• Tidak ada hasil yang ditemukan

NASKAH Buku Pintar Export Indonesia Edited 3 Des 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NASKAH Buku Pintar Export Indonesia Edited 3 Des 2013"

Copied!
269
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Buku Pintar Ekspor Indonesia

Penulis: Agoes Junaedy & Adi Kusrianto Associated Editor Adi Kusrianto

© 2014 pada penulis

(3)

T

ERSTIMONI

“Buku yang ditulis oleh pak Agoes Junaedy dan pak Adi Kusrianto ini sangat luar biasa, berisi berbagai penjelasan masalah export yang dilandasi oleh praktek sehari-hari. Oleh sebab itu sangat sayang bagi para pembaca yang memiliki keinginan melakukan export produk yang

dihasilkannya dengan tidak membaca buku ini. Saya sangat mereferensikan buku ini digunakan oleh berbagai kalangan yang berminat mengexport produk-produknya.”

Frans M. Royan, SE,MM – Managing Director pada Groedu International

Consultant, Penulis 40 buku sales & Distribution penerbit PT. Gramedia Group dan Entrepreneur In Residence Universitas Ciputra Surabaya.

"Buku ini sangat bagus karena memberikan petunjuk teknis tentang seluk beluk ekspor secara komprehensif dan sangat layak dijadikan referensi bagi para pelaku ekspor dan akademisi di dunia pendidikan"

Dr. Oscar Wijaya,SE.,MM

Director Arta Prima Samudra dan Pembantu Direktur II ASMI Surabaya “Perdagangan Internasional saat ini sudah merupakan hal yang wajib dilakukan untuk para Entrepreneur jika ingin mengembangkan bisnisnya. Sudah tidak jaman lagi menjalankan bisnis, memenangkan persaingan, tetapi jago kandang. Buku ini menjelaskan perdagangan internasional khususnya ekspor yang mudah dipahami oleh siapa saja mulai dari mahasiswa, profesional, maupun para Entrepreneur. Anda akan rugi jika tidak membaca dan memiliki buku ini..”

Dr. Yusak Anshori, MM, CSEP

Dekan Fakultas Entrepreneurial Business Universitas Ciputra dan Pelaku Bisnis.

(4)

“Benar-benar lengkap informasi yang tersaji di buku ini. Dari permasalahan kebijakan pemerintah, urusan LC dan Perbankan, Dokumentasi, Logistik melalui laut dan udara. Bahkan saya semakin mengerti urusan Freight Forwarding sampai ke pelabuhan mana saya harus mengirim”

Dicky Sumitro, Founder & CEO PT Embroytex Jaya, Driyorejo, Gresik.

"Buku Pintar Ekspor Indonesia ini sangat sesuai digunakan sebagai acuan oleh para mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah " Ekspor, dan juga para praktisi yang ingin mengenal lebih jauh seluk beluk untuk proses ekspor. Karena buku ini menjelaskan proses ekpor dengan sangat sederhana dan mudah diikuti"

Dr. Tina Melinda, MM

Head of Magister Management of Entrepreneurship, Universitas Ciputra. Saya kenal Agoes Junaedy dan Adi Kusrianto sebagai Entrepreneur in Residence di Universitas Ciputra (UC), partner saya sebagai mentor dan fasilitator bagi banyak proyek bisnis mahasiswa, khususnya bidang ekspor impor. Agoes Junaedy dan Adi Kusrianto telah banyak

memberikan mentorship dan konsultasi berdasarkan pengalaman mereka di bidang ekspor impor yang selama ini mereka geluti. Buku Pintar Ekspor Indonesia ini merupakan sarana/kendaraan untuk pendokumentasian akan apa yang telah Agoes dan Adi hidupi selama puluhan tahun, bekerja dan berkarya di bidang ekspor impor. Saya percaya buku ini akan memberikan nilai tambah bagi wawasan pengetahuan semua pihak, khususnya bagi perkembangan bisnis para mahasiswa dan juga bisnis rekan-rekan termasuk saya pribadi. Bagi rekan-rekan yang tertarik melakukan bisnis ekspor, buku ini layak dibaca sebagai dasar pemahaman untuk memasuki dunia bisnis global. Sukses selalu buat Agoes Junaedy dan Adi Kusrianto.

Salam Entrepreneur.

Inge Gunawan, S.E., M.Si., CMA. Vice Dean – Faculty of Entrepreneurial

Business, UC

(5)

Buku ini sangat detil lugas dan jelas hingga bisa membantu para begginers untuk pendampingan transaksi export yang akan mereka lakukan Bisa diandalkan sebagai "Manual Handbook Export Procedure" apabila saya tidak berlebihan

Bagus A. Lesmana, Owner Grandjava Furniture

(6)

Prakata

Pada tahun 2003 negara-negara ASEAN telah menyepakati membentuk “Komunitas ASEAN”. Komunitas ini terdiri atas tiga pilar, yaitu Komunitas Ekonomi ASEAN, Komunitas Keamanan ASEAN dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN. Semangat integrasi ini antaralain dilandasi prinsip people to people interaction dan bukan lagi state to state interaction.

Dari kesepakatan ini pada tahun 2015 implementasi Komunitas Ekonomi ASEAN akan terwujud. Artinya ASEAN akan menjadi basis pasar tunggal yang lebih dinamis dan kompetitif. Disini seluruh penduduk Asia Tenggara tidak lagi dibatasi oleh batas-batas negara (stste boundaries), sehingga penjual Mie Singapore yang ada di ujung gang rumah kita bukan hanya namanya yang suka sok luar negeri, tapi penjualnya benar-benar Mr. Tan dari Singapore. Demikian juga penjual Soto Madura di Serangon Road benar-benar Cak Mat asli Madura. Salah satu persiapan yang wajib kita miliki adalah membuka wawasan agar orang Indonesia tidak lagi memiliki pandangan yang tertutup terhadap perubahan yang segera akan terjadi. Perdagangan internasional (antar negara) yang akan segera kita hadapi adalah hal nyata yang mau tidak mau, senang tidak senang akan terjadi. Menjual produk keluar negeri yang umum disebut kegiatan ekspor akan menjadi hal yang wajar dan lumrah dikerjakan oleh semua pengusaha Indonesia. Bukan lagi monopoli perusahaan besar dan menengah saja, tetapi juga perusahaan mikro dan kecil.

Keengganan untuk melakukan ekspor umumnya terkendala oleh ketidak tahuan prosedur ekspor, ketidak mampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, serta tidak dikenalnya chanel-chanel yang perlu dihubungi untuk menawarkan produk. Indonesia adalah raksasa ASEAN yang memiliki potensi terbesar berupa jumlah penduduk serta resource,

(7)

dimana ini merupakan posisi tawar yang tinggi pada Komunitas Ekonomi ASEAN. Kekuatan ini justru akan berbalik menjadi kelemahan apabila pasar konsumen Indonesia hanya dinikmati pengusaha ASEAN lain, sementara produk Indonesia tidak mampu bersaing di negara lain. Kontribusi ekspor dari kalangan UMKM hingga tahun 2013 mencapai 18% (tahun 2009 pernah mencapai 19,7%) perlu mendapatkan dukungan yang lebih memadai. Dalam kesiapan menghadapi ekspor, rata-rata pelaku UMKM atau perusahaan yang merintis usaha memasuki pasar global masih terbagi menjadi dua, yaitu:

• Mereka yang sudah mampu menjual produknya ke luar negeri tetapi melalui pihak lain, yaitu broker maupun dengan bantuan pemerintah dalam usaha mempromosikan komoditas Indonesia ke luar negeri. Tetapi mereka belum mampu mencari pembeli secara langsung ataupun menyelenggarakan ekspor sendiri.

• Mereka yang merintis untuk mencari dan mengembangkan konsumen luar negeri dan berusaha melakukan ekspor sendiri tetapi masih memerlukan pendampingan.

Untuk memperlancar urusan bisnisnya, para pengusaha dituntut untuk memiliki pengetahuan yang cukup mengenai prosedur ekspor, baik dari kepabeanan, shipping maupun perbankan, yang semuanya ini saling terkait dan kadangkala sering terjadi masalah yang tidak terduga dilapangan. Buku Pintar Ekspor Indonesia ini disusun untuk memberikan ketrampilan dan pemahaman yang mendalam mengenai prosedur ekspor secara terpadu baik dari sisi Kepabeanan, Shipping dan Perbankan.

Cara pembayaran menggunakan Letter of Credit dikupas tuntas lengkap dengan keuntungan kerugian, serta bagaimana cara mengatasi kesulitan dalam menggunakan L/C. Uraian pembayaran Non L/C juga di bahas lengkap. Proses pengiriman barang melalui berbagai macam teknik baik melalui laut maupun udara. Dokumentasi ekspor juga memperoleh porsi pembahasan yang tidak kalah luasnya, dimulai berbagai macam sertifikasi yang diperlukan, hingga kelengkapan dokumen pengapalan dan kepastian pemberangkatan barang yang akan di ekspor serta dokumen-dokumen yang diperlukan untuk negosiasi ke bank.

