ANALISIS PENYEBAB TINGGINYA BEBAN KERJA
PETUGAS PENDAFTARAN PASIEN GAWAT DARURAT DI
RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
TRIWULAN I TAHUN 2015
KARYA TULIS ILMIAH
Disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar
Diploma (Amd, PK) dari Program Studi DIII RMIK
Oleh :
GHANI SAJIDAH
NIM. D22.2012.01262
PROGRAM STUDI REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO
SEMARANG
2015
HALAMAN HAK CIPTA
© 2015
HALAMAN PERSETUJUAN
ANALISIS PENYEBAB TINGGINYA BEBAN KERJA PETUGAS PENDAFTARAN PASIEN GAWAT DARURAT DI RUMAH SAKIT ISLAM
SULTAN AGUNG SEMARANG TRIWULAN I TAHUN 2015
Disusun oleh : GHANI SAJIDAH
D22.2012.01262
Disetujui untuk dipertahankan dalam ujian karya tulis ilmiah
Tanggal : Agustus 2015
Pembimbing
HALAMA PENGESAHAN
ANALISIS PENYEBAB TINGGINYA BEBAN KERJA PETUGAS PENDAFTARAN PASIEN GAWAT DARURAT DI RUMAH SAKIT ISLAM
SULTAN AGUNG SEMARANG TRIWULAN I TAHUN 2015
KARYA TULIS ILMIAH
TAHUN 2015
Disusun oleh : GHANI SAJIDAH
D22.2012.01262
Karya Tulis ilmiah ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang
Semarang, Agustus 2015
Tim Penguji
Ketua : Retno Astuti S, SS.MM (………)
Anggota : Kriswuharsi Kun S, SKM M.Kes (Epid) (………)
: Maryani Setyowati, M.Kes (………)
Mengetahui, Dekan
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya tulis ilmiah ini secara khusus kupersembahkan kepada :
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Junjungan Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di hari akhir kelak.
Ibuku tercinta yang telah mencurahkan seluruh doa dan dukungnnya kepadaku, serta menjadi penyeemangat terbesarku.
Kepada kakak-kakaku Galuh Ratri Oktavia, Galih Dwi Nisa Akmal dan Gita Suryana yang tidak henti memberi dukungan dan semangat kepadaku, Ararya yang pesek yang selalu member dukungan kepada bulek.
Terima Kasih untuk keluarga besarku
Kepada teman hidup selama di Semarang Laras, Rahma, dan Naila
Terimakasih untuk SNSD kw dan Para Kupret
Terimakasih untuk Makdum Al Habib.
Teman-teman seperjuangan RMIK 2012 yang saling member dukungan dan semangat satu sama lain.
Terimakasih untuk keluarga di RSI Sultan Agung Semarang yang selalu mendoakan dan memberikan semangat serta mempermudah dalam penelitian saya.
Almamater tercinta, Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang
RIWAYAT HIDUP
Nama : GHANI SAJIDAH
Tempat & Tanggal Lahir : Pemalang, 16 Agustus 1993
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Desa Kebandaran RT 01 RW 01 Kecamatan
Bodeh Kabupaten Pemalang
Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 1 Muncang Tahun 2001-2006 2. SMP Negeri 1 Bodeh Tahun 2006-2009 3. SMA Negeri 1 Kajen Tahun 2009-2012
4. Program Studi D-III RMIK Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang Tahun 2012-2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-NYA sehingga saya dapat menyusun karya tulis ilmiah ini
dengan judul Analisis Penyebab Tingginya Beban Kerja Petugas Pendaftaran
Pasien Gawat Darurat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang Triwulan I Tahun 2015. Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mengidentifikasi evaluasi pelayanan pendaftaran pasien gawat darurat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang pada tahun 2015.
Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu hingga terselesaikannya karya tulis ilmiah ini. Terimakasih saya ucapkan kepada :
1. dr. H. Masyhudi AM, M.Kes selaku Direktur Utama Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
2. Dr. dr. Sri Andarini Indreswari, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang
3. Arif Kurniadi, M.Kom selaku Ketua Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang
4. Siti Maria Ulfa, Amd. P.K, S.KM selaku Kepa Instalasi Rekam Medis Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
5. Maryani Setyowati, M.Kes selaku Dosen Pembimbing KTI (Karya Tulis Ilmiah)
6. Seluruh Dosen D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang telah membagi ilmu bagi kami baik secara langsung maupun tidak langsung.
7. Seluruh karyawan RSI Sultan Agung Semarang serta semua pihak yang membantu selama proses pengambilan data.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam karya tulis ilmiah ini. Oleh sebab itu, saya berharap pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang baik dan bersifat membangun agar penulisan laporan ini menjadi lebih baik lagi. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca semuannya khususnya bagi para perekam medis.
Semarang, Agustus 2015
Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Fakultas Kesehatan
Universitas Dian Nuswantoro
Semarang
2015
ABSTRAK
ANALISIS PENYEBAB TINGGINYA BEBAN KERJA PETUGAS
PENDAFTARAN PASIEN GAWAT DARURAT DI RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG TRI WULAN I TAHUN 2015
GHANI SAJIDAH
XVII, 79 Halaman + 4 Gambar + 2 Tabel + 5 Lampiran
Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat (TPPGD) adalah tempat pertama kali pasien dan keluarga pasien dilayani atau mendapatkan pelayanan oleh petugas non medis, petugas akan mencatat data identitas pasien dalam keadaan gawat darurat dan memberikan informasi berkaitan dengan cara pendaftaran. Berdasarkan 9harac awal terdapat satu loket pendaftaran pasien gawat darurat yang melayani pendaftaran pasien gawat darurat, melayani pendaftaran RJ poliklinik gigi dan mendaftarkan pasien gawat darurat yang akan di rawat inap. Hal tersebut mengakibatkan rata-rata lama pelayanan kepada pasien adalah 6.5 menit/pasien yang menyebabkan sebagian pasien merasa tidak puas, Selain itu hambatan proses pendaftaran juga muncul ketika banyak pasien yang harus didaftarkan tetapi koneksi dari sistem terganggu. Sehingga dengan terpaksa proses pendaftaran secara manual dan penginputan data ke dalam sistem tertunda serta terjadinya penumpukan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penyebab tingginya beban kerja petugas pendaftaran di Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan
pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah petugas
pendaftaran TPPGD yaitu 4 (empat) dengan sampel seluruh dari populasi. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner dan pedoman wawancara kepada petugas observasi. Pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah editing, coding dan tabulasi.
Hasil penelitian tentang standar prosedur pelayanan belum spesifik menggambarkan proses pelayanan di TPPGD, dari karekteristik petugas adalah lama kerja dan cara atau keterampilan petugas dalam mendaftarkan pasien yang dapat mempengaruhi proses pelayanan di TPPGD dengan keadaan rangkap fungsi dan banyak tugas yang harus dilakukan oleh satu petugas loket pendaftaran, total petugas pendaftaran di TPPGD sebanyak 4 (empat) orang laki-laki semua. Dan untuk uraian tugas petugas pendaftaran semuannya sama, baik GD, RJ dan RI.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terjadinya rangkap ungsi di TPPGD dan standar pelayanan yang kurang spesifik. Disarankan untuk melakukan perbaikan standar uraian tugas dan prosedur agar lebih spesifik, dan Tambahkan petugas khusus untuk mendaftarkan pasien RI untuk mendaftarkan pasien GD yang akan di RI.
