• Tidak ada hasil yang ditemukan

اللغة الفاظ يعبر بها كل قوم عن مقاصدهم

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "اللغة الفاظ يعبر بها كل قوم عن مقاصدهم"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan media komunikasi dan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam bersosialisasi antar individu maupun masyarakat. Komunikasi baru dapat dipahami jika bahasa yang digunakan saling dimengerti, baik dari pihak pembicara maupun lawan bicara. Para ahli mendefinisikan bahasa bermacam-macam antara lain :

Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa lambang bunyi, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf 1984 :16).

Menurut al-Ghulayayni (2005 :4 ).

ﻢﻫﺪﺻﺎﻘﻣ ﻦﻋ ﻡﻮﻗ ﻞﻛ ﺎﻬﺑ ﺮﺒﻌﻳ ﻅﺎﻔﻟﺍ ﺔﻐﻠﻟﺍ

/al-lugatu alfāẓun yu’abbiru bihā kullu qaumin ‘an maqāṣidihim/ ‘Bahasa adalah ujaran-ujaran yang digunakan oleh setiap kelompok masyarakat untuk menyampaikan maksud mereka’.

Ujaran-ujaran yang digunakan oleh setiap kelompok dapat berupa kata, frasa, kalimat, klausa atau wacana. Dalam bahasa Arab (BA) kategori kata dapat digolongkan kepada tiga kategori sebagaimana yang dikatakan Ghulayayni (2005: 9):

ﺔﻤﻠﻜﻟﺍ

:

ﺩﺮﻔﻣ ﻰﻨﻌﻣ ﻰﻠﻋ ﻝﺪﻳ ﻆﻔﻟ

.

ﻡﺎﺴﻗﺍ ﺔﺛﻼﺛ ﻲﻫ ﻭ

:

ﻢﺳﺍ

,

ﻞﻌﻓ ﻭ

,

ﻑﺮﺣ ﻭ

/al-kalimatu : lafẓun yadullu ‘alā ma’nā mufradin. Wa hiya ṡalāṡatu aqsāmin: ismun,wa fi’lun, wa harf/ ‘Kata ialah pengucapan yang menunjukkan arti tersendiri. Kata itu terbagi dalam tiga bagian yaitu ism (nomina), dan fi’il (verba), dan harf (konjungsi)’.

Dan Dayyab (1997: 13) juga mengatakan:

ﻉﺍﻮﻧﺍ ﺔﺛﻼﺛ ﻲﻓ ﺕﺎﻤﻠﻜﻟﺍ ﺮﺼﺤﻨﺗ ﻭ

:

ﻞﻌﻓ

,

ﻢﺳﺍ ﻭ

,

ﻑﺮﺣ ﻭ

/wa tanḥaṣiru l-kalimāti fi ṡalāṣati anwā’in: fi’lun, wa ismun, wa ḥarfun/. ‘kata itu hanya ada tiga macam : verba, nomina, dan konjungsi’,

Kategori ism (nomina) dan fi’il (verba) di dalam gramatika BA dapat berubah dari bentuk dasarnya. Perubahan kata-kata ini dibahas dalam morfologi sebagaimana yang disampaikan oleh Ghulayayni (2005: 8) sebagai berikut:

(2)

ﻥﺎﺘﻟﺎﺣ ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺕﺎﻤﻠﻜﻠﻟ

:

ﻥﺯﻭ ﻰﻠﻋ ﻥﻮﻜﺘﻟ ﺓﺩﺮﻔﻣ ﻲﻫ ﻭ ﺎﻬﻨﻋ ﺚﺤﺒﻟﺎﻓ ﺐﻴﻛﺮﺗ ﺔﻟﺎﺣ ﻭ ﺩﺍﺮﻓﺇ ﺔﻟﺎﺣ

ﻑﺮﺼﻟﺍ ﻢﻠﻋ ﻉﻮﺿﻮﻣ ﻦﻣ ﻮﻫ ﺔﺻﺎﺧ ﺔﺌﻴﻫ ﻭ ﺹﺎﺧ

/lil kalimāti al-‘Arabiyyati ḥālatāni : ḥālatun ifrādun wa ḥālatun tarkībun fal baḥṡu