Anda juga akan menemukan teknik dasar yang sangat penting sekali diketahui para eksportir bagaimana cara yang praktis untuk menghitung biaya pengiriman barang ke suatu pelabuhan tujuan, baik menggunakan jasa angkutan laut secara LCL dan FCL; jasa angkutan

(8)

udara menggunakan air freight maupun menggunakan jasa courrier seperti DHL, FedEx, UPS hingga jasa EMS melalui Kantor Pos. Diseputar topik cargo juga di kupas berbagai pengetahuan serta aspek yang menyangkut mengiriman barang ekspor Anda seperti packing untuk ekspor dan mengenal komponen biaya lokal dsb. Dengan info dan wawasan yang disampaikan melalui buku ini Anda menjadi tahu apa yang harus dipersiapkan ketika akan melaksanakan proses pengiriman barang ke luar negeri.

Pengetahuan seputar kepabeanan yang menyangkut Bea dan Cukai, aturan-aturan yang wajib Anda ketahui. Jalur-jalur kepabeanan yang ada, apa yang disebut jalur hijau, jalur merah, kuning, serta jalur mitra utama hingga bagaimana aturan pajak ekspor maupun bea masuk. Anda juga akan memahami, bagaimana jika kontainer Anda terlambat masuk ke kontainer terminal. Diperkenalkan dengan istilah Detention dan Demurrage agar Anda terhindar dari kedua denda dan pembayaran ekstra tersebut.

Untuk membantu visualisasi, Anda akan menjumpai contoh-contoh dokumentasi yang berkaitan dengan aktivitas ekspor, sehingga akan memudahkan saat Anda mempraktekkan di lapangan. Di bagian belakang buku ini dilengkapi daftar istilah yang sering dijumpai dalam kegiatan ekspor maupun impor. Info detil mengenai berbagai macam jenis kontainer, ukuran dan kapasitas, juga tip bagaimana memilih kontainer jika Anda menggunakan pengiriman Full Container Load. Bukan hanya itu saja, dengan pengalaman serta akses yang dimiliki kedua penulis, buku ini juga memuat data secara detil nama-nama pelabuhan Indonesia dan dunia yang sangat penting diketahui sebagai penambah wawasan maupun data langsung saat melakukan pemasaran secara internasional. Daftar nama-nama perusahaan pelayaran, Freight Forwarding, istilah-istilah diseputar pengapalan yang penting diketahui. Tidak berlebihan jika buku ini diberi judul”Buku Pintar Ekspor Indonesia”, karena buku ini akan membuat Anda menjadi tidak asing lagi dalam dunia ekspor yang sangat kompleks dan dari luar terkesan ribet.

Akhirnya, penulis berharap semoga buku ini mampu menjadi alat bantu yang memudahkan bagi siapa saja yang akan menerjuni dunia perdagangan internasional melalui kegiatan ekspor barang maupun jasa dari Indonesia.

Kami ajak Anda untuk mengambil tempat dalam barisan entrepreneur dan intrapreneur untuk memperkuat ketahanan negeri kita dari sisi ekonomi agar dalam implementasi Komonitas Ekonomi ASEAN, negeri

(9)

kita tetap menjadi negara yang paling potensial dalam perdagangan internasional.

Surabaya, Januari 2014 Penulis

(10)

Daftar Isi

Terstimoni ... iii

PRAKATA ...

VI

DAFTAR ISI ...

X

B

AB

1:

PERDAGANGAN INTERNASIONAL ...1 Perdagangan Internasional ... 1 Pengertian Ekspor. ... 1

Maksud dan Tujuan Eksport ... 2

Persyaratan menjadi Eksportir ... 3

Pengelompokkan Barang Ekspor ... 4

Barang Yang Bebas Ekspornya ... 5

Barang Yang dibatasi Ekspornya. ... 6

Barang Yang Dilarang Ekspornya ... 8

Mengenal Resiko Dalam Perdagangan Internasional serta Cara Meminimalisir ... 9

Resiko Kredit ... 9

Resiko Karena Nilai Tukar ... 9

Resiko Saat Transfer ... 10

Resiko Transit ... 10

Country Risk ... 10

Resiko Organisasi ... 10

Mempelajari Berbagai Faktor yang Menyebabkan Kegagalan Dalam Mewujudkan Transaksi ... 10

Penawaran Yang Tidak Lengkap ... 11

Produk Yang Tidak Memenuhi Standar ... 11

Harga Yang Tidak Bersaing ... 11

Analisa Dan Perhitungan Yang Tidak Tepat. ... 12

Pihak-Pihak yang terkait dengan kegiatan ekspor dan impor ... 13

x

(11)

B

AB

2:

MEKANISME TRANSAKSI PADA PERDAGANGAN

INTERNASIONAL ... 16

Tahapan Proses dalam Kontrak Dagang ... 16

Tahapan proses secara umum ... 17

Mengenal INCO Terms ... 19

Terminologi Penyerahan Barang yang dimuat pada INCO Terms ... 19

1. Kelompok E, Ex Work ... 20

2. Kelompok F, Angkutan utama belum dibayar ... 21

FREE ALONG SHIP - FAS ... 22

FREE ON BOARD – FOB ... 23

3. Kelompok C – Angkutan Utama sudah dibayar ... 24

CFR – Cost and Freight ... 24

CIF – Cost, Insurance and Freight ... 25

CPT – Carried Paid To ... 26

CIP – Carriage and Insurance Paid to ... 27

4. Kelompok D – Sampai Tujuan ... 28

DAT – Delivered at Terminal ... 28

DAP – Delivered at Place ... 29

DDP – Delivery Duty Paid ... 30

B

AB

3:

MEKANISME PEMBAYARAN PADA TRANSAKSI EKSPOR ... 32

Jenis pembayaran ekspor ... 33

1. Letter of Credit ... 33

Definisi Letter of Credit ... 34

Pihak-Pihak Terkait dalam Letter of Credit (L/C) ... 34

Kebaikan-kebaikan Penggunaan L/C ... 37

Beberapa Kelemahan Pembayaran Dengan L/C ... 38

Hal-hal penting yang harus diperhatikan bagi pemula bila menggunakan L/C41 Ketentuan penting dalam pembukaan L/C yang harus diinformasikan kepada importir antara lain: ... 43

Macam-macam kondisi L/C: ... 44

Jangka Pembayaran L/C ... 45

Syarat-Syarat lain Yang Mungkin Dimuat Dalam L/C ... 45

Proses pembukaan L/C... 47

2. Pembayaran Non L/C ... 47

a. Advance Payment / Cash Agains Payment ... 48

b. Open Account (pembayaran dibelakang) ... 53

c. Consignement (Konsinyasi) ... 55

d. Inkaso Berdokumen ( Documentary Collection ) ... 55

B

AB

4:

LEBIH LANJUT MENGENAI LETTER OF CREDIT ... 59

(12)

Persamaan dan Perbedaan antara Sight L/C dan Usance L/C... 59 1.Waktu Pembayaran ... 59 2.Proses Pembukaan L/C ... 60 3.Penyerahan Barang ... 61

Pengelompokan Letter of Credit ... 61

Berdasarkan Jaminan Pembayarannya ... 62

Berdasarkan Cara Pengambil-alihannya ... 62

Hubungan antara Sales Contract dengan L/C ... 63

Peranan Bank Dalam Transaksi L/C ... 65

Tingkat Resiko Pembayaran dalam Perdagangan Internasional ... 67

Transferable L/C vs Back To Back L/C ... 68

Red Clause L/C ... 69

Back to Back L/C ... 69

Draft / Bill of Exchange/Wesel ... 70

B

AB

5:

GAMBARAN UMUM KEPABEANAN ... 72

Daerah Pabean Dan Kawasan Pabean ... 72

Kewenangan Pabean ... 73

Mengklasifikasi Barang Berdasarkan HS Code ... 74

Mengenal Harmonized System ... 74

Cara Penggunaan HS Code ... 74

Perlu/ tidaknya Pencantuman HS Code ... 75

Langkah-langkah Interpretasi HS Code ... 76

Mengenal beberapa komoditi ekspor ... 76

Cara menghitung dan pelunasan Pajak ekspor ... 77

Cara perhitungan pajak ekspor... 77

Pajak Ekspor sebagai bea keluar dikenakan terhadap barang ekspor dengan tujuan untuk :... 78

B

AB

6:

STRATEGI PEMASARAN PRODUK EKSPOR ... 80

1. Product (Produk) ... 82

2. Price (Harga) ... 82

3. Place (Distribution Chanell) ... 82

4. Promosi (Promotion) ... 83

Persiapan Yang Dilakukan Sebelum Masuk Ke Pasar Ekspor ... 83

1.Persiapan Administrasi ... 84

2.Persiapan Legalitas ... 84

3.Persiapan Fisik Barang ... 84

(13)

4.Persiapan Operasional ... 85

Pengetahuan Tentang Komoditas Yang di Ekspor ... 86

Produk-Produk Indonesia yang Berpotensi Ekspor ... 88

B

AB

7:

PROSEDUR EKSPOR : ... 94

Prosedur Kepabeanan pada Ekspor Barang ... 96

Pemeriksaan fisik barang ekspor dan penelitian dokumen ... 98

Aplikasi Pemberitahuan Ekspor Barang ... 102

B

AB

8:

