saluran pernafasan pernafasan (Sastrohamidjojo,(Sastrohamidjojo, 2002).
2002).
Mahalnya biaya produksi dan harga produk vanilin alami menyebabkan Mahalnya biaya produksi dan harga produk vanilin alami menyebabkan industri-industri pengguna vanilin (makanan dan minuman, farmasi dan parfum) di Indonesia industri pengguna vanilin (makanan dan minuman, farmasi dan parfum) di Indonesia lebih memilih menggunakan vanilin sintetik yang diimpor dari Negara lain. Produksi lebih memilih menggunakan vanilin sintetik yang diimpor dari Negara lain. Produksi van
vanillillin in sinsintettetik ik dunidunia a dipdiperkerkirirakan akan sebsebesaesar r 3003000 0 ton ton per per tahtahun, un, sedsedangkangkan an tottotalal permintaan pasar global vanillin sintetik mencapi 3500 ton.
permintaan pasar global vanillin sintetik mencapi 3500 ton.
Seiring dengan berkembangnya industri makanan, minuman dan farmasi diperkirakan Seiring dengan berkembangnya industri makanan, minuman dan farmasi diperkirakan kebutuhan vanillin sintetik dunia akan terus meningkat dengan laju 8-9% per tahun kebutuhan vanillin sintetik dunia akan terus meningkat dengan laju 8-9% per tahun de
dengangan n papangngsa sa papasasar r USUSA A 2727%, %, ErEropa opa 45%45%, , AsAsia ia 21%21%, , dan dan lalaininnynya a 7%7%. . UnUntutuk k men
mengheghemat mat devdevisa isa dan dan menmengurgurangangi i ketketergergantantungaungan n terterhadahadap p impimpor or vanivanilinlin, , makmakaa diperlukan usaha produksi vanilin di dalam negeri dengan teknologi proses yang efisien diperlukan usaha produksi vanilin di dalam negeri dengan teknologi proses yang efisien dan kualitas produk yang tinggi.
dan kualitas produk yang tinggi.
B.
B. BAHBAHAN AN BAKBAKU U YANYANG G DIPDIPILIHILIH, , PROPROSES SES YANYANG G TERTERLIBLIBAT, AT, HASHASILIL SAMPING, BAHAN TAMBAHAN DAN ATAU BAHAN PENOLONG
SAMPING, BAHAN TAMBAHAN DAN ATAU BAHAN PENOLONG
Van
Vanillillin in sinsintettetik ik dapdapat at dihdihasiasilkalkan n dardari i bebbeberaerapa pa carcara a ataatau u metmetode ode yaiyaitu, tu, sinsintettetisis vanillin dari lignin, sintetis vanillin dari coniferin, dan sintetis vanillin dari eugenol yang vanillin dari lignin, sintetis vanillin dari coniferin, dan sintetis vanillin dari eugenol yang berasal
sintetik adalah sintetis vanillin dari eugenol. Hal ini dikarenakan, proses produksinya menggunakan bahan dasar eugenol yang didapatkan dari minyak cengkeh dan ketersediaannya melimpah di Indonesia.
Eugenol sebenarnya terdapat pada beberapa jenis tanaman tetapi yang menghasilkan rendemen paling besar adalah tanaman cengkeh. Menurut Sastrohamidjojo (2002), minyak cengkeh mengandung eugenol sebanyak 70-90%. Dalam tanaman cengkeh sendiri, Ketaren (1985) menyebutkan bahwa kandungan eugenol paling banyak terdapat pada bagian tangkai bunga, yaitu sebesar 90-95%. Sementara kandungan eugenol pada
daun cengkeh sebesar 79-90% dan pada kuncup bunga 85-95%.
Namun demikian, terdapat beberapa alternatif jenis bahan baku dan proses yang terlibat dalam memproduksi vanillin sintetik, untuk rinciannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Alternatif bahan baku dan proses yang terlibat
Berdasarkan uraian proses produksi yang dijelaskan pada tabel di atas, bahan baku yang dipilih untuk pembuatan vanillin sintetik adalah eugenol karena proses yang terlibat relatif lebih sedikit dibandingkan dengan yang lain. Dengan asumsi bahwa semakin sedikit proses yang terlibat maka biaya produksi yang dibutuhkan dan limbah yang dihasilkan akan semakin kecil dan sebaliknya. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui proses-proses yang terlibat pada pembuatan vanillin sintetik dari eugenol yaitu, proses isomerisasi, proses oksidasi dan proses ekstraksi.
Adapun alternatif lain yang dapat dijadikan sebagai dasar pemilihan bahan baku pembuatan produk vanilin sintetik yaitu dapat disajikan pada tabel di bawah ini.
Pilihan Bahan Baku
Proses Produk
Akhir Ekstraksi Isolasi Isomerisasi Oksidasi Ekstraksi
Daun Cengkeh
√
√
√
√
√
Minyak Cengkeh√
√
√
√
Vanilin Sintetik Eugenol√
√
√
Tabel 2. Mekanisme pemilihan alternatif proses Bahan Baku Proses yang terlibat Rende men (%) Estimasi total biaya (Rp) Nilai tambah (Rp) Produk Daun cengkeh Penyulingan, isolasi, isomerisasi, oksidasi, ekstraksi. 0.05 825,907,31 1 1,595,000 Vanilin sintetik Minyak cengkeh Isolasi, isomerisasi, oksidasi, ekstraksi. 2.59 730,907,31 1 6,173,000 Eugenol Isomerisasi, oksidasi, ekstraksi 7 431,619,81 1 25,400,000 Glukosa dan Asam ferulat Fermentasi 0.045 - - Bio vanillin
Dari tabel diketahui bahwa rendemen paling tinggi dihasilkan dari bahan baku eugenol. Kemudian, bahan baku yang memiliki estimasi total biaya paling rendah adalah eugenol. Lalu, bahan baku yang memiliki nilai tambah paling besar dimiliki oleh bahan baku eugenol. Berdasarkan hal-hal tersebut, bahan baku yang paling cocok digunakan
untuk pembuatan vanilin sintetik adalah eugenol.
Adapun bahan tambahan yang digunakan pada proses produksi vanilin sintetik, yaitu pada proses isomerisasi dibutuhkan KOH dan pada proses oksidasi dibutuhkan oksidator
nitrobenzene, pelarut dimetil sulfoksida (DMSO), dan HCl serta pada proses ekstraksi dibutuhkan pelarut dietil eter.
Masing-masing proses akan menghasilkan hasil samping yaitu, pada proses isomerisasi akan menghasilkan air dan sisa eugenol yang tidak bereaksi. Lalu, pada proses oksidasi akan menghasilkan hasil samping antara lain, asetaldehid, azobenzene, nitrobenzene, DMSO dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi, garam, dan air. Kemudian, hasil samping yang dihasilkan dari proses ekstraksi adalah residu (nitrobenzene, DMSO, garam, asam vanilat) dan dietil eter. Di bawah ini adalah tabel rincian dari hasil samping setiap proses produksi.