‘anha wa hiya mufradatun litakūnu ‘alā wazni khāṣṣin wa hay’atin khassatin huwa

min mawḍū’in ‘ilmi al-ṣarfi /. ‘Dalam morfologi ada dua hal yang dikaji yaitu: kata yang berdiri sendiri dan kata yang tersusun dalam kalimat yang mempunyai pola dan bentuk yang khusus. Dan pembahasan ini terdapat dalam ilmu sarf’.

Keadaan kata yang berdiri sendiri serta ketika kata itu dalam kalimat, kedua hal ini mempunyai pola dan bentuk tersendiri. Sebagaimana yang diterangkan Ghulayayni (2005: 8) sebagai berikut :

ءﺎﻨﺑﻻﻭ ﺏﺍﺮﻋﺎﺑ ﺖﺴﻴﻟ ﻰﺘﻟﺍ ﺎﻬﻟﺍﻮﺣﺍ ﻭ ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺕﺎﻤﻠﻜﻟﺍ ﻎﻴﺻ ﺎﻬﺑ ﻑﺮﻌﺗ ﻝﻮﺻﺎﺑ ﻢﻠﻋ ﻑﺮﺼﻟﺍ ﺎﻓ

/fa al-arfu ‘ilmun bi uữlin ta’rifu bihā ṣiyagu al-kalimāti al-‘Arabiyyati wa ahwā luhā al-latī laisat bi i’rābin wa lā binā’in/ ‘morfologi merupakan ilmu yang membahas tentang pembentukan kata-kata BA dan hal-hal yang berkenaan dengan perubahan kata tersebut, bukan membahas satu kata dalam kalimat dan bukan membahas bunyi-bunyi vokal di akhir kata dalam satu kalimat’.

Menurut Ramlan dalam Mu’in (2004: 87) morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun semantik.

Pembentukan kata dalam BA menurut Ghulayaini (2005: 8) dapat dikaji dalam beberapa proses seperti berikut :

ﻢﻠﻜﻟﺍ ﻎﻴﺻ ﻂﺒﺿ ﻲﻓ ﻝﻮﻌﻤﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻥﻻ ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﻡﻮﻠﻌﻟﺍ ﻢﻫﺍ ﻦﻣ ﻑﺮﺼﻟﺍﻭ

,

ﻭ ﺎﻫﺮﻴﻐﺼﺗ ﺔﻓﺮﻌﻣ ﻭ

ﻦﻣ ﺕﺎﻤﻠﻜﻟﺍ ﻯﺮﺘﻌﻳ ﺎﻣﻭ ﻪﺘﻓﺮﻌﻣ ﻭ ﺓﺫﺎﺸﻟﺍ ﻭ ﺔﻴﻋﺎﻤﺴﻟﺍﻭ ﺔﻴﺳﺎﻴﻘﻟﺍ ﻉﻮﻤﺠﻟﺎﺑ ﻢﻠﻌﻟﺍ ﻭ ﺎﻬﻴﻟﺍ ﺔﺒﺴﻨﻟﺍ

ﻝﻼﻋﺍ

,

ﻡﺎﻏﺩﺍ ﻭﺍ

,

ﻝﺍﺪﺑﺍ ﻭﺍ

.

