PRODUKSI HIJAUAN DAN BIJI LEGUMINOSA Arachis pintoi
PADA BERBAGAI JENIS PEMUPUKAN
(Forage and Seed Production of Arachis pintoi Under Several Fertilization)
ACHMAD FANINDI,S.YUHAENI,E.SUTEDI danOYO Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002
ABSTRACT
Arachis as a forage has any purpose in farming systems. Arachis has high nutrition and palatable. It is commonly used to control erosion and to improve soil fertilization. The aim of this research is to investigate the effects of several fertilization an forage and seed production of Arachis (Arachis pintoi). The research was conducted at Research Instiute for Animal Production, Ciawi for 8 months. The block randomized design with 3 replication was applied in this research. Data were analyzed by ANOVA and Duncan’s Multiple Range Test. Sevent of fertilization according with 1) without fertilization, 2) NK, 3) NP, 4) NPK, 5) NPKS, 6) NPKCa, 7) NPKCaS were used in this research. Nitrogen(N) from urea, Phosfor (P) from TSP, Potasium (K) from KCl, Calcium (Ca) from CaCO3 and Sulfur (S) from sulfur. Doses of fertilization were urea 300 kg
ha-1, TSP 200 kg ha-1, KCl 300 kg ha-1, CaCo3 5 t ha-1 dan Sulfur 25 kg ha-1. Arachis was planted with stek on
plot 2 x 2 m2. The parameters measured were weight of pod (dry and fresh), weight of plant biomass and plant vertical height. The result shows that fertilization affected (P<0.05) the fresh and dry weight of pod, but not affected weight biomass and plant vertical height. The highest of pod production was found under NPKS fertilization (732.82 gr plot-1 fresh and 393.38 gr plot-1 dry weight).
Key Words: Arachis, Fertilization, Pod Production, Forage
ABSTRAK
Arachis merupakan sumber hijauan pakan yang memiliki beberapa fungsi penting dalam pertanian. Selain hijauannya yang palatabel dan memiliki nilai nutrisi tinggi bagi ternak, arachis juga biasa digunakan untuk pengontrol erosi dan meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian mengenai tanaman ini di Indonesia belum terlalu banyak dilakukan, oleh karena itu dilakukan penelitian guna melihat produksi polong dan hijauan arachis dengan perlakuan pemupukan. Penelitian dilakukan di Balitnak Ciawi, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan dan 7 perlakuan. Perlakuan terdiri dari jenis pupuk buatan yaitu 1) Kontrol, 2) NK, 3) NP, 4) NPK, 5) NPKS, 6) NPKCa, 7) NPKCaS. Nitrogen (N) berasal dari pupuk urea, Phosfor (P) berasal dari pupuk TSP, Kalium (K) berasal dari pupuk KCl, Kalsium (Ca) berasal dari kapur pertanian dan Sulfur (S) berasal dari pupuk sulfur. Dosis pupuk yang digunakan adalah urea 300 kg ha-1, TSP 200 kg ha-1, KCl 300 kg ha-1, kapur 5 ton ha-1 dan Sulfur 25 kg ha-1. Data selanjutnya dianalisa mengggunakan ANOVA dan apabila berbeda dilanjutkan dengan uji jarak Duncan. Penanaman arachis menggunakan stek pada plot dengan ukuran 2 x 2 m2. Parameter yang diukur adalah bobot polong segar dan kering serta produksi hijauan dan tinggi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap produksi polong segar dan kering arachis. Hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan NPKS dengan bobot polong 732,82 g plot-1 untuk produksi segar dan 393,38 gr plot-1 produksi kering. Sedangkan hasil terendah diperoleh oleh kontrol. Produksi hijauan dan tinggi arachis tidak dipengaruhi oleh pemupukan. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa arachis sangat respon terhadap pemupukan NPKS yang ditunjukkan dengan meningkatnya bobot polong, walaupun tidak memberikan pengaruh terhadap produksi hijauan.