DOKUMEN EKSPOR ... 103

Mengenal Dokumen Ekspor ... 103

Commercial Invoice (C/I) ...104

Packing List (P/L) ...106

Bill of Lading (BL) ...107

Kondisi lain yang disebutkan di BL : ...113

Mengenal Sertifikat Asal (Certificate of Origin) ... 113

Dokumen lain sesuai dengan jenis SKA berdasarkan peruntukannya . 117 Sertifikat Asuransi (Insurance Policy) ...117

Shipping instruction ...117

Sertifikat Analisis (COA) ...119

Dokumen tambahan yang diperlukan importir untuk produk pertanian dan perikanan antara lain adalah: ...121

B

AB

9:

PENGEPAKAN DAN PELABELAN KEMASAN EKSPOR ... 126

Packing Untuk Ekspor (Darat/Laut/Udara) Dan Aturan Yg Menyertai 126 Mengapa Harus Menggunakan Kemasan ...126

Tujuan Packaging untuk Ekspor ... 126

Fungsi Packaging untuk Ekspor ...127

Packaging and Packing Materials ...128

Packaging (Pengemasan) ...128

Packing (Pengepakan) ...128

Penyimpanan Barang atau Pemadatan (Stowage) ...128

Jenis-Jenis Pengepakan ... 128

Kemasan Primer, Sekunder and Tersier dalam Kemasan Ekspor ...129

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sifat Packing : ...129

Checklist untuk Perencanaan Transportasi Packing untuk Ekspor ... 130

Jenis-jenis Pengepakan ...130

I. Kemasan Angkutan (Transport Packing) ...131

2. Kemasan Penjualan (Sales Packing) ...135

Penandaan Barang (Marking Goods) ... 136

1.Tanda Pengiriman (Shipping Mark) ...137

(14)

2.Tanda Petunjuk (Indicative Mark)...138

3. Tanda Peringatan (Warning Mark) ...139

4. Tanda Identifikasi (Identification Mark atau Subsidiary Mark) ...140

Mempesiapkan Kemasan untuk Ekspor ... 141

Jenis-Jenis Cargo ... 142

B

AB

10:

BERBAGAI HAL TENTANG SHIPMENT MELALUI LAUT ... 145

Pengertian dari Shipment ... 145

Pengiriman lewat laut (Sea Freight) : ... 145

Pengapalan Barang Ekspor Menggunakan Kontainer ...146

Cargo Consolidation ... 148

Kekebalan Pelayaran (Shipping Immunities) ... 149

Pelaku-Pelaku Yang Terkait Dengan Pengapalan Barang ... 151

1.Perusahaan Pelayaran (shipping lines) ...152

2.Perusahaan Bongkar Muat (PBM atau Stevedoring Company) ...152

3.Freight Forwarding ...154

4.EMKL / PPJK dan Trucking Company ...155 5.Port Operator ...156 6. ... Syahbandar ...156 7.Cargo Surveyor ...156

Dokumen Pengapalan Laut ... 156

Fungsi bill of lading (B/L) adalah : ...156

JENIS-JENIS B/L ... 157

A.Menurut posisi barang : ...157

B. Menurut sarana transportasi yang digunakan : ...158

C. Kondisi B/L ...158

Shipping Guarantee, Letter Of Indemnity dan Telex Release ... 160

Shipping Guarantee ...160

Letter of Indemnity (LOI) ...162

Telex Release / Surrender ...162

Jadwal Keberangkatan Kapal Laut (SAILING SCHEDULE) ... 163

Berdasarkan penjadwalan kapal perusahaan pelayaran dibedakan menjadi : ...165

Pelacakan Gerakan Muatan Barang Ekspor (Cargo Tracking) ... 166

Kapasitas Kontainer ...166

(15)

Pengamanan Kontainer Selama Dalam Perjalanan ...167

Pindah Kapal (Transhipment) Dalam Angkutan Laut. ... 168

Pengiriman Barang Ekspor Dengan Kapal Curah (Breakbulk/Loose-Cargo) ... 171

B

AB

11:

AIR FREIGHT, PENGANGKUTAN LEWAT UDARA ... 174

Cargo Udara ... 175

Pesawat yang digunakan dalam Air Cargo ... 178

Faktor-faktor yang mendorong pengiriman Cargo lewat udara ... 179

Definisi dan Dokumen Cargo... 180

Jenis Dokumen Pengiriman Cargo Udara Ada Dua ...181

Dokumen pengiriman cargo udara ... 182

1. Air Way Bill (AWB) ...182

2.Cargo Aircraft ...183

3.Cargo Transfer ...184

4.Cargo Transit ...184

Proses Pengiriman Cargo Ekspor ... 185

Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Penanganan Cargo Udara : ... 186

Kontainerisasi Cargo Udara ... 186

Metode Pembayaran ... 190

Tariff Cargo ... 190

Struktur tariff : ...190

B

AB

12

: KALKULASI BIAYA PENGIRIMAN & PENENTUAN HARGA

EKSPOR ... 193

Hal-hal yang harus diketahui untuk menentukan Harga jual produk ekspor adalah : ... 194

Mengenal Biaya Ekspor Lokal ...194

Mengetahui jumlah produk yang akan masuk kontainer ... 197

Mengetahui Pengeluaran Yang Akan Terjadi Pada Saat Pengiriman ... 197

Beberapa Jenis Harga Ekspor : ... 198

FOB = “Free On Board”, ...198

CIF = “Cost, Insurance and Freight” ...198

CF = “ Cost and Freight” ...198

Contoh perhitungan dalam penentuan harga FOB per satuan barang ...199

Contoh Perhitungan dalam Penentuan Harga CNF Jebel Ali (UAE) dari Tg. Perak ...199

Contoh Perhitungan dalam Penentuan Harga CIF Jebel Ali (UAE) dari Tg. Perak ...199

Bagaimana Menghitung Uang Tambang ... 201

Menghitung Biaya Pengiriman Lewat Laut ...201

(16)

Perhitungan Berat Dalam Pengiriman Barang : ... 206

Rumus Yang Digunakan Untuk Pengiriman Via Darat : ...206

Rumus Yang Digunakan Untuk Pengiriman Via Udara : ...207

Rumus Yang Digunakan Untuk Pengiriman Barang Domestik & Internasional via LAUT : ...207

Rumus Yang Digunakan Untuk Pengiriman Barang Via Jasa Currier Internasional DHL, FedEx, TNT, UPS, EMS: ...207

B

AB

13:

BEBERAPA MITOS TIDAK BENAR TENTANG EKSPOR ... 209

1. Mitos: Saya terlalu Kecil untuk Ekspor ... 209

2. Mitos: Saya tak mampu untuk Ekspor ... 209

3. Mitos: Saya tidak bisa Bersaing Dengan Perusahaan Besar Luar Negeri ... 210

4. Mitos: Mengekspor Terlalu Berisiko ... 211

5. Mitos: Mengekspor yang Terlalu Rumit ... 212

B

AB

14:

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 213

a. ... Daftar Istilah Dalam Eksport ... 213

b. ... Mengenal Nama Pelabuhan Eksport-Import Di Dunia ... 232

DAFTAR PUSTAKA ... 250

Tentang Penulis ... 252 Agoes Junaedy ...252 Adi Kusrianto ...252

xvi

(17)

Bab 1

:

Perdagangan

Internasional

P

ERDAGANGAN

I

NTERNASIONAL

Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.

P

ENGERTIAN

E

KSPOR

.

Definisi ekspor menurut Direktorat Jendral Bea & Cukai ternyata cukup simpel, yaitu kegiatan mengeluarkan barang dari daerah Pabean. Sedangkan yang dimaksud dengan Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah daratan, perairan dan ruang udara diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landasan Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

(18)

Sementara dari pengertian umum Ekspor dalam ilmu ekonomi, adalah pengeluaran barang-barang dari peredaran dalam masyarakat suatu negara, dan mengirimkan keluar negeri sesuai ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing.

M

AKSUD DAN

T

UJUAN

E

KSPORT

Kegiatan ekspor memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, berikut ini beberapa manfaat kegiatan ekspor :

1. Memperluas Pasar bagi produk Indonesia

Kegiatan ekspor merupakan salah satu cara untuk memasarkan produk indonesia ke pasar Internasional memberikan banyak kesempatan agar produk yang dijual dikenal luas, sehingga dapat membuka banyak peluang pasar baru di berbagai negara.

2. Menambah Devisa Negara

Dari kegiatan perdagangan antar negara dapat menambah penerimaan devisa negara. Dengan demikian, kekayaan negara bertambah karena devisa merupakan salah satu sumber penerimaan Negara dari sektor pajak ekspor.

3. Memperluas Lapangan kerja

Dengan adanya perdagangan internasional, pasar barang dan jasa dari suatu negara menjadi lebih luas cakupannya, jumlah produk dan jasa yang dihasilkanpun bisa dilipatgandakan yang akibatnya permintaan terhadap tenaga kerja menjadi meningkat jumlahnya, sehingga dapat membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat.

4. Transfer Teknologi

Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih effektive dan efisien dengan cara-cara manajemen yang lebih modern

5. Pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi

Pemberdayaan sumber daya dan pengembangan produk unggulan melalui UKM agar dapat bersaing dipasar global.

