16
BAB II
DAKWAH ISLAM MELALUI MEDIA
A. Kajian Tentang Dakwah Islam1. Pengertian Dakwah Islam
Islam datang sebagai rahmat yang diturunkan Allah SWT kepada seluruh umat manusia untuk memberikan jalan terang dari kesesatan dan untuk memberikan petunjuk bagi seluruh alam. Sebagai agama terakhir, Islam diketahui memiliki karakteristik yang khas dibandingkan dengan agama-agama yang datang sebelumnya.
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW pada dasarnya sama dengan agama yang diajarkan oleh nabi-nabi sebelumnya. Namun yang membedakan dari ajaran itu adalah bahwa setiap Nabi diutus kepada masing-masing umatnya. Sedangkan Nabi Muhammad diutus untuk memberi petunjuk tersebut kepada seluruh umat manusia, dan ajaran yang dibawa ini berlaku sepanjang masa.22
Secara etimologis, kata Islam adalah bentuk mashdar (kata benda asal) dari kata aslama, yuslimu, islam yang berarti menyerah penuh, yakni kepada petunjuk Allah SWT. Orang yang bersifat atau melakukan penyerahan ini (isim
fa’ilnya) dinamakan muslim. Adapun pengertian Islam dari segi istilah akan
didapati rumusan yang berbeda-beda.23
Menurut Harun Nasution, Islam didefinisikan sebagai agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. Islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.
22 Ebrahim, El-Khouly, Lois Lamya’ Al Faruqi, Hussein Nasr, Islam Dalam Masyarakat
Kontemporer, terj. Hamud LA. Basamalah (Bandung: Gema Risalah Press, 1988), hlm. 1-2 23 Bustanuddin Agus, Al Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 59. Lihat pula Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 61-63
17
Adapun pengertian Islam dari segi istilah akan didapati rumusan yang berbeda-beda.
Menurut Harun Nasution, Islam didefinisikan sebagai agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. Islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.24
Sedangkan Bustanuddin Agus mendefinisikan Islam sebagai ajaran Allah SWT untuk pedoman hidup manusia guna keselamatan dan kebahagiaan mereka hidup di dunia dan di akherat yang telah diturunkan-Nya, kepada semua Rasul-Nya, semenjak Nabi Adam, sampai Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW.25
Dari dua sisi dalam memahami Islam, yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah agama terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir yang memerintahkan manusia agar patuh kepada ajaran Allah SWT supaya mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Sebagai agama dakwah, Islam mengajarkan pokok-pokok serta ajaran-ajarannya kepada seluruh umat manusia. Ini berarti bahwa dakwah yang dilakukan oleh umat Islam tidak hanya terbatas bagi pemeluknya saja, tetapi Islam juga mengajarkan nilai-nilai universalitas yang menjadikan ajaran Islam dapat diterima oleh semua kalangan.
Ditinjau dari asal kata (bahasa), dakwah berasal dari bahasa arab, yang berarti panggilan, ajakan, atau seruan. Kata dakwah tersebut berbentuk sebagai
“isim mashdar”. Kata ini berasal dari fi’il (kata kerja) “da’a-yad’u” yang artinya memanggil, mengajak atau menyeru.26
24 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1985), hlm. 24.
25 Bustanuddin Agus, Op Cit., hlm. 61.
26 Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al Ikhlas, 1983), hlm. 17.
18
Sedangkan secara istilah para ahli ilmu dakwah memberikan pendapat yang beraneka ragam dalam mendefinisikannya.
Menurut Thoha Yahya Umar, dakwah merupakan usaha mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan di dunia dan di akherat.27
Sedangkan Muhammad Nasir memberikan pengertian dakwah sebagai usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, yang meliputi amar ma’ruf nahi munkar, dengan berbagai macam media.28
Menurut M. Arifin, dakwah memiliki arti sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan, serta pengamalan terhadap ajakan agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur paksaan.29
Dari definisi dakwah yang telah disebutkan. Dakwah mengandung dua pengertian. Pertama, dakwah yang ditujukan kepada seluruh umat manusia di dunia tanpa terkecuali. Kedua, dakwah yang ditujukan khusus bagi umat Islam. Namun, pada hakekatnya dakwah merupakan segala usaha manusia yang dilakukan secara sadar dan terencana baik dalam bentuk lisan, tulisan, dan sebagainya dalam rangka mengajak untuk beramar ma’ruf nahi mungkar30 dengan tanpa adanya unsur paksaan.
27 M. Aminuddin Sanwar, Pengantar Ilmu Dakwah, (Semarang: Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, 1986), hlm. 3.