Kata kunci : Pendaftaran, Karakteristik, standar
Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Fakultas Kesehatan
Universitas Dian Nuswantoro
Semarang
2015
ABSTRAK
ANALYSIS OF THE HIGH EMPLOYMENT OFFICERS THE EMERGENCY PATIENTS IN RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG TRIWULAN I 2015
GHANI SAJIDAH
Background: TPPGD is a first place when patient serviced by the officers non medical. In registration, registrant will identify patient and give information about a procedure of registration. The patient registered by emergency condition. Results of survey early there is one registration counter serving registration emergency patien, serving registration RJ petients clinic teeth and
registration RI. The caused most of the service for patients long 6.5 minutes/
patient. And some patients was not satisfied. Besides that, the registration
process also emerged as a lot of people in the line must be registered and growth. So that was the registration process and penginputan data manually into the system, as well as the accumulation of on the job. This research will be analyse the cause of the high workload officers TPPGD.
Methods: This research use descriptive and quantitative method with
cross-sectional. Population in this research is TPPGD registrant, divided into 4 sample all of population. Reseach instrument used questionnaire and the result of dialogue with a teristrant observation. Processing data that is used in this research are editing, and tabulasi coding.
Results: Result of research on standard procedures not describe the process of specific services at TPPGD , officers from 10haracteristic work is old and the means or skill of the officers in enrolling patients who can affect the process of services in TPPGD with the state of copies of the functions and many tasks to be done by one officer counter registration , the total registration officers in as many as four TPPGD four men all. And to the discussion the task of the registration of everything the same , GD, RJ.
Conclusion: The conclusion of this research is the dual ungsi in tppgd and service standards that is less specific .Suggested to repair the standard description of the duties and procedures to be more specific , and add special officers to enroll patients RI to register patients GD will be RI.
Key word : registration, caracteristic, standard,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………. I
HAK CIPTA ……….. ii
HALAMAN PERSETUJUAN ……….. iii
HALAMAN PENGESAHAN ……… iv
PERSEMBAHAN ………. V HALAMAN RIWAYAT HIDUP ……… vi
KATA PENGANTAR ……….. vii
ABSTRAK ………. Ix DAFTAR ISI ………. Xi DAFTAR LAMPIRAN ………. Viv DAFTAR TABEL ……….. xv
DAFTAR GAMBAR ………. Xvi DAFTAR SINGKATAN ……… xvii
BAB I : PENDAHULUAN ……… 1 A. Latar Belakang ………..… 1 B. Rumusan Masalah ……….….. 3 C. Tujuan Penelitian ……….. 4 D. Manfaat Penelitian ………. 4 E. Lingkup Penelitian ………. 5 F. Keaslian ……….… 6
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ………. 9
A. Dasar Teori ………. 9
2. Rumah Sakit ……… 12
3. Sumber Daya Manusia dan Pasien ………. 13
4. Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat ……….. 16
5. Ergonomi ………. 21
a. Pengertian Ergonomi ……….. 21
b. Tujuan Ergonomi ……….. 22
c. Konsep Keseimbangan Dalam Ergonomi ……… 23
d. Kapasitas Kerja ……… 25 e. Waktu Kerja ……….. 26 f. Beban Kerja ……….. 26 g. Kelelahan ……….. 28 h. Produktivitas ………. 29 6. Mutu ………. 32
7. Pengawasan dan Pengendalian ……….. 38
B. Kerangka Teori ……… 43
C. Kerangka Konsep ……… 44
BAB III : METODE PENELITIAN ……..……… 45
A. Jenis Penelitian ……… 45
B. Variabel Penelitian ………..… 45
C. Definisi Operasional ………..…. 46
D. Populasi dan Sampel ………. 48
E. Teknik Pengambilan Data Penelitian ……… 48
F. Pengolahan Data ……… 50
G. Analisis Data ……… 51
A. Gambaran Umum Rumah Sakit Islam Sultan Agung ………. 52
1. Sejarah Singkat Rumah Sakit ………. 51
2. Visi dan Misi Rumah Sakit ……… 52
3. Struktur Organisasi Rumah Sakit ……… 53
4. Jenis Pelayanan di Rumah Sakit ……… 53
B. Gambaran Umum Instalasi Rekam Medis ……… 57
1. Struktur Organisasi IRM ……… 57
2. Visi, Misi dan Tujuan IRM ………. 58
3. Sistem dan Prosedur Pelayanan IRM ……… 58
C. Hasil Penelitian ……… 64
1. Standar Prosedur Operasional Registrasi Pasien GD ……….… 64
2. Karakteristik Petugas ……… 66
3. Tupoksi Petugas Pendaftaran Pasien Gawat Darurat 67 4. Hasil Wawancara Petugas Pendaftaran Pasien GD………. 67
D. Pembahasan ……… 73 BAB V : PENUTUP……….………. 79 A. Kesimpulan ……… 79 B. Saran ……… 80 DAFTAR PUSTAKA ……… 82 LAMPIRAN ……… 84
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner ………..………… 85
Lampiran 2 Pedoman Wawancara ….……… 86
Lampiran 3 Standar Operasion Prosedur Registrasi Pasien GD……… 87
Lampiran 4 Uraian Tugas Petugas Pendaftaran ……….. 88
Lampiran 5 Struktur Organisasi Rumah Sakit……… 89
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Karakteristik Petugas ……….. 65
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Konsep Dasar dalam Ergonomi ……….. 23
Gambar 2.2. Kerangka Teori ……….. 43
DAFTAR SINGKATAN
IRJ : Instalasi Rawat Jalan
TPPGD : Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat
IGD : Instalasi Gawat Darurat
TPPRI : Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap
IRI : Instalasi Rawat Inap
JKN : Jaminan Kesehatan Nasional
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
KTP : Kartu Tanda Pengenal
UDINUS : Universitas Dian Nuswantoro Semarang
TPPRJ : Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Jalan
RM : Rekam Medis
GD : Gawat Darurat
SDM : Sumber Daya Manusia
SEP : Surat Eligibilitas Pasien
WISN : Workload Indicators of Staffing Need
IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat.[1] Setiap rumah sakit wajib menyelenggarakan rekam medis, harus
membuat rekam medis. Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan, dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan
dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.[2]
Rekam medis sendiri ada dua yaitu rekam medis bagian pencatatan data dan bagian pengolahan data. Rekam medis bagian pencatatan data terdiri dari Tempat Pendaftaran Rawat Jalan (TPPRJ), Instalasi Rawat Jalan (IRJ), Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat (TPPGD), Instalasi Gawat Darurat (IGD), Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap (TPPRI), Instalasi Rawat Inap (IRI). Sedangkan rekam medis bagian pengolahan data yaitu assembling, koding indeksing, analising reporting, dan filing.
Tempat Pendaftaran Pasien atau yang disebut loket pendaftaran adalah bagian pertama pelayanan non medis yang diberikan kepada pasien. Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat adalah tempat pendaftaran pasien gawat darurat, petugas Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat akan mencatat data identitas pasien dan data sosial pasien serta memberikan informasi yang berkaitan dengan pelayanan di Instalasi Gawat
Darurat. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut.[1] Instalasi Gawat Darurat adalah salah satu unit di rumah sakit yang harus dapat memberikan pelayanan darurat kepada masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai
standar. Pada Instalasi Gawat Darurat pasien akan dilihat tingkat emergency.