/wa al-ṣarfu min ahammi al-‘ulumi al-‘Arabiyyati li`anna ‘alaihi al-mu’awwalu fi

ḍabṭi ṣiyagi al-kalami, wa ma’rifatun taṣgīruhā wa an-nisbatu ilaihā wa al-ilmu bi

al-jumu’i al-qiyāsiyati wa al-simā’iyati wa al-syāzati wa ma’rifatuhu wa ma ya’tari al-kalimatu min i’lāli, aw idgāmi, aw ibdāli./ ‘Morfologi adalah bagian ilmu BA yang penting karena morfologi membahas tentang pembentukan kata secara tepat dan mengenalkan tentang pola kata yang membawa makna menjadi kecil ( ﺮﺤﺑ

/baḥrun/ ‘laut’  ﺮﻴﺤﺑ /buḥairun/ ‘danau’) dan pola pembentukan kata yang

membawa makna penggolongan atau pengelompokan ( ( ﺮﺼﻣ /misra/ ‘Mesir’ ّﻱﺮﺼﻣ /misriyun/ ‘bangsa Mesir)) dan ilmu tentang jama’ kiasi dan sima’i dan kalimat asing dan mengenalkan tentang perubahan bentuk kata dengan mengganti huruf-huruf yang lemah (i’lal), seperti ﺐﺛﻭ - ﺐﺛﻮﻳ /waṡaba-yauṡibu/ ‘melompat’ 

ﺐﺜﻳ /yaṡibu/ ‘melompat’ dan perubahan bentuk diakibatkan adanya bunyi yang

berdekatan dengannya (idgam), seperti ﺩﺪﻣ /madada/  ّﺪﻣ /madda/ ataupun perubahan bentuk kata dengan mengganti huruf yang shahih (ibdal), seperti ﻭﺎﻋﺩ /du’āwun/ءﺎﻋﺩ/du’ā`un/ .

(3)

Salah satu bentuk perubahan kata yang akan peneliti bahas dalam morfologi BA seperti yang dikatakan Ghulayaini adalah idgam. Idgam menurut Ghulayaini (2005: 252) dan George Mitri (1996: 6) :

ﻡﺎﻏﺩِﻻﺍ

:

ﻪﺴﻨﺟ ﻦﻣ ﺮﺧﺍ ﻑﺮﺣ ﻲﻓ ﻑﺮﺣ ﻝﺎﺧﺩِﺍ

,

ﺩﺪﺸﻣ ﺍﺪﺣﺍﻭ ﺎﻓﺮﺣ ﻥﺍﺮﻴﺼﻳ ﺚﻴﺤﺑ

.

ﻢﻜﺣ ﻭ

ﻦﻴﻓﺮﺤﻟﺍ

,

ﺎﻤﻬﻨﻴﺑ ﻞﺻﺎﻓ ﻼﺑ ﺎﻛﺮﺤﺘﻣ ﻲﻧﺎﺜﻟﺍﻭ ﺎﻨﻛﺎﺳ ﺎﻤﻬﻟﻭﺍ ﻥﻮﻜﻳ ﻥﺍ ﻡﺎﻏﺩﻻﺍ ﻲﻓ

/al-idgāmu : idkhālu ḥarfin fi ḥarfin akhar min jinsihi, bi ḥay ṡu yaṣīrāni ḥarfan

wāḥidan musyaddidan. Wa ḥukmu al-ḥarfaini, fi l-idgāmi an yakūna awwaluhumā

sākinan wa tsāni mutaḥarrikan bilā fāṣilin bainahumā/. al-idgām adalah masuknya satu huruf kepada huruf lain yang sejenis, lalu menjadi satu huruf yang memakai tasydid. Kaedah bagi kedua huruf yang sejenis itu adalah huruf yang pertama sukun dan huruf yang kedua berharkat tanpa ada pemisah di antara kedua huruf tersebut. Dari pendapat kedua tokoh tersebut diperoleh batasan bahwa idgam adalah penggabungan dua huruf yang memiliki kesamaan menjadi sebuah huruf yang diberi tanda tasydid. Tasydid (

) merupakan tanda penekanan dua bunyi pada satu huruf yang terletak di atas huruf. George Mitri (1996: 5) mengatakan :

