1. Susunlah barang sebaik mungkin di dalam kontainer sehingga masih tersedia ruang terbuka untuk sirkulasi udara dengan memaksimalkan kapasitas container, berat terbagi rata, yang berat dibawah dan yang ringan diatas, ruang yang kosong sebaiknya didunnage (diganjal) agar tidak goyah.
2. Tempeli seluruh dinding/atap dalam kontainer dengan kertas penyerap air/embun dan gantungkan bahan penyerap kelembaban (desicant gel dryer) bila barang ekspor yang dimuat, hanya dikemas dalam karung yang dapat menyerap bau dan kelembaban. Perlu diperhatikan bahwa selama dalam perjalanan akan terjadi perubahan suhu di dalam dan di luar kontainer, sehingga akan terjadi pengembunan di dalam kontainer.
PINDAH KAPAL (TRANSHIPMENT) DALAM
ANGKUTAN LAUT.
Kapal besar (Ocean/Mother Vessel) pengangkut kontainer yang melayani rute/trayek rutin jarak jauh, ke Eropa, Afrika, Timur Tengah (middle east), Amerika Latin,Kanada dan Amerika biasanya berlayar hanya sampai Pelabuhan Singapura atau Port Kelang di Malaysia. Oleh karena itu,
barang ekspor tujuan Negara-negara tersebut yang berasal dari pelabuhan kecil bahkan dari pelabuhan besar (Belawan, Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Emas (semarang), Tanjung Perak (surabaya)), diangkut sampai Singapura atau Portkelang dengan menggunakan Feeder (Feeder Vessel atau First Carrier).
Feeder Vessel
Dalam proses pengiriman barang lewat jalur laut khususnya untuk pengiriman barang dengan menggunakan petikemas (container) di beberapa pelabuhan diatas, kadang kalanya mengalami masalah yang tidak terduga yaitu keterlambatan penerimaan barang di pihak pembeli, hal ini dikarenakan kondisi-kondisi sbb :
1. Roll-over yang terjadi pada kapal pengangkut (connecting vessel) petikemas akibat musim puncak tingginya arus barang ekspor dan impor (peak
seasons) dari berbagai negara melalui transipment port seperti
Singapore/Hongkong/Portklang/ Tanjung Pelepas /Busan dsb., semua proses pemindahan dari target vessel ke kapal berikutnya seperti ini dilakukan oleh pihak pelayaran dan semua biaya yang timbul menjadi beban dari maskapai pelayaran. Biasanya pihak maskapai pelayaran akan menyampaikan berita (notification in written via email) bila terjadi pergantian connecting vessel di transshipment port dengan alasannya. 2. Cuaca ekstrim yang tidak bersahabat yagn menggangu aktivitas pelayaran
ketika berada di samudera luas seperti typhoon dll yang dapat berakibat buruk pada muatan kapal yang diangkut seperti kerusakan isi barang atau kehilangan barang terjatuh dilaut, khususnya muatan barang yang tidak menggunakan peti kemas (loose cargo). Oleh karena pengemasan barang didalam kontainer amatlah penting agar menjamin barang sampai di pelabuhan tujuan sampai dengan aman dan tidak mengalami kerusakan.
3. Kapasitas kapal pengangkut (connecting vessel) kecil sedangkan beban muat petikemas terlalu berat (overweight) sehingga akan mengganggu stabilitas kapal dan keselamatan kapal, akibatnya petikemas yang telah berada di transshipment port harus dinaikkan ke kapal pengangkut berikutnya (next connecting vessel).
Menyingkapi hal tsb diatas maka eksportir pengirim barang mengalami proses pergantian kapal di transhipment ini tidak perlu kuatir kontainernya akan dibuka di pelabuhan transit (Singapura/Portklang). Di Pelabuhan transit, kontainer beserta isinya tetap utuh (termasuk segel/seal-nya) karena kontainer hanya diturunkan untuk menunggu kapal induk (mother vessel/connecting vessel) yang akan membawa barang ke Negara tujuan. Semua proses pemindahan kontainer ke (Mother vessel/ Connecting vessel) di Pelabuhan transit, menjadi tanggung jawab Maskapai Pelayaran. Karena itu Eksportir tidak perlu melakukan apapun, bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan.