Bagian Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat melayani jenis pasien baru, pasien lama, pasien Jaminan Kesehatan Nasional, dan pasien non Jaminan Kesehatan Nasional. Untuk prosedur pendaftaran pasien semuanya sama hanya berbeda di persyaratan yang dibutuhkan pada pasien Jaminan Kesehatan Nasional dan non Jaminan Kesehatan Nasional. Sistem Jaminan Kesehatan menggunakan sistem rujukan, khusus untuk pasien Jaminan Kesehatan Nasional Instalasi Gawat Darurat tidak perlu menggunakan rujukan dengan syarat, pasien tersebut dalam keadaan gawat darurat. Pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional yang memerlukan pelayanan gawat darurat dapat langsung memperoleh pelayanan, cukup
memberikan foto copy kartu anggota BPJS, KTP rangkap 3 dan KK. [3] Tugas
pokok dari petugas Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat adalah menerima pasien dan melakukan kegiatan pencatatan identifikasi pasein serta wawancara terhadap pasien atau keluarga pasien yang akan berobat di Instalasi Gawat Darurat, melakukan tugas pendaftaran pasien dengan melakukan wawancara, memasukkan data pasien sesuai formulir data pribadi yang telah diisi pasien atau keluarga pasien, menyediakan formulir bagi pasien yang pertama kali berobat (pasien baru), mengarahkan keluarga pasien untuk menunggu di tempat yang telah disediakan dan menunggu
panggilan selanjutnya guna diwawancarai perihal kondisi pasien sebelum dibawa ke Instalasi Gawat Darurat, memberikan informasi pelayanan di
rumah sakit bagi yang membutuhkan. [4] Ketika petugas pendaftaran dapat
mendaftarkan pasien secara cepat dan tepat akan terwujud mutu pendaftaran yang baik, karena pasien yang datang untuk berobat tidak perlu menunggu lama.
Berdasarkan survei awal terdapat satu loket pendaftaran pasien gawat darurat yang melayani pendaftaran pasien gawat darurat, melayani pendaftaran RJ poliklinik gigi dan mendaftarkan pasien gawat darurat yang akan di rawat inap. Hal tersebut mengakibatkan rata-rata lama pelayanan kepada pasien adalah 6.5 menit/pasien yang menyebabkan sebagian pasien merasa tidak puas, Selain itu hambatan proses pendaftaran juga muncul ketika banyak pasien yang harus didaftarkan tetapi koneksi dari sistem terganggu. Sehingga dengan terpaksa proses pendaftaran secara manual dan penginputan data ke dalam sistem tertunda serta terjadinya penumpukan pekerjaan Penumpukan penginputan data pasien itu terjadi ke shift berikutnya, sehingga akan menjadi beban kerja tambahan bagi petugas shift berikutnya.
Dari latar belakang diatas peneliti tertarik untuk menganalisis penyebab tingginya beban kerja petugas pendaftaran pasien gawat darurat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang triwulan I tahun 2015.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka memunculkan pertanyaan “apa saja yang menyebabkan tingginya beban kerja petugas
pendaftaran pasien gawat darurat ditinjau dari standar pelayanan pendaftaran pasien gawat darurat, deskripsi pekerjaan petugas pendaftaran pasien gawat darurat dan karalteristik petugas pendaftaran pasien gawat darurat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang triwulan I tahun 2015?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Menganalisis penyebab tingginya beban kerja petugas pendaftaran pasien gawat darurat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang triwulan I tahun 2015.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi standar pelayanan pendaftaran pasien gawat darurat.
b. Mengidentifikasi karakteristik sumber daya manusia yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kinerja dan keterampilan. c. Mengidentifikasi deskripsi pekerjaan petugas pendaftaran gawat
darurat meliputi tugas tambahan dan tugas utama. .
D. Manfaat
1. Bagi Institusi
Untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kekurangan yang ada di lapangan di bagiann Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat khususnya yang berhubungan dengan lamanya pelayanan kepada pasien gawat darurat.
2. Bagi Akademik
Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi di perpustakaan Universitas Dian Nuswantoro Semarang (UDINUS) sebagai acuan penelitian selanjutnya serta untuk mengetahui kenyataan yang ada dilapangan.
3. Bagi Pembaca
Diharapkan dapat menambah wawasan bagi pembaca mengenai masalah yang diangkat dalam penelitian.
4. Bagi Peneliti
Sebagai tugas akhir serta bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian lapangan.
E. Lingkup Penelitian
1. Lingkup Keilmuan
Lingkup keilmuan penelitian adalah Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.
2. Lingkup Materi
Lingkup materi penelitian adalah Ergonomi dan Alur Prosedur Pelayanan
3. Lingkup Tempat
Penelitian dilakukan di Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
4. Lingkup Waktu
5. Lingkup Metode
Metode yang digunakan untuk penelitian adalah observasi dan wawancara
F. Keaslian
Judul Desain Hasil Penulis
Deskripsi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Pendaftaran di TPPRJ RSUD TUGUREJO Semarang 2013 Deskriptif Observasi
Berdasarkan hasil pengamatan
selama penelitian di dapatkan rata-rata waktu tunggu6 menit 33 detik untuk pasien baru dan 7 menit 2
detikuntukpasien lama.Dari 18
petugas hanya 33,3 % lulusan diploma RM. Pada sarana tidak terdapat pengeras suara. Sumber daya Material tidak terdapat KIUP dan buku register manual. Petugas petugas tidak melaksanakan isi protap untuk menyerahkan DRM pasien baru kepada pasien untuk di bawa sendiri ke poliklinik. Dari 100 pasien sebanyak 36,4 % tidak membawa KIB. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tunggu yaitu persyaratan pasien yang tidak lengkap, pasien lama mengaku sebagai pasien baru, SIM dan printer error, pasien baru tidak mengisi formulir pendaftaran.
Dwi Hani Febriyanti Tinjauan Kompetensi dan Karakteristik Petugas Terhadap Kecepatan Pelayanan TPPRJ RSUD H. Dr. Soedono Kendal Periode Juni 2013 Deskriptif Observasi
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Kecepatan pelayanan pada TPPRJ RSUD H. Dr. Soewondo
Kendal petugas yang dalam
kategori lambat sebanyak 2
petugas, selebihnya dalam kategori cepat 3 orang. Kecepatan paling cepat (maksimal) yaitu 1,57 menit,
kecepatan pelayanan lambat
(minimal) yaitu 9,05 menit. Variabel
yang berpengaruh signifikan
terhadap kecepatan pelayanan
Meinia Khusnulita Pratiwi
yaitu pengetahuan dan masa kerja petugas, sedangakan variabel yang tidak berpengaruh yaitu umur,
pendidikan, ketrampilan dan
kerjasama kelompok. disarankan
untuk mengadakan pelatihan
tentang pengelolaan Rekam medis, khususnya untuk petugas Rekam Medis. Tinjauan Faktor– Faktor yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Pelayanan Rekam Medis di Pendaftaran Rawat Jalan RSUD Datu Sanggul
Rantau Tahun 2011
Deskriptif Hasil penelitian menunjukkan
bahwa faktor yang sangat mempengaruhi waktu tunggu pelayanan rekam medis di pendaftaran rawat jalan RSUD Datu Sanggul Rantau pada kegiatan rekam medis yaitu di penyimpanan. Pada Sumber Daya Manusia yaitu pendidikan dan pada Sumber Daya Material yaitu bahan dan fasilitas. Diperoleh rata– rata waktu tunggu untuk pasien baru yaitu 7 menit 27 detik dan rata–rata waktu tunggu pasien lama yaitu 14 menit 16 detik.