PENDAHULUAN
Hasil penelitian dan fakta dilapangan menunjukkan bahwa arachis (Arachis pintoi) dalam sistem usaha pertanian memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai penutup tanah, pengontrol erosi, ornamen/tanaman hias, makanan manusia, meningkatkan kesuburan tanah dan sebagai pakan ternak. Sebagai pakan tenak terutama untuk ruminansia, namun demikian arachis juga dapat digunakan untuk ternak non ruminansia seperti unggas, kelinci dan babi. Hijauan arachis sangat palatabel dan memiliki nilai nutrisi yang tinggi serta toleran terhadap grazing dan dapat bertahan pada padang penggembalaan campuran dengan rumput, seperti Brachiaria brizantha dan
Brachiaria humidicola. Arachis dapat
beradaptasi pada daerah tropis dan subtropis serta tumbuh baik pada tanah yang kesuburannya sedang, dapat dibudidayakan secara vegetatif dan menggunakan biji. Keunggulan lain dari arachis adalah walaupun pada awalnya lambat untuk establish, namun setelah establish lebih presisten dibandingkan legum pakan lainnya pada daerah tropik (FERGUSON dan LOCH, 1999).
Peran penting arachis selain sebagai pakan ternak adalah dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena dapat menyediakan N untuk tanah serta dapat melepas nutrisi dari media secara cepat, sehingga mempercepat dalam rotasi tanaman pertanian. Mengingat banyaknya fungsi arachis yang penting dalam usaha pertanian, terutama sebagai sumber hijauan pakan maka diperlukan penelitian mengenai tanaman ini. Selama ini penelitian arachis di Indonesia belum banyak dilakukan. Salah satu penelitian yang dapat dilakukan adalah mempelajari produksi hijauan dan biji arachis. Banyak faktor yang mempengaruhi produksi hijauan dan biji arachis, antara lain pemupukan. Pemupukan merupakan salah satu cara untuk mensuplai kebutuhan unsur hara tanaman, serta dapat memperbaiki kondisi tanah pada kondisi tertentu. Unsur hara yang diperlukan tanaman, terutama adalah unsur esensial yaitu suatu unsur apabila tidak ada maka tumbuhan tidak mampu menyempurnakan daur hidupnya atau bila unsur tersebut menjadi bagian dari molekul
tumbuhan yang esensial bagi tanaman. Contoh unsur yang esensial bagi tanaman adalah Nitrogen (N), fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca) dan S (sulfur) (SALISBURY dan ROSS 1992). Pemberiaan dosis unsur esensial bagi tanaman agar pertumbuhannya optimal harus sesuai dengan kebutuhan tanaman, karena apabila kurang atau berlebih akan memberikan efek negatif. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui jenis dan kebutuhan unsur hara yang tepat bagi arachis.
MATERI DAN METODE
Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Ternak Ciawi Bogor selama 8 bulan. Arachis ditanam menggunakan stek yang berasal dari koleksi Agrostologi. Plot tanam berukuran 2 x 2 m2. Pembuatan plot dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan pengolahan tanah dengan cara dicangkul dan dibajak. Setiap plot diberikan pupuk kandang setara 30 ton ha-1 atau 12 kg plot-1. Penanaman dilakukan setelah setiap plot diberi pupuk kandang dan pupuk perlakuan. Jarak tanam yang digunakan adalah 15 cm dalam barisan dan 40 cm antara barisan, sehingga dalam satu plot terdapat 65 tanaman. Dilakukan analisa tanah sebagai pendukung untuk data penelitian, analisa dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Bogor. Hasil analisa tanah dapat dilihat pada Tabel 1.
Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan dan 7 perlakuaan. Perlakuan berupa jenis pupuk yang terdiri dari: 1) Kontrol, 2) NK, 3) NP, 4) NPK, 5) NPKS, 6) NPKCa, 7) NPKCaS. Nitrogen (N) berasal dari pupuk urea, Phosfor (P) berasal dari pupuk TSP, Kalium (K) berasal dari pupuk KCl, Kalsium (Ca) berasal dari kapur pertanian dan Sulfur (S) berasal dari pupuk sulfur. Dosis pupuk yang digunakan adalah urea 300 kg ha-1, TSP 200 kg ha-1, KCl 300 kg ha-1, kapur 5 ton ha-1 dan Sulfur 25 kg ha-1.
Pemanenan hijauan dan biji dilakukan pada akhir penelitian. Parameter yang diamati berupa produksi segar polong, produksi kering polong (kadar air 60%), produksi hijauan dan tinggi tanaman.