28 Abd. Rosyad Shaleh, ManajemenDakwahIslam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 8.
29 Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah Dengan Aspek-Aspek Kejiwaan Yang Qurani, (Wonosobo: Amzah, 2001), hlm. 18.
30 Ma’ruf adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedangkan
Mungkar adalah segala perbuatan yang menjauhkan diri kepada Allah. Lihat A. Hasimi, Dustur Da’wah Menurut Al Quran, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 261-263.
19
2. Dasar Hukum Dakwah
Islam adalah agama yang berkembang melalui sebuah proses. Sejak awal kehadirannya Allah SWT mengutus seorang Rasul untuk menyebarkan ajaran Islam kepada seluruh umatnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berbantahlah mereka dengan cara yang baik sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalannya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An Nahl: 125).31
Kata ud’u yang diterjemahkan dengan seruan adalah fiil amar yang dalam kaidah ushul fiqh artinya perintah. Setiap perintah adalah wajib dan harus dilaksanakan selama tidak ada dalil lain yang memalingkannya dari kewajiban itu kepada sunnah atau hukum lain. Jadi melaksanakan dakwah hukumnya wajib.Hanya saja terdapat perbedaan pendapat ulama tentang kewajiban dakwah itu apakah wajib ain (fardlu ain) atau wajib kifayah (wajib kiifayah).32
Perbedaan pendapat para ulama ini karena perbedaan penafsiran terhadap ayat 104 dari surat Ali Imron yang berbunyi:
31 Departemen Agama, Al Quran dan Terjemahannya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Quran, 1971), hlm. 421.
20
Artinya: “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang yang beruntung”. (Ali ‘Imran: 104)33
Perbedaan penafsiran terletak pada kata minkum “Min” diberikan pengertian “littabidh” yang berarti sebagian, sehingga menunjukkan kepada hukum fardhu kifayah. Sedangkan pendapat lainnya mengartikan dengan
“littab yin” yang artinya menerangkan sehingga menunjukkan kepada hukum
fardhu ain.34
Dari ayat-ayat tersebut, dapat diketahui bahwa hukum melaksanakan dakwah adalah wajib baik bagi muslim maupun muslimat. Hanya saja dalam berdakwah harus disesuaikan dengan ukuran kemampuan masing-masing.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
Artinya: “Barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, apabila ia tidak mampu, maka rubahlah dengan lisannya, bila ia tidak mapu rubahlah dengan hatinya dan itu adalah paling lemahnya iman.” (HR. Muslim)35
Dari dalil-dalil tersebut jelas bahwa agama Islam mewajibkan kepada umatnya untuk berdakwah kepada siapapun tanpa pandang muslim maupun non-muslim, sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Yang terpenting adalah cara dakwah yang dilakukan dengan cara yang baik, dan dakwah yang dilakukan dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.
33 Departemen Agama, Op Cit., 93. 34 M. Aminudin Sanwar, Op Cit. 35.
35 Syekh Al Islam Mukhyiddin, Riyadhus Sholikhin, (Surabaya: Al Hidayah, tth), hlm. 110.
21
3. Unsur-Unsur Dakwah
1. Subyek dakwah
Subyek dakwah atau dai adalah pelaksana dari kegiatan dakwah, baik secara individu maupun kelembagaan. Dai adalah setiap muslim laki-laki dan wanita yang baligh dan berakal baik ulama maupun bukan ulama, karena kewajiban berdakwah adalah kewajiban yang dibebankan kepada mereka seluruhnya.
2. Obyek dakwah
Obyek dakwah atau mad’u adalah seluruh umat manusia baik pria maupun wanita, beragama maupun belum beragama, pemimpin, maupun rakyat biasa. Karena hakekat dari diturunkannya agama Islam berlaku secara universal untuk seluruh umat manusia.
3. Tujuan Dakwah
Dakwah merupakan suatu rangkaian proses untuk mencapai suatu tujuan tertantu. Tanpa adanya tujuan, kegiatan dakwah tidak akan terarah bahkan dapat menyebabkan proses transformasi pesan-pesan agama menjadi gagal. Oleh karena itu, tujuan dakwah merupakan salah satu faktor terpenting dalam pelaksanaan dakwah.
Asmuni Syukir membagi tujuan dakwah dalam dua kategori:36
a. Tujuan umum dakwah (major obyektif)
Tujuan umum dakwah adalah mengajak umat manusia (meliputi orang mukmin maupun orang kafir atau musyrik) kepada jalan yang benar yang diridlai Allah SWT. Agar dapat hidup bahagia dan sejahtera di dunia maupun di akherat.
Tujuan umum tersebut menunjukkan pengertian bahwa dakwah ditujukan kepada seluruh umat manusia untuk mencapai tujuan hidup mereka yaitu kebahagiaan di dunia dan di akherat.