Khusnul Khatimah Soebarto Analisis Alur Pelayanan dan Antrian di Loket Pendaftaran Pasien Rawat Jalan 2011
Deskriptif Data tingkat kedatangan dan
waktu pelayanan setiap pasien diperoleh dari loket pendaftaran pasien rawat jalan selama satu minggu (Senin-Sabtu). Model antrian pendaftaran rawat jalan
RSUD Kota semarang
menggunakan sistem M/M/1, yaitu proses antrian dengan 1 petugas pelayanan di setiap jenis pembiayaan dan FIFO sebagai disiplin antrian. Angka kedatangan tertinggi di masing-masing jenis
pembiayaan pada jam buka
pengambilan nomor antrian yaitu jam 06.30-07.29. Rata-rata waktu pelayanan pendaftaran loket rawat jalan pada pasien askes 1,3 menit, pada pasien jamkesmas 0,98 menit dan pada pasien umum
Ayu Diana Fuanasari
1,6 menit. Rata-rata waktu tunggu pelayanan pendaftaran rawat jalan RSUD Kota Semarang pada pasien askes dan pasiem umum terlama terjadi pada jam
pelayanan 07.30-08.29 dan
tercepat pada jam pelayanan
11.30-12.00, sedangkan pada
pasien jamkesmas waktu tunggu
pelayanan terlama pada jam
pelayanan 08.30-09.29 dan
tercepat pada jam pelayanan 11.30-12.00.
Penelitian dengan judul Analisis Penyebab Tingginya Beban Kerja Petugas Pendaftaran Pasien Gawat Darurat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang Triwulan I Tahun 2015 belum pernah dilakukan oleh peneliti lain, hanya penelitian serupa yang telah ada. Perbedaan dari keempat penelitian diatas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu masing-masing penelitian dilakukan di rumah sakit yang berbeda Penelitian-penelitian terdahulu menggunakan variable Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Jalan, Rekam Medis, waktu tunggu, karakteristik, kompetensi,
kecepatan pelayanan, work space, work flow sedangkan variabel yang
digunakan pada penelitian Analisis Penyebab Tingginya Beban Kerja Petugas Pendaftaran Pasien Gawat Darurat di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang Triwulan I Tahun 2015 adalah standar prosedur pelayanan pendaftaran pasien gawat darurat, deskripsi pekerjaan petugas pendaftaran pasien gawat darurat, dan karakteristik petugas pendaftaran pasien gawat darurat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
1. Pengertian Rekam Medis
Menurut Depkes Rekam medis diartikan sebagai keterangan baik yang tertulis maupun yang terekam identitas, anamnese, pemeriksaan fisik, laboratorium, diagnosa serta segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien, dan pengobatan baik yang dirawat inap, rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat. [5]
Menurut Huffman EK Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. [5]
Rekam medis adalah rekaman atau catatan mengenai siapa, apa, mengapa, bilamana, dan bagaimana pelayanan yang diberikan kepada pasien selama masa perawatan yang memuat pengetahuan mengenai pasien dan pelayanan yang diperolehnya serta memuat informasi yang cukup untuk menemukenali (mengidentifikasi) pasien
membenarkan diagnosis dan pengobatan serta merekam hasilnya. [6]
Rekam Medis adalah fakta yang berkaitan dengan keadaan pasien, riwayat penyakit dan pengobatan masa lalu serta saat ini yang
ditulis oleh profesi kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien tersebut. [7]
Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Catatan adalah tulisan yang dibuat oleh dokter atau dokter gigi tentang segala tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan. Dokumen adalah catatan doketer, dokter gigi, dan atau tenaga kesehatan tertentu, laporan hasil pemeriksaan penunjang, catatan observasi dan pengobatan harian dan semua rekaman, baik berupa foto
radiologi, gambar pencitraan (imaging), dan rekaman elektro diagnostik.
[8]
Kegunaan rekam medis menurut Gibony, yang disingkat ALFRED adalah:
a. Administrasi (Adminisstration)
Data dan informasi yang dihasilkan rekam medis dapat digunakan manajemen untuk melaksanakan fungsinya guna pengelolaan berbagai sumber daya, karena Isinya menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan para medis dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.
b. Hukum (Legal)
Sebagai alat bukti hukum yang dapat melindungi hukum terhadap pasien, provider kesehatan (dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya) serta pengelola dan pemilik sarana pelayanan kesehatan.
Berkas rekam medis mempunyai nilai hukum, karena isinya menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan, dalam rangka usaha untuk menegakkan hukum serta penyediaan bahan bukti untuk menegakkan keadilan.
c. Aspek Medis
Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/ perawatan yang harus diberikan kepada seorang pasien.
d. Keuangan (Financial)
Setiap jasa yang diterima pasien bila dicatat dengan lengkap dan benar maka dapat digunakan untuk menghilangkan biaya yang harus dibayar pasien, selain itu jenis dan jumlah pelayanan kegiatan yang tercatat dalam formulir dapat digunakan untuk memprediksi pendapatan dan biaya sarana pelayanan kesehatan.
e. Riset (Research)
Berbagai macam penyakit yang telah dicatat dalamdokumen rekam medis dapat dilakukan penelusuran guna kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya menyangkut data /informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.
f. Pendidikan (Education)
Dokumen rekam medis dapat digunakan untuk belajar dan mengembangkan ilmu bagi mahasiswa atau pendidik. Dalam dokumen rekam medis terkandung data atau informasi tentang
perkembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medik yang diberikan kepada pasien. Informasi tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pengajaran dibidang profesi pemakai.
g. Dokumentasi (Documentation)
Rekam medis sebagai dokumen karena memiliki sejarah medis seorang pasien dipakai sebagai bahan pertanggung jawaban dan laporan rumah sakit.
2. Rumah Sakit
Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Tugas rumah sakit adalah memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Fungsi rumah sakit itu sendiri adalah penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit. Dengan demikian rumah sakit merupakan institusi yang multi produk, padat modal, padat karya, dan padat teknologi, sehingga memerlukan
Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, gawat darurat. [9]
Rumah sakit adalah suatu sarana yang merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang menjalankan rawat inap, rawat jalan,
dan rehabilitasi berikut segala penunjangnya. [10]
3. Sumber Daya Manusia dan Pasien
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi manusia yang dapat
dikembangkan untuk proses produksi.[11] Sumber Daya Manusia
merupakan aset rumah sakit yang penting, dan merupakan sumber daya yang berperan besar dalam pelayanan rumah sakit. Penanganan Sumber Daya Manusia penting karena mutu pelayanan rumah sakit sangat tergantung dari perilaku Sumber Daya Manusia dan kemajuan ilmu dan teknologi memerlukan tenaga yang profesional dan spesialistis.[12]
Sumber daya manusia meliputi : a. Pendidikan
Menurut Nursalam bahwa pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorag akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk siap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin meningkat pula kinerjanya. Sebaliknya, pendidikan yang kurang akan menghambat
perkembangan sikap seseorang terhadap nilai – nilai yang baru
kesiapan dalam memberikan pelayanan, orang yang berpendidikan tinggi akan lebih mampu mengatasi masalah dan berperan lebih baik dan efektif serta konstruktif daripada yang berpendidikan rendah.
b. Umur
Menurut Hurlock umur adalah usia seseorang yang dihitung sejak lahir sampai dengan batas terakhir masa hidupnya. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya. Demikian juga dalam umur pegawai dalam melaksanakan kegiatan pelayanan. Makin tua umur seseorang makin konstruktif dalam mengatasi masalah dalam pekerjaan, dan makin terampil dalam memberikan pelayanan kepada klien.
c. Masa Kerja
Menurut Notoatmodjo pengalaman adalah guru yang baik, oleh sebab itu pengalaman identik dengan lama bekerja (masa kerja). Pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada pasien (klien). Hal ini dilakukan dengan cara mengulang
kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan
dikatakan, semakin lama seseorang bekerja semakin baik pula dalam memberikan pelayanan.