Tabel 3. Hasil samping dari setiap proses produksi
Proses produksi Hasil samping
Isomerisasi air dan sisa eugenol yang tidak bereaksi
Oksidasi asetaldehid, azobenzene, nitrobenzene, DMSO dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi, garam, dan air Ekstraksi residu (nitrobenzene, DMSO, garam, asam vanilat)
C. PROSES PRODUKSI DENGAN PEMANASAN GELOMBANG MIKRO Proses yang dipilih untuk pembuatan produk vanilin sintetik dengan bahan baku eugenol ini terdiri atas tiga tahapan proses, yaitu proses isomerisasi, proses oksidasi dan proses ekstraksi. Pembuatan vanilin sintetik ini menggunakan pemanasan gelombang
mikro, yaitu pada proses isomerisasi dan proses oksidasi.
Pemakaian gelombang mikro untuk aktivasi reaksi telah diketahui dapat mempercepat laju reaksi dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan pemanasan konvensional. Sehingga efisiensi yang didapatkan dengan pemakaian gelombang mikro untuk proses pemanasan akan diperoleh lebih tinggi.
D. PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI
Kapasitas produksi vanilin sintetik ditentukan berdasarkan perhitungan di bawah ini: Permintaan terhadap vanilin sintetik = 3500 ton/tahun
Permintaan vanilin untuk farmasi = 13% x 3500 ton = 455 ton/tahun
Market share = 2,77%
= 2,77% x 455 ton/tahun = 12,6 ton/tahun
= 1,05 ton/bulan = 1050 kg/bulan Dalam 1 bulan total produksi sebanyak = 15 batch
Sehingga, produk yang dihasilkan = 1050 kg/ 15 batch = 70 kg/ batch
Untuk menghasilkan produk sebanyak 70 kg produk digunakan bahan baku (eugenol) sebanyak 1020 kg. Rincian perhitungan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. Derajat konversi pada setiap tahapan proses produksi
Tahap proses Tahapan
konversi Derajat konversi atau rendemen Jumlah yang dihasilkan untuk satu batch Proses ke 3 (Ekstraksi) vanilin kasar menjadi vanilin murni 12,4 % 70 kg vanilin murni dari 562.5 kg vanilin kasar Proses ke 2 (Oksidasi) k-isoeugenolat menjadi vanilin kasar 56.25% 562.5 kg vanilin kasar dari 1000 kg k-isoeugenolat Proses ke 1 (Isomerisasi) eugenol menjadi k-isoeugenolat 98.04% 1000 kg k-isoeugenolat dari 1020 kg euegnol Sehingga untuk mendapatkan 70 kg produk vanilin, dibutuhkan 1020 kg eugenol sebagai bahan baku. Dengan kata lain rendemen vanilin murni yaitu :
Basis 70 kg vanilin sintetik :
•
vanilin sintetik = 12,4 % dari vanilin kasar 70 kg = 562.5 kg vanilin kasar12,4%
•
562.5 kg = 1000 kg k-isoeugenolat 56,25 %•
1000 kg = 1020 kg eugenol yang dibutuhkan 98.04%Jadi rendemen vanilin sintetik dari eugenol sebesar : 70 kg x 100 % = 7 %
1020 kg
E. TOKSISITAS BAHAN KIMIA YANG DIGUNAKALN DAN KEAMANAN
Banyak pelarut dan pereaksi yang digunakan dalam pembuatan vanilin sintetik ini, antara lain KOH, nitrobenzene, DMSO, dan HCl. Pereaksi dan pelarut ini mudah menguap, oleh karena itu, mereka dengan sengaja dilepaskan ke atmosfer setelah penggunaan. Di bawah ini adalah rincian mengenai toksisitas dari masing-masing pelarut yang digunakan pada pembuatan vanilin sintetik.
a. KOH
Beberapa senyawa alkohol juga memiliki sifat-sifat toksik, salah satunya adalah KOH. Gugus alkohol menyebabkan senyawa ini bersifat iritasi yang lebih besar dan narkose atau sebagai pembius, tetapi sifat-sifat ini tidak terdapat pada alkohol dengan molekul lebih besar. Disisi lain, alkohol dengan molekul besar larut dalam lemak.
Sebagai akibatnya, mereka tinggal lebih lama di dalam tubuh, dan merusak organ-organ bagian dalam (to damage internal organs). Karena derajat penguapannya relatif rendah,
maka masalah serius terhadap inhalasi uap KOH tidak umum terjadi.
b. DMSO
Dimetilsulfoksida adalah suatu solven yang juga sering digunakan. Ia bersifat polar, oleh karena itu ditemukan dalam penggunaan yang khusus. DMSO masuk ke kulit (penetrasi) secara efektif, tetapi memiliki sifat toksik yang rendah. Namun, ia membawa bahan-bahan kimia yang bercampur dengannya melewati kulit dan dapat menyebabkan
konsekuensi yang serius bila ia bercampur dengan suatu toksikan yang kuat. DMSO dapat terinhalasi atau diabsorbsi melalui kulit sehingga merusak lever. Karbon disulfida sangat mudah menguap, dan memiliki uap bersifat berbahaya. Lebih signifikan lagi, ia menyebabkan kerusakan yang serius terhadap otak dan susunan syaraf perifer ( peripheral nervous system). Ia juga berkontribusi terhadap penyakit jantung koroner (coronary heart disease).
c. Nitrobenzene
Nitrobenzene adalah senyawa yang mudah menguap dan terpapar secara luas dalam bentuk uap. Paparan nitrobenzene ke dalam tubuh menyebabkan kerusakan susunan syaraf pusat, saluran pencemaan, dan sumsum tulang yang membentuk sel-sel darah merah. Para pekerja yang terpapar secara berlebihan (overexposed workers) menderita anemia dan menurunnya jumlah sel darah putih. Kontak dalam waktu yang lama dengan kulit menyebabkan kerusakan kulit mirip luka bakar, dan beberapa pekerja menjadi lebih sensitif. Studi epidemiologi terhadap para pekerja yang terpapar benzene dalam periode waktu yang lama menunjukkan bertambahnya pekerja yang menderita kanker, terutama kanker darah (leukimia).
d. HCl
Asam klorida adalah asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani dibandingkan dengan asam kuat lainnya. Walaupun asam, ia mengandung ion klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun. Asam klorida dalam konsentrasi menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya. Oleh karena alasan inilah, asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat baik.
Dalam lingkungan industri, pencegahan merupakan tindakan yang lebih baik daripada membiarkan terjadi keracunan. Antisipasi dan tindakan keamanan harus merupakan upaya pertama. Prinsip kerja secara aman adalah penting, tetapi sering dianggap berlebihan karena mengeluarkan biaya lebih banyak dan tidak menghasilkan nilai
tambah yang nyata pada produk.