22
b. Tujuan khusus dakwah (minor obyektif)
Tujuan khusus dakwah merupakan perincian dari tujuan umum dakwah.Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan dakwah dapat diketahui arahnya secara jelas.
4. Materi Dakwah
Materi dakwah atau maadatud dakwah adalah semua bahan atau sumber yang dipergunakan atau yang akan disampaikan oleh da’i kepada mad’u dalam kegiatan dakwah untuk menuju kepada tercapainya tujuan dakwah. Karena dakwah merupakan aktifitas lanjutan daripada tugas rasul maka materi yang akan disampaikan dalam kegiatan dakwah adalah semua ajaran yang dibawa oleh Rasullullah SAW yang datangnya dari Allah SWT untuk seluruh umat manusia.37
Adapun ajaran yang di bawa oleh rasul adalah ajaran Islam, sehingga materi dakwahnya tidak lain adalah ajaran Islam yang bersumber dari al- Quran dan al-Hadits. Adapun isi pesan dakwah dalam materi tersebut merupakan ajakan dan anjuran dalam rangka mencapai tujuan dakwah.
Menurut Asmuni Syukir dalam buku Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, materi dakwah dibagi menjadi tiga meliputi aqidah, syariah, dan budi pekerti.38
a. Masalah aqidah
Aqidah dalam Islam bersifat batiniyah yang mencakup masalah-masalah yang erat hubungannya dengan rukun iman, serta masalah-masalah yang dilarang sebagai lawannya meliputi syirik (menyekutukan adanya Tuhan), ingkar dengan adanya Tuhan, dan sebagainya.
37 M. Aminuddin Sanwar, Op Cit., hlm. 75. 38 Asmuni Syukir, Op Cit., hlm. 61-63.
23 b. Masalah syari’ah
Syari’ah dalam Islam berhubungan erat dengan amal lahir (nyata) dalam rangka mentaati semua peraturan atau hukum Allah SWT guna mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan mengatur pergaulan hidup antara sesama manusia. Artinya bahwa masalah-masalah yang berhubungan dengan syari’ah bukan hanya terbatas pada hubungan ibadah dengan Allah SWT, tetapi masalah-masalah yang berkenaan dengan pergaulan hidup antara sesama manusia diperlukan juga.
c. Masalah akhlaqul karimah
Sebagai materi dakwah, masalah akhlak diperlukan untuk menyempurnakan keimanan dan keislaman.
Sedangkan Barmawie Umary membagi materi dakwah lebih rinci lagi, yaitu menjadi sepuluh materi, melipti: aqidah, akhlaq, akhkam, ukhuwah, pendidikan, sosial, kebudayaan, kemasyarakatan, amar ma’ruf, dan nahi mungkar.39
1) Aqidah
Menyebarkan dan menanamkan pengertian akidah Islamiyah yang berpangkal dari rukun iman dan segala perinciannya.
2) Akhlak
Menerangkan akhlak yang baik dan akhlak yang buruk dengan segala dasar, hasil, dan akibatnya.
3) Ahkam
Menjelaskan aneka hukum meliputi ibadah, al ahwalusy syakhsiyah, muamalah yang wajib diamalkan oleh setiap muslim. 4) Ukhuwah
Menggambarkan persaudaraan yang dikehendaki oleh Islam antar penganutnya sendiri, serta sikap pemeluk Islam terhadap golongan lain.
24 5) Pendidikan
Melukiskan sistem pendidikan yang telah dipraktekkan oleh pendidik Islam di masa lampau dan bagaimana penerapan teori pendidikan Islam di masa sekarang.
6) Sosial
Mengemukakan solidaritas menurut tuntunan agama, tolong menolong, kerukunan hidup sesuai dengan ajaran Qur’an dan al-Hadits.
7) Kebudayaan
Mengembangkan kebudayaan yang tidak bertentangan dengan norma-norma agama.
8) Kemasyarakatan
Menguraikan konstruksi masyarakat yang penuh berisi ajaran Islam dengan tujuan keadilan dan kemakmuran bersama.
9) Amar Ma’ruf
Mengajak manusia untuk berbuat baik guna memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akherat.
10) Nahi Mungkar
Melarang manusia dari perbuatan jahat agar terhindar dari malapetaka yang akan menimpa di dunia dan di akherat.