Sumber Daya Manusia yang dimaksud disini adalah tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit. Tenaga kesehatan adalah tenaga yang bertanggung jawab dalam mengisi rekam medis adalah dokter umum atau spesialis; dokter gigi atau dokter gigi spesialis; serta tenaga kesehatan lain yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara
langsung kepada pasien [13]
Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Tenaga kesehatan tertentu adalah tenaga kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien selain dokter dan dokter gigi.
Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter
gigi.[8] Menurut Prabowo pasien adalah orang yang karena kelemahan
fisik atau mentalnya menyerahkan pengawasan dan perawatannya, menerima dan mengikuti pengobatan yang diterapkan oleh tenaga kesehatan. Menurut Aditama pasien adalah mereka yang diobati di rumah sakit.[10]
4. Tempat Pendaftaran Pasien Gawat Darurat
Gawat darurat adalah suatu keadaan yang mana penderita memerlukan pemeriksaan medis segera, apabila tidak dilakukan akan berakibat fatal bagi penderita. Instalasi Gawat Darurat adalah salah satu unit di rumah sakit yang harus dapat memberikan playanan darurat kepada masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai dengan standar.
Petugas Pendaftaran Pasien Gawat Darurat memiliki tugas pokok antara lain :
a. Penerimaan pendaftaran pasien dan kegiatan pencatatan identifikasi pasien serta wawancara terhadap pasien yang akan berobat di Instalasi Gawat Darurat
b. Melakukan tugas pendaftaran pasien dengan melakukan wawancara,
memasukkan (entry) data pasien sesuai formulir data pribadi yang
telah diisi pasien atau keluarga pasien
c. Menyediakan formulir bagi pasien yang pertama kali berobat (pasien baru)
d. Mengarahkan keluarga pasien untuk menunggu di tempat yang telah disediakan dan menunggu panggilan selanjutnya guna di wawancara perihal kondisi pasien sebelum dibawa ke Instalasi Gawat Darurat e. Memberikan informasi pelayanan di Rumah sakit bagi yang
membutuhkan [4]
Tempat pendaftaran pasien gawat darurat adalah tempat pertama kali pasien dan keluarga pasien dilayani atau mendapatkan pelayanan
oleh petugas non medis. Dibagian pendaftaran petugas akan mencatat data identitas pasien dan memberikan informasi berkaitan dengan cara pendaftaran.
Registrasi pasien di instalasi gawat darurat sebagai suatu proses penerimaan pasien di instalasi gawat darurat untuk dapat diterima berobat di rumah sakit. Langkah-langkah proses regitrasi pasien :
a. Perawat Instalasi Gawat Darurat melakukan triase terhadap pasien
dan keluarga pasien melakukan proses pendaftaran pasien.
b. Sapa pasien atatu keluarga pasien atau pengunjung dengan senyum dan memberi salam.
c. Tanyakan kepada pasien tentang :
1) Apakah sudah pernah berobat di rumah sakit tersebut atau belum?
2) Apakah membawa surat pengantar dari doketer atau perusahaan? 3) Apakah ingin berobat ke poliklinik mana atau dokter siapa?
d. Setelah diketahui sebagai pasien baru, persilahkan keluarga pasien mengisi formulir pendaftaran secara lengkap sesuai dengan kartu pengenal atau identitas pasien dan menandatangaininya.
e. Jika diketahui sebagai pasien lama mintalah kartu berobat pasien dan surat pengantar atau rujukan jika pasien asuransi atau perusahaan untuk pembuatan SEP atau jaminan.
f. Input nomor rekam medis di komputer, setelah muncul identitas pasien di komputer cek kembali pastikan nomor rekam medis tersebut benar milik pasien yang akan berobat saat itu dengan cara tanyakan tempat dan tanggal lahir pasien, alamat dan nama keluarga.
g. Jika pasien baru buatkan kartu emboss
h. Serahkan kartu berobat pasien kepada pasien dan jelaskan untuk dibawa setiap kali berobat ke rumah sakit ini
i. Persilahkan pasien menunggu di poliklinik yang dituju dan sebutkan tempat letak poliklinik.
j. Siapkan satu bendel rekam medis pengkajian pasien Instalasi Gawat Darurat baru kemudian isi data pasien secara lengkap sesuai dengan formulir yang sudah diisi.
k. Tuliskan tanggal berobat dan serahkan rekam medis tersebut kepada perawat di Instalasi Gawat Darurat
l. Setelah pasien mendapat pelayanan di Iinstalasi Gawat Darurat oleh dokter yang memeriksa, perawat Iinstalasi Gawat Darurat cetak kuitansi untuk membayar biaya pengobatan dibagian kasir
m. Apabila setelah mendapat pelayanan di Instalasi Gawat Darurat, pasien disarankan rawat inap oleh dokter yang memeriksa maka ke
proses admisi pasien [14]
Dalam proses pelayanan yang terjadi ada beberapa tahapan atau komponen yang ada yaitu pengetahuan, sikap dan perilaku. Pengetahuan yaitu pengetahuan dari bidang atau pelayanan yang akan diberikan. Sikap yaitu bagaimana sikap kita atau petugas pemberi pelayanan dalam memberikan pelayanannya kepada pelanggan atau pasien. Dari ketiga komponen yang ada yang akan sangat membekas kepada pelanggan adalah bagaimana pemberi pelayanan tersebut dalam berperilaku melayani pelanggan. Orang berperilaku karena sikapnya yang secara jelas mendukung baik secara sukarela atau terpaksa, dan sikap itu
didasari oleh adanya pengetahuan yang dipunyai. Masalah akan timbul bila kita ingin memperoleh perilaku yang lebih baik dari biasanya, maka tidak akan tercapai bila tidak dapat menelaah sikap dan pengetahuannya. Loyalitas artinya tanggung jawab petugas atas perilaku melayani akan berperan bagi masa depan rumah sakit. Loyalitas tidak akan tumbuh bila mereka berbuat dalam keadaan terpaksa. Penanganan mulai dari pengetahuan, sikap dan perilaku secara stimulan akan mendekatkan
pada hasil yang lebih dapat diharapkan [12]
Perilaku melayani dapat dijabarkan atau dijalankan pada beberapa bentuk perilaku antara lain seperti dibawah ini :
a. Memberi perhatian
Memberi perhatian adalah awal dari perilaku melayani. Artinya tanpa menunggu diminta, tetapi secara sadar memberi perhatian. Misalnya ada pengunjung yang “celingukan” segera ditanya mengapa dan perlunya apa. Dengan demikian perlu didasari, petugas memberikan bukti adanya perhatian dengan memberi senyuman, mengucapkan salam. Perhatian merupakan unsur pokok setiap awal pertemuan
seseorang dengan orang lain, dan akan merupakan entery point yang
memperlancar perilaku selanjutnya. b. Mendengarkan dengan seksama
Ternyata mendengarkan dengan seksama memerlukan kesadaran dan kesabaran, terutama penting agar yang berbicara merasa didengar dan dihargai dengan wajar. Ada beberapa pegangan yang dapat membantu dalam mendengarkan yang tepat yaitu :
2) Berilah perhatian yang cukup
3) Jangan disela tapi jangan dibiarkan melantur 4) Tunjukan bahwa anda mendengarkan
Dengan didengar baik keluhan pasien akan berkurang, mungkin kemarahanpun sebagaian akan sirna, jadilah pendengar yang seksama, artinya dapat memenuhi empat hal diatas.