Sedangkan, faktor-faktor yang dapat mendorong produsen atau pelaku usaha melakukan kegiatan ekspor antara lain:

a. Komoditas Tradisional

Biasanya sebuah perusahaan memproduksi suatu komoditas sebagai lanjutan atau sisa-sisa peninggalan ekonomi jaman kolonial seperti karet, kopi, teh,

(19)

lada, tengkawang, timah, tembaga dan hasil tambang sejenis lainnya. Hal ini kemungkinan berlanjut menjadi kegiatan ekspor sekarang ini

b. Optimalisasi Laba

Selain menjual suatu produk dalam negeri, dengan ekspor, sebuah perusahaan mampu memperluas daerah penjualan sampai ke luar negeri, selain itu jenis barang yang ditawarkan menjadi tidak terbatas untuk konsumen dalam negeri saja

c. Memperbesar peluang Pasar

Bagi perusahaan yang mempunyai pasar domestik yang kuat, ekspor merupakan peluang untuk melakukan diversifikasi pasar yang dapat memperkuat kedudukan komoditas yang diperdagangkan

d. Pemanfaatan kelebihan kapasitas (Excess Capacity)

Jika kapasitas produksi suatu industri masih belum melebih kapasitas mesin maka sisa kapasitasnya (idle capacity) dapat digunakan untuk memenuhi pasar ekspor

e. Export Oriented Products

Terdapat industri-industri padat karya yang sengaja dipindahkan dari Negara-negara industri seperti Jepang, Korea, Taiwan atau Singapura ke

Indonesia dengan tujuan relokasi industri pabrik sepatu, garment, komponen elektronik dan sejenisnya

6. Komoditas Berdaya Saing Tinggi

Produk-produk yang berbahan asli Indonesia dan mempunyai keunggulan tersendiri (absolute advantage) atau produk lain yang memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) memiliki peluang untuk pasar ekspor. Misalnya bahan-bahan seperti karet alam, kayu hutan tropis, agrobisnis, kerajinan dan lainnya, semua memiliki daya saing yang cukup tinggi di pasar ekspor

P

ERSYARATAN MENJADI

E

KSPORTIR

Persyaratan menjadi eksportir sifatnya sangat dinamis. Aturan yang mendasari adalah Peraturan Menteri Perdagangan RI yang ditetapkan berdasarkan situasi dan kebijakan Pemerintah dalam menghadapi perkembangan dunia perdagangan yang senantiasa bergerak, berubah secara dinamis.

Tetapi secara umum dapat disebutkan, bahwa untuk menjalankan kegiatan ekspor, seseorang atau suatu lembaga/ perusahaan haruslah:

(20)

1. Memiliki Nomor Identitas Kepabeanan yang dikeluarkan oleh Direktorat Bea dan Cukai.

2. Untuk memperoleh NIP yang disebut diatas, maka seorang / perusahaan eksportir harus memiliki:

a. Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP)/Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP);

b. Ijin Usaha dari Departemen Teknis/Lembaga Pemerintah non Departemen berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

3. Bila ekspor dilakukan secara perorangan, maka Anda harus memiliki NPWP dan tidak melupakan bagian dari nilai (budget) untuk pajaknya yang harus disetor pada negara. Karena sebagian besar perusahaan yang bergerak dalam bidang tersebut biasanya telah menyiapkan dokumen penting yang diantaranya NPWP, maka saat hendak diperiksa izin membawa barangnya, Anda atau perusahaan Anda tinggal menunjukkan NPWP dan dokumen penunjang penting lainnya yang dianggap perlu. (Akan Anda pelajari pada bab lain).

4. Peraturan Menteri Perdagangan RI yang mengatur tentang syarat bagi eksportir yang berlaku saat ini adalah nomor 13/M-DAG/PER/3/2012 dan berdasarkan peraturan menteri keuangan no. 63/PMK.04/2011 tentang registrasi kepabeanan, setiap eksportir wajib melakukan regristrasi guna mendapatkan dan memiliki NIK Yaitu Nomor Identitas Kepabeanan dengan mengajukan permohonan ke Bea Cukai sebelum pengiriman itu dilakukan. Untuk memahami secara detil bila diperlukan Anda bisa membaca langsung Dokumen Negara yang berisi peraturan tersebut.

Peraturan baru tersebut selengkapnya kami sertakan pada file “Regristasi-Kepabeanan.pdf” pada CD penyerta buku ini.

P

ENGELOMPOKKAN

B

ARANG

E

KSPOR

Secara garis besar Pemerintah Republik Indonesia melakukan Pengelompokan komoditi ekspor Indonesia pada penerapan peraturan kebijaksanaan dengan mengelompokkan sebagai berikut:

a. Barang Bebas Ekspor. b. Barang dibatasi Ekspor.

(21)

c. Barang dilarang Ekspor

Barang Yang Bebas Ekspornya

Semua barang bebas di ekspor kecuali Barang Dibatasi Ekspor, Barang Dilarang Ekspor atau ditentukan lain oleh Undang-Undang. Menteri dapat membatasi ekspor barang dengan alasan :

1. Melindungi keamanan nasional/kepentingan umum

2. Melindungi kesehatan manusia,hewan,tumbuhan/lingkungan

3. Perjanjian internasional/kesepakatan yang ditandatangani dan diratifikasi oleh pemerintah

4. Terbatasnya pasokan di pasar dalam negeri atau untuk konservasi secara efektif

5. Terbatasnya kapasitas pasar di negara/wilayah tujuan ekspor

6. Terbatasnya ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan oleh industri pengelolah

Orang perseorangan yang mengekspor Barang Bebas Ekspor harus memiliki:

a. Nomor Pokok Wajib Pajak

b. Dokumen lain yang dipersyaratkan dalam peraturan perundang-udangan

Lembaga atau badan usaha yang mengekspor Barang Bebas Ekspor harus memiliki:

a. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau Izin Usaha dari Kementerian teknis/lembaga pemerintahan non kementrian/instansi

b. Tanda daftar Perusahaan c. Nomor Pokok Wajib Pajak

d. Dokumen lain yang dipersyaratkan dalam peraturan perundang-undangan.

Golongan yang bebas ekspornya ini terdapat dua kelompok. 1. Untuk diversifikasi produk dan diversifikasi pasar; 2. Untuk peningkatan daya saing.

Produk ekspor yang ditetapkan dalam pengawasan mutunya secara wajib sebanyak 23 produk ekspor, yaitu:

(22)

1. SIR (Standard Indonesia Rubber), 2. Karet Konvensional, 3. Gaplek, 4. Minyak Sereh, 5. Minyak Nilam, 6. Minyak Kenanga, 7. Minyak Akar Wangi, 8. Lada Putih, 9. Lada Hitam, 10. Pala, 11. Fuli, 12. Cassia Vera, 13. Kopi, 14. Teh,

15. Minyak Kayu Putih, 16. Minyak Daun Cengkeh, 17. Minyak Pala,

18. Minyak Fuli, 19. Minyak Cendana, 20. Vanili,

21. Kayu Lapis penggunaan umum, 22. Biji Kakao,

23. Biji Pinang bukan untuk obat.

Barang Yang dibatasi Ekspornya.

Barang Dibatasi Ekspor adalah barang yang dibatasi untuk diekspor berdasar jenis dan/atau jumlah yang diekspor.

Lembaga atau badan usaha yang mengekspor Barang yang dibatasi Ekspornya harus memiliki:

a. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau Izin Usaha dari Kementerian teknis/lembaga pemerintahan non kementrian/instansi

b. Tanda daftar Perusahaan c. Nomor Pokok Wajib Pajak

d. Dokumen lain yang dipersyaratkan dalam peraturan perundang-undangan. Lembaga atau badan usaha yang mengekspor Barang yang dibatasi Ekspornya selain wajib memiliki persyaratan diatas, juga harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan berdasarkan pengaturan jenis barangnya berupa :

(23)

a. Pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar b. Persetujuan Ekspor

c. Laporan Surveyor

d. Surat Keterangan Asal (COO)

e. Dokumen lain yang dipersyaratkan dalam peraturan perundang-udangan. Untuk mendapatkan pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar dan Persetujuan Ekspor, lembaga atau badan usaha mengajukan permohonan kepada Kementerian Perdagangan melalui Unit Pelayanan Perdagangan atau secara On-Line dan dapat diterbitkan paling lama dalam waktu 5 hari kerja. Perizinan dibidang ekspor diterbitkan oleh Menteri atau pejabat yang diberi wewenang untuk menerbitkan perizinan. Menteri dapat melimpahkan atau mendelegasikan penerbitan perizinan kepada instansi atau dinas teknis terkait.

Kelompok barang yang dibatasi ekspornya dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Produk yang diatur tata niaga ekspornya

1. Produk Perkebunan – Kopi.

2. Produk Kehutanan – Rotan, Produk Industri Kehutanan. 3. Produk Industri

4. Produk Pertambangan – Intan, Timah batangan

2. Komoditi Yang Diawasi Ekspornya

1. Produk Peternakan – Sapi dan Kerbau

2. Produk Perikanan - Anak Ikan Napoleon, Ikan Napoleon dan Benih Ikan Bandeng

3. Produk Perkebunan – Inti Kelapa Sawit (CPO)

4. Produk Pertambangan - Minyak dan Gas Bumi, Emas Murni/Perak

5. Produk Industri.- Pupuk Urea, Skrap Besi/Baja (Khusus Yang Berasal dari Wilayah Pulau Batam), Skrap Dari Stainless, Tembaga, Kuningan dan Aluminium.