ﺤﻟﺍ ّﻥﺍ ﻰﻠﻋ ّﻝﺪﻳ ﻮﻫ ّﺪﺸﻟﺍ

ﻡّﺪﻗ ﻑﺮﺤﻟﺍ ﻕﻮﻓ ﻦﻣ ﻢﺳﺮﻳ ﻭ ﻥﺎﻓﺮﺣ ﻑﺮ

ﻡﺩْﺪﻗ

/asy-syaddu huwa yadullu ‘alā anna l-harfa harfāni wa yursamu min fauqa l-harfi, qaddama – qad-dama/. tasydid adalah lambang yang menjelaskan bahwa sebuah huruf itu merupakan dua huruf yang sama sehingga dalam penulisannya sebuah huruf itu diberi tanda tasydid (

) di atasnya, seperti

َﻡ

َﻗ ﱠﺪ

bentuk awal dari

َﻡ

َﺩْﺪ

َﻗ

’.

Idgam juga terdapat dalam dua huruf yang makhrajnya berdekatan sebagaimana yang dijelaskan al-Ghulayaini (2005:252) sebagai berikut:

ﺝﺮﺨﻤﻟﺍ ﻲﻓ ﻦﻴﺑﺭﺎﻘﺘﻤﻟﺍ ﻦﻴﻓﺮﺤﻟﺍ ﻲﻓ ﻥﻮﻜﻳ ﻡﺎﻏﺩﻹﺍﻭ

,

ﻦﻴﺴﻧﺎﺠﺘﻤﻟﺍ ﻦﻴﻓﺮﺤﻟﺍ ﻰﻓ ﻥﻮﻜﻳ ﺎﻤﻛ

.

ﻚﻟﺍﺫﻭ

ﺮﺧﻵﺍ ﺲﻧﺎﺠﻴﻟ ﻝﻭﻷﺍ ﻝﺍﺪﺑﺈﺑ ﺓﺭﺎﺗ ﻥﻮﻜﻳ

/wal-idgāmu yakūnu fil ḥ arfaini al-mutaqāribaini fil makhraj kamā yakūnu filḥarfaini al-mutajānisaini. Wa żālika yakūnu tāratan bi ibdāli al-awwali liyujānisa al-akhar/. ‘Dan idgam terjadi pada 2 huruf yang berdekatan pada makhrajnya , sebagaimana yang terjadi pada dua huruf yang sejenis, kadangkala terjadi pergantian huruf awal untuk menjadikan huruf lainnya sejenis’.

Seperti contohnya:

ﻥﺯﻭ ﻰﻠﻋ ﻰﺤﻤﻧﺍ ﻪﻠﺻﺍ ﻭ ﻰﺤّﻣﺈﻛ

"

ﻞﻌﻔﻧﺍ

"

ﻝﻭﻷﺍ ﺲﻧﺎﺠﻴﻟ ﻰﻧﺎﺜﻟﺍ ﻝﺍﺪﺑﺈﺑ ﺓﺭﺎﺗ ﻥﻮﻜﻳ ﻭ

:

ﻰﻋّﺩﺍ

ﻥﺯﻭ ﻰﻠﻋ ﻰﻌﺗﺩﺍ ﻪﻠﺻﺍ

"

ﻞﻌﺘﻓﺍ

"

/ka “immaḥa:” wa aṣluhu inmaha: ‘al ā wazni “infa’ala” wa yakūnu tāratan bi ibdāli al-tsāni: liyujānisa al-awwali : ka “idda’a wa aṣluhu idta’a: ‘ala wazni “ifta’ala/. ‘seperti /immaha/ aslinya /inmaha/ pada pola infa’ala dan kadangkala juga terjadi pergantian huruf kedua dengan jenis huruf yang pertama, seperti idda’a dan aslinya idta’a pada pola ifta’ala.’