c. Mengerti kebutuhan
Waktu mendengarkan, maka diperlukan seksama agar dapat dimengerti apa maksud dan kebutuhan pasien dan keluarganya. Bila ragu-ragu tanyakan lagi sehingga jelas apa yang dimaksud dan dibutuhkan. Hal ini akan menghindari kesalahfahaman dan buang waktu yang percuma. Mengerti kebutuhan akan sangat memuasakan bagi yang sesuai, dan bila tidak akan sangat mengecewakan, dalam hal ini, perlu memahami keberadaan pelanggan mulai sejak kedatangan, sampai pulang dalam pelayanan yang tanggap dan positif.
d. Membantu yang diperlukan
Setelah mengerti, bantulah apa yang diperlukan dengan perilaku yang sigap dan tanggap, dalam hal ini diperhatikan hal-hal dibawah :
1) Tunjukan bahwa anda membantu dengan sungguh-sungguh 2) Berilah penjelasan secukupnya
3) Sampaikan permintaan maaf bila anda tidak dapat memenuhi 4) Bila berjanji penuhilah sewajarnya
Perlu diperhatikan hal yang akan mendukung seperti :
1) Pengembangan dan penciptaan prosedur yang bersahabat, relevan, hemat waktu dan tidak berbelit-belit.
2) Penyelesaian masalah secara jitu dan kreatif.
3) Menghadapi pelanggan secara bijaksana, dalam situasi yang sulit sekalipun.
e. Melihat hasil
Lihatlah hasil upaya yang telah anda lakukan, perhatikan tanda kepuasan atau kekecewaan pasien dan keluarganya dari tingkah laku, juga tutur kata yang diperoleh dan disampaikan. Kemudian nilai dan introspeksi diri, apa kekurangan dan kelebihan yang telah dilakukan. Bila ada kekurangan akuilah dan segera upayakan perbaiki, kemudian kalau perlu bantuan dan kalau ada keraguan jangan ragu bertanya
dan mempelajari dari buku. [12]
5. Ergonomi .
a. Pengertian Ergonomi
Ergonomi berasal dari bahasa latin yaitu Ergo dan Nomos.
Ergo artinya kerja dan Nomos artinya hukum alam Ergonomi adalah
ilmu yang penerapannya berusaha untuk menarasikan pekerjaan dan lingkungan, terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya. Ergonomi adalah komponen kegiatan dalam ruang lingkup hiperkes yang antara lain meliputi penyerasian pekerjaan terhadap tenaga kerja secara timbal
Pengertian ergonomi menurut Manuba adalah suatu upaya dalam bentuk ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan peralatan peralatan, mesin, pekerjaan, sistem, organisasi dan lingkungan dengan kemampuan , keahlian, dan keterbatasan manusia sehingga tercapai satu kondisi dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman, efisien dan produktif, melalui pemanfaatan fungsional tubuh manusia secara optimal dan maksimal. Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik. [16]
b. Tujuan Ergonomi
Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah :
1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
2) Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
3) Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap
sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan
kualitas hidup yang tinggi. [16]
c. Konsep Keseimbangan Dalam Ergonomi
Dari sudut pandang ergonomi, antara tuntutan tugas dengan kapasitas kerja harus selalu dalam garis keseimbangan sehingga dicapai performansi kerja yang tinggi. Dalam kata lain, tuntutan tugas
pekerjaan tidak boleh terlalu rendah (underload) dan juga tidak boleh
terlalu berlebihan (overload). Karena keduanya, baik underload
maupun overload akan menyebabkan stress.
1) Kemampuan Kerja, kemampuan seseorang sangat ditentukan oleh :
a) Personal Capacity (Karakteristik Pribadi); meliputi faktor usia, jenis kelamin, antropometri, pendidikan, pengalaman, status sosial, agama dan kepercayaan, status kesehatan, kesegaran tubuh.
b) Physiological Capacity (Kemampuan Fisoplogis); meliputi kemampuan dan daya tahan cardio-vascular, syaraf otot, panca indera.
c) Psycological Capacity (Kemampuan Psikologis); berhubungan dengan kemampuan mental, waktu reaksi, kemampuan adaptasi, stabilitas emosi
d) Biomechanical Capacity (Kemampuan Bio-mekanik) berkaitan dengan kemampuan dan data tahan sendi dan persendian, tendon dan jalinan tulang.
2) Tuntutan Tugas, tuntutan tugas pekerjaan atau aktivitas tergantung pada:
a) Task and material Characteristics (karakteristik tugas dan material); ditentukan oleh karakteristik peralatan dan mesin, tipe, kecepatan dan irama kerja.
b) Organization Characteristics; berhubungan dengan jam kerja dan jam istirahat, kerja malam dan bergilir, cuti dan libur, manajemen.
c) Enviorment Characteristics; berkaitan dengan manusia teman setugas, satu dan kelembaban, bising dan getaran,
penerangan, sosio-budaya, tabu, norma, adat dan kebiasaan, bahan-bahan pencemar.
3) Performansi, atau tampilan seseorang sangat tergantung kepada rasio dari besarnya tuntutan tugas dengan besarnya kemampuan yang bersangkutan. Dengan demikian, apabila :
a) Bila rasio tuntutan tugas lebih besar daripada kemampuan seseorang atau kapasitas kerjanya, maka akan terjadi
penampilan akhir berupa ketidaknyamanan “overstress”,
kelelahan, kecelakaan, cedera, rasa sakit, penyakit, dan tidak produktif.
b) Sebaliknya, bila tuntutan tugas lebih rendah daripada kemampuan seseorang atau kapasitas kerjanya, maka akan
terjadi penampilan akhir berupa “understress”, kebosanan,
kejemuan, kelesuan, sakit dan tidak produktif.