Eksportir wajib menyampaikan laporan pelaksanaan ekspor Barang Dibatasi Ekspor, baik terealisasi maupun tidak terealisasi, secara periodik setiap bulan paling lambat tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya. Laporan pelaksanaan ekspor Barang Dibatasi Ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan melalui:

(24)

• http://inatrade.kemendag.co.id dengan tembusan kepada instansi terkait • Unit Pelayanan Perdagangan

Barang Yang Dilarang Ekspornya

Barang dilarang ekspor adalah barang yang tidak boleh di ekspor. Barang dilarang ekspor dengan alasan:

1. Mengancam keamanan nasional atau kepentingan umum termasuk sosial,budaya, dan moral masyarakat

2. Melindungi hak atas kekayaan intelektual 3. Melindungi kehidupan manusia dan kesehatan 4. Merusak lingkungan hidup dan ekosistem

5. Berdasarkan perjanjian internasional atau kesepakatan yang ditandatangani dan diratifikasi oleh pemerintah.

Barang yang dilarang ekspornya meliputi:

1. Produk Perikanan - Anak ikan dan ikan Arowana, Benih ikan Sidat, Ikan hias jenis Botia, Udang galah dan Udang Penaedae.

2. Produk Kehutanan - Kayu bulat, Bahan baku serpih, Bantalan kereta api atau trem dari kayu dan kayu gergajian, Rotan asalan dari hutan alam (manau, rotan batang, rotan lambang, rotan pulut, rotan tohiti, rotan semambu dan jenis lainnya sudah dirunti, belum dicuci, diasap atau di belerang) dan rotan setengah jadi yang bahan bakunya dari rotan asalan dari hutan alam (hati dan kulit rotan).

3. Produk Pertambangan - Pasir alam; pasir silika dan pasir kwarsa; pasir laut; Tanah liat; tanah diatomea; dan top soil (termasuk tanah pucuk atau humus); Bijih timah dan konsentratnya, Abu dan residu yang mengandung arsenik, logam atau senyawanya dan lain-lain terutama mengandung timah; Batu mulia.

4. Produk Perkebunan Karet bongkah, Bahan remailing & Rumah asap. 5. Produk Peternakan

1. Kulit mentah, Pickled & Wet blue dari binatang melata/reptil;

2. Binatang liar & tumbuhan alam yang dilindungi. termasuk dalam Appendix I & III CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

6. Produk Industri

(25)

a) Skrap besi/baja, kecuali yang berasal dari Pulau Batam; b) Skrap dari ingot hasil peleburan kembali skrap.

7. Barang Cagar Budaya - Barang kuno yang bernilai kebudayaan. Perincian Peraturan Pemerintah yang mengatur hal tersebut diatas dapat Anda baca pada file “Pengelompokan Barang Ekspor.docx” dan “Kebijakan di bidang Eksport.pdf” yang dimuat pada CD pendamping.

M

ENGENAL

R

ESIKO

D

ALAM

P

ERDAGANGAN

I

NTERNASIONAL SERTA

C

ARA

M

EMINIMALISIR

Dalam perdagangan internasional memiliki tingkat resiko yang cukup tinggi. Hal ini karena jarak geografis dan berbagai perbedaan kebijakan ekonomi, kondisi politik serta budaya. Berikut ini beberapa resiko yang perlu kita pahami terlebih dulu, agar kita bisa mempersiapkan diri serta menghindar dari resiko yang mungkin terjadi.

Resiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko apabila penjual tidak menerima pembayaran dari barang yang sudah dikirimkannya, baik karena penipuan, kebangkrutan atau keengganan pembeli untuk menerima barang. Hal ini dapat dikurangi dengan, memilih metode pembayaran yang tepat. Selain itu juga dengan mencoba mengevaluasi kekuatan keuangan pembeli, dan mengatur asuransi risiko kredit.

Resiko Karena Nilai Tukar

Risiko nilai tukar terjadi ketika nilai mata uang meningkat atau menurun antara waktu dilakukan penawaran harga dan waktu menerima pembayaran. Risiko ini dapat dikurangi dengan, memasuki kontrak valuta berjangka, membuka rekening mata uang asing, melakukan offsetting piutang yaitu cara mengimbangi, melawan, atau kompensasi terhadap perubahan mata uang asing yang merugikan itu sebagai dana untuk impor.

(26)

Resiko Saat Transfer

Resiko ini bisa terjadi saat pembeli dicegah oleh kebijakan moneter maupun peraturan perdagangan dalam negerinya untuk tidak mengeluarkan devisa dari negeranya. Dengan demikian uang (bank note) yang telah disiapkan pembeli tidak bisa di transfer. Risiko ini dapat dikurangi dengan cara mengatur pembayaran di muka maupun melakukan cash on deliveri maupun dengan asuransi resiko transfer.

Resiko Transit

Risiko Transit yang dimaksud disini terjadi saat barang diangkut ke luar negeri. Barang dapat dicuri, hilang atau rusak dalam perjalanan. Risiko ini dapat dikurangi dengan, memastikan kemasan sesuai dengan modus transportasi dan dengan rekomendasi dari pihak pengangkut/ mematuhi peraturan, dan berkonsultasi dengan agen asuransi transportasi laut.

Country Risk

Country risk adalah resiko yang timbul dalam bidang politik dan hukum karena berbagai alasan, seperti perubahan peraturan pemerintah, ketidakstabilan politik, perbedaan dalam hukum, dan tingkat korupsi. Hal ini dapat dikurangi dengan mengasuransikan resiko Country Risk ini serta melakukan konsultasi dengan asuransi kredit ekspor. Selain itu dengan mengikuti perkembangan yang terjadi di negara calon pembeli.

Resiko Organisasi

Risiko organisasi terjadi karena kurangnya pengetahuan serta kecakapan dalam organisasi perusahaan perdagangan, dan / atau perbedaan budaya antara eksportir dan pembeli. Hal ini dapat dikurangi dengan memastikan aspek-aspek berikut dan fungsi organisasi pembeli ke tingkat yang memuaskan, keterkaitan antara orang-orang, pengetahuan, tugas, teknologi, serta tujuan organisasi.

M

EMPELAJARI

B

ERBAGAI

F

AKTOR YANG

M

ENYEBABKAN

K

EGAGALAN

D

ALAM

M

EWUJUDKAN

T

RANSAKSI

Kegagalan dalam melakukan suatu transaksi ekspor, diluar musibah (force majeur) secara umum banyak dipengaruhi oleh berbagai ragam macam faktor baik yang dapat terjadi pada saat kita melakukan penawaran hingga

10

(27)

dapat terjadi pada saat kita telah menerima sistim pembayaran baik berupa L/C ataupun pembayaran di muka (advance payment). Faktor-Faktor kegagalan dalam mewujudkan suatu transaksi ekspor dapat diuraikan sebagai berikut :

Penawaran Yang Tidak Lengkap

Dalam hal melakukan penawaran (offersheet) yang kita berikan kepada calon pembeli atau calon importir terkadang kita sebagai eksportir sering kali mengabaikan informasi produk secara detail. Semua calon pembeli menginginkan setiap produk yang ditawarkan kepadanya harus disertai dengan data-data atau syarat dan kondisi yang lengkap baik data spesifikasi atau mutu barang, sistim pembayaran, harga, waktu pengiriman, pelabuhan muat, kemasan, kondisi penjualan apakah FOB, CNF atau CIF dan sebagainya yang diangap perlu diketahui oleh pembeli bahkan lebih baik setiap penawaran juga disertai brosur/katalog atau photo produk. Terkadang setiap penawaran yang tidak spesifik kurang mendapatkan respon yang baik dari para calon pembeli.

Produk Yang Tidak Memenuhi Standar

Apabila dalam penawaran yang kita berikan mendapatkan respon yang cukup baik dari calon pembeli maka sudah merupakan suatu kebiasaan bahwa setiap calon pembeli menginginkan contoh produk tersebut untuk dianalisa baik secara visual maupun uji laboratorium. Bila contoh produk yang dikirimkan sesuai dengan spesifikasi yang diminta atau yang ditawarkan maka dilanjutkan ke tahap berikutnya seperti negosiasi harga atau bahkan calon pembeli langsung menempatkan pesanannya bila sebelumnya telah terjadi suatu kesepakatan tentang syarat dan kondisinya.

Harga Yang Tidak Bersaing

Harga merupakan salah satu faktor utama seorang ekspotir tidak dapat menjual barangnya ke luar negeri. Perlu di ingat bahwa seorang importir mendapatkan banyak penawaran dari berbagai macam eksportir dalam negeri bahkan eksportir luar negeri sebagai pesaing kita. Tentu saja seorang importir akan lebih mengutamakan untuk merespon penawaran dengan harga termurah dengan kualitas yang sama dengan penawaran lainnya.

(28)

Analisa Dan Perhitungan Yang Tidak Tepat.

Sewaktu kita melakukan negosiasi kita harus melakukan analisa dan perhitungan sematang mungkin, karena hasil dari suatu negosiasi akan melahirkan suatu kesepakatan yang akan dituangkan sebagai pengikatan dalam faktur proforma (proforma invoice) atau kontrak jual-beli (sales contract) dan bila sistim pembayaran kita berupa L/C maka semua syarat dan kondisinya yang telah disepakati akan tercantum didalamnya secara juridis memiliki kekuatan hukum yang mengikat keduah belah pihak.