5. Media Dakwah
Media dakwah atau wassailud dakwah adalah alat yang dipakai sebagai perantara untuk melaksanakan kegiatan dakwah.40
Aminuddin Sanwar dalam buku Pengantar Ilmu Dakwah membagi alat-alat tersebut dalam enam macam.41
a. Dakwah melalui saluran lisan
Yang dimaksud dengan dakwah melalui saluran lisan adalah dakwah secara langsung dimana da’i menyampaikan ajaran
40 M. Aminuddin Sanwar, Op Cit., hlm. 77. 41Ibid., hlm. 77-78
25
dakwahnya kepada mad’u. Adapun peralatan yang dipakai untuk berdakwah melalui saluran lisan adalah radio, TV, dan sebagainya. b. Dakwah melalui saluran tertulis
Dakwah melalui saluran tertulis adalah kegiatan dakwah yang dilakukan melalui tulisan-tulisan. Kegiatan dakwah secara tertulis ini dapat dilakukan melalui surat kabar, majalah, buku-buku, brosur-brosur, selebaran, buletin, spanduk, dan lain sebagainya.
c. Dakwah melalui saluran visual
Berdakwah melalui saluran visual adalah kegiatan dakwah yang dilakukan dengan melalui alat-alat yang dapat dilihat oleh mata manusia atau dapat ditatap dalam menikmatinya. Alat-alat visual ini dapat berupa kegiatan pentas pantomim, seni lukis, seni ukir, kaligrafi dan lain sebagainya.
d. Dakwah melalui saluran audio
Berdakwah dengan menggunakan media audio adalah dakwah yang dilakukan dan dipakai dengan perantaraan pendengaran. Yang termasuk dalam media audio ini adalah radio, kaset (rekaman), dan sebagainya.
e. Dakwah melalui saluran audio visual
Dakwah melalui media ini merupakan gabungan dari media audio dan media visual. Dengan media ini, dakwah dapat dinikmati mad’u dengan mendengar dan melihat secara langsung. Peralatan audio visual ini antara lain TV, seni drama, wayang kulit, video, dan lain-lain.
f. Dakwah melalui keteladanan
Penyampaian dakwah melaui keteladanan adalah penampakan konsekuensi da’i antara pernyataan dan pelaksanaan. Dengan keteladanan ini, memudahkan mad’u untuk meniru perbuatan yang dilakukan oleh da’i.
26
Jadi yang dimaksud dengan media dakwah adalah alat yang digunakan oleh da’i untuk menyampaikan pesan dakwahnya kepada mad’u.
6. Metode Dakwah
Metode dakwah artinya cara-cara yang dipergunakan oleh seorang da’i untuk menyampaikan materi dakwah. Metode dakwah yang terdapat di dalam al-Quran adalah hikmah, nasihat yang baik (mauidhoh
khasanah), dan berbantah dengan cara yang paling baik (mujadalah).
Sedangkan dalam hadist metode dakwah meliputi kekuatan anggota tubuh (tangan), dengan mulut (lidah), dan apabila tidak mampu keduanya maka dengan kekuatan hati. Seiring dengan perkembangan zaman, metode ini terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan peralatan yang digunakan.42
B. Tinjauan Tentang Media Massa
1. Media Massa Sebagai Unsur Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat primer. Dengan komunikasi manusia bisa melakukan pentransferan ide yang menjadi kelangsungan kehidupannya, dengan komunikasi pula manusia bisa mempengaruhi bahkan bisa merubah tingkah laku komunikan lainnya.
Secara harfiah komunikasi berasal dari bahasa Latin communicatio, yang bersumber dari kata communis yang artinya sama. Sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah communication.43 Kata sama dalam pengertian ini berarti kesamaan makna antara komunikator dan komunikan. Komunikasi disebut efektif apabila antara komunikator dan komunikan memiliki kesamaan makna terhadap pesan yang disampaikan. Sehingga dalam proses tersebut tercipta kesamaan pikiran, dalam tingkat yang lebih tinggi komunikasi dapat merubah prilaku dari komunikan.
42 Wardi Bahtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logis, 1977), hlm. 34-35.
43 Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 9.
27
Adapun mengenai pendapat para ahli, banyak yang mendefinisikan arti komunikasi sesuai dengan latar belakang para tokoh yang mendefinisikannya.