c) Agar penampilan menjadi optimal maka adanya
keseimbangan dinamis antara tuntutan dengan kemampuan yang dimiliki sehingga tercapai kondisi dan lingkungan yang
sehat, aman, nyaman, dan produktif. [16]
d. Kapasitas Kerja
Menurut manuba untuk mencapai tujuan ergonomi seperti yang telah dikemukan, maka perlu keserasian antara pekerja dan pekerjannya, sehingga manusia pekerja dapat bekerja sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasannya. Secara umum kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia ditentukan oleh berbagai faktor yaitu : umur, jenis kelamin, ras, antropometri, status
kesehatan, gizi, kesegaran jasmani, pendidikan, keterampilan,
budaya, tingkah laku, kebiasaan, dan kemampuan beradaptasi. [16]
e. Waktu Bekerja
Organisasi kerja terutama menyangkut waktu kerja, waktu istirahat, sistem kerja harian atau borongan, masuk kerja dan insentif dapat berpengaruh terhadap produktivitas, baik langsung maupun tidak langsung. Menurut Manuba menjelaskan bahwa jam kerja berlebihan, jam kerja lembur di luar batas kemampuan akan dapat
mempercepat munculnya kelelahan, menurunkan ketepatan,
kecepatan dan ketelitian kerja. [16]
Bekerja adalah pengerahan tenaga dan penggunaan organ tubuh secara terkoordinasi. Menurut sifatnya bekerja adalah
anabolisme, yaitu menggunakan atau memakai bagian-bagian tubuh
yang telah dibangun.[15] Jumlah jam kerja yang efisien untuk seminggu
adalah antara 40-48 jam yang terbagi dalam 5 atau 6 hari kerja. Maksimum waktu kerja tambahan yang masih efisien adalah 30 menit. Sedangkan di antara waktu kerja harus disediakan waktu istirahat yang jumlahnya antara 15-30% dari seluruh waktu kerja. Apabila jam kerja melebihi dari ketentuan tersebut akan ditemukan hal-hal seperti, penurunan kecepatan kerja, gangguan kesehatan, angka absensi karena sakit meningkat, yang kesemuannya akan bermuara kepada
rendahnya tingkat produktivitas kerja. [16]
f. Beban Kerja
Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik terhadap
kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Kemampuan kerja seseorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkat keterampilan. Kebugaran jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran tubuh dari pekerja yang bersangkutan. Menurut Rodahl, Adipura dan Manuba bahwa secara umum hubungan antara beban kerja dan kapasitas kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, baik faktor internal maupun faktor eksternal.[16]
Faktor Beban Kerja oleh Karena Faktor Eksternal
Faktor eksternal beban kerja adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja. Yang termasuk beban kerja eksternal adalah tugas
(task) itu sendiri, organisasi dan lingkungan kerja.
1) Tugas-tugas (tasks) yang dilakukan baik yang bersifat fisik seperti,
stasiun kerja, tata ruang tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi atau medan kerja, tata ruang tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi atau mean kerja, sikap kerja, cara angkat-angkut, beban yang diangkat-angkut, alat bantu kerja, sarana informasi
termasik display dan control, alur kerja dan lain-lain. Sedangkan
tugas-tugas yang bersifat mental seperti, kompleksitas pekerjaan atau tingkat kesulitan pekerjaan yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja, tanggung jawab terhadap pekerjaan.
2) Organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja seperti, lamanya waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam,
sistem pengupahan, sistem kerja, musik kerja, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang.
3) Lingkungan kerja yang dapat memberikan beban kerja tambahan kepada pekerja adalah:
a) Lingkungan kerja fisik b) Lingkungan kerja kimiawi c) Lingkungan kerja biologi d) Lingkungan kerja osikologis
Faktor Beban Kerja oleh Karena Faktor Internal
Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Reaksi tubuh tersebut dikenal sebagai strain. Berat ringannya strain dapat dinilai baik secara objektif maupun subjektif. Penilaian secara objektif yaitu melalui perubahan reaksi fisiologis. Sedangkan penilaian secara subjektif dapat dilakukan melalui perubahan reaksi psikologis dan perubahan perilaku. Faktor internal meliputi :
1) Faktor somatik (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan, status gizi)
2) Faktor psikis (motivasi, presepsi, kepercayaan, keinginan,
kepuasan) [16]
g. Kelelahan
Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan menurut Grandjen secara umum biasanya
ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh karena monotomi, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, sebab-sebab mental, status kesehatan dan
keadaan gizi.[16] Lelah bagi setiap orang akan mempunyai arti
tersendiri dan tentu saja subjektif sifatnya. Lelah merupakan perasaan. Kelelahan di sini adalah aneka kedaan yang disertai
penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja. [15]
h. Produktivitas Kerja
Menurut Sodomo produktivitas pada dasarnya merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hati ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari ini dikerjakan untuk hari esok. Produktivitas adalah suatu konsep universal yang menciptakan lebih banyak barang dan jasa bagi kebutuhan manusia, dengan menggunakan sumber daya yang serba terbatas.[16]
Menurut Soeripto, Chew, dan Pheasant, konsep umum dari produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) per satuan waktu. Produktivitas dapat dikatakan meningkat apabila : 1) jumlah produksi atau keluaran meningkat dengan jumlah masukan atau sumber daya yang sama; 2) jumlah produksi atau keluaran sama atau meningkat dengan jumlah masukan atau sumber daya lebih kecil; dan 3) produksi atau keluaran meningkat diperoleh dengan penambahan sumber daya yang relatif kecil. Menurut Manuba peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan menekan sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk
dalam memanfaatkan sumber daya manusia (do the right thing) dan
meningkatkan keluaran sebesar-besarnya (do the thing right). Dengan
kata lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan dari tingkat efisiensi dan efektifitas kerja secara total. [16]
Pengukuran produktivitas secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1) Produktivitas total, adalah perbandingan antara total keluaran
output dengan total masukan input per satu satuan waktu. dalam penghitungan produktivitas total, semua faktor masukan (tenaga
kerja, capital, bahan, energy) terhadap total keluaran harus
diperhatikan.
2) Produktivitas parsial, adalah perbandingan dari keluaran dengan satu jenis masukan atau input per satuan waktu, seperti upah
tenga kerja, capital, bahan, energy, beban kerja.
Dapat ditegaskan bahwa, dari sudut pandang ergonomi bahwa peningkatan produktivitas kerja adalah berbeda dari peningkatan produksi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja
Menurut Soedirman dan Tarwaka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja secara umum.
1) Motivasi
Merupakan kekuatan atau motor pendorong kegiatan seseorang kearah tujuan tertentu dan melibatkan segala kemampuan yang dimiliki untuk mencapainya.
2) Kedisiplinan
Merupakan sikap mental yang tercermin dalam perbuatan tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah yang berlaku.
3) Etos Kerja
Merupakan salah satu faktor penentu produktivitas, karena etos kerja merupakan pandangan untuk menilai sejauh mana kita melakukan suatu pekerjaan dan terus berupaya untuk mencapai hasil yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. 4) Keterampilan
Faktor keterampilan baik keterampilan teknis maupun manejerial sangat menentukan tingkat pencapaian produktivitas. Dengan demikian setiap individu selalu dituntut untuk terampil dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terutama dalam perubahan teknologi mutakir.
5) Pendidikan
Tingkat pendidikan harus selalu dikembangkan baik melalui jalur pendidikan formal maupun informal. Karena setiap penggunaan teknologi hanya akan dapat kita kuasai dengan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang handal.
Menurut Manuba mengemukakan bahwa faktor alat, cara dan
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah ; a. Pekerjaan yang menarik
b. Upah yang baik
c. Keamanan dan perlindungan dalam pekerjaan d. Penghayatan atas maksud dan makna pekerjaan
e. Lingkungan kerja (penerangan, ketenangan, perangkat kerja, seperti tempat duduk, dan meja kerja, sirkulasi udara, dan sebagainya) yang baik
f. Promosi dan pengembangan diri karyawan sejalan dengan perkembangan perusahaan
g. Keterlibatan karyawan dalam kegiatan-kegiatan organisasi h. Pengertian dan simpati atas persoalan-persoalan pribadi i. Kesetiaan pimpinan dalam diri karyawan
j. Disiplin kerja yang keras [17]
6. Mutu
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mutu diartikan ukuran baik buruk dari suatu benda, kadar dan taraf atau derajat kecerdasan, kepandaian serta kualitas.
