i
M. Subhi-Ibrahim
SENI
HIDUP MEDITATIF
ii
SENI HIDUP MEDITATTIF © M. Subhi-Ibrahim
Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau keseluruhan isi buku ini dalam bentuk apa pun
tanpa seizin tertulis dari penulis Cetakan Pertama Mei 2018
Diterbitkan oleh Yayasan Pendidikan Islam
Al-Mumtaaz
Link. Pulorida RT 04 RW 01
Kelurahan Lebak Gede Kecamatan Pulo Merak Kota Cilegon Provinsi Banten
iii
SEKAPUR SIRIH
Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan penyusunan risalah tentang Seni Hidup Meditatif. Risalah ini tak berisi teori, atau refleksi filosofis, tapi sebuah panduan praktis bagi pencari pencerahan.
Tak ada pencerahan yang cepat saji. Ia bukan “benda”, tetapi sebuah proses “menjadi”. Dalam Risalah ini, pencerahan itu berbentuk seni, yakni penyingkapan cadar Ilusi dan pengungkapan Keindahan Murni. Itulah inti hidup meditatif.
Risalah ini merupakan tuntunan awal agar kita menjadi hidup penuh kesadaran (meditatif) dengan kehadiran, pemurnian, melepaskan kemelekatan, dan penemuan jati diri. Selamat membaca, semoga bermanfaat sebagai titik awal pencerahan.
Cilegon, 15 Mei 2018
iv
DAFTAR ISI
Sekapur Sirih (iii) Daftar Isi (iv)
Iftitah (1) Kehadiran (3) Pemurnian (6) Pelepasan (7) Jati Diri (9) Akhir al-Kalam (11)
1
IFTITAH
Seni adalah penyingkapan diri dalam ragam-bentuk kreasi: suara, gerak, gambar, rupa dan sebagainya. Penyingkapan diri berarti menyibak selubung, cadar-ilusi sehingga wajah Keindahan Sejati tersingkap.
Cadar ilusi merupakan semesta kepalsuan yang secara sadar /tidak melekati Keindahan/Kesadaran Murni/Ruh Absolut (simbolisasi Perawan Maryam). Pelekatan terjadi karena kejatuhan (hubuth) kesadaran akibat kesalahan metafisis, yakni menganggap: Yang Mutlak tidak ada; Yang Mutlak sebagai relatif; Yang relatif sebagai mutlak (simbolisasi buah keabadian/khuldi).
Hidup sendiri adalah seni. Karena itu, hidup berarti juga penyingkapan diri ruh-absolut. Sebuah proses penemuan kembali subjek primordial, alpha-omega. Terbangunnya kesadaran murni sama dengan Ruh Absolut yang menatap dirinya sendiri dalam cermin relativitas.
2
Hidup meditatif berarti seni penyingkapan diri melalui meditasi. Meditasi adalah proses melampaui gugus pikiran. Meditasi sebagai proses dalam arti meditasi lebih sebagai kata kerja, keadaan "menjadi", bukan sekali jadi. Lalu, melampaui pikiran bukan berarti anti-pikiran, nalar. Mengafirmasi ilusi pikiran, tanpa terjajah oleh gugus pikiran (isi pikiran dan tekstur pikiran /emosi.
Hidup meditatif sama dengan hidup berkesadaran. Aku/Kesadaran Murni yang terjaga, terbangun dari mimpi ilusifnya.
3
KEHADIRAN
Mengapa kita sulit merasakan ketenangan yang berakibat tak bahagia menjalani hidup? Karena Ruang Kesadaran kita dipadati oleh monkey mind, pikiran/emosi. Pikiran/emosi seperti kera yang mengacak-acak ruangan. Bergerak ke sana, ke mari terus-menerus, tanpa henti. Pikiran ini-itu, emosi ini-itu, datang-pergi, terbit-tenggelam, silih berganti membuat ruang kesadaran kita bising, gaduh, keruh, berantakan.