Pencegahan terjadinya keracunan dalam proses produksi di industri ini dapat dilakukan dengan mengurangi bahaya dan resiko yang mungkin dapat ditimbulkan pada pekerja dan lingkungan. Selain itu juga diusahakan upaya pengamanan seperti menyediakan tempat penyimpanan yang aman, tersedianya sarana air pembilas di tempat-tempat strategis, menyediakan dokter perusahaan, melengkapi pekerja dengan masker dan sarung tangan, dan sebagainya.
II. DIAGRAM ALIR PROSES DAN NERACA MASSA
A. DIAGRAM ALIR PROSES
Pembuatan produk vanillin sintetik menggunakan bahan baku eugenol yang berasal dari minyak cengkeh. Proses produksi vanillin sintetik terbagi menjadi 3 macam proses, yaitu proses isomerisasi, proses oksidasi dan proses ekstraksi. Di bawah ini adalah gambar diagram alir proses produksi vanillin sintetik.
Gelombang mikro
KOH = 6500 kg
Eu
Isome
sambil
=
Gelombang mikro
K-Isoe
B. MEKANISME PERHITUNGAN KONVERSI BAHAN DARI SKALA LAB KE SKALA INDUSTRI
Data-data skala lab yang digunakan berasal dari penelitian Cisadae, Rosi ( 2006). 1. Proses isomerisasi
Perbandingan antara massa bahan eugenol (proses isomerisasi) dengan massa maksimum alat, yaitu:
= 23,6 ml : 23000 ml = 1: 974,58
= 1,03 x 10-3x 100%
= 0,103 %
Perhitungan untuk mendapatkan daya optimum yang digunakan. Diketahui:
Kapasitas maksimum daya pada alat = 800 watt
Karena massa yang digunakan hanya sebesar 0,10%, maka daya yang digunakan secara optimal adalah sebesar
800 watt x 0,103% = 82,4 watt = 82 watt Sehingga dapat disimpulkan,
Untuk massa sebanyak 23,6 ml digunakan daya sebanyak 82 watt. Dapat dibuat persamaan seperti di bawah ini:
82 watt 23,6 ml 15 menit 800 watt 230,24 ml 15 menit
Perhitungan untuk mendapatkan 230,24 ml, sebagai berikut: (800 watt : 82 watt) x 23,6 ml = 230,24 ml.
Berdasarkan hasil scale up alat microwave rotary diketahui bahwa alat tsb membutuhkan daya sebesar 6000 watt. Dimana 6000 watt adalah 7,5 kali-nya daya sebelumnya (800 watt). Dan massa bahan yang dapat diproses adalah sebanyak
Maka,
6000 watt 1726,8 ml 15 menit.
Perhitungan untuk mendapatkan 1726,8 ml, sebagai berikut: (6000 watt : 800 watt) x 230,24 ml = 1726,8 ml.
Kemudian,
Maka,
962.500 ml : 1726,8 ml = 557 kali Alat yang dimiliki sebanyak 5 alat.
Maka masing-masing alat akan dikenai proses sebanyak = 557 kali : 5 alat
= 107 kali.
1 kali proses menghabiskan waktu 15 menit, maka untuk 1 alat akan membutuhkan waktu,
= 107 kali x 15 menit = 1665 menit
= 27,75 jam
Namun, karena alat tidak bisa mengkonversi bahan sebanyak 100 %, maka diasumsikan bahwa total proses oksidasi selama 29,5 jam.
Sehingga, = 29,5 jam = 1770 menit
1 kali proses membutuhkan waktu 15 menit, maka dalam 1770 menit terjadi proses sebanyak
= 1770 menit : 15 menit = 118 kali
Karena ada 5 alat yang digunakan maka totalnya adalah = 118 kali x 5 alat
= 590 kali. Kemudian,
Total massa yang digunakan adalah 962.500 ml, maka setiap satu kali proses, massa bahan yang dimasukkan sebesar,
= 962.500 ml : 590 kali = 1631,356 ml.
Sehingga dapat diketahui besarnya konversi alat, yaitu = 1631,356 ml : 1726,8 ml
= 0,9447 x 100% = 94,47 %
= 95%.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa:
Proses isomerisasi, sekali proses menghabiskan waktu 15 menit. Total alat yang digunakan sebanyak 5 alat.
Masing-masing alat melakukan proses produksi (isomerisasi) sebanyak 118 kali.
Sehingga untuk 5 alat, proses produksi (isomerisasi) yang dilakukan sebanyak = 118 kali x 5 alat = 590 kali.
2. Proses oksidasi
Perbandingan antara massa bahan isoeugenol (proses oksidasi) dengan massa maksimum alat, yaitu:
= 2,83 ml : 23000 ml = 1: 8127
= 1,23 x 10-4x 100%
= 0,012 %
Perhitungan untuk mendapatkan daya optimum yang digunakan. Diketahui:
Kapasitas maksimum daya pada ala t= 800 watt
Karena massa yang digunakan hanya sebesar 0,012%, maka daya yang digunakan secara optimal adalah sebesar
800 watt x 0,012% = 9,6 watt Sehingga dapat disimpulkan,
Untuk massa sebanyak 2,83 ml digunakan daya sebanyak 9,6 watt. Dapat dibuat persamaan seperti di bawah ini:
9,6 watt 2,83 ml4 menit 800 watt 236 ml4 menit
Perhitungan untuk mendapatkan 236 ml, sebagai berikut: (800 watt : 9,6 watt) x 2,83 ml = 235,83 ml = 236 ml.
Berdasarkan hasil scale up alat microwave rotary diketahui bahwa alat tsb membutuhkan daya sebesar 6000 watt. Dimana 6000 watt adalah 7,5 kali-nya daya sebelumnya (800 watt). Dan massa bahan yang dapat diproses adalah sebanyak
6000 watt 1770 ml4 menit
Perhitungan untuk mendapatkan 1770 ml, sebagai berikut: (6000 watt : 800 watt) x 236 ml = 1770 ml.
Kemudian,
Massa total isoeugenol adalah 1000 kg = 947.000 ml. Maka,
947.000 ml : 1770 ml = 535 kali Alat yang dimiliki sebanyak 5 alat.
Maka masing-masing alat akan dikenai proses sebanyak = 535 kali : 5 alat
= 107 kali.
1 kali proses menghabiskan waktu 4 menit, maka untuk 1 alat akan membutuhkan waktu,
= 107 kali x 4 menit = 428 menit
= 7,1 jam
Namun, karena alat tidak bisa mengkonversi bahan sebanyak 100 %, maka diasumsikan bahwa total proses oksidasi selama 7,5 jam.