Nama kapal yang tercantum dalam B/L biasanya hanya nama kapal feeder First (1st) Carrier yang mengangkut barang dari Indonesia ke Singapura/Portklang, sedangkan nama 2nd Carrier yang mengangkut barang dari Singapura/Portklang ke pelabuhan tujuan tidak dicantumkan.
Transhipment
Nama 2nd Carrier tidak dicantumkan karena ada kemungkinan 2nd carrier/Mother Vessel yang telah direncanakan (scheduled) mengalami kerusakan sehingga barang diangkut dengan kapal lain yang nama dan nomor pelayarannya (voyage numbernya) berbeda.
Untuk menimalisir hal yang tidak diharapkan maka eksportir harus menyampaikan surat permohonan agar barang yang diangkut tidak diganti dengan connecting vessel yang lain, dengan kata lain tetap dinominasikan ke
target connecting vessel dengan menyampaikan secara lisan kepada pihak agent pelayaran atau freight forwarding dan dengan mengirimkan email dengan harapan kontainer yang termuat dapat di proteksi dengan baik.
PENGIRIMAN BARANG EKSPOR DENGAN KAPAL
CURAH (BREAKBULK/LOOSE-CARGO)
Bila barang yang akan diekspor jumlahnya besar misalnya 800 MT atau lebih untuk tujuan yang tidak terlalu jauh misalnya ke Singapura atau ke Thailand, Eksportir dapat mencharter kapal curah ’break bulk’ (all in termasuk crew). Karena muatan (dalam kemasan karung/karton atau tanpa kemasan misal dapat berupa drum, kantong, bal, karton, palet, Karung, kendaraan, Mesin, Kayu dll, biasanya yang dimuat berbentuk curah misal hasil tambang, pupuk, jagung, pasir, gula atau jenis barang padat lainya seperti mesin (mesin tambang/escavator) dan alat berat lainya untuk keperluan projek (konstruksi baja/generator/turbin) diletakkan di dalam lambung kapal (palka), maka ongkos angkutnya relatif lebih mahal dari pada bila menggunakan kontainer.
Dengan berkembangnya modernisasi transportasi, peranan kapal curah non charter yang melayani rute ekspor tertentu secara periodik semakin berkurang. Karena itu sebelum memutuskan menggunakan moda transportasi kapal curah non charter ini, sebaiknya konsultasikan dengan Maskapai Pelayaran atau pihak terkait. Beban Biaya yang ditanggung oleh
pihak eksportir berdasarkan berat barang dikalikan harga freight yang dijual oleh pihak pelayaran untuk tujuan dimana komoditas barang dikirim.
Breakbulk Cargo umumnya diangkut dengan menggunakan kapal Konvensional.
Salah satu gambaran barang yang dikapalkan dalam breakbulk cargo (curah)
Sedangkan kondisi terms of shipments yang digunakan untuk gerakan barang yang tidak menggunakan petikemas atau curah (breakbulk atau loose cargo) adalah :
• FIOS (Free In Out Stowage/Strimmed)
Biaya pemuatan ke kapal, pemadatan di atas kapal, dan bongkar dari kapal ditanggung oleh pihak shipper atau importir, pihak kapal hanya menyediakan kapal. Biasanya untuk muatan curah kering.
• FILO (Free In Liner Out)
Biaya pemuatan ditanggung oleh pemilik barang (receiver), dan biaya bongkar ditanggung oleh pihak kapal.
• FIFO (Free In Free Out)
Biaya muat ditanggung oleh pemilik barang (shipper) di pelabuhan muat (port of loading) dan biaya bongkar ditanggung oleh pihak pembeli (consignee)
• LIFO (Liner In Free Out)
Biaya pemuatan ditanggung oleh pihak kapal (pengangkut), biaya bongkar ditanggung oleh pemilik barang (receiver)
***