Agar ruang kesadaran tenang, kera-kera itu kudu diusir. Mengapa monkey mind menguasai ruang kesadaran? Karena kita tak hadir. Oleh sebab itu, cara mengusir monkey mind adalah hadir. Ya, hadir saja. Hadir berarti sadar kini dan di sini.
Latihan sederhana agar kesadaran kita hadir:
(1) Diam sejenak. Ya, diam saja. Bisa duduk, rebahan, atau apa pun. Yang penting, rileks, diam.
4
(2) Perlahan, pejamkan mata. Kendorkan seluruh urat, saraf dari ujung kepala ke ujung kaki. Lalu, diam. Diam adalah bahasa jagad raya. Gunakan bahasa tersebut.
(3) Pusatkan perhatian pada nafas. Bernafas seperti biasa saja. Lalu, Perhatikan nafas masuk, nafas keluar. Lakukan 5-10 menit. Fokus. Fokus. Fokus.
(4) Setelah selesai, tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, hembuskan melalui melalui hidung juga.
(5) Catatan: Inti latihan ini adalah menyadari keluar-masuk nafas. Dengan begitu, kesadaran terjaga, hadir kini dan di sini.
Latihan hanya simulasi. Bila latihan tersebut dipraktekkan dalam keadaan duduk, berdiri, berjalan, berbaring, maka itu akan jadi kebiasaan,
habitus. Kebiasaan di mana Kesadaran kita terjaga. Sadar total. Cobalah. Misalnya di tengah kemacetan, praktekkan. Tapi tak perlu "merem", pastinya. Atau dalam kondisi lain.
5
Seperti pertama kali nyetir mobil, awalnya, praktek kehadiran ini agak kaku dilakukan. Awal-awal nyetir, kita terganggu kalau teman sebelah kita ngajak ngobrol. Tapi, lama-lama, karena terbiasa nyetir, kita pun merasa nyaman. Bahkan nyetir bisa sambil
6
PEMURNIAN
Kesadaran kita seperti telaga. Telaga kesadaran dikeruhkan oleh ragam kotoran. Akibatnya, kita tak bisa memandang dasar telaga, yakni kenyataan sebagai mana adanya.
Apakah kotoran itu? Salahsatunya, kecenderungan tuk menilai. Menilai adalah kerja pikiran, dan penilaian adalah produk pikiran. Karena itu, agar telaga kesadaran kita jernih kembali, buang, bersihkan kotoran. Caranya? Jangan menilai. Jadilah penonton. Jangan terlibat. Cukup amati saja. Kadang, saya merasa aneh melihat orang nonton film, terus nangis melihat adegan sedih. Ya, ia bukan hanya menonton, tapi terlibat. Sekali lagi, jadilah penonton. Jangan terlibat. Caranya: Jangan menilai.
Latihan sederhana: lihatlah segala sesuatu tanpa menilai. Lakukan simulasi ini selama satu hari saja. Rasakan transformasi kesadaran terjadi.
7
PELEPASAN
Dalam keseharian, diakui atau tidak, sebagian banyak kita dipengaruhi oleh suka dan tidak suka. Suka pada sesuatu yang membuat nyaman, dan tidak suka pada yang tak nyaman.
Suka dan tidak suka memiliki objek. Objek itu bisa jadi benda, orang, atau ide, pikiran dan lain-lain. Apa pun bisa jadi objek suka dan tidak suka. Pada tingkat yang lebih tinggi, suka dan tidak suka menjadi cinta dan benci. Cinta dan benci itulah yang jadi lem perekat kesadaran dengan suatu objek.
Sebagian banyak objek cinta-benci adalah sesuatu yang material, tak abadi, yang berubah-ubah. Karena itu, saat kesadaran melekat, identik dengan objek cinta-benci, maka ketika objek-objek itu pun berubah (hilang, misalnya) , maka kenyamanan pun hilang. Emosi muncul. Kita terombang-ambing oleh pasang surut objek.