Sehingga, = 7,5 jam = 450 menit
1 kali proses membutuhkan waktu 4 menit, maka dalam 450 menit terjadi proses sebanyak
= 450 menit : 4 menit = 112,5 kali
= 113 kali
Karena ada 5 alat yang digunakan maka totalnya adalah = 113 kali x 5 alat
= 565 kali. Kemudian,
Total massa yang digunakan adalah 947.000 ml, maka setiap satu kali proses, massa bahan yang dimasukkan sebesar,
Sehingga dapat diketahui besarnya konversi alat, yaitu = 1676 ml : 1770 ml
= 0,947 x 100% = 94,7 %
= 95%.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa:
Proses oksidasi, sekali proses menghabiskan waktu 4 menit. Total alat yang digunakan sebanyak 5 alat.
Masing-masing alat melakukan proses produksi (oksidasi) sebanyak 113 kali. Sehingga untuk 5 alat, proses produksi (oksidasi) yang dilakukan ada
sebanyak = 113 kali x 5 alat = 565 kali.
C. NERACA MASSA
Masing-masing dari proses produksi Di bawah ini adalah neraca massa dari masing-masing tahapan proses produksi:
1. Proses Isomerisasi
Pada proses isomerisasi dilakukan konversi dari eugenol menjadi K-Isoeugenolat. Input awal eugenol adalah 1020 kg dengan penambahan KOH sebagai alkali kuat sebanyak 6500 kg pada saat pengadukan (suhu 120oC). Reaksi isomerisasi ini dipercepat dengan
ditambahkannya proses pemanasan dengan gelombang mikro. Output dari reaksi ini adalah K-Isoeugenolat sebanyak 1000 kg.
Reaksi kimia dari proses isomerisasi yaitu, seperti di bawah ini
Di bawah ini adalah gambar neraca massa dari proses isomerisasi.
Gambar 2. Neraca massa proses isomerisasi Keterangan gambar:
K-Isoeugenolat yang dihasilkan sebesar 1000 kg yaitu 98% dari massa eugenol. Di bawah ini adalah tabel neraca massa pada proses isomerisasi.
Tabel 5. Neraca massa proses isomerisasi
Input Output Limbah
Eugenol = 1020 kg K-Isoeugenolat = 1000 kg H20 = 6500 kg, eugenol = 20 kg KOH = 6500 kg 2. Proses oksidasi
Pada proses oksidasi, input yang digunakan adalah K-Isoeugenolat sebanyak 1000 kg yang merupakan output dari proses isomerisasi. Kemudian, proses oksidasi dengan penambahan nitrobenzene dan pelarut DMSO. Penggunaan nitrobenzene sebanyak 1000 kg dan DMSO sebanyak 2000 kg. Perbandingan antara penggunaan nitrobenzene dengan DMSO adalah 1:2. Nitrobenzene sebagai oksidator yang baik untuk reaksi oksidasi K-Isoeugenolat menjadi vanillin.
Proses selanjutnya adalah pemanasan yang dilakukan dengan gelombang mikro. Pada proses ini dihasilkan limbah yang terdiri atas asetaldehid 1000 kg, azobenzen 500 kg, dan campuran dari Gelombang
mikro KOH = 6500 kg
Eugenol = 1020 kg
Isomerisasi dan pemanasan sambil pengadukan (600rpm) K-Isoeugenolat = 1000 kg H 20 = 6500 kg, Eugenol = 20 kg
nitrobenzene, DMSO, dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi 1800 kg.
Setelah pemanasan selesai, maka didapatkan K-Vanilat sebanyak 700 kg. Kemudian, dilanjutkan proses netralisasi dengan penambahan HCl sebanyak 5000 kg. Pada proses netralisasi atau pelepasan K ini dihasilkan limbah yang terdiri atas garam (KCl) 3887,5 kg dan H2O 1250 kg hingga akhirnya didapatkan output
berupa vanillin kasar sebesar 562,5 kg. Di bawah ini adalah gambar neraca massa dari proses oksidasi.
Gambar 3. Neraca massa proses oksidasi Keterangan gambar: Nitrobenzene = 1000 kg, DMSO = 2000 kg asetaldehid 1000 kg, azobenzen 500 kg, campuran dari nitrobenzene, DMSO, dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi
1800 kg. Gelombang mikro
K-Isoeugenolat = 1000 kg
Oksidasi dan pemanasan
K-Vanilat = 700 kg HCl = 5000 kg garam (KCl) 3887,5 kg, H2O 1250 kg Netralisasi/ pelepasan K Vanilin kasar = 562,5 kg
Di bawah ini adalah tabel neraca massa dari proses oksidasi. Tabel 6. Neraca massa dari proses oksidasi
Input Output Limbah
K-Isoeugenolat = 1000 kg K-Vanilat = 700 kg asetaldehid 1000 kg, azobenzen 500 kg, campuran dari nitrobenzene, DMSO, dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi 1800 kg.
Oksidator Nitrobenzene =
1000 kg
Vanilin kasar = 562,5 kg garam (KCl) 3887,5 kg, H2O 1250 kg Pelarut DMSO = 2000 kg K-Vanilat = 700 kg HCl 25% = 5000 kg
Perhitungan neraca massa dari proses oksidasi dengan menggunakan literatur dari penelitian Rosi (2007) adalah sebagai berikut, Penentuan massa di atas berdasarkan reaksi kimia oksidasi k-isoeugenolat menjadi k-vanilat yaitu dengan perbandingan massa bahan baku dan produk reaksi yang dihasilkan.
Reaksi kimia ideal:
2 DMSO + 2 Nitrobenzene + 2 K-isoeugenolat 2 k-vanilat + 1 azobenzene+ 2 asetaldehid. Namun faktanya hasil percobaan hanya menghasilkan 70,12% sehingga
hasil proses oksidasinya adalah sebgai berikut:
2 DMSO + 2 Nitrobenzene + 2 K-isoeugenolat 2 k-vanilat (70,12 % dari k-isoeugenolat) +
1 azobenzene +
2 asetaldehid + sisa rektan yang tidak bereaksi
Sehingga,
2000kg DMSO+ 1000kg Nitrobenzene+ 1000kg K-isoeugenolat
700kg k-vanilat (70,12 % dari k-isoeugenolat)+ 500kg azobenzene + 1000kg asetaldehid + 1800 (DMSO, Nitrobenzene, K-isoeugenolat).
Perbandingan isoeugenol dan HCl = 2,8 ml isoeugenol : 14 ml HCl
= 0,0028 kg isoeugenol : 0,014 kg HCl.
Maka, HCl yang dibutuhkan = 0,014 kg HCl /0,0028 kg isoeugenol x 1000 kg isoeugenol
= 5000 kg HCl.
Rendemen K-Vanilat = 70,12% = 70/100 x 1000 K-Isoeugenolat = 700 kg.