(4)

George mitri (1996: 6) mengatakan :

ﺓﺪﺣﺍﻭ ﺔﻤﻠﻛ ﻲﻓ ﺎﻤﻬﻧﺍ ﻮﻟ ﺎﻤﻛ ﻦﻴﺘﻤﻠﻛ ﻲﻓ ﻥﺎﻛ ﺍﺫﺍ ﺎﻤﻬﻟﻭﺍ ﻦﻛﺎﺴﻟﺍ ﻦﻳﺭﻮﺘﺠﺘﻤﻟﺍ ﻦﻴﻠﺜﻤﻟﺍ ﻡﺎﻏﺩﻻﺍ ﺐﺠﻳ

/yajibu l-`idgāmu l-miṡlaini l-mutajāwiraini s-sākini awwaluhumā iżā kānā fī

kalimataini kamā lau annahumā fi kalimatin wāḥidatin/ . ‘bila ada dua huruf serupa

yang berdampingan diantara dua kata dan huruf awal idgamnya sukun, maka harus di idgamkan seperti berada dalam satu kata’.

Menurut Sibawaihi dalam Kholisin (2005: 182) istilah idgam ini disebut dengan

ﺮﺛﺄﺗ

ﺪﻌﺒﺑ ﺎﻫﺪﻌﺑ ﺓﺭﻭﺎﺠﺘﻤﻟﺍ ﺕﺍﻮﺻﻻﺍ

/ta`aṡurul-aṣwātil-mutajāwirati ba’daha biba’din/ ‘proses saling mempengaruhi antara satu bunyi dengan bunyi lainnya yang berdampingan’. Batasan idgam yang diberikan oleh Sibawaihi ini sama pengertiannya dengan asimilasi sebagaimana yang dikatakan oleh Kridalaksana (1993: 20) asimilasi adalah proses perubahan bunyi yang mengakibatkannya mirip atau sama dengan bunyi lain di dekatnya. Dengan demikian idgam berkaitan erat dengan asimilasi.

Chaer (2007: 132) dalam bukunya mengatakan ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya. Dalam beberapa kasus lain, pada bahasa-bahasa tertentu ada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem lain. Muslich (2008: 105) mengungkapkan gejala asimilasi berarti proses penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang tidak sama. Misalnya : (1) /al- salam/ /assalam/ / asalam/ (2) /Inmoral/  /immoral/ /immoral/.

Dari batasan idgam dan asimilasi di atas ada dua bidang tata bahasa yang saling berhubungan. Kedua hal ini dapat dikaji dari bidang morfologi dan fonologi yang disebut dengan morfonologi. Sebagaimana yang dikatakan Kridalaksana (2007: 183) Morfofonemik adalah subsistem yang menghubungkan morfologi dan fonologi. Di dalamnya dipelajari bagaimana morfem direalisasikan dalam tingkat fonologi.

Dressler (1985) dalam Kholisin (2005: 180) morfonologi adalah studi tentang struktur fonemis morfem yang berkaitan dengan perubahan fonem sebagai struktur morfem. Menurut Trubetskoy dalam Kholisin (2005: 180)mengatakan, morfonologi merupakan salah satu disiplin linguistik yang berbeda dari fonologi maupun morfologi. Morfonologi berkaitan dengan penggunaan perbedaan fonologis yang bersifat morfemis.

Dressler (1985) dalam kholisin (2005: 180) mengatakan bahwa morfofonemik mempunyai tiga bidang kajian, yaitu (1) Mengkaji struktur fonologi morfem (the study of the phonological structure of morphemes). Kajian ini merupakan bidang kajian fonotaktik

(5)

intramorfemik atau aturan struktur morfem, (2) Mengkaji modifikasi fonis yang bersifat kombinatoris (the study of the combinatory phonic modifications which morphemes undergo morpheme combinations). Dalam hal ini morfofonemik dilihat dari sudut morfologi. Artinya, modifikasi morfofonemis merupakan penyimpangan dari aturan morfologi yang sebenarnya, (3) Mengkaji berbagai alternasi untuk menangani masalah fungsi morfologis (the study of the alternation series which serve morphological function). Di sini morfofonemik dilihat dari sudut fonologi. Misalnya, perubahan realisasi fonem /c/ dari bunyi velar [k] menjadi [s] seperti dalam electric [k] electri [s]-ity, critic [k] criti [s] ize.