8
Tragisnya, bila kemelakatan tersebut masih tersisa saat ajal menjelang. Kesadaran terpisah dari tubuh, dunia material tapi ia masih terikat, terlekati oleh objek-objek di dunia fana ini. Itulah penderitaan pasca kematian tubuh.
Latihan mengatasi kondisi kemelekatan:
(1) Diam sejenak. Hadirkan diri. (2) Jangan menilai.
(3) Katakan pada sesuatu yang membuat kita nyaman/tidak nyaman:"ini pasti berlalu".
(4) Praktekkan simulasi latihan di atas. Misalnya selama satu hari penuh. Rasakan transformasi yang terjadi.
Latihan di atas tidak mudah karena sebagian banyak kita telah "melekat" pada sesuatu, baik pada sesuatu yang kita sukai, cintai atau pada sesuatu yang kita tak sukai, benci. Namun, bila kita praktekkan, ia akan melepaskan satu per satu kemelekatan kita. Tak ada pencerahan cepat saji.
9
JATI DIRI
Terakhir. Kita akan melakukan perjalanan ke ruang diri kita guna menemukan jati diri, kesadaran murni. Perjalanan ini dimulai dari yang kasat indera (nafas), masuk ke wilayah jiwa (pikiran), dan berakhir di tahta suci Kesadaran Murni.
Salahsatu teknik yang diajarkan adalah sebagai berikut:
(1) Duduklah dengan nyaman, rileks. Terserah posisinya seperti apa. Yang penting nyaman.
(2) Hadirkan diri. Diam. Pejamkan mata perlahan. Perhatikan nafas masuk, nafas keluar.
(3) Sekarang, perhatikan yang muncul di "layar" kesadaran. Ya, gambar, image, suara dan sebagainya. Datang, pergi. Seperti slide. Ada yang berasal dari masa lalu, kenangan, memori. Ada pula dari masa depan (harapan, keinginan). Biarkan saja. Jangan menilai. Biarkan. Tonton. Perhatikan saja.
10
(4) Lama kelamaan, makin sedikit, makin sedikit yang tampil di layar Kesadaran. Pada satu titik. Blank. Yang tertinggal hanya Aku. Itulah Kesadaran Murni. Sang Ruh.
(5) Akhiri dengan menarik nafas dalam-panjang melalui hidung, tahan di perut sebentar, lalu hembuskan melalui hidung. Ulangi sampai merasakan ketenangan.
11
AKHIR AL-KALAM
Inti seni hidup meditatif atau berkesadaran adalah pembiasaan eling, sadar, terjaga total. Penjelasan dan praktek cuma bekal dan simulasi. Praktek yang diulang-ulang menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi karakter. Karakter menjadi nasib. Nasib menjadi takdir.
Seni hidup meditatif merupakan formulasi umum, universal yang siap pakai. Formulasi umum karena merupakan sari-pati praktek spiritual dari beragam tradisi mistik. Universal karena berlaku untuk se mua orang, baik beragama atau tidak dan dari latar kepercayaan, keyakinan mana pun. Siap pakai sebab bersifat praktis, mudah dipraktekkan.
Bagi para salik (pejalan spiritual), seni hidup meditatif bisa jadi pintu masuk dalam praktek-praktek spesifik seperti dzikir. Dengan seni hidup meditatif, dzikir
dilakukan secara sadar. Bukan ucapan an sich, berhenti di mulut (lisan). Bagi orang shalat, seni hidup meditatif bermanfaat melatih khusuk. Bahkan,
12
pada keseharian. Untuk belajar lebih fokus, bekerja lebih produktif, menyelesaikan persoalan-persoalan hidup dan sebagainya.
Semoga risalah singkat ini bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca untuk pengembangan Kesadaran dalam meniti jalan kembali. Amin ya Mujib al-sailin.