Rendemen vanillin kasar = 56,25%
= 56,25/100 x 1000 K-Isoeugenolat = 562,5 kg. Limbah dari proses netralisasi yaitu:
Air dari larutan HCL 25% yaitu 25%x5000 =1250kg
Garam KCL = (k-vanilat 700kg+HCL 5000kg)- air 1250kg – vanillin 562,5 k g=3887,5 kg
3. Proses ekstraksi
Pada proses ekstraksi vanillin kasar, input vanillin kasar yang didapat dari hasil proses oksidasi adalah sebesar 562,5 kg. Vanilin kasar ini, diekstraksi dengan menggunakan pelarut dietil eter sebanyak 7142 kg dan didapatkan output sebesar 7641 kg dan residu sebanyak 63,4 kg. Kemudian, didistilasi untuk menguapkan pelarut dan pelarut yang diuapkan sebanyak 7070 kg hingga akhirnya didapatkan output vanillin sintetik sebanyak 70 kg. Di bawah ini adalah gambar neraca massa dari proses ekstraksi.
Gambar 4. Neraca massa proses ekstraksi Dietil eter = 7142 kg
Residu (nitrobenzene, DMSO, garam, asam
vanilat) = 63,4 kg Dietil eter = 7070 kg Vanilin sintetik = 70 kg Vanilin kasar = 562,5 kg Ekstraksi
Campuran vanillin dan dietel eter = 7641 kg
Di bawah ini adalah tabel neraca massa dari proses ekstraksi. Tabel 7. Neraca massa dari proses ekstraksi
Input Output Limbah
Vanilin kasar = 562,5 kg
Vanilin kasar = 562,5 kg Residu (nitrobenzene, DMSO, garam, asam vanilat) = 63,4 kg Pelarut
Dietil eter = 7142 kg
Campuran vanillin dan dietil eter = 7641 kg
Dietil eter = 7070 kg Vanilin sintetik = 70 kg
Perhitungan neraca massa dari proses ekstraksi dengan menggunakan literatur dari penelitian Rosi (2007) adalah sebagai berikut,
1. Perbandingan isougenol dengan larutan dietil eter
= 2,8 ml isoeugenol : 20 ml dietil eter = 0,0028 kg : 0,020 kg.
Maka, dietel eter yang dibutuhkan adalah 0,020 kg dietil eter / 0,0028 kg isoeugenol x 1000 kg isoeugenol = 7142 kg dietil eter.
2. Output dari proses ekstraksi adalah campuran vanillin dan dietil eter
= 562,5 kg vanillin kasar + 7142 kg dietil eter – 63,4 kg residu = 7641 kg.
3. Dietil eter yang diuapkan sebanyak 99% = 99/100 x 7142 kg dietil eter
= 7070 kg.
4. Rendemen vanillin sintetik 7% = 7/100 x 1000 kg isoeugenol = 70 kg.
III.
DESKRIPSI PROSES
Tahap pertama pembuatan vanilin sintetik adalah proses isomerisasi yaitu, mengubah eugenol menjadi K-isoeugenolat dalam suasana basa. Proses isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol dilakukan dengan menggunakan panas dari gelombang mikro yang didapatkan pada alat microwave. Proses ini menggunakan katalis basa kuat kalium hidroksida (KOH) yang proses konversi atau reaksi isomerisasinya terjadi pada sekitar suhu 120oC. Di bawah ini adalah gambar dari reaksi yang terjadi.
Gambar 5. Reaksi perubahan eugenol menjadi isoeugenol dengan KOH
Setelah itu, tahap kedua adalah proses oksidasi. Reaksi oksidasi k-isoeugenolat menjadi vanilin menggunakan oksidator nitrobenzene. Nitrobenzene tersebut digunakan untuk mengubah K-isoeugenolat menjadi K-vanilat dan menghasilkan hasil samping berupa azobenzene dan asetaldehid.
Sastrohamidjojo (2002) mengatakan reaksi oksidasi isoeugenol dapat dilakukan dengan menggunakan oksidator nitrobenzene. Reaksi oksidasi ini berlangsung dalam fase organik, sehingga untuk membawa oksidator nitrobenzene ke dalam fase organik dibutuhkan pelarut Dimetil sulfoksida (DMSO). Agar reaksi berjalan sempurna, jumlah oksidator dan pelarut yang digunakan harus melebihi jumlah bahan yang akan direaksikan.
Berdasarkan literatur di atas maka pada tahap oksidasi ini ditambahkan pula DMSO dan dipanaskan dalam oven gelombang mikro. Di dalam oven gelombang mikro terjadi radiasi gelombang mikro yang diserap oleh bahan dan mengubah energi radiasi menjadi energi panas yang akan memanaskan larutan sampel secara langsung sehingga akan menaikkan suhu larutan dan terjadi reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi isoeugenol dengan oksidator nitrobenzene dalam suasana basa menghasilkan kalium vanilat seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.
+ H
2O
Gambar 6. Reaksi oksidasi menggunakan nitrobenzene
Untuk merubah kalium vanilat menjadi vanilin maka dilakukan tahapan hidrolisis menggunakan asam. Pada tahapan ini ion K+ pada senyawa vanilat digantikan oleh ion OH- dan garam KCl hasil reaksi terendapkan sehingga dapat dipisahkan dari komponen vanilin. Reaksi hidrolisis vanilin dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 7. Reaksi pengasaman kalium vanilin dengan HCl
Hasil akhir dari tahapan hidrolisis adalah terbentuknya dua lapisan yaitu lapisan atas (air) yang mengandung vanilin dan lapisan bawah yang mengandung azobenzene, asetaldehid, DMSO dan reaksi hasil samping lainnya.
Vanilin yang terdapat pada lapisan atas hasil reaksi oksidasi dan hidrolisis selanjutnya diekstraksi menggunakan dietil eter. Menurut Carey (2003), dietil eter mempunyai tingkat volatil tinggi dan titik didih yang rendah (350C) sehingga mudah
digunakan pada saat proses penguapan. Dietil eter digunakan untuk memisahkan komponen vanilin dari air dan campuran lain hasil oksidasi yang ikut tercampur seperti nitrobenzene, dimetil sulfoksida, azobenzene dan asetaldehid, sehingga vanilin terikat dengan pelarutnya (dietil eter). Kemudian dilakukan destilasi atau penguapan pelarut untuk memisahkan campuran vanillin dan pelarut dietil eter, sehingga pada akhirnya akan didapatkan produk vanillin sintetik. Di bawah ini adalah gambar dari diagram alir proses produksi vanilin sintetik.
Rotary
microwave microwaveRotary microwaveRotary Rotary
microwave Rotary
microwave
Feed tank (eugenol + KOH) Tangki sementar a (k-isoeugenolat)
Nitrobenze + DMSO
Tangki penampung vanilat kasar HCL
Boiler dalam destilator Kolom destilator
Boiler dalam destilator Kolom destilator
Tangki penampung produk
Gambar 8. Diagram alir untuk proses pembuatan vanilin sintetik
Keterangan:
: Proses isomerisasi
: Proses oksidasi
: Proses ekstraksi
IV.