Salah satu contoh yang peneliti lihat sebagai kata yang dapat dikaji dalam morfofonemik ini adalah sebagaimana berikut :

ﺓﺪﺌﻓﻻﺍ ﻰﻠﻋ ﻊﻠّﻄﺗ ﻲﺘﻟﺍ

/allatī taṭṭali’u ‘alā l-af`idati/ ‘yang membakar sampai ke hati’ Kata

ﻊﻠّﻄﺗ

ini merupakan bentuk kata kerja akan datang yang bentuk asalnya

ﻊﻠﻁ

/ṭala’a/ [ ala÷a] dalam pola

ﻞﻌﻓ

/fa’ala/ . Bentuk ini berubah ke dalam pola

ﻞﻌﺘﻓﺍ

/ifta’ala/. Pola ini dari bentuk tersebut mengalami afiksasi yaitu dengan bertambahnya konsonan stop glottal tak bersuara

ء

[/] di awal kata dan konsonan stop dental tak bersuara

[t] di tengah kata tersebut, sehingga kata tersebut berubah menjadi

ﻊﻠﺘﻁﺍ

/iṭtala’a/ [/i tala÷a] dalam bentuk ini konsonan stop dental velarisasi tidak bersuara

[ ] berdekatan dengan konsonan stop dental tak bersuara

[t]. Dalam hal ini terjadi proses idgam, sehingga bunyi konsonan stop dental velarisasi tidak bersuara

[ ] dan konsonan stop dental tidak bersuara

[t] berasimilasi. Dengan demikian konsonan yang berdekatan ini saling berpengaruh sehingga bunyi

ﻊﻠﺘﻁ

ﺍ /`iṭtala’a/ [/i tala÷a] menjadi

ﻊﻠّﻁﺍ

/iṭṭala’a/ [/i ala÷a]

dikarenakan kedua konsonan ini mempunyai titik artikulasi yang sama yaitu dental, maka ketika kedua konsonan ini berdekatan terjadi asimilasi yang mengakibatkan penghilangan bunyi konsonan stop dental tidak bersuara

[t] menjadi

ﻊﻠّﻁﺍ

/iṭṭala’a/ [/i ala÷a] . jenis idgam yang seperti ini disebut dengan idgam mutaqaribain yaitu idgam yang berdekatan makhraj atau titik artikulasinya.

Hal yang lain juga dapat dilihat seperti perubahan diantara dua morfem dalam kata

ﺕﺪﺟﻭ

/wajad tu/ ‘saya telah menemukan’. Morfem

ﺪﺟﻭ

/wajada/ verba yang dirangkaikan dengan morfem

ُﺕ

/tu/ sebagai penanda kata ganti pertama tunggal. Karena bunyi konsonan stop dental bersuara

[d] dan stop dental tidak bersuara

[t] berdekatan dan mempunyai artikulasi yang sama yaitu dental, maka terjadi proses idgam. Dalam hal ini yang

(6)

membedakan kedua bunyi itu adalah

[d] konsonan tidak bersuara dan

[t] konsonan bersuara. Dengan demikian bunyi konsonan

[d] berasimilasi dengan konsonan

ُﺕ

[tu] sehingga diucapkan menjadi [wajattu] [wa∆at tu] tetapi ini hanya dalam segi fonetik tidak dalam morfologi.

