• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

A. Dasar Teori

5. Ergonomi

a. Pengertian Ergonomi

Ergonomi berasal dari bahasa latin yaitu Ergo dan Nomos.

Ergo artinya kerja dan Nomos artinya hukum alam Ergonomi adalah

ilmu yang penerapannya berusaha untuk menarasikan pekerjaan dan lingkungan, terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya. Ergonomi adalah komponen kegiatan dalam ruang lingkup hiperkes yang antara lain meliputi penyerasian pekerjaan terhadap tenaga kerja secara timbal balik untuk efisiensi dan kenyamanan kerja.[15]

Pengertian ergonomi menurut Manuba adalah suatu upaya dalam bentuk ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan peralatan peralatan, mesin, pekerjaan, sistem, organisasi dan lingkungan dengan kemampuan , keahlian, dan keterbatasan manusia sehingga tercapai satu kondisi dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman, efisien dan produktif, melalui pemanfaatan fungsional tubuh manusia secara optimal dan maksimal. Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik. [16]

b. Tujuan Ergonomi

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah :

1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

2) Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.

3) Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap

sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi. [16]

c. Konsep Keseimbangan Dalam Ergonomi

Dari sudut pandang ergonomi, antara tuntutan tugas dengan kapasitas kerja harus selalu dalam garis keseimbangan sehingga dicapai performansi kerja yang tinggi. Dalam kata lain, tuntutan tugas pekerjaan tidak boleh terlalu rendah (underload) dan juga tidak boleh terlalu berlebihan (overload). Karena keduanya, baik underload maupun overload akan menyebabkan stress.

1) Kemampuan Kerja, kemampuan seseorang sangat ditentukan oleh :

a) Personal Capacity (Karakteristik Pribadi); meliputi faktor usia, jenis kelamin, antropometri, pendidikan, pengalaman, status sosial, agama dan kepercayaan, status kesehatan, kesegaran tubuh.

b) Physiological Capacity (Kemampuan Fisoplogis); meliputi kemampuan dan daya tahan cardio-vascular, syaraf otot, panca indera.

c) Psycological Capacity (Kemampuan Psikologis); berhubungan dengan kemampuan mental, waktu reaksi, kemampuan adaptasi, stabilitas emosi

d) Biomechanical Capacity (Kemampuan Bio-mekanik) berkaitan dengan kemampuan dan data tahan sendi dan persendian, tendon dan jalinan tulang.

2) Tuntutan Tugas, tuntutan tugas pekerjaan atau aktivitas tergantung pada:

a) Task and material Characteristics (karakteristik tugas dan material); ditentukan oleh karakteristik peralatan dan mesin, tipe, kecepatan dan irama kerja.

b) Organization Characteristics; berhubungan dengan jam kerja dan jam istirahat, kerja malam dan bergilir, cuti dan libur, manajemen.

c) Enviorment Characteristics; berkaitan dengan manusia teman setugas, satu dan kelembaban, bising dan getaran,

penerangan, sosio-budaya, tabu, norma, adat dan kebiasaan, bahan-bahan pencemar.

3) Performansi, atau tampilan seseorang sangat tergantung kepada rasio dari besarnya tuntutan tugas dengan besarnya kemampuan yang bersangkutan. Dengan demikian, apabila :

a) Bila rasio tuntutan tugas lebih besar daripada kemampuan seseorang atau kapasitas kerjanya, maka akan terjadi penampilan akhir berupa ketidaknyamanan “overstress”, kelelahan, kecelakaan, cedera, rasa sakit, penyakit, dan tidak produktif.

b) Sebaliknya, bila tuntutan tugas lebih rendah daripada kemampuan seseorang atau kapasitas kerjanya, maka akan terjadi penampilan akhir berupa “understress”, kebosanan, kejemuan, kelesuan, sakit dan tidak produktif.