KEBUTUHAN ENERGI PERALATAN UTAMA
PRODUKSI
Pembuatan produk vanilin sintetik didukung dengan adanya penggunaan peralatan produksi dengan kapasitas yang sesuai. Masing-masing peralatan tersebut memiliki kebutuhan energi yang berbeda-beda. Kebutuhan dari masing-masing peralatan produksi disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 8 Kebutuhan Peralatan Proses Produksi
Alat Proses Jumlah (unit) Kapasitas (L) Daya (Watt) Waktu setiap proses (menit) Banyak nya proses Total Waktu Produksi (jam) Konversi (%)
IV.
KEBUTUHAN ENERGI PERALATAN UTAMA
PRODUKSI
Pembuatan produk vanilin sintetik didukung dengan adanya penggunaan peralatan produksi dengan kapasitas yang sesuai. Masing-masing peralatan tersebut memiliki kebutuhan energi yang berbeda-beda. Kebutuhan dari masing-masing peralatan produksi disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 8 Kebutuhan Peralatan Proses Produksi
Alat Proses Jumlah (unit) Kapasitas (L) Daya (Watt) Waktu setiap proses (menit) Banyak nya proses Total Waktu Produksi (jam) Konversi (%) Rotary Microwave Isomerisasi 5 Max 90 6000 15 590 kali 29,5 95 Oksidasi 4 565kali 7,5 95 Destilator Ekstraksi 2 1500 26000 210 3 kali 5,5 95
Di bawah ini adalah penjelasan dari perhitungan masing-masing proses. 1. Proses isomerisasi, sekali proses menghabiskan waktu 15 menit.
Total alat yang digunakan sebanyak 5 alat.
Masing-masing alat melakukan proses produksi (isomerisasi) sebanyak 122 kali. Sehingga untuk 5 alat, proses produksi (isomerisasi) yang dilakukan sebanyak = 122 kali x 5 alat = 610 kali.
2. Proses oksidasi, sekali proses menghabiskan waktu 4 menit. Total alat yang digunakan sebanyak 5 alat.
Masing-masing alat melakukan proses produksi (oksidasi) sebanyak 113 kali. Sehingga untuk 5 alat, proses produksi (oksidasi) yang dilakukan ada sebanyak = 113 kali x 5 alat = 565 kali.
3. Proses ekstraksi, sekali proses menghabiskan waktu 210 menit (3.5 jam).
Karena dilakukan 3 kali proses maka total waktu proses produksi = 3 kali x 210 menit = 630 menit = 10,5 jam = 11 jam (dibulatkan).
Alat yang dimiliki ada sebanyak 2 alat, sehingga proses produksi (destilasi) selesai dalam waktu = 11 jam : 2 alat = 5,5 jam.
Berdasarkan data pada tabel diatas dapat dilakukan perhitungan kebutuhan energi untuk setiap proses produksi, yaitu:
1. Proses isomerisasi dengan Rotary Microwave
P = 6000 W = 6 kW
E = P x t x n
= 6 kW x 29,5 jam x 5
= 3186 x 106 J
2. Proses oksidasi dengan Rotary Microwave
P = 6000 W = 6 kW
E = P x t x n
= 6 kW x 7,5 jam x 5
= 225 kWh x 3.6 x 106 J/kWh
= 810 x 106 J
3. Proses ekstraksi dengan destilator
P = 26000 = 26 kW
E = P x t x n
= 26 kW x 5,5 x 2
= 286 kWh x 3.6 x 106 J/kWh
= 1030 x 106 J
Sehingga didapatkan hasil bahwa pada proses isomerisasi dengan menggunakan alat Rotary Microwave sebanyak 5 alat membutuhkan energi total sebesar 3186 x 106 J
dan pada proses oksidasi dengan menggunakan alat Rotary Microwave sebanyak 5 alat mebutuhkan energi total sebesar 810 x 106 J serta pada proses ekstraksi dengan
menggunakan destilator sebanyak 2 alat membutuhkan energi total sebesar 1030 x 106J.
Setelah diketahui kebutuhan energy dari masing-masing proses, selanjutnya neraca energi dapat diketahui seperti yang disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 9. Neraca Energi Proses Produksi
Alat Proses Energi (Joule) Ouput
(Joule) Input Loss Rotary Microwave Isomerisasi 3186 x 106 159,3 x 106 3026,7 x 106 Oksidasi 810 x 106 40,5 x 106 769,5 x 106 Destilator Ekstraksi 289,8 x 106 14,49 x 106 275,31 x 106
Input energi merupakan kebutuhan energy dari masing-masing proses. Kemudian loss adalah hasil kali dari nilai konversi dengan kebutuhan energi dari masing-masing proses. Sehingga didapatkan nilai ouput yang merupakan selisih dari nilai input dan loss.
V. SCALE UP
Hubungan antara peningkatan diameter (D) terhadap tenaga (P), P1 = 800 w,
D1 = 8 cm, dan D2 = 2D1(ini terkait dengan kapasitas produksi per satu kali operasi yaitu
1,74 liter dan membutuhkan diameter wadah 16 cm). Berdasarkan eksperimen, P berbanding lurus dengan N2.
Perhitungan scale up: P = k DaN b
ρ
c µdDimensi untuk tiap variabel: P = ML2T-3 D = L
ρ
= ML-3 µ = ML-1T-1 M : 1 = c+d L : 2 = a-3c-d T : -3 = -b-d Sehingga, a = 5-2d b = 3-d c = 1-dP berbanding lurus dengan N2
P=N2 ~ N2=N3-d
2=3-d d=1
Untuk cairan yang sama
ρ
, µ adalah konstan. P2/D25 N13ρ P1/D15 N23ρ == k D 1 2 N 1ρ /µ D 2 2 N 2ρ /µAtau
Jika D2=2D1
Maka,
Jadi, dengan meningkatkan D2 = 2D1maka kebutuhan P2akan meningkat menjadi 8 kali
dari P1yaitu menjadi 6,4 kw.
P2 P 1 D 1 5 N 1 3 D 2 5 N 2 3 = D 1 2 N 1 D22 N2 P2 P1 = N22D23 N 1 2 D 1 3 P 2 P 1 = D23 D 1 3 P2 = 8P1 (2D 1) 3 D 1 3 P 2 P 1 = 8 P2 P 1 = P2 = 8 x 800 w = 6400w = 6,4 kw
VI.
SPESIFIKASI PERALATAN
Ada beberapa peralatan utama yang digunakan untuk proses produksi vanilin sintentik. Pada proses isomerisasi dan oksidasi digunakan alat microwave untuk proses pemanasan. Di bawah ini adalah gambar dari microwave yang digunakan.