Pelayanan adalah produk yang dihasilkan oleh suatu organisasi dapat menghasilkan barang atau jasa atau merupakan aktifitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual, sehingga dapat dikatakan bahwa pelayanan itu merupakan suatu aktifitas yang ditawarkan dan menghasilkan sesuatu yang tidak berwujud namun dapat dinikmati atau dirasakan.
Menurut Azwar tentang mutu pelayanan kesehatan adalah derajat dipenuhinya kebutuhan masyarakat atau perorangan terhadap asuhan
kesehatan yang sesuai dengan standar profesi yang baik dengan pemanfaatan sumber daya secara wajar, efisien, efektif dalam
keterbatasan kemampuan pemerintah dan masyarakat serta
diselenggarakannya secara aman dan memuaskan pelanggan sesuai dengan norma dan etika yang baik. Mutu pelayanan menurut Wyckof adalah tingkat keunggulan pelayanan yang diharapkan dan pengendalian tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan dari pelanggan. Menurut Purnomo mutu pelayanan kesehatan adalah kesesuaian pelayanan kesehatan dengan standar profesi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara baik, sehingga semua kebutuhan pelanggan dan tujuan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dapat tercapai. Mutu Pelayanan di rumah sakit adalah produk akhir dari interaksi yang rumit antara berbagai komponen atau aspek pekayanan.
[10]
Penilaian mutu pelayanan kesehatan dapat ditinjau dari sisi : a. Pemakaian jasa pelayanan kesehatan (pasien atau masyarakat)
Pelayanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakan dan diselenggarakan dengan cara sopan santun, tepat waktu, tanggap dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit.
b. Penyelenggara pelayanan kesehatan
Mutu pelayanan lebih terkait pada dimensi kesesuaian pelayanan dengan lebih terkait pada dimensi kesesuaian pelayanan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir dan atau otomnomi profesi dalam menyelenggarakan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan pasien dan bagaimana luaran dari hasil pelayanan kesehatan tersebut.
c. Bagi penyandang dana atau asuransi kesehatan
Menganggap bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu sebagai suatu pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien, dan pasien diharapkan dapat sembuh dalam waktu sesingkat mungkin, dan penekanan terhadap angka rujukan hingga biaya pelayanan kesehatan dan dapat menjadi efisien.
d. Bagi pemilik sarana kesehatan
Mempunyai persepsi bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu sebagai pelayanan kesehatan yang menghasilkan pendapatan yang mampu menutupi biaya operasional dan pemeliharaan, tetapi dengan tarif pelayanan yang masih terjangkau oleh pasien atau masyarakat, yaitu pada tingkat dimana belum terdapat keluhan pasien dan masyarakat.
e. Bagi administrator pelayanan kesehatan
Meski secara tidak langsung memberika pelayanan kesehatan, namun ikut bertanggungjawab dengan cara memusatkan perhatian pada dimensi mutu tertentu atau dapat membantu administrator pelayanan kesehatan menyusun prioritas serta mampu menyediakan kebutuhan dan harapan pasien dan penyedia pelayanan kesehatan.
Sepuluh dimensi dalam penilaian mutu pelayanan :
a. Tangibles (berwujud) b. Reliability (andal)
d. Competence (kemampuan) e. Courtesy (ramah)
f. Credibility (jujur)
g. Security (keamanan, bebas terhadap risiko) h. Access (mudah dihubungi)
i. Communication (informasi yang adekuat)
j. Understanding the costumer (penuh pengertian terhadap pelanggan)
Penilaian mutu pelayanan dirangkum dalam dimensi SERVQUAL, meliputi :
a. Tangibles (berwujud), meliputi fasilitas fisik, peralatan, pegawai, dan sarana komunikasi.
b. Reliability (andal), kemampuan untuk memberi pelayanan sesuai janji dengan segera, memuaskan dan akurat.
c. Responsiveness (daya tangkap), keinginan dalam bentuk tanggung jawab untuk membantu pelanggan dan memberi pelayanan dengan tanggap.
d. Assurance (jaminan), mencakup pengetahuan, kemampuan, ketulusan, kesopanan dan dapat dipercaya pelanggan, sehingga pelanggan merasa yakin, bebas dari risiko bahaya atau keragu-raguan.
e. Empathy (perhatian), kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi, perhatian dan peduli serta memahami kebutuhan dari pelanggan.
Aspek-aspek pengukuran mutu dalam lingkungan pelayanan kesehatan meliputi ;
a. Ketepatan waktu tunggu, waktu tindakan termasuk akses pelayanan b. Informasi, penjelasan terhadap pelanggan dari pertanyaan apa,
mengapa, bagaimana, kapan, siapa
c. Kompetensi teknis, termasuk didalamnya pengetahuan kedokteran, keperawatan, obat, keterampilan dan pengalaman
d. Hubungan antar manusia, termasuk rasa hormat, sopan santun, perilaku, empati
e. Lingkungan, termasuk gedung, taman, kebersihan, kenyamanan dan keamanan.
Menurut Parasuraman dkk, menyatakan ada dua faktor utama yang mempengaruhi mutu pelayanan yaitu pelayanan yang diharapkan
(expected service) dan pelayanan yang dirasakan (perceived service). Jika pelayanan yang dirasakan sesuai dengan yang diharapkan dapat dipresepsikan pelayanan memuasakan. Apabila pelayanan yang dirasakan sesuai dengan yang dirasakan melampaui pelayanan yang diharapkan, maka dapat dipersepsikan sebagai pelayanan ideal, tetapi apabila pelayanan yang dirasakan lebih rendah dari yang diharapkan maka dapat dipresepsikan mutu pelayanan buruk.
Kepuasan pasien merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya. Tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Tjiptono berpendapat bahwa kepuasan atau ketidakpuasan merupakan respon pelanggan sebagai
hasil dan evaluasi ketidaksesuaian kinerja atau tindakan yang dirasakan sebagai akibat dari tidak terpenuhinya harapan. Pada dasarnya harapan klien adalah perkiraan atau keyakinan klien tentang pelayanan yang diterimanya akan memenuhi harapanya. Sedangkan hasil kinerja akan dipersepsikan oleh klien.
Berdasarkan Kepmenpan Nomor 63 Tahun 2003, unsur minimal yang dijadikan dasar pengukuran indeks kepuasan pasien adalah sebagai berikut :
a. Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan.
b. Persyaratan pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratife yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanan
c. Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan (nama, jabatan serta kewenangan dan tanggung jawabnya)
d. Kedisiplinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
e. Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyesuaian pelayanan.
f. Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan keterampilan yang memberikan atau menyelesaikan pelayanan kepada pasien
g. Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan
h. Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan atau status pasien yang dilayani i. Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dab menghormati
j. Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit pelayanan
k. Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan
l. Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan
m. Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima pelayanan
n. Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan
unit penyelenggara pelayanan ataupun sarana yang digunakan. [10]
7. Pengawasan dan Pengendalian
Kinerja Sumber Daya Manusia merupakan istilah yang berasal