c) Agar penampilan menjadi optimal maka adanya keseimbangan dinamis antara tuntutan dengan kemampuan yang dimiliki sehingga tercapai kondisi dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman, dan produktif. [16]

d. Kapasitas Kerja

Menurut manuba untuk mencapai tujuan ergonomi seperti yang telah dikemukan, maka perlu keserasian antara pekerja dan pekerjannya, sehingga manusia pekerja dapat bekerja sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasannya. Secara umum kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia ditentukan oleh berbagai faktor yaitu : umur, jenis kelamin, ras, antropometri, status

kesehatan, gizi, kesegaran jasmani, pendidikan, keterampilan, budaya, tingkah laku, kebiasaan, dan kemampuan beradaptasi. [16]

e. Waktu Bekerja

Organisasi kerja terutama menyangkut waktu kerja, waktu istirahat, sistem kerja harian atau borongan, masuk kerja dan insentif dapat berpengaruh terhadap produktivitas, baik langsung maupun tidak langsung. Menurut Manuba menjelaskan bahwa jam kerja berlebihan, jam kerja lembur di luar batas kemampuan akan dapat mempercepat munculnya kelelahan, menurunkan ketepatan, kecepatan dan ketelitian kerja. [16]

Bekerja adalah pengerahan tenaga dan penggunaan organ tubuh secara terkoordinasi. Menurut sifatnya bekerja adalah

anabolisme, yaitu menggunakan atau memakai bagian-bagian tubuh

yang telah dibangun.[15] Jumlah jam kerja yang efisien untuk seminggu adalah antara 40-48 jam yang terbagi dalam 5 atau 6 hari kerja. Maksimum waktu kerja tambahan yang masih efisien adalah 30 menit. Sedangkan di antara waktu kerja harus disediakan waktu istirahat yang jumlahnya antara 15-30% dari seluruh waktu kerja. Apabila jam kerja melebihi dari ketentuan tersebut akan ditemukan hal-hal seperti, penurunan kecepatan kerja, gangguan kesehatan, angka absensi karena sakit meningkat, yang kesemuannya akan bermuara kepada rendahnya tingkat produktivitas kerja. [16]

f. Beban Kerja

Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik terhadap

kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. Kemampuan kerja seseorang tenaga kerja berbeda dari satu kepada yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkat keterampilan. Kebugaran jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran tubuh dari pekerja yang bersangkutan. Menurut Rodahl, Adipura dan Manuba bahwa secara umum hubungan antara beban kerja dan kapasitas kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, baik faktor internal maupun faktor eksternal.[16]

Faktor Beban Kerja oleh Karena Faktor Eksternal

Faktor eksternal beban kerja adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja. Yang termasuk beban kerja eksternal adalah tugas

(task) itu sendiri, organisasi dan lingkungan kerja.

1) Tugas-tugas (tasks) yang dilakukan baik yang bersifat fisik seperti, stasiun kerja, tata ruang tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi atau medan kerja, tata ruang tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi atau mean kerja, sikap kerja, cara angkat-angkut, beban yang diangkat-angkut, alat bantu kerja, sarana informasi termasik display dan control, alur kerja dan lain-lain. Sedangkan tugas-tugas yang bersifat mental seperti, kompleksitas pekerjaan atau tingkat kesulitan pekerjaan yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja, tanggung jawab terhadap pekerjaan.

2) Organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja seperti, lamanya waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam,

sistem pengupahan, sistem kerja, musik kerja, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang.

3) Lingkungan kerja yang dapat memberikan beban kerja tambahan kepada pekerja adalah:

a) Lingkungan kerja fisik b) Lingkungan kerja kimiawi c) Lingkungan kerja biologi d) Lingkungan kerja osikologis

Faktor Beban Kerja oleh Karena Faktor Internal

Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Reaksi tubuh tersebut dikenal sebagai strain. Berat ringannya strain dapat dinilai baik secara objektif maupun subjektif. Penilaian secara objektif yaitu melalui perubahan reaksi fisiologis. Sedangkan penilaian secara subjektif dapat dilakukan melalui perubahan reaksi psikologis dan perubahan perilaku. Faktor internal meliputi :

1) Faktor somatik (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan, status gizi)

2) Faktor psikis (motivasi, presepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan) [16]

g. Kelelahan

Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan menurut Grandjen secara umum biasanya

ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh karena monotomi, intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, sebab-sebab mental, status kesehatan dan keadaan gizi.[16] Lelah bagi setiap orang akan mempunyai arti tersendiri dan tentu saja subjektif sifatnya. Lelah merupakan perasaan. Kelelahan di sini adalah aneka kedaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja. [15]

h. Produktivitas Kerja

Menurut Sodomo produktivitas pada dasarnya merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hati ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari ini dikerjakan untuk hari esok. Produktivitas adalah suatu konsep universal yang menciptakan lebih banyak barang dan jasa bagi kebutuhan manusia, dengan menggunakan sumber daya yang serba terbatas.[16]

Menurut Soeripto, Chew, dan Pheasant, konsep umum dari produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) per satuan waktu. Produktivitas dapat dikatakan meningkat apabila : 1) jumlah produksi atau keluaran meningkat dengan jumlah masukan atau sumber daya yang sama; 2) jumlah produksi atau keluaran sama atau meningkat dengan jumlah masukan atau sumber daya lebih kecil; dan 3) produksi atau keluaran meningkat diperoleh dengan penambahan sumber daya yang relatif kecil. Menurut Manuba peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan menekan sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk

dalam memanfaatkan sumber daya manusia (do the right thing) dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya (do the thing right). Dengan kata lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan dari tingkat efisiensi dan efektifitas kerja secara total. [16]

Pengukuran produktivitas secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1) Produktivitas total, adalah perbandingan antara total keluaran

output dengan total masukan input per satu satuan waktu. dalam

penghitungan produktivitas total, semua faktor masukan (tenaga kerja, capital, bahan, energy) terhadap total keluaran harus diperhatikan.

2) Produktivitas parsial, adalah perbandingan dari keluaran dengan satu jenis masukan atau input per satuan waktu, seperti upah tenga kerja, capital, bahan, energy, beban kerja.

Dapat ditegaskan bahwa, dari sudut pandang ergonomi bahwa peningkatan produktivitas kerja adalah berbeda dari peningkatan produksi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja

Menurut Soedirman dan Tarwaka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja secara umum.

1) Motivasi

Merupakan kekuatan atau motor pendorong kegiatan seseorang kearah tujuan tertentu dan melibatkan segala kemampuan yang dimiliki untuk mencapainya.

2) Kedisiplinan

Merupakan sikap mental yang tercermin dalam perbuatan tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah yang berlaku.

3) Etos Kerja

Merupakan salah satu faktor penentu produktivitas, karena etos kerja merupakan pandangan untuk menilai sejauh mana kita melakukan suatu pekerjaan dan terus berupaya untuk mencapai hasil yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. 4) Keterampilan

Faktor keterampilan baik keterampilan teknis maupun manejerial sangat menentukan tingkat pencapaian produktivitas. Dengan demikian setiap individu selalu dituntut untuk terampil dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terutama dalam perubahan teknologi mutakir.

5) Pendidikan

Tingkat pendidikan harus selalu dikembangkan baik melalui jalur pendidikan formal maupun informal. Karena setiap penggunaan teknologi hanya akan dapat kita kuasai dengan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang handal.

Menurut Manuba mengemukakan bahwa faktor alat, cara dan lingkungan kerja sangat berpengarauh terhadap produktivitas.[16]

Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah ; a. Pekerjaan yang menarik

b. Upah yang baik

c. Keamanan dan perlindungan dalam pekerjaan d. Penghayatan atas maksud dan makna pekerjaan

e. Lingkungan kerja (penerangan, ketenangan, perangkat kerja, seperti tempat duduk, dan meja kerja, sirkulasi udara, dan sebagainya) yang baik

f. Promosi dan pengembangan diri karyawan sejalan dengan perkembangan perusahaan

g. Keterlibatan karyawan dalam kegiatan-kegiatan organisasi h. Pengertian dan simpati atas persoalan-persoalan pribadi i. Kesetiaan pimpinan dalam diri karyawan

j. Disiplin kerja yang keras [17]

Dokumen terkait