Gambar 8. Mesin rotary microwave Spesifikasi dari alat di atas disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 10. Spesifikasi alat rotary microwave Microwave generator power, controlled, watts 6000
Operating frequency, MHz 2450 ± 50
Starting humidity, % ≤ 50
Final humidity, % ≥ 0.01
Drying temperature 100 - 1000 °C
pressure in drying chamber, mm Hg 50 – 760
3 phase, 380 volt, 50 Hz:
average, kW ~ 2.5
maximum, kW ≤ 3.7
Drying chamber volume, dm3 Max 150
Working volume, dm3 Max 90
Footprint, mm 1680×1050×1750
Dryerweight,kg ~ 220
Pada proses ekstraksi digunakan alat untuk ekstraksi yaitu destilator. Di bawah ini adalah gambar dari alat destilator yang digunakan.
Gambar 9. Alat destilator Di bawah ini adalah spesifikasi dari mesin destilator. 1. Multi Column
2. Feed Water Aprox 1500L
3. Cooling Water Aprox SOL and 80L 4. Steam Consumption I 5 Kg & 26 Kg/hr 5. Electric Consumption 2 Kw for Pump
6. Electrically operated Built in Boiler 24 Kw for Boiler Sumber: http://www.situsmesin.com/
Peralatan lain yang tidak kalah pentingnya dalam pada proses produksi vanillin sintetik adalah tangki. Tangki ini digunakan untuk mewadahi bahan yang sedang menunggu waktu untuk diproduksi dan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan baku sementara. Kapasitas produksi tangki yang dibutuhkan ada beberapa macam yaitu, 100 L, 8000 L, dan 16000 L. Di bawah ini adalah gambar dari tangki yang digunakan.
Spesifikasi dari gambar tangki di atas disajikan pada tabel di bawah ini: Tabel 11. Spesifikasi tangki
Spesifikasi Keterangan
Kapasitas alat tangki 100 L, 9000 L, dan 18000 L Kaki Penopang Stainless
Steel
Dudukan tangki berbahan Stainless, mencegah korosi Bahan material Stainless steel grade SS304, tahan korosi, tahan segala
cuaca, higienis
Triple Four Bone Dirancang dengan konsep triple bone yg diposisikan di empat posisi vital tangki guna memperkuat dinding dan mencegah tangki pecah
PVC & Stainless Steel Fitting
Dilengkapi dengan PVC (inlet) dan Stainless Steel (outlet) bulkhead fitting sebagai aksesoris standard yang kuat, ringan, tidak korosif dan berfungsi untuk mencegah terjadinya penyebaran karat di area saluran minyak masuk dan keluar
Large Manhole Terisedia lubang tutup yang cukup besar untuk mempermudah proses inspeksi, pemeliharaan dan perawatan
Kunci Pengait Tutup dapat dikunci sebagai pengamanan untuk mencegah masuknya objek yang tidak diinginkan.
Sumber: http://sap88.indonetwork.co.id/2044927/penguin-stainless-steel-water-tank-tangki-stainless-penguin.htm
Selain itu, dibutuhkan juga alat timbangan untuk proses pengukuran berat bahan baku yang akan digunakan pada proses produksi vanilin sintetik. Alat timbangan ini, pada umumnya digunakan di setiap proses produksi. Keunggulan dari timbangan ini adalah dapat dengan mudah dibawa-bawa atau dengan kata lain timbangan yang mendatangi bahan yang akan ditimbang. Gambar alat timbangan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 11. Alat timbangan Spesifikasi dari alat timbangan di atas, antara lain:
Kapasitas alat: 150 kg Merek Hanher
Berat 18 kg
VII. PRAKIRAAN BIAYA PERALATAN
Proses produksi vanilin sintetik dibutuhkan berbagai macam peralatan. Adapun prakiraan biaya dari masing-masing peralatan yang dibutuhkan yaitu disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 12. Daftar prakiraan biaya peralatan produksi vanilin sintetik Peralatan p roduksi Unit Kapasitas
alat
Harga per unit Harga peralatan produksi
Sumber
Microwave rotary 5 90 L Rp 80.000.000 Rp 400.000.000 http://microwavetech/pharmamicro.php Tangki 8000 L 2 9000 L Rp 11.400.000 Rp 22.800.000 http://sap88.indonetwork.co.id/2044927 /penguin-stainless-steel-water-tank-tangki-stainless-penguin.htm Tangki 16000 L 1 18000 L Rp 45.600.000 Rp 45.600.000 Tangki 100 L 1 100 L Rp 2.850.000 Rp 2.850.000 Timbangan 1 150 kg Rp 1.850.000 Rp 1.850.000 www.kaskus.us/showthread.php? t=2362649&page=5 Destilator 2 1500 L Rp 75.000.000 Rp 150.000.000 http://www.situsmesin.com/ Pipa IPAL 1 Rp 1.000.000 Rp 1.000.000 www.pipaku.com
Peralatan pendukung lain Rp 1.000.000 Rp 1.000.000 Total biaya peralatan produksi Rp 1.150.185.000
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa total prakiraan biaya peralatan produksi adalah sebesar Rp 1.150.885.000.
VIII.
PRAKIRAAN BIAYA INVESTASI DAN BIAYA POKOK
Dalam melakukan perancangan sebuah pabrik diperlukan adanya perhitungan mengenai prakiraan biaya investasi dan biaya produksi dari pembuatan vanilin sintetik. Prakiraan yang dipakai dikembangkan oleh Peters dan Timmerhaus (1981). Rincian dari prakiraan biaya investasi dan biaya produksi tersebut adalah sebagai berikut:
BIAYA INVESTASI
VIII.
PRAKIRAAN BIAYA INVESTASI DAN BIAYA POKOK
Dalam melakukan perancangan sebuah pabrik diperlukan adanya perhitungan mengenai prakiraan biaya investasi dan biaya produksi dari pembuatan vanilin sintetik. Prakiraan yang dipakai dikembangkan oleh Peters dan Timmerhaus (1981). Rincian dari prakiraan biaya investasi dan biaya produksi tersebut adalah sebagai berikut:
BIAYA INVESTASI
BIAYA PRODUKSI
I
BIAYA
A
BIAYA
a. Biaya
A.
ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI
Perancangan pabrik ini juga diperlukan suatu analisis kelayakan ekonomi agar dapat diketahui layak atau tidaknya pembangunan pabrik jika dilihat dari aspek ekonomi. Rincian dari perhitungan analisis kelayakan ekonomi adalah sebagai berikut: Asumsi :
a. Sumber Cost :
- Cost pada periode ke-0 didapatkan dari harga investasi total.
- Untuk periode ke-1 hingga periode ke-20, cost adalah biaya produksi total. b. Sumber Penerimaan :
A.
ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI
Perancangan pabrik ini juga diperlukan suatu analisis kelayakan ekonomi agar dapat diketahui layak atau tidaknya pembangunan pabrik jika dilihat dari aspek ekonomi. Rincian dari perhitungan analisis kelayakan ekonomi adalah sebagai berikut: Asumsi :
a. Sumber Cost :
- Cost pada periode ke-0 didapatkan dari harga investasi total.