Tabel 1. Hasil analisa kimia tanah di lokasi penelitian
Jenis analisa Nilai Keterangan*
Tekstur Debu (%) 64 Pasir (%) 7 Liat (%) 29 pH H2O (1 : 5) 4,6 masam KCl (1 : 5) 4,1 Bahan organik C (%) 2,39 sedang N (%) 0,29 sedang Nisbah C/N 8 rendah P2O5- HCl 25 % (mg/100g) (P total) 57 tinggi K2O – HCl 25 % (mg/100g) 8 rendah MgO- HCl 25 % (mg/100g) 51 CaO- HCl 25 % (mg/100g) 46 Bray P2O5 1,8 rendah Morgan K 29,0 Ca (mg/100g) 5,72 sedang Mg (mg/100g) 1,09 sedang K (mg/100g) 0,08 sangat rendah Na (mg/100g) 0,31 rendah KTK (mg/100g) 22,40 sedang
Kejenuhan basa (%) 32 rendah
*Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (PUSLITTANAK, 1994)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisa tanah setelah dilakukan pemupukan disajikan pada Tabel 2. Pemupukan secara umum dapat meningkatkan pH dan nutrisi tanah pada lokasi penelitian. Nilai pH tanah yang pada awalnya 4.6 meningkat menjadi 5,0 – 5,9, hasil ini mengindikasikan bahwa pemupukan dapat mengurangi keasaman tanah. MULYANI (2006) melaporkan bahwa pH yang rendah pada tanah yang masam dapat dikurangi dengan beberapa cara seperti pemupukan, pengapuran serta pengelolaan bahan organik. Berkurangnya keasaman tanah ini menjadi berarti karena pada tanah yang asam biasanya kadar alumunium
tanah tinggi, fiksasi P tinggi, kandungan KTK rendah, kandungan besi dan mangan yang mendekati batas meracuni, peka erosi dan miskin elemen biotik (SANCHEZ dan SALINAS, 1981).
Pemupukan pada penelitian ini juga dapat meningkatkan nilai P tersedia pada tanah. Ketersediaan nilai P tersedia yang meningkat diharapkan dapat meningkatkan produksi dari tanaman leguminosa penelitian (Arachis pintoi), karena tanaman leguminosa pada umumnya sangat responsif terhadap kebutuhan P. Selain itu P merupakan bagiaan esensial dari banyak gula fosfat yang berperan dalam nukleotida seperti RNA dan DNA. Fosfor juga berperan penting dalam metabolisme energi,
Tabel 2. Hasil analisa kimia tanah di lokasi penelitian setelah pemupukan Jenis pemupukan Jenis analisa NK NP NPK NPKS NPKCa NPKCaS Tekstur Debu (%) 63 64 63 63 66 65 Pasir (%) 6 9 10 9 9 9 Liat (%) 31 27 27 28 25 26 PH H2O (1 : 5) 5,2 5,2 5,0 5,2 5,5 5,9 KCl (1 : 5) 4,2 4,2 4,2 4,3 4,5 4,7 Bahan organik C (%) 2,39 2,60 2,39 2,79 2,59 2,23 N (%) 0,28 0,29 0,31 0,30 0,33 0,26 Nisbah C/N 9 9 8 9 8 9 P2O5- HCl 25% (mg/100g) (P total) 75 67 67 68 83 67 K2O – HCl 25% (mg/100g) 10 9 25 11 10 9 MgO- HCl 25% (mg/100g) 96 102 109 116 115 127 CaO- HCl 25% (mg/100g) 164 172 160 186 229 244 Bray P2O5 5,6 3,5 7,3 3,8 2,9 4,8 Morgan K 61,8 54,5 85,1 49,0 47,2 61,7 Ca (mg/100g) 6,70 6,53 5,99 6,37 8,71 10,35 Mg (mg/100g) 1,63 1,36 1,67 1,91 2,36 3,08 K (mg/100g) 0,15 0,13 0,46 0,12 0,12 0,13 Na (mg/100g) 0,43 0,43 0,40 0,37 0,40 0,55 KTK (mg/100g) 20,54 20,9 21,48 21,28 20,72 20,92 Kejenuhan basa (%) 43 40 40 41 56 67
karena keberdaannya dalam ATP, ADP, AMP dan piropospat (SALISBURY dan ROSS, 1992). Hal ini berhubungan pada kematangan dan pembentukan biji, karena untuk pembentukan biji diperlukan energi yang besar, sedangkan P berperan dalam pembentukan ATP yang merupakan sumber energi bagi tanaman.