Bila sistem pembayaran telah kita terima dari importir adakalanya eksportir gagal mengirimkan barang yang dipesan, bisa karena banyak faktor antara lain :

• Faktor cuaca yang tidak kita prediksi sebelumnya, misalnya seorang importir menempatkan pesanannya berupa produk yang diharuskan pengeringannya dengan menggunakan sinar matahari contoh : kunir rajangan (dried turmeric) atau iles-iles (konjac chips) sehingga kita tidak dapat mengirimkan produk tersebut tepat waktu karena sulitnya pengeringan dimusim hujan sedangkan batas waktu pengiriman hampir selesai. Bila menghadapi permasalahan seperti ini sedini mungkin segeralah meminta dilakukan perubahan-perubahan syarat L/C (L/C Amendments) atas persetujuan pihak-pihak yang terkait antara lain untuk memperpanjang tanggal pengapalan (latestshipment) dan perpanjangan masa berlakunya L/C (date of expiry), tetapi biasanya pihak importir tidak memberikan masa perpanjangan tanggal pengapalan dan masa berlakunyaL/C terlalu lama, dan bukan tidak mungkin barang yang dipesan sama sekali tidak dapat dikapalkan atau gagal kirim sehingga berakibat kerugian dikedua belah pihak.

• Pada saat L/C diterima, baru disadari bahwa harga yang telah disepakati sebelumnya mengalami kekeliruan akibat :

o Salah dalam hal perhitungan biaya-biaya seperti produksi,

pengangkutan dari gudang ke pelabuhan (trucking), biaya pengiriman ke pelabuhan tujuan (bila kondisi penjualan/syarat pembayaran CNF atau CIF) dan biaya-biaya lainnya yang dapat berakibat kerugian di pihak eksportir.

o Kenaikan bahan baku di pasar mengakibatkan sulitnya memperoleh

barang yang akan diproses yang mempengaruhi dan menggerus profit margin eksportir, oleh karena itu untuk mengantisipasi ini biasanya perlu adanya stok barang yang memadai setidaknya untuk bisa memenuhi kontrak yang diminta oleh buyer.

(29)

Agar hal-hal tersebut tidak terjadi yang dapat berakibat kerugian di kedua belah pihak dan berdampak buruknya citra eksportir dimata importir, maka dalam bernegosiasi kita perlu melakukan analisa dan perhitungan yang tepat seperti untuk harga barang, waktu pengiriman, masa berlaku L/C, dokumen-dokumen yang diminta, syarat pembayaran/perdagangan FOB, CNF atau CIF dan sebagainya.

P

IHAK

-P

IHAK YANG TERKAIT DENGAN KEGIATAN

EKSPOR DAN IMPOR

Transaksi ekspor impor ternyata memiliki kompleksitas yang cukup besar, disamping adanya peraturan antar negara yang harus dipahami, kredibilitas pihak pembeli/penjual yang harus diyakini, juga ada baiknya kita mengetahui pihak-pihak yang mungkin akan terlibat dalam transaksi ini. Mulai dari tahap negosiasi, eksekusi, maupun dalam operasional transaksi. lazimnya terdapat lebih dari 10 institusi/perusahaan yang bisa terlibat dalam kegiatan ekspor impor, diantaranya adalah :

1. Penjual (Exportir), bisa juga merupakan Agent dari Exportir atau juga Trading Company atau atau bisa disebut Shipper/Seller/Benefeciary. 2. Pembeli (Importir), bisa juga merupakan Agent dari Importir atau juga

Trading Company atau bisa juga disebut Consignee/ Buyer /Applicant. 3. Bank atau lembaga keuangan lainnya, yang fungsinya sebagai fasilitator

pembayaran, keuangan dan juga penjaminan (L/C & Bank Guarantee). 4. Asuransi, sebagai institusi penjaminan resiko kerugian

5. Maskapai Pelayaran (Shipping Company) / NVOCC atau Maskapai Penerbangan, bisa juga Agent-nya.

6. Freight Forwarder/ yang menjembatani eksportir dengan pelayaran dalam hal pengangkutan dan dokumentasi ekspor.

7. Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) / EMKL / EMKU 8. Dirjen Bea Cukai (Customs), sebagai gerbang keluar masuknya barang. 9. Surveyor, sebagai lembaga survey apabila dibutuhkan/ dipersyaratkan. 10. Departemen Pemerintahan Terkait : Deperindag, Kadin, Depkes/ Bpom,

BKPM, Dirjen Pajak/KPKN dan Dirjen-dirjen di bawah DepKeu, Deptan/Karantina, Dephub dll. untuk pembuatan Certificate of Origin dan legalisasi dokumen-dokumen yang dipersyaratkan

11. Consulate, untuk legalisasi ke beberapa negara tertentu 12. Badan Sertifikasi lainnya.

(30)

Pihak-pihak di atas biasanya terlibat tergantung dari keperluan transaksi ekspor impor tersebut, belum lagi ditambah pihak-pihak yang secara tidak langsung terlibat baik dalam regulasinya maupun institusinya, seperti antara lain :

• Bank Indonesia, untuk peraturan dan kebijakan di bidang keuangan dan perbankan diantaranya (penetapan Legal Lending Limit dan Monitor Lalu Lintas Devisa),

• Departemen Kehakiman, menyangkut legalitas transaksi dan lembaga peradilan apabila terjadi dispute antara pihak-pihak yang bertransaksi, • Perusahaan Logistik & Transportasi (Trucking, Train Dll.) apabila

pengiriman menggunakan combined transport.Dengan begitu banyaknya pihak yang terlibat, yang masing-masing mempunyai aturan dan kebijakan yang harus sesuai satu sama lain, bisa dibayangkan begitu kompeksnya permasalahan transaksi ekspor impor.

Pihak pemerintah sedang mengupayakan pelayanan untuk lebih menyederhanakan birokrasi yang selama ini menghambat dan menciptakan inefisiensi biaya, tapi wujud nyata dari niat tersebut masih ditunggu banyak pihak.

***

(31)
(32)

Bab 2

:

Mekanisme Transaksi

pada Perdagangan

Internasional

Sebelum terjadinya transaksi jual beli antar negara, maka mekanisme yang umum terjadi adalah melalui beberapa tahapan tertentu. Tahapan ini merupakan langkah-langkah secara umum, namun kejadian yang lebih riel bisa terjadi berbeda. Namun dari mekanisme ini dapat dipelajari dan dipersiapkan hal-hal yang dapat mendukung terjadinya transaksi serta menghindari hal-hal yang akan menyebabkan gagalnya suatu transaksi yang sebenarnya sangat diinginkan kedua belah pihak.

T

AHAPAN

P

ROSES DALAM

K

ONTRAK

D

AGANG

Dalam tahapan yang penulis sebutkan pada uraian berikut secara langsung diasumsikan bahwa pembeli (importir) berhubungan dengan penjual (eksportir). Walaupun pada kenyataanya tahap tersebut bisa saja hubungan antara pembeli dan penjual melibatkan pedagang perantara maupun buying agent. Sehingga asumsinya, siapa saja yang berada pada pihak pembeli (buying agent, traders yang mewakili pihak importir) adalah pembeli atau importir. Demikian juga, siapa saja yang berada pada pihak penjual (pengepul, collector, eksportir besar) adalah penjual eksportir.

(33)

Gambar 2 - 1 : Bagan proses terjadinya kontak dagang antara Eksportir dengan importir

Tahapan proses secara umum

Eksportir mempromosikan produk ekspornya melalui media promosi seperti iklan di media elektronik, majalah, Koran, pameran dagang atau melalui badan/lembaga yang berhubungan dengan kegiatan promosi ekspor seperti Ditjen PEN, Kamar Dagang dan Industri, Atase perdagangan dan lain sebagainya

Importir mempelajari produk eksportir dan yang tertarik akan mengirimkan surat permintaan penawaran/harga (letter of inquiry) melalui facsimile (fax) atau e-mail ke eksportir, biasanya berisi deskripsi barang, mutu, harga dan waktu pengiriman

 Eksportir menerima permintaan penawaran/harga (letter of inquiry) dan menjawab dengan mengirimkan surat penawaran (offer sheet) lengkap, termasuk di dalamnya harga (price), uraian produk (Goods Description/ specification), kondisi harga (price condition/FOB, CFR atau CIF), detail kemasan (packaging), syarat pembayaran (payment terms), waktu pengapalan (shipping/delivery time), minimum order (bila ditentukan), sample/brosur, validity time, tujuan pengiriman barang (destination) dan hal-hal penting lain yang perlu diketahui oleh importir.

(34)

Pada tahap permulaan, adakalanya importer minta dikirimkan contoh produk (sample), sehingga bila spesifikasi produknya tidak berkualitas standard dan ‘sulit ditentukan’, dalam surat penawaran dapat dicantumkan kata “as per sample” (misalnya, Goods Description: “dried turmeric – as per

sample’ atau ‘kunyit rajangan – sesuai contoh”).

Sebelum memutuskan pembelian, pada tahap awal biasanya terjadi tawar menawar atau korespondensi antara kedua belah pihak dengan berbagai sarana komunikasi, seperti email, maupun fax.