Onong menuliskan bahwa Harrold Laswellseorang sarjana hukum pada Yale University di Amerika Serikat menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menjelaskan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “who says what in which
channel to whom with what effect”.44 Sementara sarjana psikologi kenamaan
Amerika Carl I. Hovland memberikan definisi komunikasi sebagai proses “the process by which an individual (the communicator) transmits stimully (usually verbal symbols) to modiify the behaviour of other individuals”.45
Sebagai ilmu sosial, komunikasi senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Semula komunikasi dipahami sebagai pertransferan ide antara komunikator dan komunikan yang berlangsung antar pribadi atau tatap muka (face to face communication). Pada umumnya komunikator berkenalan dengan penerima pesan atau penerima informasi (komunikan). Media massa yang digunakan juga masih sederhana, misalnya, kentongan atau memanjat pohon digunakan sebagai alat untuk memanggil penduduk.46
Seiring dengan modernnya suatu masyarakat semakin kompleks pula sistem komunikasinya. Dengan perkembangan tersebut, komunikasi mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan. Bahkan dalam tingkat yang lebih luas, komunikasi dapat diartikan sebagai upaya untuk mengetahui kebijakan pemerintah dalam menetapkan peraturan ataupun instruksi lainnya. Untuk menyampaikan ide ini, maka dibutuhkan sebuah sarana. Dalam hal demikian, media massa baik cetak maupun elektronik memegang peranan yang penting dalam menyampaikan ide tersebut. Dengan melalui media ini, seorang komunikator akan lebih mudah menyampaikan pesan-pesannya kepada komunikan. Sehingga dalam waktu yang singkat, pesan dapat menjangkau keberadaan khalayak yang menjadi sasarannya. Oleh karena itu, media massa mempunyai peran yang sangat signifikan dalam proses komunikasi.
44 Onong Uchjana Effendi, Spektrum Komunikasi, (Bandung: Mandar Maju, 1999), hlm. 25.
45 Onong Uchjana Effendi, Op Cit., hlm. 4.
28
2. Ciri-Ciri Media Massa
Sebagaimana media komunikasi lainnya, media massa mempunyai ciri dan karakteristik yang dapat dibedakan dengan media lainnya.
Mafri Amir memberikan karakteristik media massa sebagai berikut:47 1. Komunikasinya berlangsung satu arah
Artinya bahwa antara komunikator dan komunikan tidak dapat merasakan reaksi masing-masing. Dimana respon yang terjadi tidak dapat dilihat langsung sebagaimana yang terjadi dalam komunikasi persona. 2. Komunikatornya melembaga
Informasi yang disampaikan bersumber dari institusi atau lembaga. Informasi yang disampaikan oleh komunikator telah diproses dalam lembaga tersebut, dengan melalui tahapan-tahapan yang dilakukan di lembaga tersbut.
3. Pesan komunikasi bersifat umum
Pesan yang disampaikan bukan bersifat pribadi melainkan pesan yang sifatnya umum dan menyangkut orang banyak.
4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan
Artinya dalam waktu yang bersamaan, masyarakat dapat mengetahui informasi yang sama dalam waktu yang serentak.
5. Komunikannya heterogen
Komunikan pada media ini tidak hanya untuk kalangan tertentu, tetapi memberikan porsi untuk semua orang tanpa memandang umur, jenis kelamin, bangsa, dan siapa saja yang menjadi penerima informasi dari media tersebut.
3. Pesan dalam Media Massa
Charles Wright, dalam buku karangan Wiryanto yang berjudul Teori Komunikasi Massa, memberikan karakteristik pesan-pesan media massa sebagai berikut:48
47 Mafri Amir, Etika Komunikasi Massa Dalam Pandangan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 29-30.
29 1. Publicy
Pesan-pesan komunikasi massa tidak ditujukan kepada perorangan, melainkan bersifat terbuka untuk umum atau publik. Semua orang menerima pesan yang sama dan disampaikan secara publicly.
2. Rapid
Pesan dibuat secara massal dan dirangcang untuk mencapai audiens yang luas dan dalam waktu yang sangat singkat.
3. Transient
Pesan-pesan komunikasi massa umumnya dibuat untuk untuk memenuhi kebutuhan segera, dikonsumsi sekali saja. Namun, ada pengecualian, seperti buku-buku perpustakaan, film, dan rekaman lainnya yang merupakan kebutuhan dokumentatif.
Sedangkan bentuk pesan terbagi menjadi tiga, yaitu informatif, persuasif, dan koersif.49
1. Pesan berbentuk informatif yaitu pesan yang bersifat memberikan keterangan-keterangan (fakta-fakta) kemudian komunikan mengambil kesimpulan dan keputusan sendiri.
2. Pesan berbentuk persuasif yaitu pesan yang berisikan bujukan, membangkitkan pengertian, dan kesadaran manusia bahwa pesan yang disampaikan akan memberikan perubahan sikap, tetapi perubahan ini adalah atas kehendak sendiri bukan dipaksakan.
3. Pesan berbentuk koersif yaitu pesan yang bersifat memaksa dengan menggunakan sanksi-sanksi apabila tidak dilaksanakan. Bentuk dari penyampaian koersif biasanya berupa perintah-perintah yang bersifat memaksa dan menimbulkan tekanan batin dan ketakutan di kalangan publik.
48 Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, (Jakarta: PT. Grafindo, 2000), hlm. 6.