Produksi polong segar dan kering dapat dilihat pada Tabel 3. Pemupukan nyata berpengaruh terhadap produksi polong segar maupun kering. Nilai tertinggi diperoleh pada pemupukan NPKS yaitu 732,82 g plot-1 atau 1,83 ton ha-1 untuk produksi segar dan 393,38 g plot-1 atau 0,98 ton ha-1 pada produksi kering. Hasil terendah dihasilkan oleh kontrol yaitu 391,17 g plot-1 atau 0,97 ton ha-1 dan 248,67 g
plot-1 atau 0,62 ton ha-1, masing-masing untuk produksi segar dan bersih. Produksi biji arachis dilaporkan berbeda pada setiap lokasi penanaman. AMINAHet al. (1994) melaporkan produksi polong arachis di Malaysia yang ditanam menggunakan biji sebesar 1.256 ton ha-1pada saat pemanenan 18 bulan. Sedangkan FERGUSON (1994) menyatakan produksi polong arachis di Kolombia yang ditanaman menggunakan stolon sebesar 150 – 250 kg ha-1, dan 1.72 – 1.88 ton ha-1 ketika menggunakan biji dengan dosis 10 kg ha-1. Produksi biji arachis di Bolivia yang ditanam oleh petani kecil dengan menggunakan metode pemanenan manual dan alat sederhana menghasilkan produksi biji antara 2 – 4 ton ha-1. Produksi biji
Tabel 3. Produksi polon Arachis pintoi pada berbagai jenis pemupukan
Jenis pemupukan Bobot polong segar (g/plot) Bobot polong kering (g/plot)
Kontrol 391,17c ± 68,60 248,67b ± 38,9 NK 407,33c ± 85,15 260,50b ± 17,4 NP 622,00ab ± 67,14 323,17ab ± 64,1 NPK 493,00bc ± 38,66 295,67ab ± 82,0 NPKS 732,83a ± 111,10 393,83a ± 76,0 NPKCa 505,83bc ± 68,94 286,33ab ± 68,7 NPKCaS 449,17c ± 52,17 244,83b ± 36,3
Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P < 0,05)
Arachis cv Amarillo yang dipanen setelah 12 – 18 bulan berbunga, berkisar antara 1 – 2 ton ha-1 baik dipanen secara manual maupun mekanik. Produksi biji arachis di Queensland yang ditanaman pada tanah berpasir dengan irrigasi, berkisar antara 5 – 9 ton tahun-1, dan meningkat drastis menjadi 18 ton tahun-1 sejak tahun 1997 (FERGUSON dan LOCH, 1999).
Produksi polong arachis yang lebih tinggi pada perlakuan pemupukan menunjukkan bahwa arachis responsip terhadap pemupukan yang diberikan. Penelitian mengenai pemupukan yang dapat meningkatkan produksi biji tanaman banyak dilaporkan. DARMIJATI dan KARAMA (1989) melaporkan bahwa pemberiaan pemupukan pada kacang tanah (Arachis hypogeae) yang ditanam pada tanah podsolik liat, dapat memperbaiki kualitas biji dan hasil kacang tanah masing-masing sebesar 10 dan 53%. Sedangkan pemberian pupuk kandang dan N menaikan jumlah polong dan bobot biji kedelai (SUNARLIM dan GUNAWAN 1989). Pada penelitian ini perlakuaan NPKS memberikan hasil yang lebih tinggi jika dibandingkan perlakuaan lainnya. Hal ini diduga karena perlakuan NPKS memberikan hara yang lebih optimal untuk produksi biji arachis dibandingkan perlakuan lainnya. Sedangkan perlakuan NPKCaS yang memberikan hasil polong lebih rendah dibanding NPKS diduga karena pemberian kapur (Ca) mengganggu serapan P oleh tanaman. NASUTION (1989) melaporkan terjadinya gangguan serapan P oleh tanaman padi gogo yang diberi pemberiaan kapur (Ca) 1,5 ton ha-1, gangguan itu dapat dilihat dari
pola serapan jerami padi gogo yang mendatar walaupun P diberikan semakin banyak. Adanya gangguan serapan P ini sangat berpengaruh terhadap produksi polong arachis, karena P sangat diperlukan untuk kematangan dan pembentukan biji arachis.
Produksi hijauan arachis ditunjukkan pada Tabel 4. Rata-rata produksi hijauan berkisar antara 7,07 – 8,50 g plot-1 atau setara dengan 1,76 – 2,1 ton ha-1. Pemupukan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot hijauan arachis. Hal ini diduga karena kemampuan arachis dalam mengikat N, sehingga walaupun tanpa pemupukan tetap dapat menghasilkan hijauan yang sama dengan tanaman yang memperoleh pemupukan. Selain itu mungkin juga karena umur panen hijauan arachis yang baru 8 bulan, sehingga kebutuhan hara tanaman masih dapat tercukupi oleh tanah tersebut, karena semakin panjang masa pemanenan hijauan biasanya tanaman akan membutuhkan hara lebih banyak untuk perkembangannya, hal ini ditandai dengan meningkatnya produksi hijauan. AMINAHet al
(1994) melaporkan produksi hijauan arachis yang meningkat dengan semakin panjang waktu panen hijauan, rata-rata produksi hijauan yang dipanen pada saat 6, 12 dan 18 bulan berturut turut adalah 1,8, 5,2, dan 5,9 ton ha-1.