Importir yang berminat akan mengirimkan pesanan (order sheet) kepada Eksportir dengan mencantumkan beberapa persyaratan sbb :

• Uraian jenis barang (goods description) • Kualitas (quality of goods)

• Jumlah barang yang dipesan (Quantity of goods ordered) • Syarat Pembayaran (terms of payment)

• Waktu penyerahan barang / Pengapalan (delivery time/shipment)

• Batas waktu pengiriman (Latest shipment date / validity time of shipment) • Pengemasan/Penandaan pada kemasan (Packing/Shipping Marks)

• Kondisi Pengiriman (shipment terms) misalnya :

Partial Shipment allowed, barang pesanan dapat dikirim tidak

sekaligus, tetapi beberapa kali pengiriman. (Jika kebalikannya Partial

Shipment Not Allowed).

One lot Ssipment barang harus dikirim dalam satu lot shipment. Transhipment allowed, cargo diijinkan berpindah kapal selama dalam

perjalanan.

Mensyaratkan dokumen tertentu, misalnya menyebut secara spesifik

dokumen-dokumen yang harus disertakan misalnya packing list, commercial invoice, manufacture’s certificate, weight note, maupun syarat lain yang diinginkan pembeli.

Pada kondisi tertentu pembeli bisa saja menyaratkan sbb:

Flag Carrier, mensyaratkan kapal harus berbedera suatu negara

tertentu, atau tidak boleh menggunakan kapal berbendera suatu negara tertentu. (Kondisi seperti ini terjadi bila pelayaran melewati daerah konflik, atau negara pengimpor sedang berperang dengan negara tertentu).

Vessel Age, mensyaratkan kapal pengangkut harus berusia tidak

melebihi tahun tertentu yang disyaratkan. (Kondisi seperti ini mengingat

18

(35)

masih ada beberapa shipping lines yang mengoperasikan kapal-kapal berusia tua sehingga kadang menimbulkan masalah).

Eksportir akan mengirimkan konfirmasi penjualan (Sales Confirmation) yang harus ditandatangani oleh importir sebagai ikatan penguat sebelum importer membuka L/C atau membuka kontrak dagang pembelian dan penjualan dan sebelum produk disiapkan atau diproduksi oleh eksportir.  Eksportir atau Importir mengeluarkan Kontrak Penjualan (Sales Contract)

yang harus ditandatangani kedua belah pihak. Dalam hal importir merupakan perusahaan international yang telah membeli produk dari seluruh dunia, biasanya mereka memiliki kontrak standar. Meskipun demikian pastikan eksportir mengerti syarat & ketentuan dalam kontrak tersebut sebelum menandatanganinya. Jangan ragu untuk menghilangkan, merubah atau menambah pasal-pasal yang dianggap perlu untuk pengamanan transaksi.

M

ENGENAL

INCO

T

ERMS

INCO Terms atau International Commercial Terms adalah kumpulan istilah yang dibuat untuk menyamakan pengertian antara penjual dan pembeli dalam perdagangan internasional. INCO Terms menjelaskan hak dan kewajiban pembeli dan penjual yang berhubungan dengan pengiriman barang. INCO Terms dikeluarkan oleh Kamar Dagang Internasional atau International Chamber of Commerce (ICC), versi terakhir yang dikeluarkan pada tanggal 1 Januari 2011 disebut sebagai INCO Terms 2010. INCO Terms 2010 dikeluarkan dalam bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dan 31 bahasa lain sebagai terjemahan resmi. Dalam INCO Terms 2010 hanya ada 11 istilah yang disederhanakan dari 13 istilah INCO Terms 2000, yaitu dengan menambahkan 2 istilah baru dan menggantikan 4 istilah lama. Istilah baru dalam INCO Terms 2010 yaitu Delivered at Terminal (DAT); dan Delivered at

Place (DAP). Sedangkan 4 istilah lama yang digantikan yaitu: Delivered at Frontier (DAF); Delivered Ex Ship (DES); Delivered Ex Quay (DEQ); Delivered Duty Unpaid (DDU).

T

ERMINOLOGI

P

ENYERAHAN

B

ARANG YANG

DIMUAT PADA

INCO

T

ERMS

Hal-hal yang dijelaskan dalam terminologi ini meliputi proses pengiriman barang, penanggung jawab proses ekspor-impor, penanggung biaya yang timbul dan penanggung risiko bila terjadi perubahan kondisi barang yang terjadi akibat proses pengiriman. Hak dan kewajiban penjual dan pembeli terhadap sales kontrak dan hanya barang yang bersifat nyata “tangible”.

19

(36)

Dengan demikian syarat penyerahan barang terhadap barang yang sifatnya

tidak berwujud (intangible) seperti sofware komputer, merek dagang, hak

intelektual dan sebagainya tidak termasuk dalam cakupan INCO Terms tsb. Untuk memudahkan pengertian, struktur Incoterm 2010 yang merupakan revisi ke 7, berlaku bulan Januari 2011 dibagi menjadi 4 kategori dengan jumlah terms 11 macam yaitu :

• Kelompok Terms “E” - Lokasi Eksportir (EXW)

• Kelompok Terms “F” - Angkutan Utama Belum Dibayar (FCA /FAS/ FOB) • Kelompok Terms “C”- Angkutan Utama Sudah Dibayar (CFR/CIF/ CIP/CPT) • Kelompok Terms “D”- Sampai Tujuan (DAT/DAP/DDP)

1.

K

ELOMPOK

E,

E

X

W

ORK

Ini adalah cara yang paling simpel dalam basic shipment, yaitu barang diserahkan oleh penjual kepada pembeli ditempat kerja penjual, dipabrik atau gudang penjual. Barang akan diambil dan dikapalkan oleh pembeli. Sedangkan pembeli akan menggunakan jasa freight forwarder untuk mengurus asuransi, semua biaya yang dikeluarkan untuk proses export clearance dan menangani surat/ dokumen yang diperlukan akan ditanggung pembeli (importir).

Gambar 2 - 2 : Bagan penyerahan barang Ex Works (EXW) dari pabrik ke gudang pembeli dengan pengiriman melalui udara.

(37)

2.

K

ELOMPOK

F,

A

NGKUTAN UTAMA BELUM

DIBAYAR

Free Carrier - FCA

Pada jenis transaksi seperti ini, tanggung jawab penjual adalah mencarikan transportasi untuk mengangkut barang tersebut. Dalam hal ini biaya transport serta resiko setelah barang diserahkan kepada pihak transporter ada ditangan pembeli. Dalam hal FCA ini penjual memilih freight forwarder atau carrier nya. Bedanya jika FOB freight forwarder ditunjuk oleh pembeli. Pemilihan FCA memiliki implikasi bahwa :

• Kewajiban penjual dianggap selesai apabila barang selesai dibongkar di terminal yang ditunjuk oleh pembeli.

• Apabila tempat penyerahan di tempat penjual, maka kewajiban penjual dianggap selesai apabila barang dimuat diatas kendaraan yang disediakan oleh pembeli.

• Penyerahan dianggap selesai apabila barang telah ditempatkan kedalam kewenangan pembeli dalam keaadan belum dibongkar.

Gambar 2 - 3 : Ilustrasi tentang Ex Work pada pengangkutan lewat laut.

(38)

Gambar 2 - 4 : Ilustrasi tentang FCA (Free Carier) lewat udara

Gambar 2 - 5 : Ilustrasi tentang FCA (Free Carrier) di gudang penjual

FREE ALONG SHIP - FAS

Pada transaksi jenis ini, pembeli menanggung semua biaya transportasi serta resiko kehilangan barang selama pengiriman. Pada FAS penjual menyiapkan barang untuk ekspor dalam keadaan mendapatkan izin ekspor, sementara pembeli yang memilih/ menentukan forwarder yang akan menangani pengapalan dan pengurusan asuransi. Dengan demikian titik kritis peralihan resiko terjadi di pelabuhan pengapalan ketika barang diserah terimakan. Terms ini hanya dipakai untuk angkutan laut dan sungai saja.

(39)

Gambar 2 - 6 : Ilustrasi tentang Free Alongside Ship (dari pelabuhan asal)

FREE ON BOARD – FOB

Penjual menyerahkan barang kepada pembeli di pelabuhan negara/ kota penjual. Biaya pengangkutan barang dari pabrik/ gudang hingga ke pelabuhan menjadi tanggungan penjual. Selanjutnya biaya pengapalan serta penyelesaian dokumentasi dalam pelaksanaan export menjadi tanggungan pembeli yang dalam hal ini akan menyerahkan kepada freight forwarder. Syarat penyerahan barang dengan term FOB hanya dipakai untuk angkutan laut dan sungai saja. Istilah “delivery” diartikan penjual (kadang disebut Shiper) menyerahkan barang dagangannya kepada forwarder yang diutunjuk oleh pembeli. Asuransi atau tanggung jawab yang harus ditanggung pembeli akan berlaku setelah saat penyerahan di pelabuhan tersebut.

Gambar 2 - 7 : Ilustrasi tentang Free On Board (di pelabuhan asal)

(40)

3.

K

ELOMPOK

C

A

NGKUTAN

U

TAMA SUDAH

DIBAYAR

Kelompok terms C secara umum memberikan pengertian bahwa biaya-biaya angkutan utama telah diselesaikan pembayarannya oleh pihak Eksportir. Didalam terms ini ada 2 hal point utama yang harus dipahami adalah:

• Pertama, titik sampai dimana penjual wajib menanggung semua biaya angkutan

• Kedua, titik dimana beralihnya resiko dari penjual (eksportir) ke pembeli (importir).