49 H.A.W. Widjaya, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 32.
30
Selain itu, pesan yang disampaikan harus mengena dalam diri komunikan. Untuk itu pesan harus memenuhi syarat-syarat:50
1. Pesan harus direncanakan dengan baik, serta disesuaikan dengan kebutuhan komunikan.
2. Pesan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak (komunikator dan komunikan).
3. Pesan harus menarik minat komunikan dan menimbulkan kepuasan.
4. Efek Media Massa
Untuk mengetahui pesan komunikasi sampai kepada komunikan atau tidak maka dapat dilihat dari efek yang terjadi dalam diri komunikan. Efek tersebut terdapat pada tiga aspek, yaitu efek kognitif, efek afektif, dan efek behavioral.51
a. Efek kognitif
Efek kognitif adalah efek komunikasi yang timbul pada komunikan. Komunikasi yang terjadi merupakan informasi saja bagi dirinya. Pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si komunikan. Tujuan komunikator hanya pada upaya memberi tahu.
Efek kogitif terjadi apabila komunikan dalam komunikasi massa merasa mendapatkan banyak pengetahuan dari komunikator komunikasi tersebut. Seorang pembaca media cetak akan merasa mendapat pengetahuan baru setelah membaca pesan yang dituliskan dalam media tersebut. Sedangkan penonton televisi akan mendapatkan pengetahuan setelah menonton dan mendengar tayangan yang disajikan oleh media audiovisual tersebut. Apabila media tersebut telah mampu memberikan tambahan pengetahuan bagi komunikannya, berarti media tersebut telah menimbukan efek kognitif bagi penerima pesan yang disampaikan.
50Ibid. hlm. 94.
31 b. Efek afektif
Efek afektif memiliki kadar yang lebih tinggi daripada efek kognitif. Tujuan komunikator bukan hanya komunikan menjadi tahu, tetapi menggerakkan hatinya.
Efek kognitif memberikan dampak yang lebih mengena dalam perasaan komunikannya. Ketika pembaca membaca tulisan yang sedih, maka dalam diri komunikan akan muncul perasaan iba, kasihan, dan sebagainya. Seorang penonton akan tertawa ketika menyaksikan tontonan lawak atau komedi lainnya. Jika komunikan telah dapat ikut merasakan suasana yang dicipta oleh komunikator berarti komunikasi yang dilakukan telah memiliki efek kognitif dalam proses komunikasi.
c. Efek behavioral
Efek behavioral merupakan dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk prilaku, tindakan atau kegiatan.
Setelah mendapatkan tambahan pengetahuan, dan ikut merasakan kondisi yang disampaikan komunikator, maka efek yang terakhir adalah berubahnya prilaku dari komunikan. Jika komunikan telah melakukan perubahan prilaku atau melakukan apa yang disampaikan oleh komunikator berarti proses komunikasi tersebut telah mencapai efek behavioral dalam diri komunikan.
5. Fungsi Media Massa
Secara garis besar fungsi media massa ada tiga yaitu, (1) menyiarkan informasi (to inform), (2) mendidik (to educate), (3) menghibur (to entertain).
Onong Uchjana Efendi membagi fungsi media massa menjadi empat macam.52
a. Fungsi Menyiarkan Informasi (to inform)
Menyiarkan informasi merupakan fungsi media massa yang pertama dan utama. Khalayak memerlukan informasi tentang apa yang
32
terjadi, pikiran atau gagasan orang lain, apa yang dikatakan, dan sebagainya
b. Fungsi Mendidik (to educate)
Sebagai sarana pendidikan massa, media massa memuat hal-hal yang mengandung pengetahuan sehingga komunikan bertambah pengetahuannya.
c. Fungsi Menghibur (to entertain)
Media massa juga perlu untuk menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan hiburan. Ini dilakukan untuk mengurangi rasa jenuh komunikan ketika menikmati sajian yang membutuhkan banyak konsentrasi.
Hal-hal yang bersifat hiburan biasanya disajikan dalam cerita, dan tak jarang pula memuat sisi-sisi minat insani (human interest).
d. Fungsi Mempengaruhi (to influence)
Fungsi mempengaruhi inilah yang menyebabkan media massa memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya media massa komunikator akan lebih mudah untuk mengajak dan membangkitkan emosi komunikan yang manjadi sasarannya.
Harold D. Lasswell, sebagaimana dikutip Wiryanto dalam buku Teori Komunikasi Massa menyebutkan fungsi media massa sebagai berikut:53
1. Surveillance of the environtment
Fungsinya sebagai pengamatan lingkungan. Sebagai pengamat dalam komunikasi massa, media berperan dalam mengamati siklus yang terjadi dalam dinamika masyarakat. Dengan adanya media ini, komunikator akan lebih berhati-hati dalam membuat pesan yang akan disampaikan, karena dalam proses pembuatannya akan selalu diamati oleh media ini. Sehingga pesan tersebut mengandung unsur yang selalu memperhatikan kebutuhan dan keinginan khalayak yang menjadi sasarannya.