Dari kedua contoh di atas maka peneliti ingin memfokuskan penelitian tentang idgam yang dilihat dari sudut morfologi dan fonologi yang disebut dengan morfofonemik. Penelitian ini belum pernah dibahas oleh mahasiswa Departemen Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di dalam latar belakang, agar penelitian tidak menyimpang dari pokok bahasan yang dikehendaki maka penulis membuat batasan masalah yang meliputi:

1. Apa saja jenis idgam yang ada dalam BA dilihat dari sudut morfofonemik? 2. Bagaimana proses terjadinya idgam berdasarkan morfofonemik?

1.3 TujuanPenelitian

Secara khusus penelitian ini memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai yaitu :

1. Untuk mengetahui jenis idgam dalam BA yang dilihat dari morfofonemik. 2. Untuk mengetahui proses terjadinya idgam berdasarkan morfofonemik.

1.4 Manfaat Penelitian

Dalam suatu penelitian tentu mempunyai tujuan yang ingin dicapai, sehingga dengan adanya tujuan tersebut dapat dipetik sebuah manfaat. Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Untuk menambah wawasan peneliti dan pembaca tentang bahasa Arab khususnya tentang idgām dilihat dari sudut morfofonemik.

2. Untuk dapat dijadikan rujukan bagi peneliti selanjutnya

3. Untuk menambah referensi bacaan perpustakaan Departemen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya USU.

(7)

1.5Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang mengambil data primer dan sekunder dari bahan kepustakaan. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang akan peneliti jadikan sebagai bahan kajian yaitu berupa data representatif atau data apa adanya. Sumber data ini diambil dari (1). Al-Quran Cetakan Departemen Agama Republik Indonesia, terbitan CV. Gema Risalah Brebes, Bandung 1994. (2) kamus arab- Indonesia, Prof. DR. H. mahmud yunus, cetakan ke-8, penerbit mahmud yunus wadzurriyah, jakarta 1990. (3). Teks buku bahasa Arab, bulugul marram, hafiz bin hajar ‘asqalani, darul ahya`i l-kutubi l-‘arabiyyati, sedangkan data sekunder adalah data-data yang diperoleh dari buku-buku, jurnal, makalah yang erat kaitannya dengan masalah yang peneliti kaji yang dapat dijadikan sebagai pendukung keberhasilan penelitian ini.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode analisis deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mengklasifikasi, menganalisis dan menginterpretasikan data berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya (Surakhmad, 1980: 34)

Sistem penulisan dalam penelitian ini menggunakan pedoman transliterasi Arab-Latin yang merupakan SKB Menteri agama dan menteri pendidikan dan kebudayaan RI No 158/1987 dan No 0543 b/u/1987 tertanggal 22 januari 1988 dan lambang fonetik adalah lambang IPA (International Phonetic Association).

Referensi

Dokumen terkait

Bab Kedua, mencakup landasan teori dan metodologi yang akan peneliti gunakan dalam melakukan penelitian. Bab Ketiga, berisi gambaran umum Pelaksanaan Program Latihan Profesi Prodi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dari sudut panitia pelaksana dan dari program studi. Bab Keempat, berisi tentang analisis efektivitas Program Latihan Profesi Prodi MPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sinkronisasi dengan link and match profil profesi lulusannya. Bab Kelima, berisi tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan yang mencakup kesimpulan sebagai jawaban atas rumusan masalah, saran, dan penutup. Pada bagian akhir skripsi terdapat daftar pustaka, lampiran- lampiran, dan daftar riwayat

Bab Kedua, mencakup landasan teori dan metodologi yang akan peneliti gunakan dalam melakukan penelitian. Bab Ketiga, berisi gambaran umum Pelaksanaan Program Latihan Profesi Prodi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dari sudut panitia pelaksana dan dari program studi. Bab Keempat, berisi tentang analisis efektivitas Program Latihan Profesi Prodi MPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sinkronisasi dengan link and match profil profesi lulusannya. Bab Kelima, berisi tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan yang mencakup kesimpulan sebagai jawaban atas rumusan masalah, saran, dan penutup. Pada bagian akhir skripsi terdapat daftar pustaka, lampiran- lampiran, dan daftar riwayat