- Untuk periode ke-1 hingga periode ke-20, cost adalah biaya produksi total. b. Sumber Penerimaan :
Berikut adalah aliran kasnya :
Perhitungan Pay Back Period (PBP)
Pay back period dicari dengan menggunakan interpolasi, yaitu pada saat terjadi perubahan dari akumulasi PV negatif ke akumulasi PV positif:
Perhi
x = PBP = 1,19 = 1,2 tahun
1,2 tahun x 12 bulan/tahun = 14,4 bulan
Maka pay back periode adalah selama 14,4 bulan (1 tahun 2,4 bulan).
Dengan demikian perancangan pabrik untuk produksi vanilin sintetik dari eugenol dapat dilakukan, karena penilaian secara teknis dapat direalisasikan, dan secara finansial layak diterapkan. Hal ini ditunjukan oleh kriteria kelayakan yaitu net present value lebih dari nol, net B/C dan gross B/C lebih dari satu, yang menunjukan bahwa produksi vanilin sintetik dari eugenol cengkeh ini layak.
B. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Vanilin (4-hidroksi-3-metoksi benzaldehida) merupakan padatan kristal berwarna putih atau sedikit berwarna kuning, biasanya berbentuk jarum dan mempunyai bau (aroma) yang khas. Vanilin memiliki berbagai manfaat, sehingga permintaanya di dunia terus meningkat hingga 15 persen tiap tahunnya. Namun permintaan tersebut tidak semua terpenuhi. Untuk menghemat devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap impor vanilin, maka diperlukan usaha produksi vanilin di dalam negeri dengan teknologi proses yang efisien dan kualitas produk yang tinggi.
Vanilin merupakan glikosida yang diperoleh dari Vanilla atau dibuat secara sintetik dari sumber lainnya. Secara komersial terdapat produk vanilin alami, semi sintetik dan sintetik. Terdapat tiga alternatif bahan baku vanilin semi sintetis, yaitu: vanilin dari lignin, vanilin dari coniferin, dan vanilin dari eugenol yang berasal dari minyak cengkeh. Dari pertimbangan ketersediaan bahan baku, kualitas vanilin yang dihasilkan, dan efisiensi proses, maka dipilih alternatif proses sintesis vanilin dari eugenol menggunakan teknologi gelombang mikro.
Secara garis besar, proses sintesis vanilin dari eugenol meliputi isomerisasi, oksidasi, dan ekstraksi. Proses isomerisasi mengubah eugenol menjadi K-isoeugenolat dalam suasana basa. Proses isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol dilakukan dengan menggunakan panas dari gelombang mikro Proses ini menggunakan katalis basa kuat kalium hidroksida (KOH) yang proses konversi atau reaksi isomerisasinya terjadi pada suhu 120oC.
Reaksi oksidasi k-isoeugenolat menjadi vanilin menggunakan DMSO dan oksidator nitrobenzene. Nitrobenzene tersebut digunakan untuk mengubah K-isoeugenolat menjadi K-vanilat dan menghasilkan hasil samping berupa azobenzene dan asetaldehid.
Di dalam oven gelombang mikro terjadi radiasi gelombang mikro yang diserap oleh bahan dan mengubah energi radiasi menjadi energi panas yang akan memanaskan larutan sampel secara langsung sehingga akan menaikkan suhu bahan dan terjadi reaksi oksidasi.
Untuk merubah kalium vanilat menjadi vanilin dilakukan tahapan hidrolisis menggunakan asam yaitu HCl sehingga garam KCl hasil reaksi terendapkan dan dapat dipisahkan dari komponen vanilin. Hasil akhir dari tahapan hidrolisis adalah terbentuknya dua lapisan yaitu lapisan atas (air) yang mengandung vanilin dan lapisan bawah yang mengandung azobenzene, asetaldehid, DMSO dan reaksi hasil samping lainnya.
Vanilin yang terdapat pada lapisan atas hasil reaksi oksidasi dan hidrolisis selanjutnya diekstraksi menggunakan dietil eter. Dietil eter digunakan untuk memisahkan komponen vanilin dari air dan campuran lain hasil oksidasi yang ikut tercampur, sehingga vanilin terikat dengan dietil eter. Kemudian dilakukan destilasi atau penguapan pelarut untuk memisahkan campuran vanillin dan pelarut dietil eter, sehingga pada akhirnya akan didapatkan produk vanillin sintetik.
Ada beberapa peralatan utama yang digunakan untuk proses produksi vanilin sintentik. Pada proses isomerisasi dan oksidasi digunakan alat rotary microwave untuk proses pemanasan. Mengacu pada hasil perhitungan scale up yaitu kebutuhan daya microwave sebesar 6,4 kW, Rotary Microwave yang dipilih menggunakan daya 6 kW. Pada proses ekstraksi digunakan destilator.
Kebutuhan energi rotary microwave pada proses isomerisasi sebesar 3186 x 106 joule, sedangkan pada proses oksidasi membutuhkan energi sebesar
810 x 106 joule. Destilator membutuhkan energi lebih kecil, yaitu sebesar
1030 x 106 joule.
Pembuatan vanilin sintetik dengan proses tersebut membutuhkan modal untuk investasi sebesar Rp. 50.921.633.648,00 dan biaya produksi total sebesar Rp. 50.551.306.324,00. Vanilin dijual dengan harga Rp. 4.700.000,00/kg sehingga penerimaan dalam waktu setahun sebesar Rp. 59.220.000,00 dan keuntungan kotor
yang diperoleh Rp. 8.668.693.676,00/tahun.
Hasil analisis kelayakan ekonomi meliputi Gross B/C ratio 1,0168, Net B/C ratio 1,1275, NPV sebesar Rp. 6.492.256.280,12 dan pay back periode adalah selama 14,4 bulan (1 tahun 2,4 bulan). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan industri ini layak untuk didirikan.
B. REKOMENDASI
Seperti industri lain, industri vanilin sintetik memerlukan manajemen yang baik untuk dapat mempertahankan eksistensi di dunia industri. Manajemen sumber
daya manusia, manajemen pemasaran, manajemen keuangan, manajemen produksi dan operasi, manajemen mutu, serta manajemen strategik harus dipelajari, dikembangkan dan diaplikasikan.
Managemen SDM mengatur segala hal yang berhubungan dengan SDM mulai dari perekrutan, pelatihan, pengembangan karir, dan lain-lain. Manajemen pemasaran mengatur strategi dalam memasarkan produk, manajemen keuangan mengatur keuangan meliputi arus kas, laba rugi, penentuan harga produk, dan lain-lain. Sedangkan manajemen produksi dan operasi mengatur penjadwalan pemesanan bahan baku, produksi, dan jumlah bahan baku yang dipasok maupun produk yang
harus dihasilkan.
Koordinasi antara seluruh bagian tersebut dalam perusahaan akan memperkuat eksistensi. Selain itu, masalah lingkungan juga perlu diperhatikan untuk menciptakan sustainable development. Produksi bersih dan pengendalian limbah sangat baik untuk diterapkan sebagai langkah menjaga lingkungan hidup.