Tinggi tanaman arachis tidak dipengaruhi oleh pemupukan. Tinggi tanaman yang tidak konsisten pada tanaman ini menunjukkan bahwa tinggi tanaman tidak selalu menjadi indikator pada tanaman yang diberi pemupukan berbeda (SANTOSO 2000).
Tabel 4. Produksi hijauan dan tinggi Arachis pintoi
pada pemupukan yang berbeda Jenis pemupukan Bobot hijauan segar (kg/plot) Tinggi (cm) Kontrol 8,00 ± 0,50 28,44 ± 2,33 NK 7,43 ± 0,40 28,44 ±4,10 NP 7,07 ± 2,61 30,59 ± 2,16 NPK 8,17 ±,0,76 32,96 ± 1,20 NPKS 7,83 ± 0,76 30,11 ± 6,84 NPKCa 7,67 ± 2,08 27,63 ± 7,55 NPKCaS 8,50 ± 1,80 26,22 ± 3,61
Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P < 0,05)
KESIMPULAN
Pemupukan meningkatkan bobot polong segar dan kering Arachis pintoi. Pemupukan menggunakan NPKS di lahan yang kondisinya mirip dengan tanah Ciawi disarankan untuk diberikan guna meningkatkan bobot polong Arachis. Disarankan untuk memperpanjang umur panen biji arachis dan penggunaan NPKS dengan dosis yang berbeda, sehingga diketahui dosis optimal dari pupuk yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
AMINAH,A,G.KHAIRUDDIN and M.Y. ABD KADIR. 1994. Effect planting material and harvesting time on seed production of Arachis pintoi in Malaysia. Proc. Forage Regional Working group of Suth East Asia.
DARMIJATI, S. dan A.S.KARAMA. 1989. Pengaruh pemberian dan sisa kapur terhadap pertumbuhan, serapan hara, dan hasil kacang tanah pada tanah podsolik bertekstur liat. Penelitian Pertanian 9(3): 124 – 126.
FERGUSON,J.E. 1994. Seed biology and seed system for Arachis pintoi. In: CIAT Biology and Agronomy of Forage Arachis. 122 – 133 FERGUSON,J.E. and D.S.LOCH. 1999. Arachis pintoi
in Australia and Latin America. In: Forage seed Production. Tropical and Subtropical
Species Volume 2. LOCH, D.S. and J.E.
FERGUSON (Ed.). Oxon. UK. CABI Publishing. pp. 427 – 434.
MULYANI, A. 2006. Perkembangan Potensi Lahan Kering masam. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber daya lahan Pertanian. Sinar tani Edisi 24 – 30 mei 2006.
NASUTION,I. 1989. Tanggapan Padi Gogo terhadap Pemupukan P pada Tanah Podsolik Merah Kuning Cigudeg, Bogor.Penelitian Pertanian 9(3): 104 – 108.
PUSLITTANAK (PUSAT PENELITIAN TANAH DAN
AGROKLIMAT). 1994. Laporan Teknis No. 7, versi 1 April 1994. LREP-II/C.
SALISBURY, F.B. and C.W. ROSS. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 1. Penerjemah: LUKMAN D.R.
dan SUMARYONO. ITB Pres, Bandung.
Terjemahan dari: Plant Phisiology.
SANCHEZ, P.A. and J.G.SALINAS. 1981. Low-input technology for managing oxisols and utisols in tropical Amerika. Advances in Agronomy. Academic Press, New York.
SANTOSO,E. 2000. Adaptasi Fisiologi Tanaman Padi Gogo terhadap Naungan: Laju Pertukaran karbon, Respirasi dan Konduktansi Stomata. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
SUNARLIM, N. dan W.GUNAWAN. 1989. Pengaruh pemupukan n dan pupuk kandang terhadap pertumbuhan hasil dan komponen hasil kedelai di lahan kering Kabupaten Garut. Penelitian Pertanian 9(3): 127 – 131.