53 Wiryanto, Op Cit., hlm. 50.
33
2. Correlation of the parts of society in responding to the environment
Fungsinya menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan lingkungannya. Sebagai penghubung dari lingkungan masyarakat, media massa diharapkan mampu untuk menjadi mediator dalam proses komunikasi antara pembuat kebijakan dengan masyarakat. Dengan adanya media, masyarakat yang menjadi sasaran dalam proses komunikasi massa dapat menyampaikan aspirasinya melalui media ini tanpa harus bertemu langsung dengan pihak yang membuat kebijakan.
3. Transmission of the social heritage from one generation to the next
Fungsinya penerusan atau pewarisan sosial dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Keberadaan media massa dapat juga berfungsi sebagai pencatatan sejarah. Dengan didokumentasikannya tulisan ataupun sajian yang berkaitan dengan kondisi zaman pada saat tayangan itu disampaikan, maka di masa yang akan datang tulisan atau sajian tersebut dapat dijadikan sebagai bukti otentik bagi kehidupan masyarakat di lain waktu.
6. Metode Media Massa
Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi massa disebut juga dengan media cetak atau media elektronik. Disebut media cetak karena media yang digunakan adalah barang hasil cetakan, seperti majalah, surat kabar, buletin. Sedangkan media elektronik mempergunakan alat-alat yang bersifat elektro, seperti radio, televisi.54
a. Media Cetak.
Penulisan pada media cetak merupakan hasil pemikiran terhadap suatu ide dan pengamatan terhadap obyek tertentu yang diungkapkan secara tertulis. Agar hasil dari pemikiran dan pengamatan itu dapat dimengerti secara tepat oleh pembacanya, maka pemilihan
34
bahasa dan katanya harus tepat pula. Berdasarkan fungsinya, ada lima jenis tulisan, yaitu:55
1) Narasi atau cerita
Jenis tulisan narasi adalah tulisan yang berbentuk cerita yang berfungsi sebagai pengungkapan kisah atau peristiwa yang terjalin secara runtut. Dalam hal ini, penulis bertindak sebagai pencerita yang berada di luar kejadian, dan bersikap netral, tidak memihak, dan tidak boleh melibatkan emosi.
2) Deskripsi atau penggambaran
Dalam penulisan ini lebih memberikan keleluasaan bagi penulisnya untuk menyampaikan ide atau gagasan yang ada dalam dirinya, baik kejadian yang dijumpainya dan juga kesan-kesannya. Penulis bahkan dapat mengungkapkan perasaannya dengan peribahasa atau ungkapan, personifikasi dan pengandaian agar pembaca bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang suatu peristiwa.
3) Eksposisi atau keterangan
Jenis tulisan ini memuat keterangan dan gagasan penulis. Eksposisi berfungsi mengungkapkan atau memaparkan pikiran penulis tentang sesuatu hal. Dalam jenis ketiga ini pendapat penulis hampir mewarnai tulisan sedangkan fakta yang disajikan oleh penulisan sangat sedikit dan cenderung hanya merupakan contoh atau bahan yang diolah.
4) Argumentasi atau perbantahan
Jenis tulisan ini mempunyai kaitan dengan jenis eksposisi. Dalam penulisan jenis argumentasi, penulis memaparkan pendapatnya sehubungan dengan pendapat atau komentar orang lain tentang sesuatu hal. Masing-masing pihak terlibat dalam adu argumentasi yang bertolak dari olah pikirnya sendiri atau orang lain sehingga
55 Patmono SK, Teknik Jurnalistik: Tuntunan Praktis Untuk Menjadi Seorang Wartawan, (Jakarta: Gunung Mulia, 1996), hlm. 12-16.
35
terjadi polemik. Dalam berpolemik, penulis hanya diperbolehkan untuk memaparkan pendapatnya tentang pokok persoalan.
5) Refleksi atau renungan
Refleksi atau renungan adalah jenis tulisan yang mengajak pembaca untuk merenungkan sesuatu hal. Dalam hal ini, pembaca diajak bukan hanya mengolah pikirannya saja, tetapi juga perasaannya. Oleh karena itu, penulis harus mampu membawa perasaan pembacanya untuk mengandaikan dirinya pada peristiwa atau kejadian tersebut. Dengan demikian, penulis harus sudah mempunyai kesimpulan tentang hal-hal yang menjadi tujuan dari penulisannya.
b. Media Elektronik
1.Media Audio
Melalui media ini komunikan hanya akan dapat mendengarkan pesan yang disampaikan oleh komunikator melalui media dengar. Yang termasuk dalam media ini adalah radio. Media ini mempunyai kelebihan tersendiri, sebab komunikan akan akan dapat menikmati proses komunikasi dengan tetap menjalankan aktifitas lain yang sedang dilakukannya.