Ciri khas yang dapat ditemui, di dalam dokumen BL atas transaksi yang menggunakan terms C adalah klausal pembayaran yang menyebutkan

“freight prepaid”.

CFR – Cost and Freight

Cost and Freight juga dikenal dengan istilah CNF. Artinya harga yang disyaratkan dengan CFR/CNF tadi mencakup biaya pembuatan barang (Cost) dan ongkos pengapalan (Freight) ke pelabuhan tujuan yang ditentukan. Dengan demikian infomasi tentang syarat harga tersebut akan ditulis secara lengkap dan jelas, misalnya CFR Sydney, CNF Hong Kong, dsb. Term ini berarti bahwa penjual menyerahkan barang setelah barang melewati batas pagar kapal di pelabuhan muat dalam keadaan setelah mendapatkan izin ekspor. Titik pertanggungan biaya oleh eksportir adalah sampai dengan pembayaran ongkos angkut, sedangkan asuransi menjadi tanggung jawab pembeli. Titik kritis resiko beralih dari penjual kepada pembeli sejak barang melewati pagar kapal (on board) di pelabuhan muat. Syarat ini hanya dipakai untuk jenis pengangkutan di Sungai dan Laut.

(41)

Gambar 2 - 8 : Ilustrasi tentang CFR (Cost and Freight) dengan menyebutkan nama Pelabuhan Tujuan (misal CFR Hong Kong)

CIF – Cost, Insurance and Freight

Pada terms CIF berarti bahwa kewajiban penjual (eksportir) sama dengan CFR atau CNF. Ditambah dengan kewajiban membayar biaya asuransi pengangkutan. Pada term ini biasanya penjuallah yang memilih freight forwarder. “Delivery” dalam hal ini diartikan setelah sampai di pelabuhan tujuan. CIF ini hanya dipakai untuk jenis angkutan di Sungai dan Laut.

Gambar 2 - 9 : Ilustrasi tentang CIF (Cost, Insurance & Freight) lewat laut dengan menyebutkan nama Pelabuhan Tujuan (misal CIF Hong Kong)

(42)

CPT – Carried Paid To

Pengertian terms “CPT” yaitu ketika pengangkutan atas barang ekspor menggunakan lebih dari satu alat transportasi (multimoda carriage). Untuk itu penjual (eksportir) akan menanggung seluruh biaya pengangkutan dan menentukan sendiri alat pengangkut yang akan membawa barangnya hingga sampai ke pelabuhan bongkar.

Gambar 2 - 10 : Ilustrasi tentang CPT (Carriage Paid To) lewat udara dengan menyebutkan nama Airport Tujuan (misal CPT Melbourne International Airport).

Gambar 2 - 11 : Ilustrasi tentang CPT (Carriage Paid To) lewat LAUT dengan menyebutkan nama pelabuhan Tujuan (misal CPT Melbourne)

(43)

CIP – Carriage and Insurance Paid to

Term ini sebelumnya/ awalnya digunakan untuk pengiriman barang yang melalui berbagai mode transportasi (laut dan darat). Disini fokusnya adalah pertanggungan asuransi selama perjalanan barang akan berpindah-pindah dari pembawa yang satu ke pembawa yang lain. Bila pengiriman dengan term ini dalam keadaan darurat (force majour), freight forwarder sering kali bertindak sebagai carrier (pembawa). Asuransi (pertanggungan untuk) pembeli akan berlaku setelah barang diserahkan kepada freight forwarder. Dengan demikian penjual akan menanggung biaya pengangkutan termasuk menutup asuransi sampai dengan tujuan di negara importir.

Gambar 2 - 12 : Ilustrasi tentang CIP (Carriage & Insurance Paid To) lewat udara dengan menyebutkan nama Airport Tujuan.

Gambar 2 - 13 : Ilustrasi tentang CIP (Carriage & Insurance Paid To) lewat laut dengan menyebutkan nama Pelabuan Tujuan.

(44)

Gambar 2 - 14 : Ilustrasi tentang CPT (Carriage Paid To) lewat laut ke suatu poin yang disebutkan

4.

K

ELOMPOK

D

S

AMPAI

T

UJUAN

Kelompok ini mengandung pengertian bahwa kewajiban menanggung biaya yang timbul dan titik kritis perpindahan resiko adalah sampai di suatu tempat di negara importir. Resiko dan beban biaya yang harus ditanggung oleh penjual dalam terms ini sangat besar.

DAT – Delivered at Terminal

Pada terms DAT – barang diserahkan di Terminal dimana Penjual menanggung biaya, menanggung risiko dan memiliki tanggung jawab sampai barang dibongkar (diserahkan) di dermaga, gudang, lapangan, atau terminal di tempat tujuan. Biaya demurrage atau Detenttion bisa diperlakukan ke penjual. DAT menggantikan DEQ, DES.

(45)

Gambar 2 - 15 : Ilustrasi tentang DAT (Delivered at Terminal) lewat udara

Gambar 2 - 16 : Ilustrasi tentang DAT (Delivered at Terminal) lewat laut

DAP – Delivered at Place

Untuk terms DDU (Delivery Duty Unpaid) / DAF / DES / DEQ dihilangkan di INCO Terms 2010 dan digantikan dengan DAP. Dalam terms ini mengandung pengertian bahwa Penjual menanggung biaya, resiko serta bertanggung jawab atas barang yang dikirim sampai ke tangan pembeli di suatu tempat atau pelabuhan yang telah ditentukan oleh pembeli.

(46)

Gambar 2 - 17 : Ilustrasi tentang DAP (Delivered at Place) tidak termasuk onkos bongkar dan ongkos Clearance dari daerah pabean

DDP – Delivery Duty Paid

Syarat penyerahan barang untuk term ini adalah penjual harus menyerahkan barang kepada pembeli di suatu tempat yang ditunjuk oleh Pembeli dan berada dalam kewenangan pembeli dengan kondisi formalitas kepabeanan diselesaikan door to door service dimana biaya angkutan dari pelabuhan muat, biaya yang timbul di pelabuhan bongkar (pajak berdasarkan total invoice harus ditanggung oleh pihak penjual) dan juga biaya penyerahan barang sampai ke gudang pembeli menjadi tanggungan penjual.

Gambar 2 - 18 : Ilustrasi tentang DDP (Pengangkutan lewat Udara) diantar ke alamat pembeli, biaya sudah lunas

(47)

Gambar 2 - 19 : Ilustrasi tentang DDP (Pengangkutan lewat Laut) barang diantar sampai alamat pembeli, biaya clearance dan ongkos angkut sudah dilunasi

Dari ke 11 term diatas ada 3 term yang paling banyak dipergunakan dalam transaksi Export Import, yaitu FOB, CNF (CFR) dan CIF. Perlu kita ingat, bahwa term yang menyangkut pengiriman ini harus selalu tercantum pada Sales Order, Sales Confirmation, Commercial Invoice maupun pada dokumen yang menyangkut cara pembayaran seperti LC maupun sarana pembayaran yang lain.

***

(48)

Bab 3

:

M

EKANISME

P

EMBAYARAN

P

ADA

T

RANSAKSI

E

KSPOR

Hal terpenting dalam keberhasilan melaksanakan ekspor adalah ketika eksportir menerima pembayaran dari transaksi dagangnya. Berbagai kehebatan yang telah dilakukan dalam promosi, menutup kontrak dagang, memproduksi hingga menyeleksi produk, menyiapkan dokumen dan melakukan pengiriman barang. Keseluruhan tahap tadi menjanjikan kesuksesan yang diimpikan, tetapi terlebih dulu haruslah dipahami bahwa kehebatan-kehebatan itu tidak artinya, dan seketika akan berubah menjadi malapetaka bila ternyata di akhir proses, eksportir tidak menerima pembayaran dari importir.

Setelah transaksi dengan eksportir berhasil dilakukan, importir membuat surat Pembelian atau Purchase Order yagn ditujukan kepada eksportir (seller) , kemudian eksportir dan importir membuat dan menandatangani kontrak jual beli (sales contract) , salah satu isi kontrak perjanjian (sales contract) tsb adalah bagaimana cara pembayaran barang yang dibeli dilakukan.

Ini dilakukan guna menghindari terjadinya kegagalan pembayaran dari importir, eksportir harus mengetahui jenis dan cara-cara pembayaran dalam transaksi ekspor. Ketidaktahuan tentang cara-cara pembayaran yang berlaku dan resiko yang dihadapi dari masing-masing jenis pembayaran, sebaiknya dihindari dengan memiliki pengetahuan yang memadai dalam bidang tersebut .

Gambar

Gambar 2 -  1 :  Bagan proses terjadinya kontak dagang antara Eksportir  dengan importir
Gambar 2 -  2 :  Bagan penyerahan barang Ex Works (EXW) dari pabrik ke  gudang pembeli dengan pengiriman melalui udara
Gambar 2 -  4 : Ilustrasi tentang FCA (Free Carier) lewat udara
Gambar 2 -  6 : Ilustrasi tentang Free Alongside Ship (dari pelabuhan asal)
+7

Referensi

Dokumen terkait