2.Media Audio-Visual
Dibandingkan dengan media radio, media ini lebih mampu untuk menyajikan pesan dengan sempurna. Seorang komunikan tidak hanya dapat mendengar, tetapi juga dapat melihat secara langsung kondisi riil yang sedang terjadi. Media ini sekarang juga telah menjadi kebutuhan primer di lingkungan masyarakat.
C. Dakwah Melalui Buletin
Dakwah Islam melalui media cetak merupakan salah satu cara dakwah dalam bentuk tulisan telah terdapat sejak zaman Rasul, walaupun dakwah yang dilakukan sebatas pengiriman surat-surat pribadi Rasul kepada penguasa di
36
sekitarnya. Kegiatan dakwah secara tertulis ini dapat dilakukan melalui surat kabar, majalah, buku, brosur, buletin, dan lain sebagainya.56
Akhir-akhir ini banyak dijumpai pelaksanaan dakwah melalui media buletin. Buletin adalah media cetak berupa selebaran atau majalah berisi warta singkat atau pernyataan tertulis yang ditebitkan secara periodik oleh suatu organisasi atau lembaga.57
Dipilihnya media ini karena buletin memiliki kelebihan, antara lain: 58 1. Buletin mudah untuk dimiliki oleh masyarakat karena harganya relatif
murah dibanding dengan media cetak lainnya.
2. Sesuai dengan karakteristiknya media ini dapat menyampaikaan keanekaragaman informasi, seperti artikel, konsultasi agama, serta ajaran-ajaran Islam lainnya dapat dimasukkan kedalamnya.
3. Buletin dapat dibaca berulang kali sehingga dapat dipahami sampai mendetail.
Sedangkan yang menjadi kelemahan berdakwah melalui media media buletin adalah:59
1. Tidak semua pembaca buletin mampu memahami bahasa yang digunakan oleh penulis dalam menyampaikan pesan dakwahnya..
2. Komunikasi yang dilakukan oleh buletin bersifat pasif, sehingga reaksi pembaca tidak dapat diketahui secara langsung.
Saat ini telah cukup banyak buletin-buletin yang terbit setiap Jumat yang berkaitan dengan pelaksanaan dakwah Islamiyah. Dengan media buletin, pesan dakwah yang disampaikan dapat langsung sampai kepada pembaca, dan dapat dikaji ulang untuk meningkatkan pemahaman keagamaan pembacanya. Bahkan dengan ukuran buletin yang kecil, menjadikan media ini dapat dibawa kemana saja dan dapat juga dikumpulkan untuk menjadi bahan referensi pada lain waktu bilamana diperlukan.
56 Hamzah Ya’kub, Publisistik Islam: Teknik Dakwah Dan Leadership, (Bandung: CV. Diponegoro, 1992), hlm. 85.
57 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Loc. Cit. 58 Asmuni Syukir, Op Cit., hlm. 178-179.
37
Dakwah melalui buletin merupakan wujud dari pelaksanaan dakwah dalam rangka menjadi sarana bagi perubahan sosial. Keberadaan media ini dapat berperan sebagai upaya memperluas cakrawala pengetahuan pembacanya. Dengan penyajian materi yang singkat dan berisi dengan muatan-muatan dakwah, pesan yang disampaikan dapat memberikan tambahan informasi, sehingga pembaca memperoleh tambahan informasi setelah membaca buletin tersebut. Dalam pelaksaan yang lebih lanjut, materi dalam buletin dapat dijadikan bahan diskusi bagi pembacanya. Dengan berubahnya pola pikir masyarakat dan diikuti dengan berubahnya sikap masyarakat berarti buletin telah mampu membantu masyarakat untuk menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya.
Penyajian materi yang singkat, dan mudah dicerna bagi pembacanya membuat buletin akan senantiasa ditunggu kehadirannya. Bagi penulis buletin, media ini akan memacu semangat para penulis untuk selalu menyajikan materi-materi yang diperlukan oleh pembaca, ataupun disesuaikan dengan kebutuhan pada saat materi tersebut disampaikan. Misalnya pada bulan Ramadhan, penulis buletin menyajikan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bulan suci, sehingga pembaca menjadi lebih mengerti tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan bulan Ramadan secara lengkap tanpa harus membeli buku yang harganya relatif lebih mahal.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, buletin dianggap mampu memberikan nuansa lain dalam pelaksanaan dakwah.